Posts Tagged ‘Psikologi’

Buang Di?…

Thursday, June 30th, 2011

Berlangganan TV berbayar ini, sering membuat saya berpikir…

“Njriiittt niy…dulu kayaknya gue bayar langganan nih TV cuma 200 ribuan, sekarang dah 400 ribuan. Though termasuk internet,” atau…

“Kenapa ya TV Indonesia ga bisa mbuat acara TV kayak gini. Bikin TV series mutu gituh. Bukan sinetron kacangan ga mutu.”

Serius! Serial televisi yang ada di saluran TV milik luar negeri, memang bermutu. Baik serial televisi jaman dahulu, atau jaman sekarang. Sebut saja serial Growing Pains, Dr. Doogie Howser M.D, ER, The Huxtables, CSI, Numb3rs, Glee, Parenthood, How I Met Your Mother, Grey’s Anatomy, dan masih banyak lagi

Bermutunya serial televisi “ciptaan” saluran televisi luar negeri itu, terbukti di salah satu episode serial televisi Parenthood, yang kebetulan saya tonton siang kemarin.

Dan beginilah kurang lebih salah satu dialog antara Haddie Braverman (yang diperankan oleh Sarah Ramos) dengan ibunya, Kristina Braverman (yang diperankan oleh Monica Potter)…

“Mom, I had sex with Alex,” ngggoookkk… *by the way, in story, Alex is Haddie’s boy friend.

Tahukah apa yang saya pikirkan begitu mendengar kalimat itu? Kalimat yang keluar dari mulut seorang anak yang dalam cerita, berumur 16 tahun. Kalimat yang dilontarkan anak kepada sang ibu.

“Hebbbaattt nih anak, super terbuka. Hebbbaattt nih si emak, kagak langsung treak marah-marah, and freak out walaupun bengong mampus. Ada ga ya anak jaman sekarang di Indonesia, yang seterbuka kayak gitu sama emaknya, kecuali sampe dia hamil jadi terpaksa ngomong. Dan pasti ngomongnya dah langsung ngaku hamil.”

Saya yakin, sekarang ini masalah seks bebas sudah ga asing. Sepertinya semakin sedikit yang masih memegang teguh “hukum” untuk tetap menjaga keperawanan atau keperjakaan sampai saatnya nanti menikah, dan sudah menggantinya dengan “hukum”, “Play safe yaaa,” atau “Yang penting main aman, abis enak ccccyyynnn!”

Tapi coba deh, pikirin lebih lanjut, apalagi yang sudah jadi orang tua, dan punya anak perempuan. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba adegan di film tadi, mendadak menjadi kenyataan hidup di depan mata? Apakah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kristina (ibunya Haddie) seperti di bawah ini, akan keluar juga dari mulut kamu?…

“Did he use condom?”

—-

Haaayooo…ngacung yang hari gini belum nikah, tapi masih perawan or perjaka!!

Hmm…satu lagi…itu kondom, lubricants, after morning pill, simpennya yang bener ya, jangan ampe ketauan orang rumah…rempong ntar…boouuwww… :lol:

*Jadi inget tangkapan indera dari percakapan dua orang yang sedang duduk dan berbincang-bincang, yang sepertinya perbincangan penuh arti, di sebuah cafe, di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat, tak lama sebelum tulisan ini dibuat.

“Kemaren itu aku dah bawa caps loh.”

“Bukannya kamu bawa terus ya?”

“Ga selalu sih.”

“Biasanya sih kalo sama aku, ga ngaruh, ga enak, artificial.”

“Terus?”

“Ya masih bisa dibuang di luar khan? And ambil resiko lah.”

“Ooooowwwkkkaaayy.”

*ggguuubbbrraaggg…*tepok jidat! *jaman sekarang!!

I Did That Because I Want It With You…Badly!…

Monday, June 13th, 2011

Hari Minggu kemarin tumben-tumbenan saya ke pergi ke gereja sendirian. Biasanya ada Ibu dan/atau Bapak yang bersama saya.

*This is what I like…driving all alone, tanpa buru-buru, tanpa ada janji apapun sama sapapun, tanpa gangguan dari sapapun dan apapun, bebas kemana pun, dan tanpa macet! Bisa  lebih dari 120km/hour pun.

