Posts Tagged ‘Renungan’

I Just Want My Own World…

Tuesday, March 22nd, 2011

Bukan BB kalian yang lemot; jangan salahkan provider kalian yang tidak memberikan laporan umpan balik D atau R saat kalian mengirimkan pesan BBM ke saya. I turned it off all, bahkan si Bébé saya copot baterainya.

“Beberapa puluh tahun lalu, bisa kok hidup tanpa handphone, masakh sekarang ga bisa?”

Terus terang saya termasuk orang yang tidak terlalu rempong jika handphone tertinggal di rumah. Apalagi jika saya baru tersadar tidak membawanya saat saya sudah di tengah perjalanan berangkat ke suatu tempat (terutama ke kantor). Kemungkinan besar saya tidak akan repot-repot berbalik arah dan mengambilnya ke rumah.

“Mayannn…seharian ga ada yang repot nyariin gue. Gak akan ada yang berisik.”

Dan hal itu sudah kejadian berkali-kali.

Termasuk akhir pekan kemarin. Saya membiarkan hidup saya tanpa bunyi-bunyian dari dua perangkat telepon genggam yang saya miliki. Walaupun saya tahu ada beberapa acara yang seharusnya saya hadiri.

Semua berawal saat Jumat malam. Saat semua rasa kembali membuncah tak karuan; urusan pekerjaan, memori masa lalu, yang semuanya tiba-tiba membuat kepala ini rasanya ingin pecah, ditambah dengan rasa yang tak jelas apa, dan tak bisa saya definisikan.

Mencoba untuk menjadi seseorang yang berbeda. Mencari seseorang yang sepertinya bisa saya andalkan untuk berbagi cerita. Mencarinya di deretan nama yang ada di sekian ratus nama yang termasuk di BBM kontak yang saya miliki. But the result…no reply…nor R report at my BBM.

“Yah, who the hell i am for that person!”

I just remember a message was dropped in my Facebook few days ago…

“hey you!

you know, i always wonder why i don’t have many friends.. it’s not that i don’t like meeting new people, it’s not that i don’t actively try to talk and approach people, it’s not that i don’t open myself to new people. there’s one thing though, it’s hard for me to keep in touch with people. mungkin karena suasana jakarta, mungkin karena gw ga mau mengganggu orang” yang tampaknya sibuk, mungkin because i’m shy in nature :p

but there’s also another thing, it’s because it’s hard to find someone like me. someone who cherishes the same things, holds the same values, and other things i cannot really explain. you are one such person i can really connect with and yet i cannot stay in touch with you.. heheh.. sucks huh..

well, hope everything’s fine with you..”

atau sederetan kalimat (yang berujung dengan kalimat di bawah ini) dari seseorang yang Jumat malam lalu saya cari tapi saya tak tahu dia dimana…

“I’m lonely, but gw juga siy yang mau lonely.”

Dan semua itu membuat saya tersadar kembali, I’m part of them…dengan satu dan seribu satu alasan lainnya, atau bahkan sepertinya akan lebih baik jika saya tetap dengan diri saya sendiri. Sendiri.

No man is an island?? Yeah right…tell me about it!!! Coz sometime we are asked to be alone…then we choose to be lonely.

*aahhh…enaknya hidup tanpa handphone…gue terusin aja po seterusnya, ga cuma weekend ini aja?

Semua Karena Cinta…

Sunday, September 12th, 2010

Beruntung sekali, saya sudah tidak bekerja di perusahaan yang tetap mengharuskan pegawainya bekerja saat orang lain sedang menikmati liburan. Termasuk liburan Lebaran kali ini, yang akhirnya bisa saya nikmati bersama keluarga.

Saya bukan seorang muslim, tapi bukan berarti saya tidak merayakan Hari Raya Idul Fitri. Ada satu ritual rutin tahunan yang dilakukan oleh saya dan kedua orang tua, saat lebaran datang. Ritual apakah itu? Ritual berkunjung ke rumah Oma. Saya tidak perlu repot-repot mudik untuk bertemu si Oma, karena rumah beliau ada di Jakarta.

Begitu pula untuk tahun ini, ritual tersebut masih dilakukan. Dan tetap saja menyenangkan…

Menyenangkan karena masih bisa bertemu Oma, semua Tante dan Oom yang kebetulan pas banget bertandang ke sana. Walaupun, karena hanya setahun sekali dan tidak setiap tahun bertemu dengan semuanya, saya harus dengan susah payah mengingat kembali nama, kemudian mencocokkan dengan wajah semua yang hadir di sana.

Menyenangkan karena saya masih bisa makan masakannya si Oma yang masih tetap enak, juga puding dan kue-kue lainnya yang tersaji di meja, walaupun saya tak tahu siapa yang membuatnya.

Menyenangkan karena ternyata masih ada tradisi seperti ini, yang masih bisa saya lakukan…

Teringat puluhan tahun yang lalu. Tepatnya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tradisi seperti ini, tak hanya terjadi di kalangan keluarga, tetapi di lingkungan komplek perumahan tempat saya tinggal. Saat lebaran dulu, saya dan orang tua mempunyai tradisi bersilaturahmi, mengucapkan selamat atas hari kemenangan ke satu per satu rumah tetangga yang tinggal berdekatan dengan saya. Lumayan, bisa nyemil kue-kue kering yang pasti tersedia dan tersuguh bagi para tamu. Begitu pun juga sebaliknya, saat Natal tiba, giliran rumah kami yang kedatangan tamu.

Tapi tradisi tersebut tak kami lakukan lagi, tak mereka lakukan lagi, tak dilakukan lagi, baik saat Lebaran maupun saat Natal dan saya tak ingat kapan tepatnya tradisi itu hilang. Atau mungkin tradisi seperti itu sudah tergantikan dengan acara halal-bihalal yang diselenggarakan RT kami sejak beberapa tahun yang lalu? Jadi tak perlu lagi bertandang ke rumah, cukup semua berkumpul di satu tempat untuk bersilaturahmi?

Saya sih berharap, memang itulah alasannya, bukan alasan yang ‘tak benar’ lainnya.

Ingat pelajaran/mata kuliah Pendidikan Moral Pancasila/PPKn *eh apa ya kepanjangannya?* dan sejenisnya seperti Pancasila, Kewarganegaraan? Ingat bagaimana si guru atau dosen *setidaknya guru dan dosen saya dulu* terus menerus membicarakan dan menanamkan tentang Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Pluralisme? Dulu saya sampai bosan mendengarnya. Tapi ternyata rasa bosan itu, baru terlihat manfaatnya sekarang. Setidaknya terlihat dari bagaimana saya memandang/melihat mereka yang berbeda dengan saya. Berbeda apapun.

Apalagi ditambah dengan didikan selama saya mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi, yang juga mengagungkan segala hal tentang perbedaan tersebut, yang menjadikan setiap manusia sebagai makhluk “ajaib” alias makhluk unik, dan tak ada duanya.

madmaxer091100102

Perbedaan dalam diri manusia salah satunya adalah perbedaan keyakinan, perbedaan iman yang dijunjung tinggi oleh tiap orang. Dan pada akhirnya agama-lah yang dijadikan sebagai instrumen untuk pengkotak-kotakkan akan perbedaan keyakinan dan iman tiap orang.

