Posts Tagged ‘Liburan’

Kerinduan…

Saturday, January 30th, 2010

Duduk memandangi air yang berjatuhan dari langit, diiringi pengamen yang bernyanyi lagu jawa tentang Jogjakarta sambil memainkan gitar dengan bagusnya, membuat saya ingin pulang ke Jogja.

Hah…ntah mengapa, kota yang satu ini sering membuat saya rindu untuk kembali ke sana.

Bingung sebenarnya kalau ditanya: “Mbak, orang mana? Asli mana,” yang tak mungkin saya jawab dengan jawaban singkat.

“Saya aslinya lahir Jakarta, tapi orang tua Jawa, tapi Mama campuran Jawa-Manado.”

Dan biasanya diikuti dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan tambahan…

“Jawa-nya mana?”

“Jogja. Tapi dari pihak Mama tinggalnya di Magelang.”

“Jogja-nya di daerah mana?”

Terus terang nih, kalau sudah ditanya urusan Jogjanya di daerah mana, saya tambah bingung menjawabnya. Jadi biasanya saya jawab dengan hasil cerita masa kecil yang biasa diutarakan oleh Papa…

“Awalnya Klitren. Terus pindah ke daerah deket Taman Siswa.”

Yupe…Klitren itu rumah si Eyang, yang sayangnya tak pernah saya lihat. Menurut cerita Papa, itu rumah guuueeedddeeee banget, saking besarnya, rumah itu sempat dijadikan biara susteran, setelah Eyang memutuskan menjual rumah tersebut dan pindah ke daerah Taman Siswa. Dan hingga ajal, kedua Eyang saya masih menempati rumah yang ada di daerah dekat Taman Siswa itu.

Sewaktu saya SD hingga SMP, kami sekeluarga masih sering berkunjung ke Jogja, setidaknya hingga saya kelas 2 SMP, saat Eyang Putri masih ada. Tapi setelah kedua orang tua papa sudah meninggal, kami makin jarang ke sana.

Urusan jalan-jalan di Jogja, tak lepas dari duduk lesehan di emperan Malioboro menikmati burung dara; menikmati gudeg Jogja, seturunnya kami dari kereta di Stasiun Yogyakarta, lalu naik becak ke rumah si almarhum adik Papa, yang dulu ada di daerah Baciro; makan Lotek di depan Radio Gerenimo; menikmati jajanan di Pasar Beringhardjo; naik andong. Dan satu hal yang tak pernah saya lupakan, menonton Pretty Woman di 21 bareng sepupu-sepupu saya.

Sepuluh tahun terakhir, Jogja, hanya saya jadikan tempat transit, dan itu pun bukan untuk hal yang menyenangkan. Tiga kali singgah di Jogja, ketiganya berurusan dengan layatan kematian.

Tahun 2000, saya dan Papa pergi naik kereta ke Jogja untuk melayat Opa di Magelang. Itu juga karena kami berdua tidak dapat tiket pesawat terbang, sedangkan Mama sudah pergi terlebih dulu ke Magelang. Tapi seingat saya, ritual turun kereta makan gudeg subuh-subuh, dan mbecak ke rumah si Oom, tetap saya lakukan dengan si Papa. Setelah pemakaman si Opa, saya dan Papa kembali ke Jogja, karena besok paginya saya harus pulang ke Jakarta, naik kereta SENDIRIAN (waktu itu saya senang sekali, pertama kali menempuh perjalanan jauh dengan kereta, tanpa ada pihak keluarga menemani).

Tahun 2005, adik Papa, tiba-tiba sakit dan tak lama kemudian meninggal. Saya, yang tadinya hanya berniat mengantarkan Mama dan Papa ke bandara, akhirnya berubah pikiran…

“Eh, Pa, aku terbang juga deh ke Jogja. Mobil tinggal sini dulu, ntar malem aku pulang.”

Jadilah saya hanya beberapa jam di Jogja. Dan saya ingat betul sesampainya saya di sana, saya seneeennnggg banget bisa melihat kota itu lagi, walaupun saat itu Jogja sedang dilanda sengatan sinar matahari sangat dahsyat panasnya.

September 2007, saya terbang ke Jogja, untuk menghadiri 40 hari kematian Oma di Magelang. Lagi-lagi saya hanya beberapa jam berada di Jogja; hanya saat datang dari Jakarta dan kembali ke Jakarta.

Errrr…Talking about Jogja…kisah cinta saya dengan seseorang, juga bermula di (perjalanan menuju) Jogja. Kalau diingat-ingat, itu adalah perjalanan yang menyenangkan…

Dan itu semua semakin membuat saya rindu Jogja…

Malang Oh…Malang…

Monday, October 6th, 2008

Hmm…baru kali ini lebaran aku keluar kota. Maklum aku bukan salah satu dari mereka yang merayakan hari raya tersebut. Biasanya hanya aku habiskan di rumah, dengan acara-acara yang tidak jelas. 

Namun lebaran kali ini sedikit berbeda. Aku diajak tanteku untuk ke Malang, tempat mertuanya. Ini adalah liburan kali ke dua bersama dengan tanteku pada tahun ini, setelah kami sempat ke Bali berdua akhir Agustus 2008 lalu. 

Keberangkatanku kali ini nyaris batal, karena aku terserang flu yang menurutku paling parah dari flu yang pernah aku alami sebelumnya. Hidung tiada henti pilek, suara serak, bahkan sampai hilang sehingga aku tak bisa berbicara; dan pertimbangan lainnya adalah di Malang ada Oma dan Mbah Buyut, yang kesehatannya sedikit rentan. Namun akhirnya aku jadi juga berangkat, setelah sepupuku menelepon tanteku dan memintaku untuk tetap berangkat.

Tanggal 1 Oktober 2008, akhirnya aku berangkat juga. Biasanya kalau aku ke luar kota dengan pesawat, aku lebih suka ke dan dari bandara menggunakan “taksi biru” itu. Namun sayangnya saat aku menelepon ke mereka, taksi sedang keluar semua “Oh, no, just remember ini pas lebaran ya.”

Akhirnya aku minta diantar papa ke Cengkareng. Aku hanya berangkat berdua dengan sepupuku, karena tanteku dan suaminya, juga sepupuku yang lain sudah berangkat dari hari Minggu. Pesawat dalam kondisi penuh, tak satu pun ada kursi kosong, banyak sekali bayi dan anak kecil, belum lagi satu bayi yang tak berhenti menangis dari saat pesawat akan lepas landas sampai kira-kira setengah perjalanan. 

