Posts Tagged ‘Tentang Karin’

Yes, You Can Shine, My Dear…

Friday, August 14th, 2009

“Rosa pa kabar?”

Duuuhhh, ini dia nih, saya tahu persis, siapa yang menyapa saya melalui media chatting di FB, yaitu kalau bukan keluarga, teman semasa SD, atau teman semasa SMP yang saat SMA sudah sangat jarang kontak dengan saya.

“Baik.”

Dan pasti pertanyaan selanjutnya adalah…

“Masih inget gue ga?”

Nah ‘kan, pertanyaan yang ng…sering membuat saya bingung menjawabnya. Menjawab dengan kejujuran atau menjawab dengan kebohongan yang bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri.

Namun saya sudah lama sekali sering menjawab dengan sangat jujur (*Ahhh biarlah orang mau mikir apa tentang saya, dah kebanyakan hal yang bikin saya pusing, jangan bikin tambah pusing*). Sama seperti saat ditanya oleh teman saya yang saya maksud di tulisan saya ini.

“Hehehehe, sorry gue gak inget. Mungkin kalo gue liat muka baru inget.”

(*Walopun kadang juga ngga ngaruh sih*)

Namun kali ini, jawabannya yang membuat saya kaget. Benar-benar kaget.

“Iya, gue emang ga cantik kayak elo, atau temen-temen dulu yang cantik kayak elo, gue emang jelek, jadi dilupain.”

Sumpah, saya kaget setengah mati. Duh, untuk teman saya yang saya maksud di tulisan ini, maaf sekali ya, tapi kira-kira seperti inilah pikiran yang pertama kali muncul di otak saya…

“Yah kok cetek amat pikirannya, langsung negative thinking gituh.”

Saya pun berusaha menetralisir suasana…

“Iya, nginget nama orang itu salah satu kelemahan gue. Jangankan temen yang udah belasan tahun ga ketemu, lah yang satu angkatan pas kuliah aja, gue sering ga inget. Btw tiap perempuan itu cantik kok.”

(*Buat temen-temen gue di luar sana, maap ya RAM otak manusia ga bisa ditambah ‘kan ya? Jadi kalo saya lupa, tolong dimaklumi*)

“Tapi kalo dah ga ada bakatnya cantik, ya tetep ga cantik Sa.”

Dududuh, kalau sudah begini caranya, saya benar-benar menjura pada para mentor “jahanam” dan “keji” yang mendidik saya selama bertahun-tahun untuk bisa keluar dari diri Rufina Anastasia Rosarini yang lama.

Me? Dulu? Saya saja pusing dengan diri saya sendiri yang dulu, apalagi mereka yang berhadapan dengan saya. I used to be a very insecure girl dengan tingkat arogansi yang sangat tinggi, yang selalu harus dipenuhi segala keinginannya, dan bisa melakukan apapun jika keinginannya tak terwujud; belum lagi ditambah dengan segala pikiran negatif yang menari-nari di otak.

Latihan tahunan itu memang tak pernah mudah. Tak hanya satu atau dua kali saya menerima “tamparan” dari mereka. “Tamparan” yang akhirnya membuat saya berkata ke diri sendiri “Bangun! Elo ga idup ndirian”. Dan saya sendiri baru merasa lulus semua latihan itu, pada akhir tahun lalu (*Hmmm, 8 taon?*). Level lengkap.

Don’t you know, one of my mentors, told me this…

“You’re not a princess ‘Cha!”

Dan dalam hati…

“Brengsek, ketampol gue.”

Atau…

“Kenapa sih, kamu susah banget ngakuin kamu salah, padahal I know that inside your heart, elo tau elo salah. Tinggal bilang yes that is my faults, and am so sorry. Selesai ‘kan?”

Atau salah satu pembelajaran darinya…

“Kalau elo ngasih kado ulang taun ke seseorang. Apa yang elo harapkan dari dia? Yang penting dia make barang yang elo kasih, atau dia suka terus dia make? Trus kalo dia ternyata ga suka terus dia ga make, elo bakal gimana? Nanyain ke orang itu, kok ga make, kok elo ga suka kado dari gue? Hei kalo dia ampe ga suka ya jangan ngomel ke orangnya dong, elo mesti liat ke diri loe juga kenapa dia ampe ga suka and kado loe jadi ga berguna, jangan langsung serta merta bilang kalo tuch orang ga sayang lah ama elo, ga menghargai elo, trus jadi ngambek. Biasanya cewek-cewek gitu tuh kalo ngasih kado ke pacarnya, padahal pacarnya ternyata ga suka.”

Intinya apa yang mereka ajarkan pada saya adalah meminimalisir pikiran negatif. Pikiran negatif memang tetap perlu, tapi hanya sebatas untuk melakukan antisipasi pencegahan dan membuat contigency plan tindakan yang diperlukan.

Dan hei, itu semua harus dimulai dari hal kecil. Misalnya jika memakai kasus perbincangan saya dengan si teman, daripada berpikiran seperti apa yang teman saya pikirkan itu, mungkin akan lebih baik jika seperti…

“Iya ya Sa, kita ‘kan dah lama banget ilang kontak, dan ga ketemu, susah juga ya nginget-ngingetnya.”

atau…

“Temen kita khan banyak ya, mungkin aja ‘kan lupa.”

atau…

“So that’s your weakness ya Sa, remembering someone’s name.”

Terus terang hei si teman saya itu, jawaban kamu yang seperti itu, sempat menimbulkan pikiran bahwa kamu merasa insecure. Ya, mungkin saja saya salah berpikiran demikian, tapi ya memang begitulah pikiran saya saat itu. Maaf ya, maaf sekali. Dan terus terang saat itu saya lupa untuk berpikir, bahwa kamu sedang bercanda mengatakan itu :D…mudah-mudahan memang bercanda ya (*Tapi ma kasih loe gue dibilang cantik, haaallaagg tetep narsis*).

