To all of you…I just want to say…
You make me have these wonderful years…
—-
And you also my dear!! For sure…
…you REALLY made my days…
…love it…love you!!…
Around 3.30 pm…
Tim baru pada bermunculan | Yah..ga bisa pulang jam 5an dounks? | Paling jam 6an lah dari sini | Abis itu ada acara? | Ngga
4.30 pm…
Still at PS? | Masih di PS…
5.19 pm…
Aku ke sana. Give me only 10 minutes, kalo kamu bener-bener ga bisa. I just want to give you something.
6.19 pm…
Here already at PS. Lemme know when you’re done, and mau ketemu di mana.
6.20 pm…
I am free now. As usual I’m lost when you give me an option of ”anywhere”
And a second later, these eyes found him walking in front of me…
Heeii… | Haaii… *and those kisses…hmmm… | Happy Valentine | Haallaaagghh…Kamu mau langsung pulang? | Sepertinya | Kok, kayaknya sama aja berat badanmu | Enak aja, turun 5 kilo ini | Eh iya dink, masih terlihat ga sehat | Kamu juga, mukanya kayak super capekh gitu | I am. By the way, aku cuma mau ngasi ini, bookmark | Ehh..lucunya | My friend made it | Yuk, kita ngobrol bentar | Loh, katanya mau langsung pulang, but to be honest aku haus banget sih | Ga papa lah 10 – 15 menit. Bakerz In? | Penuh | Nanini? | Bawah aja yuk | Oh ya De Luca or Monolog |
And here we are, at Monolog, for wonderful 45 minutes. Looking at your eyes, your glowing-cute-eyes when you are sharing your works, your passion and your dream…again…
45 minutes. Cinta. Aku. Kamu. Tanpa dia. Tanpa mereka. Tanpa bb. Listening to your story. Looking at your glowing-cute-eyes. Though only with a glass of Ice Lychee Tea and yogurt in our hands. Love it!
Love you…Happy Valentine’s Day…
—-
7.07 am Happy Valentine dear | Happy Valentine’s Day for you too, Mon Cher…
Salah ya, kalau aku mencintaimu dengan seluruhku? Salah, kalau sejak pertama aku melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu? Walau sejuta rasa aku libas dengan rasa gengsiku yang aku lipatgandakan, agar binar mata ini tak mengatakan apapun ke kamu. Namun sepertinya, isyarat darimu terlalu kuat untuk aku abaikan. Isyarat lucu cahya matamu yang bicara padaku, kalau kamu pun ternyata menginginkanku. Dari sejak itu.
Hari demi hari perlahan aku biarkan diri ini semakin mendekat padamu.
Saat kamu jadikan aku sapaan pagimu, dan mimpi malammu. Saat kamu selipkan cerita hidupmu di hari-hari sibukmu. Saat kamu jadikan aku bagian mimpimu nanti. Saat bayangan kita, bersama, yang terpampang jelas di pandangan mata kita berdua, di sekian juta detik di kemudian hari, yang akan menghampiri langkah hidup kita. Saat itu akan terjadi, adalah bahagiaku, bahagiamu juga. Kelak.
Ahh…jadi ingat saat kita habiskan waktu menikmati Sushi di sebuah restoran Jepang. Pertamakalinya kita makan malam bareng. Tak ada habisnya kamu ceritakan tentangmu. Dengan segala ceria yang jadikan itu adalah kamu. Atau saat sore-sore kita duduk di sofa itu, kamu cerita semua mimpimu. Bayangan bahagianya kamu, yang lagi-lagi terlihat jelas di sinar matamu yang tak pernah berhenti membuatku gemas. Dan tak ada habisnya kamu membuatku tersenyum. Sofa yang jadi saksi ketawa-ketawa ngakak dan kedubragannya kita berdua. Sore yang ga mungkin aku lupakan.
Kamu sudah buatku mampu melepas seribu topeng. Dan giliran sekarang, sejuta gengsi diri yang aku libas. Menjawab segala tanya dan ajakanmu dengan satu per satu kata ‘ya’ yang keluar dari bibir ini, pun dari tingkahku.
Kamu tau ga sih, kalo kamu sudah membawaku berada di titik di mana aku berdiri sekarang? Titik tumpah ruah segala rasa yang tak mungkin lagi terdefinisikan. Bermula ketika kamu tanyakan izinku untuk memelukku, membiarkan ungkapan cinta semakin terungkap dalam kecupan dua bibir ini yang bertemu, yang kemudian berdansa dalam hitungan sekian menit. Hati ini milikmu sudah, Sayang.
Coba inget deh, tak ada satu pun permintaanmu yang luput dari usahaku agar mereka tersuguh di depanmu. Cuma biar aku bisa terus melihat senyummu dan centilnya mata lucumu, karena kamu bahagia. Biar kamu selalu bisa rasakan bahwa aku ada untukmu. Dan biar aku bisa rasakan dekapanmu yang menghadirkan sejuta rasa bahwa ‘kamu memang nyata’. Mencintaku, seperti katamu.
