Posts Tagged ‘Tentang Karin’

Yes, You Can Shine, My Dear…

Friday, August 14th, 2009

“Rosa pa kabar?”

Duuuhhh, ini dia nih, saya tahu persis, siapa yang menyapa saya melalui media chatting di FB, yaitu kalau bukan keluarga, teman semasa SD, atau teman semasa SMP yang saat SMA sudah sangat jarang kontak dengan saya.

“Baik.”

Dan pasti pertanyaan selanjutnya adalah…

“Masih inget gue ga?”

Nah ‘kan, pertanyaan yang ng…sering membuat saya bingung menjawabnya. Menjawab dengan kejujuran atau menjawab dengan kebohongan yang bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri.

Namun saya sudah lama sekali sering menjawab dengan sangat jujur (*Ahhh biarlah orang mau mikir apa tentang saya, dah kebanyakan hal yang bikin saya pusing, jangan bikin tambah pusing*). Sama seperti saat ditanya oleh teman saya yang saya maksud di tulisan saya ini.

“Hehehehe, sorry gue gak inget. Mungkin kalo gue liat muka baru inget.”

(*Walopun kadang juga ngga ngaruh sih*)

Namun kali ini, jawabannya yang membuat saya kaget. Benar-benar kaget.

“Iya, gue emang ga cantik kayak elo, atau temen-temen dulu yang cantik kayak elo, gue emang jelek, jadi dilupain.”

Sumpah, saya kaget setengah mati. Duh, untuk teman saya yang saya maksud di tulisan ini, maaf sekali ya, tapi kira-kira seperti inilah pikiran yang pertama kali muncul di otak saya…

“Yah kok cetek amat pikirannya, langsung negative thinking gituh.”

Saya pun berusaha menetralisir suasana…

“Iya, nginget nama orang itu salah satu kelemahan gue. Jangankan temen yang udah belasan tahun ga ketemu, lah yang satu angkatan pas kuliah aja, gue sering ga inget. Btw tiap perempuan itu cantik kok.”

(*Buat temen-temen gue di luar sana, maap ya RAM otak manusia ga bisa ditambah ‘kan ya? Jadi kalo saya lupa, tolong dimaklumi*)

“Tapi kalo dah ga ada bakatnya cantik, ya tetep ga cantik Sa.”

Dududuh, kalau sudah begini caranya, saya benar-benar menjura pada para mentor “jahanam” dan “keji” yang mendidik saya selama bertahun-tahun untuk bisa keluar dari diri Rufina Anastasia Rosarini yang lama.

Me? Dulu? Saya saja pusing dengan diri saya sendiri yang dulu, apalagi mereka yang berhadapan dengan saya. I used to be a very insecure girl dengan tingkat arogansi yang sangat tinggi, yang selalu harus dipenuhi segala keinginannya, dan bisa melakukan apapun jika keinginannya tak terwujud; belum lagi ditambah dengan segala pikiran negatif yang menari-nari di otak.

Latihan tahunan itu memang tak pernah mudah. Tak hanya satu atau dua kali saya menerima “tamparan” dari mereka. “Tamparan” yang akhirnya membuat saya berkata ke diri sendiri “Bangun! Elo ga idup ndirian”. Dan saya sendiri baru merasa lulus semua latihan itu, pada akhir tahun lalu (*Hmmm, 8 taon?*). Level lengkap.

Don’t you know, one of my mentors, told me this…

“You’re not a princess ‘Cha!”

Dan dalam hati…

“Brengsek, ketampol gue.”

Atau…

“Kenapa sih, kamu susah banget ngakuin kamu salah, padahal I know that inside your heart, elo tau elo salah. Tinggal bilang yes that is my faults, and am so sorry. Selesai ‘kan?”

Atau salah satu pembelajaran darinya…

“Kalau elo ngasih kado ulang taun ke seseorang. Apa yang elo harapkan dari dia? Yang penting dia make barang yang elo kasih, atau dia suka terus dia make? Trus kalo dia ternyata ga suka terus dia ga make, elo bakal gimana? Nanyain ke orang itu, kok ga make, kok elo ga suka kado dari gue? Hei kalo dia ampe ga suka ya jangan ngomel ke orangnya dong, elo mesti liat ke diri loe juga kenapa dia ampe ga suka and kado loe jadi ga berguna, jangan langsung serta merta bilang kalo tuch orang ga sayang lah ama elo, ga menghargai elo, trus jadi ngambek. Biasanya cewek-cewek gitu tuh kalo ngasih kado ke pacarnya, padahal pacarnya ternyata ga suka.”

Intinya apa yang mereka ajarkan pada saya adalah meminimalisir pikiran negatif. Pikiran negatif memang tetap perlu, tapi hanya sebatas untuk melakukan antisipasi pencegahan dan membuat contigency plan tindakan yang diperlukan.

Dan hei, itu semua harus dimulai dari hal kecil. Misalnya jika memakai kasus perbincangan saya dengan si teman, daripada berpikiran seperti apa yang teman saya pikirkan itu, mungkin akan lebih baik jika seperti…

“Iya ya Sa, kita ‘kan dah lama banget ilang kontak, dan ga ketemu, susah juga ya nginget-ngingetnya.”

atau…

“Temen kita khan banyak ya, mungkin aja ‘kan lupa.”

atau…

“So that’s your weakness ya Sa, remembering someone’s name.”

Terus terang hei si teman saya itu, jawaban kamu yang seperti itu, sempat menimbulkan pikiran bahwa kamu merasa insecure. Ya, mungkin saja saya salah berpikiran demikian, tapi ya memang begitulah pikiran saya saat itu. Maaf ya, maaf sekali. Dan terus terang saat itu saya lupa untuk berpikir, bahwa kamu sedang bercanda mengatakan itu :D …mudah-mudahan memang bercanda ya (*Tapi ma kasih loe gue dibilang cantik, haaallaagg tetep narsis*).

Jadi ingat satu kiriman bahan presentasi dari mentor saya yang paling “jahanam” nan “brengsek”, yang melengkapi proses pembelajaran saya selama ini (*Sayang, presentasinya yang dikirimkan ke saya hilang dari file di laptop*), tapi saya masih ingat betul isinya…

Kamu tahu gambar pacman ‘kan? Seharusnya berupa lingkaran penuh, tapi ini ada irisan di lingkaran itu yang hilang, sehingga ia tak bisa dikatakan sebagai lingkaran sempurna. Dan hobi si pacman ini adalah mengatupkan sisi lingkaran yang terpotong tadi, sehingga menyerupai orang yang sedang berbicara.

Cerita di presentasi itu, si pacman ini sedang berjalan mencari irisannya yang hilang. Di tengah jalan ia menemukan sebuah irisan, dan ia coba mencocokkan irisan itu dengan bagian tubuhnya yang hilang, ternyata irisan itu terlalu besar untuknya, sehingga tidak pas. Ia pun melepaskan irisan itu dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan, ia menemukan irisan lainnya, dan kembali ia mencoba mencocokkan dengannya. Ternyata irisan yang ia temukan kali ini terlalu kecil, sehingga ia pun harus melepaskannya dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan berikutnya, ia kembali menemukan sebuah irisan lain. Dan ternyata kali ini pas dan cocok. Ia tak ingin melepaskannya kali ini. Namun apa yang kemudian ia rasakan setelah menemukan bagian yang selama ini hilang dan dirasa cocok olehnya? Ia tak bisa bergerak leluasa, tak bisa lagi mengatupkan kedua “bibir”nya, tak bisa “bicara” dan “bernyanyi”. Akhirnya ia pun kembali melepaskan bagian yang tadinya ia rasa cocok dengannya.

Dan mungkin ia berpikir…just enjoy every little thing in your life, even that’s imperfect.

Me? Now? My God…change a lot…

Saya jauh lebih sabar daripada dulu (*Ya udah ngomel dulu ga papa, nanti kalo dah reda kita ngomong baik-baik ya*).

Saya jauh lebih bisa mengerti orang lain, karena saya yakin bahwa orang melakukan sesuatu karena ada alasannya (*Ya iyalah, kalo elo ga bisa ngertiin orang lain, percuma lo masuk psikologi*).

Kalau keinginan saya tidak dapat terwujud, tidak serta merta langsung ngomel, marah, tapi saya berusaha untuk mencari jalan lain untuk bisa mewujudkannya (*Misalnya ga dapet tiket nonton bioskop yang siang, ya susah amat tinggal nyari yang malem ‘kan, sambil nunggu bisa ngapain dulu*).

Tak lagi repot dengan printilan yang bikin tambah pusink dan bikin repot (*Nih contohnya…”Maaf ya Sa, kemarin koneksi internet gue keputus and ceting ama elo keputus juga, bukan ga sopan loh”, dan saya…”Haalllaagghh kayak gitu doank, iya gue pun juga dah mikir kayak gitu kemaren, orang gue ditinggal seseorang ketiduran pas ceting ama gue aja pernah dan gue ga ngomel kok*).

Ya kurang lebih begitu lah beberapa hal yang saya anggap sebagai achievements dan apresiasi ke diri sendiri, walaupun saya tahu, saya masih sering menyebalkan dari omongan saya, dari tulisan-tulisan saya, tingkah laku saya, tapi percaya deh, itu semua sudah dengan analisa ini-itu baru saya menghasilkan apa yang terlihat, terdengar dan diketahui oleh kalian. Jadi kalau pun masih menyakiti kalian, so sorry, coz I’m still human and still imperfect, yet I really like being different from others.

Jadi ingat sebuah video iklan sebuah produk perawatan rambut, yang dibuat di Thailand.

Yes my friend, you can shine.

Just think positive, minimize life burden, and enjoy every little thing you do and you have in your journey. Even you’re imperfect and different from others.

To Karin Taramiranti, Rully Hariwinata, Yudha Ketaren, and one person I can not mention here, yang membuat perjalanan pembelajaran saya menjadi lengkap, yang saat ini sedang membenamkan dirinya dari keramaian dunia, yang saya tahu persis bahwa ia mempunyai alasan yang sangat kuat untuk melakukan itu, from the bottom of heart, my big thanks to you all, you’re my brothers, sister, mentors, best friends and my love. I love you full!!!!

—-

I’m gonna stay gold, just like a ray of sun light in our mornings. No matter what.

Happy Birthday, Karin…

Tuesday, July 14th, 2009

Hai, hai…maaf ya, saya sudah lama tidak menulis tentang perkembangannya Karin. Sampai saya harus diingatkan (baca: ditagih, hehehehe) oleh beberapa teman untuk memberitahukan perkembangan terakhirnya.

Dan hari ini adalah edisi spesial, cerita perkembangan kondisi kesehatan si Mama Cyrill. Namun sebelum saya mulai bercerita tentang manusia hebat yang satu ini, saya ingin mengucapkan sesuatu…

“Happppyyyy Birthdayyyy laaagiiiii, Sayang…kamu terhebat, dan tahun ini adalah tahun terhebat untuk kamu.”

Kemarin, saya sempat kepikiran untuk ke rumah Karin di Rawamangun sepulang kantor, untuk memberikan selamat ulang tahun secara langsung untuk Karin, tapi apa daya, saya sudah terlalu lelah untuk bisa sanggup pergi ke sana.

Jadi begitu sampai rumah, saya langsung menelepon Yudha untuk berbincang-bincang dengan Karin.

Dan inilah hasil perbincangan saya dengan Karin yang sudah luar biasa perkembangannya.

Saya: “Haaapppy Birthday ya, Non.”

Karin: “Halo, halo.”

Saya: “Rin, happy birthday ya.”

Karin: “Halo.”

Saya: “Woiiii, Cut, denger ga lu?”

Karin: “Iya.”

Memang saat itu, saya dengar di seberang sana ada suara kresek-kresek seperti sedang ada gangguan signal.

By the way, masih ingat ‘kan kalau ‘Cut’ itu adalah panggilan sayang yang diberikan saya dan Rully untuk Karin (“Jadi ingat kisah kami bertiga jaman dulu di sarang kami di lt.8, dan masih ingat betul bagaimana suara Karin sambil berteriak memanggil saya dengan Codoth, atau memanggil Rully dengan Ti’em. Ahhh, Good old days.”)

Saya: “Siapa gue? Masih kenal gue ga?”

Karin: “Ocha ‘kan?”

“Ma kasih ya ‘Cut, manggil nama gue lagi bener. Biasanya elo manggil gue anak monyet.”

Sumpah, sumpah, sumpah saya senangnya setengah mati. Karin sama sekali tidak lupa dengan suara saya.

Saya: “Hebat, hebat, elo masih inget suara gue. Kok rame, lagi pesta ya? Ada sapa aja?”

Karin: “Banyak.”

Saya: “Siapa aja Cut?”

Dan Karin mulai menyebutkan tamu-tamu yang datang ke rumahnya tadi malam, yang rata-rata adalah saudara-saudara Karin.

Saya: “Seneng kau ya, banyak yang datang?”

Karin: “Iya lah.”

Saya: “Terus sapa yang tadi udah telepon.”

Karin: ………………. (terdiam)

Saya: “Woi, kok bengong ditanyain.”

Karin: “Gak bengong, gue lagi mikir taukh!”

Saya: “Sapa aja tadi yang udah telepon?”

Karin: “Nyokab telpon dari Medan. Oom gue dari Belanda juga.”

Saya: “Wah dapat telepon dari jauh ya?”

Karin: “Iya.”

Saya: “Shanty telepon kamu?”

Karin: “Belom.”

“Untuk Shanty: maap ya bouw elo ga dianggep, padahal dah tilpun 2 kali lu ye, hauahahahahahah.”

Saya: “Sekarang umur berapa, Rin?”

Karin: “32.”

Saya: “Hyyyaaahhh, jangan mempermuda umur kau lah. Masakh elo ama gue beda dikit?”

Karin: “Jadi berapa dounk umur gue?”

Saya: “Berapa? 2009-1973 berapa Cut?”

Karin: ……………………(terdiam)

Saya: “9 kurang 3 berapa, Cut?”

Karin: “36 berarti ya gue.”

Saya: “Terus elo katanya dah hebat sekarang ya? Dah bisa apa aja?”

Karin: “Dah bisa jalan sendiri.”