Jadi ingat satu kiriman bahan presentasi dari mentor saya yang paling “jahanam” nan “brengsek”, yang melengkapi proses pembelajaran saya selama ini (*Sayang, presentasinya yang dikirimkan ke saya hilang dari file di laptop*), tapi saya masih ingat betul isinya…

Kamu tahu gambar pacman ‘kan? Seharusnya berupa lingkaran penuh, tapi ini ada irisan di lingkaran itu yang hilang, sehingga ia tak bisa dikatakan sebagai lingkaran sempurna. Dan hobi si pacman ini adalah mengatupkan sisi lingkaran yang terpotong tadi, sehingga menyerupai orang yang sedang berbicara.

Cerita di presentasi itu, si pacman ini sedang berjalan mencari irisannya yang hilang. Di tengah jalan ia menemukan sebuah irisan, dan ia coba mencocokkan irisan itu dengan bagian tubuhnya yang hilang, ternyata irisan itu terlalu besar untuknya, sehingga tidak pas. Ia pun melepaskan irisan itu dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan, ia menemukan irisan lainnya, dan kembali ia mencoba mencocokkan dengannya. Ternyata irisan yang ia temukan kali ini terlalu kecil, sehingga ia pun harus melepaskannya dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan berikutnya, ia kembali menemukan sebuah irisan lain. Dan ternyata kali ini pas dan cocok. Ia tak ingin melepaskannya kali ini. Namun apa yang kemudian ia rasakan setelah menemukan bagian yang selama ini hilang dan dirasa cocok olehnya? Ia tak bisa bergerak leluasa, tak bisa lagi mengatupkan kedua “bibir”nya, tak bisa “bicara” dan “bernyanyi”. Akhirnya ia pun kembali melepaskan bagian yang tadinya ia rasa cocok dengannya.

Dan mungkin ia berpikir…just enjoy every little thing in your life, even that’s imperfect.

Me? Now? My God…change a lot…

Saya jauh lebih sabar daripada dulu (*Ya udah ngomel dulu ga papa, nanti kalo dah reda kita ngomong baik-baik ya*).

Saya jauh lebih bisa mengerti orang lain, karena saya yakin bahwa orang melakukan sesuatu karena ada alasannya (*Ya iyalah, kalo elo ga bisa ngertiin orang lain, percuma lo masuk psikologi*).

Kalau keinginan saya tidak dapat terwujud, tidak serta merta langsung ngomel, marah, tapi saya berusaha untuk mencari jalan lain untuk bisa mewujudkannya (*Misalnya ga dapet tiket nonton bioskop yang siang, ya susah amat tinggal nyari yang malem ‘kan, sambil nunggu bisa ngapain dulu*).

Tak lagi repot dengan printilan yang bikin tambah pusink dan bikin repot (*Nih contohnya…”Maaf ya Sa, kemarin koneksi internet gue keputus and ceting ama elo keputus juga, bukan ga sopan loh”, dan saya…”Haalllaagghh kayak gitu doank, iya gue pun juga dah mikir kayak gitu kemaren, orang gue ditinggal seseorang ketiduran pas ceting ama gue aja pernah dan gue ga ngomel kok*).

Ya kurang lebih begitu lah beberapa hal yang saya anggap sebagai achievements dan apresiasi ke diri sendiri, walaupun saya tahu, saya masih sering menyebalkan dari omongan saya, dari tulisan-tulisan saya, tingkah laku saya, tapi percaya deh, itu semua sudah dengan analisa ini-itu baru saya menghasilkan apa yang terlihat, terdengar dan diketahui oleh kalian. Jadi kalau pun masih menyakiti kalian, so sorry, coz I’m still human and still imperfect, yet I really like being different from others.

Jadi ingat sebuah video iklan sebuah produk perawatan rambut, yang dibuat di Thailand.

Yes my friend, you can shine.

Just think positive, minimize life burden, and enjoy every little thing you do and you have in your journey. Even you’re imperfect and different from others.

To Karin Taramiranti, Rully Hariwinata, Yudha Ketaren, and one person I can not mention here, yang membuat perjalanan pembelajaran saya menjadi lengkap, yang saat ini sedang membenamkan dirinya dari keramaian dunia, yang saya tahu persis bahwa ia mempunyai alasan yang sangat kuat untuk melakukan itu, from the bottom of heart, my big thanks to you all, you’re my brothers, sister, mentors, best friends and my love. I love you full!!!!

—-

I’m gonna stay gold, just like a ray of sun light in our mornings. No matter what.

Happy Birthday, Karin…

Tuesday, July 14th, 2009

Hai, hai…maaf ya, saya sudah lama tidak menulis tentang perkembangannya Karin. Sampai saya harus diingatkan (baca: ditagih, hehehehe) oleh beberapa teman untuk memberitahukan perkembangan terakhirnya.

Dan hari ini adalah edisi spesial, cerita perkembangan kondisi kesehatan si Mama Cyrill. Namun sebelum saya mulai bercerita tentang manusia hebat yang satu ini, saya ingin mengucapkan sesuatu…

“Happppyyyy Birthdayyyy laaagiiiii, Sayang…kamu terhebat, dan tahun ini adalah tahun terhebat untuk kamu.”

Kemarin, saya sempat kepikiran untuk ke rumah Karin di Rawamangun sepulang kantor, untuk memberikan selamat ulang tahun secara langsung untuk Karin, tapi apa daya, saya sudah terlalu lelah untuk bisa sanggup pergi ke sana.

Jadi begitu sampai rumah, saya langsung menelepon Yudha untuk berbincang-bincang dengan Karin.

