Posts Tagged ‘Ngantor’

HRD Gue…

Thursday, November 26th, 2009

Satu hal lagi yang gue suka dari musim hujan…bisa mengeluarkan koleksi baju dan perangkat fesyen “fall-winter collection” yang gue punya.

Kebetulan kemaren, pagi-pagi mau berangkat ngantor masih hujan. Berhubung gue tetep harus berangkat sebelum jam 6 pagi, jadi pasti udara masih dingin lah. Seperti biasa urusan outfit ngantor ini adalah hal penting untuk gue, karena apa yang gue pake bisa berpengaruh sama urusan mood kerja…hahaha…dan kemaren, outfit yang gue pilih, gue sesuaiin ama cuaca, prediksi mood kerja, dan prediksi AC kantor n floor (store) yang ngga ujan aja, udah dingin mampus.

Alhasil gue pake salah satu koleksi Mango Suit…si sack dress wol, tanpa lengan, warna abu-abu, kaos turtle neck ZARA warna item, winter stocking Marks & Spencer, plus syal biru United Colors Of Benetton, dan lengkap dengan jaket U2 item gue untuk berangkat n pulang. Berangkat kantor masih make sepatu teplek M)Phosis, tapi begitu sampe toko, mau kata harus muter-muter toko yang gede itu, teteup high heels Pretty Fit ditampilin.

Begitu masuk back office…biasa komentar anak-anak yang super spontan itu mulai terlontar…

Komen 1…

“Oow, oow, Bu Ocha lucu deh.”

“Mang gue tiap hari lucu.”

“Iya, tapi saya paling suka yang sekarang.”

Komen 2…

“Wahhh si ibu modis amat.”

Komen 3…

“Ibu cantik amat sih.”

“Saya emang cantik dari dulu…hahahaha.” (*sambil ketawa narsis*)

Komen 4…

(*Pas ke floor*)

“Bu sumpah, ibu cantik berat. Kita seneng punya HRD cantik, beritanya dah kesebar ke toko lain.”

“Eh, kalian gosipin saya?”

“Ngga, Bu, kita kan bangga. Trus kapan gituh ada HRD toko lain mampir ke toko temen saya itu, tiba-tiba temen saya telepon nanyain, eh yang dateng ke toko gue sekarang ini HRD tempat lu bukan ya yang kata loe cantik itu, yang badannya gini, gini, gitu? Saya jawab bukan, ibu gue langsing, gini, gini, gitu. Ibu tuch jadi rebutan toko.”

Komen 5…

“Eh kamu bentar lagi ulang taun kan…makan-makan kita?”

“Makan catering aja ya, Bu.”

“Ih seneng deh punya HRD perhatian terus cantik.”

“Kamu, boleh muji tapi ntar jangan sering riwil ke saya yah.”

Komen 6…

(*Di depan ruang gue*)

“Heh, kamu ngapain bengong liatin saya?”

“Ngga Bu, Ibu kok cantik banget hari ini, kayak artis. Pake lagi dong Bu kacamatanya. Biar tambah gaya.”

“Pegel taukh pake kacamata terus.”

Komen 7…

“Duh seksi banget.” (*sambil ngangkat 2 jempol*)

“Thank you.”

Komen 8…

(*Di depan ruang gue*)

“Mak, Mak, boleh jujur ga?”

“Apa?”

“Sumpah Mak, Emak cantik banget.”

Komen 9…

“Kayak baju-baju luar negeri gitu loh, Bu, bajunya ibu sekarang.”

Komen 10…

“Bunda, lucu banget sih.”

Terus terang nih, gue pake baju kayak gitu, juga karena gue kedinginan pas berangkat. Dan prediksi gue tepat, karena kantor n floor dinginnya tambah mampus gila gara-gara ujan.

Tapi beneran loh, urusan outfit menyenangkan yang gue pilih kemaren sangat membantu naikkin mood gue. Apalagi kemaren ternyata gue dapet berita sedih, gue bulan depan dimutasi pindah store, yang padahal ama store yang ini gue dah jatuh cinta banget; gue harus ngurus 1 orang yang…(*ya begitu deh*); terus lagi ada rekrutmen puluhan orang; terus dah mau pulang setengah 7, ada kasus 2 anak lainnya; dah mau pulang lagi, gue ngga tega ada 1 anak lagi, yang menurut gue, butuh diajak ngobrol n mumpung sempet, akhirnya gue panggil dia terus gue ajak ngobrol.

Eh, komennya nambah ternyata di tengah-tengah obrolan gue ama anak gue…

“Kamu umur berapa sih?”

“25, Bu, lebih tua saya kan daripada Ibu?”

“Hah, apa? Bentar, kamu nebak saya umur berapa?”

“23-24!”

