Posts Tagged ‘Langkah Kaki’

Tell me! You’re Not Trying To Make Me Smile Khan?…

Friday, March 18th, 2011

Hari ini sepertinya rencana kita berdua berjalan dengan baik. Walaupun pagi itu, hujan membasahi seluruh kota.

“Aku jemput kamu jam 4 ya ‘yank. Gue dah mau jalan ini.”

“Baru selese makan, masih ngobrol-ngobrol ama bo-nyok. Jam 4an ya say.”

“Okay, aku juga mau ke pet shop bentar kayaknya. Jam 4 setengah 5 deh ampe rumah kamu.”

This is going to be the third time we meet. We see each other face to face. Though we talked a lot on the phone, while thousand miles between us. Yes, I’m exciting.

“Sabar ya, tol Kebon Jeruk macet. Gue telat ampe rumah loe.”

“Kasian amat loe macet-macet nyetir ke sini.”

*ddduuhh BBM kenapa lagi lemot yah, ini kenapa telpnya dia tak bisa ditilpun juga…

“Aku dah nongkrong di depan warung.”

“Gue dah nyampe 2 menitan di sini. BBM loe kenapa?”

*masih ga delivered.

“Woi…balik jalan ke sini, gue liat elo dari spion.”

*saatnya pindah ke kursi kiri, as I promissed he picks the place and as requested he’ll drive.

—-

*seeing him adjusting the steering wheel, chair and doing all preparation he needs to make him comfort driving that car…and hopefully no need preparation to make him comfort with me. :mrgreen:

“R: reverse, D: Driving, P: Park?”

“Yup, di teken dulu tombol yang disamping. Dah pernah bawa matic khan?”

“Udah sih, tapi belom pernah bawa yang ini.”

“Sama ajah.”

“How are you?”

“Baik,” *happy to meet you, if only you knew!

—-

“Kamu mau lewat mana? Kayak bingung gituh.”

“Lewat depan TA aja kali ya. Bis lewat mana lagi ‘Cha?”

“Ga macet ya? Sabtu lewat sana nyebelin. Ga enakan lewat depan ayam cemara? Tapi terserah siy, you drive.”

“Iya juga ya. Kita ke Pantai Mutiara yah. Gue mau liat laut. Sekalian shock therapy.”

“You drive. You pick the place. Gue tinggal duduk manis.”

—-

“Eh bentar-bentar belokkan sini niy, dokternya si Dogol.”

“Iya, Krikitnya gue pernah ke situ juga. Tapi pas waktu itu parvo ga ketauan gituh. Vaksin sih murah.”

“Emang. Kalo penyakit-penyakit parah mendingan jangan ke situ. By the way tadi jadi ke Pet Shop?”

“Ngga, jemput kamu dah telat tadi. Besok aja aku ke Pet Shopnya.”

“Niy…ada pet shop. Tapi mahal sih.”

“Yup been there. Mendingan yang di kebon jeruk ajah.”

“Yaaahh…macet ampe depan Ukrida niy.”

“Ya udah lah nikmatin aja.”

“Tadi kenapa ga lewat jalan kecil belakang rumah gue ya? Terus tembus situ tuh. Baru inget gue.”

“Iya sih, tapi khan jalannya kecil. Lagi pula nembusnya juga di situ-situ juga.”

—-

Entah berapa banyak kata yang keluar dari mulut kita berdua, sembari aku memandangi jalanan yang sebelumnya hampir tidak pernah aku lewati.

“Nyetir loe enak juga!”

“Ya iya lah…gue gitu. Elo tidur aja. Khan terserah gue kemana? Tapi ga tanggung ya gue bawa kemana ntar!”

“Gak lah. Kalo gue tidur sama aja gue ga ketemu ama elo. By the way ini di mana siy…kalo gue di sini bakal ngilang niy.”

“Gak ngilang lah, khan ada gue.”

“Khan gue bilang kalo gue sendirian.”

“Good idea tuh.”

—-

Dan aku masih mendengarkan kata kecewamu karena dia, apalagi sepanjang jalan yang kita lewati adalah jalan yang sering kamu susuri saat kamu dengannya.

*Let it out, Dear! It still hurts you. Maybe a bit. Though your mouth says that you’re ok!

—-

“Kita ‘dah nyampe, nih Pantai Mutiara…”

Dan hamparan laut terpampang di depan mata. Dari ujung ke ujung.

*You never know how much i love sea and beaches! And you take me there. You make my mouth suddenly zipped.

“Dulu dia ga pernah mau kalo gue ajak ke sini.”

“Kenapa?”

“Katrokh! Ga suka bau amis. So tenang, daerah ini free memory of her.”

—-

Kita berdua memilih tempat itu. Tepat di pinggir. Disambut dengan semilir angin laut. Sementara kamu sibuk membolak-balikkan menu makanan yang sepertinya tak terlalu membuatku tertarik, walau rasa lapar sedang mendominasi seluruh perasaan ada.

Dan aku memilih mencari kesibukan lain: bertopang dagu memandangi laut yang terpampang lebar di hadapanku saat itu…

*Njjrriittt…me love it…love it when you make me smile without trying…

Walaupun “kesibukan”ku saat itu sedikit terganggu, karena serasa ada seseorang yang sedang memandangiku, dari sebelah kiri…

And yes, my eyes found you were there, holding menu book and looking at me, you were smiling too, but I didn’t want to know what was in your head…

Saat itu, kamu, aku, lebih sering dengan kesibukan masing-masing. Sibuk dengan pikiran dan mungkin seribu rasa yang tak (mungkin bisa) terucap, terungkap, karena mungkin semesta belum meng-iya-kan.

“Tempatnya pas, waktunya pas, cuma cuacanya yang kurang pas. By the way, waktu gue belum kerja dulu, kalo gue bt gue sering duduk di situ tuh, ga masuk ke sini, cuma di situ and ngeliatin laut.”

