Posts Tagged ‘Laguku’

Actually, All We Need Is Our Own Smiles…

Thursday, March 18th, 2010

Errr…gue pengen nanya beberapa hal ke kalian, tapi tenang aja gue ga perlu jawaban ditulis di sini, cukup ditulis di dalam hati kalian…

Siapa yang pernah gak naik kelas atau ga lulus ujian, atau ada mata kuliah yang perlu diulang beberapa kali baru lulus?

Siapa yang harus putus sekolah atau putus kuliah karena satu dan lain hal?

Siapa yang orang tuanya bercerai dan keluarganya jadi berantakan?

Siapa yang pernah di-duain ama pacarnya, entah punya pacar lagi atau ternyata dah punya istri/suami ?

Siapa yang pernah ditinggalin gitu ajah atau ditinggal nikah sama kekasihnya?

Siapa yang harus, terpaksa atau dipaksa putus sama pacarnya?

Siapa yang belum nikah tapi udah ga virgin dan super duper nyesel setengah mati?

Siapa yang hamil di luar nikah terus ditinggalin ama yang harusnya bertanggung jawab plus dikucilin ama keluarga?

Siapa yang harus menghadapi kematian orang tua saat masih kecil?

Siapa yang harus kehilangan orang-orang terdekat, apalagi kehilangan tanpa jejak dan kabar apapun?

Siapa yang sampe sekarang masih ga punya penghasilan?

Siapa yang pernah ngerasain dipecat secara keliatan atau di “pecat” terselubung dari pekerjaannya?

Siapa yang utangnya bertumpuk dan bingung gimana bayarnya?

Dan pertanyaan gong-nya adalah…

Siapa yang ga pernah punya masalah?

Jawabnya adalah NO ONE

To be honest, pain has been a good friend of mine since long time ago…terus gue (dibuat jadi) mikir (ama dunia sekitar), kenapa si rasa sakit itu ga dikasih temen ya? Temen yang kira-kira bisa sedikit nyeimbangin and ngurangin si rasa sakit ini. Tahunan gue (dibuat mau) nyari temen buat dia, yang sebenernya terakhir-terakhir gue sadarin ternyata ga perlu repot, jauh-jauh, dan lama untuk mempertemukan mereka berdua, karena mereka memang sudah deket, tinggal kitanya sendiri mau mempertemukan mereka berdua atau ga.

Dan ternyata setelah mereka berdua ketemu, jauh mempermudah gue untuk bisa nemuin solusi dari hal yang bisa mbuat gue jadi insecure.

Hmmm…jadi temen baru si pain itu apa ya? I’ll tell you now that is your SMILE



    Smile though your heart is aching;
    Smile even though it’s breaking.
    When there are clouds in the sky, you’ll get by.
    If you smile through your fear and sorrow,
    Smile and maybe tomorrow,
    You’ll see the sun come shining through for you.

    Light up your face with gladness,
    Hide every trace of sadness.
    Although a tear may be ever so near,
    That’s the time you must keep on trying,
    Smile, what’s the use of crying?
    You’ll find that life is still worthwhile,
    If you just smile.

    That’s the time you must keep on trying,
    Smile, what’s the use of crying?
    You’ll find that life is still worthwhile
    If you just smile.

Song Written by Charlie Chaplin
—-

Sooo…senyum dulu yuuukk…

Ulang Tahun Yang Tertunda?

Monday, February 22nd, 2010

….met utang lawoon yaa ciw….

Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Miliaran panah jarak kita
Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara

Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku

was sent by someone to my e-mail…at 21st February 2010 at 2.00 a.m…


…It was late, but still it was something for me…thank u Darling for this one…

Kerinduan…

Saturday, January 30th, 2010

Duduk memandangi air yang berjatuhan dari langit, diiringi pengamen yang bernyanyi lagu jawa tentang Jogjakarta sambil memainkan gitar dengan bagusnya, membuat saya ingin pulang ke Jogja.

Hah…ntah mengapa, kota yang satu ini sering membuat saya rindu untuk kembali ke sana.

Bingung sebenarnya kalau ditanya: “Mbak, orang mana? Asli mana,” yang tak mungkin saya jawab dengan jawaban singkat.

“Saya aslinya lahir Jakarta, tapi orang tua Jawa, tapi Mama campuran Jawa-Manado.”

Dan biasanya diikuti dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan tambahan…

“Jawa-nya mana?”

“Jogja. Tapi dari pihak Mama tinggalnya di Magelang.”

“Jogja-nya di daerah mana?”

