Posts Tagged ‘Ngantor’

Kakaknya Masuk Kelas…

Wednesday, November 30th, 2011

Seniority…What is in your mind if you hear that word?

Saya? Kata itu langsung membawa saya ke masa-masa zaman sekolah dulu. Terutama waktu saya SMA; saat saya harus memakai rok kotak-kotak kombinasi warna merah, hitam dan abu-abu dua hari dalam seminggu, berkauskaki setinggi lutut, dan tidak pernah disuguhi pemandangan murid laki-laki di dalam kelas, selama tiga tahun.

Enam hari pertama berada di sekolah itu, saya dan teman-teman seangkatan, wajib mengikuti masa orientasi sekolah. Masa pengenalan lingkungan sekolah untuk murid baru; termasuk pengenalan ‘budaya’nya. Salah satunya adalah ‘budaya’ senioritas yang saat itu masih sangat kental di sana.

Enam hari penuh teriakan yang terlontar dari mulut kakak-kakak kelas, dan disuguhi wajah-wajah jutek dari mereka, adalah pengalaman yang tak mungkin saya, lupakan.

“Nunduk! Matanya jangan belanjaaa!! Gak ada cowok di sini!”

“Kakaknya masuk kelas! Mana hormatnya!”

Penderitaan ternyata belum berakhir. Tidak hanya enam hari pertama harus saya lalui dengan orientasi yang satu itu. Masih berlanjut saat saya mendaftar ke salah satu kegiatan ekstra kurikuler, yang saat itu memang diwajibkan untuk siswa kelas 1. Saya dan teman-teman lain wajib kenal semua kakak kelas, terutama pengurus kegiatan ekstra kurikuler tersebut. Bagaimana caranya? Kami diwajibkan untuk mendapatkan semua tandatangan dari kakak kelas pengurus. Dan untuk mendapatkan tandatangan mereka, pasti tidak dengan cuma-cuma. Kami diminta melakukan sesuatu, baru mereka mau memberikan tandatangan di buku kami, dan di masa periode buku itu pasti diperiksa.

Sudah selesai sampai di situ? Hohohoh…tentu tidak. Ternyata urusan gencet-gencetan adik kelas, walau paling minimal hanya melalui tatap mata, dan pandangan jutek, masih berlanjut hingga di tahun kedua saya sekolah di sana. Dengan kata lain, sampai saya berada di kelas 3, menduduki singgasana tahta paling senior di sekolah, barulah saya terbebas dari rasa tidak nyaman karena senioritas.

Lucu kalau diingat; waktu saya kelas 1 SMA, saya paling malas jajan di kantin, karena malas urusan dengan senior, walau cuma disuruh membelikan makanan/minuman di kantin. Atau saat segerombolan kakak kelas itu berjalan melewati deretan kelas kami, serentak kami yang sedang duduk-duduk di depan kelas, memutuskan untuk langsung ngacir masuk ke kelas.

Tapi itu dulu, saat sekolah. Bagaimana kalau sekarang di tempat kerja? Masih perlu ga sih senioritas, apalagi yang bertujuan intimidasi dan menunjukkan kuasa ke rekan kerja yang lebih belakangan bergabung di perusahaan itu atau ke rekan kerja yang mempunyai posisi lebih junior?

Nyemplung di dunia perhelatan HR, saya pasti pernah menemukan tingkah laku-tingkah laku ‘ajaib’ mereka yang ada di sekitar saya bekerja. Though, sometimes, somehow tingkah saya pun dianggap ‘ajaib’ oleh mereka.

Senioritas di tempat kerja tentu perlu, terutama senioritas dari segi hirarki pemberi arahan/struktur organisasi. Akan tetapi kalau hal itu sudah melenceng ke arah untuk mengintimidasi/menunjukkan kuasa atas seseorang, apalagi jika orang itu berpikir juga bahwa ia lebih senior jika dilihat dari lamanya bekerja di tempat itu./dilihat dari segi usia. Kelar khan?

