Posts Tagged ‘Kuliner’

Tolong Dong Bersihin Mejanya…

Sunday, August 29th, 2010

Pernah dengar berita bahwa sekarang banyak masyarakat Indonesia yang terpaksa makan nasi aking dounks ah pastinya? Atau pernah lihat sendiri, ada orang di luar sana yang terpaksa mengais-ngais tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan untuk mereka makan? Atau menjadi saksi dari mereka yang mengucap kata minta dikasihani, karena dari kemarin belum makan?

Sedih? Mulai menyalahkan orang lain? Menyalahkan dan menghujat Pemerintah karena tak becus mengurus negara? Atau sebenarnya mungkin itu salah kita sendiri?

Yuk…saya coba membawa kalian jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, atau kantin kantor…tepatnya ke Food Court.

Pernah khan ya jalan-jalan ke tempat seperti itu? Apa yang paling menyiksa kalau ke pusat jajanan di pusat perbelanjaan, atau di gedung perkantoran? Bagi saya sih, hal yang paling menyiksa adalah mencari meja dan kursi untuk duduk agar kita bisa menikmati makanan yang akan kita santap, apalagi memang saat jam makan. Hal ke dua yang paling menyiksa lainnya? Bingung mencari makanan apa yang akan kita santap saat itu.

Mulailah kita berjalan mengitari area sekian meter kali sekian meter tersebut, dari ujung ke ujung.

“Eh…bentar…tuch itu tuch ada orang yang kayaknya bentar lagi bakal selese makan. Bener khan, yuk, buruan biar ga diambil orang lain mejanya.”

“Gue tunggu di sini dulu deh, elo pesen makanan dulu ke tempat yang elo mau.”

Dan duduklah saya di sana, atau sepertinya kamu juga pernah mengalami hal serupa. Duduk di bangku, yang di depanmu ada meja, yang di atasnya masih belum bersih…

Masih belum bersih dari ceceran makanan, dari makanan yang tumpah, atau dari makanan yang memang tak dimakan atau tak berhasil dihabiskan karena perut sudah tak memadai untuk memakan semuanya.

Dan sisa-sisa itulah yang mungkin saja menjadi makanan utama, mereka yang nasibnya belum seindah saya, kamu, dia atau mereka yang mempunyai kehidupan jauh lebih baik.

Nah…coba pikir-pikir lagi, masih mau menyalahkan orang lain, karena masih ada nasi aking yang harus menjadi menu utama orang lain di luar sana?

Saya cuma mau berbagi sedikit nih…tips untuk urusan menyantap makanan, tapi tak perlu meneteskan air mata, untuk kita dan untuk mereka yang masih kurang beruntung. Kebetulan, kapasitas perut saya untuk menampung makanan, tidak terlalu banyak, jadi saya punya cara-cara tertentu agar makanan yang akan saya makan tidak akan terbuang mubazir…

1. Kalau kamu makan ditemani beberapa teman, usahakan ada satu di antara mereka yang memang dapat dijadikan “trash bin” alias bersedia menghabiskan makananmu jika memang nantinya tak habis.

2. Kalau tidak ada yang bisa dijadikan “trash bin”, mulailah lihat-lihat ke tetangga/meja sebelah yang sudah terlebih dahulu makan. Lihat menu yang mereka pilih, terutama lihat besarnya porsi, dan mulailah mengira-ngira kemampuan kamu menghabiskan makanan saat itu, apakah dapat menghabiskan makanan dengan porsi banyak atau porsi sedikit. Atau bisa juga sekalian tanyakan ke pramusaji seberapa besar porsinya. Kalau sepertinya kamu tak mampu menghabiskan makanan tersebut, mulailah kongkalikong dengan temanmu, kira-kira mau paroan atau tidak makanannya, atau usul pesan makanan yang bisa dimakan ramai-ramai *bisa ngirit uang juga nih kalo mau saweran ama temen*.

3. Kalau di antara lauk-pauk di dalam menu yang kamu pilih ternyata ada yang tidak kamu suka, tanya ke teman-teman kamu apakah mereka mau memakannya? Tentu saat makanan masih dalam kondisi bersih.

4. Lebih baik mengambil/memesan dengan porsi kecil, kalau masih kurang kenyang baru tambah. Atau kalau bisa minta dengan porsi setengah, sepertinya akan lebih baik ya, walaupun harganya sama, daripada terbuang.

5. Kalau tidak habis? Nihhhhh…kebiasaan si Mama, yaitu bungkus-membungkus makanan yang tak habis dimakan, sudah mulai saya ikuti. Biasanya saya akan minta makanan sisa itu untuk dibungkus rapi. Bungkusan itu sebagai cadangan, kalau sampai rumah ternyata lapar lagi. Eh, tapi kalaupun sampai di rumah ternyata tak termakan juga, di rumah saya ada (tinggal) 5 ekor anjing, jadi makanan tersebut masih bisa dipilih-pilih lagi, mana yang masih boleh dimakan oleh anjing-anjing saya, mana yang tidak boleh.

6. Intinya adalah…ambil atau pesan makanan sesuai dengan kapasitas perut, sehingga makanan tidak mubazir terbuang.

Sekarang…mari kita makan, tanpa menambah dosa lebih banyak karena membuang-buang makanan, sementara di luar sana, masih banyak yang belum makan.

