Posts Tagged ‘Langkah Kaki’

Dari Lagu There You’ll Be, Ring Tone Kentut, Sampe Cewek Bernama S…

Sunday, July 24th, 2011

Duduk di dalam Trans Jakarta, sambil ngeliatin orang-orang sekitar gue, yang satu pun ga ada yang gue kenal, membuat gue jadi inget twitter gue beberapa minggu lalu…

“Ga lagi2 jalan dari Katedral ke halte busway Istiqlal…ngeri dicekek orang dari belakang, gelap abis, mending jalan ke halte juanda, mentok2 ketabrak LOL”

Hmmm…emang gobloknya gue sih, yang nganggep jarak tempuh dari depan Katedral ke halte busway Istiqlal ini sama jauhnya kayak ke halte Juanda, yang membuat gue berjalan setengah berlari, sambil sesekali celingukan ke belakang, sambil komat-kamit dalam hati, berharap ga ketemu makhluk berwujud manusia lain yang berpikiran jahat sama gue.

“Never talk to a stranger!!”

Kalimat itu sejak kecil ditanamkan oleh bokap nyokab gue, dan sepertinya masih terngiang di kuping dan masih gue jalanin hingga saat ini, atleast gue akan menganalisa terlebih dulu, seberapa kadar “stranger”nya orang tersebut untuk gue.

Duduk di Trans Jakarta bersama penumpang lain yang sama sekali ga gue kenal alias semuanya orang asing, di mana ada kemungkinan bahwa di antara mereka ada yang bisa melukai atau membuat gue celaka. Dan kembali otak gue melihat kejadian-kejadian yang dulu. Kejadian mulai kelas 4 SD, gue minta ijin ke bokap untuk pulang sendiri naik angkot, dan nyokab marah-marah karena bokap bilang iya; masa-masa di mana nyokap gue walaupun naik bis tetep jemput gue ke sekolah, biar anak perempuan satu-satunya tetep ada temennya pulang sekolah; gimana happynya gue waktu bokap nyokab gue jemput ke sekolah di hari sabtu *itu ampe SMA loh. Intinya biar gue tetep aman sampe rumah.

Setelah gue inget masa-masa hidup cuma penuh ha-ha-hi-hi ama urusan percintaan ala monyet, gue keinget masa-masa udah sedikit lebih dewasa, yaitu saat gue bahagia bisa kuliah lagi di Psikologi. Tepatnya saat gue membaca satu buah buku, yang gue lupa buku apa (apalagi nama pengarangnya), tapi gue masih inget satu kutipan di dalamnya, yang kalo diterjemahin, isinya kurang lebih adalah seperti ini…

“Sebenernya manusia itu adalah survivor, karena mereka dekat sekali dengan bahaya. Dari lahir, bayi harus menyesuaikan perubahan dari rahim ke suhu tempat dia dilahirkan; saat keluar rumah ada kemungkinan ia tertabrak kendaraan lain, atau dijahati orang-orang di sekitarnya.”

Yupe. Bener banget. Salah satu tugas manusia hidup di dunia adalah bertahan hidup. Dari semua hal yang manusia hadapi di dunia. Named it lah! Melindungi diri sendiri dari kekerasan fisik? Pasti! Melindungi hati dari “kekejaman” sakit hati-sakit hati lainnya? Pernah ngerasain dapet nilai jelek/gagal ujian or pernah ngerasain patah hati, putus cinta dounks yaaahh??? :mrgreen: Bahkan saat kita ingin berperan jadi super hero untuk orang lain, yaitu usaha untuk melindungi mereka, yang sebenernya mungkin usaha untuk melindungi diri sendiri dari rasa sakit? *Ya..iya lah kalo ibunya, bapaknya, abang/adeknya or pacarnya kenapa-kenapa khan yang sedih kita juga pan?

Tapi gimana rasanya kalo di tengah kerumunan yang kita anggap sebagai orang asing semua, tiba-tiba ada satu atau dua orang yang kita tau/kenal? Waddduuhh…girang betul pasti rasanya. Sama seperti waktu dua hari lalu gue nunggu TransJakarta di halte Dukuh Atas, mau ngambil mobil yang masih terparkir manis di Kuningan, karena gue lebih memilih ke Katedral naik kendaraan umum ketimbang bermacet-macetan dengan mobil pribadi. Menunggu datengnya si TransJakarta koridor 6 ini gue ngeliat satu cewek berdiri di samping gue sambil mainan blackberry miliknya. Karena cewek ini setengah menunduk, jadi gue ga liat penuh mukanya, sampai dia bicara dengan teman di sebelahnya lagi. Suara itu terdengar familiar oleh gue. Dan gue pun menyapa perempuan itu dengan menjentikkan jari gue tepat di depan wajahnya. Seketika teriakan kami berdua pun membahana di satu halte busway tersebut. She’s my high school friend, yang kebetulan orang tua kami saling kenal sejak mereka kecil.

