Posts Tagged ‘Liburan’

Lombok Bagian I

Friday, April 12th, 2013

Semua berawal dari keisengan saya browsing situs maskapai penerbangan yang biasa saya pergunakan untuk bepergian. Dan sangat giranglah saya, saat menemukan tiket promo Jakarta – Lombok, pulang pergi di mana saya hanya membutuhkan uang sebesar Rp.1.400.000 untuk itu.

Seketika saya menghubungi teman satu kantor yang menurut saya mudah untuk saya ajak dan ‘culik’ untuk pergi ke sana. Tanggapannya ternyata positif, sehingga kami berdua memutuskan untuk membeli tiket untuk keberangkatan tanggal 6 – 9 April 2013. Walaupun kami harus menunggu 6 bulan sebelum kami dapat menikmati Lombok.

Sesuai dengan perjanjian kami berdua, kalau perjalanan ini bukan perjalanan mewah, diusahakan perjalanan ini hanya akan merogok kocek kami seminimal mungkin. Memang perlu diakali sedikit dan tidak sulit.

Tujuan utama kami ke Lombok kali ini adalah bermain-main air dan menikmati kepulauan Gili Trawangan dan sekitarnya. Dan kami tidak memakai tur perjalanan. Semua hanya bermodal dengan Mbah Google yang memampukan kami mencari tau keperluan, moda transportasi, akomodasi, kuliner dan aktivitas yang akan menjadi target utama kami berdua selama di Lombok kali ini.

Penantian panjang kami pun berakhir. Sabtu, 6 April 2013, pukul 8.00 pagi, kami sudah harus berangkat dari rumah kami masing-masing, untuk menuju Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Penerbangan kami dengan maskapai nasional terbesar, dijadwalkan berangkat sekitar pukul 11.00 pagi. Lombok Praya akan dicapai setelah melakukan penerbangan sekitar 2,5 jam.

Kursi dan ruang untuk kaki yang nyaman, dan makanan yang disediakan di dalam pesawat membuat penerbangan dari Jakarta – Lombok tidak terasa. Seperti biasanya, saya selalu memilih kursi yang dekat dengan jendela. Merupakan kesenangan tersendiri saat di dalam pesawat, saya bisa melihat kumpulan awan yang menyerupai kapas, sambil menghayal sesuka yang saya inginkan. Dan tentunya pemandangan saat pesawat akan tinggal landas maupun saat akan mendarat. Saat daratan sudah terlihat, seketika saya dan Nadia, teman saya, berkomentar “Sumpah, gue ga akan nyesel ke sini. Let’s have fun here.”

Sekitar pukul 14.00 WITA, kami mendarat di Bandar Udara Internasional Lombok Praya, yang letaknya jauh dari Senggigi, kawasan yang akan kami tuju, karena dari kawasan ini, kami akan ke Pelabuhan Bangsal, untuk menyeberang ke Gili Trawangan.

Dari bandara, kami memilih untuk menggunakan Bus Damri. Bus Damri ini akan melakukan beberapa pemberhentian, seperti di Mataram, sebelum mengakhiri perjalanannya di Senggigi. Ongkos Bus Damri ini hanya Rp.25.000 sampai Senggigi, untuk penumpang yang akan berhenti di Mataram, tentunya ongkosnya akan lebih murah. Jadwal keberangkatan Bus Damri ini, sepertinya ada setiap jam, walaupun mereka akan ngetem beberapa waktu tertentu, sampai kira-kira penumpangnya sudah hampir penuh.

Selain menggunakan Bus Damri untuk menuju Senggigi, bisa juga menggunakan taksi yang biayanya tentu akan lebih mahal daripada menggunakan bus. Menurut informasi dari mereka yang memilih menggunakan taksi, biayanya sekitar Rp.200.000, tetapi tentunya akan lebih cepat sampai ke tempat tujuan.

Bandara – Senggigi menggunakan Bus Damri akan ditempuh dalam waktu 2 jam.  Bus Damri ini akan berhenti di sekitar Hotel Sheraton Senggigi. Dari sana kami harus melanjutkan dengan angkot atau taksi. Beruntunglah kami, saat kami tiba di sana, masih ada satu angkot yang bisa mengantarkan kami ke Pelabuhan Bangsal, karena jika tidak dengan angkot ini, kami harus menggunakan taksi, yang tidak diperkenankan masuk sampai ke kawasan pelabuhan, dan akan menyebabkan kami berjalan kaki lagi mencapai pelabuhan. Untuk mencapai Pelabuhan Bangsal, kendaraan yang diperbolehkan masuk adalah hanya angkot dan Codomo, andong, moda transportasi khas Lombok.

Kami harus mengeluarkan uang Rp.70.000 untuk angkot dan juga tiket penyeberangan. Dari Senggigi menuju Pelabuhan Bangsal, jarak tempuhnya masih sekitar 30 – 45 menit. Entah apakah harga yang dipatok itu wajar atau tidak, kami hanya berpikir bahwa saat itu sudah sangat sore, dan kami pun tidak tahu persisnya jam berapa penyeberangan terakhir ke Gili Trawangan saat itu.

Saat di atas angkot, pemandangan yang terpampang di depan mata sangat menyenangkan. Hamparan laut biru dan teduhnya hijau pepohonan tersaji tanpa henti sepanjang perjalanan. Lagi-lagi kami berkata dalam hati: “Gak nyesel gue ke sini.”

