Posts Tagged ‘UnconditionaLove’

15 Tahun yang Menyenangkan

Saturday, March 30th, 2013

Kino…

Nama itu diberikan oleh Mama untuk anak yang satu itu, dari hari pertama dia datang setelah Papa memutuskan untuk membawanya ke rumah dan kami adopsi. Hari itu adalah satu hari di bulan Oktober 1998. Dachshund, hitam dan bercampur putih pada beberapa bagian tubuhnya, bermata besar, kaki-kaki pendeknya diselimuti bulu berwarna cokelat, kontras dengan bulu badannya, sehingga dia tampak seperti menggunakan kaos kaki atau sepatu warna cokelat. Yet to mention this around 2-years-old-aged kid was very playful and friendly boy.

Ruang tengah kami selalu diramaikan dengan tingkah lucunya. Setelah satu tahun lebih Kino jadi penguasa tunggal ruang tengah, ia kami berikan satu teman lagi; another Dachshund; O’Neil. Dan jadilah mereka berdua bagai anak kembar, yang kemana pun mereka pergi, apapun yang mereka lakukan selalu berdua, kecuali saat salah satu dari mereka harus di rawat di klinik hewan.

Kino sempat beberapa kali dirawat di klinik hewan. Salah satu kelemahan Kino dari dulu adalah pernapasannya. Ia pernah saya titipkan di klinik untuk dirawat supaya dia bisa dinebulasi atau diuapi, kalau tidak salah 3 hari berturut-turut. Belum lagi tahun 2007, waktu saya menemukan adanya benjolan di perut bawahnya, dan setelah saya konsultasikan ke dokter hewan yang biasa menanganinya, dokter menganjurkan agar Kino dioperasi. Berat rasanya saya merelakannya untuk dibius dan menjalani operasi, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi dan segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, walau dari hasil pemeriksaan darah sebelum dia menjalani operasi, telah menunjukkan kondisi fisiknya yang memungkinkan untuk menjalaninya. Saya membawanya sambil saya ajak bicara bahwa Kino harus bantu dokternya dengan kondisi yang tenang supaya operasi dapat berjalan lancar dan Kino bisa siuman dan pulih. Dua jam menunggu di ruang tunggu bagai 2 hari lamanya, sampai akhirnya saya dipanggil dokter yang mengatakan operasi sudah selesai , dan saya tinggal menunggu Kino siuman. I made sure when he woke up, the first person he saw was me. And indeed, my brave boy was awake, walau masih sempoyongan.

Usia Kino semakin tua. Semakin banyak kejanggalan-kejanggalan fisik yang tidak dia keluhkan. Meskipun dia periang sekali dan bukan tipe anjing pengeluh, saya bisa menemukan kejanggalan-kejanggalan tersebut di badannya. Termasuk kembali saya menemukan benjolan lainnya di bagian tubuh yang berbeda. Kali ini di pantat kanannya. Kembali saya bawa Kino ke klinik hewan langganan. Dan dokter kembali menganjurkan untuk mengoperasi Kino. Pemeriksaan darah sudah dilakukan dan dokter mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan tersebut, Kino mampu menjalani operasi. Operasi sudah dijadwalkan minggu depannya. Dalam waktu seminggu tersebut, saya masih berkonsultasi dengan beberapa dokter hewan lainnya. Setelah konsultasi, saya mendapatkan kesimpulan bahwa operasi yang kali ini akan dilakukan merupakan operasi yang terbilang sulit. Bahkan ada satu dokter yang mengatakan bahwa ia tidak berani melakukan itu. Dan dokter lainnya mengatakan “Sebagus-bagusnya dan sesenior-senior dokternya, tetap yang menentukan hidup mati makhluk hidup adalah Tuhan.” Frankly speaking I agreed with that vet. Saya pun memutuskan untuk membatalkan rencana operasi untuk anak gendut yang satu itu…”Baru juga setahun lalu kamu operasi ya, Nak, masakh taun ini kamu operasi lagi. Kamu bisa kuat khan tanpa operasi?”

