Posts Tagged ‘Informasi (Hewan)’

Anak Kecil Itu…

Monday, September 13th, 2010
Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Anak kecil ini, kemarin sempat hilang beberapa jam. Semua memang gara-gara saya. Saya yang lupa menutup pagar depan rumah sehabis memasukkan mobil ke dalam car port. Biasalah, beberapa bulan belakangan ini, saya sedikit dimanja papa, setiap saya pulang, beliau yang selalu membukakan pagar dan menutup kembali, tapi tidak dengan kemarin. Saya langsung masuk ke dalam rumah, mandi, berganti baju dan tidur, padahal tadinya saya hendak pergi lagi, tapi malas. Alhasil saya tidak memeriksa lagi pintu pagar apakah sudah tertutup atau masih terbuka lebar.

Setelah saya bangun, saya hanya melihat si hitam gendut itu tidur sendirian di ruang tengah. Sendirian tanpa anak kecil yang berwarna putih-coklat ini, karena biasanya dua anak kecil ini memang ada di dalam rumah. Langsung saya tanya papa, yang kebetulan sedang membaca sesuatu di ruang itu, “Si putih mana?” “Gak tau,” saya pun langsung memeriksa sofa singgasana si putih biasa tidur, dan lemari yang pintunya rusak sehingga ia bisa masuk ke sana, dan hasilnya tak ada. Saya pun langsung berlari keluar, memang biasanya mereka sering kali berada di teras depan. Seketika saya kaget setengah mati, karena saya menemukan pintu pagar yang terbuka sangat lebar, dan saya hanya menemukan si coklat di teras. Saya pun berteriak histeris memanggil nama si putih, O’Neil, saya lihat ke kiri dan ke kanan, saya tak menemukan anak itu. Langsung saya berlari ke arah kiri, dan saya membiarkan naluri saya yang mengarahkan langkah kaki ini, yang setengah berlari. Baru beberapa langkah kaki ini berjalan, saya melihat abang dan papa juga sudah keluar dari rumah, untuk ikut mencari anak kecil ini. Mereka berdua pun mengambil arah yang berbeda.

Saya memutuskan untuk berkeliling kampung yang letaknya di belakang komplek rumah saya, sembari bertanya kepada orang-orang yang sedang berkerumun di sepanjang jalan yang saya lewati, termasuk ke tukang-tukang ojek yang biasa saya tumpangi dan juga tetangga-tetangga di gang sebelah, “Tadi ada yang liat non, jalan ke gang 3.” Saya pun menyusuri jalanan yang disebutkan hingga ke ujung, dan tibalah di persimpangan. Saya memutuskan untuk mengambil ke kiri, ke arah masjid di jalan utama kompleks, hasilnya pun nihil. Saya kembali ke arah terusan gang rumah saya yang menuju ke kampung yang letaknya di dekat sebuah sekolah katolik. Sesampainya di sana saya bertanya pada satpam sekolah itu, “Pak, liat anjing kecil pendek, warnanya putih-coklat?” “Oh, tadi ke arah sana.” “Ke kampung atau balik ke kompleks?” “Ke kompleks non.”

Tak jauh dari sana, saya lihat ada beberapa tetangga saya, yang setahu saya dia juga mempunyai beberapa ekor anjing, “Lihat anjing gue ga yang pendek putih-coklat?” “Oh, tadi udah dibawa Oom kayaknya, dah ketemu kok.”

Saya pun langsung berlari menuju ke rumah dengan perasaan lega. Dan sesampainya di rumah, saya langsung menggendong si kecil yang sedang menunjukkan wajah penuh rasa bersalah. Tapi ada satu kejanggalan, saya melihatnya terus seperti sedang mengunyah sesuatu, dan tanpa basa-basi, saya memeriksa mulutnya, ternyata ada satu giginya yang mau lepas, “Yak another problem, harus dibawa ke dokter ini, tapi kapan ya?”

Saya langsung berlari ke kamar, mengambil “buku primbon” yang saya beli tentang first aid untuk anjing. Ternyata di sana tertulis masih tak apa jika dibawa ke dokter hewan dalam kurun waktu 1X24 jam. Tak lama kemudian saya menelepon dokter, dan membuat perjanjian untuk Senin pagi.

Malam harinya, O’Neil mendapat kemewahan karena saya perbolehkan tidur dengan saya di kamar, setelah sekian lama tak lagi saya izinkan tidur dengan saya. Sepanjang malam, ia sering sekali membangunkan saya, karena merasa tak enak dengan giginya, “Ga enak ya Nak, nanti ke dokter ya. Lain kali jangan nakal keluar-keluar rumah ya, tuch ujan, kalo tadi O’Neil ga ketemu, mau bobokh dimana? Giginya lagi sakit khan?” dan omongan saya itu dijawab dengan “Hoommommoomm,” seperti orang yang sedang bergumam panjang. Dan saat ia membangunkan saya untuk kesekiankalinya, ternyata giginya terlepas, dan semenjak itu, ia pun bisa tidur dengan lebih pulas.

Beberapa kali saya terbangun, hanya untuk memandangi anak kecil itu tidur melintang horizontal di ranjang saya yang hanya berukuran 100cmX200cm itu, “Nak…maminya gimana tidurnya, kalo kamu melintang, terus ngangkang gini pulakh,” dan anak itu ga bergerak sedikit pun. Akhirnya saya berpindah posisi, yang tadinya saya menempel ke dinding, akhirnya saya mengambil sisi sebaliknya, sebagai pagar O’Neil agar ia tak terjatuh, dan guling saya letakkan di sisi lainnya supaya O’Neil tetap hangat.

Pagi harinya, mama membangunkan saya, karena beliau tahu tadinya saya berencana membawa O’Neil ke dokter. Dan begitu mama membuka pintu kamar saya “Waaaduuuhh, enaknya tidur di sini, dah kayak orang, pantesan dicariin di bawah ga ada,” saya yang mendengar omongan mama tapi belum membuka mata langsung merespon “Ga jadi ke vet mam, giginya O’Neil dah copot, aku yang anter mama ke Pondok Indah aja.”

Saya tak langsung beranjak dari tempat tidur, sampai akhirnya mama berteriak dari bawah “Sa, mandi, mau berangkat jam berapa?” “Ntar-ntar aja, masih pagi juga, jalanan khan kosong.”

Tak berapa lama, saya memutuskan ingin melihat jam berapa saat itu, dan begitu saya membuka mata, tepat di depan mata saya, ada benda kecil bulat-bulat berjejer, berjumlah empat dan di tengahnya ada yang sedikit lebar dibandingkan empat lainnya. Sesaat saya belum dapat mencerna benda apakah itu. Tapi setelah saya benar-benar sadar, dan penglihatan saya benar-benar sudah penuh, saya baru ngeh bahwa di hadapan saya itu adalah O’Neil’s paw.

“Oooohhhaaalllaaahhh Nak, maminya di kasih kaki ya pagi-pagi, sama pantat ngangkang gini? But I’m glad that I can still see and have you this morning. Love you baby.”

Saya pun memberi kecupan pada anak kecil itu sembari berbicara padanya “Bangun yuk,” “Hooommmooommmm.”

“Dasar males. Mami gendong turun ya.”

Tepat Tiga Minggu…

Monday, March 29th, 2010

Belum hilang kesedihan saya akan kehilangan Rambo, saya kembali dipaksa untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya di rumah.

