Posts Tagged ‘Persahabatan’

15 Tahun yang Menyenangkan

Saturday, March 30th, 2013

Kino…

Nama itu diberikan oleh Mama untuk anak yang satu itu, dari hari pertama dia datang setelah Papa memutuskan untuk membawanya ke rumah dan kami adopsi. Hari itu adalah satu hari di bulan Oktober 1998. Dachshund, hitam dan bercampur putih pada beberapa bagian tubuhnya, bermata besar, kaki-kaki pendeknya diselimuti bulu berwarna cokelat, kontras dengan bulu badannya, sehingga dia tampak seperti menggunakan kaos kaki atau sepatu warna cokelat. Yet to mention this around 2-years-old-aged kid was very playful and friendly boy.

Ruang tengah kami selalu diramaikan dengan tingkah lucunya. Setelah satu tahun lebih Kino jadi penguasa tunggal ruang tengah, ia kami berikan satu teman lagi; another Dachshund; O’Neil. Dan jadilah mereka berdua bagai anak kembar, yang kemana pun mereka pergi, apapun yang mereka lakukan selalu berdua, kecuali saat salah satu dari mereka harus di rawat di klinik hewan.

Kino sempat beberapa kali dirawat di klinik hewan. Salah satu kelemahan Kino dari dulu adalah pernapasannya. Ia pernah saya titipkan di klinik untuk dirawat supaya dia bisa dinebulasi atau diuapi, kalau tidak salah 3 hari berturut-turut. Belum lagi tahun 2007, waktu saya menemukan adanya benjolan di perut bawahnya, dan setelah saya konsultasikan ke dokter hewan yang biasa menanganinya, dokter menganjurkan agar Kino dioperasi. Berat rasanya saya merelakannya untuk dibius dan menjalani operasi, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi dan segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, walau dari hasil pemeriksaan darah sebelum dia menjalani operasi, telah menunjukkan kondisi fisiknya yang memungkinkan untuk menjalaninya. Saya membawanya sambil saya ajak bicara bahwa Kino harus bantu dokternya dengan kondisi yang tenang supaya operasi dapat berjalan lancar dan Kino bisa siuman dan pulih. Dua jam menunggu di ruang tunggu bagai 2 hari lamanya, sampai akhirnya saya dipanggil dokter yang mengatakan operasi sudah selesai , dan saya tinggal menunggu Kino siuman. I made sure when he woke up, the first person he saw was me. And indeed, my brave boy was awake, walau masih sempoyongan.

Usia Kino semakin tua. Semakin banyak kejanggalan-kejanggalan fisik yang tidak dia keluhkan. Meskipun dia periang sekali dan bukan tipe anjing pengeluh, saya bisa menemukan kejanggalan-kejanggalan tersebut di badannya. Termasuk kembali saya menemukan benjolan lainnya di bagian tubuh yang berbeda. Kali ini di pantat kanannya. Kembali saya bawa Kino ke klinik hewan langganan. Dan dokter kembali menganjurkan untuk mengoperasi Kino. Pemeriksaan darah sudah dilakukan dan dokter mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan tersebut, Kino mampu menjalani operasi. Operasi sudah dijadwalkan minggu depannya. Dalam waktu seminggu tersebut, saya masih berkonsultasi dengan beberapa dokter hewan lainnya. Setelah konsultasi, saya mendapatkan kesimpulan bahwa operasi yang kali ini akan dilakukan merupakan operasi yang terbilang sulit. Bahkan ada satu dokter yang mengatakan bahwa ia tidak berani melakukan itu. Dan dokter lainnya mengatakan “Sebagus-bagusnya dan sesenior-senior dokternya, tetap yang menentukan hidup mati makhluk hidup adalah Tuhan.” Frankly speaking I agreed with that vet. Saya pun memutuskan untuk membatalkan rencana operasi untuk anak gendut yang satu itu…”Baru juga setahun lalu kamu operasi ya, Nak, masakh taun ini kamu operasi lagi. Kamu bisa kuat khan tanpa operasi?”

Empat tahun berlalu dari rencana operasi yang kemudian saya batalkan tersebut, Kino yang sudah sangat tua, dan kondisi kedua matanya sudah tidak berfungsi, tiba-tiba kehilangan keseimbangan, tidak bisa berdiri, berkali-kali terjatuh dan mengeluarkan liur berlebih, posisi kepala cenderung miring ke kanan. Hari itu Sabtu, 22 Desember 2012 malam hari. Sontak saya tidak bisa tidur di kamar dan hanya menemaninya di ruang tengah. Esok harinya saya periksakan Kino ke klinik hewan langganan. Dokter dan saya memutuskan agar Kino dirawat. Apapun kemungkinan terburuk yang akan dihadapi anak saya yang satu itu, sudah menghantui saya. Tapi entah mengapa, saya masih yakin, bahwa Kino saat itu masih bisa bertahan dan berhasil melawan penyakitnya.

