Posts Tagged ‘Surat Cinta’

I Did That Because I Want It With You…Badly!…

Monday, June 13th, 2011

Hari Minggu kemarin tumben-tumbenan saya ke pergi ke gereja sendirian. Biasanya ada Ibu dan/atau Bapak yang bersama saya.

*This is what I like…driving all alone, tanpa buru-buru, tanpa ada janji apapun sama sapapun, tanpa gangguan dari sapapun dan apapun, bebas kemana pun, dan tanpa macet! Bisa  lebih dari 120km/hour pun.

Literally dari siapapun dan dari apapun, kecuali gangguan saat mengendarai mobil. Tape mobil sengaja tidak saya nyalakan. Telepon genggam yang khusus nomor urusan kantor, saya bawa tapi saya silent, just incase saya butuh untuk menelepon. Dan Si Bébé sudah saya bekep, matiaw dari Sabtu sore, tidak hanya mematikannya, tapi melepas baterainya *Sampai sekarang.

“Sekali-kali biar pada ngerasain kalo ga ada gue gimana, susah nyari gue gimana.”

Tidak ada BB berarti pula hidup saya dari Sabtu sore hingga sekarang (Senin sore) tanpa ada BBM, baik menerima maupun (berpikiran untuk tidak) mengirim, dan mengharapkan ada yang mengirimi saya BBM dan mengecek saya masih hidup atau tidak di dunia ini. Tidak pula harus menerima SMS dari si Mama minta pulsa dan penawaran KTA dan kartu kredit yang terus-menerus. Tidak harus melongok ke time line twitter dan mulai kepo dengan urusan orang lain, atau membuat orang lain penasaran dan bertanya-tanya tentang time line yang saya lempar ke publik. Tidak perlu terima telepon dari keluarga, teman lama, maupun teman dekat, dan mungkin dari “teman” saya *Karena nomor si Bébé adalah nomor untuk urusan pribadi saya, bukan urusan kantor.

Ya kira-kira begitulah kegiatan saya yang berkaitan dengan si Bébé. Tetapi BBM sepertinya adalah “jantung hati” dari si Bébé.  Walaupun terkadang cukup annoying jika chatting dari grup-grup yang saya ikut tergabung di dalamnya, penuh dengan celotehan para anggotanya. Lagipula selama ini hanya ada satu orang yang sangat saya harapkan untuk mengirimi saya pesan di BBM. Ahh..jadi ingat percakapan saya dengan orang itu tepat dua minggu lalu.

Bali, 30 Mei 2011…

Saya: Aku kok kangen ya BBM-an ama kamu ya…

Dia: Hahahahaha…lagi ga perlu khan?

Saya: Selama ini yang paling aku tunggu ya BBM dari kamu…

Dia: Iya aku juga…

Tetapi saat ini, seseorang yang saya maksud di perbincangan di atas tersebut pun, tidak mampu mengurungkan niat saya untuk tetap mencopot baterai si Bébé dan membuatnya terdiam beberapa hari.

“Aaahhh…he knows me well kok…he already knows who is he dealing with now! Jangan-jangan dia ngga nyari gue pun. Hahahahahaha.”

Sempat beberapa kali, tidak hanya sekarang, telepon genggam ini saya anggap sebagai sumber hiruk pikuk dunia saya sendiri. Walaupun tidak munafik, tawaran pekerjaan bisa bermula dari komunikasi saya dengan seseorang dengan memakai telepon genggam ini. Atau ajakan bertemu dengan teman lama. Atau usaha perjodohan yang dilakukan oleh beberapa teman, yang sampai saat ini tampaknya masih sia-sia… :mrgreen: *Haaayyyooo…nyari sajennya yang lebih mutu dounks aaahh… :lol:

Kali ini, tepatnya beberapa hari ini, telepon genggam saya anggap merupakan sumber tingkat kebisingan hidup (hati) paling tinggi. Walaupun sudah lebih dari 3 bulan, si Bébé selalu saya kondisikan diam. Alasan utamanya adalah, saya malas mendengar bunyi-bunyian yang berasal darinya, dan saya hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang yang saya kenal (dekat). Jadi kalau saya tidak mau mengangkat teleponnya atau membalas BBM atau SMS, akan saya biarkan, kalau saya sedang tidak bisa mengangkat telepon dari mereka, ya saya akan membalas menelepon hanya ke mereka yang saya inginkan.