Menu Hari Ini…

Sunday, April 5th, 2009

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam 40 menit, akhirnya aku, Karin dan Yudha tiba di Singapura. Perut kami sudah lapar. Apalagi penerbangan kami hari ini terlambat 30 menit dari waktu yang ditentukan. Sampai di Singapura baru pukul 14.20 waktu setempat. Rasanya tak mungkin lagi jika perut kami menunggu lebih lama untuk diisi makanan. Akhirnya Yudha memutuskan untuk membeli makanan di Coffee Bean yang terletak di Mount Elizabeth Hospital.

Selama aku menyantap makan siangku itu, aku mulai memikirkan menu makan malam kami hari ini, “Masak apa ya, buat makan malam?”, akhirnya aku putuskan masak Sup Salmon. “Terdengar canggih ya?” Setelah selesai makan, aku berangkat ke Pusat Perbelanjaan Paragon untuk berbelanja.

Belanjalah aku di sana. Ikan salmon, bumbu-bumbu, sayuran dan bahan-bahan lain yang menurutku menjadi bahan dasar sup sudah aku masukkan semua ke dalam keranjang belanjaan.

“Gila ya, Indonesia emang surga belanja makanan. Brokoli 5 dolar? Dah gila apa ya? Di Jakarta 10 rebu dah gede.”

Namun sesampainya di kos, aku menelepon mama, apakah bahan-bahan yang aku beli tadi sudah lengkap atau belum.

Ternyata memasak sup ayam tidak sama dengan memasak sup ikan salmon. Mengingat ikan salmon ini tetap berbau amis saat mentahnya. Dan itu harus dihilangkan dengan jahe, serai, jeruk, daun kemangi. Tiga bahan itu tidak termasuk bahan yang aku beli tadi. Terpaksalah aku berangkat ke supermarket lagi untuk kembali berbelanja.

“Anjrit, serai dua batang kecil gini, 50 sen.”

Dan sepulangnya aku dari sana, aku mulai mengolah bahan-bahan yang aku beli tadi. Seperti biasa aku hanya memasukkan semua bahan ke dalam panci dan berbekal indera pengecapku. Ini dia resepnya:

1. Daun Bawang
2. Daun Kemangi (atau jika tidak ada bisa menggunakan Basil Leaf)
3. Daun Seledri
4. Tomat
5. Bawang merah
6. Bawang putih
7. Bawang bombay
8. Serai (Lemon Grass)
9. Jahe di potong dan dimemarkan
10. Jeruk nipis
11. Brokoli
12. Jamur Champignon
13. Jamur Enoki
14. Ikan Salmon
15. Knorr seasoning powder, tanpa MSG
16. Kikkoman
17. Garam secukupnya

Cara mengolahnya juga tak sulit, dan tidak lama. Malahan lebih lama memotong-motong bahan masakan ini. Semua bahan dipotong-potong dengan ukuran sesuai keinginan. Ikan salmon yang menjadi bahan utama masakan ini, juga di potong-potong menjadi beberapa bagian, lalu lumuri perasan jeruk nipis di atasnya, dan taburi garam secukupnya, hingga rata dan diamkan sembari kamu menyiapkan bahan lain.

Sisa bahan-bahan yang sudah disiapkan, tinggal dimasukkan ke dalam air. Jujur, urutan memasukkannya pun aku sesuaikan dengan feeling-ku sendiri, alias sesuka hati. Namun tadi yang aku lakukan pertama kali adalah memasukkan daun bawang, tomat, bawang merah, bawang putih dan bawang bombay. Tambahkan Knorr seasoning powder, aduk, tambahkan Kikkoman dan garam secukupnya, sesuai dengan rasa indera pengecapmu.

Lalu, yang lainnya aku benar-benar lupa urutan memasukkannya. Semua suka-suka hati, hingga baru aku sadari semua sayuran dan bumbu sudah masuk ke dalam panci. Jangan lupa untuk terus merasakan kuah sup. Coba rasakan kira-kira masih kurang apa, dan tinggal tambahkan yang kurang itu.

Setelah kuah sup mendidih, baru masukkan daging ikan salmon yang sudah dilumuri perasan jeruk nipis dan garam tadi. Diamkan beberapa saat, hingga daging salmon bewarna merah muda. Jangan terlalu lama merebus daging ikan salmon, karena dagingnya bisa hancur.

Sebelum masakan ini aku berikan pada “juru cicip”, aku mencobanya terlebih dulu.

“Hah, enak juga masakan gue. Padahal baru pertama niy masak sup ginian,” pikirku tadi.

Saat itu bersamaan dengan Yudha yang masuk ke dapur untuk kesekiankalinya.

“Buset, masak beneran lu? Emang lu bisa masak?”

“Nape lu dah laper? Bolak-balik aja lu. Enak Dha, ntar lu tinggal makan dah.”

“Iye, wangi ya.”

Dan enaknya masakan ini disetujui oleh satu “juru cicip” utama, Karin, mulai suapan pertama aku berikan padanya. Bahkan saat Yudha masih menyantap makanannya, Karin meminta tambah sup-nya saja tanpa nasi. Setelah aku selesai menyuapinya, giliran aku menyantap hasil masakanku sendiri.

—-

“Nyam-nyam, masih ada sisanya untuk besok pagi.”

Masuk Dapur…

Friday, March 27th, 2009

Urusan masak-memasak adalah hal yang paling tidak aku sukai. Dulu. Tidak dengan tiga tahun terakhir ini.