Sesampainya di Pelabuhan Bangsal, kami tanpa berlama-lama lagi langsung menaiki perahu yang ditunjuk oleh supir angkot kami tadi. Jangan mengharapkan bahwa ini kapal cepat mewah ya. Kapal yang kami naiki adalah kapal cepat harian, yang juga biasa mengangkut hasil sayur-mayur dan buah-buahan, dan hanya bertutup terpal tipis. Tetapi justru di situ seninya perjalanan ini.

Cuaca cerah membuat perjalanan laut kali ini sangat menyenangkan, sehingga 45 menit yang kami lalui di laut tidak terasa, dan taaarrraaaaa… papan bertuliskan “Selamat Datang di Gili Trawangan”, sudah terpampang di depan mata. Tanpa basa-basi saya dan Nadia langsung mencari hotel yang sudah kami pesan dari Jakarta. Kami menginap 2 malam di Gili T Hotel di mana kami harus membayar sekitar Rp.400.000 per malamnya. Kebetulan letak hotel tidak jauh dari dermaga, dan masih di daerah yang ramai.

Selamat Datang di Gili Trawangan

Selamat Datang di Gili Trawangan

How can you resist this beauty?

How can you resist this beauty?

I Love The Blue of Indonesia

I Love The Blue of Indonesia

Check in, memasukkan semua tas, langsung setelah itu kami keluar kamar dan berkeliling di sekitar hotel.

Gili Trawangan memang surganya untuk night life. Café, bar yang menyajikan minuman baik yang beralkohol maupun yang non-alkohol dengan harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan di Jakarta,  dapat ditemui berjejer di sepanjang jalan. Lengkap dengan live music yang akan terus berdentum hingga hampir pagi menjelang. Restoran baik yang jadi satu dengan hotel, ataupun yang tidak, rata-rata menyajikan seafood sebagai menu utamanya. Harga makanan di restoran-restoran ini tentunya lebih mahal jika dibandingkan dengan harga makanan yang dijual di gerobak-gerobak kaki lima yang berjualan di satu area seperti lapangan kecil yang letaknya dekat dermaga. Namun harus sedikit lebih berhati-hati untuk memilih makanan di tempat ini, terutama untuk seafood, yang harus dipastikan kesegerannya terlebih dahulu.

The Night Life We Had...

The Night Life We Had…

Pedagang Kaki Lima yang Menyajikan Makanan Di Gili Trawangan

Pedagang Kaki Lima yang Menyajikan Makanan Di Gili Trawangan

Aktivitas di Gili Trawangan pastinya akan lebih banyak seputar kegiatan di laut, seperti snorkeling, diving, atau bisa juga hanya melihat-melihat underwater dengan menggunakan kapal yang ada kacanya di dasar perahu. Alat snorkeling dan diving lengkap bisa disewa di sana. Untuk paket snorkeling sudah termasuk alat, perahu dan tur island hopping dikenakan biaya sebesar Rp.100.000.

Hari ke-2 kami di sana, tentunya kami habiskan menikmati surga berupa hamparan air laut dan berenang-berenang, snorkeling di sana. Kami snorkeling di daerah Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, yang membawa kami sempat melihat penyu berenang ke sana kemari di sekitar kami. Tenang saja, tidak perlu takut kelaparan, karena juru mudi kapal akan membawa semua peserta tur untuk menikmati makan siang di salah satu pulau yang didatangi.

Snorkeling Time

Snorkeling Time

Semua kegiatan snorkeling akan berakhir sekitar pukul 15.00, dan tentunya hari itu masih sangat panjang. Sepanjang hingga subuh menjelang, dan kalian masih bisa mendengar dentuman musik reggae dan house music dari café yang berlomba-lomba menarik perhatian pengunjung.

Selain aktivitas yang berkaitan dengan wisata air, kalian juga bisa berkeliling pulau dengan menggunakan sepeda. Sepeda disewakan sekitar Rp.40.000 untuk satu hari. Harga tersebut, kami dapatkan dengan usaha menawar, dan harga turis lokal. Pulau bisa dikelilingi dengan sepeda dengan jangka waktu 2 jam. Jangan lupa menggunakan tabir surya, karena matahari yang menyinari Lombok layaknya ada 10 buah.

Mari Bersepeda

Sayangnya kami harus meninggalkan Gili Trawangan untuk kembali ke Senggigi dan bermalam di sana, untuk mempermudah kami untuk ke bandara esok hari. Sedikit terkejut, karena tiket menyeberang dari Gili Trawangan kembali ke Pelabuhan Bangsal hanya Rp.7.000. Perjalanan yang sedikit seru, karena sepanjang jalan kami menyeberang, ditemani oleh hujan deras yang tidak ada hentinya, yang membuat pakaian kami pun basah.

Sesampainya di Pelabuhan Bangsal, kami menyewa mobil yang akan mengantar kami ke hotel di daerah Senggigi. Kami dikenakan biaya Rp.70.000 per orang, dan satu mobil hanya ada 4 orang termasuk kami. Malam harinya kami makan di Warung Menega, yang menyajikan makanan hasil laut, yang bisa dicapai dengan menggunakan taksi.

Makanan di Warung Menega

Makanan di Warung Menega

Sebelum ke bandara esok harinya, kami menyempatkan diri ke Art Market di Senggigi, untuk membeli buah tangan untuk teman dan keluarga di Jakarta. Sayangnya kios-kios di Art Market ini sudah banyak yang kosong, dan seperti biasa, harganya relatif mahal.

