Posts Tagged ‘Tentang Karin’

Konseling dan Observasi di Malam Minggu…

Wednesday, March 18th, 2009

Sabtu lalu, 14 Maret 2009, sahabatku tercinta, Karin, masih terbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Kebetulan karena tempat ia dirawat tak jauh dari rumahku, aku sempatkan diri sesering mungkin menengoknya, termasuk hari Sabtu lalu.

Rencananya Sabtu pagi, aku akan bertemu dengan Shanty di rumah sakit, tetapi ternyata kami berdua, harus membereskan “kapal pecah” kami masing-masing. Kamarku belum sempat aku bereskan sejak aku pulang dari Singapura, dan Shanty, baru saja memecat pembantu rumah tangganya, sehingga apartemennya juga tidak ada yang membersihkan. Rencana pertemuan itu pun gagal, karena hingga pukul 12.00, urusan beres-beres kamarku belum juga selesai. Akhirnya Shanty memutuskan pergi duluan menengok Karin, dan aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sore hari. Siang itu aku mengirimkan pesan singkat ke Yudha…

“Dha, sore kau ke rumah sakit khan? Sekalian ke gereja Blok B, Barito situ nyok.”

“Okeh.”

Rencana itu pun berubah, Yudha ternyata masih ada urusan yang menyebabkan pukul 17.30, ia belum bisa sampai di gereja. Akhirnya aku ke gereja sendirian.

Misa sore itu berakhir sekitar pukul 18.40, dan aku pun langsung menuju ke rumah sakit. Seingatku, saat itu cuma ada Bu Siti yang menemani Karin. Mungkin Yudha sedang ke bawah, dan Tante Titung sedang istirahat di rumah, setelah semalaman menjaga Karin di rumah sakit. Lalu aku langsung menyapa dan mencoba mengobrol dengan Karin. Namun obrolan kami tak lama, karena Karin sudah mengantuk dan tertidur.

Tak lama kemudian, Yudha datang, dengan wajah lelahnya.

“Pa, kabar lu? Kayaknya elo perlu juga ditanyain kabar lu sendiri.”

Padahal baru hari Jumatnya, terakhir kali aku bertemu dengan Yudha. Namun hari Jumat itu, aku lebih banyak mengobrol dengan mamanya Karin, Tante Titung, yang baru tiba dari Medan.

“Ya begitu lah. Capekh, kesel, sama yang ngga seharusnya terjadi.”

Lalu kami berdua sedikit mengobrol, seputar perkembangan kesehatan Karin dan juga hal lain. Ya, sebagai calon Psikolog, aku mencoba untuk sedikit mempraktikkan apa yang aku pelajari selama kuliah. Dengan harapan, aku dapat memberikan dukungan sosial untuk Karin juga keluarganya, termasuk Yudha. Obrolan itu, kami tutup dengan doa.

Selesai kami berdoa, Karin sedikit terbangun. Kami melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 20.15, dan kami belum makan malam. Akhirnya kami pamit Karin untuk mencari makan malam.

“Rin, kita nyari makan dulu ya. Ntar balik lagi.”

Aku kira, makan malam hanya akan di daerah seputar rumah sakit, ternyata saat itu Yudha perlu ke apotek untuk mencari masker tertentu, yang tidak dijual di rumah sakit. Maklumlah, Bapak ini lagi flu saat itu. Akhirnya kami memutuskan juga untuk sekalian mencari makan malam, di luar area rumah sakit. Lagi pula bosan juga sepertinya makan makanan yang itu-itu saja.

Setelah urusan apotek beres, giliran memutuskan tempat makan. Tadinya, kami akan makan di Bubur Barito, tetapi mengingat tempatnya tepat di pinggir jalan, hanya tertutup tenda, dan sepertinya urusan higienis makanan itu perlu dipertanyakan. Apalagi mengingat kami harus kembali ke rumah sakit, dan kami pun perlu menjaga kesehatan kami, agar dapat menjaga Karin dengan baik, maka kami akhirnya memutuskan untuk makan malam di Izzi Pizza, yang letaknya persis di samping Gereja Santo Yohanes Penginjil, Blok B.

Harapan akan menemukan Izzi Pizza yang sepi, karena saat itu sudah pukul 21.00, yang berarti jam makan malam sudah lewat, pupus sudah, sesaat aku membuka pintu masuk ke restoran itu.

“Hayaaaahh, ada party ABG.”

Tak ada pelayan yang menyambut kedatangan kami. Sepertinya mereka sibuk mengurusi anak-anak kecil itu berpesta.

Akhirnya ada pelayan yang melihat kami berdua, saat kami sedang sedikit bingung memilih tempat duduk.

“Sial niy ABG, berisik banget.”

Setelah selesai memesan makanan, aku dan Yudha sibuk memerhatikan tingkah anak-anak kecil itu, dan mulailah kami mengeluarkan komentar-komentar seputar apa yang kami lihat.

“Hmmm, masa-masa indah idup.”

“Uember.”

“Paling mereka sekitar 15-16 tahunan kali ya.”

“Gak mikir idup.”

“Cuma sibuk mikirin gebetan, pacar, putus. Mau jalan kemana. Ulangan tinggal nyontek. PR tinggal ngerjain di sekolah.”

“Gak ada sakit.”

“Duit tinggal minta. Pergi tinggal minta anter jemput.”

“Gak mikir idup besok harus gimana.”

“Buset tuch rok pendek amat, nungging dikit pantat nongol tuch. Kagak dingin apa ya. Kalo gue pake rok sependek itu…”

“Dah di habeg ama bapak lu ye.”

“Yoi, dah kagak boleh keluar rumah gue. Kecuali perginya ama mereka. Baru tuch boleh pake rok mini segitu. Itu pun kena interogasi dulu.”

“Belum ngerasain susahnya idup ya mereka.”

“Yupe. By the way kok cewek semua ya?”

“Anak Tarki kali tuh.”

“Or Sanur.”

“Tapi kalo Tarki, khan baru SMAnya yang cewek semua. Ini kok masih kecil-kecil amat. Trus dandannya buset dah, tuir abis. Kesian amat jadi pada keliatan tua.”

Semua itu disempurnakan dengan musik yang sangat keras dari meja disc jockey.

“Duhhh…berisik amat.”

“Nih, musiknya jadi bikin orang ngomongnya harus treak-treak ya.”

“Yoi.”

Setelah makanan yang kami pesan tiba, kami sedikit mengalihkan perhatian dari anak-anak kecil itu. Dan memang, kami berdua harus berbicara dengan setengah berteriak.

Namun aku tak bisa memalingkan pandanganku dari anak-anak itu terlalu lama. Dan kembali mengomentari mereka.

“Pada ngga kepikiran pulang apa ya mereka. Jam berapa sih nih?”

“Masih jam segini 21.30, ‘Cha.”

“Gak, gue berharap aja, mereka cepet pulang, biar ga terlalu berisik.”

Namun apa yang aku harapkan itu tidak kunjung tiba, bahkan hingga kami selesai makan.

Dan setelah kami berhasil melepaskan diri dari hingar bingar itu, kami masih disuguhi satu hal lagi, yaitu antrian mobil para orang tua atau supir yang menjemput bocah-bocah kecil itu, tepat di depan restoran. Ada yang menunggu sambil menjalankan mobilnya secara perlahan karena malas parkir, ada pula yang berhenti sambil melepaskan pandangan sejauh mungkin, yang berarti mereka belum berhasil melihat anaknya, dan bahkan ada yang tak segan-segan membunyikan klakson mobil mereka.

“Hmmm, 4.5 tahun kuliah, ada hasilnya juga ya. Hahahahhahah..thanks Psychology!!”

Day 3 With Karin In Singapore…

Saturday, March 7th, 2009

“Haaaaayyyaaahh…shit udah setengah delapan.”

Kebiasaanku di Jakarta ternyata terbawa, yaitu mendengar alarm ponsel tepat pada jam yang aku rencanakan untuk bangun tidur, beranjak sebentar mencari benda dengan bunyi menjengkelkan itu, dan menekan pilihan “dismiss” lalu kembali tidur.

“Waduh-waduh, kesiangan gue, padahal gue janji ama Bu Siti mau gantiin dia jam tujuh.”

Tanpa pikir panjang, aku pun loncat dari tempat tidur, menuju dapur dan menyiapkan makan pagi untukku dan Bu Siti.

Setelah selesai masak, aku langsung menyantap sarapanku, karena aku tak terbiasa lagi meninggalkan rumah tanpa sarapan. Tepat setelah suapan terakhir, aku langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi dengan segera.