Kotak yang saya pilih adalah Katholik. Kotak yang kamu pilih adalah Islam, sedangkan kotak yang masih dipilihnya adalah Hindu, atau Budha, atau Kristen. Atau kotaknya adalah Keyakinan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa *eh masih ada ga ya yang beginian?*. Kenapa saya menggunakan kata ‘pilih’? Karena memang masih menjadi pilihan kita; kita yang saat ini sudah beranjak dewasa, karena orang dewasa berhak dan sudah bisa menentukan pilihannya apakah ia masih mau melakukan ini, melakukan itu, atau sudah tidak mau, atau ingin pindah.

Tapi apakah kotak-kotak tersebut harus menghalangi kita untuk dapat melihat indahnya perbedaan dalam hidup?

Gak lah ya…setidaknya tidak untuk saya.

Mungkin saya sempat sedikit ketus, saat seseorang mengatakan ini “Kok, Ibu bilang Alhamdullillah sih?”, ketika saya akhirnya menemukan sebuah barang yang saya cari, yang kemudian saya membalas apa yang dikatakan orang tersebut dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini “Kira-kira sama ga ya artinya terima kasih dengan thank you, atau merci, atau arigatoo gozaimasu? Apa yang cuma boleh bilang thank you adalah orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris, atau yang kata merci adalah paten boleh diucapkan oleh mereka yang sehari-hari make bahasa Perancis? Kalo gitu ga usah aja kita belajar bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Alhamdullillah itu artinya Puji Tuhan ‘khan?”

Atau “teguran” serupa saat saya merespon salam “As Salamu Alaykum” seseorang yang saat itu memasuki ruangan kerja dengan “Wa Alaykum Salam,” yang sebenarnya mempunyai arti yang sama dengan peace be with you, atau damai bersamamu juga? Bouuuwwww…don’t you see it’s only a matter of language?  Dan bagi saya, agama adalah juga sebagai “bahasa” kita untuk memuja Tuhan, yang notabene hanya ada satu *itu pendapat dan yakinnya saya*.

Saya yakin kita semua pasti lebih comfort dengan “bahasa” kita sendiri, tapi bukan berarti kita akan memandang rendah “bahasa” orang lain ‘khan? Atau mungkin ada bagusnya kalau kita mencari tahu tentang “bahasa” orang lain, supaya kita bisa liat bahwa “bahasa” mereka itu juga indah, dan menjadikan kita untuk lebih kuat dengan “bahasa” sendiri, dan gimana “bahasa” saya dan “bahasa” mereka, dia, atau kamu bisa saling membuat tambah indah?

Saya yakin kok ga ada seorang pun yang ingin direndahkan. Semua ingin tetap dihargai. Tak ada yang senang saat mendengar isu bahwa ada salah satu sekte di Amerika akan membakar Al-Quran, yang membuat semuanya berlomba-lomba untuk menghentikan niatan itu. Atau semua pasti marah saat Islam dikaitkan dengan teroris. Atau apakah tega melihat darah bertumpahan saat gereja-gereja dibom? Yang semuanya mengatasnamakan sebuah kebaikan dan sudah sesuai dengan ajaran iman yang dipeluknya?

Terus terang, saya tahu bahwa tidak sedikit “anak-anak” psikologi yang (pernah) menjalani pacaran beda agama, dan ini dulu sempat menjadi salah satu topik penelitian saya dan kelompok saat membuat tugas kuliah Konstruksi Tes Psikologi…

“Mereka tuh udah tau kalo pacaran beda agama itu ribet, apalagi umur-umur segitu seharusnya udah mikir ke pernikahan, di Indo pulakh, nikah beda agama super ribet, kalo putus ribet juga sakit atinya, atau jangan-jangan tingkat religiusitasnya mereka rendah ya?”

Ya kira-kira hal itu yang menjadi dasar kenapa saya dan kelompok memutuskan mengambil tema itu.

Dan seiring berjalannya hidup, semakin banyak saya melihat pasangan yang berbeda agama menjalankan sebuah hubungan yang disebut pacaran, atau bahkan berlangsung ke jenjang pernikahan.

Kalau sekarang dipikir-pikir ya mungkin semua karena cinta…

Dan kenapa tidak karena cinta, kita saling menghargai indahnya perbedaan? Perbedaan antara saya, kamu, dia, dan mereka? Karena pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda.

—-

“Eh…tapi cinta itu buta ‘kan ya?” :mrgreen:

* Maaf kalau ada salah eja/penulisan dari kalimat berbahasa Arab. FYI, semuanya itu saya ambil dari Wikipedia*
* Gambar diambil dari 123RF*

Terima Kasih Islam!

Friday, September 10th, 2010

I got it from friend of my friend who posted this at her Facebook Note. It is a good post to be read by everyone in this country…for us who is living in Indonesia…

—-

Terima Kasih Islam!


Harian Kompas, Rabu, 8 September 2010 | 04:41 WIB

Al Andang L Binawan

Kalau orang Indonesia mengucapkan terima kasih, secara eksplisit memang mengatakan bahwa dia telah menerima kasih, entah besar entah kecil, dari rekan bicaranya. Demikian pun kalau saya ucapkan terima kasih kepada Islam, secara sadar saya sampaikan bahwa saya, sebagai non-Muslim, telah menerima kasih dari Islam, di tengah bangsa Indonesia ini.

Kasih itu lebih dari sekadar pemberian. Kasih itu menghidupkan karena ada tiga unsur penting di dalamnya, yaitu penghargaan, penerimaan, dan pengakuan. Penghargaan terkait dengan apresiasi terhadap kelebihan seseorang. Penerimaan lebih terkait pada kekurangan yang ada.

Sementara itu, pengakuan bukan sekadar recognition, melainkan sebuah peng-aku-an, kesempatan untuk sungguh menjadi ”aku”, menjadi pribadi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bisa dikatakan bahwa kalau dua unsur pertama berada dalam dimensi ruang, unsur ketiga itu menempatkan dua unsur pertama dalam dimensi waktu. Ada proses di dalamnya.

Kasih Islam

Warga Indonesia sudah sepantasnya berterima kasih kepada Islam. Dalam pengalaman hidup di Indonesia ini, harus diakui bahwa kasih Islam itu pulalah yang telah berperan besar membentuk bangsa ini. Ada banyak alasan, tetapi dalam tulisan singkat ini, hanya beberapa hal yang bisa disebutkan.

Alasan berterima kasih kepada Islam yang pertama tentu saja karena dalam sejarah bangsa ini, Islam tampak menghargai atau mengapresiasi peran elemen masyarakat lain dalam membangun negeri. Islam menghargai kebhinekaan. Karya-karya sosial dari agama lain, setidaknya yang dialami gereja Katolik, diberi tempat yang layak. Pun, warga non-Muslim yang berpotensi, sangat diapresiasi.

