Posts Tagged ‘Psikologi’

Buang Di?…

Thursday, June 30th, 2011

Berlangganan TV berbayar ini, sering membuat saya berpikir…

“Njriiittt niy…dulu kayaknya gue bayar langganan nih TV cuma 200 ribuan, sekarang dah 400 ribuan. Though termasuk internet,” atau…

“Kenapa ya TV Indonesia ga bisa mbuat acara TV kayak gini. Bikin TV series mutu gituh. Bukan sinetron kacangan ga mutu.”

Serius! Serial televisi yang ada di saluran TV milik luar negeri, memang bermutu. Baik serial televisi jaman dahulu, atau jaman sekarang. Sebut saja serial Growing Pains, Dr. Doogie Howser M.D, ER, The Huxtables, CSI, Numb3rs, Glee, Parenthood, How I Met Your Mother, Grey’s Anatomy, dan masih banyak lagi

Bermutunya serial televisi “ciptaan” saluran televisi luar negeri itu, terbukti di salah satu episode serial televisi Parenthood, yang kebetulan saya tonton siang kemarin.

Dan beginilah kurang lebih salah satu dialog antara Haddie Braverman (yang diperankan oleh Sarah Ramos) dengan ibunya, Kristina Braverman (yang diperankan oleh Monica Potter)…

“Mom, I had sex with Alex,” ngggoookkk… *by the way, in story, Alex is Haddie’s boy friend.

Tahukah apa yang saya pikirkan begitu mendengar kalimat itu? Kalimat yang keluar dari mulut seorang anak yang dalam cerita, berumur 16 tahun. Kalimat yang dilontarkan anak kepada sang ibu.

“Hebbbaattt nih anak, super terbuka. Hebbbaattt nih si emak, kagak langsung treak marah-marah, and freak out walaupun bengong mampus. Ada ga ya anak jaman sekarang di Indonesia, yang seterbuka kayak gitu sama emaknya, kecuali sampe dia hamil jadi terpaksa ngomong. Dan pasti ngomongnya dah langsung ngaku hamil.”

Saya yakin, sekarang ini masalah seks bebas sudah ga asing. Sepertinya semakin sedikit yang masih memegang teguh “hukum” untuk tetap menjaga keperawanan atau keperjakaan sampai saatnya nanti menikah, dan sudah menggantinya dengan “hukum”, “Play safe yaaa,” atau “Yang penting main aman, abis enak ccccyyynnn!”

Tapi coba deh, pikirin lebih lanjut, apalagi yang sudah jadi orang tua, dan punya anak perempuan. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba adegan di film tadi, mendadak menjadi kenyataan hidup di depan mata? Apakah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kristina (ibunya Haddie) seperti di bawah ini, akan keluar juga dari mulut kamu?…

“Did he use condom?”

—-

Haaayooo…ngacung yang hari gini belum nikah, tapi masih perawan or perjaka!!

Hmm…satu lagi…itu kondom, lubricants, after morning pill, simpennya yang bener ya, jangan ampe ketauan orang rumah…rempong ntar…boouuwww… :lol:

*Jadi inget tangkapan indera dari percakapan dua orang yang sedang duduk dan berbincang-bincang, yang sepertinya perbincangan penuh arti, di sebuah cafe, di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat, tak lama sebelum tulisan ini dibuat.

“Kemaren itu aku dah bawa caps loh.”

“Bukannya kamu bawa terus ya?”

“Ga selalu sih.”

“Biasanya sih kalo sama aku, ga ngaruh, ga enak, artificial.”

“Terus?”

“Ya masih bisa dibuang di luar khan? And ambil resiko lah.”

“Ooooowwwkkkaaayy.”

*ggguuubbbrraaggg…*tepok jidat! *jaman sekarang!!

I Did That Because I Want It With You…Badly!…

Monday, June 13th, 2011

Hari Minggu kemarin tumben-tumbenan saya ke pergi ke gereja sendirian. Biasanya ada Ibu dan/atau Bapak yang bersama saya.

*This is what I like…driving all alone, tanpa buru-buru, tanpa ada janji apapun sama sapapun, tanpa gangguan dari sapapun dan apapun, bebas kemana pun, dan tanpa macet! Bisa  lebih dari 120km/hour pun.

Literally dari siapapun dan dari apapun, kecuali gangguan saat mengendarai mobil. Tape mobil sengaja tidak saya nyalakan. Telepon genggam yang khusus nomor urusan kantor, saya bawa tapi saya silent, just incase saya butuh untuk menelepon. Dan Si Bébé sudah saya bekep, matiaw dari Sabtu sore, tidak hanya mematikannya, tapi melepas baterainya *Sampai sekarang.

“Sekali-kali biar pada ngerasain kalo ga ada gue gimana, susah nyari gue gimana.”

Tidak ada BB berarti pula hidup saya dari Sabtu sore hingga sekarang (Senin sore) tanpa ada BBM, baik menerima maupun (berpikiran untuk tidak) mengirim, dan mengharapkan ada yang mengirimi saya BBM dan mengecek saya masih hidup atau tidak di dunia ini. Tidak pula harus menerima SMS dari si Mama minta pulsa dan penawaran KTA dan kartu kredit yang terus-menerus. Tidak harus melongok ke time line twitter dan mulai kepo dengan urusan orang lain, atau membuat orang lain penasaran dan bertanya-tanya tentang time line yang saya lempar ke publik. Tidak perlu terima telepon dari keluarga, teman lama, maupun teman dekat, dan mungkin dari “teman” saya *Karena nomor si Bébé adalah nomor untuk urusan pribadi saya, bukan urusan kantor.

Ya kira-kira begitulah kegiatan saya yang berkaitan dengan si Bébé. Tetapi BBM sepertinya adalah “jantung hati” dari si Bébé.  Walaupun terkadang cukup annoying jika chatting dari grup-grup yang saya ikut tergabung di dalamnya, penuh dengan celotehan para anggotanya. Lagipula selama ini hanya ada satu orang yang sangat saya harapkan untuk mengirimi saya pesan di BBM. Ahh..jadi ingat percakapan saya dengan orang itu tepat dua minggu lalu.

Bali, 30 Mei 2011…

Saya: Aku kok kangen ya BBM-an ama kamu ya…

Dia: Hahahahaha…lagi ga perlu khan?

Saya: Selama ini yang paling aku tunggu ya BBM dari kamu…

Dia: Iya aku juga…

Tetapi saat ini, seseorang yang saya maksud di perbincangan di atas tersebut pun, tidak mampu mengurungkan niat saya untuk tetap mencopot baterai si Bébé dan membuatnya terdiam beberapa hari.

“Aaahhh…he knows me well kok…he already knows who is he dealing with now! Jangan-jangan dia ngga nyari gue pun. Hahahahahaha.”