Tiap hari saya sempatkan untuk menengoknya ke klinik untuk melihat perkembangan dan memberinya semangat hidup, walau kadang saya selipkan kata-kata untuk dia memilih masih ingin tinggal bersama kami sekeluarga atau pulang ke yang memiliki hidup. Kondisinya naik dan turun, kadang membaik, kadang kembali turun. Sampai kira-kira hari ke 4 dia di rawat, Kino sudah mau makan, walau harus disuapi dan BAB nya sudah baik. Hari ke 6 Kino dirawat, dia sudah bisa tegak berdiri dan sudah tidak terlalu sempoyongan berjalan. Dokter mengatakan kalau sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi, Kino besok boleh pulang.  Itu pun yang saya katakan pada Kino, “Tuh Nak, kalo besok Kino dah bisa makan sendiri ga disuapin, besok kita pulang ya Nak.”

Keesokan harinya, saya dan mama, datang ke klinik, yang memang rencananya akan menjemput Kino. Seketika saya dan mama sampai klinik dan membuka pintu klinik, saya langsung berkata dalam hati, “Ya ammmppuuunn kamu kayak ga sakit deh, Nak. Brisik kung-kung-kung terus. Baru sadar kalo ditarokh di kamar terus ya dah seminggu,” langsung saya sedikit berlari ke arah kamarnya yang kebetulan memang ada di bawah. Dan begitu dia melihat saya, “Dah ga sabar pulang ya, Nak? Hebat kamu bisa sehat! Mami ngobrol sama dokternya dulu ya.” Begitu saya bertemu dengan dokternya, saya langsung mendapat laporan “Kino dah pinter tuh, mau makan sendiri, ga perlu disuapin lagi.” Saya bereskan urusan administrasi dan obat yang masih harus diteruskan di rumah, lalu saya gendong Kino ke mobil dan  pulang ke rumah.

Nyaris saya kehilangan Kino. Beruntung Kino masih mau berusaha untuk  survived. Walaupun karena stroke yang dideritanya, posisi kepalanya masih cenderung miring, dan Kino tidak bisa jalan lurus melainkan berjalan ke satu arah dengan membentuk lingkaran.

Membawa Kino ke rumah, berarti kembali kami yang mengurusnya secara total. Mengurus dengan kekhawatiran, “senam jantung” dan penuh cinta buat Kino. Hari pertama dia pulang, Kino masih mau makan tanpa disuapi, begitu pun keesokkan harinya. Tapi dua hari setelahnya, Kino membungkam mulutnya dan tidak mau makan dan minum sama sekali. Termasuk makanan kesukaannya yaitu daging ayam. Mendapati hal itu saya langsung menelepon klinik walaupun saya tahu bahwa poliklinik mereka akan tutup dan hanya melayani rawat inap. Saya menelepon dokter yang merawat Kino dan saya langsung membawa Kino kembali ke Klinik. Di klinik, Kino diberi obat pencahar, karena memang beberapa hari Kino belum BAB, mungkin karena kondisi kaki belakang yang belum kuat betul menahan tubuhnya yang harus jongkok dan mengejan saat BAB.

Hari itu adalah malam pergantian tahun ke tahun 2013. Saya sengaja tidak tidur di kamar, melainkan memilih untuk menggelar kasur lipat di ruang tengah di depan televisi untuk tidur sambil mengawasi  Kino, yang hingga pulang dari dokter belum juga mau makan. Namun keesokkan harinya, tepat di hari pertama di tahun 2013, Kino sudah kembali mau makan.

Kondisi seperti itu terus berulang, kadang Kino mau makan, kadang tidak, kadang perlu disuapi, kadang bisa makan sendiri, walaupun tiap pagi kalau Kino sudah bangun, pasti saya akan usahakan memasakkan makanan kesukaannya dan menyuapinya terlebih dahulu baru berangkat ke kantor. Di tengah sibuknya kerjaan kantor pun, saya sering bertelepon dengan mama untuk mengecek keadaan Kino. Sering anak itu terlewat manja, hanya mau makan dan disuapi oleh saya. Dia rela hanya makan saat pagi hari sebelum saya berangkat kantor dan menunggu saat saya sudah sampai di rumah, sepulang bekerja. ”Anakmu tuh ga mau makan sama aku. Udah aku suapi pake daging ayamnya aja juga masih ga mau,” kata-kata seperti itu yang sering saya dengar saat bertelepon dengan mama.

Saya tahu bahwa tubuh Kino tak selamanya kuat bertahan melawan sakitnya. Beberapa kali saya terdiam memandangi Kino yang sedang tidur enak krungkelan dengan adeknya, O’Neil sembari berpikir “Sampai kapan pemandangan indah seperti ini bisa gue liat. Ahh.. gonna miss these kind of things.”

Berjalannya waktu, sampailah di Maret 2013. Bulan di mana saya harus kembali merasakan hal yang tidak menyenangkan menjadi paw parent. Sabtu, 16 Maret 2013, Kino kembali kejang, kehilangan keseimbangan badan, disertai sesak napas, dan kehilangan napsu makan. Sebagai Ibu, saya sudah diberikan rasa bahwa saat ini adalah saat di mana saya harus mempersiapkan keadaan yang terburuk. Saya memutuskan untuk tidak merawat Kino di rumah sakit, walaupun saya tetap membawanya untuk agar Kino bisa diberikan cairan intravena. Dengan konsekuensi saya tidak bisa saat malam hari, karena saya harus terjaga sewaktu-waktu Kino membutuhkan pertolongan oksigen yang tabungnya sudah kami sediakan di rumah.

