Posts Tagged ‘Tips Belanja’

I’m Not A Shoes Fetish…

Thursday, September 9th, 2010

Sudah lama sepertinya, saya ndak menulis sesuatu yang berbau-bau tentang fesyen. Mungkin karena kemarin-kemarin saya jarang belanja, atau mungkin karena isi lemarin tidak perlu ada yang dikurangi, lalu diganti yang baru.

Beberapa hari lalu saya kembali menambah koleksi sepatu. Kali ini sepatu kerja, karena sepatu kerja andalan saya sudah sedikit perlu di “hemat” untuk dipakai.

Terus terang saya bukan shoes fetish. Dan sepatu adalah prioritas kedua (setelah pakaian), saat saya memutuskan untuk melakukan retail therapy. Bagi saya, cukup kalau setiap tipe (yang saya bagi menurut fungsinya), yang saya punyai ada warna hitam dan warna putih. Dua warna netral itu tidak akan membuat saya lebih repot  kehabisan waktu untuk mencocokkan antara sepatu dengan pakaian yang akan saya kenakan.

Dengan menambah satu pasang lagi, sekarang inilah koleksi sepatu yang saya punyai *ga sebanyak koleksi sepatu kalian kok* :mrgreen:

DSC00763Kali ini saya ingin membahas, bercerita, atau mungkin juga reviu satu per satu tentang sepatu-sepatu yang saya punya ini. Jadi tak apa lah ya…kali ini saya juga menyebutkan mereknya.

Dan kita mulai dari deretan belakang, dari kiri ke kanan…

Nike. Saya kangen memakai sepatu ini, karena sepatu ini adalah sepatu tenis yang tentunya hanya saya pakai saat saya berlatih tenis. Karena saya kangen memakai sepatu ini, pastinya saya sudah lama tidak bermain tenis. Kalau saya tidak salah ingat harga asli sepatu ini lebih dari Rp.500.000, tetapi sepatu ini saya dapatkan hanya sekitar Rp.200.000an.

Converse. Sepatu paling menyenangkan untuk dipakai. Nyaman, gaya, dan menyarukan usia asli :mrgreen:. Saya ingat betul, sepatu ini saya beli karena terpaksa. Saat itu saya masih kuliah dan hari itu adalah hari ujian salah satu MKDU. Ujian ini mengharuskan setiap pesertanya memakai sepatu. Sialnya saya lupa memakai sepatu, karena fakultas saya sedikit tak peduli apakah mahasiswanya memakai sepatu atau sandal saat kuliah ataupun ujian. Beda fakultas, beda pula universitas *loh?*. Pihak universitas bisa saja tidak mengizinkan mahasiswa mengikuti ujian, karena tidak memakai sepatu. Untung saja ujiannya setelah makan siang. Dan waktu itu paginya saya memang ada ujian lain, jadi saya tidak mepet sampai kampus. Terpaksalah saya berlari ke mall sebelah kampus untuk mencari sepatu *kebetulan ada alasan buat beli sepatu*. Hasilnya yaa…si Converse yang satu ini. Warna merah muda, belakangnya sedikit tinggi dan bisa ditekuk. Jika ditekuk, bagian yang tertekuk (yang notabene adalah bagian dalam sepatu) memiliki corak kotak-kotak kombinasi warna merah muda, kuning dan putih. Harga saat saya beli antara Rp.300.000 – Rp. 400.000.

Marie Claire. Sepatu yang mempunyai tinggi hak sekitar 6 cm ini saya beli tahun lalu, saat saya harus kembali bekerja setelah lulus kuliah, dan baru sadar, koleksi sepatu kantor sudah sangat minim. Terus terang sepatu ini sangat jarang saya pakai. Satu alasannya, karena tidak nyaman di kaki. Mungkin karena ternyata merek ini tak cocok dengan bentuk dan segala sesuatu di kaki saya, atau karena faktor lain. Harga sepatu ini berkisar antara Rp. 200.000 – Rp. 250.000.

Everbest. Kalau tidak salah dulu Everbest mempunyai tag line The Best Ever. Terus terang sepatu ini dibelikan oleh seseorang *eh* di tahun 2004, saat tiga pasang Everbest yang saya miliki sebelumnya sudah waktunya dipensiunkan. Merek ini adalah merek andalan saya untuk sepatu kantor, karena sangat nyaman di kaki. Everbest yang ini hanya mempunyai hak setinggi 4 cm.  Termasuk sepatu dengan hak rendah yang saya miliki. Sebelum Everbest yang ini, Everbest yang saya pakai harian mempunyai hak antara 5-8 cm, karena ya itu tadi, walaupun tinggi, untuk berlari ke sana ke mari, sepatu merek ini tetap nyaman di kaki. Tak membuat kaki saya lecet sedikit pun. Enam tahun lalu, harga sepatu ini berkisar Rp.450.000 – Rp. 500.000 *gue tau harganya karena gue yang milih, dan belinya sama gue* :mrgreen:

G by Guess. The newest one. Gara-gara terlalu lama menunggu antrian dokter gigi, Senin lalu saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall yang letaknya di samping rumah sakit tempat saya berobat gigi. Saya memang sudah berencana untuk menambah koleksi sepatu kantor, yang bukan flat shoes. Putar-putar keliling pusat perbelanjaan yang saat itu sedang menggelar diskon dimana-mana adalah hal yang menyenangkan untuk saya. Saya bisa mendapatkan barang mahal dengan harga diskon. Seperti sepatu ini, yang saya beli dengan harga Rp.300.000 – Rp. 400.000 setelah diskon, dan seperti biasa, yang paling penting adalah bisa dipakai untuk sedikit berlari-lari selama di kantor, karena mempunyai tingkat kenyamanan yang luar biasa.

Pretty Fit. Yang ini bukan sepatu untuk ke kantor. Melainkan sepatu untuk pesta. Saya beli saat saya ke Singapura tahun lalu. Mempunyai hak 8 cm dengan ujung yang kecil, yang terlihat akan membuat kaki pegal jika memakainya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Sepatu ini sangat nyaman di kaki, bahkan saya sempat memakai beberapa kali ke kantor, saat saya bosan dengan sepatu kantor saya. Seingat saya, sepatu ini saya beli dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (jika dikonversi ke Rupiah), dengan harga asli Rp. 800.000an (juga jika dikonversi ke Rupiah).