“Never been here before. But gue kalo disuruh bengong berjam-jam di sini gue akan betah.”

Dan saat itulah Foursquare check in terkirim melalui si Bébé…

Pantai Mutiara: Nice place, nice weather with a nice person…

Coz that it is…and that’s you!

Penghujung matahari bersinar pun sudah di depan mata. Bentangan birunya langit bercampur semburat-semburat jingga, bertadah hamparan air laut membuat sore itu…just perfect

Perjalanan sore itu harus berlanjut…saat langit dan laut sudah menjadi satu warna. Hitam. Gelap. Aku, kamu kembali menyusuri jajaran lautan dari ujung hingga ujung yang dipaksa berujung dengan sebuah bangunan…

“Jadi nyari sepatu?”

“Jadi. Elo ga ada acara kemana-mana khan?”

“Gak. Khan dah gue blok waktu gue untuk elo.”

“Kita ke Pluit Village.”

“Ok. Terserah elo bawa gue ke mana hari ini. Just like I told you.”

—-

“I love this mall.”

“Never been here before.”

“Bentar-bentar masuknya dari mana ini yah. Kok dah berubah semua.”

“Don’t ask me! Dunno!”

“Dulu siy di sini.”

“Kapan loe terakhir ke sini?”

“Maret tahun lalu. Btw hari ini kita berdua lagi diem yah.”

“Elo sih bawa gue ke pinggir laut. Itu dah memunculkan imajinasi macem-macem.”

“Abis mau gue bawa ke mana lagi. Gue lagi pengen laut.”

“Crita dounks loh…elo khan yang biasanya bawel tuh.”

“Udah gue ceritain semua ke elo.”

“Bagus juga yang tempat loe jauh. Jadi berguna tuh yang namanya telepon n bbm.”

—-

“Parkir mana yah kita?”

“Errrr…jangan tanya gue?!”

“Sana aja yah.”

Dan tiba-tiba ada pemandangan yang kembali menghasilkan tawa dari hati…

“Hiiiihhh…is that pet shop?”

“Iya.”

“Eh, liat ‘yank lucu banget itu Pom-nya. Duuhh…itu anjingnya tampak bodo…Is that snake? Hiiiyy…males.”

“Sabar ya sayang, aku parkir dulu.”

*Tell me! You’re not trying to make me smile khan? Love it!!!

“Eh tuh, ada yang mau keluarin mobil.”

“Goblog banget siy niy tukang parkir.

“Bukain pintunya ‘yank.”

“Mau kemana?”

“Turun.”

“Gak! Stay. Nunggu aja tuch tukang parkir, benahin mobil yang lain. Awas ajah ampe ngambil lahan gue.”

“Bis lama!”

*Yeaahh…I forget who I’m dealing with right now!

—-

“Eh…liat tuch Herdernya, duh kasian amat segede gitu dikandangin sempit begono. Ganteng berat yah. Tapi ga segede yang gue uyel-uyel di PP kemaren. Tuh ada Husky, tapi kok kurus ya. Elo pengen Husky ‘khan? Tuh yang tengah Bagle.”

“Mana? Oh iya. Eh..yuk udah ke dalem dulu yuk, ntar balik lagi, nunggu pet shop-pet shopnya sepian.”

“Kalo ke pet shop begini. Pengen banget gue angkutin pulang semua.”

“Ya jangan lah.”

“Kenapa?”

“Repoooot kaleee.”

—-

*Dah lama gue ngga nemenin cowok niat belanja keliling mall. Dan tumben gue ga jadi ikutan pengen belanja.

“Eh…gue aus niy…btw…ATM sebelah mana ya? Kebiasaan gue di dompet sampe bener-bener abis…nyari minum terus ke ATM yah. Jual minuman di atas ya?”

“Ya udah, tinggal ke atas lagi khan? Jangan kayak orang susah.”

—-

“Kalo liat-liat pet shop gituh gue jadi pengen beli. Pengen beli satu, terus pelihara dari kecil.”

“Ya udah, beli rumah dulu, baru melihara anjing.”

“Salah. Cari istri dulu, beli rumah baru beli anjing. Abis kalo ga istri, yang berihin pup-nya anjing sapa?”

“Emang istri loe ntar kerjaannya cuma bersihin pup anjing doank?”

Sampailah aku disuguhkan pemandangan yang selama ini jarang aku lihat. Kamu tertawa lebar, saat kamu berdiri di depan salah satu kandang yang di dalamnya ada 1 ekor anak anjing yang lagi jejingkrakkan, melakukan acting selucu mungkin, mungkin sambil berharap kamu akan membawanya pulang.

Jejeran toko hewan perliharaan itu kita tinggalkan tanpa membawa pulang apapun dari sana.

Dan tampaknya perjalanan kita selanjutnya adalah perjalanan yang sesungguhnya…

“Gak jadi ngelewatin rumahnya?”

“Abis ini, sekalian pulang ntar ngelewatin, biar ga muter-muter.”

Dan semua obrolan aku dan kamu beberapa waktu lalu, kembali muncul, dibenakku…

(Obrolan 1)

“Kalo mau tau elo masih sakit atau ngga, coba deh muterin daerah rumahnya. Kalo elo dah ga berasa apa-apa, sakitnya mungkin dah sembuh.”

“Hmmm…good idea juga tuh.”

“Mau gue temenin?”

“Ga usah. Gue bisa sendiri.”

“Yakin? Ok. Kalo perlu ditemenin bilang-bilang ya.”

(Obrolan 2)

“Hmm…ntar kita ke Pantai Mutiara aja yah.”

“Sekalian ke Pluit.”

“Ya itu Pluit kaalleee.”

“Gue tau Pluit cuma Atma. Terus sekalian ngider-ngider ke daerah rumahnya?”

“Yuk.”

“Haaayyuukk. Gue temenin.”

