Posts Tagged ‘Ngantor’

Seburuk Itukah?…

Thursday, December 23rd, 2010

Human Resource atau Human Capital?…

Kira-kira apa ya, yang dipikirkan seseorang jika mendengar kata itu? Di bawah ini adalah respon atau tanggapan, mengenai dua kata itu, yang saya dapat dari orang lain dan yang berhasil saya rekam di otak saya, dari saat saya mulai bekerja, dan apalagi 2 tahun terakhir ini, memang saya menjadi salah satu manusia HR…

sucks…
harusnya khan pendekatannya lebih humanis ya…
kalo ga doyan admin, mendingan jangan…
semua berawal dari ngerjain dirty job…
kurang apresiatif…
nyebelin…
tukang ngatur orang lain, dirinya sendiri ga aturan…
HR khan cuma support, gajinya lebih kecil daripada bisnis…
mang gue HR? ga merasa gue…
HR ternyata ga gue banget…
gila, HR kok kulturnya gini ya…
jaim gila orang-orangnya…
public enemy…
pengen banget gue jadi HR, biar bisa tau gaji-gaji orang lain… *saran gue? mendingan jangan.. :mrgreen: *
ketunda promosi gara-gara hasil performance appraisal gue ilang…
bisa kerja ga sih mereka, lama banget…
kayak gini nih hasil rekrutan mereka, kayak beli kucing dalam karung…
yang direkrut kok ga tahan banting ya…
kenapa anak baru banyak yang cabut…
betah lu di situ?…
saya ini top managementnya HR, jadi saya lebih tau…
tembok gap-nya ketebelan cuy…
ga mingle…
terlalu belain manajemen daripada belain karyawan…
setelah pindah ke HR, gue malah merasa ini dunia gue banget…
confirmed, by myself, HR bukan gue…
HR tuh harus bisa jadi dirinya sendiri, ga belain karyawan, ga belain manajemen…
PA di tempat gue dulu lebih ada kejelasan penilaian, ga berdasarkan kita berhasil lick our boss’ ass atau ngga…
baru kali ini niy ada HR yang bisa nyatu ama anak buahnya…
office politics nya kok ya gede juga ya sesama HR…

Most likely responnya adalah respon negatif? Sedih ya?!

Saya merespon kembali tanggapan mereka? Jawabannya: Ho oh! Terutama jika memang saya sedang terlibat pembicaraan dengan mereka mengenai divisi yang dianggap ajaib, mungkin di hampir setiap perusahaan. Seperti yang terjadi hari ini saat makan siang saya bersama dengan dua teman, dan kami bertiga ditemani segelas bir leci *enak bouw!* Dua di antara kami bertiga adalah orang HR. Sayangnya, ketiganya bukanlah orang-orang yang memiliki volume suara yang kecil. Ga mungkin kami menertawakan sesuatu hanya dengan ngikik, pasti dengan ngakak

“Sssttt…jangan terlihat kita terlalu bahagia, nanti ada yang sirik!”

“Kapan lagi bouw…di kantor sekarang ga bisa niy gue ngakak kayak gini. Analoginya nih elo terpaksa jaim di kuburan!”

“Bentar-bentar…gue curiga kenapa elo ga ngambil cuti?”

“Modus operandi gue, di saat semua orang cuti, gue ngantor. Tapi saat orang lain ngantor, gue cuti! Lagi pula pending list gue banyak bok.”

“Elo bis ini ikut ke GI khan?”

“Gak lah, gue balik kantor.”

“Dah cabut ajah.”

“Preeeett…nyetanin gue lu ye. Lagi pula kemaren gue dah ke GI, and gue kere bis dari sana.”

“Eh kere itu dah default buat kita. Jadi ya sudah lah, sekalian!”

“Jadi kira-kira bakal bertahan berapa lama lu?”

“Iya loh…dah banyak tuch yang nanyain gue. Apalagi yang tau karakter gue kayak apaan. It’s about time juga sih untuk gue pindah.”

“Just like what I am going to do.”

“Kammpprrreeett…pantesan! Mau kemana lu?”

“Ke tempat yang saat ini sepertinya terlihat menawarkan sesuatu yang lebih baik. Masih di seputar dunia HR kok.”

—-

Errr…jadi apa ya tanggapan saya tentang HR? :mrgreen:

Btw…ada yang mau menanggapi atau memberikan komentar balik respon-respon tentang HR yang pernah saya dengar? Hayooo…para HR, jangan diem aja yah, kita ga gitu khan ya?

Hah? Berapa Lapis? Ribuan!…

Thursday, October 14th, 2010

“Susah ga sih menjadi seseorang yang berbeda?”

Pertanyaan itu pernah dilontarkan ke saya.

Jawaban saya? Susah-susah-gampang!

Pada dasarnya, saya percaya bahwa setiap manusia itu pasti berbeda. Mau mencari ke belahan dunia manapun tidak ada manusia yang dilahirkan, tumbuh, berkembang, mempunyai pengalaman, pikiran, karakteristik, sifat, status sosial, jabatan dan bentuk fisik yang sama persis.

Harusnya menjadi yang berbeda akan menjadi mudah, karena hal yang tadi itu, karena kita satu sama lain pasti berbeda.

Tapi bagaimana jika manusia-manusia yang berbeda satu sama yang lain itu pada akhirnya harus bertemu, berinteraksi, mempunyai hubungan tertentu, bekerjasama? Akankah menjadi hal yang mudah?

Weeiittsss…belum tentu sepertinya. Bisa mudah, tapi sepertinya lebih banyak sulitnya, alias membuat hidup tambah rempong!

Mungkin contoh kongkritnya, bisa kita lihat dari hasil observasi sehari-hari di tempat kita beraktivitas.

Let say, kantor! Pernah memperhatikan tidak situasi kantor seperti apa? Teman-teman kita bagaimana, ngapain aja? Pernah lah ya! Ga mungkin ga pernah.

Mungkin situasi atau budaya seperti yang saya ceritain di bawah ini, merupakan salah satu “cerita” kantor kalian…

“Cuy, nih baju bagus!”

“Kagak bisa dipake ke kantor yang model begituan!”

“Kantor lu kagak bisa, kantor gue mah bisa. Mau kutungan ngantor sih bisa-bisa aja!”

Bukan “cerita” kantor kamu? Mungkin yang ini…

“Jam kantor lu jam berapa?”