“Duh, brengsek, belum packing lagi gue. Kok koper jadi penuh gini ya? Kagak belanja banyak juga gue. Baju kotor nih pasti & anduk yang sedikit basah.”

Setelah koperku sendiri beres, aku ke tempat Mbak Shanti, pengurus rumah kost, untuk melakukan pembayaran. Setelah beres, aku ke rumah sakit dengan sedikit berlari. Sebelum ke kamar Karin, aku mampir ke kafetaria di lantai bawah, membelikan nasi untuk Bu Siti, karena tadi aku hanya menggado lauk yang aku masak sendiri.

Sesampainya aku di kamar Karin, ternyata Nyonya Besar sedang disuapi oleh Bu Siti, dan sudah mandi pagi.

“Halo Sayang, hehehhee maap ya gue ketiduran, terus tadi packingnya bolak-balik buka koper, ada aja yang masih ketinggalan di luar.”

Karin hanya melirik-lirik ke arahku, sambil mengunyah makanan yang masih ada di dalam mulutnya.

Aku baru saja meletakkan ranselku di atas kursi, hingga salah satu perawat rumah sakit datang…

“Your meal order for Saturday?”

“We are going to check out this afternoon.”

“Oh, okay.”

Tak berapa lama Karin malah yang bertanya padaku…

“Jadi kita check out hari ini?”

“Yupe. Seneng gak?”

“Terus elo pindah ke mana?”

“Gue pindah ke mana? Ya ikut pulanglah ama elo. Atau gue tinggal aja? Elo pulang ama Bu Siti aja apa? Tapi gue nanti minta duit belanja ama Yudha, gimana?”

“Enak aja.”

“Ah, pelit loe.”

Lalu Bu Siti menimpali…

“Apa abis ini kita shopping aja ya Bu? Ibu sama Mbak Ocha pergi shopping di depan.”

“Mau Rin, kita belanja-belanja aja. Masakh ke Singapore kita kagak belanja-belanja.”

“Gak, ah, gue mau pulang aja.”

“Ntar ya, kau masih ada kemo 1 lagi.”

Kemudian, aku minta Bu Siti untuk kembali ke kost, untuk makan pagi dan packing. Dan seperti biasa, aku menemani Karin, dan aku ditemani laptopku. Aku lihat si Karin sudah tidur saat itu…

Aku jadi teringat, kemarin, Kamis, 5 Maret 2009, saat aku sedang membuka-buka laptopku tiba-tiba Karin bertanya padaku…

“Lagi main apa siy loe?”

“Buka Facebook. Mau buka punya kau? Aku telepon Yudha dulu ya, tanya alamat emailmu and passwordnya.”
.
Namun sayangnya, saat itu teleponku ke Yudha, tak diangkat.

“Ya, Rin, Yudha mungkin lagi ngga bisa angkat telepon. Nanti ya. Kita nyanyi-nyanyi aja apa?”

Tak tahu mengapa, dari sekian banyak lagu yang ada di laptopku, aku memilih untuk memutar That’s What Friends Are For…

Aku tak sanggup bernyanyi, akhirnya…

“Tau ngga Rin, ini lagu apa? Siapa yang nyanyi?”

Tak seperti hari pertama, saatku menanyakan siapa yang menyanyikan lagu Are You Strong Enough To Be My Man, Karin langsung memberi jawaban. Mungkin Karin pun tak kuat untuk menjawab.

Sumpah aku harap lagu itu segera berakhir, tetapi rasanya lama sekali. Beberapa kali aku coba untuk ikut menyanyikan. Namun beberapa kali pula aku tersendat. Dan aku tak mau Karin tahu hal itu. Untungnya sebelum lagu itu berakhir aku sudah bisa mengontrol emosi lagi, bisa menyanyikan untuknya, dan tetap dengan senyum lebar untuk Karin.

Kembali ke hari ke tigaku bersama Karin…

Tak tahu berapa lama aku telah sibuk mengutak-atik laptopku, hingga saatku melihat ke arah Karin, ternyata Karin sudah kembali bangun.

“Cut, ngapain bengong. Cengok gituh?”

Dia tetap diam…

“Woi, nyaut napa Neng, ngapain bengong?”

“Ya kalo bangun pagi itu pasti cengok dulu.”

“Ah, elu ngga usah bangun pagi aja cengok mulukh.”

Hmmm…mungkin karena efek obat kemoterapi, ia jadi sedikit lebih banyak menerawang. Dan tak berapa lama kemudian, ia kembali tertidur.

Tanpa kusadari, Bu Siti sudah berada di depanku lagi, saat ku masih sibuk dengan berinternet ria.

“Loh, kok belum di kemo? Ini dah jam 12.”

“Belum, masih belum jam 12, bentar lagi aku tanya lah.”

Dan sekitar 15 menit kemudian aku berjalan ke nurse station, yang ada di bangsal kamar Karin.

“It’s already 12 o’clock. When the last chemo will begin?”

“1.30 my dear”

“1.30? No, we have to check out from here atleast 2 pm. Our flight is at 5pm.”

“It is written here at 1.30. Does the doctor know that you are going to leave?”

“Ya, i already consulted to the doctor yesterday and he told me that last chemo will be started at 12 or atleast 12.30.”

“You should call the clinic.”

“No, why don’t you do that? Call the doctor.”

Dan sepertinya perawat yang aku suruh menelepon ke klinik dokter yang merawat Karin, dimarahi oleh sang dokter.

“Okay-okay, I’ll run it now. I’m coming.”

“Good, thanks.”

Aku pun mulai sedikit cemas dan panik. Akhirnya aku memutuskan untuk ke klinik dokter tersebut, bukan untuk menanyakan masalah kemo, tetapi menanyakan injeksi yang harus dibawa ke Jakarta, untuk diberikan pada Karin. Dan lebih panik lagi, saat ke klinik, ternyata harga injeksi-injeksi tersebut lebih dari S$ 1000, dan aku tahu, di rekeningku hanya ada sekitar S$ 500, berarti aku harus menunggu sisa deposit dari rumah sakit. Tambah panik, karena Yudha tak bisa ditelepon. Tambah semakin panik dan bingung, saat aku kembali ke kamar, dan menanyakan pada perawat, apakah urusan pembayaran sudah bisa dilakukan sekarang. Since mereka sedang melakukan kemo terakhir, dan aku asumsikan mereka sudah bisa tahu fasilitas dan perlengkapan rumah sakit apa saja yang akan digunakan

Aku lihat jam di dinding di depan nurse station, sudah menunjukkan pukul 12.30, dan kemoterapi baru akan dimulai.

Cairan intra vena kemoterapi itu, sudah berjalan sempurna pukul 12.40.

“Damn, satu jam dari sekarang means 13.40, belum lagi bayar-bayaran, ambil suntikan, belom nunggu duit deposit keluar buat bayar klinik. Belum nyari taksi, balik ke kost ambil koper.”

Di tengah kepanikanku, dan mondar-mandirku di koridor di depan kamar Karin, aku lihat Dokter Pritam datang. Ia langsung mendatangiku, aku lupa ia berbicara apa, hanya bagian ini yang aku ingat…

“Last night, a nurse called me, and said that Karin got fever. Don’t forget to check her temperature, and if it happens often, take out that thing in her shoulder.”

(Thing di sini, hehehhehe..aku tak tahu apa namanya dalam bahasa kedokteran, namun benda ini adalah penghubung antara vena dan selang cairan intra vena. Benda ini dimasukkan ke dalam bahu kiri Karin, dan di bagian luar, dilengkapi dengan alat kecil seperti cabang-cabang untuk saluran selang infus, beserta tutupnya. Agar mudahnya, benda yang berada di luar itu, seperti keran pengatur aliran cairan intra vena. Tujuan dipasangnya benda ini adalah untuk memudahkan proses kemoterapi, sehingga setiap proses kemoterapi, tangan Karin akan terbebas dari tusukan-tusukan jarum infus, yang tentu lebih menyakitkan, karena berulang-ulang.)

Lalu setelah itu dokter juga menanyakan hal ini…

“Did my girl at the clinic already give you lab form for next week?”

“Not yet.”

“And the injection?”

“I already came to your clinic, but I guess I have to withdraw money from ATM first.”

“No, no need to pay now, if you have difficulties.”

“Can be done next week?”

“Ya. Off course.”

“Okay, appreciate it.”

“Don’t worry.”

Lalu ia menelepon ke kliniknya untuk meminta perawatnya menyiapkan surat pengantar ke laboratorium, untuk minggu depan.

Pikirku saat itu “Pheewwhh, berkurang satu kepanikan.”

Saat itu aku lihat ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul 13.40. Lalu dokter Pritam, mendatangi Karin, “menutup” semua proses kemoterapi yang ia jalani minggu ini, kembali memeriksa Karin.