Literally dari siapapun dan dari apapun, kecuali gangguan saat mengendarai mobil. Tape mobil sengaja tidak saya nyalakan. Telepon genggam yang khusus nomor urusan kantor, saya bawa tapi saya silent, just incase saya butuh untuk menelepon. Dan Si Bébé sudah saya bekep, matiaw dari Sabtu sore, tidak hanya mematikannya, tapi melepas baterainya *Sampai sekarang.

“Sekali-kali biar pada ngerasain kalo ga ada gue gimana, susah nyari gue gimana.”

Tidak ada BB berarti pula hidup saya dari Sabtu sore hingga sekarang (Senin sore) tanpa ada BBM, baik menerima maupun (berpikiran untuk tidak) mengirim, dan mengharapkan ada yang mengirimi saya BBM dan mengecek saya masih hidup atau tidak di dunia ini. Tidak pula harus menerima SMS dari si Mama minta pulsa dan penawaran KTA dan kartu kredit yang terus-menerus. Tidak harus melongok ke time line twitter dan mulai kepo dengan urusan orang lain, atau membuat orang lain penasaran dan bertanya-tanya tentang time line yang saya lempar ke publik. Tidak perlu terima telepon dari keluarga, teman lama, maupun teman dekat, dan mungkin dari “teman” saya *Karena nomor si Bébé adalah nomor untuk urusan pribadi saya, bukan urusan kantor.

Ya kira-kira begitulah kegiatan saya yang berkaitan dengan si Bébé. Tetapi BBM sepertinya adalah “jantung hati” dari si Bébé.  Walaupun terkadang cukup annoying jika chatting dari grup-grup yang saya ikut tergabung di dalamnya, penuh dengan celotehan para anggotanya. Lagipula selama ini hanya ada satu orang yang sangat saya harapkan untuk mengirimi saya pesan di BBM. Ahh..jadi ingat percakapan saya dengan orang itu tepat dua minggu lalu.

Bali, 30 Mei 2011…

Saya: Aku kok kangen ya BBM-an ama kamu ya…

Dia: Hahahahaha…lagi ga perlu khan?

Saya: Selama ini yang paling aku tunggu ya BBM dari kamu…

Dia: Iya aku juga…

Tetapi saat ini, seseorang yang saya maksud di perbincangan di atas tersebut pun, tidak mampu mengurungkan niat saya untuk tetap mencopot baterai si Bébé dan membuatnya terdiam beberapa hari.

“Aaahhh…he knows me well kok…he already knows who is he dealing with now! Jangan-jangan dia ngga nyari gue pun. Hahahahahaha.”

Sempat beberapa kali, tidak hanya sekarang, telepon genggam ini saya anggap sebagai sumber hiruk pikuk dunia saya sendiri. Walaupun tidak munafik, tawaran pekerjaan bisa bermula dari komunikasi saya dengan seseorang dengan memakai telepon genggam ini. Atau ajakan bertemu dengan teman lama. Atau usaha perjodohan yang dilakukan oleh beberapa teman, yang sampai saat ini tampaknya masih sia-sia… :mrgreen: *Haaayyyooo…nyari sajennya yang lebih mutu dounks aaahh… :lol:

Kali ini, tepatnya beberapa hari ini, telepon genggam saya anggap merupakan sumber tingkat kebisingan hidup (hati) paling tinggi. Walaupun sudah lebih dari 3 bulan, si Bébé selalu saya kondisikan diam. Alasan utamanya adalah, saya malas mendengar bunyi-bunyian yang berasal darinya, dan saya hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang yang saya kenal (dekat). Jadi kalau saya tidak mau mengangkat teleponnya atau membalas BBM atau SMS, akan saya biarkan, kalau saya sedang tidak bisa mengangkat telepon dari mereka, ya saya akan membalas menelepon hanya ke mereka yang saya inginkan.