Bis yang kami tunggu pun akhirnya datang. Kami langsung menaikinya dan memilih posisi tempat duduk yang cukup enak untuk mengobrol. Dan setelah gue perhatiin satu bis itu hanya ada suara kami berdua. Hanya ada ketawa kami berdua, yang mengenang masa-masa jaman SMA yang sudah sekian tahun berlalu. Apalagi temannya si teman ini adalah junior 9 tahun di bawah kami.

Ya..ya..ya..masa-masa indah itu sudah hanya tinggal kenangan, masa-masa jaya yang hanya memikirkan hidup hari itu, memikirkan gimana bisa survive ulangan hari itu, bisa survive nyelesein berantemnya kita sama pacar jaman itu, bisa survive ga digencet ama senior, yang waktu itu masalah-masalah tersebut terlihat sebagai masalah besar. Tapi kalo dibandingin ama masalah-masalah sekarang?? Maannn…cupu lah itu semua. Intinya, bisa hidup sampai sekarang ikarena kita berhasil nemuin cara memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.

Talking about survivor, gue jadi inget satu temen. Apalagi pengalaman gue dua hari lalu dengan TransJakarta ini ngingetin gue ama manusia ini. Yah…dari si supir TransJakarta tiba-tiba nyetel lagu There You’ll Be, terus salah satu penumpang blackberry-nya make ring tone suara kentut, sampe si cewek yang ketemu gue tadi namanya sama kayak nama satu cewek inceran temen gue dari jaman dia SMP ampe kuliah, tapi kagak dapet juga, bahkan ditinggal kawin *assslliiikk gue ngakak dalam hati. Temen gue ini pernah ngirim broadcast message *tumben (ngirim) (gue baca), yang kurang lebih isi BMnya kayak gini…

“Human are like animal, they can survive by themselves. If you don’t feel like that, you will be wiped out by nature. I don’t want to be a loser? Do you?”

Yah…so true…we are all survivor…

I guess, God should be thankful to us who still want to survive in this fucking world?

And hey, you, there, my friend, my dear…who sent me that broadcast message, hopefully you’re not a loser, for yourself, in your own eyes, and/or in other’s sight! Including mine! :mrgreen:

i-survived

Now…

Monday, July 4th, 2011

Oh my life is changing everyday
Every possible way
Though my dreams, it’s never quite as it seems
Never quite as it seems

I know I felt like this before
But now I’m feeling it even more
Because it came from you

Then I open up and see
The person fumbling here is me
A different way to be

I want more, impossible to ignore
Impossible to ignore
They’ll come true, impossible not to do
Impossible not to do

Now I tell you openly
You have my heart so don’t hurt me
For what I couldn’t find

Talk to me amazing mind
So understanding and so kind
You’re everything to me

Oh my life is changing everyday
Every possible way
Though my dreams, it’s never quite as it seems
’cause you’re a dream to me
Dream to me

—–

Just still don’t understand…is there any make-sense explanation why He sent you; you step into my life and were allowed to make it like a roller coaster??

Need the answer, NOW. Want the answer, NOW. Badly!!

And better it will be make-sense.

Black and Blue…

Tuesday, June 21st, 2011

When he/she becomes everything for you…

Though we have to get some bruises because of it…

Just because we are overjoyed… *jleebbbb…

But please,…just stay gold…

Because you are a firework…

Cinta

Mengapa kita menutup mata ketika kita tidur, ketika kita menangis, ketika kita membayangkan, ketika kita berciuman? Ini karena hal terindah di dunia tidak terlihat

Kita semua agak aneh, dan hidup sendiri juga agak aneh. Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita,  maka kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA.

Mencintai bukan bagaimana melupakan, melainkan memaafkan. Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu mengerti. Bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasakan. Bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu bertahan. Apabila cinta tidak berhasil, bebaskan dirimu. Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi.

Ingatlah bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersamanya.

Kadangkala orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu, dan kadangkala teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.

-Anonymous-

—-

Dedicated to someone who loves someone who loves someone else…

And it reminds me of one of profile pictures of my bbm contacts…

Love isnt complicated people are

I Did That Because I Want It With You…Badly!…

Monday, June 13th, 2011

Hari Minggu kemarin tumben-tumbenan saya ke pergi ke gereja sendirian. Biasanya ada Ibu dan/atau Bapak yang bersama saya.

*This is what I like…driving all alone, tanpa buru-buru, tanpa ada janji apapun sama sapapun, tanpa gangguan dari sapapun dan apapun, bebas kemana pun, dan tanpa macet! Bisa  lebih dari 120km/hour pun.

