Posts Tagged ‘Renungan’

This Christmas…

Sunday, December 25th, 2011

Setiap keluarga pasti punya kebiasaan atau tradisi. Termasuk tradisi menyambut dan merayakan hari raya agama yang mereka anut. Termasuk keluarga saya untuk menyambut dan merayakan Natal.

Hhhhmmm…lucu sebenarnya, kalau dibandingkan dengan keluarga lain. Atau aneh lebih tepatnya, atau apapun. Kebiasaan yang saya maksud itu adalah kebiasaan memasang pohon dan goa natal yang selalu dilakukan pada hari-hari terakhir menjelang Natal. Biasanya, keluarga lain mungkin sudah memasangnya sejak awal Desember, atau saat umat Katolik mulai memasuki masa Adven/masa pertobatan menjelang Natal.

Dan tradisi memasang pohon Natal mepet hari H, masih menjadi tradisi keluarga saya sampai tahun ini. Pohon natal baru berhasil kami dirikan di tanggal 24 Desember 2011, di pagi hari…

“Hah? Berhasil didirikan kata loe ‘Cha? Emang susah?”

“Susah memang! Hahahahahah.”

Apalagi ditambah urusan mencari ornamen-ornamen Natal yang entah mengapa, saat kami cari, selalu saja letaknya menjadi terpencar-pencar tak karuan. Aneeeehhh…padahal saat menurunkan si pohon setelah perayaan selesai, semua ornamen disimpan di tempat yang sama dan jadi satu. Tahun ini benda yang ‘berlari’ dari tempatnya adalah kaki-kaki si pohon *mungkin karena kaki jadi dia berhasil ngilang *haaalllaagghh. Alhasil tradisi mencari si bagian yang hilang kembali terjadi. Tiga orang; Mama, Papa dan saya selama dua hari berusaha mencari si 3 buah kaki si pohon, yang menjadi ‘organ’ utama, agar si pohon bisa berdiri, terpasang dan menjadi penghias rumah kami.

Pasti kalian nanya…

“Ketemu ‘Cha?”

Dan saya dengan pasti menjawab…

“Nggak. Hahahahaha. Nyerah.”

Seingat saya, tradisi ini kami lewatkan saat Natal tahun lalu, karena dengan sangat ajaibnya, semua ornamen masih rapi bisa bertahan di tempat yang sama dengan saat penyimpanan, selama kurang lebih 1 tahun, hingga kami butuhkan untuk dipasang kembali di Natal 2010.

Tapi saya bersikeras, kalau tahun ini, di rumah tetap harus ada pohon dan goa Natal, tak tahu bagaimana caranya…

“Beli baru? Saaayyyaaannggg…tuh pohon juga baru beli 4 atau 5 tahun lalu pun.”

Ternyata yang teteup kekeuh harus ada pohon Natal tahun ini di rumah, tidak cuma saya. Mama pun. Akalnya pasti ada saja…

“Saaa…turruunn…banguuun. Katanya mau anterin belanja.”

“Iyaaa…bentar.”

Dan tak lama kemudian, saya dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka berusaha menuruni anak tangga untuk menghampiri suara yang memanggil tadi…

“Sini, pegangin dulu ini pohonnya.”

“Laahh…katanya gue disuruh anterin belanja.”

“Udah…bawel, nanggung. Pegangin dulu ini pohonnya.”

“Hahahaha…hebat loe Bu…pesulap sejati. Kenapa ga dari kemaren-kemaren, biar ga repot nyari tuh kaki.”

“Gue juga baru kepikiran sekarang. Khan gua tau elo maunya tetep ada nih pohon khan?”

“Yoa. Tadinya gue dah mau beli baru, Bu, tapi kok ya sayang. Nih pohon juga masih bagus and masih baru. Dan gue nunggu dirimu ngakalin.”

Ahhh…ini juga tradisi lainnya. Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya dan mama memang jadi seksi repot untuk memasang pohon dan goa Natal.

‘Tragedi’ pohon Natal sudah teratasi, walau lampu penghiasnya masih missing in action, yang membuat saya terpaksa membeli yang baru.

Hari pun beranjak sore, hingga sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke gereja, untuk mengikuti puncak perayaan Natal dengan menghadiri Misa Malam Natal, yang kebetulan sekali, kali ini di Paroki saya dipimpin oleh Bapak Uskup Keuskupan Agung Jakarta.

Seselesainya kami mengikuti misa perayaan natal, saya mengecek telepon selular saya, bahagianya saya mendapati sekian pesan ucapan selamat natal dari teman, rekan kerja, keluarga, dan kenalan saya, baik yang dikirimkan melalui BBM, Twitter, maupun Facebook.

Jujur, saya selalu terharu saat mendapatkan ucapan selamat merayakan hari raya, dari mereka yang agamanya tidak sama dengan yang saya anut…

So at this occasion, from deep inside my heart, I would like to say thank you for your Christmas greetings to me. Especially from my Moslems and Non-Christian friends and colleagues. To my blogger and twitter fellows: @annadeas, devi eriana, si mbok, aditya bregas, my childhood best friend, my teenage best buddy, chichi utami, ichanx, goenrock, @neth_4, @ayu_2311, chika nadya. To them who sent greetings through my Blackberry Messenger (Personal and/or Group): Shanty, Diana Ekawati, William Sulivan, Rezty Atria, Rully Hariwinata, Dimas Donny dan semua yang lupa saya sebutkan, atau yang mungkin nanti akan mengirimkan ucapan ke saya, once more thanks! Appreciate it!

Semoga hal kecil seperti ini, masih bisa menjadi akar kuat untuk kita tetap menghargai pluralisme, yang salah satu caranyanya adalah menghormati sesamanya yang berbeda agama dan keyakinan yang dianut.

And to all my Christian friends, colleagues, family and acquaintances, I would like to say “Merry Christmas! Peace be with you and your family!”

Untuk teman-teman di dunia perhelatan twitter dan para blogger canggih, terima kasih untuk sharing cerita-cerita atau artikel menarik, seperti yang saya baca di saat Natal ini: Surat dari Nabi Muhammad SAW kepada Biarawan St. Catherine’s Monastery dan Selamat Natal, Kawan!

