Posts Tagged ‘Persepsi Bebas’

Rindu Kamu!!!…

Monday, February 6th, 2012

IMG-20120206-00074 2Salah ya, kalau aku mencintaimu dengan seluruhku? Salah, kalau sejak pertama aku melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu? Walau sejuta rasa aku libas dengan rasa gengsiku yang aku lipatgandakan, agar binar mata ini tak mengatakan apapun ke kamu. Namun sepertinya, isyarat darimu terlalu kuat untuk aku abaikan. Isyarat lucu cahya matamu yang bicara padaku, kalau kamu pun ternyata menginginkanku. Dari sejak itu.

Hari demi hari perlahan aku biarkan diri ini semakin mendekat padamu.

Saat kamu jadikan aku sapaan pagimu, dan mimpi malammu. Saat kamu selipkan cerita hidupmu di hari-hari sibukmu. Saat kamu jadikan aku bagian mimpimu nanti. Saat bayangan kita, bersama, yang terpampang jelas di pandangan mata kita berdua, di sekian juta detik di kemudian hari,  yang akan menghampiri langkah hidup kita. Saat itu akan terjadi, adalah bahagiaku, bahagiamu juga. Kelak.

Ahh…jadi ingat saat kita habiskan waktu menikmati Sushi di sebuah restoran Jepang. Pertamakalinya kita makan malam bareng. Tak ada habisnya kamu ceritakan tentangmu. Dengan segala ceria yang jadikan itu adalah kamu. Atau saat sore-sore kita duduk di sofa itu, kamu cerita semua mimpimu. Bayangan bahagianya kamu, yang lagi-lagi terlihat jelas di sinar matamu yang tak pernah berhenti membuatku gemas. Dan tak ada habisnya kamu membuatku tersenyum. Sofa yang jadi saksi ketawa-ketawa ngakak dan kedubragannya kita berdua. Sore yang ga mungkin aku lupakan.

Kamu sudah buatku mampu melepas seribu topeng. Dan giliran sekarang, sejuta gengsi diri yang aku libas. Menjawab segala tanya dan ajakanmu dengan satu per satu kata ‘ya’ yang keluar dari bibir ini, pun dari tingkahku.

Kamu tau ga sih, kalo kamu sudah membawaku berada di titik di mana aku berdiri sekarang? Titik tumpah ruah segala rasa yang tak mungkin lagi terdefinisikan. Bermula ketika kamu tanyakan izinku untuk memelukku, membiarkan ungkapan cinta semakin terungkap dalam kecupan dua bibir ini yang bertemu, yang kemudian berdansa dalam hitungan sekian menit. Hati ini milikmu sudah, Sayang.

Coba inget deh, tak ada satu pun permintaanmu yang luput dari usahaku agar mereka tersuguh di depanmu. Cuma biar aku bisa terus melihat senyummu dan centilnya mata lucumu, karena kamu bahagia. Biar kamu selalu bisa rasakan bahwa aku ada untukmu. Dan biar aku bisa rasakan dekapanmu yang menghadirkan sejuta rasa bahwa ‘kamu memang nyata’. Mencintaku, seperti katamu.

Sekarang, sekian lama sudah kamu dan aku jalani ini semua. Meniti hati dan berdansa dengan tawa, tangis dan rasa sakit yang silih berganti datang dan pergi.

Aku ga perlu fisikmu ada di depanku setiap hari, Sayang. Aku hanya perlu tahu kalau hatimu ada. Untukku. Seperti janjimu. Dan bukti yang kamu hadirkan hingga saat ini. Yang masih jadikanku yang penting di hidupmu.

Tapi, saat ini…aku rindu kamu! Banget!

selama aku mencari
selama aku menanti
bayang-bayangmu dibatas senja
matahari membakar rinduku
ku melayang terbang tinggi

bersama mega-mega
menembus dinding waktu
kuterbaring dan pejamkan mata
dalam hati kupangil namamu
semoga saja kau dengar dan merasakan

getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata ku cinta padamu

peluhku berjatuhan
menikmati sentuhan
perasaan yang teramat dalam
telah kau bawa segala yang kupunya
segala yang kupunya ouoooo

getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata aku cinta padamu ooho kepadamu

Their Story…

Monday, January 16th, 2012

12.37  @ Latte Art: aku lagi maksi. Dah makan? Mau ditemeni? | Boleh. Dimana? Aku masuk kompleks gedung sebelah kantormu. | Aku ke sana.