Selasa, 19 Maret adalah kondisi paling, paling, paling menyebalkan untuk saya. Oksigen sudah tidak mampu membuat Kino berhenti kejang. Liur mengalir tak henti dari bibirnya. Saya hanya bisa menenangkannya dengan menggendongnya dan meletakkan kepalanya di dekat jantung saya. Dengan disertai aliran air mata saya hanya bisa mengajak Kino mengobrol, “Kino dah ga kuat ya, Nak? Kalo Kino mau bobokh Mommy dah rela, Nak. Kino mau Mommy temenin atau mau ke dokter, Sayang? Tapi Mommy ga mau bantu Kino bobokh ya. Kita ke rumah sakit ya Nak sekarang, biar Kino dapet oksigennya.” Takjub saya dibuat oleh Kino, begitu dia mendengar kata rumah sakit, Kino berhenti kejang, dan dia bisa bernapas seperti biasa, walau saya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih saya. Dan saya tahu persis, Kino pun merasakannya, dari detak jantung kami berdua yang saling berbicara, juga dari tetesan air mata yang membasahi wajah anakku yang sudah mendekati ajal.

Langsung saya SMS abang saya, memberitakan Kino akan saya bawa ke rumah sakit, kemungkinan kalau kejang kembali, kemungkinan saya akan meminta dokter untuk menidurkan Kino. Memenangkan logika kali ini sangat berat. Saya pun berdoa agar semesta berpihak pada kami. Kino akan pergi tanpa bantuan manusia.

Kami akhirnya memutuskan untuk membawa Kino ke rumah sakit. Abang saya pun akhirnya memutuskan izin dari kantor dan kembali ke rumah, untuk ikut mengantar Kino. Saya, Papa, Mama dan Abang saya, mengantar Kino ke rumah sakit langganan. Sepanjang jalan Kino bisa tidur tenang tanpa kejang. Mungkin dia nyaman berada di tengah keluarga yang sudah 15 tahun hidup bersama.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang menangani Kino berpihak pada saya, “Kita rawat aja ya. Tenang kok dia ga kejang lagi, ya Kino pinter?” Sesudah dinebulasi, dan kamar perawatan Kino disiapkan, Kino pun di rawat inap. Kali ini saya tidak membiarkan orang lain yang menggendongnya ke kamar. Saya antar Kino sampai di kamarnya. Selimut andalannya pun tak ketinggalan saya ikut sertakan.

Urusan Kino selesai hari itu. Saya pulang, mandi dan langsung menuju kantor. Setiap dua jam saya telepon dokter jaga. Dan kembali saya dibuat takjub oleh Kino. Kondisi Kino tenang, tanpa kejang sekalipun.

Malam hari sepulang kerja, saya sempatkan diri menengoknya kembali, walaupun Mama melarang karena sudah malam. Kondisi jalanan yang seperti biasa sangat macet, memaksa saya untuk menelepon rumah sakit dan memohon mereka untuk membukakan pintu  untuk saya, karena jadwal kunjungan rawat inap paling malam pukul 8.00 dan rumah sakit tutup pukul 9.00 malam.

Sesampainya saya di sana, Kino yang mendengar suara saya, langsung beranjak dari posisi tidurnya, dan menyambangi saya ke pintu kamar kecilnya. Ekornya pun tak lupa ia goyangkan, sembari menatap saya dengan mata tuanya yang sudah katarak dan sayu. Saya tahu bahwa itu mungkin ucapan selamat tinggal kepada saya.

Rabu, 20 Maret 2013, seperti biasa pagi hari saya berangkat ke kantor. Saya belum bisa mengunjungi Kino di rumah sakit, karena jadwal berkunjung dan menelepon untuk menanyakan kondisi pasien baru diperbolehkan pukul 10.00 pagi.

Rapat dengan klien hari itu menyebabkan saya terpaksa menunda untuk menelepon dokter. Seselesai rapat, yang saya ingat betul saat itu jam di tangan sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, saya langsung mengambil telepon genggam saya, yang tadinya hendak menelepon dokternya menanyakan kondisi Kino, malahan saya mendapati pesan singkat dari dokter yang mengabari bahwa kondisi Kino menurun, kritis dan saat itu tim dokter dan paramedik sedang berusaha untuk membantu Kino dengan oksigen.

Belum sampai saya selesai mengetik balasan, dokter yang merawat Kino sudah menelepon saya, mengabarkan bahwa Kino sudah pergi, sudah tidur selamanya. Sedih? Pasti! Walaupun saya tahu persis bahwa Kino sudah bahagia, karena terbebas dari sakit.

Kami titipkan Kino di freezer di rumah sakit, sebelum kami jemput untuk kami kuburkan di rumah.