Manado, Bunaken, Tanah Leluhur…

Monday, April 1st, 2013

Manado…

Tanah leluhur yang selalu ingin saya datangi. Dan keberuntungan memang sedang berjodoh dengan saya. Sekitar bulan September 2003 *Jangan protes, memang ini cerita liburan jaman baheula, saya saat saya masih bekerja sebagai sekretaris, saya diminta untuk memesan tiket Jakarta – Manado untuk dua orang kolega saya yang akan perjalanan dinas ke sana. Pertama-tama yang saya tanyakan adalah ketersediaan tiket dan tentunya harganya. Terdengar di seberang telepon suara petugas ticketing menyebutkan angka Rp.1.200.000, yang disusul dengan sambutan kaget dari saya…

“Ha? Itu harga satu kali jalan khan, Mbak?”

“Ngga Mbak, itu harga PP.”

“Whaaaatt?? Saya book pake nama saya juga, Mbak.”

Dengan harga hanya Rp.1.200.000 untuk pulang pergi, menurut saya harga itu sangat murah, *Jika dibandingkan dengan Rp.4.000.000an untuk harga tiket normal, dan dengan maskapai nasional terbesar saat itu, tanpa berpikir panjang, saya langsung memesan juga untuk saya. Lagipula jatah cuti saya saat itu masih cukup banyak.

Tibalah tanggal yang ditentukan, Kamis, 18 September 2003 saya terbang ke Manado, menyusul kedua kolega saya yang sudah pergi terlebih dahulu ke sana. Terburu-buru saya ke bandara, karena sangat disesalkan taksi yang saya pesan, tidak kunjung tiba, dan saat itu jam dinding sudah menunjukkan angka pukul 11.30 siang, di mana penerbangan saya saat itu sekitar pukul 14.00.  Saya pun tanpa berpikir panjang, mengangat tas dan berjalan ke depan kompleks untuk mencegat taksi di pinggir jalan.

Beruntunglah saya bisa tiba di bandara sekitar pukul 13.00, dan antara merasa beruntung dan jengkel ketika saya melihat di papan pengumuman keberangkatan pesawat, bahwa penerbangan saya ditunda sekitar 2 jam, yang selanjutnya saya ketahui bahwa keterlambatan karena masalah cuaca

Memakan waktu sekitar 3 jam penerbangan Jakarta – Manado. Sesampainya di Manado, saya langsung dijemput oleh teman-teman saya yang sudah di sana.

Perjalanan kali ini cukup hemat, karena saya bisa menebeng di kamar hotel kolega saya yang sedang melakukan perjalanan dinas. Mereka bekerja saat siang, dan sore baru bisa bersenang-senang, tetapi saya bisa bersenang-senang sendiri dari pagi dan bersenang-senang dengan mereka saat malam hari.

Dari bandara saya langsung dibawa untuk menikmati makan malam di pinggir laut. Sayang sekali saya lupa nama restoran tersebut, tapi satu yang saya ingat persis adalah, restoran tersebut menyajikan masakan Kepiting Kenari yang sangat enak. Dan menurut salah satu teman yang asli orang Manado, dan tinggal di Manado sejak kecil, yang menemani makan malam saat itu, masakan Kepiting Kenari memang masakan khas Manado. Dan menurut saya, masakan Kepiting Kenari ini makanan khas Manado yang wajib diicipi saat bertandang ke kota ini. Setelah selesai menikmati makan malam kami kembali ke hotel dan menutup hari dengan istirahat.

Esok harinya saat kedua teman sedang bekerja di kantor cabang, saya yang saat itu sedang menikmati cuti, sempat diajak ke daerah Tomohon. Daerah pegunungan yang sangat sejuk. Di Tomohon saya hanya diajak menikmati makanan non-halal, dari binatang kulitnya berwarna merah muda, dan rasanya memang enak. Sebenarnya saya juga diajak untuk melihat pasar hewan yang sangat terkenal di sana. Tetapi saya tidak mendatangi tempat itu, karena pasar itu adalah pasar hewan yang untuk dikonsumsi, yang sepertinya tidak akan menarik untuk saya kunjungi.

Sabtu, di mana bukan lagi hari kerja. Dan kedua teman saya ini sudah tidak ada lagi tugas kantor yang perlu dikerjakan. Dan kami mereka memang sengaja memperpanjang masa tinggal di Manado, untuk dapat menikmati Bunaken. Pagi-pagi kami sudah dijemput di hotel oleh teman kami. Dari sana, kami mampir ke restoran yang jual kepiting kenari kemarin untuk memesan masakan tersebut sebagai oleh-oleh dibawa pulang ke Jakarta. Beres urusan kepiting, kami juga mampir ke toko oleh-oleh untuk memesan Klapertaart, kue kelapa khas Manado yang rasanya juga sangat enak. Kue ini juga kami pesan untuk dibawa ke Jakarta esok harinya.

Setelah urusan pesan-memesan oleh-oleh yang akan dibawa ke Jakarta sudah selesai, kami langsung mengarah ke pelabuhan untuk menyeberang ke Bunaken. Kapal yang membawa kami menyeberang, bukan kapal besar, hanya kapal yang biasa dipakai untuk penyeberangan hasil bumi, tapi sudah speed boat.

