Posts Tagged ‘Narsis’

Are You Thinking What I Am Thinking?…

Wednesday, February 17th, 2010

Nih ya..saya katakan kepada Anda semua, ke kalian semua, teman-teman saya tercinta, para kolega saya yang terhormat, dan anak-anak saya yang lucu, “aneh”, “ajaib” bin menyenangkan…JUTEK saya ini sudah DEFAULT alias sudah dari sono-nya seperti ini.

Dari zaman kuda gigit batu, a.k.a zaman baheula, tampilan saya ya seperti ini, tak bisa diubah.

Hampir semua orang yang baru melihat, dan mengenal saya, kemungkinan besar memiliki keseragaman akan penilaian terhadap diri saya…ya, itu tadi JUTEK, judes, galak, dan julukan sejenis…dan saya tak peduli akan hal itu. Apa yang mereka katakan memang benar, karena itu yang mereka lihat.

Tapi saya adalah bagian dari mereka yang menganut paham, bahwa semua itu terjadi pasti ada alasannya, termasuk alasan di balik keberhasilan atau kegagalan saya untuk memunculkan tingkah laku tertentu. Alasan, penyebab, stimulus yang terkadang tak (mau) dilihat oleh orang lain yang berinteraksi dengan saya. Tapi lagi-lagi saya tak peduli apakah orang itu mau melihatnya atau tidak, karena saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa untuk memunculkan tingkah laku itu, saya sudah melakukan proses “editing” terlebih dahulu.

“Rawat jalan” saya di Almamater, ternyata cukup membuahkan hasil. Berhasil membuat saya harus menambah masa “rawat jalan” saya sendiri; berhasil membuat saya membuat orang lain akhirnya mengalami “rawat jalan” juga; dan yang terpenting adalah membuat dunia saya jauh semakin berwarna.

Memakai “sepatu” orang lain itu tidak pernah akan bisa sangat nyaman dirasakan (kecuali sepatunya pada akhirnya jadi HM, alias Hak Milik, a.k.a NYOLONG). Karena memang bukan ukurannya, karena memang tidak terbiasa, karena memang itu bukan milik kita sendiri, tapi terkadang kita harus mencoba sesekali, atau bahkan berulang kali, di “sepatu-sepatu” orang yang berbeda.

So why don’t you try to wear my “shoes”? Why don’t you take a look at yourself, before complaining?

And one question for you… Are you still at the same “place” now, or you are already moving forward? If so, why?

I am not him, I am not her. I am what I am, and I have my own way to do what I have to do.

Time will tell at the end of the day.

Terima kasih untuk mereka yang sudah membuat dunia saya jauh semakin berwarna, dengan ikut serta menjadi bagian dalam proses penambahan masa “rawat jalan” saya.

“Written 16th February and will be published on Wednesday, 17th February 2010, at 10.28 a.m”

Perempuan Oh Perempuan…

Wednesday, December 16th, 2009

“Errrr…saya ini sekarang yang perempuan cuma hardware-nya, software-nya laki.”

Yupe…didikan dari “brengsek”nya dunia sekitar, membuat saya bukan seperti perempuan kebanyakan, atau setidaknya saya terlalu gengsi untuk memperlihatkan ke dunia.

“Kenapa sih loe cuma mau liat apa yang elo mau liat, mau denger cuma hal-hal yang elo mau denger, selalu pikir yang negatif, ngomel, cranky, dikit-dikit panik, stres, parno, insecure, super sensitif ga jelas, yang semuanya itu belom tentu kejadian.”

Ditampar? Jelas!

Tamparan-tamparan dan deraan-deraan semacam itu, sudah bertahun-tahun saya lalui, saya nikmati dan saya syukuri. Sumpah mati, kalau saya tidak mendapatkan itu semua, mampuslah saya, akan terus seperti perempuan kebanyakan, dan seperti sebagian kecil laki-laki tukang mrepet yang seperti perempuan.

Tak tahu mengapa, kebetulan sekali, saya bergaul dengan dan “digauli” oleh orang-orang “laknat” nan “brengsek” plus “keparat” yang dengan sukarela hati menciptakan satu mind set baru di seorang Ocha yang dulu adalah manusia super menyebalkan di segala seluk-beluk urusan ngomel, mrepet dan cranky, yang sepertinya sudah menjadi trademark perempuan kebanyakan.

Jangan dikira saya tidak nangis-nangis darah saat melalui itu semua! Tidak setengah mati menahan diri, mencoba berpikir sebelum mrepet, mencoba memakai “sepatu” orang lain, tidak menjadikan mrepet dan omelan sebagai sebuah solusi, yang pada akhirnya menjadikan saya mampu untuk mengucapkan “Yupe, itu salah saya, maaf ya, from deep inside my heart,” walaupun tetap ada masanya di mana saya kehilangan kemampuan itu semua.