*change his mind? :mrgreen:

Dan kembali ke kenyataan sekarang…

Dengan atmosfir kegelisahan yang sudah mulai terasa dari kamu. Dengan segala kesibukkan pikiranku untuk memecahkan suasana yang sudah mulai berbeda. Namun akhirnya aku biarkan semuanya…

“Itu rumahnya.”

“Yang mana?”

“Yang pager warna itu. By the way itu mobil…*tut, sensor dikit ya bouw*”

“Iya.”

“Mobil tantenya. Berarti lagi di sini dia.”

Perlahan kamu memajukan mobil, hingga tepat di depan rumahnya. Sayang, saat itu aku tidak bisa melihat tatapan mata kamu. Yang aku rasakan, terasa kosong saat melihat rumahnya sambil menyaksikan kembali semua rekaman hidup kamu kurang lebih 5 tahun bersama dengan dia.

Sekian detik kamu terdiam, menatap rumahnya, sambil memunggungiku. Sekian detik yang membuatku bingung. Tak tahu harus berbuat apa. Hingga aku putuskan untuk menepuk bahumu beberapa kali. Dan keheningan pun terpecah…

“Gue biasanya bawa yang itu tuh ‘Cha.”

“Itu mobil apa sih?”

Padahal aku tahu persis mobil apa yang tersimpan di garasi, walaupun hanya terlihat sedikit dari luar. Karena aku tak tahu kalimat apa lagi yang semestinya keluar dari mulut.

“Yuk.”

“A…r…e… you okay?”

“I’m fine kok.”

“Ok.”

“Masih sakit dikit. But I’m fine.”

“Okay. What do you feel?”

“I don’t wanna talk about it.”

“Okay then.”

“Semua kejadian kemaren keputer semua.”

“Ya iya lah. Been there done that also. Tapi kalo gue ga pernah kayak gitu, gue ga mau ke daerah rumahmu lagi seumur-umur.”

Dan perjalanan paling penting hari ini, sudah (berhasil) dilewati. Dengan meninggalkan sejuta warna, yang pastinya tidak akan pernah bisa digambarkan. Oleh kamu, ataupun oleh aku. Pengalaman kembali menyusuri waktu dengan dia. Di masa lalu. Dulu. Melihat kembali sejuta kebahagiaan, tawa, air mata dan luka yang seolah-olah tersuguh di depan mata. Seketika dan bersamaan. Sekarang.

Terus terang, ada satu kebahagiaan yang membuncah di rasa ini. Bahwa aku yang kamu pilih temanimu ada di sekian detik itu.

—-

Perjalanan pun berlanjut. Malam minggu di kota yang tak pernah mati seperti Jakarta ini, pukul 09.00 malam, masih terlalu dini untuk menyelesaikan kesenangan yang sulit bisa dinikmati bebarengan, bersamaan dan di satu tempat yang sama. Oleh aku dan kamu.

“Kok, gue laper lagi ya.”

“Makan lagi yuk.”

“Yuk.”

“Gue ajak elo ke tempat yang sebenernya besok, gue mau ajak elo ke sana ya.”

“Okay. Aturable lah.”

Dan botol-botol Smirnoff itu mengakhiri kurang lebih 7 jam yang kita miliki. Seneng. Bareng. Dan di tempat yang sama.

—-

“Dan ma kasih, ‘udah menyuguhkan ini untukku…

senja pantai mutiara

…Sea. Sunset. You. Me. Same Place. Just perfect!”

26 Februari 2011

*picture was taken from your BBM profile picture, Dear!

*meeehh…need 3 weeks to finish this story…!!!

My Falling Star…

Friday, February 18th, 2011

1702;22.45WIB Selamat ulang taun | Belom | Sini udah | Sini belum | Biarin Sini Udah | Gak gue terima, gue lahir di Jakarta bukan di Kalimantan | Bla..bla..bla..

1702;23.50WIB Selamat ulang taon | Beeelloomm | Jam berapa sih jam loe, gue cocokin dulu deh | 23.50 | Bla..bla..bla..

1802;00.02WIB Bla..bla..bla.. | Bentar-bentar, selamat ulang taon, malah lewat 2 menit | Thank you yah | Bla..bla..bla..

1802;01.00WIB Dulu gue kira ngucapin selamat ulang taon yang pertama kali, tepat jam 12 malem, bukan hal yang penting | Penting taukkh ‘Cha | Iya penting, percaya | Bla..bla..bla..

1802;01.30WIB Thanks ya elo yang pertama kali ngucapin ulang taon ke gue | Ya iyalah gue telp dari jam 11 kurang, ga ada yang bisa masuk | Khan ada call waiting

—-

So…sepertinya tahun ini ga ada ulang tahun yang tertunda…

Siapapun kamu yang aku maksud di atas, apapun perasaan kamu terhadap aku, let me tell you something…

You are my falling star, today, on my birthday…Thanks! Appreciate it!

*Should be published on Feb 18, 2011 @ 18.30

This Valentine’s Day…

Monday, February 14th, 2011

avian090100003Di tengah sore yang hectic…dan saat itu saya mendengar bunyi yang berasal dari si Bébé…

Dia: Hepppiii daaammnn valentiiinneee…

Gue: Sama2 ya…happy fcuklentine…

Dia: Hush…hush…

Gue: Eh itu saya balik khan hurufnya…

*To someone who left this message to my BBM, thank you. You Really Made My Day. Happy Valentine’s Day. 14th February 2011*

*And to all my Gals @neth_4, @lebondcute, @shirlytiolina…who were with me on this Valentine’s Day…thanks for the most wonderful galau-karaoke date we had*

Curhat Buat Sahabat…

Saturday, February 5th, 2011

Cinta…benda yang tak berwujud ini kenapa seringkali membuat orang sakit kepala?

“Udah kadang dateng ga pake acara diundang, pergi juga kadang seenak jidat. Kadang bikin orang jadi ketawa-ketawa sendiri, jadi ngerasa tolol, nangis, garuk-garuk aspal, mau bales dendam, dan lain-lain lah.”