Dan hari Minggu, 24 Maret 2013, saya menjemput anak kesayangan yang gemuk, tapi kali ini sudah terbungkus rapi dengan kertas koran yang dilapisi kantong plastik, sudah beku dan kaku, “Ayo, Nak kita pulang yuk sekarang. Kino bobokh di rumah ya, sama temen-temen lain ya, Nak.”

=======

Ahhh..ternyata kamu ga mau nyusahin Mommy ya, Nak. Kamu ga mau liat Mommy sedih saat kamu pergi. Till we meet again, Kino Sayangku!

Kino, si gendut berbulu hitam, di hari-hari terakhir hidupnya pun masih tidur kruntelan dengan adek kesayangannya, O'Neil...

What? Ndak Boleh?…

Sunday, September 27th, 2009

Hidup di zaman yang sudah sangat berbeda dan dengan segala macam perkembangannya, memang membuat manusia-manusia berbeda generasi sulit untuk beradaptasi. Termasuk saya dengan ibu dan juga sebaliknya. Tak jarang masalah gagalnya kami beradaptasi satu dengan yang lain, membuat kami menjadi cranky tak karuan.

Salah satu masalah adalah hal-hal tabu, tak elok, tak pantas saya, selaku anak perempuan (paling kecil pula) lakukan. Dan, seperti biasanya, hal-hal yang dianggap tabu oleh orang tua, sering tidak masuk di akal, bahkan aneh menurut saya. Parahnya, hihihi kadang malah hal itu menjadi sebuah hal yang membuat saya penasaran, kenapa sampai dikategorikan sebagai hal tabu.

Cerita saya di bawah ini adalah contoh yang dari awal saya dilarang, saya sudah memberontak dalam pikiran, dan mulailah malah merancang tindakan “kriminal” :mrgreen:.

“Anak perempuan ga pantes main ke rumah cowok. Masakh cewek duluan.”

“Whhhhhaaatttt? Apa sihhh? Bentar…kenapa? Apa yang salah? Even cuma temen gitu?” yang semuanya itu hanya ada di otak saya. Tak mungkin sepertinya semua itu saya keluarkan. Bisa panjang urusannya.

Bukan Ocha kalau yang namanya larangan malahan menjadi sebuah tantangan. Semakin dilarang semakin penasaran, kecuali kalau saya sudah terantuk dengan resiko yang pada akhirnya saya anggap masuk akal terhadap larangan tersebut.

Kunjungan pertama (atau setidaknya yang saya ingat sebagai yang pertama) saya ke rumah teman laki-laki saat saya kelas 3 SMP. Saat itu saya dan beberapa teman lainnya ingin…(*Bentar gue ketawa dulu, alesannya norak n klise banget ini soalnya*),…ingin menyalin catatan seorang teman yang lengkap untuk ulangan beberapa hari kemudian (*God, I still remember that?*). Tapi dasar ABGeh, di sana tak ada satu pun dari kami yang menyentuh buku, malahan kami berjalan beramai-ramai menuju AMPM untuk beli makanan, lalu kembali ke rumah dan kongkow-kongkow di sana. Dan untuk saya pribadi, saya mempunyai alasan tersendiri mengapa saya ke sana saat itu, apalagi kalau bukan urusan meng-entertain dunia cinta permonyetan ABGeh (baca: PE-DE-KA-TE).

Plesiran saya hari itu, pasti membuat saya menjadi pulang terlambat sampai di rumah. Bahkan seingat saya, malahan saya mendatangi kantor ayah, dan pulang bersama beliau.

Sampai rumah, sudah pasti saya diinterogasi oleh ibu. Dan pastinya juga saya tidak mengakui sepenuhnya kegiatan yang membuat saya pulang terlambat hari itu.

“Ke rumah temen, nyatet catetan yang ketinggalan.”

Untungnya ibu tidak menanyakan lebih lanjut ke rumah teman yang seperti apa saya tadi pergi.

Itu yang pertama. Selanjutnya masih ke rumah orang yang sama, dan kali ini dengan tujuan lebih spesifik; sebelum resmi pacaran, ya dalam rangka PE-DE-KA-TE, dan setelah resmi pacaran, ya pacaran di sana, kadang bersama dengan beberapa teman, kadang saya sendirian. Dan pasti di rumahnya ada orang lain selain dirinya.

Lucunya, saat saya dengan dirinya sudah tidak lagi pacaran, sempat saya dan beberapa teman berkunjung ke rumahnya, untuk kongkow-kongkow tak jelas. Saya ke rumahnya itu siang hari, setelah paginya saya pergi dengan salah satu abang saya. Kebetulan saat pulang ke rumah, rutenya pasti melewati rumahnya ini. Saya pun minta dituruni oleh si abang yang mengendari mobil, tepat di depan rumah si mantan pacar.

Melihat si abang yang tak pulang bersama saya, kontan ibu langsung menanyakan keberadaan saya.

“Rosa mana?”

“Tadi turun di rumah…,” yang pastinya si abang saya menyebutkan nama mantan pacar saya.

“Ngapain?”

“Maen paling.”

Sudah bisa dibayangkan ‘kan ya, bagaimana interogasi si ibu sesampainya saya di rumah?