Sampai sana, pertama kali, ya biasa “absen” ke seluruh keluarga. Terutama Mbah buyut (she’s already 91 years old) yang turut merayakan idul fitri. Setelah itu, berhubung di sana ada piano, karena aku juga diminta membawa buku-buku piano sebelum berangkat, langsung aku didaulat untuk menyanyi, dan bermain piano seadanya.

Hmmm…sudah bisa ditebak, setelah itu, suaraku yang tadinya masih bisa bicara sedikit, jadi benar-benar hilang. Dahsyat pokoknya. Benar-benar iri saat melihat sepupuku yang lain bersama-sama main piano dan bernyanyi. Ini benar-benar penyiksaan bagiku. Belum pernah aku lewati satu hari pun tanpa bernyanyi, tapi kali ini, harus aku lewati tanpa melakukan hal itu sedikit pun. Tersiksaaaaa….

Hari ke-2, suaraku tak membaik, bahkan memburuk. Namun ya sudahlah, aku coba lewati liburanku kali ini dengan senang. Setelah makan pagi, kami sebentar mengobrol di ruang tengah sambil melihat DVD konser Andrew Lloyd Webber saat mereka konser di Beijing, China. Setelah itu, kami semua memutuskan untuk pergi ke Klub Bunga, Batu. Daerah ini seperti daerah Puncak.

Sherly, sepupuku yang masih 10 tahun, dan Alvin yang masih 9 tahun, ingin berkeliling Klub Bunga, dengan ATV. Berhubung mereka masih kecil, jadi mereka tidak diizinkan untuk mengendarainya sendiri. Akhirnya kami berlima, aku yang memboncengi Sherly, Birowo yang memboncengi Alvin dan Yudis tanpa memboncengi siapa pun, menaiki ATV keliling Klub Bunga, sampai ke atas bukit, dan bisa melihat kota Malang dari atas. Ternyata seru mengendarai ATV yang cukup berat, dan puas bisa melihat Malang dari atas bukit. 

Belum puas hanya dengan berjalan-jalan di Klub Bunga, akhirnya kami sekeluarga pada malam harinya bermain futsal di lapangan yang kami sewa, yang masih berada di lingkungan kompleks rumah. Berhubung tidak ada yang bisa bermain, kecuali Yudis yang sempat sekolah bola di Klub Blackburn, Inggris, jadi semua tampak seperti srimulat, karena lebih banyak tertawanya daripada menendang bola. Apalagi saat aku dan Birowo memutuskan untuk tetap di pinggir lapangan, kami mendengar ada satu tim yang sedang berbincang-bincang dengan bahasa Jawa “Eh, ojo muleh sekh, ono dagelan neng kene.”

Yang artinya adalah “Eh, jangan pulang dulu, ada lelucon di sini.”

Aku dan Birowo pun langsung ikut tertawa karena malu. “Sial mungkin mereka pikir kami berdua tidak mengerti obrolan mereka yang dalam bahasa Jawa itu. “

Setelah puas tertawa di lapangan futsal, kami pun pulang, untuk makan malam. Kali ini kami makan di rumah saja. Hmm…makan memang jadwal tetap dan sangat teratur, selama aku di sana. Alhasil beratku naik 1 kilo sepulang dari Malang. 

Santapan khas lebaran sudah tersedia di meja makan, begitu kami sampai rumah. Opor ayam dan ketupat siap untuk kami santap. Enak euy..sudah lama aku tidak memakan opor ayam. 

Setelah makan malam, kami sekeluarga, lengkap, kecuali Mbah Buyut, doa Rosario bersama. Tangan kami sibuk mengitari butiran-butiran Rosario sambil mendaraskan doa Salam Maria. Suatu hal yang aku rindukan ternyata, doa Rosario bersama-sama, walau sudah sebulan ini, aku kembali sering melakukan itu sendirian di kamarku, sesaat sebelum tidur.

Selesai doa, kami pun tak langsung tidur, tapi aku, Birowo, Oom Yoseph, dan Tante Ari, bersama-sama menonton DVD di ruang tengah. Film yang diputar kali ini berjudul Goal. Oh ya, seringnya kami nonton DVD, karen Yudis memang sengaja membawa koleksi DVDnya dari Jakarta. 

3 Oktober 2008, yaaa…tiba waktuku untuk pulang ke Jakarta, kembali ke kenyataan. Pesawat Malang-Jakarta hanya ada 1 kali dalam 1 hari, dan jadwalnya adalah pukul 08.55 pagi. Jadi pagi-pagi aku sudah mandi, makan pagi, dan pamitan untuk pulang ke kota yang akan semakin penuh sesak, karena bertambahnya kaum urban baru yang biasanya mendatangi kota Jakarta, setelah hari raya Lebaran.

Berlayar…

Wednesday, March 5th, 2008

Hmm..baru ingat…ternyata ada satu lagi liburanku yang tak direncanakan olehku, jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

Beginilah kisahnya…

Awal 1997. Saat gambar kapal pesiar itu terpampang di layar kaca televisi, aku pun menghentikan langkahku menuju ruang makan, untuk melihatnya dan mengkhayal “Coba gue bisa naik itu kapal ya”, setelah iklan menghilang dari layar, aku pun kembali melangkah.

Beberapa bulan berlalu dari khayalanku itu. Tiba-tiba, telepon rumahku berdering. Dari tanteku, adik ibuku. Dari ujung telepon ia berkata sebagai berikut “Cha, kamu kuliah masih lama khan? Mau ke Singapur ngga?”

“Aku mulai kuliah Agustus Tan.”

“Oh ya udah, siapin paspornya. Kita naik Awani Dream ke sana.”

Seketika aku ketawa, dibarengi ucap terima kasih ke tanteku itu. Tertawaku karena mengingat khayalanku beberapa bulan sebelumnya.

Juli 1997. Paspor yang telah siap dalam waktu singkat membawaku berangkat ke negeri orang. Pesiar ke negeri orang.

Minggu sore, aku, tante, oom dan sepupuku berangkat ke Pelabuhan Tanjung Priok. Sesampainya di Dermaga dan setelah urusan keimigrasian beres, kami pun langsung dipersilakan memasuki kapal itu. Langsung seketika kami tercengang kagum. Dahsyat besarnya. Dahsyat fasilitasnya. Semuanya serba mewah luar biasa. Kami pun langsung dibawa awak kapal untuk menuju kabin kami. Tempat tidur tingkat dan sebuah kasur tambahan telah tersedia di sana. Bentuk kabin pun tak jauh beda dengan yang kita lihat di film-film. Langsung aku dan sepupuku yang belum genap tujuh tahun saat itu mengintip ke luar jendela. Kami pun langsung disuguhi luasnya lautan biru.