And Hey YOU UP THERE, my Lord, this year You give me perfect Christmas presents! Thanks!

Ibu Gue…

Thursday, December 22nd, 2011

Selamat hari perempuan, untuk semua perempuan Indonesia…

Selamat hari ibu,…

Terutama ibu, para single-parent, yang bercinta dengan kerasnya hidup, tetap memberikan cinta pada sang buah hati, mengantar anak-anak mereka menuju pintu kedewasaan…

Terutama ibu hebat yang dipercayakan anak-anak berkebutuhan khusus oleh Tuhan, dengan dahsyatnya anugerah yang datang melalui mereka…

Terutama ibu, yang mengambil keputusan bersama suami, untuk mengadopsi anak, memelihara dan membesarkan dengan cinta tiada tara, walau anak itu bukan berasal dari rahimnya sendiri…

Terutama ibu, yang memutuskan untuk tidak mengaborsi janin mereka, walau sejuta beban psikologis di pundak, yang mungkin pada akhirnya membuat mereka harus merelakan si anak dibesarkan orang tua lain…

Dan terutama untuk ibu gue…hebat tiada tara lah loo, Mom! Ngajarin gue survive hidup, ngasih contoh gue gimana jadi perempuan harus smart. Bisa tetep percaya gue, yang sering jadi cewek super nekat, tapi elo tetep tau kalo anaknya yang ini…canggih (nekatnya)? :mrgreen: Dan di tengah omelan elo yang tiap hari gue denger, tapi masakan loe tiada cela. Di tengah omelan loo yang ga pernah absen dari hidup gue, tapi elo tau gimana bisa ngobrol ama anak perempuan loe satu-satunya yang super ajaib ini. Di tengah omelan loe yang membuat rame hidup gue, tapi elo ngga pernah bosen doain gue.

Anyway…gue cuma bisa bilang, thanks, Mom! Jangan lupa ya tetep mention gue di tiap doa. You never know how much I love you.

To all Moms in Indonesia…Happy motherhood…You are all great!

You taught me everything
Everything you’ve given me
I’ll always keep it inside
You’re the driving force in my life, yeah
There isn’t anything
Or anyone that I could be
And it just wouldn’t feel right
If I didn’t have you by my side
You were there for me to love and care for me
When skies were gray
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be
What you have been to me you will always be
You will always be the girl
In my life for all times
Mama, Mama you know I love you
Mama, Mama you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know lovin’ you is like food to my soul
Yes it is, yes it is, oh, yes it is, yes it is, yes it is oh
You’re always there for me
Have always been around for me even when I was bad
You showed me right from my wrong
Yes you did
[ From: http://www.metrolyrics.com/a-song-for-mama-lyrics-boyz-ii-men.html ]
And you took up for me
When everyone was downin’ me
You always did understand
You gave me strength to go on
There was so many times
Looking back when I was so afraid
And then you come to me and say to me
I can face anything
And no one else can do
What you have done for me
You’ll always be, you will always be
The girl in my life, ooh oh
Mama, Mama you know I love you
Mama, Mama you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know lovin’ you is like food to my soul
Never gonna go a day without you
Fills me up just thinkin’ about you
I’ll never go a day
Without my mama
Mama, Mama you know I love you
Mama, Mama you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know lovin’ you is like food to my soul
Lovin’ you is like food to my soul, oh yeah
You are the food to my soul, yes you are
Read more: BOYZ II MEN – A SONG FOR MAMA LYRICS http://www.metrolyrics.com/a-song-for-mama-lyrics-boyz-ii-men.html#ixzz1hHRB2SEU
Copied from MetroLyrics.com

I Just Want My Own World…

Tuesday, March 22nd, 2011

Bukan BB kalian yang lemot; jangan salahkan provider kalian yang tidak memberikan laporan umpan balik D atau R saat kalian mengirimkan pesan BBM ke saya. I turned it off all, bahkan si Bébé saya copot baterainya.

“Beberapa puluh tahun lalu, bisa kok hidup tanpa handphone, masakh sekarang ga bisa?”

Terus terang saya termasuk orang yang tidak terlalu rempong jika handphone tertinggal di rumah. Apalagi jika saya baru tersadar tidak membawanya saat saya sudah di tengah perjalanan berangkat ke suatu tempat (terutama ke kantor). Kemungkinan besar saya tidak akan repot-repot berbalik arah dan mengambilnya ke rumah.

“Mayannn…seharian ga ada yang repot nyariin gue. Gak akan ada yang berisik.”

Dan hal itu sudah kejadian berkali-kali.

Termasuk akhir pekan kemarin. Saya membiarkan hidup saya tanpa bunyi-bunyian dari dua perangkat telepon genggam yang saya miliki. Walaupun saya tahu ada beberapa acara yang seharusnya saya hadiri.

Semua berawal saat Jumat malam. Saat semua rasa kembali membuncah tak karuan; urusan pekerjaan, memori masa lalu, yang semuanya tiba-tiba membuat kepala ini rasanya ingin pecah, ditambah dengan rasa yang tak jelas apa, dan tak bisa saya definisikan.

Mencoba untuk menjadi seseorang yang berbeda. Mencari seseorang yang sepertinya bisa saya andalkan untuk berbagi cerita. Mencarinya di deretan nama yang ada di sekian ratus nama yang termasuk di BBM kontak yang saya miliki. But the result…no reply…nor R report at my BBM.

“Yah, who the hell i am for that person!”

I just remember a message was dropped in my Facebook few days ago…

“hey you!

you know, i always wonder why i don’t have many friends.. it’s not that i don’t like meeting new people, it’s not that i don’t actively try to talk and approach people, it’s not that i don’t open myself to new people. there’s one thing though, it’s hard for me to keep in touch with people. mungkin karena suasana jakarta, mungkin karena gw ga mau mengganggu orang” yang tampaknya sibuk, mungkin because i’m shy in nature :p

but there’s also another thing, it’s because it’s hard to find someone like me. someone who cherishes the same things, holds the same values, and other things i cannot really explain. you are one such person i can really connect with and yet i cannot stay in touch with you.. heheh.. sucks huh..

well, hope everything’s fine with you..”

atau sederetan kalimat (yang berujung dengan kalimat di bawah ini) dari seseorang yang Jumat malam lalu saya cari tapi saya tak tahu dia dimana…

“I’m lonely, but gw juga siy yang mau lonely.”

