Posts Tagged ‘FYI’

“Kutukan” Hujan…

Friday, November 20th, 2009

Sudah masuk ke musim hujan nih…kira-kira yang istimewa saat musim hujan apa ya, selain waktunya kita bisa kembali menye-menye nan mellow?

Sudah tahu jawabannya?

Hehehehe…istimewanya adalah macet dan banjir. Dua hal yang membuat kesal saat kita sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat, kala hujan melanda.

Hayyyuuukkk…kita daftar, kira-kira “kutukan” bepergian saat hujan itu ada apa saja…

Yang jelas, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, akan lebih lama daripada biasanya, menyebabkan stress tingkat tinggi (*lebay*) saat kita di kendaraan (apalagi untuk yang mengendarai mobil sendiri), mungkin juga bisa terserang panik tiba-tiba. Panik karena lihat bensin yang semakin tiris, panik karena tiba-tiba jalanan di depan kita dipenuhi genangan air yang cukup tinggi. Intinya banyak-lah kondisi-kondisi di jalanan yang mengejutkan saat kita bepergian kala hujan.

Hal pertama imbas turunnya hujan untuk kendaraan tersayang, pastinya adalah kotor. Sepertinya, berdasarkan pengalaman pribadi sih, tidak ada satu bagian luar mobil, yang tak menjadi kotor. Dan kalau sudah begini, berarti sesampainya di rumah, saya sudah punya PR satu buah, yaitu mencucinya agar ia kembali menjadi kinclong.

Itu baru satu “kutukan” PR to do list berkendara saat musim hujan. Lainnya lagi adalah urusan pintar-pintar mencari jalan yang terbebas banjir atau genangan air. Ya, walau nih walau susah bener nyari jalanan di Jakarta yang terbebas dari genangan air. Karena dengan terbebasnya jalanan kita dari genangan air, berarti pula kita bisa terbebas dari macet, terbebas dari stress, dan terbebas dari printilan perbaikan-perbaikan mobil yang diperlukan hanya karena si banjir ini. Tapi, ya sekali lagi saya katakan, itu semua, lebih sering hanya ada di dalam mimpi. Alias kecil sekali kemungkinannya jalanan di Jakarta terbebas banjir.

Terus terang, kepanikan-kepanikan mengendarai mobil di tengah hujan badai, macet dan genangan air di mana-mana, sempat beberapa kali saya temui. Dan waktu itu sempat pula ditambah dengan bensin yang tiris, dan kebelet pipis. Sumpah ngga enak dan menyebalkan. Kalau saat itu saya bisa mematikan mesin, buka pintu mobil dan meninggalkan mobil di tengah jalanan, tentu sudah saya lakukan, setidaknya untuk mencari toilet (*hahahahhaha*).

Kunci pertama saat menghadapi kenyataan-kenyataan pahit di jalanan seperti itu adalah, berusahalah jangan panik, agar kita bisa berpikir panjang, tentang apa yang harus kita lakukan.

Untuk urusan pilah-pilih jalanan terbebas dari banjir yang memang dirasakan susah, ya itu memang sudah merupakan “tanda tangan kontrak” bagi manusia-manusia yang memilih hidup di Jakarta. Jadi, kalau saya berada di situasi seperti itu, saya akan menyiasati dengan berusaha mencari jalan dengan genangan air terendah. Bagaimana caranya? Kendaraan yang melaju di depan kita bisa jadi patokan. Kita bisa melihat seberapa dalam genangan air, atau adakah lubang atau jalanan yang rusak, tapi tertutup oleh air, sehingga mobil bisa kita arahkan ke sisi jalan yang genangan airnya tidak terlalu tinggi.

Untuk urusan bensin, lebih baik sih saat musim-musim hujan seperti sekarang ini, bensin terisi penuh, atau setidaknya jangan di bawah setengah. Jika memang kamu terlupa mengisi bensin, kepepet,  jarak SPBU terdekat masih sedikit jauh, dan kamu melihat ada penjual bensin eceran di pinggir jalan, tak apa juga kamu mengisinya satu atau dua liter.