Noche. Sepatu ini saya beli karena sepatu pesta saya sebelumnya yang berwarna putih sudah saatnya di “lembiru” (lempar beli yang baru). Sepatu ini adalah saksi saat saya wisuda menjadi Sarjana Psikologi. Saksi kebosanan saya menunggu untuk dipanggil ke atas podium dengan nama Rosarini S.Psi *long and windy road, Man!!!* Tinggi hak 7 cm, dan tetap nyaman di kaki saya. Harganya pun termasuk membuat dompet saya pun tetap nyaman, yaitu sekitar Rp. 300.000 – Rp. 350.000.

Hush Puppies. Nyaman sungguh sepatu ini. Kualitasnya sesuai dengan harganya yaitu Rp.800.000. Saya membeli sepatu ini akhir tahun lalu, dan saya ingat betul sepatu ini masih termasuk new arrival, dan tak ada diskon. Tapi ternyata “mas-mas” penjaga counter menghampiri saya dan mengatakan ini “Mbak, kalo mbak mau yang itu, saya telfonin temen saya yang di kantor pusat biar bisa diskon, terus terang saya lagi ngejar target dapet insentif akhir bulan,” akhirnya saya membawa pulang sepatu itu dengan harga Rp. 500.000 :mrgreen: Dan sepatu ini sekarang menjadi sepatu andalan saya saat ngantor.

Noche. Patent Leather-Pump Shoes yang menjadi saksi sejarah saat saya ujian/sidang skripsi tahun lalu. Selama dua jam dia menemani saya di ruangan itu, untuk menjawab semua pertanyaan para penguji. Sepatu ini jarang saya pakai, karena memang saya kelompokkan sebagai sepatu pesta, menjadi teman sack dress sebagai pilihan ringkes saat saya “terpaksa” berdandan pergi ke pesta. Heels sepatu ini hanya 7 cm, dengan ujung yang kecil, tapi walaupun harganya tidak terlalu mahal, kualitasnya pun ternyata bagus, setidaknya tidak membuat kaki saya pegal ataupun lecet. Harga sepatu ini saat saya beli, sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000.

Zara. Patent Leather-Suede-Ankle Strap Shoes ini juga saya golongkan sebagai sepatu pesta. Heels yang dimilikinya hanya 5 cm dengan bahan suede dan ujung yang kecil. Menurut saya, sedikit repot memakai sepatu ini, karena ankle strap sepatu ini benar-benar ankle strap yang harus dibuka terlebih dahulu baru ditaliin seperti memasang ikat pinggang, bukan ankle strap yang tinggal cantol. Harga asli sepatu ini sekitar Rp.700.000an, karena ini termasuk koleksi Zara Women, bukan TRF. Tapi…lagi-lagi saya bisa membawa pulang sepatu ini dengan harga lebih murah, yaitu sekitar Rp. 350.000 – Rp. 400.000.

Guess by Marciano. Bermodel sneakers tapi dengan hak wedges setinggi 10 cm. Yang jelas memakai sepatu ini sangat repot, apalagi sepatu ini tanpa lidah, yang memaksa saya harus melonggarkan talinya dari bawah hingga atas, agar kaki saya bisa masuk. Walaupun demikian, hal ini menjadi satu kelebihannya juga, karena kaus kaki yang saya kenakan bisa terlihat motif/corak /warnanya. Eh…sepatu ini juga dibelikan oleh seseorang, saat saya dan dia berjalan-jalan di salah satu mall di Jakarta Selatan, kurang lebih 6 tahun lalu. Harganya saat itu kalau tak salah sekitar Rp. 500.000 – Rp. 550.000 dan itu sudah harga diskon.

Dan sekarang reviu untuk sepatu di deretan depan. Dari paling kiri ya…

Vincci. Dibelikan oleh seseorang saat ia ke Kuala Lumpur. Sangat jarang saya pakai, karena sepertinya koleksi pakaian yang saya miliki jarang pula yang bisa cocok jika saya memakai sepatu ini. Sepatu berbahan beludru ini mempunyai hak sekitar 3 cm, dan cukup nyaman di kaki. Harganya? Saya tidak tahu, lha wong oleh-oleh kok.

Vincci. Flat shoes nyaman dan bisa dikatakan dengan harga yang cukup murah. Kalau tidak salah sepatu ini kisaran harganya Rp.200.000 – Rp. 250.000. Sempat menjadi sepatu andalan saat saya masih bekerja di sebuah retail company, karena saya lebih sering berangkat dan pulang kantor dengan kendaraan umum. Karena terlalu sering dipakai, sepatu ini mulai rusak dibagian solnya, dan memaksa saya untuk mengurangi frekuensi pemakaian sepatu ini.

M)phosis. Patent-leather-ankle-strap-shoes ini saya beli di Singapura dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (dengan konversi ke Rupiah). Sangat nyaman di kaki, termasuk untuk menerjang hujan, berlari-lari dan berkendaraan umum. Sampai-sampai sekarang terpaksa saya kurangi frekuensi memakai sepatu ini, karena sudah mulai rusak. Flat shoes dan sandal M)phosis, adalah inceran saya saat akan menambah koleksi sepatu jenis yang satu itu. Nyaman sungguh boss!!

Everbest. Yang satu ini termasuk salah satu sepatu andalan saya untuk ngantor. Sepatu ini, sepatu hibahan dari tante saya, karena ternyata sedikit kebesaran untuknya. Saat diberikan ke saya, kondisinya masih sangat baru, dan kebetulan pas di kaki saya dan mereknya pun saya suka. Saat berjalan-jalan ke mall, saya melihat sepatu model ini dijual dengan kisaran harga Rp.700.000 – Rp. 800.000 *mayan menghemat duit* :mrgreen:.