Proses pembelajaran saya, memang dimulai dari hal-hal yang sepele dan sangat kecil…

1. Saat saya mengirimkan SMS, dan tidak ada balasan sama sekali dari yang bersangkutan…

“Emang kalo kamu SMS, harus langsung dibales? Terus melegalkan kamu untuk ngomel? Gak pernah mikir apa ya mungkin aja aku abis batere, abis pulsa, ga ada signal, lagi rapat. Ya mbok nanya dulu. Terus, harus ya gue jalan kemana bilang ama elo?”

2. Menunggu telepon dari seseorang…

“Bisa aja khan aku ampe rumah capekh, ga kuat lagi ngangkat telpon dan langsung tidur.”

dan sekian tahun kemudian…

“Itu aku sukanya dari kamu, kalo kamu dah nyoba sekali telepon terus ga diangkat, kamu ga rewel nelpon berkali-kali and mau nunggu ampe akunya ga sibuk trus baru telpon kamu.” (*Yayaya, coba elo ketemunya gue beberapa tahun sebelum itu, Mas, kalo telpon loe ga gue rewelin!!)

3. Di sebuah perbincangan (sepertinya hal ini sudah pernah saya tuliskan di cerita saya dulu)…

“Emangnya elo anak dewa yang apa-apa harus diturutin?” (*Njjjrrriiiiiiittttt!!!!!*) :mrgreen:

4. Lagi-lagi di sebuah perbincangan…

“Kamu cantik, tapi akan lebih cantik kalo seseorang ngeliat kamu cantik terus pinter, smart!!!”

…dan ke hal-hal yang sedikit lebih besar daripada hal-hal di atas…

5. Didera dosen dengan segala pertanyaan, saat saya ternyata harus presentasi materi kerja kelompok dan menjawab semua pertanyaan, seorang diri, tanpa ada anggota kelompok lain, yang hampir membuat saya kabur dari depan kelas, karena saya belum benar-benar siap dengan materi itu. Tapi karena hal ini, saya bisa presentasi dan menjawab seluruh pertanyaan dari dosen, untuk materi tugas kelompok yang berbeda, di lain kesempatan, tapi dengan siksaan yang sama, yaitu presentasi sendiri dan menjawab sendiri, tanpa ditemani. Dan pada akhirnya membawa saya menjadi asisten dosen di mata kuliah paling mengerikan di fakultas saya dulu, di semester berikutnya.

6. Mendapatkan omongan seperti ini dari sang dosen pembimbing (saat kurang dari 48 jam sebelum waktunya mengumpulkan skripsi)…

“Saya ga yakin ngelepas kamu sidang bulan ini, tapi tetep saya akan tandatangani surat kamu untuk maju sidang bulan ini, terserah kamu mau buat skripsi kamu jadi apa,” yang membuat saya setelah itu, selama lebih dari 36 jam tidak sedetik pun merebahkan diri di atas tempat tidur, dan tidak tidur, hingga 3 bundel skripsi yang siap diujikan dikumpulkan di hari yang telah ditentukan oleh fakultas…Got A for it (*Teteup songong hahahahha!!!*)

…dan hal yang lebih besar lagi…

7. Saat di kantor…

“Njrit deh itu HRD maunya apa sih. Jelas-jelas dah gue kasih, dia tanda tangan pulakh tanda terimanya, hardcopy aslinya langsung gue kasih ke dia. CD softcopynya elo juga khan yang bawa, trus bos kita pun dah email ke dia. Tanda tangannya dia juga gituh. Trus sekarang berkasnya ilang semua gituh? Dan kita yang disuruh bikin berita acara? Giginya dia gendut apa!”

“Ya udah, biar aja, semua penilaian kita tertunda, kita doain ajah, biar dia dapet pekerjaan yang lebih layak, so dia pindah dan HRDnya kita bukan dia lagi. Orang sabar pasti kesel!”

Pelatihan-pelatihan yang sungguh menyenangkan. Yang saat ini menjadikan saya seperti ini…

1. Berbicara pakai otak. Tidak hanya dengan mulut, dan sangat-sangat saya usahakan dengan nada datar, kecuali kalau yang diajak bicara, memang sungguh keterlaluan.

Itu sebabnya saat ini saya katakan pada teman-teman di kantor bahwa mereka boleh menanyakan apapun ke saya sebagai HRD mereka, tapi dengan sangat menyesal saya tidak akan memberikan jawaban langsung. Pasti saya akan bertanya balik, apa yang kamu ketahui dari pertanyaan itu?

2. Sabar dengan tingkat toleransi sudah jauh lebih tinggi.

“Biar, dia mau ngapain ajah, kalo ntar dah saatnya dia dateng ke gue, khan ntar balik ndiri, kalo ngga ya udah, jangan kayak orang susah!

