Posts Tagged ‘Narsis’

Jutek Loe Poooolllll!!!…

Saturday, October 17th, 2009

Never talk to a stranger…atau jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, berarti jangan pernah bicara pada orang yang belum kita kenal/orang asing

Sudah sering dengar ‘kan ya istilah itu? Saya sendiri sudah mendengarnya bahkan sering di wanti-wanti oleh orang tua sejak saya kecil. Dan hal ini masih saya pegang dan selalu saya ingat hingga sekarang. Ya, alasan utamanya adalah untuk melindungi diri sendiri, mengingat dunia ini semakin banyak orang yang tega melakukan tindak kejahatan terhadap orang lain.

Dulu sewaktu saya kecil, saya pikir alasan utama orang tua selalu mengingatkan saya akan hal itu, agar saya terhindar dari penculikan (yang ternyata saat ini semakin marak). Beranjak dewasa, nasihat orang tua itu pun semakin beralasan, karena tidak hanya masalah culik-menculik, tapi juga tindak kriminal lainnya, seperti hipnotis, pencopetan, pemerkosaan, bahkan yang paling kejam pun, yaitu pembunuhan (yang saat ini beritanya juga sudah tidak asing kita dengar dalam hidup sehari-hari).

Mungkin itu pula lah yang semakin menjadikan saya manusia jutek bagi orang lain. Hal ini terbukti dari beberapa komentar teman SMA saya, saat memberikan tulisan kecil di buku tahunan SMA, saat kami perpisahan…

Dari teman sebangku saya: “Gue seneng sebangku sama elo setahun, karena gue bisa adu jutek sama elo…hahahah…”

Dari teman sekelas saya: “Gue balik dari Amrik, elo ‘dah ga boleh jutek ya. Janji tuch.”

Dari sahabat saya yang juga satu SMP dengan saya: “Jutek loe pooooooooolllllllllllllll.”

…atau…

Dari mantan pacar zaman SMA: “Kamu kalo ngeliat orang jangan ngelirik pake ekor mata kamu dong. Jutek berat.”

…dan ternyata jutek masih jadi nama tengah saya hingga sekarang. Lagi-lagi karena komentar dari salah satu teman yang kebetulan juga seorang nara blog, yang ia tulis pada halaman profil saya di salah satu situs tetangga…

“Elo cewek terjutek yang pernah gue temuin, ga bisa basa-basi terlihat manis di depan orang kalo dah ga suka, and elo smart. I like your style.”

Saya pribadi ndak marah sama sekali dengan julukan itu. Sedikit bangga malah punya ciri khas :mrgreen:.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, prinsip never talk to stranger itu sudah sedikit saya langgar, semenjak saya berkelana di dunia maya. Awalnya memang saya hanya ngeblog untuk mengeluarkan apa yang ada di kepala dan hati saya, tanpa berharap ada komentar dari orang lain. Namun ternyata tulisan-tulisan saya dari zaman masih ngeblog di Friendster, lalu pindah ke Note Facebook, pindah lagi buka Blogspot, hingga sekarang punya domain sendiri, mendapatkan komentar-komentar dari yang membaca. Jujur, mulanya saya malas memberikan komentar balasan, hanya karena saya ini, dulu orangnya lebih tertutup daripada saat ini, tapi jauh di lubuk hati (*Saaahhh…*), saya ingin memberikan apresiasi dari apa yang sudah mereka berikan pada saya, yaitu mampir, membaca dan memberikan komentar di tulisan saya, dengan menyapa mereka kembali.

Sudah pasti pemberi komentar pada tulisan saya di blog, tidak hanya dari teman-teman yang sudah saya kenal sebelumnya, pasti termasuk orang yang tidak saya kenal, bahkan ada juga satu, dua orang “peneror” :mrgreen: , yang membuat hidup saya menjadi lebih indah (*Errr…atau “indah” ya?*). Dari aktivitas daring itulah, saya mendapatkan teman-teman baru. Dan banyak dari mereka yang belum pernah saya temui secara langsung tatap muka, tapi saat kami “mengobrol” di dunia maya ini, sudah seperti teman lama.