“Alhamdulilah, Hallelujah, Praise The Lord.”

“Emang Ibu umur berapa? Dari dandannya ga keliatan, Bu.”

…gue pun nyebutin umur gue…

“Ibu boong. Saya ngobrol ama anak-anak lain, eh itu emak lu yang baru yah? Masih kecil kayaknya, masih muda banget. Iya, paling 23-24.”

Dan akhirnya gue nengok ke arah jam tangan…

“Njrit, jam 9 lewat. 12 jam lebih di store. Harus pulang. Bisa-bisa gue nginep di sini.”

Sumpah, capekhnya gue itu sama sekali ga berasa…karena sudah hampir sebulan di sini, gue belom pernah capekh hati, walau capekh fisik mayan sih. Tapi prinsip gue kalo cuma capekh fisik mah, bisa ilang ama tidur, tapi kalo capekh hati, malah bikin ga bisa tidur. Jadi urusan naikkin mood, buat kerja lebih enak, kayaknya membantu banget tuch, salah satunya dengan outfit yang dipilih. Ya gak?

—-

“Sumpah, gue lagi pengen nyampah, lagi pengen super narsis, lagi pengen nulis n ngomong pake elo-gue, capekh pake saya-kamu terus di kantor, walau ada beberapa anak gue yang dah berani keceplosan beberapa kali nyebut diri mereka sendiri dengan-gue, dan gue ga terlalu mempermasalahkan, asal jangan ampe ngelunjak.”

Berpacu Dengan Adrenalin…(Puisi Singkat #7)

Monday, November 9th, 2009

Aku berpacu dengan adrenalin…
Berlari mengejar mimpi…
Tergopoh-gopoh meniti anak tangga…
Yang masih harus terus ku susun…
Tuk capai rumah Ilahi…
Dan capai cinta dari segala cinta…

Kantor, 8 November 2009

Masih Sibuk…

Thursday, November 5th, 2009

This is what I call as WORKING…

Saya harus sibuk dan tidak terus-menerus melihat ke arah jam menunggu waktu jam kerja berakhir. Intinya kalau saya magabut, ya lebih baik saya di rumah leyeh-leyeh.

Dengan kurang lebih total 300 orang yang harus saya tangani, durasi kerja yang ditentukan dalam satu hari sama sekali tak terasa…

“Bu, kok nama saya ngga ada di daftar catering, saya lupa tadi saya absen finger atau ngga.”

“Bu, minta form izin pulang, saya sakit.”

“Bu, maaf saya terlambat, ban motor saya kempes.”

“Ada obat flu ga Bu, idung saya meler.”

Berkali-kali menyebabkan saya harus menarik kembali tangan saya dari atas keyboard komputer, untuk menanggapi mereka.

Terlihat memang printilan dan sepele, dan ini baru berjalan 4 hari dan masih menghadapi dengan urusan administrasi dasar, belum ke tahap pengambilan keputusan yang pastinya lebih njlimet, tapi benar-benar itu semua sangat menyenangkan. Really it does.

—-

Mungkin banyak orang yang berpikiraan bahwa untuk bisa menjadi HR Generalist, sebaiknya bekerja terlebih dahulu di sebuah HR Consultant, tapi di tempat saya bekerja saat ini, benar-benar sebuah kawah candra di muka untuk dapat menjadikan dirimu sebagai HR Generalist, karena sebagai HR Store, you have to handle from A to Z  HR thingy for your store.

—-

Once more, THANK MY ALMIGHTY!!! Love You so much for giving me this job, walau ya walau jauhnya nih kantor dari rumah gue biadab banget. :lol:

All I wanna do now is to stay gold, by doing my best for God.

Maaf, Saya Sibuk… :p

Monday, November 2nd, 2009

Saya sudah resmi pindah kerja di tempat baru. Dan beginilah respon-respon yang tadi saya keluarkan…

“Yak, no twitter, no YM, no FB, apalagi sempet blogging?”

“What…total 300 orang yang harus diurus?”

“He? 25000 M2? The biggest in Indo.”

Dan dalam hati saya…

“Thank God…anak tangga yang dikasih ke gue sama Elo kali ini ga main-main, dahsyat. Mereka sebegitu percayanya ke gue. Gue anak kemaren sore di HR, langsung dipercaya tempat segede gini dan sendirian? Damn! You rock ‘Cha!!”

“Errr…mau kate internet dibuka lebar and ndak fakir bandwidth pun kagak kesentuh juga kaaallleee…kalo kerja macem ginih. Über Twitter aja ya ga diliat ampe sore gituh. Yay…workaholic gue ternyata masih mendarah daging.”

—-

“Eh jadi inget manusia tembok, merangkap beruang kutub…sekarang kita bisa saingan ya Sayang, kerja gila-gilaannya. Yuk marriii…”

—-

“Wish me luck, My Friend…really need that!”