“Jam saat gue dateng di kantor dan saat gue pulang kantor.”

Masih bukan? Okay, kalo begitu, mungkin yang satu ini…

“Mana gue tau peraturan kayak begituan, gue khan bukan pegawai tetap.”

Atau yang ini?…

“Mana ada nih yang kayak beginian bisa di divisi gue. Satu baca buku novel, kadang buka partitur musik, buka situs gosip, bahkan jadi ikutan gosip, pesen-pesen tiket pesawat gratisan, terus-terusan memamahbiak.”

Yang ini?…

“Sumpah tuh perempuan BT-in banget, pengen gue sumpel tuh mulut. Berisik!”

Kalau yang ini?…

“Kemana sih tuch anak? Pacaran mulukh. Ini dah jam 8 padahal! Dah jam kerja!

Bukan juga?…

“Di kantor lain mah buka-buka facebook kagak mungkin. Ngubek-ngubek blog orang, or situs-situs aneh juga pasti di banned. Kalo gue malah disuruh, emang kerjaan gue kayak begitu.”

Satu lagi ah…

“Yang satu itu, mondar-mandir, biar keliatan sibuk, padahal nothing. Dan yang bilang kayak gitu juga dah ampe level direktur loh!”

Dan masih banyak lagi…si itu begitu lah, si bos anu ngapain lah, si anak buahnya itu nyebelin lah, yang satunya ga bisa kontrol emosi kalo lagi load kerjaan banyak…

Rempong?

Yupe!

Yang menyebabkan rempong itu apa ya? Dan siapa?

Kira-kira kita sendiri bukan? Hayyyooo…ngaku!! :mrgreen:

Kita dengan segala “keajaiban” masing-masing, ditambah dengan kebutuhan-kebutuhan khusus, seperti pelampiasan saat panic attack datang, kebutuhan diterima oleh lingkungan sekitar, kebutuhan untuk dapat di recognize oleh atasan, kebutuhan penyaluran hobi, kebutuhan menenangkan diri, kebutuhan merasa dihargai karena level jabatan yang disandang, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mungkin saat itu perlu dipenuhi dan hanya bisa dipenuhi dengan cara-cara tertentu, yang hanya diketahui oleh kita, apalagi alasan kenapa kita melakukan cara-cara tertentu itu.

Mudah?

Ho-oh!

Kalau kita berniat memakai “sepatu” mereka terlebih dahulu, mencoba melihat dengan “kacamata” mereka. Ngga enak? Pasti! Karena bukan punya kita sendiri! Bukan comfort zone kita.

Keluar dari comfort zone bukan hal mudah, bukan berarti ga bisa, tapi juga bukan berarti mereka akan menemukan comfort zone lainnya.

Gak susah loh ngasih sebentar atau sedikit comfort zone ke orang lain, stop judging and complaining *eh…itu menurut gue sih*

Lagi-lagi, saya tidak pernah bosan akan tulisan di bawah ini…

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

Dunia ini panggung sandiwara?

Totally agreed! Bahkan kalau perlu make seribu lapis topeng yang penuh basa-basi?

Ga capekh ya?

“Kalo elo ‘Cha?”

Beneran, nanya kalo gue gimana? Ga nyesel denger jawaban gue?
Kalimat retoris elo tanyain lagi ke gue! :mrgreen:

He Put Me Here…Heaven On Earth…

Wednesday, March 24th, 2010

Hah…So this is why He put me here…in this world…in this place…

—–

“Bu, sibuk ga?”

“Kenapa?”

“Mau cerita, bukan masalah kerjaan banget sih…”

bla…bla…bla…

Dan sesi konseling pun terjadi kurang lebih satu jam…

—-

Di sela-sela saya yang sedang sibuk berkutat dengan komputer seperti biasanya, dengan pintu ruangan yang terbuka, ada seseorang yang sedang berdiri menyandar di pintu ruangan saya…

“Enak ya, Bu, kerja-kerja, sambil dengerin musik-musik ginih.”

“Ehh…btw…saya denger tentang….*sencored :) * Gimana udah selese?”

“Ibu tau dari mana?”

“Ga penting saya tau dari mana, tapi dah beres khan ya?”

“Ibu tau dari mana?”

“Btw…dah berapa lama itu kejadiannya?”

Kalimat itu, saya keluarkan sembari saya tetap memandang layar komputer dan asik-asik mengetik…

Saya tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Yang membuat saya akhirnya menoleh ke arahnya, yang sekarang sudah berdiri, menyandar di tembok sisi sebelah kanan ruangan saya, sembari menatap ke saya, tak bisa berkata sepatah kata pun, dan jari telunjuknya menunjuk ke arah matanya…

Saya pun berdiri menuju pintu dan menutupnya…

Kembali konseling pun terjadi, kira-kira satu jam…

—-

Gubrag, gubrag…seseorang tergesa-gesa memasuki ruangan saya, sembari membawa beberapa helai tisu…

“Mom…duh…gimana ya ngomongnya…aku bingung mulai dari mana. Maaf kalo saya nyusahin.”

“Sama gue ajah ga usah bingung ngomongnya.”

Dan bla…bla…bla…

“Ma kasih ya Mom, aku dah lega. Ma kasih mau dengerin. Ma kasih Mom.”

“Ma kasih juga ya, you make my world more colorful, you make me just like me now…but still ya…keputusan terakhir di kamu, yang penting sekarang kamu dah liat sisi A, B, C, dan seterusnya. Kamu yang harus tentuin sendiri mana yang menurut kamu terbaik untuk kamu.”

—-

Akibat dari memberitahukan nomor ponsel ke semua orang di tempat kerja, membuat semua orang menjadi tahu nomor ponsel saya tentunya…

Dan ini salah satu dari pesan singkat yang saya terima dari mereka…

“Menurut saya, ibu tuh hrd paling top yg pernah saya temui! :-D

Saya pun membalas pesan singkat itu…

“Lebay mode: ON…anyway…every1 has his/her own way to approach others…and this is my way to get know all of you better and better every day…don’t care what ppl say about it behind my back, coz I can’t push them to like or dislike me, I play my own game, without forgetting rules I have to follow as my position rite now.”

—-

Dulu saat saya memutuskan untuk keluar dari comfort zone saya sebagai pegawai tetap bank swasta nasional yang top markotob ituh, untuk kuliah di Fakultas Psikologi, abang tertua saya bertanya ke saya…

“Elo ngambil Psikologi mau jadi HRD, Sa?”