5 menit kemudian, @ Mangkok Putih: Hai | *with those licentious kisses on the edge of lips…

12.50 pm: Kamu meeting jam 1 khan? Ga akan keburu, makanannya lama. U eat this pisang ijo dulu aja, aku tadi beliin, sengaja, kalo kamu ga sempet makan gede. Pesenannya dibatalin aja. | Dibungkus aja, kamu bawa pulang. | Ya udah sekalian set bill.

13.00 : Dah jam 1, kamu naik ke atas, aku balik ke kantor ya. | *two kisses were landed on the edge of our lips for a couple of second, including “miss you” from him.

13.16 : Thanks ya, Dear | Sama-sama. With my pleasure. Good luck for the deal. Love seeing you today.

17.09 : Hai Babe. Done. Now going home. Thanks for the pisang ijo. It helps me to survive. | No worries, Darl.

——

Day after…

08.45 : Dear, hari ini sibuk ngapain? | Kenapa? Di kantor doank | Ngga apa. Hanya mau tau aja. I’m so happy seeing you yesterday. Yg ngga disangka-sangka gitu kan? | Hehehe. Samaa.

and…that’s their story…

Kita…

Tuesday, December 20th, 2011

Kenapa Dia membuat kaki ini melangkah temukanmu…
Temukan langkahmu yang terhenti karenaku…

Kenapa Dia menghadirkan lucunya tatap matamu untukku…
Izinkan empat mata ini bercengkrama dalam binar…

Kenapa Dia memberiku hati untuk merasa…
Untuk berdegup kencang saat kau meraihku dan membawaku ke pelukmu…

Kenapa Dia mengirimkan sejuta tangkai mawar kepadaku…
Yang mampukan hati ini berbunga saat rindu kau ungkap untukku…

Kenapa Dia memberiku cinta…
Yang mampukanku membekukan sekujur tubuh ini, merelakan logika terserak, saat kau kecup bibirku, utarakan cinta dalam diam…

Kenapa Dia memberikanmu dalam hidup…
Menjadikan seribu tanda tanya, dalam jejak langkah…

Kita!

*Never Regret|Lesson Learned|Feel Blessed, Just Now in 2011*

Coming To You…

Thursday, November 17th, 2011

“Flight attendants landing position”…

Hmmm…I’m coming to you, Dear. Just can’t wait to see your cute eyes, after two weeks.

—-

“Landed”

“I am here.”

“See you soon, out there.”

—-

“Hmmm…lama banget nih koper ga keluar-keluar.”

—-

“Where are you? Aku dah di luar sekarang.”

“He? Aku juga di luar.”

“Depan Starbucks.”

“Aku di depan Quiznos.”

“Aku ke situ.”

“Hahaha…now I’m in front of Starbucks.”

—–

Haaiisshh…rame bener…where are you, Babe, Why I can’t find you?

And not too long after that conversation…those two faces, those two smiles and those 4 eyes found each other…

“Hey, Babe!”

“Haaaiii…”

And two kisses were landed on cheeks…

“Wadduuhh, kamu masih pake baju kerja. Suaramu masih bindeng. Belum check-in?”

“Check-in siy udah, barang-barangku masih aku tarokh di concierge.”

“How are you? Tired?”

“Yup, but happy.”

“As usual. You always like that. Thanks for picking me up ya.”

“Bentar, antri taxi di sini khan ya.”

Suddenly those four eyes look each other, and their two heads are getting closer, until those two lips met for few seconds.

Me – Your Sparkling Eyes…

Tuesday, October 18th, 2011

Sayang,

Ini aku. Aku, yang kamu bilang sebagai kekasih hatimu. Aku yang kamu panggil, Cantik. Aku yang dari pertama kali kita bertemu sudah jatuh hati sama kamu.

Awal kaki ini menemukanmu di sana, adalah saat seluruh sangkal ada untuk kamu, untuk kita, dari aku. Saat seribu salah yang hadir, yang aku tahu tak akan pernah bisa membuat kaki kita melangkah menjauh. Hingga  jadikan aku mampu merasa segala rasa yang tak pernah tertulis nyata, dan membuatku kembali bersinar…

Thanks for reminding me to stay gold…

XoXo,

Me – Your Sparkling Eyes…

Seize upon that moment long ago
One breath away and there you will be
So young and carefree
Again you will see
That place in time…so gold

Steal away into that way back when
You thought that all would last forever
But like the weather
Nothing can ever…and be in time
Stay gold

But can it be
When we can see
So vividly
A memory
And yes you say
So must the day
Too, fade away
And leave a ray of sun
So gold

Life is but a twinkling of an eye
Yet filled with sorrow and compassion
Though not imagined
All things that happen
Will age too old
Though gold
(Stay Gold, By: Stevie Wonder, The Original Soundtrack of The Outsiders)

============

*written in my heart, published to the world, 18 October 2011*