3. Cranky, Mrepet, Ngomel, Panikan, Hobby nuduh/ngejudge orang lainGampang Stress, kalau jutek ini sudah default! :mrgreen:

4. Dan sudah jauh berkurang untuk mudah mengeluarkan kata-kata seperti ini…

“Eh, ntar kalo gitu, jangan salahin gue ya kalo…”

“Pokoknya ntar kamu sendiri yang harus ganti…”

…errr, bentar itu sama aja ngomel ya?…hahahaha…apalagi kalau  sudah ngomelin orang lain, lalu ternyata yang ngomel itu yang salah, lalu yang ngomel tanpa minta maaf ke yang diomelin…

Kalau sudah begini, saya biasanya mengingat salah satu bagian pendidikan yang pernah saya jalani…

“Ya udah Cha, biar ajah, itu berarti kastanya mereka masih jauh lebih rendah daripada kamu. Jangan repot, kayak orang susah.”

Untuk para perempuan, hehehehe kurangin cranky and ngomel-ngomel yuk dari sekarang…untuk para pria, jangan cranky or hobi ngomel kalo ga mau dibilang kayak perempuan…dan untuk para pria yang sangat logis, berani mengingatkan para perempuan di sebelahnya juga bukan suatu yang buruk loh…kalau para perempuannya tak terima, ya berarti satu karakteristik mereka sudah terlihat ke permukaan ‘kan ya?

Untuk semua pendidik saya di dunia nyata…THANK YOU…LOVE YOU FULL!!!! REALLY APPRECIATE IT!

Tinggal saya sekarang kembali menerapkan ilmu yang sudah saya dapatkan, jika saya kembali menemukan perempuan-perempuan tulen secara luar dalam. GOSH!

HRD Gue…

Thursday, November 26th, 2009

Satu hal lagi yang gue suka dari musim hujan…bisa mengeluarkan koleksi baju dan perangkat fesyen “fall-winter collection” yang gue punya.

Kebetulan kemaren, pagi-pagi mau berangkat ngantor masih hujan. Berhubung gue tetep harus berangkat sebelum jam 6 pagi, jadi pasti udara masih dingin lah. Seperti biasa urusan outfit ngantor ini adalah hal penting untuk gue, karena apa yang gue pake bisa berpengaruh sama urusan mood kerja…hahaha…dan kemaren, outfit yang gue pilih, gue sesuaiin ama cuaca, prediksi mood kerja, dan prediksi AC kantor n floor (store) yang ngga ujan aja, udah dingin mampus.

Alhasil gue pake salah satu koleksi Mango Suit…si sack dress wol, tanpa lengan, warna abu-abu, kaos turtle neck ZARA warna item, winter stocking Marks & Spencer, plus syal biru United Colors Of Benetton, dan lengkap dengan jaket U2 item gue untuk berangkat n pulang. Berangkat kantor masih make sepatu teplek M)Phosis, tapi begitu sampe toko, mau kata harus muter-muter toko yang gede itu, teteup high heels Pretty Fit ditampilin.

Begitu masuk back office…biasa komentar anak-anak yang super spontan itu mulai terlontar…

Komen 1…

“Oow, oow, Bu Ocha lucu deh.”

“Mang gue tiap hari lucu.”

“Iya, tapi saya paling suka yang sekarang.”

Komen 2…

“Wahhh si ibu modis amat.”

Komen 3…

“Ibu cantik amat sih.”

“Saya emang cantik dari dulu…hahahaha.” (*sambil ketawa narsis*)

Komen 4…

(*Pas ke floor*)

“Bu sumpah, ibu cantik berat. Kita seneng punya HRD cantik, beritanya dah kesebar ke toko lain.”

“Eh, kalian gosipin saya?”

“Ngga, Bu, kita kan bangga. Trus kapan gituh ada HRD toko lain mampir ke toko temen saya itu, tiba-tiba temen saya telepon nanyain, eh yang dateng ke toko gue sekarang ini HRD tempat lu bukan ya yang kata loe cantik itu, yang badannya gini, gini, gitu? Saya jawab bukan, ibu gue langsing, gini, gini, gitu. Ibu tuch jadi rebutan toko.”

Komen 5…

“Eh kamu bentar lagi ulang taun kan…makan-makan kita?”

“Makan catering aja ya, Bu.”

“Ih seneng deh punya HRD perhatian terus cantik.”

“Kamu, boleh muji tapi ntar jangan sering riwil ke saya yah.”

Komen 6…

(*Di depan ruang gue*)

“Heh, kamu ngapain bengong liatin saya?”

“Ngga Bu, Ibu kok cantik banget hari ini, kayak artis. Pake lagi dong Bu kacamatanya. Biar tambah gaya.”

“Pegel taukh pake kacamata terus.”

Komen 7…

“Duh seksi banget.” (*sambil ngangkat 2 jempol*)

“Thank you.”

Komen 8…

(*Di depan ruang gue*)

“Mak, Mak, boleh jujur ga?”

“Apa?”

“Sumpah Mak, Emak cantik banget.”

Komen 9…

“Kayak baju-baju luar negeri gitu loh, Bu, bajunya ibu sekarang.”

Komen 10…

“Bunda, lucu banget sih.”

Terus terang nih, gue pake baju kayak gitu, juga karena gue kedinginan pas berangkat. Dan prediksi gue tepat, karena kantor n floor dinginnya tambah mampus gila gara-gara ujan.