Been there, done that also? Yes! Jadi tempat curhatan manusia-manusia yang sedang jatuh cinta, sedang selingkuh, merasa patah hati? Sssseeeuuuurrriiiinggg…

Dan saya suka! Walau sepertinya lebih sering dianggap orang yang salah untuk dicurhatin.

*buka-buka memori di otak…

Sampai sekarang masih jelas terlihat di bayangan, seorang teman yang sedang duduk di samping kiri saya, saat kami berdua sedang berada di Laboratorium Komputer, kurang lebih enam tahun yang lalu…

“Cha, bisa tolong translatin ini ga? Gue lagi ga bisa mikir.”

Air mata sudah menetes deras dari kedua matanya…

“Putus?”

“Iya, Gue diputusin?”

“Ada gunanya kalo diterusin?”

“Gak, tapi khan…”

Dan saya biarkan teman saya meracau sambil menangis. Entah menangis karena teman curhatnya saat itu merespon tanpa empati, atau memang karena menerima kenyataan pahit bahwa hubungan mereka berdua telah berakhir.

Atau ingatan chatting saya di BBM dengan seorang teman yang memberikan predikat saya sebagai temannya yang genderless…

“Occchhhaaaa…gue kok ga sembuh-sembuh yah.”

“Perempuan mana lagi sekarang?”

“Tauk ni gue bingung. Gue naksir berat ama orang ini,” sambil dia mendeskripsikan tipe si perempuan itu.

“Ya…ya…that kind of girl emang tipe elo banget ya Nyet! Tiati ketauan bini lu lagi kek waktu itu. Bagus yang terakhir elo long distance tuch, dan elo diputusin sebelum ketauan.”

“Btw…gue ga jadi nyulik elo hari ini ya, gue mau nyari sesuatu buat si perempuan itu.”

“Siiiaaappp.”

“Maaf ya.”

“Yeeeyyy…kayak baru kenal gue kemaren aja loh. Kalo ga jadi ya gak papa kale. Urusan cintrong emang susah dilawan ama apa pun ya bouw.”

“Ho oh. Tapi itu yang gue buat bingung, gue bisa memperlakukan elo kayak temen-temen cowok gue, bisa batalin ini-itu, bisa dicurhatin gue selingkuh, ga perlu takut ngomong, tapi wujud loe perempuan, cantik pulakh. Teman yang genderless. Untung gue ga pernah naksir elo ampe sayang gitu sih ‘Cha.”

“Siyaaall…elo gue biarin kayak gitu terus karena elo bukan sapa-sapa gue Nyet. Ya udin gue merapat ke kasur saja hari ini. Semoga yang dicari buat si perempuan ketemu ya.”

Masih cukup jelas terdengar obrolan saya dengan temen saya, setelah saya menekan tombol bergambar gagang telepon berwarna hijau di tubuh si Bébé beberapa minggu yang lalu…

“Ocha, pa kabar?”

“Baik dounks. Elo?”

“Masih di Kantor loe yang lama?”

“Udah pindah dounks gueh.”

“Dasar brengsek! Terus dah dapet pacar baru?”

“Belom.”

“Ah, gue kira elo dah dapet penggantinya si-mas. Elo waktu sama yang itu berapa lama?”

“Yang terakhir? Dua bulan aja sih kayaknya ya.”

“Sama yang sebelumnya?”

“Perlu gue sebut lagi ya? Lamaaa deeehh.”

“Waktu bubaran elo rasanya apa sih? And terus elo bangunnya gimana? Maksud gue sama yang lama bener itu.”

“Ya sakit lah, jatoh iya banget! Garuk-garuk aspal puas banget! Tapi, saatnya bangun and jalan lagi, walaupun terseok-seok tetep haruslah.”

“Dari bubar ampe dia nikah jaraknya berapa?”

“8 Bulan sih sepertinya.”

“Dan elo sama setelahnya?”

“Yang itu intermezzo, sama-sama gebleg dan pelarian sepertinya. Nyebelin siy iya. Tapi ya sudah lah. Never Regret it. Pendewasaan diri. Though looks like never learn. But don’t want to regret it at all. Bentar-bentar elo nanya-nanya gini…masihkan sama si Abang?”

…dan saat itu saya hanya mendengar isak tangis di ujung sana…

“Yah…sorry to hear that ya Dek. Ya udah, mendingan sekarang-sekarang khan ya bubarannya? Daripada kelamaan juga?”

Dan pembicaraan saya dengan seseorang beberapa hari yang lalu. Pembicaraan yang berlangsung kurang lebih selama 4 jam. Pembicaraan yang berlangsung di sebuah tempat nongkrong yang dia pilih dan saya setujui karena saya suka. Pembicaraan di sebuah sofa merah, ditemani segelas kopi, teh, bir dan beberapa piring santapan. Seputar kisah percintaan long distance, selingkuh, dan patah hati; masih lumayan jelas terekam di otak saya.

Terlintas kembali pembicaraan saya dengan mereka. Mereka yang telah memilih saya sebagai seseorang yang bisa diceritakan masalah cinta mereka. Terlintas pula kisah-kisah cinta saya yang tak kalah serunya dengan mereka. Yang juga saya percayakan sebagian kepada mereka, dan kepada kalian.

Love, Still…makhluk yang seringkali tak bisa dipahami. Atau setidaknya, sulit untuk dipahami.

Dan kalau untuk saya sih…saya jauh lebih pintar saat saya putus cinta, daripada saat saya sedang jatuh cinta. I feel so damn, very, f***ing stupid when I’m falling in love. Once more…Damn!!

—-

And still the best quote for me: It is true, that you don’t know what you’ve got until you lose it, but it is also true, you don’t know what you’ve been missing until it arrives.

—-

Dedicated to all of you guys, who are exist in my life.

—-

Still Welcoming February. Love this month! Especially This Year!!!

—-

Ps: I Love You!!!

