Posts Tagged ‘Gelar Diskon’

Gaya, Cantik, Asli, Gak Malu-Maluin…

Tuesday, January 5th, 2010

Perempuan mana sih yang tidak suka tampil gaya dan cantik?

Apapun caranya, setiap perempuan ingin tampil cantik, mempunyai gaya tersendiri, dan enak dilihat oleh orang lain. Ada yang mengandalkan riasan wajah dan ada pula yang mengandalkan busana. Yah, walaupun keduanya adalah hal yang mampu membuat si perempuan merelakan sebagian kecil, bahkan sebagian besar, penghasilannya sendiri, atau penghasilan pasangannya sebagai modal berpenampilan aduhai setiap harinya.

Saya, sebagai perempuan (yang kebetulan hanya urusan hardware dan casing-nya), termasuk sangat peduli untuk urusan penampilan. Tapi andalan saya bukan di urusan rias wajah, melainkan busana dan printilan fesyen yang saya gunakan tiap hari.

Riasan wajah hanya akan menempel lengkap di wajah saya, saat saya akan pergi ke pesta, terutama pesta pernikahan. Sedangkan riasan harian, saya hanya mengandalkan pelembab wajah Seaweed dari The Body Shop, dan bedak tabur, Marcks, buatan Kimia Farma, yang harganya kurang dari Rp.10.000 yang kebetulan dianjurkan dokter kulit saya. Jadi bisa dibilang, penghasilan saya tidak akan banyak “lari” ke peralatan dan perlengkapan tata rias wajah. Produk dari The Body Shop dan Revlon, yang mendominasi koleksi peralatan dan perlengkapan tata rias wajah saya, cukup awet, dan bahkan ada yang akhirnya saya relakan untuk dibuang, karena takut sudah terlalu lama, dan sudah tidak laik pakai.

Lain produk make up, lain pula urusan fesyen dan printilannya. Yang satu ini, terus terang cukup “menyiksa” penghasilan saya, walaupun saat ini, saya sudah lebih bisa menahan diri untuk belanja ina-ini-itu yang sangat-sangat tidak penting. Tapi teteup benda tidak penting (saat ini) kadang pun terbeli. Dan saat-saat paling menyiksa adalah tengah tahun dan akhir tahun, di mana pesta diskon digelar beramai-ramai. Termasuk merek-merek andalan Mango, Zara, (X) SML, Invio, dan G2000.

Dan hari terakhir di tahun 2009 lalu, saya pun merelakan sekian gaji saya terlempar ke butik yang saya sebutkan di atas.

Tema perburuan hari itu adalah outfit untuk ngantor, karena saya sudah mulai bosan dengan koleksi baju kantor saya.

Perburuan dimulai dari Plaza Semanggi, karena saya tahu di sana ada butik Invio dan gerai G2000, yang saat ini masih jadi andalan saya mencari baju-baju untuk ngantor. Satu sih yang jelas, mengapa saya memilih dua merek itu, karena ada ukuran saya, si skinny ini. Dan modelnya yang dikeluarkan oleh dua merek tersebut, masih bisa saya katakan cocok untuk digunakan ngantor di toko saat ini. Karena belum kembali diizinkan Tuhan sebagai penghuni gedung-gedung perkantoran megah di daerah Sudirman dan sekitarnya, jadi, koleksi seperti Zara Woman, Raoul, belum saatnya saya jadikan koleksi pakaian ngantor, walaupun koleksi Mango Suit sudah ada yang tergantung di gantungan pakaian di kamar saya.

Tapi dari butik-butik andalan saya mencari baju ngantor, saya hanya membeli 1 kemeja kotak-kotak merah di Invio, dari harga Rp.368.000 menjadi Rp.184.000. Dan karena saya berpikir, “Ngecek Mango ahhh.”

Selesai sudah urusan belanja-belanji akhir tahun? Gak mungkin, lah wong saat saya melirik jam tangan, masih jam 11.00 pagi.

Perburuan dilanjutkan ke Plaza Senayan. Ada Mango, ada Zara. Walaupun ada pusat perbelanjaan lain seperti Grand Indonesia dan Pondok Indah Mall, di mana dua butik Spanyol itu ada. Tapi tak tahu kenapa Plaza Senayan tetap menjadi pilihan nyaman saya untuk belanja.

Setelah beberapa putaran, mengitari dan melihat-lihat di Zara, saya bisa terselamatkan dari tentengan belanjaan di butik ini.