“Bla, bla, bla, bla…”

“………….” saya pun diam membisu, sambil bicara dalam hati “Yah, Ma, telat banget deh marahinnya. Dah sering kaleee.”

Saya yang tak mendapatkan alasan bahwa larangan itu masuk akal (jika dibandingkan dengan kemampuan saya untuk jaga diri), maka saya pun tak repot untuk urusan yang satu itu. Apalagi semakin beranjak dewasa (*Haallaaagggghh*), saya sudah semakin bisa memisahkan mana yang baik untuk saya lakukan mana yang tidak (*Hihihi, tapi tergantung godaan juga sih*). Bahkan beberapa kali saya sempat menginap di rumah teman saya yang laki-laki (*Cattteeett!! TEMEENN!!*).

Pertama kali, saat malam tahun baru 2003, saya dan teman-teman satu divisi merayakannya di salah satu rumah teman saya yang saat itu sudah menikah. Kedua, saat saya dan teman-teman kuliah terpaksa menginap di rumah teman saya, untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah keparat. Ketiga, akhir tahun lalu, saat saya dan tiga orang gila bermain kartu sampai pagi, dan kesanggupan fisik ini untuk berjalan ke rumah orang gila lainnya, sudah tak memungkinkan. Dan yang terakhir, awal tahun ini, saat saya terpaksa menginap, karena sesi curhat dan “rapat konspirasi” saya dan dua orang gila lainnya baru selesai jam 2 pagi, dan jarak antara rumah 2 orang gila itu (yang kebetulan saat itu masih berada dalam satu kompleks dan satu cluster) dengan rumah saya sungguh jauh…

“Eh elo nginep kan ‘Cha?”

“Liat ntar, kalo ntar ngobrol-ngobrol kita cepet, ya salah satu dari kalian nganter gue pulang lah ya. Jagorawi-JORR nanti maleman pasti dah sepi,” yang saya tahu persis pernyataan itu adalah pernyataan retoris.

“Dah lahh, ga usah pulang lu. Gue capekh nih, gak kesian lu ama gue yang perlu cerita-cerita.”

Dan ternyata benar. Duduk di ruang makan itu, berhadap-hadapan dengan jam dinding yang saat itu saya lihat sudah lebih dari jam 12.00 malam, rasanya tak mungkin salah satu dari mereka mengantarkan saya pulang, karena mereka esok harinya harus bekerja.

“Untung gue bawa baju. Ngobrol ama kalian ga pernah sebentar.”

Jam dinding yang sudah menunjukkan angka 02.00, terpaksa menyudahi obrolan kami saat itu…

“Dah, si Ocha nginep rumah kamu aja ya, kalo nginep sini ga aman dia,” ucap salah satu orang gila yang rumahnya kami jadikan tempat “rapat konspirasi”.

“I know, di sini gue ga bakal selamet,” saya menimpali ucapan tadi sambil bercanda, yang dilanjutkan dengan ucapan “Tapi di rumah lu gue tidur mana? Kamar lu kan atu lagi jadi gudang,” sembari melihat ke arah orang gila lainnya.

“Di kamar bawah aja, bertiga ama anak gue,” dan kalimat itu membuat saya sedih, karena biasanya kalau saya menginap di sana, kami tidur berempat di kamar yang sama. Tapi saat itu, satu orang (yang gila juga) sedang tidak bisa berada di sana, karena sedang dirawat di rumah sakit.

“Okay. Jadinya gue bisa slamet pulang besok, daripada kalo di sini,” sambil saya menjulurkan lidah ke arah si gila satunya.

(*Geeezzz…sekitar gue isinya orang gila semua ternyata. Termasuk gue sih sepertinyah.*)

Anyway…setelah menjabarkan cerita penting sampai cerita colongan yang benang merahnya jauh dari inti cerita, saya hanya ingin katakan bahwa, kadang hal-hal yang dianggap tabu untuk dilakukan, itu tidak begitu adanya, tidak perlu dianggap sebagai hal yang tabu. Tidak ada yang salah untuk perempuan bertandang ke rumah teman laki-laki, atau bahkan ke rumah pacar sekalipun.

Setelah saya pikir-pikir, mungkin ini semua berkaitan dengan adat Jawa konservatif. Perempuan harus pasif, nrimo, tak boleh nduluin, harus nunggu, bisa jadi buah cibir oleh orang yang melihatnya. But harrreee gggeeennneee? Who cares? At least I don’t, atau setidaknya setahu saya mereka yang saya datangi rumahnya tak berpikiran demikian.

Mungkin yang bisa dikatakan salah adalah kegiatan yang dilakukan di rumah tersebut. Kalau untuk urusan yang satu ini, mau bertandang ke rumah perempuan ataupun laki-laki, kalau melakukan kegiatan yang aneh-aneh, lalu tidak bisa bertanggung jawab, ya tetap salah.

Intinya, selama kita bisa jaga diri, ya tak masalah ‘kan ya? (*Ssssttt…sama satu lagi, main aman!* :lol:)

Dan untuk para orang tua apalagi yang produk jaman dulu banget, “Ya, kalo ngasi tau sesuatu itu pake alasan make sense gitu loh. Jangan cuma asal ga boleh. Trus hehehe larangan itu bisa jadi tantangan untuk si anak looo!”