Tapi beneran loh, urusan outfit menyenangkan yang gue pilih kemaren sangat membantu naikkin mood gue. Apalagi kemaren ternyata gue dapet berita sedih, gue bulan depan dimutasi pindah store, yang padahal ama store yang ini gue dah jatuh cinta banget; gue harus ngurus 1 orang yang…(*ya begitu deh*); terus lagi ada rekrutmen puluhan orang; terus dah mau pulang setengah 7, ada kasus 2 anak lainnya; dah mau pulang lagi, gue ngga tega ada 1 anak lagi, yang menurut gue, butuh diajak ngobrol n mumpung sempet, akhirnya gue panggil dia terus gue ajak ngobrol.

Eh, komennya nambah ternyata di tengah-tengah obrolan gue ama anak gue…

“Kamu umur berapa sih?”

“25, Bu, lebih tua saya kan daripada Ibu?”

“Hah, apa? Bentar, kamu nebak saya umur berapa?”

“23-24!”

“Alhamdulilah, Hallelujah, Praise The Lord.”

“Emang Ibu umur berapa? Dari dandannya ga keliatan, Bu.”

…gue pun nyebutin umur gue…

“Ibu boong. Saya ngobrol ama anak-anak lain, eh itu emak lu yang baru yah? Masih kecil kayaknya, masih muda banget. Iya, paling 23-24.”

Dan akhirnya gue nengok ke arah jam tangan…

“Njrit, jam 9 lewat. 12 jam lebih di store. Harus pulang. Bisa-bisa gue nginep di sini.”

Sumpah, capekhnya gue itu sama sekali ga berasa…karena sudah hampir sebulan di sini, gue belom pernah capekh hati, walau capekh fisik mayan sih. Tapi prinsip gue kalo cuma capekh fisik mah, bisa ilang ama tidur, tapi kalo capekh hati, malah bikin ga bisa tidur. Jadi urusan naikkin mood, buat kerja lebih enak, kayaknya membantu banget tuch, salah satunya dengan outfit yang dipilih. Ya gak?

—-

“Sumpah, gue lagi pengen nyampah, lagi pengen super narsis, lagi pengen nulis n ngomong pake elo-gue, capekh pake saya-kamu terus di kantor, walau ada beberapa anak gue yang dah berani keceplosan beberapa kali nyebut diri mereka sendiri dengan-gue, dan gue ga terlalu mempermasalahkan, asal jangan ampe ngelunjak.”

Masih Sibuk…

Thursday, November 5th, 2009

This is what I call as WORKING…

Saya harus sibuk dan tidak terus-menerus melihat ke arah jam menunggu waktu jam kerja berakhir. Intinya kalau saya magabut, ya lebih baik saya di rumah leyeh-leyeh.

Dengan kurang lebih total 300 orang yang harus saya tangani, durasi kerja yang ditentukan dalam satu hari sama sekali tak terasa…

“Bu, kok nama saya ngga ada di daftar catering, saya lupa tadi saya absen finger atau ngga.”

“Bu, minta form izin pulang, saya sakit.”

“Bu, maaf saya terlambat, ban motor saya kempes.”

“Ada obat flu ga Bu, idung saya meler.”

Berkali-kali menyebabkan saya harus menarik kembali tangan saya dari atas keyboard komputer, untuk menanggapi mereka.

Terlihat memang printilan dan sepele, dan ini baru berjalan 4 hari dan masih menghadapi dengan urusan administrasi dasar, belum ke tahap pengambilan keputusan yang pastinya lebih njlimet, tapi benar-benar itu semua sangat menyenangkan. Really it does.

—-

Mungkin banyak orang yang berpikiraan bahwa untuk bisa menjadi HR Generalist, sebaiknya bekerja terlebih dahulu di sebuah HR Consultant, tapi di tempat saya bekerja saat ini, benar-benar sebuah kawah candra di muka untuk dapat menjadikan dirimu sebagai HR Generalist, karena sebagai HR Store, you have to handle from A to Z  HR thingy for your store.

—-

Once more, THANK MY ALMIGHTY!!! Love You so much for giving me this job, walau ya walau jauhnya nih kantor dari rumah gue biadab banget. :lol:

All I wanna do now is to stay gold, by doing my best for God.

Maaf, Saya Sibuk… :p

Monday, November 2nd, 2009

Saya sudah resmi pindah kerja di tempat baru. Dan beginilah respon-respon yang tadi saya keluarkan…

“Yak, no twitter, no YM, no FB, apalagi sempet blogging?”

“What…total 300 orang yang harus diurus?”

“He? 25000 M2? The biggest in Indo.”

Dan dalam hati saya…

“Thank God…anak tangga yang dikasih ke gue sama Elo kali ini ga main-main, dahsyat. Mereka sebegitu percayanya ke gue. Gue anak kemaren sore di HR, langsung dipercaya tempat segede gini dan sendirian? Damn! You rock ‘Cha!!”