Yuukkk…mulai dilihat-lihat lagi, tingkah kita pernah bossy ga ke orang lain? Pernah ga kita berbicara dengan nada oktaf tinggi ke sekian kepada rekan kerja? Pernah ga kita menyuruh rekan kerja instead of meminta tolong? Pernah ga kita berbicara kasar ke rekan kerja? Pernah ga kita meminta orang lain untuk tidak menyalahi aturan, tapi kita sendiri sering menyalahi aturan dan jelas-jelas terlihat oleh orang banyak? *Yang sering dateng telat ke kantor, berarti ga boleh protes ya kalo orang lain telat, apalagi kalo udah telat terus tenggo, dilarang keras untuk protes…heheheh

Hhhmmm…kalau ditanya saya pernah melakukan itu semua atau tidak, saya akui, saya pernah melakukan itu. Tapi dulu, kalau sekarang pasti akan berpikir ratusan kali terlebih dahulu sebelum melakukannya, dan tentu keluarnya protes, adalah indikator bahwa sesuatu hal sudah keterlaluan menurut kacamata saya. :mrgreen:

Seburuk Itukah?…

Thursday, December 23rd, 2010

Human Resource atau Human Capital?…

Kira-kira apa ya, yang dipikirkan seseorang jika mendengar kata itu? Di bawah ini adalah respon atau tanggapan, mengenai dua kata itu, yang saya dapat dari orang lain dan yang berhasil saya rekam di otak saya, dari saat saya mulai bekerja, dan apalagi 2 tahun terakhir ini, memang saya menjadi salah satu manusia HR…

sucks…
harusnya khan pendekatannya lebih humanis ya…
kalo ga doyan admin, mendingan jangan…
semua berawal dari ngerjain dirty job…
kurang apresiatif…
nyebelin…
tukang ngatur orang lain, dirinya sendiri ga aturan…
HR khan cuma support, gajinya lebih kecil daripada bisnis…
mang gue HR? ga merasa gue…
HR ternyata ga gue banget…
gila, HR kok kulturnya gini ya…
jaim gila orang-orangnya…
public enemy…
pengen banget gue jadi HR, biar bisa tau gaji-gaji orang lain… *saran gue? mendingan jangan.. :mrgreen:*
ketunda promosi gara-gara hasil performance appraisal gue ilang…
bisa kerja ga sih mereka, lama banget…
kayak gini nih hasil rekrutan mereka, kayak beli kucing dalam karung…
yang direkrut kok ga tahan banting ya…
kenapa anak baru banyak yang cabut…
betah lu di situ?…
saya ini top managementnya HR, jadi saya lebih tau…
tembok gap-nya ketebelan cuy…
ga mingle…
terlalu belain manajemen daripada belain karyawan…
setelah pindah ke HR, gue malah merasa ini dunia gue banget…
confirmed, by myself, HR bukan gue…
HR tuh harus bisa jadi dirinya sendiri, ga belain karyawan, ga belain manajemen…
PA di tempat gue dulu lebih ada kejelasan penilaian, ga berdasarkan kita berhasil lick our boss’ ass atau ngga…
baru kali ini niy ada HR yang bisa nyatu ama anak buahnya…
office politics nya kok ya gede juga ya sesama HR…

Most likely responnya adalah respon negatif? Sedih ya?!

Saya merespon kembali tanggapan mereka? Jawabannya: Ho oh! Terutama jika memang saya sedang terlibat pembicaraan dengan mereka mengenai divisi yang dianggap ajaib, mungkin di hampir setiap perusahaan. Seperti yang terjadi hari ini saat makan siang saya bersama dengan dua teman, dan kami bertiga ditemani segelas bir leci *enak bouw!* Dua di antara kami bertiga adalah orang HR. Sayangnya, ketiganya bukanlah orang-orang yang memiliki volume suara yang kecil. Ga mungkin kami menertawakan sesuatu hanya dengan ngikik, pasti dengan ngakak

“Sssttt…jangan terlihat kita terlalu bahagia, nanti ada yang sirik!”

“Kapan lagi bouw…di kantor sekarang ga bisa niy gue ngakak kayak gini. Analoginya nih elo terpaksa jaim di kuburan!”

“Bentar-bentar…gue curiga kenapa elo ga ngambil cuti?”

“Modus operandi gue, di saat semua orang cuti, gue ngantor. Tapi saat orang lain ngantor, gue cuti! Lagi pula pending list gue banyak bok.”

“Elo bis ini ikut ke GI khan?”

“Gak lah, gue balik kantor.”

“Dah cabut ajah.”