“Ga! HRD tempat gue dulu nyebelin. Gue pengen ngambil psikologi konsumen.”

—-

Saat rapat “luar biasa” antar HR “seantero jagad” dengan para petinggi HR yang terhormat…

“Jadi HRD itu ga boleh begini, begini, begitu…termasuk ga boleh jatuh cinta ama satu kantor. Kalo pun logika ga bisa ngelawan hati, ya harus salah satu keluar.”

Dalam hati pun saya menjawab…

“Setuuuuuujjjuuuuhhh berat!!! Totally agreed! Tenang, Bu, logika saya bisa loading dengan canggih.”

—-

Saat saya menelepon ke HRD lain…

“Ibu yang satu ini kenapa adem-ayem, santai-santai?”

“Sebenernya sih rusuh juga, tapi kalo dipikirin rusuh ya makin rusuh. Semuanya dibuat senyum aja lah. Kalo salah tinggal ngaku, dimarahin wajar, namanya juga kerja, tinggal usaha ampe mampus dan senyum poll.”

Saat saya ditelepon oleh HRD lain…

“Cha elo dah baca?”

“Dah.”

“Itu gimana sih, bla…bla…bla…”

“Ya udah lah, toh muaranya di sana khan? Kalo diperpanjang malah tambah kasian anaknya. Daripada ribut cari-carian, kalo harus ngulang ya ngulang.”

“Jadi elo fine-fine aja?”

“Mau gimana lagi? Daripada kelamaan? Dah dibawa senyum aja yah.”

—-

Tak tahu apa karena kualat dengan omongan sendiri, atau hal lain, tapi akhirnya saya nyemplung di dunia HRD. Dunia penuh printilan detil administratif, dunia penuh detil peraturan ini-itu baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dunia yang penuh dengan ke-jaim-an bagi yang menjalaninya, dunia yang penuh dengan kode etik yang ternyata banyak yang tak berkode, dunia yang banyak dibenci oleh para karyawan di suatu perusahaan.

Tapi tak tahu mengapa, melihat dunia ini dari hari ke hari membuat saya semakin mencintai YANG NANGKRING DI ATAS SANA, karena sudah membuat saya berada di dunia ini…di tempat ini…

—-

Sepertinya…tulisan saya kali ini, sesuai lah ya kalau ditutup dengan lagu mantap, dari serial TV, Glee (Episode Wheels) *Again, Cha?*

Defying Gravity…that’s what I’m doing…

Something has changed within me
Something is not the same
I’m through with playing by the rules
Of someone else’s game
Too late for second-guessing
Too late to go back to sleep
It’s time to trust my instincts
Close my eyes: and leap!

It’s time to try
Defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
Kiss me goodbye
I am defying gravity
And you wont bring me down!

I’m through accepting limits
”Cause someone says they’re so”
Some things I cannot change
But till I try, I’ll never know!
Too long I’ve been afraid of
Losing love I guess I’ve lost
Well, if that’s love
It comes at much too high a cost!

I’d sooner buy
Defying gravity
Kiss me goodbye
I’m defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
And you wont bring me down!

I’d sooner buy
Defying gravity
Kiss me goodbye
I’m defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
And you won’t bring me down!
bring me down!
ohh ohhh ohhhh!

—-

*Errr…boleh ga ya ga pake audit? Hate it dari jaman baheula gue mulai ngantor!!!*

Perempuan Oh Perempuan…

Wednesday, December 16th, 2009

“Errrr…saya ini sekarang yang perempuan cuma hardware-nya, software-nya laki.”

Yupe…didikan dari “brengsek”nya dunia sekitar, membuat saya bukan seperti perempuan kebanyakan, atau setidaknya saya terlalu gengsi untuk memperlihatkan ke dunia.

“Kenapa sih loe cuma mau liat apa yang elo mau liat, mau denger cuma hal-hal yang elo mau denger, selalu pikir yang negatif, ngomel, cranky, dikit-dikit panik, stres, parno, insecure, super sensitif ga jelas, yang semuanya itu belom tentu kejadian.”

Ditampar? Jelas!

Tamparan-tamparan dan deraan-deraan semacam itu, sudah bertahun-tahun saya lalui, saya nikmati dan saya syukuri. Sumpah mati, kalau saya tidak mendapatkan itu semua, mampuslah saya, akan terus seperti perempuan kebanyakan, dan seperti sebagian kecil laki-laki tukang mrepet yang seperti perempuan.

Tak tahu mengapa, kebetulan sekali, saya bergaul dengan dan “digauli” oleh orang-orang “laknat” nan “brengsek” plus “keparat” yang dengan sukarela hati menciptakan satu mind set baru di seorang Ocha yang dulu adalah manusia super menyebalkan di segala seluk-beluk urusan ngomel, mrepet dan cranky, yang sepertinya sudah menjadi trademark perempuan kebanyakan.

Jangan dikira saya tidak nangis-nangis darah saat melalui itu semua! Tidak setengah mati menahan diri, mencoba berpikir sebelum mrepet, mencoba memakai “sepatu” orang lain, tidak menjadikan mrepet dan omelan sebagai sebuah solusi, yang pada akhirnya menjadikan saya mampu untuk mengucapkan “Yupe, itu salah saya, maaf ya, from deep inside my heart,” walaupun tetap ada masanya di mana saya kehilangan kemampuan itu semua.

Proses pembelajaran saya, memang dimulai dari hal-hal yang sepele dan sangat kecil…

1. Saat saya mengirimkan SMS, dan tidak ada balasan sama sekali dari yang bersangkutan…

“Emang kalo kamu SMS, harus langsung dibales? Terus melegalkan kamu untuk ngomel? Gak pernah mikir apa ya mungkin aja aku abis batere, abis pulsa, ga ada signal, lagi rapat. Ya mbok nanya dulu. Terus, harus ya gue jalan kemana bilang ama elo?”

2. Menunggu telepon dari seseorang…

“Bisa aja khan aku ampe rumah capekh, ga kuat lagi ngangkat telpon dan langsung tidur.”

dan sekian tahun kemudian…

“Itu aku sukanya dari kamu, kalo kamu dah nyoba sekali telepon terus ga diangkat, kamu ga rewel nelpon berkali-kali and mau nunggu ampe akunya ga sibuk trus baru telpon kamu.” (*Yayaya, coba elo ketemunya gue beberapa tahun sebelum itu, Mas, kalo telpon loe ga gue rewelin!!)