“Errr…mau kate internet dibuka lebar and ndak fakir bandwidth pun kagak kesentuh juga kaaallleee…kalo kerja macem ginih. Über Twitter aja ya ga diliat ampe sore gituh. Yay…workaholic gue ternyata masih mendarah daging.”

—-

“Eh jadi inget manusia tembok, merangkap beruang kutub…sekarang kita bisa saingan ya Sayang, kerja gila-gilaannya. Yuk marriii…”

—-

“Wish me luck, My Friend…really need that!”

Jutek Loe Poooolllll!!!…

Saturday, October 17th, 2009

Never talk to a stranger…atau jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, berarti jangan pernah bicara pada orang yang belum kita kenal/orang asing

Sudah sering dengar ‘kan ya istilah itu? Saya sendiri sudah mendengarnya bahkan sering di wanti-wanti oleh orang tua sejak saya kecil. Dan hal ini masih saya pegang dan selalu saya ingat hingga sekarang. Ya, alasan utamanya adalah untuk melindungi diri sendiri, mengingat dunia ini semakin banyak orang yang tega melakukan tindak kejahatan terhadap orang lain.

Dulu sewaktu saya kecil, saya pikir alasan utama orang tua selalu mengingatkan saya akan hal itu, agar saya terhindar dari penculikan (yang ternyata saat ini semakin marak). Beranjak dewasa, nasihat orang tua itu pun semakin beralasan, karena tidak hanya masalah culik-menculik, tapi juga tindak kriminal lainnya, seperti hipnotis, pencopetan, pemerkosaan, bahkan yang paling kejam pun, yaitu pembunuhan (yang saat ini beritanya juga sudah tidak asing kita dengar dalam hidup sehari-hari).

Mungkin itu pula lah yang semakin menjadikan saya manusia jutek bagi orang lain. Hal ini terbukti dari beberapa komentar teman SMA saya, saat memberikan tulisan kecil di buku tahunan SMA, saat kami perpisahan…

Dari teman sebangku saya: “Gue seneng sebangku sama elo setahun, karena gue bisa adu jutek sama elo…hahahah…”

Dari teman sekelas saya: “Gue balik dari Amrik, elo ‘dah ga boleh jutek ya. Janji tuch.”

Dari sahabat saya yang juga satu SMP dengan saya: “Jutek loe pooooooooolllllllllllllll.”

…atau…

Dari mantan pacar zaman SMA: “Kamu kalo ngeliat orang jangan ngelirik pake ekor mata kamu dong. Jutek berat.”

…dan ternyata jutek masih jadi nama tengah saya hingga sekarang. Lagi-lagi karena komentar dari salah satu teman yang kebetulan juga seorang nara blog, yang ia tulis pada halaman profil saya di salah satu situs tetangga…

“Elo cewek terjutek yang pernah gue temuin, ga bisa basa-basi terlihat manis di depan orang kalo dah ga suka, and elo smart. I like your style.”

Saya pribadi ndak marah sama sekali dengan julukan itu. Sedikit bangga malah punya ciri khas :mrgreen: .

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, prinsip never talk to stranger itu sudah sedikit saya langgar, semenjak saya berkelana di dunia maya. Awalnya memang saya hanya ngeblog untuk mengeluarkan apa yang ada di kepala dan hati saya, tanpa berharap ada komentar dari orang lain. Namun ternyata tulisan-tulisan saya dari zaman masih ngeblog di Friendster, lalu pindah ke Note Facebook, pindah lagi buka Blogspot, hingga sekarang punya domain sendiri, mendapatkan komentar-komentar dari yang membaca. Jujur, mulanya saya malas memberikan komentar balasan, hanya karena saya ini, dulu orangnya lebih tertutup daripada saat ini, tapi jauh di lubuk hati (*Saaahhh…*), saya ingin memberikan apresiasi dari apa yang sudah mereka berikan pada saya, yaitu mampir, membaca dan memberikan komentar di tulisan saya, dengan menyapa mereka kembali.

Sudah pasti pemberi komentar pada tulisan saya di blog, tidak hanya dari teman-teman yang sudah saya kenal sebelumnya, pasti termasuk orang yang tidak saya kenal, bahkan ada juga satu, dua orang “peneror” :mrgreen: , yang membuat hidup saya menjadi lebih indah (*Errr…atau “indah” ya?*). Dari aktivitas daring itulah, saya mendapatkan teman-teman baru. Dan banyak dari mereka yang belum pernah saya temui secara langsung tatap muka, tapi saat kami “mengobrol” di dunia maya ini, sudah seperti teman lama.

Berpikir lebih lanjut lagi tentang apa yang sedang saya bahas sekarang ini, ternyata pelanggaran yang saya lakukan, tidak terlalu banyak, mengingat saya tidak akan pernah mau diajak bertemu mereka secara langsung, jika tidak melalui sebuah acara resmi, yang dilakukan di tempat umum, dan tentunya melibatkan beberapa orang (baca: kopdar). Dan bukan berarti, saat saya berbalas-balasan komentar di blog atau mengobrol di media manapun, bahkan setelah bertemu orangnya langsung, lantas saya akan percaya seratus persen pada mereka, dan mengumbar cerita hidup saya dari A-Z, since I am an introvert saya pasti akan memilah-milah hal apa yang bisa jadi konsumsi orang lain, atau hanya menjadi konsumsi saya sendiri.