Aku semakin panik, karena Karin baru selesai dibersihkan, selesai digantikan pakaian, pukul 14.15. Dan saat itu pula aku mendatangi nurse station, dan kembali mereka belum selesai mengurus tagihan Karin. Salah satu perawat di sana mengatakan…

“You go to cashier lah. Wait there.”

Aku pun langsung ke kamar Karin…

“Bu Siti, ketemu di lobi ya, siapin Karin.”

Aku mengangkat ranselku, keluar kamar dan sedikit berlari ke bawah untuk mengantri di kasir. Tiba giliranku untuk dipanggil.

“607.”

“Room number 5539, Karin Taramiranti Nasution.”

“Tunggu sebentar.”

Pikirku saat itu “Wah si India ini bisa Melayu, lumayan.”

“We still process it. You come back here in 15 or 20 minutes.”

“We have to catch the plane, should be at Changi at 3.30.”

“Okay, I’ll do my best. Please be seated, and wait, we’ll call you.”

“I’ll go to the clinic first.”

Aku pun berlari ke lantai 12, ke tempat klinik Dokter Pritam. Ternyata injeksi dan surat pengantar laboratorium sudah mereka siapkan. Dan aku mengatakan pada perawat di sana…

“Doctor Pritam agreed that the payment will be done next week.”

“No, no, no problem. By the way, are u a nurse?”

“Me? No. Karin has her own nurse. She can do the injection.”

“Ok, and you are?”

“I’m her friend, sister also.”

Cut, GR dikit ngga papa khan? Huahahahah…

Kembali aku ke kasir setelah urusan di klinik beres.

Sampai sana aku melihat Bu Siti dan Karin dengan “kendaraan” canggihnya itu yaitu kursi roda, sudah berada di lobi rumah sakit, yang letaknya tak jauh dari kasir.

“Mbak Ocha, kemana siy, jadinya khan yang tanda tangan di kamar khan aku.”

“Aku urus pembayaran lah Bu, aku khan dah bilang tadi. Tadi susternya juga yang nyuruh ke bawah dulu.”

Aku lihat dari luar ruang kasir, si India yang tadi membantu menyiapkan tagihan kamar Karin belum terlihat. Lalu aku mencoba bertanya dengan resepsionis di depannya.

“How long does it take from here to Changi?”

“What time is your flight?”

“5 pm. Means i should be there at 3.30 atleast, and now already 2.45.”

“You should be hurry. You can get stuck in jammed around 3.”

“I know.”

Akhirnya si India itu sudah muncul, dan masih belum membawa selembar kertas pun, sampai aku sedikit menyela orang lain. Ia melihatku, dan kembali masuk ke ruangan di belakang tembok ruang kasir itu.

“The full bill, hasn’t been finished.”

“What does it mean?”

“You can only know the total, but not yet the details.”

Dan ia memberikan kwitansi yang hanya selembar, tanpa perincian obat-obatan dan fasilitas apa saja yang digunakan untuk Karin. Begitu aku lihat kwitansi itu, ternyata deposit yang diberikan Yudha, lebih dari total biaya rumah sakit.

“And the refund?”

“We will send out a check undername the patient, to her address.”

“So we will receive check?”

“Ya, don’t worry, there’s no expired date for the check.”

“Okay.”

Namun aku mencium ada ketidakberesan tentang refund ini. Dan aku mencoba kembali menelepon Yudha. Sedikit kesal dengan Sing Tel saat itu, yang terus-menerus gagal melakukan panggilan.

Akhirnya aku memutuskan segera mencari taksi, ke kost mengambil koper, dan langsung ke Bandara.

Di tengah perjalanan menuju Bandara, Yudha menelepon.

“Gimana aman?”

“Aman, dah jalan ke Changi. Tapi ‘Dha, biasanya refundnya pake check?”

“Hah, ngga, mereka harus ngasih duit.”

“Brengsek juga tuch kasir. Dia bilang refundnya pake check bakal kirim ke alamat loe. Tadi gue telepon elu kagak nyambung-nyambung. Sing Tel lagi bego tadi.”

“Ya udah gue telp Mount Elizabeth lah.”

“Sorry ya Dha, bisa diurus khan, gue tadi hampir telat, ini aja macet.”

“Ngga papa.”

Sedikit cemas aku akan hal ini, karena jumlah refund cukup besar. Dan hal ini mungkin tertangkap oleh Karin.

“Elo tadi beli apa sih? Kok heboh.”

“Gak, kemaren khan pas elo masuk, gue narokh deposit minimum ke rumah sakit, tapi biaya berobat loe jauh di bawah itu. Nah mereka bilang refund pake check. Gue tau ada yang ngga beres tuch. Tapi tadi gue telepon Yudha, lagi ngga bisa nyambung, akhirnya aku putusin cabut dari rumah sakit, ntar kalo ngga kita ngga bisa pulang, ketinggalan pesawat.

Akhirnya kami sampai di Bandar Udara Internasional Changi pukul 15.35. Lucunya sebelum turun, Karin bertanya padaku…

“Ada duit buat bayar taksi?”

“Ada, Sayang.”

Urusan lapor masuk pesawat sedikit lebih lama, karena aku membawa Karin yang sedang sakit. Dan semua urusan lapor masuk pesawat selesai pukul 15.51, tepat 9 menit sebelum masuk ke pesawat, yaitu pukul 16.00. Belum lagi pintu masuk ke pesawat kami adalah D38, terletak di ujung terminal 1. Tambah sempurna, saat aku lihat di pintu masuk tadi, ada petunjuk arah pintu masuk pesawat D30-D49 ke arah kanan, estimasi dari petunjuk arah tadi ke pintu paling jauh adalah 8 menit. Ditambah, karena Karin di kursi roda, maka kami akan didahulukan masuk ke dalam pesawat. Perfecto!!!

Akhirnya aku bisa tenang saat kami bertiga sudah duduk manis di dalam pesawat.

“Kita pulang ya Rin? By the way pulang kemana sih?”

“Ke Jakarta.”

“Tau aja loh.”

Sepanjang perjalanan Karin lebih sering tidur. Begitu sampai di Jakarta, aku sudah lega, senang, terharu, ingin meledakkan tangisku juga, karena terus terang aku juga sedih melihat Karin dengan kondisi seperti itu sekarang. Namun sangat-sangat tidak mungkin aku menampilkan kesedihanku apalagi menangis di depannya. Ada bagusnya juga, aku sudah terlatih untuk urusan-urusan seperti itu. Play tough girl hehehehehe…

Begitu di depan pintu keluar, aku sudah melihat Yudha dan Cyrill.

“Dha, gue langsung pulang ya. Naik taksi aja. Lebih deket dari sini ke rumah gue.”

“Ke rumah gue dulu lah.”

“Ntar gue pulang gimana?”

“Di anter Odang.”

“Ya udah.”

Akhirnya aku ikut mengantarkan Karin sampai ke Rawamangun.

Sesampainya di rumah, Karin langsung di dudukkan di kursi ruang tamu oleh Bu Siti. Mbak Nur, pembantunya Karin yang juga aku kenal, sudah menyiapkan teh hangat untuk aku. Setelah selesai menyeruput teh hangat itu, aku melihat Bu Siti masih sibuk menyiapkan makan malam untuk Karin, dan saat itu aku lihat Karin masih memakai sepatunya. Aku beranjak ke arahnya, dan duduk di lantai, sambil membukakan sneakers yang ia pakai.

Setelah aku selesai melepaskan sepatunya, Karin membuatku terharu…

“Thank you ya, Cha.”

“Welcome. Capekh ngga?”

“Ya, capekh lah gila.”

“Elo khan manusia perkasa. Capekh juga loe.”

“Capekh lah.”

“Oooooo.”

Yudha dan Mamanya menawariku makan malam, dan Bu Siti pun sudah siap untuk menyuapi Karin.

Aku, duduk di dekat Yudha dan Cyrill, saat makan. Setelah aku selesai makan, aku menghampiri Karin, dan mencium pipinya.

“Ih, kok bau apek. Yang apek elo apa gue ya?”

“Elo lah.”

“Bukan elo Rin?”

“Bukan.”