Dan semua itu membuat saya tersadar kembali, I’m part of them…dengan satu dan seribu satu alasan lainnya, atau bahkan sepertinya akan lebih baik jika saya tetap dengan diri saya sendiri. Sendiri.

No man is an island?? Yeah right…tell me about it!!! Coz sometime we are asked to be alone…then we choose to be lonely.

*aahhh…enaknya hidup tanpa handphone…gue terusin aja po seterusnya, ga cuma weekend ini aja?

Semua Karena Cinta…

Sunday, September 12th, 2010

Beruntung sekali, saya sudah tidak bekerja di perusahaan yang tetap mengharuskan pegawainya bekerja saat orang lain sedang menikmati liburan. Termasuk liburan Lebaran kali ini, yang akhirnya bisa saya nikmati bersama keluarga.

Saya bukan seorang muslim, tapi bukan berarti saya tidak merayakan Hari Raya Idul Fitri. Ada satu ritual rutin tahunan yang dilakukan oleh saya dan kedua orang tua, saat lebaran datang. Ritual apakah itu? Ritual berkunjung ke rumah Oma. Saya tidak perlu repot-repot mudik untuk bertemu si Oma, karena rumah beliau ada di Jakarta.

Begitu pula untuk tahun ini, ritual tersebut masih dilakukan. Dan tetap saja menyenangkan…

Menyenangkan karena masih bisa bertemu Oma, semua Tante dan Oom yang kebetulan pas banget bertandang ke sana. Walaupun, karena hanya setahun sekali dan tidak setiap tahun bertemu dengan semuanya, saya harus dengan susah payah mengingat kembali nama, kemudian mencocokkan dengan wajah semua yang hadir di sana.

Menyenangkan karena saya masih bisa makan masakannya si Oma yang masih tetap enak, juga puding dan kue-kue lainnya yang tersaji di meja, walaupun saya tak tahu siapa yang membuatnya.

Menyenangkan karena ternyata masih ada tradisi seperti ini, yang masih bisa saya lakukan…

Teringat puluhan tahun yang lalu. Tepatnya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tradisi seperti ini, tak hanya terjadi di kalangan keluarga, tetapi di lingkungan komplek perumahan tempat saya tinggal. Saat lebaran dulu, saya dan orang tua mempunyai tradisi bersilaturahmi, mengucapkan selamat atas hari kemenangan ke satu per satu rumah tetangga yang tinggal berdekatan dengan saya. Lumayan, bisa nyemil kue-kue kering yang pasti tersedia dan tersuguh bagi para tamu. Begitu pun juga sebaliknya, saat Natal tiba, giliran rumah kami yang kedatangan tamu.

Tapi tradisi tersebut tak kami lakukan lagi, tak mereka lakukan lagi, tak dilakukan lagi, baik saat Lebaran maupun saat Natal dan saya tak ingat kapan tepatnya tradisi itu hilang. Atau mungkin tradisi seperti itu sudah tergantikan dengan acara halal-bihalal yang diselenggarakan RT kami sejak beberapa tahun yang lalu? Jadi tak perlu lagi bertandang ke rumah, cukup semua berkumpul di satu tempat untuk bersilaturahmi?

Saya sih berharap, memang itulah alasannya, bukan alasan yang ‘tak benar’ lainnya.

Ingat pelajaran/mata kuliah Pendidikan Moral Pancasila/PPKn *eh apa ya kepanjangannya?* dan sejenisnya seperti Pancasila, Kewarganegaraan? Ingat bagaimana si guru atau dosen *setidaknya guru dan dosen saya dulu* terus menerus membicarakan dan menanamkan tentang Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Pluralisme? Dulu saya sampai bosan mendengarnya. Tapi ternyata rasa bosan itu, baru terlihat manfaatnya sekarang. Setidaknya terlihat dari bagaimana saya memandang/melihat mereka yang berbeda dengan saya. Berbeda apapun.

Apalagi ditambah dengan didikan selama saya mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi, yang juga mengagungkan segala hal tentang perbedaan tersebut, yang menjadikan setiap manusia sebagai makhluk “ajaib” alias makhluk unik, dan tak ada duanya.

madmaxer091100102

Perbedaan dalam diri manusia salah satunya adalah perbedaan keyakinan, perbedaan iman yang dijunjung tinggi oleh tiap orang. Dan pada akhirnya agama-lah yang dijadikan sebagai instrumen untuk pengkotak-kotakkan akan perbedaan keyakinan dan iman tiap orang.

Kotak yang saya pilih adalah Katholik. Kotak yang kamu pilih adalah Islam, sedangkan kotak yang masih dipilihnya adalah Hindu, atau Budha, atau Kristen. Atau kotaknya adalah Keyakinan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa *eh masih ada ga ya yang beginian?*. Kenapa saya menggunakan kata ‘pilih’? Karena memang masih menjadi pilihan kita; kita yang saat ini sudah beranjak dewasa, karena orang dewasa berhak dan sudah bisa menentukan pilihannya apakah ia masih mau melakukan ini, melakukan itu, atau sudah tidak mau, atau ingin pindah.

Tapi apakah kotak-kotak tersebut harus menghalangi kita untuk dapat melihat indahnya perbedaan dalam hidup?

Gak lah ya…setidaknya tidak untuk saya.

Mungkin saya sempat sedikit ketus, saat seseorang mengatakan ini “Kok, Ibu bilang Alhamdullillah sih?”, ketika saya akhirnya menemukan sebuah barang yang saya cari, yang kemudian saya membalas apa yang dikatakan orang tersebut dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini “Kira-kira sama ga ya artinya terima kasih dengan thank you, atau merci, atau arigatoo gozaimasu? Apa yang cuma boleh bilang thank you adalah orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris, atau yang kata merci adalah paten boleh diucapkan oleh mereka yang sehari-hari make bahasa Perancis? Kalo gitu ga usah aja kita belajar bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Alhamdullillah itu artinya Puji Tuhan ‘khan?”

