Posts Tagged ‘Psikologi’

Seburuk Itukah?…

Thursday, December 23rd, 2010

Human Resource atau Human Capital?…

Kira-kira apa ya, yang dipikirkan seseorang jika mendengar kata itu? Di bawah ini adalah respon atau tanggapan, mengenai dua kata itu, yang saya dapat dari orang lain dan yang berhasil saya rekam di otak saya, dari saat saya mulai bekerja, dan apalagi 2 tahun terakhir ini, memang saya menjadi salah satu manusia HR…

sucks…
harusnya khan pendekatannya lebih humanis ya…
kalo ga doyan admin, mendingan jangan…
semua berawal dari ngerjain dirty job…
kurang apresiatif…
nyebelin…
tukang ngatur orang lain, dirinya sendiri ga aturan…
HR khan cuma support, gajinya lebih kecil daripada bisnis…
mang gue HR? ga merasa gue…
HR ternyata ga gue banget…
gila, HR kok kulturnya gini ya…
jaim gila orang-orangnya…
public enemy…
pengen banget gue jadi HR, biar bisa tau gaji-gaji orang lain… *saran gue? mendingan jangan.. :mrgreen:*
ketunda promosi gara-gara hasil performance appraisal gue ilang…
bisa kerja ga sih mereka, lama banget…
kayak gini nih hasil rekrutan mereka, kayak beli kucing dalam karung…
yang direkrut kok ga tahan banting ya…
kenapa anak baru banyak yang cabut…
betah lu di situ?…
saya ini top managementnya HR, jadi saya lebih tau…
tembok gap-nya ketebelan cuy…
ga mingle…
terlalu belain manajemen daripada belain karyawan…
setelah pindah ke HR, gue malah merasa ini dunia gue banget…
confirmed, by myself, HR bukan gue…
HR tuh harus bisa jadi dirinya sendiri, ga belain karyawan, ga belain manajemen…
PA di tempat gue dulu lebih ada kejelasan penilaian, ga berdasarkan kita berhasil lick our boss’ ass atau ngga…
baru kali ini niy ada HR yang bisa nyatu ama anak buahnya…
office politics nya kok ya gede juga ya sesama HR…

Most likely responnya adalah respon negatif? Sedih ya?!

Saya merespon kembali tanggapan mereka? Jawabannya: Ho oh! Terutama jika memang saya sedang terlibat pembicaraan dengan mereka mengenai divisi yang dianggap ajaib, mungkin di hampir setiap perusahaan. Seperti yang terjadi hari ini saat makan siang saya bersama dengan dua teman, dan kami bertiga ditemani segelas bir leci *enak bouw!* Dua di antara kami bertiga adalah orang HR. Sayangnya, ketiganya bukanlah orang-orang yang memiliki volume suara yang kecil. Ga mungkin kami menertawakan sesuatu hanya dengan ngikik, pasti dengan ngakak

“Sssttt…jangan terlihat kita terlalu bahagia, nanti ada yang sirik!”

“Kapan lagi bouw…di kantor sekarang ga bisa niy gue ngakak kayak gini. Analoginya nih elo terpaksa jaim di kuburan!”

“Bentar-bentar…gue curiga kenapa elo ga ngambil cuti?”

“Modus operandi gue, di saat semua orang cuti, gue ngantor. Tapi saat orang lain ngantor, gue cuti! Lagi pula pending list gue banyak bok.”

“Elo bis ini ikut ke GI khan?”

“Gak lah, gue balik kantor.”

“Dah cabut ajah.”

“Preeeett…nyetanin gue lu ye. Lagi pula kemaren gue dah ke GI, and gue kere bis dari sana.”

“Eh kere itu dah default buat kita. Jadi ya sudah lah, sekalian!”

“Jadi kira-kira bakal bertahan berapa lama lu?”

“Iya loh…dah banyak tuch yang nanyain gue. Apalagi yang tau karakter gue kayak apaan. It’s about time juga sih untuk gue pindah.”

“Just like what I am going to do.”

“Kammpprrreeett…pantesan! Mau kemana lu?”

“Ke tempat yang saat ini sepertinya terlihat menawarkan sesuatu yang lebih baik. Masih di seputar dunia HR kok.”

—-

Errr…jadi apa ya tanggapan saya tentang HR? :mrgreen:

Btw…ada yang mau menanggapi atau memberikan komentar balik respon-respon tentang HR yang pernah saya dengar? Hayooo…para HR, jangan diem aja yah, kita ga gitu khan ya?