Literally dari siapapun dan dari apapun, kecuali gangguan saat mengendarai mobil. Tape mobil sengaja tidak saya nyalakan. Telepon genggam yang khusus nomor urusan kantor, saya bawa tapi saya silent, just incase saya butuh untuk menelepon. Dan Si Bébé sudah saya bekep, matiaw dari Sabtu sore, tidak hanya mematikannya, tapi melepas baterainya *Sampai sekarang.

“Sekali-kali biar pada ngerasain kalo ga ada gue gimana, susah nyari gue gimana.”

Tidak ada BB berarti pula hidup saya dari Sabtu sore hingga sekarang (Senin sore) tanpa ada BBM, baik menerima maupun (berpikiran untuk tidak) mengirim, dan mengharapkan ada yang mengirimi saya BBM dan mengecek saya masih hidup atau tidak di dunia ini. Tidak pula harus menerima SMS dari si Mama minta pulsa dan penawaran KTA dan kartu kredit yang terus-menerus. Tidak harus melongok ke time line twitter dan mulai kepo dengan urusan orang lain, atau membuat orang lain penasaran dan bertanya-tanya tentang time line yang saya lempar ke publik. Tidak perlu terima telepon dari keluarga, teman lama, maupun teman dekat, dan mungkin dari “teman” saya *Karena nomor si Bébé adalah nomor untuk urusan pribadi saya, bukan urusan kantor.

Ya kira-kira begitulah kegiatan saya yang berkaitan dengan si Bébé. Tetapi BBM sepertinya adalah “jantung hati” dari si Bébé.  Walaupun terkadang cukup annoying jika chatting dari grup-grup yang saya ikut tergabung di dalamnya, penuh dengan celotehan para anggotanya. Lagipula selama ini hanya ada satu orang yang sangat saya harapkan untuk mengirimi saya pesan di BBM. Ahh..jadi ingat percakapan saya dengan orang itu tepat dua minggu lalu.

Bali, 30 Mei 2011…

Saya: Aku kok kangen ya BBM-an ama kamu ya…

Dia: Hahahahaha…lagi ga perlu khan?

Saya: Selama ini yang paling aku tunggu ya BBM dari kamu…

Dia: Iya aku juga…

Tetapi saat ini, seseorang yang saya maksud di perbincangan di atas tersebut pun, tidak mampu mengurungkan niat saya untuk tetap mencopot baterai si Bébé dan membuatnya terdiam beberapa hari.

“Aaahhh…he knows me well kok…he already knows who is he dealing with now! Jangan-jangan dia ngga nyari gue pun. Hahahahahaha.”

Sempat beberapa kali, tidak hanya sekarang, telepon genggam ini saya anggap sebagai sumber hiruk pikuk dunia saya sendiri. Walaupun tidak munafik, tawaran pekerjaan bisa bermula dari komunikasi saya dengan seseorang dengan memakai telepon genggam ini. Atau ajakan bertemu dengan teman lama. Atau usaha perjodohan yang dilakukan oleh beberapa teman, yang sampai saat ini tampaknya masih sia-sia… :mrgreen: *Haaayyyooo…nyari sajennya yang lebih mutu dounks aaahh… :lol:

Kali ini, tepatnya beberapa hari ini, telepon genggam saya anggap merupakan sumber tingkat kebisingan hidup (hati) paling tinggi. Walaupun sudah lebih dari 3 bulan, si Bébé selalu saya kondisikan diam. Alasan utamanya adalah, saya malas mendengar bunyi-bunyian yang berasal darinya, dan saya hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang yang saya kenal (dekat). Jadi kalau saya tidak mau mengangkat teleponnya atau membalas BBM atau SMS, akan saya biarkan, kalau saya sedang tidak bisa mengangkat telepon dari mereka, ya saya akan membalas menelepon hanya ke mereka yang saya inginkan.

Kembali ke situasi kemarin. Saat saya harus pergi ke gereja sendirian. Satu hal yang saya rasakan sangat, dari pertama kali roda berputar akibat saya arahkan dengan stir adalah: peaceful. No tape. No sounds of human. Ga perlu ribet denger bunyi handphone. Dan yang terpenting adalah ga perlu mengharapkan apapun, dari siapapun yang mungkin datang dari perangkat-perangkat yang katanya pintar itu, yang membuat saya harus melongok ke arah layar mereka.

Jadilah hidup penuh kedamaian dari rumah-meruya-tol kebon jeruk-tomang-harmoni-jalan pos- lapangan banteng-meratapi nasib dan ngomel-ngomel ama Tuhan sebentar di Katedral-balik nyetir lagi masuk juanda-jalan veteran-depan Monas-Thamrin-Sudirman-bunderan senayan-pintu I-berhenti menghirup kebisingan sebentar di Plaza Senayan buat ngisi perut dan belanja beberapa botol-Asia Afrika-Simprug-jalan panjang-meruya-rumah, dari pukul 17.20 – 22.00.