Terus terang nih, kalau sudah ditanya urusan Jogjanya di daerah mana, saya tambah bingung menjawabnya. Jadi biasanya saya jawab dengan hasil cerita masa kecil yang biasa diutarakan oleh Papa…

“Awalnya Klitren. Terus pindah ke daerah deket Taman Siswa.”

Yupe…Klitren itu rumah si Eyang, yang sayangnya tak pernah saya lihat. Menurut cerita Papa, itu rumah guuueeedddeeee banget, saking besarnya, rumah itu sempat dijadikan biara susteran, setelah Eyang memutuskan menjual rumah tersebut dan pindah ke daerah Taman Siswa. Dan hingga ajal, kedua Eyang saya masih menempati rumah yang ada di daerah dekat Taman Siswa itu.

Sewaktu saya SD hingga SMP, kami sekeluarga masih sering berkunjung ke Jogja, setidaknya hingga saya kelas 2 SMP, saat Eyang Putri masih ada. Tapi setelah kedua orang tua papa sudah meninggal, kami makin jarang ke sana.

Urusan jalan-jalan di Jogja, tak lepas dari duduk lesehan di emperan Malioboro menikmati burung dara; menikmati gudeg Jogja, seturunnya kami dari kereta di Stasiun Yogyakarta, lalu naik becak ke rumah si almarhum adik Papa, yang dulu ada di daerah Baciro; makan Lotek di depan Radio Gerenimo; menikmati jajanan di Pasar Beringhardjo; naik andong. Dan satu hal yang tak pernah saya lupakan, menonton Pretty Woman di 21 bareng sepupu-sepupu saya.

Sepuluh tahun terakhir, Jogja, hanya saya jadikan tempat transit, dan itu pun bukan untuk hal yang menyenangkan. Tiga kali singgah di Jogja, ketiganya berurusan dengan layatan kematian.

Tahun 2000, saya dan Papa pergi naik kereta ke Jogja untuk melayat Opa di Magelang. Itu juga karena kami berdua tidak dapat tiket pesawat terbang, sedangkan Mama sudah pergi terlebih dulu ke Magelang. Tapi seingat saya, ritual turun kereta makan gudeg subuh-subuh, dan mbecak ke rumah si Oom, tetap saya lakukan dengan si Papa. Setelah pemakaman si Opa, saya dan Papa kembali ke Jogja, karena besok paginya saya harus pulang ke Jakarta, naik kereta SENDIRIAN (waktu itu saya senang sekali, pertama kali menempuh perjalanan jauh dengan kereta, tanpa ada pihak keluarga menemani).

Tahun 2005, adik Papa, tiba-tiba sakit dan tak lama kemudian meninggal. Saya, yang tadinya hanya berniat mengantarkan Mama dan Papa ke bandara, akhirnya berubah pikiran…

“Eh, Pa, aku terbang juga deh ke Jogja. Mobil tinggal sini dulu, ntar malem aku pulang.”

Jadilah saya hanya beberapa jam di Jogja. Dan saya ingat betul sesampainya saya di sana, saya seneeennnggg banget bisa melihat kota itu lagi, walaupun saat itu Jogja sedang dilanda sengatan sinar matahari sangat dahsyat panasnya.

September 2007, saya terbang ke Jogja, untuk menghadiri 40 hari kematian Oma di Magelang. Lagi-lagi saya hanya beberapa jam berada di Jogja; hanya saat datang dari Jakarta dan kembali ke Jakarta.

Errrr…Talking about Jogja…kisah cinta saya dengan seseorang, juga bermula di (perjalanan menuju) Jogja. Kalau diingat-ingat, itu adalah perjalanan yang menyenangkan…

Dan itu semua semakin membuat saya rindu Jogja…

Love Me Like There’s No Tomorrow…

Monday, October 12th, 2009

“Kalo denger lagu ini, hehehehe…pengen banget ujan…biar bisa menye-menye…” (*Gimana sih nih orang…kemaren ujan, ngomel-ngomel, sekarang dah lama ga ujan protes juga*)…

Anyway…I do really love this song…I do love Queen dari jaman saya masih SD dan cuma berbekal pasang kuping dari kaset yang diputar oleh si abang paling tua, sampai sekarang…

Dan di bawah ini liriknya. Yuk, kita nyanyi bareng ya…

You had to kill the conversation
You always had the upper hand
Got caught in love and stepped in sinking sand
You had to go and ruin all our plans
Packed your bags and you’re leaving home
Got a one-way ticket and you’re all set to go
But we have one more day together, so

Love me like there’s no tomorrow
Hold me in your arms, tell me you mean it
This is our last goodbye and very soon it will be over
But today just love me like there’s no tomorrow

