Posts Tagged ‘Narsis’

Are You Thinking What I Am Thinking?…

Wednesday, February 17th, 2010

Nih ya..saya katakan kepada Anda semua, ke kalian semua, teman-teman saya tercinta, para kolega saya yang terhormat, dan anak-anak saya yang lucu, “aneh”, “ajaib” bin menyenangkan…JUTEK saya ini sudah DEFAULT alias sudah dari sono-nya seperti ini.

Dari zaman kuda gigit batu, a.k.a zaman baheula, tampilan saya ya seperti ini, tak bisa diubah.

Hampir semua orang yang baru melihat, dan mengenal saya, kemungkinan besar memiliki keseragaman akan penilaian terhadap diri saya…ya, itu tadi JUTEK, judes, galak, dan julukan sejenis…dan saya tak peduli akan hal itu. Apa yang mereka katakan memang benar, karena itu yang mereka lihat.

Tapi saya adalah bagian dari mereka yang menganut paham, bahwa semua itu terjadi pasti ada alasannya, termasuk alasan di balik keberhasilan atau kegagalan saya untuk memunculkan tingkah laku tertentu. Alasan, penyebab, stimulus yang terkadang tak (mau) dilihat oleh orang lain yang berinteraksi dengan saya. Tapi lagi-lagi saya tak peduli apakah orang itu mau melihatnya atau tidak, karena saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa untuk memunculkan tingkah laku itu, saya sudah melakukan proses “editing” terlebih dahulu.

“Rawat jalan” saya di Almamater, ternyata cukup membuahkan hasil. Berhasil membuat saya harus menambah masa “rawat jalan” saya sendiri; berhasil membuat saya membuat orang lain akhirnya mengalami “rawat jalan” juga; dan yang terpenting adalah membuat dunia saya jauh semakin berwarna.

Memakai “sepatu” orang lain itu tidak pernah akan bisa sangat nyaman dirasakan (kecuali sepatunya pada akhirnya jadi HM, alias Hak Milik, a.k.a NYOLONG). Karena memang bukan ukurannya, karena memang tidak terbiasa, karena memang itu bukan milik kita sendiri, tapi terkadang kita harus mencoba sesekali, atau bahkan berulang kali, di “sepatu-sepatu” orang yang berbeda.

So why don’t you try to wear my “shoes”? Why don’t you take a look at yourself, before complaining?

And one question for you… Are you still at the same “place” now, or you are already moving forward? If so, why?

I am not him, I am not her. I am what I am, and I have my own way to do what I have to do.

Time will tell at the end of the day.

Terima kasih untuk mereka yang sudah membuat dunia saya jauh semakin berwarna, dengan ikut serta menjadi bagian dalam proses penambahan masa “rawat jalan” saya.

“Written 16th February and will be published on Wednesday, 17th February 2010, at 10.28 a.m”

Perempuan Oh Perempuan…

Wednesday, December 16th, 2009

“Errrr…saya ini sekarang yang perempuan cuma hardware-nya, software-nya laki.”

Yupe…didikan dari “brengsek”nya dunia sekitar, membuat saya bukan seperti perempuan kebanyakan, atau setidaknya saya terlalu gengsi untuk memperlihatkan ke dunia.

“Kenapa sih loe cuma mau liat apa yang elo mau liat, mau denger cuma hal-hal yang elo mau denger, selalu pikir yang negatif, ngomel, cranky, dikit-dikit panik, stres, parno, insecure, super sensitif ga jelas, yang semuanya itu belom tentu kejadian.”

Ditampar? Jelas!

Tamparan-tamparan dan deraan-deraan semacam itu, sudah bertahun-tahun saya lalui, saya nikmati dan saya syukuri. Sumpah mati, kalau saya tidak mendapatkan itu semua, mampuslah saya, akan terus seperti perempuan kebanyakan, dan seperti sebagian kecil laki-laki tukang mrepet yang seperti perempuan.