Kembali ke situasi kemarin. Saat saya harus pergi ke gereja sendirian. Satu hal yang saya rasakan sangat, dari pertama kali roda berputar akibat saya arahkan dengan stir adalah: peaceful. No tape. No sounds of human. Ga perlu ribet denger bunyi handphone. Dan yang terpenting adalah ga perlu mengharapkan apapun, dari siapapun yang mungkin datang dari perangkat-perangkat yang katanya pintar itu, yang membuat saya harus melongok ke arah layar mereka.

Jadilah hidup penuh kedamaian dari rumah-meruya-tol kebon jeruk-tomang-harmoni-jalan pos- lapangan banteng-meratapi nasib dan ngomel-ngomel ama Tuhan sebentar di Katedral-balik nyetir lagi masuk juanda-jalan veteran-depan Monas-Thamrin-Sudirman-bunderan senayan-pintu I-berhenti menghirup kebisingan sebentar di Plaza Senayan buat ngisi perut dan belanja beberapa botol-Asia Afrika-Simprug-jalan panjang-meruya-rumah, dari pukul 17.20 – 22.00.

Life is like a roller coster. Karena BBM juga, saya berkenalan dengan seseorang yang entah tak tahu kenapa, saya biarkan exist di hidup saya. Saya manusia kompleks yang penuh pertimbangan ini-itu. Saya manusia yang pada dasarnya manusia super cranky yang kena “hajar” oleh seseorang selama hampir 8 tahun dan berubah menjadi manusia yang cukup bisa memahami orang lain jauh lebih baik daripada masa-masa jahililah dulu. Saya yang secara periodik melakukan proses pemilihan remove terhadap kontak BBM juga daftar teman di Facebook dan juga follower di twitter. Saya yang kadang masih tidak memahami keputusan saya sendiri, mengapa mereka yang namanya hanya diam bertengger di akun-akun tersebut, tanpa pernah menyakiti saya, tapi saya ikutsertakan dalam daftar seleksi remove, sedangkan mereka yang pernah menyakiti saya, bahkan membuat saya geram dan menangis, saya biarkan tetap bertengger di sana, dan tetap saya biarkan mengikuti sebagian atau bahkan seluruh jejak langkah kehidupan saya.

“I do not share those kind of sexy things with everyone I considered as friends. Again…i did that because i want it with you,” and yes, my whole life is so sexy to get to know about…

Am I the one and only you (want to) share about the whole your sexy life or?

Think about it, Baby!!

-me, the one you called as little girl-

====

“Pada kangen ama gue ga ya? Gak ya? Ohhh..ya sud..maap ya jumpa fansnya lagi ditutup sementara.”

:mrgreen:

Atau Perempuan Tolol Yang Sedang Jatuh Cinta?…

Monday, June 13th, 2011

Hidup percintaan sepertinya memang ga pernah habis untuk dibicarakan. Kalau sudah urusan hati, selesai sudah, tamat segala urusan yang sebelumnya tampak baik-baik saja, seketika dalam hitungan detik, bahkan dalam hitungan kerling mata, buyar berantakan, hancur berkeping-keping.

Tag line boys still will be boys…and girls still will be girls, sepertinya memang segala akhir dari runutan cerita benang kusut yang sering terjadi jika urusan dua sosok aneh, bertemu. Pertemuan apapun itu. Bisa hati, atau pertemuan lainnya yang bukan berarti juga pertemuan hati (sekarang atau nanti) dan/atau pertemuan sepemikiran *Kok gue pun jadi bingung ama omongan gue ndiri :mrgreen: *Jadi inget tweet seseorang beberapa hari lalu: When two lips met didn’t mean two hearts do. *Jleeebbb…+ irisan jeruk nipis

Koleksi kisah percintaan baik milik teman yang dititipkan ke saya, maupun kisah pribadi (yang ga kalah serunya) sering membuat saya mengernyitkan dahi, dan berpikir “Ini yang geblek yang mana ya? Yang satu bodo, yang satunya bodoh.”

Pertemuan antara venus dan mars memang nyehe kalau dipikir-pikir lebih lanjut. Entah berapa banyak makhluk yang sudah melakukan tindakan-tindakan bodoh, akibat si cinta kampret ini…

Dan “koleksi” kisah percintaan terbaru yang terekam secara otomatis dengan indera saya di bawah ini, kembali membuat saya geleng-geleng kepala…

Perempuan itu menunjukkan sebuat foto, seorang pria dan ada perempuan di sampingnya…

“Ini fotonya dia.”