Lalu aku berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Dan kembali ke tempat Karin. Kembali mengobrol dengannya. Kali ini aku genggam tangannya, sambil aku cium. Dan aku tambah terharu saat Karin membalas mencium tanganku. Sumpah, kalo aku bisa teriak menangis saat itu juga, akan aku lakukan, benar-benar kali ini hampir tak tertahankan. Namun tetap aku jaga emosi ini. Damn, it’s hard..very hard…

Aku terus menggenggam tangannya, dan meneruskan obrolanku…

“Rin, 3 hari ini gue seneng banget. Kayak waktu gue nginep di Cibubur itu. Inget khan loe? Kita karaokean, main kartu di Rumah Mas Wawan sampe pagi. Dan setelah itu elo bilang Cibubur is a fantasy land for me, and Your PINTU is always open for me. Terus liat tuch anak loe, Cyrill. Inget ngga waktu gue make tempat tidurnya terus dia ngambeg? Elu usaha banget biar dia ga rewel lagi, dengan bacain dia buku cerita.”

“Cerita apa.”

“Gue lupa. Elo mau donks bisa main sama dia lagi, langkah elu untuk ke sana tinggal deket lagi kok. And you know what gue lakuin ini semua karena gue cinta ama elo, love you, gue sayang elo. 3 hari gue ngga capekh sama sekali. So next time gue dateng ke sini lagi, senyumnya elo jangan ilang ya, i only need that. Terus next month Rully nikah, kau dateng khan?”

“Jadi dia nikah.”

“Jadi lah.”

“Sama siapa.”

“Jangan sok ngga tau.”, yang kemudian aku susul dengan menyebutkan nama calon istri Rully.

“Tanggal berapa?”

“Akhir bulan.”

“Iya, waktu itu pembokat gue di rumah juga bilang, ada temen gue mau nikah.”

“He? Pembokat loe tau dari mana? Emang Rully pernah ke rumah loe ya?”

“Orang rumah gue cepet akrab sama orang.”

“Ooooo, kayak elo khan.”

Lalu Karin meraih gelas yang aku pegang.

“Eh, jangan GR, gue gak ngambilin minum buat elo. Gelas lo yang di meja tuch. Ambil, pegang ndiri, jangan males gerakin badan loe.”

Kemudian aku mencium pipi kiri Karin, tangannya masih aku genggam, dan aku tatap matanya…

“Hmmm bau lu.”

“Ya iya lah, belom mandi dari kemaren.”

“Sok tau…sok pikun khan loe, jelas-jelas tadi pagi elo dimandiin di rumah sakit.”

Karin terus menatapku, dan aku tetap menatapnya, dan menggenggam tangannya. Dan terkadang aku memeletkan lidah ke arahnya.

“Eh iya, Mas Wawan belum bisa nengok kamu ya. Dia sedang menggila dengan urusan kantornya. Sabar ya. Nanti pasti dia nyempetin nengok kau. Terus abis ini khan gue pulang, elo pasti bakal kangen ama gue. Jangan boong.”

“Pulangnya abis gue selesai ngunyah.”

“Iya, gue tungguin elo selese makan.”

Aku lihat makanannya juga sudah habis. Kebetulan aku membawa Air Suci Lourdes, aku tuangkan sedikit di tutup botol Air Suci itu, aku tuangkan ke tanganku, dan aku oleskan ke wajahnya.

“Ini biar elo ngga semakin gila ya, Rin. Biar normal dikit. Terus sisanya diminum nih.”

Ia pun langsung menghabiskan hampir satu botol kecil air itu.

“Oh gak ding, nanti kalo gue pulang mudah-mudahan elo yang semakin gila. Gue yang semakin normal. Gue khan paling normal ya Rin, di antara temen-temen loe and elo?”

Tau tidak teman-teman, apa yang Karin lakukan? Knock on wood…seketika aku ngakak, dan Karin melihatku dengan tampang pasrah tanpa ekspresi dan menghela napas 10 ton, lalu ia berbicara padaku…

“He? Tunggu, gimana?”

“Gue yang normal, elo yang gila.”

“Gue dari dulu normal.”

“Menurut elo iye normal. Rin, mungkin sekarang elo agak kesel kali, elo biasanya kemana-mana sendiri, apa-apa mandiri banget, dan sekarang apa-apa harus tergantung sama orang lain. Tergantung sama orang bukan hal buruk juga loh. Sekali-kali kamu emang harus istirahat, dan sekali-kali lah kita bikin repot orang lain, jangan kita muluh yang direpotin, hehehhehe. Kamu lagi diminta istirahat sebentar, leyeh-leyeh ama Tuhan, jadi Ratu Sejagad, apa-apa diurusin, karena untuk jadi kuat lagi setelah sakitmu kemarin emang kayak gini. Prosesnya gini sayang, kayak bayi aja, saat persiapannya udah ready untuk jalan, berdiri, dan lari, ia akan bisa. Sekarang tinggal semangat loe ajah kalo gituh. Okay.”

“Okay. Gue mau ke toilet.”

Oh, elo mau ke toilet, bentar gue panggilin Bu Siti. Sekalian gue pamit lah.

“Bener ya, nanti gue ke sini lagi, senyum loe, ketawa loe, semangat loe dah harus lebih gede dari sekarang. Jangan keok.”

“Okay.”

“Sini cium pipi dulu.”

Sebelum aku berpindah mencium pipi kanannya, setelah yang kiri aku cium, dia menghentikan gerakku dengan tangannya, dan mencium pipiku. Senangnya…

Dan aku ulangi mencium pipinya, lalu…

“Cium gue lagi dounks.”

Karin mencium pipiku kembali.

“Terus senyumnya untuk gue mana?”

Dan ia pun tersenyum lebar untukku…

And that’s all my journey, 3 days with Karin…

Doanya jangan lupa ya teman-teman, nanti aku sampaikan salam-salam dari kalian, saat aku bertemu dengannya lagi.

Terima kasih juga atas komentar-komentar yang kalian tulis di note-ku, jadi terharu..hehhehe

Love you all…

-Karin & Ocha-

Day 2 With Karin In Singapore…

Thursday, March 5th, 2009

Alarm dari ponsel yang aku nyalakan sekitar pukul 06.00 pagi, sudah sibuk membangunkanku dengan bunyinya yang laknat itu. Namun tak apalah, pagi ini aku tak menggerutu dan jengkel saat alarm itu berbunyi membangunkanku tiada henti, dan tak kenal lelah. Perbedaan waktu 1 jam, baru terasa saat pagi hari. Ya, ya manusia ini, Ocha adalah manusia paling malas bangun pagi.

Begitu aku buka mata, aku lihat Bu Siti baru saja memasuki kamar. Ternyata ia baru selesai mandi. Dan si nona cantik, Karin, masih terlelap dengan nyenyak.

“Bu Siti, aku masak sarapan dulu ya buat bertiga.”

“Gak kepagian?”

“Gak lah. Biar ngga buru-buru.”

“Ya udah.”

Berangkatlah aku menuju dapur. Menu sarapan yang cukup mudah, tapi tetap tidak mengabaikan asupan gizi untuk Karin, sudah aku pikirkan saat aku berbelanja kemarin malam. Scrambled egg dengan campuran jamur, wortel dan kol. Ya setidaknya lebih banyak sayurnya. Di tengah-tengah aku masak, aku mendengar suara Bu Siti yang sedang memandu Karin berjalan. Aku yakin Bu Siti sedang memandunya untuk menuju kamar mandi, untuk dimandikan.

Pukul 07.00 sarapan sudah siap, dan Karin juga sudah selesai mandi. Tinggal disuapi. Kami bertiga akhirnya menikmati sarapan. Dan karena hanya aku yang belum mandi, 07.30, aku pun pergi mandi, sehingga pukul 08.00 nanti aku dan Bu Siti bisa mengantar Karin untuk tes darah lagi ke laboratorium. Harap-harap cemas dengan hasil pemeriksaan darah kali ini. Kemarin dokter mengatakan jika sel darah putih Karin masih terlalu rendah, kemoterapi akan diundur hari Jumat, yang berarti kami harus menambah 1 hari lagi di Singapura.

Sebelum pergi berangkat, aku mencubit gemas pipinya, seperti sedang menyubit anak bayi, tentu tanpa tenaga. Dan langsung aku memutarbalikkan badan mencari sesuatu di meja. Lalu Bu Siti tiba-tiba teriak, “Hei, kenapa, Bu? Mau apa.”

Sontak aku pun melihat ke belakang.

“Mau apa, Sayang?”

“Sakit, Monyong.”

“Hahhahahah.”

Selesai pemeriksaan laboratorium, kami bertiga kembali ke rumah kost. Pikirku, agar Karin dapat istirahat sembari menunggu hasil pemeriksaan darahnya tadi. Aku melihat ke arah jam di kamar kost, yang sudah menunjukkan pukul 10.00 dan belum ada telepon dari rumah sakit, tentang hasil pemeriksaan darah tadi. Baru saja aku selesai membatin, tiba-tiba ponsel yang ada di tanganku, berbunyi.

“Hah, it’s the girl from Doctor Pritam’s clinic.”