Sempat beberapa kali, tidak hanya sekarang, telepon genggam ini saya anggap sebagai sumber hiruk pikuk dunia saya sendiri. Walaupun tidak munafik, tawaran pekerjaan bisa bermula dari komunikasi saya dengan seseorang dengan memakai telepon genggam ini. Atau ajakan bertemu dengan teman lama. Atau usaha perjodohan yang dilakukan oleh beberapa teman, yang sampai saat ini tampaknya masih sia-sia… :mrgreen: *Haaayyyooo…nyari sajennya yang lebih mutu dounks aaahh… :lol:

Kali ini, tepatnya beberapa hari ini, telepon genggam saya anggap merupakan sumber tingkat kebisingan hidup (hati) paling tinggi. Walaupun sudah lebih dari 3 bulan, si Bébé selalu saya kondisikan diam. Alasan utamanya adalah, saya malas mendengar bunyi-bunyian yang berasal darinya, dan saya hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang yang saya kenal (dekat). Jadi kalau saya tidak mau mengangkat teleponnya atau membalas BBM atau SMS, akan saya biarkan, kalau saya sedang tidak bisa mengangkat telepon dari mereka, ya saya akan membalas menelepon hanya ke mereka yang saya inginkan.

Kembali ke situasi kemarin. Saat saya harus pergi ke gereja sendirian. Satu hal yang saya rasakan sangat, dari pertama kali roda berputar akibat saya arahkan dengan stir adalah: peaceful. No tape. No sounds of human. Ga perlu ribet denger bunyi handphone. Dan yang terpenting adalah ga perlu mengharapkan apapun, dari siapapun yang mungkin datang dari perangkat-perangkat yang katanya pintar itu, yang membuat saya harus melongok ke arah layar mereka.

Jadilah hidup penuh kedamaian dari rumah-meruya-tol kebon jeruk-tomang-harmoni-jalan pos- lapangan banteng-meratapi nasib dan ngomel-ngomel ama Tuhan sebentar di Katedral-balik nyetir lagi masuk juanda-jalan veteran-depan Monas-Thamrin-Sudirman-bunderan senayan-pintu I-berhenti menghirup kebisingan sebentar di Plaza Senayan buat ngisi perut dan belanja beberapa botol-Asia Afrika-Simprug-jalan panjang-meruya-rumah, dari pukul 17.20 – 22.00.

Life is like a roller coster. Karena BBM juga, saya berkenalan dengan seseorang yang entah tak tahu kenapa, saya biarkan exist di hidup saya. Saya manusia kompleks yang penuh pertimbangan ini-itu. Saya manusia yang pada dasarnya manusia super cranky yang kena “hajar” oleh seseorang selama hampir 8 tahun dan berubah menjadi manusia yang cukup bisa memahami orang lain jauh lebih baik daripada masa-masa jahililah dulu. Saya yang secara periodik melakukan proses pemilihan remove terhadap kontak BBM juga daftar teman di Facebook dan juga follower di twitter. Saya yang kadang masih tidak memahami keputusan saya sendiri, mengapa mereka yang namanya hanya diam bertengger di akun-akun tersebut, tanpa pernah menyakiti saya, tapi saya ikutsertakan dalam daftar seleksi remove, sedangkan mereka yang pernah menyakiti saya, bahkan membuat saya geram dan menangis, saya biarkan tetap bertengger di sana, dan tetap saya biarkan mengikuti sebagian atau bahkan seluruh jejak langkah kehidupan saya.

“I do not share those kind of sexy things with everyone I considered as friends. Again…i did that because i want it with you,” and yes, my whole life is so sexy to get to know about…

Am I the one and only you (want to) share about the whole your sexy life or?

Think about it, Baby!!

-me, the one you called as little girl-

====

“Pada kangen ama gue ga ya? Gak ya? Ohhh..ya sud..maap ya jumpa fansnya lagi ditutup sementara.”

:mrgreen:

Atau Perempuan Tolol Yang Sedang Jatuh Cinta?…

Monday, June 13th, 2011

Hidup percintaan sepertinya memang ga pernah habis untuk dibicarakan. Kalau sudah urusan hati, selesai sudah, tamat segala urusan yang sebelumnya tampak baik-baik saja, seketika dalam hitungan detik, bahkan dalam hitungan kerling mata, buyar berantakan, hancur berkeping-keping.

Tag line boys still will be boys…and girls still will be girls, sepertinya memang segala akhir dari runutan cerita benang kusut yang sering terjadi jika urusan dua sosok aneh, bertemu. Pertemuan apapun itu. Bisa hati, atau pertemuan lainnya yang bukan berarti juga pertemuan hati (sekarang atau nanti) dan/atau pertemuan sepemikiran *Kok gue pun jadi bingung ama omongan gue ndiri :mrgreen: *Jadi inget tweet seseorang beberapa hari lalu: When two lips met didn’t mean two hearts do. *Jleeebbb…+ irisan jeruk nipis

Koleksi kisah percintaan baik milik teman yang dititipkan ke saya, maupun kisah pribadi (yang ga kalah serunya) sering membuat saya mengernyitkan dahi, dan berpikir “Ini yang geblek yang mana ya? Yang satu bodo, yang satunya bodoh.”

Pertemuan antara venus dan mars memang nyehe kalau dipikir-pikir lebih lanjut. Entah berapa banyak makhluk yang sudah melakukan tindakan-tindakan bodoh, akibat si cinta kampret ini…

Dan “koleksi” kisah percintaan terbaru yang terekam secara otomatis dengan indera saya di bawah ini, kembali membuat saya geleng-geleng kepala…

Perempuan itu menunjukkan sebuat foto, seorang pria dan ada perempuan di sampingnya…

“Ini fotonya dia.”

“Udah officially jadian?”

“Kayaknya.”

*Sebelum lanjut…beneran deh…foto apapun itu, apalagi profile picture BB cowok-cewek bukan berarti pasangan berstatus jelas loo…serius ini gue…eh atau memang jelas-jelas selingkuhan (gila beneran kalo foto selingkuhan di pasang di BBM) atau jelas-jelas gak jelasnya… :lol:

“Kok kayaknya, biasanya sih kalo dah ditarokh di pp gini, dah jadian looo. Biasanya. Apalagi dua-duanya pasang foto yang sama. Gimana cara elo jadi kontak BBM di dua makhluk itu? Berarti waktu dia intens sama elo itu juga intens sama perempuan itu? Terus elo sedih?”

“Ya iya lah.”

“Wajar.”

“Ampe nangis-nangis gue, dan gue mau marah-marah ama dia.”

“Iya loohh…ampe tilpun gue sesenggukan dari gudang divisi loe pun. Tapi hak loe apa ya marah-marah ke dia? Marah-marah karena jalan ama elo dan jalan ama tuch cewek di masa yang samaan?”

“Iya.”