Tak tahu mengapa, kebetulan sekali, saya bergaul dengan dan “digauli” oleh orang-orang “laknat” nan “brengsek” plus “keparat” yang dengan sukarela hati menciptakan satu mind set baru di seorang Ocha yang dulu adalah manusia super menyebalkan di segala seluk-beluk urusan ngomel, mrepet dan cranky, yang sepertinya sudah menjadi trademark perempuan kebanyakan.

Jangan dikira saya tidak nangis-nangis darah saat melalui itu semua! Tidak setengah mati menahan diri, mencoba berpikir sebelum mrepet, mencoba memakai “sepatu” orang lain, tidak menjadikan mrepet dan omelan sebagai sebuah solusi, yang pada akhirnya menjadikan saya mampu untuk mengucapkan “Yupe, itu salah saya, maaf ya, from deep inside my heart,” walaupun tetap ada masanya di mana saya kehilangan kemampuan itu semua.

Proses pembelajaran saya, memang dimulai dari hal-hal yang sepele dan sangat kecil…

1. Saat saya mengirimkan SMS, dan tidak ada balasan sama sekali dari yang bersangkutan…

“Emang kalo kamu SMS, harus langsung dibales? Terus melegalkan kamu untuk ngomel? Gak pernah mikir apa ya mungkin aja aku abis batere, abis pulsa, ga ada signal, lagi rapat. Ya mbok nanya dulu. Terus, harus ya gue jalan kemana bilang ama elo?”

2. Menunggu telepon dari seseorang…

“Bisa aja khan aku ampe rumah capekh, ga kuat lagi ngangkat telpon dan langsung tidur.”

dan sekian tahun kemudian…

“Itu aku sukanya dari kamu, kalo kamu dah nyoba sekali telepon terus ga diangkat, kamu ga rewel nelpon berkali-kali and mau nunggu ampe akunya ga sibuk trus baru telpon kamu.” (*Yayaya, coba elo ketemunya gue beberapa tahun sebelum itu, Mas, kalo telpon loe ga gue rewelin!!)

3. Di sebuah perbincangan (sepertinya hal ini sudah pernah saya tuliskan di cerita saya dulu)…

“Emangnya elo anak dewa yang apa-apa harus diturutin?” (*Njjjrrriiiiiiittttt!!!!!*) :mrgreen:

4. Lagi-lagi di sebuah perbincangan…

“Kamu cantik, tapi akan lebih cantik kalo seseorang ngeliat kamu cantik terus pinter, smart!!!”

…dan ke hal-hal yang sedikit lebih besar daripada hal-hal di atas…

5. Didera dosen dengan segala pertanyaan, saat saya ternyata harus presentasi materi kerja kelompok dan menjawab semua pertanyaan, seorang diri, tanpa ada anggota kelompok lain, yang hampir membuat saya kabur dari depan kelas, karena saya belum benar-benar siap dengan materi itu. Tapi karena hal ini, saya bisa presentasi dan menjawab seluruh pertanyaan dari dosen, untuk materi tugas kelompok yang berbeda, di lain kesempatan, tapi dengan siksaan yang sama, yaitu presentasi sendiri dan menjawab sendiri, tanpa ditemani. Dan pada akhirnya membawa saya menjadi asisten dosen di mata kuliah paling mengerikan di fakultas saya dulu, di semester berikutnya.

6. Mendapatkan omongan seperti ini dari sang dosen pembimbing (saat kurang dari 48 jam sebelum waktunya mengumpulkan skripsi)…

“Saya ga yakin ngelepas kamu sidang bulan ini, tapi tetep saya akan tandatangani surat kamu untuk maju sidang bulan ini, terserah kamu mau buat skripsi kamu jadi apa,” yang membuat saya setelah itu, selama lebih dari 36 jam tidak sedetik pun merebahkan diri di atas tempat tidur, dan tidak tidur, hingga 3 bundel skripsi yang siap diujikan dikumpulkan di hari yang telah ditentukan oleh fakultas…Got A for it (*Teteup songong hahahahha!!!*)

…dan hal yang lebih besar lagi…

7. Saat di kantor…

“Njrit deh itu HRD maunya apa sih. Jelas-jelas dah gue kasih, dia tanda tangan pulakh tanda terimanya, hardcopy aslinya langsung gue kasih ke dia. CD softcopynya elo juga khan yang bawa, trus bos kita pun dah email ke dia. Tanda tangannya dia juga gituh. Trus sekarang berkasnya ilang semua gituh? Dan kita yang disuruh bikin berita acara? Giginya dia gendut apa!”