Life is like a roller coster. Karena BBM juga, saya berkenalan dengan seseorang yang entah tak tahu kenapa, saya biarkan exist di hidup saya. Saya manusia kompleks yang penuh pertimbangan ini-itu. Saya manusia yang pada dasarnya manusia super cranky yang kena “hajar” oleh seseorang selama hampir 8 tahun dan berubah menjadi manusia yang cukup bisa memahami orang lain jauh lebih baik daripada masa-masa jahililah dulu. Saya yang secara periodik melakukan proses pemilihan remove terhadap kontak BBM juga daftar teman di Facebook dan juga follower di twitter. Saya yang kadang masih tidak memahami keputusan saya sendiri, mengapa mereka yang namanya hanya diam bertengger di akun-akun tersebut, tanpa pernah menyakiti saya, tapi saya ikutsertakan dalam daftar seleksi remove, sedangkan mereka yang pernah menyakiti saya, bahkan membuat saya geram dan menangis, saya biarkan tetap bertengger di sana, dan tetap saya biarkan mengikuti sebagian atau bahkan seluruh jejak langkah kehidupan saya.

“I do not share those kind of sexy things with everyone I considered as friends. Again…i did that because i want it with you,” and yes, my whole life is so sexy to get to know about…

Am I the one and only you (want to) share about the whole your sexy life or?

Think about it, Baby!!

-me, the one you called as little girl-

====

“Pada kangen ama gue ga ya? Gak ya? Ohhh..ya sud..maap ya jumpa fansnya lagi ditutup sementara.”

:mrgreen:

Atau Perempuan Tolol Yang Sedang Jatuh Cinta?…

Monday, June 13th, 2011

Hidup percintaan sepertinya memang ga pernah habis untuk dibicarakan. Kalau sudah urusan hati, selesai sudah, tamat segala urusan yang sebelumnya tampak baik-baik saja, seketika dalam hitungan detik, bahkan dalam hitungan kerling mata, buyar berantakan, hancur berkeping-keping.

Tag line boys still will be boys…and girls still will be girls, sepertinya memang segala akhir dari runutan cerita benang kusut yang sering terjadi jika urusan dua sosok aneh, bertemu. Pertemuan apapun itu. Bisa hati, atau pertemuan lainnya yang bukan berarti juga pertemuan hati (sekarang atau nanti) dan/atau pertemuan sepemikiran *Kok gue pun jadi bingung ama omongan gue ndiri :mrgreen: *Jadi inget tweet seseorang beberapa hari lalu: When two lips met didn’t mean two hearts do. *Jleeebbb…+ irisan jeruk nipis

Koleksi kisah percintaan baik milik teman yang dititipkan ke saya, maupun kisah pribadi (yang ga kalah serunya) sering membuat saya mengernyitkan dahi, dan berpikir “Ini yang geblek yang mana ya? Yang satu bodo, yang satunya bodoh.”

Pertemuan antara venus dan mars memang nyehe kalau dipikir-pikir lebih lanjut. Entah berapa banyak makhluk yang sudah melakukan tindakan-tindakan bodoh, akibat si cinta kampret ini…

Dan “koleksi” kisah percintaan terbaru yang terekam secara otomatis dengan indera saya di bawah ini, kembali membuat saya geleng-geleng kepala…

Perempuan itu menunjukkan sebuat foto, seorang pria dan ada perempuan di sampingnya…

“Ini fotonya dia.”

“Udah officially jadian?”

“Kayaknya.”

*Sebelum lanjut…beneran deh…foto apapun itu, apalagi profile picture BB cowok-cewek bukan berarti pasangan berstatus jelas loo…serius ini gue…eh atau memang jelas-jelas selingkuhan (gila beneran kalo foto selingkuhan di pasang di BBM) atau jelas-jelas gak jelasnya… :lol:

“Kok kayaknya, biasanya sih kalo dah ditarokh di pp gini, dah jadian looo. Biasanya. Apalagi dua-duanya pasang foto yang sama. Gimana cara elo jadi kontak BBM di dua makhluk itu? Berarti waktu dia intens sama elo itu juga intens sama perempuan itu? Terus elo sedih?”

“Ya iya lah.”

“Wajar.”

“Ampe nangis-nangis gue, dan gue mau marah-marah ama dia.”

“Iya loohh…ampe tilpun gue sesenggukan dari gudang divisi loe pun. Tapi hak loe apa ya marah-marah ke dia? Marah-marah karena jalan ama elo dan jalan ama tuch cewek di masa yang samaan?”

“Iya.”