I guess we drift alone in separate ways
I don’t have all that far to go
God knows I’ve learnt to play the lonely man
I’ve never felt so low in all my life
We were born to be just losers
So I guess there’s a limit on how far we go
But we only have one more day together, so

Love me like there’s no tomorrow
Hold me in your arms, tell me you mean it
This is our last goodbye and very soon it will be over
But today just love me like there’s no tomorrow

Tomorrow, God knows just where I’ll be
Tomorrow, who knows just what’s in store for me
Anything can happen, but we only have one more day together, yeah
Just one more day forever, so

Love me like there’s no tomorrow
Hold me in your arms, tell me you mean it
This is our last goodbye and very soon it will be over
But today just love me like there’s no tomorrow

So, Love me like there’s no tomorrow
Hold me in your arms, tell me you mean it
This is our last goodbye and very soon it will be over
But today just love me like there’s no tomorrow

Pelindung Si Flabby…

Thursday, September 24th, 2009

Saya masih sedikit lebay kegirangan karena CD Flabby akhirnya berhasil saya dapatkan. Saya tahu album ini, dari sahabat saya, Karin. Dulu, tahun 2002, kaset Flabby ini pernah kami dengarkan di mobilnya saat kami pergi ke suatu tempat. Dan ternyata lagu-lagunya saya suka.

Nah, berhubung hidup saya lebih sering di depan komputer atau laptop, saya lebih suka mendengarkan lagu dari media ini. Dan dengan pikiran bahwa si mesin pencari ajaib Google pasti bisa menemukan apapun di dunia maya ini, maka mulailah saya mencari lagu-lagunya Flabby. Kata kunci yang saya pakai pasti kata Flabby. Klak-klik sana-sini, ternyata hasilnya nihil. Lagu Flabby tak ada satu pun yang bisa saya unduh dari internet.

Dan entah tepatnya kapan, saya juga pernah coba cari di YouTube, dan hasilnya pun nihil. Tak ada satu lagu pun dari Flabby. Sejak itu pula, saya bertekad untuk mencari CD-nya, dan menghentikan pencarian lagunya dari internet. Namun di toko-toko kaset di pusat perbelanjaan, jarang sekali yang menjual CD ini.

Kebetulan, kemarin trio cungkring sedang berkeliling kota Jakarta, termasuk ke daerah Sabang, di mana terletaklah si Duta Suara, toko musik yang menjual lagu apapun, baik album lama maupun album-album lagu baru. Tanpa basa-basi, saya tanya ke penjaga toko untuk mencarikan CD Flabby ini, ternyata masih ada. Dan beginilah tampak depan album itu.

Flabby

Bungkusan Flabby ini pun langsung saya buka sesampainya saya di rumah. Dan ada satu hal yang membuat saya kaget dengan apa yang saya temukan saat membukanya.

Kertas ini,…

copy protection

Ya ya ya kertas yang berisikan sederetan kalimat tentang peringatan bahwa CD ini tak bisa diputar dengan mudahnya di komputer atau di laptop. Dan yang menjadi gong-nya lagi adalah, CD ini dilengkapi dengan Copy Protection Technology, yang berarti CD ini dilengkapi apapun itu namanya, yang jelas anti maling, anti dibajak.

Respon saya seketika adalah “Damn!” dan sekaligus “Cool!”

Hal ini memaksa saya untuk membawa-bawa CD ini jika ingin didengarkan di kantor, karena isinya tidak bisa di copy ke dalam hard-disk laptop, tapi di lain pihak saya juga setuju dengan teknologi pelindung yang digunakan untuk CD ini.

Dan mulailah saya berpikir, apakah penyanyi-penyanyi lokal sudah menggunakan teknologi serupa, untuk menghindari album mereka dari pembajakan? Mudah-mudahan mereka sudah atau setidaknya mulai memikirkan untuk melakukan ini.

Hmmm, tapi baru saja, saya kembali mencoba mencari salah satu lagu yang ada di albumnya Flabby ini di YouTube, dan ternyata hasilnya ada beberapa video yang menampilkannya, walau mereka mengunggahnya juga baru dalam hitungan bulan (*Mungkin dulu mereka masih mencari cara ngopy itu lagu ke komputer hehehehe*). Kebetulan videonya, walau masih sangat seadanya, adalah lagu yang sangat saya suka.

Ini saya tampilkan di bawah ya. Saya dapat dari YouTube, dan diunggah oleh pemilik akunnya pada tanggal 3 Desember 2008 (*Dooohhhh…reminds me of something, or someone, whateva. Damn!*). Selamat mendengarkan ya.

Mudah-mudahan dengan berkembangnya teknologi, pembajakan karya seni semakin berkurang, bukannya semakin bertambah.