Kembali ke situasi kemarin. Saat saya harus pergi ke gereja sendirian. Satu hal yang saya rasakan sangat, dari pertama kali roda berputar akibat saya arahkan dengan stir adalah: peaceful. No tape. No sounds of human. Ga perlu ribet denger bunyi handphone. Dan yang terpenting adalah ga perlu mengharapkan apapun, dari siapapun yang mungkin datang dari perangkat-perangkat yang katanya pintar itu, yang membuat saya harus melongok ke arah layar mereka.

Jadilah hidup penuh kedamaian dari rumah-meruya-tol kebon jeruk-tomang-harmoni-jalan pos- lapangan banteng-meratapi nasib dan ngomel-ngomel ama Tuhan sebentar di Katedral-balik nyetir lagi masuk juanda-jalan veteran-depan Monas-Thamrin-Sudirman-bunderan senayan-pintu I-berhenti menghirup kebisingan sebentar di Plaza Senayan buat ngisi perut dan belanja beberapa botol-Asia Afrika-Simprug-jalan panjang-meruya-rumah, dari pukul 17.20 – 22.00.

Life is like a roller coster. Karena BBM juga, saya berkenalan dengan seseorang yang entah tak tahu kenapa, saya biarkan exist di hidup saya. Saya manusia kompleks yang penuh pertimbangan ini-itu. Saya manusia yang pada dasarnya manusia super cranky yang kena “hajar” oleh seseorang selama hampir 8 tahun dan berubah menjadi manusia yang cukup bisa memahami orang lain jauh lebih baik daripada masa-masa jahililah dulu. Saya yang secara periodik melakukan proses pemilihan remove terhadap kontak BBM juga daftar teman di Facebook dan juga follower di twitter. Saya yang kadang masih tidak memahami keputusan saya sendiri, mengapa mereka yang namanya hanya diam bertengger di akun-akun tersebut, tanpa pernah menyakiti saya, tapi saya ikutsertakan dalam daftar seleksi remove, sedangkan mereka yang pernah menyakiti saya, bahkan membuat saya geram dan menangis, saya biarkan tetap bertengger di sana, dan tetap saya biarkan mengikuti sebagian atau bahkan seluruh jejak langkah kehidupan saya.

“I do not share those kind of sexy things with everyone I considered as friends. Again…i did that because i want it with you,” and yes, my whole life is so sexy to get to know about…

Am I the one and only you (want to) share about the whole your sexy life or?

Think about it, Baby!!

-me, the one you called as little girl-

====

“Pada kangen ama gue ga ya? Gak ya? Ohhh..ya sud..maap ya jumpa fansnya lagi ditutup sementara.”

:mrgreen:

Rasa Itu…

Saturday, February 12th, 2011

Hey…nice to see you here. Finally I can see your face directly.

Entah kenapa, menurutku malam itu bukan malam yang tepat untuk kita ketemu.

Waktunya ngga pas aja. Atau…mungkin karena aku malas untuk bertemu dengan semua hal itu lagi. Atau mungkin…mungkin aku terlalu takut untuk kembali merasakan itu semua.

Aku pengecut katamu? Terserah. Bisa jadi. Aku sudah terbiasa sendiri! Walau…kadang aku sadari mungkin aku tersesat. Tersesat di tengah arogansi keberanianku menjalani hidup tanpa siapapun. Tersesat dalam jalan yang selama ini aku pikir, aku jalani dengan lampu ratusan waat, tapi ternyata tak ada nyala satu lilin pun di sana.

