Posts Tagged ‘Fauna’

15 Tahun yang Menyenangkan

Saturday, March 30th, 2013

Kino…

Nama itu diberikan oleh Mama untuk anak yang satu itu, dari hari pertama dia datang setelah Papa memutuskan untuk membawanya ke rumah dan kami adopsi. Hari itu adalah satu hari di bulan Oktober 1998. Dachshund, hitam dan bercampur putih pada beberapa bagian tubuhnya, bermata besar, kaki-kaki pendeknya diselimuti bulu berwarna cokelat, kontras dengan bulu badannya, sehingga dia tampak seperti menggunakan kaos kaki atau sepatu warna cokelat. Yet to mention this around 2-years-old-aged kid was very playful and friendly boy.

Ruang tengah kami selalu diramaikan dengan tingkah lucunya. Setelah satu tahun lebih Kino jadi penguasa tunggal ruang tengah, ia kami berikan satu teman lagi; another Dachshund; O’Neil. Dan jadilah mereka berdua bagai anak kembar, yang kemana pun mereka pergi, apapun yang mereka lakukan selalu berdua, kecuali saat salah satu dari mereka harus di rawat di klinik hewan.

Kino sempat beberapa kali dirawat di klinik hewan. Salah satu kelemahan Kino dari dulu adalah pernapasannya. Ia pernah saya titipkan di klinik untuk dirawat supaya dia bisa dinebulasi atau diuapi, kalau tidak salah 3 hari berturut-turut. Belum lagi tahun 2007, waktu saya menemukan adanya benjolan di perut bawahnya, dan setelah saya konsultasikan ke dokter hewan yang biasa menanganinya, dokter menganjurkan agar Kino dioperasi. Berat rasanya saya merelakannya untuk dibius dan menjalani operasi, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi dan segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, walau dari hasil pemeriksaan darah sebelum dia menjalani operasi, telah menunjukkan kondisi fisiknya yang memungkinkan untuk menjalaninya. Saya membawanya sambil saya ajak bicara bahwa Kino harus bantu dokternya dengan kondisi yang tenang supaya operasi dapat berjalan lancar dan Kino bisa siuman dan pulih. Dua jam menunggu di ruang tunggu bagai 2 hari lamanya, sampai akhirnya saya dipanggil dokter yang mengatakan operasi sudah selesai , dan saya tinggal menunggu Kino siuman. I made sure when he woke up, the first person he saw was me. And indeed, my brave boy was awake, walau masih sempoyongan.

Usia Kino semakin tua. Semakin banyak kejanggalan-kejanggalan fisik yang tidak dia keluhkan. Meskipun dia periang sekali dan bukan tipe anjing pengeluh, saya bisa menemukan kejanggalan-kejanggalan tersebut di badannya. Termasuk kembali saya menemukan benjolan lainnya di bagian tubuh yang berbeda. Kali ini di pantat kanannya. Kembali saya bawa Kino ke klinik hewan langganan. Dan dokter kembali menganjurkan untuk mengoperasi Kino. Pemeriksaan darah sudah dilakukan dan dokter mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan tersebut, Kino mampu menjalani operasi. Operasi sudah dijadwalkan minggu depannya. Dalam waktu seminggu tersebut, saya masih berkonsultasi dengan beberapa dokter hewan lainnya. Setelah konsultasi, saya mendapatkan kesimpulan bahwa operasi yang kali ini akan dilakukan merupakan operasi yang terbilang sulit. Bahkan ada satu dokter yang mengatakan bahwa ia tidak berani melakukan itu. Dan dokter lainnya mengatakan “Sebagus-bagusnya dan sesenior-senior dokternya, tetap yang menentukan hidup mati makhluk hidup adalah Tuhan.” Frankly speaking I agreed with that vet. Saya pun memutuskan untuk membatalkan rencana operasi untuk anak gendut yang satu itu…”Baru juga setahun lalu kamu operasi ya, Nak, masakh taun ini kamu operasi lagi. Kamu bisa kuat khan tanpa operasi?”

