Archive for the ‘Renungan’ Category

Tinggalkan Kemarin…

Thursday, December 31st, 2009

Ku biarkan mimpi itu terbang seiring selimut gigil terpa angin…

Tinggalkan tawa mereka di atas tangisku…

Tinggalkan caci mereka yang tertumpah padaku…

Tinggalkan gelak mereka di atas mirisku…

Tinggalkan benci mereka di atas cintaku…

—-

Tak bisakah kalian tinggalkanku?

Biarkanku hidup?

Melukis mimpi yang tak lagi membunuhku dingin…

Tapi berikan hangat hati peluknya…

—-

Silakan meraih mimpi-mimpi baru…

Silakan mengukir tambatan hati baru di setiap detik langkah kehidupan karir dan cinta…

Silakan melukis angan dan bunga hati…

Silakan rengkuh senyum matarimu…

Jadikanlah tiap detik adalah hari barumu, dan tahun barumu…

—-

Happy New Year 2010, My Friends!!! Wish you all the best, in the up coming year…

Tik…tok…tik…tok…tik…tok…

One Of The Best Xmas Presents…

Friday, December 25th, 2009

Pada sebuah percakapan di telepon…

*: Merry Christmas…

&: Merry Christmas and Happy New Year…

*: Belom New Year dounks…By the way gereja jam berapa kemaren? Sama sapa?

&: Gue gereja dua kali…

*: Hah rajin amat…

&: Gara-gara gue ga dapet tempat duduk, gue muter-muter nyari tempat ga dapet gue keluar lagi, terus ikut misa berikutnya.

*: Gak sama pacar?

&: Gak, natal ndiri-ndiri, ntar taon baruan baru bareng.

*: Iya ya, sebelum taon depan barengan melulu.

&: Iya, ntar khan bosen.

*: By the way kapan sih?

&: Tengah taon.

*: Oooo…

&: Kok?

*: Iya masih lama, gue kira Februari atau Maret…

&: Tadinya mau Maret, tapi ga jadi…

*: Kawin gereja ‘kan?

&: Iya…gue ditipu tapinyah.

*: Kok ditipu?

&: Tadinya bilangnya mau digereja kita, akhirnya di gerejanya dia. Tapi gue pengennya persiapannya di gereja kita.

*: Udah jangan kayak orang susah, elo bawa aja tuch dua-duanya, tukang berkat gereja kita diboyong ke gerejanya dia, jadi elo dapet berkat double. Ada yang bisa gitu kok. Tapi elonya ga ikutan pindah ‘kan?

&: Gak lah, lah sama aja gitu, dah kayak 11-12.

*: Iya sih, baguslah elo ga pindah ke sana, jangan setrikaan, ga lucu ajah.

&: Eh, beneran deh, elo dah ga sama yang itu?

*: Ampun deh…masih ada yang nanya yah…Ngga lah. Dia dah nikah gituh last April.

&: F*ck*d.

*: Biar aja. Bukannya gue dah sempet cerita ama elo ya?

&: Gak, gue taunya dari sapa gituh.

*: Makannya khan gue bilang, tinggal elo yang belom gue hantar ke pelaminan.

&: Hah? Oh…hahahaha…eh talking about kawinan, ntar elo nyanyi yah.

*: Nyanyi di kawinan loe?

&: Iyah.

*: With my pleasure. Hari Sabtu yah?

&: Gak, Jumat.

*: Friday nite. Tempatnya?

&: Masih dipertimbangkan antara dua tempat sih.

*: Oh…okay…ya udin…once more Merry Christmas, kalo elo ntar butuh apa-apa for your wedding, telepon aja yah.

&: I will, thank you ya. Bubye…

*: Bye.

Percakapan antara dua orang yang dulu pernah punya cerita bersama…

Berawal dari sebuah pertemanan, berkembang rasa lainnya, yang kemudian mati, dan diakhiri kembali dengan sebuah pertemanan.

Dan setelah 16 tahun pertemanan dua orang itu…sampailah pada hari ini…

This friendship would last forever…

—-

Merry Christmas everyone…it’s glad to know that I can still call you as a FRIEND.

Aib atau Prestasi?…

Thursday, October 1st, 2009

Hmm…mungkin topik tentang pre-marital sex sudah cukup basi sepertinya untuk dibahas. Ada yang pro dan ada pula yang kontra.

Dinamika kehidupan kota besar, apalagi Ibukota seperti kota Jakarta ini memang sangat-sangat cepat. Bisa jadi perubahan terjadi dalam hitungan detik saja, termasuk dinamika dan perubahan pikiran manusianya. Salah satunya, pemikiran tentang seks pra nikah dan/atau seks bebas.

Kalau zaman dulu nih, membicarakan seks saja sudah dianggap suatu hal tabu, dan saru. Beda ‘kan ya dengan sekarang? Pelajaran tentang anatomi tubuh manusia yang membedakan antara perempuan dan laki-laki sudah mulai diperkenalkan sejak sekolah dasar, sex education juga sudah diperkenalkan ke sekolah-sekolah. Dulu, waktu masih zaman saya sekolah, sex education ini sudah diberikan saat saya duduk di bangku SMP, dan diulangi serta ditambahkan materinya saat saya duduk di bangku SMA (*Duuuhh jadi inget tuch film tentang aborsi berjudul Silent Scream*).

Contoh lainnya nih, ya pemikiran tentang seks sebelum menikah. Ini topik memang terdengar basi, tapi mengapa selalu menyebabkan pro dan kontra? Dan hai, kita ‘kan hidup di Ibukota, yang mendapat julukan kota yang tidak ada matinya. Pasti ada kehidupan malam, ada segala kemudahan fasilitas privasi, dari kamar motel, hotel, karaoke plus plus, dan bukannya seharusnya kita satu pemikiran bahwa pre-marital sex atau mungkin malahan free-sex ini adalah hal wajar menjadi salah satu potret kota besar, apalagi dengan segala kemudahan fasilitas tersebut? (*Yang kontra mulai sungut-sungut?*).

Jangan marah dulu, bukan berarti saya pro, atau kontra juga, saya berusaha netral (*Nyari aman hahahahha*).

Mungkin pernah dengar debat atau pendapat seperti di bawah ini, saat topik pre-marital sex atau free-sex ini dilontarkan ke forum…

“Enak ajah, yang laki bisa gitu main colok seenaknya tanpa bekas, trus ngarepin nikah nanti dapet cewek virgin? Dari mana perempuan tau kalo tuh laki masih perjaka?”

“Duuuhhh, anak perempuan kalo dah keilangan mahkota yang satu itu, berarti dia dah keilangan semuanya. Dah sampah.”

“Eh pre-marital sex itu testing dulu kale sebelum nikah. Hahahaha.”

“Kalo hamil gimana? Kan bikin pusing. Belom lagi kalo kena penyakit.”

Dan gong-nya adalah…

“Kan dilarang agama,” (*Daaarrr…skak mat*), walaupun saya lebih setuju jika dikatakan sebagai sesuatu yang sebaiknya sangat dihindari, karena Tuhan memberikan kepada kita pilihan bebas sepenuhnya. Tinggal saat akhir hari kita nanti, Dia yang menentukan apakah pilihan kita itu benar atau salah menurut “SOP”-Nya.

Saya pribadi, tidak hanya mendengar satu dua kali dari beberapa kenalan saya yang bercerita tentang hubungan mereka dengan kekasihnya (*Hehehe, kekasih resmi maupun kekasih “minjem”/ngembat punya orang lain*), tentu sampai dengan cerita-cerita seputar hubungan fisik mereka.