Dan aku kembali melangkah. Gontai. Dengan sejuta pikiran pertemuan kita tadi.

Cukup! Iya, cukup! Kamu cukup membuatku merusak hidupku sendiri. Atau mungkin kamu cukup membuatku untuk tak sanggup hadapi semua rasa yang saat ini sudah ada, nyata di dalamku.

Terus terang, aku merindumu. Sejak pertemuan itu berakhir. Merindu kebencian yang terjadi, yang berubah menjadi semua rasa ini.

Gossshh…kenapa semua rasa seperti ini menghampiri aku lagi siiyy…? Setelah bertahun-tahun aku tak bertemu dengannya. Yang membuatku lupa bagaimana seharusnya aku menghadapinya. Tiba-tiba aku jadi tolol, dan merindu patah hati yang sepertinya lebih sanggup aku hadapi.

Aku beranikan diri untuk mengajakmu ke sana. Tempat duduk itu…adalah tempat kamu cerita segala, yang selama ini mengganggumu. Sayang dan kecewamu. Yang bukan untuk aku. Tapi membuatku mampu tersenyum, walau aku tahu kamu sedang tidak mencobanya. Rasanya seperti ada seribu peri centil yang tertawa kecil dan menari di hati. Saat itu.

Aku hanya bisa berharap, dahagamu bisa berkurang. Karena aku. Di sana. Saat itu.

Kamu tambah membuatku terpuruk. Tak bisa aku sangkal. Aku merasanya. Kamu. Berjuta rasa yang kali ini semakin tak terdefinisikan. Baik oleh otak maupun hati.

Aku tak di sana, Sayang. Tak ada di tempatku ada saat itu.

Andaikan aku punya sayap yang mampukanku untuk terbang. Ke tempatmu. Di mana pun itu.

Tapi kamu tak di sana. Menghilang.

Namun tak lama.

Dan kamu kembali menepi. Mencari yang selama ini mungkin sudah singgah di hatimu, yang mungkin kamu sangkal.

Kamu hadir di sana. Tapi di sini. Dengan hadir ribuan kata terucap. Kembali ungkap rasa. Rasa yang entah ditujukan kepada siapa. Yang saat itu terbungkus renyah tawa. Tawamu…dan tawaku.

Tapi adakah itu benar-benar nyata? Atau hanya segala yang semu?

Adakah beraniku untuk buktikannya?

Karena aku tak tahu bagaimana harus mengatakan ini semua. Menyatakan segala rasaku, yang belum tentu adalah rasamu juga. Rasa yang mungkin saja harus kupaksa hentikan dan kubuat mati, suatu hari nanti. Dan harus melihatnya kembali terlepas dan bahagia dengan rasa yang lain. Miliknya atau dirinya. Yang jelas bukan aku. Mungkin.

Sampai ku titipkan rasa ini pada semesta yang jadikanmu bintang malam sekaligus mentari pagiku.

Dan mungkin benar katamu, bahwa hidup tak pernah adil.

*Thanks for being my falling star and morning sunshine as well. 12th February 2011*

Karena Kamu…

Monday, February 7th, 2011

Terus terang aku ngga tahu kapan terakhir rasa seperti ini ada.
Aku lupa…atau setidaknya aku berusaha untuk melupakan itu semua.
Karena sepertinya ga penting. Dan mungkin bukan karena…
Kamu.

Sampai hari itu. Kamu duduk di situ, menghadirkan sejuta rasa penasaran.
Yang tersimpan dalam satu sosok yang terlihat menyebalkan.
Kamu.

Entah kenapa, entah firasat atau apa, tapi sepertinya mataku salah kali ini.
Dan…brengseknya aku harus buktiin bahwa itu memang salah.
Gak tau kenapa harus…
Kamu.

Kamu ada di depanku. Untuk keduakalinya. Lagi.
Bercerita penuh kata. Dengan binar mata yang tak mampu aku definisikan.
Yang saat itu membuat aku ada. Untuk kamu. Dan karena…
Kamu.