Sebenarnya saya masih punya dua pasang sepatu lagi yang lupa saya foto. Dua-duanya flat shoes, menyenangkan dan nyaman. Satu bermerek Top Shop, dan satu lagi Tracce. Yang Top Shop berbahan dasar satin warna biru dilapisi dengan lace warna hitam, dan waktu itu saya beli dengan harga Rp.400.000 pada akhir tahun 2006, sedangkan yang Tracce dengan model mary jane, berbahan kain yang saya tidak tahu jenisnya, berwarna krem, di bagian ujung dan strapnya berbahan patent-leather berwarna coklat tua. Dua pasang sepatu ini ingin saya perbaiki, karena sedikit rusak di bagian solnya, tahu khan jalanan kota Jakarta yang tak pernah bersahabat dengan sepatu? Sangking nyamannya dua pasang sepatu ini, saya jadi malas untuk me-“lembiru” keduanya.

So…koleksi sepatu saya tak sebanyak koleksi kalian khan ya? Mudah-mudahan cerita, reviu tentang sepatu-sepatu ini dapat menjadi bahan pertimbangan kalian saat ingin berbelanja sepatu.

Hmmm…untuk cara merawat sepatu setelah kita beli, coba dibaca ulang tulisan saya yang satu ini…Sepatu Bersih Sepatu Cantik

—-

“Btw, kenapa sepatu gue banyakan item yah? Sesuai dengan baju yang mayoritas warna gelap? Atau sesuai yang lainnya? Terus-terus ketimbang cuma punya 20an pasang sepatu aja dah rempong nyimpennya, apalagi para shoes fetish itu yah? Ga kebayang…”

Gaya, Cantik, Asli, Gak Malu-Maluin…

Tuesday, January 5th, 2010

Perempuan mana sih yang tidak suka tampil gaya dan cantik?

Apapun caranya, setiap perempuan ingin tampil cantik, mempunyai gaya tersendiri, dan enak dilihat oleh orang lain. Ada yang mengandalkan riasan wajah dan ada pula yang mengandalkan busana. Yah, walaupun keduanya adalah hal yang mampu membuat si perempuan merelakan sebagian kecil, bahkan sebagian besar, penghasilannya sendiri, atau penghasilan pasangannya sebagai modal berpenampilan aduhai setiap harinya.

Saya, sebagai perempuan (yang kebetulan hanya urusan hardware dan casing-nya), termasuk sangat peduli untuk urusan penampilan. Tapi andalan saya bukan di urusan rias wajah, melainkan busana dan printilan fesyen yang saya gunakan tiap hari.

Riasan wajah hanya akan menempel lengkap di wajah saya, saat saya akan pergi ke pesta, terutama pesta pernikahan. Sedangkan riasan harian, saya hanya mengandalkan pelembab wajah Seaweed dari The Body Shop, dan bedak tabur, Marcks, buatan Kimia Farma, yang harganya kurang dari Rp.10.000 yang kebetulan dianjurkan dokter kulit saya. Jadi bisa dibilang, penghasilan saya tidak akan banyak “lari” ke peralatan dan perlengkapan tata rias wajah. Produk dari The Body Shop dan Revlon, yang mendominasi koleksi peralatan dan perlengkapan tata rias wajah saya, cukup awet, dan bahkan ada yang akhirnya saya relakan untuk dibuang, karena takut sudah terlalu lama, dan sudah tidak laik pakai.

Lain produk make up, lain pula urusan fesyen dan printilannya. Yang satu ini, terus terang cukup “menyiksa” penghasilan saya, walaupun saat ini, saya sudah lebih bisa menahan diri untuk belanja ina-ini-itu yang sangat-sangat tidak penting. Tapi teteup benda tidak penting (saat ini) kadang pun terbeli. Dan saat-saat paling menyiksa adalah tengah tahun dan akhir tahun, di mana pesta diskon digelar beramai-ramai. Termasuk merek-merek andalan Mango, Zara, (X) SML, Invio, dan G2000.

Dan hari terakhir di tahun 2009 lalu, saya pun merelakan sekian gaji saya terlempar ke butik yang saya sebutkan di atas.

Tema perburuan hari itu adalah outfit untuk ngantor, karena saya sudah mulai bosan dengan koleksi baju kantor saya.

Perburuan dimulai dari Plaza Semanggi, karena saya tahu di sana ada butik Invio dan gerai G2000, yang saat ini masih jadi andalan saya mencari baju-baju untuk ngantor. Satu sih yang jelas, mengapa saya memilih dua merek itu, karena ada ukuran saya, si skinny ini. Dan modelnya yang dikeluarkan oleh dua merek tersebut, masih bisa saya katakan cocok untuk digunakan ngantor di toko saat ini. Karena belum kembali diizinkan Tuhan sebagai penghuni gedung-gedung perkantoran megah di daerah Sudirman dan sekitarnya, jadi, koleksi seperti Zara Woman, Raoul, belum saatnya saya jadikan koleksi pakaian ngantor, walaupun koleksi Mango Suit sudah ada yang tergantung di gantungan pakaian di kamar saya.

Tapi dari butik-butik andalan saya mencari baju ngantor, saya hanya membeli 1 kemeja kotak-kotak merah di Invio, dari harga Rp.368.000 menjadi Rp.184.000. Dan karena saya berpikir, “Ngecek Mango ahhh.”

Selesai sudah urusan belanja-belanji akhir tahun? Gak mungkin, lah wong saat saya melirik jam tangan, masih jam 11.00 pagi.

Perburuan dilanjutkan ke Plaza Senayan. Ada Mango, ada Zara. Walaupun ada pusat perbelanjaan lain seperti Grand Indonesia dan Pondok Indah Mall, di mana dua butik Spanyol itu ada. Tapi tak tahu kenapa Plaza Senayan tetap menjadi pilihan nyaman saya untuk belanja.

Setelah beberapa putaran, mengitari dan melihat-lihat di Zara, saya bisa terselamatkan dari tentengan belanjaan di butik ini.

Tapi tidak di Mango. Padahal saya hampir putus asa saat mengitari Mango. Mungkin karena display barang diskon yang banyak dan sedikit terlihat lebih berantakan, biasanya membuat saya sedikit kehilangan mood belanja.