Seru, aneh-aneh, ajaib (*Apalagi urusan gaya-gaya yang dipakai dan tempat mencari sensasi, wakakakakak*). Semakin hari semakin banyak. Semakin hari semakin diceritakan tanpa malu, tanpa ditutup-tutupi, dan dengan nada ringan tanpa ragu.

Saya pribadi menyimpulkan, hmmm…sepertinya sudah bukan hal yang sangat tabu ya urusan yang satu ini, dan di atas pemikiran itu adalah pemikiran apakah virginitas sudah tidak terlalu penting bagi perempuan ataupun pria yang belum menikah? Kalau dilihat dari cerita-cerita yang sempat mampir di telinga saya, sepertinya hal itu bukan hal yang paten untuk didapatkan dari pasangan. Mungkin semua yang penting di atas segalanya adalah masalah hati dan cinta.

Dan jika saya ditanya, apakah hal itu sangat penting untuk saya, mendapatkan pria perjaka untuk dijadikan suami? Saya akan jawab, hahahaha…berhubung manusia seperti itu adanya hanya satu di antara sejuta, maka saya akan katakan saya tidak akan terlalu ambil pusing, as long as dirinya tidak membawa penyakit terhadap saya, dan stop playing around after we married.

Lalu pernah dengar juga kan ya, julukan si perawan tua, bagi perempuan yang sudah dianggap berumur tapi belum juga menikah? Dan bagi sebagian orang, ini merupakan suatu hal yang memalukan. Bahkan cerita yang juga sampai ke telinga saya, ada seseorang yang lebih memilih menjadi janda, daripada perawan tua.

Ada dua pikiran saat saya mendengar julukan perawan tua itu, yaitu: Hmmm…yakin dia masih perawan? Hahahaha. Dan pikiran ke dua adalah, kalau perempuan itu masih tetap perawan hingga umur tertentu, apalagi usia yang dianggap banyak orang sebagai usia tua/telat menikah, wah bukankah itu sebuah prestasi yang membanggakan dan bukanlah sebuah aib yang memalukan? Karena menjaga diri untuk tetap perawan hingga tiba saatnya nanti resmi menikah, saya yakin sangat sulit untuk dilakukan di zaman seperti sekarang ini. Bukan begitu bukan?

Mas, Gue Mau Pindah Agama…

Sunday, September 6th, 2009

Sampai detik ini, saya nyatakan bahwa saya masih memeluk agama Katholik. Dan sampai detik ini juga, saya masih melayangkan doa agar saya diizinkan tetap punya keteguhan hati, untuk berada di Gereja Katholik sampai saya dinyatakan selesai menjalankan tugas di dunia. Doa itu tetap terucap, meski saya bukanlah orang yang pantas menjadi panutan dalam menjalankan segala sesuatu yang harus saya jalankan, agar Tuhan memberikan perintah kepada St. Petrus, untuk membukakan pintu surga bagi saya.

Kenapa saya masih di Gereja Katholik? Kenapa saya masih melayangkan doa tersebut, kepada si Empunya hidup saya? Jawabannya hanya satu, yaitu saya masih merasa Katholik adalah yang terbaik untuk saya.

Mungkin beberapa dari kalian akan mengatakan “Ya ga heran, la wong Katholik dari kecil.”

Saya memang terlahir dan besar di keluarga Katholik. Dibaptis dengan nama yang sama, dengan yang dulu dipakai oleh St.Anastasia, dan menerima Sakramen Krisma dengan nama pelindung St. Rufina. Mengenyam pendidikan pun dari SD hingga kuliah, juga di institusi pendidikan Katholik.

Namun itu semua bukan menjadi alasan utama saya, untuk tetap berada di sana. Berada di Gereja Katholik. Kembali saya katakan bahwa Katholik masih menjadi yang terbaik untuk saya.

Begitu pun dengan Bapak yang saat ini sedang membangunkan sahur melalui pengeras suara Masjid, dan mungkin kamu yang saat ini sedang menjalani puasa, yang diusahakan 1 bulan penuh, masih memeluk agama Islam. Juga dengan teman-teman yang masih membuat sesajen persembahan di Pura kecil di rumahnya juga di mobilnya. Atau mereka yang masih memasang dupa saat mereka hendak berdoa di Wihara atau Klenteng. Mungkin salah satu alasan mereka tetap melakukan itu semua, karena mereka masih menganggap bahwa agama yang dipeluknya adalah yang terbaik menurutnya.

Namun apakah pikiran bahwa agama yang kita peluk itu merupakan yang terbaik untuk kita, lantas bisa dijadikan alasan untuk fanatik terhadap agama secara berlebihan, bukan ke dalam diri kita, tetapi ke luar diri kita sendiri? Dan kemungkinan terburuknya dapat merusak tali silaturahmi antar kita sesama manusia, yang notabene adalah bentukan dan ciptaan Sang Punya Semesta.

Jadi ingat cerita seseorang yang saya sayangi, saat ada seseorang yang saya sayangi lainnya bercerita padanya, yang kebetulan orang ini saat itu sedang berpacaran dengan seseorang yang saya sayangi juga (*Mudah-mudahan kamu ga repot mencerna kalimat ini ya?!* :mrgreen: )…

“Mas, gue pengen pindah agama. Menurut loe gimana?”

“Kalo untuk urusan itu, gue ga bisa jawab sama sekali. Itu yang tau cuma hatimu, dan tanggung jawabmu sama yang di Atas. Aku ga boleh sama sekali mempengaruhi kamu.”

*Ah, memang saya selalu dibuatnya menjura dirinya, atas kecanggihan otaknya yang sangat dahsyat*

Lalu, akankah kita menghormati setiap keputusan seperti itu; keputusan memilih jalan lain, memilih agama lain, atau bahkan memilih untuk menjadi seorang Agnostik atau seorang Atheis; dengan tidak merusak hubungan baik kita dengan mereka yang melakukannya? Menghormati pikiran mereka, bahwa agama yang dipeluknya saat ini, sudah bukan yang terbaik untuknya?

Knock-knock. Hey…your heart is knocking…

Once more…We are all beautiful with these differences…

—-

“Selamat hari minggu…Hmmm, kalo ntar ke gereja, nitip salam yah ama Oom J…!!” (*Lohhhh? Wakakakakak LOL*)

Beda Dulu, Beda Sekarang, Teman…

Friday, September 4th, 2009

Lagi-lagi saya menemui satu fenomena “keanehan” dalam hidup saya. Hmmm, kali ini bukan urusan percintaan, karena kalau masalah yang itu, tidak ada yang aneh, karena semua hal dalam kategori itu, saya anggap ‘aneh’ (*Hahahahahahah* :mrgreen: ).

Kali ini urusan pertemanan.

Saya, manusia yang hanya mempunyai sedikit teman dekat, apalagi sahabat sepanjang zaman.

Bagi saya, teman dekat maknanya tidak sama dengan sahabat. Teman dekat bisa saya temui di setiap komunitas yang saya masuki, seperti sekolah, kampus, kantor, dan lain-lain. Dan makna teman dekat bagi saya, adalah teman yang biasa bepergian bersama, mengerjakan tugas/pekerjaan, dan teman untuk berbagi cerita-cerita-kecil-seru-seruan tentang kehidupan saya. Namun sahabat seumur hidup adalah seseorang yang tahu luar-dalem, dari urusan aib sampai cerita detil sepanjang hidup saya, dan adalah tempat saya ‘lari’ jika saya menemui masalah, dan saya pun juga dijadikan ‘tong sampah’ untuk dirinya. Dan berapa jumlah sahabat dalam hidup saya? Waduh hanya segelintir, semua jari saya di satu tangan pun tak habis terangkat jika menghitung jumlahnya ini.