Jadi Ikan Kecil atau Jadi Ikan Gede?…

Tuesday, October 27th, 2009

Errrr…saya memang bukanlah orang yang sangat mampu dan kompeten sekelas Rene Suhardono untuk memberikan career coach, tapi tak tahu mengapa saya sempat beberapa kali ditanyai beberapa teman tentang masalah pekerjaan mereka. Ada yang tidak betah kerja dengan atasannya, ada yang bingung kira-kira mau ambil tawaran kerja yang mana, atau kira-kira ide apa yang bisa diberikan ke perusahaannya atas pekerjaan yang diberikan kepada teman saya ini. Ya, kok ndelalah masukan saya itu ternyata selama ini Puji Tuhan bermanfaat bagi mereka.

Dan kali ini saya ingin berbagi pengalaman apa perbedaan yang saya rasakan bekerja di sebuah perusahaan besar, dan pengalaman bekerja di perusahaan kecil. Mudah-mudahan kali ini pun pengalaman saya akan bermanfaat bagi yang membaca.

Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya sejak lama, pastinya sudah mengetahui sedikit perjalanan jenjang pendidikan dan juga pekerjaan-pekerjaan yang pernah saya jalani, yang berarti pula sudah tahu di mana dulu saya bekerja. Tapi untuk yang belum tahu, dulu sebelum saya memutuskan untuk kembali kuliah dan mengambil major yang berbeda yaitu di Fakultas Psikologi (Agustus 2004-Februari 2009), saya sempat bekerja di salah satu bank swasta nasional yang sempat menduduki posisi bank non pemerintah yang memiliki aset paling besar beberapa tahun lalu (mungkin sampai sekarang).

Tak tahu mengapa, dari hari pertama saya masuk kerja di kantor ini, saya sudah merasa cukup nyaman dengan lingkungan kerjanya. Menurut saya, saya tidak perlu terlalu banyak melakukan adaptasi dengan kantor baru yang satu ini.

Saya, termasuk orang yang cukup concern dengan urusan printilan tempat kerja, karena hal itu berperan penting dalam “menempatkan” mood saya saat bekerja nantinya. Karena perusahaan tempat saya bekerja dulu adalah perusahaan yang sudah sangat mapan, maka pastilah urusan cubicle, jaringan telepon, jaringan intra dan internet (walau tetap dibatasi), dan fasilitas penunjang bekerja juga sudah ada. Tinggal memintanya sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Kemapanan seperti itu juga tidak hanya berlaku untuk urusan fasilitas/alat-alat penunjang kantor, tapi juga masalah segala prosedur, struktur organisasi, tata cara bekerja, standarisasi ini-itu, semua sudah ada. Istilahnya, kita para karyawan most likely tinggal melihat ke panduan atau Standard Operational Procedure yang berlaku. Misalnya kita ingin mengajukan permohonan penambahan karyawan, formulir-formulir yang harus diisi apa saja, harus dibubuhi tanda tangan pejabat-pejabat siapa saja, harus ke divisi-divisi mana saja, sampai bagaimana proses pemanggilan si calon karyawan; atau misalnya untuk sebuah peluncuran produk, dari produk itu tercetus hingga hari H produk itu diluncurkan ke pasar, harus menjalani proses A sampai Z yang bagaimana.

Masih ada satu hal lagi yang menurut saya bisa dikategorikan sebagai sebuah kemapanan bekerja di perusahaan besar, yaitu urusan printilan kesejahteraan karyawan. Ah, kebetulan tempat saya bekerja pertama kali itu, urusan kesejahteraan karyawan bisa dikatakan terjamin. Dari urusan jenjang karir dan syarat-syarat untuk mencapainya sudah diatur dengan sangat-sangat-sangat jelas, kita tinggal atur strategi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, jika mengincar suatu posisi. Dan bicara tentang karir dan jabatan, urusan di balik ini semua, pasti juga sudah diatur. Apalagi kalau bukan masalah gaji, kompensasi dan benefit untuk setiap tingkatan jabatan sudah ditentukan dengan jelas.

Ya, tapi bukan berarti bekerja di perusahaan besar itu sudah pasti akan selalu enak dan menyenangkan loo ya, karena di perusahaan besar berarti kita adalah seekor ikan kecil yang berada di kolam besar. Yang berarti pula kalau kita tidak kinclong dengan ide dan prestasi yang luar biasa “indah”nya bisa jadi kemampuan kita tidak kelihatan, dan apresiasi pada kita juga menjadi tidak setimpal. Dan bagaimana agar kita menjadi bersinar di antara banyaknya karyawan, juga bukan jalan yang mudah, karena persaingan antara satu karyawan dengan karyawan yang lainnya juga pasti ketat. Tak jarang malah ada “penjahat-penjahat” kecil yang suka MT alias “makan temen” sendiri.