Lalu, hmmm bukan sok menggurui, saya cuma pengen ngomong usahakan “Stay away from drugs and free sex.

Untuk urusan free sex itu, memang urusan masing-masing pada akhirnya, kalau memang sudah dipikirkan masak-masak dan akhirnya menjadi pilihan yang diambil untuk dilakukan sebelum menikah, ya stay save aja ya. Jangan sampai aborsi jadi pilihan dan penyakit aneh-aneh jadi teman hidup.

Beda Dulu, Beda Sekarang, Teman…

Friday, September 4th, 2009

Lagi-lagi saya menemui satu fenomena “keanehan” dalam hidup saya. Hmmm, kali ini bukan urusan percintaan, karena kalau masalah yang itu, tidak ada yang aneh, karena semua hal dalam kategori itu, saya anggap ‘aneh’ (*Hahahahahahah* :mrgreen:).

Kali ini urusan pertemanan.

Saya, manusia yang hanya mempunyai sedikit teman dekat, apalagi sahabat sepanjang zaman.

Bagi saya, teman dekat maknanya tidak sama dengan sahabat. Teman dekat bisa saya temui di setiap komunitas yang saya masuki, seperti sekolah, kampus, kantor, dan lain-lain. Dan makna teman dekat bagi saya, adalah teman yang biasa bepergian bersama, mengerjakan tugas/pekerjaan, dan teman untuk berbagi cerita-cerita-kecil-seru-seruan tentang kehidupan saya. Namun sahabat seumur hidup adalah seseorang yang tahu luar-dalem, dari urusan aib sampai cerita detil sepanjang hidup saya, dan adalah tempat saya ‘lari’ jika saya menemui masalah, dan saya pun juga dijadikan ‘tong sampah’ untuk dirinya. Dan berapa jumlah sahabat dalam hidup saya? Waduh hanya segelintir, semua jari saya di satu tangan pun tak habis terangkat jika menghitung jumlahnya ini.

Jika membicarakan tentang teman dekat, dari saya berpindah-pindah tempat aktivitas, terutama sekolah, dan kampus, saya menemui satu kesamaan pola…

Saat reunian SMP…

“Woiiiiii…buset looo apa kabar…ya ampun…makin cungkring ajah. Masih belom dapet laki genah juga loh?”

“Byengsyek lu yeee…elo tuch perut dah buncit kayak oom-oom. Import balik lu ke tempat kerja lu terakhir gih.”

atau kejadian di suatu siang di jendela YM…

“Dulu ‘kan kita 3 taon ga pernah sekelas ya.”

“Dah ga sekelas, ga pernah ngomong sedikit pun selama itu pulakh. Sekarang kerjaannya ceng-cengan di YM, di milis lah. Bikin rusuh tret. Haaalllaaagghhh.”

atau kejadian di sebuah restoran Jepang…

“Kita kuliah dulu kan jarang ngomong ya bouw?”

“Hooh…masih sama-sama di alam lain kita.”

atau di sebuah kotak pesan di situs jejaring sosial…

“Jieeehh…akrab nih sekarang.”

“Ternyata enak kok ngomong sama dia. Diskusi dari hal aneh ajaib sampe yang normal.”

Do you see the similarities from three examples above?

Teman yang dulu jarang atau bahkan tidak pernah bicara dengan kita, padahal kita beraktivitas di sebuah komunitas yang sama, malahan sekarang menjadi teman yang ternyata sering kita ajak bicara dan berinteraksi.

Dan bandingkan dengan contoh di bawah ini…

“Eh, Cha, si siapa temen main lu dulu? Mana?”

“Hehehehe, ga tau, ngilang, dah kedengeran kabarnya lagi. Terakhir gue ketemu ya cuma hai-hai ajah ga ngobrol lama.”

atau…

“Si Rini mana ‘Cha?” (*Were you talking to yourself ‘Cha? Hahahahha*)

“Gak tau.”

“Kabarnya?”

“Ga tau.”

“Terus kerja di mana sekarang?”

“Yang gue tau tempat kerjanya dia yang lama, dan kayaknya dah pindah.”

“Dah punya anak?”

“Ga tau.”

Beda ‘kan? Dua contoh yang belakangan ini adalah contoh dari sebuah relasi yang sepertinya sudah tidak terbina dengan baik.

Hmmm…kenapa ya kejadian seperti itu bisa terjadi?

My own opinion, for the first three cases above…simply we could not see that person with our heart. Kita tidak memberi kesempatan untuk diri kita sendiri dekat dengan orang tersebut, walaupun saat itu, jarak antara kita dan orang itu tidak terlalu jauh, bahkan melakukan aktivitas yang bisa dikatakan kurang lebih sama.

Dan untuk dua kasus terakhir, it is simply we don’t put extra effort to maintain beautiful relationship we had in the past. Why?

Maybe you should ask yourself to find the answer!?

Yes, You Can Shine, My Dear…

Friday, August 14th, 2009

“Rosa pa kabar?”

