Posts Tagged ‘Laguku’

It Was Just Wrong…

Saturday, September 19th, 2009

Akhirnya libur!! Bayangan tumpukan buku yang belum selesai saya baca, DVD yang belum sempat saya tonton, dan ide psycho story lainnya yang sudah menari-nari di kepala, sudah ada sejak awal minggu ini. Benar-benar tak sabar untuk bisa menikmati mereka semua.

Jumat! Akhirnya, tak perlu bangun pagi. Tak perlu pergi ke kantor. Dan kebingungan dimulai saat jam 10.00 pagi saya terpaksa bangun, karena dibangunkan oleh Mama…

“DVD, Buku atau Nulis?”

“Nooo…no writing I guess. Still got a headache because of Ramelan and Laras. They make me more psycho then as usual.”

“So DVD I guess.”

Beberapa hari lalu, memang saya menyempatkan diri untuk membeli DVD film yang tidak sempat saya tonton di bioskop, termasuk Benjamin Button. Saya ingat betul film itu beredar di bioskop di Jakarta, sekitar bulan Februari tahun ini. Dan bulan Februari itu adalah bulan menuh makna, di mana saya harus menyelesaikan kewajiban akhir saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa.

Jadi, siang kemarin, setelah beres dengan urusan baby sitting all my children, a.k.a my lovely dogs (*Yay got 1 more, so they are 8 now, even Boomer is going to be here only for couple of days*), saya menuju kamar dan melihat kembali DVD apa saja yang akan saya “santap” selama liburan.

And here’s the list: Benjamin Button, He’s Just Not That Into You, Crossing Over, Hangover, State of Play, yang merupakan DVD yang baru saya beli beberapa hari lalu; sedangkan DVD yang sudah saya beli dari zaman baheula, tapi belum saya tonton juga adalah Schindler’s List, The Condemned, Premonition, The Holiday, Music and Lyrics.

Ya, ya, ya you can tell me saya ketinggalan banyak film. Jangan tanya kenapa, karena kalau diceritakan pasti tulisan saya yang kali ini benar-benar hanya sampah curhatan tak penting dan tak bermutu, akan lebih panjang.

Film pertama yang saya tonton pastinya, Benjamin Button. Si ganteng Brad Pitt, yang meninggal saat ia bertubuh bayi di dalam gendongan teman hidupnya sendiri. Quote dari film tersebut yang saya ingat sampai sekarang adalah “We all end up with diapers,” and that fuckin’ damn right.

Bosan berkutat di kamar, akhirnya saya menuruni anak tangga dan menuju labuhan hati saya lainnya, piano. I was playing it and singing some songs. Then, fed my children up for dinner, cause they all looked hungry and beg for some foods again, hahahaha (*Naughty kids! Yet so lovely.*).

Lalu saya kembali ke kamar saya. Memilih-milih kembali DVD yang akan saya tonton kali ini.

Dan pilihannya jatuh pada film Music and Lyrics. I know this is such a romantic film drama, gonna make me mellow, but what else? Schindler’s List or State of Play at nite? Dooohh…no way!

But…I chose wrong film to be watched. Damnnnn!!!!

Jiwa mellow meningkat malam ini. Remembering someone who I miss so much. Di tambah di film itu si Sophie dan Alex di satu mobil yang sama dengan mobil seseorang yang ada di benak saya.

Parah!! Menghidupkan kembali si Ocha yang melankolis. And the worst one is this film ruined my mood to write my second psycho story (*Come on mood..back to my head!!*).

Dan lagu ini, ooohh…lagu ini liriknya…duuuhh…(*Lihat sendiri deh ya*)…


I’ve been living with a shadow overhead, 
I’ve been sleeping with a cloud above my bed, 
I’ve been lonely for so long, 
Trapped in the past, 
I just can’t seem to move on! 

I’ve been hiding all my hopes and dreams away, 
Just in case I ever need them again someday, 
I’ve been setting aside time, 
To clear a little space in the corners of my mind! 

All I wanna do is find a way back into love. 
I can’t make it through without a way back into love.
Oooooh. 

I’ve been watching but the stars refuse to shine, 
I’ve been searching but I just don’t see the signs, 
I know that it’s out there, 
There’s got to be something for my soul somewhere! 

I’ve been looking for someone to she’d some light, 
Not somebody just to get me through the night, 
I could use some direction, 
And I’m open to your suggestions. 