Kedua, Islam pun telah menunjukkan toleransi yang besar pada keberagaman. Perlu diingat, toleransi bermakna menanggung kekurangan orang lain. Ini sejajar dengan pengalaman diterimanya agama-agama lain hidup berdampingan dengan Islam. Meski dalam beberapa hal tidak sama dengan ajaran Islam, keberadaan agama-agama lain diterima di Indonesia, negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Bahkan, Islam di Indonesia mau mengorbankan cita-cita menjadikan negeri ini negeri Islam dengan menerima Pancasila. Selanjutnya, dalam kehidupan sehari-hari pun tidak sedikit yang masih mau memberi ucapan pada hari raya kami.

Pengalaman panjang hidup di tengah umat Islam di Indonesia, dengan penghargaan dan penerimaan itu, membuat kami yang bukan pemeluk Islam sungguh merasa menjadi bagian dari Indonesia. Sebagai umat Katolik, saya merasa tidak didiskriminasi dan mampu mengaktualisasikan semboyan kami: seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia. Kami sungguh menjadi Katolik dan sekaligus sungguh menjadi warga Indonesia. (Tidak ada niat tersembunyi di balik semboyan itu untuk seratus persen meng-katolik-kan Indonesia.) Itulah pengalaman kami di-aku-i. Itu pulalah alasan ketiga kami berterima kasih kepada Islam di Indonesia.

Memang, dalam proses berinteraksi selama ini, kadang terjadi salah paham atau gesekan. Pengalaman itu terasa menyakitkan meski tetap bisa dipandang sebagai sebuah risiko dari suatu proses pendewasaan bersama. Kami, atau setidaknya saya, tetap berusaha mensyukurinya. Bagaimana pun, kasih tidak selalu berasa manis.

Kasih yang fitri

Pengalaman nyata hidup di tengah umat Islam di bumi Indonesia tadi, setidaknya sampai hari ini, menjadi bukti bahwa pada dasarnya Islam, seperti yang sering saya dengar, adalah rahmatan lil’alamin, rahmat untuk semesta alam. Kalau kami merasa di-aku-i, itu karena kami merasa sungguh hidup. Islam telah menjadi rahmat, menjadi rohima, sebagai kasih yang menghidupkan.

Untuk perjalanan bangsa ke depan, tentu saja kami tetap berharap bahwa jiwa Islam sebagai rahmatan lil’alamin tetap dapat diwujudkan supaya bangsa yang sangat beragam ini tetap dapat hidup damai berdampingan. Memang, harus diakui, harapan ini disampaikan di tengah sedikit kekhawatiran bahwa rahmat yang selama ini kami rasakan menjadi pudar.

Pernyataan Din Syamsuddin, ketua presidium Inter Religious Council yang adalah juga Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, bahwa kerukunan beragama sekarang ini cenderung menurun terkait dengan penghalangan oleh sebagian umat pada umat beragama lain dalam beribadat (Kompas, 28/8) mencerminkan juga kekhawatiran kami. Memang, pernyataan itu juga didasari oleh kekerasan yang dialami oleh sebagian jemaat non-Muslim, yang sebagian terjadi atas nama Islam.

Karena itu, pada hari yang sangat istimewa bagi Islam ini, kami—selain mengucapkan selamat Idul Fitri dan sekaligus mengucapkan banyak terima kasih kepada Islam dan umatnya—tetap berharap bahwa jiwa Islam sebagai agama yang memberi kehidupan tetap dapat terus diwujudkan, bukan hanya untuk umatnya, melainkan juga untuk seluruh isi semesta alam.

Konkretnya, untuk Indonesia, wujud Islam sebagai rahmatan lil’alamin yang kami harapkan adalah Islam seperti yang pernah kami alami, Islam yang ramah. Dalam Islam yang penuh toleransi dan mau duduk bersama untuk berunding, kami merasa dihargai, diterima, dan diakui. Di situlah kami merasa hidup. Di situlah kami mengalami Islam sebagai rahim kasih sayang. Semoga, selepas Idul Fitri, kasih Islam di tengah bangsa ini bisa makin mewujud dan menghidupkan. Selamat Idul Fitri! Berkah Allah selalu melimpah.

Al Andang L Binawan Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

—-

Dan saya pun turut mengucapkan…

Selamat Hari Raya Idul Fitri…

Maaf Lahir Batin…

Terutama, maaf atas kata-kata pedas ataupun yang menyakiti perasaan kalian…

Ga Mau Jadi Malaikat…

Monday, September 6th, 2010

So little times so much to do…

Pernah dengar kalimat itu khan ya? Kalo gue, sering banget dengernya, bahkan sering ngucapin.

Atau mungkin kalimat yang serupa?…

Andai satu hari lebih dari 24 jam…

Hah, tapi itu biasanya cuma untuk orang-orang yang punya kerjaan bertumpuk, udah dikerjain satu-satu tapi tetep aja masih banyak, bahkan nambah, ga selese-selese akhirnya.

Lalu biasanya orang mulai berpikir, dan berandai-andai…

“Andaikan gue punya sayap bisa terbang kayak malaikat, jadi bisa tuch kabur dari semua ini.”

“Andaikan gue malaikat beneran, punya tongkat ajaib yang bisa nyelesein kerjaan segabruk ini dalam sekejap.”

“Khan gue bukan malaikat yang apa-apa bisa, selalu baik hati, ga pernah marah, selalu ngertiin orang.”

—-

Coba nih…pikir lagi…beneran mau jadi malaikat? Yakin tugas malaikat itu mudah dan menyenangkan?

Pernah kebayang ga sih, gimana saat malaikat pencabut nyawa harus bertugas extra keras saat Tsunami terjadi tahun 2004…dalam rangka menunaikan perintah BIG BOSS?

Intinya, mau kata malaikat, mau kata manusia, harus kerja keras, tunduk sama BIG BOSS, biar diijinin masuk rumah BIG BOSS ntar saat BIG BOSS nyuruh kita pulang. Mudah-mudahan kalau dah masuk rumah BIG BOSS nanti, ya ga dikasih tugas baru kayak tugasnya si malaikat yang satu itu.

Ngeri Bosssss!!!

Tolong Dong Bersihin Mejanya…

Sunday, August 29th, 2010

Pernah dengar berita bahwa sekarang banyak masyarakat Indonesia yang terpaksa makan nasi aking dounks ah pastinya? Atau pernah lihat sendiri, ada orang di luar sana yang terpaksa mengais-ngais tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan untuk mereka makan? Atau menjadi saksi dari mereka yang mengucap kata minta dikasihani, karena dari kemarin belum makan?

Sedih? Mulai menyalahkan orang lain? Menyalahkan dan menghujat Pemerintah karena tak becus mengurus negara? Atau sebenarnya mungkin itu salah kita sendiri?

Yuk…saya coba membawa kalian jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, atau kantin kantor…tepatnya ke Food Court.

Pernah khan ya jalan-jalan ke tempat seperti itu? Apa yang paling menyiksa kalau ke pusat jajanan di pusat perbelanjaan, atau di gedung perkantoran? Bagi saya sih, hal yang paling menyiksa adalah mencari meja dan kursi untuk duduk agar kita bisa menikmati makanan yang akan kita santap, apalagi memang saat jam makan. Hal ke dua yang paling menyiksa lainnya? Bingung mencari makanan apa yang akan kita santap saat itu.

Mulailah kita berjalan mengitari area sekian meter kali sekian meter tersebut, dari ujung ke ujung.