Duuuhhh, ini dia nih, saya tahu persis, siapa yang menyapa saya melalui media chatting di FB, yaitu kalau bukan keluarga, teman semasa SD, atau teman semasa SMP yang saat SMA sudah sangat jarang kontak dengan saya.

“Baik.”

Dan pasti pertanyaan selanjutnya adalah…

“Masih inget gue ga?”

Nah ‘kan, pertanyaan yang ng…sering membuat saya bingung menjawabnya. Menjawab dengan kejujuran atau menjawab dengan kebohongan yang bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri.

Namun saya sudah lama sekali sering menjawab dengan sangat jujur (*Ahhh biarlah orang mau mikir apa tentang saya, dah kebanyakan hal yang bikin saya pusing, jangan bikin tambah pusing*). Sama seperti saat ditanya oleh teman saya yang saya maksud di tulisan saya ini.

“Hehehehe, sorry gue gak inget. Mungkin kalo gue liat muka baru inget.”

(*Walopun kadang juga ngga ngaruh sih*)

Namun kali ini, jawabannya yang membuat saya kaget. Benar-benar kaget.

“Iya, gue emang ga cantik kayak elo, atau temen-temen dulu yang cantik kayak elo, gue emang jelek, jadi dilupain.”

Sumpah, saya kaget setengah mati. Duh, untuk teman saya yang saya maksud di tulisan ini, maaf sekali ya, tapi kira-kira seperti inilah pikiran yang pertama kali muncul di otak saya…

“Yah kok cetek amat pikirannya, langsung negative thinking gituh.”

Saya pun berusaha menetralisir suasana…

“Iya, nginget nama orang itu salah satu kelemahan gue. Jangankan temen yang udah belasan tahun ga ketemu, lah yang satu angkatan pas kuliah aja, gue sering ga inget. Btw tiap perempuan itu cantik kok.”

(*Buat temen-temen gue di luar sana, maap ya RAM otak manusia ga bisa ditambah ‘kan ya? Jadi kalo saya lupa, tolong dimaklumi*)

“Tapi kalo dah ga ada bakatnya cantik, ya tetep ga cantik Sa.”

Dududuh, kalau sudah begini caranya, saya benar-benar menjura pada para mentor “jahanam” dan “keji” yang mendidik saya selama bertahun-tahun untuk bisa keluar dari diri Rufina Anastasia Rosarini yang lama.

Me? Dulu? Saya saja pusing dengan diri saya sendiri yang dulu, apalagi mereka yang berhadapan dengan saya. I used to be a very insecure girl dengan tingkat arogansi yang sangat tinggi, yang selalu harus dipenuhi segala keinginannya, dan bisa melakukan apapun jika keinginannya tak terwujud; belum lagi ditambah dengan segala pikiran negatif yang menari-nari di otak.

Latihan tahunan itu memang tak pernah mudah. Tak hanya satu atau dua kali saya menerima “tamparan” dari mereka. “Tamparan” yang akhirnya membuat saya berkata ke diri sendiri “Bangun! Elo ga idup ndirian”. Dan saya sendiri baru merasa lulus semua latihan itu, pada akhir tahun lalu (*Hmmm, 8 taon?*). Level lengkap.

Don’t you know, one of my mentors, told me this…

“You’re not a princess ‘Cha!”

Dan dalam hati…

“Brengsek, ketampol gue.”

Atau…

“Kenapa sih, kamu susah banget ngakuin kamu salah, padahal I know that inside your heart, elo tau elo salah. Tinggal bilang yes that is my faults, and am so sorry. Selesai ‘kan?”

Atau salah satu pembelajaran darinya…

“Kalau elo ngasih kado ulang taun ke seseorang. Apa yang elo harapkan dari dia? Yang penting dia make barang yang elo kasih, atau dia suka terus dia make? Trus kalo dia ternyata ga suka terus dia ga make, elo bakal gimana? Nanyain ke orang itu, kok ga make, kok elo ga suka kado dari gue? Hei kalo dia ampe ga suka ya jangan ngomel ke orangnya dong, elo mesti liat ke diri loe juga kenapa dia ampe ga suka and kado loe jadi ga berguna, jangan langsung serta merta bilang kalo tuch orang ga sayang lah ama elo, ga menghargai elo, trus jadi ngambek. Biasanya cewek-cewek gitu tuh kalo ngasih kado ke pacarnya, padahal pacarnya ternyata ga suka.”

Intinya apa yang mereka ajarkan pada saya adalah meminimalisir pikiran negatif. Pikiran negatif memang tetap perlu, tapi hanya sebatas untuk melakukan antisipasi pencegahan dan membuat contigency plan tindakan yang diperlukan.

Dan hei, itu semua harus dimulai dari hal kecil. Misalnya jika memakai kasus perbincangan saya dengan si teman, daripada berpikiran seperti apa yang teman saya pikirkan itu, mungkin akan lebih baik jika seperti…

“Iya ya Sa, kita ‘kan dah lama banget ilang kontak, dan ga ketemu, susah juga ya nginget-ngingetnya.”

atau…

“Temen kita khan banyak ya, mungkin aja ‘kan lupa.”

atau…

“So that’s your weakness ya Sa, remembering someone’s name.”