Tapi tidak di Mango. Padahal saya hampir putus asa saat mengitari Mango. Mungkin karena display barang diskon yang banyak dan sedikit terlihat lebih berantakan, biasanya membuat saya sedikit kehilangan mood belanja.

“Dem, gue lagi nyari celana ini, kok ga ada yang bagus ya. 34-nya kemana semua ya? Jangan bilang dah abis, ini kok yang ada yang gede-gede sih, 38, 40, yang kecil maneee,” kira-kira itu perbincangan saya dengan diri sendiri, sampai saya berbincang dengan penjaga butik…

“Mbak, ukurannya tinggal yang di sini?”

“Iya.”

Kembali berbincang dengan diri sendiri…

“Denial, kayak baru sekali belanja ke Mango, ya kalo diskon ukurannya cuma yang dipajang, Cung!”

Dan kembali saya menggeser-geser deretan celana panjang yang tergantung di sana…

“Eh, nih dia nih yang waktu itu gue incer, masih ada pula 34 nya. Yang waktu itu kacrut harganya, 1 jeti lebih. Sekarang berapa ya? Eh, kok jadi 399 ya, tapi kok kayaknya kegedean. Coba dulu ah.”

Sambil menuju ruang ganti, saya kembali menggeser deretan gantungan celana di sana, dan…

“Jrit, Mango Casual Sport pulakh ini. Berapa sekarang? What 179 dari 600 rebu lebih? Coba juga aaahh.”

Dan saat mencoba…

“Weiitss…pas niy, tapi nih kaki kepanjangan deh,” lalu saya pun sambil masih mengenakan celana yang saya coba, keluar dari ruang coba, untuk melihat jatuh si celana itu, karena di depan deretan ruang coba di Mango, terdapat satu cermin besar tak ada potongannya dari ujung ke ujung tembok.

Kebetulan di sana ada pramuniaga yang menjaga…

“Mbak, masih bisa alter celana ga sih?”

“Masih.”

“Tapi lama ya, 2 minggu?”

“Gak kok, paling 4 harian.”

“Mau dounks mbak yang ini bisa khan dipotongin, kalo ga potongin di sini, ntar modelnya ilang.”

Yupe…dan 400 ribu pun sudah bisa dipastikan masuk ke POS kasir si Mango.

Berikutnya si Mango Casual Sport Wear. Saya pun berharap, jatuhnya si celana yang satu ini tidak bagus. Tapi harapan saya ternyata tidak terwujud. Celana warna kakis, berbahan kordorai halus dan berpinggang tinggi, ini pun jatuh manis di kaki saya.

Kembali saya keluar dari kamar coba, dan bertanya pada si pramuniaga…

“Mbak ini khan modelnya agak lebar di bawah ya, ga lurus. Terus bawahnya tekukan celananya ga biasa kayak celana lain, kalo dipotongin modelnya masih sama ga?”

“Bentar saya coba tekuk dulu ya, sesuai dengan panjang kaki, Mbak.”

Pramuniaga itu pun kembali mengukur panjang celana yang disesuaikan dengan panjang kaki saya…

“Masih bisa nih Mbak, modelnya ga ilang kok.”

Dan, sudah tahu ya apa yang terjadi kemudian? Hahahaha…Dua celana tersebut berhasil saya bawa pulang, setelah nanti selesai divermak.

Saya pun berkata dalam hati…”Puas gue belanja hari ini.”

Cerita saya selesai sampai sini? Belum… :mrgreen:

Mungkin di antara teman-teman yang baca cerita ini, ada yang berkata dalam hati…”Sombong, sampai nunjukkin harganya segala.”

Saya akan jawab, “Terserah ya mikirnya apa.”

Tapi sebenarnya yang saya ingin tunjukkan di sini adalah, belanja di butik mahal itu bisa juga jadi murah, asal pintar memilih barang, waktu dan disesuaikan dengan keuangan + kebutuhan (klasik sih memang).