Dan inilah hasil perbincangan saya dengan Karin yang sudah luar biasa perkembangannya.

Saya: “Haaapppy Birthday ya, Non.”

Karin: “Halo, halo.”

Saya: “Rin, happy birthday ya.”

Karin: “Halo.”

Saya: “Woiiii, Cut, denger ga lu?”

Karin: “Iya.”

Memang saat itu, saya dengar di seberang sana ada suara kresek-kresek seperti sedang ada gangguan signal.

By the way, masih ingat ‘kan kalau ‘Cut’ itu adalah panggilan sayang yang diberikan saya dan Rully untuk Karin (“Jadi ingat kisah kami bertiga jaman dulu di sarang kami di lt.8, dan masih ingat betul bagaimana suara Karin sambil berteriak memanggil saya dengan Codoth, atau memanggil Rully dengan Ti’em. Ahhh, Good old days.”)

Saya: “Siapa gue? Masih kenal gue ga?”

Karin: “Ocha ‘kan?”

“Ma kasih ya ‘Cut, manggil nama gue lagi bener. Biasanya elo manggil gue anak monyet.”

Sumpah, sumpah, sumpah saya senangnya setengah mati. Karin sama sekali tidak lupa dengan suara saya.

Saya: “Hebat, hebat, elo masih inget suara gue. Kok rame, lagi pesta ya? Ada sapa aja?”

Karin: “Banyak.”

Saya: “Siapa aja Cut?”

Dan Karin mulai menyebutkan tamu-tamu yang datang ke rumahnya tadi malam, yang rata-rata adalah saudara-saudara Karin.

Saya: “Seneng kau ya, banyak yang datang?”

Karin: “Iya lah.”

Saya: “Terus sapa yang tadi udah telepon.”

Karin: ………………. (terdiam)

Saya: “Woi, kok bengong ditanyain.”

Karin: “Gak bengong, gue lagi mikir taukh!”

Saya: “Sapa aja tadi yang udah telepon?”

Karin: “Nyokab telpon dari Medan. Oom gue dari Belanda juga.”

Saya: “Wah dapat telepon dari jauh ya?”

Karin: “Iya.”

Saya: “Shanty telepon kamu?”

Karin: “Belom.”

“Untuk Shanty: maap ya bouw elo ga dianggep, padahal dah tilpun 2 kali lu ye, hauahahahahahah.”

Saya: “Sekarang umur berapa, Rin?”

Karin: “32.”

Saya: “Hyyyaaahhh, jangan mempermuda umur kau lah. Masakh elo ama gue beda dikit?”

Karin: “Jadi berapa dounk umur gue?”

Saya: “Berapa? 2009-1973 berapa Cut?”

Karin: ……………………(terdiam)

Saya: “9 kurang 3 berapa, Cut?”

Karin: “36 berarti ya gue.”

Saya: “Terus elo katanya dah hebat sekarang ya? Dah bisa apa aja?”

Karin: “Dah bisa jalan sendiri.”

Saya: “Ga perlu dipegangin lagi kayak dulu?”

Karin: “Masih, kadang-kadang.”

Saya: “Terus, katanya dah bisa maen-maen pindah-pindah tempat sama Abang ya ‘Rin?”

Karin: “Udah.”

Saya: “Hebat deee. Berarti kamu bentar lagi sembuh total. Tinggal jalanin satu operasi terakhir, and recovery deee. Kemaren hasil PEP scan and MRInya semuanya dah bagus Rin. Penyakitnya dah ilang semua dari badan kamu. Kamu tinggal terapi-terapi dikit lagi, sama istirahat. Btw, bisa makan apa aja?”

Karin: “Makan apa aja bisa. Enak.”

Saya: “Makin gendut dounk lo?”

Karin: “Iya kali ya.”

Saya: “Ga papa lah. Kamu harus sehat, tinggal dikit lagi.”

Karin: “Capekh banget lah gue.”

Saya: “Capekh ngapain?”

Karin: “Capekh terapi.”

Saya: “Bukannya enak. Khan tinggal dikit lagi. Katanya mau maen ama Abang? Inget Abang sama Yudha lah Rin, ama elo sendiri juga. Elo bertiga tuch dah berjuang banyak loh. Tinggal dikit lagi ya, Sayang. Capekhnya disimpen dulu.”

Karin: “Iya sih.”

Saya: “Ya udah, tuh di belakangmu sepupu-sepupumu pasti dah nungguin kamu khan? Sekali lagi happy birthday, cepet sembuh, nanti aku sempetin ke tempatmu, geret si cerewet satu lagi, si Shanty.”

Karin: “Ma kasih ya, ‘Cha!”

Saya: “Sama-sama, cepet sehat ya. Mana Yudha, aku ngomong lagi sama dia.”

Dan perbincangan saya lanjutkan dengan Yudha…

Saya: “Hebat dia sekarang, 3 bulan gue ga ketemu, kemajuannya pesat. Jadi kangen.”

Yudha: “Hebat dounks, rambutnya aja dah mulai tumbuh.”

Saya: “Ya udin, ntar gue usahain sama si Shanty ke sana.”

Yudha: “Eh, btw elo kerja di mana sih?”

Saya: “Ntar-ntar de ntar gue ceritanya kalo ketemu elo ajah. Males gue cerita di sini.”

Yudha: “Jangan-jangan elo kerja di tempat si Mas.”

Saya: “Ya enggak lah, kalo di sana gue dah tiap hari liat mukenye.”

Yudha: “Ooooo, gue kira di sana.”

Saya: “Btw, dah telpon Karin dia?”

Yudha: “Belom! Taukh ngilang dia.”