“Preeeett…nyetanin gue lu ye. Lagi pula kemaren gue dah ke GI, and gue kere bis dari sana.”

“Eh kere itu dah default buat kita. Jadi ya sudah lah, sekalian!”

“Jadi kira-kira bakal bertahan berapa lama lu?”

“Iya loh…dah banyak tuch yang nanyain gue. Apalagi yang tau karakter gue kayak apaan. It’s about time juga sih untuk gue pindah.”

“Just like what I am going to do.”

“Kammpprrreeett…pantesan! Mau kemana lu?”

“Ke tempat yang saat ini sepertinya terlihat menawarkan sesuatu yang lebih baik. Masih di seputar dunia HR kok.”

—-

Errr…jadi apa ya tanggapan saya tentang HR? :mrgreen:

Btw…ada yang mau menanggapi atau memberikan komentar balik respon-respon tentang HR yang pernah saya dengar? Hayooo…para HR, jangan diem aja yah, kita ga gitu khan ya?

Hah? Berapa Lapis? Ribuan!…

Thursday, October 14th, 2010

“Susah ga sih menjadi seseorang yang berbeda?”

Pertanyaan itu pernah dilontarkan ke saya.

Jawaban saya? Susah-susah-gampang!

Pada dasarnya, saya percaya bahwa setiap manusia itu pasti berbeda. Mau mencari ke belahan dunia manapun tidak ada manusia yang dilahirkan, tumbuh, berkembang, mempunyai pengalaman, pikiran, karakteristik, sifat, status sosial, jabatan dan bentuk fisik yang sama persis.

Harusnya menjadi yang berbeda akan menjadi mudah, karena hal yang tadi itu, karena kita satu sama lain pasti berbeda.

Tapi bagaimana jika manusia-manusia yang berbeda satu sama yang lain itu pada akhirnya harus bertemu, berinteraksi, mempunyai hubungan tertentu, bekerjasama? Akankah menjadi hal yang mudah?

Weeiittsss…belum tentu sepertinya. Bisa mudah, tapi sepertinya lebih banyak sulitnya, alias membuat hidup tambah rempong!

Mungkin contoh kongkritnya, bisa kita lihat dari hasil observasi sehari-hari di tempat kita beraktivitas.

Let say, kantor! Pernah memperhatikan tidak situasi kantor seperti apa? Teman-teman kita bagaimana, ngapain aja? Pernah lah ya! Ga mungkin ga pernah.

Mungkin situasi atau budaya seperti yang saya ceritain di bawah ini, merupakan salah satu “cerita” kantor kalian…

“Cuy, nih baju bagus!”

“Kagak bisa dipake ke kantor yang model begituan!”

“Kantor lu kagak bisa, kantor gue mah bisa. Mau kutungan ngantor sih bisa-bisa aja!”

Bukan “cerita” kantor kamu? Mungkin yang ini…

“Jam kantor lu jam berapa?”

“Jam saat gue dateng di kantor dan saat gue pulang kantor.”

Masih bukan? Okay, kalo begitu, mungkin yang satu ini…

“Mana gue tau peraturan kayak begituan, gue khan bukan pegawai tetap.”

Atau yang ini?…

“Mana ada nih yang kayak beginian bisa di divisi gue. Satu baca buku novel, kadang buka partitur musik, buka situs gosip, bahkan jadi ikutan gosip, pesen-pesen tiket pesawat gratisan, terus-terusan memamahbiak.”

Yang ini?…

“Sumpah tuh perempuan BT-in banget, pengen gue sumpel tuh mulut. Berisik!”

Kalau yang ini?…

“Kemana sih tuch anak? Pacaran mulukh. Ini dah jam 8 padahal! Dah jam kerja!

Bukan juga?…

“Di kantor lain mah buka-buka facebook kagak mungkin. Ngubek-ngubek blog orang, or situs-situs aneh juga pasti di banned. Kalo gue malah disuruh, emang kerjaan gue kayak begitu.”

Satu lagi ah…

“Yang satu itu, mondar-mandir, biar keliatan sibuk, padahal nothing. Dan yang bilang kayak gitu juga dah ampe level direktur loh!”

