Posts Tagged ‘Sosial’

Tolong Dong Bersihin Mejanya…

Sunday, August 29th, 2010

Pernah dengar berita bahwa sekarang banyak masyarakat Indonesia yang terpaksa makan nasi aking dounks ah pastinya? Atau pernah lihat sendiri, ada orang di luar sana yang terpaksa mengais-ngais tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan untuk mereka makan? Atau menjadi saksi dari mereka yang mengucap kata minta dikasihani, karena dari kemarin belum makan?

Sedih? Mulai menyalahkan orang lain? Menyalahkan dan menghujat Pemerintah karena tak becus mengurus negara? Atau sebenarnya mungkin itu salah kita sendiri?

Yuk…saya coba membawa kalian jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, atau kantin kantor…tepatnya ke Food Court.

Pernah khan ya jalan-jalan ke tempat seperti itu? Apa yang paling menyiksa kalau ke pusat jajanan di pusat perbelanjaan, atau di gedung perkantoran? Bagi saya sih, hal yang paling menyiksa adalah mencari meja dan kursi untuk duduk agar kita bisa menikmati makanan yang akan kita santap, apalagi memang saat jam makan. Hal ke dua yang paling menyiksa lainnya? Bingung mencari makanan apa yang akan kita santap saat itu.

Mulailah kita berjalan mengitari area sekian meter kali sekian meter tersebut, dari ujung ke ujung.

“Eh…bentar…tuch itu tuch ada orang yang kayaknya bentar lagi bakal selese makan. Bener khan, yuk, buruan biar ga diambil orang lain mejanya.”

“Gue tunggu di sini dulu deh, elo pesen makanan dulu ke tempat yang elo mau.”

Dan duduklah saya di sana, atau sepertinya kamu juga pernah mengalami hal serupa. Duduk di bangku, yang di depanmu ada meja, yang di atasnya masih belum bersih…

Masih belum bersih dari ceceran makanan, dari makanan yang tumpah, atau dari makanan yang memang tak dimakan atau tak berhasil dihabiskan karena perut sudah tak memadai untuk memakan semuanya.

Dan sisa-sisa itulah yang mungkin saja menjadi makanan utama, mereka yang nasibnya belum seindah saya, kamu, dia atau mereka yang mempunyai kehidupan jauh lebih baik.

Nah…coba pikir-pikir lagi, masih mau menyalahkan orang lain, karena masih ada nasi aking yang harus menjadi menu utama orang lain di luar sana?

Saya cuma mau berbagi sedikit nih…tips untuk urusan menyantap makanan, tapi tak perlu meneteskan air mata, untuk kita dan untuk mereka yang masih kurang beruntung. Kebetulan, kapasitas perut saya untuk menampung makanan, tidak terlalu banyak, jadi saya punya cara-cara tertentu agar makanan yang akan saya makan tidak akan terbuang mubazir…

1. Kalau kamu makan ditemani beberapa teman, usahakan ada satu di antara mereka yang memang dapat dijadikan “trash bin” alias bersedia menghabiskan makananmu jika memang nantinya tak habis.

2. Kalau tidak ada yang bisa dijadikan “trash bin”, mulailah lihat-lihat ke tetangga/meja sebelah yang sudah terlebih dahulu makan. Lihat menu yang mereka pilih, terutama lihat besarnya porsi, dan mulailah mengira-ngira kemampuan kamu menghabiskan makanan saat itu, apakah dapat menghabiskan makanan dengan porsi banyak atau porsi sedikit. Atau bisa juga sekalian tanyakan ke pramusaji seberapa besar porsinya. Kalau sepertinya kamu tak mampu menghabiskan makanan tersebut, mulailah kongkalikong dengan temanmu, kira-kira mau paroan atau tidak makanannya, atau usul pesan makanan yang bisa dimakan ramai-ramai *bisa ngirit uang juga nih kalo mau saweran ama temen*.

3. Kalau di antara lauk-pauk di dalam menu yang kamu pilih ternyata ada yang tidak kamu suka, tanya ke teman-teman kamu apakah mereka mau memakannya? Tentu saat makanan masih dalam kondisi bersih.

4. Lebih baik mengambil/memesan dengan porsi kecil, kalau masih kurang kenyang baru tambah. Atau kalau bisa minta dengan porsi setengah, sepertinya akan lebih baik ya, walaupun harganya sama, daripada terbuang.