Sesampainya saya di rumah setelah pulang kantor hari Rabu, 24 Maret 2010, saya disambut oleh Molly yang tampak tak bergairah di teras depan. Dan seperti biasa saya mengelus-elus dia, karena setelah Rambo meninggal, hanya tinggal Molly yang menjadi penguasa teras depan rumah…

“Nak, kamu kok jadi kurus banget ginih. Males banget makan abis ditinggal Kak Embo? Mimi ke dalem dulu ya, ganti baju.”

Saya memang tak berganti baju, tapi malahan mengobrol dengan ibu dan bapak saya. Dan saya ingat betul kalimat di bawah ini yang mengakhiri obrolan kami bertiga.

“Molly tadi mau makan?”

“Mau, kasih makan lagi aja.”

Saya pun langsung beranjak menyiapkan makanan untuk perempuan jagoan saya yang satu itu.

Molly pun langsung beranjak dari tidurnya setelah mendengar saya memanggilnya untuk memberi makan. Namun tak lama kemudian setelah saya masuk kembali ke dalam rumah dan kali ini benar-benar untuk berganti pakaian, saya mendengarnya merintih kesakitan, sangat-sangat kesakitan. Saya bisa katakan demikian, karena saya tahu Molly adalah anjing kuat dan tahan banting luar biasa.

Tanpa basa-basi, saya langsung kembali menuju ke teras depan, dan kaget setengah mati, karena menemukan Molly tersayang kesulitan untuk berdiri. Kedua kaki belakangnya tiba-tiba lunglai dan lemas. Ia pun terus-menerus merintih dan menjerit kencang tanpa henti.

Saya pun sembari memegangi Molly berteriak memanggil Mama atau Papa untuk membantu saya…

“Panggilin Becky dounks, Ma. Minta pegangin Molly dulu, aku mau ganti baju.”

“Becky dah tidur.”

“Bangunin aja. Nih anak kenapa treak-treak?”

Akhirnya Becky, abang saya kedua menghampiri saya dan membantu memegangi Molly.

“Bentar Beck, gue ganti baju dulu, masih pake baju kantor ini.”

Saya pun bingung setengah mati, apa yang harus saya lakukan saat itu. Bolak-balik kiri-kanan, sampai saya memutuskan untuk membawa Molly ke Rumah Sakit Hewan 24 jam yang ada di Sunter.

“Molly harus dibawa ke Sunter sekarang. Damn besok gue ada Coffee Morning pulakh, gue ga bisa libur.”

Saya kembali masuk ke kamar, berganti baju kembali dan bersiap untuk membawa Molly ke Rumah Sakit bersama dengan Becky.

Becky pun tanpa basa-basi berganti baju, meminta uang sementara ke Papa dan menggendong Molly ke dalam mobil.

“Bentar ya Sayang, kita ke dokter ya. Sakit banget ya, Nak? Kita usaha bareng dulu ya.”

Saya bertugas mengendarai mobil, karena abang saya yang satu itu, lebih “buta” jalan daripada saya, yang lebih hobi kluyuran di jalanan.

Menyusuri jalan tol Kebon Jeruk dan tol Dalam Kota yang sudah kosong, tetap terasa lama, saat saya harus mendengar rintihan anak perempuan saya satu-satunya itu.

“Bentar ya sayang, Mimi lagi nyetir nih Nak, cepet ampe rumah sakit ya kita.”

Sesampainya kami di rumah sakit, saya melihat bahwa pasien yang berobat masih banyak. Tanpa berpikir panjang saya langsung menghampiri ke resepsionisnya…

“Mbak masih banyak ya? Emergensi nih.”

“Dah pernah ke sini?”

“Yang ini belom, anjing saya yang lainnya udah. Biasanya dibawa ke Green Garden.”

Saya pun diminta untuk mengisi data-data Molly dan saya sendiri.

“Dah mbak, hewannya dibawa turun aja, terus ditimbang ya.”

Molly kemudian ditangani oleh dokter yang sedang bertugas malam ini. Saya sudah tahu bahwa kondisi Molly sangat-sangat mengkhawatirkan, saat saya memeriksa kondisi mulutnya di mana seluruh gusi sudah nampak pucat pasi berwarna putih, detak jantung yang sudah sangat cepat. dan duburnya yang sudah mengeluarkan darah.

Di atas meja pemeriksaan, Molly yang sudah diberikan cairan intra vena dan diberi obat penghilang rasa sakit, masih juga menangis kesakitan, dan semakin keras saat saya melangkah menjauh daripadanya.

Saya pun kemudian berkata pada Molly…

“Sayang, sakit banget ya? Kita usaha dulu ya berempat ama dokternya ya? Molly khan kuat, cantik, pinter, usaha dulu, tapi Molly boleh milih nanti, mau ikut Embo atau milih ama Mimi, terserah kamu ya, Sayang. Tapi malem ini Molly bobokh sini dulu ya, ama dokternya, besok bis ngantor Mimi nengok Molly, kalo ngga ngantor nanti Mimi ga bisa nyembuhin Mowi.”

Saya mengantar Molly ke ruang rawat inapnya, tubuhnya yang sudah dingin dan terpasang infus, digendong oleh asisten dokter yang merawat Molly. Sesampainya di ruangannya, Molly masih diberi penghangat lebih berupa sinar lampu yang langsung disorot ke tubuhnya, tapi sebelum saya turun, ternyata, selang infus Molly pun sudah terlepas, karena ia terlalu banyak bergerak, mungkin kesal karena ia ingin berdiri tapi sudah tak mampu.

Saya kemudian berjalan menuruni anak tangga dan kembali ke ruang periksa tadi, untuk membereskan urusan administrasi rawat inap Molly, sembari berbincang-bincang sebentar dengan dokternya…

“Do your best untuk Molly ya, Dok.”

“Will do, tapi kita juga harus realistik, melihat kondisi Molly, terus terang sangat mengkhawatirkan, makannya saya ga bisa janjiin yang manis.”

“I know, still do your best.”

Abang saya pun kemudian nimbrung di perbincangan kami…

“Ya kalau memang yang terbaik untuk Molly adalah eutanasia, ya ga papa juga.”

Disusul dengan omongan saya…

“Ya tapi kalo bisa mah yang eutanasia, mah yang punya idup semua makhluk.”

Lalu si dokter pun menjawab…

“Saya juga paling males kalo disuruh nyuntik mati. Kalo ga ditungguin pemiliknya, saya diem-diem ngerawat dulu ampe beberapa hari lagi, kalo bener-bener ga bisa baru eutanasia. Saya ngga mau sebenernya.”

Setelah beres, kami pun kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Kembali saya yang mengendarai mobil, di tengah jalan tol yang sudah sepi, dan membuat kantuk. Jam mobil sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Dan tepat pukul 03.00 dini hari, Kamis 25 Maret 2010, saya dan si abang sampai di rumah.

“Deeemmmm…ntar jam 5 dah harus berangkat pulakh. Sialll.”

Sesampainya di rumah, saya langsung masuk ke kamar si Mama, berganti baju dan tidur. Namun tidur saya malam ini pun tidak nyenyak, karena memikirkan anak saya yang sedang di rumah sakit, yang terakhir sebelum saya pulang, saya masih mendengar rintihannya.