3. Di sebuah perbincangan (sepertinya hal ini sudah pernah saya tuliskan di cerita saya dulu)…

“Emangnya elo anak dewa yang apa-apa harus diturutin?” (*Njjjrrriiiiiiittttt!!!!!*) :mrgreen:

4. Lagi-lagi di sebuah perbincangan…

“Kamu cantik, tapi akan lebih cantik kalo seseorang ngeliat kamu cantik terus pinter, smart!!!”

…dan ke hal-hal yang sedikit lebih besar daripada hal-hal di atas…

5. Didera dosen dengan segala pertanyaan, saat saya ternyata harus presentasi materi kerja kelompok dan menjawab semua pertanyaan, seorang diri, tanpa ada anggota kelompok lain, yang hampir membuat saya kabur dari depan kelas, karena saya belum benar-benar siap dengan materi itu. Tapi karena hal ini, saya bisa presentasi dan menjawab seluruh pertanyaan dari dosen, untuk materi tugas kelompok yang berbeda, di lain kesempatan, tapi dengan siksaan yang sama, yaitu presentasi sendiri dan menjawab sendiri, tanpa ditemani. Dan pada akhirnya membawa saya menjadi asisten dosen di mata kuliah paling mengerikan di fakultas saya dulu, di semester berikutnya.

6. Mendapatkan omongan seperti ini dari sang dosen pembimbing (saat kurang dari 48 jam sebelum waktunya mengumpulkan skripsi)…

“Saya ga yakin ngelepas kamu sidang bulan ini, tapi tetep saya akan tandatangani surat kamu untuk maju sidang bulan ini, terserah kamu mau buat skripsi kamu jadi apa,” yang membuat saya setelah itu, selama lebih dari 36 jam tidak sedetik pun merebahkan diri di atas tempat tidur, dan tidak tidur, hingga 3 bundel skripsi yang siap diujikan dikumpulkan di hari yang telah ditentukan oleh fakultas…Got A for it (*Teteup songong hahahahha!!!*)

…dan hal yang lebih besar lagi…

7. Saat di kantor…

“Njrit deh itu HRD maunya apa sih. Jelas-jelas dah gue kasih, dia tanda tangan pulakh tanda terimanya, hardcopy aslinya langsung gue kasih ke dia. CD softcopynya elo juga khan yang bawa, trus bos kita pun dah email ke dia. Tanda tangannya dia juga gituh. Trus sekarang berkasnya ilang semua gituh? Dan kita yang disuruh bikin berita acara? Giginya dia gendut apa!”

“Ya udah, biar aja, semua penilaian kita tertunda, kita doain ajah, biar dia dapet pekerjaan yang lebih layak, so dia pindah dan HRDnya kita bukan dia lagi. Orang sabar pasti kesel!”

Pelatihan-pelatihan yang sungguh menyenangkan. Yang saat ini menjadikan saya seperti ini…

1. Berbicara pakai otak. Tidak hanya dengan mulut, dan sangat-sangat saya usahakan dengan nada datar, kecuali kalau yang diajak bicara, memang sungguh keterlaluan.

Itu sebabnya saat ini saya katakan pada teman-teman di kantor bahwa mereka boleh menanyakan apapun ke saya sebagai HRD mereka, tapi dengan sangat menyesal saya tidak akan memberikan jawaban langsung. Pasti saya akan bertanya balik, apa yang kamu ketahui dari pertanyaan itu?

2. Sabar dengan tingkat toleransi sudah jauh lebih tinggi.

“Biar, dia mau ngapain ajah, kalo ntar dah saatnya dia dateng ke gue, khan ntar balik ndiri, kalo ngga ya udah, jangan kayak orang susah!

3. Cranky, Mrepet, Ngomel, Panikan, Hobby nuduh/ngejudge orang lainGampang Stress, kalau jutek ini sudah default! :mrgreen:

4. Dan sudah jauh berkurang untuk mudah mengeluarkan kata-kata seperti ini…

“Eh, ntar kalo gitu, jangan salahin gue ya kalo…”

“Pokoknya ntar kamu sendiri yang harus ganti…”

…errr, bentar itu sama aja ngomel ya?…hahahaha…apalagi kalau  sudah ngomelin orang lain, lalu ternyata yang ngomel itu yang salah, lalu yang ngomel tanpa minta maaf ke yang diomelin…

Kalau sudah begini, saya biasanya mengingat salah satu bagian pendidikan yang pernah saya jalani…

“Ya udah Cha, biar ajah, itu berarti kastanya mereka masih jauh lebih rendah daripada kamu. Jangan repot, kayak orang susah.”

Untuk para perempuan, hehehehe kurangin cranky and ngomel-ngomel yuk dari sekarang…untuk para pria, jangan cranky or hobi ngomel kalo ga mau dibilang kayak perempuan…dan untuk para pria yang sangat logis, berani mengingatkan para perempuan di sebelahnya juga bukan suatu yang buruk loh…kalau para perempuannya tak terima, ya berarti satu karakteristik mereka sudah terlihat ke permukaan ‘kan ya?

Untuk semua pendidik saya di dunia nyata…THANK YOU…LOVE YOU FULL!!!! REALLY APPRECIATE IT!

Tinggal saya sekarang kembali menerapkan ilmu yang sudah saya dapatkan, jika saya kembali menemukan perempuan-perempuan tulen secara luar dalam. GOSH!

HRD Gue…

Thursday, November 26th, 2009

Satu hal lagi yang gue suka dari musim hujan…bisa mengeluarkan koleksi baju dan perangkat fesyen “fall-winter collection” yang gue punya.

Kebetulan kemaren, pagi-pagi mau berangkat ngantor masih hujan. Berhubung gue tetep harus berangkat sebelum jam 6 pagi, jadi pasti udara masih dingin lah. Seperti biasa urusan outfit ngantor ini adalah hal penting untuk gue, karena apa yang gue pake bisa berpengaruh sama urusan mood kerja…hahaha…dan kemaren, outfit yang gue pilih, gue sesuaiin ama cuaca, prediksi mood kerja, dan prediksi AC kantor n floor (store) yang ngga ujan aja, udah dingin mampus.