Ini, Itu, Anu, Ono, Sana, Sini, Begini, Begitu?…

Saturday, November 13th, 2010

“Life is about an option…”

“Yeahhh…rite!”

Tadi malam, akhirnya saya mengurungkan niat saya ke salon untuk potong rambut. Semua gara-gara si Trans Jakarta yang tak kunjung datang, dan membuat perut saya dan teman kantor (yang pulang bersama saya) kelaparan, sehingga kami berdua memutuskan untuk makan malam di Setiabudi Building; Membuat teman saya akhirnya minta dijemput suami tercinta; Membuat saya memilih untuk nebeng mereka sampai rumah tante saya di Bintaro.

Berjalan berjingkat, memasuki rumah tante yang sudah gelap karena penghuninya sudah terlelap, menuju kamar asisten rumah tangga yang letaknya di rumah bagian belakang…

“Mbak, mbak, kamar atas kata satpam depan dikunci ya? Tolong bukain dounks.”

“Eh, Mbak Rosa, bentar ya.”

Memasuki kamar itu, ranjang yang lengkap dengan bantal dan guling, seakan-akan sudah memanggil saya untuk segera menjatuhkan diri di atasnya.

“Pulang…ngga…pulang…ngga…jam berapa ini? Setengah 11. Kok males ya manggil taksi. Tapi gue ga bawa baju ini. Mari kita bongkar lemari, seperti biasa. Damn, baju tidur kebangsaan gue punya si tante mana ya? Kok tumben ga ada di sini.”

Dan beberapa menit kemudian…

“Halo Pa, aku ngga pulang ya. Ngantuk, males manggil taxi, aku di Garuda.”

Duduk di karpet yang terhampar memenuhi kamar, saya membaca sebuah pesan yang ditinggalkan seorang teman di akun situs jejaring sosial Facebook, yang terhubung langsung ke si Bébé. Tak tahu kenapa, sepertinya saya termasuk orang yang dipilihnya untuk memberikan komentar terhadap kejadian-kejadian yang sedang ia alami…

“Give my lover a little space, lama-lama bisa jadi gede, dia susah punya waktu untuk gue, tapi gue juga ga mau ngerusak kesenangannya dia, tapi gue juga ga mau jadi korban perasaan…”

Begitulah inti cerita teman saya yang satu itu, dan kurang lebih jawaban saya adalah yang ada di bawah ini…

“Been there…and I don’t like that kind of situation either. Gue pernah di situasi pacar loe, dan gue juga pernah berada di situasi elo. Kalo gue, atleast I did my part, my portion, and the rest my universe, including God will decide. Capekh juga bouw kalo ngelawan itu semua. Kalo pada akhirnya that relationship makin jauh, dan sepertinya memang itu pilihannya, dan memang itu yang jadi pilihan bahagianya dia, pilihannya adalah tinggal elo, bisa berdamai dengan diri loe sendiri atau teteup keukeuh, yang sebenernya you can’t push someone else to understand your feeling.”

Make a decision bukan suatu hal yang mudah, apalagi untuk orang-orang yang banyak pertimbangan, gak mau rugi, dan/atau orang yang tidak mau ambil risiko.

Errr…termasuk saya? Mungkin!

Bagi saya, setiap detik dalam hidup itu adalah suatu pilihan, baik pilihan yang sangat mudah, maupun pilihan yang sangat sulit dan mempunyai dampak besar untuk hidup.

Simple thing terjadi setiap pagi hari saat si Bébé berusaha membangunkan saya pukul 5.20. Terus terang saya terbangun dan berusaha meraihnya saat mendengarnya “berteriak-teriak”. Sesampainya mata ini melihat ke layarnya, di mana tertera dismiss atau snooze, saya pun dihadapkan pada pilihan. Dismiss berarti saya harus bangun, kalau tidak, saya bisa bablas ketiduran, atau snooze yang berarti saya hanya menunda beberapa menit, dan akan sama saja, saya tetap harus bangun. Atau, pake baju yang mana ya? Atau sepatu yang mana ya? Berangkat bawa mobil, atau nebeng ya?

Sepele ya?

Bagaimana kalau pilihan tersebut, melibatkan orang lain, atau saat berinteraksi dengan orang lain?