Saya: “Masih idup kok orangnya. Ntar paling nongol lagi kalo dia mau, biar ajah. Ya udah lah, ntar gue tilpun kalo gue mau ke rumah lo. Daaaggg.”

Dan saya semakin senang setelah melihat di Facebook saya, kiriman foto acara ulang tahun Karin kemarin. Saya melihat Tante Titung dan satu sepupu Karin yang namanya sudah tidak asing di telinga saya, walaupun saya belum pernah sama sekali bertemu dengannya, dan juga Karin sendiri di foto itu yang sudah terlihat jauh lebih segar dibandingkan tiga bulan yang lalu, saat terakhir saya bertemu dengannya sepulang kami dari Singapura.

Oh ya satu lagi, saat saya berbincang dengan Karin di telepon, Karin benar-benar tak dibantu oleh orang lain. Maksudnya, tanpa ada perantara yang harus memperjelas maksud omongan saya dan menyampaikannya ke Karin. Saya tahu persis, karena saat itu saya mendengar suara Yudha sedang berbincang-bincang dengan orang lain, di belakang suara Karin. Jadi, memang kemajuan Karin memang luar biasa. Itu berkat doa kalian juga loooo.

Again, on the behalf of Karin, Yudha, Cyrill, Tante Titung and their big family, I would like to say thank you for your supports and prayers. It means a lot to them. And Karin still needs your prayer, don’t stop it, pleaasseee…

—-

“Wahhh, Rin, salah looo…nyokab loe ga cuma tilpun, dateng pulakh. Anyway, miss you so much, My Sista!”

Circle of Love…

Sunday, May 10th, 2009

Hei…aku ingin bercerita sedikit tentang awal pertemuanku dengan salah satu sahabat terbaikku, Karin.

Untuk mereka yang mengikuti ceritaku tentang perjalanan Karin berjuang melawan penyakitnya, yang tentu tak mudah, dan belum tentu bisa dilalui oleh semua orang, pasti sudah tak asing mendengar nama perempuan ini.

Flash back dikit ya…

Kami dipertemukan di tempat kami bekerja, atau tepatnya taman bermain kami, di awal Februari 2002. Saat itu Karin anak baru di divisi kami.

Dari awal perjumpaanku dengan Karin, aku sudah bisa menerka pasti manusia ini adalah manusia yang tak pernah bisa diam, tak pernah kehabisan energi untuk tetap berlari kesana-kemari. Termasuk tak pernah kehabisan tenaga untuk ngoceh, alias cerita apapun.

Terus terang, aku tak tahu bagaimana tepatnya kejadiannya, akhirnya kami menjadi sangat dekat.

Oh ya, di samping aku dan Karin, satu orang lagi yang sering bersama kami, partner in crime kami berdua dari saat itu, hingga hari ini. Orang itu adalah Rully.

Hobi kami yang sama, yaitu ngantor di hari sabtu, dengan alasan akan lebih tenang bekerja tanpa dering telepon, dan panggilan-panggilan ajaib dari para atasan kami masing-masing; dan juga konferensi tangga darurat, yaitu menikmati satu dua batang hisapan rokok, sepertinya yang membuat kami semakin akrab. Kami; aku, Karin, dan Rully, mulai sering jalan bersama di hari sabtu, mulai sering main ke rumah kost tempat Karin tinggal. Dan aku juga Rully mulai dipernalkan ke Yudha, yang saat itu masih berstatus pacar Karin.

Kejadian-kejadian mulai dari lucu, ajaib, norak, tolol makin sering kami lakukan bersama.

Satu yang aku ingat waktu itu, saat Karin sedang melakukan road show untuk melakukan training di kantor-kantor cabang kantor kami di luar pulau Jawa, Karin masih ingat mengirimi aku, Yudha dan Rully satu tempat makan besar yang penuh dengan durian.

Ya, DUREN, makanan kesukaan kami berempat. Durian itu ia titipkan kepada EO yang pulang lebih dulu ke Jakarta.

Sementara kami menikmati durian nikmat sembari duduk di pinggir pantai Ancol, Karin masih sibuk bekerja di pelosok.

“Enak banget ‘Cut durennya. Sumpah!”

Kalau tidak salah tahun 2002 itu adalah tahun ajaib untuk kami berempat; aku, Karin, Yudha dan Rully. Namun, yang jelas aku ingat memang tahun paling tidak menyenangkan untuk aku juga Rully, saat itu kami berdua sedang menghadapi masalah keluarga masing-masing yang cukup membuat malas pulang ke rumah cepat-cepat, apalagi ditambah dengan macetnya jalanan Jakarta.

Hal itu membuat kami berempat hampir tiap hari menghabiskan waktu kongkow-kongkow di sebuah kafe kecil (yang sekarang sudah tidak ada) di bawah apartemen Aston, hanya untuk menikmati sepiring nasi goreng kampung telur ceplok setengah matang seharga Rp.10.000, dan sebotol Miller (yang biasa kami sebut dengan Tante Milla) atau Corona, yang saat itu masih dihargai belasan ribu rupiah saja.

“Sekarang elo dah gak boleh nenggak Tante Milla ya ‘Cut!”

Makin banyak waktu aku habiskan bersama Karin, Rully dan Yudha. Semakin menggilalah kami berempat.

Di akhir tahun 2002, kami berinisiatif menggadakan outing divisi tidak resmi, dan sok melupakan untuk mengundang para atasan kami (“Hmmm…tepatnya satu orang doang siy yang dilupain, hahahah.”).

Oktober tahun itu ada satu long weekend, dan kami memutuskan untuk menghabiskan libur panjang itu di Anyer. Kebetulan papaku mempunyai kartu keanggotaan di salah satu resor di Anyer, sehingga kami mendapatkan potongan harga kamar.