“Eh…bentar…tuch itu tuch ada orang yang kayaknya bentar lagi bakal selese makan. Bener khan, yuk, buruan biar ga diambil orang lain mejanya.”

“Gue tunggu di sini dulu deh, elo pesen makanan dulu ke tempat yang elo mau.”

Dan duduklah saya di sana, atau sepertinya kamu juga pernah mengalami hal serupa. Duduk di bangku, yang di depanmu ada meja, yang di atasnya masih belum bersih…

Masih belum bersih dari ceceran makanan, dari makanan yang tumpah, atau dari makanan yang memang tak dimakan atau tak berhasil dihabiskan karena perut sudah tak memadai untuk memakan semuanya.

Dan sisa-sisa itulah yang mungkin saja menjadi makanan utama, mereka yang nasibnya belum seindah saya, kamu, dia atau mereka yang mempunyai kehidupan jauh lebih baik.

Nah…coba pikir-pikir lagi, masih mau menyalahkan orang lain, karena masih ada nasi aking yang harus menjadi menu utama orang lain di luar sana?

Saya cuma mau berbagi sedikit nih…tips untuk urusan menyantap makanan, tapi tak perlu meneteskan air mata, untuk kita dan untuk mereka yang masih kurang beruntung. Kebetulan, kapasitas perut saya untuk menampung makanan, tidak terlalu banyak, jadi saya punya cara-cara tertentu agar makanan yang akan saya makan tidak akan terbuang mubazir…

1. Kalau kamu makan ditemani beberapa teman, usahakan ada satu di antara mereka yang memang dapat dijadikan “trash bin” alias bersedia menghabiskan makananmu jika memang nantinya tak habis.

2. Kalau tidak ada yang bisa dijadikan “trash bin”, mulailah lihat-lihat ke tetangga/meja sebelah yang sudah terlebih dahulu makan. Lihat menu yang mereka pilih, terutama lihat besarnya porsi, dan mulailah mengira-ngira kemampuan kamu menghabiskan makanan saat itu, apakah dapat menghabiskan makanan dengan porsi banyak atau porsi sedikit. Atau bisa juga sekalian tanyakan ke pramusaji seberapa besar porsinya. Kalau sepertinya kamu tak mampu menghabiskan makanan tersebut, mulailah kongkalikong dengan temanmu, kira-kira mau paroan atau tidak makanannya, atau usul pesan makanan yang bisa dimakan ramai-ramai *bisa ngirit uang juga nih kalo mau saweran ama temen*.

3. Kalau di antara lauk-pauk di dalam menu yang kamu pilih ternyata ada yang tidak kamu suka, tanya ke teman-teman kamu apakah mereka mau memakannya? Tentu saat makanan masih dalam kondisi bersih.

4. Lebih baik mengambil/memesan dengan porsi kecil, kalau masih kurang kenyang baru tambah. Atau kalau bisa minta dengan porsi setengah, sepertinya akan lebih baik ya, walaupun harganya sama, daripada terbuang.

5. Kalau tidak habis? Nihhhhh…kebiasaan si Mama, yaitu bungkus-membungkus makanan yang tak habis dimakan, sudah mulai saya ikuti. Biasanya saya akan minta makanan sisa itu untuk dibungkus rapi. Bungkusan itu sebagai cadangan, kalau sampai rumah ternyata lapar lagi. Eh, tapi kalaupun sampai di rumah ternyata tak termakan juga, di rumah saya ada (tinggal) 5 ekor anjing, jadi makanan tersebut masih bisa dipilih-pilih lagi, mana yang masih boleh dimakan oleh anjing-anjing saya, mana yang tidak boleh.

6. Intinya adalah…ambil atau pesan makanan sesuai dengan kapasitas perut, sehingga makanan tidak mubazir terbuang.

Sekarang…mari kita makan, tanpa menambah dosa lebih banyak karena membuang-buang makanan, sementara di luar sana, masih banyak yang belum makan.

Saya, Cinta…

Thursday, February 25th, 2010

Perkenalkan, nama saya Cinta…

Saya makhluk tak berwujud yang paling berkuasa setelah Tuhan…

Duniamu ada di tangan saya…
Karena saya bisa mengubahnya…

Membuatmu menangis…
Lalu tertawa…
Saat ada ataupun tak ada orang lain di sekitarmu…
Semua, hanya dengan satu jentikkan jari saya…

Saya bisa membuatmu mencinta saya…
Saya yang ada di dirinya…
Karena saya membiarkanmu mencintanya…

Dalam hitungan detik, saya bisa membuatmu membenci dia…
Yang sudah membencimu…
Atau bahkan yang masih mencintamu…
Dengan sebuah, seribu atau tanpa alasan sama sekali…

Saya bisa menjadikanmu apa saja…
Malaikat cantik tak bersayap…
Seribu dewa pemaaf…
Kerbau dicucuk hidung…
Atau dedemit bertanduk, lengkap dengan garpu berduri…

Kehidupanmu ada di tangan saya…
Dengan menjadikan harimu penuh semangat…
Harapan dan citamu tergantung di atas surga ke tujuh…
Setinggi gambaran fana dirinya yang tergantung di sana…
Yang ternyata perlu keajaiban tersendiri, untukmu meraihnya…

Jika saya sedang jahil, saya bisa mendatangkan kematian untukmu…
Saat saya bisikkan padanya, bahwa ada saya, Cinta, yang lain di seberang sana…
Saat saya sodorkan seonggok saya, Cinta, yang berbalut daging penuh napsu di hadapannya…
Saat saya membuatnya berbalik arah meninggalkan kamu…
Tanpa alasan…
Tanpa satu gelembung buih liur yang dihasilkan dari rentetan kata yang keluar dari mulutnya…

Saya bisa membuatmu berada di antara sebuah kehidupan dan kematian…
Saat kamu saya butakan dengan dosis saya yang berlebihan…
Saat kamu tak sanggup saksikan dirinya memilih saya, Cinta, yang merasuki orang lain…
Hingga kamu hunuskan belati padanya…
Lalu padamu sendiri…
Yang tak juga mengakhiri hidupmu, apalagi hidupnya…
Jeruji besi hati pun siap terbentang lebar menanti untuk mengurungmu…

Lara, saat fisikmu berada di peluknya, yang kamu miliki…
Tapi saya, Cinta, yang ada di dirimu, adalah milik dia yang tak kamu miliki…

Merana, saat seribu sesal, yang coba kamu hapus…
Tak mengembalikan saya, Cinta, yang terbuang dari hatinya…

Tapi saya, Cinta, akan selalu menjadikanmu dewasa…
Walaupun saya, Cinta, akan selalu merangkul benci dan pahit, untuk ditawarkan padamu…

Dan atas nama saya, Cinta…
Saya akan selalu menghantuimu…
Bersamamu…
Bahkan di hari kematianmu…

…Cinta…

Aib atau Prestasi?…

Thursday, October 1st, 2009

Hmm…mungkin topik tentang pre-marital sex sudah cukup basi sepertinya untuk dibahas. Ada yang pro dan ada pula yang kontra.

Dinamika kehidupan kota besar, apalagi Ibukota seperti kota Jakarta ini memang sangat-sangat cepat. Bisa jadi perubahan terjadi dalam hitungan detik saja, termasuk dinamika dan perubahan pikiran manusianya. Salah satunya, pemikiran tentang seks pra nikah dan/atau seks bebas.