Tak lama kemudian kapal itu pun mulai bergerak. Meninggalkan pelabuhan. Sebagaimana diumumkan oleh sang kapten kapal, kami pun diminta untuk berkumpul di sebuah ruang untuk mengetahui prosedur keselamatan jika kami mengalami keadaan darurat. Setelah itu suguhan makan malam pun telah tersedia. Hiburan dari para pengisi acara juga tak ketinggalan. Tarian kabaret, sulap, nyanyian, dan masih banyak lagi. Sajian itu memang disuguhkan oleh para awak kapal, yang kebanyakan adalah orang asing. Tak hanya itu teater dengan jadwal film yang termasuk baru juga tersedia. Suguhan makanan tak berhenti sampai makan malam, tapi sampai makan tengah malam yang dalam bahasa Inggris supper. Saat makan malam, aku melihat ada sekelompok anak muda yang bergerombol. Mereka sepertinya terlihat sudah sangat akrab, mungkin sepertinya merupakan rombongan keluarga.

Besarnya kapal, membuatku tak berani jauh dari saudaraku. Belum hafal, takut nyasar. Saat mereka memutuskan untuk kembali ke kabin, aku pun turut serta. Esok harinya, setelah makan pagi, aku sedikit merasa mual, begitu juga dengan tanteku. Tak tahan dengan kondisi ini, aku menuju kabin dan berusaha tidur, namun percuma, aku tetap tak bisa tidur. Kembali berjalan keluar kabin, mencari saudaraku. Tak lama aku melihat mereka di koridor, dan ternyata aku telah melewati suatu acara seru di dek atas kapal, di pinggir kolam renang. Tanteku pun memberi satu informasi lagi “Ternyata kita tadi pas mual itu, lagi ngelewatin putaran air. Memang di daerah situ keras putarannya. Aku tadi dikasih apel sama satu awal kapal. Katanya itu obat penangkal rasa mual.”

Kembali menuju kabin. Kami bersiap-siap membawa bawaan kami, karena sesaat lagi kami tiba di Singapura, setelah 24 jam berlayar. Kami satu-satunya penumpang yang keluar dari kapal ini, dan memilih untuk bermalam di salah satu hotel di pusat kota, sebelum kapal kembali berlabuh ke Jakarta ke esokkan harinya. Penumpang lainnya memilih untuk bermalam di kapal, walau mereka tetap bisa berjalan-jalan di Singapura. Hiburan, makanan dan kegiatan tetap tak henti, walau kapal sudah merapat di pelabuhan di Singapura. Saat ini aku lupa nama pelabuhannya. Tak kalah bagus dengan Changi. Bersih, bagus, megah, banyak tempat untuk belanja juga.

Orchard Road, jalan yang sangat terkenal di Singapura. Kami pun menginap di salah satu hotel bintang lima di jalan tersebut. Nama hotelnya sama dengan nama hotel di dekat bundaran HI, di seberang bekas Hotel Presiden dulu, di Jakarta. Kamar dengan kelas president suit di lantai dua puluh mampu menampung kami berempat, selama semalam.

Acara di sana, tak lain mencari makanan enak, dan juga belanja-belanji. Sempat aku meminta izin memisahkan diri dari tante dan saudaraku. Kebetulan tanteku yang satu ini, sedikit sama denganku. Hobi jalan-jalan sendirian, modal nekat dan berbekal peta. Berjalan sendirian menyusuri jalan-jalan besar di kota itu, keluar masuk pusat perbelanjaan yang menjadi favorit orang-orang Indonesia, merupakan suatu kesenangan tersendiri.

Pusat perbelanjaan yang menjual barang tanpa terkena pajak, menjadi akhir tujuan belanja di hari terakhir kami disana. Kami sudah harus kembali ke pelabuhan, agar tak ketinggalan kapal.

Setelah kembali mendaftar masuk ke kapal, dan meletakkan barang bawaan yang sudah semakin berat ke kabin, aku pun keluar berjalan-jalan sendirian di pelabuhan. Menyenangkan, kembali berjalan sendirian.

Tak lama sekembalinya aku ke kapal, kapalpun kembali bersauh. Meninggalkan Singapura. Makanan-makanan enak, hiburan-hiburan yang gemerlap kembali tersuguh di depan mata. Saat kaki ini melangkah menuju ke kabin, tiba-tiba seseorang memanggilku dan berkata “Hmm, boleh kenalan ngga?”

Melakukan observasi sejenak, terlihat di sana ada beberapa orang perempuan yang kira-kira sebayaku, juga ada yang masih kecil. Laki-laki ini sepertinya sedikit lebih tua dariku, selain itu beberapa laki-laki yang sepantaranku. Akhirnya aku mengulurkan tanganku sembari mengucapkan “Ocha”.

“Yudi”, “Rama”, “Ravi”, “Inka”, “Inge”, “Irene” dan masih banyak nama lagi yang disebutkan di koridor itu.

Yudi kemudian kurang lebih memulai percakapan denganku seperti ini “Mau balik ke kamar?”

“Iya”

“Ngapain? Mending ngobrol-ngobrol ama kita aja yuk”

Akhirnya kami menuju ke salah satu ruang makan. Ruang makan yang berbeda. Sajian makan tengah malam disediakan di ruang yang berbeda dengan makan malam yang tadi jam tujuh malam.

Ruang makan itu tak lama kemudian hendak ditutup. Kami semua menuju ke dek atas kapal, namun bukan di sisi kolam renang. Dek kayu itu, tersedia banyak kursi. Kami pun duduk-duduk melingkar di sana. Cerita-cerita seru, padahal kami baru saja bertemu. Tak lupa kami pun foto-foto. Seolah teman lama yang baru bertemu kembali. Tak terasa sudah jam 2 pagi. Berhubung saat itu telepon seluler belum umum seperti sekarang, aku pun menghilang tanpa jejak dari keluargaku.

Akhirnya aku meminta pamit untuk kembali ke kabin. Yang kemudian disambut dengan “Eh, bentar aja lo, langsung balik ke sini. Nyetor muka aja khan lo.”

Saat tiba di kabin, aku buka pintu dengan sangat perlahan. Melihat semua keluargaku sudah tidur, aku pun langsung kembali ke dek. Mereka masih di sana. Tak lama kemudian kira-kira jam empat pagi, kami menuju dek yang paling atas, di dekat kolam renang. Kami pun rencana melihat matahari terbit. Gelombang air laut yang kencang, ikut menyebabkan air di kolam renang itu juga melompat keluar, dan menciprati kami.

Tak perlu waktu lama untuk menantinya. Matahari itu pun mulai keluar, menampakkan cahayanya, dan seketika aku terkagum-kagum dibuatnya. Indah, sangat indah. Merekah dari langit yang masih didominasi dengan warna gelap.