Perjalanan Manado – Bunaken memakan waktu 30 – 40 menit. Perjalanan yang sangat menyenangkan, di mana sepanjang mata memandang, hanyalah hamparan laut biru, gugusan pulau dah pegunungan di sebelah kiri dan kanan kapal. Tanpa terasa, menit-menit yang kami jalani tersebut sudah membawa kami ke pemandangan hamparan pasir putih, berkilau, dan halus terasa saat kaki kami berpijak di atasnya…

“Surganya tempat ini,” gumam saya dalam hati.

 

Beautiful Bunaken

Beautiful Bunaken

Here We Arreeee...

Here We Arreeee…

Di sana kami hanya sebentar saja, untuk menyewa peralatan snorkeling, dan secepat kilat perahu yang tadi kami tumpangi, kembali membawa kami ke tengah lautan biru gelap, beratapkan langit biru muda tanpa awan, yang keberadaan mereka di sana hanya dibatasi horizon tipis.

Saya saat itu belum bisa berenang sama sekali. Urung sekali saya untuk menceburkan diri ke laut yang dasarnya tak sangat dalam walaupun dari atas perahu cantiknya rangkaian karang sudah terlihat, karena jernihnya air tanpa polusi.

Namun, beruntunglah saat itu saya ditemani oleh dua orang spesial yang akhirnya membuat saya mampu memberanikan diri keluar dari perahu dan mengapung dengan girangnya di air laut. Awalnya sulit membayangkan harus bernapas dengan mulut, bak ikan, namun saat saya sudah di sana, semua keraguan dan kepanikan saya sirna seketika, mungkin luruh dengan air laut.

Nyemplung yuukk..

Nyemplung yuukk..

Indahnya alam bawah laut Bunaken tidak diragukan lagi, walaupun menurut orang setempat, apa yang saya lihat sudah tidak secantik dulu. Banyak sekali karang yang rusak, karena ulah tangan manusia. Namun keberuntungan masih ada sebagian di pihak saya, saat saya snorkeling di sana, saya bisa melihat ikan Napoleon yang sangat besar, yang menurut orang asli sana, ikan tersebut tidak selalu ada, dan hanya orang-orang beruntung yang bisa melihat ikan tersebut. Sayangnya, saat saya pergi ke sana, underwater camera belum menjamur di Indonesia.

Tengah hari, dan terik matahari yang sudah pasti akan membakar kulit kami tidak kami hiraukan; tetap membuat kami sibuk menikmati apa yang kami lihat di bawah air. Namun waktu tak terasa, dan sore pun menjelang.

Mendangakkan kepala, kami dapati langit sudah tidak cerah, bisa dikatakan cenderung mendung. Tadinya kami tidak ada rencana untuk bermalam di Bunaken, tapi saat teman kami yang menjadi guide kami bertanya apakah kami akan kembali ke Manado dan menginap di sana, atau bermalam di Bunaken dan besok akan dijemput pagi hari sebelum sore harinya kami bertolak ke Jakarta. Dan karena saya paling muda di rombongan, kedua teman saya meminta saya yang memutuskan…

“Stay di sini,” itu jawaban saya, dan saya yakin itu pun yang menjadi harapan kedua teman saya.

Di Bunaken, kami menginap di Bastianos, yang sekarang kalau saya lihat di situs, sudah berganti nama menjadi Bastianos Dive Resort. Sistem pembayaran yang diberlakukan saat itu, sedikit berbeda dengan tarif penginapan pada umumnya. Mereka mematok harga dengan ukuran berapa orang, bukan berapa kamar dan berapa malam. Kami saat itu dikenai harga Rp.125.000 per orang, dan baru saya ketahui bahwa harga ini adalah biaya untuk mengganti biaya makan untuk 3 x sehari. Dan karena kami hanya bertiga, maka kami bisa tidur dalam satu kamar, tanpa kamar mandi dalam, namun letak kamar mandinya ada di luar persis di samping kamar.

Listrik di pulau ini pun juga baru dinyalakan setelah pukul 18.00 WITA. Dan jika mandi di bawah pukul tersebut, kami diminta untuk berhemat air, namun jika mandi di atas pukul 18.00, kami diminta untuk tidak lupa menyalakan keran air selama mandi, untuk mengisi bak mandi, dan menutupnya kembali saat meninggalkan kamar mandi. Hampir sama dengan aturan di kos-kosan ya? Tapi jangan takut hotel ini sangat bersih, dan dari balkon kamar dan juga restorannya kalian bisa melihat laut. Makanan yang disediakan di restoran juga sangat enak, yang mayoritas makanannya makanan hasil laut. Tidak rugi sama sekali saya memutuskan untuk bermalam di Bunaken.

Bastianos Cottages

Bastianos Cottages

Esok harinya, hari terakhir kami di Sulawesi Utara, kami dijemput oleh teman kami yang menyeberang dari Manado, dengan kapal yang sedikit lebih besar dan saya bisa duduk di ujung depan kapal, sambil menikmati pemandangan yang rasanya sulit untuk ditinggalkan.

Sesampainya di Manado, kami mengambil semua pesanan oleh-oleh yang akan kami bawa pulang ke Jakarta di tempatnya masing-masing, lalu kami makan siang, dan langsung menuju Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi. Dan lagi-lagi penerbangan kami tertunda 4 jam, karena factor cuaca, padahal penerbangan pulang kali ini, masih harus transit di Makassar. Huuuuhhhh…

Tetapi saya puas perjalanan kali ini. Saya yang tidak bisa berenang, tetapi mampu memberanikan diri untuk menceburkan diri ke laut.