“Udah officially jadian?”

“Kayaknya.”

*Sebelum lanjut…beneran deh…foto apapun itu, apalagi profile picture BB cowok-cewek bukan berarti pasangan berstatus jelas loo…serius ini gue…eh atau memang jelas-jelas selingkuhan (gila beneran kalo foto selingkuhan di pasang di BBM) atau jelas-jelas gak jelasnya… :lol:

“Kok kayaknya, biasanya sih kalo dah ditarokh di pp gini, dah jadian looo. Biasanya. Apalagi dua-duanya pasang foto yang sama. Gimana cara elo jadi kontak BBM di dua makhluk itu? Berarti waktu dia intens sama elo itu juga intens sama perempuan itu? Terus elo sedih?”

“Ya iya lah.”

“Wajar.”

“Ampe nangis-nangis gue, dan gue mau marah-marah ama dia.”

“Iya loohh…ampe tilpun gue sesenggukan dari gudang divisi loe pun. Tapi hak loe apa ya marah-marah ke dia? Marah-marah karena jalan ama elo dan jalan ama tuch cewek di masa yang samaan?”

“Iya.”

“Sapa loe? Pacarnya dia mang waktu itu? Atau cuma karena elo yang jadiin dia prioritas elo tapi dia jadiin elo pilihan? Marah karena waktu itu elo dibiarkan nunggu berjam-jam tanpa kejelasan mau pergi atau ngga ternyata dia jalan ama perempuan itu? Though yang terakhir elo emang berhak kesel sih, dah janjian tapi tanpa kabar elo dibiarin nunggu.”

“Akhirnya gue remove dia dari kontak bbm gue.”

“Loohh kenapa?”

“Ga worth. Terus beberapa hari kemudian, dia nyamperin gue dan nanya-nanya kenapa gue diapus dari BBM kontaknya.”

“Elo boongin ajah. Blaga pilon. Bilang kek ke apus ga sengaja. Soalnya dulu gue kayak gitu.”

“Hahahah…gue pun kemaren begono.”

*Setuju gue…ga guna? ga perlu lah ada di kontak BBM…done that couple of times :mrgreen:

Another story from broken-hearted…

“Gue lagi kacau.”

“Gue telpon elo.”

“Kenapa loe? Masih nangis-nangis? Sampe kapan?” *Sumpah ya…Sampe Kapan itu adalah pertanyaan super nyeeeeehhhhheeeee…serius!!!!

“Ga tau. Gue minta dia ninggalin gue.” *Dan Ga Tau adalah jawaban paling aman nan rancu binti menye-menye…

“Ya udah lah…there’s nothing that we can do. Sometimes admit that we still love them but we have to lose them is the best way for the next 1 year at least…hahahaha…bukan untuk sekarang-sekarang sih. Try to sleep gih.”

“Gue takut tidur. Gue ga mau kebangun and sadar dia udah ga sama gue lagi. Nyakitin gue.” *Hyyyaaahhh…setuju gue…!!! Wake up in the morning and you realized something that you don’t  even want to know…sucks!!!

“Semua ada masanya sih. Mang yang kayak-kayak gitu harus dilaluin. Suka ga suka, mau ga mau. Mari ambil cangkul, gali kuburan, atau perpanjang kuku buat ngais-ngais aspal, atau sering-sering main ama anjing tetangga, biar suara kaing-kaing kita lebih mirip aslinya, atau ambil botol aja bouw…tenggak isinya…mayan ada sleeping pill.”