Saya: “Ga perlu dipegangin lagi kayak dulu?”

Karin: “Masih, kadang-kadang.”

Saya: “Terus, katanya dah bisa maen-maen pindah-pindah tempat sama Abang ya ‘Rin?”

Karin: “Udah.”

Saya: “Hebat deee. Berarti kamu bentar lagi sembuh total. Tinggal jalanin satu operasi terakhir, and recovery deee. Kemaren hasil PEP scan and MRInya semuanya dah bagus Rin. Penyakitnya dah ilang semua dari badan kamu. Kamu tinggal terapi-terapi dikit lagi, sama istirahat. Btw, bisa makan apa aja?”

Karin: “Makan apa aja bisa. Enak.”

Saya: “Makin gendut dounk lo?”

Karin: “Iya kali ya.”

Saya: “Ga papa lah. Kamu harus sehat, tinggal dikit lagi.”

Karin: “Capekh banget lah gue.”

Saya: “Capekh ngapain?”

Karin: “Capekh terapi.”

Saya: “Bukannya enak. Khan tinggal dikit lagi. Katanya mau maen ama Abang? Inget Abang sama Yudha lah Rin, ama elo sendiri juga. Elo bertiga tuch dah berjuang banyak loh. Tinggal dikit lagi ya, Sayang. Capekhnya disimpen dulu.”

Karin: “Iya sih.”

Saya: “Ya udah, tuh di belakangmu sepupu-sepupumu pasti dah nungguin kamu khan? Sekali lagi happy birthday, cepet sembuh, nanti aku sempetin ke tempatmu, geret si cerewet satu lagi, si Shanty.”

Karin: “Ma kasih ya, ‘Cha!”

Saya: “Sama-sama, cepet sehat ya. Mana Yudha, aku ngomong lagi sama dia.”

Dan perbincangan saya lanjutkan dengan Yudha…

Saya: “Hebat dia sekarang, 3 bulan gue ga ketemu, kemajuannya pesat. Jadi kangen.”

Yudha: “Hebat dounks, rambutnya aja dah mulai tumbuh.”

Saya: “Ya udin, ntar gue usahain sama si Shanty ke sana.”

Yudha: “Eh, btw elo kerja di mana sih?”

Saya: “Ntar-ntar de ntar gue ceritanya kalo ketemu elo ajah. Males gue cerita di sini.”

Yudha: “Jangan-jangan elo kerja di tempat si Mas.”

Saya: “Ya enggak lah, kalo di sana gue dah tiap hari liat mukenye.”

Yudha: “Ooooo, gue kira di sana.”

Saya: “Btw, dah telpon Karin dia?”

Yudha: “Belom! Taukh ngilang dia.”

Saya: “Masih idup kok orangnya. Ntar paling nongol lagi kalo dia mau, biar ajah. Ya udah lah, ntar gue tilpun kalo gue mau ke rumah lo. Daaaggg.”

Dan saya semakin senang setelah melihat di Facebook saya, kiriman foto acara ulang tahun Karin kemarin. Saya melihat Tante Titung dan satu sepupu Karin yang namanya sudah tidak asing di telinga saya, walaupun saya belum pernah sama sekali bertemu dengannya, dan juga Karin sendiri di foto itu yang sudah terlihat jauh lebih segar dibandingkan tiga bulan yang lalu, saat terakhir saya bertemu dengannya sepulang kami dari Singapura.

Oh ya satu lagi, saat saya berbincang dengan Karin di telepon, Karin benar-benar tak dibantu oleh orang lain. Maksudnya, tanpa ada perantara yang harus memperjelas maksud omongan saya dan menyampaikannya ke Karin. Saya tahu persis, karena saat itu saya mendengar suara Yudha sedang berbincang-bincang dengan orang lain, di belakang suara Karin. Jadi, memang kemajuan Karin memang luar biasa. Itu berkat doa kalian juga loooo.

Again, on the behalf of Karin, Yudha, Cyrill, Tante Titung and their big family, I would like to say thank you for your supports and prayers. It means a lot to them. And Karin still needs your prayer, don’t stop it, pleaasseee…

—-

“Wahhh, Rin, salah looo…nyokab loe ga cuma tilpun, dateng pulakh. Anyway, miss you so much, My Sista!”

Circle of Love…

Sunday, May 10th, 2009

Hei…aku ingin bercerita sedikit tentang awal pertemuanku dengan salah satu sahabat terbaikku, Karin.

Untuk mereka yang mengikuti ceritaku tentang perjalanan Karin berjuang melawan penyakitnya, yang tentu tak mudah, dan belum tentu bisa dilalui oleh semua orang, pasti sudah tak asing mendengar nama perempuan ini.

Flash back dikit ya…

Kami dipertemukan di tempat kami bekerja, atau tepatnya taman bermain kami, di awal Februari 2002. Saat itu Karin anak baru di divisi kami.

Dari awal perjumpaanku dengan Karin, aku sudah bisa menerka pasti manusia ini adalah manusia yang tak pernah bisa diam, tak pernah kehabisan energi untuk tetap berlari kesana-kemari. Termasuk tak pernah kehabisan tenaga untuk ngoceh, alias cerita apapun.

Terus terang, aku tak tahu bagaimana tepatnya kejadiannya, akhirnya kami menjadi sangat dekat.

Oh ya, di samping aku dan Karin, satu orang lagi yang sering bersama kami, partner in crime kami berdua dari saat itu, hingga hari ini. Orang itu adalah Rully.

Hobi kami yang sama, yaitu ngantor di hari sabtu, dengan alasan akan lebih tenang bekerja tanpa dering telepon, dan panggilan-panggilan ajaib dari para atasan kami masing-masing; dan juga konferensi tangga darurat, yaitu menikmati satu dua batang hisapan rokok, sepertinya yang membuat kami semakin akrab. Kami; aku, Karin, dan Rully, mulai sering jalan bersama di hari sabtu, mulai sering main ke rumah kost tempat Karin tinggal. Dan aku juga Rully mulai dipernalkan ke Yudha, yang saat itu masih berstatus pacar Karin.

Kejadian-kejadian mulai dari lucu, ajaib, norak, tolol makin sering kami lakukan bersama.

Satu yang aku ingat waktu itu, saat Karin sedang melakukan road show untuk melakukan training di kantor-kantor cabang kantor kami di luar pulau Jawa, Karin masih ingat mengirimi aku, Yudha dan Rully satu tempat makan besar yang penuh dengan durian.

Ya, DUREN, makanan kesukaan kami berempat. Durian itu ia titipkan kepada EO yang pulang lebih dulu ke Jakarta.

Sementara kami menikmati durian nikmat sembari duduk di pinggir pantai Ancol, Karin masih sibuk bekerja di pelosok.

“Enak banget ‘Cut durennya. Sumpah!”

Kalau tidak salah tahun 2002 itu adalah tahun ajaib untuk kami berempat; aku, Karin, Yudha dan Rully. Namun, yang jelas aku ingat memang tahun paling tidak menyenangkan untuk aku juga Rully, saat itu kami berdua sedang menghadapi masalah keluarga masing-masing yang cukup membuat malas pulang ke rumah cepat-cepat, apalagi ditambah dengan macetnya jalanan Jakarta.

Hal itu membuat kami berempat hampir tiap hari menghabiskan waktu kongkow-kongkow di sebuah kafe kecil (yang sekarang sudah tidak ada) di bawah apartemen Aston, hanya untuk menikmati sepiring nasi goreng kampung telur ceplok setengah matang seharga Rp.10.000, dan sebotol Miller (yang biasa kami sebut dengan Tante Milla) atau Corona, yang saat itu masih dihargai belasan ribu rupiah saja.

“Sekarang elo dah gak boleh nenggak Tante Milla ya ‘Cut!”

Makin banyak waktu aku habiskan bersama Karin, Rully dan Yudha. Semakin menggilalah kami berempat.

Di akhir tahun 2002, kami berinisiatif menggadakan outing divisi tidak resmi, dan sok melupakan untuk mengundang para atasan kami (“Hmmm…tepatnya satu orang doang siy yang dilupain, hahahah.”).

Oktober tahun itu ada satu long weekend, dan kami memutuskan untuk menghabiskan libur panjang itu di Anyer. Kebetulan papaku mempunyai kartu keanggotaan di salah satu resor di Anyer, sehingga kami mendapatkan potongan harga kamar.

Tiga hari dua malam yang sangat menyenangkan. Bengong-bengong di pinggir pantai, makan, masak-masak, barbeque-an, tenis, nyanyi-nyanyi sambil main gitar, berenang.

Outing kali ini, banyak sekali “penyelundup”, karena memang bukan outing resmi. Ada yang bawa pacarnya (termasuk Karin), ada yang bawa gebetannya, ada “penyelundup” yang membawa “penyelundup” lain, yang benang merahnya sedikit jauh dari manusia-manusia “kacung kampret” bank terkenal ini.

“Eh, Cut, hahahah elu juga ga mandi selama 3 hari di sana ‘kan? Kecuali pas mau pulang? Hayo ngaku luuuu!!!”

Kegiatan jalan-jalan kami pun bertambah sering. Termasuk melarikan diri, di kala matahari masih bersinar sedikit terang (baca: sore sebelum jam kantor usai), aku, Karin, Rully, dijemput Yudha dan menuju Puncak.

Aku ingat betul, kami ke Menteng terlebih dahulu, untuk mencari sebungkus Capri (waktu itu masih murah, masih Rp.7.000), menikmati Teh Botol, baru berangkat ke Puncak. Ternyata Yudha dan Karin mempunyai tempat favorit, Telaga Warna. Kami mengobrol di sana hingga pukul 1.30 pagi. Gelap-gelapan, menghisap rokok masing-masing. Dan bercerita tentang semua keluh kesah masing-masing.

“Bagus! Gue ngantor lagi pake rok, kalian suruh duduk di atas ntah apa, waktu di pinggir tuh telaga!”

Alhasil, aku tak mungkin pulang ke rumah, aku pulang dan menginap di kost Karin. Dan belum selesai penderitaanku, dengan duduk di atas apa yang aku tak tahu, dan membuatku gatal, aku mendapat penderitaan lainnya.

Tidur satu tempat tidur dengan Karin, bukan hal yang mudah, dan bisa dihitung sebagai penderitaan berikutnya. Tolong disimak ya, bukan hal mudah. Manusia ini ternyata juga tak bisa diam saat itu. Dua kali aku tertimpa olehnya. Pertama kali wajahku yang kala itu masih mulus tanpa jerawat sedikit pun, tertimpa tangannya yang cukup berat; dan yang berikutnya, tak tahu bagaimana caranya, dengkulnya bisa sampai ke perutku.

“Woi, kampret, emang gue guling!”

Akhir tahun 2002, kami lalui bersama pula. Kami menutup tahun itu, dan membuka lembaran baru tahun 2003 bersama-sama di salah satu rumah teman satu divisi kami, di bilangan Fatmawati.

Tahun baru, bukan berarti acara senang-senang berkurang. Tante Milla semakin sering dan hal-hal tolol lainnya.

Ada dua kejadian seru di tahun itu, yang aku ingat persis.

Mei 2003. Divisi kami mengadakan outing, yang lagi-lagi di Anyer. Seperti biasa ketua perencananya Karin, dan aku sebagai pembantu umum di divisi, kebagian juga menjadi “tim sibuk”.

Ya, namanya punya otak “kriminal”, Karin mengatur agar aku, Rully dan dirinya sendiri menjadi tim advance, yang datang lebih dulu satu hari sebelum tim divisi kami lainnya, dengan alasan untuk persiapan kami outing. Kami pun membawa dua “penyelundup”, yang bukan dari kantor kami, Shanty dan Yudha.

Berbekal gitar dan beberapa botol wine, cukup membuat kami senang.

Aku ingat persis, berhubung tak satu pun dari kami yang membawa pembuka gabus tutup botol anggur, akhirnya kami memakai obeng dari peralatan darurat yang ada di mobil. Lebih tololnya lagi, gabus itu tidak berhasil kami tarik keluar, malahan nyemplung ke dalam botol dan mengapung di sana.

Bernyanyi di teras tempat bungalow kami menginap, sambil meminum anggur yang kami bawa adalah satu-satunya aktivitas kami saat itu.

Tak ingat sudah berapa gelas aku minum anggur. Namun yang aku ingat, saat aku sedang bernyanyi-nyanyi di teras itu aku sudah sangat mengantuk. Mungkin efek dari anggur yang aku minum itu. Saat itu aku ingin buang air kecil. Berjalan menuju kamar mandi pun aku sudah gontai. Sekembalinya dari sana, terakhir aku sadar, aku melewati jejeran kasur dan tiba-tiba aku sudah tak sadar lagi, hingga pagi menjelang, sudah saatnya bangun tidur. Dan saat aku buka mata aku sudah berbantal dan berselimut (“For the one who did it, thank you ya!”).

“Ye, katanya masih ada yang mau nyanyi-nyanyi, meleng dikit, lewat kasur langsung gubrag.”

“Bis gimana dounks, ngantuk bouw.”

Empat bulan kemudian September 2003, perjalananku berikutnya dengan dua kampret itu. Ke Manado dan Bunaken.

Rully & Karin: “Codot, kita berdua, nge-train di Makassar and Manado minggu depan, tolong siapin tiketnya ya.”

Dan aku pun melihat ke kalender dan berpikir: “Hmmm…mereka Senen-Rabu di Makassar, Rabu terbang ke Manado. Senen minggu depannya libur. Long weekend neh.”

Otak kriminal Ocha pun mulai bekerja, saat ia menelepon ke agen perjalan yang biasanya: “Mbak, tiket ke Manado berapa?”

“1.2 juta. Garuda.”

“1.2 juta, berarti bolak balik 2.4 lah ya. Dah semua ‘kan ya? Ada lah ya gue di tabungan duit segitu. Gue ngajuin cuti Kamis Jumat. Gue nyusul, mereka extend.”

“Eh, Mbak, 1.2 itu bolak-balik!”

“What? Bolak-balik.”

“Iya Mbak Ocha, lagi promo.”

“Okay, Mbak. Tiket atas nama Rully ama Karin, Jakarta-Makassar-Manado-Jakarta. Atas nama gue Jakarta-Manado-Jakarta. Bertiga pulang dari Manado 21 September ya, last flight.”

