Posts Tagged ‘Lombok’

Lombok Bagian I

Friday, April 12th, 2013

Semua berawal dari keisengan saya browsing situs maskapai penerbangan yang biasa saya pergunakan untuk bepergian. Dan sangat giranglah saya, saat menemukan tiket promo Jakarta – Lombok, pulang pergi di mana saya hanya membutuhkan uang sebesar Rp.1.400.000 untuk itu.

Seketika saya menghubungi teman satu kantor yang menurut saya mudah untuk saya ajak dan ‘culik’ untuk pergi ke sana. Tanggapannya ternyata positif, sehingga kami berdua memutuskan untuk membeli tiket untuk keberangkatan tanggal 6 – 9 April 2013. Walaupun kami harus menunggu 6 bulan sebelum kami dapat menikmati Lombok.

Sesuai dengan perjanjian kami berdua, kalau perjalanan ini bukan perjalanan mewah, diusahakan perjalanan ini hanya akan merogok kocek kami seminimal mungkin. Memang perlu diakali sedikit dan tidak sulit.

Tujuan utama kami ke Lombok kali ini adalah bermain-main air dan menikmati kepulauan Gili Trawangan dan sekitarnya. Dan kami tidak memakai tur perjalanan. Semua hanya bermodal dengan Mbah Google yang memampukan kami mencari tau keperluan, moda transportasi, akomodasi, kuliner dan aktivitas yang akan menjadi target utama kami berdua selama di Lombok kali ini.

Penantian panjang kami pun berakhir. Sabtu, 6 April 2013, pukul 8.00 pagi, kami sudah harus berangkat dari rumah kami masing-masing, untuk menuju Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Penerbangan kami dengan maskapai nasional terbesar, dijadwalkan berangkat sekitar pukul 11.00 pagi. Lombok Praya akan dicapai setelah melakukan penerbangan sekitar 2,5 jam.

Kursi dan ruang untuk kaki yang nyaman, dan makanan yang disediakan di dalam pesawat membuat penerbangan dari Jakarta – Lombok tidak terasa. Seperti biasanya, saya selalu memilih kursi yang dekat dengan jendela. Merupakan kesenangan tersendiri saat di dalam pesawat, saya bisa melihat kumpulan awan yang menyerupai kapas, sambil menghayal sesuka yang saya inginkan. Dan tentunya pemandangan saat pesawat akan tinggal landas maupun saat akan mendarat. Saat daratan sudah terlihat, seketika saya dan Nadia, teman saya, berkomentar “Sumpah, gue ga akan nyesel ke sini. Let’s have fun here.”

Sekitar pukul 14.00 WITA, kami mendarat di Bandar Udara Internasional Lombok Praya, yang letaknya jauh dari Senggigi, kawasan yang akan kami tuju, karena dari kawasan ini, kami akan ke Pelabuhan Bangsal, untuk menyeberang ke Gili Trawangan.

Dari bandara, kami memilih untuk menggunakan Bus Damri. Bus Damri ini akan melakukan beberapa pemberhentian, seperti di Mataram, sebelum mengakhiri perjalanannya di Senggigi. Ongkos Bus Damri ini hanya Rp.25.000 sampai Senggigi, untuk penumpang yang akan berhenti di Mataram, tentunya ongkosnya akan lebih murah. Jadwal keberangkatan Bus Damri ini, sepertinya ada setiap jam, walaupun mereka akan ngetem beberapa waktu tertentu, sampai kira-kira penumpangnya sudah hampir penuh.

Selain menggunakan Bus Damri untuk menuju Senggigi, bisa juga menggunakan taksi yang biayanya tentu akan lebih mahal daripada menggunakan bus. Menurut informasi dari mereka yang memilih menggunakan taksi, biayanya sekitar Rp.200.000, tetapi tentunya akan lebih cepat sampai ke tempat tujuan.

Bandara – Senggigi menggunakan Bus Damri akan ditempuh dalam waktu 2 jam.  Bus Damri ini akan berhenti di sekitar Hotel Sheraton Senggigi. Dari sana kami harus melanjutkan dengan angkot atau taksi. Beruntunglah kami, saat kami tiba di sana, masih ada satu angkot yang bisa mengantarkan kami ke Pelabuhan Bangsal, karena jika tidak dengan angkot ini, kami harus menggunakan taksi, yang tidak diperkenankan masuk sampai ke kawasan pelabuhan, dan akan menyebabkan kami berjalan kaki lagi mencapai pelabuhan. Untuk mencapai Pelabuhan Bangsal, kendaraan yang diperbolehkan masuk adalah hanya angkot dan Codomo, andong, moda transportasi khas Lombok.

Kami harus mengeluarkan uang Rp.70.000 untuk angkot dan juga tiket penyeberangan. Dari Senggigi menuju Pelabuhan Bangsal, jarak tempuhnya masih sekitar 30 – 45 menit. Entah apakah harga yang dipatok itu wajar atau tidak, kami hanya berpikir bahwa saat itu sudah sangat sore, dan kami pun tidak tahu persisnya jam berapa penyeberangan terakhir ke Gili Trawangan saat itu.

Saat di atas angkot, pemandangan yang terpampang di depan mata sangat menyenangkan. Hamparan laut biru dan teduhnya hijau pepohonan tersaji tanpa henti sepanjang perjalanan. Lagi-lagi kami berkata dalam hati: “Gak nyesel gue ke sini.”