Sekarang, sekian lama sudah kamu dan aku jalani ini semua. Meniti hati dan berdansa dengan tawa, tangis dan rasa sakit yang silih berganti datang dan pergi.
Aku ga perlu fisikmu ada di depanku setiap hari, Sayang. Aku hanya perlu tahu kalau hatimu ada. Untukku. Seperti janjimu. Dan bukti yang kamu hadirkan hingga saat ini. Yang masih jadikanku yang penting di hidupmu.
Tapi, saat ini…aku rindu kamu! Banget!
selama aku mencari
selama aku menanti
bayang-bayangmu dibatas senja
matahari membakar rinduku
ku melayang terbang tinggi
bersama mega-mega
menembus dinding waktu
kuterbaring dan pejamkan mata
dalam hati kupangil namamu
semoga saja kau dengar dan merasakan
getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata ku cinta padamu
peluhku berjatuhan
menikmati sentuhan
perasaan yang teramat dalam
telah kau bawa segala yang kupunya
segala yang kupunya ouoooo
getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata aku cinta padamu ooho kepadamu
12.37 @ Latte Art: aku lagi maksi. Dah makan? Mau ditemeni? | Boleh. Dimana? Aku masuk kompleks gedung sebelah kantormu. | Aku ke sana.
5 menit kemudian, @ Mangkok Putih: Hai | *with those licentious kisses on the edge of lips…
12.50 pm: Kamu meeting jam 1 khan? Ga akan keburu, makanannya lama. U eat this pisang ijo dulu aja, aku tadi beliin, sengaja, kalo kamu ga sempet makan gede. Pesenannya dibatalin aja. | Dibungkus aja, kamu bawa pulang. | Ya udah sekalian set bill.
13.00 : Dah jam 1, kamu naik ke atas, aku balik ke kantor ya. | *two kisses were landed on the edge of our lips for a couple of second, including “miss you” from him.
13.16 : Thanks ya, Dear | Sama-sama. With my pleasure. Good luck for the deal. Love seeing you today.
17.09 : Hai Babe. Done. Now going home. Thanks for the pisang ijo. It helps me to survive. | No worries, Darl.
——
Day after…
08.45 : Dear, hari ini sibuk ngapain? | Kenapa? Di kantor doank | Ngga apa. Hanya mau tau aja. I’m so happy seeing you yesterday. Yg ngga disangka-sangka gitu kan? | Hehehe. Samaa.
and…that’s their story…
Kenapa Dia membuat kaki ini melangkah temukanmu…
Temukan langkahmu yang terhenti karenaku…
Kenapa Dia menghadirkan lucunya tatap matamu untukku…
Izinkan empat mata ini bercengkrama dalam binar…
Kenapa Dia memberiku hati untuk merasa…
Untuk berdegup kencang saat kau meraihku dan membawaku ke pelukmu…
Kenapa Dia mengirimkan sejuta tangkai mawar kepadaku…
Yang mampukan hati ini berbunga saat rindu kau ungkap untukku…
Kenapa Dia memberiku cinta…
Yang mampukanku membekukan sekujur tubuh ini, merelakan logika terserak, saat kau kecup bibirku, utarakan cinta dalam diam…
Kenapa Dia memberikanmu dalam hidup…
Menjadikan seribu tanda tanya, dalam jejak langkah…
Kita!
*Never Regret|Lesson Learned|Feel Blessed, Just Now in 2011*
“Flight attendants landing position”…
Hmmm…I’m coming to you, Dear. Just can’t wait to see your cute eyes, after two weeks.
—-
“Landed”
“I am here.”
“See you soon, out there.”
—-
“Hmmm…lama banget nih koper ga keluar-keluar.”
—-
“Where are you? Aku dah di luar sekarang.”
“He? Aku juga di luar.”
“Depan Starbucks.”
“Aku di depan Quiznos.”
“Aku ke situ.”
“Hahaha…now I’m in front of Starbucks.”
—–
Haaiisshh…rame bener…where are you, Babe, Why I can’t find you?
And not too long after that conversation…those two faces, those two smiles and those 4 eyes found each other…
“Hey, Babe!”
“Haaaiii…”
And two kisses were landed on cheeks…
“Wadduuhh, kamu masih pake baju kerja. Suaramu masih bindeng. Belum check-in?”
“Check-in siy udah, barang-barangku masih aku tarokh di concierge.”
“How are you? Tired?”
“Yup, but happy.”
“As usual. You always like that. Thanks for picking me up ya.”
“Bentar, antri taxi di sini khan ya.”