Urusan masuk dapur, tidak hanya sekedar lewat, atau membuka lemari pendingin, tapi untuk memasak, memang akhirnya menjadi hal yang menarik untukku. Aku ingat betul, menu pertama, aku memasak secara serius, yaitu udang goreng tepung panir saos mayonaise. Jujur aku lupa aku dapat resep itu dari mana, atau mungkin juga tiba-tiba muncul di otakku. Berhubung aku tahu persis bahwa keluargaku (termasuk diriku) itu terdiri dari manusia-manusia dengan gengsi yang super dahsyat, jadi aku tak menawarkan masakan hasil karyaku itu kepada mereka.

Aku tahu mereka beberapa kali mencicipi masakanku, dan pasti, aku sangat yakin menurut mereka selalu ada cacatnya. Ternyata dugaanku benar. Dan, seperti biasa pula, aku tak peduli. Namun anehnya lama-lama masakanku itu hampir habis, padahal sebenarnya saat itu aku masak bukan untuk mereka, tapi khusus untuk seseorang, yang aku tahu persis ia sangat suka dengan seafood. Jadi sebelum benar-benar habis, terpaksa masakanku itu aku pindahkan dari atas meja makan.

Motivasi yang aku miliki untuk mencoba “menjajah” dapur ternyata bagus juga, yaitu membuatkan masakan untuk seseorang spesial, yang bakal berkata jujur, dan memberikan apresiasi atau kritikan dengan cara yang memang seharusnya.

Menu-menu berikutnya pun bermunculan. Kembali tak tahu asalnya dari mana, atau hanya kreasiku sendiri. Kreativitas niatku, ternyata menginginkan sesuatu yang lebih heboh. Kamu tahu apa itu? Ingin mencoba mewarisi hasil masakan makanan khas Manado seperti enaknya masakan Almarhumah Oma dan juga masakan super enak dari Mama, “Masakh masakan Manado enak ala mereka ngga ada yang bisa ngikutin sih.”

Meskipun aku tahu persis, bumbu masakan Manado itu membuat yang masak menjadi menderita, dan “menangis”. Bagaimana tidak menitikkan air mata, isinya bawang merah bersiung-siung, bawang putih, cabai yang tak terkira jumlahnya, kunyit yang membuat tangan menjadi kuning. Tambah sengsara saat aku harus mengulek semua bumbu, karena Mama dan aku percaya, jika bumbu dihaluskan dengan food processor, rasanya tidak akan sama dengan hasil mengulek.

Masakan Manado pertama yang aku buat, adalah Ayam Rica-Rica. Lalu aku mulai mencoba mengganti daging ayam itu dengan daging tidak halal, dan jadilah Babi Rica-Rica. Maklumlah menu Manado sebenarnya jarang yang halal, namun karena tuntutan, mereka harus menyesuaikan, dan kalau hanya masalah daging, sangat mungkin untuk diganti dengan daging apapun. Masakan babi rica-rica khas Manado karyaku sendiri, aku buat karena pesanan dari temanku yang sedang hamil dan mengidam masakan ini.

“Gue masakin dech, gue masak enak lo.”

“Bener ya. Asik-asik.”

Akhirnya kami bertemu saat reuni. Sesuai dengan janjiku, aku membawakan masakan sesuai pesanannya. Dan kebetulan saat reuni itu, salah satu temanku, yang sudah belasan tahun menetap di Amerika, akhirnya kembali ke Indonesia, dan kebetulan ia juga berdarah Manado. Jadi tanpa diminta, aku juga membawakannya masakan karyaku. Dan hasilnya, mereka berdua suka sekali dengan apa yang aku masak.

Kebutuhan bisa memasak, tidak hanya untuk kepuasan batin saat aku bisa membuat orang lain senang, dan tentu membuat diriku sendiri juga senang. Namun untuk bisa survive, saat di rumah sedang tidak ada makanan, dan hanya ada bahan mentah. Urusan resep-resep, aku tak mencari secara khusus dari buku masakan. Kebanyakan aku tahu dari orang lain, atau lagi-lagi isengnya aku melemparkan bahan-bahan mentah dan bumbu kedalam wajan, dan bermodal indera pengecapku.

Salah satu menu yang aku dapat dari orang lain, dari tanteku sendiri, adalah Prime Sukiyaki Jamur Champignon. Aku hanya perlu melihatnya beberapa kali memasak masakan itu, dan tanpa catat mencatat, cukup mengandalkan photographic memory yang aku punya, aku mencobanya di rumah. Dan saatku ulang tahunku bulan lalu, aku memasakkannya untuk teman curhatku dan orang spesialku. Hasilnya si ibu hamil itu malah merasa porsinya yang aku bawakan kurang banyak. Menu ini, aku buatkan pula untuk Karin saat kami di Singapura, namun dagingnya aku ganti dengan daging ayam. Karin pun suka dengan masakanku.

Menu lain yang sedang aku eksplorasi lebih lanjut, dasarnya aku dapatkan dari salah satu acara memasak di televisi, yang tanpa disengaja aku tonton. Berhubung masakannya mudah, dan bahannya tidak terlalu sulit, maka aku mulai mencobanya. Namun berhubung aku tidak terlalu suka dengan daun parsley, yang termasuk di dalam bahan masakan itu, jadi aku mencoba untuk membuat variasinya. Sesuai dengan kreasi campur-campur ala diriku sendiri. Jadilah Prime Sukiyaki Brokoli Cream Cheese, enak banget, dan semua hasil masakanku, tanpa MSG. Bagiku bumbu-bumbu seperti bawang putih atau bawang merah dengan jumlah yang disesuaikan, cukup dapat menggurihkan makanan. Jadi tak perlu MSG ‘kan?