Berpikir lebih lanjut lagi tentang apa yang sedang saya bahas sekarang ini, ternyata pelanggaran yang saya lakukan, tidak terlalu banyak, mengingat saya tidak akan pernah mau diajak bertemu mereka secara langsung, jika tidak melalui sebuah acara resmi, yang dilakukan di tempat umum, dan tentunya melibatkan beberapa orang (baca: kopdar). Dan bukan berarti, saat saya berbalas-balasan komentar di blog atau mengobrol di media manapun, bahkan setelah bertemu orangnya langsung, lantas saya akan percaya seratus persen pada mereka, dan mengumbar cerita hidup saya dari A-Z, since I am an introvert saya pasti akan memilah-milah hal apa yang bisa jadi konsumsi orang lain, atau hanya menjadi konsumsi saya sendiri.

Lagi-lagi saya akan katakan, bahwa itu semua saya lakukan, untuk menjaga diri saya sendiri, karena tidak semua orang itu jujur ‘kan ya, atau setidaknya cukup lihai dalam seni “kreativitas mengarang bebas” dalam bertingkah laku dan berkata-kata, apalagi di dunia maya :mrgreen:. Errr…itu bisa juga berlaku untuk diri saya looo… :lol:

“Jadi sekarang situ masih percaya ndak sama saya?” :mrgreen: (*Terserah ya*… :D)

Oh ya untuk para manusia sok akrab, menyebalkan dan annoying di luar sana, jangan pernah harap saya memberikan balasan atas sapaan-sapaan tak jelas dari kalian, yang notabene tidak saya kenal, bahkan mungkin saya anggap sebagai alien (perempuan sekalipun), saat kalian bertemu saya dan sedang ingin melontarkan aksi sok akrab kalian, misalnya dalam kondisi seperti ini…

Di patas AC, seseorang yang duduk di samping saya tiba-tiba melontarkan pertanyaan: “Kerja atau kuliah,” atau “Kerja di mana,” ini jelas tidak akan saya acuhkan sama sekali, bahkan melihat ke arah wajah orang tersebut tidak akan saya lakukan.

…atau saat sedang duduk sendiri di sebuah café yang kebetulan meja lain sudah penuh dan kursi di depan saya masih kosong, dan saat itu saya sedang asik sendiri dengan laptop saya, tiba-tiba seseorang yang saya izinkan berbagi meja, melontarkan pertanyaan: “Lagi buka situs apa,” atau “Rajin amat di tempat nongkrong masih kerja,” yang untuk awalnya pasti akan saya balas hanya dengan memberikan tatapan mata sinis nan jutek, dan kemudian mungkin akan saya jawab dengan: “Err sorry…i don’t feel like i want to talk to you…busy,” ditambah umpatan dalam hati “Keppooo amat. Bagus lu tadi gue iya-in waktu nanya tuch kursi kosong atau ngga.”

“So beware of people around you apalagi di dunia maya boookk, jangan cepet percaya, tapi bukan berarti semuanya di internet itu buruk looo…pinter-pinter milih temen biar ga ketipu…and the last but not the least, protect yourself by your jutekness…hahahahahha” :lol: :lol:

Utak-Atik Ga Jelas…

Sunday, September 20th, 2009

Hmmm…akibat merasa sedikit bosan dengan tampilan blog yang lama, akhirnya saya berniat untuk mengubahnya sedikit.

Ya setidaknya dari header si blog saja dulu. Mengubah header-nya berarti pula saya harus mencari-cari gambar yang masih sesuai dengan teman keseluruhan (karena saya malas untuk mengubah semuanya), yaitu putih dan biru.

Mencari-cari gambar kesana-kemari, membuat saya kembali mengutak-atik aplikasi Polyvore di Facebook. Sudah lama aplikasi ini tidak saya sentuh. Sudah lama pula, saya tidak berkutat dengan kreasi semacam scrapbooking yang ditawarkan oleh aplikasi ini.