Atau “kisah sengsara” seorang perempuan yang berusaha selalu ada untuk seseorang pria yang dia sayangi, tapi sayangnya pria itu masih sangat terluka karena gagalnya ekspektasinya untuk menikah dengan perempuan jaman dahulunya. Perempuan yang membuat si pria melegalkan dirinya untuk “dirusak”, “dikacaukan”, tidak oleh orang lain, tapi oleh si pria itu sendiri. Usaha mampus si perempuan (yang saat ini sayang mati-matian ama si pria itu), “setidaknya” untuk menghapus legalisir tersebut, belum membuahkan hasil sampai saat ini *Mungkiiiiinnn!!!…belom dapet update terbaru dari mereka cyyynnn…gue khan sotoyyy…

“Tapi aku perempuan yang diajarin ama lingkungan untuk bisa tetep komit ama omonganku sendiri…yang kali ini adalah aku ada untuk kamu…aku bakal sayang kamu ampe kamu masuk peti mati…though nanti saat kamu dah sembuh total dari “penyakit” kamu and you choose one girl to take care of you completely yang most likely bukan aku…aku harus ngurangin porsinya yang selama ini aku kasih ke kamu…and let her do what i do…Love someone unconditional is not easy…at all…but you make me how to learn about it…though aku harus tercabik2..and dikasih irisan jeruk nipis di atas cabikan itu…” *Giiillaaaakkhh…kok mau ya? :lol:

Ini baru tiga dari sekian cerita yang menari-menari lucu di otak saya. Library saya tentang kisah cinta, masih banyak. Mau yang seperti apa, tinggal pilih. Mau yang original atau modifikasi beberapa cerita?

Anywaaaayyy…geleng-geleng kepala saya sampai saat ini tambah disertai dengan satu kalimat…

“Ini semua atas nama cinta, atas nama ketololan, atas nama perempuan, atau atas nama perempuan tolol yang sedang jatuh cinta?”

Dan… boooliat nih gambar…pasang di jidat kalo perlu…

tumblr_lki6p2yMp21qcrsn7o1_400

Dan pertanyaan selanjutnya adalah: “Yaaakkeeeennn bisa?” *Prrreeeeetttt…!!!

So start from now…maybe this quote from Shakespear can help…

“I always feel happy. You know why? Because I don’t expect anything from anyone. Expectation always hurts!!”

Dan satu bawel lagi: “Sampe kapan bisa ga expect anything from anyone?” *Jyaaaaaahhhh…

—-

Satu setting saat seseorang perempuan, yang di antara jari telunjuk dan tengahnya sedang terselip satu batang rokok yang masih menyala, sedang duduk berdampingan dengan seorang pria, yang di depannya sudah tersedia satu shot minuman hasil campuran antara minuman beralkohol dan cola, yang ditambahkan beberapa kotak es batu, dan terdengar perbincangan berikut ini keluar dari mulut mereka berdua:

Pria: “Berasa lagi pengen bunuh orang.”

Perempuan: “Bunuh aku aja. Volunteer loh.”

Pria: “Ngomongnya ga banget sih,” yang disertai dengan tatapan mata tajam dari si pria.

Perempuan: *Jiper sih kayaknya… *Jiper? Bahasa loooeee ‘Cha…

—-

Dasar perempuan! Tolol?

Ga taaauuukkkhh aaakkkhhh…ga mau mikir:mrgreen:

Between You and Our Imagination…

Tuesday, June 7th, 2011

A: I am so fucking tired…I hate this life sooo bbaadddd…Trying hard not to text her…Sorry gw lagi kacau…mabok berat…home ya…sorry ya dear gue lagi parah…really wish that I could hug you now…Aku sampah banget, better kamu jangan deket-deket aku *tapi khan aku pemulung, tukang mungut sampah :lol:

B: Mau nanti aku ke rumahmu?

A: I’m fine…

B: I’m not…

A: Yaaaahhhh…

B: By the way, tadi malem cuma mabok doank khan, ga mainan perempuan comberan khan?

A: Eeeehhhmmm…Ya?

B: Iya yah??? That’s what I hate kalo kamu pulang kluyuran malem ampe pagi. I hate her, sempet beberapa detik membuat aku kepikiran I have been treated like a garbage by the guy I love.

A: You don’t need to hate her. Kamu salah banget sayang ke orang kayak aku.

B: Emang aku dari dulu salah sayang ama orang. Salah ngasih hati ke orang to the max. Salah karena selalu ada buat orang lain. Salah punya komitmen yang selalu aku jaga. Salah terus, ampe semua orang jadi take me for granted. Been treated like a garbage by several guys before, another one or two will be fine. Tinggal buang kepala, injek-injek hati. Beres. All done.