Jika membicarakan tentang teman dekat, dari saya berpindah-pindah tempat aktivitas, terutama sekolah, dan kampus, saya menemui satu kesamaan pola…

Saat reunian SMP…

“Woiiiiii…buset looo apa kabar…ya ampun…makin cungkring ajah. Masih belom dapet laki genah juga loh?”

“Byengsyek lu yeee…elo tuch perut dah buncit kayak oom-oom. Import balik lu ke tempat kerja lu terakhir gih.”

atau kejadian di suatu siang di jendela YM…

“Dulu ‘kan kita 3 taon ga pernah sekelas ya.”

“Dah ga sekelas, ga pernah ngomong sedikit pun selama itu pulakh. Sekarang kerjaannya ceng-cengan di YM, di milis lah. Bikin rusuh tret. Haaalllaaagghhh.”

atau kejadian di sebuah restoran Jepang…

“Kita kuliah dulu kan jarang ngomong ya bouw?”

“Hooh…masih sama-sama di alam lain kita.”

atau di sebuah kotak pesan di situs jejaring sosial…

“Jieeehh…akrab nih sekarang.”

“Ternyata enak kok ngomong sama dia. Diskusi dari hal aneh ajaib sampe yang normal.”

Do you see the similarities from three examples above?

Teman yang dulu jarang atau bahkan tidak pernah bicara dengan kita, padahal kita beraktivitas di sebuah komunitas yang sama, malahan sekarang menjadi teman yang ternyata sering kita ajak bicara dan berinteraksi.

Dan bandingkan dengan contoh di bawah ini…

“Eh, Cha, si siapa temen main lu dulu? Mana?”

“Hehehehe, ga tau, ngilang, dah kedengeran kabarnya lagi. Terakhir gue ketemu ya cuma hai-hai ajah ga ngobrol lama.”

atau…

“Si Rini mana ‘Cha?” (*Were you talking to yourself ‘Cha? Hahahahha*)

“Gak tau.”

“Kabarnya?”

“Ga tau.”

“Terus kerja di mana sekarang?”

“Yang gue tau tempat kerjanya dia yang lama, dan kayaknya dah pindah.”

“Dah punya anak?”

“Ga tau.”

Beda ‘kan? Dua contoh yang belakangan ini adalah contoh dari sebuah relasi yang sepertinya sudah tidak terbina dengan baik.

Hmmm…kenapa ya kejadian seperti itu bisa terjadi?

My own opinion, for the first three cases above…simply we could not see that person with our heart. Kita tidak memberi kesempatan untuk diri kita sendiri dekat dengan orang tersebut, walaupun saat itu, jarak antara kita dan orang itu tidak terlalu jauh, bahkan melakukan aktivitas yang bisa dikatakan kurang lebih sama.

Dan untuk dua kasus terakhir, it is simply we don’t put extra effort to maintain beautiful relationship we had in the past. Why?

Maybe you should ask yourself to find the answer!?

Indahnya Perbedaan…

Thursday, August 27th, 2009

Damai rasanya saat saya melihat barisan wanita bermukena berbaris berjajar saat mereka mengikuti Sholat Tarawih berjemaah, di bagian belakang masjid yang saya lewati. Yang diikuti dengan pemandangan barisan para pria dengan kopiah dan baju koko di masjid bagian depan. Mereka berdiri, bersujud dan menyembah Allah, dengan penuh rasa syukur atas hidup yang diberikan.

Tak kalah damai rasa di hati, saat saya duduk mengikuti misa di dalam gereja, dengan iringan paduan suara yang bertugas melantunkan lagu-lagu syahdu, yang juga merupakan doa yang kami panjatkan pada yang Empunya Nyawa. Apalagi saat perayaan hari raya besar, seperti Paskah (*FYI: yang tidak sama dengan perayaan kematian Yesus, atau Jumat Agung*), dan Natal. Saat semua lagu yang terindah dibawakan; saat Altar terhias bunga lebih meriah daripada biasanya; saat nelangsa dalam hati, karena kesadaran bahwa manusia ini lemah tanpa Tuhan, lebih terasa; saat sukacita karena keluarga kembali ke rumah.

Namun rasa itu terhempas begitu saja, setelah saya teringat penggalan berita yang sempat saya dengar dari televisi. Berita tentang himbauan untuk selalu mewaspadai isi kothbah-kothbah di masjid, yang mungkin saja merupakan hasutan untuk beralih ke jalan yang menyesatkan. Bertambah sedih karena teringat, bahwa kami harus melewati pemeriksaan Polisi di pintu masuk saat kami akan memasuki pintu gereja, terutama pada misa hari raya besar, yang memberlakukan satu pintu masuk dan satu pintu keluar, yang membuat umat lebih lama mengantri keluar dari gereja.

Miris memang kalau ingat hal itu. Dan semua itu terjadi setelah teror bom mewarnai negara kita ini.

Saya ingat betul bagaimana ngerinya liputan televisi tentang tragedi teror bom di banyak gereja, yang terjadi saat perayaan Malam Natal tahun 2000, merupakan teror bom pertama kali di Jakarta; yang kemudian disusul teror-teror bom di tahun-tahun berikutnya, di berbagai wilayah Indonesia, yang juga sangat mengerikan. Teror bom yang dilakukan karena tujuan tertentu, tujuan di mana menentang adanya pluralisme, yang merupakan suatu hal yang mendasar dari sebuah kehidupan, sejak kita dilahirkan.

Saya? Perempuan. Kamu? Laki-laki. Dan kamu satunya? Perempuan. Saya? Jawa dengan campuran sedikit Manado. Kamu? Mungkin Jawa bercampur Cina, mungkin Ambon bercampur Batak. Dan dia? Manado campur Aceh campur Portugis. Eh, atau dia yang di sana? Jawa, Manado, Cina, Belanda. Saya? Beragama Katolik. Teman saya yang satunya? Kristen Protestan. Kamu? Muslim. Atau dia, yang seorang Hindu. Yang di sebelah sana, kalau berdoa di Vihara. Saya kadang bicara dengan bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa. Kamu mungkin berbahasa Sunda dan kadang bicara Mandarin (*Ajarin gratis dounks hahahaha*). Si peranakan Jawa-Prancis di sebelah sana, terdengar seksi saat berbicara dengan bahasa Prancis (*Parlez Français Monsieur?*)

Pada dasarnya Tuhan menciptakan kita sudah dengan segala ciri khas masing-masing yang melekat ke diri kita, dan tentunya karena itu semua adalah suatu yang khas, pada akhirnya akan membawa ke perbedaan antara satu dengan yang lain. Dari yang paling dasar saja, jenis kelamin sudah dibedakan, letak geografis yang mendasari terciptanya suku bangsa dan bahasa, juga berbeda; kita pun mempunyai cara yang berbeda-beda untuk berkomunikasi dengan Allah.

Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah kehidupan akan lebih damai saat yang berbeda itu dapat hidup berdampingan, tanpa curiga, tanpa rasa takut, tanpa iri hati dan benci? Bukankah yang berbeda itu ada untuk dapat saling mengisi dan melengkapi satu sama lain?