Lagi-lagi saya akan katakan, bahwa itu semua saya lakukan, untuk menjaga diri saya sendiri, karena tidak semua orang itu jujur ‘kan ya, atau setidaknya cukup lihai dalam seni “kreativitas mengarang bebas” dalam bertingkah laku dan berkata-kata, apalagi di dunia maya :mrgreen: . Errr…itu bisa juga berlaku untuk diri saya looo… :lol:

“Jadi sekarang situ masih percaya ndak sama saya?” :mrgreen: (*Terserah ya*:D )

Oh ya untuk para manusia sok akrab, menyebalkan dan annoying di luar sana, jangan pernah harap saya memberikan balasan atas sapaan-sapaan tak jelas dari kalian, yang notabene tidak saya kenal, bahkan mungkin saya anggap sebagai alien (perempuan sekalipun), saat kalian bertemu saya dan sedang ingin melontarkan aksi sok akrab kalian, misalnya dalam kondisi seperti ini…

Di patas AC, seseorang yang duduk di samping saya tiba-tiba melontarkan pertanyaan: “Kerja atau kuliah,” atau “Kerja di mana,” ini jelas tidak akan saya acuhkan sama sekali, bahkan melihat ke arah wajah orang tersebut tidak akan saya lakukan.

…atau saat sedang duduk sendiri di sebuah café yang kebetulan meja lain sudah penuh dan kursi di depan saya masih kosong, dan saat itu saya sedang asik sendiri dengan laptop saya, tiba-tiba seseorang yang saya izinkan berbagi meja, melontarkan pertanyaan: “Lagi buka situs apa,” atau “Rajin amat di tempat nongkrong masih kerja,” yang untuk awalnya pasti akan saya balas hanya dengan memberikan tatapan mata sinis nan jutek, dan kemudian mungkin akan saya jawab dengan: “Err sorry…i don’t feel like i want to talk to you…busy,” ditambah umpatan dalam hati “Keppooo amat. Bagus lu tadi gue iya-in waktu nanya tuch kursi kosong atau ngga.”

“So beware of people around you apalagi di dunia maya boookk, jangan cepet percaya, tapi bukan berarti semuanya di internet itu buruk looo…pinter-pinter milih temen biar ga ketipu…and the last but not the least, protect yourself by your jutekness…hahahahahha” :lol: :lol:

Utak-Atik Ga Jelas…

Sunday, September 20th, 2009

Hmmm…akibat merasa sedikit bosan dengan tampilan blog yang lama, akhirnya saya berniat untuk mengubahnya sedikit.

Ya setidaknya dari header si blog saja dulu. Mengubah header-nya berarti pula saya harus mencari-cari gambar yang masih sesuai dengan teman keseluruhan (karena saya malas untuk mengubah semuanya), yaitu putih dan biru.

Mencari-cari gambar kesana-kemari, membuat saya kembali mengutak-atik aplikasi Polyvore di Facebook. Sudah lama aplikasi ini tidak saya sentuh. Sudah lama pula, saya tidak berkutat dengan kreasi semacam scrapbooking yang ditawarkan oleh aplikasi ini.

Dan tampilan di bawah ini, adalah tampilan hasil saya berburu gambar di Polyvore. Hmmm, lumayan ‘kan ya, jiwa artistik saya? :mrgreen:

Coz They're In Love
Coz They’re In Love by OchaOchaChan on Polyvore.com

Obat Penawar Jenuh Paling Ampuh…

Sunday, September 13th, 2009

If the world should stop revolving spinning slowly down to die,
I’d spend the end with you.
And when the world was through,
Then one by one the stars would all go out,
Then you and I would simply fly away…(if, by Bread)

Hmmm…salah satu lagu andalan, saat saya menghabiskan malam di depan piano sembari memainkannya dan bernyanyi, yang mampu memecah keheningan malam, dan mengusir kebosanan saya  dari aktivitas di depan laptop.

Dan sekarang, waktunya bermimpi terbang ke bintang bersama sang bintang…

Oyasuminasai…

—-

“Hayyyoo, kalau obat penawar jenuh kamu yang paling ampuh apa? Saya? Piano & Nyanyi; Nulis, internet, blogwalking; Main sama anjing-anjing saya; (Ngayal) Ketemu “Bintang” -ku tersayang.”

—-

*big thanks to my Mom, yang udah susah payah nge-lesin nyanyi dari umur 7 taon, dan les piano walau cuma 1 taon. Obat paling ampuh ngusir jenuh & sepi hati, love you, Mom.*

Yak, Gue Lagi Bingung Sama Gue Sendiri…

Tuesday, August 25th, 2009

Hmmm…tak dipungkiri kesenangan saya membuncah, ketika Introverto ini diulas di sebuah majalah, dua minggu lalu. Tak dipungkiri pula, rasa senang itu juga membuat saya meletup-letup girang dan bangga, saat traffic pengunjung ke blog saya ini, semakin banyak, bahkan dua kali lipat daripada sebelumnya. “What a great promotion,” pikir saya saat itu.