Tiga hari dua malam yang sangat menyenangkan. Bengong-bengong di pinggir pantai, makan, masak-masak, barbeque-an, tenis, nyanyi-nyanyi sambil main gitar, berenang.

Outing kali ini, banyak sekali “penyelundup”, karena memang bukan outing resmi. Ada yang bawa pacarnya (termasuk Karin), ada yang bawa gebetannya, ada “penyelundup” yang membawa “penyelundup” lain, yang benang merahnya sedikit jauh dari manusia-manusia “kacung kampret” bank terkenal ini.

“Eh, Cut, hahahah elu juga ga mandi selama 3 hari di sana ‘kan? Kecuali pas mau pulang? Hayo ngaku luuuu!!!”

Kegiatan jalan-jalan kami pun bertambah sering. Termasuk melarikan diri, di kala matahari masih bersinar sedikit terang (baca: sore sebelum jam kantor usai), aku, Karin, Rully, dijemput Yudha dan menuju Puncak.

Aku ingat betul, kami ke Menteng terlebih dahulu, untuk mencari sebungkus Capri (waktu itu masih murah, masih Rp.7.000), menikmati Teh Botol, baru berangkat ke Puncak. Ternyata Yudha dan Karin mempunyai tempat favorit, Telaga Warna. Kami mengobrol di sana hingga pukul 1.30 pagi. Gelap-gelapan, menghisap rokok masing-masing. Dan bercerita tentang semua keluh kesah masing-masing.

“Bagus! Gue ngantor lagi pake rok, kalian suruh duduk di atas ntah apa, waktu di pinggir tuh telaga!”

Alhasil, aku tak mungkin pulang ke rumah, aku pulang dan menginap di kost Karin. Dan belum selesai penderitaanku, dengan duduk di atas apa yang aku tak tahu, dan membuatku gatal, aku mendapat penderitaan lainnya.

Tidur satu tempat tidur dengan Karin, bukan hal yang mudah, dan bisa dihitung sebagai penderitaan berikutnya. Tolong disimak ya, bukan hal mudah. Manusia ini ternyata juga tak bisa diam saat itu. Dua kali aku tertimpa olehnya. Pertama kali wajahku yang kala itu masih mulus tanpa jerawat sedikit pun, tertimpa tangannya yang cukup berat; dan yang berikutnya, tak tahu bagaimana caranya, dengkulnya bisa sampai ke perutku.

“Woi, kampret, emang gue guling!”

Akhir tahun 2002, kami lalui bersama pula. Kami menutup tahun itu, dan membuka lembaran baru tahun 2003 bersama-sama di salah satu rumah teman satu divisi kami, di bilangan Fatmawati.

Tahun baru, bukan berarti acara senang-senang berkurang. Tante Milla semakin sering dan hal-hal tolol lainnya.

Ada dua kejadian seru di tahun itu, yang aku ingat persis.

Mei 2003. Divisi kami mengadakan outing, yang lagi-lagi di Anyer. Seperti biasa ketua perencananya Karin, dan aku sebagai pembantu umum di divisi, kebagian juga menjadi “tim sibuk”.

Ya, namanya punya otak “kriminal”, Karin mengatur agar aku, Rully dan dirinya sendiri menjadi tim advance, yang datang lebih dulu satu hari sebelum tim divisi kami lainnya, dengan alasan untuk persiapan kami outing. Kami pun membawa dua “penyelundup”, yang bukan dari kantor kami, Shanty dan Yudha.

Berbekal gitar dan beberapa botol wine, cukup membuat kami senang.

Aku ingat persis, berhubung tak satu pun dari kami yang membawa pembuka gabus tutup botol anggur, akhirnya kami memakai obeng dari peralatan darurat yang ada di mobil. Lebih tololnya lagi, gabus itu tidak berhasil kami tarik keluar, malahan nyemplung ke dalam botol dan mengapung di sana.

Bernyanyi di teras tempat bungalow kami menginap, sambil meminum anggur yang kami bawa adalah satu-satunya aktivitas kami saat itu.

Tak ingat sudah berapa gelas aku minum anggur. Namun yang aku ingat, saat aku sedang bernyanyi-nyanyi di teras itu aku sudah sangat mengantuk. Mungkin efek dari anggur yang aku minum itu. Saat itu aku ingin buang air kecil. Berjalan menuju kamar mandi pun aku sudah gontai. Sekembalinya dari sana, terakhir aku sadar, aku melewati jejeran kasur dan tiba-tiba aku sudah tak sadar lagi, hingga pagi menjelang, sudah saatnya bangun tidur. Dan saat aku buka mata aku sudah berbantal dan berselimut (“For the one who did it, thank you ya!”).

“Ye, katanya masih ada yang mau nyanyi-nyanyi, meleng dikit, lewat kasur langsung gubrag.”

“Bis gimana dounks, ngantuk bouw.”

Empat bulan kemudian September 2003, perjalananku berikutnya dengan dua kampret itu. Ke Manado dan Bunaken.

Rully & Karin: “Codot, kita berdua, nge-train di Makassar and Manado minggu depan, tolong siapin tiketnya ya.”

Dan aku pun melihat ke kalender dan berpikir: “Hmmm…mereka Senen-Rabu di Makassar, Rabu terbang ke Manado. Senen minggu depannya libur. Long weekend neh.”

Otak kriminal Ocha pun mulai bekerja, saat ia menelepon ke agen perjalan yang biasanya: “Mbak, tiket ke Manado berapa?”

“1.2 juta. Garuda.”

“1.2 juta, berarti bolak balik 2.4 lah ya. Dah semua ‘kan ya? Ada lah ya gue di tabungan duit segitu. Gue ngajuin cuti Kamis Jumat. Gue nyusul, mereka extend.”