Atau “teguran” serupa saat saya merespon salam “As Salamu Alaykum” seseorang yang saat itu memasuki ruangan kerja dengan “Wa Alaykum Salam,” yang sebenarnya mempunyai arti yang sama dengan peace be with you, atau damai bersamamu juga? Bouuuwwww…don’t you see it’s only a matter of language?  Dan bagi saya, agama adalah juga sebagai “bahasa” kita untuk memuja Tuhan, yang notabene hanya ada satu *itu pendapat dan yakinnya saya*.

Saya yakin kita semua pasti lebih comfort dengan “bahasa” kita sendiri, tapi bukan berarti kita akan memandang rendah “bahasa” orang lain ‘khan? Atau mungkin ada bagusnya kalau kita mencari tahu tentang “bahasa” orang lain, supaya kita bisa liat bahwa “bahasa” mereka itu juga indah, dan menjadikan kita untuk lebih kuat dengan “bahasa” sendiri, dan gimana “bahasa” saya dan “bahasa” mereka, dia, atau kamu bisa saling membuat tambah indah?

Saya yakin kok ga ada seorang pun yang ingin direndahkan. Semua ingin tetap dihargai. Tak ada yang senang saat mendengar isu bahwa ada salah satu sekte di Amerika akan membakar Al-Quran, yang membuat semuanya berlomba-lomba untuk menghentikan niatan itu. Atau semua pasti marah saat Islam dikaitkan dengan teroris. Atau apakah tega melihat darah bertumpahan saat gereja-gereja dibom? Yang semuanya mengatasnamakan sebuah kebaikan dan sudah sesuai dengan ajaran iman yang dipeluknya?

Terus terang, saya tahu bahwa tidak sedikit “anak-anak” psikologi yang (pernah) menjalani pacaran beda agama, dan ini dulu sempat menjadi salah satu topik penelitian saya dan kelompok saat membuat tugas kuliah Konstruksi Tes Psikologi…

“Mereka tuh udah tau kalo pacaran beda agama itu ribet, apalagi umur-umur segitu seharusnya udah mikir ke pernikahan, di Indo pulakh, nikah beda agama super ribet, kalo putus ribet juga sakit atinya, atau jangan-jangan tingkat religiusitasnya mereka rendah ya?”

Ya kira-kira hal itu yang menjadi dasar kenapa saya dan kelompok memutuskan mengambil tema itu.

Dan seiring berjalannya hidup, semakin banyak saya melihat pasangan yang berbeda agama menjalankan sebuah hubungan yang disebut pacaran, atau bahkan berlangsung ke jenjang pernikahan.

Kalau sekarang dipikir-pikir ya mungkin semua karena cinta…

Dan kenapa tidak karena cinta, kita saling menghargai indahnya perbedaan? Perbedaan antara saya, kamu, dia, dan mereka? Karena pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda.

—-

“Eh…tapi cinta itu buta ‘kan ya?” :mrgreen:

* Maaf kalau ada salah eja/penulisan dari kalimat berbahasa Arab. FYI, semuanya itu saya ambil dari Wikipedia*
* Gambar diambil dari 123RF*

Terima Kasih Islam!

Friday, September 10th, 2010

I got it from friend of my friend who posted this at her Facebook Note. It is a good post to be read by everyone in this country…for us who is living in Indonesia…

—-

Terima Kasih Islam!


Harian Kompas, Rabu, 8 September 2010 | 04:41 WIB

Al Andang L Binawan

Kalau orang Indonesia mengucapkan terima kasih, secara eksplisit memang mengatakan bahwa dia telah menerima kasih, entah besar entah kecil, dari rekan bicaranya. Demikian pun kalau saya ucapkan terima kasih kepada Islam, secara sadar saya sampaikan bahwa saya, sebagai non-Muslim, telah menerima kasih dari Islam, di tengah bangsa Indonesia ini.

Kasih itu lebih dari sekadar pemberian. Kasih itu menghidupkan karena ada tiga unsur penting di dalamnya, yaitu penghargaan, penerimaan, dan pengakuan. Penghargaan terkait dengan apresiasi terhadap kelebihan seseorang. Penerimaan lebih terkait pada kekurangan yang ada.

Sementara itu, pengakuan bukan sekadar recognition, melainkan sebuah peng-aku-an, kesempatan untuk sungguh menjadi ”aku”, menjadi pribadi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bisa dikatakan bahwa kalau dua unsur pertama berada dalam dimensi ruang, unsur ketiga itu menempatkan dua unsur pertama dalam dimensi waktu. Ada proses di dalamnya.

Kasih Islam

Warga Indonesia sudah sepantasnya berterima kasih kepada Islam. Dalam pengalaman hidup di Indonesia ini, harus diakui bahwa kasih Islam itu pulalah yang telah berperan besar membentuk bangsa ini. Ada banyak alasan, tetapi dalam tulisan singkat ini, hanya beberapa hal yang bisa disebutkan.

Alasan berterima kasih kepada Islam yang pertama tentu saja karena dalam sejarah bangsa ini, Islam tampak menghargai atau mengapresiasi peran elemen masyarakat lain dalam membangun negeri. Islam menghargai kebhinekaan. Karya-karya sosial dari agama lain, setidaknya yang dialami gereja Katolik, diberi tempat yang layak. Pun, warga non-Muslim yang berpotensi, sangat diapresiasi.

Kedua, Islam pun telah menunjukkan toleransi yang besar pada keberagaman. Perlu diingat, toleransi bermakna menanggung kekurangan orang lain. Ini sejajar dengan pengalaman diterimanya agama-agama lain hidup berdampingan dengan Islam. Meski dalam beberapa hal tidak sama dengan ajaran Islam, keberadaan agama-agama lain diterima di Indonesia, negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Bahkan, Islam di Indonesia mau mengorbankan cita-cita menjadikan negeri ini negeri Islam dengan menerima Pancasila. Selanjutnya, dalam kehidupan sehari-hari pun tidak sedikit yang masih mau memberi ucapan pada hari raya kami.