Membawa saya teringat usulan seseorang untuk saya. Usulan agar saya bisa sedikit memperbanyak “basa-basi” saya di depan beberapa orang, karena mungkin cara tersebut yang akan mempermudah saya untuk bisa di-iya-kan oleh mereka. Terus terang, hal ini sedikit “bukan saya” yang berpandangan bahwa saya tidak pernah bisa memaksa orang untuk suka saya, atau bahkan melarang mereka untuk suka saya. Saya akan membiarkan mereka, walaupun tentu ada respon-respon tertentu yang setidaknya terbersit di otak saya…

“Cha, bantuin nyanyi ya.”

“Duuhhh, gue dah lama ga nyanyi, manggung pulakh. Ngga janji ya. Udah ada yang lain kan?”

Sambil berpikir…”Ya sudah-lah itung-itung bisa dapet temen baru khan,” yang akhirnya membawa saya menjawab ‘Ya’ pada tawaran itu.

Atau pilihan saya untuk memasang earphone, mendengarkan lagu (dan menahan diri tanpa ikut bernyanyi) saat tetangga membuat “kerusuhan” sendiri.

Atau pilihan untuk tetap bermanis-manis ria saat berhadapan dengan orang yang sangat menjengkelkan dan membuat saya emosi jiwa.

Atau pilihan untuk pasrah dan menjawab “I can’t find that email, you can put the blame on me, mungkin ke-delete saat clean up email kemaren, tiap hari saya dapet warning email penuh. Delete item saya juga dah kosong,” saat saya tidak berhasil menemukan sebuah surat elektronik di dalam sent item folder, saat seseorang di ujung sana berkata “Did you send it?” dengan nada yang penuh keraguan.

Atau pilihan untuk tetap bersama seseorang atau membiarkan pasangan untuk perlahan terlepas dan pada akhirnya memang harus berpisah.

Pilihan untuk tidak memakai topeng sama sekali, atau memakai topeng hanya satu lapis atau seribu satu lapis. Pilihan untuk tetap menjadi diri sendiri atau menjadi foto-kopi orang lain saat berinteraksi dengan orang lain?

Bagaimana jika di satu masa hidup kamu, kamu dihadapkan ke beberapa pilihan atau tawaran, yang muncul bersamaan, pasti ada plus-minusnya, dan kamu tahu semuanya itu akan mempunyai dampak terhadap masa depan kamu?

Dilematik? Pasti!!!

“Lanjutin kerja, teteup dapet duit, tapi naiknya setengah mati, atau keluar kagak dapet duit bulanan, yang ada ngeluarin duit buat sekolah lagi.”

“Ngambil major A, atau B ya? Di Indo atau ke luar negeri ya? Rumah gimana dounks ditinggal? Kalo di Indo, nyambi kerja atau kagak ya? Kalo sambi kerja pasti ga bisa ambil yang major itu?”

“Kalo ke sana tapi kok ya di sana kira-kira kayak gitu, kalo ga ke sana, kapan dapet yang kayak gitu. Kalo tetep, pasti bakal sama ajah, tapi mungkin hal yang sangat gue pengenin bisa gue dapet, saat si anu udah begitu, tapi itu juga masih belom pasti kapannya.”

Pernah menghadapi situasi serupa? Apalagi kalau setelah dihitung-hitung, risiko, plus dan minusnya kurang lebih sama.

Bingung?

Satu kalimat yang selalu terlontar dari mulut seseorang, setiap saya minta pendapat tentang sesuatu hal ke dirinya…

“That’s your call!”

—-

“Yeaaahhh…rite!!”

Hah? Berapa Lapis? Ribuan!…

Thursday, October 14th, 2010

“Susah ga sih menjadi seseorang yang berbeda?”

Pertanyaan itu pernah dilontarkan ke saya.

Jawaban saya? Susah-susah-gampang!

Pada dasarnya, saya percaya bahwa setiap manusia itu pasti berbeda. Mau mencari ke belahan dunia manapun tidak ada manusia yang dilahirkan, tumbuh, berkembang, mempunyai pengalaman, pikiran, karakteristik, sifat, status sosial, jabatan dan bentuk fisik yang sama persis.

Harusnya menjadi yang berbeda akan menjadi mudah, karena hal yang tadi itu, karena kita satu sama lain pasti berbeda.