Dan perjalanan inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan alam Indonesia, dan awal dari jelajah saya ke bagian lain dari cantiknya Ibu Pertiwi.

—-

Eeeeehhh taaappiii…semua informasi di sini, saya dapatkan dari perjalan saya 11 tahun lalu ya, jangan terlalu dijadikan referensi. Coba tanyakeun dengan Mbak Google terlebih dahulu.

Kerinduan…

Saturday, January 30th, 2010

Duduk memandangi air yang berjatuhan dari langit, diiringi pengamen yang bernyanyi lagu jawa tentang Jogjakarta sambil memainkan gitar dengan bagusnya, membuat saya ingin pulang ke Jogja.

Hah…ntah mengapa, kota yang satu ini sering membuat saya rindu untuk kembali ke sana.

Bingung sebenarnya kalau ditanya: “Mbak, orang mana? Asli mana,” yang tak mungkin saya jawab dengan jawaban singkat.

“Saya aslinya lahir Jakarta, tapi orang tua Jawa, tapi Mama campuran Jawa-Manado.”

Dan biasanya diikuti dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan tambahan…

“Jawa-nya mana?”

“Jogja. Tapi dari pihak Mama tinggalnya di Magelang.”

“Jogja-nya di daerah mana?”

Terus terang nih, kalau sudah ditanya urusan Jogjanya di daerah mana, saya tambah bingung menjawabnya. Jadi biasanya saya jawab dengan hasil cerita masa kecil yang biasa diutarakan oleh Papa…

“Awalnya Klitren. Terus pindah ke daerah deket Taman Siswa.”

Yupe…Klitren itu rumah si Eyang, yang sayangnya tak pernah saya lihat. Menurut cerita Papa, itu rumah guuueeedddeeee banget, saking besarnya, rumah itu sempat dijadikan biara susteran, setelah Eyang memutuskan menjual rumah tersebut dan pindah ke daerah Taman Siswa. Dan hingga ajal, kedua Eyang saya masih menempati rumah yang ada di daerah dekat Taman Siswa itu.

Sewaktu saya SD hingga SMP, kami sekeluarga masih sering berkunjung ke Jogja, setidaknya hingga saya kelas 2 SMP, saat Eyang Putri masih ada. Tapi setelah kedua orang tua papa sudah meninggal, kami makin jarang ke sana.

Urusan jalan-jalan di Jogja, tak lepas dari duduk lesehan di emperan Malioboro menikmati burung dara; menikmati gudeg Jogja, seturunnya kami dari kereta di Stasiun Yogyakarta, lalu naik becak ke rumah si almarhum adik Papa, yang dulu ada di daerah Baciro; makan Lotek di depan Radio Gerenimo; menikmati jajanan di Pasar Beringhardjo; naik andong. Dan satu hal yang tak pernah saya lupakan, menonton Pretty Woman di 21 bareng sepupu-sepupu saya.

Sepuluh tahun terakhir, Jogja, hanya saya jadikan tempat transit, dan itu pun bukan untuk hal yang menyenangkan. Tiga kali singgah di Jogja, ketiganya berurusan dengan layatan kematian.

Tahun 2000, saya dan Papa pergi naik kereta ke Jogja untuk melayat Opa di Magelang. Itu juga karena kami berdua tidak dapat tiket pesawat terbang, sedangkan Mama sudah pergi terlebih dulu ke Magelang. Tapi seingat saya, ritual turun kereta makan gudeg subuh-subuh, dan mbecak ke rumah si Oom, tetap saya lakukan dengan si Papa. Setelah pemakaman si Opa, saya dan Papa kembali ke Jogja, karena besok paginya saya harus pulang ke Jakarta, naik kereta SENDIRIAN (waktu itu saya senang sekali, pertama kali menempuh perjalanan jauh dengan kereta, tanpa ada pihak keluarga menemani).

Tahun 2005, adik Papa, tiba-tiba sakit dan tak lama kemudian meninggal. Saya, yang tadinya hanya berniat mengantarkan Mama dan Papa ke bandara, akhirnya berubah pikiran…

“Eh, Pa, aku terbang juga deh ke Jogja. Mobil tinggal sini dulu, ntar malem aku pulang.”

Jadilah saya hanya beberapa jam di Jogja. Dan saya ingat betul sesampainya saya di sana, saya seneeennnggg banget bisa melihat kota itu lagi, walaupun saat itu Jogja sedang dilanda sengatan sinar matahari sangat dahsyat panasnya.

September 2007, saya terbang ke Jogja, untuk menghadiri 40 hari kematian Oma di Magelang. Lagi-lagi saya hanya beberapa jam berada di Jogja; hanya saat datang dari Jakarta dan kembali ke Jakarta.

Errrr…Talking about Jogja…kisah cinta saya dengan seseorang, juga bermula di (perjalanan menuju) Jogja. Kalau diingat-ingat, itu adalah perjalanan yang menyenangkan…

Dan itu semua semakin membuat saya rindu Jogja…

Malang Oh…Malang…

Monday, October 6th, 2008

Hmm…baru kali ini lebaran aku keluar kota. Maklum aku bukan salah satu dari mereka yang merayakan hari raya tersebut. Biasanya hanya aku habiskan di rumah, dengan acara-acara yang tidak jelas. 

Namun lebaran kali ini sedikit berbeda. Aku diajak tanteku untuk ke Malang, tempat mertuanya. Ini adalah liburan kali ke dua bersama dengan tanteku pada tahun ini, setelah kami sempat ke Bali berdua akhir Agustus 2008 lalu. 