—-

judul terinspirasi lagunya Dewi Lestari…

judul yang sudah pernah saya pakai juga untuk tulisan saya sebelumnya.

—-

Errrr…Iya Banget Sih…

Wednesday, February 2nd, 2011

Terus terang…gue paling ga suka perasaan kayak gini!
Ga tau gue harus bilang apa sekarang?!

Lagi-lagi gue harus terus terang…
Gue dah lama ga ngerasain ini!
Elo di depan gue…
Dengan tatapan mata yang ga pernah bisa gue kejar…
Dengan segala omongan loe yang super duper irit…
Dengan segala hal menyebalkannya elo…

Dan…elo tuh kaca buat gue…

Dan…gue harus denger ini dari mulut seseorang: “Elo banget ya ‘Cha?!”

Dasar aneh!!
Dan itu…adalah gue?!

*Iya banget siy, Anomali, Welcoming February, 1 Februari 2011″*

Botol Kecap di Awal Tahun…

Sunday, January 16th, 2011

Januari? Awal tahun! Bulan pertama yang harus ditempuh untuk akhirnya kita sampai kembali di Desember. Itu pun kalau masih diberi kehidupan oleh Bos Besar pemilik hidup setiap makhluk.

Saya bukan manusia yang menutup tahun dengan menilik kembali resolusi apa yang sudah dan tidak tercapai, karena saya adalah manusia yang tidak pernah membuat resolusi apapun di awal tahun. Just let it flow!!

Seperti akhir tahun lalu yang saya tutup dan awal tahun ini yang saya buka dengan hal-hal yang tak biasanya saya lakukan. Percaya dengan orang baru!! Dan semua gara-gara satu teman kuliah saya dulu.

Semua begitu mendadak dan yaa..seperti yang tadi saya katakan let it flow!

Teman kuliah: “Cha, nanti tahun baruan bareng yuk!! Ga ada acara khan lo?!”

Saya yang sebenarnya melihat tahun baru seperti hari-hari biasanya dan bukan suatu hal wajib untuk merayakannya setiap tahun, kali ini memutuskan untuk menyingkirkan pikiran itu…

Saya: “Yuk, taon baruan bareng! Tapi ntar gue ke gereja dulu ya, misa tutup taon. Gereja gue di Barito situ cuy.”

Teman kuliah: “Ya udah ntar elo dijemput di situ.”

Saya: “Jemput n anter pulang yang nyet.”

Teman kuliah: “Iya, bawel lu, terjamin elo ke sini and pulangnya.”

Saya: “Sip. Gue selese misa jam stg 8 ya.”

Ina-ini-itu di kantor *yak betul 31 Desember 2010 lalu, saya masih bertengger di kantor, pulang sekitar pukul 15.00, menghabiskan waktu di seputar kawasan Blok-M sambil menunggu jam misa, akhirnya saya selesai misa pukul 19.00. Dan jam segitu belum ada tanda-tanda jemputan datang di Barito.

Saya: “Eh, gue dah selese misa niy, elo jemput gue jam berapa?”

Teman kuliah: “Ahhh mulai labil deh lu, katanya jam setengah 8 selesainya. Gue baru ngumpulin niat untuk mandi.”

Saya: “Set lama banget daaah. Kalo kelamaan gue pulang aja neh.”

Teman kuliah: “Udah deh, mendingan elo ke Citos aja, ntar dijemput di sana.”

Saya: “Okay, gue setengah jam lah dari sini ke sana, dah termasuk nunggu taksi. Awas lu pake acara lama-lama jemput gue di sana.”

Teman kuliah: “Sip.”

Dan di tengah perjalanan saya menuju Citos, saya mendapatkan permintaan persetujuan dari seseorang menjadi kontak di BBM saya.

“Sepertinya ini lakinya si monyet satu itu.”

Saya pun mengklik, accept atas permintaan itu. Tak berapa lama saya mendapatkan BBM lanjutan dari si teman kuliah saya itu…

Teman kuliah: “Nyet, ntar yang jemput elo di Citos laki gue yah, gue masih beres-beres rumah, capek.”

Saya: “Yahhh, yang begini nih. Mana gue tau tampang laki lu, ketemu aja belom pernah.”

Teman kuliah: “Laki gue dah nge-add pin bb lu tuh.”

Saya: “Iye gue dah tau.”

Dan saya pun lanjut saling mengirimkan pesan singkat di BBM dengan pacarnya *eh “pacar”nya si teman kuliah.

Karena saya sudah dibekali omongan oleh si teman kuliah saya itu, bahwa pacarnya or “pacar”nya ini sedikit kaku, jadi saya berusaha menetralisir keadaan dengan menjadikan diri saya yang bukan saya, yaitu ngoceh, mencari pembicaraan yang sekiranya bisa mencairkan suasana kaku, dari pertama saya masuk ke mobil.

Keanehan pertama dari rangkaian keanehan-keanehan yang akan terjadi *gue bisa ga kaku banget dengan orang baru, dan lebih parah lagi, bisa percaya pergi ama orang yang belum pernah gue liat sebelumnya.

Perbincangan pun terus berlanjut, bahkan setelah kami menjemput dua peserta lagi. Perbincangan seru masih berlanjut, dan kali ini melibatkan 4 orang yang sekarang berada di dalam satu mobil yang sama.

Ini-ina-itu, sampailah kami di pergantian tahun, kakak-kekek-ngikik-ngekek sana-sini, saya pun (setengah) sadar bahwa semua yang berada di sana, hanya si teman kuliah saya itu yang sebelumnya sudah pernah kenal dan bertemu dengan saya. Selebihnya adalah orang baru.

This is just not me, secara biasanya! *dasar botol kecap ga jelas!

Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi, dan sepertinya sudah waktunya pulang, dan saya belum tidur sama sekali hampir sekitar 24 jam, ditambah dengan pengaruh hasil racikan dahsyat isi dari beberapa botol yang dibawa oleh teman saya.