“Yes.”

“Rosa, you already bring Karin to blood test ha?”

“Yupe, already, at 8 a.m. You’ve got the result?”

“No, no, oh wait, already.”

“Is it still low?”

“Ya, but I’d like to ask Doctor Pritam first. So I’ll call you back.”

“Okay.”

Lebih cemas daripada tadi, aku menunggu keputusan dokter. Namun tak berapa lama…

“Rosa, ya, ya, you can go to admission now. The chemo can be proceeded today.”

“Should I go to your clinic after the admission?”

“No, no need, just bring her to the ward.”

“Okay.”

Phewwwhhh Puji Tuhan, kemoterapinya bisa dijalankan hari ini. Melihat di kamar kost, Karin masih tidur dengan nyenyak, aku tak tega membangunkannya. Jadi aku putuskan untuk mengurus administrasi rumah sakit terlebih dahulu, lalu kembali ke kost, baru membawanya untuk opname hari ini.

Akhirnya urusan administrasi selesai, dan Karin sudah berada di kamar pukul 11.40. Aku dan Bu Siti sudah merasa lapar. Namun aku menunggu hingga urusan paper work di kamar beres. Dan pukul 13.30, aku memutuskan untuk ke bawah mencari makan siang. Tentu Karin ditunggui oleh Bu Siti.

Aroma kopi dari Coffee Bean sudah mengundangku sejak kemarin aku tiba, namun aku terus menahannya, hanya karena aku ingin sedikit mengurangi kafein. Ternyata aroma kafein itu tak berhasil menahanku, untuk tak menyentuhnya dalam jangka waktu yang lama. Begitu aku keluar dari elevator, aku langsung berlari menuju Coffee Bean dan memesan secangkir Belgium Chocolate dan Chicago Cheesecake, sebelum aku menuju ke kafetaria di lantai bawah.

Setelah selesai dengan belanjaan makanan. Aku kembali ke kost, untuk menyantap makan siangku dan mengambil ranselku, yang berisi laptop tercinta, dan segera kembali ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang merawat Karin, ternyata baru akan memulai kemoterapi, setelah Karin diberikan cairan intra vena untuk anti muntah selama 1 jam. Dokter menanyakan jam berapa kami harus tiba di Bandara Changi, esok hari, sehingga jadual kemoterapi bisa disesuaikan dengan jadwal penerbangan, tanpa mengganggu proses pengobatannya Karin. Lalu ia memberi instruksi tentang obat-obatan apa saja yang harus ia minum setelah ia tiba di Jakarta nanti.

Setelah dokter selesai dengan seluruh proses awal dari kemoterapi yang harus dijalani oleh Karin, Bu Siti aku minta untuk kembali ke kost, agar ia bisa makan siang. Aku pun duduk manis di sebelah Karin, dengan ditemani laptopku ini.

Ia berkali-kali terbangun dari tidurnya. Sampai ia benar-benar bangun dan membuka matanya lebar-lebar.

“Hai, ngapain bangun?”

“Mau ke toilet.”

“Ngga boleh Sayang, khan lagi kemo. Gak papa ya.”

Lalu ia pun terdiam.

“Hei, gue baru aja buka facebook. Kau dapet salam dari Eline. Masih inget Eline ngga?”

“Masih. Rosaleini Verieta khan?”

“Hahahah, hebat, hebat, kau hebat ingat nama lengkapnya Eline.”

“Terus kalo gue?”

“Anastasia Rosarini.”

“Ma kasih juga masih inget nama lengkap gue. Terus Rin, tadi your mama telepon.”

“Bilang apa?”

“Siapa?”

“Nyokab.”

“Oh, dia nanyain kita besok jadi pulang atau ngga, bakal telat ngga sampai airport, terus terakhir dia bilang kangen sama kau.”

Ia kemudian tertidur kembali. Hingga aku lihat jam, yang sudah menunjukkan pukul 17.00, dan ia sudah terbangun. Tiba-tiba ia bertanya padaku.

“Cyrill demam ngga?”

“Oh, iya agak demam.”

“Berapa Cyrill?”

“Hah? Cyril atau kamu?”

“Cyrill.”

“Oh, aku tadi dengernya kok kamu ya. Cyrill baik-baik aja sayang. Diurus Linda.”

“Soalnya tuch anak ngga tidur sama sekali.”

“Belum tidur?”

“Iya.”

“Tahu dari mana? Tadi elo mimpi?”

“Feeling aja.”

“Oh ya udah, nanti gue tanyain Yudha ya, Bang Cyrill baik-baik aja atau ngga. But I know him Rin, Mamanya aja kuat, anaknya juga pasti kuat-lah. Kau yang ngajarin khan?”

Bu Siti sudah kembali ke rumah sakit, saat aku harus kembali mencari makan malam untuk aku dan Bu Siti, sekitar pukul 19.00. Dan setelah aku selesai memeriksa akun-akun surat elektronikku, aku memutuskan untuk mencari makanan yang ada di pusat perbelanjaan di sepanjang Orchard Road.

“Rin, aku belanja makanan dulu ya. Kamu ditungguin Bu Siti. Don’t step down from bed ya Hon, promise me.”

“Okay. Dagg, ati-ati ya. Jangan lama-lama.”

“Yupe. Nanti aku balik lagi.”

Kali ini aku ke Food Court yang ada di Takashimaya. Lumayan juga ada kedai masakan Indonesia, dan kelihatannya enak, daripada aku pusing mencari menu lainnya, akhirnya aku memutuskan untuk membeli makanan di kedai itu. Kembali ke kost sebentar, berganti baju, lalu aku segera kembali ke rumah sakit.

Karin ternyata sudah tidur. Aku dan Bu Siti akhirnya menikmati makan malam kami. Tak berapa lama, Bu Siti aku minta untuk istirahat sebentar ke kost. Saat itu jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.30. Dan tak lama dari Bu Siti meninggalkan aku dan Karin untuk pulang ke kost, Karin terbangun.

“Hei, gue dah nyampe lagi khan. By the way, tadi Mamamu nitip peluk cium untuk kamu.”

“Iya, aku belum sempet ngobrol banyak lagi ama nyokab dari ke Medan terakhir. Gara-gara sakit.”

“Oh, rencananya kamu itu waktu sebelum sakit itu mau ke Medan? Terus ngga jadi gara-gara sakit?”

“Iya.”

“Emang Karin mau ngobrolin apa siy sama nyokab?”

Aku menunggu responnya…

“Mau ngobrol apa sayang ama nyokab? Mau cerita banyak apa? Cerita-ceritalah ke aku, biar berguna dikit gue jadi teman loe.”

Aku kembali menunggu, dan kembali tak ada respon.

“Kalo mau cerita bilang-bilang ya. Kalo belom mau cerita, ga papa juga.”

Maaf ya Tante Titung, hehehe sampai sekarang, Karin belum mau cerita.

Karin terus menatapku. Daripada aku mulai lepas kendali menitikkan air mata melihatnya, akhirnya…

“Eh Rin, sumpah ya, kalo bukan manusia seperti elo nih, yang sakit kayak gini, beneran deh, dah keok dari dulu-dulu. Dah lewat. Ini cuma gara-gara elo, bisa sampe ke step sekarang. Tinggal dikit lagi Rin. Kau udah banyak ditunggu temen-temenmu di Jakarta, and di Medan. Now you have to prove it, doa mereka ngga sia-sia untuk elo, Karin yang mereka kenal ngga berubah. Mereka n gue ngga minta apa-apa kecuali senyum loe, ketawa loe lagi. Nyanyi-nyanyi lagi. Doa mereka pasti terus kok untuk nyempurnain usaha loe. Anak psikologi harus bisa lah atur2 otak and gimana ngatur semangat diri sendiri. Percuma kita sekolah payah-payah kalo keok juga. Ya gak?”

“Okay.”

“Let me tell you something, gue dulu juga sempet nungguin bayi ampe remaja, yang kena penyakit sama kayak elo, di rumah sakit. You know what, semangat mereka gede loh. Padalah mereka umurnya jauh lebih kecil dari elo. So elo jangan mau kalah ya. Kemo, bolak balik sini Jakarta, hal kecil lah buat elo Rin, knowing you, you’re quality. Hayooo berapa manusia yang di Danamon yang udah elo train? Termasuk gue. Training-an loe ke gue yang super duper “laknat” selama 7 taon gue kenal elo? Damn, it’s beyond compare my dear. You’re such a good trainer, ya even ada trainer “laknat” di jalur yang berbeda lainnya yang gue kenal juga sih, selain elo. Sekarang tinggal elo train diri elo sendiri ya. Biar semangat loe ngga mandeg. Do it for Cyrill terutama. By the way, rasanya apa siy di kemo? Sakit tak? Cerita-cerita dounks, biar aku tau yang kamu rasain.”