Tapi bagaimana jika manusia-manusia yang berbeda satu sama yang lain itu pada akhirnya harus bertemu, berinteraksi, mempunyai hubungan tertentu, bekerjasama? Akankah menjadi hal yang mudah?

Weeiittsss…belum tentu sepertinya. Bisa mudah, tapi sepertinya lebih banyak sulitnya, alias membuat hidup tambah rempong!

Mungkin contoh kongkritnya, bisa kita lihat dari hasil observasi sehari-hari di tempat kita beraktivitas.

Let say, kantor! Pernah memperhatikan tidak situasi kantor seperti apa? Teman-teman kita bagaimana, ngapain aja? Pernah lah ya! Ga mungkin ga pernah.

Mungkin situasi atau budaya seperti yang saya ceritain di bawah ini, merupakan salah satu “cerita” kantor kalian…

“Cuy, nih baju bagus!”

“Kagak bisa dipake ke kantor yang model begituan!”

“Kantor lu kagak bisa, kantor gue mah bisa. Mau kutungan ngantor sih bisa-bisa aja!”

Bukan “cerita” kantor kamu? Mungkin yang ini…

“Jam kantor lu jam berapa?”

“Jam saat gue dateng di kantor dan saat gue pulang kantor.”

Masih bukan? Okay, kalo begitu, mungkin yang satu ini…

“Mana gue tau peraturan kayak begituan, gue khan bukan pegawai tetap.”

Atau yang ini?…

“Mana ada nih yang kayak beginian bisa di divisi gue. Satu baca buku novel, kadang buka partitur musik, buka situs gosip, bahkan jadi ikutan gosip, pesen-pesen tiket pesawat gratisan, terus-terusan memamahbiak.”

Yang ini?…

“Sumpah tuh perempuan BT-in banget, pengen gue sumpel tuh mulut. Berisik!”

Kalau yang ini?…

“Kemana sih tuch anak? Pacaran mulukh. Ini dah jam 8 padahal! Dah jam kerja!

Bukan juga?…

“Di kantor lain mah buka-buka facebook kagak mungkin. Ngubek-ngubek blog orang, or situs-situs aneh juga pasti di banned. Kalo gue malah disuruh, emang kerjaan gue kayak begitu.”

Satu lagi ah…

“Yang satu itu, mondar-mandir, biar keliatan sibuk, padahal nothing. Dan yang bilang kayak gitu juga dah ampe level direktur loh!”

Dan masih banyak lagi…si itu begitu lah, si bos anu ngapain lah, si anak buahnya itu nyebelin lah, yang satunya ga bisa kontrol emosi kalo lagi load kerjaan banyak…

Rempong?

Yupe!

Yang menyebabkan rempong itu apa ya? Dan siapa?

Kira-kira kita sendiri bukan? Hayyyooo…ngaku!! :mrgreen:

Kita dengan segala “keajaiban” masing-masing, ditambah dengan kebutuhan-kebutuhan khusus, seperti pelampiasan saat panic attack datang, kebutuhan diterima oleh lingkungan sekitar, kebutuhan untuk dapat di recognize oleh atasan, kebutuhan penyaluran hobi, kebutuhan menenangkan diri, kebutuhan merasa dihargai karena level jabatan yang disandang, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mungkin saat itu perlu dipenuhi dan hanya bisa dipenuhi dengan cara-cara tertentu, yang hanya diketahui oleh kita, apalagi alasan kenapa kita melakukan cara-cara tertentu itu.

Mudah?

Ho-oh!

Kalau kita berniat memakai “sepatu” mereka terlebih dahulu, mencoba melihat dengan “kacamata” mereka. Ngga enak? Pasti! Karena bukan punya kita sendiri! Bukan comfort zone kita.

Keluar dari comfort zone bukan hal mudah, bukan berarti ga bisa, tapi juga bukan berarti mereka akan menemukan comfort zone lainnya.

Gak susah loh ngasih sebentar atau sedikit comfort zone ke orang lain, stop judging and complaining *eh…itu menurut gue sih*

Lagi-lagi, saya tidak pernah bosan akan tulisan di bawah ini…

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

Dunia ini panggung sandiwara?

Totally agreed! Bahkan kalau perlu make seribu lapis topeng yang penuh basa-basi?

Ga capekh ya?

“Kalo elo ‘Cha?”