5. Kalau tidak habis? Nihhhhh…kebiasaan si Mama, yaitu bungkus-membungkus makanan yang tak habis dimakan, sudah mulai saya ikuti. Biasanya saya akan minta makanan sisa itu untuk dibungkus rapi. Bungkusan itu sebagai cadangan, kalau sampai rumah ternyata lapar lagi. Eh, tapi kalaupun sampai di rumah ternyata tak termakan juga, di rumah saya ada (tinggal) 5 ekor anjing, jadi makanan tersebut masih bisa dipilih-pilih lagi, mana yang masih boleh dimakan oleh anjing-anjing saya, mana yang tidak boleh.

6. Intinya adalah…ambil atau pesan makanan sesuai dengan kapasitas perut, sehingga makanan tidak mubazir terbuang.

Sekarang…mari kita makan, tanpa menambah dosa lebih banyak karena membuang-buang makanan, sementara di luar sana, masih banyak yang belum makan.

Mas, Gue Mau Pindah Agama…

Sunday, September 6th, 2009

Sampai detik ini, saya nyatakan bahwa saya masih memeluk agama Katholik. Dan sampai detik ini juga, saya masih melayangkan doa agar saya diizinkan tetap punya keteguhan hati, untuk berada di Gereja Katholik sampai saya dinyatakan selesai menjalankan tugas di dunia. Doa itu tetap terucap, meski saya bukanlah orang yang pantas menjadi panutan dalam menjalankan segala sesuatu yang harus saya jalankan, agar Tuhan memberikan perintah kepada St. Petrus, untuk membukakan pintu surga bagi saya.

Kenapa saya masih di Gereja Katholik? Kenapa saya masih melayangkan doa tersebut, kepada si Empunya hidup saya? Jawabannya hanya satu, yaitu saya masih merasa Katholik adalah yang terbaik untuk saya.

Mungkin beberapa dari kalian akan mengatakan “Ya ga heran, la wong Katholik dari kecil.”

Saya memang terlahir dan besar di keluarga Katholik. Dibaptis dengan nama yang sama, dengan yang dulu dipakai oleh St.Anastasia, dan menerima Sakramen Krisma dengan nama pelindung St. Rufina. Mengenyam pendidikan pun dari SD hingga kuliah, juga di institusi pendidikan Katholik.

Namun itu semua bukan menjadi alasan utama saya, untuk tetap berada di sana. Berada di Gereja Katholik. Kembali saya katakan bahwa Katholik masih menjadi yang terbaik untuk saya.

Begitu pun dengan Bapak yang saat ini sedang membangunkan sahur melalui pengeras suara Masjid, dan mungkin kamu yang saat ini sedang menjalani puasa, yang diusahakan 1 bulan penuh, masih memeluk agama Islam. Juga dengan teman-teman yang masih membuat sesajen persembahan di Pura kecil di rumahnya juga di mobilnya. Atau mereka yang masih memasang dupa saat mereka hendak berdoa di Wihara atau Klenteng. Mungkin salah satu alasan mereka tetap melakukan itu semua, karena mereka masih menganggap bahwa agama yang dipeluknya adalah yang terbaik menurutnya.

Namun apakah pikiran bahwa agama yang kita peluk itu merupakan yang terbaik untuk kita, lantas bisa dijadikan alasan untuk fanatik terhadap agama secara berlebihan, bukan ke dalam diri kita, tetapi ke luar diri kita sendiri? Dan kemungkinan terburuknya dapat merusak tali silaturahmi antar kita sesama manusia, yang notabene adalah bentukan dan ciptaan Sang Punya Semesta.

Jadi ingat cerita seseorang yang saya sayangi, saat ada seseorang yang saya sayangi lainnya bercerita padanya, yang kebetulan orang ini saat itu sedang berpacaran dengan seseorang yang saya sayangi juga (*Mudah-mudahan kamu ga repot mencerna kalimat ini ya?!* :mrgreen:)…

“Mas, gue pengen pindah agama. Menurut loe gimana?”

“Kalo untuk urusan itu, gue ga bisa jawab sama sekali. Itu yang tau cuma hatimu, dan tanggung jawabmu sama yang di Atas. Aku ga boleh sama sekali mempengaruhi kamu.”