“Sapa loe? Pacarnya dia mang waktu itu? Atau cuma karena elo yang jadiin dia prioritas elo tapi dia jadiin elo pilihan? Marah karena waktu itu elo dibiarkan nunggu berjam-jam tanpa kejelasan mau pergi atau ngga ternyata dia jalan ama perempuan itu? Though yang terakhir elo emang berhak kesel sih, dah janjian tapi tanpa kabar elo dibiarin nunggu.”

“Akhirnya gue remove dia dari kontak bbm gue.”

“Loohh kenapa?”

“Ga worth. Terus beberapa hari kemudian, dia nyamperin gue dan nanya-nanya kenapa gue diapus dari BBM kontaknya.”

“Elo boongin ajah. Blaga pilon. Bilang kek ke apus ga sengaja. Soalnya dulu gue kayak gitu.”

“Hahahah…gue pun kemaren begono.”

*Setuju gue…ga guna? ga perlu lah ada di kontak BBM…done that couple of times :mrgreen:

Another story from broken-hearted…

“Gue lagi kacau.”

“Gue telpon elo.”

“Kenapa loe? Masih nangis-nangis? Sampe kapan?” *Sumpah ya…Sampe Kapan itu adalah pertanyaan super nyeeeeehhhhheeeee…serius!!!!

“Ga tau. Gue minta dia ninggalin gue.” *Dan Ga Tau adalah jawaban paling aman nan rancu binti menye-menye…

“Ya udah lah…there’s nothing that we can do. Sometimes admit that we still love them but we have to lose them is the best way for the next 1 year at least…hahahaha…bukan untuk sekarang-sekarang sih. Try to sleep gih.”

“Gue takut tidur. Gue ga mau kebangun and sadar dia udah ga sama gue lagi. Nyakitin gue.” *Hyyyaaahhh…setuju gue…!!! Wake up in the morning and you realized something that you don’t  even want to know…sucks!!!

“Semua ada masanya sih. Mang yang kayak-kayak gitu harus dilaluin. Suka ga suka, mau ga mau. Mari ambil cangkul, gali kuburan, atau perpanjang kuku buat ngais-ngais aspal, atau sering-sering main ama anjing tetangga, biar suara kaing-kaing kita lebih mirip aslinya, atau ambil botol aja bouw…tenggak isinya…mayan ada sleeping pill.”

Atau “kisah sengsara” seorang perempuan yang berusaha selalu ada untuk seseorang pria yang dia sayangi, tapi sayangnya pria itu masih sangat terluka karena gagalnya ekspektasinya untuk menikah dengan perempuan jaman dahulunya. Perempuan yang membuat si pria melegalkan dirinya untuk “dirusak”, “dikacaukan”, tidak oleh orang lain, tapi oleh si pria itu sendiri. Usaha mampus si perempuan (yang saat ini sayang mati-matian ama si pria itu), “setidaknya” untuk menghapus legalisir tersebut, belum membuahkan hasil sampai saat ini *Mungkiiiiinnn!!!…belom dapet update terbaru dari mereka cyyynnn…gue khan sotoyyy…

“Tapi aku perempuan yang diajarin ama lingkungan untuk bisa tetep komit ama omonganku sendiri…yang kali ini adalah aku ada untuk kamu…aku bakal sayang kamu ampe kamu masuk peti mati…though nanti saat kamu dah sembuh total dari “penyakit” kamu and you choose one girl to take care of you completely yang most likely bukan aku…aku harus ngurangin porsinya yang selama ini aku kasih ke kamu…and let her do what i do…Love someone unconditional is not easy…at all…but you make me how to learn about it…though aku harus tercabik2..and dikasih irisan jeruk nipis di atas cabikan itu…” *Giiillaaaakkhh…kok mau ya? :lol:

Ini baru tiga dari sekian cerita yang menari-menari lucu di otak saya. Library saya tentang kisah cinta, masih banyak. Mau yang seperti apa, tinggal pilih. Mau yang original atau modifikasi beberapa cerita?

Anywaaaayyy…geleng-geleng kepala saya sampai saat ini tambah disertai dengan satu kalimat…

“Ini semua atas nama cinta, atas nama ketololan, atas nama perempuan, atau atas nama perempuan tolol yang sedang jatuh cinta?”

Dan… boooliat nih gambar…pasang di jidat kalo perlu…

tumblr_lki6p2yMp21qcrsn7o1_400

Dan pertanyaan selanjutnya adalah: “Yaaakkeeeennn bisa?” *Prrreeeeetttt…!!!

So start from now…maybe this quote from Shakespear can help…

“I always feel happy. You know why? Because I don’t expect anything from anyone. Expectation always hurts!!”

Dan satu bawel lagi: “Sampe kapan bisa ga expect anything from anyone?” *Jyaaaaaahhhh…

—-

Satu setting saat seseorang perempuan, yang di antara jari telunjuk dan tengahnya sedang terselip satu batang rokok yang masih menyala, sedang duduk berdampingan dengan seorang pria, yang di depannya sudah tersedia satu shot minuman hasil campuran antara minuman beralkohol dan cola, yang ditambahkan beberapa kotak es batu, dan terdengar perbincangan berikut ini keluar dari mulut mereka berdua:

Pria: “Berasa lagi pengen bunuh orang.”

Perempuan: “Bunuh aku aja. Volunteer loh.”

Pria: “Ngomongnya ga banget sih,” yang disertai dengan tatapan mata tajam dari si pria.

Perempuan: *Jiper sih kayaknya… *Jiper? Bahasa loooeee ‘Cha…

—-

Dasar perempuan! Tolol?

Ga taaauuukkkhh aaakkkhhh…ga mau mikir:mrgreen:

Between You and Our Imagination…

Tuesday, June 7th, 2011

A: I am so fucking tired…I hate this life sooo bbaadddd…Trying hard not to text her…Sorry gw lagi kacau…mabok berat…home ya…sorry ya dear gue lagi parah…really wish that I could hug you now…Aku sampah banget, better kamu jangan deket-deket aku *tapi khan aku pemulung, tukang mungut sampah :lol:

B: Mau nanti aku ke rumahmu?

A: I’m fine…

B: I’m not…

A: Yaaaahhhh…

B: By the way, tadi malem cuma mabok doank khan, ga mainan perempuan comberan khan?

A: Eeeehhhmmm…Ya?

B: Iya yah??? That’s what I hate kalo kamu pulang kluyuran malem ampe pagi. I hate her, sempet beberapa detik membuat aku kepikiran I have been treated like a garbage by the guy I love.

A: You don’t need to hate her. Kamu salah banget sayang ke orang kayak aku.

B: Emang aku dari dulu salah sayang ama orang. Salah ngasih hati ke orang to the max. Salah karena selalu ada buat orang lain. Salah punya komitmen yang selalu aku jaga. Salah terus, ampe semua orang jadi take me for granted. Been treated like a garbage by several guys before, another one or two will be fine. Tinggal buang kepala, injek-injek hati. Beres. All done.