Pengalaman panjang hidup di tengah umat Islam di Indonesia, dengan penghargaan dan penerimaan itu, membuat kami yang bukan pemeluk Islam sungguh merasa menjadi bagian dari Indonesia. Sebagai umat Katolik, saya merasa tidak didiskriminasi dan mampu mengaktualisasikan semboyan kami: seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia. Kami sungguh menjadi Katolik dan sekaligus sungguh menjadi warga Indonesia. (Tidak ada niat tersembunyi di balik semboyan itu untuk seratus persen meng-katolik-kan Indonesia.) Itulah pengalaman kami di-aku-i. Itu pulalah alasan ketiga kami berterima kasih kepada Islam di Indonesia.

Memang, dalam proses berinteraksi selama ini, kadang terjadi salah paham atau gesekan. Pengalaman itu terasa menyakitkan meski tetap bisa dipandang sebagai sebuah risiko dari suatu proses pendewasaan bersama. Kami, atau setidaknya saya, tetap berusaha mensyukurinya. Bagaimana pun, kasih tidak selalu berasa manis.

Kasih yang fitri

Pengalaman nyata hidup di tengah umat Islam di bumi Indonesia tadi, setidaknya sampai hari ini, menjadi bukti bahwa pada dasarnya Islam, seperti yang sering saya dengar, adalah rahmatan lil’alamin, rahmat untuk semesta alam. Kalau kami merasa di-aku-i, itu karena kami merasa sungguh hidup. Islam telah menjadi rahmat, menjadi rohima, sebagai kasih yang menghidupkan.

Untuk perjalanan bangsa ke depan, tentu saja kami tetap berharap bahwa jiwa Islam sebagai rahmatan lil’alamin tetap dapat diwujudkan supaya bangsa yang sangat beragam ini tetap dapat hidup damai berdampingan. Memang, harus diakui, harapan ini disampaikan di tengah sedikit kekhawatiran bahwa rahmat yang selama ini kami rasakan menjadi pudar.

Pernyataan Din Syamsuddin, ketua presidium Inter Religious Council yang adalah juga Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, bahwa kerukunan beragama sekarang ini cenderung menurun terkait dengan penghalangan oleh sebagian umat pada umat beragama lain dalam beribadat (Kompas, 28/8) mencerminkan juga kekhawatiran kami. Memang, pernyataan itu juga didasari oleh kekerasan yang dialami oleh sebagian jemaat non-Muslim, yang sebagian terjadi atas nama Islam.

Karena itu, pada hari yang sangat istimewa bagi Islam ini, kami—selain mengucapkan selamat Idul Fitri dan sekaligus mengucapkan banyak terima kasih kepada Islam dan umatnya—tetap berharap bahwa jiwa Islam sebagai agama yang memberi kehidupan tetap dapat terus diwujudkan, bukan hanya untuk umatnya, melainkan juga untuk seluruh isi semesta alam.

Konkretnya, untuk Indonesia, wujud Islam sebagai rahmatan lil’alamin yang kami harapkan adalah Islam seperti yang pernah kami alami, Islam yang ramah. Dalam Islam yang penuh toleransi dan mau duduk bersama untuk berunding, kami merasa dihargai, diterima, dan diakui. Di situlah kami merasa hidup. Di situlah kami mengalami Islam sebagai rahim kasih sayang. Semoga, selepas Idul Fitri, kasih Islam di tengah bangsa ini bisa makin mewujud dan menghidupkan. Selamat Idul Fitri! Berkah Allah selalu melimpah.

Al Andang L Binawan Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

—-

Dan saya pun turut mengucapkan…

Selamat Hari Raya Idul Fitri…

Maaf Lahir Batin…

Terutama, maaf atas kata-kata pedas ataupun yang menyakiti perasaan kalian…

Ga Mau Jadi Malaikat…

Monday, September 6th, 2010

So little times so much to do…

Pernah dengar kalimat itu khan ya? Kalo gue, sering banget dengernya, bahkan sering ngucapin.

Atau mungkin kalimat yang serupa?…

Andai satu hari lebih dari 24 jam…

Hah, tapi itu biasanya cuma untuk orang-orang yang punya kerjaan bertumpuk, udah dikerjain satu-satu tapi tetep aja masih banyak, bahkan nambah, ga selese-selese akhirnya.

Lalu biasanya orang mulai berpikir, dan berandai-andai…

“Andaikan gue punya sayap bisa terbang kayak malaikat, jadi bisa tuch kabur dari semua ini.”

“Andaikan gue malaikat beneran, punya tongkat ajaib yang bisa nyelesein kerjaan segabruk ini dalam sekejap.”

“Khan gue bukan malaikat yang apa-apa bisa, selalu baik hati, ga pernah marah, selalu ngertiin orang.”

—-

Coba nih…pikir lagi…beneran mau jadi malaikat? Yakin tugas malaikat itu mudah dan menyenangkan?

Pernah kebayang ga sih, gimana saat malaikat pencabut nyawa harus bertugas extra keras saat Tsunami terjadi tahun 2004…dalam rangka menunaikan perintah BIG BOSS?

Intinya, mau kata malaikat, mau kata manusia, harus kerja keras, tunduk sama BIG BOSS, biar diijinin masuk rumah BIG BOSS ntar saat BIG BOSS nyuruh kita pulang. Mudah-mudahan kalau dah masuk rumah BIG BOSS nanti, ya ga dikasih tugas baru kayak tugasnya si malaikat yang satu itu.

Ngeri Bosssss!!!

Tolong Dong Bersihin Mejanya…

Sunday, August 29th, 2010

Pernah dengar berita bahwa sekarang banyak masyarakat Indonesia yang terpaksa makan nasi aking dounks ah pastinya? Atau pernah lihat sendiri, ada orang di luar sana yang terpaksa mengais-ngais tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan untuk mereka makan? Atau menjadi saksi dari mereka yang mengucap kata minta dikasihani, karena dari kemarin belum makan?