Dan hal yang lebih penting lagi, bagi saya pribadi, orisinalitas produk adalah suatu hal yang penting. Pertama, penghargaan terhadap karya seseorang; Kedua, jika produk asli tidak sanggup dibeli, ya tidak perlu mencari produk serupa tapi tidak asli, atau KW 1, KW 2 atau KW berapa pun. Lebih baik cari barang asli, dengan harga yang terjangkau, atau menunggu datangnya program diskon untuk barang-barang yang memang sangat mahal. Dari perburuan program diskon, saya pernah loh mendapatkan rok jeans Oakley dari harga Rp.1.200.000 menjadi Rp.200.000, sack dress berbahan wool Mango Suit dari Rp.1.100.000 menjadi Rp.800.000, sackdress Mango Sport Casual Wear dari Rp.800.000 menjadi Rp.600.000 (*Eh, yang dua terakhir ini ga pake duit gue ndiri ding, ada yang sukarela belanjain*:lol:), sackdress hitam Zara dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, sackdress hitam Mango dari Rp.700.000an menjadi Rp.200.000an, overall skirt Mango Jeans dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, high heels Zara dari harga Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, Guess hand bag dari Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, dan belanjaan yang terakhir, celana panjang Mango Suit dari harga kisaran 1 juta, menjadi Rp.399.000 dan celana Mango Sport Casual Wear dari kisaran harga Rp.600.000 menjadi Rp.179.000. Dan jangan salah, saya pernah iseng masuk ke butik Raoul saat diskon, banyak loh koleksi mereka yang dijual dengan harga Rp.300.000an, walaupun saat itu saya tidak membelinya, karena saya masih kuliah;  Ketiga, barang asli memang biasanya mahal, tapi kualitasnya juga pasti berbeda, setidaknya dari ketahanan barang tersebut, jadi urusan awet (yang harus didukung dengan kondisi penyimpanan dan pemeliharaan), biasanya tidak perlu diragukan lagi, kecuali kalau ukuran tubuh kita yang mengalami perubahan; Keempat, jangan pernah takut keluar-masuk butik, tentunya butik yang kisaran harga barang yang dijual di sana, memang sesuai dengan keuangan kita.

Saya belum mampu membeli produk-produk sekelas Prada, Louis Vuitton, Burberry, Jimmy Choo, Christian Louboutin, Chanel, dan saya tidak akan mencari barang tiruannya, apalagi memakainya.

Jadi, perempuan tetep bisa berpenampilan gaya, cantik, dengan barang-barang bermerek terkenal dengan harga terjangkau ‘kan? Jangan malas berburu diskon, salah satu kuncinya.

By the way, tante saya punya cerita tentang seseorang dan barang KW ini.

Tante saya ini adalah penggemar dan kolektor fanatik Louis Vuitton, dan Puji Tuhan, saat ini ia masih diberi rejeki yang memampukannya belanja merek tersebut di negara asalnya, bahkan namanya sudah terdaftar menjadi pelanggan butik LV, yang berada di Paris, Perancis.

Saat ia sedang belanja di sana, tiba-tiba ada orang Indonesia, yang dengan nekatnya masuk ke dalam butik, sambil menenteng satu tas merek tersebut, tapi bukan tas LV asli, melainkan yang KW kesekian. Dan seketika salah satu penjaga butik, memanggilnya dan menjelaskan untuk tidak memasuki butiknya dengan membawa barang yang bukan asli. Ternyata mereka sudah sangat ahli membedakan, mana produk asli dan mana yang tiruan. Tidak hanya memanggil si ibu tadi, tapi kemudian ibu tadi diberi tas plastik kresek warna hitam, tanpa nama apapun di depannya, ia diminta untuk memasukkan tas LV-LVannya itu tadi ke dalam tas plastik tersebut, dan kemudian ia diminta untuk meninggalkan butik segera.

Berarti satu lagi lah ya…perempuan harus bisa tampil gaya, cantik, dan tak malu-maluin karena ketauan memakai barang KW atau barang tiruan.

Jadi buat mereka yang mendapat rezeki ke Perancis, dan nekat bawa tas LV yang tiruannya, jangan nekat juga ya masuk ke butik LV di sana. Jangan bikin malu…hihihihi… :mrgreen:

Saya Benci Tengah Tahun…

Sunday, July 5th, 2009

Hmmm…ya, ya, ya, saya benci tengah tahun. Apalagi kalau bukan urusan program diskon belanja yang sedang bertebaran di Jakarta. Program Jakarta Great Sale ini memang menjadi acara tahunan untuk memperingati hari jadi ibukota yang sudah sangat sesak dan tak karuan ini.