Mau ikut mencoba? Ini resepnya…

1. Bawang merah iris kecil-kecil (Jumlahnya sesuka hati, ikuti feeling)
2. Bawang putih iris kecil-kecil (Jumlahnya tentu sesuka hati, juga ikuti feeling)
3. Bawang bombay (Aku tadi memakainya setengah potong)
4. Knorr seasoning powder (Mudah-mudahan bisa ditemui di supermarket besar di Jakarta, ini satu-satunya bumbu masak yang aku bawa dari sisa masak-memasakku di Singapura, awal bulan ini. Dan setahuku merek Knorr sudah lama tidak masuk ke Indonesia)
5. Cream cheese
6. Lada hitam
7. Olive Oil Extra Light (Untuk memasak semua bahan)
8. Gula pasir
9. Sukiyaki prime
10. Brokoli

Masukkan minyak zaitun (olive oil) ke dalam wajan, tunggu hingga panas, lalu masukkan bawang merah, bawang putih, tunggu sampai harum. Kemudian masukkan bawang bombay setengah dari yang sudah di iris-iris. Tambahkan cream cheese, hingga leleh dan merata. Masukkan daging, dan tambahkan seasoning powder. Tunggu hingga daging matang. Masukkan bawang bombay sisanya lagi. Lalu masukkan sayurannya.

Mulailah mencicipinya, dan tambahkan bumbu-bumbu masakan yang ada. Berhubung di dapurku tadi ada Kikkoman, dan Saos Tiram, jadi itulah bumbu tambahannya. Coba rasakan kira-kira kurang apa, dan tambahkan, termasuk seasoning powder tadi. Gula pasir bisa diberikan, bisa tidak. Menurut Mama, gula pasir itu dapat membuat bumbu-bumbu yang digunakan jadi tambah meresap. Aku tidak menambahkan garam, karena bagiku cream cheese, Kikkoman, Saos Tiram, dan seasoning powder itu sudah cukup.

Jadi ingat perkataan Rachel Ray di acaranya, “I just throw everything in.”

“You’re right Rach.”

Di tulisanku sebelumnya aku mengajakmu untuk mencoba menulis, kalau sekarang…“Marrreeee masak!!!”

Sepenggal Kisah Dari Ujung Sulawesi Pada Akhir 2003…

Saturday, March 1st, 2008

Ini adalah awal mula dari semua perjalanan liburanku, yang tak pernah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.

September 2003, pekerjaanku saat itu masih sebagai seorang sekretaris divisi, di salah satu bank yang sekarang sudah dibeli oleh salah satu perusahaan Singapura. Sebagai sekretaris divisi, aku tidak hanya mengurus kepentingan satu orang saja, melainkan seluruh keperluan anggota divisi, termasuk urusan perjalanan dinas mereka, baik perjalanan dekat, maupun perjalanan yang jauh sekalipun.

Dua orang temanku akan melakukan perjalan dinas ke Makassar dan Manado. Saat itu, aku sedikit mengakhayal “Coba aku bisa ikut ke Manadonya ya!”.

Tak berapa lama kemudian, aku menelepon agen perjalanan yang menjadi langganan kantorku untuk memesan tiket untuk mereka dari Jakarta-Ujung Pandang-Manado-Jakarta.

Seringnya aku menelepon ke agen perjalanan itu, membuat aku sudah akrab berbincang-bincang dengan karyawan di sana. Sampai-sampai di tengah perbincangan aku dengan karyawan sana, yang sekarang aku lupa siapa namanya, berkata seperti ini “Eh Mbak Ocha ngga ikut ke Manado?”

“Ah ngga lah mbak, aku khan ngga dibayarin kantor, lagipula tiket ke sana mahal.”

Aku tahu persis harga tiket Jakarta-Manado-Jakarta, apalagi dengan maskapai andalan Indonesia itu. Kalau tidak salah tiket pulang pergi kelas ekonomi saat itu Rp.3.400.000, dan pilihan maskapai lain, belum sebanyak sekarang.

Lalu si mbak di ujung telepon sana memberiku jawaban yang mengagetkan “Ih, Mbak Ocha belum tahu ya, lagi ada promo nih mbak. Sekarang khan bukan high season. Harga promonya 1,2 juta mbak.”

Begitu mbak itu menyebutkan harga tiketnya, aku langsung berpikir “Wah, gue ambil juga apa ya. Bolak balik cuma 2,4 ini.”

Lalu aku kembali bertanya pada si mbak itu “Jadi pulang pergi 2,4 juta ya mbak?”

“Ngga mbak, 1,2 juta itu udah return ticket.”

“Aku ambil, book sekarang juga ya mbak!”

Dan dalam hati aku teriak “Hoooorreee, pergi juga ke Manado. Peduli amat, boleh ngga boleh cuti, gue pergi.”

18 September 2003, aku terbang juga ke Manado. Ini perjalanan pertamaku pergi sendiri naik pesawat, tanpa ditemani siapa-siapa. Penerbangan yang seharusnya jam 14.00, di tunda hingga 4 jam, karena cuaca buruk di Manado. Namun sisi baiknya dari tertundanya penerbangan itu, akhirnya pesawatku tak jadi transit di Ujung Pandang, dan langsung Jakarta-Manado.