A: You know who I am

B: Vice versa ya. By the way ntar kalo ketemu anggep omongan kali ini ga pernah ada.

A: Dunno. Kali ini ga tau.

B: Jangan kayak anak kecil. Jelas aku ga mau mikir. Males mikir.

A: Ampe kapan? Ampe kapan kamu nyakitin hati kamu terus?

B: Sapa yang sakit? Emang kamu? Terus kamu maunya apa?  Ninggalin aku?

A: Halllaaahhh! Kaggaaakkkk!!!

B: Terus? Mau looee apa? Mau aku gimana? Mau aku ninggalin kamu? Ga mungkin…aku dah komit ama omonganku sendiri.

A: Jaga hati kamu untuk aku *emang lagi nyambut lebaran??? jagalah hatiiii… *haaalllaaaggghh

A: Bawel terakhir…

B: Apa?

A: Kamu dah sadar khan aku ga sama kayak cowo-cowo lain. Aku ga normal kayak cowok pada umumnya *Emang cowok di dunia ini ada yang normal??? *Prrreeeettt…eh curhat…

B: Maksudnya?

A: Ya idup aku, kondisi hati.

B: Sampe kapan?

A: Weakness? Everything. Ga tau.

B: Sampe kapan mau ngerusak diri kamu kayak gitu?

A: Ampe aku puas mungkin.

B: Kapan kamu puasnya?

A: Dan atu lagi? I don’t have a heart for you. Not single romance that came from my heart for you.

B: So it’s all lust?

A: So sorry…

B: Answer it…

A: I guess…

B: Yes or no, I only accept yes or no answer…

A: Yes. Kamu bebas. Marah juga aku ngerti.

B: Ga marah. Dah tau dari awal. So use my body then…

A: What??

B: Ga usah perempuan murahan lainnya.

A: No way.

B: Nanggung.

A: I’m not that kind of guy.

B: Sekalian.

A: Still have a small brain in my head.

B: Ga perlu dipake. Buang semua. Buang semua hati, otak semua ilangin.

A: Ga.

B: Sekalian. Ga ada istilah setengah-setengah buat aku. Nanggung. Aku bodoh dari dulu. Lanjutin aja lah sekarang. You allow that bitch making you as bastard instead of success guy. Yes I call her a bitch, terserah kamu mau marah atau apa. Ampe kamu puas ngapain ajah…ampe kamu rusak jamuran or even ampe masuk peti mati…aku bakal tetep kayak gini ke kamu. NOTE that!!!! I still love you no matter what…I’m not asking you to love me in return…Aku cuma pengen liat kamu sembuh…Titik. By the way, ntar ampe rumah text me. Mau kamu sedetik lagi mati, harus text me.

A: Buseett. Disumpahin mati. Lagi on the way, pindah tempat biliard.

B: Makanya aku bilang mau sedetik lagi kamu mati tetep kasih tau aku.

A: Jiiiaaah disumpahin dua kali. Jangan lupa ya.

B: Apa? Bawel lagi loe?

A: Kalo aku mati ntar abunya ditebar di gunung…okeeeyy??

B: Mau idup mau mati teteup ngerepotin aku.

A: Cuma suruh kasih tau orang-orang.

B: Abunya ntar buat tebaran pup kucing/anjing tetangga ajah.

A: Kagak nyuruh kamu yang nabbbuurrrr…peeeelliiittt!!! Gillaaa tega banget.

B: Loohh kata kamu, kamu khan sampah, sekalian aja dijadiin sampah.

A: Oooo ya sutra lah, mayatnya doank khan…Ato di aer keras, keren dikacain…*Gimana kalo dari idup udah di aer keras? Or Formalin? *Plllaaaakkkk!!!

B: Ogaahh…dah busuk…nyebelin pas idup…dah mati suruh liat terus-terusan. By the way…met mabok, met hepi-hepi ama perempuan seksi, met biliard sambil judi, have fun ampe pppoolll ya dear…

_____

Dah baca obrolah di atas?

Mari tebak-tebakan…

1. Perbincangannya ini perbincangan asli atau bukan?

2. Kalau menurut kalian ini perbincangan asli, perbincangannya ini gue sendiri yang denger, atau diceritain orang?

3. Perbincangan ini antara sapa dengan sapa? Mungkin ga salah satu orang yang di maksud dalam perbincangan itu, adalah gue?