*Ah, memang saya selalu dibuatnya menjura dirinya, atas kecanggihan otaknya yang sangat dahsyat*

Lalu, akankah kita menghormati setiap keputusan seperti itu; keputusan memilih jalan lain, memilih agama lain, atau bahkan memilih untuk menjadi seorang Agnostik atau seorang Atheis; dengan tidak merusak hubungan baik kita dengan mereka yang melakukannya? Menghormati pikiran mereka, bahwa agama yang dipeluknya saat ini, sudah bukan yang terbaik untuknya?

Knock-knock. Hey…your heart is knocking…

Once more…We are all beautiful with these differences…

—-

“Selamat hari minggu…Hmmm, kalo ntar ke gereja, nitip salam yah ama Oom J…!!” (*Lohhhh? Wakakakakak LOL*)

Indahnya Perbedaan…

Thursday, August 27th, 2009

Damai rasanya saat saya melihat barisan wanita bermukena berbaris berjajar saat mereka mengikuti Sholat Tarawih berjemaah, di bagian belakang masjid yang saya lewati. Yang diikuti dengan pemandangan barisan para pria dengan kopiah dan baju koko di masjid bagian depan. Mereka berdiri, bersujud dan menyembah Allah, dengan penuh rasa syukur atas hidup yang diberikan.

Tak kalah damai rasa di hati, saat saya duduk mengikuti misa di dalam gereja, dengan iringan paduan suara yang bertugas melantunkan lagu-lagu syahdu, yang juga merupakan doa yang kami panjatkan pada yang Empunya Nyawa. Apalagi saat perayaan hari raya besar, seperti Paskah (*FYI: yang tidak sama dengan perayaan kematian Yesus, atau Jumat Agung*), dan Natal. Saat semua lagu yang terindah dibawakan; saat Altar terhias bunga lebih meriah daripada biasanya; saat nelangsa dalam hati, karena kesadaran bahwa manusia ini lemah tanpa Tuhan, lebih terasa; saat sukacita karena keluarga kembali ke rumah.

Namun rasa itu terhempas begitu saja, setelah saya teringat penggalan berita yang sempat saya dengar dari televisi. Berita tentang himbauan untuk selalu mewaspadai isi kothbah-kothbah di masjid, yang mungkin saja merupakan hasutan untuk beralih ke jalan yang menyesatkan. Bertambah sedih karena teringat, bahwa kami harus melewati pemeriksaan Polisi di pintu masuk saat kami akan memasuki pintu gereja, terutama pada misa hari raya besar, yang memberlakukan satu pintu masuk dan satu pintu keluar, yang membuat umat lebih lama mengantri keluar dari gereja.

Miris memang kalau ingat hal itu. Dan semua itu terjadi setelah teror bom mewarnai negara kita ini.

Saya ingat betul bagaimana ngerinya liputan televisi tentang tragedi teror bom di banyak gereja, yang terjadi saat perayaan Malam Natal tahun 2000, merupakan teror bom pertama kali di Jakarta; yang kemudian disusul teror-teror bom di tahun-tahun berikutnya, di berbagai wilayah Indonesia, yang juga sangat mengerikan. Teror bom yang dilakukan karena tujuan tertentu, tujuan di mana menentang adanya pluralisme, yang merupakan suatu hal yang mendasar dari sebuah kehidupan, sejak kita dilahirkan.

Saya? Perempuan. Kamu? Laki-laki. Dan kamu satunya? Perempuan. Saya? Jawa dengan campuran sedikit Manado. Kamu? Mungkin Jawa bercampur Cina, mungkin Ambon bercampur Batak. Dan dia? Manado campur Aceh campur Portugis. Eh, atau dia yang di sana? Jawa, Manado, Cina, Belanda. Saya? Beragama Katolik. Teman saya yang satunya? Kristen Protestan. Kamu? Muslim. Atau dia, yang seorang Hindu. Yang di sebelah sana, kalau berdoa di Vihara. Saya kadang bicara dengan bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa. Kamu mungkin berbahasa Sunda dan kadang bicara Mandarin (*Ajarin gratis dounks hahahaha*). Si peranakan Jawa-Prancis di sebelah sana, terdengar seksi saat berbicara dengan bahasa Prancis (*Parlez Français Monsieur?*)

Pada dasarnya Tuhan menciptakan kita sudah dengan segala ciri khas masing-masing yang melekat ke diri kita, dan tentunya karena itu semua adalah suatu yang khas, pada akhirnya akan membawa ke perbedaan antara satu dengan yang lain. Dari yang paling dasar saja, jenis kelamin sudah dibedakan, letak geografis yang mendasari terciptanya suku bangsa dan bahasa, juga berbeda; kita pun mempunyai cara yang berbeda-beda untuk berkomunikasi dengan Allah.

Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah kehidupan akan lebih damai saat yang berbeda itu dapat hidup berdampingan, tanpa curiga, tanpa rasa takut, tanpa iri hati dan benci? Bukankah yang berbeda itu ada untuk dapat saling mengisi dan melengkapi satu sama lain?

Semoga himbauan untuk terus memperhatikan khotbah dan ajaran-ajaran pemuka agama, karena adanya rasa takut, kalau-kalau ajaran tersebut dapat menjerumuskan, juga penjagaan polisi di pintu depan gereja tidak perlu ada lagi. Hanya karena kita sudah bisa berdamai dengan diri sendiri, dan berdamai dengan orang lain dengan segala perbedaannya. Hanya karena semua manusia sudah menjunjung tinggi dan menghargai pluralisme.

Malaikat Tak Sempurna…

Tuesday, August 18th, 2009

Melewati daerah semi “Bronx” setiap pulang kantor, bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi jika saya pulang kantor sedikit lebih terlambat daripada biasanya, saat matahari sudah benar-benar menghilang terlelap.

Maklumlah, saya menggunakan kendaraan umum saat bepergian, terutama untuk pergi dan pulang kantor. Ya, namanya juga kendaraan umum (apalagi bukan taksi), pintunya tak pernah tertutup, yang berarti pula terbuka untuk siapapun untuk memasuki kendaraan itu.

Saya hanya bisa berdoa dalam hati, agar perjalanan saya tidak diganggu oleh orang-orang iseng, yang sempat beberapa kali memang memperlakukan penumpang secara semena-mena, bahkan penumpang yang jarak duduknya tidak jauh dari saya. Puji Tuhan, hal itu tidak (akan) menimpa diri saya.

“Duh, lewat daerah itu ntar dah gelap lagi. Our Father, Jesus, Mother Mary, St. Joseph, and Holy Spirit please be with me always.”

Hanya berbekal kalimat itu, yang mengawali langkah kaki saya saat bepergian, terutama pulang kantor di saat hari sudah gelap.

Namun kekhawatiran saya seperti itu, sering tergantikan dengan indahnya berbagai liputan jalanan yang bisa saya nikmati, tanpa harus berkonsentrasi dengan kendaraan yang saya kendarai, atau dengan lalu lintas Jakarta yang tak pernah jelas, atau dengan pengendara motor yang sering membuat saya bludreg (*Hehehe, sorry to say, tapi memang saya prefer masuk tol untuk menghindari ugal-ugalan si pengendara motor*).

Begitu pun dengan hari Jumat lalu. Saat saya baru bisa menginjakkan kaki keluar kantor, saat hari sudah gelap.

“Ah sudah lah, doa, pasrah and usaha.”

Saya pun menaiki kendaraan yang saya tahu akan membawa saya ke tempat tujuan. Memilih bangku yang dirasa cukup nyaman untuk saya duduki selama perjalanan. Sambil sesekali melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri saya.

“Beneran nih, ampe daerah brengsek itu dah gelap, sepi and macet.”

Ditambah saat itu saya adalah satu-satunya penumpang di dalam kendaraan.

“Biarlah. PD kelas berat gue.”

Namun rasa khawatir karena saya satu-satunya penumpang di sana, tak berlangsung lama. Ada penumpang lain yang naik ke kendaraan. Dan hei, penumpang ini sangat menarik perhatian saya selama perjalanan kali ini. Bukan karena penumpang ini ganteng atau cantik, wangi, atau berpakaian aneh-aneh, tapi karena penumpang ini saya anggap luar biasa.

Ia seorang pria, kira-kira berusia 40 tahunan, berpakaian putih dan berkopiah. Ia seorang pedagang, yang baru saja selesai berdagang. Saat ia ingin naik ke kendaraan, ia terlebih dahulu menaikkan perangkat ia berjualan, seperti gentong kecil, kayu pikulan, dan ember kecil yang berisi gelas-gelas kecil pula. Barang-barang yang dinaikkan, masih diatur seadanya, yang penting naik ke kendaraan. Termasuk tongkat yang menjadi alat bantu ia untuk berjalan. Dan terakhir yang berusaha naik ke kendaraan adalah si empunya peralatan jualan tadi.