“Ya udah, biar aja, semua penilaian kita tertunda, kita doain ajah, biar dia dapet pekerjaan yang lebih layak, so dia pindah dan HRDnya kita bukan dia lagi. Orang sabar pasti kesel!”

Pelatihan-pelatihan yang sungguh menyenangkan. Yang saat ini menjadikan saya seperti ini…

1. Berbicara pakai otak. Tidak hanya dengan mulut, dan sangat-sangat saya usahakan dengan nada datar, kecuali kalau yang diajak bicara, memang sungguh keterlaluan.

Itu sebabnya saat ini saya katakan pada teman-teman di kantor bahwa mereka boleh menanyakan apapun ke saya sebagai HRD mereka, tapi dengan sangat menyesal saya tidak akan memberikan jawaban langsung. Pasti saya akan bertanya balik, apa yang kamu ketahui dari pertanyaan itu?

2. Sabar dengan tingkat toleransi sudah jauh lebih tinggi.

“Biar, dia mau ngapain ajah, kalo ntar dah saatnya dia dateng ke gue, khan ntar balik ndiri, kalo ngga ya udah, jangan kayak orang susah!

3. Cranky, Mrepet, Ngomel, Panikan, Hobby nuduh/ngejudge orang lainGampang Stress, kalau jutek ini sudah default! :mrgreen:

4. Dan sudah jauh berkurang untuk mudah mengeluarkan kata-kata seperti ini…

“Eh, ntar kalo gitu, jangan salahin gue ya kalo…”

“Pokoknya ntar kamu sendiri yang harus ganti…”

…errr, bentar itu sama aja ngomel ya?…hahahaha…apalagi kalau  sudah ngomelin orang lain, lalu ternyata yang ngomel itu yang salah, lalu yang ngomel tanpa minta maaf ke yang diomelin…

Kalau sudah begini, saya biasanya mengingat salah satu bagian pendidikan yang pernah saya jalani…

“Ya udah Cha, biar ajah, itu berarti kastanya mereka masih jauh lebih rendah daripada kamu. Jangan repot, kayak orang susah.”

Untuk para perempuan, hehehehe kurangin cranky and ngomel-ngomel yuk dari sekarang…untuk para pria, jangan cranky or hobi ngomel kalo ga mau dibilang kayak perempuan…dan untuk para pria yang sangat logis, berani mengingatkan para perempuan di sebelahnya juga bukan suatu yang buruk loh…kalau para perempuannya tak terima, ya berarti satu karakteristik mereka sudah terlihat ke permukaan ‘kan ya?

Untuk semua pendidik saya di dunia nyata…THANK YOU…LOVE YOU FULL!!!! REALLY APPRECIATE IT!

Tinggal saya sekarang kembali menerapkan ilmu yang sudah saya dapatkan, jika saya kembali menemukan perempuan-perempuan tulen secara luar dalam. GOSH!

HRD Gue…

Thursday, November 26th, 2009

Satu hal lagi yang gue suka dari musim hujan…bisa mengeluarkan koleksi baju dan perangkat fesyen “fall-winter collection” yang gue punya.

Kebetulan kemaren, pagi-pagi mau berangkat ngantor masih hujan. Berhubung gue tetep harus berangkat sebelum jam 6 pagi, jadi pasti udara masih dingin lah. Seperti biasa urusan outfit ngantor ini adalah hal penting untuk gue, karena apa yang gue pake bisa berpengaruh sama urusan mood kerja…hahaha…dan kemaren, outfit yang gue pilih, gue sesuaiin ama cuaca, prediksi mood kerja, dan prediksi AC kantor n floor (store) yang ngga ujan aja, udah dingin mampus.