Empat tahun berlalu dari rencana operasi yang kemudian saya batalkan tersebut, Kino yang sudah sangat tua, dan kondisi kedua matanya sudah tidak berfungsi, tiba-tiba kehilangan keseimbangan, tidak bisa berdiri, berkali-kali terjatuh dan mengeluarkan liur berlebih, posisi kepala cenderung miring ke kanan. Hari itu Sabtu, 22 Desember 2012 malam hari. Sontak saya tidak bisa tidur di kamar dan hanya menemaninya di ruang tengah. Esok harinya saya periksakan Kino ke klinik hewan langganan. Dokter dan saya memutuskan agar Kino dirawat. Apapun kemungkinan terburuk yang akan dihadapi anak saya yang satu itu, sudah menghantui saya. Tapi entah mengapa, saya masih yakin, bahwa Kino saat itu masih bisa bertahan dan berhasil melawan penyakitnya.

Tiap hari saya sempatkan untuk menengoknya ke klinik untuk melihat perkembangan dan memberinya semangat hidup, walau kadang saya selipkan kata-kata untuk dia memilih masih ingin tinggal bersama kami sekeluarga atau pulang ke yang memiliki hidup. Kondisinya naik dan turun, kadang membaik, kadang kembali turun. Sampai kira-kira hari ke 4 dia di rawat, Kino sudah mau makan, walau harus disuapi dan BAB nya sudah baik. Hari ke 6 Kino dirawat, dia sudah bisa tegak berdiri dan sudah tidak terlalu sempoyongan berjalan. Dokter mengatakan kalau sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi, Kino besok boleh pulang.  Itu pun yang saya katakan pada Kino, “Tuh Nak, kalo besok Kino dah bisa makan sendiri ga disuapin, besok kita pulang ya Nak.”

Keesokan harinya, saya dan mama, datang ke klinik, yang memang rencananya akan menjemput Kino. Seketika saya dan mama sampai klinik dan membuka pintu klinik, saya langsung berkata dalam hati, “Ya ammmppuuunn kamu kayak ga sakit deh, Nak. Brisik kung-kung-kung terus. Baru sadar kalo ditarokh di kamar terus ya dah seminggu,” langsung saya sedikit berlari ke arah kamarnya yang kebetulan memang ada di bawah. Dan begitu dia melihat saya, “Dah ga sabar pulang ya, Nak? Hebat kamu bisa sehat! Mami ngobrol sama dokternya dulu ya.” Begitu saya bertemu dengan dokternya, saya langsung mendapat laporan “Kino dah pinter tuh, mau makan sendiri, ga perlu disuapin lagi.” Saya bereskan urusan administrasi dan obat yang masih harus diteruskan di rumah, lalu saya gendong Kino ke mobil dan  pulang ke rumah.

Nyaris saya kehilangan Kino. Beruntung Kino masih mau berusaha untuk  survived. Walaupun karena stroke yang dideritanya, posisi kepalanya masih cenderung miring, dan Kino tidak bisa jalan lurus melainkan berjalan ke satu arah dengan membentuk lingkaran.

Membawa Kino ke rumah, berarti kembali kami yang mengurusnya secara total. Mengurus dengan kekhawatiran, “senam jantung” dan penuh cinta buat Kino. Hari pertama dia pulang, Kino masih mau makan tanpa disuapi, begitu pun keesokkan harinya. Tapi dua hari setelahnya, Kino membungkam mulutnya dan tidak mau makan dan minum sama sekali. Termasuk makanan kesukaannya yaitu daging ayam. Mendapati hal itu saya langsung menelepon klinik walaupun saya tahu bahwa poliklinik mereka akan tutup dan hanya melayani rawat inap. Saya menelepon dokter yang merawat Kino dan saya langsung membawa Kino kembali ke Klinik. Di klinik, Kino diberi obat pencahar, karena memang beberapa hari Kino belum BAB, mungkin karena kondisi kaki belakang yang belum kuat betul menahan tubuhnya yang harus jongkok dan mengejan saat BAB.