“Biasa aja.”

“Gak ada rasanya? Gak sakit?”

“Gak.”

“Kalo rasa apa-apa, ngomong aja loe. Gue siap jadi tong sampah nampung cerita loe Cut. Eh kita doa dulu yuk.”

Akhirnya kami berdua berdoa. Dan setelah kami selesai,…

“Kok, kriyep-kriyep Non? Ngantuk ya?”

“Ngantuk.”

“Dah ya bobokh.”

Saat ia sudah tertidur, aku kembali duduk manis di kursi sebelahnya, dan kembali membuka laptop. Dan tak lama Bu Siti datang, dan kami sedikit berbincang-bincang. Begitu aku melihat ke arah Karin, ternyata ia sudah kembali terbangun…

“Eh Cut, tadi gue lupa bilang sama elo. Tadi gue dah telepon Yudha, tanyain Bang Cyrill sehat-sehat atau ngga. Dia bilang sehat kok. Ngga demam, pinter makannya, kayak elo khan, sakit-sakit tapi makannya tetep canggih.”

“Okay.”

Lalu aku kembali berbincang dengan Bu Siti.

“Bu, besok sepertinya aku harus ke ATM dulu, takut depositnya untuk Karin kurang.”

“Di klinik, bisa gesek kartu kok. Biasanya Bapak gitu.”

“Ya biar ngga ribet tagihannya aja. Atau aku minta Yudha sekalian bayarin tagihan gue aja ya.”

Aku dan Bu Siti sama-sama tertawa. Lalu Karin menyaut.

“Mentertawakan apa?”

“Gak, tadi gue bilang, besok gue harus ke ATM dulu, takut deposit rumah sakitmu kurang. Terus si ibu bilang, bisa gesek kartu. Aku bilang lagi, ya biar ga ribet tagihannya, terus aku juga bilang, apa biar Yudha sekalian bayar tagihan kartu gue yang lain ya. Terus kita berdua tertawa.”

Dan guess what Karin bilang apa teman-teman?

“Kok enak di elo, ngga enak di gue.”

Aku dan Karin sama-sama tertawa…

“Gak gitu ya Rin? Payah deh lo.”

Senang rasanya Karin masih bisa menimpali dengan gaya cela-celaan kami seperti biasanya.

Lalu aku sedikit menyanyikan lagu untuk Karin. Lagu favorit kami berdua, yang sering kami nyanyikan saat karaoke. Dan tak terasa sudah pukul 00.30, aku putuskan untuk kembali ke kost.

“Rin, aku tidur di kost ya. Kau baik-baik aja ama Bu Siti. Don’t step down from bed okay.”

“Okay.”

“Kalo mau minta apa-apa bilang Bu Siti.”

“Okay, ati-ati ya. Daggg.”

Aku mencium pipinya dan membalas lambaian tangannya, sambil berjalan meninggalkan kamarnya.

Day 1 With My Karin In Singapore…

Thursday, March 5th, 2009

Akhirnya hari ini, 4 Maret 2009, aku berangkat juga menemani Karin ke Singapura. Rencana ini sempat tertunda beberapa kali, karena aku juga harus menyelesaikan sidang skripsiku yang sudah beres 26 Februari 2009 lalu.

06.30 pagi aku bertemu Karin dan Yudha, juga Bu Siti (perawat Karin) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sumpah aku kangen sekali dengan kakakku yang satu ini. Terakhir kami bertemu Desember lalu, di antara sadar dan tidak sadarnya Karin, saat awal-awal pertarungannya melawan penyakitnya ini.

Dari jauh aku sudah tahu ia sedang memperhatikan aku, yang sedikit berlari menghampirinya. Tanpa basa-basi, aku pun langsung mencium kedua pipinya, sambil berkata padanya “Apa kabar, Sayang? Kangen deh.”

Karin tak berhenti menatapku, saat aku sedang berbicara dengan Yudha. Lalu tak lama kemudian di sela-sela perbincanganku dengan Yudha, Bu Siti berkata pada Karin…

“Siapa itu Bu? Siapa yang baru datang?”

Karin menatapku. Lama sebelum ia memberikan respon atas pertanyaan si ibu tadi. Dan tak lama aku pun mendengar balasan darinya…

“Orang gila.”

“Hah, dia ternyata masih mengenalku dengan baik.”, pikirku saat itu.

Itulah panggilan sayangnya kepadaku selain “Anak monyet” yang ia ucapkan saat ia tahu aku di sampingnya, saat ia tersadar dari ketidaksadarannya, Desember lalu, di MMC, Jakarta.

Urusan periksa masuk pesawat pun akhirnya beres. Kami bertiga, aku, Karin dan Bu Siti, siap terbang ke Singapura.

“Jalan-jalan kita ya, Rin. Nanti abis selesai, kita ke Takashimaya aja ya?”

Sampai di Singapura tepat waktu, 10.20 waktu Singapura, pesawat kami sudah mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Changi.

Dari sana, kami langsung menuju rumah kost kami yang letaknya tepat di depan pintu masuk bagian belakang rumah sakit Mount Elizabeth. Kami bebenah sebentar sebelum aku mengantar Karin ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan darah.

Pemeriksaan darah di rumah sakit tak memakan waktu lama. Aku kemudian membawanya kembali ke kost, agar ia bisa istirahat. Sekitar pukul 14.00, aku kembali mendatangi rumah sakit, ke klinik tempat dokter yang biasa merawat Karin, untuk menanyakan hasil pemeriksaan darah. Dan perawat di sana mengatakan:

“No, no, i haven’t got the result yet. Can u come back here in one hour, hour and half. You have local number? Just leave it to us.”

“Ya, i have, but unfortunately i don’t know the number, can i call to your phone or…”

Lalu aku pun meninggalkan nomor telepon lokal milik Yudha, yang aku bawa.

Kebetulan rumah sakit ini tak jauh dari pusat perbelanjaan. Jadi, aku memutuskan untuk berjalan-jalan seputar Orchard Road. Namun tak lama kemudian aku menerima telepon, yang aku tahu bahwa itu telepon dari rumah sakit.

“Hai, Rosa, this is from Doctor Pritam’s Clinic. I’ve got the result, and Doctor thinks she needs an injection. Can you bring Karin to the clinic.”

“Okay. But Karin is still sleeping at boarding house. Takes 15-30 minutes to get there.”

“No, no, no problem.”

Aku pun kemudian berjalan menuju ke rumah kost. Sesampainya di sana, aku melihat Karin masih tidur, ditemani oleh Bu Siti. Lalu aku sampaikan pada Bu Siti, bahwa Karin perlu diberikan injeksi.

“Suntikan yang biasanya bukan?”

“Susternya ngga bilang.”

“Coba tanyain deh, kalo yang biasanya, ambil suntikannya aja ke sini, aku bisa ngelakuinnya.”

“Oh, okay.”

Tak berapa lama, aku pun menelepon ke klinik, dan ternyata benar bahwa suntikan yang harus diberikan pada Karin adalah suntikan untuk menaikkan jumlah sel darah putih, yang biasa diberikan padanya. Akhirnya, aku pun kembali ke rumah sakit untuk mengambil suntikan itu, dan setelah itu langsung kembali ke rumah kost, agar Karin bisa langsung diberikan injeksi.

Setelah itu, aku memutuskan untuk istirahat. Tidur di sebelah Karin. Waktu 2 jam, aku rasa cukup untuk tidur siangku hari ini. Pukul 17.00 aku sudah bangun, tetapi aku melihat Karin dan Bu Siti masih tidur.

“It’s time for me to prepare the dinner for the three of us.”

Tanpa pamit, aku pun langsung menuju ke Paragon, mencari makanan langsung jadi. Namun di tengah aku berjalan, aku memutuskan untuk masak khusus untuk Karin, lebih sehat dan terjamin sepertinya. Menu hari ini adalah Ayam Brokoli Jamur Champignon.

Selesai berbelanja, aku kembali ke rumah kost. Aku tak menemui Karin dan Bu Siti di kamar. Ternyata Bu Siti sedang memandikan Karin. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 18.00, dan aku pun memutuskan untuk mulai memasak. Sayuran yang aku masak sudah siap, tetapi belum dengan nasi yang masih di tanak di rice cooker.

Sambil menunggu nasi matang, juga sambil menunggu Bu Siti selesai mandi, aku tiduran di samping Karin sambil memeluknya dan mengobrol. Obrolan kami ini sangat seru,…

“Eh Rin, gue ‘dah lulus kuliah lo. Terus sidang dan skripsi gue dapet A.”