Selamat berkarya, Teman-teman!!

Dan ini adalah lirik lagunya…

When I think of you I still remember the way you kiss
The way you love me,
The way you touch my skin.
I’ve never ever wanted a girl like you before, gotta have another chance to show that I’m in love.
And if you think that I’m the great pretender
Think about the way I love you so precious warm and tender
Please believe I’m down on my knees
I’ll be missing all the special things you mean to me
I never meant to make you wanna cry
All I wanted is to love for a million times, yeah love you, for a million times yeah, for a million times yeah

I don’t wanna see you anymore
All the promises tomorrow will fly in the sky
I don’t want to suffer inside from the first moment I saw you I loved you
But now I’m asking to get out of my life

Every single day I can’t explain the pain I feel inside of me your love was so complete
I miss you all the time lonely in my room and I think I’m going crazy if I don’t have you
Maybe you think I’m nothing but a lier
But I promise I will give you the things that you desire
Talk to me and I’ll make you see
That I’m gonna be the only one you really need now that you know the way I feel about it
You can finally understand the way I miss you darlin’

It Was Just Wrong…

Saturday, September 19th, 2009

Akhirnya libur!! Bayangan tumpukan buku yang belum selesai saya baca, DVD yang belum sempat saya tonton, dan ide psycho story lainnya yang sudah menari-nari di kepala, sudah ada sejak awal minggu ini. Benar-benar tak sabar untuk bisa menikmati mereka semua.

Jumat! Akhirnya, tak perlu bangun pagi. Tak perlu pergi ke kantor. Dan kebingungan dimulai saat jam 10.00 pagi saya terpaksa bangun, karena dibangunkan oleh Mama…

“DVD, Buku atau Nulis?”

“Nooo…no writing I guess. Still got a headache because of Ramelan and Laras. They make me more psycho then as usual.”

“So DVD I guess.”

Beberapa hari lalu, memang saya menyempatkan diri untuk membeli DVD film yang tidak sempat saya tonton di bioskop, termasuk Benjamin Button. Saya ingat betul film itu beredar di bioskop di Jakarta, sekitar bulan Februari tahun ini. Dan bulan Februari itu adalah bulan menuh makna, di mana saya harus menyelesaikan kewajiban akhir saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa.

Jadi, siang kemarin, setelah beres dengan urusan baby sitting all my children, a.k.a my lovely dogs (*Yay got 1 more, so they are 8 now, even Boomer is going to be here only for couple of days*), saya menuju kamar dan melihat kembali DVD apa saja yang akan saya “santap” selama liburan.

And here’s the list: Benjamin Button, He’s Just Not That Into You, Crossing Over, Hangover, State of Play, yang merupakan DVD yang baru saya beli beberapa hari lalu; sedangkan DVD yang sudah saya beli dari zaman baheula, tapi belum saya tonton juga adalah Schindler’s List, The Condemned, Premonition, The Holiday, Music and Lyrics.

Ya, ya, ya you can tell me saya ketinggalan banyak film. Jangan tanya kenapa, karena kalau diceritakan pasti tulisan saya yang kali ini benar-benar hanya sampah curhatan tak penting dan tak bermutu, akan lebih panjang.

Film pertama yang saya tonton pastinya, Benjamin Button. Si ganteng Brad Pitt, yang meninggal saat ia bertubuh bayi di dalam gendongan teman hidupnya sendiri. Quote dari film tersebut yang saya ingat sampai sekarang adalah “We all end up with diapers,” and that fuckin’ damn right.

Bosan berkutat di kamar, akhirnya saya menuruni anak tangga dan menuju labuhan hati saya lainnya, piano. I was playing it and singing some songs. Then, fed my children up for dinner, cause they all looked hungry and beg for some foods again, hahahaha (*Naughty kids! Yet so lovely.*).

Lalu saya kembali ke kamar saya. Memilih-milih kembali DVD yang akan saya tonton kali ini.

Dan pilihannya jatuh pada film Music and Lyrics. I know this is such a romantic film drama, gonna make me mellow, but what else? Schindler’s List or State of Play at nite? Dooohh…no way!

But…I chose wrong film to be watched. Damnnnn!!!!

Jiwa mellow meningkat malam ini. Remembering someone who I miss so much. Di tambah di film itu si Sophie dan Alex di satu mobil yang sama dengan mobil seseorang yang ada di benak saya.

Parah!! Menghidupkan kembali si Ocha yang melankolis. And the worst one is this film ruined my mood to write my second psycho story (*Come on mood..back to my head!!*).