Dan masih banyak lagi…si itu begitu lah, si bos anu ngapain lah, si anak buahnya itu nyebelin lah, yang satunya ga bisa kontrol emosi kalo lagi load kerjaan banyak…

Rempong?

Yupe!

Yang menyebabkan rempong itu apa ya? Dan siapa?

Kira-kira kita sendiri bukan? Hayyyooo…ngaku!! :mrgreen:

Kita dengan segala “keajaiban” masing-masing, ditambah dengan kebutuhan-kebutuhan khusus, seperti pelampiasan saat panic attack datang, kebutuhan diterima oleh lingkungan sekitar, kebutuhan untuk dapat di recognize oleh atasan, kebutuhan penyaluran hobi, kebutuhan menenangkan diri, kebutuhan merasa dihargai karena level jabatan yang disandang, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mungkin saat itu perlu dipenuhi dan hanya bisa dipenuhi dengan cara-cara tertentu, yang hanya diketahui oleh kita, apalagi alasan kenapa kita melakukan cara-cara tertentu itu.

Mudah?

Ho-oh!

Kalau kita berniat memakai “sepatu” mereka terlebih dahulu, mencoba melihat dengan “kacamata” mereka. Ngga enak? Pasti! Karena bukan punya kita sendiri! Bukan comfort zone kita.

Keluar dari comfort zone bukan hal mudah, bukan berarti ga bisa, tapi juga bukan berarti mereka akan menemukan comfort zone lainnya.

Gak susah loh ngasih sebentar atau sedikit comfort zone ke orang lain, stop judging and complaining *eh…itu menurut gue sih*

Lagi-lagi, saya tidak pernah bosan akan tulisan di bawah ini…

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

Dunia ini panggung sandiwara?

Totally agreed! Bahkan kalau perlu make seribu lapis topeng yang penuh basa-basi?

Ga capekh ya?

“Kalo elo ‘Cha?”

Beneran, nanya kalo gue gimana? Ga nyesel denger jawaban gue?
Kalimat retoris elo tanyain lagi ke gue! :mrgreen:

He Put Me Here…Heaven On Earth…

Wednesday, March 24th, 2010

Hah…So this is why He put me here…in this world…in this place…

—–

“Bu, sibuk ga?”

“Kenapa?”

“Mau cerita, bukan masalah kerjaan banget sih…”

bla…bla…bla…

Dan sesi konseling pun terjadi kurang lebih satu jam…

—-

Di sela-sela saya yang sedang sibuk berkutat dengan komputer seperti biasanya, dengan pintu ruangan yang terbuka, ada seseorang yang sedang berdiri menyandar di pintu ruangan saya…

“Enak ya, Bu, kerja-kerja, sambil dengerin musik-musik ginih.”

“Ehh…btw…saya denger tentang….*sencored :)* Gimana udah selese?”

“Ibu tau dari mana?”

“Ga penting saya tau dari mana, tapi dah beres khan ya?”

“Ibu tau dari mana?”

“Btw…dah berapa lama itu kejadiannya?”

Kalimat itu, saya keluarkan sembari saya tetap memandang layar komputer dan asik-asik mengetik…

Saya tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Yang membuat saya akhirnya menoleh ke arahnya, yang sekarang sudah berdiri, menyandar di tembok sisi sebelah kanan ruangan saya, sembari menatap ke saya, tak bisa berkata sepatah kata pun, dan jari telunjuknya menunjuk ke arah matanya…

Saya pun berdiri menuju pintu dan menutupnya…

Kembali konseling pun terjadi, kira-kira satu jam…

—-

Gubrag, gubrag…seseorang tergesa-gesa memasuki ruangan saya, sembari membawa beberapa helai tisu…

“Mom…duh…gimana ya ngomongnya…aku bingung mulai dari mana. Maaf kalo saya nyusahin.”

“Sama gue ajah ga usah bingung ngomongnya.”

Dan bla…bla…bla…

“Ma kasih ya Mom, aku dah lega. Ma kasih mau dengerin. Ma kasih Mom.”

“Ma kasih juga ya, you make my world more colorful, you make me just like me now…but still ya…keputusan terakhir di kamu, yang penting sekarang kamu dah liat sisi A, B, C, dan seterusnya. Kamu yang harus tentuin sendiri mana yang menurut kamu terbaik untuk kamu.”