“Eh, Mbak, 1.2 itu bolak-balik!”

“What? Bolak-balik.”

“Iya Mbak Ocha, lagi promo.”

“Okay, Mbak. Tiket atas nama Rully ama Karin, Jakarta-Makassar-Manado-Jakarta. Atas nama gue Jakarta-Manado-Jakarta. Bertiga pulang dari Manado 21 September ya, last flight.”

Dan aku berjalan menuju ke cubicle dua kampret itu, yang kebetulan letaknya hampir bersebelahan.

“Nyet, elu berdua extend ye, gue nyusul.”

Karin: “Mang tiket berape? Bukan mahal Dot?” (FYI, harga tiket Jakarta-Manado-Jakarta waktu itu biasanya hingga 3.4 juta rupiah.)

Aku: “Kagak, lagi mure, 1.2 jeti bolak-balik.”

Karin: “Gue tilpun Yudha ya, dia gue suruh nyusul juga. Ntar elu pesenin tiketnya ya.”

Aku: “Gih, tilpun.”

Dan tak berapa lama…

Karin: “Monyet, si Yudha harus meeting pulakh sabtu-sabtu, jadi dia ngga bisa nyusul.”

Aku: “Mang enak.”

Sialnya hingga hari Rabu, sehari sebelum jadwal aku berangkat, surat permohonan cutiku belum disetujui, padahal tiket sudah aku issued dan sudah di tangan. Aku pun akhirnya bicara langsung dengan si bos dan sedikit memaksa untuk menandatangani formulir permohonan cuti.

Dan Kamis, 18 September 2003, Manado I am coming, walau harus menunggu di bandara Soekarno-Hatta sendirian selama 4 jam karena penerbangan terpaksa ditunda disebabkan cuaca di Manado yang tak memungkinkan pesawat melakukan pendaratan.

Perjalanan menyenangkan, makan enak, snorkeling sampai gosong. Unforgetable memories, untuk kami bertiga.

Foto kami bertiga, setelah snorkeling selama 4 jam, di Bunaken.

Dilatarbelakangi Bastianos Cottage, Bunaken. Kami akan bertolak kembali menuju ke Manado untuk kembali ke Jakarta, keesokan hari setelah puas snorkeling.

Dan tibalah sampai ke tahun 2004.

Februari 2004, Karin dan Yudha melangsungkan pernikahan. Aku dan Rully otomatis menjadi seksi sibuk untuk penyelenggaraan pernikahan mereka, baik untuk penerimaan Sakramen Pernikahan di gereja, maupun acara resepsi. Dan untunglah seluruh acara dapat berjalan dengan sangat baik.

Tahun ini pula, tepatnya Agustus 2004, aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan melanjutkan kuliah.

Kebetulan saat itu, teman-teman divisiku yang lama (saat itu aku sudah mutasi ke divisi lain), banyak yang mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Akhirnya perayaan promosi mereka dan perpisahanku dijadikan satu, di Pisa Cafe, Theresia.

Sepertinya biasa, setiap acara-acara seperti ini, Tequila pasti disediakan, dan biasanya dipaksakan pada setiap orang dari kami yang disana untuk menenggaknya. Termasuk Karin, aku dan Rully. Dan seingatku, Karin kebagian kena paksaan paling banyak untuk menenggak minuman itu, mungkin lebih dari 8 gelas kecil Tequila, tapi jangan salah, Karin masih bisa berjalan tegak waktu itu.

Acara ini adalah acara yang paling mengharukan, setidaknya untuk aku dan Karin.

Saat acara itu hampir selesai, aku dan Karin berdiri berseberangan di ujung meja yang dirapatkan berjejer memanjang. Kami berdua saling menatap beberapa detik, sampai akhirnya kami berdua melebarkan kedua tangan kami masing-masing, dan kami saling memeluk erat. Aku ingat betul apa yang ia katakan padaku saat itu…

“I know you can do it ‘Cha. You know that I love you so much as a sister. Kapan pun elo butuh gue, gue pasti ada untuk elo.”

“And you’ve been my inspiration for long time ago. Love you too ‘Rin. So much.”

Dan air mata kami pun tak terbendung. Tak ada gengsi, dan benar-benar melepas semua topeng, yang biasanya kami kenakan dihadapan orang.

Beruntunglah saat itu, kami bertiga tidak ada yang sedang membawa mobil. Kenapa aku bilang beruntung? Karena kami bertiga meminum air laknat itu, si Tequila.

Begitu kami sampai di depan pintu keluar Pisa Cafe, Karin mendapat telepon dari suami tercinta. Percakapan antara mereka yang aku dan Rully dengar…

“Ya udah, tenang aja, aku pulang ama Rully ama Ocha kok.”

Aku dan Rully pun langsung saling pandang…

“Hmmm, ngga enak di kita, bakal nganter satu kampret ini dulu neh.”

Setelah ia selesai bicara di telepon…

“Dasar kampret, kagak pake nanya-nanya dulu lu, ke-PDan banget kita mau nganterin.”

“Pasti mau lah.”

Aku hanya menjulurkan lidah padanya.

Akhirnya kami bertiga pulang naik taksi dengan rute Theresia-Rawamangun-Ciledug-Tanjung Duren.

“Kasian nasib lu Rul, hahahahhahah!”

Begitulah teman-teman, sekilas ceritaku tentang Karin dan lingkaran persahabatan antara aku, Karin, Rully dan Yudha.

Aku ada untuk Karin saat ia sakit, memang karena cinta yang kami sama-sama bangun semenjak kami bertemu, karena cinta yang tumbuh dari suka duka yang kami alami bersama. Itu semua juga karena Karin, bukan karena kehebatan seorang Ocha semata.