Semoga himbauan untuk terus memperhatikan khotbah dan ajaran-ajaran pemuka agama, karena adanya rasa takut, kalau-kalau ajaran tersebut dapat menjerumuskan, juga penjagaan polisi di pintu depan gereja tidak perlu ada lagi. Hanya karena kita sudah bisa berdamai dengan diri sendiri, dan berdamai dengan orang lain dengan segala perbedaannya. Hanya karena semua manusia sudah menjunjung tinggi dan menghargai pluralisme.

No Doubt, They Are Great…

Thursday, August 27th, 2009

“What do you think about child with autism?”

“Hah, yakin loe nanya gue itu? Yakin, mau tau jawaban gue? Mereka luar biasa.”

Sumpah, itu yang akan keluar dari mulut saya, jika ditanya pendapat saya tentang mereka. Bukan karena saya punya keluarga yang mempunyai anak dengan autisma, atau juga bukan serta merta karena saya mempunyai latar belakang psikologi, tapi ya jawaban saya akan tetap seperti itu.

Ketertarikan saya akan anak-anak dengan autisma ini memang sudah lama.

Awalnya hanya berdasarkan rasa penasaran terhadap mereka “Kenapa ya mereka ga bisa dengan mudah berkomunikasi  dengan orang lain, atau setidaknya, tidak semudah kita yang dinyatakan lebih normal? Mereka sibuk ndiiirrrii terus” (*Padahal belum tentu lebih normal kita bouw, hahahaha*). Dan alasan lain yang membuat saya tertarik dengan mereka adalah “Ahh, seru juga ya mereka punya dunia sendiri, dan ga ada yang bisa melarang mereka.”

Ketertarikan ini benar-benar saya entertain, sebelum saya memasuki Semester VI saat masih kuliah dulu; karena semester ini sudah waktunya saya dan teman-teman lainnya memilih peminatan masing-masing. Dan karena saya sungguh “alergi” dengan DSM IV-TR (ini “kitab suci”-nya para Psikiater yang juga dipakai oleh para Psikolog, yang berisi tentang detil gejala gangguan jiwa), yang tebalnya hampir 10 cm, dan seukuran majalah zaman dulu, pastinya saya tak berminat mengambil peminatan Psikologi Klinis yang mengeksplorasi lebih dalam lagi tentang gejala-gejala gangguan jiwa sampai detil (*Lebay ga ya gue?*). Jadilah saya mengambil peminatan Psikologi Industri dan Organisasi.

Eksplorasi tentang Psikologi Klinis, sebelum peminatan dimulai, benar-benar saya manfaatkan. Semua tugas kuliah, saya usahakan mengambil fenomena ke hal-hal yang berhubungan dengan Psikologi Klinis, seperti saat memilih fenomena tugas akhir Mata Kuliah Wawancara, saya dan satu teman saya memilih untuk mewawancarai keluarga dan anak yang mengidap kanker, yang saat itu ia mengidap kanker hidung (*Si anak ini sudah meninggal di  tahun 2007*). Bidang Psikologi Klinis lainnya yang juga menjadi inceran eksplorasi saya, adalah tentang anak dengan autisma, yang pada akhirnya menjadi fenomena yang saya pilih untuk salah satu tugas kuliah (*Heheheh, lupa gue tugas kuliah apa. Mungkin pas Psikologi Abnormal*).

Dalam rangka memenuhi tugas perkuliahan yang  walau bertumpuk tapi ternyata benar-benar ngangenin itu, saya dan teman-teman mendatangi salah satu sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak dengan autisma ini.

Di sana kami diizinkan untuk melihat aktivitas mereka, baik saat di kelas (walaupun saat itu kami hanya melihatnya dari kaca jendela dari luar kelas), dan saat mereka beraktivitas di luar kelas. Terus terang, awalnya saya sedikit bingung dan takut berinteraksi dengan mereka, apalagi saat itu satu teman saya digigit oleh salah satu dari mereka, sehingga saya hanya berani mengobservasi pola tingkah laku yang mereka hasilkan, dari jauh.

Sangat menarik, banyak yang saya dapatkan, misalnya “Ternyata mereka diem-diem gitu, merhatiin sekitar ya bouw. Eh ada orang baru nih. Kenalan ah,” walaupun mungkin cara mereka berkenalan kadang tak lazim dengan cara orang biasa berkenalan, dengan menggigit tadi misalnya. Namun di lain pihak ada teman saya lainnya, yang langsung digandeng-gandeng oleh satu anak, untuk menemaninya makan siang.

Kami diberi kesempatan untuk dapat mengobservasi mereka di sekolah itu, sebanyak dua kali kunjungan.

Dan pada kunjungan kedua, kami lebih banyak menemukan kehebatan-kehebatan mereka lainnya.  Saya pun sudah tidak takut berinteraksi dengan mereka. Bagaimana takut, mereka bahkan ada yang mengingat nama salah satu di antara kami, dan serunya lagi, saat waktunya mereka untuk bermain dan berolahraga, yang tujuannya untuk melatih fungsi motorik mereka, mereka malahan mengajak beberapa dari kami untuk ikut bermain.

Kehebatan tentang mereka ini juga sempat diceritakan oleh salah satu dosen Psikologi Perkembangan I saya (*Mbakkk sapa haaayyooo?*), yang kebetulan seorang Psikolog Anak, yang menangani anak-anak dengan autisma ini. Ia pernah menceritakan bahwa, sempat ia atau temannya (*Saya lupa*) menjatuhkan satu kotak besar korek api batangan, di depan kliennya itu. Dan seketika anak itu melihat ke lantai, dan seketika pula si anak dapat menyebutkan jumlah korek api yang terjatuh. Berhubung dosen saya itu penasaran, benar atau tidak jumlah yang kliennya sebutkan, dan sayangnya tidak ada keterangan di luar kotak mengenai jumlah batang korek api yang terdapat di dalam kotak, maka dosen saya iseng memungut sambil menghitung jumlahnya. Dan ternyata jumlah yang dikatakan oleh kliennya TEPAT, dan sama sekali tidak meleset.

Contoh lain kekaguman saya terhadap anak-anak hebat ini, juga saya lihat sendiri saat saya berkunjung ke sekolah anak autis lainnya. Kebetulan anak-anak autis di sekolah ini sudah berusia remaja. Materi mata pelajaran mereka pun sudah lebih mahir daripada anak-anak yang masih kecil. Mata saya mendapatkan mereka sudah bisa melukis di atas kanvas (bahkan sudah dipamerkan dan dijual), sudah bisa melakukan berhitung dan pembukuan sederhana hasil berhitung tadi, sudah mampu membersihkan diri (berganti baju setelah olah raga, dan mencuci tangan), ada yang sudah bisa mengoperasikan laptop, mampu meminta sesuatu dengan sopan dan sudah mulai menatap mata yang diajak bicara, dan masih banyak lagi hasil kerja mereka yang membuat saya kagum.

Masih belum cukup bukti bahwa mereka itu hebat? Di Indonesia ada satu contoh nyata, seorang anak dengan autisma yang sekarang sudah menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Kebetulan si hebat ini, berkuliah di tempat yang sama dengan saya, walau berbeda fakultas. Do you know him? Oscar Yura Dompas, S.Pd, yang sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya beberapa tahun lalu di FKIP, English Department, dengan hasil IPK yang bagus (*kalau tidak salah dengar IPK-nya jauh di atas 3 lah, kalo salah maaf ya*).