Tak kuat mata ini, aku kembali ke kabin dan tidur. Tidur hanya tiga jam, aku terbangun, saat keluargaku terbangun dan siap makan pagi. Aku pun mandi, dan bersiap. Setelah makan pagi, aku pun bertemu dengan teman-teman baruku itu lagi. Bertandang ke salah satu kabin mereka, foto-foto di hampir setiap tempat. Sampai akhirnya kami menemui satu ruangan yang selalu tertutup rapat selama pelayaran itu, yaitu kasino. Sayang tak sempat aku lihat ruangan itu.

Sebelum kapal bersandar di Tanjung Priok, kami sempat berkunjung ke pulau Seribu. Otomatis kami mencapai pulau itu dengan sekoci. Begitu tiba di pulau itu kami pun baru melihat besarnya kapal itu dari ujung ke ujung “Pantes gue capekh jalan-jalan di tuch kapal”.

Tak lama di pulau itu, mungkin hanya dua jam. Kami pun harus melanjutkan perjalanan, menuju Tanjung Priok. Dekatnya jarak pulau Seribu dan pelabuhan, menyebabkan pelayaran itu segera harus diakhiri. Namun tidak dengan pertemananku yang dimulai semalam. Sampai saat ini, tali pertemanan itu masih terjalin baik.

Sepenggal Kisah Dari Ujung Sulawesi Pada Akhir 2003…

Saturday, March 1st, 2008

Ini adalah awal mula dari semua perjalanan liburanku, yang tak pernah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.

September 2003, pekerjaanku saat itu masih sebagai seorang sekretaris divisi, di salah satu bank yang sekarang sudah dibeli oleh salah satu perusahaan Singapura. Sebagai sekretaris divisi, aku tidak hanya mengurus kepentingan satu orang saja, melainkan seluruh keperluan anggota divisi, termasuk urusan perjalanan dinas mereka, baik perjalanan dekat, maupun perjalanan yang jauh sekalipun.

Dua orang temanku akan melakukan perjalan dinas ke Makassar dan Manado. Saat itu, aku sedikit mengakhayal “Coba aku bisa ikut ke Manadonya ya!”.

Tak berapa lama kemudian, aku menelepon agen perjalanan yang menjadi langganan kantorku untuk memesan tiket untuk mereka dari Jakarta-Ujung Pandang-Manado-Jakarta.

Seringnya aku menelepon ke agen perjalanan itu, membuat aku sudah akrab berbincang-bincang dengan karyawan di sana. Sampai-sampai di tengah perbincangan aku dengan karyawan sana, yang sekarang aku lupa siapa namanya, berkata seperti ini “Eh Mbak Ocha ngga ikut ke Manado?”

“Ah ngga lah mbak, aku khan ngga dibayarin kantor, lagipula tiket ke sana mahal.”

Aku tahu persis harga tiket Jakarta-Manado-Jakarta, apalagi dengan maskapai andalan Indonesia itu. Kalau tidak salah tiket pulang pergi kelas ekonomi saat itu Rp.3.400.000, dan pilihan maskapai lain, belum sebanyak sekarang.

Lalu si mbak di ujung telepon sana memberiku jawaban yang mengagetkan “Ih, Mbak Ocha belum tahu ya, lagi ada promo nih mbak. Sekarang khan bukan high season. Harga promonya 1,2 juta mbak.”

Begitu mbak itu menyebutkan harga tiketnya, aku langsung berpikir “Wah, gue ambil juga apa ya. Bolak balik cuma 2,4 ini.”

Lalu aku kembali bertanya pada si mbak itu “Jadi pulang pergi 2,4 juta ya mbak?”

“Ngga mbak, 1,2 juta itu udah return ticket.”

“Aku ambil, book sekarang juga ya mbak!”

Dan dalam hati aku teriak “Hoooorreee, pergi juga ke Manado. Peduli amat, boleh ngga boleh cuti, gue pergi.”

18 September 2003, aku terbang juga ke Manado. Ini perjalanan pertamaku pergi sendiri naik pesawat, tanpa ditemani siapa-siapa. Penerbangan yang seharusnya jam 14.00, di tunda hingga 4 jam, karena cuaca buruk di Manado. Namun sisi baiknya dari tertundanya penerbangan itu, akhirnya pesawatku tak jadi transit di Ujung Pandang, dan langsung Jakarta-Manado.

Penerbangan aku tempuh sekitar 3 jam, sehingga tiba di Manado sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Sampai sana aku dijemput oleh 2 temanku yang dari Jakarta itu, dan satu teman kantor yang memang dari cabang Manado.

Sampai sana, kami langsung makan. Makan enak. Restoran seafood yang letaknya di pinggir pantai yang masih terletak di pusat kota Manado. Menunya utamanya adalah kepiting kenari. Aku tak tahu diolah bumbu apa, yang jelas enak, enak dan enak. Di sana satu kilo kepiting kenari ini dijual Rp.200.000an, dan kalau di Jakarta, ada restoran di daerah Kelapa Gading yang menyediakan menu ini, mematok harga Rp.1.000.000 perkilo. Harga tersebut, harga tahun 2003.

Sehabis kenyang, aku langsung ke hotel tempat teman-temanku itu menginap. Kamipun langsung terlelap. Aku lelah karena sehabis melakukan perjalanan jauh, dan cukup lama menunggu penerbangan di bandara Jakarta. Sedangkan teman-temanku, lelah karena paginya mereka harus presentasi dan memberikan pelatihan.

Hari berikutnya, 19 September 2003, salah satu temanku masih harus memberikan pelatihan. Namun aku, dan 2 temanku lainnya, akhirnya ke Tomohon. Daerah ini semacam daerah puncak di Manado. Daerah yang masih cukup berudara dingin, karena ini merupakan daerah dataran tinggi. Kami pun makan siang di salah satu restoran terkenal di sana. Namun kebanyakan makanan yang tidak halal yang disajikan di restoran ini. Aku rasa pada umumnya sudah mengenal istilah sate B2 dan B1 yang diolah menjadi masakan bernama RW itu bukan? Namun aku hanya menyantap sup kacang merah.

Sepulang dari Tomohon, kami kembali ke hotel, dan bersiap untuk santap malam. Santap malam kami lakukan di salah satu restoran di pinggir pantai lagi, namun bukan restoran yang sama dengan malam sebelumnya.