Sesampainya di Pelabuhan Bangsal, kami tanpa berlama-lama lagi langsung menaiki perahu yang ditunjuk oleh supir angkot kami tadi. Jangan mengharapkan bahwa ini kapal cepat mewah ya. Kapal yang kami naiki adalah kapal cepat harian, yang juga biasa mengangkut hasil sayur-mayur dan buah-buahan, dan hanya bertutup terpal tipis. Tetapi justru di situ seninya perjalanan ini.

Cuaca cerah membuat perjalanan laut kali ini sangat menyenangkan, sehingga 45 menit yang kami lalui di laut tidak terasa, dan taaarrraaaaa… papan bertuliskan “Selamat Datang di Gili Trawangan”, sudah terpampang di depan mata. Tanpa basa-basi saya dan Nadia langsung mencari hotel yang sudah kami pesan dari Jakarta. Kami menginap 2 malam di Gili T Hotel di mana kami harus membayar sekitar Rp.400.000 per malamnya. Kebetulan letak hotel tidak jauh dari dermaga, dan masih di daerah yang ramai.

Selamat Datang di Gili Trawangan

Selamat Datang di Gili Trawangan

How can you resist this beauty?

How can you resist this beauty?

I Love The Blue of Indonesia

I Love The Blue of Indonesia

Check in, memasukkan semua tas, langsung setelah itu kami keluar kamar dan berkeliling di sekitar hotel.

Gili Trawangan memang surganya untuk night life. Café, bar yang menyajikan minuman baik yang beralkohol maupun yang non-alkohol dengan harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan di Jakarta,  dapat ditemui berjejer di sepanjang jalan. Lengkap dengan live music yang akan terus berdentum hingga hampir pagi menjelang. Restoran baik yang jadi satu dengan hotel, ataupun yang tidak, rata-rata menyajikan seafood sebagai menu utamanya. Harga makanan di restoran-restoran ini tentunya lebih mahal jika dibandingkan dengan harga makanan yang dijual di gerobak-gerobak kaki lima yang berjualan di satu area seperti lapangan kecil yang letaknya dekat dermaga. Namun harus sedikit lebih berhati-hati untuk memilih makanan di tempat ini, terutama untuk seafood, yang harus dipastikan kesegerannya terlebih dahulu.

The Night Life We Had...

The Night Life We Had…

Pedagang Kaki Lima yang Menyajikan Makanan Di Gili Trawangan

Pedagang Kaki Lima yang Menyajikan Makanan Di Gili Trawangan

Aktivitas di Gili Trawangan pastinya akan lebih banyak seputar kegiatan di laut, seperti snorkeling, diving, atau bisa juga hanya melihat-melihat underwater dengan menggunakan kapal yang ada kacanya di dasar perahu. Alat snorkeling dan diving lengkap bisa disewa di sana. Untuk paket snorkeling sudah termasuk alat, perahu dan tur island hopping dikenakan biaya sebesar Rp.100.000.

Hari ke-2 kami di sana, tentunya kami habiskan menikmati surga berupa hamparan air laut dan berenang-berenang, snorkeling di sana. Kami snorkeling di daerah Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, yang membawa kami sempat melihat penyu berenang ke sana kemari di sekitar kami. Tenang saja, tidak perlu takut kelaparan, karena juru mudi kapal akan membawa semua peserta tur untuk menikmati makan siang di salah satu pulau yang didatangi.

Snorkeling Time

Snorkeling Time

Semua kegiatan snorkeling akan berakhir sekitar pukul 15.00, dan tentunya hari itu masih sangat panjang. Sepanjang hingga subuh menjelang, dan kalian masih bisa mendengar dentuman musik reggae dan house music dari café yang berlomba-lomba menarik perhatian pengunjung.

Selain aktivitas yang berkaitan dengan wisata air, kalian juga bisa berkeliling pulau dengan menggunakan sepeda. Sepeda disewakan sekitar Rp.40.000 untuk satu hari. Harga tersebut, kami dapatkan dengan usaha menawar, dan harga turis lokal. Pulau bisa dikelilingi dengan sepeda dengan jangka waktu 2 jam. Jangan lupa menggunakan tabir surya, karena matahari yang menyinari Lombok layaknya ada 10 buah.

Mari Bersepeda

Sayangnya kami harus meninggalkan Gili Trawangan untuk kembali ke Senggigi dan bermalam di sana, untuk mempermudah kami untuk ke bandara esok hari. Sedikit terkejut, karena tiket menyeberang dari Gili Trawangan kembali ke Pelabuhan Bangsal hanya Rp.7.000. Perjalanan yang sedikit seru, karena sepanjang jalan kami menyeberang, ditemani oleh hujan deras yang tidak ada hentinya, yang membuat pakaian kami pun basah.

Sesampainya di Pelabuhan Bangsal, kami menyewa mobil yang akan mengantar kami ke hotel di daerah Senggigi. Kami dikenakan biaya Rp.70.000 per orang, dan satu mobil hanya ada 4 orang termasuk kami. Malam harinya kami makan di Warung Menega, yang menyajikan makanan hasil laut, yang bisa dicapai dengan menggunakan taksi.

Makanan di Warung Menega

Makanan di Warung Menega

Sebelum ke bandara esok harinya, kami menyempatkan diri ke Art Market di Senggigi, untuk membeli buah tangan untuk teman dan keluarga di Jakarta. Sayangnya kios-kios di Art Market ini sudah banyak yang kosong, dan seperti biasa, harganya relatif mahal.