“Dem, gue lagi nyari celana ini, kok ga ada yang bagus ya. 34-nya kemana semua ya? Jangan bilang dah abis, ini kok yang ada yang gede-gede sih, 38, 40, yang kecil maneee,” kira-kira itu perbincangan saya dengan diri sendiri, sampai saya berbincang dengan penjaga butik…

“Mbak, ukurannya tinggal yang di sini?”

“Iya.”

Kembali berbincang dengan diri sendiri…

“Denial, kayak baru sekali belanja ke Mango, ya kalo diskon ukurannya cuma yang dipajang, Cung!”

Dan kembali saya menggeser-geser deretan celana panjang yang tergantung di sana…

“Eh, nih dia nih yang waktu itu gue incer, masih ada pula 34 nya. Yang waktu itu kacrut harganya, 1 jeti lebih. Sekarang berapa ya? Eh, kok jadi 399 ya, tapi kok kayaknya kegedean. Coba dulu ah.”

Sambil menuju ruang ganti, saya kembali menggeser deretan gantungan celana di sana, dan…

“Jrit, Mango Casual Sport pulakh ini. Berapa sekarang? What 179 dari 600 rebu lebih? Coba juga aaahh.”

Dan saat mencoba…

“Weiitss…pas niy, tapi nih kaki kepanjangan deh,” lalu saya pun sambil masih mengenakan celana yang saya coba, keluar dari ruang coba, untuk melihat jatuh si celana itu, karena di depan deretan ruang coba di Mango, terdapat satu cermin besar tak ada potongannya dari ujung ke ujung tembok.

Kebetulan di sana ada pramuniaga yang menjaga…

“Mbak, masih bisa alter celana ga sih?”

“Masih.”

“Tapi lama ya, 2 minggu?”

“Gak kok, paling 4 harian.”

“Mau dounks mbak yang ini bisa khan dipotongin, kalo ga potongin di sini, ntar modelnya ilang.”

Yupe…dan 400 ribu pun sudah bisa dipastikan masuk ke POS kasir si Mango.

Berikutnya si Mango Casual Sport Wear. Saya pun berharap, jatuhnya si celana yang satu ini tidak bagus. Tapi harapan saya ternyata tidak terwujud. Celana warna kakis, berbahan kordorai halus dan berpinggang tinggi, ini pun jatuh manis di kaki saya.

Kembali saya keluar dari kamar coba, dan bertanya pada si pramuniaga…

“Mbak ini khan modelnya agak lebar di bawah ya, ga lurus. Terus bawahnya tekukan celananya ga biasa kayak celana lain, kalo dipotongin modelnya masih sama ga?”

“Bentar saya coba tekuk dulu ya, sesuai dengan panjang kaki, Mbak.”

Pramuniaga itu pun kembali mengukur panjang celana yang disesuaikan dengan panjang kaki saya…

“Masih bisa nih Mbak, modelnya ga ilang kok.”

Dan, sudah tahu ya apa yang terjadi kemudian? Hahahaha…Dua celana tersebut berhasil saya bawa pulang, setelah nanti selesai divermak.

Saya pun berkata dalam hati…”Puas gue belanja hari ini.”

Cerita saya selesai sampai sini? Belum… :mrgreen:

Mungkin di antara teman-teman yang baca cerita ini, ada yang berkata dalam hati…”Sombong, sampai nunjukkin harganya segala.”

Saya akan jawab, “Terserah ya mikirnya apa.”

Tapi sebenarnya yang saya ingin tunjukkan di sini adalah, belanja di butik mahal itu bisa juga jadi murah, asal pintar memilih barang, waktu dan disesuaikan dengan keuangan + kebutuhan (klasik sih memang).

Dan hal yang lebih penting lagi, bagi saya pribadi, orisinalitas produk adalah suatu hal yang penting. Pertama, penghargaan terhadap karya seseorang; Kedua, jika produk asli tidak sanggup dibeli, ya tidak perlu mencari produk serupa tapi tidak asli, atau KW 1, KW 2 atau KW berapa pun. Lebih baik cari barang asli, dengan harga yang terjangkau, atau menunggu datangnya program diskon untuk barang-barang yang memang sangat mahal. Dari perburuan program diskon, saya pernah loh mendapatkan rok jeans Oakley dari harga Rp.1.200.000 menjadi Rp.200.000, sack dress berbahan wool Mango Suit dari Rp.1.100.000 menjadi Rp.800.000, sackdress Mango Sport Casual Wear dari Rp.800.000 menjadi Rp.600.000 (*Eh, yang dua terakhir ini ga pake duit gue ndiri ding, ada yang sukarela belanjain*:lol:), sackdress hitam Zara dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, sackdress hitam Mango dari Rp.700.000an menjadi Rp.200.000an, overall skirt Mango Jeans dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, high heels Zara dari harga Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, Guess hand bag dari Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, dan belanjaan yang terakhir, celana panjang Mango Suit dari harga kisaran 1 juta, menjadi Rp.399.000 dan celana Mango Sport Casual Wear dari kisaran harga Rp.600.000 menjadi Rp.179.000. Dan jangan salah, saya pernah iseng masuk ke butik Raoul saat diskon, banyak loh koleksi mereka yang dijual dengan harga Rp.300.000an, walaupun saat itu saya tidak membelinya, karena saya masih kuliah;  Ketiga, barang asli memang biasanya mahal, tapi kualitasnya juga pasti berbeda, setidaknya dari ketahanan barang tersebut, jadi urusan awet (yang harus didukung dengan kondisi penyimpanan dan pemeliharaan), biasanya tidak perlu diragukan lagi, kecuali kalau ukuran tubuh kita yang mengalami perubahan; Keempat, jangan pernah takut keluar-masuk butik, tentunya butik yang kisaran harga barang yang dijual di sana, memang sesuai dengan keuangan kita.

Saya belum mampu membeli produk-produk sekelas Prada, Louis Vuitton, Burberry, Jimmy Choo, Christian Louboutin, Chanel, dan saya tidak akan mencari barang tiruannya, apalagi memakainya.