Satu kejadian aneh yang aku temui di sini. Biasanya jika kita ingin memanggil pelayan untuk menghampiri meja kita, kita memanggilnya dengan sebutan mbak atau mas. Namun tidak sama dengan di Manado. Cara kita memanggil pelayan untuk menghampiri meja kita dengan “Sssst, ssst!”. Sepertinya memang tak sopan, namun kata temanku yang asli dan tinggal di Manado dari kecil, memang begitulah cara memanggilnya, kalau tidak begitu, mereka tidak akan menoleh. Benar saja, saat kami bertiga yang bukan penduduk Manado, memanggil mereka dengan sapaan mbak, mereka tak menoleh sama sekali. Lalu kami mempraktekkan apa yang dianjurkan temanku, memanggil dengan “Sstt, sstt!”. Seketika mereka langsung menoleh.

Malam itu, kami berdiskusi ingin melakukan apa Sabtu dan hari Minggu itu. Ada dua pilihan, ke Bukit Kasih, atau ke Bunaken. Beruntunglah ada teman yang asli dan lama tinggal di Manado, jadi ada pemandu wisata di sana. Ia menjelaskan bahwa bukit kasih itu, adalah bukit yang mempunyai 5 tempat ibadah, dari 5 agama yang ada di Indonesia, dan semuanya berdiri sebelahan. Masjid, Gereja Protestan, Gereja Katholik, Pura, Wihara, yang masing-masing mewakili satu agama. Tempat ini dibuat sebagai simbol, memang seharusnya semua agama dapat hidup rukun, damai dan saling toleransi. Sedangkan kalau Bunaken, sepertinya tidak ada yang perlu dijelaskan lagi bukan?

Akhirnya Sabtu itu, kami memilih ke Bunaken. Untuk mencapai pulau ini, kami harus menaiki perahu motor, ataupun boat. Perahu motor harganya lebih murah, namun lebih lambat, dan bisa dinaiki lebih dari 10 orang. Sedangkan boat, hanya cukup sekitar 6 orang, lebih cepat dan tentu lebih mahal. Namun sebelum ke dermaga tempat menyeberang, ‘pemandu wisata’ dadakan kami, mengajak kami berputar-putar sebentar. Pertama ia membawa kami ke rumah seorang kenalannya yang biasa membuat nasi bungkus. Otomatis kami bertanya “Buat siapa nasi-nasi itu?”.

“Nanti kalian akan tahu gunanya”

Lalu kami mampir ke toko kue terkenal untuk memesan klaper tart, yang bisa dibawa ke Jakarta. Klaper tart yang akan dibawa ke Jakarta, mungkin karena kemasannya harus khusus, maka harus dipesan satu hari sebelum diambil. Di sana kembali satu hal aneh dilakukan teman kami yang satu itu, yaitu membeli berbotol-botol air mineral 1.5 liter. Kembali kami ‘orang-orang asing’ bertanya “Kok banyak banget belinya?”.

Jawabannya si Manado itu “Pasti ntar berguna deh.”

Kami terima diam dan menurut. Kunjungan berikutnya adalah restoran kepiting kenari itu. Lagi-lagi kami ingin membawa makanan enak itu ke Jakarta. Sama seperti klaper tart, harus dipesan satu hari sebelumya.

Setelah semua urusan perbekalan selesai, kami langsung ke dermaga. Kalau tak salah sekitar jam 12.00 WITA. Banyak juga rombongan wisatawan yang datang ke sana. Terutama wisatawan asing. Bahkan diantara mereka yang sepertinya sudah sering datang ke Bunaken. Mereka ada yang membawa perlengkapan menyelam sendiri, dan sepertinya mereka sudah pandai berbahasa Indonesia, bahkan lihai menawar biaya sewa kapal. Namun ada juga yang sepertinya baru pertama kali, dan dikenai biaya yang mahal.

Berhubung ‘pemandu’ kami orang asli, tawar menawar pun dilangsungkan dengan bahasa asli Manado. Kami tak tahu artinya apa. Biaya sewa boat, untuk kami berempat hanya Rp.200.000, satu kali jalan. Jelas harga itu lebih murah, karena harga itu termasuk ongkos si supir perahu, dan pemandu saat kami nanti di laut.

Penyeberangan kami lakukan kurang dari satu jam. Pertama-tama kami harus menepi ke pantai pulau Bunaken itu. Langsung mata ini disuguhkan pemandangan hamparan pasir putih nan bersih, yang luar biasa. Perahu tak bisa bersandar terlalu dekat tepi pantai. Kami dijemput dengan perahu yang lebih kecil untuk menepi. Barulah kami harus menyebur dan berjalan menuju pantai. Begitu kaki ini menginjak dasar laut yang sudah melandai, kami pun merasakan kelembutan pasir putih itu.

Ternyata tempat yang kami datangi itu adalah tempat penyewaan alat-alat snorkling. Tadinya aku enggan ikut menyewa, karena aku tak bisa berenang. Namun teman-temanku mencoba memberanikan aku untuk ikut snorkling. Akhirnya aku sepakat dengan mereka. Biaya sewa alat lengkap, setiap orangnya hanya Rp.50.000, dan tidak dibatasi waktu pemakaiannya, mau sampai kulit gosong di laut juga tak apa.

Sewa menyewa alat beres. Kami pun kembali ke tengah laut dengan boat. Selama perjalanan menuju titik snorkling, teman kami si Manado itu, membukakan nasi bungkus yang tadi dibelinya, sambil berkata kepada kami “Nih, makan siang dulu, di sini ngga ada yang jual makanan maupun minuman. Jadi harus bawa sendiri buat bekal.”

Titik terumbu karang yang paling indah ditunjukkan oleh si pemandu. Setelah sampai dan jangkar dilepaskan, kami pun bersiap-siap memakai peralatan. Kembali aku urung, karena takut. Namun melihat beningnya laut aku pun tergiur. Ikan-ikan yang berenang di lautan bisa terlihat bahkan saat kami memandanginya hanya dari pinggir boat. Akhirnya aku mau, tetapi saat mulai masuk ke air, ketakutan ini pun kembali ada, sehingga membawaku ingin kembali ke atas boat. Padahal salah satu temanku sudah berkelana berenang di sekitar boat kami. Niat kembalinya aku ke atas boat dilarang keras oleh salah satu temanku, “Cha elu harus berani, kapan lagi?”

Perlahan aku coba mencelupkan kepala ini ke air, dan mencoba melihat kondisi di laut dalam. Seketika aku berpikir “Buset dalem banget, tapi keren, keren abis, ada ikan napoleon pulakh.”

Tak lama kemudian, aku sudah berenang-renang di lautan itu. Si Manado temanku itu, tak ikut snorkling, ia tinggal di boat, dan berbaik hati menjaga barang-barang bawaan kami yang sangat banyak.

Begitu sampai di titik terumbu karang yang indah, aku pun kembali ditakjubkan “Ya Tuhan, bagus banget, cantik banget.”