Satu prinsip yang aku, Rully, Karin dan Yudha pegang, yaitu kita saling mencintai tanpa ada syarat apapun, sekali lagi tanpa syarat apapun…

Dan di atas cinta seperti itulah persahabatan, persaudaraan kami ini didirikan…

That’s why we call it as unconditional love…

Tentang Karin…

Tuesday, May 5th, 2009

Hmmm…satu minggu belakangan ini, ada beberapa temanku yang menanyakan kondisi Karin, baik yang mengenal Karin secara pribadi, maupun yang mengenal Karin dari tulisanku di blog ini.

Tujuanku menuliskan cerita tentang Karin di blogku ini, hanya satu, yaitu agar Karin semakin mendapatkan banyak dukungan doa. Itu yang terpenting untuk Karin, untuk Yudha suaminya dan tentu untuk Cyrill, putra semata wayang dari buah cinta mereka berdua, yang dalam beberapa bulan ke depan akan genap berusia 4 tahun (“Sorry bouw, gue lupa 9 Juni atau 9 Juli ya si Bang Cyrill ulang taon? Hehehehe”).

Tak banyak memang akhir-akhir ini aku menulis tentang perkembangan Karin, mungkin karena itu pulalah banyak yang menanyakan kabarnya, walaupun masih ada satu-dua tulisanku yang menceritakannya, baik menggunakan nama aseli maupun secara implisit.

Untuk sekedar menyampaikan kabar terakhir tentang Karin, aku khusus menuliskan jurnalku hari ini…

Dari tulisan-tulisanku beberapa waktu lalu, jika kamu mengikutinya, memang aku sempat mengantarkan Karin dua kali ke Singapura, yang pertama awal bulan Maret bersama Bu Siti, dan yang ke dua, awal bulan April dengan Yudha.

Hasil pemindaian dengan PEP Scan (*dapat dicari di internet dengan kata kunci PEP Scan) menunjukkan bahwa Karin masih perlu menjalani kemoterapi sekitar dua kali lagi. Hal ini hanya untuk pencegahan.

Saat itu, saat kami masih di Singapura, dokter yang merawat Karin menganjurkan agar kemoterapi langsung dijalankan sehari setelah hasil itu keluar. Yudha pun sempat bingung. Bingung karena mengawatirkan kondisi istrinya tentu. Banyak sekali pertimbangan dan perhitungan yang ia lakukan saat itu.

Bagaimana jika kemoterapi dilakukan di Singapura, yang berarti kami bertiga tentu harus memperpanjang masa tinggal di Singapura, yang tak hanya satu atau dua hari, mengingat kemoterapi akan dilakukan beberapa seri, dan tak mungkin Karin dibawa pulang pergi Jakarta-Singapura seperti beberapa bulan lalu. Tentu karena tak ingin mempertaruhkan kesehatan Karin, karena kelelahan pulang pergi Jakarta-Singapura.

Apabila dilakukan di Jakarta, mereka masih mengawatirkan tentang prosedur yang tidak akan sama dengan apa yang sudah dilakukan terhadap Karin selama ia menjalani perawatan di Singapura. Dan setelah melakukan kontak dengan salah satu rumah sakit ternama dan besar di Jakarta, malahan rumah sakit itu tidak memberikan respon positif terhadap permintaan Yudha. Bukan tidak ada respon tepatnya, tapi mencla-mencle, menye-menye antara berani melakukan tindakan tersebut, sesuai dengan prosedur yang telah dilakukan di Singapura atau tidak.

Akhirnya kami pulang ke Indonesia, pada hari yang telah dijadwalkan.

Keesokan harinya adalah perayaan tri hari suci, umat Katholik. Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah, yang menyibukkanku dengan kegiatan ke gereja, dan menyebabkan aku tak sempat menghubungi Yudha. Kecuali saat Malam Paskah, aku menyempatkan diri untuk mengiriminya pesan singkat untuk mengucapkan selamat paskah, namun tak ada jawaban.

Beberapa hari kemudian, Yudha yang meneleponku, dan dia memberikan kabar terbaru tentang Karin.

Ternyata Karin saat itu hingga kini, berada di Medan, di rumahnya, bersama Tante Titung, Kak Maya (Kakak ipar Karin), Bang Nino dan keluarganya yang lain. Alasannya mengapa Karin dibawa ke Medan, karena rencana pengobatan selanjutnya akan dilakukan di Penang, Malaysia, di rumah sakit yang masih satu grup dengan Mount Elizabeth di Singapura, tapi dengan biaya yang lebih murah. Termasuk urusan fiskal untuk suster yang merawat Karin. Namun alasan terpenting adalah jarak antara Medan dan Penang tidak jauh, hanya memakan waktu penerbangan sekitar 30 menit, sehingga tidak akan membuat Karin lelah dan beresiko memperburuk kesehatannya yang saat ini semakin hari semakin membaik.

Sepertinya saat ini, seri kemoterapi yang harus dijalani Karin sudah hampir selesai.

Senang rasanya waktu Yudha mengatakan bahwa sekarang Karin tak perlu dibantu banyak untuk berdiri dan berjalan. Ia sudah bisa berjalan tanpa harus dipegangi oleh orang lain.

Selain itu, nada bicara Karin juga sudah lebih ekspresif, walaupun aku sendiri belum sempat meneleponnya semenjak kami pulang dari Singapura. Namun aku sangat berharap ekspresinya dalam mengungkapkan semua rasa, akan jauh lebih ekspresif jika dibandingkan dengan saat aku menemaninya ke Singapura yang pertama kali.

Begitulah teman-teman kondisi perkembangannya Karin.