“Sapa loe? Pacarnya dia mang waktu itu? Atau cuma karena elo yang jadiin dia prioritas elo tapi dia jadiin elo pilihan? Marah karena waktu itu elo dibiarkan nunggu berjam-jam tanpa kejelasan mau pergi atau ngga ternyata dia jalan ama perempuan itu? Though yang terakhir elo emang berhak kesel sih, dah janjian tapi tanpa kabar elo dibiarin nunggu.”

“Akhirnya gue remove dia dari kontak bbm gue.”

“Loohh kenapa?”

“Ga worth. Terus beberapa hari kemudian, dia nyamperin gue dan nanya-nanya kenapa gue diapus dari BBM kontaknya.”

“Elo boongin ajah. Blaga pilon. Bilang kek ke apus ga sengaja. Soalnya dulu gue kayak gitu.”

“Hahahah…gue pun kemaren begono.”

*Setuju gue…ga guna? ga perlu lah ada di kontak BBM…done that couple of times :mrgreen:

Another story from broken-hearted…

“Gue lagi kacau.”

“Gue telpon elo.”

“Kenapa loe? Masih nangis-nangis? Sampe kapan?” *Sumpah ya…Sampe Kapan itu adalah pertanyaan super nyeeeeehhhhheeeee…serius!!!!

“Ga tau. Gue minta dia ninggalin gue.” *Dan Ga Tau adalah jawaban paling aman nan rancu binti menye-menye…

“Ya udah lah…there’s nothing that we can do. Sometimes admit that we still love them but we have to lose them is the best way for the next 1 year at least…hahahaha…bukan untuk sekarang-sekarang sih. Try to sleep gih.”

“Gue takut tidur. Gue ga mau kebangun and sadar dia udah ga sama gue lagi. Nyakitin gue.” *Hyyyaaahhh…setuju gue…!!! Wake up in the morning and you realized something that you don’t  even want to know…sucks!!!

“Semua ada masanya sih. Mang yang kayak-kayak gitu harus dilaluin. Suka ga suka, mau ga mau. Mari ambil cangkul, gali kuburan, atau perpanjang kuku buat ngais-ngais aspal, atau sering-sering main ama anjing tetangga, biar suara kaing-kaing kita lebih mirip aslinya, atau ambil botol aja bouw…tenggak isinya…mayan ada sleeping pill.”

Atau “kisah sengsara” seorang perempuan yang berusaha selalu ada untuk seseorang pria yang dia sayangi, tapi sayangnya pria itu masih sangat terluka karena gagalnya ekspektasinya untuk menikah dengan perempuan jaman dahulunya. Perempuan yang membuat si pria melegalkan dirinya untuk “dirusak”, “dikacaukan”, tidak oleh orang lain, tapi oleh si pria itu sendiri. Usaha mampus si perempuan (yang saat ini sayang mati-matian ama si pria itu), “setidaknya” untuk menghapus legalisir tersebut, belum membuahkan hasil sampai saat ini *Mungkiiiiinnn!!!…belom dapet update terbaru dari mereka cyyynnn…gue khan sotoyyy…

“Tapi aku perempuan yang diajarin ama lingkungan untuk bisa tetep komit ama omonganku sendiri…yang kali ini adalah aku ada untuk kamu…aku bakal sayang kamu ampe kamu masuk peti mati…though nanti saat kamu dah sembuh total dari “penyakit” kamu and you choose one girl to take care of you completely yang most likely bukan aku…aku harus ngurangin porsinya yang selama ini aku kasih ke kamu…and let her do what i do…Love someone unconditional is not easy…at all…but you make me how to learn about it…though aku harus tercabik2..and dikasih irisan jeruk nipis di atas cabikan itu…” *Giiillaaaakkhh…kok mau ya? :lol:

Ini baru tiga dari sekian cerita yang menari-menari lucu di otak saya. Library saya tentang kisah cinta, masih banyak. Mau yang seperti apa, tinggal pilih. Mau yang original atau modifikasi beberapa cerita?

Anywaaaayyy…geleng-geleng kepala saya sampai saat ini tambah disertai dengan satu kalimat…

“Ini semua atas nama cinta, atas nama ketololan, atas nama perempuan, atau atas nama perempuan tolol yang sedang jatuh cinta?”

Dan… boooliat nih gambar…pasang di jidat kalo perlu…

tumblr_lki6p2yMp21qcrsn7o1_400

Dan pertanyaan selanjutnya adalah: “Yaaakkeeeennn bisa?” *Prrreeeeetttt…!!!

So start from now…maybe this quote from Shakespear can help…

“I always feel happy. You know why? Because I don’t expect anything from anyone. Expectation always hurts!!”