Suddenly those four eyes look each other, and their two heads are getting closer, until those two lips met for few seconds.
Sayang,
Ini aku. Aku, yang kamu bilang sebagai kekasih hatimu. Aku yang kamu panggil, Cantik. Aku yang dari pertama kali kita bertemu sudah jatuh hati sama kamu.
Awal kaki ini menemukanmu di sana, adalah saat seluruh sangkal ada untuk kamu, untuk kita, dari aku. Saat seribu salah yang hadir, yang aku tahu tak akan pernah bisa membuat kaki kita melangkah menjauh. Hingga jadikan aku mampu merasa segala rasa yang tak pernah tertulis nyata, dan membuatku kembali bersinar…
Thanks for reminding me to stay gold…
XoXo,
Me – Your Sparkling Eyes…
Seize upon that moment long ago
One breath away and there you will be
So young and carefree
Again you will see
That place in time…so gold
Steal away into that way back when
You thought that all would last forever
But like the weather
Nothing can ever…and be in time
Stay gold
But can it be
When we can see
So vividly
A memory
And yes you say
So must the day
Too, fade away
And leave a ray of sun
So gold
Life is but a twinkling of an eye
Yet filled with sorrow and compassion
Though not imagined
All things that happen
Will age too old
Though gold
(Stay Gold, By: Stevie Wonder, The Original Soundtrack of The Outsiders)
============
*written in my heart, published to the world, 18 October 2011*
Sekilas melihat jejak langkah…
Saat dia mulai mengisi hari-hari…
Yang dalam hitungan purnama, memutar kaki ini lagi…
Melangkahi tapak demi tapak hari demi hari…
Masing-masing dan sendiri…
Hingga dalam tapak ke sekian, kaki ini temukanmu…
Saat empat mata ini bertaut…
Bercerita hati…
Kamu dan aku…
Seribu sangkal bahwa aku tak terjatuh…
Sejuta hindar agar aku berpaling…
Tapi rasa itu berkata lain…
Membuatku jatuh di pelukmu…
Berlomba dengan detik yang memacu detak jantung berdegup mengencang…
Berhias desah napas yang membawa hasrat bercampur cinta…
Saat semua sangkal berhambur dan terserak…
Saat hati terpaku sudah di sana…
Kamu!
*May I Kiss You? Airport, Minggu, 28 Agustus 2011*
Duduk di dalam Trans Jakarta, sambil ngeliatin orang-orang sekitar gue, yang satu pun ga ada yang gue kenal, membuat gue jadi inget twitter gue beberapa minggu lalu…
“Ga lagi2 jalan dari Katedral ke halte busway Istiqlal…ngeri dicekek orang dari belakang, gelap abis, mending jalan ke halte juanda, mentok2 ketabrak LOL”
Hmmm…emang gobloknya gue sih, yang nganggep jarak tempuh dari depan Katedral ke halte busway Istiqlal ini sama jauhnya kayak ke halte Juanda, yang membuat gue berjalan setengah berlari, sambil sesekali celingukan ke belakang, sambil komat-kamit dalam hati, berharap ga ketemu makhluk berwujud manusia lain yang berpikiran jahat sama gue.
“Never talk to a stranger!!”
Kalimat itu sejak kecil ditanamkan oleh bokap nyokab gue, dan sepertinya masih terngiang di kuping dan masih gue jalanin hingga saat ini, atleast gue akan menganalisa terlebih dulu, seberapa kadar “stranger”nya orang tersebut untuk gue.
Duduk di Trans Jakarta bersama penumpang lain yang sama sekali ga gue kenal alias semuanya orang asing, di mana ada kemungkinan bahwa di antara mereka ada yang bisa melukai atau membuat gue celaka. Dan kembali otak gue melihat kejadian-kejadian yang dulu. Kejadian mulai kelas 4 SD, gue minta ijin ke bokap untuk pulang sendiri naik angkot, dan nyokab marah-marah karena bokap bilang iya; masa-masa di mana nyokap gue walaupun naik bis tetep jemput gue ke sekolah, biar anak perempuan satu-satunya tetep ada temennya pulang sekolah; gimana happynya gue waktu bokap nyokab gue jemput ke sekolah di hari sabtu *itu ampe SMA loh. Intinya biar gue tetep aman sampe rumah.
Setelah gue inget masa-masa hidup cuma penuh ha-ha-hi-hi ama urusan percintaan ala monyet, gue keinget masa-masa udah sedikit lebih dewasa, yaitu saat gue bahagia bisa kuliah lagi di Psikologi. Tepatnya saat gue membaca satu buah buku, yang gue lupa buku apa (apalagi nama pengarangnya), tapi gue masih inget satu kutipan di dalamnya, yang kalo diterjemahin, isinya kurang lebih adalah seperti ini…
“Sebenernya manusia itu adalah survivor, karena mereka dekat sekali dengan bahaya. Dari lahir, bayi harus menyesuaikan perubahan dari rahim ke suhu tempat dia dilahirkan; saat keluar rumah ada kemungkinan ia tertabrak kendaraan lain, atau dijahati orang-orang di sekitarnya.”