Dan aku berjalan menuju ke cubicle dua kampret itu, yang kebetulan letaknya hampir bersebelahan.

“Nyet, elu berdua extend ye, gue nyusul.”

Karin: “Mang tiket berape? Bukan mahal Dot?” (FYI, harga tiket Jakarta-Manado-Jakarta waktu itu biasanya hingga 3.4 juta rupiah.)

Aku: “Kagak, lagi mure, 1.2 jeti bolak-balik.”

Karin: “Gue tilpun Yudha ya, dia gue suruh nyusul juga. Ntar elu pesenin tiketnya ya.”

Aku: “Gih, tilpun.”

Dan tak berapa lama…

Karin: “Monyet, si Yudha harus meeting pulakh sabtu-sabtu, jadi dia ngga bisa nyusul.”

Aku: “Mang enak.”

Sialnya hingga hari Rabu, sehari sebelum jadwal aku berangkat, surat permohonan cutiku belum disetujui, padahal tiket sudah aku issued dan sudah di tangan. Aku pun akhirnya bicara langsung dengan si bos dan sedikit memaksa untuk menandatangani formulir permohonan cuti.

Dan Kamis, 18 September 2003, Manado I am coming, walau harus menunggu di bandara Soekarno-Hatta sendirian selama 4 jam karena penerbangan terpaksa ditunda disebabkan cuaca di Manado yang tak memungkinkan pesawat melakukan pendaratan.

Perjalanan menyenangkan, makan enak, snorkeling sampai gosong. Unforgetable memories, untuk kami bertiga.

Foto kami bertiga, setelah snorkeling selama 4 jam, di Bunaken.

Dilatarbelakangi Bastianos Cottage, Bunaken. Kami akan bertolak kembali menuju ke Manado untuk kembali ke Jakarta, keesokan hari setelah puas snorkeling.

Dan tibalah sampai ke tahun 2004.

Februari 2004, Karin dan Yudha melangsungkan pernikahan. Aku dan Rully otomatis menjadi seksi sibuk untuk penyelenggaraan pernikahan mereka, baik untuk penerimaan Sakramen Pernikahan di gereja, maupun acara resepsi. Dan untunglah seluruh acara dapat berjalan dengan sangat baik.

Tahun ini pula, tepatnya Agustus 2004, aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan melanjutkan kuliah.

Kebetulan saat itu, teman-teman divisiku yang lama (saat itu aku sudah mutasi ke divisi lain), banyak yang mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Akhirnya perayaan promosi mereka dan perpisahanku dijadikan satu, di Pisa Cafe, Theresia.

Sepertinya biasa, setiap acara-acara seperti ini, Tequila pasti disediakan, dan biasanya dipaksakan pada setiap orang dari kami yang disana untuk menenggaknya. Termasuk Karin, aku dan Rully. Dan seingatku, Karin kebagian kena paksaan paling banyak untuk menenggak minuman itu, mungkin lebih dari 8 gelas kecil Tequila, tapi jangan salah, Karin masih bisa berjalan tegak waktu itu.

Acara ini adalah acara yang paling mengharukan, setidaknya untuk aku dan Karin.

Saat acara itu hampir selesai, aku dan Karin berdiri berseberangan di ujung meja yang dirapatkan berjejer memanjang. Kami berdua saling menatap beberapa detik, sampai akhirnya kami berdua melebarkan kedua tangan kami masing-masing, dan kami saling memeluk erat. Aku ingat betul apa yang ia katakan padaku saat itu…

“I know you can do it ‘Cha. You know that I love you so much as a sister. Kapan pun elo butuh gue, gue pasti ada untuk elo.”

“And you’ve been my inspiration for long time ago. Love you too ‘Rin. So much.”

Dan air mata kami pun tak terbendung. Tak ada gengsi, dan benar-benar melepas semua topeng, yang biasanya kami kenakan dihadapan orang.

Beruntunglah saat itu, kami bertiga tidak ada yang sedang membawa mobil. Kenapa aku bilang beruntung? Karena kami bertiga meminum air laknat itu, si Tequila.

Begitu kami sampai di depan pintu keluar Pisa Cafe, Karin mendapat telepon dari suami tercinta. Percakapan antara mereka yang aku dan Rully dengar…

“Ya udah, tenang aja, aku pulang ama Rully ama Ocha kok.”

Aku dan Rully pun langsung saling pandang…

“Hmmm, ngga enak di kita, bakal nganter satu kampret ini dulu neh.”

Setelah ia selesai bicara di telepon…

“Dasar kampret, kagak pake nanya-nanya dulu lu, ke-PDan banget kita mau nganterin.”

“Pasti mau lah.”

Aku hanya menjulurkan lidah padanya.

Akhirnya kami bertiga pulang naik taksi dengan rute Theresia-Rawamangun-Ciledug-Tanjung Duren.

“Kasian nasib lu Rul, hahahahhahah!”

Begitulah teman-teman, sekilas ceritaku tentang Karin dan lingkaran persahabatan antara aku, Karin, Rully dan Yudha.

Aku ada untuk Karin saat ia sakit, memang karena cinta yang kami sama-sama bangun semenjak kami bertemu, karena cinta yang tumbuh dari suka duka yang kami alami bersama. Itu semua juga karena Karin, bukan karena kehebatan seorang Ocha semata.

Satu prinsip yang aku, Rully, Karin dan Yudha pegang, yaitu kita saling mencintai tanpa ada syarat apapun, sekali lagi tanpa syarat apapun…

Dan di atas cinta seperti itulah persahabatan, persaudaraan kami ini didirikan…

That’s why we call it as unconditional love…

Tentang Karin…

Tuesday, May 5th, 2009

Hmmm…satu minggu belakangan ini, ada beberapa temanku yang menanyakan kondisi Karin, baik yang mengenal Karin secara pribadi, maupun yang mengenal Karin dari tulisanku di blog ini.

Tujuanku menuliskan cerita tentang Karin di blogku ini, hanya satu, yaitu agar Karin semakin mendapatkan banyak dukungan doa. Itu yang terpenting untuk Karin, untuk Yudha suaminya dan tentu untuk Cyrill, putra semata wayang dari buah cinta mereka berdua, yang dalam beberapa bulan ke depan akan genap berusia 4 tahun (“Sorry bouw, gue lupa 9 Juni atau 9 Juli ya si Bang Cyrill ulang taon? Hehehehe”).

Tak banyak memang akhir-akhir ini aku menulis tentang perkembangan Karin, mungkin karena itu pulalah banyak yang menanyakan kabarnya, walaupun masih ada satu-dua tulisanku yang menceritakannya, baik menggunakan nama aseli maupun secara implisit.

Untuk sekedar menyampaikan kabar terakhir tentang Karin, aku khusus menuliskan jurnalku hari ini…

Dari tulisan-tulisanku beberapa waktu lalu, jika kamu mengikutinya, memang aku sempat mengantarkan Karin dua kali ke Singapura, yang pertama awal bulan Maret bersama Bu Siti, dan yang ke dua, awal bulan April dengan Yudha.

Hasil pemindaian dengan PEP Scan (*dapat dicari di internet dengan kata kunci PEP Scan) menunjukkan bahwa Karin masih perlu menjalani kemoterapi sekitar dua kali lagi. Hal ini hanya untuk pencegahan.

Saat itu, saat kami masih di Singapura, dokter yang merawat Karin menganjurkan agar kemoterapi langsung dijalankan sehari setelah hasil itu keluar. Yudha pun sempat bingung. Bingung karena mengawatirkan kondisi istrinya tentu. Banyak sekali pertimbangan dan perhitungan yang ia lakukan saat itu.

Bagaimana jika kemoterapi dilakukan di Singapura, yang berarti kami bertiga tentu harus memperpanjang masa tinggal di Singapura, yang tak hanya satu atau dua hari, mengingat kemoterapi akan dilakukan beberapa seri, dan tak mungkin Karin dibawa pulang pergi Jakarta-Singapura seperti beberapa bulan lalu. Tentu karena tak ingin mempertaruhkan kesehatan Karin, karena kelelahan pulang pergi Jakarta-Singapura.

Apabila dilakukan di Jakarta, mereka masih mengawatirkan tentang prosedur yang tidak akan sama dengan apa yang sudah dilakukan terhadap Karin selama ia menjalani perawatan di Singapura. Dan setelah melakukan kontak dengan salah satu rumah sakit ternama dan besar di Jakarta, malahan rumah sakit itu tidak memberikan respon positif terhadap permintaan Yudha. Bukan tidak ada respon tepatnya, tapi mencla-mencle, menye-menye antara berani melakukan tindakan tersebut, sesuai dengan prosedur yang telah dilakukan di Singapura atau tidak.

Akhirnya kami pulang ke Indonesia, pada hari yang telah dijadwalkan.

Keesokan harinya adalah perayaan tri hari suci, umat Katholik. Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah, yang menyibukkanku dengan kegiatan ke gereja, dan menyebabkan aku tak sempat menghubungi Yudha. Kecuali saat Malam Paskah, aku menyempatkan diri untuk mengiriminya pesan singkat untuk mengucapkan selamat paskah, namun tak ada jawaban.

Beberapa hari kemudian, Yudha yang meneleponku, dan dia memberikan kabar terbaru tentang Karin.

Ternyata Karin saat itu hingga kini, berada di Medan, di rumahnya, bersama Tante Titung, Kak Maya (Kakak ipar Karin), Bang Nino dan keluarganya yang lain. Alasannya mengapa Karin dibawa ke Medan, karena rencana pengobatan selanjutnya akan dilakukan di Penang, Malaysia, di rumah sakit yang masih satu grup dengan Mount Elizabeth di Singapura, tapi dengan biaya yang lebih murah. Termasuk urusan fiskal untuk suster yang merawat Karin. Namun alasan terpenting adalah jarak antara Medan dan Penang tidak jauh, hanya memakan waktu penerbangan sekitar 30 menit, sehingga tidak akan membuat Karin lelah dan beresiko memperburuk kesehatannya yang saat ini semakin hari semakin membaik.

Sepertinya saat ini, seri kemoterapi yang harus dijalani Karin sudah hampir selesai.

Senang rasanya waktu Yudha mengatakan bahwa sekarang Karin tak perlu dibantu banyak untuk berdiri dan berjalan. Ia sudah bisa berjalan tanpa harus dipegangi oleh orang lain.

Selain itu, nada bicara Karin juga sudah lebih ekspresif, walaupun aku sendiri belum sempat meneleponnya semenjak kami pulang dari Singapura. Namun aku sangat berharap ekspresinya dalam mengungkapkan semua rasa, akan jauh lebih ekspresif jika dibandingkan dengan saat aku menemaninya ke Singapura yang pertama kali.

Begitulah teman-teman kondisi perkembangannya Karin.

Sekali lagi, aku pribadi, juga atas nama Yudha, Karin, Bang Cyrill dan keluarga besar mereka, mengucapkan terima kasih banyak untuk semua yang telah memberikan perhatian atas perkembangan kesehatannya Karin, terutama untuk doa yang dipanjatkan untuknya. Berkat doa kalian, dari hari ke hari Karin menunjukkan perkembangan kesehatan yang bagus.

Dan melalui tulisanku ini, aku juga masih meminta doa kalian untuknya. Akan lebih senang jika kondisi Karin bisa seperti semula. AMIEN.

—-

We all love you ‘Rin!

Menu Hari Ini…

Sunday, April 5th, 2009

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam 40 menit, akhirnya aku, Karin dan Yudha tiba di Singapura. Perut kami sudah lapar. Apalagi penerbangan kami hari ini terlambat 30 menit dari waktu yang ditentukan. Sampai di Singapura baru pukul 14.20 waktu setempat. Rasanya tak mungkin lagi jika perut kami menunggu lebih lama untuk diisi makanan. Akhirnya Yudha memutuskan untuk membeli makanan di Coffee Bean yang terletak di Mount Elizabeth Hospital.

Selama aku menyantap makan siangku itu, aku mulai memikirkan menu makan malam kami hari ini, “Masak apa ya, buat makan malam?”, akhirnya aku putuskan masak Sup Salmon. “Terdengar canggih ya?” Setelah selesai makan, aku berangkat ke Pusat Perbelanjaan Paragon untuk berbelanja.

Belanjalah aku di sana. Ikan salmon, bumbu-bumbu, sayuran dan bahan-bahan lain yang menurutku menjadi bahan dasar sup sudah aku masukkan semua ke dalam keranjang belanjaan.

“Gila ya, Indonesia emang surga belanja makanan. Brokoli 5 dolar? Dah gila apa ya? Di Jakarta 10 rebu dah gede.”

Namun sesampainya di kos, aku menelepon mama, apakah bahan-bahan yang aku beli tadi sudah lengkap atau belum.

Ternyata memasak sup ayam tidak sama dengan memasak sup ikan salmon. Mengingat ikan salmon ini tetap berbau amis saat mentahnya. Dan itu harus dihilangkan dengan jahe, serai, jeruk, daun kemangi. Tiga bahan itu tidak termasuk bahan yang aku beli tadi. Terpaksalah aku berangkat ke supermarket lagi untuk kembali berbelanja.

“Anjrit, serai dua batang kecil gini, 50 sen.”

Dan sepulangnya aku dari sana, aku mulai mengolah bahan-bahan yang aku beli tadi. Seperti biasa aku hanya memasukkan semua bahan ke dalam panci dan berbekal indera pengecapku. Ini dia resepnya:

1. Daun Bawang
2. Daun Kemangi (atau jika tidak ada bisa menggunakan Basil Leaf)
3. Daun Seledri
4. Tomat
5. Bawang merah
6. Bawang putih
7. Bawang bombay
8. Serai (Lemon Grass)
9. Jahe di potong dan dimemarkan
10. Jeruk nipis
11. Brokoli
12. Jamur Champignon
13. Jamur Enoki
14. Ikan Salmon
15. Knorr seasoning powder, tanpa MSG
16. Kikkoman
17. Garam secukupnya

Cara mengolahnya juga tak sulit, dan tidak lama. Malahan lebih lama memotong-motong bahan masakan ini. Semua bahan dipotong-potong dengan ukuran sesuai keinginan. Ikan salmon yang menjadi bahan utama masakan ini, juga di potong-potong menjadi beberapa bagian, lalu lumuri perasan jeruk nipis di atasnya, dan taburi garam secukupnya, hingga rata dan diamkan sembari kamu menyiapkan bahan lain.