All I wanna do is find a way back into love. 
I can’t make it through without a way back into love. 
And if I open my heart again, 
I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end! 

There are moments when I don’t know if it’s real 
Or if anybody feels the way I feel 
I need inspiration 
Not just another negotiation 

All I wanna do is find a way back into love, 
I can’t make it through without a way back into love, 
And if I open my heart to you, 
I’m hoping you’ll show me what to do, 
And if you help me to start again, 
You know that I’ll be there for you in the end!

Good Luck, MJ…

Sunday, July 12th, 2009

Mungkin saya sedikit terlambat membicarakan tentang manusia ini. Manusia yang baru beberapa minggu lalu dinyatakan telah selesai menjalankan tugas perutusannya di dunia, oleh yang empunya hidup. Manusia yang (jika saya tidak salah) seharusnya besok mempunyai jadual konser di Ingris. Manusia yang mempunyai nama lengkap Michael Joseph Jackson.

Manusia itu tidak saya kenal secara langsung (“Yaiyaaalllaaahh! Gak mungkin”). Saya hanya mengenalnya dari lagu-lagunya yang sudah tidak asing di telinga saya, sejak dua puluh dua tahun lalu. Sebut saja, seperti Billie Jean, Thriller, Bad, She’s Out of My Life, Rock With You  yang ngetop di era 80-an, sudah sering saya dengar bersamaan dengan abang saya yang pertama memutar lagu-lagu itu dengan tape-nya (“Yah, that’s the beauty of having a sibling yang jarak umurnya jauh di atas kita”). Belum lagi lagu-lagunya saat ia masih tergabung dengan Jackson 5. Siapa sih yang tak tahu Ben, ABC, dan I Want You Back?

Kecintaan saya terhadap lagu-lagunya ternyata tidak berhenti saat saya kecil. Beranjak remaja, lagu Heal The World, Black or White, Gone Too Soon, Will You Be There, Have You Seen My Childhood, yang tenar di dekade berikutnya, benar-benar menjadi konsumsi saya sendiri, tak lagi karena si abang. Musiknya, liriknya, tak diragukan lagi, hebat dan penuh arti menyayat hati. Ditambah jika ia menyanyikannya saat konser di atas panggung. Benar-benar pembawaan yang total dan membuat banyak orang terkesima, terutama dengan Moonwalk ciri khasnya.

Berita yang tersiar 26 Juni 2009 pagi, saya yakin sangat mengagetkan banyak orang, walaupun mereka mungkin sama seperti saya, tidak mengenal MJ secara langsung . Namun rasa kehilangan pasti ada di hati. Kehilangan Sang Maestro dan mungkin rencana besar karyanya yang masih tersimpan di kepala dan hatinya, dan tetap akan begitu selamanya, tetap tak terbagi ke banyak penggemarnya.

Mungkin penggemar MJ yang tinggal di Indonesia, termasuk saya, sedikit berterima kasih pada pihak keluarga MJ, karena penyelenggaraan pemakamannya dilakukan tepat di malam libur nasional. Rasa kantuk mata dapat dilawan dengan usaha penuh, dan tanpa beban akan pekerjaan kantor esok harinya, hanya untuk menonton acara tersebut secara langsung. Mengingat perbedaan waktu antara Amerika dan Indonesia, yang menyebabkan acara tersebut baru diputar pada tengah malam, dan selesai menjelang pukul 03.00 dini hari.

Good luck Michael for your new journey, looking for a real Heaven. Your songs, your masterpiece will stay in my heart. Terutama She’s Out Of My life…

—-

“Hyaaaahhh…lagu sayat hati sekali itu She’s Out Of My Life…(ya even “she”-nya harus diganti “he”, untuk saya).”

Menikmati Lagu Sumbang…

Monday, June 22nd, 2009

Sekitar pukul 09.00…

“Yah, seperti biasa, internet masih mampus. Ya sudah lah, ga boleh ilang lagi moodnya.”

09.15…

“Nyetel lagu ah.”

Dan aktiflah Windows Media Player di laptop (“Enakan kasih nama apa ya? Hehehehe, terinspirasi sama si MbakDos di seberang sana.”), dan lagu yang saya dengarkan berdasarkan abjad judul lagu yang dimulai dari abjad A.

Tak lama kemudian, mulailah telinga ini menangkap lagu-lagu “sumbang”.