Dan satu bawel lagi: “Sampe kapan bisa ga expect anything from anyone?” *Jyaaaaaahhhh…

—-

Satu setting saat seseorang perempuan, yang di antara jari telunjuk dan tengahnya sedang terselip satu batang rokok yang masih menyala, sedang duduk berdampingan dengan seorang pria, yang di depannya sudah tersedia satu shot minuman hasil campuran antara minuman beralkohol dan cola, yang ditambahkan beberapa kotak es batu, dan terdengar perbincangan berikut ini keluar dari mulut mereka berdua:

Pria: “Berasa lagi pengen bunuh orang.”

Perempuan: “Bunuh aku aja. Volunteer loh.”

Pria: “Ngomongnya ga banget sih,” yang disertai dengan tatapan mata tajam dari si pria.

Perempuan: *Jiper sih kayaknya… *Jiper? Bahasa loooeee ‘Cha…

—-

Dasar perempuan! Tolol?

Ga taaauuukkkhh aaakkkhhh…ga mau mikir:mrgreen:

Perfect Monday For Us…

Tuesday, April 19th, 2011

Saya: Yak sekarang gue migren. What a perfect Monday.

Dirinya: Sorry gue dah balik ke kost.

Saya: Ya iyalah sana udah stg 6.

Dirinya: Eh ‘Cha btw, gue liat fotonya si monyong ama pacarnya di pp bbm gue. Guess what, rasanya kayak apa?

Saya: Hyyyaaaahhh dia manggilnya udah si monyong lagi. Apa rasanya? Biasa aja?

Dirinya: Kenapa, kurang cocok dipanggil monyong? Mau gue ganti kambing? Iya rasanya biasa aja. Masih benci dikit sih. Bulan lalu, gue masih terlalu dengerin perasaan gue sendiri ajah.

Saya: Ahhhhh…senang dengarnyah…sHug_bestbuddyhug_100-100

Dirinya: Again, thanks to you ‘Cha sHug_bestbuddyhug_100-100

Saya: Sama-sama…. *and I mentioned one name:mrgreen:

Dirinya: Gue dah ga terlalu sakit ‘Cha…

Saya: Thanks for letting me to be there 4 you…ada gunanya juga gue di idup loe… :mrgreen:

*Seee…sotoy-nya gue berguna khan buat elo…hahaha…keknya bukan 90% lagi sotoynya gue bener di elo, tapi udah jadi 95%…bentar-bentar…am I good counselor?

taken from BeBeEm chatting 18th April 2011

Friend Than Lover…

Monday, April 18th, 2011

friend-than-loverSalah satu pembicaraan yang dilakukan melalui BBM…

“Btw seberapa besar sih kemungkinan loe untuk jatuh cinta ama gue?”

“Hah…kenapa elo tiba-tiba tanya begini siy, ga ada angin, ga ada ujan.”

“Kata loe kalo gue mau tanya, ya tanya langsung, ga usah pake preambule segala.”

“Iya sih.”

“Ya udah dijawab dounks pertanyaan temennya.”

“Gak ada sih. Kemungkinannya ga ada. Kenapa sih elo tanya gitu tiba-tiba?”

“Gak papa. Cuma pengen bilang, jangan ya, don’t fall in love with me.”

“Eh itu khan kata-kata gue dulu ke elo.”

“Iya, sekarang gue pake…but no unless. Dulu khan elo masih pake unless elo yang mulai khan.”

“Ooooo…kenapa elo baru ngomongnya sekarang sih? Kenapa ga dari bulan-bulan lalu.”

“Yaaa…just realized lah, what we have now, ga mau gue rusak dengan hubungan percintaan yang sering bikin BT.”

“Ok.”

“Tapi kalo elo dah mikir 1000 kali dan elo masih teteup jatuh cinta sama gue, ya udah tinggal bilang, jangan kayak orang susah, ntar paling tinggal gue jawab atau gue tinggal kabur.

*but I just realized that once I asked you not to ask me to do that, because you can not control my feeling nor my brain, so I’ll take it back. Fall for me…if you feel it…

*picture was taken from PoundingHeartBeat

Just Be There…

Sunday, April 10th, 2011

Malam itu…

“Laundry sotoy, baju gue ga dicuciin. Dan gue keabisan baju. Untung u ngasih. Thank you yah.”

“Sama-sama, mudah-mudahan suka. Cukup gak?”

“Agak kegedean dikit (padahal gara-gara diare aja).”

“Gak mungkin kan gue beliin M, ntar ketat.”

“Khan cekci, ketat, kayak lepet.”

—-

Malam lainnya…

“How are you?”

“Bla…bla…bla…I just need someone to talk, that’s it.”

“Sekarang masih?”

“Kalo ga, gue ga uring-uringan nyari tiket mau cabut.”

“Gue telpon elo, tapi elo yang harus cerewet soalnya akhir-akhir ini yang gue lagi diem. Ok?”

“Try me.”