Kalau zaman dulu nih, membicarakan seks saja sudah dianggap suatu hal tabu, dan saru. Beda ‘kan ya dengan sekarang? Pelajaran tentang anatomi tubuh manusia yang membedakan antara perempuan dan laki-laki sudah mulai diperkenalkan sejak sekolah dasar, sex education juga sudah diperkenalkan ke sekolah-sekolah. Dulu, waktu masih zaman saya sekolah, sex education ini sudah diberikan saat saya duduk di bangku SMP, dan diulangi serta ditambahkan materinya saat saya duduk di bangku SMA (*Duuuhh jadi inget tuch film tentang aborsi berjudul Silent Scream*).

Contoh lainnya nih, ya pemikiran tentang seks sebelum menikah. Ini topik memang terdengar basi, tapi mengapa selalu menyebabkan pro dan kontra? Dan hai, kita ‘kan hidup di Ibukota, yang mendapat julukan kota yang tidak ada matinya. Pasti ada kehidupan malam, ada segala kemudahan fasilitas privasi, dari kamar motel, hotel, karaoke plus plus, dan bukannya seharusnya kita satu pemikiran bahwa pre-marital sex atau mungkin malahan free-sex ini adalah hal wajar menjadi salah satu potret kota besar, apalagi dengan segala kemudahan fasilitas tersebut? (*Yang kontra mulai sungut-sungut?*).

Jangan marah dulu, bukan berarti saya pro, atau kontra juga, saya berusaha netral (*Nyari aman hahahahha*).

Mungkin pernah dengar debat atau pendapat seperti di bawah ini, saat topik pre-marital sex atau free-sex ini dilontarkan ke forum…

“Enak ajah, yang laki bisa gitu main colok seenaknya tanpa bekas, trus ngarepin nikah nanti dapet cewek virgin? Dari mana perempuan tau kalo tuh laki masih perjaka?”

“Duuuhhh, anak perempuan kalo dah keilangan mahkota yang satu itu, berarti dia dah keilangan semuanya. Dah sampah.”

“Eh pre-marital sex itu testing dulu kale sebelum nikah. Hahahaha.”

“Kalo hamil gimana? Kan bikin pusing. Belom lagi kalo kena penyakit.”

Dan gong-nya adalah…

“Kan dilarang agama,” (*Daaarrr…skak mat*), walaupun saya lebih setuju jika dikatakan sebagai sesuatu yang sebaiknya sangat dihindari, karena Tuhan memberikan kepada kita pilihan bebas sepenuhnya. Tinggal saat akhir hari kita nanti, Dia yang menentukan apakah pilihan kita itu benar atau salah menurut “SOP”-Nya.

Saya pribadi, tidak hanya mendengar satu dua kali dari beberapa kenalan saya yang bercerita tentang hubungan mereka dengan kekasihnya (*Hehehe, kekasih resmi maupun kekasih “minjem”/ngembat punya orang lain*), tentu sampai dengan cerita-cerita seputar hubungan fisik mereka.

Seru, aneh-aneh, ajaib (*Apalagi urusan gaya-gaya yang dipakai dan tempat mencari sensasi, wakakakakak*). Semakin hari semakin banyak. Semakin hari semakin diceritakan tanpa malu, tanpa ditutup-tutupi, dan dengan nada ringan tanpa ragu.

Saya pribadi menyimpulkan, hmmm…sepertinya sudah bukan hal yang sangat tabu ya urusan yang satu ini, dan di atas pemikiran itu adalah pemikiran apakah virginitas sudah tidak terlalu penting bagi perempuan ataupun pria yang belum menikah? Kalau dilihat dari cerita-cerita yang sempat mampir di telinga saya, sepertinya hal itu bukan hal yang paten untuk didapatkan dari pasangan. Mungkin semua yang penting di atas segalanya adalah masalah hati dan cinta.

Dan jika saya ditanya, apakah hal itu sangat penting untuk saya, mendapatkan pria perjaka untuk dijadikan suami? Saya akan jawab, hahahaha…berhubung manusia seperti itu adanya hanya satu di antara sejuta, maka saya akan katakan saya tidak akan terlalu ambil pusing, as long as dirinya tidak membawa penyakit terhadap saya, dan stop playing around after we married.

Lalu pernah dengar juga kan ya, julukan si perawan tua, bagi perempuan yang sudah dianggap berumur tapi belum juga menikah? Dan bagi sebagian orang, ini merupakan suatu hal yang memalukan. Bahkan cerita yang juga sampai ke telinga saya, ada seseorang yang lebih memilih menjadi janda, daripada perawan tua.

Ada dua pikiran saat saya mendengar julukan perawan tua itu, yaitu: Hmmm…yakin dia masih perawan? Hahahaha. Dan pikiran ke dua adalah, kalau perempuan itu masih tetap perawan hingga umur tertentu, apalagi usia yang dianggap banyak orang sebagai usia tua/telat menikah, wah bukankah itu sebuah prestasi yang membanggakan dan bukanlah sebuah aib yang memalukan? Karena menjaga diri untuk tetap perawan hingga tiba saatnya nanti resmi menikah, saya yakin sangat sulit untuk dilakukan di zaman seperti sekarang ini. Bukan begitu bukan?

Indahnya Perbedaan…

Thursday, August 27th, 2009

Damai rasanya saat saya melihat barisan wanita bermukena berbaris berjajar saat mereka mengikuti Sholat Tarawih berjemaah, di bagian belakang masjid yang saya lewati. Yang diikuti dengan pemandangan barisan para pria dengan kopiah dan baju koko di masjid bagian depan. Mereka berdiri, bersujud dan menyembah Allah, dengan penuh rasa syukur atas hidup yang diberikan.

Tak kalah damai rasa di hati, saat saya duduk mengikuti misa di dalam gereja, dengan iringan paduan suara yang bertugas melantunkan lagu-lagu syahdu, yang juga merupakan doa yang kami panjatkan pada yang Empunya Nyawa. Apalagi saat perayaan hari raya besar, seperti Paskah (*FYI: yang tidak sama dengan perayaan kematian Yesus, atau Jumat Agung*), dan Natal. Saat semua lagu yang terindah dibawakan; saat Altar terhias bunga lebih meriah daripada biasanya; saat nelangsa dalam hati, karena kesadaran bahwa manusia ini lemah tanpa Tuhan, lebih terasa; saat sukacita karena keluarga kembali ke rumah.

Namun rasa itu terhempas begitu saja, setelah saya teringat penggalan berita yang sempat saya dengar dari televisi. Berita tentang himbauan untuk selalu mewaspadai isi kothbah-kothbah di masjid, yang mungkin saja merupakan hasutan untuk beralih ke jalan yang menyesatkan. Bertambah sedih karena teringat, bahwa kami harus melewati pemeriksaan Polisi di pintu masuk saat kami akan memasuki pintu gereja, terutama pada misa hari raya besar, yang memberlakukan satu pintu masuk dan satu pintu keluar, yang membuat umat lebih lama mengantri keluar dari gereja.