Keberangkatanku kali ini nyaris batal, karena aku terserang flu yang menurutku paling parah dari flu yang pernah aku alami sebelumnya. Hidung tiada henti pilek, suara serak, bahkan sampai hilang sehingga aku tak bisa berbicara; dan pertimbangan lainnya adalah di Malang ada Oma dan Mbah Buyut, yang kesehatannya sedikit rentan. Namun akhirnya aku jadi juga berangkat, setelah sepupuku menelepon tanteku dan memintaku untuk tetap berangkat.

Tanggal 1 Oktober 2008, akhirnya aku berangkat juga. Biasanya kalau aku ke luar kota dengan pesawat, aku lebih suka ke dan dari bandara menggunakan “taksi biru” itu. Namun sayangnya saat aku menelepon ke mereka, taksi sedang keluar semua “Oh, no, just remember ini pas lebaran ya.”

Akhirnya aku minta diantar papa ke Cengkareng. Aku hanya berangkat berdua dengan sepupuku, karena tanteku dan suaminya, juga sepupuku yang lain sudah berangkat dari hari Minggu. Pesawat dalam kondisi penuh, tak satu pun ada kursi kosong, banyak sekali bayi dan anak kecil, belum lagi satu bayi yang tak berhenti menangis dari saat pesawat akan lepas landas sampai kira-kira setengah perjalanan. 

Sampai sana, pertama kali, ya biasa “absen” ke seluruh keluarga. Terutama Mbah buyut (she’s already 91 years old) yang turut merayakan idul fitri. Setelah itu, berhubung di sana ada piano, karena aku juga diminta membawa buku-buku piano sebelum berangkat, langsung aku didaulat untuk menyanyi, dan bermain piano seadanya.

Hmmm…sudah bisa ditebak, setelah itu, suaraku yang tadinya masih bisa bicara sedikit, jadi benar-benar hilang. Dahsyat pokoknya. Benar-benar iri saat melihat sepupuku yang lain bersama-sama main piano dan bernyanyi. Ini benar-benar penyiksaan bagiku. Belum pernah aku lewati satu hari pun tanpa bernyanyi, tapi kali ini, harus aku lewati tanpa melakukan hal itu sedikit pun. Tersiksaaaaa….

Hari ke-2, suaraku tak membaik, bahkan memburuk. Namun ya sudahlah, aku coba lewati liburanku kali ini dengan senang. Setelah makan pagi, kami sebentar mengobrol di ruang tengah sambil melihat DVD konser Andrew Lloyd Webber saat mereka konser di Beijing, China. Setelah itu, kami semua memutuskan untuk pergi ke Klub Bunga, Batu. Daerah ini seperti daerah Puncak.

Sherly, sepupuku yang masih 10 tahun, dan Alvin yang masih 9 tahun, ingin berkeliling Klub Bunga, dengan ATV. Berhubung mereka masih kecil, jadi mereka tidak diizinkan untuk mengendarainya sendiri. Akhirnya kami berlima, aku yang memboncengi Sherly, Birowo yang memboncengi Alvin dan Yudis tanpa memboncengi siapa pun, menaiki ATV keliling Klub Bunga, sampai ke atas bukit, dan bisa melihat kota Malang dari atas. Ternyata seru mengendarai ATV yang cukup berat, dan puas bisa melihat Malang dari atas bukit. 

Belum puas hanya dengan berjalan-jalan di Klub Bunga, akhirnya kami sekeluarga pada malam harinya bermain futsal di lapangan yang kami sewa, yang masih berada di lingkungan kompleks rumah. Berhubung tidak ada yang bisa bermain, kecuali Yudis yang sempat sekolah bola di Klub Blackburn, Inggris, jadi semua tampak seperti srimulat, karena lebih banyak tertawanya daripada menendang bola. Apalagi saat aku dan Birowo memutuskan untuk tetap di pinggir lapangan, kami mendengar ada satu tim yang sedang berbincang-bincang dengan bahasa Jawa “Eh, ojo muleh sekh, ono dagelan neng kene.”

Yang artinya adalah “Eh, jangan pulang dulu, ada lelucon di sini.”

Aku dan Birowo pun langsung ikut tertawa karena malu. “Sial mungkin mereka pikir kami berdua tidak mengerti obrolan mereka yang dalam bahasa Jawa itu. “

Setelah puas tertawa di lapangan futsal, kami pun pulang, untuk makan malam. Kali ini kami makan di rumah saja. Hmm…makan memang jadwal tetap dan sangat teratur, selama aku di sana. Alhasil beratku naik 1 kilo sepulang dari Malang. 

Santapan khas lebaran sudah tersedia di meja makan, begitu kami sampai rumah. Opor ayam dan ketupat siap untuk kami santap. Enak euy..sudah lama aku tidak memakan opor ayam. 

Setelah makan malam, kami sekeluarga, lengkap, kecuali Mbah Buyut, doa Rosario bersama. Tangan kami sibuk mengitari butiran-butiran Rosario sambil mendaraskan doa Salam Maria. Suatu hal yang aku rindukan ternyata, doa Rosario bersama-sama, walau sudah sebulan ini, aku kembali sering melakukan itu sendirian di kamarku, sesaat sebelum tidur.