Di mulai dengan…

And I Love Her, yang dulu terkenal karena Beatles. Tak perlu repot-repot mencari tahu lagunya seperti apa. Hanya tinggal menggerakkan kursor komputer/laptop kamu sedikit ke bawah, kamu sudah tahu lagu yang saya maksud.

Tak perlu repot-repot juga bagi seseorang (“Saya bukan ya?”) untuk dapat memanggil kembali “hantu” di kepala, alias memori tentang sesuatu. Dan sampailah pada kejadian di hari pertama tahun ini, karena ada “Beatles” The 2nd yang lagi pentas.

Namun seketika? Gone! (“Yay!”)

Kembali ke pekerjaan yang tiba-tiba sedikit lebih banyak dan dapat membahagiakan, karena sudah barang tentu itu akan menyibukkan.

Windows Media Player pun masih sibuk bernyanyi dan terus bernyanyi.

Kira-kira sekitar pukul 09.45, suara “sumbang” kembali terdengar. Kali ini…

And Aubrey was her name, a not so very ordinary girl or name, but who’s to blame for a love that wouldn’t bloom…and bla, bla, bla…

What the…Ya, ya, kembali ke awal Desember, lebih tepatnya 4 Desember, saat dua orang di ruang itu, memegang microphone, sibuk memilih-milih daftar lagu apa yang akan digilir untuk dinyanyikan.

Dan saat seseorang memilih lagu yang mempunyai lirik di atas…

Bukan yang memilih lagu: “Ya ampun Aubrey”…(sambil tertawa kecil)

Orang yang memilih lagu: “Tau lagunya khan?”

Bukan yang memilih lagu: “Ya, tau lah!”

Orang yang memilih lagu: “Suka?”

Bukan yang memilih lagu: “Aku suka banget sama Bread. Jaman-jamannya aku ngamen, lagunya Bread itu lagu andalan.”

Sekali lagi, “tongkat ajaib” dapat bekerja dengan baik, yang membuat semuanya hilang dari pikiran seketika.

Kembali serius dengan pekerjaan, yang sudah mendapatkan dukungan koneksi internet dengan baik. Melirik ke arah penunjuk waktu di sudut kanan bawah laptop tercinta, telah menunjukkan pukul 10.11 (“Hmmm, do I have a damn good photographic memory?”).

Dan “hantu” lain terpaksa terpanggil kembali untuk keluar, karena lagu yang satu ini…

When you weary, feeling small, when tears are in your eyes, I will dry them all…

Menunggu di dalam mobil saat ia membeli sebungkus, dua bungkus rokok murahan, serta beberapa botol minuman ringan di mini market di depan kompleks rumah, dan sekembalinya ia masuk ke dalam mobil, suaranya menggantikan suara si penyanyi asli,…

Sail on silvergirl, sail on by. Your time has come to shine. All your dreams are on their way.

“Ah cupu. Pergi luuu!”

Ketak-ketik lagi, sibuk lagi. Sambil diiringi lagu-lagu indah dari Windows Media Player, yang ternyata kembali menyanyikan lagu “sumbang”…

Sahabatku, usai tawa ini, izinkan aku bercerita…

“Hantu” yang nongol baru sedikit nih, baru saat dia menanyakan “Just tell me, lagu ini tentang apa?”, saat salah seorang di sana sedang duduk, dengan kepala dan arah mata tertuju ke seseorang yang letaknya sedikit di bawahnya; dan salah seorang lagi berlutut, dengan tangan kirinya diletakkan di atas sofa, tepat di samping kaki kanan seorang lainnya, sehingga sikunya bersisian dengan dengkul orang yang duduk, dan tangan kanannya ia letakkan di atas sofa tepat di samping kaki kiri seorang lainnya itu, juga menjadikan siku dan dengkul kedua orang itu bersisian, dan mengakibatkan kedua tangan orang yang berlutut tadi mengapit ke dua kaki seseorang yang sedang duduk itu.

“Mari lewwaaatttiiiii…”

Mulai merasa “terancam”, akhirnya metode terakhir tersebut kembali terulang, kembali melewati suara-suara “sumbang” yang bisa membuat siang hari menjadi melankolia.

Namun jiwa masokis yang tak pernah bisa/ingin terbunuh dengan sukses ini, kembali menikmati salah satu suara “sumbang” yang ada di deretan daftar lagu itu, dengan sukarela.

I could build a mansion, that is higher than the trees…

Dan malahan menikmati “hantu” yang muncul (“Hyaaahhhh…!!!”)