Dan tampilan di bawah ini, adalah tampilan hasil saya berburu gambar di Polyvore. Hmmm, lumayan ‘kan ya, jiwa artistik saya? :mrgreen:

Coz They're In Love
Coz They’re In Love by OchaOchaChan on Polyvore.com

Obat Penawar Jenuh Paling Ampuh…

Sunday, September 13th, 2009

If the world should stop revolving spinning slowly down to die,
I’d spend the end with you.
And when the world was through,
Then one by one the stars would all go out,
Then you and I would simply fly away…(if, by Bread)

Hmmm…salah satu lagu andalan, saat saya menghabiskan malam di depan piano sembari memainkannya dan bernyanyi, yang mampu memecah keheningan malam, dan mengusir kebosanan saya  dari aktivitas di depan laptop.

Dan sekarang, waktunya bermimpi terbang ke bintang bersama sang bintang…

Oyasuminasai…

—-

“Hayyyoo, kalau obat penawar jenuh kamu yang paling ampuh apa? Saya? Piano & Nyanyi; Nulis, internet, blogwalking; Main sama anjing-anjing saya; (Ngayal) Ketemu “Bintang” -ku tersayang.”

—-

*big thanks to my Mom, yang udah susah payah nge-lesin nyanyi dari umur 7 taon, dan les piano walau cuma 1 taon. Obat paling ampuh ngusir jenuh & sepi hati, love you, Mom.*

Yak, Gue Lagi Bingung Sama Gue Sendiri…

Tuesday, August 25th, 2009

Hmmm…tak dipungkiri kesenangan saya membuncah, ketika Introverto ini diulas di sebuah majalah, dua minggu lalu. Tak dipungkiri pula, rasa senang itu juga membuat saya meletup-letup girang dan bangga, saat traffic pengunjung ke blog saya ini, semakin banyak, bahkan dua kali lipat daripada sebelumnya. “What a great promotion,” pikir saya saat itu.

Namun di tengah rasa senang itu, tak tahu saya akan menyebutnya sebagai rasa apa, tapi yang jelas, rasa ingin untuk tetap menjadi penulis blog seperti dulu itu, juga tiba-tiba muncul. Suatu rasa, di mana tidak banyak yang mengetahui tulisan saya, atau hanya sebatas teman-teman yang berkelana di dunia Facebook, karena saya pun menuliskan isi Introverto, sebagai note saya di sana.

Rasa itu tak berhenti saja di situ, tak hanya kerinduan pada masa lalu, yang mampu membuat saya lupa akan satu rasa lagi yang saya alami karena Introverto ini semakin dikenal banyak orang, yang berarti saya semakin bisa “merusak” orang lain, ataupun memberikan sebuah inspirasi dan motivasi kepada yang membacanya. Kebanggan bahwa ribuan kata yang sudah tertuang ke dalam 200-an tulisan yang sudah saya buat, mampu memberikan sesuatu pada mereka yang membaca.

Belum lagi rasa senang karena mendapatkan teman-teman baru di dunia maya, yang wajahnya pun belum pernah saya lihat secara tatap muka langsung. Namun seperti sudah kenal puluhan tahun, saat sahut-sahutan di blog kami masing-masing, atau di Twitter atau bahkan hanya seperti teman lama yang sudah tak bertemu bertahun-tahun saat berbicara di telepon, yang sama sekali tak menunjukkan indikasi bahwa kami belum pernah bertemu secara tatap muka sebelumnya.

Kembali rindu akan masa lalu, yang hanya ingin menjadi manusia “di balik layar”. Dan tak perlu terlalu dihantui rasa takut mengecewakan orang lain karena tulisan saya,  dan rasa-rasa seperti itu, yang sebenarnya sudah lama saya buang jauh-jauh, karena saya tahu persis bahwa itu adalah bagian dari rasa insecure yang tak boleh saya biarkan ada di dalam diri dan pikiran saya.