Pukul 05.00 waker yang bunyinya sungguh keparat itu, tumben mampu membangunkan saya dari tidur. Sialnya, saat diri ini belum mandi, taksi yang saya pesan sudah datang…

“Dem…telat ini gue bakalan.”

Dan benar tebakan saya, taksi yang saya tumpangi tak sanggup menghantarkan saya ke kawasan Pejaten dalam waktu satu jam, karena jalanan yang saya kira masih sepi di pukul 05.30 pagi, ternyata salah total.

“Duuuhhh…maap nih…HRDnya telat lagih…hahahhahah.”

Acara kantor tersebut tak berlangsung lama, dan karena jadwal saya seharusnya memang libur, jadi saya langsung meninggalkan store seselesainya acara itu. Dan pertanyaan selanjutnya…

“Jrittt..ga suka nih gue dah bangun pagi, pergi and ga tau mau ngapain. Telpon rumah sakit kali ya, gue nengok Molly, tapi belum jam 10.00, si dokter belom selese ngobatin pasien-pasiennya.”

Akhirnya saya memutuskan untuk sebentar nyangkut di warung kecil samping store, menenggak sebotol minuman teh di kemasan botol, dan ngobrol dengan beberapa anak saya, yang juga nyangkut di sana, sembari memikirkan apa yang harus saya lakukan sebelum pulang ke rumah.

Pukul 10.00, saya memutuskan untuk pulang, dengan menaiki Trans Jakarta. Saat pikiran ini sedang memikirkan Molly tersayang, tiba-tiba telepon saya berdering. Di layar tertera sebuah nomor yang tak ada di buku telepon si Bébé saya. Saya mengangkatnya…

“Hallo, mbak Rosa, ini dokter Endang.”

Yah, pikiran saya sudah tak karuan, saya sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh dokter itu…

“Mbak, sorry ya, Molly ga ketolong, barusan aja meninggal.”

Saya pun hanya bisa berkata…

“Yaaaahhh. Molly ga ketungguan ama saya ya.”

“Iya, tadi malem, jam 4 dia dah mulai bisa tenang, tapi jam 7 tadi dia pup darah, barusan meninggal. Tapi meninggalnya dia ga kesakitan kok, tenang.”

“Ya udah lah dok, yang penting dia sekarang dah ga sakit. Tapi saya ga bisa ngambil sekarang ya. Saya baru pulang dari kantor.”

“Ga papa. Nanti khan dimasukkin ke lemari pendingin.”

“Kalo dikremasi berapa, Dok?”

“Seratus ribuan.”

“Tapi abunya ga bisa diambil ya sekarang aturannya?”

“Iya, Mbak, abunya sekarang ga bisa diambil kayak dulu.”

“Ya udah, Dok, saya ambil Molly hari minggu ya. Ma kasih ya, Dok.”

Sesaat saya menutup telepon itu, semua “film” dari saat saya bertemu Molly di ujung jalan rumah saya, saat ia akhirnya mau diajak masuk ke rumah dan akhirnya kami pelihara, saat ia meminta untuk melahirkan anaknya di rumah, saat saya membawanya ke rumah sakit untuk disterilisasi, betapa senangnya ia menemani saya atau papa jalan-jalan, saat ia menangis karena dilarang ikut papa bersepeda, saat ia berteriak minta dibukakan pintu kalau ia kehujanan di luar saat ia ia berjalan-jalan sendiri tanpa kami temani, saat ia menyambut saya sepulang kantor, sampai detik-detik terakhir hidup bersama kami yang sudah berjalan kurang lebih 8 tahun.

Di tengah sedihnya saya setelah mendengar berita tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk turun di halte depan kantor Becky, dan menuju ke kantornya abang saya yang ikut menemani saya membawa anak cantik itu.

Dan begitu saya bertemu dengan Becky, di ruangannya…

“Mowi meninggal.”

“Hah? Yakin? Meninggal beneran? Cepet banget, masih mau makan, masih mau minum susu. Dokternya bilang apa?”

“Gak tau, orang belum diambil darah, belum di akupunktur, baru abis dikasih obat sama dibersihin. Tapi tadi dia check pupnya, penasaran kena Parvo atau bukan, dan ternyata bukan.”

Lalu saya menelepon ke rumah dan kebetulan yang mengangkat Papa, yang sering sekali ditemani Molly berjalan-jalan, sering mengajaknya mengambil uang ke ATM (dan jika Molly ikut, Papa memasukkan Molly sampai ke dalam ruang ATM, tidak dibiarkan menunggu di luar), atau menemaninya berjalan ke mini market yang letaknya di kompleks sebelah…

“Pa, Molly ga ada.”

“Yaaaahh, aduh, aku kebayang matanya. Ya udah lah daripada kasian. Dokternya belum nemu sakit apa ya?”

“Belum sempet observasi lebih lanjut.”

—-

She was a stray dogs…yang akhirnya saya dan keluarga saya pelihara dan sayangi. Dan terus terang, kami tak pernah tahu usia asli anak perempuan saya yang satu ini, tapi yang kami tahu adalah Molly kami sayangi, ia bagian keluarga kami, dan ia meninggalkan jejak kaki yang luar biasa dalamnya di hati kami sekeluarga…

“Love you, Mowiiii, we already miss your little cute eyes, we already miss you to the max. Nanti kalo Mi mati jemput Mi sama Rambo, ama Bozo, ama Boomer and kakak-kakakmu yang lain ya.”

*Masih belum bisa upload gambar…Damn!!! Jadi kalo mau liat fotonya Molly bisa klik di sini


Till We Meet Again In Heaven, Baby…

Thursday, March 4th, 2010

Kurang lebih seminggu ini, saya diminta belajar (lagi) bagaimana menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

Satu hal yang paling saya tidak suka dari memelihara binatang adalah saat saya harus melihat mereka sakit, menghadapi sakratul maut dan pulang ke rumah Tuhan. Itu adalah masa-masa penyiksaan batin bagi saya sendiri. Tersiksa karena melihat dan mendengar mereka merintih kesakitan. Tersiksa karena dilema apa yang harus saya perbuat, apakah harus ke dokter yang most likely mereka akan menyarankan untuk menidurkan bayi-bayi lucu itu (apalagi jika mereka memang sudah tua), atau memutuskan untuk merawat mereka di rumah dengan penuh cinta sampai ajal menjemput mereka.

Saat mereka merintih sakit, tak hanya dia yang merasakan, tapi saya, dan seluruh keluarga juga merasakan rintihannya. Bagaimana tidak, ia sudah tak bisa makan dengan enak. Makanannya harus dilembutkan, dan kami hantar ke mulutnya dengan menggunakan semacam suntikan yang berujung seperti pipet. Kami harus mendirikannya, karena ia tak sanggup lagi untuk berdiri sendiri, bahkan di menjelang ajalnya, kami harus membersihkan kotoran pup atau urin yang ia keluarkan spontan di tempat.

Sudah puluhan tahun biasa memelihara anjing, kami tahu persis, bagaimana kondisi mereka jika sudah mendekati ajal. Begitu pun juga saya, yang sudah mengetahui saat Rambo sudah dekat. Prediksi saya, paling lambat besok, itupun dia pasti akan menunggu saya sepulang kantor. Tak tahu kenapa, atau setidaknya empat anjing saya yang meninggal terakhir, pasti menunggu saya pulang ke rumah. Oleh sebab itu, hari ini saya bela-belain menemani Rambo sepanjang hari. Nyaris saya tak beranjak dari teras depan rumah, tempat “singgasana” si ganteng, nan cerdas, campuran German Shepherd dan Chow-Chow ini.