Dan lagu ini, ooohh…lagu ini liriknya…duuuhh…(*Lihat sendiri deh ya*)…


I’ve been living with a shadow overhead, 
I’ve been sleeping with a cloud above my bed, 
I’ve been lonely for so long, 
Trapped in the past, 
I just can’t seem to move on! 

I’ve been hiding all my hopes and dreams away, 
Just in case I ever need them again someday, 
I’ve been setting aside time, 
To clear a little space in the corners of my mind! 

All I wanna do is find a way back into love. 
I can’t make it through without a way back into love.
Oooooh. 

I’ve been watching but the stars refuse to shine, 
I’ve been searching but I just don’t see the signs, 
I know that it’s out there, 
There’s got to be something for my soul somewhere! 

I’ve been looking for someone to she’d some light, 
Not somebody just to get me through the night, 
I could use some direction, 
And I’m open to your suggestions. 

All I wanna do is find a way back into love. 
I can’t make it through without a way back into love. 
And if I open my heart again, 
I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end! 

There are moments when I don’t know if it’s real 
Or if anybody feels the way I feel 
I need inspiration 
Not just another negotiation 

All I wanna do is find a way back into love, 
I can’t make it through without a way back into love, 
And if I open my heart to you, 
I’m hoping you’ll show me what to do, 
And if you help me to start again, 
You know that I’ll be there for you in the end!

Good Luck, MJ…

Sunday, July 12th, 2009

Mungkin saya sedikit terlambat membicarakan tentang manusia ini. Manusia yang baru beberapa minggu lalu dinyatakan telah selesai menjalankan tugas perutusannya di dunia, oleh yang empunya hidup. Manusia yang (jika saya tidak salah) seharusnya besok mempunyai jadual konser di Ingris. Manusia yang mempunyai nama lengkap Michael Joseph Jackson.

Manusia itu tidak saya kenal secara langsung (“Yaiyaaalllaaahh! Gak mungkin”). Saya hanya mengenalnya dari lagu-lagunya yang sudah tidak asing di telinga saya, sejak dua puluh dua tahun lalu. Sebut saja, seperti Billie Jean, Thriller, Bad, She’s Out of My Life, Rock With You  yang ngetop di era 80-an, sudah sering saya dengar bersamaan dengan abang saya yang pertama memutar lagu-lagu itu dengan tape-nya (“Yah, that’s the beauty of having a sibling yang jarak umurnya jauh di atas kita”). Belum lagi lagu-lagunya saat ia masih tergabung dengan Jackson 5. Siapa sih yang tak tahu Ben, ABC, dan I Want You Back?

Kecintaan saya terhadap lagu-lagunya ternyata tidak berhenti saat saya kecil. Beranjak remaja, lagu Heal The World, Black or White, Gone Too Soon, Will You Be There, Have You Seen My Childhood, yang tenar di dekade berikutnya, benar-benar menjadi konsumsi saya sendiri, tak lagi karena si abang. Musiknya, liriknya, tak diragukan lagi, hebat dan penuh arti menyayat hati. Ditambah jika ia menyanyikannya saat konser di atas panggung. Benar-benar pembawaan yang total dan membuat banyak orang terkesima, terutama dengan Moonwalk ciri khasnya.

Berita yang tersiar 26 Juni 2009 pagi, saya yakin sangat mengagetkan banyak orang, walaupun mereka mungkin sama seperti saya, tidak mengenal MJ secara langsung . Namun rasa kehilangan pasti ada di hati. Kehilangan Sang Maestro dan mungkin rencana besar karyanya yang masih tersimpan di kepala dan hatinya, dan tetap akan begitu selamanya, tetap tak terbagi ke banyak penggemarnya.

Mungkin penggemar MJ yang tinggal di Indonesia, termasuk saya, sedikit berterima kasih pada pihak keluarga MJ, karena penyelenggaraan pemakamannya dilakukan tepat di malam libur nasional. Rasa kantuk mata dapat dilawan dengan usaha penuh, dan tanpa beban akan pekerjaan kantor esok harinya, hanya untuk menonton acara tersebut secara langsung. Mengingat perbedaan waktu antara Amerika dan Indonesia, yang menyebabkan acara tersebut baru diputar pada tengah malam, dan selesai menjelang pukul 03.00 dini hari.

Good luck Michael for your new journey, looking for a real Heaven. Your songs, your masterpiece will stay in my heart. Terutama She’s Out Of My life…

—-

“Hyaaaahhh…lagu sayat hati sekali itu She’s Out Of My Life…(ya even “she”-nya harus diganti “he”, untuk saya).”