Dan hari ini, kerinduan menjadi penyendiri seperti dulu, telah membuat saya mengklik satu, dua kali pilihan decline saat ada beberapa orang yang ingin menambahkan saya di Twitter, dan satu orang di YM; karena terus terang Facebook, Twitter dan Yahoo Messenger itu saya anggap sebagai zona yang lebih pribadi daripada blog.

Saya harap mereka tidak kecewa ya, terutama untuk yang tadi sudah mengirimi saya surat elektronik atas permintaannya menambahkan saya di YM, setelah permintaannya  yang sebelumnya saya tolak, karena tak ada satu note pun yang memberikan keterangan bahwa orang ini mengetahui saya dari mana (si Introverto). Terus terang, ini karena saya sudah terbiasa dididik untuk bisa melindungi diri saya sendiri, dan kata-kata seperti “Don’t talk to a stranger,” sampai sekarang masih tertanam baik di otak saya.

Hei, sekali lagi bukannya saya tidak suka loo ya dengan keramaian tamu di sini, sumpah saya benar-benar suka, dan takjub, tapi saya hanya rindu masa-masa lalu. And since this blog is also my journal, so this is my today’s journal. Ini apa yang saya rasakan hari ini, dan tetap ingin saya hamburkan ke semuanya.

Saya juga hanya seorang perempuan dengan salah satu karakteristik menyebalkannya yaitu moody (*Hahahahah*) ditambah dengan karakteristik introvert yang tak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan di dalam.

Arrrghh..hate it, when this moody thingy is around me. And also hate to admit it, that once more he’s right.

—-

“Who is he?”

“Adddaaa deeee.” :mrgreen:

—-

Really hope that I’ll be “back” soon without this moody thingy.

Do Love Being Skinny and Proud of It…

Saturday, August 15th, 2009

Beberapa bulan yang lalu, seseorang yang sudah tahunan tak bertemu dengan saya melontarkan komentar ini, saat saya kembali bertemu dengannya…

“My goodness ‘Cha, you’re so skinny.”

Beberapa bulan setelah itu…

“Nih, kamu capekh ‘kan, n udah aku masakkin, ayo makan yang banyak, biar gemuk.”

Dua hari yang lalu…

“Dah sarapan blom?”

“Udah donk, I never skip breakfast coz it’s the most important meal.”

“Good then, biar gemuk.”

Komentar-komentar seputar berat badan saya yang termasuk underweight ini sudah menjadi agenda rutin saat saya bertemu dengan seseorang, apalagi kawan lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Termasuk urusan meminta saya untuk menaikkan berat badan.

Saya paham betul, dengan proporsi berat tubuh 44 kg dan tinggi 162 cm, dan ukuran semua pakaian di seputar XS dan S, semua orang pasti mengatakan saya kurus, bahkan seseorang memberikan panggilan sayang untuk saya dengan “Bonnie”, yang berarti tulang (*Tapi cantik ‘kan? Wakakakakak :lol:*).

Sewaktu remaja, yang biasanya remaja perempuan sedang sangat concern dengan berat tubuh mereka, saya malah tak terlalu peduli, dan cenderung santai, karena saya tahu saya sulit menggemuk dalam sekejap. Saya tidak suka camilan, saya tak menggilai es krim atau coklat, dan porsi makan saya sedikit tapi sering.

Namun setelah semakin bertambah umur, dan saya juga melihat mama yang dulu juga sangat kurus (bahkan di usia yang sama dengan saya sekarang, mama lebih kurus daripada saya) sekarang berubah menggemuk, saya jadi berpikir, dan ini saya ungkapkan ke mama…

“Ntar gue segede apa ya Ma? Dulu aja kamu kecil banget sekarang gemuk gitu. Waduh-waduh mesti jaga badan neh.”

“Iya, gue juga bingung, dah mondar-mandir ngurus cucu, masih aja segede ini. Makannya jaga badan dari sekarang.”