Selesai doa, kami pun tak langsung tidur, tapi aku, Birowo, Oom Yoseph, dan Tante Ari, bersama-sama menonton DVD di ruang tengah. Film yang diputar kali ini berjudul Goal. Oh ya, seringnya kami nonton DVD, karen Yudis memang sengaja membawa koleksi DVDnya dari Jakarta. 

3 Oktober 2008, yaaa…tiba waktuku untuk pulang ke Jakarta, kembali ke kenyataan. Pesawat Malang-Jakarta hanya ada 1 kali dalam 1 hari, dan jadwalnya adalah pukul 08.55 pagi. Jadi pagi-pagi aku sudah mandi, makan pagi, dan pamitan untuk pulang ke kota yang akan semakin penuh sesak, karena bertambahnya kaum urban baru yang biasanya mendatangi kota Jakarta, setelah hari raya Lebaran.

Berlayar…

Wednesday, March 5th, 2008

Hmm..baru ingat…ternyata ada satu lagi liburanku yang tak direncanakan olehku, jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

Beginilah kisahnya…

Awal 1997. Saat gambar kapal pesiar itu terpampang di layar kaca televisi, aku pun menghentikan langkahku menuju ruang makan, untuk melihatnya dan mengkhayal “Coba gue bisa naik itu kapal ya”, setelah iklan menghilang dari layar, aku pun kembali melangkah.

Beberapa bulan berlalu dari khayalanku itu. Tiba-tiba, telepon rumahku berdering. Dari tanteku, adik ibuku. Dari ujung telepon ia berkata sebagai berikut “Cha, kamu kuliah masih lama khan? Mau ke Singapur ngga?”

“Aku mulai kuliah Agustus Tan.”

“Oh ya udah, siapin paspornya. Kita naik Awani Dream ke sana.”

Seketika aku ketawa, dibarengi ucap terima kasih ke tanteku itu. Tertawaku karena mengingat khayalanku beberapa bulan sebelumnya.

Juli 1997. Paspor yang telah siap dalam waktu singkat membawaku berangkat ke negeri orang. Pesiar ke negeri orang.

Minggu sore, aku, tante, oom dan sepupuku berangkat ke Pelabuhan Tanjung Priok. Sesampainya di Dermaga dan setelah urusan keimigrasian beres, kami pun langsung dipersilakan memasuki kapal itu. Langsung seketika kami tercengang kagum. Dahsyat besarnya. Dahsyat fasilitasnya. Semuanya serba mewah luar biasa. Kami pun langsung dibawa awak kapal untuk menuju kabin kami. Tempat tidur tingkat dan sebuah kasur tambahan telah tersedia di sana. Bentuk kabin pun tak jauh beda dengan yang kita lihat di film-film. Langsung aku dan sepupuku yang belum genap tujuh tahun saat itu mengintip ke luar jendela. Kami pun langsung disuguhi luasnya lautan biru.

Tak lama kemudian kapal itu pun mulai bergerak. Meninggalkan pelabuhan. Sebagaimana diumumkan oleh sang kapten kapal, kami pun diminta untuk berkumpul di sebuah ruang untuk mengetahui prosedur keselamatan jika kami mengalami keadaan darurat. Setelah itu suguhan makan malam pun telah tersedia. Hiburan dari para pengisi acara juga tak ketinggalan. Tarian kabaret, sulap, nyanyian, dan masih banyak lagi. Sajian itu memang disuguhkan oleh para awak kapal, yang kebanyakan adalah orang asing. Tak hanya itu teater dengan jadwal film yang termasuk baru juga tersedia. Suguhan makanan tak berhenti sampai makan malam, tapi sampai makan tengah malam yang dalam bahasa Inggris supper. Saat makan malam, aku melihat ada sekelompok anak muda yang bergerombol. Mereka sepertinya terlihat sudah sangat akrab, mungkin sepertinya merupakan rombongan keluarga.

Besarnya kapal, membuatku tak berani jauh dari saudaraku. Belum hafal, takut nyasar. Saat mereka memutuskan untuk kembali ke kabin, aku pun turut serta. Esok harinya, setelah makan pagi, aku sedikit merasa mual, begitu juga dengan tanteku. Tak tahan dengan kondisi ini, aku menuju kabin dan berusaha tidur, namun percuma, aku tetap tak bisa tidur. Kembali berjalan keluar kabin, mencari saudaraku. Tak lama aku melihat mereka di koridor, dan ternyata aku telah melewati suatu acara seru di dek atas kapal, di pinggir kolam renang. Tanteku pun memberi satu informasi lagi “Ternyata kita tadi pas mual itu, lagi ngelewatin putaran air. Memang di daerah situ keras putarannya. Aku tadi dikasih apel sama satu awal kapal. Katanya itu obat penangkal rasa mual.”

Kembali menuju kabin. Kami bersiap-siap membawa bawaan kami, karena sesaat lagi kami tiba di Singapura, setelah 24 jam berlayar. Kami satu-satunya penumpang yang keluar dari kapal ini, dan memilih untuk bermalam di salah satu hotel di pusat kota, sebelum kapal kembali berlabuh ke Jakarta ke esokkan harinya. Penumpang lainnya memilih untuk bermalam di kapal, walau mereka tetap bisa berjalan-jalan di Singapura. Hiburan, makanan dan kegiatan tetap tak henti, walau kapal sudah merapat di pelabuhan di Singapura. Saat ini aku lupa nama pelabuhannya. Tak kalah bagus dengan Changi. Bersih, bagus, megah, banyak tempat untuk belanja juga.