Bukan hal mudah bagi dia untuk naik ke kendaraan. Tidak semudah kita, setidaknya saya, yang Puji Tuhan, Alhamdulilah, yang masih diberi organ tubuh yang lengkap dan tak bercacat.

Ia duduk dulu di undak-undakan di pintu kendaraan, lalu ia memutarkan badannya, sambil seperti “memapah” salah satu kakinya yang cacat itu, yang maaf sekali, kakinya tampak benar-benar lunglai klewer-klewer (seperti patah, tapi semoga tidak patah). Miris ya membayangkannya? Saya pun melihat kondisi kakinya itu dengan penuh rasa iba. Namun semua rasa iba itu hilang saat saya lihat ekspresi wajahnya, dan senyum renyahnya yang menyapa para penumpang, yang kebetulan bersamanya ada beberapa penumpang lain yang juga ikut naik.

Saya pun akhirnya mengetahui bahwa ia adalah penjual es jeruk, dari papan kecil yang tulisannya sudah mulai pudar, yang tergantung di pegangan gentong kecil, tempat ia menyimpan es jeruk buatannya. Es jeruk yang dijualnya dengan harga Rp.1.000 setiap gelasnya.

Dengan banyaknya barang bawaannya, kendaraan tampak penuh, padahal masih bisa diisi oleh beberapa penumpang lagi. Dan saat kendaraan diberhentikan oleh penumpang yang ingin masuk, dan nyaris saja membatalkan niatnya itu, si tukang jeruk ini, bergegas kembali membereskan peralatannya, sampai-sampai ia harus memeluk gentong kecil itu, yang membuatnya tampak semakin mendelep.

Sampailah kendaraan yang saya tumpangi itu di daerah yang dijadikan tempat nongkrong kumpulan anak punk, para preman, pengamen, sampai peminta-minta yang caranya setengah mengancam para penumpang. Doa saya pun semakin kencang saat saya berada di daerah itu.

Saat ada satu anak punk yang dulu beberapa kali sempat (mungkin) mengamen, tapi tak jelas itu, hendak naik ke kendaraan yang saya tumpangi, namun baru saja ia hendak duduk di bangku yang di dekat pintu, ia mengurungkan niatnya, seiring ia melihat si tukang es jeruk itu.

Dan si supir yang sepertinya sudah mengenal si tukang es jeruk, bertanya padanya…

“Kenapa dia ga jadi masuk?”

“Hahahha, tauk tuch, liat gue dia sepertinya”, jawab si tukang es jeruk.

Dan dari kaca jendela kendaraan, saya melihat kumpulan anak-anak punk di sekitar sana, melihat ke arah si tukang es jeruk itu, seolah sungkan bahkan takut dengan dirinya.

“Weitttsss..kenapa mereka bisa sesungkan itu ya, sama si tukang es jeruk?” pikir saya bingung.

Perjalanan terus berlangsung, seiring penumpang yang satu per satu sudah harus turun, karena telah sampai ke tujuan. Kembali tinggalah saya, si tukang es jeruk, satu penumpang lainnya, dan si supir.

Keleluasaan saya mengamati, bahkan mendengar percakapan si tukang jeruk dengan si pak supir pun semakin besar.

“Hahaha, ia lohh..gue kalo ga kerja, mana bisa gue ngidupin istri anak gue ‘kan?”

Namun sayangnya itu satu-satunya kalimat yang saya ingat betul terucap dari mulut si tukang es jeruk.

Tibalah si tukang es jeruk ini harus turun, karena ia sudah sampai di tujuan. Si supir sengaja memberhentikan kendaraannya di depan pangkalan ojek. Mungkin maksudnya, agar si tukang es jeruk itu mendapat bala bantuan untuk menurunkan peralatan jualannya. Dan ternyata memang benar, (mungkin ini juga sudah menjadi langganan tiap hari) para tukang ojek di luar sana, sudah bersiap-siap membantu si tukang es jeruk untuk turun. Dan kembali si tukang es jeruk ini setengah “memapah” kaki cacatnya, yang tak tampak sama sekali menyiksanya.

—-

Did you get something from this story?

I did. Guy with this disability, bisa tetap cerianya menjalani hidup, setidaknya hidupnya yang saya lihat kurang dari 1 jam itu. Cacat kaki tak dirasakan olehnya, tapi mengapa sering kali orang yang bertubuh lengkap dan tanpa cacat lebih banyak mengeluh daripadanya?