Alhasil gue pake salah satu koleksi Mango Suit…si sack dress wol, tanpa lengan, warna abu-abu, kaos turtle neck ZARA warna item, winter stocking Marks & Spencer, plus syal biru United Colors Of Benetton, dan lengkap dengan jaket U2 item gue untuk berangkat n pulang. Berangkat kantor masih make sepatu teplek M)Phosis, tapi begitu sampe toko, mau kata harus muter-muter toko yang gede itu, teteup high heels Pretty Fit ditampilin.

Begitu masuk back office…biasa komentar anak-anak yang super spontan itu mulai terlontar…

Komen 1…

“Oow, oow, Bu Ocha lucu deh.”

“Mang gue tiap hari lucu.”

“Iya, tapi saya paling suka yang sekarang.”

Komen 2…

“Wahhh si ibu modis amat.”

Komen 3…

“Ibu cantik amat sih.”

“Saya emang cantik dari dulu…hahahaha.” (*sambil ketawa narsis*)

Komen 4…

(*Pas ke floor*)

“Bu sumpah, ibu cantik berat. Kita seneng punya HRD cantik, beritanya dah kesebar ke toko lain.”

“Eh, kalian gosipin saya?”

“Ngga, Bu, kita kan bangga. Trus kapan gituh ada HRD toko lain mampir ke toko temen saya itu, tiba-tiba temen saya telepon nanyain, eh yang dateng ke toko gue sekarang ini HRD tempat lu bukan ya yang kata loe cantik itu, yang badannya gini, gini, gitu? Saya jawab bukan, ibu gue langsing, gini, gini, gitu. Ibu tuch jadi rebutan toko.”

Komen 5…

“Eh kamu bentar lagi ulang taun kan…makan-makan kita?”

“Makan catering aja ya, Bu.”

“Ih seneng deh punya HRD perhatian terus cantik.”

“Kamu, boleh muji tapi ntar jangan sering riwil ke saya yah.”

Komen 6…

(*Di depan ruang gue*)

“Heh, kamu ngapain bengong liatin saya?”

“Ngga Bu, Ibu kok cantik banget hari ini, kayak artis. Pake lagi dong Bu kacamatanya. Biar tambah gaya.”

“Pegel taukh pake kacamata terus.”

Komen 7…

“Duh seksi banget.” (*sambil ngangkat 2 jempol*)

“Thank you.”

Komen 8…

(*Di depan ruang gue*)

“Mak, Mak, boleh jujur ga?”

“Apa?”

“Sumpah Mak, Emak cantik banget.”

Komen 9…

“Kayak baju-baju luar negeri gitu loh, Bu, bajunya ibu sekarang.”

Komen 10…

“Bunda, lucu banget sih.”

Terus terang nih, gue pake baju kayak gitu, juga karena gue kedinginan pas berangkat. Dan prediksi gue tepat, karena kantor n floor dinginnya tambah mampus gila gara-gara ujan.

Tapi beneran loh, urusan outfit menyenangkan yang gue pilih kemaren sangat membantu naikkin mood gue. Apalagi kemaren ternyata gue dapet berita sedih, gue bulan depan dimutasi pindah store, yang padahal ama store yang ini gue dah jatuh cinta banget; gue harus ngurus 1 orang yang…(*ya begitu deh*); terus lagi ada rekrutmen puluhan orang; terus dah mau pulang setengah 7, ada kasus 2 anak lainnya; dah mau pulang lagi, gue ngga tega ada 1 anak lagi, yang menurut gue, butuh diajak ngobrol n mumpung sempet, akhirnya gue panggil dia terus gue ajak ngobrol.

Eh, komennya nambah ternyata di tengah-tengah obrolan gue ama anak gue…

“Kamu umur berapa sih?”

“25, Bu, lebih tua saya kan daripada Ibu?”

“Hah, apa? Bentar, kamu nebak saya umur berapa?”

“23-24!”

“Alhamdulilah, Hallelujah, Praise The Lord.”

“Emang Ibu umur berapa? Dari dandannya ga keliatan, Bu.”

…gue pun nyebutin umur gue…

“Ibu boong. Saya ngobrol ama anak-anak lain, eh itu emak lu yang baru yah? Masih kecil kayaknya, masih muda banget. Iya, paling 23-24.”