—-

Akibat dari memberitahukan nomor ponsel ke semua orang di tempat kerja, membuat semua orang menjadi tahu nomor ponsel saya tentunya…

Dan ini salah satu dari pesan singkat yang saya terima dari mereka…

“Menurut saya, ibu tuh hrd paling top yg pernah saya temui! :-D

Saya pun membalas pesan singkat itu…

“Lebay mode: ON…anyway…every1 has his/her own way to approach others…and this is my way to get know all of you better and better every day…don’t care what ppl say about it behind my back, coz I can’t push them to like or dislike me, I play my own game, without forgetting rules I have to follow as my position rite now.”

—-

Dulu saat saya memutuskan untuk keluar dari comfort zone saya sebagai pegawai tetap bank swasta nasional yang top markotob ituh, untuk kuliah di Fakultas Psikologi, abang tertua saya bertanya ke saya…

“Elo ngambil Psikologi mau jadi HRD, Sa?”

“Ga! HRD tempat gue dulu nyebelin. Gue pengen ngambil psikologi konsumen.”

—-

Saat rapat “luar biasa” antar HR “seantero jagad” dengan para petinggi HR yang terhormat…

“Jadi HRD itu ga boleh begini, begini, begitu…termasuk ga boleh jatuh cinta ama satu kantor. Kalo pun logika ga bisa ngelawan hati, ya harus salah satu keluar.”

Dalam hati pun saya menjawab…

“Setuuuuuujjjuuuuhhh berat!!! Totally agreed! Tenang, Bu, logika saya bisa loading dengan canggih.”

—-

Saat saya menelepon ke HRD lain…

“Ibu yang satu ini kenapa adem-ayem, santai-santai?”

“Sebenernya sih rusuh juga, tapi kalo dipikirin rusuh ya makin rusuh. Semuanya dibuat senyum aja lah. Kalo salah tinggal ngaku, dimarahin wajar, namanya juga kerja, tinggal usaha ampe mampus dan senyum poll.”

Saat saya ditelepon oleh HRD lain…

“Cha elo dah baca?”

“Dah.”

“Itu gimana sih, bla…bla…bla…”

“Ya udah lah, toh muaranya di sana khan? Kalo diperpanjang malah tambah kasian anaknya. Daripada ribut cari-carian, kalo harus ngulang ya ngulang.”

“Jadi elo fine-fine aja?”

“Mau gimana lagi? Daripada kelamaan? Dah dibawa senyum aja yah.”

—-

Tak tahu apa karena kualat dengan omongan sendiri, atau hal lain, tapi akhirnya saya nyemplung di dunia HRD. Dunia penuh printilan detil administratif, dunia penuh detil peraturan ini-itu baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dunia yang penuh dengan ke-jaim-an bagi yang menjalaninya, dunia yang penuh dengan kode etik yang ternyata banyak yang tak berkode, dunia yang banyak dibenci oleh para karyawan di suatu perusahaan.

Tapi tak tahu mengapa, melihat dunia ini dari hari ke hari membuat saya semakin mencintai YANG NANGKRING DI ATAS SANA, karena sudah membuat saya berada di dunia ini…di tempat ini…

—-

Sepertinya…tulisan saya kali ini, sesuai lah ya kalau ditutup dengan lagu mantap, dari serial TV, Glee (Episode Wheels) *Again, Cha?*

Defying Gravity…that’s what I’m doing…

Something has changed within me
Something is not the same
I’m through with playing by the rules
Of someone else’s game
Too late for second-guessing
Too late to go back to sleep
It’s time to trust my instincts
Close my eyes: and leap!

It’s time to try
Defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
Kiss me goodbye
I am defying gravity
And you wont bring me down!

I’m through accepting limits
”Cause someone says they’re so”
Some things I cannot change
But till I try, I’ll never know!
Too long I’ve been afraid of
Losing love I guess I’ve lost
Well, if that’s love
It comes at much too high a cost!

I’d sooner buy
Defying gravity
Kiss me goodbye
I’m defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
And you wont bring me down!

I’d sooner buy
Defying gravity
Kiss me goodbye
I’m defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
And you won’t bring me down!
bring me down!
ohh ohhh ohhhh!