Empat tahun berlalu dari rencana operasi yang kemudian saya batalkan tersebut, Kino yang sudah sangat tua, dan kondisi kedua matanya sudah tidak berfungsi, tiba-tiba kehilangan keseimbangan, tidak bisa berdiri, berkali-kali terjatuh dan mengeluarkan liur berlebih, posisi kepala cenderung miring ke kanan. Hari itu Sabtu, 22 Desember 2012 malam hari. Sontak saya tidak bisa tidur di kamar dan hanya menemaninya di ruang tengah. Esok harinya saya periksakan Kino ke klinik hewan langganan. Dokter dan saya memutuskan agar Kino dirawat. Apapun kemungkinan terburuk yang akan dihadapi anak saya yang satu itu, sudah menghantui saya. Tapi entah mengapa, saya masih yakin, bahwa Kino saat itu masih bisa bertahan dan berhasil melawan penyakitnya.

Tiap hari saya sempatkan untuk menengoknya ke klinik untuk melihat perkembangan dan memberinya semangat hidup, walau kadang saya selipkan kata-kata untuk dia memilih masih ingin tinggal bersama kami sekeluarga atau pulang ke yang memiliki hidup. Kondisinya naik dan turun, kadang membaik, kadang kembali turun. Sampai kira-kira hari ke 4 dia di rawat, Kino sudah mau makan, walau harus disuapi dan BAB nya sudah baik. Hari ke 6 Kino dirawat, dia sudah bisa tegak berdiri dan sudah tidak terlalu sempoyongan berjalan. Dokter mengatakan kalau sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi, Kino besok boleh pulang.  Itu pun yang saya katakan pada Kino, “Tuh Nak, kalo besok Kino dah bisa makan sendiri ga disuapin, besok kita pulang ya Nak.”

Keesokan harinya, saya dan mama, datang ke klinik, yang memang rencananya akan menjemput Kino. Seketika saya dan mama sampai klinik dan membuka pintu klinik, saya langsung berkata dalam hati, “Ya ammmppuuunn kamu kayak ga sakit deh, Nak. Brisik kung-kung-kung terus. Baru sadar kalo ditarokh di kamar terus ya dah seminggu,” langsung saya sedikit berlari ke arah kamarnya yang kebetulan memang ada di bawah. Dan begitu dia melihat saya, “Dah ga sabar pulang ya, Nak? Hebat kamu bisa sehat! Mami ngobrol sama dokternya dulu ya.” Begitu saya bertemu dengan dokternya, saya langsung mendapat laporan “Kino dah pinter tuh, mau makan sendiri, ga perlu disuapin lagi.” Saya bereskan urusan administrasi dan obat yang masih harus diteruskan di rumah, lalu saya gendong Kino ke mobil dan  pulang ke rumah.

Nyaris saya kehilangan Kino. Beruntung Kino masih mau berusaha untuk  survived. Walaupun karena stroke yang dideritanya, posisi kepalanya masih cenderung miring, dan Kino tidak bisa jalan lurus melainkan berjalan ke satu arah dengan membentuk lingkaran.

Membawa Kino ke rumah, berarti kembali kami yang mengurusnya secara total. Mengurus dengan kekhawatiran, “senam jantung” dan penuh cinta buat Kino. Hari pertama dia pulang, Kino masih mau makan tanpa disuapi, begitu pun keesokkan harinya. Tapi dua hari setelahnya, Kino membungkam mulutnya dan tidak mau makan dan minum sama sekali. Termasuk makanan kesukaannya yaitu daging ayam. Mendapati hal itu saya langsung menelepon klinik walaupun saya tahu bahwa poliklinik mereka akan tutup dan hanya melayani rawat inap. Saya menelepon dokter yang merawat Kino dan saya langsung membawa Kino kembali ke Klinik. Di klinik, Kino diberi obat pencahar, karena memang beberapa hari Kino belum BAB, mungkin karena kondisi kaki belakang yang belum kuat betul menahan tubuhnya yang harus jongkok dan mengejan saat BAB.