A: You know who I am

B: Vice versa ya. By the way ntar kalo ketemu anggep omongan kali ini ga pernah ada.

A: Dunno. Kali ini ga tau.

B: Jangan kayak anak kecil. Jelas aku ga mau mikir. Males mikir.

A: Ampe kapan? Ampe kapan kamu nyakitin hati kamu terus?

B: Sapa yang sakit? Emang kamu? Terus kamu maunya apa?  Ninggalin aku?

A: Halllaaahhh! Kaggaaakkkk!!!

B: Terus? Mau looee apa? Mau aku gimana? Mau aku ninggalin kamu? Ga mungkin…aku dah komit ama omonganku sendiri.

A: Jaga hati kamu untuk aku *emang lagi nyambut lebaran??? jagalah hatiiii… *haaalllaaaggghh

A: Bawel terakhir…

B: Apa?

A: Kamu dah sadar khan aku ga sama kayak cowo-cowo lain. Aku ga normal kayak cowok pada umumnya *Emang cowok di dunia ini ada yang normal??? *Prrreeeettt…eh curhat…

B: Maksudnya?

A: Ya idup aku, kondisi hati.

B: Sampe kapan?

A: Weakness? Everything. Ga tau.

B: Sampe kapan mau ngerusak diri kamu kayak gitu?

A: Ampe aku puas mungkin.

B: Kapan kamu puasnya?

A: Dan atu lagi? I don’t have a heart for you. Not single romance that came from my heart for you.

B: So it’s all lust?

A: So sorry…

B: Answer it…

A: I guess…

B: Yes or no, I only accept yes or no answer…

A: Yes. Kamu bebas. Marah juga aku ngerti.

B: Ga marah. Dah tau dari awal. So use my body then…

A: What??

B: Ga usah perempuan murahan lainnya.

A: No way.

B: Nanggung.

A: I’m not that kind of guy.

B: Sekalian.

A: Still have a small brain in my head.

B: Ga perlu dipake. Buang semua. Buang semua hati, otak semua ilangin.

A: Ga.

B: Sekalian. Ga ada istilah setengah-setengah buat aku. Nanggung. Aku bodoh dari dulu. Lanjutin aja lah sekarang. You allow that bitch making you as bastard instead of success guy. Yes I call her a bitch, terserah kamu mau marah atau apa. Ampe kamu puas ngapain ajah…ampe kamu rusak jamuran or even ampe masuk peti mati…aku bakal tetep kayak gini ke kamu. NOTE that!!!! I still love you no matter what…I’m not asking you to love me in return…Aku cuma pengen liat kamu sembuh…Titik. By the way, ntar ampe rumah text me. Mau kamu sedetik lagi mati, harus text me.

A: Buseett. Disumpahin mati. Lagi on the way, pindah tempat biliard.

B: Makanya aku bilang mau sedetik lagi kamu mati tetep kasih tau aku.

A: Jiiiaaah disumpahin dua kali. Jangan lupa ya.

B: Apa? Bawel lagi loe?

A: Kalo aku mati ntar abunya ditebar di gunung…okeeeyy??

B: Mau idup mau mati teteup ngerepotin aku.

A: Cuma suruh kasih tau orang-orang.

B: Abunya ntar buat tebaran pup kucing/anjing tetangga ajah.

A: Kagak nyuruh kamu yang nabbbuurrrr…peeeelliiittt!!! Gillaaa tega banget.

B: Loohh kata kamu, kamu khan sampah, sekalian aja dijadiin sampah.

A: Oooo ya sutra lah, mayatnya doank khan…Ato di aer keras, keren dikacain…*Gimana kalo dari idup udah di aer keras? Or Formalin? *Plllaaaakkkk!!!

B: Ogaahh…dah busuk…nyebelin pas idup…dah mati suruh liat terus-terusan. By the way…met mabok, met hepi-hepi ama perempuan seksi, met biliard sambil judi, have fun ampe pppoolll ya dear…

_____

Dah baca obrolah di atas?

Mari tebak-tebakan…

1. Perbincangannya ini perbincangan asli atau bukan?

2. Kalau menurut kalian ini perbincangan asli, perbincangannya ini gue sendiri yang denger, atau diceritain orang?

3. Perbincangan ini antara sapa dengan sapa? Mungkin ga salah satu orang yang di maksud dalam perbincangan itu, adalah gue?

____

Dan di bawah ini adalah segala kekaguman gue sebagai orang yang menuliskan perbincangan ini…either asli atau hasil khayalan…

Dasssaarrrr dua orang ssseeettrreesss…gangguan jiwa jangan-jangan dua-duanya. Dah sama-sama ngeyel, sama-sama nekat, sama-sama ga punya rem ngemeng. Nemu di mana siy dua manusia ini? Langka nih!

Lumayan lahhh ya…ada bahan cerita setelah lebih dari sebulan ga nulis blog. Sebenernya siy ada bahan tulisan, kemaren-kemaren, tapi belom dikelarin.

____

Intinya adalah: selamat menerka-nerka, semua adalah dan hanyalah persepsi bebas kalian!!!

I Just Want My Own World…

Tuesday, March 22nd, 2011

Bukan BB kalian yang lemot; jangan salahkan provider kalian yang tidak memberikan laporan umpan balik D atau R saat kalian mengirimkan pesan BBM ke saya. I turned it off all, bahkan si Bébé saya copot baterainya.

“Beberapa puluh tahun lalu, bisa kok hidup tanpa handphone, masakh sekarang ga bisa?”

Terus terang saya termasuk orang yang tidak terlalu rempong jika handphone tertinggal di rumah. Apalagi jika saya baru tersadar tidak membawanya saat saya sudah di tengah perjalanan berangkat ke suatu tempat (terutama ke kantor). Kemungkinan besar saya tidak akan repot-repot berbalik arah dan mengambilnya ke rumah.

“Mayannn…seharian ga ada yang repot nyariin gue. Gak akan ada yang berisik.”

Dan hal itu sudah kejadian berkali-kali.

Termasuk akhir pekan kemarin. Saya membiarkan hidup saya tanpa bunyi-bunyian dari dua perangkat telepon genggam yang saya miliki. Walaupun saya tahu ada beberapa acara yang seharusnya saya hadiri.

Semua berawal saat Jumat malam. Saat semua rasa kembali membuncah tak karuan; urusan pekerjaan, memori masa lalu, yang semuanya tiba-tiba membuat kepala ini rasanya ingin pecah, ditambah dengan rasa yang tak jelas apa, dan tak bisa saya definisikan.

Mencoba untuk menjadi seseorang yang berbeda. Mencari seseorang yang sepertinya bisa saya andalkan untuk berbagi cerita. Mencarinya di deretan nama yang ada di sekian ratus nama yang termasuk di BBM kontak yang saya miliki. But the result…no reply…nor R report at my BBM.