Hari itu adalah malam pergantian tahun ke tahun 2013. Saya sengaja tidak tidur di kamar, melainkan memilih untuk menggelar kasur lipat di ruang tengah di depan televisi untuk tidur sambil mengawasi  Kino, yang hingga pulang dari dokter belum juga mau makan. Namun keesokkan harinya, tepat di hari pertama di tahun 2013, Kino sudah kembali mau makan.

Kondisi seperti itu terus berulang, kadang Kino mau makan, kadang tidak, kadang perlu disuapi, kadang bisa makan sendiri, walaupun tiap pagi kalau Kino sudah bangun, pasti saya akan usahakan memasakkan makanan kesukaannya dan menyuapinya terlebih dahulu baru berangkat ke kantor. Di tengah sibuknya kerjaan kantor pun, saya sering bertelepon dengan mama untuk mengecek keadaan Kino. Sering anak itu terlewat manja, hanya mau makan dan disuapi oleh saya. Dia rela hanya makan saat pagi hari sebelum saya berangkat kantor dan menunggu saat saya sudah sampai di rumah, sepulang bekerja. ”Anakmu tuh ga mau makan sama aku. Udah aku suapi pake daging ayamnya aja juga masih ga mau,” kata-kata seperti itu yang sering saya dengar saat bertelepon dengan mama.

Saya tahu bahwa tubuh Kino tak selamanya kuat bertahan melawan sakitnya. Beberapa kali saya terdiam memandangi Kino yang sedang tidur enak krungkelan dengan adeknya, O’Neil sembari berpikir “Sampai kapan pemandangan indah seperti ini bisa gue liat. Ahh.. gonna miss these kind of things.”

Berjalannya waktu, sampailah di Maret 2013. Bulan di mana saya harus kembali merasakan hal yang tidak menyenangkan menjadi paw parent. Sabtu, 16 Maret 2013, Kino kembali kejang, kehilangan keseimbangan badan, disertai sesak napas, dan kehilangan napsu makan. Sebagai Ibu, saya sudah diberikan rasa bahwa saat ini adalah saat di mana saya harus mempersiapkan keadaan yang terburuk. Saya memutuskan untuk tidak merawat Kino di rumah sakit, walaupun saya tetap membawanya untuk agar Kino bisa diberikan cairan intravena. Dengan konsekuensi saya tidak bisa saat malam hari, karena saya harus terjaga sewaktu-waktu Kino membutuhkan pertolongan oksigen yang tabungnya sudah kami sediakan di rumah.

Selasa, 19 Maret adalah kondisi paling, paling, paling menyebalkan untuk saya. Oksigen sudah tidak mampu membuat Kino berhenti kejang. Liur mengalir tak henti dari bibirnya. Saya hanya bisa menenangkannya dengan menggendongnya dan meletakkan kepalanya di dekat jantung saya. Dengan disertai aliran air mata saya hanya bisa mengajak Kino mengobrol, “Kino dah ga kuat ya, Nak? Kalo Kino mau bobokh Mommy dah rela, Nak. Kino mau Mommy temenin atau mau ke dokter, Sayang? Tapi Mommy ga mau bantu Kino bobokh ya. Kita ke rumah sakit ya Nak sekarang, biar Kino dapet oksigennya.” Takjub saya dibuat oleh Kino, begitu dia mendengar kata rumah sakit, Kino berhenti kejang, dan dia bisa bernapas seperti biasa, walau saya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih saya. Dan saya tahu persis, Kino pun merasakannya, dari detak jantung kami berdua yang saling berbicara, juga dari tetesan air mata yang membasahi wajah anakku yang sudah mendekati ajal.

Langsung saya SMS abang saya, memberitakan Kino akan saya bawa ke rumah sakit, kemungkinan kalau kejang kembali, kemungkinan saya akan meminta dokter untuk menidurkan Kino. Memenangkan logika kali ini sangat berat. Saya pun berdoa agar semesta berpihak pada kami. Kino akan pergi tanpa bantuan manusia.