Saya hanya duduk di sampingnya, mengelus-elus tubuh dan wajahnya yang sudah sangat lemah, sesekali membersihkan badannya dan duburnya dengan tissue basah, sembari bernyanyi dan juga bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah saya/keluarga dan Rambo lalui selama 12 tahun kami hidup bersama. Hal itu membuatnya terlihat manja, Rambo sama sekali tak mau ditinggal, bahkan saat saya berlari ke dalam rumah untuk mengangkat telepon, ia sudah meraung-raung menangis tak mau ditinggal. Tentunya, itu membuat saya langsung kembali bersamanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dan saya belum makan siang. Saya bicara dengan Rambo, “Nak, Mimi makan siang dulu ya, belum makan siang nih, ditinggal sebentar ya, Embo mau mamam? Mi siapin?” Rambo pun hanya mengedipkan mata.

Dari dalam sembari makan saya mendengar Rambo tetap merintih minta ditemani. Namun seselesainya saya makan, saya tak langsung menemaninya lagi. Badan ini masih lelah, karena berhari-hari tak bisa tidur nyenyak merawat Rambo, bergantian dengan Mama, bahkan kami harus bangun saat subuh, kalau Rambo melonglong minta ditemani atau minta dibersihkan karena ia mengompol atau pup di tempat.

Akhirnya kurang lebih pukul 17.00, saya kembali memeriksa kondisinya. Ternyata ia masih meraung-raung, dan pup. Saya berlari ke dalam sebentar, karena tisu basah yang sudah saya siapkan di dekatnya sudah habis. Saat saya selesai mengelapnya, saya pun membersihkan lantai sekitarnya. Sedetik setelah saya letakkan pengki yang berisi sampah koran bekas yang juga digunakan untuk alas tidur Rambo, saya melihat ke arahnya dan dia sudah mengompol lagi. Lalu tak tahu mengapa, seperti ada yang meminta saya untuk melihat ke arah wajahnya, yang ternyata sudah bernapas satu-satu, dan perutnya sudah tidak mengembung dan mengempis, seperti adanya sebuah pernapasan.

Saya pun berlari ke arahnya…

“Rambo, Ayank dah mau pulang ya? Ma kasih wa, dah nemenin mimi 12 taun. Sekarang Mimi temenin pulang wa. Dah ketemu sapa aja? Chopin? Cello? Astor? Pluto? Bozo? Titip salam ya Nak, yuk putus ya napasnya, enakkan di surga loh Nak. Nanti kalo mimi mati, Embo jemput mimi wa? I love you, Honey, so much, ampe ketemu nanti wa,” dan saya pun mencium keningnya. Dan Rambo tidur dengan tenang tanpa rasa sakit sedikit pun.

Dan hari ini, tidak ada tangis saat Rambo pergi. Tak seperti hari-hari kemarin saat ia masih merintih kesakitan, air mata ini sempat mengalir, deras.

Saya pun langsung menelepon si Abang…

“Woi, di mana lu?”

“Kenapa lu? Laper?”

“Kagak, di mane?”

“Depan kompleks.”

“Buruan! Pemakaman.”

“Ooohh dah pulang? Thank God.”

“Buruan, keburu gelap.”

Terus terang, tanah itu sudah tergali semenjak hari Minggu lalu. Lagi-lagi, karena keluarga kami sudah tahu persis kondisi saat anjing-anjing kami sudah mendekati ajal, saat ke dokter pun, kami pasti akan mendapatkan respon sebuah sakit hati. Dan hari ini, tanah galian itu sudah kembali tertutup dengan tubuh bayiku, Rambo yang sudah tidur tenang, ada di dalamnya.

Kembali mereka mengajarkan saya, sebuah kesetiaan tiada tara, sebuah cinta tanpa syarat samaaaaa sekaaalliii, bagaimana harus menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

“Ma kasih wa Mbo…untuk 12 tahun yang sangat menyenangkan, maap kalo Mi sering telat ngasi mam, inget tadi waktu kita ngobrol, waktu mata Embo kinclong natap mata Mi, I Love You so much, jemput Mi nanti pas Mi mati wa.”

*seeebbbbeeellll mau upload foto bayi lucuku si Rambo, blog lagi ga bisa upload foto, DAMN*

*eh bisa liat foto bayiku, si Rambo dan teman-temannya itu di sini*

Please, Make Them Keep On Smiling…

Friday, August 14th, 2009

STOP ANIMAL CRUELTY…IT’S TIME TO MAKE THEM SMILE!!!

Penggalangan Dana Untuk Rumah Penampungan Hewan Pejaten…

Tuesday, August 11th, 2009

Artikel diambil dengan izin penulis aseli (Shirly Tiolina), dari AdopsiAnjingDotCom

Teman- teman, kali ini kita ada misi baru lagi

Setelah membantu Pak Tri, kali ini kami berencana membangun Pejaten Shelter (Jakarta Selatan). Karena kita semua tahu dan dapat melihat sendiri, masih sangat amat banyak hewan-hewan terlantar di sekitar kita.
- Anjing dan kucing liar yang terlindas kendaraan di jalanan.

- Anjing dan kucing yang disuntik tidur oleh pet shop karena sudah tidak mampu breeding atau karena cacat sehingga tidak bisa dijual lagi.

- Kuda-kuda tua yang ditelantarkan begitu saja oleh pemiliknya karena tidak mampu lagi menarik delman.

- Monyet-monyet kecil yang kurus yang menari menggunakan topeng – meminta belas kasihan pengemudi mobil di tepi jalan raya yang macet.

Ini contohnya :

Pincang

Kami memanggilnya “Si Pincang”, karena anjing terlantar ini tidak diketahui namanya sampai ditemukan oleh salah satu rekan kita dengan kaki terpelintir dan terluka karena dibacok orang tidak bertanggung jawab. Pincang selalu meringis kesakitan dan sangat trauma dengan manusia.

Byron

Byron, ditemukan oleh rekan iCARE di sebuah Gereja di Kelapa Gading. Setelah dibuang ke gereja itu, ternyata Byron bernasib buruk akibat penyakit kulit yang mengancam hidupnya jika tidak diobati. Saudara-saudara Byron di gereja tersebut juga terancam keberadaannya, karena diketahui satu per satu anak/saudara Byron “menghilang”.

Blacky
Blacky, rotweiller jantan ini ditemukan sedang ditambatkan di sebuah tiang listrik di tepi jalan raya. Dia dengan tega ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Sendirian, kelaparan, tanpa makan, tanpa minum. Tanpa belas kasih sayang.

Bagaimana perasaan Anda jika melihat hewan seperti Blacky, Byron, atau si Pincang? Apakah Anda merasa kasihan atau tidak peduli?

Apakah Anda ingin membantu memelihara atau menampungnya?

Atau mungkin Anda tidak bisa menampung tapi ingin membantu lewat sumbangan?

Peduli, adalah titik awal dari perbaikan nasib hewan dan satwa yang masih sangat banyak menderita di sekitar kita, seperti si Blacky, Pincang, dan Byron. Kepedulian kita, tidak cukup melalui kata-kata atau perasaan kasihan semata.

Kita bisa melakukan lebih dari itu!