Tak berapa lama si Bébé memunculkan nama seseorang di layarnya, tanpa mengeluarkan bunyi, karena aku bungkam. Di sana ada nama seseorang, yang beberapa hari ini sempat aku cari.  *Happy for sure, hear your voice again.

Satu hal yang menarik dari pembicaraan itu…

“Gue yakin ‘Cha tahun ini, elo ama gue sama-sama bakal punya pacar lagi.”

“Semoga. Tapi berhubung gue anaknya skeptis, gue ga akan percaya kalo belum di tangan gue.”

Dan…

“Besok bangunin gue ya.”

“Flight jam berapa?”

“Dari sini gue mesti jalan ke BPN jam 9. Berarti elo bangunin gue jam 9 lah.”

“Bentar-bentar…yakin, elo minta gue bangunin jam 9? Jam 9nya gue atau jam 9nya elo?”

“Iya jam 9nya elo ‘Cha.”

“Jam 9nya gue itu berarti jam 10nya elo loh, Sayaaanggg.”

“Oooohhh yaaa…itupun kesalahan bulan lalu ya. Untung elo pinter belajar dari pengalaman.”

“Gue bangunin jam setengah 7 sini ya.”

Hari itu…

BBM:

Me: I’m here, don’t complaint kay! *disertai foto papan jadwal penerbangan, termasuk di dalamnya JT 751 ETA 14:49

Sekitar 40 menit kemudian, aku melihat seseorang berjalan keluar dari pintu keluar penumpang dari terminal kedatangan. Seseorang yang saat itu memakai kemeja yang aku tahu persis siapa yang memberikannya. Seseorang yang hari itu, aku tahu bahwa dirinya aku butuhkan, hanya untuk ada. Di sana. Di sampingku. Tak peduli apa yang (akan) ia lakukan.

Dan senyum itu, penuh dengan sejuta makna yang tak pernah bisa aku simpulkan.

*Masih ga ada baju bersih ya, Mas, kayaknya kenal kemeja yang dipake sekarang.

“Yuk.”

“Dah makan loe?”

“Udah, barusan.”

“Mau ngajak gue kemana loe jemput gue?”

“Bebas.”

—-

“Lewat sini ajah. Mobilnya di sana.”

“Bawa mobil yang mana?”

“Bukan yang bulan lalu yang aku bawa. Aku aja ya yang nyetir.”

Dan dengan terpaksa kamu jawab, karena aku tahu persis, kamu paling ga suka di setirin perempuan “Ehhhmm…iya deh.”

—-

“Mccchh…elo tuh ya. Untung gue khan lagi ga janjian sama orang lain.”

“Ya kalo elo janjian sama orang lain, ya gue tinggal pulang tho.”

“Ya ga bisa gitu juga dounks.”

“Loh, khan berarti dia janjian duluan sama elo, ya dia dounks yang prioritas utamanya, bukan gue. Ya gak? Iya khan?”

—-

Manusia yang duduk di sebelah kiriku, sedang sibuk dengan bb di tangannya, walaupun sempat dia meminta izin, “Gue nelpon dulu ya.”

“Monggo,” *Elo mau ngapain ajah, yang penting gue tau elo ada di samping gue, gue ga peduli elo ngapain di sana.

Menyusuri jalan tol Sedyatmo sampai keluar di Pluit, kami sibuk dengan kesibukan masing-masing, tanpa suara dari mulut kami berdua. Hingga beberapa kalimat pun memecah keheningan panjang…

“This is shock therapy juga, dah lama ngga jemput orang siang-siang.”

Dan yang di sebelah, tidak mengatakan apapun.

Dan kembali keheningan mendominasi suasana di dalam mobil.

Dan kembali terpecah…

“Kayaknya gue dah mulai ngerti cara kerjanya ini.”

“Gampang taukkhh. Matic di mana-mana sama, cuma tuas pindahin giginya aja dipindahin ke sebelah sini. Wanna drive?”

“Hmmm…boleh.”

“Ntar aja ya pulangnya nyetir.”

“Yup, daripada gue ga tega ngeliat elo masih sakit gitu, nyetir.”

“Atau ntar aja ya abis isi bensin.”

“Boleh.”

Aku pun kembali mengendalikan kemudi di tengah keheningan dua orang yang duduk bersampingan namun tetap sibuk dengan dunianya sendiri.

Sampailah kami di SPBU berlambang kerang. Dan kemudi aku alihkan padanya, seperti tawaranku tadi.

Duduk manis aku di sampingnya. Menikmati duniaku sendiri, yang sedikit terbagi dengannya, di tengah sulitnya aku harus bernapas karena flu. Pasrah, kemanapun aku dibawanya.

And that’s all I need this past a month…I just need you to be there, beside me, no matter what you do. Just be there for me. Just like what I did, I do and still doing it for you.