Lalu, mengapa orang lain, sungkan terhadapnya? Terhadap dia yang cacat. Namun mengapa terkadang masih ada orang yang tidak menghargai kita yang tak cacat secara fisik ini?

Dan satu hal yang tak terkira saya rasakan, orang ini, yang notabene mempunyai predikat orang cacat, telah memberi saya rasa aman, sepanjang perjalanan.

—-

Tuhan menjawab doa saya, dengan mengirimkan malaikat tak bersayap, dan tak sempurna yang hadir menemani perjalanan saya saat itu.

My God, big thanks to you, Sir! Really I do.

Thank u Father, Oom J, Mother Mary, St. Joseph, and my Holy Spirit for sending him to me!

Banyak Anak Banyak Rezeki?…

Saturday, August 1st, 2009

Kali ini, saya ingin menuliskan sesuatu hal yang cukup “berat” (*Sesekali ga jadi pujangga amatiran dan pendongeng cinta, tak apa ‘kan? :D*).

Semua bermula saat saya pulang kantor dengan kendaraan umum beberapa hari lalu. Ya namanya kendaraan umum, apalagi bukan taksi, pasti siapa saja diperbolehkan naik. Kebetulan kendaraan yang saya tumpangi ini sudah mulai kosong ditinggalkan para penumpang yang sudah turun, di tujuan mereka masing-masing. Hanya tinggal saya dan beberapa orang yang dari penampilannya terlihat seperti pulang kantor.

Tiba-tiba kendaraan berhenti, karena ada penumpang di luar sana yang hendak naik.

Biasanya saya tak terlalu perduli dengan lalu lalang penumpang yang naik turun ke kendaraan yang saya tumpangi. Namun tidak kali ini.

Orang pertama yang saya lihat memasuki pintu kendaraan adalah anak kecil laki-laki kira-kira usianya 11 tahun. Yang kedua, masih anak kecil, lebih kecil dari yang pertama, tapi perempuan, berambut panjang yang semua helainya sedang ditata menyatu, dikesampingkan ke salah satu bagian pundak, memakai kaus dan rok panjang. Usia anak perempuan ini mungkin sekitar 10 tahun. Berikutnya, juga masih anak kecil, perempuan, sepertinya lebih muda dari pada dua anak sebelumnya, berambut pendek, berkaus dan bercelana pendek. Dan yang terakhir masuk, langsung dua orang sekaligus (*Loh, gimana bisa sekaligus dua orang?*). Barisan terakhir dari rombongan yang masuk terdiri dari satu orang perempuan dan satu bayi yang masih digendong. Begitu perempuan ini duduk, ia juga masih mengatur posisi duduk krucil-krucil yang sebelumnya masuk ke kendaraan. Saya pun langsung berpikir “Ohh, ini ibu mereka”, hal ini juga dikonfirmasi dengan salah satu dari tiga anak yang masuk pertama kali, memanggil perempuan ini dengan mama.

Saya pun langsung pasang mata (walau tak terlalu kelihatan) dan pasang telinga untuk dapat merekam aktivitas mereka dalam kendaraan.

Hmmm, celotehan anak-anak itu memang selalu lucu ya. Mendengar tawa renyah mereka, memang sangat menyenangkan. Apalagi mereka terlihat akur dan sayang sekali dengan adik mereka yang masih di gendongan ibunya. Si bayi ini sepertinya sudah memasuki masa awal usia toddler (1-3 tahun), karena sudah bisa berjalan.

“Sini Dek, duduk sini aja. Sama kakak sini.”

Si anak perempuan yang berambut pendek itu kemudian menuntun adiknya menuju ruang kosong di bangku panjang, di antara ia dan si kakak perempuan yang berambut panjang tadi.

Tak lama dari si adik paling kecil itu pindah duduk, si ibu sudah meminta si adek dari kakaknya, untuk kembali digendongnya. Rupanya si ibu terlalu takut si adik paling kecil itu berada sedikit jauh dari jangkauannya. Maklumlah si supir memang sering sembarangan mengendarai kendaraan itu.