Jadi, perempuan tetep bisa berpenampilan gaya, cantik, dengan barang-barang bermerek terkenal dengan harga terjangkau ‘kan? Jangan malas berburu diskon, salah satu kuncinya.

By the way, tante saya punya cerita tentang seseorang dan barang KW ini.

Tante saya ini adalah penggemar dan kolektor fanatik Louis Vuitton, dan Puji Tuhan, saat ini ia masih diberi rejeki yang memampukannya belanja merek tersebut di negara asalnya, bahkan namanya sudah terdaftar menjadi pelanggan butik LV, yang berada di Paris, Perancis.

Saat ia sedang belanja di sana, tiba-tiba ada orang Indonesia, yang dengan nekatnya masuk ke dalam butik, sambil menenteng satu tas merek tersebut, tapi bukan tas LV asli, melainkan yang KW kesekian. Dan seketika salah satu penjaga butik, memanggilnya dan menjelaskan untuk tidak memasuki butiknya dengan membawa barang yang bukan asli. Ternyata mereka sudah sangat ahli membedakan, mana produk asli dan mana yang tiruan. Tidak hanya memanggil si ibu tadi, tapi kemudian ibu tadi diberi tas plastik kresek warna hitam, tanpa nama apapun di depannya, ia diminta untuk memasukkan tas LV-LVannya itu tadi ke dalam tas plastik tersebut, dan kemudian ia diminta untuk meninggalkan butik segera.

Berarti satu lagi lah ya…perempuan harus bisa tampil gaya, cantik, dan tak malu-maluin karena ketauan memakai barang KW atau barang tiruan.

Jadi buat mereka yang mendapat rezeki ke Perancis, dan nekat bawa tas LV yang tiruannya, jangan nekat juga ya masuk ke butik LV di sana. Jangan bikin malu…hihihihi… :mrgreen:

Ayo Belanja…

Sunday, April 12th, 2009

Dulu, jika aku menginginkan sebuah barang, sering kali aku tak berpikir panjang sebelum mengambil barang itu dan membawanya ke kasir, apalagi awal-awal aku sudah memiliki gaji sendiri. Namun dengan berjalannya waktu, dan semakin merasakan susahnya mencari uang, kebiasaan itu pun sudah bisa aku kurangi. Berpikir panjang sebelum membeli barang, memang penting. Tidak terlalu sulit ternyata untuk meninggalkan toko tanpa membawa pulang barang yang diinginkan, pada saat itu juga, detik itu juga.

Cukup lama memang aku baru dapat menemukan strategi-strategi untuk hunting barang belanjaan. Dan inilah strategi yang cukup ampuh (setidaknya bagiku) untuk mencegah agar kita tidak menyesali barang yang kita beli.

Marreee…

1. Sebaiknya sebelum kita pergi ke pusat perbelanjaan, kita sudah harus tahu barang belanjaan yang kita ingin beli. Klise memang, tapi ada benarnya. Pasti kita tidak ingin menghamburkan uang dengan percuma dan penuh penyesalan ‘kan?

2. Dalam pusat perbelanjaan tentu tidak hanya ada satu atau dua toko yang menjajakan barang jualan yang sejenis. Jangan malas untuk melakukan perbandingan. Coba pakaian hanya jika modelnya kira-kira sesuai dengan bentuk tubuh, tidak semata-mata karena tampilan warna atau motif yang menarik, hal ini dapat menghemat waktu kita berbelanja.

Ada satu strategi sedikit licik, yang cukup sering aku lakukan. Apabila ada satu barang yang kamu sudah suka sekali, sudah cocok baik model dan ukurannya, takut barang itu diambil orang lain, apalagi kalau stoknya tinggal sedikit, tapi kamu ingin melakukan perbandingan di toko/butik lain, titipkan barang tersebut pada kasir, lalu kamu bilang pada petugasnya, kalau kamu ingin ke toilet atau ke ATM. Pergi ke toilet atau ATM itulah sebagai alasan kamu untuk mencari di toko/butik lain untuk membandingkan barang yang kamu inginkan.

Terus terang dengan cara seperti ini, aku pernah menemukan satu kemeja putih lengan pendek, dengan kelas dan kualitas merek yang sama, tapi lebih murah. Kamu tahu dua merek produk busana asal Spanyol yang menjadi favoritku itu ‘kan? Namun agar hati tidak terlalu merasa bersalah, aku akan kembali ke toko sebelumnya, mencobanya lagi, dan bilang ke petugasnya bahwa aku tak jadi mengambil barang itu, karena setelah dipikir-pikir masih kurang cocok. Tentu, ketika kembali ke toko sebelumnya, aku belum membawa tas belanjaan baru ya, atau setidaknya aku simpan di tasku yang mirip kantong Doraemon.

Perbandingan satu barang dengan barang yang lain ini, juga berguna ketika kamu sedang berjalan-jalan dan mendadak baru ingat atau ingin membeli barang yang tidak direncanakan sebelum pergi berbelanja.

3. Apabila hasrat hati benar-benar tak terbendung untuk membawa belanjaan sepulang dari pusat perbelanjaan, carilah barang yang pasti berguna, istilahnya must have item.

4. Jika sedang jalan-jalan ke luar negeri, cari barang yang tidak dijual di Indonesia. Bisa mereknya yang tidak masuk ke Indonesia, atau modelnya. Jangan lupa untuk menghitung kurs harian, karena bisa jadi barangnya menjadi lebih mahal dari pada harga di Indonesia, jika memang barangnya dijual di sini. Lain soal, jika hasrat hati untuk membeli tidak dapat ditahan lagi, tutup mata serapat-rapatnya untuk urusan kurs mata uang negara setempat terhadap Rupiah.

5. Sebelum membayar, periksa kembali kondisi barang yang akan dibeli, apakah ada yang cacat atau tidak, apalagi untuk barang yang didiskon.

6. Selalu minta barang yang baru, bukan barang yang dipajang. Aku pribadi memilih untuk membatalkan membeli barang tersebut jika tidak ada stok selain yang dipajang. Biasanya kondisi barang yang dipajang sudah tidak terlalu bagus.