Alhasil gue pake salah satu koleksi Mango Suit…si sack dress wol, tanpa lengan, warna abu-abu, kaos turtle neck ZARA warna item, winter stocking Marks & Spencer, plus syal biru United Colors Of Benetton, dan lengkap dengan jaket U2 item gue untuk berangkat n pulang. Berangkat kantor masih make sepatu teplek M)Phosis, tapi begitu sampe toko, mau kata harus muter-muter toko yang gede itu, teteup high heels Pretty Fit ditampilin.

Begitu masuk back office…biasa komentar anak-anak yang super spontan itu mulai terlontar…

Komen 1…

“Oow, oow, Bu Ocha lucu deh.”

“Mang gue tiap hari lucu.”

“Iya, tapi saya paling suka yang sekarang.”

Komen 2…

“Wahhh si ibu modis amat.”

Komen 3…

“Ibu cantik amat sih.”

“Saya emang cantik dari dulu…hahahaha.” (*sambil ketawa narsis*)

Komen 4…

(*Pas ke floor*)

“Bu sumpah, ibu cantik berat. Kita seneng punya HRD cantik, beritanya dah kesebar ke toko lain.”

“Eh, kalian gosipin saya?”

“Ngga, Bu, kita kan bangga. Trus kapan gituh ada HRD toko lain mampir ke toko temen saya itu, tiba-tiba temen saya telepon nanyain, eh yang dateng ke toko gue sekarang ini HRD tempat lu bukan ya yang kata loe cantik itu, yang badannya gini, gini, gitu? Saya jawab bukan, ibu gue langsing, gini, gini, gitu. Ibu tuch jadi rebutan toko.”

Komen 5…

“Eh kamu bentar lagi ulang taun kan…makan-makan kita?”

“Makan catering aja ya, Bu.”

“Ih seneng deh punya HRD perhatian terus cantik.”

“Kamu, boleh muji tapi ntar jangan sering riwil ke saya yah.”

Komen 6…

(*Di depan ruang gue*)

“Heh, kamu ngapain bengong liatin saya?”

“Ngga Bu, Ibu kok cantik banget hari ini, kayak artis. Pake lagi dong Bu kacamatanya. Biar tambah gaya.”

“Pegel taukh pake kacamata terus.”

Komen 7…

“Duh seksi banget.” (*sambil ngangkat 2 jempol*)

“Thank you.”

Komen 8…

(*Di depan ruang gue*)

“Mak, Mak, boleh jujur ga?”

“Apa?”

“Sumpah Mak, Emak cantik banget.”

Komen 9…

“Kayak baju-baju luar negeri gitu loh, Bu, bajunya ibu sekarang.”

Komen 10…

“Bunda, lucu banget sih.”

Terus terang nih, gue pake baju kayak gitu, juga karena gue kedinginan pas berangkat. Dan prediksi gue tepat, karena kantor n floor dinginnya tambah mampus gila gara-gara ujan.

Tapi beneran loh, urusan outfit menyenangkan yang gue pilih kemaren sangat membantu naikkin mood gue. Apalagi kemaren ternyata gue dapet berita sedih, gue bulan depan dimutasi pindah store, yang padahal ama store yang ini gue dah jatuh cinta banget; gue harus ngurus 1 orang yang…(*ya begitu deh*); terus lagi ada rekrutmen puluhan orang; terus dah mau pulang setengah 7, ada kasus 2 anak lainnya; dah mau pulang lagi, gue ngga tega ada 1 anak lagi, yang menurut gue, butuh diajak ngobrol n mumpung sempet, akhirnya gue panggil dia terus gue ajak ngobrol.

Eh, komennya nambah ternyata di tengah-tengah obrolan gue ama anak gue…

“Kamu umur berapa sih?”

“25, Bu, lebih tua saya kan daripada Ibu?”

“Hah, apa? Bentar, kamu nebak saya umur berapa?”

“23-24!”

“Alhamdulilah, Hallelujah, Praise The Lord.”

“Emang Ibu umur berapa? Dari dandannya ga keliatan, Bu.”

…gue pun nyebutin umur gue…

“Ibu boong. Saya ngobrol ama anak-anak lain, eh itu emak lu yang baru yah? Masih kecil kayaknya, masih muda banget. Iya, paling 23-24.”

Dan akhirnya gue nengok ke arah jam tangan…

“Njrit, jam 9 lewat. 12 jam lebih di store. Harus pulang. Bisa-bisa gue nginep di sini.”

Sumpah, capekhnya gue itu sama sekali ga berasa…karena sudah hampir sebulan di sini, gue belom pernah capekh hati, walau capekh fisik mayan sih. Tapi prinsip gue kalo cuma capekh fisik mah, bisa ilang ama tidur, tapi kalo capekh hati, malah bikin ga bisa tidur. Jadi urusan naikkin mood, buat kerja lebih enak, kayaknya membantu banget tuch, salah satunya dengan outfit yang dipilih. Ya gak?

—-

“Sumpah, gue lagi pengen nyampah, lagi pengen super narsis, lagi pengen nulis n ngomong pake elo-gue, capekh pake saya-kamu terus di kantor, walau ada beberapa anak gue yang dah berani keceplosan beberapa kali nyebut diri mereka sendiri dengan-gue, dan gue ga terlalu mempermasalahkan, asal jangan ampe ngelunjak.”

Berpacu Dengan Adrenalin…(Puisi Singkat #7)

Monday, November 9th, 2009

Aku berpacu dengan adrenalin…
Berlari mengejar mimpi…
Tergopoh-gopoh meniti anak tangga…
Yang masih harus terus ku susun…
Tuk capai rumah Ilahi…
Dan capai cinta dari segala cinta…

Kantor, 8 November 2009

Masih Sibuk…

Thursday, November 5th, 2009

This is what I call as WORKING…

Saya harus sibuk dan tidak terus-menerus melihat ke arah jam menunggu waktu jam kerja berakhir. Intinya kalau saya magabut, ya lebih baik saya di rumah leyeh-leyeh.

Dengan kurang lebih total 300 orang yang harus saya tangani, durasi kerja yang ditentukan dalam satu hari sama sekali tak terasa…

“Bu, kok nama saya ngga ada di daftar catering, saya lupa tadi saya absen finger atau ngga.”

“Bu, minta form izin pulang, saya sakit.”

“Bu, maaf saya terlambat, ban motor saya kempes.”

“Ada obat flu ga Bu, idung saya meler.”

Berkali-kali menyebabkan saya harus menarik kembali tangan saya dari atas keyboard komputer, untuk menanggapi mereka.