“Cha elo pulang sama ….*tuuutttt, sorry disensor dikit ya*”

Manusia yang akan mengantarkan saya pulang, termasuk manusia yang baru saya kenal. Dan mungkin karena sedikit pasrah tidak ada manusia lain yang bisa saya todong untuk mengantarkan pulang, jadi saya meng-iya-kan statement teman kuliah saya yang itu. Another thing yang bukan saya, apalagi di sepanjang jalan mengharuskan saya untuk tetap sadar penuh, padahal saya sedang dalam keadaan setengah sadar.

Di tengah perjalanan saya pulang ke rumah, tiba-tiba saya mengirimkan sebuah pesan ke BBM teman saya “Bilangin ke dia yah, Merry Christmas and Happy New Year,” dan tak berapa lama saya mendapatkan permintaan dari seseorang yang lagi-lagi baru saya dengar namanya dari teman saya, untuk menjadi kontak di BBM, dan kembali saya setujui, dan kami pun melakukan perbincangan cukup panjang saat itu.

Dari kejadian-kejadian di atas, saya ingat kalimat yang terlontar dari mulut seseorang: “Kamu tuh outgoing person, bukan orang yang betah berlama ngurusin kerjaan yang kayak gitu.”

Dan saya pun langsung berpikir, “Berubah gue?”

Sejak itulah grup botol kecap tercipta *ckckckck…sapa siy tuh yang buat? :mrgreen:

Anyway, glad to have new friends at the beginning of this year, walaupun ada satu nama yang akhirnya saya hapus dari kontak BBM saya.

Seburuk Itukah?…

Thursday, December 23rd, 2010

Human Resource atau Human Capital?…

Kira-kira apa ya, yang dipikirkan seseorang jika mendengar kata itu? Di bawah ini adalah respon atau tanggapan, mengenai dua kata itu, yang saya dapat dari orang lain dan yang berhasil saya rekam di otak saya, dari saat saya mulai bekerja, dan apalagi 2 tahun terakhir ini, memang saya menjadi salah satu manusia HR…

sucks…
harusnya khan pendekatannya lebih humanis ya…
kalo ga doyan admin, mendingan jangan…
semua berawal dari ngerjain dirty job…
kurang apresiatif…
nyebelin…
tukang ngatur orang lain, dirinya sendiri ga aturan…
HR khan cuma support, gajinya lebih kecil daripada bisnis…
mang gue HR? ga merasa gue…
HR ternyata ga gue banget…
gila, HR kok kulturnya gini ya…
jaim gila orang-orangnya…
public enemy…
pengen banget gue jadi HR, biar bisa tau gaji-gaji orang lain… *saran gue? mendingan jangan.. :mrgreen: *
ketunda promosi gara-gara hasil performance appraisal gue ilang…
bisa kerja ga sih mereka, lama banget…
kayak gini nih hasil rekrutan mereka, kayak beli kucing dalam karung…
yang direkrut kok ga tahan banting ya…
kenapa anak baru banyak yang cabut…
betah lu di situ?…
saya ini top managementnya HR, jadi saya lebih tau…
tembok gap-nya ketebelan cuy…
ga mingle…
terlalu belain manajemen daripada belain karyawan…
setelah pindah ke HR, gue malah merasa ini dunia gue banget…
confirmed, by myself, HR bukan gue…
HR tuh harus bisa jadi dirinya sendiri, ga belain karyawan, ga belain manajemen…
PA di tempat gue dulu lebih ada kejelasan penilaian, ga berdasarkan kita berhasil lick our boss’ ass atau ngga…
baru kali ini niy ada HR yang bisa nyatu ama anak buahnya…
office politics nya kok ya gede juga ya sesama HR…

Most likely responnya adalah respon negatif? Sedih ya?!

Saya merespon kembali tanggapan mereka? Jawabannya: Ho oh! Terutama jika memang saya sedang terlibat pembicaraan dengan mereka mengenai divisi yang dianggap ajaib, mungkin di hampir setiap perusahaan. Seperti yang terjadi hari ini saat makan siang saya bersama dengan dua teman, dan kami bertiga ditemani segelas bir leci *enak bouw!* Dua di antara kami bertiga adalah orang HR. Sayangnya, ketiganya bukanlah orang-orang yang memiliki volume suara yang kecil. Ga mungkin kami menertawakan sesuatu hanya dengan ngikik, pasti dengan ngakak

“Sssttt…jangan terlihat kita terlalu bahagia, nanti ada yang sirik!”

“Kapan lagi bouw…di kantor sekarang ga bisa niy gue ngakak kayak gini. Analoginya nih elo terpaksa jaim di kuburan!”

“Bentar-bentar…gue curiga kenapa elo ga ngambil cuti?”

“Modus operandi gue, di saat semua orang cuti, gue ngantor. Tapi saat orang lain ngantor, gue cuti! Lagi pula pending list gue banyak bok.”

“Elo bis ini ikut ke GI khan?”

“Gak lah, gue balik kantor.”

“Dah cabut ajah.”

“Preeeett…nyetanin gue lu ye. Lagi pula kemaren gue dah ke GI, and gue kere bis dari sana.”

“Eh kere itu dah default buat kita. Jadi ya sudah lah, sekalian!”

“Jadi kira-kira bakal bertahan berapa lama lu?”

“Iya loh…dah banyak tuch yang nanyain gue. Apalagi yang tau karakter gue kayak apaan. It’s about time juga sih untuk gue pindah.”

“Just like what I am going to do.”

“Kammpprrreeett…pantesan! Mau kemana lu?”

“Ke tempat yang saat ini sepertinya terlihat menawarkan sesuatu yang lebih baik. Masih di seputar dunia HR kok.”

—-

Errr…jadi apa ya tanggapan saya tentang HR? :mrgreen:

Btw…ada yang mau menanggapi atau memberikan komentar balik respon-respon tentang HR yang pernah saya dengar? Hayooo…para HR, jangan diem aja yah, kita ga gitu khan ya?