Namun ada baiknya kamu memeriksanya kembali, jika masih benar-benar bagus dan bersih, tak ada salahnya kamu membeli barang yang dipajang tersebut. Khusus untuk sepatu, teliti kembali dengan seksama, apakah kulitnya sudah terdapat banyak lipatan bekas pakai atau tidak. Dan untuk pakaian, jangan membeli pakaian yang sudah terkena noda kosmetik orang yang mencoba sebelumnya atau noda apapun, karena ada resiko noda tersebut tidak bisa dihilangkan. Untuk menghindari terkenanya noda pada pakaian, serta untuk kepentingan diri sendiri juga orang lain, ada baiknya jika kamu ingin mencoba pakaian, jangan mencoba yang warna terang, apalagi putih. Cari model yang diinginkan dan ukuran sesuai, dengan warna yang gelap. Apabila kamu ingin membeli yang warna putih, baru kamu cari warna tersebut, ukuran yang sama, dan langsung bawa ke kasir.

5. Tanyakan petugasnya, apakah barang tersebut bisa ditukar atau tidak setelah kita membeli, dan juga syarat-syarat penukarannya, kalau-kalau ada cacat yang tidak terlihat saat kita membelinya. Simpan baik-baik bukti pembayarannya untuk beberapa hari.

6. Membeli barang di toko atau butik langganan mempunyai kelebihan tersendiri, yaitu kamu sudah tahu ukuran yang biasa kamu kenakan untuk merek tersebut. Hal ini sangat berguna saat-saat masa diskon digelar, karena pada masa inilah toko atau butik pasti lebih ramai dikunjungi orang, dan bisa dipastikan urusan mengantri mencobanya pun juga lebih panjang. Bahkan ada toko atau butik yang tidak memperbolehkan pembelinya untuk mencoba pada saat diskon berlangsung. Jadi jika sudah tahu ukuran yang biasanya, akan lebih menghemat waktu, serta tidak akan kehilangan barang yang disenangi hanya karena tidak tahu ukurannya dan tidak boleh mencobanya.

7. Apabila kamu sedang ingin berhemat, jauhkan ruang coba pakaian, karena jika kamu sudah mencoba pakaian, dan dirasa cocok, kemungkinan besar kamu akan membelinya walaupun ternyata kamu tidak memerlukannya. Selain itu, tinggalkan kartu kredit yang sudah kosong atau kartu debit yang masih penuh di rumah dan bawa uang tunai secukupnya, walau aku yakin pasti sulit.

8. Sebaiknya jika kamu ingin membeli sepatu, jangan pada saat-saat awal kamu mulai berbelanja. Lakukan itu setelah kaki-kakimu berjalan untuk beberapa lama, karena kaki akan lebih mengembang, sehingga kamu akan tahu ukuran dan bentuk kakimu yang sebenar-benarnya, ketika memilih sepatu. Saat kamu ingin membeli high heels, ada baiknya kamu menanyakan ada sol tambahannya atau tidak, beberapa merek menyediakannya termasuk kantong penyimpanan tambahan. Dan untuk sepatu pada umumnya, lihat lagi bahan yang dipakai, apakah mudah dibersihkan atau tidak. Untuk cara membersihkan sepatu, bisa dibaca di tulisanku sebelumnya (dalam kategori label informasi fesyen).

9. Saat kamu membeli pakaian, terutama yang berkancing, periksa kembali jahitan kancing-kancing tersebut, dan apakah ada kancing cadangan yang disediakan atau tidak. Ada baiknya sesampainya di rumah, kencangkan sendiri jahitan kancing-kancing tersebut. Selain itu periksa juga washing instruction yang biasanya tertera di bagian dalam pakaian, terutama untuk kamu yang malas membawa pakaian ke jasa binatu, karena ada pakaian yang hanya bisa dicuci kering atau dicuci dengan bahan-bahan kimia tertentu.

10. Satu hal penting saat kamu ingin berbelanja, pakailah pakaian dan terutama sepatu yang sangat nyaman. Jangan sampai pakaian dan sepatumu mengganggu kenikmatan kamu berbelanja. Aku tidak menyarankan untuk memakai sepatu berhak tinggi sangat berbelanja, bahkan aku selalu menghindari menggunakan sepatu jenis ini ketika berburu belanjaan.

Selain strategi berbelanja di atas, aku juga ingin membagi must have item ala diriku sendiri. Siapa tahu berguna juga untuk kamu.

1. Atasan (baik kemeja lengan panjang, pendek, atau kaos) berwarna putih polos. Tentu pilih dengan model, jenis kain, sulur kain yang berbeda-beda.

2. Bawahan (rok atau celana panjang) berwarna hitam polos. Pilih yang berwarna hitam pekat, dan tentu hati-hati dalam menyetrika pakaian agar tidak berbekas.

3. Sack dress hitam, karena bisa dipakai di hampir setiap acara, baik siang maupun malam, apalagi kalau sedang bingung mau pakai baju apa.

4. Sepatu model apapun berwarna hitam atau putih, karena bisa disesuaikan dengan pakaian warna apapun.

5. Travel bag atau suitcase dengan ukuran kabin pesawat. Usahakan warna gelap, agar tidak terlalu terlihat jika kotor. Dan percaya benda ini pasti berguna, walaupun kamu belum merencanakan bepergian, jadi sediakan benda ini, setidaknya satu di rumah. Lagi pula kalau membelinya tidak mendadak tentu kamu bisa memilih model sesuai keinginanmu dan bisa tetap modis saat bepergian ‘kan? Oh ya, kenapa ukuran kabin? Menghemat waktu, karena koper tidak perlu dimasukkan ke bagasi pesawat, cukup dibawa di kabin, dan kalau kamu bepergian tidak dengan pesawat, ukuran koper juga tidak akan banyak memakan tempat.

6. Tote bag warna netral. Tas ini dapat memuat barang yang cukup banyak, setidaknya tidak hanya dompet dan ponsel, bahkan bisa dijadikan semacam kantong Doraemon.

7. Celana jeans berwarna gelap. Dengan paduan kemeja putih dan jeans gelap, kamu sudah bisa datang ke acara-acara non formal, bahkan aku pernah datang ke pesta perkawinan yang diadakan siang hari dengan padu padan seperti itu.