Tingkat keamanan juga harus diperhatikan loh. Apalagi untuk cecewe yang berkendara sendirian. Hal ini juga berlaku jika kalian memutuskan lebih baik berhenti di sebuah tempat, daripada melanjutkan perjalanan dalam keadaan hujan dan macet, terutama saat kondisi fisik sudah tidak sanggup. Lebih baik memilih pusat perbelanjaan, depan kantor polisi, restoran ramai pengunjung sebagai tempat untuk beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan. Jangan di tempat yang sepi dan gelap.

Tapi hal paling top dari segala tips pribadi yang saya sebutkan di atas, adalah rajin-rajinlah merawat mobil, kalau bisa usahakan jauh-jauh hari sebelum musim hujan tiba. Ya anggaplah, ritual ke bengkel kali ini merupakan “tarian manggil hujan”, atau setidaknya lakukan pemeriksaan sendiri (oli, water coolant, kemungkinan-kemungkinan ada yang bocor) sebelum berangkat beraktivitas.

Jangan pernah malas membawa mobil tercinta ke bengkel. Bukan berarti ya cecewe-cecewe itu hanya bisa maké mobilnya saja, tapi tak mau merawatnya.

Weeeiiitttsss…perempuan yang satu ini juga sering looo…meriksain mobil ke bengkel resmi. Untuk perawatan berkala, dan saat-saat khusus yang diperlukan. Misalnya jika ditemukan bunyi-bunyian aneh dan tak seharusnya, kondisi mobil saat dipakai berkendara tidak seenak biasanya, dan lain-lain.

Ah…daripada kebanyakan ngebacot sendiri, mendingan kalian baca tips dari pakarnya langsung kali ya? Nih, saya berbaik hati, saya taruh linknya di sini.

Untuk tips agar kalian tidak mudah panik/emosi mengendarai kendaraan di jalanan macet bisa klik di artikel ini, dan salah satu tips merawat mobil bisa lihat di artikel yang ini.

Ingat ya, saat kalian mengendarai mobil waktu hujan turun, dan terpaksa menerjang semua kondisi jalanan yang sering mengejutkan itu, berarti kalian bertugas untuk “menyelamatkan” diri kalian sendiri dan juga diri si mobil. Jadi cari cara tepat agar dua-duanya tidak ada yang terluka, atau harus dikorbankan. Apalagi kalau mobilnya si Hyundai I10, jangan sampai ia merasa dikorbankan.

—-

“Errr…pertanyaan masih berlaku nih, ada yang mau beliin I10 ini untuk saya?” :mrgreen:

—-

So, happy driving, Gurls!!!

Udah Gak Takut Lagi…

Friday, November 6th, 2009

Perempuan yang satu ini, a.k.a saya, dari usia belia (*Halaaggghh*) sudah bisa mengendarai mobil. Untuk urusan yang ini, saya memang sudah ditatar oleh si Bapak, dari saya masih mengenakan seragam putih-biru, dengan izin Ibu yang saat itu sedang tidak kolot. Katanya Ibu saat itu…

“Biarpun perempuan, harus bisa nyetir, nanti kalo anaknya sakit biar bisa bawa ke dokter sendirian kalo kepepet, makannya dari sekarang mulai belajarnya, biar nanti nyetirnya ga kayak gaya nyetir perempuan kebanyakan.”

Weeeiitttss tunggu dulu…bisa mengendarai mobil sendiri saat belum cukup umur, bukan berarti saya bisa sembarangan mengendarai mobil di jalan loh ya. Latihan awal hanya seputar Parkir Timur Gelora Bung Karno, tidak keluar dari area latihan mengendari mobil, yang saat itu masih ada, dan ramai pengunjung.

Saat sudah memasuki usia layak mempunyai SIM A, saya tidak langsung diperbolehkan orang tua untuk mengurus SIM A ini. Alasannya adalah dengan usia saya saat itu, saya belum bisa dengan cepat mengambil keputusan kalau terjadi apa-apa di jalan. Saya belum boleh mengendarai mobil kemana-mana sendirian.

Saya ingat betul SIM A baru ada di tangan saya saat saya berusia 19 tahun, itu pun masih belum diperbolehkan bepergian mengendarai mobil sendirian. Intinya saya masih harus jadi “supir” orang tua saya (*Menyebalkan!! hehehheh*).