Dan akhirnya gue nengok ke arah jam tangan…

“Njrit, jam 9 lewat. 12 jam lebih di store. Harus pulang. Bisa-bisa gue nginep di sini.”

Sumpah, capekhnya gue itu sama sekali ga berasa…karena sudah hampir sebulan di sini, gue belom pernah capekh hati, walau capekh fisik mayan sih. Tapi prinsip gue kalo cuma capekh fisik mah, bisa ilang ama tidur, tapi kalo capekh hati, malah bikin ga bisa tidur. Jadi urusan naikkin mood, buat kerja lebih enak, kayaknya membantu banget tuch, salah satunya dengan outfit yang dipilih. Ya gak?

—-

“Sumpah, gue lagi pengen nyampah, lagi pengen super narsis, lagi pengen nulis n ngomong pake elo-gue, capekh pake saya-kamu terus di kantor, walau ada beberapa anak gue yang dah berani keceplosan beberapa kali nyebut diri mereka sendiri dengan-gue, dan gue ga terlalu mempermasalahkan, asal jangan ampe ngelunjak.”

Masih Sibuk…

Thursday, November 5th, 2009

This is what I call as WORKING…

Saya harus sibuk dan tidak terus-menerus melihat ke arah jam menunggu waktu jam kerja berakhir. Intinya kalau saya magabut, ya lebih baik saya di rumah leyeh-leyeh.

Dengan kurang lebih total 300 orang yang harus saya tangani, durasi kerja yang ditentukan dalam satu hari sama sekali tak terasa…

“Bu, kok nama saya ngga ada di daftar catering, saya lupa tadi saya absen finger atau ngga.”

“Bu, minta form izin pulang, saya sakit.”

“Bu, maaf saya terlambat, ban motor saya kempes.”

“Ada obat flu ga Bu, idung saya meler.”

Berkali-kali menyebabkan saya harus menarik kembali tangan saya dari atas keyboard komputer, untuk menanggapi mereka.

Terlihat memang printilan dan sepele, dan ini baru berjalan 4 hari dan masih menghadapi dengan urusan administrasi dasar, belum ke tahap pengambilan keputusan yang pastinya lebih njlimet, tapi benar-benar itu semua sangat menyenangkan. Really it does.

—-

Mungkin banyak orang yang berpikiraan bahwa untuk bisa menjadi HR Generalist, sebaiknya bekerja terlebih dahulu di sebuah HR Consultant, tapi di tempat saya bekerja saat ini, benar-benar sebuah kawah candra di muka untuk dapat menjadikan dirimu sebagai HR Generalist, karena sebagai HR Store, you have to handle from A to Z  HR thingy for your store.

—-

Once more, THANK MY ALMIGHTY!!! Love You so much for giving me this job, walau ya walau jauhnya nih kantor dari rumah gue biadab banget. :lol:

All I wanna do now is to stay gold, by doing my best for God.

Maaf, Saya Sibuk… :p

Monday, November 2nd, 2009

Saya sudah resmi pindah kerja di tempat baru. Dan beginilah respon-respon yang tadi saya keluarkan…

“Yak, no twitter, no YM, no FB, apalagi sempet blogging?”

“What…total 300 orang yang harus diurus?”

“He? 25000 M2? The biggest in Indo.”

Dan dalam hati saya…

“Thank God…anak tangga yang dikasih ke gue sama Elo kali ini ga main-main, dahsyat. Mereka sebegitu percayanya ke gue. Gue anak kemaren sore di HR, langsung dipercaya tempat segede gini dan sendirian? Damn! You rock ‘Cha!!”

“Errr…mau kate internet dibuka lebar and ndak fakir bandwidth pun kagak kesentuh juga kaaallleee…kalo kerja macem ginih. Über Twitter aja ya ga diliat ampe sore gituh. Yay…workaholic gue ternyata masih mendarah daging.”

—-

“Eh jadi inget manusia tembok, merangkap beruang kutub…sekarang kita bisa saingan ya Sayang, kerja gila-gilaannya. Yuk marriii…”

—-

“Wish me luck, My Friend…really need that!”