Sedih? Mulai menyalahkan orang lain? Menyalahkan dan menghujat Pemerintah karena tak becus mengurus negara? Atau sebenarnya mungkin itu salah kita sendiri?

Yuk…saya coba membawa kalian jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, atau kantin kantor…tepatnya ke Food Court.

Pernah khan ya jalan-jalan ke tempat seperti itu? Apa yang paling menyiksa kalau ke pusat jajanan di pusat perbelanjaan, atau di gedung perkantoran? Bagi saya sih, hal yang paling menyiksa adalah mencari meja dan kursi untuk duduk agar kita bisa menikmati makanan yang akan kita santap, apalagi memang saat jam makan. Hal ke dua yang paling menyiksa lainnya? Bingung mencari makanan apa yang akan kita santap saat itu.

Mulailah kita berjalan mengitari area sekian meter kali sekian meter tersebut, dari ujung ke ujung.

“Eh…bentar…tuch itu tuch ada orang yang kayaknya bentar lagi bakal selese makan. Bener khan, yuk, buruan biar ga diambil orang lain mejanya.”

“Gue tunggu di sini dulu deh, elo pesen makanan dulu ke tempat yang elo mau.”

Dan duduklah saya di sana, atau sepertinya kamu juga pernah mengalami hal serupa. Duduk di bangku, yang di depanmu ada meja, yang di atasnya masih belum bersih…

Masih belum bersih dari ceceran makanan, dari makanan yang tumpah, atau dari makanan yang memang tak dimakan atau tak berhasil dihabiskan karena perut sudah tak memadai untuk memakan semuanya.

Dan sisa-sisa itulah yang mungkin saja menjadi makanan utama, mereka yang nasibnya belum seindah saya, kamu, dia atau mereka yang mempunyai kehidupan jauh lebih baik.

Nah…coba pikir-pikir lagi, masih mau menyalahkan orang lain, karena masih ada nasi aking yang harus menjadi menu utama orang lain di luar sana?

Saya cuma mau berbagi sedikit nih…tips untuk urusan menyantap makanan, tapi tak perlu meneteskan air mata, untuk kita dan untuk mereka yang masih kurang beruntung. Kebetulan, kapasitas perut saya untuk menampung makanan, tidak terlalu banyak, jadi saya punya cara-cara tertentu agar makanan yang akan saya makan tidak akan terbuang mubazir…

1. Kalau kamu makan ditemani beberapa teman, usahakan ada satu di antara mereka yang memang dapat dijadikan “trash bin” alias bersedia menghabiskan makananmu jika memang nantinya tak habis.

2. Kalau tidak ada yang bisa dijadikan “trash bin”, mulailah lihat-lihat ke tetangga/meja sebelah yang sudah terlebih dahulu makan. Lihat menu yang mereka pilih, terutama lihat besarnya porsi, dan mulailah mengira-ngira kemampuan kamu menghabiskan makanan saat itu, apakah dapat menghabiskan makanan dengan porsi banyak atau porsi sedikit. Atau bisa juga sekalian tanyakan ke pramusaji seberapa besar porsinya. Kalau sepertinya kamu tak mampu menghabiskan makanan tersebut, mulailah kongkalikong dengan temanmu, kira-kira mau paroan atau tidak makanannya, atau usul pesan makanan yang bisa dimakan ramai-ramai *bisa ngirit uang juga nih kalo mau saweran ama temen*.

3. Kalau di antara lauk-pauk di dalam menu yang kamu pilih ternyata ada yang tidak kamu suka, tanya ke teman-teman kamu apakah mereka mau memakannya? Tentu saat makanan masih dalam kondisi bersih.

4. Lebih baik mengambil/memesan dengan porsi kecil, kalau masih kurang kenyang baru tambah. Atau kalau bisa minta dengan porsi setengah, sepertinya akan lebih baik ya, walaupun harganya sama, daripada terbuang.

5. Kalau tidak habis? Nihhhhh…kebiasaan si Mama, yaitu bungkus-membungkus makanan yang tak habis dimakan, sudah mulai saya ikuti. Biasanya saya akan minta makanan sisa itu untuk dibungkus rapi. Bungkusan itu sebagai cadangan, kalau sampai rumah ternyata lapar lagi. Eh, tapi kalaupun sampai di rumah ternyata tak termakan juga, di rumah saya ada (tinggal) 5 ekor anjing, jadi makanan tersebut masih bisa dipilih-pilih lagi, mana yang masih boleh dimakan oleh anjing-anjing saya, mana yang tidak boleh.

6. Intinya adalah…ambil atau pesan makanan sesuai dengan kapasitas perut, sehingga makanan tidak mubazir terbuang.

Sekarang…mari kita makan, tanpa menambah dosa lebih banyak karena membuang-buang makanan, sementara di luar sana, masih banyak yang belum makan.

Saya, Cinta…

Thursday, February 25th, 2010

Perkenalkan, nama saya Cinta…

Saya makhluk tak berwujud yang paling berkuasa setelah Tuhan…

Duniamu ada di tangan saya…
Karena saya bisa mengubahnya…

Membuatmu menangis…
Lalu tertawa…
Saat ada ataupun tak ada orang lain di sekitarmu…
Semua, hanya dengan satu jentikkan jari…

Saya bisa membuatmu mencintai saya…
Saya yang ada di dirinya…
Karena saya membiarkanmu mencintanya…

Dalam hitungan detik, saya bisa membuatmu membenci dia…
Yang sudah membencimu…
Atau bahkan yang masih mencintamu…
Dengan sebuah, seribu atau tanpa alasan sama sekali…

Saya bisa menjadikanmu apa saja…
Malaikat cantik tak bersayap…
Seribu dewa pemaaf…
Kerbau dicucuk hidung…
Atau dedemit bertanduk, lengkap dengan garpu berduri…

Kehidupanmu ada di tangan saya…
Dengan menjadikan harimu penuh semangat…
Harapan dan citamu tergantung di atas surga ke tujuh…
Setinggi gambaran fana dirinya yang tergantung di sana…
Yang ternyata perlu keajaiban tersendiri, untukmu meraihnya…