“Yah, who the hell i am for that person!”

I just remember a message was dropped in my Facebook few days ago…

“hey you!

you know, i always wonder why i don’t have many friends.. it’s not that i don’t like meeting new people, it’s not that i don’t actively try to talk and approach people, it’s not that i don’t open myself to new people. there’s one thing though, it’s hard for me to keep in touch with people. mungkin karena suasana jakarta, mungkin karena gw ga mau mengganggu orang” yang tampaknya sibuk, mungkin because i’m shy in nature :p

but there’s also another thing, it’s because it’s hard to find someone like me. someone who cherishes the same things, holds the same values, and other things i cannot really explain. you are one such person i can really connect with and yet i cannot stay in touch with you.. heheh.. sucks huh..

well, hope everything’s fine with you..”

atau sederetan kalimat (yang berujung dengan kalimat di bawah ini) dari seseorang yang Jumat malam lalu saya cari tapi saya tak tahu dia dimana…

“I’m lonely, but gw juga siy yang mau lonely.”

Dan semua itu membuat saya tersadar kembali, I’m part of them…dengan satu dan seribu satu alasan lainnya, atau bahkan sepertinya akan lebih baik jika saya tetap dengan diri saya sendiri. Sendiri.

No man is an island?? Yeah right…tell me about it!!! Coz sometime we are asked to be alone…then we choose to be lonely.

*aahhh…enaknya hidup tanpa handphone…gue terusin aja po seterusnya, ga cuma weekend ini aja?

Seburuk Itukah?…

Thursday, December 23rd, 2010

Human Resource atau Human Capital?…

Kira-kira apa ya, yang dipikirkan seseorang jika mendengar kata itu? Di bawah ini adalah respon atau tanggapan, mengenai dua kata itu, yang saya dapat dari orang lain dan yang berhasil saya rekam di otak saya, dari saat saya mulai bekerja, dan apalagi 2 tahun terakhir ini, memang saya menjadi salah satu manusia HR…

sucks…
harusnya khan pendekatannya lebih humanis ya…
kalo ga doyan admin, mendingan jangan…
semua berawal dari ngerjain dirty job…
kurang apresiatif…
nyebelin…
tukang ngatur orang lain, dirinya sendiri ga aturan…
HR khan cuma support, gajinya lebih kecil daripada bisnis…
mang gue HR? ga merasa gue…
HR ternyata ga gue banget…
gila, HR kok kulturnya gini ya…
jaim gila orang-orangnya…
public enemy…
pengen banget gue jadi HR, biar bisa tau gaji-gaji orang lain… *saran gue? mendingan jangan.. :mrgreen: *
ketunda promosi gara-gara hasil performance appraisal gue ilang…
bisa kerja ga sih mereka, lama banget…
kayak gini nih hasil rekrutan mereka, kayak beli kucing dalam karung…
yang direkrut kok ga tahan banting ya…
kenapa anak baru banyak yang cabut…
betah lu di situ?…
saya ini top managementnya HR, jadi saya lebih tau…
tembok gap-nya ketebelan cuy…
ga mingle…
terlalu belain manajemen daripada belain karyawan…
setelah pindah ke HR, gue malah merasa ini dunia gue banget…
confirmed, by myself, HR bukan gue…
HR tuh harus bisa jadi dirinya sendiri, ga belain karyawan, ga belain manajemen…
PA di tempat gue dulu lebih ada kejelasan penilaian, ga berdasarkan kita berhasil lick our boss’ ass atau ngga…
baru kali ini niy ada HR yang bisa nyatu ama anak buahnya…
office politics nya kok ya gede juga ya sesama HR…

Most likely responnya adalah respon negatif? Sedih ya?!

Saya merespon kembali tanggapan mereka? Jawabannya: Ho oh! Terutama jika memang saya sedang terlibat pembicaraan dengan mereka mengenai divisi yang dianggap ajaib, mungkin di hampir setiap perusahaan. Seperti yang terjadi hari ini saat makan siang saya bersama dengan dua teman, dan kami bertiga ditemani segelas bir leci *enak bouw!* Dua di antara kami bertiga adalah orang HR. Sayangnya, ketiganya bukanlah orang-orang yang memiliki volume suara yang kecil. Ga mungkin kami menertawakan sesuatu hanya dengan ngikik, pasti dengan ngakak

“Sssttt…jangan terlihat kita terlalu bahagia, nanti ada yang sirik!”

“Kapan lagi bouw…di kantor sekarang ga bisa niy gue ngakak kayak gini. Analoginya nih elo terpaksa jaim di kuburan!”

“Bentar-bentar…gue curiga kenapa elo ga ngambil cuti?”

“Modus operandi gue, di saat semua orang cuti, gue ngantor. Tapi saat orang lain ngantor, gue cuti! Lagi pula pending list gue banyak bok.”

“Elo bis ini ikut ke GI khan?”

“Gak lah, gue balik kantor.”

“Dah cabut ajah.”

“Preeeett…nyetanin gue lu ye. Lagi pula kemaren gue dah ke GI, and gue kere bis dari sana.”

“Eh kere itu dah default buat kita. Jadi ya sudah lah, sekalian!”

“Jadi kira-kira bakal bertahan berapa lama lu?”

“Iya loh…dah banyak tuch yang nanyain gue. Apalagi yang tau karakter gue kayak apaan. It’s about time juga sih untuk gue pindah.”

“Just like what I am going to do.”

“Kammpprrreeett…pantesan! Mau kemana lu?”

“Ke tempat yang saat ini sepertinya terlihat menawarkan sesuatu yang lebih baik. Masih di seputar dunia HR kok.”

—-

Errr…jadi apa ya tanggapan saya tentang HR? :mrgreen:

Btw…ada yang mau menanggapi atau memberikan komentar balik respon-respon tentang HR yang pernah saya dengar? Hayooo…para HR, jangan diem aja yah, kita ga gitu khan ya?

Ini, Itu, Anu, Ono, Sana, Sini, Begini, Begitu?…

Saturday, November 13th, 2010

“Life is about an option…”

“Yeahhh…rite!”

Tadi malam, akhirnya saya mengurungkan niat saya ke salon untuk potong rambut. Semua gara-gara si Trans Jakarta yang tak kunjung datang, dan membuat perut saya dan teman kantor (yang pulang bersama saya) kelaparan, sehingga kami berdua memutuskan untuk makan malam di Setiabudi Building; Membuat teman saya akhirnya minta dijemput suami tercinta; Membuat saya memilih untuk nebeng mereka sampai rumah tante saya di Bintaro.

Berjalan berjingkat, memasuki rumah tante yang sudah gelap karena penghuninya sudah terlelap, menuju kamar asisten rumah tangga yang letaknya di rumah bagian belakang…

“Mbak, mbak, kamar atas kata satpam depan dikunci ya? Tolong bukain dounks.”

“Eh, Mbak Rosa, bentar ya.”