Kami akhirnya memutuskan untuk membawa Kino ke rumah sakit. Abang saya pun akhirnya memutuskan izin dari kantor dan kembali ke rumah, untuk ikut mengantar Kino. Saya, Papa, Mama dan Abang saya, mengantar Kino ke rumah sakit langganan. Sepanjang jalan Kino bisa tidur tenang tanpa kejang. Mungkin dia nyaman berada di tengah keluarga yang sudah 15 tahun hidup bersama.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang menangani Kino berpihak pada saya, “Kita rawat aja ya. Tenang kok dia ga kejang lagi, ya Kino pinter?” Sesudah dinebulasi, dan kamar perawatan Kino disiapkan, Kino pun di rawat inap. Kali ini saya tidak membiarkan orang lain yang menggendongnya ke kamar. Saya antar Kino sampai di kamarnya. Selimut andalannya pun tak ketinggalan saya ikut sertakan.

Urusan Kino selesai hari itu. Saya pulang, mandi dan langsung menuju kantor. Setiap dua jam saya telepon dokter jaga. Dan kembali saya dibuat takjub oleh Kino. Kondisi Kino tenang, tanpa kejang sekalipun.

Malam hari sepulang kerja, saya sempatkan diri menengoknya kembali, walaupun Mama melarang karena sudah malam. Kondisi jalanan yang seperti biasa sangat macet, memaksa saya untuk menelepon rumah sakit dan memohon mereka untuk membukakan pintu  untuk saya, karena jadwal kunjungan rawat inap paling malam pukul 8.00 dan rumah sakit tutup pukul 9.00 malam.

Sesampainya saya di sana, Kino yang mendengar suara saya, langsung beranjak dari posisi tidurnya, dan menyambangi saya ke pintu kamar kecilnya. Ekornya pun tak lupa ia goyangkan, sembari menatap saya dengan mata tuanya yang sudah katarak dan sayu. Saya tahu bahwa itu mungkin ucapan selamat tinggal kepada saya.

Rabu, 20 Maret 2013, seperti biasa pagi hari saya berangkat ke kantor. Saya belum bisa mengunjungi Kino di rumah sakit, karena jadwal berkunjung dan menelepon untuk menanyakan kondisi pasien baru diperbolehkan pukul 10.00 pagi.

Rapat dengan klien hari itu menyebabkan saya terpaksa menunda untuk menelepon dokter. Seselesai rapat, yang saya ingat betul saat itu jam di tangan sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, saya langsung mengambil telepon genggam saya, yang tadinya hendak menelepon dokternya menanyakan kondisi Kino, malahan saya mendapati pesan singkat dari dokter yang mengabari bahwa kondisi Kino menurun, kritis dan saat itu tim dokter dan paramedik sedang berusaha untuk membantu Kino dengan oksigen.

Belum sampai saya selesai mengetik balasan, dokter yang merawat Kino sudah menelepon saya, mengabarkan bahwa Kino sudah pergi, sudah tidur selamanya. Sedih? Pasti! Walaupun saya tahu persis bahwa Kino sudah bahagia, karena terbebas dari sakit.

Kami titipkan Kino di freezer di rumah sakit, sebelum kami jemput untuk kami kuburkan di rumah.

Dan hari Minggu, 24 Maret 2013, saya menjemput anak kesayangan yang gemuk, tapi kali ini sudah terbungkus rapi dengan kertas koran yang dilapisi kantong plastik, sudah beku dan kaku, “Ayo, Nak kita pulang yuk sekarang. Kino bobokh di rumah ya, sama temen-temen lain ya, Nak.”

=======

Ahhh..ternyata kamu ga mau nyusahin Mommy ya, Nak. Kamu ga mau liat Mommy sedih saat kamu pergi. Till we meet again, Kino Sayangku!