Beneran, nanya kalo gue gimana? Ga nyesel denger jawaban gue?
Kalimat retoris elo tanyain lagi ke gue! :mrgreen:

Gue Bukan Elo Ya…

Sunday, May 30th, 2010

Ruangan sebesar 3 x 3 ini merupakan sebuah awal dan akhir perjalanan hari-hari seseorang. Ruangan yang tak pernah bisa bertahan lama untuk tetap rapi-jali. Ruangan yang sering kali terhampar pakaian kotor, kertas dan benda apapun yang bisa digeletakkan di lantainya, sama seperti sekarang ini.

Saat-saat itulah siempunya ruangan tersebut, merasa lebih mudah untuk mencari benda apapun yang ia butuhkan yang ada di ruangan tersebut. Saat-saat di mana indera penglihatan dan feeling dari si pemilik ruangan itu sedang dilatih untuk bisa lebih diandalkan.

Ruangan yang membuat mereka yang memasukinya merasa heran, merasa takjub, merasa bingung. Dan mungkin kesal, karena mendapatkan respon nyleneh atas komplain yang diajukan kepada si pemilik ruangan…

“Lah, gue happy-happy aja tuch di sini,” atau…

“Kamar-kamar siapa, kok elo yang protes.”

Satu hal yang pasti, bahwa ruangan itu adalah sebagian cermin jiwa dari si pemilik…

Manusia yang sering membuat orang lain gemas, atas santai dirinya yang untuk sebagian orang adalah sangat keterlaluan.

Manusia yang paling malas untuk diminta basa-basi, karena menurutnya ia tak pernah bisa memaksa orang lain untuk suka atau tidak suka terhadapnya.

Manusia yang merasa selalu diingatkan bahwa segala sesuatu tidak bisa terus-menerus disimpan sendiri, atau selalu tersimpan dengan rapi, karena suatu saat hal tersebut dapat tertangkap oleh indera.

Manusia yang ia ingin katakan “Jangan pernah ngubah gue jadi foto copy-nya elo,” atau berteriak “Gue ga maksa untuk elo suka ama gue, atau gue jadi benci ama elo karena elo ga suka sama gue. Terserah elo!!! So, jangan sekali-kali terlalu ikut campur ama idup gue. Coz your life is still yours, and mine is still mine.”

Karena kamu adalah kamu dan saya adalah saya.

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

He Put Me Here…Heaven On Earth…

Wednesday, March 24th, 2010

Hah…So this is why He put me here…in this world…in this place…

—–

“Bu, sibuk ga?”

“Kenapa?”

“Mau cerita, bukan masalah kerjaan banget sih…”

bla…bla…bla…

Dan sesi konseling pun terjadi kurang lebih satu jam…

—-

Di sela-sela saya yang sedang sibuk berkutat dengan komputer seperti biasanya, dengan pintu ruangan yang terbuka, ada seseorang yang sedang berdiri menyandar di pintu ruangan saya…

“Enak ya, Bu, kerja-kerja, sambil dengerin musik-musik ginih.”

“Ehh…btw…saya denger tentang….*sencored :)* Gimana udah selese?”

“Ibu tau dari mana?”

“Ga penting saya tau dari mana, tapi dah beres khan ya?”

“Ibu tau dari mana?”

“Btw…dah berapa lama itu kejadiannya?”

Kalimat itu, saya keluarkan sembari saya tetap memandang layar komputer dan asik-asik mengetik…

Saya tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Yang membuat saya akhirnya menoleh ke arahnya, yang sekarang sudah berdiri, menyandar di tembok sisi sebelah kanan ruangan saya, sembari menatap ke saya, tak bisa berkata sepatah kata pun, dan jari telunjuknya menunjuk ke arah matanya…

Saya pun berdiri menuju pintu dan menutupnya…

Kembali konseling pun terjadi, kira-kira satu jam…

—-

Gubrag, gubrag…seseorang tergesa-gesa memasuki ruangan saya, sembari membawa beberapa helai tisu…

“Mom…duh…gimana ya ngomongnya…aku bingung mulai dari mana. Maaf kalo saya nyusahin.”

“Sama gue ajah ga usah bingung ngomongnya.”

Dan bla…bla…bla…

“Ma kasih ya Mom, aku dah lega. Ma kasih mau dengerin. Ma kasih Mom.”

“Ma kasih juga ya, you make my world more colorful, you make me just like me now…but still ya…keputusan terakhir di kamu, yang penting sekarang kamu dah liat sisi A, B, C, dan seterusnya. Kamu yang harus tentuin sendiri mana yang menurut kamu terbaik untuk kamu.”