Atau masih ingat film Mercury Rising yang diperankan Bruce Willis? Hmmm…kurang hebat apa coba si anak yang diperankan oleh Miko Hughes?

Inti dari panjang lebar tulisan saya di atas adalah rasa kagum saya yang tetap besar pada mereka, juga pada orang tua mereka.

Anak-anak dengan autisma memang kadang tidak paham bahwa menggigit bukan cara lazim untuk berkenalan, bahwa setrika panas tidak boleh ditempelkan pada kulit, atau berbicara dengan orang lain sebaiknya saling menatap, tapi mereka tetap hebat, dengan kemampuan dan fokus luar biasa akan satu hal yang menjadi minat mereka.

Mungkin bagi sebagian orang yang sudah mengetahui bahwa Oscar Yura Dompas didiagnosa dengan autisma ringan, akan ngebatin “Ya terang bisa ampe sarjana tho ya, lah cuma mild autism, kalo yang berat, mang bisa gitu?” tapi ada apa dibalik suksesnya si Oscar? Ada perjuangan dan dukungan orang-orang sekitarnya yang sangat besar, dari keluarga, dari orang di sekitar Oscar.

Atau anak-anak remaja dengan autisma di sekolah yang saya datangi itu, rasanya tak mungkin mereka bisa melukis lukisan hingga laku terjual, kalau tanpa dukungan orang sekitar mereka ‘kan?

Untuk para orang tua yang mempunyai anak-anak dengan autisma, waduuuhhh Pak, Bu, sumpah setengah mati, saya menjura pada Anda. Don’t you ever think bahwa kalian itu orang tua dahsyat luar biasa hebat? Bapak, Ibu dititipkan malaikat kecil dengan kemampuan luar biasa seperti mereka, berarti Bapak, Ibu, diakui kehebatannya dan dipercaya penuh oleh Pemilik Nyawa kita ini, mampu membesarkan, menjaga dan mendidik manusia-manusia hebat itu, anak-anak dengan autisma. Orang tua lain hanya dipercaya untuk menjaga anak dengan kebutuhan yang biasa, tapi Bapak, Ibu yang mempunyai anak dengan autisma, dititipkan anak dengan kebutuhan khusus (*Kalau orang tuanya ga orang tua hebat luar biasa, khusus dipilih dan lulus “ujian saringan” kehebatan menurut standard Allah, ya ga mungkin tho yang Di Atas sana percayain malaikat-malaikat itu ke kalian?*). Dan menurut saya, sepertinya itu adalah salah satu hal yang sebaiknya dijadikan alasan untuk tidak malu mempunyai anak-anak hebat seperti mereka.

Dukungan kepada mereka sekecil apapun sangat berharga termasuk memandang mereka sama dengan kita, yang menurut kita sendiri normal. Jangan anggap mereka berbeda, termasuk dengan berhenti menggunakan istilah autis untuk gurauan kita sehari-hari.

Terus terang saya malu setengah mati, apalagi sebagai lulusan Psikologi, dan saya juga ingin menyampaikan permintaan maaf pada semua orang tua dari anak-anak hebat itu, bahwa saya juga pernah menggunakan autis sebagai bagian dari bahan gurauan sehari-hari, misalnya di status FB: autis mode: ON, atau “Dah ah, gue mau ngautis dulu”. Itu serta merta saya lakukan, karena saya ingin mengatakan pada orang lain “Hey, just leave me alone, I’m busy, don’t disturb me, and I wanna have my own world, now! Go way,” tapi kadang mereka tetap tak membiarkan saya untuk melakukan itu (*Apalagi waktu itu lagi banget, nget, nget dikejar deadline nyelesein skripsi, huuhh*).

Lalu bicara tentang dukungan, kira-kira kita harus mulai dari mana ya? Mulai dari sini…

Stop using word autism for your daily jokes. Start from ourselves, and start it now.

—-

Dedicated to all children with autism, and their great parents…

Malaikat Tak Sempurna…

Tuesday, August 18th, 2009

Melewati daerah semi “Bronx” setiap pulang kantor, bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi jika saya pulang kantor sedikit lebih terlambat daripada biasanya, saat matahari sudah benar-benar menghilang terlelap.

Maklumlah, saya menggunakan kendaraan umum saat bepergian, terutama untuk pergi dan pulang kantor. Ya, namanya juga kendaraan umum (apalagi bukan taksi), pintunya tak pernah tertutup, yang berarti pula terbuka untuk siapapun untuk memasuki kendaraan itu.

Saya hanya bisa berdoa dalam hati, agar perjalanan saya tidak diganggu oleh orang-orang iseng, yang sempat beberapa kali memang memperlakukan penumpang secara semena-mena, bahkan penumpang yang jarak duduknya tidak jauh dari saya. Puji Tuhan, hal itu tidak (akan) menimpa diri saya.

“Duh, lewat daerah itu ntar dah gelap lagi. Our Father, Jesus, Mother Mary, St. Joseph, and Holy Spirit please be with me always.”

Hanya berbekal kalimat itu, yang mengawali langkah kaki saya saat bepergian, terutama pulang kantor di saat hari sudah gelap.

Namun kekhawatiran saya seperti itu, sering tergantikan dengan indahnya berbagai liputan jalanan yang bisa saya nikmati, tanpa harus berkonsentrasi dengan kendaraan yang saya kendarai, atau dengan lalu lintas Jakarta yang tak pernah jelas, atau dengan pengendara motor yang sering membuat saya bludreg (*Hehehe, sorry to say, tapi memang saya prefer masuk tol untuk menghindari ugal-ugalan si pengendara motor*).

Begitu pun dengan hari Jumat lalu. Saat saya baru bisa menginjakkan kaki keluar kantor, saat hari sudah gelap.

“Ah sudah lah, doa, pasrah and usaha.”

Saya pun menaiki kendaraan yang saya tahu akan membawa saya ke tempat tujuan. Memilih bangku yang dirasa cukup nyaman untuk saya duduki selama perjalanan. Sambil sesekali melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri saya.

“Beneran nih, ampe daerah brengsek itu dah gelap, sepi and macet.”

Ditambah saat itu saya adalah satu-satunya penumpang di dalam kendaraan.

“Biarlah. PD kelas berat gue.”

Namun rasa khawatir karena saya satu-satunya penumpang di sana, tak berlangsung lama. Ada penumpang lain yang naik ke kendaraan. Dan hei, penumpang ini sangat menarik perhatian saya selama perjalanan kali ini. Bukan karena penumpang ini ganteng atau cantik, wangi, atau berpakaian aneh-aneh, tapi karena penumpang ini saya anggap luar biasa.

Ia seorang pria, kira-kira berusia 40 tahunan, berpakaian putih dan berkopiah. Ia seorang pedagang, yang baru saja selesai berdagang. Saat ia ingin naik ke kendaraan, ia terlebih dahulu menaikkan perangkat ia berjualan, seperti gentong kecil, kayu pikulan, dan ember kecil yang berisi gelas-gelas kecil pula. Barang-barang yang dinaikkan, masih diatur seadanya, yang penting naik ke kendaraan. Termasuk tongkat yang menjadi alat bantu ia untuk berjalan. Dan terakhir yang berusaha naik ke kendaraan adalah si empunya peralatan jualan tadi.

Bukan hal mudah bagi dia untuk naik ke kendaraan. Tidak semudah kita, setidaknya saya, yang Puji Tuhan, Alhamdulilah, yang masih diberi organ tubuh yang lengkap dan tak bercacat.

