Archive for the ‘Liburan’ Category

Berlayar…

Wednesday, March 5th, 2008

Hmm..baru ingat…ternyata ada satu lagi liburanku yang tak direncanakan olehku, jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

Beginilah kisahnya…

Awal 1997. Saat gambar kapal pesiar itu terpampang di layar kaca televisi, aku pun menghentikan langkahku menuju ruang makan, untuk melihatnya dan mengkhayal “Coba gue bisa naik itu kapal ya”, setelah iklan menghilang dari layar, aku pun kembali melangkah.

Beberapa bulan berlalu dari khayalanku itu. Tiba-tiba, telepon rumahku berdering. Dari tanteku, adik ibuku. Dari ujung telepon ia berkata sebagai berikut “Cha, kamu kuliah masih lama khan? Mau ke Singapur ngga?”

“Aku mulai kuliah Agustus Tan.”

“Oh ya udah, siapin paspornya. Kita naik Awani Dream ke sana.”

Seketika aku ketawa, dibarengi ucap terima kasih ke tanteku itu. Tertawaku karena mengingat khayalanku beberapa bulan sebelumnya.

Juli 1997. Paspor yang telah siap dalam waktu singkat membawaku berangkat ke negeri orang. Pesiar ke negeri orang.

Minggu sore, aku, tante, oom dan sepupuku berangkat ke Pelabuhan Tanjung Priok. Sesampainya di Dermaga dan setelah urusan keimigrasian beres, kami pun langsung dipersilakan memasuki kapal itu. Langsung seketika kami tercengang kagum. Dahsyat besarnya. Dahsyat fasilitasnya. Semuanya serba mewah luar biasa. Kami pun langsung dibawa awak kapal untuk menuju kabin kami. Tempat tidur tingkat dan sebuah kasur tambahan telah tersedia di sana. Bentuk kabin pun tak jauh beda dengan yang kita lihat di film-film. Langsung aku dan sepupuku yang belum genap tujuh tahun saat itu mengintip ke luar jendela. Kami pun langsung disuguhi luasnya lautan biru.

Tak lama kemudian kapal itu pun mulai bergerak. Meninggalkan pelabuhan. Sebagaimana diumumkan oleh sang kapten kapal, kami pun diminta untuk berkumpul di sebuah ruang untuk mengetahui prosedur keselamatan jika kami mengalami keadaan darurat. Setelah itu suguhan makan malam pun telah tersedia. Hiburan dari para pengisi acara juga tak ketinggalan. Tarian kabaret, sulap, nyanyian, dan masih banyak lagi. Sajian itu memang disuguhkan oleh para awak kapal, yang kebanyakan adalah orang asing. Tak hanya itu teater dengan jadwal film yang termasuk baru juga tersedia. Suguhan makanan tak berhenti sampai makan malam, tapi sampai makan tengah malam yang dalam bahasa Inggris supper. Saat makan malam, aku melihat ada sekelompok anak muda yang bergerombol. Mereka sepertinya terlihat sudah sangat akrab, mungkin sepertinya merupakan rombongan keluarga.

Besarnya kapal, membuatku tak berani jauh dari saudaraku. Belum hafal, takut nyasar. Saat mereka memutuskan untuk kembali ke kabin, aku pun turut serta. Esok harinya, setelah makan pagi, aku sedikit merasa mual, begitu juga dengan tanteku. Tak tahan dengan kondisi ini, aku menuju kabin dan berusaha tidur, namun percuma, aku tetap tak bisa tidur. Kembali berjalan keluar kabin, mencari saudaraku. Tak lama aku melihat mereka di koridor, dan ternyata aku telah melewati suatu acara seru di dek atas kapal, di pinggir kolam renang. Tanteku pun memberi satu informasi lagi “Ternyata kita tadi pas mual itu, lagi ngelewatin putaran air. Memang di daerah situ keras putarannya. Aku tadi dikasih apel sama satu awal kapal. Katanya itu obat penangkal rasa mual.”