Penerbangan aku tempuh sekitar 3 jam, sehingga tiba di Manado sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Sampai sana aku dijemput oleh 2 temanku yang dari Jakarta itu, dan satu teman kantor yang memang dari cabang Manado.

Sampai sana, kami langsung makan. Makan enak. Restoran seafood yang letaknya di pinggir pantai yang masih terletak di pusat kota Manado. Menunya utamanya adalah kepiting kenari. Aku tak tahu diolah bumbu apa, yang jelas enak, enak dan enak. Di sana satu kilo kepiting kenari ini dijual Rp.200.000an, dan kalau di Jakarta, ada restoran di daerah Kelapa Gading yang menyediakan menu ini, mematok harga Rp.1.000.000 perkilo. Harga tersebut, harga tahun 2003.

Sehabis kenyang, aku langsung ke hotel tempat teman-temanku itu menginap. Kamipun langsung terlelap. Aku lelah karena sehabis melakukan perjalanan jauh, dan cukup lama menunggu penerbangan di bandara Jakarta. Sedangkan teman-temanku, lelah karena paginya mereka harus presentasi dan memberikan pelatihan.

Hari berikutnya, 19 September 2003, salah satu temanku masih harus memberikan pelatihan. Namun aku, dan 2 temanku lainnya, akhirnya ke Tomohon. Daerah ini semacam daerah puncak di Manado. Daerah yang masih cukup berudara dingin, karena ini merupakan daerah dataran tinggi. Kami pun makan siang di salah satu restoran terkenal di sana. Namun kebanyakan makanan yang tidak halal yang disajikan di restoran ini. Aku rasa pada umumnya sudah mengenal istilah sate B2 dan B1 yang diolah menjadi masakan bernama RW itu bukan? Namun aku hanya menyantap sup kacang merah.

Sepulang dari Tomohon, kami kembali ke hotel, dan bersiap untuk santap malam. Santap malam kami lakukan di salah satu restoran di pinggir pantai lagi, namun bukan restoran yang sama dengan malam sebelumnya.

Satu kejadian aneh yang aku temui di sini. Biasanya jika kita ingin memanggil pelayan untuk menghampiri meja kita, kita memanggilnya dengan sebutan mbak atau mas. Namun tidak sama dengan di Manado. Cara kita memanggil pelayan untuk menghampiri meja kita dengan “Sssst, ssst!”. Sepertinya memang tak sopan, namun kata temanku yang asli dan tinggal di Manado dari kecil, memang begitulah cara memanggilnya, kalau tidak begitu, mereka tidak akan menoleh. Benar saja, saat kami bertiga yang bukan penduduk Manado, memanggil mereka dengan sapaan mbak, mereka tak menoleh sama sekali. Lalu kami mempraktekkan apa yang dianjurkan temanku, memanggil dengan “Sstt, sstt!”. Seketika mereka langsung menoleh.

Malam itu, kami berdiskusi ingin melakukan apa Sabtu dan hari Minggu itu. Ada dua pilihan, ke Bukit Kasih, atau ke Bunaken. Beruntunglah ada teman yang asli dan lama tinggal di Manado, jadi ada pemandu wisata di sana. Ia menjelaskan bahwa bukit kasih itu, adalah bukit yang mempunyai 5 tempat ibadah, dari 5 agama yang ada di Indonesia, dan semuanya berdiri sebelahan. Masjid, Gereja Protestan, Gereja Katholik, Pura, Wihara, yang masing-masing mewakili satu agama. Tempat ini dibuat sebagai simbol, memang seharusnya semua agama dapat hidup rukun, damai dan saling toleransi. Sedangkan kalau Bunaken, sepertinya tidak ada yang perlu dijelaskan lagi bukan?

Akhirnya Sabtu itu, kami memilih ke Bunaken. Untuk mencapai pulau ini, kami harus menaiki perahu motor, ataupun boat. Perahu motor harganya lebih murah, namun lebih lambat, dan bisa dinaiki lebih dari 10 orang. Sedangkan boat, hanya cukup sekitar 6 orang, lebih cepat dan tentu lebih mahal. Namun sebelum ke dermaga tempat menyeberang, ‘pemandu wisata’ dadakan kami, mengajak kami berputar-putar sebentar. Pertama ia membawa kami ke rumah seorang kenalannya yang biasa membuat nasi bungkus. Otomatis kami bertanya “Buat siapa nasi-nasi itu?”.

“Nanti kalian akan tahu gunanya”

Lalu kami mampir ke toko kue terkenal untuk memesan klaper tart, yang bisa dibawa ke Jakarta. Klaper tart yang akan dibawa ke Jakarta, mungkin karena kemasannya harus khusus, maka harus dipesan satu hari sebelum diambil. Di sana kembali satu hal aneh dilakukan teman kami yang satu itu, yaitu membeli berbotol-botol air mineral 1.5 liter. Kembali kami ‘orang-orang asing’ bertanya “Kok banyak banget belinya?”.

Jawabannya si Manado itu “Pasti ntar berguna deh.”

Kami terima diam dan menurut. Kunjungan berikutnya adalah restoran kepiting kenari itu. Lagi-lagi kami ingin membawa makanan enak itu ke Jakarta. Sama seperti klaper tart, harus dipesan satu hari sebelumya.