Ia duduk dulu di undak-undakan di pintu kendaraan, lalu ia memutarkan badannya, sambil seperti “memapah” salah satu kakinya yang cacat itu, yang maaf sekali, kakinya tampak benar-benar lunglai klewer-klewer (seperti patah, tapi semoga tidak patah). Miris ya membayangkannya? Saya pun melihat kondisi kakinya itu dengan penuh rasa iba. Namun semua rasa iba itu hilang saat saya lihat ekspresi wajahnya, dan senyum renyahnya yang menyapa para penumpang, yang kebetulan bersamanya ada beberapa penumpang lain yang juga ikut naik.

Saya pun akhirnya mengetahui bahwa ia adalah penjual es jeruk, dari papan kecil yang tulisannya sudah mulai pudar, yang tergantung di pegangan gentong kecil, tempat ia menyimpan es jeruk buatannya. Es jeruk yang dijualnya dengan harga Rp.1.000 setiap gelasnya.

Dengan banyaknya barang bawaannya, kendaraan tampak penuh, padahal masih bisa diisi oleh beberapa penumpang lagi. Dan saat kendaraan diberhentikan oleh penumpang yang ingin masuk, dan nyaris saja membatalkan niatnya itu, si tukang jeruk ini, bergegas kembali membereskan peralatannya, sampai-sampai ia harus memeluk gentong kecil itu, yang membuatnya tampak semakin mendelep.

Sampailah kendaraan yang saya tumpangi itu di daerah yang dijadikan tempat nongkrong kumpulan anak punk, para preman, pengamen, sampai peminta-minta yang caranya setengah mengancam para penumpang. Doa saya pun semakin kencang saat saya berada di daerah itu.

Saat ada satu anak punk yang dulu beberapa kali sempat (mungkin) mengamen, tapi tak jelas itu, hendak naik ke kendaraan yang saya tumpangi, namun baru saja ia hendak duduk di bangku yang di dekat pintu, ia mengurungkan niatnya, seiring ia melihat si tukang es jeruk itu.

Dan si supir yang sepertinya sudah mengenal si tukang es jeruk, bertanya padanya…

“Kenapa dia ga jadi masuk?”

“Hahahha, tauk tuch, liat gue dia sepertinya”, jawab si tukang es jeruk.

Dan dari kaca jendela kendaraan, saya melihat kumpulan anak-anak punk di sekitar sana, melihat ke arah si tukang es jeruk itu, seolah sungkan bahkan takut dengan dirinya.

“Weitttsss..kenapa mereka bisa sesungkan itu ya, sama si tukang es jeruk?” pikir saya bingung.

Perjalanan terus berlangsung, seiring penumpang yang satu per satu sudah harus turun, karena telah sampai ke tujuan. Kembali tinggalah saya, si tukang es jeruk, satu penumpang lainnya, dan si supir.

Keleluasaan saya mengamati, bahkan mendengar percakapan si tukang jeruk dengan si pak supir pun semakin besar.

“Hahaha, ia lohh..gue kalo ga kerja, mana bisa gue ngidupin istri anak gue ‘kan?”

Namun sayangnya itu satu-satunya kalimat yang saya ingat betul terucap dari mulut si tukang es jeruk.

Tibalah si tukang es jeruk ini harus turun, karena ia sudah sampai di tujuan. Si supir sengaja memberhentikan kendaraannya di depan pangkalan ojek. Mungkin maksudnya, agar si tukang es jeruk itu mendapat bala bantuan untuk menurunkan peralatan jualannya. Dan ternyata memang benar, (mungkin ini juga sudah menjadi langganan tiap hari) para tukang ojek di luar sana, sudah bersiap-siap membantu si tukang es jeruk untuk turun. Dan kembali si tukang es jeruk ini setengah “memapah” kaki cacatnya, yang tak tampak sama sekali menyiksanya.

—-

Did you get something from this story?

I did. Guy with this disability, bisa tetap cerianya menjalani hidup, setidaknya hidupnya yang saya lihat kurang dari 1 jam itu. Cacat kaki tak dirasakan olehnya, tapi mengapa sering kali orang yang bertubuh lengkap dan tanpa cacat lebih banyak mengeluh daripadanya?

Lalu, mengapa orang lain, sungkan terhadapnya? Terhadap dia yang cacat. Namun mengapa terkadang masih ada orang yang tidak menghargai kita yang tak cacat secara fisik ini?

Dan satu hal yang tak terkira saya rasakan, orang ini, yang notabene mempunyai predikat orang cacat, telah memberi saya rasa aman, sepanjang perjalanan.

—-

Tuhan menjawab doa saya, dengan mengirimkan malaikat tak bersayap, dan tak sempurna yang hadir menemani perjalanan saya saat itu.

My God, big thanks to you, Sir! Really I do.

Thank u Father, Oom J, Mother Mary, St. Joseph, and my Holy Spirit for sending him to me!

Yes, You Can Shine, My Dear…

Friday, August 14th, 2009

“Rosa pa kabar?”

Duuuhhh, ini dia nih, saya tahu persis, siapa yang menyapa saya melalui media chatting di FB, yaitu kalau bukan keluarga, teman semasa SD, atau teman semasa SMP yang saat SMA sudah sangat jarang kontak dengan saya.

“Baik.”

Dan pasti pertanyaan selanjutnya adalah…

“Masih inget gue ga?”

Nah ‘kan, pertanyaan yang ng…sering membuat saya bingung menjawabnya. Menjawab dengan kejujuran atau menjawab dengan kebohongan yang bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri.

Namun saya sudah lama sekali sering menjawab dengan sangat jujur (*Ahhh biarlah orang mau mikir apa tentang saya, dah kebanyakan hal yang bikin saya pusing, jangan bikin tambah pusing*). Sama seperti saat ditanya oleh teman saya yang saya maksud di tulisan saya ini.

“Hehehehe, sorry gue gak inget. Mungkin kalo gue liat muka baru inget.”

(*Walopun kadang juga ngga ngaruh sih*)

Namun kali ini, jawabannya yang membuat saya kaget. Benar-benar kaget.

“Iya, gue emang ga cantik kayak elo, atau temen-temen dulu yang cantik kayak elo, gue emang jelek, jadi dilupain.”

Sumpah, saya kaget setengah mati. Duh, untuk teman saya yang saya maksud di tulisan ini, maaf sekali ya, tapi kira-kira seperti inilah pikiran yang pertama kali muncul di otak saya…

“Yah kok cetek amat pikirannya, langsung negative thinking gituh.”

Saya pun berusaha menetralisir suasana…

“Iya, nginget nama orang itu salah satu kelemahan gue. Jangankan temen yang udah belasan tahun ga ketemu, lah yang satu angkatan pas kuliah aja, gue sering ga inget. Btw tiap perempuan itu cantik kok.”

(*Buat temen-temen gue di luar sana, maap ya RAM otak manusia ga bisa ditambah ‘kan ya? Jadi kalo saya lupa, tolong dimaklumi*)

“Tapi kalo dah ga ada bakatnya cantik, ya tetep ga cantik Sa.”

Dududuh, kalau sudah begini caranya, saya benar-benar menjura pada para mentor “jahanam” dan “keji” yang mendidik saya selama bertahun-tahun untuk bisa keluar dari diri Rufina Anastasia Rosarini yang lama.