Terlihat memang printilan dan sepele, dan ini baru berjalan 4 hari dan masih menghadapi dengan urusan administrasi dasar, belum ke tahap pengambilan keputusan yang pastinya lebih njlimet, tapi benar-benar itu semua sangat menyenangkan. Really it does.

—-

Mungkin banyak orang yang berpikiraan bahwa untuk bisa menjadi HR Generalist, sebaiknya bekerja terlebih dahulu di sebuah HR Consultant, tapi di tempat saya bekerja saat ini, benar-benar sebuah kawah candra di muka untuk dapat menjadikan dirimu sebagai HR Generalist, karena sebagai HR Store, you have to handle from A to Z  HR thingy for your store.

—-

Once more, THANK MY ALMIGHTY!!! Love You so much for giving me this job, walau ya walau jauhnya nih kantor dari rumah gue biadab banget. :lol:

All I wanna do now is to stay gold, by doing my best for God.

Maaf, Saya Sibuk… :p

Monday, November 2nd, 2009

Saya sudah resmi pindah kerja di tempat baru. Dan beginilah respon-respon yang tadi saya keluarkan…

“Yak, no twitter, no YM, no FB, apalagi sempet blogging?”

“What…total 300 orang yang harus diurus?”

“He? 25000 M2? The biggest in Indo.”

Dan dalam hati saya…

“Thank God…anak tangga yang dikasih ke gue sama Elo kali ini ga main-main, dahsyat. Mereka sebegitu percayanya ke gue. Gue anak kemaren sore di HR, langsung dipercaya tempat segede gini dan sendirian? Damn! You rock ‘Cha!!”

“Errr…mau kate internet dibuka lebar and ndak fakir bandwidth pun kagak kesentuh juga kaaallleee…kalo kerja macem ginih. Über Twitter aja ya ga diliat ampe sore gituh. Yay…workaholic gue ternyata masih mendarah daging.”

—-

“Eh jadi inget manusia tembok, merangkap beruang kutub…sekarang kita bisa saingan ya Sayang, kerja gila-gilaannya. Yuk marriii…”

—-

“Wish me luck, My Friend…really need that!”

Jadi Ikan Kecil atau Jadi Ikan Gede?…

Tuesday, October 27th, 2009

Errrr…saya memang bukanlah orang yang sangat mampu dan kompeten sekelas Rene Suhardono untuk memberikan career coach, tapi tak tahu mengapa saya sempat beberapa kali ditanyai beberapa teman tentang masalah pekerjaan mereka. Ada yang tidak betah kerja dengan atasannya, ada yang bingung kira-kira mau ambil tawaran kerja yang mana, atau kira-kira ide apa yang bisa diberikan ke perusahaannya atas pekerjaan yang diberikan kepada teman saya ini. Ya, kok ndelalah masukan saya itu ternyata selama ini Puji Tuhan bermanfaat bagi mereka.

Dan kali ini saya ingin berbagi pengalaman apa perbedaan yang saya rasakan bekerja di sebuah perusahaan besar, dan pengalaman bekerja di perusahaan kecil. Mudah-mudahan kali ini pun pengalaman saya akan bermanfaat bagi yang membaca.

Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya sejak lama, pastinya sudah mengetahui sedikit perjalanan jenjang pendidikan dan juga pekerjaan-pekerjaan yang pernah saya jalani, yang berarti pula sudah tahu di mana dulu saya bekerja. Tapi untuk yang belum tahu, dulu sebelum saya memutuskan untuk kembali kuliah dan mengambil major yang berbeda yaitu di Fakultas Psikologi (Agustus 2004-Februari 2009), saya sempat bekerja di salah satu bank swasta nasional yang sempat menduduki posisi bank non pemerintah yang memiliki aset paling besar beberapa tahun lalu (mungkin sampai sekarang).

Tak tahu mengapa, dari hari pertama saya masuk kerja di kantor ini, saya sudah merasa cukup nyaman dengan lingkungan kerjanya. Menurut saya, saya tidak perlu terlalu banyak melakukan adaptasi dengan kantor baru yang satu ini.

Saya, termasuk orang yang cukup concern dengan urusan printilan tempat kerja, karena hal itu berperan penting dalam “menempatkan” mood saya saat bekerja nantinya. Karena perusahaan tempat saya bekerja dulu adalah perusahaan yang sudah sangat mapan, maka pastilah urusan cubicle, jaringan telepon, jaringan intra dan internet (walau tetap dibatasi), dan fasilitas penunjang bekerja juga sudah ada. Tinggal memintanya sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Kemapanan seperti itu juga tidak hanya berlaku untuk urusan fasilitas/alat-alat penunjang kantor, tapi juga masalah segala prosedur, struktur organisasi, tata cara bekerja, standarisasi ini-itu, semua sudah ada. Istilahnya, kita para karyawan most likely tinggal melihat ke panduan atau Standard Operational Procedure yang berlaku. Misalnya kita ingin mengajukan permohonan penambahan karyawan, formulir-formulir yang harus diisi apa saja, harus dibubuhi tanda tangan pejabat-pejabat siapa saja, harus ke divisi-divisi mana saja, sampai bagaimana proses pemanggilan si calon karyawan; atau misalnya untuk sebuah peluncuran produk, dari produk itu tercetus hingga hari H produk itu diluncurkan ke pasar, harus menjalani proses A sampai Z yang bagaimana.

Masih ada satu hal lagi yang menurut saya bisa dikategorikan sebagai sebuah kemapanan bekerja di perusahaan besar, yaitu urusan printilan kesejahteraan karyawan. Ah, kebetulan tempat saya bekerja pertama kali itu, urusan kesejahteraan karyawan bisa dikatakan terjamin. Dari urusan jenjang karir dan syarat-syarat untuk mencapainya sudah diatur dengan sangat-sangat-sangat jelas, kita tinggal atur strategi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, jika mengincar suatu posisi. Dan bicara tentang karir dan jabatan, urusan di balik ini semua, pasti juga sudah diatur. Apalagi kalau bukan masalah gaji, kompensasi dan benefit untuk setiap tingkatan jabatan sudah ditentukan dengan jelas.