Hari itu adalah malam pergantian tahun ke tahun 2013. Saya sengaja tidak tidur di kamar, melainkan memilih untuk menggelar kasur lipat di ruang tengah di depan televisi untuk tidur sambil mengawasi  Kino, yang hingga pulang dari dokter belum juga mau makan. Namun keesokkan harinya, tepat di hari pertama di tahun 2013, Kino sudah kembali mau makan.

Kondisi seperti itu terus berulang, kadang Kino mau makan, kadang tidak, kadang perlu disuapi, kadang bisa makan sendiri, walaupun tiap pagi kalau Kino sudah bangun, pasti saya akan usahakan memasakkan makanan kesukaannya dan menyuapinya terlebih dahulu baru berangkat ke kantor. Di tengah sibuknya kerjaan kantor pun, saya sering bertelepon dengan mama untuk mengecek keadaan Kino. Sering anak itu terlewat manja, hanya mau makan dan disuapi oleh saya. Dia rela hanya makan saat pagi hari sebelum saya berangkat kantor dan menunggu saat saya sudah sampai di rumah, sepulang bekerja. ”Anakmu tuh ga mau makan sama aku. Udah aku suapi pake daging ayamnya aja juga masih ga mau,” kata-kata seperti itu yang sering saya dengar saat bertelepon dengan mama.

Saya tahu bahwa tubuh Kino tak selamanya kuat bertahan melawan sakitnya. Beberapa kali saya terdiam memandangi Kino yang sedang tidur enak krungkelan dengan adeknya, O’Neil sembari berpikir “Sampai kapan pemandangan indah seperti ini bisa gue liat. Ahh.. gonna miss these kind of things.”

Berjalannya waktu, sampailah di Maret 2013. Bulan di mana saya harus kembali merasakan hal yang tidak menyenangkan menjadi paw parent. Sabtu, 16 Maret 2013, Kino kembali kejang, kehilangan keseimbangan badan, disertai sesak napas, dan kehilangan napsu makan. Sebagai Ibu, saya sudah diberikan rasa bahwa saat ini adalah saat di mana saya harus mempersiapkan keadaan yang terburuk. Saya memutuskan untuk tidak merawat Kino di rumah sakit, walaupun saya tetap membawanya untuk agar Kino bisa diberikan cairan intravena. Dengan konsekuensi saya tidak bisa saat malam hari, karena saya harus terjaga sewaktu-waktu Kino membutuhkan pertolongan oksigen yang tabungnya sudah kami sediakan di rumah.

Selasa, 19 Maret adalah kondisi paling, paling, paling menyebalkan untuk saya. Oksigen sudah tidak mampu membuat Kino berhenti kejang. Liur mengalir tak henti dari bibirnya. Saya hanya bisa menenangkannya dengan menggendongnya dan meletakkan kepalanya di dekat jantung saya. Dengan disertai aliran air mata saya hanya bisa mengajak Kino mengobrol, “Kino dah ga kuat ya, Nak? Kalo Kino mau bobokh Mommy dah rela, Nak. Kino mau Mommy temenin atau mau ke dokter, Sayang? Tapi Mommy ga mau bantu Kino bobokh ya. Kita ke rumah sakit ya Nak sekarang, biar Kino dapet oksigennya.” Takjub saya dibuat oleh Kino, begitu dia mendengar kata rumah sakit, Kino berhenti kejang, dan dia bisa bernapas seperti biasa, walau saya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih saya. Dan saya tahu persis, Kino pun merasakannya, dari detak jantung kami berdua yang saling berbicara, juga dari tetesan air mata yang membasahi wajah anakku yang sudah mendekati ajal.

Langsung saya SMS abang saya, memberitakan Kino akan saya bawa ke rumah sakit, kemungkinan kalau kejang kembali, kemungkinan saya akan meminta dokter untuk menidurkan Kino. Memenangkan logika kali ini sangat berat. Saya pun berdoa agar semesta berpihak pada kami. Kino akan pergi tanpa bantuan manusia.