Dua tahun kemudian, keberuntungan mendatangi saya. Oma saya dari luar kota datang, dan sedang menginap di rumah tante. Si Oma ingin sekali berkunjung ke rumah saya. Bapak, dan kedua abang saya sedang tidak ada di rumah. Tinggallah saya yang saat itu sedang libur kuliah dan ibu saya, yang berada di rumah.

Ibu saya memang bisa mengendarai mobil, tapi ia tak berani mengendarainya di jalanan ramai seperti di Jakarta ini. Dan karena si Oma ngotot untuk datang, dan si Ibu sedang sibuk masak untuk menyambut kedatangan Oma, maka hal ini pun terjadi…

“Sa, kamu jemput Oma ya. Mama lagi sibuk masak nih.”

“Okay.”

…dan dalam hati saya…

“Yes, akhirnya bawa mobil sendirian. Titik awal buat bawa-bawa mobil sendirian lagi ntar-ntar.”

Ya, dari saat itu, saya mulai minta izin untuk bepergian mengendarai mobil tanpa ditemani oleh siapapun.

Awalnya sih pulang ke rumah masih pukul 17.00, lalu mulai beranjak pukul 20.00, dan semakin lama semakin malam (*Hahahahaha*), walaupun saya tetap tidak berani mengendarai mobil sendirian hingga hampir subuh menjelang. Ya, pernah sih, paling larut tiba di rumah pukul 01.00 dini hari…dan sudah lumayan takut kalau di jalan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, baik terhadap mobilnya, dan telebih lagi terhadap diri saya sendiri, walaupun saat itu mobil yang saya kendarai adalah mobil baru, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalau dilihat dari kondisi mobilnya sendiri.

Nah, kamu, para perempuan yang memang sering jalan-jalan mengendarai mobil sendirian, dan sempat merasakan ketakutan yang sama dengan saya, coba deh baca artikel yang satu ini, biar lebih aman saat mengendarai mobil sendirian.

Eh, ngomong-ngomong mobil baru nih ya…kayaknya saya perlu mobil baru lagi nih, dan sepertinya si Hyundai I10 ini lucu. Ada yang mau beliin? :mrgreen:

Happy Driving Gurls…Be Save yah…

Just For Your Info…

Friday, May 1st, 2009

Tahukah kamu bahwa arti kata bergeming adalah diam, tidak bergerak dan arti kata acuh adalah peduli?
*Sumber Kamus Besar Bahasa Indonesia*

Tahukah kamu bahwa apotek, praktik dan silakan adalah penulisan yang benar menurut ejaan yang disempurnakan dalam Bahasa Indonesia?
*Sumber Kamus Besar Bahasa Indonesia*

Tahukah kamu bahwa jaringan DNA babi sama dengan DNA manusia?
*Sumber film seri Crime Scene Investigation: Love, Lies and Larva*

Tahukah kamu saat kamu bersin, jantungmu berhenti berdetak 1 detik? Oleh sebab itu sering kali orang mengatakan “blessed you” setelah seseorang bersin, karena itu adalah ucapan syukur bahwa kamu masih diberi kehidupan setelah bersin.
*Sumber dari majalah yang saya lupa namanya.*

Tahukah kamu bahwa penglihatan bukanlah indera utama anjing, melainkan penciuman dan disusul oleh pendengaran? Oleh sebab itu, jika anjing mengalami kebutaan total, ia masih bisa hidup normal.
*Sumber dari internet yang terus terang saya lupa namanya*

Tahukah kamu bahwa anjing ras kecil berumur lebih panjang (bahkan bisa mencapai usia 16 tahun) daripada anjing ras besar?
*Sumber buku tentang anjing, yang saya lupa judulnya*

Tahukah kamu bahwa usia anjing itu adalah 7 kalinya usia manusia?
*Sumber buku tentang anjing, yang saya juga lupa judulnya*

Tahukah kamu bahwa menyimpan kebaya berbahan brokat, apalagi berpayet tidak boleh digantung, karena akan menyebabkan bahannya kendur?
*Pengalaman pribadi dan dari sumber majalah yang saya lupa namanya*

Tahukah kamu bahwa menjahitkan kain untuk mempermudah pemakaiannya, tak perlu dipotong, sehingga saat terjadi perubahan bentuk dan ukuran tubuh, kamu hanya perlu membawanya ke tukang jahit kembali untuk penyesuaian ukurannya?
*Pengalaman pribadi*