Sisa bahan-bahan yang sudah disiapkan, tinggal dimasukkan ke dalam air. Jujur, urutan memasukkannya pun aku sesuaikan dengan feeling-ku sendiri, alias sesuka hati. Namun tadi yang aku lakukan pertama kali adalah memasukkan daun bawang, tomat, bawang merah, bawang putih dan bawang bombay. Tambahkan Knorr seasoning powder, aduk, tambahkan Kikkoman dan garam secukupnya, sesuai dengan rasa indera pengecapmu.

Lalu, yang lainnya aku benar-benar lupa urutan memasukkannya. Semua suka-suka hati, hingga baru aku sadari semua sayuran dan bumbu sudah masuk ke dalam panci. Jangan lupa untuk terus merasakan kuah sup. Coba rasakan kira-kira masih kurang apa, dan tinggal tambahkan yang kurang itu.

Setelah kuah sup mendidih, baru masukkan daging ikan salmon yang sudah dilumuri perasan jeruk nipis dan garam tadi. Diamkan beberapa saat, hingga daging salmon bewarna merah muda. Jangan terlalu lama merebus daging ikan salmon, karena dagingnya bisa hancur.

Sebelum masakan ini aku berikan pada “juru cicip”, aku mencobanya terlebih dulu.

“Hah, enak juga masakan gue. Padahal baru pertama niy masak sup ginian,” pikirku tadi.

Saat itu bersamaan dengan Yudha yang masuk ke dapur untuk kesekiankalinya.

“Buset, masak beneran lu? Emang lu bisa masak?”

“Nape lu dah laper? Bolak-balik aja lu. Enak Dha, ntar lu tinggal makan dah.”

“Iye, wangi ya.”

Dan enaknya masakan ini disetujui oleh satu “juru cicip” utama, Karin, mulai suapan pertama aku berikan padanya. Bahkan saat Yudha masih menyantap makanannya, Karin meminta tambah sup-nya saja tanpa nasi. Setelah aku selesai menyuapinya, giliran aku menyantap hasil masakanku sendiri.

—-

“Nyam-nyam, masih ada sisanya untuk besok pagi.”

Konseling dan Observasi di Malam Minggu…

Wednesday, March 18th, 2009

Sabtu lalu, 14 Maret 2009, sahabatku tercinta, Karin, masih terbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Kebetulan karena tempat ia dirawat tak jauh dari rumahku, aku sempatkan diri sesering mungkin menengoknya, termasuk hari Sabtu lalu.

Rencananya Sabtu pagi, aku akan bertemu dengan Shanty di rumah sakit, tetapi ternyata kami berdua, harus membereskan “kapal pecah” kami masing-masing. Kamarku belum sempat aku bereskan sejak aku pulang dari Singapura, dan Shanty, baru saja memecat pembantu rumah tangganya, sehingga apartemennya juga tidak ada yang membersihkan. Rencana pertemuan itu pun gagal, karena hingga pukul 12.00, urusan beres-beres kamarku belum juga selesai. Akhirnya Shanty memutuskan pergi duluan menengok Karin, dan aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sore hari. Siang itu aku mengirimkan pesan singkat ke Yudha…

“Dha, sore kau ke rumah sakit khan? Sekalian ke gereja Blok B, Barito situ nyok.”

“Okeh.”

Rencana itu pun berubah, Yudha ternyata masih ada urusan yang menyebabkan pukul 17.30, ia belum bisa sampai di gereja. Akhirnya aku ke gereja sendirian.

Misa sore itu berakhir sekitar pukul 18.40, dan aku pun langsung menuju ke rumah sakit. Seingatku, saat itu cuma ada Bu Siti yang menemani Karin. Mungkin Yudha sedang ke bawah, dan Tante Titung sedang istirahat di rumah, setelah semalaman menjaga Karin di rumah sakit. Lalu aku langsung menyapa dan mencoba mengobrol dengan Karin. Namun obrolan kami tak lama, karena Karin sudah mengantuk dan tertidur.

Tak lama kemudian, Yudha datang, dengan wajah lelahnya.

“Pa, kabar lu? Kayaknya elo perlu juga ditanyain kabar lu sendiri.”

Padahal baru hari Jumatnya, terakhir kali aku bertemu dengan Yudha. Namun hari Jumat itu, aku lebih banyak mengobrol dengan mamanya Karin, Tante Titung, yang baru tiba dari Medan.

“Ya begitu lah. Capekh, kesel, sama yang ngga seharusnya terjadi.”

Lalu kami berdua sedikit mengobrol, seputar perkembangan kesehatan Karin dan juga hal lain. Ya, sebagai calon Psikolog, aku mencoba untuk sedikit mempraktikkan apa yang aku pelajari selama kuliah. Dengan harapan, aku dapat memberikan dukungan sosial untuk Karin juga keluarganya, termasuk Yudha. Obrolan itu, kami tutup dengan doa.

Selesai kami berdoa, Karin sedikit terbangun. Kami melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 20.15, dan kami belum makan malam. Akhirnya kami pamit Karin untuk mencari makan malam.

“Rin, kita nyari makan dulu ya. Ntar balik lagi.”

Aku kira, makan malam hanya akan di daerah seputar rumah sakit, ternyata saat itu Yudha perlu ke apotek untuk mencari masker tertentu, yang tidak dijual di rumah sakit. Maklumlah, Bapak ini lagi flu saat itu. Akhirnya kami memutuskan juga untuk sekalian mencari makan malam, di luar area rumah sakit. Lagi pula bosan juga sepertinya makan makanan yang itu-itu saja.

Setelah urusan apotek beres, giliran memutuskan tempat makan. Tadinya, kami akan makan di Bubur Barito, tetapi mengingat tempatnya tepat di pinggir jalan, hanya tertutup tenda, dan sepertinya urusan higienis makanan itu perlu dipertanyakan. Apalagi mengingat kami harus kembali ke rumah sakit, dan kami pun perlu menjaga kesehatan kami, agar dapat menjaga Karin dengan baik, maka kami akhirnya memutuskan untuk makan malam di Izzi Pizza, yang letaknya persis di samping Gereja Santo Yohanes Penginjil, Blok B.

Harapan akan menemukan Izzi Pizza yang sepi, karena saat itu sudah pukul 21.00, yang berarti jam makan malam sudah lewat, pupus sudah, sesaat aku membuka pintu masuk ke restoran itu.

“Hayaaaahh, ada party ABG.”

Tak ada pelayan yang menyambut kedatangan kami. Sepertinya mereka sibuk mengurusi anak-anak kecil itu berpesta.

Akhirnya ada pelayan yang melihat kami berdua, saat kami sedang sedikit bingung memilih tempat duduk.

“Sial niy ABG, berisik banget.”

Setelah selesai memesan makanan, aku dan Yudha sibuk memerhatikan tingkah anak-anak kecil itu, dan mulailah kami mengeluarkan komentar-komentar seputar apa yang kami lihat.

“Hmmm, masa-masa indah idup.”

“Uember.”

“Paling mereka sekitar 15-16 tahunan kali ya.”

“Gak mikir idup.”

“Cuma sibuk mikirin gebetan, pacar, putus. Mau jalan kemana. Ulangan tinggal nyontek. PR tinggal ngerjain di sekolah.”

“Gak ada sakit.”

“Duit tinggal minta. Pergi tinggal minta anter jemput.”

“Gak mikir idup besok harus gimana.”

“Buset tuch rok pendek amat, nungging dikit pantat nongol tuch. Kagak dingin apa ya. Kalo gue pake rok sependek itu…”

“Dah di habeg ama bapak lu ye.”

“Yoi, dah kagak boleh keluar rumah gue. Kecuali perginya ama mereka. Baru tuch boleh pake rok mini segitu. Itu pun kena interogasi dulu.”

“Belum ngerasain susahnya idup ya mereka.”

“Yupe. By the way kok cewek semua ya?”

“Anak Tarki kali tuh.”

“Or Sanur.”

“Tapi kalo Tarki, khan baru SMAnya yang cewek semua. Ini kok masih kecil-kecil amat. Trus dandannya buset dah, tuir abis. Kesian amat jadi pada keliatan tua.”

Semua itu disempurnakan dengan musik yang sangat keras dari meja disc jockey.

“Duhhh…berisik amat.”

“Nih, musiknya jadi bikin orang ngomongnya harus treak-treak ya.”

“Yoi.”

Setelah makanan yang kami pesan tiba, kami sedikit mengalihkan perhatian dari anak-anak kecil itu. Dan memang, kami berdua harus berbicara dengan setengah berteriak.

Namun aku tak bisa memalingkan pandanganku dari anak-anak itu terlalu lama. Dan kembali mengomentari mereka.

“Pada ngga kepikiran pulang apa ya mereka. Jam berapa sih nih?”

“Masih jam segini 21.30, ‘Cha.”

“Gak, gue berharap aja, mereka cepet pulang, biar ga terlalu berisik.”

Namun apa yang aku harapkan itu tidak kunjung tiba, bahkan hingga kami selesai makan.

Dan setelah kami berhasil melepaskan diri dari hingar bingar itu, kami masih disuguhi satu hal lagi, yaitu antrian mobil para orang tua atau supir yang menjemput bocah-bocah kecil itu, tepat di depan restoran. Ada yang menunggu sambil menjalankan mobilnya secara perlahan karena malas parkir, ada pula yang berhenti sambil melepaskan pandangan sejauh mungkin, yang berarti mereka belum berhasil melihat anaknya, dan bahkan ada yang tak segan-segan membunyikan klakson mobil mereka.

“Hmmm, 4.5 tahun kuliah, ada hasilnya juga ya. Hahahahhahah..thanks Psychology!!”

Day 3 With Karin In Singapore…

Saturday, March 7th, 2009

“Haaaaayyyaaahh…shit udah setengah delapan.”

Kebiasaanku di Jakarta ternyata terbawa, yaitu mendengar alarm ponsel tepat pada jam yang aku rencanakan untuk bangun tidur, beranjak sebentar mencari benda dengan bunyi menjengkelkan itu, dan menekan pilihan “dismiss” lalu kembali tidur.

“Waduh-waduh, kesiangan gue, padahal gue janji ama Bu Siti mau gantiin dia jam tujuh.”

Tanpa pikir panjang, aku pun loncat dari tempat tidur, menuju dapur dan menyiapkan makan pagi untukku dan Bu Siti.

Setelah selesai masak, aku langsung menyantap sarapanku, karena aku tak terbiasa lagi meninggalkan rumah tanpa sarapan. Tepat setelah suapan terakhir, aku langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi dengan segera.

“Duh, brengsek, belum packing lagi gue. Kok koper jadi penuh gini ya? Kagak belanja banyak juga gue. Baju kotor nih pasti & anduk yang sedikit basah.”

Setelah koperku sendiri beres, aku ke tempat Mbak Shanti, pengurus rumah kost, untuk melakukan pembayaran. Setelah beres, aku ke rumah sakit dengan sedikit berlari. Sebelum ke kamar Karin, aku mampir ke kafetaria di lantai bawah, membelikan nasi untuk Bu Siti, karena tadi aku hanya menggado lauk yang aku masak sendiri.

Sesampainya aku di kamar Karin, ternyata Nyonya Besar sedang disuapi oleh Bu Siti, dan sudah mandi pagi.

“Halo Sayang, hehehhee maap ya gue ketiduran, terus tadi packingnya bolak-balik buka koper, ada aja yang masih ketinggalan di luar.”

Karin hanya melirik-lirik ke arahku, sambil mengunyah makanan yang masih ada di dalam mulutnya.

Aku baru saja meletakkan ranselku di atas kursi, hingga salah satu perawat rumah sakit datang…

“Your meal order for Saturday?”

“We are going to check out this afternoon.”

“Oh, okay.”

Tak berapa lama Karin malah yang bertanya padaku…

“Jadi kita check out hari ini?”

“Yupe. Seneng gak?”

“Terus elo pindah ke mana?”

“Gue pindah ke mana? Ya ikut pulanglah ama elo. Atau gue tinggal aja? Elo pulang ama Bu Siti aja apa? Tapi gue nanti minta duit belanja ama Yudha, gimana?”

“Enak aja.”

“Ah, pelit loe.”

Lalu Bu Siti menimpali…

“Apa abis ini kita shopping aja ya Bu? Ibu sama Mbak Ocha pergi shopping di depan.”

“Mau Rin, kita belanja-belanja aja. Masakh ke Singapore kita kagak belanja-belanja.”

“Gak, ah, gue mau pulang aja.”

“Ntar ya, kau masih ada kemo 1 lagi.”

Kemudian, aku minta Bu Siti untuk kembali ke kost, untuk makan pagi dan packing. Dan seperti biasa, aku menemani Karin, dan aku ditemani laptopku. Aku lihat si Karin sudah tidur saat itu…

Aku jadi teringat, kemarin, Kamis, 5 Maret 2009, saat aku sedang membuka-buka laptopku tiba-tiba Karin bertanya padaku…

“Lagi main apa siy loe?”

“Buka Facebook. Mau buka punya kau? Aku telepon Yudha dulu ya, tanya alamat emailmu and passwordnya.”
.
Namun sayangnya, saat itu teleponku ke Yudha, tak diangkat.

“Ya, Rin, Yudha mungkin lagi ngga bisa angkat telepon. Nanti ya. Kita nyanyi-nyanyi aja apa?”

Tak tahu mengapa, dari sekian banyak lagu yang ada di laptopku, aku memilih untuk memutar That’s What Friends Are For…

Aku tak sanggup bernyanyi, akhirnya…

“Tau ngga Rin, ini lagu apa? Siapa yang nyanyi?”

Tak seperti hari pertama, saatku menanyakan siapa yang menyanyikan lagu Are You Strong Enough To Be My Man, Karin langsung memberi jawaban. Mungkin Karin pun tak kuat untuk menjawab.