8. Cardigan. Mempunyai cardigan berbagai macam warna dan lebih dari satu tidak akan percuma, apalagi untuk mereka yang tidak kuat dengan hawa dingin AC.

9. Winter stocking, untuk mereka yang sudah bekerja, stocking ini akan menambah kesan tersendiri dalam berpakaian. Bahan winter stocking juga lebih kuat daripada stocking biasa, jadi kamu tidak perlu sering-sering membeli stocking baru karena robek. Selain itu, winter stocking ini berbahan tebal, yang bisa menahan dingin saat kamu di kantor, tapi kalau sedang keluar kantor, jangan terlalu banyak gerak ya, bisa-bisa kamu kepanasan nanti.

Kira-kira, itulah strategi berbelanja berdasarkan pengalamanku sendiri, semoga berguna, kalau ada yang ingin menambahkan, dengan senang hati aku terima.

“Hmmmm…musim diskon sebentar lagi ‘kan? Jadi, belanja kita? Shop till you drop, Gurls!

Sepatu Bersih, Sepatu Cantik…

Wednesday, July 16th, 2008

Musim diskon sudah hampir berakhir, seperti SOGO yang sempat aku datangi hari Minggu, 13 Juli 2008 lalu, menurut pramuniaganya bahwa hari itu adalah hari terakhir mereka memberikan potongan harga. Namun jangan takut, hingga saat ini masih ada toko yang memberikan potongan harga. Tengok saja Mango dan Zara yang masih menggelar diskon, walaupun keduanya juga mulai memasang new arrival untuk musim mendatang, di gerai-gerai mereka. 

Pertanyaan pertama yang ada di pikiranku adalah, coba dilihat lagi ada beberapa barang belanjaan yang berhasil dibeli? Ada penyesalan membeli barang-barang itu, atau bahagia karena mendapatkan barang yang selama ini diincar? Ada yang mulai khawatir menanti datangnya tagihan kartu kredit bulan ini? Semoga semuanya sudah diperhitungkan sebelumnya ya.

Kalau berdasarkan pengalaman aku sendiri, belanjaan yang paling sering diincar saat musim potongan harga adalah sepatu. Pasti ada ‘kan yang baru saja belanja sepatu baru? Apalagi model yang diberikan potongan harga itu adalah model yang sudah lama diincar, pasti tanpa pikir panjang lebar langsung minta ke pramuniaga untuk dicarikan ukuran yang sesuai, dan langsung bayar ke kasir. “Lah Cha, kadang ga ada diskon pun, ga pake acara mikir panjang. Kalo suka, pas, keren di kaki, langsung dech bayar.”

Lalu, kira-kira para pembeli sepatu ini, sudah tahu belum ya cara merawat sepatu kesayangan? Sayang ‘kan sepatu yang dibeli dengan mahal, dengan penantian panjang itu hanya bertahan sebentar, karena tidak tahu cara merawatnya. Kali ini aku akan merangkum beberapa tips merawat sepatu. Ada yang aku ambil dari artikel di internet, maupun berdasarkan pengalamanku sendiri. 

Sepatu Berbahan Suede

Sepatu berbahan suede ini, memang termasuk sulit dalam hal perawatannya. Sikat khusus sepatu untuk berbahan suede ini tersedia di toko-toko sepatu, walaupun sedikit sekali yang menjualnya.

Untuk membersihkan kotoran di sepatu berbahan suede ini, kamu bisa menyikatnya secara lembut dengan menggunakan sikat khusus itu. Namun pastikan sepatu kamu dalam keadaan kering. Sikatlah sepatu ke satu arah, jangan menyikat kedua arah yang berlawanan, untuk mengangkat kotoran yang menempel.

Untuk menghilangkan lecet yang terlihat jelas pada sepatu, sikatlah sepatu dengan sikat khusus itu ke dua arah yang berlawanan. Untuk lecet yang membandal, coba gosokkan area yang lecet dengan penghapus pensil.

Semprotkan dengan semprotan pelindung sepatu berbahan suede sejak pertama kali sepatu itu kamu beli, dan setiap kali setelah sepatu itu dibersihkan. Untuk sepatu yang tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama, simpanlah sepatu di dalam kotak sepatu, dan dibungkus dengan kertas pembungkus (yang biasanya juga sudah ada di dalam kotak, saat kita membeli sepatu). Pastikan tempat penyimpanannya jauh dari udara lembab, dan akses sinar matahari.

Informasi ini diambil dari artikel yang ditulis oleh Joy di http://www.answers.yahoo.com, dengan kata kunci cleaning suede shoes. Begitu pula dengan informasi selengkapnya mengenai penanganan secara tepat sepatu berbahan suede ini, bisa dilihat di halaman situs tersebut. 

Sepatu Berbahan Patent Leather

Membersihkan sepatu berbahan ini cukup mudah, tapi tidak dengan mencegahnya dari goresan. Sepatu berbahan ini mudah tergores, apalagi jika si pemakai tidak berjalan dengan hati-hati. 

Pembersih sepatu berbahan ini sudah banyak di jual di toko sepatu. Namun lebih mudahnya, kamu bisa juga menggunakan petroleum jelly yang banyak dijual di toko kecantikan atau apotek. Caranya adalah gosokkan petroleum jelly itu ke bagian yang kotor atau lecet hingga hilang. Lalu lanjutkan dengan menggosokkan ke seluruh bagian sepatu hingga mengkilat. Untuk lecet membandal pada sepatu patent leather warna hitammu, tutulkan marker berwarna hitam di atas kain setengah basah, lalu gosokkan pada bagian sepatu yang lecet, hingga lecetnya hilang.

Informasi ini diambil dari http://www.goodhousekeeping.com dengan kata kunci cleaning patent leather shoes

Sepatu Berbahan Kulit

Membersihkan sepatu berbahan ini sepertinya sudah sering kita lakukan. Semir-semir dan pembersih sepatu berbahan kulit, sangat mudah ditemukan di toko, bahkan tidak perlu datang ke toko khusus sepatu. Namun pastikan bahwa sebelum menyemirnya, kamu sudah menghilangkan kotoran dan debu yang menempel pada sepatu. 