Namun anehnya kesesakkan kota Jakarta, tak tercermin pada pusat-pusat perbelanjaan yang menjajakan program diskon. Berdasarkan hasil observasi saya beberapa hari berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, butik-butik ternama yang sudah menuliskan besar-besar program diskon di etalase mereka, cenderung tak disesaki pengunjung seperti tahun lalu. Setidaknya ini terbukti dari dua butik dari Spanyol, Mango dan Zara yang merupakan butik kesayangan saya.

Dalam minggu ini, saya sudah 3 kali berputar-putar mengelilingi pusat perbelanjaan yang terdapat dua butik andalan saya itu. Herannya saat saya memasuki butik-butik itu, ramainya pengunjung yang memadati butik sambil memilih-milih fashion item yang dijual, antrian di kamar ganti dan di kasir, bisa dikatakan tak ada, ditambah dengan koleksi barang mereka yang masih banyak macam dan ukurannya, membuat saya menyimpulkan bahwa situasi butik saat itu sama saja dengan saat mereka tidak mengadakan program diskon.

Bagi saya kondisi seperti itu sangat menyenangkan, ada diskon tapi tak ramai, ukuran dan model juga masih banyak. Kurang apa coba?

Lalu kenapa saya benci tengah tahun? Bukannya harusnya saya senang? Memang seharusnya saya senang karena bisa belanja barang kesukaan dengan harga (lebih) murah. Tapppiiii kalau ingat urusan finansial, program diskon yang bertebaran itu dapat seketika menghancurkan rencana finansial yang sudah diatur masak-masak setelah gaji masuk ke rekening (“Hyyyaaaahhhh…! Buyar semua.”)

Mereka seolah tak ada hentinya memanggil-manggil saya untuk masuk ke butik. Menyebalkan memang.

“Okay, gue masuk aja. Liat-liat. Jauhi ruang ganti.”

Saat berjalan-jalan…

“Anjrit, XS, lucu, ha dari segitu jadi tinggal segitu? Yang buener? Coba aaakkhh.”

Dengan harapan bahwa jatuh duduknya dari apa yang saya coba itu, tidak cocok saya kenakan.

“Damn! It’s good on me.”

Minggu ini saya berhasil membawa pulang 1 kemeja putih lengan pendek dari butik (X)S.M.L yang merupakan label desainer ternama Biyan, 1 Dress Beach (nama sesuai apa yang tercantum di tag yang menggantung pada pakaian) dan 1 celana panjang berbahan kordorai warna coklat tua, yang keduanya dari Mango. Kali ini Zara tidak berhasil membuat saya membawa pulang salah satu koleksinya. Eh, mungkin bukan tidak berhasil, tapi belum berhasil.

(X)S.M.L juga sudah menjadi salah satu inceran saya saat berbelanja sejak beberapa tahun lalu. Koleksinya yang cenderung bergaya kasual tapi tetap elegan, memungkinkan untuk digunakan pada saat momen apa saja, termasuk memungkinkan untuk dipakai ke kantor dengan dipadupadankan fashion item lainnya milik kalian, jika ingin terlihat sedikit lebih formal. Belum lagi pilihan bahan yang sangat nyaman digunakan.

Begitu pun juga dengan kemeja putih yang saya beli beberapa hari lalu. Sayangnya saya tak tahu kemeja ini terbuat dari bahan apa, tapi saya tahu harga asli kemeja ini yaitu Rp.399.000, dan saya membawanya pulang hanya dengan harga Rp.219.000.

Dua koleksi Mango yang berhasil saya bawa pulang, juga tak kalah bersaing dari segi harga. Mango sendiri membagi-bagi koleksinya ke dalam beberapa kelompok lagi, misalnya Mango Suit, Mango Jeans, Mango Casual Sport Wear, Mango Basics, Mango Touch (asesoris), Mango-Penélope & Monica Cruz (limited editions), dan lain-lain. Dari segi harga, kalau saya tidak salah, Koleksi Penélope & Monica Cruz dan Mango Suit termasuk di jajaran yang paling mahal, Mango Casual Sport Wear dan Mango Jeans berada di tengah-tengah, dan Mango Basics termasuk di kelompok harga yang paling murah.

Dari kelompok-kelompok itu, Mango Casual Sport Wear dan Mango Basics-lah yang mendominasi koleksi Mango saya, disusul dengan Mango Jeans, dan hanya 1 koleksi Mango Suit saya (sack dress abu-abu berbahan wol, hasil belanja dengan seseorang akhir tahun lalu, yang sempat saya pakai saat sidang skripsi).