Sumpah aku harap lagu itu segera berakhir, tetapi rasanya lama sekali. Beberapa kali aku coba untuk ikut menyanyikan. Namun beberapa kali pula aku tersendat. Dan aku tak mau Karin tahu hal itu. Untungnya sebelum lagu itu berakhir aku sudah bisa mengontrol emosi lagi, bisa menyanyikan untuknya, dan tetap dengan senyum lebar untuk Karin.

Kembali ke hari ke tigaku bersama Karin…

Tak tahu berapa lama aku telah sibuk mengutak-atik laptopku, hingga saatku melihat ke arah Karin, ternyata Karin sudah kembali bangun.

“Cut, ngapain bengong. Cengok gituh?”

Dia tetap diam…

“Woi, nyaut napa Neng, ngapain bengong?”

“Ya kalo bangun pagi itu pasti cengok dulu.”

“Ah, elu ngga usah bangun pagi aja cengok mulukh.”

Hmmm…mungkin karena efek obat kemoterapi, ia jadi sedikit lebih banyak menerawang. Dan tak berapa lama kemudian, ia kembali tertidur.

Tanpa kusadari, Bu Siti sudah berada di depanku lagi, saat ku masih sibuk dengan berinternet ria.

“Loh, kok belum di kemo? Ini dah jam 12.”

“Belum, masih belum jam 12, bentar lagi aku tanya lah.”

Dan sekitar 15 menit kemudian aku berjalan ke nurse station, yang ada di bangsal kamar Karin.

“It’s already 12 o’clock. When the last chemo will begin?”

“1.30 my dear”

“1.30? No, we have to check out from here atleast 2 pm. Our flight is at 5pm.”

“It is written here at 1.30. Does the doctor know that you are going to leave?”

“Ya, i already consulted to the doctor yesterday and he told me that last chemo will be started at 12 or atleast 12.30.”

“You should call the clinic.”

“No, why don’t you do that? Call the doctor.”

Dan sepertinya perawat yang aku suruh menelepon ke klinik dokter yang merawat Karin, dimarahi oleh sang dokter.

“Okay-okay, I’ll run it now. I’m coming.”

“Good, thanks.”

Aku pun mulai sedikit cemas dan panik. Akhirnya aku memutuskan untuk ke klinik dokter tersebut, bukan untuk menanyakan masalah kemo, tetapi menanyakan injeksi yang harus dibawa ke Jakarta, untuk diberikan pada Karin. Dan lebih panik lagi, saat ke klinik, ternyata harga injeksi-injeksi tersebut lebih dari S$ 1000, dan aku tahu, di rekeningku hanya ada sekitar S$ 500, berarti aku harus menunggu sisa deposit dari rumah sakit. Tambah panik, karena Yudha tak bisa ditelepon. Tambah semakin panik dan bingung, saat aku kembali ke kamar, dan menanyakan pada perawat, apakah urusan pembayaran sudah bisa dilakukan sekarang. Since mereka sedang melakukan kemo terakhir, dan aku asumsikan mereka sudah bisa tahu fasilitas dan perlengkapan rumah sakit apa saja yang akan digunakan

Aku lihat jam di dinding di depan nurse station, sudah menunjukkan pukul 12.30, dan kemoterapi baru akan dimulai.

Cairan intra vena kemoterapi itu, sudah berjalan sempurna pukul 12.40.

“Damn, satu jam dari sekarang means 13.40, belum lagi bayar-bayaran, ambil suntikan, belom nunggu duit deposit keluar buat bayar klinik. Belum nyari taksi, balik ke kost ambil koper.”

Di tengah kepanikanku, dan mondar-mandirku di koridor di depan kamar Karin, aku lihat Dokter Pritam datang. Ia langsung mendatangiku, aku lupa ia berbicara apa, hanya bagian ini yang aku ingat…

“Last night, a nurse called me, and said that Karin got fever. Don’t forget to check her temperature, and if it happens often, take out that thing in her shoulder.”

(Thing di sini, hehehhehe..aku tak tahu apa namanya dalam bahasa kedokteran, namun benda ini adalah penghubung antara vena dan selang cairan intra vena. Benda ini dimasukkan ke dalam bahu kiri Karin, dan di bagian luar, dilengkapi dengan alat kecil seperti cabang-cabang untuk saluran selang infus, beserta tutupnya. Agar mudahnya, benda yang berada di luar itu, seperti keran pengatur aliran cairan intra vena. Tujuan dipasangnya benda ini adalah untuk memudahkan proses kemoterapi, sehingga setiap proses kemoterapi, tangan Karin akan terbebas dari tusukan-tusukan jarum infus, yang tentu lebih menyakitkan, karena berulang-ulang.)

Lalu setelah itu dokter juga menanyakan hal ini…

“Did my girl at the clinic already give you lab form for next week?”

“Not yet.”

“And the injection?”

“I already came to your clinic, but I guess I have to withdraw money from ATM first.”

“No, no need to pay now, if you have difficulties.”

“Can be done next week?”

“Ya. Off course.”

“Okay, appreciate it.”

“Don’t worry.”

Lalu ia menelepon ke kliniknya untuk meminta perawatnya menyiapkan surat pengantar ke laboratorium, untuk minggu depan.

Pikirku saat itu “Pheewwhh, berkurang satu kepanikan.”

Saat itu aku lihat ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul 13.40. Lalu dokter Pritam, mendatangi Karin, “menutup” semua proses kemoterapi yang ia jalani minggu ini, kembali memeriksa Karin.

Aku semakin panik, karena Karin baru selesai dibersihkan, selesai digantikan pakaian, pukul 14.15. Dan saat itu pula aku mendatangi nurse station, dan kembali mereka belum selesai mengurus tagihan Karin. Salah satu perawat di sana mengatakan…

“You go to cashier lah. Wait there.”

Aku pun langsung ke kamar Karin…

“Bu Siti, ketemu di lobi ya, siapin Karin.”

Aku mengangkat ranselku, keluar kamar dan sedikit berlari ke bawah untuk mengantri di kasir. Tiba giliranku untuk dipanggil.

“607.”

“Room number 5539, Karin Taramiranti Nasution.”

“Tunggu sebentar.”

Pikirku saat itu “Wah si India ini bisa Melayu, lumayan.”

“We still process it. You come back here in 15 or 20 minutes.”

“We have to catch the plane, should be at Changi at 3.30.”

“Okay, I’ll do my best. Please be seated, and wait, we’ll call you.”

“I’ll go to the clinic first.”

Aku pun berlari ke lantai 12, ke tempat klinik Dokter Pritam. Ternyata injeksi dan surat pengantar laboratorium sudah mereka siapkan. Dan aku mengatakan pada perawat di sana…

“Doctor Pritam agreed that the payment will be done next week.”

“No, no, no problem. By the way, are u a nurse?”

“Me? No. Karin has her own nurse. She can do the injection.”

“Ok, and you are?”

“I’m her friend, sister also.”

Cut, GR dikit ngga papa khan? Huahahahah…

Kembali aku ke kasir setelah urusan di klinik beres.

Sampai sana aku melihat Bu Siti dan Karin dengan “kendaraan” canggihnya itu yaitu kursi roda, sudah berada di lobi rumah sakit, yang letaknya tak jauh dari kasir.

“Mbak Ocha, kemana siy, jadinya khan yang tanda tangan di kamar khan aku.”

“Aku urus pembayaran lah Bu, aku khan dah bilang tadi. Tadi susternya juga yang nyuruh ke bawah dulu.”

Aku lihat dari luar ruang kasir, si India yang tadi membantu menyiapkan tagihan kamar Karin belum terlihat. Lalu aku mencoba bertanya dengan resepsionis di depannya.

“How long does it take from here to Changi?”

“What time is your flight?”

“5 pm. Means i should be there at 3.30 atleast, and now already 2.45.”

“You should be hurry. You can get stuck in jammed around 3.”

“I know.”

Akhirnya si India itu sudah muncul, dan masih belum membawa selembar kertas pun, sampai aku sedikit menyela orang lain. Ia melihatku, dan kembali masuk ke ruangan di belakang tembok ruang kasir itu.

“The full bill, hasn’t been finished.”

“What does it mean?”

“You can only know the total, but not yet the details.”

Dan ia memberikan kwitansi yang hanya selembar, tanpa perincian obat-obatan dan fasilitas apa saja yang digunakan untuk Karin. Begitu aku lihat kwitansi itu, ternyata deposit yang diberikan Yudha, lebih dari total biaya rumah sakit.

“And the refund?”

“We will send out a check undername the patient, to her address.”

“So we will receive check?”

“Ya, don’t worry, there’s no expired date for the check.”

“Okay.”

Namun aku mencium ada ketidakberesan tentang refund ini. Dan aku mencoba kembali menelepon Yudha. Sedikit kesal dengan Sing Tel saat itu, yang terus-menerus gagal melakukan panggilan.

Akhirnya aku memutuskan segera mencari taksi, ke kost mengambil koper, dan langsung ke Bandara.

Di tengah perjalanan menuju Bandara, Yudha menelepon.

“Gimana aman?”

“Aman, dah jalan ke Changi. Tapi ‘Dha, biasanya refundnya pake check?”

“Hah, ngga, mereka harus ngasih duit.”

“Brengsek juga tuch kasir. Dia bilang refundnya pake check bakal kirim ke alamat loe. Tadi gue telepon elu kagak nyambung-nyambung. Sing Tel lagi bego tadi.”

“Ya udah gue telp Mount Elizabeth lah.”

“Sorry ya Dha, bisa diurus khan, gue tadi hampir telat, ini aja macet.”

“Ngga papa.”

Sedikit cemas aku akan hal ini, karena jumlah refund cukup besar. Dan hal ini mungkin tertangkap oleh Karin.

“Elo tadi beli apa sih? Kok heboh.”

“Gak, kemaren khan pas elo masuk, gue narokh deposit minimum ke rumah sakit, tapi biaya berobat loe jauh di bawah itu. Nah mereka bilang refund pake check. Gue tau ada yang ngga beres tuch. Tapi tadi gue telepon Yudha, lagi ngga bisa nyambung, akhirnya aku putusin cabut dari rumah sakit, ntar kalo ngga kita ngga bisa pulang, ketinggalan pesawat.

Akhirnya kami sampai di Bandar Udara Internasional Changi pukul 15.35. Lucunya sebelum turun, Karin bertanya padaku…

“Ada duit buat bayar taksi?”

“Ada, Sayang.”

Urusan lapor masuk pesawat sedikit lebih lama, karena aku membawa Karin yang sedang sakit. Dan semua urusan lapor masuk pesawat selesai pukul 15.51, tepat 9 menit sebelum masuk ke pesawat, yaitu pukul 16.00. Belum lagi pintu masuk ke pesawat kami adalah D38, terletak di ujung terminal 1. Tambah sempurna, saat aku lihat di pintu masuk tadi, ada petunjuk arah pintu masuk pesawat D30-D49 ke arah kanan, estimasi dari petunjuk arah tadi ke pintu paling jauh adalah 8 menit. Ditambah, karena Karin di kursi roda, maka kami akan didahulukan masuk ke dalam pesawat. Perfecto!!!

Akhirnya aku bisa tenang saat kami bertiga sudah duduk manis di dalam pesawat.

“Kita pulang ya Rin? By the way pulang kemana sih?”

“Ke Jakarta.”

“Tau aja loh.”

Sepanjang perjalanan Karin lebih sering tidur. Begitu sampai di Jakarta, aku sudah lega, senang, terharu, ingin meledakkan tangisku juga, karena terus terang aku juga sedih melihat Karin dengan kondisi seperti itu sekarang. Namun sangat-sangat tidak mungkin aku menampilkan kesedihanku apalagi menangis di depannya. Ada bagusnya juga, aku sudah terlatih untuk urusan-urusan seperti itu. Play tough girl hehehehehe…

Begitu di depan pintu keluar, aku sudah melihat Yudha dan Cyrill.

“Dha, gue langsung pulang ya. Naik taksi aja. Lebih deket dari sini ke rumah gue.”

“Ke rumah gue dulu lah.”

“Ntar gue pulang gimana?”

“Di anter Odang.”

“Ya udah.”

Akhirnya aku ikut mengantarkan Karin sampai ke Rawamangun.

Sesampainya di rumah, Karin langsung di dudukkan di kursi ruang tamu oleh Bu Siti. Mbak Nur, pembantunya Karin yang juga aku kenal, sudah menyiapkan teh hangat untuk aku. Setelah selesai menyeruput teh hangat itu, aku melihat Bu Siti masih sibuk menyiapkan makan malam untuk Karin, dan saat itu aku lihat Karin masih memakai sepatunya. Aku beranjak ke arahnya, dan duduk di lantai, sambil membukakan sneakers yang ia pakai.

Setelah aku selesai melepaskan sepatunya, Karin membuatku terharu…

“Thank you ya, Cha.”

“Welcome. Capekh ngga?”

“Ya, capekh lah gila.”

“Elo khan manusia perkasa. Capekh juga loe.”

“Capekh lah.”

“Oooooo.”

Yudha dan Mamanya menawariku makan malam, dan Bu Siti pun sudah siap untuk menyuapi Karin.

Aku, duduk di dekat Yudha dan Cyrill, saat makan. Setelah aku selesai makan, aku menghampiri Karin, dan mencium pipinya.

“Ih, kok bau apek. Yang apek elo apa gue ya?”

“Elo lah.”

“Bukan elo Rin?”

“Bukan.”

Lalu aku berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Dan kembali ke tempat Karin. Kembali mengobrol dengannya. Kali ini aku genggam tangannya, sambil aku cium. Dan aku tambah terharu saat Karin membalas mencium tanganku. Sumpah, kalo aku bisa teriak menangis saat itu juga, akan aku lakukan, benar-benar kali ini hampir tak tertahankan. Namun tetap aku jaga emosi ini. Damn, it’s hard..very hard…

Aku terus menggenggam tangannya, dan meneruskan obrolanku…

“Rin, 3 hari ini gue seneng banget. Kayak waktu gue nginep di Cibubur itu. Inget khan loe? Kita karaokean, main kartu di Rumah Mas Wawan sampe pagi. Dan setelah itu elo bilang Cibubur is a fantasy land for me, and Your PINTU is always open for me. Terus liat tuch anak loe, Cyrill. Inget ngga waktu gue make tempat tidurnya terus dia ngambeg? Elu usaha banget biar dia ga rewel lagi, dengan bacain dia buku cerita.”