Namun di tengah rasa senang itu, tak tahu saya akan menyebutnya sebagai rasa apa, tapi yang jelas, rasa ingin untuk tetap menjadi penulis blog seperti dulu itu, juga tiba-tiba muncul. Suatu rasa, di mana tidak banyak yang mengetahui tulisan saya, atau hanya sebatas teman-teman yang berkelana di dunia Facebook, karena saya pun menuliskan isi Introverto, sebagai note saya di sana.

Rasa itu tak berhenti saja di situ, tak hanya kerinduan pada masa lalu, yang mampu membuat saya lupa akan satu rasa lagi yang saya alami karena Introverto ini semakin dikenal banyak orang, yang berarti saya semakin bisa “merusak” orang lain, ataupun memberikan sebuah inspirasi dan motivasi kepada yang membacanya. Kebanggan bahwa ribuan kata yang sudah tertuang ke dalam 200-an tulisan yang sudah saya buat, mampu memberikan sesuatu pada mereka yang membaca.

Belum lagi rasa senang karena mendapatkan teman-teman baru di dunia maya, yang wajahnya pun belum pernah saya lihat secara tatap muka langsung. Namun seperti sudah kenal puluhan tahun, saat sahut-sahutan di blog kami masing-masing, atau di Twitter atau bahkan hanya seperti teman lama yang sudah tak bertemu bertahun-tahun saat berbicara di telepon, yang sama sekali tak menunjukkan indikasi bahwa kami belum pernah bertemu secara tatap muka sebelumnya.

Kembali rindu akan masa lalu, yang hanya ingin menjadi manusia “di balik layar”. Dan tak perlu terlalu dihantui rasa takut mengecewakan orang lain karena tulisan saya,  dan rasa-rasa seperti itu, yang sebenarnya sudah lama saya buang jauh-jauh, karena saya tahu persis bahwa itu adalah bagian dari rasa insecure yang tak boleh saya biarkan ada di dalam diri dan pikiran saya.

Dan hari ini, kerinduan menjadi penyendiri seperti dulu, telah membuat saya mengklik satu, dua kali pilihan decline saat ada beberapa orang yang ingin menambahkan saya di Twitter, dan satu orang di YM; karena terus terang Facebook, Twitter dan Yahoo Messenger itu saya anggap sebagai zona yang lebih pribadi daripada blog.

Saya harap mereka tidak kecewa ya, terutama untuk yang tadi sudah mengirimi saya surat elektronik atas permintaannya menambahkan saya di YM, setelah permintaannya  yang sebelumnya saya tolak, karena tak ada satu note pun yang memberikan keterangan bahwa orang ini mengetahui saya dari mana (si Introverto). Terus terang, ini karena saya sudah terbiasa dididik untuk bisa melindungi diri saya sendiri, dan kata-kata seperti “Don’t talk to a stranger,” sampai sekarang masih tertanam baik di otak saya.

Hei, sekali lagi bukannya saya tidak suka loo ya dengan keramaian tamu di sini, sumpah saya benar-benar suka, dan takjub, tapi saya hanya rindu masa-masa lalu. And since this blog is also my journal, so this is my today’s journal. Ini apa yang saya rasakan hari ini, dan tetap ingin saya hamburkan ke semuanya.

Saya juga hanya seorang perempuan dengan salah satu karakteristik menyebalkannya yaitu moody (*Hahahahah*) ditambah dengan karakteristik introvert yang tak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan di dalam.

Arrrghh..hate it, when this moody thingy is around me. And also hate to admit it, that once more he’s right.

—-

“Who is he?”

“Adddaaa deeee.” :mrgreen:

—-

Really hope that I’ll be “back” soon without this moody thingy.

Do Love Being Skinny and Proud of It…

Saturday, August 15th, 2009

Beberapa bulan yang lalu, seseorang yang sudah tahunan tak bertemu dengan saya melontarkan komentar ini, saat saya kembali bertemu dengannya…

“My goodness ‘Cha, you’re so skinny.”

Beberapa bulan setelah itu…

“Nih, kamu capekh ‘kan, n udah aku masakkin, ayo makan yang banyak, biar gemuk.”

Dua hari yang lalu…

“Dah sarapan blom?”

“Udah donk, I never skip breakfast coz it’s the most important meal.”

“Good then, biar gemuk.”

Komentar-komentar seputar berat badan saya yang termasuk underweight ini sudah menjadi agenda rutin saat saya bertemu dengan seseorang, apalagi kawan lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Termasuk urusan meminta saya untuk menaikkan berat badan.

Saya paham betul, dengan proporsi berat tubuh 44 kg dan tinggi 162 cm, dan ukuran semua pakaian di seputar XS dan S, semua orang pasti mengatakan saya kurus, bahkan seseorang memberikan panggilan sayang untuk saya dengan “Bonnie”, yang berarti tulang (*Tapi cantik ‘kan? Wakakakakak :lol: *).