Me? Dulu? Saya saja pusing dengan diri saya sendiri yang dulu, apalagi mereka yang berhadapan dengan saya. I used to be a very insecure girl dengan tingkat arogansi yang sangat tinggi, yang selalu harus dipenuhi segala keinginannya, dan bisa melakukan apapun jika keinginannya tak terwujud; belum lagi ditambah dengan segala pikiran negatif yang menari-nari di otak.

Latihan tahunan itu memang tak pernah mudah. Tak hanya satu atau dua kali saya menerima “tamparan” dari mereka. “Tamparan” yang akhirnya membuat saya berkata ke diri sendiri “Bangun! Elo ga idup ndirian”. Dan saya sendiri baru merasa lulus semua latihan itu, pada akhir tahun lalu (*Hmmm, 8 taon?*). Level lengkap.

Don’t you know, one of my mentors, told me this…

“You’re not a princess ‘Cha!”

Dan dalam hati…

“Brengsek, ketampol gue.”

Atau…

“Kenapa sih, kamu susah banget ngakuin kamu salah, padahal I know that inside your heart, elo tau elo salah. Tinggal bilang yes that is my faults, and am so sorry. Selesai ‘kan?”

Atau salah satu pembelajaran darinya…

“Kalau elo ngasih kado ulang taun ke seseorang. Apa yang elo harapkan dari dia? Yang penting dia make barang yang elo kasih, atau dia suka terus dia make? Trus kalo dia ternyata ga suka terus dia ga make, elo bakal gimana? Nanyain ke orang itu, kok ga make, kok elo ga suka kado dari gue? Hei kalo dia ampe ga suka ya jangan ngomel ke orangnya dong, elo mesti liat ke diri loe juga kenapa dia ampe ga suka and kado loe jadi ga berguna, jangan langsung serta merta bilang kalo tuch orang ga sayang lah ama elo, ga menghargai elo, trus jadi ngambek. Biasanya cewek-cewek gitu tuh kalo ngasih kado ke pacarnya, padahal pacarnya ternyata ga suka.”

Intinya apa yang mereka ajarkan pada saya adalah meminimalisir pikiran negatif. Pikiran negatif memang tetap perlu, tapi hanya sebatas untuk melakukan antisipasi pencegahan dan membuat contigency plan tindakan yang diperlukan.

Dan hei, itu semua harus dimulai dari hal kecil. Misalnya jika memakai kasus perbincangan saya dengan si teman, daripada berpikiran seperti apa yang teman saya pikirkan itu, mungkin akan lebih baik jika seperti…

“Iya ya Sa, kita ‘kan dah lama banget ilang kontak, dan ga ketemu, susah juga ya nginget-ngingetnya.”

atau…

“Temen kita khan banyak ya, mungkin aja ‘kan lupa.”

atau…

“So that’s your weakness ya Sa, remembering someone’s name.”

Terus terang hei si teman saya itu, jawaban kamu yang seperti itu, sempat menimbulkan pikiran bahwa kamu merasa insecure. Ya, mungkin saja saya salah berpikiran demikian, tapi ya memang begitulah pikiran saya saat itu. Maaf ya, maaf sekali. Dan terus terang saat itu saya lupa untuk berpikir, bahwa kamu sedang bercanda mengatakan itu :D …mudah-mudahan memang bercanda ya (*Tapi ma kasih loe gue dibilang cantik, haaallaagg tetep narsis*).

Jadi ingat satu kiriman bahan presentasi dari mentor saya yang paling “jahanam” nan “brengsek”, yang melengkapi proses pembelajaran saya selama ini (*Sayang, presentasinya yang dikirimkan ke saya hilang dari file di laptop*), tapi saya masih ingat betul isinya…

Kamu tahu gambar pacman ‘kan? Seharusnya berupa lingkaran penuh, tapi ini ada irisan di lingkaran itu yang hilang, sehingga ia tak bisa dikatakan sebagai lingkaran sempurna. Dan hobi si pacman ini adalah mengatupkan sisi lingkaran yang terpotong tadi, sehingga menyerupai orang yang sedang berbicara.

Cerita di presentasi itu, si pacman ini sedang berjalan mencari irisannya yang hilang. Di tengah jalan ia menemukan sebuah irisan, dan ia coba mencocokkan irisan itu dengan bagian tubuhnya yang hilang, ternyata irisan itu terlalu besar untuknya, sehingga tidak pas. Ia pun melepaskan irisan itu dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan, ia menemukan irisan lainnya, dan kembali ia mencoba mencocokkan dengannya. Ternyata irisan yang ia temukan kali ini terlalu kecil, sehingga ia pun harus melepaskannya dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan berikutnya, ia kembali menemukan sebuah irisan lain. Dan ternyata kali ini pas dan cocok. Ia tak ingin melepaskannya kali ini. Namun apa yang kemudian ia rasakan setelah menemukan bagian yang selama ini hilang dan dirasa cocok olehnya? Ia tak bisa bergerak leluasa, tak bisa lagi mengatupkan kedua “bibir”nya, tak bisa “bicara” dan “bernyanyi”. Akhirnya ia pun kembali melepaskan bagian yang tadinya ia rasa cocok dengannya.

Dan mungkin ia berpikir…just enjoy every little thing in your life, even that’s imperfect.

Me? Now? My God…change a lot…

Saya jauh lebih sabar daripada dulu (*Ya udah ngomel dulu ga papa, nanti kalo dah reda kita ngomong baik-baik ya*).

Saya jauh lebih bisa mengerti orang lain, karena saya yakin bahwa orang melakukan sesuatu karena ada alasannya (*Ya iyalah, kalo elo ga bisa ngertiin orang lain, percuma lo masuk psikologi*).

Kalau keinginan saya tidak dapat terwujud, tidak serta merta langsung ngomel, marah, tapi saya berusaha untuk mencari jalan lain untuk bisa mewujudkannya (*Misalnya ga dapet tiket nonton bioskop yang siang, ya susah amat tinggal nyari yang malem ‘kan, sambil nunggu bisa ngapain dulu*).

Tak lagi repot dengan printilan yang bikin tambah pusink dan bikin repot (*Nih contohnya…”Maaf ya Sa, kemarin koneksi internet gue keputus and ceting ama elo keputus juga, bukan ga sopan loh”, dan saya…”Haalllaagghh kayak gitu doank, iya gue pun juga dah mikir kayak gitu kemaren, orang gue ditinggal seseorang ketiduran pas ceting ama gue aja pernah dan gue ga ngomel kok*).

Ya kurang lebih begitu lah beberapa hal yang saya anggap sebagai achievements dan apresiasi ke diri sendiri, walaupun saya tahu, saya masih sering menyebalkan dari omongan saya, dari tulisan-tulisan saya, tingkah laku saya, tapi percaya deh, itu semua sudah dengan analisa ini-itu baru saya menghasilkan apa yang terlihat, terdengar dan diketahui oleh kalian. Jadi kalau pun masih menyakiti kalian, so sorry, coz I’m still human and still imperfect, yet I really like being different from others.

Jadi ingat sebuah video iklan sebuah produk perawatan rambut, yang dibuat di Thailand.

Yes my friend, you can shine.

Just think positive, minimize life burden, and enjoy every little thing you do and you have in your journey. Even you’re imperfect and different from others.

To Karin Taramiranti, Rully Hariwinata, Yudha Ketaren, and one person I can not mention here, yang membuat perjalanan pembelajaran saya menjadi lengkap, yang saat ini sedang membenamkan dirinya dari keramaian dunia, yang saya tahu persis bahwa ia mempunyai alasan yang sangat kuat untuk melakukan itu, from the bottom of heart, my big thanks to you all, you’re my brothers, sister, mentors, best friends and my love. I love you full!!!!