Jujur, aku terpana. Semua cerita darimu untukku.
Kamu bagi untuk aku.
Aku yang baru hadir di hidupmu dalam hitungan hari.
Aku yang mungkin adalah makhluk aneh untuk segala keanehan kamu.

Sampai hari itu. Saat rentetan kata terurai, tertulis di sana.
Saat kamu katakan segala tentang cinta.
Cintamu yang (sempat) ada untuk dia, dia dan dia.
Dia yang kamu simpan rasa dan tak berhasil kamu genggam.
Dia yang harus kamu lepas.
Dan dia yang telah tinggalkan luka dan hempaskan mimpimu.

Lagi. Kamu buat aku ada.
Bagikan rahasia terindahmu.
Bisikan hati.
Dan arti hidupmu.

Hingga bisa hadirkan mentari esok hari.
Harapku, karena aku ada.
Hingga bisa jadikan bintang bermain mata.
Hanya karena kamu ada.

smile

Saat Itu…

Thursday, November 11th, 2010

Please, don’t look at me like that…

Terus terang, gue ga kuat sama tatapan mata loe waktu itu…
Gue GR…
Meleleh…
Salting…
Ga karuan…
Anjrriitt…

Why you have to be so cute, it’s impossible to ignore you…

Elo itu kelemahan gue…
Saat itu…
Saat jari-jari elo menari di tubuhnya…

I can not take my eyes off of you…

Dari pertama kali elo ada di depan gue…
Dengan dirinya…
Bermain dengannya…

Please stop it…

Eh, jangan deh, gue ga mau elo berhenti…
Mainin lagi dounks untuk gue…

And please let me hear it once again…

Walaupun gue harus mengunci mulut gue, tak bernada…

Because, You, are my song…

Walaupun cuma saat itu…

*Elo, Dia, Lagu Gue, Saat Itu, Di Sana, Di Tahun 2010*

tumblr_kwae571mtg1qan5z6o1_500

picture was taken from PoundingHeartBeat

Tak Lagi Mau Mencintamu…

Tuesday, October 5th, 2010

Terus terang, awalnya saya tak cinta sama kamu, Mas…
Tapi dengan segala tatap mata kamu yang menyebalkan itu…
Kamu luluhkan seribu tembok, plus pagar besi, berkawat duri, hanya dalam hitungan hari…

Saya akhirnya jatuh…
Ke dalam cumbu rayu kamu…
Ke dalam pelukan kamu…
Yang akhirnya mempertemukan kedua bibir kita yang tak lagi sanggup keluarkan kata-kata…
Saya jatuh untuk mencinta cintamu…

Akhirnya saya mau untuk mencintai kamu…
Dan tak lagi pedulikan waktu…

Sekian waktu saya habiskan dengan kamu…
Dengan sekian jumlah cinta yang kamu punya untuk saya…
Dan dengan tenaga saya yang rasanya tak pernah habis untuk mencintamu…
Saat itu…

Hingga kita berdua sampai ada di titik itu…
Berjuta upaya untuk terus kita mencinta…
Tapi kamu tak temukan segores pun yang tersisa…
Saya? Sudah kehabisan tenaga untuk berjuang mempertahankan cinta untuk kamu…
Karena kamu sudah tidak mau berada di sisi saya…

Dan saya…memutuskan tak mau lagi mencintamu…
Karena saya…sanggup untuk kembali sendiri…

courtesy video: YouTube

Satu Kesalahan…

Thursday, September 16th, 2010

Sumpah ya…berurusan sama elo itu adalah satu kesalahan besar dalam idup gue.

Termasuk juga kalo gue ga berurusan sama elo. Itu kesalahan besar. Karena gue ga akan pernah tau mencinta gaya elo. Karena gue ga akan pernah tau gimana gue harus membenci sekaligus mencinta. Karena gue ga akan pernah tau gimana caranya menjadi orang tangguh yang harus bisa berdiri, berjalan dan berlari setelah gue terlena oleh elo, dan langsung pun dibuang dari langit. Karena gue ga akan pernah tau gimana menjadi manusia dingin yang harus bisa kebal dengan perih plus luka.