Dan minggu ini saya kembali menambah koleksi Mango Casual Sport Wear dan Mango Basics saya.

Dress Beach (terusan) yang saya beli ini, berlengan pendek, berwarna biru tua, dan terdapat ikat pinggang sama dengan bahan bajunya,  termasuk dalam Mango Casual Sport Wear. Sesuai dengan namanya, memang modelnya terlihat kasual dan sporty, tapi menurut saya, baju-baju di deretan kelompok ini masih bisa digunakan ke kantor, asal kalian pintar untuk memadumadankannya. Untuk urusan harga, harga asli rok terusan ini adalah Rp.679.000, dan harga setelah didiskon adalah Rp.419.000. Koleksi Dress Beach ini terdiri dari warna khakis, ungu, biru tua, dan putih. Di Mango Plaza Senayan ukuran dan warnanya masih lebih banyak, sedangkan di Mango Pacific Place, hanya tinggal sedikit.

Sedangkan celana kordorai berwarna coklat (“Hhssssshhh, mengingatkan saya akan seseorang yang juga suka dengan celana kordorai, apalagi dengan warna gradasi dari khakis hingga coklat tua!”), merupakan koleksi Mango Basics. Harga asli celana tersebut adalah Rp.329.000 dan saya bawa pulang dengan harga Rp.149.000. Celana model ini terdiri dari beberapa warna: lila, hitam, khakis, dan coklat. Saya tidak menemukan model ini di Mango Plaza Senayan, tapi di Pacific Place masih tersedia banyak warna dan ukurannya. Ssssttt…saya juga melihat ada beberapa jeans yang dijual hanya dengan harga Rp.149.000 dari harga aslinya berkisar Rp.500.000 hingga Rp.700.000, sayangnya saya sedang tidak perlu menambah koleksi jeans saya. Untuk memastikan bahwa saya tidak salah lihat, kalian coba saja ke sana (“Hihihih, ngomporin belanja nih!).

“Gimana gue bisa nolak? Ha, ha, ha? Tak mungkin.”

Dan setelah belanjaan celana kordorai itu saya bawa pulang, diri ini berjanji untuk tidak berbelanja lagi, setidaknya untuk bulan ini (“Kok, ragu?”).

Berbicara tentang ukuran badan yang Puji Tuhan hingga saat ini masih memungkinkan dan membahagiakan saya untuk mengenakan ukuran XS, Mango, Zara dan (X)S.M.L itu menjadi butik-butik inceran saya saat saya berbelanja, juga karena mereka menyediakan ukuran tersebut. Dan karena sudah biasa dengan koleksi mereka, saya sempat beberapa kali membeli tanpa mencobanya.

Satu tip dari saya, jika ingin membeli fashion item tertentu jangan lupa berpikir dan mengingat-ingat sejenak koleksi-koleksi di rumah, yang memungkinkan untuk dipadupadankan dengan barang yang akan dibeli, jangan terlalu jadi impulsive buyer ya.

Ya sudah, mumpung diskon masih bertebaran, belanja-belanji gih! Lalu, kartu kredit yang sudah kosong jangan sampai penuh lagi ya (“Inget tuch ‘Cha! Huahahaha.”).

Jadi, sekali lagi nih saya katakan…Tak perlu berbelanja sampai Singapura ‘kan?

—-

“Jadi kangen sama seseorang dan seseorang teman belanja setia, sekaligus fashion stylist saya, yang juga doyan banget belanja dan sering kartu kreditnya over limit. Huh, kalian cowok doyan belanja juga ya bouw!”

—-

Eh satu lagi, yang membuat saya benci tengah tahun, film bioskop lagi banyak yang bagus (“Tambah bikin bangkrut!”). Besok, eh nanti siang tepatnya, waktunya Ice Age 3 (“Yay!”).

Tak Perlu Berburu Sampai Ke Singapura…

Sunday, June 29th, 2008

Ajang Singapore Great Sale mungkin sudah tak asing terdengar oleh telinga kita. Namun, apakah telinga kamu masih asing mendengar Jakarta Great Sale?

Mungkin sedikit terdengar meniru Singapura, namun pesta diskon yang diselenggarakan di Jakarta tak kalah menarik dengan Singapura, ya walaupun aku baru sekali bertandang ke Singapura saat Singapore Great Sale ini diselenggarakan.