Kino, si gendut berbulu hitam, di hari-hari terakhir hidupnya pun masih tidur kruntelan dengan adek kesayangannya, O'Neil...

Anak Kecil Itu…

Monday, September 13th, 2010
Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Anak kecil ini, kemarin sempat hilang beberapa jam. Semua memang gara-gara saya. Saya yang lupa menutup pagar depan rumah sehabis memasukkan mobil ke dalam car port. Biasalah, beberapa bulan belakangan ini, saya sedikit dimanja papa, setiap saya pulang, beliau yang selalu membukakan pagar dan menutup kembali, tapi tidak dengan kemarin. Saya langsung masuk ke dalam rumah, mandi, berganti baju dan tidur, padahal tadinya saya hendak pergi lagi, tapi malas. Alhasil saya tidak memeriksa lagi pintu pagar apakah sudah tertutup atau masih terbuka lebar.

Setelah saya bangun, saya hanya melihat si hitam gendut itu tidur sendirian di ruang tengah. Sendirian tanpa anak kecil yang berwarna putih-coklat ini, karena biasanya dua anak kecil ini memang ada di dalam rumah. Langsung saya tanya papa, yang kebetulan sedang membaca sesuatu di ruang itu, “Si putih mana?” “Gak tau,” saya pun langsung memeriksa sofa singgasana si putih biasa tidur, dan lemari yang pintunya rusak sehingga ia bisa masuk ke sana, dan hasilnya tak ada. Saya pun langsung berlari keluar, memang biasanya mereka sering kali berada di teras depan. Seketika saya kaget setengah mati, karena saya menemukan pintu pagar yang terbuka sangat lebar, dan saya hanya menemukan si coklat di teras. Saya pun berteriak histeris memanggil nama si putih, O’Neil, saya lihat ke kiri dan ke kanan, saya tak menemukan anak itu. Langsung saya berlari ke arah kiri, dan saya membiarkan naluri saya yang mengarahkan langkah kaki ini, yang setengah berlari. Baru beberapa langkah kaki ini berjalan, saya melihat abang dan papa juga sudah keluar dari rumah, untuk ikut mencari anak kecil ini. Mereka berdua pun mengambil arah yang berbeda.

Saya memutuskan untuk berkeliling kampung yang letaknya di belakang komplek rumah saya, sembari bertanya kepada orang-orang yang sedang berkerumun di sepanjang jalan yang saya lewati, termasuk ke tukang-tukang ojek yang biasa saya tumpangi dan juga tetangga-tetangga di gang sebelah, “Tadi ada yang liat non, jalan ke gang 3.” Saya pun menyusuri jalanan yang disebutkan hingga ke ujung, dan tibalah di persimpangan. Saya memutuskan untuk mengambil ke kiri, ke arah masjid di jalan utama kompleks, hasilnya pun nihil. Saya kembali ke arah terusan gang rumah saya yang menuju ke kampung yang letaknya di dekat sebuah sekolah katolik. Sesampainya di sana saya bertanya pada satpam sekolah itu, “Pak, liat anjing kecil pendek, warnanya putih-coklat?” “Oh, tadi ke arah sana.” “Ke kampung atau balik ke kompleks?” “Ke kompleks non.”

Tak jauh dari sana, saya lihat ada beberapa tetangga saya, yang setahu saya dia juga mempunyai beberapa ekor anjing, “Lihat anjing gue ga yang pendek putih-coklat?” “Oh, tadi udah dibawa Oom kayaknya, dah ketemu kok.”

Saya pun langsung berlari menuju ke rumah dengan perasaan lega. Dan sesampainya di rumah, saya langsung menggendong si kecil yang sedang menunjukkan wajah penuh rasa bersalah. Tapi ada satu kejanggalan, saya melihatnya terus seperti sedang mengunyah sesuatu, dan tanpa basa-basi, saya memeriksa mulutnya, ternyata ada satu giginya yang mau lepas, “Yak another problem, harus dibawa ke dokter ini, tapi kapan ya?”