Menampung dan merawat hewan-hewan terlantar (seperti Pak Tri dan sebagian besar dari kita semua), donasi dan kegiatan sosial melalui komunitas penyayang hewan yang banyak melakukan program sterilisasi massal, merupakan contoh-contoh tindakan nyata dari usaha manusia untuk melindungi hewan-hewan yang tidak berdaya.

Apakah nasib hewan-hewan terlantar semakin membaik melalui kegiatan-kegiatan ini? Jawabannya, “Ya, tetapi hanya sedikit. Karena ada keterbatasan dari kita semua.”

- Bagaimana dengan hewan-hewan yang tidak teradopsi karena sudah tua sehingga tidak ada yang ingin merawat mereka?

- Bagaimana dengan anjing dan kucing liar yang dikembalikan ke jalanan setelah disteril ternyata menemui kematian akibat infeksi karena tidak ada perawatan pasca operasi?

- Bagaimana nasib mereka yang ter lantar di jalanan tanpa kasih sayang, perlindungan, dan makan-minum yang layak, yang sebetulnya justru itu yang paling dibutuhkan?

Untuk itu, sebagian dari rekan-rekan yang bergabung di komunitas adopsianjing.com – yang dipertemukan melalui penggalangan dana untuk Pak Tri – menggagas pembangunan Rumah penampungan hewan terlantar, yang terletak di Pejaten, Jakarta Selatan.

Apa tujuan pembangunan rumah penampungan ini?

Walaupun untuk saat ini masih dipusatkan di Jakarta, akan sangat banyak manfaat dari rumah yang akan dibangun ini:

- Menjadi tempat penampungan, perlindungan, dan perawatan hewan-hewan (anjing, kucing, kuda maupun monyet) yang ditelantarkan, baik yang sifatnya sementara maupun permanen.

- Menjadi “penghubung” dengan komunitas / organisasi penyayang hewan lainnya untuk membantu proses seleksi adopsi.

- Membantu program sterilisasi dengan bekerja sama dengan dokter hewan terpercaya.

- Memberikan kesempatan dan tempat bagi rekan-rekan yang secara sukarela ingin membantu kegiatan sosial pe nyelamatan hewan-hewan terlantar melalui program rescue maupun perawatan secara berkala.

Kami sangat menyadari bahwa kami tidak mampu melakukan semuanya sendiri, dan seperti halnya keterbatasan yang kita semua miliki, kami mengajak teman-teman semua untuk berpartisipasi dalam pembangunan rumah penampungan ini.

Bagaimana kondisi rumah penampungan saat ini?

1. Lahan merupakan milik Dr. Susana Somali (Dr. Susan), seluas 1,5 ha. Dr Susan adalah seorang penyayang hewan hingga saat ini merawat sekitar 40 ekor anjing dan kucing di kediamannya sendiri, dan juga terlibat saat penggalangan dana untuk Pak Tri.

2. Saat ini sudah dibangun 6 kamar untuk menampung 11 ekor anjing dewasa dan puppies, yang sanitasinya baik dan bersih, serta beberapa ekor kucing yang berkeliaran bebas di sebagian lahan.

3. Sedang dibangun sebuah Warung tempat makan di lahan tersebut, yang konsepnya “Go Green”, yang direncanakan sebagai salah satu sumber dana untuk perawatan hewan-hewan yang ditampung (semacam subsidi silang supaya kehidupan mereka terjamin), dan sekaligus “merangkul” penduduk sekitar untuk turut berpartisipasi dan diedukasi tentang perlindungan hewan terlantar.

Apa rencana berikutnya?

1. Pembangunan 20-25 kamar kecil di rumah penampungan tersebut untuk menampung lebih banyak lagi hewan-hewan terlantar yang saat ini kami hentikan dulu karena keterbatasan tempat penampungan.

2. Merakit kendaraan khusus untuk melakukan rescue (saat ini kami bergantian menggunakan kendaraan pribadi sehingga kurang maksimal karena keterbatasan waktu).

3. Melengkapi peralatan rescue yang dibuat sendiri (seperti alat tulup / bius tembak yang harus digunakan untuk hewan-hewan yang sangat liar dan takut terhadap manusia).

Bagaimana Saya Dapat Membantu?

Untuk membantu lebih banyak lagi hewan-hewan terlantar, rumah penampungan ini membutuhkan dana sekitar 30 juta rupiah, dengan rincian:

- Besi CNP 10cm x 3,5cm x 2,1mm = 24 batang
- Besi CNP 7,5 cm x 2,5 cm 2,1 mm = 40 batang
- Besi siku 50 x 50 = 60 batang
- Besi beton no 10 = 100 batang
- Besi beton no 8 = 90 batang
- Pasir = 4 truk
- Pasir Dam (Sir dam) = 4 truk
- Semen = 70 sack
- Asbes = 60 lembar
- Paku asbes = 1 kotak
- Kabel listrik = 6 roll
- Fitting lampu = 12 buah
- Kawat kandang yang seperti lapangan tennis = 6 gulung

Teman-teman dipersilakan juga untuk membantu dalam bentuk bahan bangunan di atas.

Selain itu, kami juga membuka kesempatan bagi teman-teman untuk membantu perawatan hewan-hewan terlantar yang sudah ada saat ini melalui sumbangan:

1. Dog food kering, beras, koran bekas, kandang bekas layak pakai, makanan segar seperti kepala/kaki ayam dan daging mentah, susu lactose untuk bayi

2. Rice cooker bekas dan layak pakai untuk menanak nasi dan merebus bahan makanan agar lembek / lunak untuk dimakan

3. Perawatan anjing dan kucing: shampo, handuk, bedak kutu, kandang bekas tetapi masih bisa digunakan (untuk tempat perawatan sementara), rantai / kalung anjing/kucing

4. Informasi mengenai pengasuh/orang yang telaten merawat hewan-hewan terlantar untuk diwawancara oleh Dr Susan, yang saat ini sangat dibutuhkan di rumah penampungan ini

5. Adopsi dan menyebarkan informasi pencarian adopter (informasi tentang hewan yang akan diadopsi akan disusulkan)

Bagaimana Cara Donasinya?

- Untuk sumbangan berupa dana, bisa disalurkan melalui Shirly Tiolina Pasaribu

rek BCA KCP Tebet Barat Raya, no rek 436 1585 636

rek Permata Cabang Graha Surya Internusa, Kuningan, no rek 41009 1234 7

- Untuk sumbangan berupa barang, dapat disalurkan langsung ke lokasi rumah penampungan:
“Warung Kampung”

Jl. Pejaten Barat
Depan SMIP Pariwisata / kantor PDK (dekat Sekolah Gonzaga)
No telp 021 70776576 atau 0818872761 (Dr. Susan)

Terima kasih banyak untuk perhatian kalian. Tolong kabari temen-temen kalian juga yah untuk ikut membantu. Kiranya Tuhan dapat membantu meringankan nasib binatang-binatang terlantar lewat bantuan kalian.

Sterilisasi dan Vaksinasi Gratis Untuk Anjing/Kucing Liar/Pemilik Kurang Mampu…

Monday, July 20th, 2009

Bagi mereka yang mengetahui bahwa ada anjing dan/atau kucing yang perlu disterilisasi/vaksinasi, segera hubungi Vet Koes.

Setidaknya ini bisa mengurangi jumlah hewan liar di Jakarta dan penyakitnya.