Orchard Road, jalan yang sangat terkenal di Singapura. Kami pun menginap di salah satu hotel bintang lima di jalan tersebut. Nama hotelnya sama dengan nama hotel di dekat bundaran HI, di seberang bekas Hotel Presiden dulu, di Jakarta. Kamar dengan kelas president suit di lantai dua puluh mampu menampung kami berempat, selama semalam.

Acara di sana, tak lain mencari makanan enak, dan juga belanja-belanji. Sempat aku meminta izin memisahkan diri dari tante dan saudaraku. Kebetulan tanteku yang satu ini, sedikit sama denganku. Hobi jalan-jalan sendirian, modal nekat dan berbekal peta. Berjalan sendirian menyusuri jalan-jalan besar di kota itu, keluar masuk pusat perbelanjaan yang menjadi favorit orang-orang Indonesia, merupakan suatu kesenangan tersendiri.

Pusat perbelanjaan yang menjual barang tanpa terkena pajak, menjadi akhir tujuan belanja di hari terakhir kami disana. Kami sudah harus kembali ke pelabuhan, agar tak ketinggalan kapal.

Setelah kembali mendaftar masuk ke kapal, dan meletakkan barang bawaan yang sudah semakin berat ke kabin, aku pun keluar berjalan-jalan sendirian di pelabuhan. Menyenangkan, kembali berjalan sendirian.

Tak lama sekembalinya aku ke kapal, kapalpun kembali bersauh. Meninggalkan Singapura. Makanan-makanan enak, hiburan-hiburan yang gemerlap kembali tersuguh di depan mata. Saat kaki ini melangkah menuju ke kabin, tiba-tiba seseorang memanggilku dan berkata “Hmm, boleh kenalan ngga?”

Melakukan observasi sejenak, terlihat di sana ada beberapa orang perempuan yang kira-kira sebayaku, juga ada yang masih kecil. Laki-laki ini sepertinya sedikit lebih tua dariku, selain itu beberapa laki-laki yang sepantaranku. Akhirnya aku mengulurkan tanganku sembari mengucapkan “Ocha”.

“Yudi”, “Rama”, “Ravi”, “Inka”, “Inge”, “Irene” dan masih banyak nama lagi yang disebutkan di koridor itu.

Yudi kemudian kurang lebih memulai percakapan denganku seperti ini “Mau balik ke kamar?”

“Iya”

“Ngapain? Mending ngobrol-ngobrol ama kita aja yuk”

Akhirnya kami menuju ke salah satu ruang makan. Ruang makan yang berbeda. Sajian makan tengah malam disediakan di ruang yang berbeda dengan makan malam yang tadi jam tujuh malam.

Ruang makan itu tak lama kemudian hendak ditutup. Kami semua menuju ke dek atas kapal, namun bukan di sisi kolam renang. Dek kayu itu, tersedia banyak kursi. Kami pun duduk-duduk melingkar di sana. Cerita-cerita seru, padahal kami baru saja bertemu. Tak lupa kami pun foto-foto. Seolah teman lama yang baru bertemu kembali. Tak terasa sudah jam 2 pagi. Berhubung saat itu telepon seluler belum umum seperti sekarang, aku pun menghilang tanpa jejak dari keluargaku.

Akhirnya aku meminta pamit untuk kembali ke kabin. Yang kemudian disambut dengan “Eh, bentar aja lo, langsung balik ke sini. Nyetor muka aja khan lo.”

Saat tiba di kabin, aku buka pintu dengan sangat perlahan. Melihat semua keluargaku sudah tidur, aku pun langsung kembali ke dek. Mereka masih di sana. Tak lama kemudian kira-kira jam empat pagi, kami menuju dek yang paling atas, di dekat kolam renang. Kami pun rencana melihat matahari terbit. Gelombang air laut yang kencang, ikut menyebabkan air di kolam renang itu juga melompat keluar, dan menciprati kami.

Tak perlu waktu lama untuk menantinya. Matahari itu pun mulai keluar, menampakkan cahayanya, dan seketika aku terkagum-kagum dibuatnya. Indah, sangat indah. Merekah dari langit yang masih didominasi dengan warna gelap.

Tak kuat mata ini, aku kembali ke kabin dan tidur. Tidur hanya tiga jam, aku terbangun, saat keluargaku terbangun dan siap makan pagi. Aku pun mandi, dan bersiap. Setelah makan pagi, aku pun bertemu dengan teman-teman baruku itu lagi. Bertandang ke salah satu kabin mereka, foto-foto di hampir setiap tempat. Sampai akhirnya kami menemui satu ruangan yang selalu tertutup rapat selama pelayaran itu, yaitu kasino. Sayang tak sempat aku lihat ruangan itu.

Sebelum kapal bersandar di Tanjung Priok, kami sempat berkunjung ke pulau Seribu. Otomatis kami mencapai pulau itu dengan sekoci. Begitu tiba di pulau itu kami pun baru melihat besarnya kapal itu dari ujung ke ujung “Pantes gue capekh jalan-jalan di tuch kapal”.

Tak lama di pulau itu, mungkin hanya dua jam. Kami pun harus melanjutkan perjalanan, menuju Tanjung Priok. Dekatnya jarak pulau Seribu dan pelabuhan, menyebabkan pelayaran itu segera harus diakhiri. Namun tidak dengan pertemananku yang dimulai semalam. Sampai saat ini, tali pertemanan itu masih terjalin baik.