*Tidak terlalu penghujung bulan Maret 2011*

I Just Want My Own World…

Tuesday, March 22nd, 2011

Bukan BB kalian yang lemot; jangan salahkan provider kalian yang tidak memberikan laporan umpan balik D atau R saat kalian mengirimkan pesan BBM ke saya. I turned it off all, bahkan si Bébé saya copot baterainya.

“Beberapa puluh tahun lalu, bisa kok hidup tanpa handphone, masakh sekarang ga bisa?”

Terus terang saya termasuk orang yang tidak terlalu rempong jika handphone tertinggal di rumah. Apalagi jika saya baru tersadar tidak membawanya saat saya sudah di tengah perjalanan berangkat ke suatu tempat (terutama ke kantor). Kemungkinan besar saya tidak akan repot-repot berbalik arah dan mengambilnya ke rumah.

“Mayannn…seharian ga ada yang repot nyariin gue. Gak akan ada yang berisik.”

Dan hal itu sudah kejadian berkali-kali.

Termasuk akhir pekan kemarin. Saya membiarkan hidup saya tanpa bunyi-bunyian dari dua perangkat telepon genggam yang saya miliki. Walaupun saya tahu ada beberapa acara yang seharusnya saya hadiri.

Semua berawal saat Jumat malam. Saat semua rasa kembali membuncah tak karuan; urusan pekerjaan, memori masa lalu, yang semuanya tiba-tiba membuat kepala ini rasanya ingin pecah, ditambah dengan rasa yang tak jelas apa, dan tak bisa saya definisikan.

Mencoba untuk menjadi seseorang yang berbeda. Mencari seseorang yang sepertinya bisa saya andalkan untuk berbagi cerita. Mencarinya di deretan nama yang ada di sekian ratus nama yang termasuk di BBM kontak yang saya miliki. But the result…no reply…nor R report at my BBM.

“Yah, who the hell i am for that person!”

I just remember a message was dropped in my Facebook few days ago…

“hey you!

you know, i always wonder why i don’t have many friends.. it’s not that i don’t like meeting new people, it’s not that i don’t actively try to talk and approach people, it’s not that i don’t open myself to new people. there’s one thing though, it’s hard for me to keep in touch with people. mungkin karena suasana jakarta, mungkin karena gw ga mau mengganggu orang” yang tampaknya sibuk, mungkin because i’m shy in nature :p

but there’s also another thing, it’s because it’s hard to find someone like me. someone who cherishes the same things, holds the same values, and other things i cannot really explain. you are one such person i can really connect with and yet i cannot stay in touch with you.. heheh.. sucks huh..

well, hope everything’s fine with you..”

atau sederetan kalimat (yang berujung dengan kalimat di bawah ini) dari seseorang yang Jumat malam lalu saya cari tapi saya tak tahu dia dimana…

“I’m lonely, but gw juga siy yang mau lonely.”

Dan semua itu membuat saya tersadar kembali, I’m part of them…dengan satu dan seribu satu alasan lainnya, atau bahkan sepertinya akan lebih baik jika saya tetap dengan diri saya sendiri. Sendiri.

No man is an island?? Yeah right…tell me about it!!! Coz sometime we are asked to be alone…then we choose to be lonely.

*aahhh…enaknya hidup tanpa handphone…gue terusin aja po seterusnya, ga cuma weekend ini aja?

Just Thanks…

Sunday, March 20th, 2011

“Cha ma’ kasih ya udah nemenin gue ke Pluit kemaren.”

“Sama-sama, gue malah yang harus terima kasih sama elo. Dari sekian banyak temen loe, tapi gue yang elo minta nemenin elo. By the way kenapa berubah pikiran kemaren? Akhirnya mau aku temenin ke sana?”

“Gue ga berani sendirian ke sana. Mungkin kalo gue sendirian ke sana, gue akan melakukan suatu tindakan bodoh.”

“Something stupid seperti?”

“Mungkin gue akan berdiri bengong di depan rumahnya. Dan kalopun ada orang rumahnya yang ngeliat gue mungkin tetep akan ngelakuin itu. Tapi to tell you the truth, mendingan sih ‘Cha. Mendingan berkurang. Sakitnya. Tadinya waktu baru-baru putus, gue pulang aja males banget. Di pesawat aja ‘dah kebayang malesnya kayak apa. Terus baru mulai tuch bisa muter-muter ke beberapa tempat. Teritori tertentu. Belum berani ke tempat-tempat kemaren itu.”

“Owkay. Glad to hear that. Ma kasih ya elo dah minta gue nemenin elo kemaren. Cukup satu puteran? Masih perlu lagi? Kalo masih ga papa lo.”

“chatting BBM di 2 Maret 2011 dini hari. with a Thousand Miles between us.”