—-

I’m gonna stay gold, just like a ray of sun light in our mornings. No matter what.

Bermula Dari Kematian, Dan Berakhir Dengan Froyo…

Wednesday, August 5th, 2009

Kemarin, saat saya mencari nama seseorang yang termasuk di dalam daftar teman yang ada di sebuah media ruang mengobrol yang sangat terkenal itu, saya melihat satu status seseorang di sana (padahal orang ini bukan orang yang ingin saya beritahukan sesuatu, melalui media tersebut). Statusnya kira-kira seperti ini:

“Baru aja terkenal kok ya udah meninggal tho, Mbah.”

(*Untuk yang statusnya saya pinjam, ga papa ‘kan?*)

Sontak saya bertanya-tanya dalam hati.

“Maksudnya si Mbah Surip? Cari aaah di internet.”

Dan ternyata rasa penasaran saya terjawab dengan cepat. Ditambah teman-teman di media “cuap-cuap burung” juga sudah ramai memberitakan hal ini.

“Ah, lagi-lagi kematian yang sekilas seperti tanpa sebab.”

Lantas saya teringat kejadian serupa di pertengahan tahun 2007.

Setting: saat menunggu jam tayang film dimulai, di sebuah bioskop terkenal di Pusat Perbelanjaan di daerah Bundaran HI, dan saya menerima sebuah panggilan telepon masuk.

“Halo, Ma kenapa nangis? Papa ga kenapa-napa ‘kan?”

Di ujung telepon sebelah sana hanya terdengar isak tangis, tanpa kata sedikit pun. Sedangkan saya yang sedang tidak berada di rumah, tahu persis bahwa di rumah hanya ada Papa dan Mama. Si tengah juga sedang pergi, seperti saya. Dan Papa saat itu belum lama keluar dari rumah sakit, opname karena terkena serangan jantung, yang belum pernah dialami beliau sebelumnya.

“Omamu ga ada.”

“Ha? Lah ga sakit ga apa khan?”

“Ga.”

Seketika, gairah saya untuk menonton film pun drastis turun. Sedih, karena saya belum sempat memenuhi permintaan Oma agar saya berkunjung ke rumahnya di Magelang.

Dan kali ini, saya tidak bisa ikut pergi ke Magelang untuk pemakaman Oma. Papa yang baru saja keluar dari rumah sakit, belum bisa bepergian jauh, jadi saya bertugas untuk menemaninya di rumah. Mama pergi dengan si sulung, bersama tante-tante dan oom-oom saya yang lain.

Sepulangnya Mama dan si sulung dari Magelang, saya disuguhi berbagai cerita seputar saat-saat terakhir menjelang Oma meninggal.

“Iya loo si oma tuh setengah jam sebelumnya masih telpon ke Risti, ngomel-ngomel dia dah sampe Jogja kok ga mampir ke Magelang. Terus masih ngider ke tetangga-tetangga, bawa One, bagiin Rosario sambil pamitan katanya mau pergi jauh. Sampe si One bingung, trus nanya Omanya, emang Oma mau pergi kemana. Terus pas waktu sore itu si tante mau ke gereja, naik angkot, tiba-tiba Oma lari ke depan pintu pager, and dadag-dadag sampe angkotnya belok. Yang terakhir tuh si Oma mau meninggal, lagi jalan ke dapur, gara-gara si Krisna minta digorengin tahu sama Omanya. Tau-tau Oma bilang pusing, pegangan gorden n lemes. Ga lama dibawa ke kamar, Oma ga ada.”

Siapa yang menyangka coba? Oma masih terlihat sehat, saat mengunjungi rumah tetangganya dengan salah satu cucu tercintanya, bahkan masih ingin menggorengkan tahu, juga untuk cucu tercintanya.

Saat orang rumah Magelang memasang bendera kuning di depan rumah, tetangga-tetangga pun mulai bertanya…

“Siapa yang meninggal?”

Dan keluarga saya yang tinggal bersama Oma, menjawab bahwa yang meninggal adalah Oma, yang belum lama bertandang ke rumah mereka yang mengajukan pertanyaan tadi.

Begitu pun juga si penyanyi yang belakangan ini cukup fenomenal, Mbah Surip. Memang belum lama ia menjadi terkenal, lewat lagu-lagunya yang disenangi oleh banyak orang, tapi semua itu cukup sampai kemarin. Setidaknya sampai kemarin ia menikmati apa yang sudah ia raih selama ini, secara fisik di dunia.

Kematian memang misteri, datangnya seperti pencuri di malam hari. Tak pernah ada yang tahu, kapan Yang Empunya Hidup menyatakan kita telah lulus seluruh level ujian kenaikan kelas selama kita hidup di dunia. Apa dalam hitungan jam, hitungan hari, minggu, bulan atau bahkan masih dalam hitungan tahun, untuk kita dinyatakan berhasil lulus seluruh tingkat pembelajaran kita, selama menginjakkan kaki di dunia?

Itu pulalah yang membuat saya berpikir, untuk mengurungkan niat menonton film yang diperankan oleh si ganteng Mr. Depp, seorang diri. Dan saya memutuskan untuk mengajak Papa dan Mama untuk menemani saya menonton Public Enemies, hari Minggu yang lalu.

“Eh, Pa, acara loe hari minggu besok sampe jam berapa?”

“Paling bis makan siang selese. Kenapa?”

“Gue mau ngajak nonton kalian berdua. Nonton yang jam 5 aja.”

“Ya udah.”

Pada hari kami nonton, saya dan mama berangkat terlebih dulu ke pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat, yang tak jauh dari rumah kami, dan janjian bertemu Papa di sana.

“Weeeittsss keren nih sekarang teaternya. Ada 3D-nya segala”, pikiran saya saat memasuki gedung bioskop yang terletak di lantai 3.

“Biar gue yang antri aja Mam, kamu duduk aja. Nunggu. Ga usah diri-diri, capek.”

Setelah tiket di tangan, saya pun menghampiri Mama yang duduk.

“Dapet?”

“Dapet donk.”

“Ga dangak ‘kan?”

“Gak.”

“Terus masih lama mulainya?”

“Masih, yuk kita makan es krim dulu. Eh yogurt.”

“Jauh?”

“Gak kok, di bawah.”

Sambil saya merangkul mama dan berjalan…

“Jarang-jarang ‘kan Mam, gue kumat nraktir-nraktir gini.”

“Iya, kamu katanya ga ada duit.”

“Duit bisa dicari, ntar pasti ada lah. Ga ada yang tau ‘kan sapa tau di antara kita berdua besok mati. Bisa aja ‘kan aku mati duluan. Dari pada ntar aku nyeselnya tambah banyak ga bisa bikin kamu seneng, ya mendingan nyeselnya dikurangin dikit. Yogurt sama nonton mayan ‘kan? Yogurtnya enak loh, mayan sambil kita nunggu Papa di situ.”

—-

“Satu yang aku minta Tuhan, jika Kau izinkan, biarkan aku mati nanti, tanpa terlalu merepotkan orang lain, tak dengan sakit berkepanjangan dan membuat orang lain sedih. Tapi sekali lagi Tuhan, jika itu semua memang sesuai kehendak-Mu atas diriku, karena aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

—-

*Senengnya masih bisa menikmati bareng Papa Mama, satu mangkok besar FroYo beken itu, dengan 4 topping di atasnya.*