Drh C. Koesharjono (Vet Koes) mengadakan proses sterilisasi dan vaksinasi massal untuk anjing dan kucing terlantar/yang dimiliki oleh owner kurang mampu.

Please pay attention to these details!

Registrasi : Vet Koes : 0855.1013970 mulai tanggal 13 Juli.

Terbatas untuk : hewan liar/pemilik yang kurang mampu

JADWAL STERILISASI/VAKSINASI
Waktu : 20-26 July 09,  pukul 09.00-17.00 WIB
Tempat : Klinik drh. C.Koesharjono, Jl. Wijaya Kusuma I/26 Depkes RI, Fatmawati Jaksel.

Catatan:
1. Seleksi oleh vet Koes, jadi silakan langsung menghubungi/kontak nomor di atas.
2. Ada kemungkinan pasien ditolak utk gratis bila pemilik masih dianggap mampu utk membayar.

*Mohon maaf atas keterlambatan publikasi berita ini, semoga belum terlalu terlambat.*

Bukan Lagi Hanya Sebagai Teman…

Sunday, July 5th, 2009

Membicarakan seputar pemeliharaan anjing dengan teman-teman saya sesama pencinta hewan lucu ini memang tak pernah ada habisnya.

Kebanyakan dari kami, sudah menganggap hewan yang awalnya hanya sebagai peliharaan kami ini, adalah bagai anak-anak sendiri. Bukan lagi sebagai teman ataupun sahabat saja. Bagaimana tidak kami anggap sebagai anak sendiri, lah wong mereka selalu membuat kami senang, dan hilang rasa lelah sepulang kami bekerja, saat mereka sakit bisa-bisa kami pun juga ikut sakit, dan saat kami sedih mereka juga seolah tahu dan berusaha menghibur.

Hal-hal tersebut semakin saya rasakan dari hari ke hari. Sepulang kantor, bisa dipastikan mereka-lah yang pertama kali saya sentuh setelah meletakkan tas. Kibasan ekor dan tarian selamat datang sudah mereka pertunjukkan tiap saya sampai di rumah. Dan jika hal itu tidak dipertunjukkan seheboh biasanya, adalah pertanda bahwa kondisi badan mereka tidak baik, yang membuat saya pun kemudian mulai mengajak bicara dan memeriksa mereka. Mungkin, jika saja dulu saya tidak cacat di mata pelajaran-mata pelajaran jurusan IPA, saya sudah berprofesi sebagai dokter hewan saat ini.

Anjing adalah satu-satunya hewan yang tidak pernah absen tinggal di rumah keluarga saya. Bahkan lebih sering jumlah mereka lebih banyak daripada jumlah manusia yang tinggal di sini. Dan kebanyakan anjing-anjing itu adalah pemberian dari orang lain, ada yang diberikan sejak mereka masih bayi, ada yang sudah besar baik anjing kampung maupun ras yang sudah tidak diinginkan oleh pemilik sebelumnya, ada yang memungut dari jalan, ada pula yang dibuang ke dalam halaman rumah.

Anjing-anjing yang berada di rumah saya, termasuk anjing yang beruntung, karena mempunyai tempat tinggal dan orang-orang sekitar yang sayang pada mereka. Dan membuat saya miris saat membayangkan atau melihat anjing-anjing di jalanan yang tak bernasib sama dengan anjing-anjing di rumah saya.

Kecintaan pada anjing khususnya, membuat saya tergabung dalam grup-grup pencinta hewan ini, termasuk grup Angels of Paw. Melalui situs ini saya mengetahui bahwa ternyata masih banyak orang di luar sana yang peduli terhadap binatang liar, binatang jalanan, termasuk Pak Triyono yang sukarela memelihara anak-anak panti asuhannya dengan suka cita dan cinta, walaupun masalah silih berganti datang menimpa beliau dan anak-anak yang lucu itu.

Informasi Pak Tri ini saya dapatkan dari milis grup Angels of Paw ini pertengahan Juni lalu. Namun saat itu saya hanya bisa membantu sebatas penyebaran berita (belum membantu dalam finansial) kondisi Pak Tri, dan anak-anaknya yang saat ini sangat membutuhkan bantuan pelunasan cicilan rumah tinggal mereka. Kebetulan saat saya membuka Facebook beberapa hari lalu ada halaman samping yang menginformasi kondisi Pak Tri ini, dan dari sana saya mendapatkan tautan situs yang dibuka khusus untuk menggalang dana untuk beliau dan anak-anaknya, yaitu situs Adopsi Anjing.

Setelah berkunjung ke situs tersebut, saya semakin sukarela untuk membantu menyebarkan informasi ini lebih luas lagi melalui situs pribadi saya, dan tentu dengan izin pemilik situs Adopsi Anjing itu; serta menyisihkan sedikit hasil kerja saya sebulan ini untuk Pak Tri dan anak-anaknya.

Saya ikut senang mendengar perkembangan yang sangat pesat donasi-donasi yang masuk melalui rekening Shirly Tiolina. Dari hari ke hari saya turut memantau daftar donasi yang masuk, karena beberapa hari belakangan ini, saya sudah seperti “debt collector” mengingatkan ke orang-orang terdekat melalui Yahoo Messenger, SMS, BBM, dan berbagai cara untuk membantu.

“Mau nyumbang ga? Buka adopsianjing.com deh, 10 ribu aja, mbantu banget lo.”

Dan saya merasa senang lagi, karena tanggapan mereka positif dan mau menyumbang bahkan dengan jumlah yang lebih dari jumlah minimum yang disyaratkan untuk transaksi transfer melalui mesin ATM.

Untuk teman-teman dan saudara, yang sudah bersedia saya “todong” terima kasih banyak ya. Dan untuk teman-teman lain yang sudah menyanggupi menyumbang, tetap saya tunggu berita baiknya dengan munculnya nama kalian di daftar donatur di situs Adopsi Anjing tersebut. Sekali lagi berapa pun jumlahnya, walaupun minimal Rp.10.000 sesuai syarat transaksi transfer melalui mesin ATM. Anjing-anjing, kucing-kucing, ular atau hewan peliharaan kalian di rumah, adalah hewan yang beruntung, termasuk anak-anaknya Pak Tri juga saat ini termasuk beruntung, tapi bayangkan kalau sampai mereka kehilangan rumah? Masih beruntungkah mereka? Dan bagaimana perasaan Pak Tri yang selama ini merawat mereka? Pasti ikut sedih ‘kan?

Tenang saja, usaha Shirly dan teman-temannya bukanlah usaha penipuan. Dan untuk informasi bagi kalian, saya tahu persis saat ini Shirly bekerja di mana, jadi tak perlu khawatir (“Jadi kalo ada apa-apa “nangkep”nya gampang ya Shir? Huahahahahah, becanda Non!”).

Bagi mereka yang ingin menyumbang ataupun mendaftar program adopsi, bisa menghubungi Shirly melalui situs Adopsi Anjing yang bisa diklik di sini. Dan yang ingin memberikan sumbangan berupa makanan kering/beras ataupun barang-barang, bisa menghubungi Jakarta Animal Aid Network, untuk koordinasi penerimaan barang dan penyalurannya.