Jika saya sedang jahil, saya bisa mendatangkan kematian untukmu…
Saat saya bisikkan padanya, bahwa ada saya, Cinta, yang lain di seberang sana…
Saat saya sodorkan seonggok saya, Cinta, yang berbalut daging penuh napsu di hadapannya…
Saat saya membuatnya berbalik arah meninggalkan kamu…
Tanpa alasan…
Tanpa satu gelembung buih liur yang dihasilkan dari rentetan kata yang keluar dari mulutnya…

Saya bisa membuatmu berada di antara sebuah kehidupan dan kematian…
Saat kamu saya butakan dengan dosis saya yang berlebihan…
Saat kamu tak sanggup saksikan dirinya memilih saya, Cinta, yang merasuki orang lain…
Hingga kamu hunuskan belati padanya…
Lalu padamu sendiri…
Yang tak juga mengakhiri hidupmu, apalagi hidupnya…
Jeruji besi hati pun siap terbentang lebar menanti untuk mengurungmu…

Lara, saat fisikmu berada di peluknya, yang kamu miliki…
Tapi saya, Cinta, yang ada di dirimu, adalah milik dia yang tak kamu miliki…

Merana, saat seribu sesal, yang coba kamu hapus…
Tak mengembalikan saya, Cinta, yang terbuang dari hatinya…

Tapi saya, Cinta, akan selalu menjadikanmu dewasa…
Walaupun saya, Cinta, akan selalu merangkul benci dan pahit, untuk ditawarkan padamu…

Dan atas nama saya, Cinta…
Saya akan selalu menghantuimu…
Bersamamu…
Bahkan di hari kematianmu…

…Cinta…

Aib atau Prestasi?…

Thursday, October 1st, 2009

Hmm…mungkin topik tentang pre-marital sex sudah cukup basi sepertinya untuk dibahas. Ada yang pro dan ada pula yang kontra.

Dinamika kehidupan kota besar, apalagi Ibukota seperti kota Jakarta ini memang sangat-sangat cepat. Bisa jadi perubahan terjadi dalam hitungan detik saja, termasuk dinamika dan perubahan pikiran manusianya. Salah satunya, pemikiran tentang seks pra nikah dan/atau seks bebas.

Kalau zaman dulu nih, membicarakan seks saja sudah dianggap suatu hal tabu, dan saru. Beda ‘kan ya dengan sekarang? Pelajaran tentang anatomi tubuh manusia yang membedakan antara perempuan dan laki-laki sudah mulai diperkenalkan sejak sekolah dasar, sex education juga sudah diperkenalkan ke sekolah-sekolah. Dulu, waktu masih zaman saya sekolah, sex education ini sudah diberikan saat saya duduk di bangku SMP, dan diulangi serta ditambahkan materinya saat saya duduk di bangku SMA (*Duuuhh jadi inget tuch film tentang aborsi berjudul Silent Scream*).

Contoh lainnya nih, ya pemikiran tentang seks sebelum menikah. Ini topik memang terdengar basi, tapi mengapa selalu menyebabkan pro dan kontra? Dan hai, kita ‘kan hidup di Ibukota, yang mendapat julukan kota yang tidak ada matinya. Pasti ada kehidupan malam, ada segala kemudahan fasilitas privasi, dari kamar motel, hotel, karaoke plus plus, dan bukannya seharusnya kita satu pemikiran bahwa pre-marital sex atau mungkin malahan free-sex ini adalah hal wajar menjadi salah satu potret kota besar, apalagi dengan segala kemudahan fasilitas tersebut? (*Yang kontra mulai sungut-sungut?*).

Jangan marah dulu, bukan berarti saya pro, atau kontra juga, saya berusaha netral (*Nyari aman hahahahha*).

Mungkin pernah dengar debat atau pendapat seperti di bawah ini, saat topik pre-marital sex atau free-sex ini dilontarkan ke forum…

“Enak ajah, yang laki bisa gitu main colok seenaknya tanpa bekas, trus ngarepin nikah nanti dapet cewek virgin? Dari mana perempuan tau kalo tuh laki masih perjaka?”

“Duuuhhh, anak perempuan kalo dah keilangan mahkota yang satu itu, berarti dia dah keilangan semuanya. Dah sampah.”

“Eh pre-marital sex itu testing dulu kale sebelum nikah. Hahahaha.”

“Kalo hamil gimana? Kan bikin pusing. Belom lagi kalo kena penyakit.”

Dan gong-nya adalah…

“Kan dilarang agama,” (*Daaarrr…skak mat*), walaupun saya lebih setuju jika dikatakan sebagai sesuatu yang sebaiknya sangat dihindari, karena Tuhan memberikan kepada kita pilihan bebas sepenuhnya. Tinggal saat akhir hari kita nanti, Dia yang menentukan apakah pilihan kita itu benar atau salah menurut “SOP”-Nya.

Saya pribadi, tidak hanya mendengar satu dua kali dari beberapa kenalan saya yang bercerita tentang hubungan mereka dengan kekasihnya (*Hehehe, kekasih resmi maupun kekasih “minjem”/ngembat punya orang lain*), tentu sampai dengan cerita-cerita seputar hubungan fisik mereka.

Seru, aneh-aneh, ajaib (*Apalagi urusan gaya-gaya yang dipakai dan tempat mencari sensasi, wakakakakak*). Semakin hari semakin banyak. Semakin hari semakin diceritakan tanpa malu, tanpa ditutup-tutupi, dan dengan nada ringan tanpa ragu.

Saya pribadi menyimpulkan, hmmm…sepertinya sudah bukan hal yang sangat tabu ya urusan yang satu ini, dan di atas pemikiran itu adalah pemikiran apakah virginitas sudah tidak terlalu penting bagi perempuan ataupun pria yang belum menikah? Kalau dilihat dari cerita-cerita yang sempat mampir di telinga saya, sepertinya hal itu bukan hal yang paten untuk didapatkan dari pasangan. Mungkin semua yang penting di atas segalanya adalah masalah hati dan cinta.