Memasuki kamar itu, ranjang yang lengkap dengan bantal dan guling, seakan-akan sudah memanggil saya untuk segera menjatuhkan diri di atasnya.

“Pulang…ngga…pulang…ngga…jam berapa ini? Setengah 11. Kok males ya manggil taksi. Tapi gue ga bawa baju ini. Mari kita bongkar lemari, seperti biasa. Damn, baju tidur kebangsaan gue punya si tante mana ya? Kok tumben ga ada di sini.”

Dan beberapa menit kemudian…

“Halo Pa, aku ngga pulang ya. Ngantuk, males manggil taxi, aku di Garuda.”

Duduk di karpet yang terhampar memenuhi kamar, saya membaca sebuah pesan yang ditinggalkan seorang teman di akun situs jejaring sosial Facebook, yang terhubung langsung ke si Bébé. Tak tahu kenapa, sepertinya saya termasuk orang yang dipilihnya untuk memberikan komentar terhadap kejadian-kejadian yang sedang ia alami…

“Give my lover a little space, lama-lama bisa jadi gede, dia susah punya waktu untuk gue, tapi gue juga ga mau ngerusak kesenangannya dia, tapi gue juga ga mau jadi korban perasaan…”

Begitulah inti cerita teman saya yang satu itu, dan kurang lebih jawaban saya adalah yang ada di bawah ini…

“Been there…and I don’t like that kind of situation either. Gue pernah di situasi pacar loe, dan gue juga pernah berada di situasi elo. Kalo gue, atleast I did my part, my portion, and the rest my universe, including God will decide. Capekh juga bouw kalo ngelawan itu semua. Kalo pada akhirnya that relationship makin jauh, dan sepertinya memang itu pilihannya, dan memang itu yang jadi pilihan bahagianya dia, pilihannya adalah tinggal elo, bisa berdamai dengan diri loe sendiri atau teteup keukeuh, yang sebenernya you can’t push someone else to understand your feeling.”

Make a decision bukan suatu hal yang mudah, apalagi untuk orang-orang yang banyak pertimbangan, gak mau rugi, dan/atau orang yang tidak mau ambil risiko.

Errr…termasuk saya? Mungkin!

Bagi saya, setiap detik dalam hidup itu adalah suatu pilihan, baik pilihan yang sangat mudah, maupun pilihan yang sangat sulit dan mempunyai dampak besar untuk hidup.

Simple thing terjadi setiap pagi hari saat si Bébé berusaha membangunkan saya pukul 5.20. Terus terang saya terbangun dan berusaha meraihnya saat mendengarnya “berteriak-teriak”. Sesampainya mata ini melihat ke layarnya, di mana tertera dismiss atau snooze, saya pun dihadapkan pada pilihan. Dismiss berarti saya harus bangun, kalau tidak, saya bisa bablas ketiduran, atau snooze yang berarti saya hanya menunda beberapa menit, dan akan sama saja, saya tetap harus bangun. Atau, pake baju yang mana ya? Atau sepatu yang mana ya? Berangkat bawa mobil, atau nebeng ya?

Sepele ya?

Bagaimana kalau pilihan tersebut, melibatkan orang lain, atau saat berinteraksi dengan orang lain?

Membawa saya teringat usulan seseorang untuk saya. Usulan agar saya bisa sedikit memperbanyak “basa-basi” saya di depan beberapa orang, karena mungkin cara tersebut yang akan mempermudah saya untuk bisa di-iya-kan oleh mereka. Terus terang, hal ini sedikit “bukan saya” yang berpandangan bahwa saya tidak pernah bisa memaksa orang untuk suka saya, atau bahkan melarang mereka untuk suka saya. Saya akan membiarkan mereka, walaupun tentu ada respon-respon tertentu yang setidaknya terbersit di otak saya…

“Cha, bantuin nyanyi ya.”

“Duuhhh, gue dah lama ga nyanyi, manggung pulakh. Ngga janji ya. Udah ada yang lain kan?”

Sambil berpikir…”Ya sudah-lah itung-itung bisa dapet temen baru khan,” yang akhirnya membawa saya menjawab ‘Ya’ pada tawaran itu.

Atau pilihan saya untuk memasang earphone, mendengarkan lagu (dan menahan diri tanpa ikut bernyanyi) saat tetangga membuat “kerusuhan” sendiri.

Atau pilihan untuk tetap bermanis-manis ria saat berhadapan dengan orang yang sangat menjengkelkan dan membuat saya emosi jiwa.

Atau pilihan untuk pasrah dan menjawab “I can’t find that email, you can put the blame on me, mungkin ke-delete saat clean up email kemaren, tiap hari saya dapet warning email penuh. Delete item saya juga dah kosong,” saat saya tidak berhasil menemukan sebuah surat elektronik di dalam sent item folder, saat seseorang di ujung sana berkata “Did you send it?” dengan nada yang penuh keraguan.

Atau pilihan untuk tetap bersama seseorang atau membiarkan pasangan untuk perlahan terlepas dan pada akhirnya memang harus berpisah.

Pilihan untuk tidak memakai topeng sama sekali, atau memakai topeng hanya satu lapis atau seribu satu lapis. Pilihan untuk tetap menjadi diri sendiri atau menjadi foto-kopi orang lain saat berinteraksi dengan orang lain?

Bagaimana jika di satu masa hidup kamu, kamu dihadapkan ke beberapa pilihan atau tawaran, yang muncul bersamaan, pasti ada plus-minusnya, dan kamu tahu semuanya itu akan mempunyai dampak terhadap masa depan kamu?

Dilematik? Pasti!!!

“Lanjutin kerja, teteup dapet duit, tapi naiknya setengah mati, atau keluar kagak dapet duit bulanan, yang ada ngeluarin duit buat sekolah lagi.”

“Ngambil major A, atau B ya? Di Indo atau ke luar negeri ya? Rumah gimana dounks ditinggal? Kalo di Indo, nyambi kerja atau kagak ya? Kalo sambi kerja pasti ga bisa ambil yang major itu?”

“Kalo ke sana tapi kok ya di sana kira-kira kayak gitu, kalo ga ke sana, kapan dapet yang kayak gitu. Kalo tetep, pasti bakal sama ajah, tapi mungkin hal yang sangat gue pengenin bisa gue dapet, saat si anu udah begitu, tapi itu juga masih belom pasti kapannya.”

Pernah menghadapi situasi serupa? Apalagi kalau setelah dihitung-hitung, risiko, plus dan minusnya kurang lebih sama.

Bingung?

Satu kalimat yang selalu terlontar dari mulut seseorang, setiap saya minta pendapat tentang sesuatu hal ke dirinya…

“That’s your call!”

—-

“Yeaaahhh…rite!!”

Hah? Berapa Lapis? Ribuan!…

Thursday, October 14th, 2010

“Susah ga sih menjadi seseorang yang berbeda?”