Sewaktu remaja, yang biasanya remaja perempuan sedang sangat concern dengan berat tubuh mereka, saya malah tak terlalu peduli, dan cenderung santai, karena saya tahu saya sulit menggemuk dalam sekejap. Saya tidak suka camilan, saya tak menggilai es krim atau coklat, dan porsi makan saya sedikit tapi sering.

Namun setelah semakin bertambah umur, dan saya juga melihat mama yang dulu juga sangat kurus (bahkan di usia yang sama dengan saya sekarang, mama lebih kurus daripada saya) sekarang berubah menggemuk, saya jadi berpikir, dan ini saya ungkapkan ke mama…

“Ntar gue segede apa ya Ma? Dulu aja kamu kecil banget sekarang gemuk gitu. Waduh-waduh mesti jaga badan neh.”

“Iya, gue juga bingung, dah mondar-mandir ngurus cucu, masih aja segede ini. Makannya jaga badan dari sekarang.”

Dan hal itu sudah saya pikirkan sejak beberapa tahun lalu, apalagi sekarang.

Dari urusan makan siang di kantor, saya memilih untuk membawa dari rumah, selain bersih dan sehat, masakan si mama itu tak ada tandingannya deh. Sangat enak.

Belum lagi pertimbangan karena mempunyai titik lemah di organ pencernaan yang membuat saya harus berhati-hati terhadap maag. Penyakit ini sebenarnya sudah mulai saya alami sejak saya duduk di kelas 5. Dan telah menyebabkan saya opname 2 kali, yaitu saat kelas 5 itu, dan terakhir yang sangat parah di tahun 2000 lalu, bahkan opname terakhir ini, menyebabkan pertama kali saya harus merasakan cairan intra vena yang menyebalkan itu.

Padahal dulu, sewaktu kecil terkena demam berdarah, dan juga opname, jarum infus tak dipasangkan ke tubuh saya, karena dokter yang merawat saya bertanya pada saya “Mau diinfus, atau mau minum air putih 1 gelas besar tiap 5 menit?” dan saya lebih memilih meminum air putih daripada harus terkena jarum infus.

Opname di kelas 5 SD itu saya masih terbebas dari infus, tapi tak dengan opname di tahun 2000, saat saya benar-benar kehilangan cairan, setelah diare dan muntah berkali-kali, tak terhitung jumlahnya, cairan intra vena pun terpaksa dipasangkan di pergelangan tangan saya. Hanya karena saya terlambat makan siang selama 2 jam. Hanya karena 2 jam yang berakhir menyebalkan.

Penyakit maag akut yang merupakan pengalaman traumatis itu, membuat saya memilih untuk tak membiarkan perut saya kosong, apalagi jika sudah terasa lapar. Namun mengkonsumsi camilan atau biskuit-biskuit yang dapat menggemukkan badan? No, no, no, tidak saya lakukan. Lebih baik saya menuang oatmeal ke dalam gelas dan menyeduhnya.

Kebutuhan kalsium untuk tulang dari susu, juga saya perhatikan. Dan susu tanpa lemak, dari satu produk andalan yang namanya hanya 3 huruf itu menjadi pilihan saya.

Ah tinggal satu hal yang belum kembali rutin saya lakukan seperti dulu. Olah raga.

Gym? No, I don’t like it. Bertubuh kecil begini, tapi olah raga yang dulu sempat 10 tahun rutin saya jalani (rutin dari tahun 1998-2008) adalah tenis lapangan. Papa yang membawa saya ke olah raga ini. Namun sayangnya, sekarang sedang vakum, karena pelatih saya pindah kota.

Dulu niy, ada satu masa di mana saya menjalani tenis ini dua kali seminggu, Kamis dan Minggu. Masa lainnya, Sabtu bowling, dan Minggu tenis. Masa lainnya lagi, Kamis joging di Senayan (*Terakhir sampai 7 putaran stadion non-stop loh*), dan Minggu tenis. Masa lainnya, Sabtu berenang dan Minggu tenis.

Sekarang? Huaaaa…belum rutin lagi. Saya rindu lapangan, apalagi mengingat tenis ini bisa saya jadikan ajang katarsis kekesalan atau kemarahan saya.

Ada teman saya yang pernah mengatakan ini…

“Ocha mana bisa gemuk?!”

dan sekarang saya akan menjawab…

“Berat gue naik kok, lulus SMA 38 sekarang 44.”

(*FYI, saya lulus SMA itu lebih dah laaaaammmaaaa, hahahaha*)

—-

Hmmm, tak perlu menyuruh saya menaikkan berat badan ya, karena saya akan katakan ini…

“I love being skinny and I am proud of it.”

Apalagi papa memanggil saya dengan si Twiggy (*Hihihiyyy…I’m such a super model for him, wakakakakak*).

—-

*Nyari coach tennis baru aaaahhh, really miss this sport*