Saya langsung berlari ke kamar, mengambil “buku primbon” yang saya beli tentang first aid untuk anjing. Ternyata di sana tertulis masih tak apa jika dibawa ke dokter hewan dalam kurun waktu 1X24 jam. Tak lama kemudian saya menelepon dokter, dan membuat perjanjian untuk Senin pagi.

Malam harinya, O’Neil mendapat kemewahan karena saya perbolehkan tidur dengan saya di kamar, setelah sekian lama tak lagi saya izinkan tidur dengan saya. Sepanjang malam, ia sering sekali membangunkan saya, karena merasa tak enak dengan giginya, “Ga enak ya Nak, nanti ke dokter ya. Lain kali jangan nakal keluar-keluar rumah ya, tuch ujan, kalo tadi O’Neil ga ketemu, mau bobokh dimana? Giginya lagi sakit khan?” dan omongan saya itu dijawab dengan “Hoommommoomm,” seperti orang yang sedang bergumam panjang. Dan saat ia membangunkan saya untuk kesekiankalinya, ternyata giginya terlepas, dan semenjak itu, ia pun bisa tidur dengan lebih pulas.

Beberapa kali saya terbangun, hanya untuk memandangi anak kecil itu tidur melintang horizontal di ranjang saya yang hanya berukuran 100cmX200cm itu, “Nak…maminya gimana tidurnya, kalo kamu melintang, terus ngangkang gini pulakh,” dan anak itu ga bergerak sedikit pun. Akhirnya saya berpindah posisi, yang tadinya saya menempel ke dinding, akhirnya saya mengambil sisi sebaliknya, sebagai pagar O’Neil agar ia tak terjatuh, dan guling saya letakkan di sisi lainnya supaya O’Neil tetap hangat.

Pagi harinya, mama membangunkan saya, karena beliau tahu tadinya saya berencana membawa O’Neil ke dokter. Dan begitu mama membuka pintu kamar saya “Waaaduuuhh, enaknya tidur di sini, dah kayak orang, pantesan dicariin di bawah ga ada,” saya yang mendengar omongan mama tapi belum membuka mata langsung merespon “Ga jadi ke vet mam, giginya O’Neil dah copot, aku yang anter mama ke Pondok Indah aja.”

Saya tak langsung beranjak dari tempat tidur, sampai akhirnya mama berteriak dari bawah “Sa, mandi, mau berangkat jam berapa?” “Ntar-ntar aja, masih pagi juga, jalanan khan kosong.”

Tak berapa lama, saya memutuskan ingin melihat jam berapa saat itu, dan begitu saya membuka mata, tepat di depan mata saya, ada benda kecil bulat-bulat berjejer, berjumlah empat dan di tengahnya ada yang sedikit lebar dibandingkan empat lainnya. Sesaat saya belum dapat mencerna benda apakah itu. Tapi setelah saya benar-benar sadar, dan penglihatan saya benar-benar sudah penuh, saya baru ngeh bahwa di hadapan saya itu adalah O’Neil’s paw.

“Oooohhhaaalllaaahhh Nak, maminya di kasih kaki ya pagi-pagi, sama pantat ngangkang gini? But I’m glad that I can still see and have you this morning. Love you baby.”

Saya pun memberi kecupan pada anak kecil itu sembari berbicara padanya “Bangun yuk,” “Hooommmooommmm.”

“Dasar males. Mami gendong turun ya.”

Tepat Tiga Minggu…

Monday, March 29th, 2010

Belum hilang kesedihan saya akan kehilangan Rambo, saya kembali dipaksa untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya di rumah.

Sesampainya saya di rumah setelah pulang kantor hari Rabu, 24 Maret 2010, saya disambut oleh Molly yang tampak tak bergairah di teras depan. Dan seperti biasa saya mengelus-elus dia, karena setelah Rambo meninggal, hanya tinggal Molly yang menjadi penguasa teras depan rumah…

“Nak, kamu kok jadi kurus banget ginih. Males banget makan abis ditinggal Kak Embo? Mimi ke dalem dulu ya, ganti baju.”