Pertanyaan itu pernah dilontarkan ke saya.

Jawaban saya? Susah-susah-gampang!

Pada dasarnya, saya percaya bahwa setiap manusia itu pasti berbeda. Mau mencari ke belahan dunia manapun tidak ada manusia yang dilahirkan, tumbuh, berkembang, mempunyai pengalaman, pikiran, karakteristik, sifat, status sosial, jabatan dan bentuk fisik yang sama persis.

Harusnya menjadi yang berbeda akan menjadi mudah, karena hal yang tadi itu, karena kita satu sama lain pasti berbeda.

Tapi bagaimana jika manusia-manusia yang berbeda satu sama yang lain itu pada akhirnya harus bertemu, berinteraksi, mempunyai hubungan tertentu, bekerjasama? Akankah menjadi hal yang mudah?

Weeiittsss…belum tentu sepertinya. Bisa mudah, tapi sepertinya lebih banyak sulitnya, alias membuat hidup tambah rempong!

Mungkin contoh kongkritnya, bisa kita lihat dari hasil observasi sehari-hari di tempat kita beraktivitas.

Let say, kantor! Pernah memperhatikan tidak situasi kantor seperti apa? Teman-teman kita bagaimana, ngapain aja? Pernah lah ya! Ga mungkin ga pernah.

Mungkin situasi atau budaya seperti yang saya ceritain di bawah ini, merupakan salah satu “cerita” kantor kalian…

“Cuy, nih baju bagus!”

“Kagak bisa dipake ke kantor yang model begituan!”

“Kantor lu kagak bisa, kantor gue mah bisa. Mau kutungan ngantor sih bisa-bisa aja!”

Bukan “cerita” kantor kamu? Mungkin yang ini…

“Jam kantor lu jam berapa?”

“Jam saat gue dateng di kantor dan saat gue pulang kantor.”

Masih bukan? Okay, kalo begitu, mungkin yang satu ini…

“Mana gue tau peraturan kayak begituan, gue khan bukan pegawai tetap.”

Atau yang ini?…

“Mana ada nih yang kayak beginian bisa di divisi gue. Satu baca buku novel, kadang buka partitur musik, buka situs gosip, bahkan jadi ikutan gosip, pesen-pesen tiket pesawat gratisan, terus-terusan memamahbiak.”

Yang ini?…

“Sumpah tuh perempuan BT-in banget, pengen gue sumpel tuh mulut. Berisik!”

Kalau yang ini?…

“Kemana sih tuch anak? Pacaran mulukh. Ini dah jam 8 padahal! Dah jam kerja!

Bukan juga?…

“Di kantor lain mah buka-buka facebook kagak mungkin. Ngubek-ngubek blog orang, or situs-situs aneh juga pasti di banned. Kalo gue malah disuruh, emang kerjaan gue kayak begitu.”

Satu lagi ah…

“Yang satu itu, mondar-mandir, biar keliatan sibuk, padahal nothing. Dan yang bilang kayak gitu juga dah ampe level direktur loh!”

Dan masih banyak lagi…si itu begitu lah, si bos anu ngapain lah, si anak buahnya itu nyebelin lah, yang satunya ga bisa kontrol emosi kalo lagi load kerjaan banyak…

Rempong?

Yupe!

Yang menyebabkan rempong itu apa ya? Dan siapa?

Kira-kira kita sendiri bukan? Hayyyooo…ngaku!! :mrgreen:

Kita dengan segala “keajaiban” masing-masing, ditambah dengan kebutuhan-kebutuhan khusus, seperti pelampiasan saat panic attack datang, kebutuhan diterima oleh lingkungan sekitar, kebutuhan untuk dapat di recognize oleh atasan, kebutuhan penyaluran hobi, kebutuhan menenangkan diri, kebutuhan merasa dihargai karena level jabatan yang disandang, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mungkin saat itu perlu dipenuhi dan hanya bisa dipenuhi dengan cara-cara tertentu, yang hanya diketahui oleh kita, apalagi alasan kenapa kita melakukan cara-cara tertentu itu.

Mudah?

Ho-oh!

Kalau kita berniat memakai “sepatu” mereka terlebih dahulu, mencoba melihat dengan “kacamata” mereka. Ngga enak? Pasti! Karena bukan punya kita sendiri! Bukan comfort zone kita.

Keluar dari comfort zone bukan hal mudah, bukan berarti ga bisa, tapi juga bukan berarti mereka akan menemukan comfort zone lainnya.

Gak susah loh ngasih sebentar atau sedikit comfort zone ke orang lain, stop judging and complaining *eh…itu menurut gue sih*

Lagi-lagi, saya tidak pernah bosan akan tulisan di bawah ini…

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

Dunia ini panggung sandiwara?

Totally agreed! Bahkan kalau perlu make seribu lapis topeng yang penuh basa-basi?

Ga capekh ya?

“Kalo elo ‘Cha?”

Beneran, nanya kalo gue gimana? Ga nyesel denger jawaban gue?
Kalimat retoris elo tanyain lagi ke gue! :mrgreen:

Gue Bukan Elo Ya…

Sunday, May 30th, 2010

Ruangan sebesar 3 x 3 ini merupakan sebuah awal dan akhir perjalanan hari-hari seseorang. Ruangan yang tak pernah bisa bertahan lama untuk tetap rapi-jali. Ruangan yang sering kali terhampar pakaian kotor, kertas dan benda apapun yang bisa digeletakkan di lantainya, sama seperti sekarang ini.

Saat-saat itulah siempunya ruangan tersebut, merasa lebih mudah untuk mencari benda apapun yang ia butuhkan yang ada di ruangan tersebut. Saat-saat di mana indera penglihatan dan feeling dari si pemilik ruangan itu sedang dilatih untuk bisa lebih diandalkan.

Ruangan yang membuat mereka yang memasukinya merasa heran, merasa takjub, merasa bingung. Dan mungkin kesal, karena mendapatkan respon nyleneh atas komplain yang diajukan kepada si pemilik ruangan…

“Lah, gue happy-happy aja tuch di sini,” atau…

“Kamar-kamar siapa, kok elo yang protes.”

Satu hal yang pasti, bahwa ruangan itu adalah sebagian cermin jiwa dari si pemilik…

Manusia yang sering membuat orang lain gemas, atas santai dirinya yang untuk sebagian orang adalah sangat keterlaluan.

Manusia yang paling malas untuk diminta basa-basi, karena menurutnya ia tak pernah bisa memaksa orang lain untuk suka atau tidak suka terhadapnya.

Manusia yang merasa selalu diingatkan bahwa segala sesuatu tidak bisa terus-menerus disimpan sendiri, atau selalu tersimpan dengan rapi, karena suatu saat hal tersebut dapat tertangkap oleh indera.