Miris memang kalau ingat hal itu. Dan semua itu terjadi setelah teror bom mewarnai negara kita ini.

Saya ingat betul bagaimana ngerinya liputan televisi tentang tragedi teror bom di banyak gereja, yang terjadi saat perayaan Malam Natal tahun 2000, merupakan teror bom pertama kali di Jakarta; yang kemudian disusul teror-teror bom di tahun-tahun berikutnya, di berbagai wilayah Indonesia, yang juga sangat mengerikan. Teror bom yang dilakukan karena tujuan tertentu, tujuan di mana menentang adanya pluralisme, yang merupakan suatu hal yang mendasar dari sebuah kehidupan, sejak kita dilahirkan.

Saya? Perempuan. Kamu? Laki-laki. Dan kamu satunya? Perempuan. Saya? Jawa dengan campuran sedikit Manado. Kamu? Mungkin Jawa bercampur Cina, mungkin Ambon bercampur Batak. Dan dia? Manado campur Aceh campur Portugis. Eh, atau dia yang di sana? Jawa, Manado, Cina, Belanda. Saya? Beragama Katolik. Teman saya yang satunya? Kristen Protestan. Kamu? Muslim. Atau dia, yang seorang Hindu. Yang di sebelah sana, kalau berdoa di Vihara. Saya kadang bicara dengan bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa. Kamu mungkin berbahasa Sunda dan kadang bicara Mandarin (*Ajarin gratis dounks hahahaha*). Si peranakan Jawa-Prancis di sebelah sana, terdengar seksi saat berbicara dengan bahasa Prancis (*Parlez Français Monsieur?*)

Pada dasarnya Tuhan menciptakan kita sudah dengan segala ciri khas masing-masing yang melekat ke diri kita, dan tentunya karena itu semua adalah suatu yang khas, pada akhirnya akan membawa ke perbedaan antara satu dengan yang lain. Dari yang paling dasar saja, jenis kelamin sudah dibedakan, letak geografis yang mendasari terciptanya suku bangsa dan bahasa, juga berbeda; kita pun mempunyai cara yang berbeda-beda untuk berkomunikasi dengan Allah.

Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah kehidupan akan lebih damai saat yang berbeda itu dapat hidup berdampingan, tanpa curiga, tanpa rasa takut, tanpa iri hati dan benci? Bukankah yang berbeda itu ada untuk dapat saling mengisi dan melengkapi satu sama lain?

Semoga himbauan untuk terus memperhatikan khotbah dan ajaran-ajaran pemuka agama, karena adanya rasa takut, kalau-kalau ajaran tersebut dapat menjerumuskan, juga penjagaan polisi di pintu depan gereja tidak perlu ada lagi. Hanya karena kita sudah bisa berdamai dengan diri sendiri, dan berdamai dengan orang lain dengan segala perbedaannya. Hanya karena semua manusia sudah menjunjung tinggi dan menghargai pluralisme.

Malaikat Tak Sempurna…

Tuesday, August 18th, 2009

Melewati daerah semi “Bronx” setiap pulang kantor, bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi jika saya pulang kantor sedikit lebih terlambat daripada biasanya, saat matahari sudah benar-benar menghilang terlelap.

Maklumlah, saya menggunakan kendaraan umum saat bepergian, terutama untuk pergi dan pulang kantor. Ya, namanya juga kendaraan umum (apalagi bukan taksi), pintunya tak pernah tertutup, yang berarti pula terbuka untuk siapapun untuk memasuki kendaraan itu.

Saya hanya bisa berdoa dalam hati, agar perjalanan saya tidak diganggu oleh orang-orang iseng, yang sempat beberapa kali memang memperlakukan penumpang secara semena-mena, bahkan penumpang yang jarak duduknya tidak jauh dari saya. Puji Tuhan, hal itu tidak (akan) menimpa diri saya.

“Duh, lewat daerah itu ntar dah gelap lagi. Our Father, Jesus, Mother Mary, St. Joseph, and Holy Spirit please be with me always.”

Hanya berbekal kalimat itu, yang mengawali langkah kaki saya saat bepergian, terutama pulang kantor di saat hari sudah gelap.

Namun kekhawatiran saya seperti itu, sering tergantikan dengan indahnya berbagai liputan jalanan yang bisa saya nikmati, tanpa harus berkonsentrasi dengan kendaraan yang saya kendarai, atau dengan lalu lintas Jakarta yang tak pernah jelas, atau dengan pengendara motor yang sering membuat saya bludreg (*Hehehe, sorry to say, tapi memang saya prefer masuk tol untuk menghindari ugal-ugalan si pengendara motor*).

Begitu pun dengan hari Jumat lalu. Saat saya baru bisa menginjakkan kaki keluar kantor, saat hari sudah gelap.

“Ah sudah lah, doa, pasrah and usaha.”

Saya pun menaiki kendaraan yang saya tahu akan membawa saya ke tempat tujuan. Memilih bangku yang dirasa cukup nyaman untuk saya duduki selama perjalanan. Sambil sesekali melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri saya.

“Beneran nih, ampe daerah brengsek itu dah gelap, sepi and macet.”

Ditambah saat itu saya adalah satu-satunya penumpang di dalam kendaraan.

“Biarlah. PD kelas berat gue.”

Namun rasa khawatir karena saya satu-satunya penumpang di sana, tak berlangsung lama. Ada penumpang lain yang naik ke kendaraan. Dan hei, penumpang ini sangat menarik perhatian saya selama perjalanan kali ini. Bukan karena penumpang ini ganteng atau cantik, wangi, atau berpakaian aneh-aneh, tapi karena penumpang ini saya anggap luar biasa.

Ia seorang pria, kira-kira berusia 40 tahunan, berpakaian putih dan berkopiah. Ia seorang pedagang, yang baru saja selesai berdagang. Saat ia ingin naik ke kendaraan, ia terlebih dahulu menaikkan perangkat ia berjualan, seperti gentong kecil, kayu pikulan, dan ember kecil yang berisi gelas-gelas kecil pula. Barang-barang yang dinaikkan, masih diatur seadanya, yang penting naik ke kendaraan. Termasuk tongkat yang menjadi alat bantu ia untuk berjalan. Dan terakhir yang berusaha naik ke kendaraan adalah si empunya peralatan jualan tadi.

Bukan hal mudah bagi dia untuk naik ke kendaraan. Tidak semudah kita, setidaknya saya, yang Puji Tuhan, Alhamdulilah, yang masih diberi organ tubuh yang lengkap dan tak bercacat.

Ia duduk dulu di undak-undakan di pintu kendaraan, lalu ia memutarkan badannya, sambil seperti “memapah” salah satu kakinya yang cacat itu, yang maaf sekali, kakinya tampak benar-benar lunglai klewer-klewer (seperti patah, tapi semoga tidak patah). Miris ya membayangkannya? Saya pun melihat kondisi kakinya itu dengan penuh rasa iba. Namun semua rasa iba itu hilang saat saya lihat ekspresi wajahnya, dan senyum renyahnya yang menyapa para penumpang, yang kebetulan bersamanya ada beberapa penumpang lain yang juga ikut naik.