____

Dan di bawah ini adalah segala kekaguman gue sebagai orang yang menuliskan perbincangan ini…either asli atau hasil khayalan…

Dasssaarrrr dua orang ssseeettrreesss…gangguan jiwa jangan-jangan dua-duanya. Dah sama-sama ngeyel, sama-sama nekat, sama-sama ga punya rem ngemeng. Nemu di mana siy dua manusia ini? Langka nih!

Lumayan lahhh ya…ada bahan cerita setelah lebih dari sebulan ga nulis blog. Sebenernya siy ada bahan tulisan, kemaren-kemaren, tapi belom dikelarin.

____

Intinya adalah: selamat menerka-nerka, semua adalah dan hanyalah persepsi bebas kalian!!!

I Just Want My Own World…

Tuesday, March 22nd, 2011

Bukan BB kalian yang lemot; jangan salahkan provider kalian yang tidak memberikan laporan umpan balik D atau R saat kalian mengirimkan pesan BBM ke saya. I turned it off all, bahkan si Bébé saya copot baterainya.

“Beberapa puluh tahun lalu, bisa kok hidup tanpa handphone, masakh sekarang ga bisa?”

Terus terang saya termasuk orang yang tidak terlalu rempong jika handphone tertinggal di rumah. Apalagi jika saya baru tersadar tidak membawanya saat saya sudah di tengah perjalanan berangkat ke suatu tempat (terutama ke kantor). Kemungkinan besar saya tidak akan repot-repot berbalik arah dan mengambilnya ke rumah.

“Mayannn…seharian ga ada yang repot nyariin gue. Gak akan ada yang berisik.”

Dan hal itu sudah kejadian berkali-kali.

Termasuk akhir pekan kemarin. Saya membiarkan hidup saya tanpa bunyi-bunyian dari dua perangkat telepon genggam yang saya miliki. Walaupun saya tahu ada beberapa acara yang seharusnya saya hadiri.

Semua berawal saat Jumat malam. Saat semua rasa kembali membuncah tak karuan; urusan pekerjaan, memori masa lalu, yang semuanya tiba-tiba membuat kepala ini rasanya ingin pecah, ditambah dengan rasa yang tak jelas apa, dan tak bisa saya definisikan.

Mencoba untuk menjadi seseorang yang berbeda. Mencari seseorang yang sepertinya bisa saya andalkan untuk berbagi cerita. Mencarinya di deretan nama yang ada di sekian ratus nama yang termasuk di BBM kontak yang saya miliki. But the result…no reply…nor R report at my BBM.

“Yah, who the hell i am for that person!”

I just remember a message was dropped in my Facebook few days ago…

“hey you!

you know, i always wonder why i don’t have many friends.. it’s not that i don’t like meeting new people, it’s not that i don’t actively try to talk and approach people, it’s not that i don’t open myself to new people. there’s one thing though, it’s hard for me to keep in touch with people. mungkin karena suasana jakarta, mungkin karena gw ga mau mengganggu orang” yang tampaknya sibuk, mungkin because i’m shy in nature :p

but there’s also another thing, it’s because it’s hard to find someone like me. someone who cherishes the same things, holds the same values, and other things i cannot really explain. you are one such person i can really connect with and yet i cannot stay in touch with you.. heheh.. sucks huh..

well, hope everything’s fine with you..”

atau sederetan kalimat (yang berujung dengan kalimat di bawah ini) dari seseorang yang Jumat malam lalu saya cari tapi saya tak tahu dia dimana…

“I’m lonely, but gw juga siy yang mau lonely.”

Dan semua itu membuat saya tersadar kembali, I’m part of them…dengan satu dan seribu satu alasan lainnya, atau bahkan sepertinya akan lebih baik jika saya tetap dengan diri saya sendiri. Sendiri.

No man is an island?? Yeah right…tell me about it!!! Coz sometime we are asked to be alone…then we choose to be lonely.

*aahhh…enaknya hidup tanpa handphone…gue terusin aja po seterusnya, ga cuma weekend ini aja?