Dan jika saya ditanya, apakah hal itu sangat penting untuk saya, mendapatkan pria perjaka untuk dijadikan suami? Saya akan jawab, hahahaha…berhubung manusia seperti itu adanya hanya satu di antara sejuta, maka saya akan katakan saya tidak akan terlalu ambil pusing, as long as dirinya tidak membawa penyakit terhadap saya, dan stop playing around after we married.

Lalu pernah dengar juga kan ya, julukan si perawan tua, bagi perempuan yang sudah dianggap berumur tapi belum juga menikah? Dan bagi sebagian orang, ini merupakan suatu hal yang memalukan. Bahkan cerita yang juga sampai ke telinga saya, ada seseorang yang lebih memilih menjadi janda, daripada perawan tua.

Ada dua pikiran saat saya mendengar julukan perawan tua itu, yaitu: Hmmm…yakin dia masih perawan? Hahahaha. Dan pikiran ke dua adalah, kalau perempuan itu masih tetap perawan hingga umur tertentu, apalagi usia yang dianggap banyak orang sebagai usia tua/telat menikah, wah bukankah itu sebuah prestasi yang membanggakan dan bukanlah sebuah aib yang memalukan? Karena menjaga diri untuk tetap perawan hingga tiba saatnya nanti resmi menikah, saya yakin sangat sulit untuk dilakukan di zaman seperti sekarang ini. Bukan begitu bukan?

Indahnya Perbedaan…

Thursday, August 27th, 2009

Damai rasanya saat saya melihat barisan wanita bermukena berbaris berjajar saat mereka mengikuti Sholat Tarawih berjemaah, di bagian belakang masjid yang saya lewati. Yang diikuti dengan pemandangan barisan para pria dengan kopiah dan baju koko di masjid bagian depan. Mereka berdiri, bersujud dan menyembah Allah, dengan penuh rasa syukur atas hidup yang diberikan.

Tak kalah damai rasa di hati, saat saya duduk mengikuti misa di dalam gereja, dengan iringan paduan suara yang bertugas melantunkan lagu-lagu syahdu, yang juga merupakan doa yang kami panjatkan pada yang Empunya Nyawa. Apalagi saat perayaan hari raya besar, seperti Paskah (*FYI: yang tidak sama dengan perayaan kematian Yesus, atau Jumat Agung*), dan Natal. Saat semua lagu yang terindah dibawakan; saat Altar terhias bunga lebih meriah daripada biasanya; saat nelangsa dalam hati, karena kesadaran bahwa manusia ini lemah tanpa Tuhan, lebih terasa; saat sukacita karena keluarga kembali ke rumah.

Namun rasa itu terhempas begitu saja, setelah saya teringat penggalan berita yang sempat saya dengar dari televisi. Berita tentang himbauan untuk selalu mewaspadai isi kothbah-kothbah di masjid, yang mungkin saja merupakan hasutan untuk beralih ke jalan yang menyesatkan. Bertambah sedih karena teringat, bahwa kami harus melewati pemeriksaan Polisi di pintu masuk saat kami akan memasuki pintu gereja, terutama pada misa hari raya besar, yang memberlakukan satu pintu masuk dan satu pintu keluar, yang membuat umat lebih lama mengantri keluar dari gereja.

Miris memang kalau ingat hal itu. Dan semua itu terjadi setelah teror bom mewarnai negara kita ini.

Saya ingat betul bagaimana ngerinya liputan televisi tentang tragedi teror bom di banyak gereja, yang terjadi saat perayaan Malam Natal tahun 2000, merupakan teror bom pertama kali di Jakarta; yang kemudian disusul teror-teror bom di tahun-tahun berikutnya, di berbagai wilayah Indonesia, yang juga sangat mengerikan. Teror bom yang dilakukan karena tujuan tertentu, tujuan di mana menentang adanya pluralisme, yang merupakan suatu hal yang mendasar dari sebuah kehidupan, sejak kita dilahirkan.

Saya? Perempuan. Kamu? Laki-laki. Dan kamu satunya? Perempuan. Saya? Jawa dengan campuran sedikit Manado. Kamu? Mungkin Jawa bercampur Cina, mungkin Ambon bercampur Batak. Dan dia? Manado campur Aceh campur Portugis. Eh, atau dia yang di sana? Jawa, Manado, Cina, Belanda. Saya? Beragama Katolik. Teman saya yang satunya? Kristen Protestan. Kamu? Muslim. Atau dia, yang seorang Hindu. Yang di sebelah sana, kalau berdoa di Vihara. Saya kadang bicara dengan bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa. Kamu mungkin berbahasa Sunda dan kadang bicara Mandarin (*Ajarin gratis dounks hahahaha*). Si peranakan Jawa-Prancis di sebelah sana, terdengar seksi saat berbicara dengan bahasa Prancis (*Parlez Français Monsieur?*)

Pada dasarnya Tuhan menciptakan kita sudah dengan segala ciri khas masing-masing yang melekat ke diri kita, dan tentunya karena itu semua adalah suatu yang khas, pada akhirnya akan membawa ke perbedaan antara satu dengan yang lain. Dari yang paling dasar saja, jenis kelamin sudah dibedakan, letak geografis yang mendasari terciptanya suku bangsa dan bahasa, juga berbeda; kita pun mempunyai cara yang berbeda-beda untuk berkomunikasi dengan Allah.

Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah kehidupan akan lebih damai saat yang berbeda itu dapat hidup berdampingan, tanpa curiga, tanpa rasa takut, tanpa iri hati dan benci? Bukankah yang berbeda itu ada untuk dapat saling mengisi dan melengkapi satu sama lain?

Semoga himbauan untuk terus memperhatikan khotbah dan ajaran-ajaran pemuka agama, karena adanya rasa takut, kalau-kalau ajaran tersebut dapat menjerumuskan, juga penjagaan polisi di pintu depan gereja tidak perlu ada lagi. Hanya karena kita sudah bisa berdamai dengan diri sendiri, dan berdamai dengan orang lain dengan segala perbedaannya. Hanya karena semua manusia sudah menjunjung tinggi dan menghargai pluralisme.