Kembali menuju kabin. Kami bersiap-siap membawa bawaan kami, karena sesaat lagi kami tiba di Singapura, setelah 24 jam berlayar. Kami satu-satunya penumpang yang keluar dari kapal ini, dan memilih untuk bermalam di salah satu hotel di pusat kota, sebelum kapal kembali berlabuh ke Jakarta ke esokkan harinya. Penumpang lainnya memilih untuk bermalam di kapal, walau mereka tetap bisa berjalan-jalan di Singapura. Hiburan, makanan dan kegiatan tetap tak henti, walau kapal sudah merapat di pelabuhan di Singapura. Saat ini aku lupa nama pelabuhannya. Tak kalah bagus dengan Changi. Bersih, bagus, megah, banyak tempat untuk belanja juga.

Orchard Road, jalan yang sangat terkenal di Singapura. Kami pun menginap di salah satu hotel bintang lima di jalan tersebut. Nama hotelnya sama dengan nama hotel di dekat bundaran HI, di seberang bekas Hotel Presiden dulu, di Jakarta. Kamar dengan kelas president suit di lantai dua puluh mampu menampung kami berempat, selama semalam.

Acara di sana, tak lain mencari makanan enak, dan juga belanja-belanji. Sempat aku meminta izin memisahkan diri dari tante dan saudaraku. Kebetulan tanteku yang satu ini, sedikit sama denganku. Hobi jalan-jalan sendirian, modal nekat dan berbekal peta. Berjalan sendirian menyusuri jalan-jalan besar di kota itu, keluar masuk pusat perbelanjaan yang menjadi favorit orang-orang Indonesia, merupakan suatu kesenangan tersendiri.

Pusat perbelanjaan yang menjual barang tanpa terkena pajak, menjadi akhir tujuan belanja di hari terakhir kami disana. Kami sudah harus kembali ke pelabuhan, agar tak ketinggalan kapal.

Setelah kembali mendaftar masuk ke kapal, dan meletakkan barang bawaan yang sudah semakin berat ke kabin, aku pun keluar berjalan-jalan sendirian di pelabuhan. Menyenangkan, kembali berjalan sendirian.

Tak lama sekembalinya aku ke kapal, kapalpun kembali bersauh. Meninggalkan Singapura. Makanan-makanan enak, hiburan-hiburan yang gemerlap kembali tersuguh di depan mata. Saat kaki ini melangkah menuju ke kabin, tiba-tiba seseorang memanggilku dan berkata “Hmm, boleh kenalan ngga?”

Melakukan observasi sejenak, terlihat di sana ada beberapa orang perempuan yang kira-kira sebayaku, juga ada yang masih kecil. Laki-laki ini sepertinya sedikit lebih tua dariku, selain itu beberapa laki-laki yang sepantaranku. Akhirnya aku mengulurkan tanganku sembari mengucapkan “Ocha”.

“Yudi”, “Rama”, “Ravi”, “Inka”, “Inge”, “Irene” dan masih banyak nama lagi yang disebutkan di koridor itu.

Yudi kemudian kurang lebih memulai percakapan denganku seperti ini “Mau balik ke kamar?”

“Iya”

“Ngapain? Mending ngobrol-ngobrol ama kita aja yuk”

Akhirnya kami menuju ke salah satu ruang makan. Ruang makan yang berbeda. Sajian makan tengah malam disediakan di ruang yang berbeda dengan makan malam yang tadi jam tujuh malam.

Ruang makan itu tak lama kemudian hendak ditutup. Kami semua menuju ke dek atas kapal, namun bukan di sisi kolam renang. Dek kayu itu, tersedia banyak kursi. Kami pun duduk-duduk melingkar di sana. Cerita-cerita seru, padahal kami baru saja bertemu. Tak lupa kami pun foto-foto. Seolah teman lama yang baru bertemu kembali. Tak terasa sudah jam 2 pagi. Berhubung saat itu telepon seluler belum umum seperti sekarang, aku pun menghilang tanpa jejak dari keluargaku.