—-

Akibat dari memberitahukan nomor ponsel ke semua orang di tempat kerja, membuat semua orang menjadi tahu nomor ponsel saya tentunya…

Dan ini salah satu dari pesan singkat yang saya terima dari mereka…

“Menurut saya, ibu tuh hrd paling top yg pernah saya temui! :-D

Saya pun membalas pesan singkat itu…

“Lebay mode: ON…anyway…every1 has his/her own way to approach others…and this is my way to get know all of you better and better every day…don’t care what ppl say about it behind my back, coz I can’t push them to like or dislike me, I play my own game, without forgetting rules I have to follow as my position rite now.”

—-

Dulu saat saya memutuskan untuk keluar dari comfort zone saya sebagai pegawai tetap bank swasta nasional yang top markotob ituh, untuk kuliah di Fakultas Psikologi, abang tertua saya bertanya ke saya…

“Elo ngambil Psikologi mau jadi HRD, Sa?”

“Ga! HRD tempat gue dulu nyebelin. Gue pengen ngambil psikologi konsumen.”

—-

Saat rapat “luar biasa” antar HR “seantero jagad” dengan para petinggi HR yang terhormat…

“Jadi HRD itu ga boleh begini, begini, begitu…termasuk ga boleh jatuh cinta ama satu kantor. Kalo pun logika ga bisa ngelawan hati, ya harus salah satu keluar.”

Dalam hati pun saya menjawab…

“Setuuuuuujjjuuuuhhh berat!!! Totally agreed! Tenang, Bu, logika saya bisa loading dengan canggih.”

—-

Saat saya menelepon ke HRD lain…

“Ibu yang satu ini kenapa adem-ayem, santai-santai?”

“Sebenernya sih rusuh juga, tapi kalo dipikirin rusuh ya makin rusuh. Semuanya dibuat senyum aja lah. Kalo salah tinggal ngaku, dimarahin wajar, namanya juga kerja, tinggal usaha ampe mampus dan senyum poll.”

Saat saya ditelepon oleh HRD lain…

“Cha elo dah baca?”

“Dah.”

“Itu gimana sih, bla…bla…bla…”

“Ya udah lah, toh muaranya di sana khan? Kalo diperpanjang malah tambah kasian anaknya. Daripada ribut cari-carian, kalo harus ngulang ya ngulang.”

“Jadi elo fine-fine aja?”

“Mau gimana lagi? Daripada kelamaan? Dah dibawa senyum aja yah.”

—-

Tak tahu apa karena kualat dengan omongan sendiri, atau hal lain, tapi akhirnya saya nyemplung di dunia HRD. Dunia penuh printilan detil administratif, dunia penuh detil peraturan ini-itu baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dunia yang penuh dengan ke-jaim-an bagi yang menjalaninya, dunia yang penuh dengan kode etik yang ternyata banyak yang tak berkode, dunia yang banyak dibenci oleh para karyawan di suatu perusahaan.

Tapi tak tahu mengapa, melihat dunia ini dari hari ke hari membuat saya semakin mencintai YANG NANGKRING DI ATAS SANA, karena sudah membuat saya berada di dunia ini…di tempat ini…

—-

Sepertinya…tulisan saya kali ini, sesuai lah ya kalau ditutup dengan lagu mantap, dari serial TV, Glee (Episode Wheels) *Again, Cha?*

Defying Gravity…that’s what I’m doing…

Something has changed within me
Something is not the same
I’m through with playing by the rules
Of someone else’s game
Too late for second-guessing
Too late to go back to sleep
It’s time to trust my instincts
Close my eyes: and leap!

It’s time to try
Defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
Kiss me goodbye
I am defying gravity
And you wont bring me down!

I’m through accepting limits
”Cause someone says they’re so”
Some things I cannot change
But till I try, I’ll never know!
Too long I’ve been afraid of
Losing love I guess I’ve lost
Well, if that’s love
It comes at much too high a cost!

I’d sooner buy
Defying gravity
Kiss me goodbye
I’m defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
And you wont bring me down!

I’d sooner buy
Defying gravity
Kiss me goodbye
I’m defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
And you won’t bring me down!
bring me down!
ohh ohhh ohhhh!

—-

*Errr…boleh ga ya ga pake audit? Hate it dari jaman baheula gue mulai ngantor!!!*