Saya pun akhirnya mengetahui bahwa ia adalah penjual es jeruk, dari papan kecil yang tulisannya sudah mulai pudar, yang tergantung di pegangan gentong kecil, tempat ia menyimpan es jeruk buatannya. Es jeruk yang dijualnya dengan harga Rp.1.000 setiap gelasnya.

Dengan banyaknya barang bawaannya, kendaraan tampak penuh, padahal masih bisa diisi oleh beberapa penumpang lagi. Dan saat kendaraan diberhentikan oleh penumpang yang ingin masuk, dan nyaris saja membatalkan niatnya itu, si tukang jeruk ini, bergegas kembali membereskan peralatannya, sampai-sampai ia harus memeluk gentong kecil itu, yang membuatnya tampak semakin mendelep.

Sampailah kendaraan yang saya tumpangi itu di daerah yang dijadikan tempat nongkrong kumpulan anak punk, para preman, pengamen, sampai peminta-minta yang caranya setengah mengancam para penumpang. Doa saya pun semakin kencang saat saya berada di daerah itu.

Saat ada satu anak punk yang dulu beberapa kali sempat (mungkin) mengamen, tapi tak jelas itu, hendak naik ke kendaraan yang saya tumpangi, namun baru saja ia hendak duduk di bangku yang di dekat pintu, ia mengurungkan niatnya, seiring ia melihat si tukang es jeruk itu.

Dan si supir yang sepertinya sudah mengenal si tukang es jeruk, bertanya padanya…

“Kenapa dia ga jadi masuk?”

“Hahahha, tauk tuch, liat gue dia sepertinya”, jawab si tukang es jeruk.

Dan dari kaca jendela kendaraan, saya melihat kumpulan anak-anak punk di sekitar sana, melihat ke arah si tukang es jeruk itu, seolah sungkan bahkan takut dengan dirinya.

“Weitttsss..kenapa mereka bisa sesungkan itu ya, sama si tukang es jeruk?” pikir saya bingung.

Perjalanan terus berlangsung, seiring penumpang yang satu per satu sudah harus turun, karena telah sampai ke tujuan. Kembali tinggalah saya, si tukang es jeruk, satu penumpang lainnya, dan si supir.

Keleluasaan saya mengamati, bahkan mendengar percakapan si tukang jeruk dengan si pak supir pun semakin besar.

“Hahaha, ia lohh..gue kalo ga kerja, mana bisa gue ngidupin istri anak gue ‘kan?”

Namun sayangnya itu satu-satunya kalimat yang saya ingat betul terucap dari mulut si tukang es jeruk.

Tibalah si tukang es jeruk ini harus turun, karena ia sudah sampai di tujuan. Si supir sengaja memberhentikan kendaraannya di depan pangkalan ojek. Mungkin maksudnya, agar si tukang es jeruk itu mendapat bala bantuan untuk menurunkan peralatan jualannya. Dan ternyata memang benar, (mungkin ini juga sudah menjadi langganan tiap hari) para tukang ojek di luar sana, sudah bersiap-siap membantu si tukang es jeruk untuk turun. Dan kembali si tukang es jeruk ini setengah “memapah” kaki cacatnya, yang tak tampak sama sekali menyiksanya.

—-

Did you get something from this story?

I did. Guy with this disability, bisa tetap cerianya menjalani hidup, setidaknya hidupnya yang saya lihat kurang dari 1 jam itu. Cacat kaki tak dirasakan olehnya, tapi mengapa sering kali orang yang bertubuh lengkap dan tanpa cacat lebih banyak mengeluh daripadanya?

Lalu, mengapa orang lain, sungkan terhadapnya? Terhadap dia yang cacat. Namun mengapa terkadang masih ada orang yang tidak menghargai kita yang tak cacat secara fisik ini?

Dan satu hal yang tak terkira saya rasakan, orang ini, yang notabene mempunyai predikat orang cacat, telah memberi saya rasa aman, sepanjang perjalanan.

—-

Tuhan menjawab doa saya, dengan mengirimkan malaikat tak bersayap, dan tak sempurna yang hadir menemani perjalanan saya saat itu.

My God, big thanks to you, Sir! Really I do.

Thank u Father, Oom J, Mother Mary, St. Joseph, and my Holy Spirit for sending him to me!

Yes, You Can Shine, My Dear…

Friday, August 14th, 2009

“Rosa pa kabar?”

Duuuhhh, ini dia nih, saya tahu persis, siapa yang menyapa saya melalui media chatting di FB, yaitu kalau bukan keluarga, teman semasa SD, atau teman semasa SMP yang saat SMA sudah sangat jarang kontak dengan saya.

“Baik.”

Dan pasti pertanyaan selanjutnya adalah…

“Masih inget gue ga?”

Nah ‘kan, pertanyaan yang ng…sering membuat saya bingung menjawabnya. Menjawab dengan kejujuran atau menjawab dengan kebohongan yang bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri.

Namun saya sudah lama sekali sering menjawab dengan sangat jujur (*Ahhh biarlah orang mau mikir apa tentang saya, dah kebanyakan hal yang bikin saya pusing, jangan bikin tambah pusing*). Sama seperti saat ditanya oleh teman saya yang saya maksud di tulisan saya ini.

“Hehehehe, sorry gue gak inget. Mungkin kalo gue liat muka baru inget.”

(*Walopun kadang juga ngga ngaruh sih*)

Namun kali ini, jawabannya yang membuat saya kaget. Benar-benar kaget.

“Iya, gue emang ga cantik kayak elo, atau temen-temen dulu yang cantik kayak elo, gue emang jelek, jadi dilupain.”

Sumpah, saya kaget setengah mati. Duh, untuk teman saya yang saya maksud di tulisan ini, maaf sekali ya, tapi kira-kira seperti inilah pikiran yang pertama kali muncul di otak saya…

“Yah kok cetek amat pikirannya, langsung negative thinking gituh.”

Saya pun berusaha menetralisir suasana…

“Iya, nginget nama orang itu salah satu kelemahan gue. Jangankan temen yang udah belasan tahun ga ketemu, lah yang satu angkatan pas kuliah aja, gue sering ga inget. Btw tiap perempuan itu cantik kok.”

(*Buat temen-temen gue di luar sana, maap ya RAM otak manusia ga bisa ditambah ‘kan ya? Jadi kalo saya lupa, tolong dimaklumi*)

“Tapi kalo dah ga ada bakatnya cantik, ya tetep ga cantik Sa.”

Dududuh, kalau sudah begini caranya, saya benar-benar menjura pada para mentor “jahanam” dan “keji” yang mendidik saya selama bertahun-tahun untuk bisa keluar dari diri Rufina Anastasia Rosarini yang lama.

Me? Dulu? Saya saja pusing dengan diri saya sendiri yang dulu, apalagi mereka yang berhadapan dengan saya. I used to be a very insecure girl dengan tingkat arogansi yang sangat tinggi, yang selalu harus dipenuhi segala keinginannya, dan bisa melakukan apapun jika keinginannya tak terwujud; belum lagi ditambah dengan segala pikiran negatif yang menari-nari di otak.

Latihan tahunan itu memang tak pernah mudah. Tak hanya satu atau dua kali saya menerima “tamparan” dari mereka. “Tamparan” yang akhirnya membuat saya berkata ke diri sendiri “Bangun! Elo ga idup ndirian”. Dan saya sendiri baru merasa lulus semua latihan itu, pada akhir tahun lalu (*Hmmm, 8 taon?*). Level lengkap.