“Cerita apa.”

“Gue lupa. Elo mau donks bisa main sama dia lagi, langkah elu untuk ke sana tinggal deket lagi kok. And you know what gue lakuin ini semua karena gue cinta ama elo, love you, gue sayang elo. 3 hari gue ngga capekh sama sekali. So next time gue dateng ke sini lagi, senyumnya elo jangan ilang ya, i only need that. Terus next month Rully nikah, kau dateng khan?”

“Jadi dia nikah.”

“Jadi lah.”

“Sama siapa.”

“Jangan sok ngga tau.”, yang kemudian aku susul dengan menyebutkan nama calon istri Rully.

“Tanggal berapa?”

“Akhir bulan.”

“Iya, waktu itu pembokat gue di rumah juga bilang, ada temen gue mau nikah.”

“He? Pembokat loe tau dari mana? Emang Rully pernah ke rumah loe ya?”

“Orang rumah gue cepet akrab sama orang.”

“Ooooo, kayak elo khan.”

Lalu Karin meraih gelas yang aku pegang.

“Eh, jangan GR, gue gak ngambilin minum buat elo. Gelas lo yang di meja tuch. Ambil, pegang ndiri, jangan males gerakin badan loe.”

Kemudian aku mencium pipi kiri Karin, tangannya masih aku genggam, dan aku tatap matanya…

“Hmmm bau lu.”

“Ya iya lah, belom mandi dari kemaren.”

“Sok tau…sok pikun khan loe, jelas-jelas tadi pagi elo dimandiin di rumah sakit.”

Karin terus menatapku, dan aku tetap menatapnya, dan menggenggam tangannya. Dan terkadang aku memeletkan lidah ke arahnya.

“Eh iya, Mas Wawan belum bisa nengok kamu ya. Dia sedang menggila dengan urusan kantornya. Sabar ya. Nanti pasti dia nyempetin nengok kau. Terus abis ini khan gue pulang, elo pasti bakal kangen ama gue. Jangan boong.”

“Pulangnya abis gue selesai ngunyah.”

“Iya, gue tungguin elo selese makan.”

Aku lihat makanannya juga sudah habis. Kebetulan aku membawa Air Suci Lourdes, aku tuangkan sedikit di tutup botol Air Suci itu, aku tuangkan ke tanganku, dan aku oleskan ke wajahnya.

“Ini biar elo ngga semakin gila ya, Rin. Biar normal dikit. Terus sisanya diminum nih.”

Ia pun langsung menghabiskan hampir satu botol kecil air itu.

“Oh gak ding, nanti kalo gue pulang mudah-mudahan elo yang semakin gila. Gue yang semakin normal. Gue khan paling normal ya Rin, di antara temen-temen loe and elo?”

Tau tidak teman-teman, apa yang Karin lakukan? Knock on wood…seketika aku ngakak, dan Karin melihatku dengan tampang pasrah tanpa ekspresi dan menghela napas 10 ton, lalu ia berbicara padaku…

“He? Tunggu, gimana?”

“Gue yang normal, elo yang gila.”

“Gue dari dulu normal.”

“Menurut elo iye normal. Rin, mungkin sekarang elo agak kesel kali, elo biasanya kemana-mana sendiri, apa-apa mandiri banget, dan sekarang apa-apa harus tergantung sama orang lain. Tergantung sama orang bukan hal buruk juga loh. Sekali-kali kamu emang harus istirahat, dan sekali-kali lah kita bikin repot orang lain, jangan kita muluh yang direpotin, hehehhehe. Kamu lagi diminta istirahat sebentar, leyeh-leyeh ama Tuhan, jadi Ratu Sejagad, apa-apa diurusin, karena untuk jadi kuat lagi setelah sakitmu kemarin emang kayak gini. Prosesnya gini sayang, kayak bayi aja, saat persiapannya udah ready untuk jalan, berdiri, dan lari, ia akan bisa. Sekarang tinggal semangat loe ajah kalo gituh. Okay.”

“Okay. Gue mau ke toilet.”

Oh, elo mau ke toilet, bentar gue panggilin Bu Siti. Sekalian gue pamit lah.

“Bener ya, nanti gue ke sini lagi, senyum loe, ketawa loe, semangat loe dah harus lebih gede dari sekarang. Jangan keok.”

“Okay.”

“Sini cium pipi dulu.”

Sebelum aku berpindah mencium pipi kanannya, setelah yang kiri aku cium, dia menghentikan gerakku dengan tangannya, dan mencium pipiku. Senangnya…

Dan aku ulangi mencium pipinya, lalu…

“Cium gue lagi dounks.”

Karin mencium pipiku kembali.

“Terus senyumnya untuk gue mana?”

Dan ia pun tersenyum lebar untukku…

And that’s all my journey, 3 days with Karin…

Doanya jangan lupa ya teman-teman, nanti aku sampaikan salam-salam dari kalian, saat aku bertemu dengannya lagi.

Terima kasih juga atas komentar-komentar yang kalian tulis di note-ku, jadi terharu..hehhehe

Love you all…

-Karin & Ocha-

Day 2 With Karin In Singapore…

Thursday, March 5th, 2009

Alarm dari ponsel yang aku nyalakan sekitar pukul 06.00 pagi, sudah sibuk membangunkanku dengan bunyinya yang laknat itu. Namun tak apalah, pagi ini aku tak menggerutu dan jengkel saat alarm itu berbunyi membangunkanku tiada henti, dan tak kenal lelah. Perbedaan waktu 1 jam, baru terasa saat pagi hari. Ya, ya manusia ini, Ocha adalah manusia paling malas bangun pagi.

Begitu aku buka mata, aku lihat Bu Siti baru saja memasuki kamar. Ternyata ia baru selesai mandi. Dan si nona cantik, Karin, masih terlelap dengan nyenyak.

“Bu Siti, aku masak sarapan dulu ya buat bertiga.”

“Gak kepagian?”

“Gak lah. Biar ngga buru-buru.”

“Ya udah.”

Berangkatlah aku menuju dapur. Menu sarapan yang cukup mudah, tapi tetap tidak mengabaikan asupan gizi untuk Karin, sudah aku pikirkan saat aku berbelanja kemarin malam. Scrambled egg dengan campuran jamur, wortel dan kol. Ya setidaknya lebih banyak sayurnya. Di tengah-tengah aku masak, aku mendengar suara Bu Siti yang sedang memandu Karin berjalan. Aku yakin Bu Siti sedang memandunya untuk menuju kamar mandi, untuk dimandikan.

Pukul 07.00 sarapan sudah siap, dan Karin juga sudah selesai mandi. Tinggal disuapi. Kami bertiga akhirnya menikmati sarapan. Dan karena hanya aku yang belum mandi, 07.30, aku pun pergi mandi, sehingga pukul 08.00 nanti aku dan Bu Siti bisa mengantar Karin untuk tes darah lagi ke laboratorium. Harap-harap cemas dengan hasil pemeriksaan darah kali ini. Kemarin dokter mengatakan jika sel darah putih Karin masih terlalu rendah, kemoterapi akan diundur hari Jumat, yang berarti kami harus menambah 1 hari lagi di Singapura.

Sebelum pergi berangkat, aku mencubit gemas pipinya, seperti sedang menyubit anak bayi, tentu tanpa tenaga. Dan langsung aku memutarbalikkan badan mencari sesuatu di meja. Lalu Bu Siti tiba-tiba teriak, “Hei, kenapa, Bu? Mau apa.”

Sontak aku pun melihat ke belakang.

“Mau apa, Sayang?”

“Sakit, Monyong.”

“Hahhahahah.”

Selesai pemeriksaan laboratorium, kami bertiga kembali ke rumah kost. Pikirku, agar Karin dapat istirahat sembari menunggu hasil pemeriksaan darahnya tadi. Aku melihat ke arah jam di kamar kost, yang sudah menunjukkan pukul 10.00 dan belum ada telepon dari rumah sakit, tentang hasil pemeriksaan darah tadi. Baru saja aku selesai membatin, tiba-tiba ponsel yang ada di tanganku, berbunyi.

“Hah, it’s the girl from Doctor Pritam’s clinic.”

“Yes.”

“Rosa, you already bring Karin to blood test ha?”

“Yupe, already, at 8 a.m. You’ve got the result?”

“No, no, oh wait, already.”

“Is it still low?”

“Ya, but I’d like to ask Doctor Pritam first. So I’ll call you back.”

“Okay.”

Lebih cemas daripada tadi, aku menunggu keputusan dokter. Namun tak berapa lama…

“Rosa, ya, ya, you can go to admission now. The chemo can be proceeded today.”

“Should I go to your clinic after the admission?”

“No, no need, just bring her to the ward.”

“Okay.”

Phewwwhhh Puji Tuhan, kemoterapinya bisa dijalankan hari ini. Melihat di kamar kost, Karin masih tidur dengan nyenyak, aku tak tega membangunkannya. Jadi aku putuskan untuk mengurus administrasi rumah sakit terlebih dahulu, lalu kembali ke kost, baru membawanya untuk opname hari ini.

Akhirnya urusan administrasi selesai, dan Karin sudah berada di kamar pukul 11.40. Aku dan Bu Siti sudah merasa lapar. Namun aku menunggu hingga urusan paper work di kamar beres. Dan pukul 13.30, aku memutuskan untuk ke bawah mencari makan siang. Tentu Karin ditunggui oleh Bu Siti.

Aroma kopi dari Coffee Bean sudah mengundangku sejak kemarin aku tiba, namun aku terus menahannya, hanya karena aku ingin sedikit mengurangi kafein. Ternyata aroma kafein itu tak berhasil menahanku, untuk tak menyentuhnya dalam jangka waktu yang lama. Begitu aku keluar dari elevator, aku langsung berlari menuju Coffee Bean dan memesan secangkir Belgium Chocolate dan Chicago Cheesecake, sebelum aku menuju ke kafetaria di lantai bawah.

Setelah selesai dengan belanjaan makanan. Aku kembali ke kost, untuk menyantap makan siangku dan mengambil ranselku, yang berisi laptop tercinta, dan segera kembali ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang merawat Karin, ternyata baru akan memulai kemoterapi, setelah Karin diberikan cairan intra vena untuk anti muntah selama 1 jam. Dokter menanyakan jam berapa kami harus tiba di Bandara Changi, esok hari, sehingga jadual kemoterapi bisa disesuaikan dengan jadwal penerbangan, tanpa mengganggu proses pengobatannya Karin. Lalu ia memberi instruksi tentang obat-obatan apa saja yang harus ia minum setelah ia tiba di Jakarta nanti.

Setelah dokter selesai dengan seluruh proses awal dari kemoterapi yang harus dijalani oleh Karin, Bu Siti aku minta untuk kembali ke kost, agar ia bisa makan siang. Aku pun duduk manis di sebelah Karin, dengan ditemani laptopku ini.

Ia berkali-kali terbangun dari tidurnya. Sampai ia benar-benar bangun dan membuka matanya lebar-lebar.

“Hai, ngapain bangun?”

“Mau ke toilet.”

“Ngga boleh Sayang, khan lagi kemo. Gak papa ya.”

Lalu ia pun terdiam.

“Hei, gue baru aja buka facebook. Kau dapet salam dari Eline. Masih inget Eline ngga?”

“Masih. Rosaleini Verieta khan?”

“Hahahah, hebat, hebat, kau hebat ingat nama lengkapnya Eline.”

“Terus kalo gue?”

“Anastasia Rosarini.”

“Ma kasih juga masih inget nama lengkap gue. Terus Rin, tadi your mama telepon.”

“Bilang apa?”

“Siapa?”

“Nyokab.”

“Oh, dia nanyain kita besok jadi pulang atau ngga, bakal telat ngga sampai airport, terus terakhir dia bilang kangen sama kau.”

Ia kemudian tertidur kembali. Hingga aku lihat jam, yang sudah menunjukkan pukul 17.00, dan ia sudah terbangun. Tiba-tiba ia bertanya padaku.

“Cyrill demam ngga?”

“Oh, iya agak demam.”

“Berapa Cyrill?”

“Hah? Cyril atau kamu?”

“Cyrill.”

“Oh, aku tadi dengernya kok kamu ya. Cyrill baik-baik aja sayang. Diurus Linda.”

“Soalnya tuch anak ngga tidur sama sekali.”

“Belum tidur?”

“Iya.”

“Tahu dari mana? Tadi elo mimpi?”

“Feeling aja.”

“Oh ya udah, nanti gue tanyain Yudha ya, Bang Cyrill baik-baik aja atau ngga. But I know him Rin, Mamanya aja kuat, anaknya juga pasti kuat-lah. Kau yang ngajarin khan?”

Bu Siti sudah kembali ke rumah sakit, saat aku harus kembali mencari makan malam untuk aku dan Bu Siti, sekitar pukul 19.00. Dan setelah aku selesai memeriksa akun-akun surat elektronikku, aku memutuskan untuk mencari makanan yang ada di pusat perbelanjaan di sepanjang Orchard Road.

“Rin, aku belanja makanan dulu ya. Kamu ditungguin Bu Siti. Don’t step down from bed ya Hon, promise me.”

“Okay. Dagg, ati-ati ya. Jangan lama-lama.”

“Yupe. Nanti aku balik lagi.”

Kali ini aku ke Food Court yang ada di Takashimaya. Lumayan juga ada kedai masakan Indonesia, dan kelihatannya enak, daripada aku pusing mencari menu lainnya, akhirnya aku memutuskan untuk membeli makanan di kedai itu. Kembali ke kost sebentar, berganti baju, lalu aku segera kembali ke rumah sakit.

Karin ternyata sudah tidur. Aku dan Bu Siti akhirnya menikmati makan malam kami. Tak berapa lama, Bu Siti aku minta untuk istirahat sebentar ke kost. Saat itu jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.30. Dan tak lama dari Bu Siti meninggalkan aku dan Karin untuk pulang ke kost, Karin terbangun.