Kenapa Sih?…

Sunday, November 21st, 2010

Saat makan siang dengan seseorang teman…

“Kenapa dia megang sendoknya gitu ya, sedangkan gue begini?”

***

Saat seseorang calon karyawan menandatangani offering letter di depan saya…

“Ini orang ke-4 yang tanda tangan OL minggu ini, dan empat-empatnya adalah left handed. Kenapa gue right handed dan mereka bukan?”

***

Di hari Senin, di bulan tertentu, pukul 08.10…

“Ini dah jam berapa? Tuh anak masih di pantry pacaran mulukh. Bilangin dounks Mbak, jam kantor jam 8,” dan saya yang mendengarnya, meresponnya dalam hati…

“Errr…bukannya elo juga biasanya dateng setengah 9 ya? Kalo ga tiap hari dateng jam 8, ya ga usah ngomel napah!”

***

Saat mengendarai mobil…

“Ehhh…motor pada ga pake otak apa ya nyetirnya? Dah nyrobot nyelip-nyelip jalan orang, malah dia yang marah-marah. Nembak semua gue yakin tuh SIMnya. ”

***

Sekian tahun yang lalu…

“Kamu mulai belajar mobil ya.”

“Heh, aku kan baru umur 12 tahun. Kenapa dari sekarang? Tapi ya sudah lah, boleh-boleh.”

***

Saat terpaksa menerabas lampu merah, karena dari kaca spion, mobil belakang melaju dalam kecepatan tinggi…

“Yahh…’kan gue ditilang. Pak, baru juga berapa detik ganti lampu merahnya. Bapak ga liat belakang saya ngebut? Daripada tabrakan beruntun?”

“Tetep ajah Non harusnya tadi ngurangin kecepatan.”

“Ya udah lah Pak, saya buru-buru. Buruan keluarin surat tilang.”

“Beneran nih Non?”

“Iya. Cepetan, saya mau sampe rumah cepet inih. Mendingan tilang, biar ajudan abang saya atau ajudannya tante saya yang ambil.”

“Tilang sidangnya lama loh.”

“Tadi ‘kan saya bilang, kalo ngga ajudan abang saya, atau ajudannya tante saya yang ambil SIM. Cepetan Pak.”

“Ya udah nih Non, SIM dan STNKnya.”

“Gak jadi tilang nih? Yakin? Serius? Saya juga ngga papa kok.”

…dan dalam hati…

“Sorry nih Pak, gue ga mau ngasih elo duit, rugi! Kenapa dia ga jadi nilang gue ya, kalo memang menurut teorinya dia, gue salah!”

—-

Errr…ini semua cuma #randomthoughts dan #tanyakenapa…

Ini, Itu, Anu, Ono, Sana, Sini, Begini, Begitu?…

Saturday, November 13th, 2010

“Life is about an option…”

“Yeahhh…rite!”

Tadi malam, akhirnya saya mengurungkan niat saya ke salon untuk potong rambut. Semua gara-gara si Trans Jakarta yang tak kunjung datang, dan membuat perut saya dan teman kantor (yang pulang bersama saya) kelaparan, sehingga kami berdua memutuskan untuk makan malam di Setiabudi Building; Membuat teman saya akhirnya minta dijemput suami tercinta; Membuat saya memilih untuk nebeng mereka sampai rumah tante saya di Bintaro.

Berjalan berjingkat, memasuki rumah tante yang sudah gelap karena penghuninya sudah terlelap, menuju kamar asisten rumah tangga yang letaknya di rumah bagian belakang…

“Mbak, mbak, kamar atas kata satpam depan dikunci ya? Tolong bukain dounks.”

“Eh, Mbak Rosa, bentar ya.”

Memasuki kamar itu, ranjang yang lengkap dengan bantal dan guling, seakan-akan sudah memanggil saya untuk segera menjatuhkan diri di atasnya.

“Pulang…ngga…pulang…ngga…jam berapa ini? Setengah 11. Kok males ya manggil taksi. Tapi gue ga bawa baju ini. Mari kita bongkar lemari, seperti biasa. Damn, baju tidur kebangsaan gue punya si tante mana ya? Kok tumben ga ada di sini.”

Dan beberapa menit kemudian…

“Halo Pa, aku ngga pulang ya. Ngantuk, males manggil taxi, aku di Garuda.”

Duduk di karpet yang terhampar memenuhi kamar, saya membaca sebuah pesan yang ditinggalkan seorang teman di akun situs jejaring sosial Facebook, yang terhubung langsung ke si Bébé. Tak tahu kenapa, sepertinya saya termasuk orang yang dipilihnya untuk memberikan komentar terhadap kejadian-kejadian yang sedang ia alami…

“Give my lover a little space, lama-lama bisa jadi gede, dia susah punya waktu untuk gue, tapi gue juga ga mau ngerusak kesenangannya dia, tapi gue juga ga mau jadi korban perasaan…”

Begitulah inti cerita teman saya yang satu itu, dan kurang lebih jawaban saya adalah yang ada di bawah ini…

“Been there…and I don’t like that kind of situation either. Gue pernah di situasi pacar loe, dan gue juga pernah berada di situasi elo. Kalo gue, atleast I did my part, my portion, and the rest my universe, including God will decide. Capekh juga bouw kalo ngelawan itu semua. Kalo pada akhirnya that relationship makin jauh, dan sepertinya memang itu pilihannya, dan memang itu yang jadi pilihan bahagianya dia, pilihannya adalah tinggal elo, bisa berdamai dengan diri loe sendiri atau teteup keukeuh, yang sebenernya you can’t push someone else to understand your feeling.”

Make a decision bukan suatu hal yang mudah, apalagi untuk orang-orang yang banyak pertimbangan, gak mau rugi, dan/atau orang yang tidak mau ambil risiko.

Errr…termasuk saya? Mungkin!