Namun semuanya itu tak menjadikan mood ini berubah. Tetap sibuk, tetap ceria, tetap menyenangkan.

Sampai saatnya tiba di rumah, dan memeriksa isi si Bébé. Terteralah di sana sebuah pesan singkat dari si Krempeng.

“Calling him because I miss him so. Now I miss him even more.”

Dan balasan pesan itu terkirim, yang intinya untuk tidak terus-menerus meng-IYA-kan suara hati untuk mengiriminya pesan singkat atau bahkan meneleponnya.

Tttaaaaapppiiii, hari ini gagal, akhirnya satu pesan singkat terkirim sudah, setelah sekian lama tak terjadi. Hanya satu kata sangat singkat yang diketikkan…

“Tega!”

—-

“Krrreeemmmpppppeeeennngg, byengsyek lu ya! SMS lu stimulus buruk deeee!”

—-

Dari sekian banyak lagu “sumbang” yang diputar oleh Windows Media Player hari ini, inilah juaranya (meskipun dengan video klip yang monoton)…

Dan dengan lirik lengkap…

When you’re weary, feeling small,
When tears are in your eyes, I will dry them all
I’m on your side. When times get rough
And friends just can’t be found,
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.

When you’re down and out,
When you’re on the street,
When evening falls so hard
I will comfort you.
I’ll take your part.
When darkness comes
And pains is all around,
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.

Sail on silvergirl,
Sail on by.
Your time has come to shine.
All your dreams are on their way.
See how they shine. If you need a friend
I’m sailing right behind.
Like a bridge over troubled water
I will ease your mind.
Like a bridge over troubled water
I will ease your mind.

Yang telah berhasil meruntuhkan tembok pertahanan yang dikira oleh orang yang membangunnya sudah cukup kuat dan tak dapat runtuh. Ternyata asumsinya salah total. Setidaknya untuk hari ini.

—-

I hate my nites, and my early mornings, times I remember you at the most.

Pagi Biru Melankolia Sore…

Friday, June 19th, 2009

Saat saya membuka pintu ruang kerja saya,…

“It’s not going to be a good day for me!”

Membuka laptop, menyalakannya dan menemukan satu hal yang semakin mendukung pikiran saya tadi…

“Hyaaahhh…internet down terusssss! Otomatis belum bisa memeriksa e-mail dah!”

Rutinitas itulah yang pertama kali biasanya saya lakukan begitu memasuki ruang kerja saya. Memeriksa seluruh akun surat elektronik yang saya miliki, baik akun surat elektronik kantor maupun akun surat elektronik pribadi, walaupun semua surat elektronik sudah masuk ke si Bébé, tapi tetap tidak senyaman membaca dengan layar laptop yang lebih besar.

Saya tambah kehilangan mood baik hari ini. Dan mulailah saya menyelesaikan pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus menggunakan media internet.

Berkali-kali melihat ke arah jam, adalah sebuah indikator yang sangat buruk bagi seorang Ocha. Meskipun indikator buruk ini mempunyai dua kemungkinan, yaitu Ocha yang merasa bosan, atau Ocha yang lagi dikejar waktu seperti saat-saat ia masih kuliah dulu.

Dan saat itu, kesekian-kalinya ia melirik ke arah kanan bawah di sudut layar laptopnya.

“Anjrit masih jam 10.00.”

Keluar-lah saya dari ruangan…

“Minta tolong bikinin kopi dounk.”

Ternyata belum membantu. Pekerjaan yang sedang saya kerjakan terasa sangat lamban untuk saya bisa selesaikan. Dan terasa semakin lamban dengan hadirnya salah satu sapaan teman saya di YM yang saat itu sedang saya aktifkan dengan menggunakan si Bébé. Beginilah kira-kira sapaannya…

“Baru jam 11, sore masih lama ya.”

Dan saya pun membalas…

“Sama aja lu sama gue…”

Saya pun kembali ke pekerjaan saya, sambil berharap kopi yang sudah setengah gelas saya habiskan, akan memberi sedikit pencerahan bagi saya, untuk hari ini.

Saat di tengah saya mengetik, tiba-tiba tanda koneksi internet sudah berfungsi dengan baik, sudah muncul. Dan mulailah saya membuka akun surat elektronik yang belum saya periksa hari ini, juga menyalakan YM.