Di titik itu banyak wisatawan asing yang tadi kami lihat di dermaga. Ada satu anak perempuan yang kata pemandu kami saat kami di boat, ia warga negara Australia, yang snorkling tanpa alas kaki khusus. Lalu aku tanyakan mengapa demikian, pemandu kami katakan ia sudah biasa datang ke sini, dan sudah sangat fasih berbahasa Indonesia.

Terumbu karang berbagai warna yang terang, sebagian ada yang menari-nari seakan menyambut kedatangan kami. Si Nemo berenang bersama kami, juga ikan-ikan lainnya yang beraneka warna. Ketakutan langsung sirna, dan berubah menjadi kegembiran dan pengalaman berharga, tak terlupakan. Saat itu, sinar matahari bersinar sangat terang, begitu terik dan saat di laut, kami sudah berpikir “Bodokh amat lah item bagian belakang doang, hahhaha.”

Setelah 2 jam bersnorkling ria, kami kembali ke boat. Rencananya untuk melihat titik lainnya.
Namun sayang langit sudah mendung, dan titik itu harus dilewati dengan menyeberangi putaran arus yang sedang sedikit kencang, selain itu sedang dipenuhi banyak bulu babi, yang beracun. Hingga kami diminta memutar menghindari kumpulan bulu babi dan putaran arus itu. Di titik ke-2 tak berlangsung lama, kami sudah kembali ke boat.

Melihat langit mendung, dan gelombang air laut yang nampaknya tidak setenang tadi, temanku menanyakan pada kami, apakah kami ingin kembali ke Manado, atau menginap di Bunaken saja?
Karena aku paling kecil di situ, jadi keputusan ada di tanganku. Aku memutuskan untuk menginap di Bunaken.

Bastianos Cottages tempat kami menginap. Tempat penginapan paling besar saat itu di sana. Tidak seperti biasa, harga sewa bukan berdasarkan jumlah kamar dan jumlah malam kami menginap. Namun harga sewa berdasarkan jumlah orangnya. Per kepala dikenai biaya Rp.125.000, berapa pun jumlah kamar yang dipakai. Biaya itu ternyata biaya makan tiap orang. Maklum jumlah hidangan sangat disesuaikan dengan tamu yang datang. Sore itu makanan untuk santap malam belum tersedia, tetapi kami sudah merasa lapar. Ingat ada sisa nasi bungkus dan air mineral yang tadi kami bawa, kami pun kemudian menyantapnya di depan kamar kami. Temanku si Manado itu tak ikut menginap di sini. Ia, pak supir boat, dan pemandu lautan kami pun kembali menyeberang ke Manado. Besok siang kami akan dijemput dengan boat lain, yang sudah diaturnya dengan orang Bastianos.

Kamar tidak dilengkapi kamar mandi dalam. Kamar mandi disedikan di luar kamar, jadi bisa digunakan oleh semua tamu. Tenang saja, kamar mandi di luar disedikan cukup banyak. Kalau tidak salah setiap tiga deret kamar ada dua kamar mandi.

Hal lucu aku temui di sana. Saat ingin mandi. Aku mencoba menyalakan lampu dan juga keran kamar mandi. Ternyata semuanya tidak berfungsi. Lampu dan air belum menyala. Aku pun menanyakan pada pihak pengurus tempat penginapan. Ia pun menginformasikan bahwa di sana listrik baru dinyalakan setelah jam 18.00 WITA. Pasokan listrik di sana masih terbatas ternyata.

Makan malam tersedia sekitar pukul 19.00 WITA. Hidangan yang disajikan adalah hidangan laut. Terus terang menunya aku lupa, yang jelas enak, atau mungkin karena saat itu kami lapar dan lelah karena bersenang-senang di laut seharian. Penyusunan ruang makan tidak seperti ruang makan hotel pada umumnya. Penyusunannya hampir menyerupai tata ruang makan di rumah. Sangat kekeluargaan. Ada sofa-sofa panjang, ada meja di tengah, dan di sana dilengkapi dengan televisi. Antar tamu yang tadinya tidak saling kenal, akhirnya bisa akrab dengan mudah.

Kamar kami langsung menghadap laut, jadi semilir angin saat kami duduk-duduk di teras depan kamar juga sangat terasa. Dingin dan segar, tanpa polusi. Hei, hidungku bersih dari cairan karena sinus. Kami bertiga akhirnya ngobrol-ngobrol di teras sampai kaki ini tak tahan digigiti oleh nyamuk.

Kami masuk kamar, di sana disediakan satu ranjang besar dan satu ranjang ekstra, yang sedikit agak lembab. Akhirnya kami memilih tidur bertiga di ranjang yang besar. Di kamar ternyata tidak terbebas dari nyamuk, tapi untungnya di kamar disediakan kelambu yang bisa melindungi kami dari gigitan nyamuk. Satu pengalaman baru lagi, tidur dengan kelambu.

Esok paginya, setelah sarapan, boat yang akan mengantar kami telah siap.

“Selamat tinggal Bunaken.”

Kami dibawa dengan perahu kecil untuk menuju boat yang berada di tengah laut. Ukurannya lebih besar daripada yang kemarin. Kami bisa duduk-duduk di bagian depan sambil menikmati angin laut dan melihat lumba-lumba yang ikut berenang di sebelah kiri dan kanan boat yang kami tumpangi. Indah sekali. Sangat menakjubkan.

Dermaga tempat kami mendarat tidak sama dengan kemarin. Dermaga yang sekarang letaknya sedikit di luar kota Manado. Tepatnya di dermaga Hotel Sheraton. Di hotel itu kami sudah di jemput teman kami si Manado itu. Semua pesanan kami untuk oleh-oleh ke Jakarta, ternyata sudah lengkap ada di mobil.

Tidak ada tempat lain yang bisa dikunjungi lagi. Mengingat saat itu sudah tengah hari, dan penerbangan kami menuju Jakarta pukul 14.00 WITA. Kami pun langsung menuju bandara. Sedihnya penerbangan juga harus ditunda. Hal itu karena Manado kembali diguyur hujan deras. Pesawat dari Ujung Pandang yang rencananya akan mengangkut kami, tidak bisa mendarat di Sam Ratulangi, dan harus kembali ke Sultan Hasanuddin Ujung Pandang. Padahal sudah sampai Manado lo, karena jarak pandang landasan terlalu pendek, mau tidak mau harus memutar balik. Kembali aku harus menunggu lebih dari 4 jam. Sampai para penumpang diberi makan malam ekstra oleh pihak maskapai.

Sekitar pukul 19.00 WITA, pesawat kami pun diberangkatkan. Tidak langsung Manado-Jakarta, melainkan Manado-Ujung Pandang-Jakarta. Transit di Ujung Pandang tidak lebih dari 30 menit.
Kami pun kembali ke kota yang penuh dengan polusi ini lagi sekitar pukul 22.00. Dengan membawa satu loyang klaper tart, kepiting kenari yang super enak, berjuta pengalaman baru, dan rasa senang yang tak terdefinisikan.