Dan terutama, kalo gue ga pernah berurusan sama elo, gue gak akan pernah tau berharganya perubahan hati dari detik ke detik, hingga akhirnya ia terisi oleh rasa itu.

Cinta. Benci. Dan ketidakpedulian.

Saya, Cinta…

Thursday, February 25th, 2010

Perkenalkan, nama saya Cinta…

Saya makhluk tak berwujud yang paling berkuasa setelah Tuhan…

Duniamu ada di tangan saya…
Karena saya bisa mengubahnya…

Membuatmu menangis…
Lalu tertawa…
Saat ada ataupun tak ada orang lain di sekitarmu…
Semua, hanya dengan satu jentikkan jari saya…

Saya bisa membuatmu mencinta saya…
Saya yang ada di dirinya…
Karena saya membiarkanmu mencintanya…

Dalam hitungan detik, saya bisa membuatmu membenci dia…
Yang sudah membencimu…
Atau bahkan yang masih mencintamu…
Dengan sebuah, seribu atau tanpa alasan sama sekali…

Saya bisa menjadikanmu apa saja…
Malaikat cantik tak bersayap…
Seribu dewa pemaaf…
Kerbau dicucuk hidung…
Atau dedemit bertanduk, lengkap dengan garpu berduri…

Kehidupanmu ada di tangan saya…
Dengan menjadikan harimu penuh semangat…
Harapan dan citamu tergantung di atas surga ke tujuh…
Setinggi gambaran fana dirinya yang tergantung di sana…
Yang ternyata perlu keajaiban tersendiri, untukmu meraihnya…

Jika saya sedang jahil, saya bisa mendatangkan kematian untukmu…
Saat saya bisikkan padanya, bahwa ada saya, Cinta, yang lain di seberang sana…
Saat saya sodorkan seonggok saya, Cinta, yang berbalut daging penuh napsu di hadapannya…
Saat saya membuatnya berbalik arah meninggalkan kamu…
Tanpa alasan…
Tanpa satu gelembung buih liur yang dihasilkan dari rentetan kata yang keluar dari mulutnya…

Saya bisa membuatmu berada di antara sebuah kehidupan dan kematian…
Saat kamu saya butakan dengan dosis saya yang berlebihan…
Saat kamu tak sanggup saksikan dirinya memilih saya, Cinta, yang merasuki orang lain…
Hingga kamu hunuskan belati padanya…
Lalu padamu sendiri…
Yang tak juga mengakhiri hidupmu, apalagi hidupnya…
Jeruji besi hati pun siap terbentang lebar menanti untuk mengurungmu…

Lara, saat fisikmu berada di peluknya, yang kamu miliki…
Tapi saya, Cinta, yang ada di dirimu, adalah milik dia yang tak kamu miliki…

Merana, saat seribu sesal, yang coba kamu hapus…
Tak mengembalikan saya, Cinta, yang terbuang dari hatinya…

Tapi saya, Cinta, akan selalu menjadikanmu dewasa…
Walaupun saya, Cinta, akan selalu merangkul benci dan pahit, untuk ditawarkan padamu…

Dan atas nama saya, Cinta…
Saya akan selalu menghantuimu…
Bersamamu…
Bahkan di hari kematianmu…

…Cinta…

Setahun Kemarin…

Thursday, December 3rd, 2009

Sayang, ini aku…tolong kali ini kamu dengerin aku ngomong…

Aku ga tau gimana caranya kamu tiba-tiba dateng dan muncul di lembar hidupku, November tahun lalu. Di saat yang tepat, kala hatiku tercabik ga keruan. Sumpah aku ga tau, apakah itu kebetulan, atau emang Yang Punya Semesta lagi kurang kerjaan, nemuin dua orang yang kewarasannya selalu dipertanyakan ini. Padahal aku yakin Dia itu ‘dah tau persis kamu n aku kayak apa, dan kalo ketemu juga bakal kayak apa…