Bagi saya, setiap detik dalam hidup itu adalah suatu pilihan, baik pilihan yang sangat mudah, maupun pilihan yang sangat sulit dan mempunyai dampak besar untuk hidup.

Simple thing terjadi setiap pagi hari saat si Bébé berusaha membangunkan saya pukul 5.20. Terus terang saya terbangun dan berusaha meraihnya saat mendengarnya “berteriak-teriak”. Sesampainya mata ini melihat ke layarnya, di mana tertera dismiss atau snooze, saya pun dihadapkan pada pilihan. Dismiss berarti saya harus bangun, kalau tidak, saya bisa bablas ketiduran, atau snooze yang berarti saya hanya menunda beberapa menit, dan akan sama saja, saya tetap harus bangun. Atau, pake baju yang mana ya? Atau sepatu yang mana ya? Berangkat bawa mobil, atau nebeng ya?

Sepele ya?

Bagaimana kalau pilihan tersebut, melibatkan orang lain, atau saat berinteraksi dengan orang lain?

Membawa saya teringat usulan seseorang untuk saya. Usulan agar saya bisa sedikit memperbanyak “basa-basi” saya di depan beberapa orang, karena mungkin cara tersebut yang akan mempermudah saya untuk bisa di-iya-kan oleh mereka. Terus terang, hal ini sedikit “bukan saya” yang berpandangan bahwa saya tidak pernah bisa memaksa orang untuk suka saya, atau bahkan melarang mereka untuk suka saya. Saya akan membiarkan mereka, walaupun tentu ada respon-respon tertentu yang setidaknya terbersit di otak saya…

“Cha, bantuin nyanyi ya.”

“Duuhhh, gue dah lama ga nyanyi, manggung pulakh. Ngga janji ya. Udah ada yang lain kan?”

Sambil berpikir…”Ya sudah-lah itung-itung bisa dapet temen baru khan,” yang akhirnya membawa saya menjawab ‘Ya’ pada tawaran itu.

Atau pilihan saya untuk memasang earphone, mendengarkan lagu (dan menahan diri tanpa ikut bernyanyi) saat tetangga membuat “kerusuhan” sendiri.

Atau pilihan untuk tetap bermanis-manis ria saat berhadapan dengan orang yang sangat menjengkelkan dan membuat saya emosi jiwa.

Atau pilihan untuk pasrah dan menjawab “I can’t find that email, you can put the blame on me, mungkin ke-delete saat clean up email kemaren, tiap hari saya dapet warning email penuh. Delete item saya juga dah kosong,” saat saya tidak berhasil menemukan sebuah surat elektronik di dalam sent item folder, saat seseorang di ujung sana berkata “Did you send it?” dengan nada yang penuh keraguan.

Atau pilihan untuk tetap bersama seseorang atau membiarkan pasangan untuk perlahan terlepas dan pada akhirnya memang harus berpisah.

Pilihan untuk tidak memakai topeng sama sekali, atau memakai topeng hanya satu lapis atau seribu satu lapis. Pilihan untuk tetap menjadi diri sendiri atau menjadi foto-kopi orang lain saat berinteraksi dengan orang lain?

Bagaimana jika di satu masa hidup kamu, kamu dihadapkan ke beberapa pilihan atau tawaran, yang muncul bersamaan, pasti ada plus-minusnya, dan kamu tahu semuanya itu akan mempunyai dampak terhadap masa depan kamu?

Dilematik? Pasti!!!

“Lanjutin kerja, teteup dapet duit, tapi naiknya setengah mati, atau keluar kagak dapet duit bulanan, yang ada ngeluarin duit buat sekolah lagi.”

“Ngambil major A, atau B ya? Di Indo atau ke luar negeri ya? Rumah gimana dounks ditinggal? Kalo di Indo, nyambi kerja atau kagak ya? Kalo sambi kerja pasti ga bisa ambil yang major itu?”

“Kalo ke sana tapi kok ya di sana kira-kira kayak gitu, kalo ga ke sana, kapan dapet yang kayak gitu. Kalo tetep, pasti bakal sama ajah, tapi mungkin hal yang sangat gue pengenin bisa gue dapet, saat si anu udah begitu, tapi itu juga masih belom pasti kapannya.”

Pernah menghadapi situasi serupa? Apalagi kalau setelah dihitung-hitung, risiko, plus dan minusnya kurang lebih sama.

Bingung?

Satu kalimat yang selalu terlontar dari mulut seseorang, setiap saya minta pendapat tentang sesuatu hal ke dirinya…

“That’s your call!”

—-

“Yeaaahhh…rite!!”

Bintang Jatuh…

Monday, October 11th, 2010

Sekian detik yang membuat saya tertegun.

Semua karena si hitam yang sedang di teras. Entah mengapa si gendut hitam itu memandangi langit bertabur bintang, sambil bergumam, seakan berbicara dengan saya…

“Houuoohhoommhohhoomm.”

“Ngomong apa ayank? Liat apa ci di atas. Ada kucing ya?”

Saya yang berjongkok di depan si hitam pun mendadak mengikuti arah pandangan anak saya yang gendut itu.

Dan begitu saya mendangakkan kepala dan menatap langit…

“What’s that? Is that a plane? Oh, no it’s not a plane. Anjrit…that’s a falling star.”

Yak…betul saya baru saja melihat bintang jatuh atau mungkin pecahan meteor yang jatuh.

Benda merah itu bersinar terang, berpijar, terjatuh, mengecil dan kemudian menghilang.

Satu yang saya sesali…kenapa wish yang saya langsung ucapkan dalam hati adalah tentang dirinya. Dirinya yang dulu sempat bagai bintang jatuh untuk saya.

Bersinar saat saya perlu cahaya.

Berjalan, menemani saya.

Sebentar.

Mengecil.

Tak sempat pun saya genggam.

Karena ia menghilang…

*Arrrrggghhh…Tuhan tahu wish gue yang lebih esensial, 11 Oktober 2010*