Kami akhirnya memutuskan untuk membawa Kino ke rumah sakit. Abang saya pun akhirnya memutuskan izin dari kantor dan kembali ke rumah, untuk ikut mengantar Kino. Saya, Papa, Mama dan Abang saya, mengantar Kino ke rumah sakit langganan. Sepanjang jalan Kino bisa tidur tenang tanpa kejang. Mungkin dia nyaman berada di tengah keluarga yang sudah 15 tahun hidup bersama.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang menangani Kino berpihak pada saya, “Kita rawat aja ya. Tenang kok dia ga kejang lagi, ya Kino pinter?” Sesudah dinebulasi, dan kamar perawatan Kino disiapkan, Kino pun di rawat inap. Kali ini saya tidak membiarkan orang lain yang menggendongnya ke kamar. Saya antar Kino sampai di kamarnya. Selimut andalannya pun tak ketinggalan saya ikut sertakan.

Urusan Kino selesai hari itu. Saya pulang, mandi dan langsung menuju kantor. Setiap dua jam saya telepon dokter jaga. Dan kembali saya dibuat takjub oleh Kino. Kondisi Kino tenang, tanpa kejang sekalipun.

Malam hari sepulang kerja, saya sempatkan diri menengoknya kembali, walaupun Mama melarang karena sudah malam. Kondisi jalanan yang seperti biasa sangat macet, memaksa saya untuk menelepon rumah sakit dan memohon mereka untuk membukakan pintu  untuk saya, karena jadwal kunjungan rawat inap paling malam pukul 8.00 dan rumah sakit tutup pukul 9.00 malam.

Sesampainya saya di sana, Kino yang mendengar suara saya, langsung beranjak dari posisi tidurnya, dan menyambangi saya ke pintu kamar kecilnya. Ekornya pun tak lupa ia goyangkan, sembari menatap saya dengan mata tuanya yang sudah katarak dan sayu. Saya tahu bahwa itu mungkin ucapan selamat tinggal kepada saya.

Rabu, 20 Maret 2013, seperti biasa pagi hari saya berangkat ke kantor. Saya belum bisa mengunjungi Kino di rumah sakit, karena jadwal berkunjung dan menelepon untuk menanyakan kondisi pasien baru diperbolehkan pukul 10.00 pagi.

Rapat dengan klien hari itu menyebabkan saya terpaksa menunda untuk menelepon dokter. Seselesai rapat, yang saya ingat betul saat itu jam di tangan sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, saya langsung mengambil telepon genggam saya, yang tadinya hendak menelepon dokternya menanyakan kondisi Kino, malahan saya mendapati pesan singkat dari dokter yang mengabari bahwa kondisi Kino menurun, kritis dan saat itu tim dokter dan paramedik sedang berusaha untuk membantu Kino dengan oksigen.

Belum sampai saya selesai mengetik balasan, dokter yang merawat Kino sudah menelepon saya, mengabarkan bahwa Kino sudah pergi, sudah tidur selamanya. Sedih? Pasti! Walaupun saya tahu persis bahwa Kino sudah bahagia, karena terbebas dari sakit.

Kami titipkan Kino di freezer di rumah sakit, sebelum kami jemput untuk kami kuburkan di rumah.

Dan hari Minggu, 24 Maret 2013, saya menjemput anak kesayangan yang gemuk, tapi kali ini sudah terbungkus rapi dengan kertas koran yang dilapisi kantong plastik, sudah beku dan kaku, “Ayo, Nak kita pulang yuk sekarang. Kino bobokh di rumah ya, sama temen-temen lain ya, Nak.”

=======

Ahhh..ternyata kamu ga mau nyusahin Mommy ya, Nak. Kamu ga mau liat Mommy sedih saat kamu pergi. Till we meet again, Kino Sayangku!

Kino, si gendut berbulu hitam, di hari-hari terakhir hidupnya pun masih tidur kruntelan dengan adek kesayangannya, O'Neil...