Don’t you know, one of my mentors, told me this…

“You’re not a princess ‘Cha!”

Dan dalam hati…

“Brengsek, ketampol gue.”

Atau…

“Kenapa sih, kamu susah banget ngakuin kamu salah, padahal I know that inside your heart, elo tau elo salah. Tinggal bilang yes that is my faults, and am so sorry. Selesai ‘kan?”

Atau salah satu pembelajaran darinya…

“Kalau elo ngasih kado ulang taun ke seseorang. Apa yang elo harapkan dari dia? Yang penting dia make barang yang elo kasih, atau dia suka terus dia make? Trus kalo dia ternyata ga suka terus dia ga make, elo bakal gimana? Nanyain ke orang itu, kok ga make, kok elo ga suka kado dari gue? Hei kalo dia ampe ga suka ya jangan ngomel ke orangnya dong, elo mesti liat ke diri loe juga kenapa dia ampe ga suka and kado loe jadi ga berguna, jangan langsung serta merta bilang kalo tuch orang ga sayang lah ama elo, ga menghargai elo, trus jadi ngambek. Biasanya cewek-cewek gitu tuh kalo ngasih kado ke pacarnya, padahal pacarnya ternyata ga suka.”

Intinya apa yang mereka ajarkan pada saya adalah meminimalisir pikiran negatif. Pikiran negatif memang tetap perlu, tapi hanya sebatas untuk melakukan antisipasi pencegahan dan membuat contigency plan tindakan yang diperlukan.

Dan hei, itu semua harus dimulai dari hal kecil. Misalnya jika memakai kasus perbincangan saya dengan si teman, daripada berpikiran seperti apa yang teman saya pikirkan itu, mungkin akan lebih baik jika seperti…

“Iya ya Sa, kita ‘kan dah lama banget ilang kontak, dan ga ketemu, susah juga ya nginget-ngingetnya.”

atau…

“Temen kita khan banyak ya, mungkin aja ‘kan lupa.”

atau…

“So that’s your weakness ya Sa, remembering someone’s name.”

Terus terang hei si teman saya itu, jawaban kamu yang seperti itu, sempat menimbulkan pikiran bahwa kamu merasa insecure. Ya, mungkin saja saya salah berpikiran demikian, tapi ya memang begitulah pikiran saya saat itu. Maaf ya, maaf sekali. Dan terus terang saat itu saya lupa untuk berpikir, bahwa kamu sedang bercanda mengatakan itu :D …mudah-mudahan memang bercanda ya (*Tapi ma kasih loe gue dibilang cantik, haaallaagg tetep narsis*).

Jadi ingat satu kiriman bahan presentasi dari mentor saya yang paling “jahanam” nan “brengsek”, yang melengkapi proses pembelajaran saya selama ini (*Sayang, presentasinya yang dikirimkan ke saya hilang dari file di laptop*), tapi saya masih ingat betul isinya…

Kamu tahu gambar pacman ‘kan? Seharusnya berupa lingkaran penuh, tapi ini ada irisan di lingkaran itu yang hilang, sehingga ia tak bisa dikatakan sebagai lingkaran sempurna. Dan hobi si pacman ini adalah mengatupkan sisi lingkaran yang terpotong tadi, sehingga menyerupai orang yang sedang berbicara.

Cerita di presentasi itu, si pacman ini sedang berjalan mencari irisannya yang hilang. Di tengah jalan ia menemukan sebuah irisan, dan ia coba mencocokkan irisan itu dengan bagian tubuhnya yang hilang, ternyata irisan itu terlalu besar untuknya, sehingga tidak pas. Ia pun melepaskan irisan itu dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan, ia menemukan irisan lainnya, dan kembali ia mencoba mencocokkan dengannya. Ternyata irisan yang ia temukan kali ini terlalu kecil, sehingga ia pun harus melepaskannya dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan berikutnya, ia kembali menemukan sebuah irisan lain. Dan ternyata kali ini pas dan cocok. Ia tak ingin melepaskannya kali ini. Namun apa yang kemudian ia rasakan setelah menemukan bagian yang selama ini hilang dan dirasa cocok olehnya? Ia tak bisa bergerak leluasa, tak bisa lagi mengatupkan kedua “bibir”nya, tak bisa “bicara” dan “bernyanyi”. Akhirnya ia pun kembali melepaskan bagian yang tadinya ia rasa cocok dengannya.

Dan mungkin ia berpikir…just enjoy every little thing in your life, even that’s imperfect.

Me? Now? My God…change a lot…

Saya jauh lebih sabar daripada dulu (*Ya udah ngomel dulu ga papa, nanti kalo dah reda kita ngomong baik-baik ya*).

Saya jauh lebih bisa mengerti orang lain, karena saya yakin bahwa orang melakukan sesuatu karena ada alasannya (*Ya iyalah, kalo elo ga bisa ngertiin orang lain, percuma lo masuk psikologi*).

Kalau keinginan saya tidak dapat terwujud, tidak serta merta langsung ngomel, marah, tapi saya berusaha untuk mencari jalan lain untuk bisa mewujudkannya (*Misalnya ga dapet tiket nonton bioskop yang siang, ya susah amat tinggal nyari yang malem ‘kan, sambil nunggu bisa ngapain dulu*).

Tak lagi repot dengan printilan yang bikin tambah pusink dan bikin repot (*Nih contohnya…”Maaf ya Sa, kemarin koneksi internet gue keputus and ceting ama elo keputus juga, bukan ga sopan loh”, dan saya…”Haalllaagghh kayak gitu doank, iya gue pun juga dah mikir kayak gitu kemaren, orang gue ditinggal seseorang ketiduran pas ceting ama gue aja pernah dan gue ga ngomel kok*).

Ya kurang lebih begitu lah beberapa hal yang saya anggap sebagai achievements dan apresiasi ke diri sendiri, walaupun saya tahu, saya masih sering menyebalkan dari omongan saya, dari tulisan-tulisan saya, tingkah laku saya, tapi percaya deh, itu semua sudah dengan analisa ini-itu baru saya menghasilkan apa yang terlihat, terdengar dan diketahui oleh kalian. Jadi kalau pun masih menyakiti kalian, so sorry, coz I’m still human and still imperfect, yet I really like being different from others.

Jadi ingat sebuah video iklan sebuah produk perawatan rambut, yang dibuat di Thailand.

Yes my friend, you can shine.

Just think positive, minimize life burden, and enjoy every little thing you do and you have in your journey. Even you’re imperfect and different from others.

To Karin Taramiranti, Rully Hariwinata, Yudha Ketaren, and one person I can not mention here, yang membuat perjalanan pembelajaran saya menjadi lengkap, yang saat ini sedang membenamkan dirinya dari keramaian dunia, yang saya tahu persis bahwa ia mempunyai alasan yang sangat kuat untuk melakukan itu, from the bottom of heart, my big thanks to you all, you’re my brothers, sister, mentors, best friends and my love. I love you full!!!!

—-

I’m gonna stay gold, just like a ray of sun light in our mornings. No matter what.