“Slamet ye.”

“Ma kasih. Ya, you know lah Rin, you’ve been my inspiration for years. Being sarjana psikologi kayak elo lah yang gue pengen.”

Ia pun menatapku. Dan aku sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata sedikit pun. “Damn, it’s hard.”

“Terus elu inget ngga Rin, waktu itu kita terakhir karaoke di mana?”

Dia pun mencoba keras untuk mengingatnya, hingga akhirnya…

“Gue lupa.”

“Masakh elu ngga inget? Di Cibubur, di Happy Puppy. Waktu itu gue nginep di rumah loe. Abis kita makan siang bareng di Suharti. Inget ngga loe sama sapa aja waktu itu kita karaokean?”

“Siapa ya. Paling Cyrill.”

“Hah, inget juga lo. Terus elo inget waktu dia nyanyi, balonku ada lima rupa-rupa warnanya, sambil megang mike, terus mike yang gue pegang dia rebut juga?”

Tebak teman-teman, Karin tertawa sangggaaaattt lebarrrrr….

“Inget khan loe? Selain Bang Cyrill, siapa lagi Cut?”

“Paling Irene?”

“Irene khan di Malaysia, Sayang. Hayo siapa lagi? Cowok kok.”

Ia kembali mencoba mengingat dengan keras…

“Paling Mas Wawan ya?”

“Ah, akhirnya kau ingat. Kita karaokean bareng lagi ya abis ini.”

“Ayuk.”

“Eh terus elu tahu ngga Rin, bulan depan Rully nikah loe.”

“Jadi dia nikah?”

“Jadi sepertinya.”

“Sama sapa nikahnya?”

“Ah, sok ngga tau kau.”

Dia pun menampilkan raut wajah, sedikit mengece, seperti biasa. I knew it, known her for long time.

“Sama siapa Rin, Rully nikahnya?”

Tak lama kemudian, Karin pun memberikan respon padaku.

“Yang jelas bukan elo khan?”

Dan ia sambil tertaaaaaawwwwaaaaaaa….

“Damn, elo ngece gue ya. Sialan. Byengsyek.”

Kami berdua pun tertawa.

“Bukan sama elo juga khan, Rin?

“Ya bukan lah.”

Lalu…

“Btw, waktu itu Shanty pernah nengok kau ngga ke sini?”

Ia kembali mencoba mengingatnya…

“Pernah sepertinya.”

“Sepertinya atau yakin?”

“Pernah sepertinya.”

“Shanty sapa si Rin?”

“Orang gila.”

“Lah sama kayak gue dounks. Yang gila elo atau temen-temen loe?”

“Temen-temen gue sepertinya.”

“Elo ngga?”

“Gak.”

“Terus Shanty waktu itu datengnya sama sapa?”

“Lupa gue.”

“Sama Irene ngga ya?”

“Iya sepertinya.”

“Terus selain Shanty sama Irene yang dateng sapa lagi? Mutia dateng ngga?”

“Mutia sapa?”

“Temennya Karin waktu di UI, yang bapaknya dokter, yang operasi kembar siam itu lo.”

“Muti. Bukan Mutia.”

“Wah salah ya gue. Terus Muti pernah berapa kali nengok Karin?”

“Dua kali.”

Aku sudah kehabisan bahan pembicaraan, akhirnya aku menyanyikan beberapa lagu yang sering ia nyanyikan saat kami berkaraoke.

“God, I feel like hell tonite. Hmmmmm, hmmmmm…gue ngga afal Rin syairnya. Terus tuch lagunya siapa siy?”

“Sheryl Crow.”

“Terus kalo ini, you don’t bring me flower, you don’t sing me a love song, sapa yang nyanyi?”

“Barbara Streisand.”

“Terus elu biasanya nyanyiin tuch lagu sama sapa, kalo pas karaoke.”

“Sama Mas Wawan.”

“Rin, dapet salam dari Putri.”

“Dwi Putri? Ketemu di mana loe?”

“Tadi gue buka Facebook. Dia ngirimin gue wall. Titip cium katanya, terus kangen katanya.”

Lalu setelah perbincangan kami selesai, dan Bu Siti selesai mandi, dan nasi juga sudah matang, akhirnya kami pun makan, tentu Karin disuapi oleh Bu Siti.

Kami pun jam 21.00 sudah mengantuk, akhirnya kami bertiga pun tidur. Namun beberapa kali Karin membangunkan aku. Ia membangunkanku dengan melemparkan tangannya ke arahku.

“Kenapa? Gak bisa tidur?”

“ACnya dingin banget sih.”

“Oh ya udah, matiin dulu ya, nanti kalo panas aku nyalain lagi.”

Lalu ia pun tertidur, dan tak berapa lama…

“Gubrag.”

“Mbak, bantu aku angkat Karin.”

Ternyata Karin jatuh, karena ia terus bergerak saat tidur, hingga ke pinggir tempat tidur. Untung di bawah tempat tidur yang kami pakai, ada tempat tidur lagi yang ditiduri oleh Bu Siti. Namun hasilnya Bu Siti tertimpa oleh Karin, dan aku harus bersusah payah mengangkat Karin sendiri dahulu. Karin masih susah menggerakkan tubuhnya, dan Bu Siti tak bisa bergerak karena tertimpa Karin. Akhirnya aku bilang ke Karin…

Sambil menatap matanya, aku pun mengatakan ini: “Rin, please help us. Angkat kaki kamu. We can not do this, if you don’t help us.”

Akhirnya ia pun berusaha mengangkat badannya, sehingga Bu Siti dapat bangun. Dan aku, juga Bu Siti dapat mengangkat Karin kembali ke tempat tidur. Setelah ia kembali ke tempat tidur, ia tidur dengan posisi sangat dekat denganku.

Lalu tak disangka ia mengatakan ini padaku: “Maap ya ngerepotin pagi-pagi.”

“Ga papa, Sayang, itung-itung olah raga.”

Setelah aku menengok ke arah jam dinding yang tergantung di dinding kamar kost, saat itu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Dan kami pun tidur nyenyak sampai pagi menjelang.

Begitulah teman-temen ceritaku hari pertama tentang perjalananku dengan Karin. Sampai bertemu di tulisan jurnal hari kedua-ku dengan Karin.

Senangnya bisa ngobrol panjang lebar dengan Karin lagi..

Love her so very much…

Ada Kursi Kosong Di Sana…

Tuesday, January 13th, 2009

Sudah sebulan lebih, sahabatku, Karin Taramiranti terbaring sakit di Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Sebulan pula, Yudha, suaminya menemaninya di sana. Hari minggu lalu, 11 Januari 2009, akhirnya setelah sebulan di Singapura, Yudha memutuskan untuk kembali ke Jakarta sebentar.

Banyak yang ingin ia ceritakan, banyak juga yang ingin aku ketahui tentang perkembangan Karin sampai sebelum Yudha kembali ke Jakarta. Kami pun mengatur waktu untuk bertemu, dari sebelum ia pulang.

“Dha, jadi lu pulang besok?”

“Jadi.”

“Eh, jadi ‘kan kita ketemu? Gue mau cerita banyak nih ke elo n ke Mas Wawan.”

“Ya, udah. Senin aja ya? Di mana? Di kantor?”

“Di kantor juga boleh.”

Lunch, atau after office hour?”

“Dua-duanya okay gue.”

“Kalo gue sih prefer ‘bis ngantor kali ya. Biar leluasa. Lagi pula bapak yang satu itu, juga lagi sibuk, ngga mungkin sepertinya lunch dia keluar kantor.”

“Ya, ‘dah ntar gue telepon dech, begitu gue sampai Jakarta. Sekalian ngatur jadwal kita lah yang bisa bantu jaga Karin di sana.”

“Sip.”

“Karin lagi butuh temen yang banyak bacot neh, biar dia bisa semangat. Yang brisik terus deket dia banget ‘kan cuma elo, Rully & Mas Wawan.”

“Ya, udah ntar kita omongin kalo elu ‘dah nyampe sini ye.”

Senin siang, 12 Januari 2009, kembali Yudha meneleponku, untuk mengkonfirmasi pertemuan kami sore ini.

“Cha, ntar di mana? Kok gue telepon Mas Wawan ngga diangkat? Apa dia ngga kenal nomor gue ya, jadinya ngga diangkat.”

“Emang gitu siy dia biasanya, kalo ngga kenal, ngga diangkat, tapi dia punya kok nomor loe. Meeting kali dia. Biasanya kalo dah meeting kagak ngangkat telepon.”