Setelah semua urusan perbekalan selesai, kami langsung ke dermaga. Kalau tak salah sekitar jam 12.00 WITA. Banyak juga rombongan wisatawan yang datang ke sana. Terutama wisatawan asing. Bahkan diantara mereka yang sepertinya sudah sering datang ke Bunaken. Mereka ada yang membawa perlengkapan menyelam sendiri, dan sepertinya mereka sudah pandai berbahasa Indonesia, bahkan lihai menawar biaya sewa kapal. Namun ada juga yang sepertinya baru pertama kali, dan dikenai biaya yang mahal.

Berhubung ‘pemandu’ kami orang asli, tawar menawar pun dilangsungkan dengan bahasa asli Manado. Kami tak tahu artinya apa. Biaya sewa boat, untuk kami berempat hanya Rp.200.000, satu kali jalan. Jelas harga itu lebih murah, karena harga itu termasuk ongkos si supir perahu, dan pemandu saat kami nanti di laut.

Penyeberangan kami lakukan kurang dari satu jam. Pertama-tama kami harus menepi ke pantai pulau Bunaken itu. Langsung mata ini disuguhkan pemandangan hamparan pasir putih nan bersih, yang luar biasa. Perahu tak bisa bersandar terlalu dekat tepi pantai. Kami dijemput dengan perahu yang lebih kecil untuk menepi. Barulah kami harus menyebur dan berjalan menuju pantai. Begitu kaki ini menginjak dasar laut yang sudah melandai, kami pun merasakan kelembutan pasir putih itu.

Ternyata tempat yang kami datangi itu adalah tempat penyewaan alat-alat snorkling. Tadinya aku enggan ikut menyewa, karena aku tak bisa berenang. Namun teman-temanku mencoba memberanikan aku untuk ikut snorkling. Akhirnya aku sepakat dengan mereka. Biaya sewa alat lengkap, setiap orangnya hanya Rp.50.000, dan tidak dibatasi waktu pemakaiannya, mau sampai kulit gosong di laut juga tak apa.

Sewa menyewa alat beres. Kami pun kembali ke tengah laut dengan boat. Selama perjalanan menuju titik snorkling, teman kami si Manado itu, membukakan nasi bungkus yang tadi dibelinya, sambil berkata kepada kami “Nih, makan siang dulu, di sini ngga ada yang jual makanan maupun minuman. Jadi harus bawa sendiri buat bekal.”

Titik terumbu karang yang paling indah ditunjukkan oleh si pemandu. Setelah sampai dan jangkar dilepaskan, kami pun bersiap-siap memakai peralatan. Kembali aku urung, karena takut. Namun melihat beningnya laut aku pun tergiur. Ikan-ikan yang berenang di lautan bisa terlihat bahkan saat kami memandanginya hanya dari pinggir boat. Akhirnya aku mau, tetapi saat mulai masuk ke air, ketakutan ini pun kembali ada, sehingga membawaku ingin kembali ke atas boat. Padahal salah satu temanku sudah berkelana berenang di sekitar boat kami. Niat kembalinya aku ke atas boat dilarang keras oleh salah satu temanku, “Cha elu harus berani, kapan lagi?”

Perlahan aku coba mencelupkan kepala ini ke air, dan mencoba melihat kondisi di laut dalam. Seketika aku berpikir “Buset dalem banget, tapi keren, keren abis, ada ikan napoleon pulakh.”

Tak lama kemudian, aku sudah berenang-renang di lautan itu. Si Manado temanku itu, tak ikut snorkling, ia tinggal di boat, dan berbaik hati menjaga barang-barang bawaan kami yang sangat banyak.

Begitu sampai di titik terumbu karang yang indah, aku pun kembali ditakjubkan “Ya Tuhan, bagus banget, cantik banget.”

Di titik itu banyak wisatawan asing yang tadi kami lihat di dermaga. Ada satu anak perempuan yang kata pemandu kami saat kami di boat, ia warga negara Australia, yang snorkling tanpa alas kaki khusus. Lalu aku tanyakan mengapa demikian, pemandu kami katakan ia sudah biasa datang ke sini, dan sudah sangat fasih berbahasa Indonesia.

Terumbu karang berbagai warna yang terang, sebagian ada yang menari-nari seakan menyambut kedatangan kami. Si Nemo berenang bersama kami, juga ikan-ikan lainnya yang beraneka warna. Ketakutan langsung sirna, dan berubah menjadi kegembiran dan pengalaman berharga, tak terlupakan. Saat itu, sinar matahari bersinar sangat terang, begitu terik dan saat di laut, kami sudah berpikir “Bodokh amat lah item bagian belakang doang, hahhaha.”

Setelah 2 jam bersnorkling ria, kami kembali ke boat. Rencananya untuk melihat titik lainnya.
Namun sayang langit sudah mendung, dan titik itu harus dilewati dengan menyeberangi putaran arus yang sedang sedikit kencang, selain itu sedang dipenuhi banyak bulu babi, yang beracun. Hingga kami diminta memutar menghindari kumpulan bulu babi dan putaran arus itu. Di titik ke-2 tak berlangsung lama, kami sudah kembali ke boat.

Melihat langit mendung, dan gelombang air laut yang nampaknya tidak setenang tadi, temanku menanyakan pada kami, apakah kami ingin kembali ke Manado, atau menginap di Bunaken saja?
Karena aku paling kecil di situ, jadi keputusan ada di tanganku. Aku memutuskan untuk menginap di Bunaken.