Namun karena banyak juga yang menanyakan langsung nomor rekening Shirly kepada saya, maka pada entri ini saya putuskan dan juga atas izin dari Shirly, untuk mencantumkan nomor rekening Shirly:

Shirly Tiolina

Bank BCA, Nomor Rekening: 4361585636

Oh ya, bagi yang sudah menyumbang, daftar nama donatur bisa dilihat di situs Adopsi Anjing itu pula.

Terima kasih ya teman-teman, Pak Tri dan anak-anaknya pasti senang.

—-

“One of my dream jobs in the future: punya dog shelter, selain pekerjaan penulis dan pengajar. Woi Bebbi, Dhani, Diko, Anton, kerja, ngumpulin duit, kita buka breeder Golden “bodo” itu plus penampungan dogie yak, kayak yang udah kita omongin di obrolan khayalan kite waktu itu. Idup ama mereka itu sangat menyenangkan!”

“Hmmm ‘Cha, breeder? Kayaknya elo bakal rugi, bakalan kagak ada yang rela elo jual tuh GoldRet hahahhahaha!”

“Duuuhhh kamu lucu-lucu banget sih, Nak.”

Kisah Sedih Seorang Penyayang…

Wednesday, July 1st, 2009

Lima puluh anjing dan kucing terbuang. TELANTAR. Diabaikan oleh pemiliknya yang tidak bertanggung jawab. Hanya karena mereka tidak “cantik dan sempurna“.

Untungnya, masih ada secercah cahaya bagi kehidupan puluhan binatang malang itu. Adalah PAK TRI, yang mencintai mereka sepenuh hati. Dia merengkuh mereka dengan kasih sayang tulus. Dia sembuhkan luka-luka mereka, dan membawa mereka pulang. Tiap hari dia tak pernah lelah menyelimuti mereka, menyiapkan makan untuk mereka, dan menyediakan atap demi melindungi mereka dari terik mentari dan curahan hujan.

Pak Tri bukan orang berlebih harta. Hidupnya sederhana dan bersahaja. Tapi dia tidak pernah merasa rugi barang sedikit pun selama mengasuh puluhan anjing dan kucing telantar itu.

CELAKANYA, ujian datang silih berganti. Dan kini Pak Tri beserta “anak-anak” kesayangannya itu terancam terusir ke jalanan. Bagaimana mereka dapat bertahan hidup nantinya bila itu terjadi?

Awal mula cerita….

IMG_1675

Pada mulanya Pak Tri tinggal di daerah Tanjung Duren. Setelah merawat satu demi persatu binatang yang terluka, pada saat itu anjing dan kucingnya mencapai 50 ekor. Walaupun tempat tinggalnya tidak besar, Pak Tri rela berbagi dan membagi penghasilannya untuk memberi makan hewan-hewan terlantar ini. Pria paruh baya yang mencari nafkah dari menggarap plang dan spanduk ini tidak pernah mengomel atau mengeluh.

Senyum dan kasih selalu diberikannya bagi para penghuni ‘panti asuhan’ nya. Dan hewan-hewan ini pun mengerti, meskipun mereka hewan liar yang terbuang, dengan trauma yang mendalam. Mereka hidup akur satu dengan yang lainnya, anjing dan kucing, yang keturunan ras dan kampung.  Seakan mereka berkata, kita semua saudara senasib sepenanggungan.

Dan ketika nama Pak Tri mulai terkenal, maka rumah Pak Tri menjadi rujukan bagi mereka yang mempunyai anjing atau kucing sebatang kara yang ingin dititipkan. Meskipun rumahnya sudah sesak, dan hewan-hewan yang dititipkan tidak semuanya dalam keadaan sehat, tapi Pak Tri tetap dengan rela menerima dan merawat mereka.

Berpindah…..

IMG_1674Namun para tetangga mulai menentang Pak Tri. Dengan dalih merasa terganggu mereka menyatakan ketidak senangannya dengan aktivitas Pak Tri ini. Pak Tri pun dihadapkan kepada dua pilihan. Melepaskan anjing dan kucing terlantar itu ke jalan atau mencari tempat baru. Sebagai orang biasa, tentu bukan hal yang mudah bagi Pak Tri untuk pindah dan membeli tanah yang baru.

Untunglah dengan meminjam kepada Bank, Pak Tri bisa mendapatkan tempat tinggal baru di Batu Ceper, Tangerang. Untuk sementara dia bisa bernafas lega.

Krisis….

IMG_1679Saat ini, Pak Tri tinggal bersama 2 orang temannya yang membantu perawatan rumah serta anjing & kucingnya, yang mencapai 30 ekor (25 ekor anjing + 5 ekor kucing). Krisis ekonomi yang menghantam mengakibatkan sejumlah pembeli spanduk dan cetakannya kesulitan membayar. Dengan jumlah pesanan yang menurun, memelihara semua binatang ini menjadi beban tersendiri bagi Pak Tri.  Apalagi Pak Tri masih dibebani cicilan tanah nya yang sudah menunggak beberapa bulan. Hal ini mengakibatkan dia menjadi ragu dan sedih akan masa depan ‘panti asuhannya’.

Bukan semata karena takut kehilangan anijng dan kucing nya, tapi dia takut akan kehilangan kesempatan untuk terus menjadi penyayang dan pengasuh para binatang yang terluka. Berapa banyak binatang terluka yang tidak bisa ia selamatkan jika ia tidak punya tempat tinggal. Saat ini para anjing dan kucing itu hanya makan air rebusan tulang dan nasi putih. Sumbangan makanan terus berdatangan walau tidak rutin, namun masalah terbesar Pak Tri adalah tempat tinggalnya.

P1020209Saat ini Pak Tri telah mendapat Surat Peringatan ke-3. Jika tidak segera membayar, bank akan menyita rumahnya. Bila itu terjadi, Pak Tri dan para binatang telantar itu pastilah terlunta-lunta di jalanan.
Tapi… Masih ada waktu untuk mencegahnya…
Masih ada peluang untuk menyelamatkan Pak Tri dan puluhan anjing dan kucingnya…

Dan ANDA YANG DAPAT MELAKUKAN ITU!
ANDA ADALAH SECERCAH HARAPAN BAGI MEREKA!

Bila hati Anda tergerak untuk membantu Pak Tri dan puluhan binatang malang itu, Anda dapat:
1. Mengadopsi anjing atau kucing tersebut. Yang semuanya tentu saja dalam kondisi sehat dan sudah steril; atau,
2. Menyumbang uang (berapa pun jumlahnya – 10 ribu perak pun membantu) demi pelunasan cicilan rumah Pak Tri.

Bagi kamu yang ingin membantu Pak Tri dalam bentuk apapun, silakan klik di Adopsi Anjing.

Ada Mbak Shirly yang siap membantu untuk mengkoordinir dana (serta nomor rekening yang bisa untuk penyaluran dana) dan sumbangan berupa makanan hewan/beras yang masuk, serta proses pengadopsian anjing dan kucing tersebut.

—-

“Hayooo, yang katanya para pencinta binatang…segera bantu…look how cute their faces…full of love…unconditional!!!”
—-

Konten entri adalah properti dari situs Adopsi Anjing Center (setelah mendapatkan izin dari Mbak Shirly untuk mempublikasikan ini di situs pribadi saya).

Need Your Donation A.S.A.P!!!…

Monday, June 15th, 2009

Letter from Angel of Paws Moderator…

Hi members, few days ago few of our members receive an email about a guy who takes care of 22 stray dogs and 15 cats. He’s an incredible guy with a good heart. His name is Pak Triyono.
He lives in Batuceper Kalideres, Tangerang.