Kembali saya melirik ke arah jam, yang sudah menunjukkan pukul 11.50. Dan hati masih tak karuan karena moody saya sedang kumat.

Saya semakin memantapkan niat saya, untuk makan siang di luar kantor hari ini, dengan teman ataupun sendirian, saya tak peduli lagi. Jenuh ini harus dibunuh segera, tak bisa dibiarkan.

Melihat jejeran teman-teman yang aktif di YM, saya melihat salah satu teman yang menyapa saya dengan panggilan sayangnya untuk saya, yaitu sarap, beberapa hari yang lalu. Dan berikutnya yang terjadi adalah…

“Ke P.S yuk.”

Saya pikir ia akan berpikir banyak hal dulu sebelum menjawab. Ternyata…

“Yuk. Kapan?”

“Sekarang.”

“Elo ampe P.S jam berapa? Gue paling 15 menitan.”

“10 menit gue juga nyampe. Gue brangkat sekarang.”

Begitu saya sampai Plaza Senayan,…

“Zara, Cuy.”

“Okay.”

Tak lama saya mengitari butik kesayangan saya itu, tiba-tiba teman saya sudah datang.

“Mau makan atau ngga?”

“Makan boleh, ngga makan juga boleh. Tapi makan lah.”

“Okay. Di mana?”

“Nyushi?”

“Sushi Tei yah.”

Akhirnya kami berdua makan dengan anteng di restoran favorit kami berdua, walaupun ini kali pertamanya kami makan berdua di sana.

Mulailah semua pembicaraan seputar kehidupan kantor, dan urusan percintaan yang tak pernah habis kami bahas, baik secara obrolan atau sahut-sahutan di komentar Note Facebook, yang sebagian besar isinya merupakan pindahan dari Introverto ini (“Hihihihihi, that’s why Facebook gue masih tertutup untuk banyak orang neh. Aib gue bisa kebongkar gara-gara tulisan komentar makhluk-makhluk tak bertanggung jawab di Note gue, termasuk komentar pengakuan gue sendiri seh”).

Ketawa sana-ketawa sini, mentertawakan diri sendiri, mentertawakan mereka yang kami anggap lucu dan pantas untuk ditertawakan tidak di depan orangnya.

Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, membuat saya sedih. Sedih karena harus kembali ke kehidupan nyata. Mencari sesuap nasi, dan bekal untuk beli berlian (“Heh? Berlian? Lebbbaayyy?”).

Ternyata sushi tak pernah mengecewakan saya. Termasuk untuk menaikkan mood saya yang dari tadi hilang tak tahu kemana.

Surat elektronik yang perlu dikirim, sudah berhasil terkirim dengan baik semua. Dan pekerjaan saya yang tadi saya coba kerjakan setengah mati, akhirnya berhasil saya kebut, walaupun belum tenggat waktu (“Tumben ‘Cha, ga jadi deadliner?”).

Taaapiiii sekitar pukul 17.00, dan giliran Windows Media Player yang saya aktifkan memainkan sebuah lagu, lagu yang dikirimkannya melalui YM, saat kami berdua masih sering mengobrol di sana hingga subuh menjelang. Dan aku masih ingat betul apa yang ia tuliskan di jendela saat itu.

“Dengerin deh, kata-katanya bagus banget!”

Dalam hati saya…

“Dan lagunya kamu banget. Gitaran!”

Memang dasar masokis, lagu itu malah beberapa kali saya putar, hingga setelah putaran kesekian-kalinya saya katakan pada diri saya sendiri…

“Udah, udah, cukup hobi masokis loe ‘Cha, hobi nyiksa diri sendiri. Pulang-pulang, dah waktunya pulang ke gereja!”

Dan kembali mata ini melirik ke arah jam…

“Pas, udah pukul 17.55, mari menenangkan diri, pulang.”

—-

“Damn I hate to admit it, I do miss you, as always!!!”

Seribu Gembog Tak Berkunci…

Thursday, June 4th, 2009

Walaupun aku hanya mendengar dan percaya ucapanmu…
Walaupun tak ada satu salah yang ku buat…

Dan seribu hujat yang aku terima…
Terhadap sejuta kebutaan dan ketidaktahuan diri ini…

Dibalik semua indahnya dirimu…
Yang dulu kau ungkap dan kau nyatakan padaku…

Namun kakimu terus melangkah…
Dan mulutmu terkunci seribu gembog tanpa kunci…

Haruskah aku berpaling…
Dan menganggapmu mati?…