Akhirnya aku meminta pamit untuk kembali ke kabin. Yang kemudian disambut dengan “Eh, bentar aja lo, langsung balik ke sini. Nyetor muka aja khan lo.”

Saat tiba di kabin, aku buka pintu dengan sangat perlahan. Melihat semua keluargaku sudah tidur, aku pun langsung kembali ke dek. Mereka masih di sana. Tak lama kemudian kira-kira jam empat pagi, kami menuju dek yang paling atas, di dekat kolam renang. Kami pun rencana melihat matahari terbit. Gelombang air laut yang kencang, ikut menyebabkan air di kolam renang itu juga melompat keluar, dan menciprati kami.

Tak perlu waktu lama untuk menantinya. Matahari itu pun mulai keluar, menampakkan cahayanya, dan seketika aku terkagum-kagum dibuatnya. Indah, sangat indah. Merekah dari langit yang masih didominasi dengan warna gelap.

Tak kuat mata ini, aku kembali ke kabin dan tidur. Tidur hanya tiga jam, aku terbangun, saat keluargaku terbangun dan siap makan pagi. Aku pun mandi, dan bersiap. Setelah makan pagi, aku pun bertemu dengan teman-teman baruku itu lagi. Bertandang ke salah satu kabin mereka, foto-foto di hampir setiap tempat. Sampai akhirnya kami menemui satu ruangan yang selalu tertutup rapat selama pelayaran itu, yaitu kasino. Sayang tak sempat aku lihat ruangan itu.

Sebelum kapal bersandar di Tanjung Priok, kami sempat berkunjung ke pulau Seribu. Otomatis kami mencapai pulau itu dengan sekoci. Begitu tiba di pulau itu kami pun baru melihat besarnya kapal itu dari ujung ke ujung “Pantes gue capekh jalan-jalan di tuch kapal”.

Tak lama di pulau itu, mungkin hanya dua jam. Kami pun harus melanjutkan perjalanan, menuju Tanjung Priok. Dekatnya jarak pulau Seribu dan pelabuhan, menyebabkan pelayaran itu segera harus diakhiri. Namun tidak dengan pertemananku yang dimulai semalam. Sampai saat ini, tali pertemanan itu masih terjalin baik.

Menambah Koleksi Baju Renang…

Monday, March 3rd, 2008

Dulu…baju jenis ini, baju yang paling bikin aku sebel, bikin sirik, dan jelas terhapus dari daftar belanjaanku. Sebel karena bagiku tak ada gunanya. Sirik dibuatnya karena motif dan modelnya yang lucu, yang menggodaku untuk membeli, tapi sekali lagi, tak ada gunanya untuk aku.

Kenapa? Jawabannya adalah, dulu aku tak bisa berenang. Sebenarnya bisa, tapi karena satu kejadian traumatik, aku jadi tak berani lagi nyemplung di air.

Sampai akhir tahun 2003, belum pernah aku beli sendiri baju renang. Dari kecil hingga tahun 2003 ini, baju renang yang aku miliki, adalah hasil pemberian dari orang lain, mungkin maksud mereka adalah ingin memotivasiku untuk bisa berenang lagi. Satu lagi, baju renang-baju renang itu pun lupa aku simpan di mana.

Karena keadaan memaksa, September tahun tersebut aku mau liburan ke Manado, dan agenda utamanya adalah bermain air, jadilah aku membeli baju renang. Model yang sangat sederhana, dengan warna kombinasi biru tua, merah dan putih membentuk motif banyak lingkaran.

Di Manado, baju itu pun nyaris tak berguna, karena aku nyaris mengurungkan diri nyemplung ke laut untuk snorkling. Untung ketakutan itu berhasil aku atasi berkat seseorang.