Dan hal itu sudah saya pikirkan sejak beberapa tahun lalu, apalagi sekarang.

Dari urusan makan siang di kantor, saya memilih untuk membawa dari rumah, selain bersih dan sehat, masakan si mama itu tak ada tandingannya deh. Sangat enak.

Belum lagi pertimbangan karena mempunyai titik lemah di organ pencernaan yang membuat saya harus berhati-hati terhadap maag. Penyakit ini sebenarnya sudah mulai saya alami sejak saya duduk di kelas 5. Dan telah menyebabkan saya opname 2 kali, yaitu saat kelas 5 itu, dan terakhir yang sangat parah di tahun 2000 lalu, bahkan opname terakhir ini, menyebabkan pertama kali saya harus merasakan cairan intra vena yang menyebalkan itu.

Padahal dulu, sewaktu kecil terkena demam berdarah, dan juga opname, jarum infus tak dipasangkan ke tubuh saya, karena dokter yang merawat saya bertanya pada saya “Mau diinfus, atau mau minum air putih 1 gelas besar tiap 5 menit?” dan saya lebih memilih meminum air putih daripada harus terkena jarum infus.

Opname di kelas 5 SD itu saya masih terbebas dari infus, tapi tak dengan opname di tahun 2000, saat saya benar-benar kehilangan cairan, setelah diare dan muntah berkali-kali, tak terhitung jumlahnya, cairan intra vena pun terpaksa dipasangkan di pergelangan tangan saya. Hanya karena saya terlambat makan siang selama 2 jam. Hanya karena 2 jam yang berakhir menyebalkan.

Penyakit maag akut yang merupakan pengalaman traumatis itu, membuat saya memilih untuk tak membiarkan perut saya kosong, apalagi jika sudah terasa lapar. Namun mengkonsumsi camilan atau biskuit-biskuit yang dapat menggemukkan badan? No, no, no, tidak saya lakukan. Lebih baik saya menuang oatmeal ke dalam gelas dan menyeduhnya.

Kebutuhan kalsium untuk tulang dari susu, juga saya perhatikan. Dan susu tanpa lemak, dari satu produk andalan yang namanya hanya 3 huruf itu menjadi pilihan saya.

Ah tinggal satu hal yang belum kembali rutin saya lakukan seperti dulu. Olah raga.

Gym? No, I don’t like it. Bertubuh kecil begini, tapi olah raga yang dulu sempat 10 tahun rutin saya jalani (rutin dari tahun 1998-2008) adalah tenis lapangan. Papa yang membawa saya ke olah raga ini. Namun sayangnya, sekarang sedang vakum, karena pelatih saya pindah kota.

Dulu niy, ada satu masa di mana saya menjalani tenis ini dua kali seminggu, Kamis dan Minggu. Masa lainnya, Sabtu bowling, dan Minggu tenis. Masa lainnya lagi, Kamis joging di Senayan (*Terakhir sampai 7 putaran stadion non-stop loh*), dan Minggu tenis. Masa lainnya, Sabtu berenang dan Minggu tenis.

Sekarang? Huaaaa…belum rutin lagi. Saya rindu lapangan, apalagi mengingat tenis ini bisa saya jadikan ajang katarsis kekesalan atau kemarahan saya.

Ada teman saya yang pernah mengatakan ini…

“Ocha mana bisa gemuk?!”

dan sekarang saya akan menjawab…

“Berat gue naik kok, lulus SMA 38 sekarang 44.”

(*FYI, saya lulus SMA itu lebih dah laaaaammmaaaa, hahahaha*)

—-

Hmmm, tak perlu menyuruh saya menaikkan berat badan ya, karena saya akan katakan ini…

“I love being skinny and I am proud of it.”

Apalagi papa memanggil saya dengan si Twiggy (*Hihihiyyy…I’m such a super model for him, wakakakakak*).

—-

*Nyari coach tennis baru aaaahhh, really miss this sport*