Ya, begitulah cerita liburanku waktu itu. Selanjutnya hingga tahun ini (2008) liburanku tak pernah direncanakan jauh hari sebelumnya. Paling lama satu seminggu sebelum keberangkatan.

Terima kasih buat Hao, yang sudah menjadi pemandu wisata kami selama kami di Manado. Terima kasih juga buat keluargaku yang sudah pasrah mendengar perkataanku “Ma, aku lusa ke Manado ya.”

atau “Besok aku ke Bandung ya 4 hari.”, “Besok aku jalan-jalan ke Bali ya.”, “Nanti malem aku terbang ke Bali ya.”

Untuk semua yang membaca, semoga informasi di atas berguna. Harga-harga yang tercantum di atas dan juga semua informasi itu, adalah apa yang aku alami tahun 2003, yang pastinya berbeda dengan sekarang-sekarang ini. Jika ada yang mau memberi informasi tambahan, sangat diharapkan.

Informasi menyedihkan yang sempat aku dengar, bahwa terumbu karang di sana semakin rusak. Mudah-mudahan tidak bertambah parah esok-esok hari. Semoga para wisatawan dan semuanya saja, dapat menjaga habitat mereka dengan baik. Tidak merusak, tidak mencoba memindahkan mereka ke akuarium-akuarium di rumah-rumah, tidak membuang sampah di lautan. Semuanya itu untuk kita juga pada akhirnya.

Selamat berlibur teman-teman. Manado bisa menjadi salah satu tujuan yang perlu dimasukkan daftar rencana liburan. Itupun kalau liburan kalian direncanakan sebelumnya, hehehee.

Kusebut Perjalanan Menuju Surga

Wednesday, February 27th, 2008

Kusyuk doa, yang jarang aku lakukan, terucap dari hati..Saat aku berada antara langit dan bumi..Saat ‘burung besi’ bersayap nan kokoh dan ‘berkaki’ roda membawaku menuju tempat istimewa..

Bali?

Tak pernah mengecewakan aku..
Ratusan tempat belanja, berjuta sajian menu makanan, rasa senang yang tak ternilai, daftar aneka hiburan, serta pengalaman berjuta rasa. Membuatnya cukup pantas disebut dengan surga dunia..

Nuansa magis tak pernah lekang terkikis kejamnya dunia..Magis membuat diri lena terhipnotis..Terpanggil menujunya..

Teriknya matahari takkan pernah meringkukkan badan ini..Terbakarnya kulit oleh-oleh istimewa darinya..

Bulan cinta ini belum berakhir..Cinta akan dirinya juga belum berakhir..Ini kali ke tiga dalam satu tahun terakhir, aku mencari kesenangan sesaat di sana..Ia tak pernah membuatku bosan..
Bali tak pernah ada habisnya melenakan diriku..Kantong-kantong belanjaan yang aku bawa pulang dan menambah penuh gantungan bajuku, takkan pernah kusesali..

Duduk sendiri di pesawat, disuguhi pemandangan langit terang, putihnya awan atau kelamnya malam dan mendung, tak henti membuatku kagum akan dahsyatnya semesta..

Sapaan ramah, senyum manis dari orang yang berpapasan, membuatku tersentak sebentar..Menyadari hal yang hilang di kehidupanku di Jakarta..

Seakan larangan di sini sirna..Tubuh seakan dijajakan..Dibiarkan menerima hamparan sinar mentari..Tak aneh..Seolah tak ada yang peduli..Walau tak jarang dosa terjadi di sana..

Bukan berarti tanpa aturan, bukan berarti tanpa norma, bukan berarti religi terhapus..Hamparan sesajen berderet di sepanjang rumah, toko, membuat semerbak kendaraan..Langkah kaki pun mencoba memberi hormat untuk sebokor aneka sesaji itu..

Kecap lidah ini ingin selalu dipuaskan..Sepiring makanan enak tak henti dicari dan disajikan..Pegal kaki berkeliling tak kuhiraukan lagi..Bagiku memilih satu dari ratusan tempat makan di sana, bagai memilih pasangan hidup..

Sinting aku dibuatnya..Menu-menu yang disediakan di depan restoran selalu membuatku tergiur..Surga kuliner aku temui di sini..Kembali tak satupun dari kecap lidah ini, membuatku kecewa..Kembali membuatku memanggil Sang Pencipta..Lagi syukurku terucap..

Pasir putih yang menyelimuti kaki..Birunya laut dihadapanku..Serta langit terang bertebar sinar mentari di atasku..Semilir angin yang menerpa wajah..Membuatku selalu terpana..Dan meminta mereka agar jangan murka..

Akhir pintaku..Biar kaki kembali berjalan menuju surga..Hingga syukur itu dapat membawaku menuju surga sesungguhnya..

Jurnal Si Anak Hilang…

Monday, February 25th, 2008

Sabtu ini, aku bangun bukan di tempat biasanya, bukan di kamarku, bukan di rumahku, dan bukan di Jakarta…
Pagi-pagi benar makhluk yang aku kenal, telah sibuk dengan pekerjaan masing-masing…
Mata ini pun belum sepenuhnya terbuka, saat aku berjalan menuju kamar mandi…
Membasuh muka dan membersihkan gigi serta mulut akhirnya membuatku benar-benar terbangun dari tidur nyenyak semalam…
Sembari memandangi diri di hadapan cermin, aku memikirkan apa yang hendak aku lakukan hari ini…
Ini bukan kota di mana biasanya aku tinggal, dan tak biasanya aku sendirian…
Otakku kemudian berpikir keras berusaha mencari cara agar diri ini sibuk hari ini…

Tak ambil pusing, aku pun langsung menuju ruang makan, untuk makan pagi…
Nasi goreng sebanyak satu setengah sendok nasi, dua potong croissant, dadar goreng, buah-buahan adalah menu makananku pagi ini…
Tak lepas dari pengamatanku apa yang ada di sekeliling…
Tamu, adalah sebutan untuk turis, yang biasa digunakan orang Bali, yang menginap di hotel itu cukup ramai…
Tak cuma tamu lokal, tamu mancanegara pun juga banyak aku jumpai di sana…
Dari Asia, yang paling banyak adalah tamu dari Jepang, dan kebanyakan mereka sekitar usia 20-30an tahun…
Sedangkan tamu bule, berasal dari banyak negara, baik dari Eropa maupun Amerika…