Yupe. Bener banget. Salah satu tugas manusia hidup di dunia adalah bertahan hidup. Dari semua hal yang manusia hadapi di dunia. Named it lah! Melindungi diri sendiri dari kekerasan fisik? Pasti! Melindungi hati dari “kekejaman” sakit hati-sakit hati lainnya? Pernah ngerasain dapet nilai jelek/gagal ujian or pernah ngerasain patah hati, putus cinta dounks yaaahh???
Bahkan saat kita ingin berperan jadi super hero untuk orang lain, yaitu usaha untuk melindungi mereka, yang sebenernya mungkin usaha untuk melindungi diri sendiri dari rasa sakit? *Ya..iya lah kalo ibunya, bapaknya, abang/adeknya or pacarnya kenapa-kenapa khan yang sedih kita juga pan?
Tapi gimana rasanya kalo di tengah kerumunan yang kita anggap sebagai orang asing semua, tiba-tiba ada satu atau dua orang yang kita tau/kenal? Waddduuhh…girang betul pasti rasanya. Sama seperti waktu dua hari lalu gue nunggu TransJakarta di halte Dukuh Atas, mau ngambil mobil yang masih terparkir manis di Kuningan, karena gue lebih memilih ke Katedral naik kendaraan umum ketimbang bermacet-macetan dengan mobil pribadi. Menunggu datengnya si TransJakarta koridor 6 ini gue ngeliat satu cewek berdiri di samping gue sambil mainan blackberry miliknya. Karena cewek ini setengah menunduk, jadi gue ga liat penuh mukanya, sampai dia bicara dengan teman di sebelahnya lagi. Suara itu terdengar familiar oleh gue. Dan gue pun menyapa perempuan itu dengan menjentikkan jari gue tepat di depan wajahnya. Seketika teriakan kami berdua pun membahana di satu halte busway tersebut. She’s my high school friend, yang kebetulan orang tua kami saling kenal sejak mereka kecil.
Bis yang kami tunggu pun akhirnya datang. Kami langsung menaikinya dan memilih posisi tempat duduk yang cukup enak untuk mengobrol. Dan setelah gue perhatiin satu bis itu hanya ada suara kami berdua. Hanya ada ketawa kami berdua, yang mengenang masa-masa jaman SMA yang sudah sekian tahun berlalu. Apalagi temannya si teman ini adalah junior 9 tahun di bawah kami.
Ya..ya..ya..masa-masa indah itu sudah hanya tinggal kenangan, masa-masa jaya yang hanya memikirkan hidup hari itu, memikirkan gimana bisa survive ulangan hari itu, bisa survive nyelesein berantemnya kita sama pacar jaman itu, bisa survive ga digencet ama senior, yang waktu itu masalah-masalah tersebut terlihat sebagai masalah besar. Tapi kalo dibandingin ama masalah-masalah sekarang?? Maannn…cupu lah itu semua. Intinya, bisa hidup sampai sekarang ikarena kita berhasil nemuin cara memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.
Talking about survivor, gue jadi inget satu temen. Apalagi pengalaman gue dua hari lalu dengan TransJakarta ini ngingetin gue ama manusia ini. Yah…dari si supir TransJakarta tiba-tiba nyetel lagu There You’ll Be, terus salah satu penumpang blackberry-nya make ring tone suara kentut, sampe si cewek yang ketemu gue tadi namanya sama kayak nama satu cewek inceran temen gue dari jaman dia SMP ampe kuliah, tapi kagak dapet juga, bahkan ditinggal kawin *assslliiikk gue ngakak dalam hati. Temen gue ini pernah ngirim broadcast message *tumben (ngirim) (gue baca), yang kurang lebih isi BMnya kayak gini…
“Human are like animal, they can survive by themselves. If you don’t feel like that, you will be wiped out by nature. I don’t want to be a loser? Do you?”
Yah…so true…we are all survivor…
I guess, God should be thankful to us who still want to survive in this fucking world?
And hey, you, there, my friend, my dear…who sent me that broadcast message, hopefully you’re not a loser, for yourself, in your own eyes, and/or in other’s sight! Including mine!
Aku Ingin Mencintamu Hanya Dengan Separuhku..
Tapi Tak Dayaku Melawan Energi Rasa Yang Meruntuhkanku..
Tak Hanya Separuh..
Tapi Seluruhku..
Karenamu…
*Antara Kesel-Bingung-MauMarahGakBisa-Pasrah-Terserah-BodokhAmat!! Gak Mau Tau Kapan, 2011*