Juni, bertepatan dengan ulang tahun kota Jakarta, PemDa Jakarta berusaha untuk lebih memeriahkan kota, jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Acara tahunan seperti Pekan Raya Jakarta dan Jakarta Great Sale ini digelar sebulan lamanya. Surga belanja bagi para shopaholic atau impulsive buyer. Segala daya upaya dilakukan untuk dapat membeli barang kesukaan yang belum tentu diperlukan. Pernyataan seperti biasa yang terlontar oleh para maniak belanja yaitu “Mumpung diskon.”

Memang benar, tengah tahun sepertinya waktu tepat untuk berbelanja. Untuk membuat PemDa Jakarta menambah pemasukan daerah lebih dari biasanya. 

Tak usah banyak omong, aku hanya ingin menyampaikan pandangan mata, sebagai salah seorang penggila belanja yang selalu berusaha menahan diri, namun lebih sering gagal, dan terjerumus oleh iming-iming diskon.

Inilah hasilnya:

Zara: Diskon hingga 50 %, namun hati-hati untuk mereka yang tak terbiasa memakai merek ini. Mereka tak memperbolehkan untuk melakukan fitting. Diskon baru dimulai hari Kamis, 26 Juni 2008 jadi barang bagus mungkin masih banyak. Untuk mereka yang beratnya di bawah 45 kg, bisa memakai ukuran XS, untuk dress, dan bisa ukuran S untuk baju-baju seperti kaus. Untuk celana panjang maupun jeans, agak sulit menetukan ukuran yang pasti, karena sangat tergantung dengan bahan dan model celana itu sendiri. Harga dress cukup mendapat potongan harga yang besar listed price sekitar 700 ribuan menjadi 300 ribuan.

Mango: Diskon hingga 70% dan boleh fitting, tapi diskon sudah dimulai 1 minggu sebelum Zara. Jadi untuk mendapatkan barang yang bagus dan sesuai ukuran sudah semakin sulit. Barang yang mendapat potongan harga besar adalah barang-barang seperti kaus harian. Sedangkan untuk busana resmi seperti sack dress potongan harga tak terlalu jauh, cth: dari 500 ribuan menjadi 400 ribuan saja.

Debenhams: Diskon hingga 70%.

MPhosis: Sepertinya tidak ada diskon.

Top Shop dan Top Man: Tidak ada potongan harga, namun ada penawaran khusus seperti beli satu gratis satu.

Raoul: Ada barang-barang tertentu yang di diskon hingga 70%

Banana Republic: Diskon hingga 70%

Sports Station: Sepertinya diskon hingga 50%

Tomodachi Restoran: Diskon 50% dengan memakai kartu kredit tertentu.

Optik Melawai: Diskon 20%.

Dan menurut berita di surat kabar, pusat perbelanjaan yang mengikuti Jakarta Great Sale ini antara lain Pacific Place, Puri Indah Mall, Pondok Indah Mall, Senayan City, Plaza Senayan, Plaza Semanggi.

Namun jika ada kesalahan peserta Jakarta Great Sale ini, dan teman-teman mengetahuinya, silakan diralat, atau jika ada yang ingin membagi informasi potongan harga yang diselenggarakan toko-toko yang belum disebutkan di atas juga silakan ditambahkan. 

Bagi mereka yang tak berencana liburan ke luar kota dan juga memiliki hobi belanja, sepertinya ajang diskon ini dapat dijadikan alternatif pengganti liburan yang notabene sebagai penghilang stres, begitu pun juga belanja, yang bisa mengatasi kepenatan (walau kadang hanya sebentar, saat kita belum sadar bahwa kita belanja terlalu banyak). 

Selain itu, belanja di Jakarta, tak perlu mengeluarkan biaya tiket pesawat (buat mereka yang tinggal di JaBoDeTaBek dan mungkin juga Bandung) apalagi fiskal, jadi tentu lebih hemat.

Saranku jika ingin liburan, carilah tempat yang mempunyai kekhususan atau keunikan lainnya selain hanya untuk tempat berbelanja. Misalnya Bali yang punya nilai plus sebagai tempat menyenangkan wisata air.

Tips satu lagi, perhatikan sms yang dikirim langsung ke ponsel kamu, dari para penerbit kartu kredit tertentu, biasanya ada preview sale untuk para pemegang kartu kredit. Kamu bisa diuntungkan, karena dengan preview sale ini bisa mendapat barang bagus, ukuran masih banyak tersedia, dan sainganmu tidak terlalu banyak. 