Sekali lagi, aku pribadi, juga atas nama Yudha, Karin, Bang Cyrill dan keluarga besar mereka, mengucapkan terima kasih banyak untuk semua yang telah memberikan perhatian atas perkembangan kesehatannya Karin, terutama untuk doa yang dipanjatkan untuknya. Berkat doa kalian, dari hari ke hari Karin menunjukkan perkembangan kesehatan yang bagus.

Dan melalui tulisanku ini, aku juga masih meminta doa kalian untuknya. Akan lebih senang jika kondisi Karin bisa seperti semula. AMIEN.

—-

We all love you ‘Rin!

Menu Hari Ini…

Sunday, April 5th, 2009

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam 40 menit, akhirnya aku, Karin dan Yudha tiba di Singapura. Perut kami sudah lapar. Apalagi penerbangan kami hari ini terlambat 30 menit dari waktu yang ditentukan. Sampai di Singapura baru pukul 14.20 waktu setempat. Rasanya tak mungkin lagi jika perut kami menunggu lebih lama untuk diisi makanan. Akhirnya Yudha memutuskan untuk membeli makanan di Coffee Bean yang terletak di Mount Elizabeth Hospital.

Selama aku menyantap makan siangku itu, aku mulai memikirkan menu makan malam kami hari ini, “Masak apa ya, buat makan malam?”, akhirnya aku putuskan masak Sup Salmon. “Terdengar canggih ya?” Setelah selesai makan, aku berangkat ke Pusat Perbelanjaan Paragon untuk berbelanja.

Belanjalah aku di sana. Ikan salmon, bumbu-bumbu, sayuran dan bahan-bahan lain yang menurutku menjadi bahan dasar sup sudah aku masukkan semua ke dalam keranjang belanjaan.

“Gila ya, Indonesia emang surga belanja makanan. Brokoli 5 dolar? Dah gila apa ya? Di Jakarta 10 rebu dah gede.”

Namun sesampainya di kos, aku menelepon mama, apakah bahan-bahan yang aku beli tadi sudah lengkap atau belum.

Ternyata memasak sup ayam tidak sama dengan memasak sup ikan salmon. Mengingat ikan salmon ini tetap berbau amis saat mentahnya. Dan itu harus dihilangkan dengan jahe, serai, jeruk, daun kemangi. Tiga bahan itu tidak termasuk bahan yang aku beli tadi. Terpaksalah aku berangkat ke supermarket lagi untuk kembali berbelanja.

“Anjrit, serai dua batang kecil gini, 50 sen.”

Dan sepulangnya aku dari sana, aku mulai mengolah bahan-bahan yang aku beli tadi. Seperti biasa aku hanya memasukkan semua bahan ke dalam panci dan berbekal indera pengecapku. Ini dia resepnya:

1. Daun Bawang
2. Daun Kemangi (atau jika tidak ada bisa menggunakan Basil Leaf)
3. Daun Seledri
4. Tomat
5. Bawang merah
6. Bawang putih
7. Bawang bombay
8. Serai (Lemon Grass)
9. Jahe di potong dan dimemarkan
10. Jeruk nipis
11. Brokoli
12. Jamur Champignon
13. Jamur Enoki
14. Ikan Salmon
15. Knorr seasoning powder, tanpa MSG
16. Kikkoman
17. Garam secukupnya

Cara mengolahnya juga tak sulit, dan tidak lama. Malahan lebih lama memotong-motong bahan masakan ini. Semua bahan dipotong-potong dengan ukuran sesuai keinginan. Ikan salmon yang menjadi bahan utama masakan ini, juga di potong-potong menjadi beberapa bagian, lalu lumuri perasan jeruk nipis di atasnya, dan taburi garam secukupnya, hingga rata dan diamkan sembari kamu menyiapkan bahan lain.

Sisa bahan-bahan yang sudah disiapkan, tinggal dimasukkan ke dalam air. Jujur, urutan memasukkannya pun aku sesuaikan dengan feeling-ku sendiri, alias sesuka hati. Namun tadi yang aku lakukan pertama kali adalah memasukkan daun bawang, tomat, bawang merah, bawang putih dan bawang bombay. Tambahkan Knorr seasoning powder, aduk, tambahkan Kikkoman dan garam secukupnya, sesuai dengan rasa indera pengecapmu.

Lalu, yang lainnya aku benar-benar lupa urutan memasukkannya. Semua suka-suka hati, hingga baru aku sadari semua sayuran dan bumbu sudah masuk ke dalam panci. Jangan lupa untuk terus merasakan kuah sup. Coba rasakan kira-kira masih kurang apa, dan tinggal tambahkan yang kurang itu.

Setelah kuah sup mendidih, baru masukkan daging ikan salmon yang sudah dilumuri perasan jeruk nipis dan garam tadi. Diamkan beberapa saat, hingga daging salmon bewarna merah muda. Jangan terlalu lama merebus daging ikan salmon, karena dagingnya bisa hancur.

Sebelum masakan ini aku berikan pada “juru cicip”, aku mencobanya terlebih dulu.

“Hah, enak juga masakan gue. Padahal baru pertama niy masak sup ginian,” pikirku tadi.

Saat itu bersamaan dengan Yudha yang masuk ke dapur untuk kesekiankalinya.

“Buset, masak beneran lu? Emang lu bisa masak?”

“Nape lu dah laper? Bolak-balik aja lu. Enak Dha, ntar lu tinggal makan dah.”

“Iye, wangi ya.”

Dan enaknya masakan ini disetujui oleh satu “juru cicip” utama, Karin, mulai suapan pertama aku berikan padanya. Bahkan saat Yudha masih menyantap makanannya, Karin meminta tambah sup-nya saja tanpa nasi. Setelah aku selesai menyuapinya, giliran aku menyantap hasil masakanku sendiri.

—-

“Nyam-nyam, masih ada sisanya untuk besok pagi.”