—-

*Errr…boleh ga ya ga pake audit? Hate it dari jaman baheula gue mulai ngantor!!!*

Perempuan Oh Perempuan…

Wednesday, December 16th, 2009

“Errrr…saya ini sekarang yang perempuan cuma hardware-nya, software-nya laki.”

Yupe…didikan dari “brengsek”nya dunia sekitar, membuat saya bukan seperti perempuan kebanyakan, atau setidaknya saya terlalu gengsi untuk memperlihatkan ke dunia.

“Kenapa sih loe cuma mau liat apa yang elo mau liat, mau denger cuma hal-hal yang elo mau denger, selalu pikir yang negatif, ngomel, cranky, dikit-dikit panik, stres, parno, insecure, super sensitif ga jelas, yang semuanya itu belom tentu kejadian.”

Ditampar? Jelas!

Tamparan-tamparan dan deraan-deraan semacam itu, sudah bertahun-tahun saya lalui, saya nikmati dan saya syukuri. Sumpah mati, kalau saya tidak mendapatkan itu semua, mampuslah saya, akan terus seperti perempuan kebanyakan, dan seperti sebagian kecil laki-laki tukang mrepet yang seperti perempuan.

Tak tahu mengapa, kebetulan sekali, saya bergaul dengan dan “digauli” oleh orang-orang “laknat” nan “brengsek” plus “keparat” yang dengan sukarela hati menciptakan satu mind set baru di seorang Ocha yang dulu adalah manusia super menyebalkan di segala seluk-beluk urusan ngomel, mrepet dan cranky, yang sepertinya sudah menjadi trademark perempuan kebanyakan.

Jangan dikira saya tidak nangis-nangis darah saat melalui itu semua! Tidak setengah mati menahan diri, mencoba berpikir sebelum mrepet, mencoba memakai “sepatu” orang lain, tidak menjadikan mrepet dan omelan sebagai sebuah solusi, yang pada akhirnya menjadikan saya mampu untuk mengucapkan “Yupe, itu salah saya, maaf ya, from deep inside my heart,” walaupun tetap ada masanya di mana saya kehilangan kemampuan itu semua.

Proses pembelajaran saya, memang dimulai dari hal-hal yang sepele dan sangat kecil…

1. Saat saya mengirimkan SMS, dan tidak ada balasan sama sekali dari yang bersangkutan…

“Emang kalo kamu SMS, harus langsung dibales? Terus melegalkan kamu untuk ngomel? Gak pernah mikir apa ya mungkin aja aku abis batere, abis pulsa, ga ada signal, lagi rapat. Ya mbok nanya dulu. Terus, harus ya gue jalan kemana bilang ama elo?”

2. Menunggu telepon dari seseorang…

“Bisa aja khan aku ampe rumah capekh, ga kuat lagi ngangkat telpon dan langsung tidur.”

dan sekian tahun kemudian…

“Itu aku sukanya dari kamu, kalo kamu dah nyoba sekali telepon terus ga diangkat, kamu ga rewel nelpon berkali-kali and mau nunggu ampe akunya ga sibuk trus baru telpon kamu.” (*Yayaya, coba elo ketemunya gue beberapa tahun sebelum itu, Mas, kalo telpon loe ga gue rewelin!!)

3. Di sebuah perbincangan (sepertinya hal ini sudah pernah saya tuliskan di cerita saya dulu)…

“Emangnya elo anak dewa yang apa-apa harus diturutin?” (*Njjjrrriiiiiiittttt!!!!!*) :mrgreen:

4. Lagi-lagi di sebuah perbincangan…

“Kamu cantik, tapi akan lebih cantik kalo seseorang ngeliat kamu cantik terus pinter, smart!!!”

…dan ke hal-hal yang sedikit lebih besar daripada hal-hal di atas…

5. Didera dosen dengan segala pertanyaan, saat saya ternyata harus presentasi materi kerja kelompok dan menjawab semua pertanyaan, seorang diri, tanpa ada anggota kelompok lain, yang hampir membuat saya kabur dari depan kelas, karena saya belum benar-benar siap dengan materi itu. Tapi karena hal ini, saya bisa presentasi dan menjawab seluruh pertanyaan dari dosen, untuk materi tugas kelompok yang berbeda, di lain kesempatan, tapi dengan siksaan yang sama, yaitu presentasi sendiri dan menjawab sendiri, tanpa ditemani. Dan pada akhirnya membawa saya menjadi asisten dosen di mata kuliah paling mengerikan di fakultas saya dulu, di semester berikutnya.