He runs a “Spanduk Business” where he would print and designs other businesses’ logo for several businesses where mostly are for property agents.

With his own money, he would take care of these dogs and cats. Since, the subprime mortgage crisis, he’s business has been crumbling down. His monthly revenue that was usually about Rp 80,000,000 ($8,000) has gone down to ($2,000).

The problem also has increased because he has an interest payment to pay every month, about Rp 6 million ($600) for his house where he takes care of those dogs. He has not been able to pay this amount, which made his immediate debt went to Rp33 million ($3,300). His priority now is to pay Rp 32,647,322,- (about $3,300 for Jan09- June 09 debt) ASAP or Panin Bank will take over his house and the animals will be on the streets.
His full debt is Rp 325 million.

Therefore, since there are 179 members of you in this, I would like to ask for your help to donate money to amount $3,300. That would be about $20 for each of you (Rp 200,000).

When you transfer the money to Angels of Paws account at 164 031 8500,Bank BCA branch Kalimalang Joyce Aryani Gunawan, please email your proof at angelsofpaws@gmail.com

In the meantime, here are what AOP plan to do:

  • Getting the proof of payment to Bank Panin and post it to you all on Facebook.
  • I, Yuri will personally coach Pak Tri business so that his business can be profitable and works without him.
  • Creating Communities of committed people that want to adopt dogs and cats from Pak Tri as well as other places such as JAAN, ICare and the streets.
  • Getting exposure over the web through Pak Didi (on of the founders of detik.com, now have his own site politikana.com).

I thank you for your help, and please DONATE NOW!! safe those animals life now!!

How Could You…

Friday, May 15th, 2009

Berikut ini adalah kutipan dari surat elektronik yang saya terima dari salah satu grup pencinta binatang yang saya ikuti.

It is really-really nice and touchy story for animal lover, especially dog lover. Just read it.

It made me cry.

Sent by the moderator of Angels of Paws.

—-

A man in Grand Rapids, Michigan, took out a $7000 full page ad in the paper to present the following essay to the people of his community:

When I was a puppy, I entertained you with my antics and made you laugh. You called me your child, and despite a number of chewed shoes and a couple of murdered throw pillows, I became your best friend. Whenever I was “bad,” you’d shake your finger at me and ask “How could you?”- But then you’d relent and roll me over for a bellyrub. My housebreaking took a little longer than expected, because you were terribly busy, but we worked on that together. I remember those nights of nuzzling you in bed and listening to your confidences and secret dreams, and I believed that life could not be any more perfect.

We went for long walks and runs in the park, car rides, stops for ice cream (I only got the cone because “ice cream is bad for dogs” you said), and I took long naps in the sun waiting for you to come home at the end of the day. Gradually, you began spending more time at work and on your career, and more time searching for a human mate. I waited for you patiently, comforted you through heartbreaks and disappointments, never chided you about bad decisions, and romped with glee at your homecomings, and when you fell in love.

She, now your wife, is not a “dog person” –still I welcomed her into our home, tried to show her affection, and obeyed her. I was happy because you were happy. Then the human Babies came along and I shared your excitement. I was fascinated by their pinkness, how they smelled, and I wanted to mother them, too. Only she and you worried that I might hurt them, and I spent most of my time Banished to another room, or to a dog crate.

Oh, how I wanted to love them, but I became a “prisoner of Love.” As they began to grow, I became their friend. They clung to my fur and pulled themselves up on wobbly legs, poked fingers in my eyes, investigated my ears, and gave me kisses on my
nose. I loved everything about them and their touch–because your touch was now so infrequent –and I would’ve Defended them with my life if need be. I would sneak into their beds and listen to their worries and secret dreams, and together we waited for
the sound of Your car in the driveway.

There had been a time, when others asked you if you had a dog, that you produced a photo of me from your wallet and told them stories about me. These past fewyears, you just answered “yes” and changed the subject. I had gone from being “your dog” to “just a dog,” and you resented every expenditure on my behalf.

Now, you have a new career opportunity in another city, and you and they will be moving to an apartment that does not allow pets. You’ve made the right decision for your “family,” but there was a time when I was your only family.

I was excited about the car ride until we arrived at the animal shelter. It smelled of dogs and cats, of fear, of hopelessness. You filled out the paperwork and said “I know you will find a good home for her.” They shrugged and gave you a pained look. They understand the realities facing a middle-aged dog, even one with “papers.” You had to pry your son’s
fingers loose from my collar as he screamed “No, Daddy! Please don’t let them take my Dog!” And I worried for him, and what lessons you had just taught him about friendship and loyalty, about love and responsibility, and about respect for all Life.

You gave me a good-bye pat on the head, avoided my eyes, and politely refused to take my collar and leash with you. You had a deadline to meet and now I have one, too. After you left, the two nice ladies said you probably knew about your upcoming move months ago and
made no attempt to find me another good home. They shook their heads and asked “How could you?”

They are as attentive to us here in the shelter as their busy schedules allow. They feed us, of course, but I lost my appetite days ago. At first, whenever anyone passed my pen, I rushed to the front, hoping it was you that you had changed your mind-that this was
all a bad dream…or I hoped it would at least be someone who cared, anyone who might save me. When I realized I could not compete with the frolicking for attention of happy puppies, oblivious to their own fate, I retreated to a far corner and waited.

I heard her footsteps as she came for me at the end of the day, and I padded along the aisle after her to a separate room. A blissfully quiet room. She placed me on the table and rubbed my ears, and told me not to worry. My heart pounded in anticipation of what was to
come, but there was also a sense of relief. The prisoner of love had run out of days. As is my nature, I was more concerned about her.

The burden which she bears weighs heavily on her, and I know that, the same way I knew your every mood. She gently placed a tourniquet around my foreleg as a tear
ran down her cheek. I licked her hand in the same way I used to comfort you so many years ago. She expertly slid the hypodermic needle into my vein. As I felt the
sting and the cool liquid coursing through my body, I lay down sleepily, looked into her kind eyes and murmured “How could you?”

Perhaps because she understood my dogspeak, she said “I’m so sorry.” She hugged me, and hurriedly explained it was her job to make sure I went to a better place, where I wouldn’t be ignored or abused or abandoned, or have to fend for myself–a place of love and light so
very different from this earthly place.

And with my last bit of energy, I tried to convey to her with a thump of my tail that my “How could you?” Was not directed at her. It was directed at you, My Beloved Master, I was thinking of you. I will think of You and wait for you forever. May everyone in your Life continue to show you so much loyalty.

A Note from the Author:

If “How Could You?” brought tears to your eyes as you read it, as it did to mine as I wrote it, it is because it is the composite story of the millions of formerly “owned” pets who die each year in American & Canadian animal shelters. Anyone is welcome to distribute the essay for a noncommercial purpose, as long as it is properly attributed with the copyright
notice.

Please use it to help educate, on your websites, in newsletters, on animal shelter and vet
office bulletin boards. Tell the public that the decision to add a pet to the family is an important one for life, that animals deserve our love and sensible care, that finding another appropriate home for your animal is your responsibility and any local humane society or animal welfare league can offer you good advice, and that all life is precious. Please do your part to stop the killing, and encourage all spay and neuter campaigns in order to prevent unwanted
animals.

Jim Willis