Menikmati Lagu Sumbang…

Monday, June 22nd, 2009

Sekitar pukul 09.00…

“Yah, seperti biasa, internet masih mampus. Ya sudah lah, ga boleh ilang lagi moodnya.”

09.15…

“Nyetel lagu ah.”

Dan aktiflah Windows Media Player di laptop (“Enakan kasih nama apa ya? Hehehehe, terinspirasi sama si MbakDos di seberang sana.”), dan lagu yang saya dengarkan berdasarkan abjad judul lagu yang dimulai dari abjad A.

Tak lama kemudian, mulailah telinga ini menangkap lagu-lagu “sumbang”.

Di mulai dengan…

And I Love Her, yang dulu terkenal karena Beatles. Tak perlu repot-repot mencari tahu lagunya seperti apa. Hanya tinggal menggerakkan kursor komputer/laptop kamu sedikit ke bawah, kamu sudah tahu lagu yang saya maksud.

Tak perlu repot-repot juga bagi seseorang (“Saya bukan ya?”) untuk dapat memanggil kembali “hantu” di kepala, alias memori tentang sesuatu. Dan sampailah pada kejadian di hari pertama tahun ini, karena ada “Beatles” The 2nd yang lagi pentas.

Namun seketika? Gone! (“Yay!”)

Kembali ke pekerjaan yang tiba-tiba sedikit lebih banyak dan dapat membahagiakan, karena sudah barang tentu itu akan menyibukkan.

Windows Media Player pun masih sibuk bernyanyi dan terus bernyanyi.

Kira-kira sekitar pukul 09.45, suara “sumbang” kembali terdengar. Kali ini…

And Aubrey was her name, a not so very ordinary girl or name, but who’s to blame for a love that wouldn’t bloom…and bla, bla, bla…

What the…Ya, ya, kembali ke awal Desember, lebih tepatnya 4 Desember, saat dua orang di ruang itu, memegang microphone, sibuk memilih-milih daftar lagu apa yang akan digilir untuk dinyanyikan.

Dan saat seseorang memilih lagu yang mempunyai lirik di atas…

Bukan yang memilih lagu: “Ya ampun Aubrey”…(sambil tertawa kecil)

Orang yang memilih lagu: “Tau lagunya khan?”

Bukan yang memilih lagu: “Ya, tau lah!”

Orang yang memilih lagu: “Suka?”

Bukan yang memilih lagu: “Aku suka banget sama Bread. Jaman-jamannya aku ngamen, lagunya Bread itu lagu andalan.”

Sekali lagi, “tongkat ajaib” dapat bekerja dengan baik, yang membuat semuanya hilang dari pikiran seketika.

Kembali serius dengan pekerjaan, yang sudah mendapatkan dukungan koneksi internet dengan baik. Melirik ke arah penunjuk waktu di sudut kanan bawah laptop tercinta, telah menunjukkan pukul 10.11 (“Hmmm, do I have a damn good photographic memory?”).

Dan “hantu” lain terpaksa terpanggil kembali untuk keluar, karena lagu yang satu ini…

When you weary, feeling small, when tears are in your eyes, I will dry them all…

Menunggu di dalam mobil saat ia membeli sebungkus, dua bungkus rokok murahan, serta beberapa botol minuman ringan di mini market di depan kompleks rumah, dan sekembalinya ia masuk ke dalam mobil, suaranya menggantikan suara si penyanyi asli,…

Sail on silvergirl, sail on by. Your time has come to shine. All your dreams are on their way.

“Ah cupu. Pergi luuu!”

Ketak-ketik lagi, sibuk lagi. Sambil diiringi lagu-lagu indah dari Windows Media Player, yang ternyata kembali menyanyikan lagu “sumbang”…

Sahabatku, usai tawa ini, izinkan aku bercerita…

“Hantu” yang nongol baru sedikit nih, baru saat dia menanyakan “Just tell me, lagu ini tentang apa?”, saat salah seorang di sana sedang duduk, dengan kepala dan arah mata tertuju ke seseorang yang letaknya sedikit di bawahnya; dan salah seorang lagi berlutut, dengan tangan kirinya diletakkan di atas sofa, tepat di samping kaki kanan seorang lainnya, sehingga sikunya bersisian dengan dengkul orang yang duduk, dan tangan kanannya ia letakkan di atas sofa tepat di samping kaki kiri seorang lainnya itu, juga menjadikan siku dan dengkul kedua orang itu bersisian, dan mengakibatkan kedua tangan orang yang berlutut tadi mengapit ke dua kaki seseorang yang sedang duduk itu.

“Mari lewwaaatttiiiii…”

Mulai merasa “terancam”, akhirnya metode terakhir tersebut kembali terulang, kembali melewati suara-suara “sumbang” yang bisa membuat siang hari menjadi melankolia.