Terus terang hei si teman saya itu, jawaban kamu yang seperti itu, sempat menimbulkan pikiran bahwa kamu merasa insecure. Ya, mungkin saja saya salah berpikiran demikian, tapi ya memang begitulah pikiran saya saat itu. Maaf ya, maaf sekali. Dan terus terang saat itu saya lupa untuk berpikir, bahwa kamu sedang bercanda mengatakan itu :D…mudah-mudahan memang bercanda ya (*Tapi ma kasih loe gue dibilang cantik, haaallaagg tetep narsis*).

Jadi ingat satu kiriman bahan presentasi dari mentor saya yang paling “jahanam” nan “brengsek”, yang melengkapi proses pembelajaran saya selama ini (*Sayang, presentasinya yang dikirimkan ke saya hilang dari file di laptop*), tapi saya masih ingat betul isinya…

Kamu tahu gambar pacman ‘kan? Seharusnya berupa lingkaran penuh, tapi ini ada irisan di lingkaran itu yang hilang, sehingga ia tak bisa dikatakan sebagai lingkaran sempurna. Dan hobi si pacman ini adalah mengatupkan sisi lingkaran yang terpotong tadi, sehingga menyerupai orang yang sedang berbicara.

Cerita di presentasi itu, si pacman ini sedang berjalan mencari irisannya yang hilang. Di tengah jalan ia menemukan sebuah irisan, dan ia coba mencocokkan irisan itu dengan bagian tubuhnya yang hilang, ternyata irisan itu terlalu besar untuknya, sehingga tidak pas. Ia pun melepaskan irisan itu dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan, ia menemukan irisan lainnya, dan kembali ia mencoba mencocokkan dengannya. Ternyata irisan yang ia temukan kali ini terlalu kecil, sehingga ia pun harus melepaskannya dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan berikutnya, ia kembali menemukan sebuah irisan lain. Dan ternyata kali ini pas dan cocok. Ia tak ingin melepaskannya kali ini. Namun apa yang kemudian ia rasakan setelah menemukan bagian yang selama ini hilang dan dirasa cocok olehnya? Ia tak bisa bergerak leluasa, tak bisa lagi mengatupkan kedua “bibir”nya, tak bisa “bicara” dan “bernyanyi”. Akhirnya ia pun kembali melepaskan bagian yang tadinya ia rasa cocok dengannya.

Dan mungkin ia berpikir…just enjoy every little thing in your life, even that’s imperfect.

Me? Now? My God…change a lot…

Saya jauh lebih sabar daripada dulu (*Ya udah ngomel dulu ga papa, nanti kalo dah reda kita ngomong baik-baik ya*).

Saya jauh lebih bisa mengerti orang lain, karena saya yakin bahwa orang melakukan sesuatu karena ada alasannya (*Ya iyalah, kalo elo ga bisa ngertiin orang lain, percuma lo masuk psikologi*).

Kalau keinginan saya tidak dapat terwujud, tidak serta merta langsung ngomel, marah, tapi saya berusaha untuk mencari jalan lain untuk bisa mewujudkannya (*Misalnya ga dapet tiket nonton bioskop yang siang, ya susah amat tinggal nyari yang malem ‘kan, sambil nunggu bisa ngapain dulu*).

Tak lagi repot dengan printilan yang bikin tambah pusink dan bikin repot (*Nih contohnya…”Maaf ya Sa, kemarin koneksi internet gue keputus and ceting ama elo keputus juga, bukan ga sopan loh”, dan saya…”Haalllaagghh kayak gitu doank, iya gue pun juga dah mikir kayak gitu kemaren, orang gue ditinggal seseorang ketiduran pas ceting ama gue aja pernah dan gue ga ngomel kok*).

Ya kurang lebih begitu lah beberapa hal yang saya anggap sebagai achievements dan apresiasi ke diri sendiri, walaupun saya tahu, saya masih sering menyebalkan dari omongan saya, dari tulisan-tulisan saya, tingkah laku saya, tapi percaya deh, itu semua sudah dengan analisa ini-itu baru saya menghasilkan apa yang terlihat, terdengar dan diketahui oleh kalian. Jadi kalau pun masih menyakiti kalian, so sorry, coz I’m still human and still imperfect, yet I really like being different from others.

Jadi ingat sebuah video iklan sebuah produk perawatan rambut, yang dibuat di Thailand.

Yes my friend, you can shine.

Just think positive, minimize life burden, and enjoy every little thing you do and you have in your journey. Even you’re imperfect and different from others.

To Karin Taramiranti, Rully Hariwinata, Yudha Ketaren, and one person I can not mention here, yang membuat perjalanan pembelajaran saya menjadi lengkap, yang saat ini sedang membenamkan dirinya dari keramaian dunia, yang saya tahu persis bahwa ia mempunyai alasan yang sangat kuat untuk melakukan itu, from the bottom of heart, my big thanks to you all, you’re my brothers, sister, mentors, best friends and my love. I love you full!!!!

—-

I’m gonna stay gold, just like a ray of sun light in our mornings. No matter what.