Ya, tapi bukan berarti bekerja di perusahaan besar itu sudah pasti akan selalu enak dan menyenangkan loo ya, karena di perusahaan besar berarti kita adalah seekor ikan kecil yang berada di kolam besar. Yang berarti pula kalau kita tidak kinclong dengan ide dan prestasi yang luar biasa “indah”nya bisa jadi kemampuan kita tidak kelihatan, dan apresiasi pada kita juga menjadi tidak setimpal. Dan bagaimana agar kita menjadi bersinar di antara banyaknya karyawan, juga bukan jalan yang mudah, karena persaingan antara satu karyawan dengan karyawan yang lainnya juga pasti ketat. Tak jarang malah ada “penjahat-penjahat” kecil yang suka MT alias “makan temen” sendiri.

Urusan prosedural yang sudah paten itu juga kadang membuat proses pekerjaan menjadi lebih lama (dan akan lebih terasa saat tenggat waktu sudah di depan mata) dan membuat kita berpikir dua kali untuk melakukan “kreativitas-kreativitas” tertentu, karena bisa-bisa hal itu akan dianggap menyalahi aturan main (misalnya saat ada audit internal maupun eksternal), walaupun hasil akhirnya tetap sesuai dengan target.

Dan untuk urusan jenjang karir yang sudah sangat jelas aturan mainnya itu, bisa juga menghambat karir seseorang. Loh kok bisa ‘Cha? Hal ini mungkin saja terjadi, misalnya pra-syarat seseorang untuk naik jabatan ke jenjang tertentu, minimal pendidikannya harus S1, dan ternyata yang bersangkutan belum menyandang gelar sarjana, tapi dari segi kemampuan, keterampilan dan penguasaan medan sudah memenuhi syarat orang tersebut untuk naik jabatan, namun karena peraturan, orang tersebut tidak diperbolehkan naik jabatan, dan jadilah ia terjebak di level yang sama tak tahu sampai kapan.

Nah, bagaimana kalau bekerja di perusahaan kecil? Kebetulan saya juga punya pengalaman untuk satu hal ini. Menjadi ikan agak besar di tempat yang kecil, otomatis kelihatan dong ya, dengan risiko yang kecil terkena imbas sikut-sikutan yang parah dari teman-teman sejawat lainnya. Malahan hubungan pertemanan lebih seperti hubungan keluarga. Satu sama lain bisa dekat, gap di antara mereka juga tak terlalu dirasakan.

Tapi perusahaan kecil itu biasanya merupakan perusahaan yang belum lama berdiri. Yang berarti pula, bisa dipastikan perusahaan ini belum ada apa-apanya. Belum ada peraturan ini-itu yang sudah paten dan standar, belum jelas jenjang karir, urusan kompensasi-benefit juga masih bisa sering berubah.

Jangan terlalu berharap jika kamu bingung dan menanyakan ke sesama rekan kerja pertanyaan ini misalnya “Abis ini surat ini dikasih ke mana?” ia akan dapat memberi jawaban dengan cepat, atau mungkin ia akan menjawab dengan jawaban “Errr…ga tau,” atau “Dulu sih ke dia, ga tau sekarang.”

Weeeiitttsss…tapi bukan berarti kebingungan-kebingungan dan hal-hal “ajaib” karena sistem prosedur yang belum jelas, bahkan belum ada itu lantas membuat kacau hidup kita lo. Karena di sini kreativitas-kreativitas kita diperbolehkan untuk diumbar. Misalnya kreativitas untuk membuat sistem prosedur yang sekiranya sesuai, dapat diterapkan di organisasi dan pada akhirnya akan membuat organisasi itu berkembang. Keren ‘kan ya kalau pada akhirnya organisasi bisa berkembang dan kita adalah bagian dari itu semua? Walaupun itu semua pasti perlu waktu, tenaga dan tidak mudah untuk mengubah angka 0, atau bahkan minus, bergerak naik hingga mencapai angka 100 misalnya. Apalagi, perubahan bukan semata pada diberlakukannya prosedur, tapi juga kesiapan, kemauan dan kesanggupan manusianya untuk berubah.

Panjang lebar omongan saya kali ini, intinya adalah mau bekerja di mana pun pasti ada sisi negatif dan positifnya, tinggal bagaimana kita bisa mengubah suatu yang negatif itu menjadi suatu yang lebih positif dan menjadikan kita bisa berkembang, walaupun, sekali lagi, itu tidak mudah.

Ya sudah, sekarang itu semua hanya sebuah pilihan. Apakah mau bekerja di perusahaan besar atau kecil. Yang jelas semuanya adalah pengalaman berharga.

—-

Eh, cerita pengalaman saya ini jangan dijadikan sebagai acuan pasti ya, tidak bisa digeneralisasikan untuk semua perusahaan/organisasi. Ini hanya pengalaman saya.

“Buka Online HR Consultant aja po gueh?” :lol: :mrgreen:

—-

“Untuk mereka, atasan, teman-teman, sub-ordinate saya di dua perusahaan yang saya maksud di atas, sekali lagi terima kasih untuk segala pengalaman berharga yang saya dapatkan. Dan untuk perusahaan yang sebentar lagi akan saya tinggalkan, terima kasih untuk mengizinkan saya menyusun satu anak tangga yang kembali dipercayakan Sang Alpha dan Omega pada saya kali ini.”

Nasib Si Bos Di Mata Anak Buah…

Thursday, August 6th, 2009

Kumpulan cerita tentang si bos…

Cerita 1…

“Ampun deh susah banget ditelepon, terus giliran telat meeting, yang disalahin gue. Maunya apa sih?”

—-

Cerita 2…

“Bos gue yang dulu nih, gue makan siang ga boleh di luar boook?”

“Hah? Ga bosen lu nangkring di cubicle lu terus?”

“Makan siang suruh OB beliin, terus makannya di tempat.”

—-

Cerita 3…

“Hallooo? Wei, kenapa elu nangis?”

“Gue sebel, bos gue dementor banget. Pengrusak kebahagiaan orang. Gue masakh dijelek-jelekin di depan klien, dia bilang o iya karena dia masih anak kecil, baru lulus, belom bisa apa-apa. Terus klien-klien gue jadi males ke gue khan, jadi ilang semua. Terus dia ama yang lain ngomong ga bentak-bentak, tapi giliran ama gue, bentak-bentak gue.”

—-

Cerita 4…

“He’s not a boss, but a leader.”

—-

Cerita 5…

Seorang anak buah yang sedang duduk di depan komputernya, sambil berbicara ke dirinya sendiri…

“I love Mr. X, I love Mr. X.”