6. Mendapatkan omongan seperti ini dari sang dosen pembimbing (saat kurang dari 48 jam sebelum waktunya mengumpulkan skripsi)…

“Saya ga yakin ngelepas kamu sidang bulan ini, tapi tetep saya akan tandatangani surat kamu untuk maju sidang bulan ini, terserah kamu mau buat skripsi kamu jadi apa,” yang membuat saya setelah itu, selama lebih dari 36 jam tidak sedetik pun merebahkan diri di atas tempat tidur, dan tidak tidur, hingga 3 bundel skripsi yang siap diujikan dikumpulkan di hari yang telah ditentukan oleh fakultas…Got A for it (*Teteup songong hahahahha!!!*)

…dan hal yang lebih besar lagi…

7. Saat di kantor…

“Njrit deh itu HRD maunya apa sih. Jelas-jelas dah gue kasih, dia tanda tangan pulakh tanda terimanya, hardcopy aslinya langsung gue kasih ke dia. CD softcopynya elo juga khan yang bawa, trus bos kita pun dah email ke dia. Tanda tangannya dia juga gituh. Trus sekarang berkasnya ilang semua gituh? Dan kita yang disuruh bikin berita acara? Giginya dia gendut apa!”

“Ya udah, biar aja, semua penilaian kita tertunda, kita doain ajah, biar dia dapet pekerjaan yang lebih layak, so dia pindah dan HRDnya kita bukan dia lagi. Orang sabar pasti kesel!”

Pelatihan-pelatihan yang sungguh menyenangkan. Yang saat ini menjadikan saya seperti ini…

1. Berbicara pakai otak. Tidak hanya dengan mulut, dan sangat-sangat saya usahakan dengan nada datar, kecuali kalau yang diajak bicara, memang sungguh keterlaluan.

Itu sebabnya saat ini saya katakan pada teman-teman di kantor bahwa mereka boleh menanyakan apapun ke saya sebagai HRD mereka, tapi dengan sangat menyesal saya tidak akan memberikan jawaban langsung. Pasti saya akan bertanya balik, apa yang kamu ketahui dari pertanyaan itu?

2. Sabar dengan tingkat toleransi sudah jauh lebih tinggi.

“Biar, dia mau ngapain ajah, kalo ntar dah saatnya dia dateng ke gue, khan ntar balik ndiri, kalo ngga ya udah, jangan kayak orang susah!

3. Cranky, Mrepet, Ngomel, Panikan, Hobby nuduh/ngejudge orang lainGampang Stress, kalau jutek ini sudah default! :mrgreen:

4. Dan sudah jauh berkurang untuk mudah mengeluarkan kata-kata seperti ini…

“Eh, ntar kalo gitu, jangan salahin gue ya kalo…”

“Pokoknya ntar kamu sendiri yang harus ganti…”

…errr, bentar itu sama aja ngomel ya?…hahahaha…apalagi kalau  sudah ngomelin orang lain, lalu ternyata yang ngomel itu yang salah, lalu yang ngomel tanpa minta maaf ke yang diomelin…

Kalau sudah begini, saya biasanya mengingat salah satu bagian pendidikan yang pernah saya jalani…

“Ya udah Cha, biar ajah, itu berarti kastanya mereka masih jauh lebih rendah daripada kamu. Jangan repot, kayak orang susah.”

Untuk para perempuan, hehehehe kurangin cranky and ngomel-ngomel yuk dari sekarang…untuk para pria, jangan cranky or hobi ngomel kalo ga mau dibilang kayak perempuan…dan untuk para pria yang sangat logis, berani mengingatkan para perempuan di sebelahnya juga bukan suatu yang buruk loh…kalau para perempuannya tak terima, ya berarti satu karakteristik mereka sudah terlihat ke permukaan ‘kan ya?

Untuk semua pendidik saya di dunia nyata…THANK YOU…LOVE YOU FULL!!!! REALLY APPRECIATE IT!

Tinggal saya sekarang kembali menerapkan ilmu yang sudah saya dapatkan, jika saya kembali menemukan perempuan-perempuan tulen secara luar dalam. GOSH!