Namun jiwa masokis yang tak pernah bisa/ingin terbunuh dengan sukses ini, kembali menikmati salah satu suara “sumbang” yang ada di deretan daftar lagu itu, dengan sukarela.

I could build a mansion, that is higher than the trees…

Dan malahan menikmati “hantu” yang muncul (“Hyaaahhhh…!!!”)

Namun semuanya itu tak menjadikan mood ini berubah. Tetap sibuk, tetap ceria, tetap menyenangkan.

Sampai saatnya tiba di rumah, dan memeriksa isi si Bébé. Terteralah di sana sebuah pesan singkat dari si Krempeng.

“Calling him because I miss him so. Now I miss him even more.”

Dan balasan pesan itu terkirim, yang intinya untuk tidak terus-menerus meng-IYA-kan suara hati untuk mengiriminya pesan singkat atau bahkan meneleponnya.

Tttaaaaapppiiii, hari ini gagal, akhirnya satu pesan singkat terkirim sudah, setelah sekian lama tak terjadi. Hanya satu kata sangat singkat yang diketikkan…

“Tega!”

—-

“Krrreeemmmpppppeeeennngg, byengsyek lu ya! SMS lu stimulus buruk deeee!”

—-

Dari sekian banyak lagu “sumbang” yang diputar oleh Windows Media Player hari ini, inilah juaranya (meskipun dengan video klip yang monoton)…

Dan dengan lirik lengkap…

When you’re weary, feeling small,
When tears are in your eyes, I will dry them all
I’m on your side. When times get rough
And friends just can’t be found,
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.

When you’re down and out,
When you’re on the street,
When evening falls so hard
I will comfort you.
I’ll take your part.
When darkness comes
And pains is all around,
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.
Like a bridge over troubled water
I will lay me down.

Sail on silvergirl,
Sail on by.
Your time has come to shine.
All your dreams are on their way.
See how they shine. If you need a friend
I’m sailing right behind.
Like a bridge over troubled water
I will ease your mind.
Like a bridge over troubled water
I will ease your mind.

Yang telah berhasil meruntuhkan tembok pertahanan yang dikira oleh orang yang membangunnya sudah cukup kuat dan tak dapat runtuh. Ternyata asumsinya salah total. Setidaknya untuk hari ini.

—-

I hate my nites, and my early mornings, times I remember you at the most.

Pagi Biru Melankolia Sore…

Friday, June 19th, 2009

Saat saya membuka pintu ruang kerja saya,…

“It’s not going to be a good day for me!”

Membuka laptop, menyalakannya dan menemukan satu hal yang semakin mendukung pikiran saya tadi…

“Hyaaahhh…internet down terusssss! Otomatis belum bisa memeriksa e-mail dah!”

Rutinitas itulah yang pertama kali biasanya saya lakukan begitu memasuki ruang kerja saya. Memeriksa seluruh akun surat elektronik yang saya miliki, baik akun surat elektronik kantor maupun akun surat elektronik pribadi, walaupun semua surat elektronik sudah masuk ke si Bébé, tapi tetap tidak senyaman membaca dengan layar laptop yang lebih besar.

Saya tambah kehilangan mood baik hari ini. Dan mulailah saya menyelesaikan pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus menggunakan media internet.

Berkali-kali melihat ke arah jam, adalah sebuah indikator yang sangat buruk bagi seorang Ocha. Meskipun indikator buruk ini mempunyai dua kemungkinan, yaitu Ocha yang merasa bosan, atau Ocha yang lagi dikejar waktu seperti saat-saat ia masih kuliah dulu.

Dan saat itu, kesekian-kalinya ia melirik ke arah kanan bawah di sudut layar laptopnya.

“Anjrit masih jam 10.00.”

Keluar-lah saya dari ruangan…

“Minta tolong bikinin kopi dounk.”

Ternyata belum membantu. Pekerjaan yang sedang saya kerjakan terasa sangat lamban untuk saya bisa selesaikan. Dan terasa semakin lamban dengan hadirnya salah satu sapaan teman saya di YM yang saat itu sedang saya aktifkan dengan menggunakan si Bébé. Beginilah kira-kira sapaannya…

“Baru jam 11, sore masih lama ya.”

Dan saya pun membalas…

“Sama aja lu sama gue…”

Saya pun kembali ke pekerjaan saya, sambil berharap kopi yang sudah setengah gelas saya habiskan, akan memberi sedikit pencerahan bagi saya, untuk hari ini.