Manusia yang ia ingin katakan “Jangan pernah ngubah gue jadi foto copy-nya elo,” atau berteriak “Gue ga maksa untuk elo suka ama gue, atau gue jadi benci ama elo karena elo ga suka sama gue. Terserah elo!!! So, jangan sekali-kali terlalu ikut campur ama idup gue. Coz your life is still yours, and mine is still mine.”

Karena kamu adalah kamu dan saya adalah saya.

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

He Put Me Here…Heaven On Earth…

Wednesday, March 24th, 2010

Hah…So this is why He put me here…in this world…in this place…

—–

“Bu, sibuk ga?”

“Kenapa?”

“Mau cerita, bukan masalah kerjaan banget sih…”

bla…bla…bla…

Dan sesi konseling pun terjadi kurang lebih satu jam…

—-

Di sela-sela saya yang sedang sibuk berkutat dengan komputer seperti biasanya, dengan pintu ruangan yang terbuka, ada seseorang yang sedang berdiri menyandar di pintu ruangan saya…

“Enak ya, Bu, kerja-kerja, sambil dengerin musik-musik ginih.”

“Ehh…btw…saya denger tentang….*sencored :) * Gimana udah selese?”

“Ibu tau dari mana?”

“Ga penting saya tau dari mana, tapi dah beres khan ya?”

“Ibu tau dari mana?”

“Btw…dah berapa lama itu kejadiannya?”

Kalimat itu, saya keluarkan sembari saya tetap memandang layar komputer dan asik-asik mengetik…

Saya tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Yang membuat saya akhirnya menoleh ke arahnya, yang sekarang sudah berdiri, menyandar di tembok sisi sebelah kanan ruangan saya, sembari menatap ke saya, tak bisa berkata sepatah kata pun, dan jari telunjuknya menunjuk ke arah matanya…

Saya pun berdiri menuju pintu dan menutupnya…

Kembali konseling pun terjadi, kira-kira satu jam…

—-

Gubrag, gubrag…seseorang tergesa-gesa memasuki ruangan saya, sembari membawa beberapa helai tisu…

“Mom…duh…gimana ya ngomongnya…aku bingung mulai dari mana. Maaf kalo saya nyusahin.”

“Sama gue ajah ga usah bingung ngomongnya.”

Dan bla…bla…bla…

“Ma kasih ya Mom, aku dah lega. Ma kasih mau dengerin. Ma kasih Mom.”

“Ma kasih juga ya, you make my world more colorful, you make me just like me now…but still ya…keputusan terakhir di kamu, yang penting sekarang kamu dah liat sisi A, B, C, dan seterusnya. Kamu yang harus tentuin sendiri mana yang menurut kamu terbaik untuk kamu.”

—-

Akibat dari memberitahukan nomor ponsel ke semua orang di tempat kerja, membuat semua orang menjadi tahu nomor ponsel saya tentunya…

Dan ini salah satu dari pesan singkat yang saya terima dari mereka…

“Menurut saya, ibu tuh hrd paling top yg pernah saya temui! :-D

Saya pun membalas pesan singkat itu…

“Lebay mode: ON…anyway…every1 has his/her own way to approach others…and this is my way to get know all of you better and better every day…don’t care what ppl say about it behind my back, coz I can’t push them to like or dislike me, I play my own game, without forgetting rules I have to follow as my position rite now.”

—-

Dulu saat saya memutuskan untuk keluar dari comfort zone saya sebagai pegawai tetap bank swasta nasional yang top markotob ituh, untuk kuliah di Fakultas Psikologi, abang tertua saya bertanya ke saya…

“Elo ngambil Psikologi mau jadi HRD, Sa?”

“Ga! HRD tempat gue dulu nyebelin. Gue pengen ngambil psikologi konsumen.”

—-

Saat rapat “luar biasa” antar HR “seantero jagad” dengan para petinggi HR yang terhormat…

“Jadi HRD itu ga boleh begini, begini, begitu…termasuk ga boleh jatuh cinta ama satu kantor. Kalo pun logika ga bisa ngelawan hati, ya harus salah satu keluar.”

Dalam hati pun saya menjawab…

“Setuuuuuujjjuuuuhhh berat!!! Totally agreed! Tenang, Bu, logika saya bisa loading dengan canggih.”

—-

Saat saya menelepon ke HRD lain…

“Ibu yang satu ini kenapa adem-ayem, santai-santai?”

“Sebenernya sih rusuh juga, tapi kalo dipikirin rusuh ya makin rusuh. Semuanya dibuat senyum aja lah. Kalo salah tinggal ngaku, dimarahin wajar, namanya juga kerja, tinggal usaha ampe mampus dan senyum poll.”

Saat saya ditelepon oleh HRD lain…

“Cha elo dah baca?”

“Dah.”

“Itu gimana sih, bla…bla…bla…”

“Ya udah lah, toh muaranya di sana khan? Kalo diperpanjang malah tambah kasian anaknya. Daripada ribut cari-carian, kalo harus ngulang ya ngulang.”

“Jadi elo fine-fine aja?”

“Mau gimana lagi? Daripada kelamaan? Dah dibawa senyum aja yah.”

—-

Tak tahu apa karena kualat dengan omongan sendiri, atau hal lain, tapi akhirnya saya nyemplung di dunia HRD. Dunia penuh printilan detil administratif, dunia penuh detil peraturan ini-itu baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dunia yang penuh dengan ke-jaim-an bagi yang menjalaninya, dunia yang penuh dengan kode etik yang ternyata banyak yang tak berkode, dunia yang banyak dibenci oleh para karyawan di suatu perusahaan.

Tapi tak tahu mengapa, melihat dunia ini dari hari ke hari membuat saya semakin mencintai YANG NANGKRING DI ATAS SANA, karena sudah membuat saya berada di dunia ini…di tempat ini…

—-

Sepertinya…tulisan saya kali ini, sesuai lah ya kalau ditutup dengan lagu mantap, dari serial TV, Glee (Episode Wheels) *Again, Cha?*

Defying Gravity…that’s what I’m doing…

Something has changed within me
Something is not the same
I’m through with playing by the rules
Of someone else’s game
Too late for second-guessing
Too late to go back to sleep
It’s time to trust my instincts
Close my eyes: and leap!

It’s time to try
Defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
Kiss me goodbye
I am defying gravity
And you wont bring me down!

I’m through accepting limits
”Cause someone says they’re so”
Some things I cannot change
But till I try, I’ll never know!
Too long I’ve been afraid of
Losing love I guess I’ve lost
Well, if that’s love
It comes at much too high a cost!

I’d sooner buy
Defying gravity
Kiss me goodbye
I’m defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
And you wont bring me down!

I’d sooner buy
Defying gravity
Kiss me goodbye
I’m defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
And you won’t bring me down!
bring me down!
ohh ohhh ohhhh!

—-

*Errr…boleh ga ya ga pake audit? Hate it dari jaman baheula gue mulai ngantor!!!*