“Hei, gue dah nyampe lagi khan. By the way, tadi Mamamu nitip peluk cium untuk kamu.”

“Iya, aku belum sempet ngobrol banyak lagi ama nyokab dari ke Medan terakhir. Gara-gara sakit.”

“Oh, rencananya kamu itu waktu sebelum sakit itu mau ke Medan? Terus ngga jadi gara-gara sakit?”

“Iya.”

“Emang Karin mau ngobrolin apa siy sama nyokab?”

Aku menunggu responnya…

“Mau ngobrol apa sayang ama nyokab? Mau cerita banyak apa? Cerita-ceritalah ke aku, biar berguna dikit gue jadi teman loe.”

Aku kembali menunggu, dan kembali tak ada respon.

“Kalo mau cerita bilang-bilang ya. Kalo belom mau cerita, ga papa juga.”

Maaf ya Tante Titung, hehehe sampai sekarang, Karin belum mau cerita.

Karin terus menatapku. Daripada aku mulai lepas kendali menitikkan air mata melihatnya, akhirnya…

“Eh Rin, sumpah ya, kalo bukan manusia seperti elo nih, yang sakit kayak gini, beneran deh, dah keok dari dulu-dulu. Dah lewat. Ini cuma gara-gara elo, bisa sampe ke step sekarang. Tinggal dikit lagi Rin. Kau udah banyak ditunggu temen-temenmu di Jakarta, and di Medan. Now you have to prove it, doa mereka ngga sia-sia untuk elo, Karin yang mereka kenal ngga berubah. Mereka n gue ngga minta apa-apa kecuali senyum loe, ketawa loe lagi. Nyanyi-nyanyi lagi. Doa mereka pasti terus kok untuk nyempurnain usaha loe. Anak psikologi harus bisa lah atur2 otak and gimana ngatur semangat diri sendiri. Percuma kita sekolah payah-payah kalo keok juga. Ya gak?”

“Okay.”

“Let me tell you something, gue dulu juga sempet nungguin bayi ampe remaja, yang kena penyakit sama kayak elo, di rumah sakit. You know what, semangat mereka gede loh. Padalah mereka umurnya jauh lebih kecil dari elo. So elo jangan mau kalah ya. Kemo, bolak balik sini Jakarta, hal kecil lah buat elo Rin, knowing you, you’re quality. Hayooo berapa manusia yang di Danamon yang udah elo train? Termasuk gue. Training-an loe ke gue yang super duper “laknat” selama 7 taon gue kenal elo? Damn, it’s beyond compare my dear. You’re such a good trainer, ya even ada trainer “laknat” di jalur yang berbeda lainnya yang gue kenal juga sih, selain elo. Sekarang tinggal elo train diri elo sendiri ya. Biar semangat loe ngga mandeg. Do it for Cyrill terutama. By the way, rasanya apa siy di kemo? Sakit tak? Cerita-cerita dounks, biar aku tau yang kamu rasain.”

“Biasa aja.”

“Gak ada rasanya? Gak sakit?”

“Gak.”

“Kalo rasa apa-apa, ngomong aja loe. Gue siap jadi tong sampah nampung cerita loe Cut. Eh kita doa dulu yuk.”

Akhirnya kami berdua berdoa. Dan setelah kami selesai,…

“Kok, kriyep-kriyep Non? Ngantuk ya?”

“Ngantuk.”

“Dah ya bobokh.”

Saat ia sudah tertidur, aku kembali duduk manis di kursi sebelahnya, dan kembali membuka laptop. Dan tak lama Bu Siti datang, dan kami sedikit berbincang-bincang. Begitu aku melihat ke arah Karin, ternyata ia sudah kembali terbangun…

“Eh Cut, tadi gue lupa bilang sama elo. Tadi gue dah telepon Yudha, tanyain Bang Cyrill sehat-sehat atau ngga. Dia bilang sehat kok. Ngga demam, pinter makannya, kayak elo khan, sakit-sakit tapi makannya tetep canggih.”

“Okay.”

Lalu aku kembali berbincang dengan Bu Siti.

“Bu, besok sepertinya aku harus ke ATM dulu, takut depositnya untuk Karin kurang.”

“Di klinik, bisa gesek kartu kok. Biasanya Bapak gitu.”

“Ya biar ngga ribet tagihannya aja. Atau aku minta Yudha sekalian bayarin tagihan gue aja ya.”

Aku dan Bu Siti sama-sama tertawa. Lalu Karin menyaut.

“Mentertawakan apa?”

“Gak, tadi gue bilang, besok gue harus ke ATM dulu, takut deposit rumah sakitmu kurang. Terus si ibu bilang, bisa gesek kartu. Aku bilang lagi, ya biar ga ribet tagihannya, terus aku juga bilang, apa biar Yudha sekalian bayar tagihan kartu gue yang lain ya. Terus kita berdua tertawa.”

Dan guess what Karin bilang apa teman-teman?

“Kok enak di elo, ngga enak di gue.”

Aku dan Karin sama-sama tertawa…

“Gak gitu ya Rin? Payah deh lo.”

Senang rasanya Karin masih bisa menimpali dengan gaya cela-celaan kami seperti biasanya.

Lalu aku sedikit menyanyikan lagu untuk Karin. Lagu favorit kami berdua, yang sering kami nyanyikan saat karaoke. Dan tak terasa sudah pukul 00.30, aku putuskan untuk kembali ke kost.

“Rin, aku tidur di kost ya. Kau baik-baik aja ama Bu Siti. Don’t step down from bed okay.”

“Okay.”

“Kalo mau minta apa-apa bilang Bu Siti.”

“Okay, ati-ati ya. Daggg.”

Aku mencium pipinya dan membalas lambaian tangannya, sambil berjalan meninggalkan kamarnya.

Day 1 With My Karin In Singapore…

Thursday, March 5th, 2009

Akhirnya hari ini, 4 Maret 2009, aku berangkat juga menemani Karin ke Singapura. Rencana ini sempat tertunda beberapa kali, karena aku juga harus menyelesaikan sidang skripsiku yang sudah beres 26 Februari 2009 lalu.

06.30 pagi aku bertemu Karin dan Yudha, juga Bu Siti (perawat Karin) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sumpah aku kangen sekali dengan kakakku yang satu ini. Terakhir kami bertemu Desember lalu, di antara sadar dan tidak sadarnya Karin, saat awal-awal pertarungannya melawan penyakitnya ini.

Dari jauh aku sudah tahu ia sedang memperhatikan aku, yang sedikit berlari menghampirinya. Tanpa basa-basi, aku pun langsung mencium kedua pipinya, sambil berkata padanya “Apa kabar, Sayang? Kangen deh.”

Karin tak berhenti menatapku, saat aku sedang berbicara dengan Yudha. Lalu tak lama kemudian di sela-sela perbincanganku dengan Yudha, Bu Siti berkata pada Karin…

“Siapa itu Bu? Siapa yang baru datang?”

Karin menatapku. Lama sebelum ia memberikan respon atas pertanyaan si ibu tadi. Dan tak lama aku pun mendengar balasan darinya…

“Orang gila.”

“Hah, dia ternyata masih mengenalku dengan baik.”, pikirku saat itu.

Itulah panggilan sayangnya kepadaku selain “Anak monyet” yang ia ucapkan saat ia tahu aku di sampingnya, saat ia tersadar dari ketidaksadarannya, Desember lalu, di MMC, Jakarta.

Urusan periksa masuk pesawat pun akhirnya beres. Kami bertiga, aku, Karin dan Bu Siti, siap terbang ke Singapura.

“Jalan-jalan kita ya, Rin. Nanti abis selesai, kita ke Takashimaya aja ya?”

Sampai di Singapura tepat waktu, 10.20 waktu Singapura, pesawat kami sudah mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Changi.

Dari sana, kami langsung menuju rumah kost kami yang letaknya tepat di depan pintu masuk bagian belakang rumah sakit Mount Elizabeth. Kami bebenah sebentar sebelum aku mengantar Karin ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan darah.

Pemeriksaan darah di rumah sakit tak memakan waktu lama. Aku kemudian membawanya kembali ke kost, agar ia bisa istirahat. Sekitar pukul 14.00, aku kembali mendatangi rumah sakit, ke klinik tempat dokter yang biasa merawat Karin, untuk menanyakan hasil pemeriksaan darah. Dan perawat di sana mengatakan:

“No, no, i haven’t got the result yet. Can u come back here in one hour, hour and half. You have local number? Just leave it to us.”

“Ya, i have, but unfortunately i don’t know the number, can i call to your phone or…”

Lalu aku pun meninggalkan nomor telepon lokal milik Yudha, yang aku bawa.

Kebetulan rumah sakit ini tak jauh dari pusat perbelanjaan. Jadi, aku memutuskan untuk berjalan-jalan seputar Orchard Road. Namun tak lama kemudian aku menerima telepon, yang aku tahu bahwa itu telepon dari rumah sakit.

“Hai, Rosa, this is from Doctor Pritam’s Clinic. I’ve got the result, and Doctor thinks she needs an injection. Can you bring Karin to the clinic.”

“Okay. But Karin is still sleeping at boarding house. Takes 15-30 minutes to get there.”

“No, no, no problem.”

Aku pun kemudian berjalan menuju ke rumah kost. Sesampainya di sana, aku melihat Karin masih tidur, ditemani oleh Bu Siti. Lalu aku sampaikan pada Bu Siti, bahwa Karin perlu diberikan injeksi.

“Suntikan yang biasanya bukan?”

“Susternya ngga bilang.”

“Coba tanyain deh, kalo yang biasanya, ambil suntikannya aja ke sini, aku bisa ngelakuinnya.”

“Oh, okay.”

Tak berapa lama, aku pun menelepon ke klinik, dan ternyata benar bahwa suntikan yang harus diberikan pada Karin adalah suntikan untuk menaikkan jumlah sel darah putih, yang biasa diberikan padanya. Akhirnya, aku pun kembali ke rumah sakit untuk mengambil suntikan itu, dan setelah itu langsung kembali ke rumah kost, agar Karin bisa langsung diberikan injeksi.

Setelah itu, aku memutuskan untuk istirahat. Tidur di sebelah Karin. Waktu 2 jam, aku rasa cukup untuk tidur siangku hari ini. Pukul 17.00 aku sudah bangun, tetapi aku melihat Karin dan Bu Siti masih tidur.

“It’s time for me to prepare the dinner for the three of us.”

Tanpa pamit, aku pun langsung menuju ke Paragon, mencari makanan langsung jadi. Namun di tengah aku berjalan, aku memutuskan untuk masak khusus untuk Karin, lebih sehat dan terjamin sepertinya. Menu hari ini adalah Ayam Brokoli Jamur Champignon.

Selesai berbelanja, aku kembali ke rumah kost. Aku tak menemui Karin dan Bu Siti di kamar. Ternyata Bu Siti sedang memandikan Karin. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 18.00, dan aku pun memutuskan untuk mulai memasak. Sayuran yang aku masak sudah siap, tetapi belum dengan nasi yang masih di tanak di rice cooker.

Sambil menunggu nasi matang, juga sambil menunggu Bu Siti selesai mandi, aku tiduran di samping Karin sambil memeluknya dan mengobrol. Obrolan kami ini sangat seru,…

“Eh Rin, gue ‘dah lulus kuliah lo. Terus sidang dan skripsi gue dapet A.”

“Slamet ye.”

“Ma kasih. Ya, you know lah Rin, you’ve been my inspiration for years. Being sarjana psikologi kayak elo lah yang gue pengen.”

Ia pun menatapku. Dan aku sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata sedikit pun. “Damn, it’s hard.”

“Terus elu inget ngga Rin, waktu itu kita terakhir karaoke di mana?”

Dia pun mencoba keras untuk mengingatnya, hingga akhirnya…

“Gue lupa.”

“Masakh elu ngga inget? Di Cibubur, di Happy Puppy. Waktu itu gue nginep di rumah loe. Abis kita makan siang bareng di Suharti. Inget ngga loe sama sapa aja waktu itu kita karaokean?”

“Siapa ya. Paling Cyrill.”

“Hah, inget juga lo. Terus elo inget waktu dia nyanyi, balonku ada lima rupa-rupa warnanya, sambil megang mike, terus mike yang gue pegang dia rebut juga?”

Tebak teman-teman, Karin tertawa sangggaaaattt lebarrrrr….

“Inget khan loe? Selain Bang Cyrill, siapa lagi Cut?”

“Paling Irene?”

“Irene khan di Malaysia, Sayang. Hayo siapa lagi? Cowok kok.”

Ia kembali mencoba mengingat dengan keras…

“Paling Mas Wawan ya?”

“Ah, akhirnya kau ingat. Kita karaokean bareng lagi ya abis ini.”

“Ayuk.”

“Eh terus elu tahu ngga Rin, bulan depan Rully nikah loe.”

“Jadi dia nikah?”

“Jadi sepertinya.”

“Sama sapa nikahnya?”

“Ah, sok ngga tau kau.”

Dia pun menampilkan raut wajah, sedikit mengece, seperti biasa. I knew it, known her for long time.

“Sama siapa Rin, Rully nikahnya?”

Tak lama kemudian, Karin pun memberikan respon padaku.

“Yang jelas bukan elo khan?”

Dan ia sambil tertaaaaaawwwwaaaaaaa….

“Damn, elo ngece gue ya. Sialan. Byengsyek.”

Kami berdua pun tertawa.

“Bukan sama elo juga khan, Rin?

“Ya bukan lah.”

Lalu…

“Btw, waktu itu Shanty pernah nengok kau ngga ke sini?”

Ia kembali mencoba mengingatnya…

“Pernah sepertinya.”

“Sepertinya atau yakin?”

“Pernah sepertinya.”

“Shanty sapa si Rin?”

“Orang gila.”

“Lah sama kayak gue dounks. Yang gila elo atau temen-temen loe?”

“Temen-temen gue sepertinya.”

“Elo ngga?”

“Gak.”

“Terus Shanty waktu itu datengnya sama sapa?”

“Lupa gue.”

“Sama Irene ngga ya?”

“Iya sepertinya.”

“Terus selain Shanty sama Irene yang dateng sapa lagi? Mutia dateng ngga?”

“Mutia sapa?”