Bastianos Cottages tempat kami menginap. Tempat penginapan paling besar saat itu di sana. Tidak seperti biasa, harga sewa bukan berdasarkan jumlah kamar dan jumlah malam kami menginap. Namun harga sewa berdasarkan jumlah orangnya. Per kepala dikenai biaya Rp.125.000, berapa pun jumlah kamar yang dipakai. Biaya itu ternyata biaya makan tiap orang. Maklum jumlah hidangan sangat disesuaikan dengan tamu yang datang. Sore itu makanan untuk santap malam belum tersedia, tetapi kami sudah merasa lapar. Ingat ada sisa nasi bungkus dan air mineral yang tadi kami bawa, kami pun kemudian menyantapnya di depan kamar kami. Temanku si Manado itu tak ikut menginap di sini. Ia, pak supir boat, dan pemandu lautan kami pun kembali menyeberang ke Manado. Besok siang kami akan dijemput dengan boat lain, yang sudah diaturnya dengan orang Bastianos.

Kamar tidak dilengkapi kamar mandi dalam. Kamar mandi disedikan di luar kamar, jadi bisa digunakan oleh semua tamu. Tenang saja, kamar mandi di luar disedikan cukup banyak. Kalau tidak salah setiap tiga deret kamar ada dua kamar mandi.

Hal lucu aku temui di sana. Saat ingin mandi. Aku mencoba menyalakan lampu dan juga keran kamar mandi. Ternyata semuanya tidak berfungsi. Lampu dan air belum menyala. Aku pun menanyakan pada pihak pengurus tempat penginapan. Ia pun menginformasikan bahwa di sana listrik baru dinyalakan setelah jam 18.00 WITA. Pasokan listrik di sana masih terbatas ternyata.

Makan malam tersedia sekitar pukul 19.00 WITA. Hidangan yang disajikan adalah hidangan laut. Terus terang menunya aku lupa, yang jelas enak, atau mungkin karena saat itu kami lapar dan lelah karena bersenang-senang di laut seharian. Penyusunan ruang makan tidak seperti ruang makan hotel pada umumnya. Penyusunannya hampir menyerupai tata ruang makan di rumah. Sangat kekeluargaan. Ada sofa-sofa panjang, ada meja di tengah, dan di sana dilengkapi dengan televisi. Antar tamu yang tadinya tidak saling kenal, akhirnya bisa akrab dengan mudah.

Kamar kami langsung menghadap laut, jadi semilir angin saat kami duduk-duduk di teras depan kamar juga sangat terasa. Dingin dan segar, tanpa polusi. Hei, hidungku bersih dari cairan karena sinus. Kami bertiga akhirnya ngobrol-ngobrol di teras sampai kaki ini tak tahan digigiti oleh nyamuk.

Kami masuk kamar, di sana disediakan satu ranjang besar dan satu ranjang ekstra, yang sedikit agak lembab. Akhirnya kami memilih tidur bertiga di ranjang yang besar. Di kamar ternyata tidak terbebas dari nyamuk, tapi untungnya di kamar disediakan kelambu yang bisa melindungi kami dari gigitan nyamuk. Satu pengalaman baru lagi, tidur dengan kelambu.

Esok paginya, setelah sarapan, boat yang akan mengantar kami telah siap.

“Selamat tinggal Bunaken.”

Kami dibawa dengan perahu kecil untuk menuju boat yang berada di tengah laut. Ukurannya lebih besar daripada yang kemarin. Kami bisa duduk-duduk di bagian depan sambil menikmati angin laut dan melihat lumba-lumba yang ikut berenang di sebelah kiri dan kanan boat yang kami tumpangi. Indah sekali. Sangat menakjubkan.

Dermaga tempat kami mendarat tidak sama dengan kemarin. Dermaga yang sekarang letaknya sedikit di luar kota Manado. Tepatnya di dermaga Hotel Sheraton. Di hotel itu kami sudah di jemput teman kami si Manado itu. Semua pesanan kami untuk oleh-oleh ke Jakarta, ternyata sudah lengkap ada di mobil.

Tidak ada tempat lain yang bisa dikunjungi lagi. Mengingat saat itu sudah tengah hari, dan penerbangan kami menuju Jakarta pukul 14.00 WITA. Kami pun langsung menuju bandara. Sedihnya penerbangan juga harus ditunda. Hal itu karena Manado kembali diguyur hujan deras. Pesawat dari Ujung Pandang yang rencananya akan mengangkut kami, tidak bisa mendarat di Sam Ratulangi, dan harus kembali ke Sultan Hasanuddin Ujung Pandang. Padahal sudah sampai Manado lo, karena jarak pandang landasan terlalu pendek, mau tidak mau harus memutar balik. Kembali aku harus menunggu lebih dari 4 jam. Sampai para penumpang diberi makan malam ekstra oleh pihak maskapai.

Sekitar pukul 19.00 WITA, pesawat kami pun diberangkatkan. Tidak langsung Manado-Jakarta, melainkan Manado-Ujung Pandang-Jakarta. Transit di Ujung Pandang tidak lebih dari 30 menit.
Kami pun kembali ke kota yang penuh dengan polusi ini lagi sekitar pukul 22.00. Dengan membawa satu loyang klaper tart, kepiting kenari yang super enak, berjuta pengalaman baru, dan rasa senang yang tak terdefinisikan.