Dan tak sengaja teman satu bagian, melewatinya…

“Napaaaa loe?”

“Iya gue abis dimarahin ama bos gue, n biar gue ga bete kerja, gue bilang ke diri gue, dia orang yang menyenangkan.”

“Huaaahahaha.”

—-

Cerita 6…

“Tiramisu buat sapa elo bungkusin?”

“Buat bos gue, biar dia ngga ngomel gue dateng telat makan siang.”

—-

Cerita 7…

Suatu hari di acara rafting satu divisi…

“Eh liat-liat Mr. X jatoh.”

Dan satu perahu pun diam tak bersuara saat perahu itu melewati si bos yang sedang terjatuh ke air dan menunggu untuk di angkat kembali ke perahu. Saat perahu si anak buah telah melewati si bos yang terjatuh itu…

“Huaaaaahahahhaa, elo liat ga tampangnya tadi? Memiskin.”

“Apa istilah lu? Memiskin? Rusak-rusak.”

—-

Cerita 8…

Di perahu lainnya sedang tersangkut batu dan tak bisa bergerak, kebetulan ada satu anak buah yang berbadan besar. Dan saat perahu itu tersangkut batu, dan berhenti total, tak bisa bergerak, si anak buah berbadan besar itu ternyata menimpa si bos…

Si bos: “Hmmm, bisa geser ga, saya kegencet.”

Si anak buah: “Mau sih, tapi saya ga bisa gerak.”

(Redaksi: *Antara bales dendam ama PW ya? :lol: *)

—-

Cerita 9…

“Gue beruntung, bisa banyak belajar dari dia. Apa-apa gue dilibatin, apa yang dikerjain dia untuk satu divisi, gue diinform, bikinin presentasinya dia juga. Jadi gue tau divisi gue itu kerjaannya apaan.

—-

Cerita 10…

“Ah, masakh dia lebih percaya wakilnya daripada gue? Wakilnya itu mulutnya nyinyir kayak emak-emak tukang gosip pulakh, fitnah gue. PA gue kemaren jadi jelek.”

—-

Cerita 11…

Hari pertama…

“Pak, bapak nanti bis makan siang, balik ke kantor gak?”

Hari berikutnya…

“Nanti abis makan siang balik ke kantor Pak?”

Hari berikutnya…

“Nanti balik ke kantor jam berapa Pak, abis makan siang?”

“Kamu kenapa sih, tiap hari nanyain saya balik makan siang jam berapa?”

“Gak, jujur Pak, saya ngantuk, saya pengen jalan-jalan ke Mall, tapi males balik ke kantor.”

“Oh, ya udah, hari ini saya ga balik ke kantor.”

—-

Cerita 12…

“Ciieeehh yang dipinjemin jaket pas tadi di puncak pas.”

“Kenapa dia tiba-tiba perhatian gitu ya gue kedinginan?”

“Ah dia khan juga mau cari muka ama cewek-cewek yang kegatelan itu kalee, ga sama elu.”

—-

Cerita 13…

“Ada untungnya ya dia masuk sini, ngelatih kita jadi kadal. Hahahaha, emang dia doang yang bisa licikin orang. Sini juga bisa dong.”

—-

Cerita 14…

Suatu pagi di sebuah cubicle, si anak buah sedang membaca koran dan tiba-tiba si bos menghampiri…

“Kerjaan yang kemaren saya minta, udah selese belom?”

“Iya, ntar. Saya lagi sibuk baca koran.”

—-

Cerita 15…

“Eh, tadi pagi rambutnya klimis, kok sekarang jadi kering gituh?”

—-

Cerita 16…

“Aaahh, gue sedih, gara-gara restructuring gue dah ga jadi bawahannya dia.”

—-

Cerita 17…

“Bos gue tuch gila, aneh banget. Pernah tuch gue berantem ama dia ampe gebrak-gebrakan meja, terus gue keluar banting pintu. Biar aja. Gue dapet bos yang sebintang sama elo aneh semua.”

—-

Cerita 18…

“Buset deh nih anak kemaren masakh setengah 5 dah pulang.”

“Itu masih mending, biasanya setengah 4.”

“Elo dateng jam 6 ampe kantor?”

“Ga, jam setengah 10.”

“Yang punya kantor Mbak?”

“Bis gue ga ditegor. Apalagi pas gue hamil muda, 3 hari ga masuk, 1 hari masuk, terus gitu ampe 3 bulan.”

—-

Cerita 19…

“Eh kok dia berubah ya, waktu gue jadi anak buahnya ga licik nyebelin kayak gitu tuh.”

—-

Cerita 20…

“Denger-denger dia dah ga kayak dulu lagi loh. Dah lebih humble.”

“Kayaknya sih iya. Keliatan dari pas terakhir ngumpul-ngumpul reunian.”

—-

Cerita 21…

Si bos: “Yuk kapan kita outing bukan acara kantor gituh.”

Wakil si bos: “Mereka sih udah duluan, long weekend kemaren.”

Si bos: “Kok saya ga dikasih tau.”

Anak buah 1: “Iya loh kok ga dikasih tau, kan elo yang tugasnya ngimel.”

Anak buah 2: “Bukannya elo yang tugas ngimelin yang lain.”

Anak buah 1: “Elo!”

Anak buah 2: “Apa kelewat ya?”

(Redaksi: *Menurut lohhhh si bos diajak gituh?*)

—-

Cerita 22…

Suatu saat di acara paintball bersama.

Si Bos: “Tadi sapa tuch yang nembak saya tepat di jidat. Jadi keluar lapangan khan saya.”

Anak Buah: “Saya yang nembak. Sniper dounks. Bagus pas kena helemnya, tadinya saya ngincer yang lain. Huahahahah.”

—-

Cerita 23…

“He’s a good speaker.”

“And a good influencer.”

“And a great smoker too.”

“Yoi.”

—-

Cerita 24…

“Enak kok punya bos dia. Pemimpin, temen, mentor, dan bukan bos pada akhirnya.”

—-

Cerita 25…

“Pacar loe sapa sekarang?”

“Bosnya si itu tuh.”

—-

Ini semua cerita tentang saya? Ya tak mungkin laaahhh…

Lalu untuk para bos di luar sana (*Termasuk gue ga ya?*), yah… kalian tak mungkin lah terbebas jadi bahan omongan para anak buah, jika sedang kumpul.