“Temennya Karin waktu di UI, yang bapaknya dokter, yang operasi kembar siam itu lo.”

“Muti. Bukan Mutia.”

“Wah salah ya gue. Terus Muti pernah berapa kali nengok Karin?”

“Dua kali.”

Aku sudah kehabisan bahan pembicaraan, akhirnya aku menyanyikan beberapa lagu yang sering ia nyanyikan saat kami berkaraoke.

“God, I feel like hell tonite. Hmmmmm, hmmmmm…gue ngga afal Rin syairnya. Terus tuch lagunya siapa siy?”

“Sheryl Crow.”

“Terus kalo ini, you don’t bring me flower, you don’t sing me a love song, sapa yang nyanyi?”

“Barbara Streisand.”

“Terus elu biasanya nyanyiin tuch lagu sama sapa, kalo pas karaoke.”

“Sama Mas Wawan.”

“Rin, dapet salam dari Putri.”

“Dwi Putri? Ketemu di mana loe?”

“Tadi gue buka Facebook. Dia ngirimin gue wall. Titip cium katanya, terus kangen katanya.”

Lalu setelah perbincangan kami selesai, dan Bu Siti selesai mandi, dan nasi juga sudah matang, akhirnya kami pun makan, tentu Karin disuapi oleh Bu Siti.

Kami pun jam 21.00 sudah mengantuk, akhirnya kami bertiga pun tidur. Namun beberapa kali Karin membangunkan aku. Ia membangunkanku dengan melemparkan tangannya ke arahku.

“Kenapa? Gak bisa tidur?”

“ACnya dingin banget sih.”

“Oh ya udah, matiin dulu ya, nanti kalo panas aku nyalain lagi.”

Lalu ia pun tertidur, dan tak berapa lama…

“Gubrag.”

“Mbak, bantu aku angkat Karin.”

Ternyata Karin jatuh, karena ia terus bergerak saat tidur, hingga ke pinggir tempat tidur. Untung di bawah tempat tidur yang kami pakai, ada tempat tidur lagi yang ditiduri oleh Bu Siti. Namun hasilnya Bu Siti tertimpa oleh Karin, dan aku harus bersusah payah mengangkat Karin sendiri dahulu. Karin masih susah menggerakkan tubuhnya, dan Bu Siti tak bisa bergerak karena tertimpa Karin. Akhirnya aku bilang ke Karin…

Sambil menatap matanya, aku pun mengatakan ini: “Rin, please help us. Angkat kaki kamu. We can not do this, if you don’t help us.”

Akhirnya ia pun berusaha mengangkat badannya, sehingga Bu Siti dapat bangun. Dan aku, juga Bu Siti dapat mengangkat Karin kembali ke tempat tidur. Setelah ia kembali ke tempat tidur, ia tidur dengan posisi sangat dekat denganku.

Lalu tak disangka ia mengatakan ini padaku: “Maap ya ngerepotin pagi-pagi.”

“Ga papa, Sayang, itung-itung olah raga.”

Setelah aku menengok ke arah jam dinding yang tergantung di dinding kamar kost, saat itu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Dan kami pun tidur nyenyak sampai pagi menjelang.

Begitulah teman-temen ceritaku hari pertama tentang perjalananku dengan Karin. Sampai bertemu di tulisan jurnal hari kedua-ku dengan Karin.

Senangnya bisa ngobrol panjang lebar dengan Karin lagi..

Love her so very much…

Ada Kursi Kosong Di Sana…

Tuesday, January 13th, 2009

Sudah sebulan lebih, sahabatku, Karin Taramiranti terbaring sakit di Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Sebulan pula, Yudha, suaminya menemaninya di sana. Hari minggu lalu, 11 Januari 2009, akhirnya setelah sebulan di Singapura, Yudha memutuskan untuk kembali ke Jakarta sebentar.

Banyak yang ingin ia ceritakan, banyak juga yang ingin aku ketahui tentang perkembangan Karin sampai sebelum Yudha kembali ke Jakarta. Kami pun mengatur waktu untuk bertemu, dari sebelum ia pulang.

“Dha, jadi lu pulang besok?”

“Jadi.”

“Eh, jadi ‘kan kita ketemu? Gue mau cerita banyak nih ke elo n ke Mas Wawan.”

“Ya, udah. Senin aja ya? Di mana? Di kantor?”

“Di kantor juga boleh.”

Lunch, atau after office hour?”

“Dua-duanya okay gue.”

“Kalo gue sih prefer ‘bis ngantor kali ya. Biar leluasa. Lagi pula bapak yang satu itu, juga lagi sibuk, ngga mungkin sepertinya lunch dia keluar kantor.”

“Ya, ‘dah ntar gue telepon dech, begitu gue sampai Jakarta. Sekalian ngatur jadwal kita lah yang bisa bantu jaga Karin di sana.”

“Sip.”

“Karin lagi butuh temen yang banyak bacot neh, biar dia bisa semangat. Yang brisik terus deket dia banget ‘kan cuma elo, Rully & Mas Wawan.”

“Ya, udah ntar kita omongin kalo elu ‘dah nyampe sini ye.”

Senin siang, 12 Januari 2009, kembali Yudha meneleponku, untuk mengkonfirmasi pertemuan kami sore ini.

“Cha, ntar di mana? Kok gue telepon Mas Wawan ngga diangkat? Apa dia ngga kenal nomor gue ya, jadinya ngga diangkat.”

“Emang gitu siy dia biasanya, kalo ngga kenal, ngga diangkat, tapi dia punya kok nomor loe. Meeting kali dia. Biasanya kalo dah meeting kagak ngangkat telepon.”

“Gini, ntar sore jam 6 gue harus ke Sentra dulu, ngurus asuransinya Karin, ke kantornya, terus jemput Cyrill ke Bekasi, ke rumah adik gue. Gue sih berharap ketemunya di Cibubur aja. Ntar berangkatnya elo bisa ikut gue, atau ketemu di Sentra terus ikut jemput Cyrill, baru kita ke Cibubur. Banyak nih yang mau gue omongin.”

“Ntar gue sms elo kali ya. Gampang lah gue bisa nebeng elo, bisa nebeng Mas Wawan, tapi gue males kalo loe suruh gue ke Sentra. Gue usaha tanya yang lagi sibuk meeting itu. Itupun kalo bisa ditanya.”

Okay, ntar sms gue ya.”

“Sip.”

Aku dan Yudha tinggal menunggu jawaban dari satu orang lagi. Satu orang yang sepertinya sedang pening dengan pekerjaan dan kesibukan awal tahun. Aku hanya berani mengirim pesan melalui BBM. Namun tepat seperti yang aku perkirakan. Tak ada jawaban. Akhirnya aku putuskan.

I have decided. Ntar ketemunya di Cibubur aja. Either di tempat Yudha atau di tempat loe. Gue ke kantor loe aja, jangan ninggalin gue ye.”

SMS berikutnya…

“Dha, ntar ketemuannya di Cibubur aja, jam 8an. Elu jemput Cyrill dulu. Ntar kita ngobrol bertiga ada Cyrill juga gpp. Terserah di tempat loe atau di tempat Mas Wawan, bebas. Elo di Sentra-nya jangan lama-lama ye.”

Berangkat dari rumah dalam keadaan hujan deras, dan akhirnya berhasil mencapai kawasan Kuningan sekitar pukul 18.00. Waktu tempuh dari rumah hingga Kuningan termasuk normal. Sekitar 50 menit saja. Menunggu di Daily Bread sekitar 30 menit, akhirnya aku dan Mas Wawan pun bertolak menuju Cibubur.

Seperti biasa, seluruh jalanan ibukota dipastikan mengalami macet total saat diguyur hujan. Beruntung tak ada satu pun dari kami yang harus menyetir. Kami pun bisa santai mengobrol di kursi belakang, tanpa harus dipusingkan dengan tingkah laku pengendara mobil dan motor di jalanan. Dan tak berapa lama Yudha telepon.

“Dah di mana?”

“Hmmm, di mana niy, masih di depan Bidakara. Macet banget ‘Dha. Elo di mana?”

“Lah, elo sama sapa ‘Cha? Gue baru keluar Mega Kuningan.”

“Gue nebeng Mas Wawan. Elo abis ini jemput Cyrill ‘kan? By the way, elo disupirin Odang ‘kan?”

“Iya, gue jemput dia dulu, sama Odang. Ntar ampe Cibubur jam 8, setengah 9an lah ya. Gue nidurin Cyrill dulu. Mau di rumah gue atau di rumah Mas Wawan?”

“Mas, mau di rumah loe, atau rumah Yudha?”

“Terserah.”

“Terserah loe ‘Dha katanya.”

“Ya udah, ntar gue kabarin lagi ya.”

Telepon pun kami tutup. Namun belum sampai lima menit telepon selulerku kembali berbunyi.

“Kenapa ‘Dha?”

“Ngga, gue baru mikir, apa si abang gue suruh tidurin di rumah Linda aja ya? Biar gue ngga harus ke Bekasi? Biar cepet. Gimana?”

“Hmmm, terserah elo sih. Gitu lebih enak sebenernya, tapi elu ‘dah ngga ketemu Cyrill satu bulan lo. Ya elo telepon dia dulu gih.”

“Ntar gue telepon lagi ya.”

“Sip.”

Kembali aku sudahi pembicaraan itu. Dan kembali aku mengangkatnya kurang dari 5 menit.

“Ya, ‘Dha.”

“Barusan gue tilpun si abang, bilang dia suruh tidur dulu. Eh tau-tau dia telepon gue balik. Bilang ngga mau tidur dulu kalo ngga ngeliat Bapak.”

“Ya, udah lah, elo jemput dia dulu aja.”

“Iya ya.”

“Iya ntar gue nyari makan dulu aja, biar nunggu elo juga ngga lama.”

Aku melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, saat kami baru saja melewati pintu keluar tol Cibubur.

“Ampun, ‘dah jam 8. Laper ngga?”

“Mau makan di mana?”

“Bebek presto situ aja yuk. Lagi pengen tuch bebek gue.”

Akhirnya kami berhenti sebentar untuk mengisi perut yang sudah lapar. Dan dalam waktu kurang dari 1 jam, kami sudah sampai kediaman Mas Wawan.

“Woi ‘Dha, dah sama Cyrill?”

“Dah, nih mau ngomong sama abang?”

“Mana?”

“Halo Bang Cyrill.”

“Halo, ini sapa?”

“Tante Ocha sayang. Bang Cyrill udah bobokh?”

“Udah bobokh dari tadi. Tapi ini mau bobokh lagi.”

“Bobokh ama Joey ngga?”

“Joey boboknya beda. Kalo Joey bobokhnya kotor, di belakang. Cyrill ngga.”

“Kalo Bang Cyrill bobokh di mana?”

“Bobokh di kamar lah.”

“Bobokh sama siapa bang?”

“Sama Bapak.”

Tak lama kemudian, anak lucu itu memberikan teleponnya kepada Bapaknya.

“Gue dah sampe rumah.”

“Hah, rumah?”

“Hehehe, gue lupa bilang, rumah Mas Wawan maksud gue.”

“Ya, udah, gue pulang dulu, nidurin niy kecil, ntar gue nyusul ke situ yak.”

Tak berapa lama kemudian, Yudha pun datang. Aku yang membukakan pintu pagar. Serasa tuan rumah memang.

“Kok gue telepon-telepon ngga diangkat.”

“Oh, gue silent, gue males denger telepon dari rumah berkali-kali, brisik. Kenapa emang?”

“Ngga tadinya gue mau minta di rumah gue ajah gitu.”

“Oh, Mas Wawan lagi mandi. Masuk dulu lah, ntar kalo mau di rumah loe, tunggu dia dulu. Tinggal jingkring pindah selemparan kancut.”

Begitu Yudha memasuki rumah, kami pun mulai mengobrol, sambil menunggu tuan rumah selesai membersihkan diri…

“Gimana loe, apa kabar? Baik-baik aja ‘kan, ga sakit?”

“Ya, begini lah. Gue masih bisa handle kok.”

“Terus si Kancut?”

“Iya, tadi gue telepon mamanya, katanya hari ini sudah bisa duduk 2 jam.”

“Wah, that’s good.”

Ia pun kemudian menunjukkan beberapa foto Karin yang ada di telepon selulernya. Foto-foto itu diambil kira-kira 3 hari sebelum Yudha kembali ke Jakarta. Tak percaya dengan yang aku lihat, sama sekali tak percaya. Namun ia tetap sahabatku, my partner in crime.

Tak berapa lama Mas Wawan pun sudah selesai.

“Mau minum apa ‘Dha? Teh?”

“Hmm, ngga teh lah Mas.”

“Kopi?”

Yupe.”

Make it three ya, Mas.”

Setelah Mas Wawan selesai meracik kopi, selanjutnya, tanpa dikomando siapa pun, kami bertiga menuju ruang makan. Dan duduk di kursi “masing-masing”. Dengan posisi yang sama tepat saat 22 November 2008 lalu, saat kami duduk di sana, bermain kartu hingga pukul 04.15 pagi, esok harinya.

Berbeda memang saat ini, kami hanya bertiga. Satu kursi sedang ditinggal oleh sang “pemilik”. Kursi yang dulu diduduki Karin.

Perbincangan kami pun kali ini tak kalah panjang, hingga pukul 02.15 dini hari. Juga tak kalah seru, walau tawa kami tak semeriah dulu. Terbatas, karena rasa prihatin dengan kondisi Karin saat ini, karena rasa rindu kami pada Karin yang tentu belum terobati. Dan karena masih ada satu bangku yang kosong di sana. Bangku yang kami harap akan terisi lagi oleh orang yang sama.

Promise you, i’ll be there soon babe..kalo semua urusan skripsi gue lancar..doain ye…gue yakin elu ‘dah kangen berat ‘kan ama gue…wakakkaka

Dari para anggota “konferensi meja bundar Cibubur”:
We miss you ‘Rin, ‘Yin, ‘Jo, ‘Ncut*..hope we can be together again…throw those damn cards on that table again…

Hope that you can sit on that chair again…so it’s not empty anymore…

* Karin=Ayin=Karjo=Jojo=Kancut… (panggilan sayang untuk Karin dari teman-teman)