Jadi tak perlu berburu belanjaan sampai ke Singapura ‘kan?

Shop till you drop gurls… 

Jurnal Si Anak Hilang…

Monday, February 25th, 2008

Sabtu ini, aku bangun bukan di tempat biasanya, bukan di kamarku, bukan di rumahku, dan bukan di Jakarta…
Pagi-pagi benar makhluk yang aku kenal, telah sibuk dengan pekerjaan masing-masing…
Mata ini pun belum sepenuhnya terbuka, saat aku berjalan menuju kamar mandi…
Membasuh muka dan membersihkan gigi serta mulut akhirnya membuatku benar-benar terbangun dari tidur nyenyak semalam…
Sembari memandangi diri di hadapan cermin, aku memikirkan apa yang hendak aku lakukan hari ini…
Ini bukan kota di mana biasanya aku tinggal, dan tak biasanya aku sendirian…
Otakku kemudian berpikir keras berusaha mencari cara agar diri ini sibuk hari ini…

Tak ambil pusing, aku pun langsung menuju ruang makan, untuk makan pagi…
Nasi goreng sebanyak satu setengah sendok nasi, dua potong croissant, dadar goreng, buah-buahan adalah menu makananku pagi ini…
Tak lepas dari pengamatanku apa yang ada di sekeliling…
Tamu, adalah sebutan untuk turis, yang biasa digunakan orang Bali, yang menginap di hotel itu cukup ramai…
Tak cuma tamu lokal, tamu mancanegara pun juga banyak aku jumpai di sana…
Dari Asia, yang paling banyak adalah tamu dari Jepang, dan kebanyakan mereka sekitar usia 20-30an tahun…
Sedangkan tamu bule, berasal dari banyak negara, baik dari Eropa maupun Amerika…

Satu jam aku habiskan duduk sendiri di meja makan…
Aku pun mulai beranjak dari sana menuju ke kamar…
Brosur layanan spa hotel yang tergeletak di meja kamar, menarik perhatianku…
“Sudah lama aku tak memanjakan diri di spa.”
Namun hal itu aku kesampingkan…
Aku memilih untuk nyemplung ke kolam renang, dan berenang…
Aku pun langsung berganti pakaian renang, dan menuju kolam, yang hanya empat langkah di depan kamarku…
“Brrr…dingin deh nih air, mana anginnya kenceng pulakh.”
Maklum Bali baru saja berhenti diguyur hujan sesaat sebelum aku mendarat di sana…
Dinginnya air akibat angin tak lama kurasakan…
Gerakan renang dan mulai bersinarnya matahari menghapus itu semua…

Jam 10.30 waktu setempat, aku keluar dari kolam renang menuju ke kamar yang sudah dibersihkan oleh House Keeping
Aku berencana untuk menelepon ke bagian spa, untuk membuat perjanjian…
Namun sayangnya, siang itu, semua ruang sudah penuh, dan akhirnya aku mendapat jadwal jam 16.30…
Dan setelah telepon aku tutup, aku kembali menuju kolam renang, dan melanjutkan berenang…

“Hmmm..jam berapa siy kok laper yaa.”…
Akhirnya aktivitas di kolam renang sepenuhnya aku akhiri…
Kembali ke kamar, dan mandi. Eh bukan…tepatnya berendam di bath tub
Selama berendam, aku berpikir “Enakan jalan sendirian, atau tilpun temen SMP-ku ya?”
Dilema memang, karena ia pernah berpesan padaku “Kalo ke Bali, telpon gue ya.”
Tapi “Wah ini kesempatan gue jalan-jalan di Bali sendirian, jarang-jarang bisa kayak gini.”
Hal itu belum aku putuskan saat aku telah selesai mandi, dan telah selesai berdandan…

Melangkahkan kaki keluar kamar, masih sambil berpikir…”Sendiri atau ada temen?”
Good Morning.”
Morning.”