Sepatu Berbahan Satin

Sepatu berbahan ini memang tampak indah dan elegan, tapi cukup sulit dalam perawatannya, apalagi untuk sepatu yang berwarna terang. Cara terbaik untuk membersihkan sepatu berbahan ini adalah dengan membawanya ke binatu khusus. Mungkin binatu yang bisa aku sarankan adalah binatu seperti Jeeves, yang memang spesialis pencucian baju-baju mewah dan yang berbahan sulit, juga sepatu dan tas, walaupun harga yang dipatok tidak seperti binatu lainnya. Pastinya jauh lebih mahal. 

Namun apa pun akan dilakukan bukan untuk barang kesayangan, termasuk sepatu satinmu? Daripada sepatu itu dicuci sendiri dan meninggalkan bekas air juga detergen yang masih menempel, lebih baik membawanya ke yang ahli, atau jika merasa tak sanggup merawatnya, lebih baik dipikirkan dua kali sebelum membeli sepatu satin ini, walaupun indah terlihat. 

Pemilihan, Pemakaian dan Perawatan Sepatu Secara Umum

Yang pasti bersihkan sepatu setelah dipakai. Untuk sepatu yang sering dipakai, simpanlah di tempat yang mudah diraih, sehingga jika kita terburu-buru, kita mudah mencarinya.

Sepatu harian, misalnya seperti sepatu sekolah, kuliah ataupun sepatu kantor, jangan hanya mempunyai satu pasang saja. Sediakan beberapa pasang sepatu, untuk dipakai berganti-ganti. Hal ini bukan hanya untuk fesyen, tapi juga untuk kesehatan. Dengan demikian sepatu tidak menjadi lembab, dan terhindar dari jamur yang dapat menyebabkan kaki berbau atau bahkan terkena penyakit kulit. 

Untuk para perempuan, tak perlu takut menggunakan sepatu hak tinggi andalan, sempatkanlah untuk  mengistirahatkan atau olahragakan kaki sejenak di tengah kesibukan kantor. Misalnya buka sepatu saat kamu duduk, dan putar-putar pergelangan kaki sebentar. Setibanya di rumah, kamu bisa rendam kakimu dengan air hangat dan juga garam mandi yang banyak dijual di toko perlengkapan aromaterapi atau spa. Jangan lupa saat di tempat tidur, dengan posisi badan terlentang, naikkan kedua kakimu sedemikian rupa sehingga posisi kaki lebih tinggi dari posisi badanmu. Hal ini agar aliran darah dapat kembali lancar. Namun ada baiknya juga tidak menggunakan sepatu tinggi setiap hari, atau setidaknya tinggi haknya tidak selalu sama.

Jika ingin membeli sepatu pesta, atau sepatu yang akan jarang dipakai, sebaiknya cari harga yang tidak terlalu mahal, atau cari sepatu mahal yang sudah mendapat potongan harga (ini akan jauh lebih baik). Pertama karena sepatu itu jarang dipakai, orang lain juga akan jarang melihat kita memakai sepatu itu. Kedua, sepatu yang harganya mahal biasanya juga didukung dengan kualitas sepatu yang kuat dan tahan banting. Sepatu kantor harian rasanya harus cukup kuat untuk mendukung aktivitas dan mobilitas kita selama di kantor. Bayangkan jika satu hari ada dua atau tiga klien yang harus didatangi, jika sepatu yang kita pakai tidak nyaman, tentu malah akan mengganggu kerja bukan?

Untuk sepatu yang depannya tertutup, jika sedang tidak dipakai usahakan selalu mengganjal bagian depannya itu dengan alat khusus yang terbuat dari plastik, seperti tongkat kecil berbentuk huruf L (beberapa merek sepatu, kadang menyertakannya saat kita membeli sepatu) yang menghubungkan ujung bagian depan dan bagian tumit sepatu itu. Namun jika alat itu tidak ada, ganjal bagian depan dengan kertas bekas yang diremas dan kemudian dimasukkan ke bagian depan sepatu. Hal ini agar menjaga bagian depan sepatu tidak melengkung ke dalam.

Sepatu yang jarang dipakai bisa disimpan di dalam kotak khusus sepatu. Setahuku di toko perkakas seperti Ace Hardware menjual kotak itu, dari kisaran harga Rp.20.000an-Rp.100.000an. Untuk yang harga Rp.20.000, hanya satu ukuran. Dapat menyimpan sepatu high heels andalanmu dengan posisi berdiri atau sepatu olahraga dengan posisi tidur. Kotak ini terdiri dari 2 warna, biru dan putih transparan, yang akan memudahkan kita untuk mengambil sepatu saat ingin digunakan. Untuk harga yang lebih mahal ada berbagai ukuran tergantung sepatu yang ingin disimpan di dalamnya, bahkan kotak sepatu untuk pria dan wanita juga dibedakan. Jangan lupa ya, jika menyimpan sepatu dalam kotak, pastikan sebelum menyimpannya, sepatu dalam keadaan bersih, dan tambahkan silica gel atau kapur barus di dalam kotak itu, untuk menghindari jamur. 

Seperti biasa, pesanku untuk yang membaca tulisan ini, jika kamu tahu informasi tambahan mengenai perawatan sepatu, silakan tuliskan komentar tambahan. Apalagi jika kamu mendapati kesalahan informasi tentang perawatan sepatu yang aku tulis di atas, aku akan senang menerima kritikan atau saran dari kamu, karena beberapa informasi di atas memang hasil terjemahanku sendiri.

Pemilihan artikel asli yang aku terjemahkan, berdasarkan hasil suara dan komentar para pengunjung situs tersebut dan juga hasil mereka yang sudah mencoba cara-cara yang disarankan dalam artikel tersebut. Tak ketinggalan, dari kredibilitas situs penyedia artikel-artikel tersebut.

Oh ya, satu lagi, jika kurang percaya dengan informasiku di sini, silakan berkunjung ke situs aslinya. Dijamin aku tak akan tersinggung.

Semoga berguna.