Saya pun beralih pandang ke si kakak perempuan yang berambut panjang tadi. Saat saya lihat, ia sedang menyanyikan sebuah lagu yang tak bisa saya dengar dengan jelas. Namun anak ini menyanyikannya dengan menggunakan gaya. Ya, miriplah dengan gaya seorang anak yang sedang bernyanyi di atas panggung, tapi bedanya ini dilakukan dengan posisi duduk. Sesekali adik perempuan yang berambut pendek itu, menggodai kakaknya dengan ledekan-ledekan kecil, ataupun menyanyikan lagu yang berbeda tepat di samping telinga si kakak, untuk mengacaukan nada si kakak yang sedang bernyanyi.

“Si rambut panjang ini cantik deh.”

Serius si kakak perempuan berambut panjang ini memang cantik dan kemayu. Ya, namanya sebentar lagi sudah jadi ABG.

Pengamatan selanjutnya, tidak terlalu menarik perhatian saya, karena si abang yang paling besar di antara mereka, hanya duduk sambil memandangi apapun yang ada di luar kendaraan.

Lalu, tahu tidak apa yang saya pikirkan setelah sedikit sibuk “memberi perhatian” terhadap apa  yang mereka kerjakan?

“Duuuuuhhh, Bu, kok anaknya banyak banget ya. Masih kecil-kecil dah punya bayi lagi. Tiga anak mang ga cukup?”

Si ibu ini menurut saya keadaan ekonominya tidak terlalu buruk jika dibandingkan mereka yang saya temui pada kejadian-kejadian serupa terdahulu. Nah kasus terakhir ini, benar-benar yang membuat saya berpikir bahwa saya harus menuliskan ini, karena tak cuma satu atau dua kasus serupa yang saya lihat selama saya bepergian.

Saya tidak underestimate kemampuan para orang tua untuk mengurus anak-anaknya, terlepas dari semua latar belakang yang dimiliki oleh orang tua tersebut, karena saya percaya setiap orang tua rela berkorban, nyawa sekalipun, agar anak-anak mereka bisa tetap hidup.

Pertanyaan selanjutnya, bukankah saat ini banyak orang yang mengeluhkan bahwa semua harga mahal? Dari harga kebutuhan pokok, biaya kesehatan, biaya transportasi, dan termasuk biaya sekolah.

Sekali lagi saya tidak meragukan kemampuan pengorbanan para orang tua, tapi apakah para orang tua ini benar-benar telah merencanakan apa yang akan mereka bawa di kehidupan keluarga mereka? Berapa penghasilan mereka satu bulan, berapa kebutuhan pokok yang mereka keluarkan sehari-hari, uang yang harus disisihkan untuk jaga-jaga jika ada keluarga yang sakit, uang yang diperlukan saat kita butuh istirahat dan rekreasi, biaya transportasi, telepon, listrik, air bersih, dan biaya sekolah krucil-krucil tercinta? Apa iya, orang tua harus kerja terus-menerus agar dapur selalu bisa ngebul dengan dahsyat? Lalu kapan bisa membagikan cinta dan perhatian ke anak-anak, jika sepulang bekerja hanya tinggal mandi, makan lalu tidur atau bekerja lagi melanjutkan pekerjaan kantor yang masih belum selesai?

Saya memang belum berkeluarga merasakan sendiri itu semua, atau mungkin saya sedikit takut kalau-kalau saya tidak bisa melakukan perencanaan yang baik untuk keluarga saya nanti?

Namun yang jelas perencanaan keluarga itu sepertinya (menurut saya pribadi) memang perlu looo…termasuk perencanaan jumlah anak yang akan dimiliki. Hmmm, kalau tidak, duh tak terbayang seberapa penuhnya Indonesia, seberapa sesaknya Jakarta, seberapa hancurnya alam ini karena semakin tak terurus, karena manusia sibuk memenuhi kebutuhannya masing-masing, dan salah satunya mengorbankan (baca: merusak) alam?

Pada akhirnya saya memaklumi, mereka yang memutuskan mempunyai satu orang anak saja. Apalagi kalau alasannya sudah seperti ini…

“Biar fokus semuanya, biaya sekolahnya, perhatiannya. Lagi pula sekarang apa-apa mahal.”

Heiiii…jangan lupa, penduduk Indonesia sudah 200 juta orang lebih loh. Lalu terakhir yang ada di otak saya…

“Mang program KB gak digalakkan lagi?”

Dan semoga tawa renyah mereka tidak hilang hanya karena mereka suatu saat terpaksa merasakan putus sekolah, karena orang tua mereka tak ada biaya.