Dari sekian banyak perempuan yang dateng ke kamu, yang menawarkan semua atribut cinta, kamu malah milih aku, yang ga bawa apa-apa, bahkan hatiku masih tertinggal di suatu tempat…

Bukan aku tak punya pilihan. Aku bisa memilih untuk ga sama kamu, dan ga sama siapa pun juga. Tapi tak tahu kenapa aku memilih untuk sambut genggaman tangan kamu, saat sisa hujan di bulan November tahun lalu masih tercium ketika aku memasuki mobilmu Jumat malam itu…

Degup jantung ini berdetak keras, seketika mata ini kembali melihatmu…

Hingga akhirnya hati ini pun tak bisa terbendung untuk mencintamu. Mencinta segala kelaknatan definisi mencinta dan dicinta dengan caramu…

Dan kita berdua sepakat untuk memulai jalan panjang kita, di awal Desember…

Walau hati ini harus kembali teriris, tersayat, oleh segala pendewasaan pilihan kehidupan yang sudah aku pilih untuk aku jalani…bareng kamu…

Dan sampai detik ini…belum bisa aku pilih untuk aku akhiri…karena semua ini begitu menakjubkan untuk diakhiri walau begitu tragis untuk dilanjutkan…

Terima kasih untuk setahun yang begitu menakjubkan dan begitu tragis…

Remembering November Rain on 21st November 2008 & YM Dawn Chatting on 3rd December 2008

*published at the dawn of 3rd December 2009*

Jawaban…

Monday, November 23rd, 2009

Apa? Kamu tanya kapan terakhir aku menangis?

Maaf, Sayang, aku ngga punya jawaban, karena aku lupa terakhir aku membiarkan derai air mata mengalahkan logikaku.

Lalu, kamu tanya apakah aku memikirkanmu?

Aku benar-benar berharap, aku bisa melakukan itu. Memikirkanmu terus-menerus di hari-hariku.

Dan ini, adalah pertanyaanmu yang ketiga. Kapan terakhir aku mencintaimu?

Ah, itu merupakan pertanyaan yang mudah untuk aku jawab…

Mungkin sekarang, hari ini. Mungkin kemarin, dan bisa jadi besok, lusa, tahun depan atau entah kapan…

Karena terus terang, aku tak tahu lagi rasa itu…

Karena kamu…

Hari Ini…

Wednesday, October 28th, 2009

Ilahi tahu mengapa aku tak berlomba dengan waktu pada hari ini, yang menurut jam di sudut kanan bawah komputer jinjing ini sudah dimulai 6 menit yang lalu.

Aku tidak akan berlomba dengan kerumunan para penggemarmu pada hari ini. Tidak di antara kiriman-kiriman manis yang akan tersuguh di depanmu pada hari ini.

Aku akan menyingkir dari mereka, menyudut, meringkuk di sana, untuk menunggu mereka pergi. Setelah kedatangan mereka untukmu yang hanya hari ini.

Aku akan biarkan mereka memilikimu hari ini.

Biar hari ini aku istirahat sejenak, dari menjagamu. Biar aku sejenak miliki waktu untuk kembali berada di sudut hidupku, yang selalu menyimpan hatimu.

Aku tak layak berada di kerumunan itu, karena bagiku harimu tidak hanya hari ini.

Aku tak layak bersama dengan mereka, karena mereka tidak sepertiku yang ada bagimu di hari-hari mereka menghilang.

Biarku lenyapkan diri, hari ini. Biarku rangkaikan mafela indah untukmu dalam doa heningku hari ini. Hanya untuk hangatkanmu mulai besok. Agar masih ada hari ini untukmu, tahun depan.

Hari ini adalah hari milikmu, Bintangku…

Tapi bukan hari milikku…