Saat di tengah saya mengetik, tiba-tiba tanda koneksi internet sudah berfungsi dengan baik, sudah muncul. Dan mulailah saya membuka akun surat elektronik yang belum saya periksa hari ini, juga menyalakan YM.

Kembali saya melirik ke arah jam, yang sudah menunjukkan pukul 11.50. Dan hati masih tak karuan karena moody saya sedang kumat.

Saya semakin memantapkan niat saya, untuk makan siang di luar kantor hari ini, dengan teman ataupun sendirian, saya tak peduli lagi. Jenuh ini harus dibunuh segera, tak bisa dibiarkan.

Melihat jejeran teman-teman yang aktif di YM, saya melihat salah satu teman yang menyapa saya dengan panggilan sayangnya untuk saya, yaitu sarap, beberapa hari yang lalu. Dan berikutnya yang terjadi adalah…

“Ke P.S yuk.”

Saya pikir ia akan berpikir banyak hal dulu sebelum menjawab. Ternyata…

“Yuk. Kapan?”

“Sekarang.”

“Elo ampe P.S jam berapa? Gue paling 15 menitan.”

“10 menit gue juga nyampe. Gue brangkat sekarang.”

Begitu saya sampai Plaza Senayan,…

“Zara, Cuy.”

“Okay.”

Tak lama saya mengitari butik kesayangan saya itu, tiba-tiba teman saya sudah datang.

“Mau makan atau ngga?”

“Makan boleh, ngga makan juga boleh. Tapi makan lah.”

“Okay. Di mana?”

“Nyushi?”

“Sushi Tei yah.”

Akhirnya kami berdua makan dengan anteng di restoran favorit kami berdua, walaupun ini kali pertamanya kami makan berdua di sana.

Mulailah semua pembicaraan seputar kehidupan kantor, dan urusan percintaan yang tak pernah habis kami bahas, baik secara obrolan atau sahut-sahutan di komentar Note Facebook, yang sebagian besar isinya merupakan pindahan dari Introverto ini (“Hihihihihi, that’s why Facebook gue masih tertutup untuk banyak orang neh. Aib gue bisa kebongkar gara-gara tulisan komentar makhluk-makhluk tak bertanggung jawab di Note gue, termasuk komentar pengakuan gue sendiri seh”).

Ketawa sana-ketawa sini, mentertawakan diri sendiri, mentertawakan mereka yang kami anggap lucu dan pantas untuk ditertawakan tidak di depan orangnya.

Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, membuat saya sedih. Sedih karena harus kembali ke kehidupan nyata. Mencari sesuap nasi, dan bekal untuk beli berlian (“Heh? Berlian? Lebbbaayyy?”).

Ternyata sushi tak pernah mengecewakan saya. Termasuk untuk menaikkan mood saya yang dari tadi hilang tak tahu kemana.

Surat elektronik yang perlu dikirim, sudah berhasil terkirim dengan baik semua. Dan pekerjaan saya yang tadi saya coba kerjakan setengah mati, akhirnya berhasil saya kebut, walaupun belum tenggat waktu (“Tumben ‘Cha, ga jadi deadliner?”).

Taaapiiii sekitar pukul 17.00, dan giliran Windows Media Player yang saya aktifkan memainkan sebuah lagu, lagu yang dikirimkannya melalui YM, saat kami berdua masih sering mengobrol di sana hingga subuh menjelang. Dan aku masih ingat betul apa yang ia tuliskan di jendela saat itu.

“Dengerin deh, kata-katanya bagus banget!”

Dalam hati saya…

“Dan lagunya kamu banget. Gitaran!”

Memang dasar masokis, lagu itu malah beberapa kali saya putar, hingga setelah putaran kesekian-kalinya saya katakan pada diri saya sendiri…

“Udah, udah, cukup hobi masokis loe ‘Cha, hobi nyiksa diri sendiri. Pulang-pulang, dah waktunya pulang ke gereja!”

Dan kembali mata ini melirik ke arah jam…

“Pas, udah pukul 17.55, mari menenangkan diri, pulang.”

—-

“Damn I hate to admit it, I do miss you, as always!!!”

Seribu Gembog Tak Berkunci…

Thursday, June 4th, 2009

Walaupun aku hanya mendengar dan percaya ucapanmu…
Walaupun tak ada satu salah yang ku buat…

Dan seribu hujat yang aku terima…
Terhadap sejuta kebutaan dan ketidaktahuan diri ini…

Dibalik semua indahnya dirimu…
Yang dulu kau ungkap dan kau nyatakan padaku…

Namun kakimu terus melangkah…
Dan mulutmu terkunci seribu gembog tanpa kunci…

Haruskah aku berpaling…
Dan menganggapmu mati?…