Tiga tahun baju renang itu tersimpan dengan baik di lemari pakaianku. Sampai pertengahan 2006. Aku mulai belajar renang, berkat seseorang yang sangat aku percaya. Tidak sulit ternyata, tidak memerlukan waktu yang lama. Hanya 2 kali nyemplung di kolam renang, selama 2 kali hari Minggu, aku pun sudah bisa mengambang, meluncur dan bermain-main di air, tidak tenggelam. Jadilah, dari pertengahan hingga akhir 2006, hampir tiap minggu aku berenang. Hobi baru sepertinya.

Seringnya aku melakukan aktivitas yang satu ini, rasanya mempunyai satu baju renang saja tidak cukup. Oleh sebab itu, aku kemudian mencari satu baju renang lagi, untuk dipakai bergantian “Bosen khan baju renangnya itu-itu mulukh”. Sekarang sudah masuk ke dalam daftar belanjaanku.

Kalau baju renangku yang pertama, mewakili perjalanan liburanku ke Manado, baju renang yang kedua yang bewarna biru muda dan putih, mewakili perjalananku ke Bali, Februari 2007. Walaupun alasan aku membelinya bukan karena aku ingin ke Bali saat itu.

November 2007, berencana ke Bali lagi. Tak tahu kenapa, ingin sekali menambah koleksi baju renangku lagi. Tadinya kali ini aku ingin mencari baju renang yang lebih ke model beach wear seperti yang dikeluarkan oleh merk-merk baju surfing yang banyak di Bali, dan bukan model konvensional yang biasa dipakai oleh atlet-atlet renang pada umumnya. Namun mencari baju renang seperti itu di Jakarta, sangat sulit. Sulit bukan berarti tidak ada. Giliran aku temukan satu butik khusus baju-baju renang yang ada di pusat perbelanjaan besar di bilangan Pondok Indah, begitu liat harganya aku memutuskan untuk tidak jadi membeli. Baju renang dengan harga lebih dari Rp.300.000 aku rasa terbilang mahal, karena baju jenis ini, akan sangat jarang dipakai, saat aku berada di Jakarta. Dengan catatan kalau baju ini dipakai sesuai dengan fungsinya.

Apa boleh buat, akhirnya aku membeli satu baju renang, merk dari salah satu produsen baju-baju renang dan peralatan yang berhubungan dengan renang, yang berinisial S. Ya, lagi-lagi model konvensional dan sangat sporty, bewarna biru tua, dengan dua garis biru muda pada sisi samping kiri dan kanan.

Februari 2008, ke Bali lagi. Niatku, kali ini di Bali ingin mencari baju renang yang modelnya beda dari yang sudah aku miliki. Namun, model yang aku suka, dan pas di badan, harganya nyaris setengah juta. Memang sih, kalau dikurs cuma 40 Euro, apalagi ini buatan Italia. Tau khan merk dengan inisial N, kata ini diulang, dan diakhiri dengan kata “intimo”. Huh, tak jadi lagi menambah koleksi baju renangku.

Dasar manusia seperti aku ini, kalau sudah ada maunya akan dikejar sampai aku dapat. Berjalan-jalan di pusat perbelanjaan di daerah Puri Indah, tanpa tujuan, dan iseng melihat ke daerah baju-baju renang di jual, tetapi kembali kekecewaan yang aku temui. Modelnya tak ada yang bagus, motifnya juga tak ada yang aku suka. Kembali berjalan, kali ini melewati tempat di mana baju dalam wanita di jual, dan akhirnya mataku menemukan satu baju renang, dengan motif dan model yang aku suka, beda dengan yang sudah aku miliki di rumah. Pastinya dengan harga yang tidak semahal si merk Italia itu. Kali ini motif kotak-kotak, merah muda, putih dan oranye. Model halter neck dan three pieces. Senangnya, dan rasanya tak sabar untuk bisa liburan lagi, bermain air. Kapan ya? Tak sabar untuk mendengar ada yang menelepon dan bilang “Cha elu mau nyusul ke Bali ngga?”