Urusan prosedural yang sudah paten itu juga kadang membuat proses pekerjaan menjadi lebih lama (dan akan lebih terasa saat tenggat waktu sudah di depan mata) dan membuat kita berpikir dua kali untuk melakukan “kreativitas-kreativitas” tertentu, karena bisa-bisa hal itu akan dianggap menyalahi aturan main (misalnya saat ada audit internal maupun eksternal), walaupun hasil akhirnya tetap sesuai dengan target.

Dan untuk urusan jenjang karir yang sudah sangat jelas aturan mainnya itu, bisa juga menghambat karir seseorang. Loh kok bisa ‘Cha? Hal ini mungkin saja terjadi, misalnya pra-syarat seseorang untuk naik jabatan ke jenjang tertentu, minimal pendidikannya harus S1, dan ternyata yang bersangkutan belum menyandang gelar sarjana, tapi dari segi kemampuan, keterampilan dan penguasaan medan sudah memenuhi syarat orang tersebut untuk naik jabatan, namun karena peraturan, orang tersebut tidak diperbolehkan naik jabatan, dan jadilah ia terjebak di level yang sama tak tahu sampai kapan.

Nah, bagaimana kalau bekerja di perusahaan kecil? Kebetulan saya juga punya pengalaman untuk satu hal ini. Menjadi ikan agak besar di tempat yang kecil, otomatis kelihatan dong ya, dengan risiko yang kecil terkena imbas sikut-sikutan yang parah dari teman-teman sejawat lainnya. Malahan hubungan pertemanan lebih seperti hubungan keluarga. Satu sama lain bisa dekat, gap di antara mereka juga tak terlalu dirasakan.

Tapi perusahaan kecil itu biasanya merupakan perusahaan yang belum lama berdiri. Yang berarti pula, bisa dipastikan perusahaan ini belum ada apa-apanya. Belum ada peraturan ini-itu yang sudah paten dan standar, belum jelas jenjang karir, urusan kompensasi-benefit juga masih bisa sering berubah.

Jangan terlalu berharap jika kamu bingung dan menanyakan ke sesama rekan kerja pertanyaan ini misalnya “Abis ini surat ini dikasih ke mana?” ia akan dapat memberi jawaban dengan cepat, atau mungkin ia akan menjawab dengan jawaban “Errr…ga tau,” atau “Dulu sih ke dia, ga tau sekarang.”

Weeeiitttsss…tapi bukan berarti kebingungan-kebingungan dan hal-hal “ajaib” karena sistem prosedur yang belum jelas, bahkan belum ada itu lantas membuat kacau hidup kita lo. Karena di sini kreativitas-kreativitas kita diperbolehkan untuk diumbar. Misalnya kreativitas untuk membuat sistem prosedur yang sekiranya sesuai, dapat diterapkan di organisasi dan pada akhirnya akan membuat organisasi itu berkembang. Keren ‘kan ya kalau pada akhirnya organisasi bisa berkembang dan kita adalah bagian dari itu semua? Walaupun itu semua pasti perlu waktu, tenaga dan tidak mudah untuk mengubah angka 0, atau bahkan minus, bergerak naik hingga mencapai angka 100 misalnya. Apalagi, perubahan bukan semata pada diberlakukannya prosedur, tapi juga kesiapan, kemauan dan kesanggupan manusianya untuk berubah.

Panjang lebar omongan saya kali ini, intinya adalah mau bekerja di mana pun pasti ada sisi negatif dan positifnya, tinggal bagaimana kita bisa mengubah suatu yang negatif itu menjadi suatu yang lebih positif dan menjadikan kita bisa berkembang, walaupun, sekali lagi, itu tidak mudah.

Ya sudah, sekarang itu semua hanya sebuah pilihan. Apakah mau bekerja di perusahaan besar atau kecil. Yang jelas semuanya adalah pengalaman berharga.

—-

Eh, cerita pengalaman saya ini jangan dijadikan sebagai acuan pasti ya, tidak bisa digeneralisasikan untuk semua perusahaan/organisasi. Ini hanya pengalaman saya.

“Buka Online HR Consultant aja po gueh?” :lol: :mrgreen:

—-

“Untuk mereka, atasan, teman-teman, sub-ordinate saya di dua perusahaan yang saya maksud di atas, sekali lagi terima kasih untuk segala pengalaman berharga yang saya dapatkan. Dan untuk perusahaan yang sebentar lagi akan saya tinggalkan, terima kasih untuk mengizinkan saya menyusun satu anak tangga yang kembali dipercayakan Sang Alpha dan Omega pada saya kali ini.”