Ya, begitulah cerita liburanku waktu itu. Selanjutnya hingga tahun ini (2008) liburanku tak pernah direncanakan jauh hari sebelumnya. Paling lama satu seminggu sebelum keberangkatan.

Terima kasih buat Hao, yang sudah menjadi pemandu wisata kami selama kami di Manado. Terima kasih juga buat keluargaku yang sudah pasrah mendengar perkataanku “Ma, aku lusa ke Manado ya.”

atau “Besok aku ke Bandung ya 4 hari.”, “Besok aku jalan-jalan ke Bali ya.”, “Nanti malem aku terbang ke Bali ya.”

Untuk semua yang membaca, semoga informasi di atas berguna. Harga-harga yang tercantum di atas dan juga semua informasi itu, adalah apa yang aku alami tahun 2003, yang pastinya berbeda dengan sekarang-sekarang ini. Jika ada yang mau memberi informasi tambahan, sangat diharapkan.

Informasi menyedihkan yang sempat aku dengar, bahwa terumbu karang di sana semakin rusak. Mudah-mudahan tidak bertambah parah esok-esok hari. Semoga para wisatawan dan semuanya saja, dapat menjaga habitat mereka dengan baik. Tidak merusak, tidak mencoba memindahkan mereka ke akuarium-akuarium di rumah-rumah, tidak membuang sampah di lautan. Semuanya itu untuk kita juga pada akhirnya.

Selamat berlibur teman-teman. Manado bisa menjadi salah satu tujuan yang perlu dimasukkan daftar rencana liburan. Itupun kalau liburan kalian direncanakan sebelumnya, hehehee.

Seperempat Manado, Tiga Perempat Jawa…

Thursday, February 28th, 2008

Terlahir dari ayah seorang Jawa tulen, dan ibu yang merupakan campuran Jawa dan Manado. Itulah aku.

Ibuku yang sangat pandai memasak, walau semakin beliau tua, semakin jarang ia memasak untuk kami. Kami berlangganan katering untuk keperluan makan sehari-hari. Namun katering itu biasanya hanya bertahan sampai sore hari, sedangkan malam mau tidak mau ibu menyediakan makanan untuk kami sekeluarga, walau sangat sederhana.

Tak diragukan, masakan beliau, sangat lezat. Apapun yang dimasaknya, sesederhana bahan-bahan dan bumbu yang diolah, tetap akan terasa lezat. Ya, mungkin karena masaknya juga dengan cinta, jadi rasanya pun berbeda.

Apalagi jika menjelang hari raya natal. Saat hari besar itu, dulu, semua adik-adik ibu yang berada di Jakarta, datang ke rumah kami. Maklum, ibuku anak paling tua di keluarganya, jadi rumah kami, biasanya jadi kunjungan utama tali silaturahmi semua keluarga yang ada di Jakarta. Hampir tidak ada yang absen pada acara itu, dan sebelumnya mereka sudah menelepon menanyakan masak apa di hari natal itu.

Jika dilihat dari garis keturunan ibuku, sebenarnya beliau lebih sering mengaku orang Jawa, karena ayah beliau yang orang Jawa tulen, barulah ibu beliau orang Manado tulen. Namun tak tahu mengapa, dari waktu ibu masih di rumah orang tua beliau, masakan yang sering menjadi menu utama di rumah adalah masakan Manado. Jarang sekali mereka memasak masakan Jawa, padahal mereka saat itu masih tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Kebiasaan inilah yang juga turut dibawa saat ibu pindah ke Jakarta.

Dari kecil di rumahku sering sekali tersedia masakan Manado, dari pada masakan Jawa. Semua menu masakan Manado ini, lengkap hadir di meja, saat perayaan Natal di rumah. Sebut saja ayam rica-rica, sup kacang merah dan ‘daging’ kecap yang keduanya mengandung daging haram bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, bubur manado lengkap dengan ikan asinnya, ikan roa, tinorasak, kecuali RW, karena kami sekeluarga pencinta dan memelihara binatang yang dagingnya menjadi bahan utama masakan ini. Oh ya tak ketinggalan sambal dabu-dabu. Sayang klaper tart tak pernah dibuat oleh ibu, padahal aku juga suka.

Waktu kecil aku tidak suka masakan pedas. Ayam rica yang diolah, biasanya aku makan tanpa cabai-cabai yang bertebaran di atasnya, jadi rasanya tak terlalu pedas. Begitu pun juga dengan sambal dabu-dabu, dulu aku tak berani menyentuhnya, tak tahan lidah ini menggigit cabai rawit, cabai merah, yang dilengkapi dengan bawang merah, tomat hijau dan merah ini. Namun karena masakan-masakan seperti itu sering tersedia di rumah, dan saat aku melihat orang-orang menyantapnya tampak menggugah selera, aku jadi berani mencoba makanan yang menggunakan bumbu-bumbu super pedas itu dan juga sambal dabu-dabu. Terbakar memang lidah ini saat menyantap makanan-makanan tersebut. Namun rasa enaknya menghapus penderitaan terbakarnya lidah.

Sambal, pedas, sambal, pedas, sekarang tak ragu lagi aku santap. Penggugah selera, penambah napsu makan, enak, dan yang jelas merupakan salah satu bukti cinta ibuku kepada keluarga.

Besok bikinin sambal dabu-dabu lagi ya maaa…heheheh…nyam-nyam-nyam…