“Gini, ntar sore jam 6 gue harus ke Sentra dulu, ngurus asuransinya Karin, ke kantornya, terus jemput Cyrill ke Bekasi, ke rumah adik gue. Gue sih berharap ketemunya di Cibubur aja. Ntar berangkatnya elo bisa ikut gue, atau ketemu di Sentra terus ikut jemput Cyrill, baru kita ke Cibubur. Banyak nih yang mau gue omongin.”

“Ntar gue sms elo kali ya. Gampang lah gue bisa nebeng elo, bisa nebeng Mas Wawan, tapi gue males kalo loe suruh gue ke Sentra. Gue usaha tanya yang lagi sibuk meeting itu. Itupun kalo bisa ditanya.”

Okay, ntar sms gue ya.”

“Sip.”

Aku dan Yudha tinggal menunggu jawaban dari satu orang lagi. Satu orang yang sepertinya sedang pening dengan pekerjaan dan kesibukan awal tahun. Aku hanya berani mengirim pesan melalui BBM. Namun tepat seperti yang aku perkirakan. Tak ada jawaban. Akhirnya aku putuskan.

I have decided. Ntar ketemunya di Cibubur aja. Either di tempat Yudha atau di tempat loe. Gue ke kantor loe aja, jangan ninggalin gue ye.”

SMS berikutnya…

“Dha, ntar ketemuannya di Cibubur aja, jam 8an. Elu jemput Cyrill dulu. Ntar kita ngobrol bertiga ada Cyrill juga gpp. Terserah di tempat loe atau di tempat Mas Wawan, bebas. Elo di Sentra-nya jangan lama-lama ye.”

Berangkat dari rumah dalam keadaan hujan deras, dan akhirnya berhasil mencapai kawasan Kuningan sekitar pukul 18.00. Waktu tempuh dari rumah hingga Kuningan termasuk normal. Sekitar 50 menit saja. Menunggu di Daily Bread sekitar 30 menit, akhirnya aku dan Mas Wawan pun bertolak menuju Cibubur.

Seperti biasa, seluruh jalanan ibukota dipastikan mengalami macet total saat diguyur hujan. Beruntung tak ada satu pun dari kami yang harus menyetir. Kami pun bisa santai mengobrol di kursi belakang, tanpa harus dipusingkan dengan tingkah laku pengendara mobil dan motor di jalanan. Dan tak berapa lama Yudha telepon.

“Dah di mana?”

“Hmmm, di mana niy, masih di depan Bidakara. Macet banget ‘Dha. Elo di mana?”

“Lah, elo sama sapa ‘Cha? Gue baru keluar Mega Kuningan.”

“Gue nebeng Mas Wawan. Elo abis ini jemput Cyrill ‘kan? By the way, elo disupirin Odang ‘kan?”

“Iya, gue jemput dia dulu, sama Odang. Ntar ampe Cibubur jam 8, setengah 9an lah ya. Gue nidurin Cyrill dulu. Mau di rumah gue atau di rumah Mas Wawan?”

“Mas, mau di rumah loe, atau rumah Yudha?”

“Terserah.”

“Terserah loe ‘Dha katanya.”

“Ya udah, ntar gue kabarin lagi ya.”

Telepon pun kami tutup. Namun belum sampai lima menit telepon selulerku kembali berbunyi.

“Kenapa ‘Dha?”

“Ngga, gue baru mikir, apa si abang gue suruh tidurin di rumah Linda aja ya? Biar gue ngga harus ke Bekasi? Biar cepet. Gimana?”

“Hmmm, terserah elo sih. Gitu lebih enak sebenernya, tapi elu ‘dah ngga ketemu Cyrill satu bulan lo. Ya elo telepon dia dulu gih.”

“Ntar gue telepon lagi ya.”

“Sip.”

Kembali aku sudahi pembicaraan itu. Dan kembali aku mengangkatnya kurang dari 5 menit.

“Ya, ‘Dha.”

“Barusan gue tilpun si abang, bilang dia suruh tidur dulu. Eh tau-tau dia telepon gue balik. Bilang ngga mau tidur dulu kalo ngga ngeliat Bapak.”

“Ya, udah lah, elo jemput dia dulu aja.”

“Iya ya.”

“Iya ntar gue nyari makan dulu aja, biar nunggu elo juga ngga lama.”

Aku melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, saat kami baru saja melewati pintu keluar tol Cibubur.

“Ampun, ‘dah jam 8. Laper ngga?”

“Mau makan di mana?”

“Bebek presto situ aja yuk. Lagi pengen tuch bebek gue.”

Akhirnya kami berhenti sebentar untuk mengisi perut yang sudah lapar. Dan dalam waktu kurang dari 1 jam, kami sudah sampai kediaman Mas Wawan.

“Woi ‘Dha, dah sama Cyrill?”

“Dah, nih mau ngomong sama abang?”

“Mana?”

“Halo Bang Cyrill.”

“Halo, ini sapa?”

“Tante Ocha sayang. Bang Cyrill udah bobokh?”

“Udah bobokh dari tadi. Tapi ini mau bobokh lagi.”

“Bobokh ama Joey ngga?”

“Joey boboknya beda. Kalo Joey bobokhnya kotor, di belakang. Cyrill ngga.”

“Kalo Bang Cyrill bobokh di mana?”

“Bobokh di kamar lah.”

“Bobokh sama siapa bang?”

“Sama Bapak.”

Tak lama kemudian, anak lucu itu memberikan teleponnya kepada Bapaknya.

“Gue dah sampe rumah.”

“Hah, rumah?”

“Hehehe, gue lupa bilang, rumah Mas Wawan maksud gue.”

“Ya, udah, gue pulang dulu, nidurin niy kecil, ntar gue nyusul ke situ yak.”

Tak berapa lama kemudian, Yudha pun datang. Aku yang membukakan pintu pagar. Serasa tuan rumah memang.

“Kok gue telepon-telepon ngga diangkat.”

“Oh, gue silent, gue males denger telepon dari rumah berkali-kali, brisik. Kenapa emang?”

“Ngga tadinya gue mau minta di rumah gue ajah gitu.”

“Oh, Mas Wawan lagi mandi. Masuk dulu lah, ntar kalo mau di rumah loe, tunggu dia dulu. Tinggal jingkring pindah selemparan kancut.”

Begitu Yudha memasuki rumah, kami pun mulai mengobrol, sambil menunggu tuan rumah selesai membersihkan diri…

“Gimana loe, apa kabar? Baik-baik aja ‘kan, ga sakit?”

“Ya, begini lah. Gue masih bisa handle kok.”

“Terus si Kancut?”

“Iya, tadi gue telepon mamanya, katanya hari ini sudah bisa duduk 2 jam.”

“Wah, that’s good.”

Ia pun kemudian menunjukkan beberapa foto Karin yang ada di telepon selulernya. Foto-foto itu diambil kira-kira 3 hari sebelum Yudha kembali ke Jakarta. Tak percaya dengan yang aku lihat, sama sekali tak percaya. Namun ia tetap sahabatku, my partner in crime.

Tak berapa lama Mas Wawan pun sudah selesai.

“Mau minum apa ‘Dha? Teh?”

“Hmm, ngga teh lah Mas.”

“Kopi?”

Yupe.”

Make it three ya, Mas.”

Setelah Mas Wawan selesai meracik kopi, selanjutnya, tanpa dikomando siapa pun, kami bertiga menuju ruang makan. Dan duduk di kursi “masing-masing”. Dengan posisi yang sama tepat saat 22 November 2008 lalu, saat kami duduk di sana, bermain kartu hingga pukul 04.15 pagi, esok harinya.

Berbeda memang saat ini, kami hanya bertiga. Satu kursi sedang ditinggal oleh sang “pemilik”. Kursi yang dulu diduduki Karin.

Perbincangan kami pun kali ini tak kalah panjang, hingga pukul 02.15 dini hari. Juga tak kalah seru, walau tawa kami tak semeriah dulu. Terbatas, karena rasa prihatin dengan kondisi Karin saat ini, karena rasa rindu kami pada Karin yang tentu belum terobati. Dan karena masih ada satu bangku yang kosong di sana. Bangku yang kami harap akan terisi lagi oleh orang yang sama.

Promise you, i’ll be there soon babe..kalo semua urusan skripsi gue lancar..doain ye…gue yakin elu ‘dah kangen berat ‘kan ama gue…wakakkaka

Dari para anggota “konferensi meja bundar Cibubur”:
We miss you ‘Rin, ‘Yin, ‘Jo, ‘Ncut*..hope we can be together again…throw those damn cards on that table again…

Hope that you can sit on that chair again…so it’s not empty anymore…

* Karin=Ayin=Karjo=Jojo=Kancut… (panggilan sayang untuk Karin dari teman-teman)