Satu jam aku habiskan duduk sendiri di meja makan…
Aku pun mulai beranjak dari sana menuju ke kamar…
Brosur layanan spa hotel yang tergeletak di meja kamar, menarik perhatianku…
“Sudah lama aku tak memanjakan diri di spa.”
Namun hal itu aku kesampingkan…
Aku memilih untuk nyemplung ke kolam renang, dan berenang…
Aku pun langsung berganti pakaian renang, dan menuju kolam, yang hanya empat langkah di depan kamarku…
“Brrr…dingin deh nih air, mana anginnya kenceng pulakh.”
Maklum Bali baru saja berhenti diguyur hujan sesaat sebelum aku mendarat di sana…
Dinginnya air akibat angin tak lama kurasakan…
Gerakan renang dan mulai bersinarnya matahari menghapus itu semua…

Jam 10.30 waktu setempat, aku keluar dari kolam renang menuju ke kamar yang sudah dibersihkan oleh House Keeping
Aku berencana untuk menelepon ke bagian spa, untuk membuat perjanjian…
Namun sayangnya, siang itu, semua ruang sudah penuh, dan akhirnya aku mendapat jadwal jam 16.30…
Dan setelah telepon aku tutup, aku kembali menuju kolam renang, dan melanjutkan berenang…

“Hmmm..jam berapa siy kok laper yaa.”…
Akhirnya aktivitas di kolam renang sepenuhnya aku akhiri…
Kembali ke kamar, dan mandi. Eh bukan…tepatnya berendam di bath tub
Selama berendam, aku berpikir “Enakan jalan sendirian, atau tilpun temen SMP-ku ya?”
Dilema memang, karena ia pernah berpesan padaku “Kalo ke Bali, telpon gue ya.”
Tapi “Wah ini kesempatan gue jalan-jalan di Bali sendirian, jarang-jarang bisa kayak gini.”
Hal itu belum aku putuskan saat aku telah selesai mandi, dan telah selesai berdandan…

Melangkahkan kaki keluar kamar, masih sambil berpikir…”Sendiri atau ada temen?”
Good Morning.”
Morning.”

Duhh..aku lupa kalau aku lagi di Bali…
Hal seperti itu yang tak aku jumpai di Jakarta sehari-hari…
Berpapasan dengan orang lain, sama saja berpapasan dengan tembok…
Namun tidak di Bali, sapaan ramah, dari siapapun sudah bukan hal asing…

Sesampai di gerbang hotel, aku akhirnya berhasil memutuskan bahwa aku akan berjalan sendiri, dan tanpa teman…
Berbekal sebuah peta, yang menurutku kurang lengkap dari peta Bali yang dulu aku gunakan saat liburan, aku pun memberanikan diri untuk melangkah…
Hal pertama yang aku cari, yaitu tempat makan…
Menyusuri sepanjang jalan Padma Utara, aku pun telah menemukan beberapa tempat makan…
Dan tak tahu mengapa, kaki ini tiba-tiba berbelok di sebuah restoran di sudut perempatan jalan tersebut…
Aku pun memesan semangkok pasta, yang menurutku porsinya tidak terlalu besar…
Duduk sendiri, menunggu makanan sambil bengong, sepertinya sedikit menarik perhatian orang lain…
Saat aku melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan, ternyata ada beberapa pasang mata, yang kepergok sedang memperhatikan aku…
“Hmm..jalan sendirian di Bali bukan hal aneh khan?” Itu yang aku pikirkan…

Makanan yang aku pesan, sudah tersedia di depan mata, tak lama kemudian…
Ternyata aku tertipu, porsi pasta itu, cukup besar untuk aku sendiri…
Menyuap dan mengunyah makanan secara perlahan, disisipi saat-saat bengong dan mengkhayal…
Are Singaporean?”
Tanya salah seorang penjual jasa padaku…
Restoran itu hanya dikelilingi dengan pagar kayu di sekelilingnya, dan tanpa penutup…
Mengakibatkan orang-orang yang nongkrong ataupun berjalan di trotoar bisa langsung berkomunikasi dengan para pengunjung restoran…
Para penjual jasa itu, adalah orang lokal…
Selama aku di sana, aku mendengar mereka berbincang-bincang dengan bahasa Bali, yang tak aku mengerti sama sekali…
Sapaan salah satu dari mereka itu, sama sekali tak aku gubris, karena terus terang aku takut…
Tapi pertanyaan tadi membuatku berpikir “He…emang muka gue kayak orang Singapur ya? Sesipit itukah gue?”
Menyendok dan mengunyah makanan secara perlahan ternyata tak ada pengaruhnya untukku… Sepiring pasta itu tak dapat aku habiskan…

Melanjutkan perjalananku setelah makanan selesai aku bayar…
Arah yang aku tuju pun tak jelas…

Aku hanya mencoba mengikuti arah ke mana mayoritas para tamu pergi…
Dan ternyata tebakanku tak mengecewakan aku…

Berjalan sepanjang jalan Legian menuju ke kawasan Seminyak aku menemukan deretan toko, yang merupakan surga belanja…
Menyusuri trotoar yang masih berfungsi dengan baik, kurang lebih 5 kilo meter pulang pergi…
Satu kantong belanjaan berisi baju akhirnya aku dapatkan…
“Lumayan, harusnya 2 potong rok terusan itu seharga Rp.740.000, tapi karena butik merk terkenal itu sedang ada potongan harga, aku cuma harus membayar Rp.230.000.”

Pegalnya kaki, membuatku menemukan satu dilematik lagi…
“Pulang naik taksi atau tetap jalan kaki ya?”…
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap jalan kaki…
“Toh, nanti aku khan ada janji spa.”…

Sampailah di potongan jalan Padma Utama dengan Legian…
Tapi aku tak memutuskan belok kanan dulu…
Namun aku memutuskan untuk terus berjalan menyusuri sisi lain jalan Legian itu…
Tak berapa lama, kaki ini sudah tak tahan…
Akhirnya aku berbalik arah menuju hotel tempat aku menginap…

Di sepanjang jalan Padma juga terdapat beberapa toko, yang menjual suvenir khas Bali…
“Hmmm, nanti malem pake rok yang item ahh. Eh tapi, sepatu yang aku bawa warna putih lagi. Nyari sendal item dulu kalo gitu, lagi pula sendalku di rumah sudah mulai rusak.”
Akhirnya aku membeli sepasang sandal Bali bewarna hitam, dan sandal warna biru untuk keponakanku…

“Hmmm…bukan seharusnya dah deket ya, kok ngga nyampe-nyampe ya All Seasons.”
Akhirnya aku sampai…
Begitu sampai di lobi, aku telah melihat makhluk yang aku kenal…
“Hah, senangnya udah ngga jadi anak ilang.”