Duhh..aku lupa kalau aku lagi di Bali…
Hal seperti itu yang tak aku jumpai di Jakarta sehari-hari…
Berpapasan dengan orang lain, sama saja berpapasan dengan tembok…
Namun tidak di Bali, sapaan ramah, dari siapapun sudah bukan hal asing…

Sesampai di gerbang hotel, aku akhirnya berhasil memutuskan bahwa aku akan berjalan sendiri, dan tanpa teman…
Berbekal sebuah peta, yang menurutku kurang lengkap dari peta Bali yang dulu aku gunakan saat liburan, aku pun memberanikan diri untuk melangkah…
Hal pertama yang aku cari, yaitu tempat makan…
Menyusuri sepanjang jalan Padma Utara, aku pun telah menemukan beberapa tempat makan…
Dan tak tahu mengapa, kaki ini tiba-tiba berbelok di sebuah restoran di sudut perempatan jalan tersebut…
Aku pun memesan semangkok pasta, yang menurutku porsinya tidak terlalu besar…
Duduk sendiri, menunggu makanan sambil bengong, sepertinya sedikit menarik perhatian orang lain…
Saat aku melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan, ternyata ada beberapa pasang mata, yang kepergok sedang memperhatikan aku…
“Hmm..jalan sendirian di Bali bukan hal aneh khan?” Itu yang aku pikirkan…

Makanan yang aku pesan, sudah tersedia di depan mata, tak lama kemudian…
Ternyata aku tertipu, porsi pasta itu, cukup besar untuk aku sendiri…
Menyuap dan mengunyah makanan secara perlahan, disisipi saat-saat bengong dan mengkhayal…
Are Singaporean?”
Tanya salah seorang penjual jasa padaku…
Restoran itu hanya dikelilingi dengan pagar kayu di sekelilingnya, dan tanpa penutup…
Mengakibatkan orang-orang yang nongkrong ataupun berjalan di trotoar bisa langsung berkomunikasi dengan para pengunjung restoran…
Para penjual jasa itu, adalah orang lokal…
Selama aku di sana, aku mendengar mereka berbincang-bincang dengan bahasa Bali, yang tak aku mengerti sama sekali…
Sapaan salah satu dari mereka itu, sama sekali tak aku gubris, karena terus terang aku takut…
Tapi pertanyaan tadi membuatku berpikir “He…emang muka gue kayak orang Singapur ya? Sesipit itukah gue?”
Menyendok dan mengunyah makanan secara perlahan ternyata tak ada pengaruhnya untukku… Sepiring pasta itu tak dapat aku habiskan…

Melanjutkan perjalananku setelah makanan selesai aku bayar…
Arah yang aku tuju pun tak jelas…

Aku hanya mencoba mengikuti arah ke mana mayoritas para tamu pergi…
Dan ternyata tebakanku tak mengecewakan aku…

Berjalan sepanjang jalan Legian menuju ke kawasan Seminyak aku menemukan deretan toko, yang merupakan surga belanja…
Menyusuri trotoar yang masih berfungsi dengan baik, kurang lebih 5 kilo meter pulang pergi…
Satu kantong belanjaan berisi baju akhirnya aku dapatkan…
“Lumayan, harusnya 2 potong rok terusan itu seharga Rp.740.000, tapi karena butik merk terkenal itu sedang ada potongan harga, aku cuma harus membayar Rp.230.000.”

Pegalnya kaki, membuatku menemukan satu dilematik lagi…
“Pulang naik taksi atau tetap jalan kaki ya?”…
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap jalan kaki…
“Toh, nanti aku khan ada janji spa.”…

Sampailah di potongan jalan Padma Utama dengan Legian…
Tapi aku tak memutuskan belok kanan dulu…
Namun aku memutuskan untuk terus berjalan menyusuri sisi lain jalan Legian itu…
Tak berapa lama, kaki ini sudah tak tahan…
Akhirnya aku berbalik arah menuju hotel tempat aku menginap…

Di sepanjang jalan Padma juga terdapat beberapa toko, yang menjual suvenir khas Bali…
“Hmmm, nanti malem pake rok yang item ahh. Eh tapi, sepatu yang aku bawa warna putih lagi. Nyari sendal item dulu kalo gitu, lagi pula sendalku di rumah sudah mulai rusak.”
Akhirnya aku membeli sepasang sandal Bali bewarna hitam, dan sandal warna biru untuk keponakanku…

“Hmmm…bukan seharusnya dah deket ya, kok ngga nyampe-nyampe ya All Seasons.”
Akhirnya aku sampai…
Begitu sampai di lobi, aku telah melihat makhluk yang aku kenal…
“Hah, senangnya udah ngga jadi anak ilang.”