Saya memang tak berganti baju, tapi malahan mengobrol dengan ibu dan bapak saya. Dan saya ingat betul kalimat di bawah ini yang mengakhiri obrolan kami bertiga.

“Molly tadi mau makan?”

“Mau, kasih makan lagi aja.”

Saya pun langsung beranjak menyiapkan makanan untuk perempuan jagoan saya yang satu itu.

Molly pun langsung beranjak dari tidurnya setelah mendengar saya memanggilnya untuk memberi makan. Namun tak lama kemudian setelah saya masuk kembali ke dalam rumah dan kali ini benar-benar untuk berganti pakaian, saya mendengarnya merintih kesakitan, sangat-sangat kesakitan. Saya bisa katakan demikian, karena saya tahu Molly adalah anjing kuat dan tahan banting luar biasa.

Tanpa basa-basi, saya langsung kembali menuju ke teras depan, dan kaget setengah mati, karena menemukan Molly tersayang kesulitan untuk berdiri. Kedua kaki belakangnya tiba-tiba lunglai dan lemas. Ia pun terus-menerus merintih dan menjerit kencang tanpa henti.

Saya pun sembari memegangi Molly berteriak memanggil Mama atau Papa untuk membantu saya…

“Panggilin Becky dounks, Ma. Minta pegangin Molly dulu, aku mau ganti baju.”

“Becky dah tidur.”

“Bangunin aja. Nih anak kenapa treak-treak?”

Akhirnya Becky, abang saya kedua menghampiri saya dan membantu memegangi Molly.

“Bentar Beck, gue ganti baju dulu, masih pake baju kantor ini.”

Saya pun bingung setengah mati, apa yang harus saya lakukan saat itu. Bolak-balik kiri-kanan, sampai saya memutuskan untuk membawa Molly ke Rumah Sakit Hewan 24 jam yang ada di Sunter.

“Molly harus dibawa ke Sunter sekarang. Damn besok gue ada Coffee Morning pulakh, gue ga bisa libur.”

Saya kembali masuk ke kamar, berganti baju kembali dan bersiap untuk membawa Molly ke Rumah Sakit bersama dengan Becky.

Becky pun tanpa basa-basi berganti baju, meminta uang sementara ke Papa dan menggendong Molly ke dalam mobil.

“Bentar ya Sayang, kita ke dokter ya. Sakit banget ya, Nak? Kita usaha bareng dulu ya.”

Saya bertugas mengendarai mobil, karena abang saya yang satu itu, lebih “buta” jalan daripada saya, yang lebih hobi kluyuran di jalanan.

Menyusuri jalan tol Kebon Jeruk dan tol Dalam Kota yang sudah kosong, tetap terasa lama, saat saya harus mendengar rintihan anak perempuan saya satu-satunya itu.

“Bentar ya sayang, Mimi lagi nyetir nih Nak, cepet ampe rumah sakit ya kita.”

Sesampainya kami di rumah sakit, saya melihat bahwa pasien yang berobat masih banyak. Tanpa berpikir panjang saya langsung menghampiri ke resepsionisnya…

“Mbak masih banyak ya? Emergensi nih.”

“Dah pernah ke sini?”

“Yang ini belom, anjing saya yang lainnya udah. Biasanya dibawa ke Green Garden.”

Saya pun diminta untuk mengisi data-data Molly dan saya sendiri.

“Dah mbak, hewannya dibawa turun aja, terus ditimbang ya.”

Molly kemudian ditangani oleh dokter yang sedang bertugas malam ini. Saya sudah tahu bahwa kondisi Molly sangat-sangat mengkhawatirkan, saat saya memeriksa kondisi mulutnya di mana seluruh gusi sudah nampak pucat pasi berwarna putih, detak jantung yang sudah sangat cepat. dan duburnya yang sudah mengeluarkan darah.

Di atas meja pemeriksaan, Molly yang sudah diberikan cairan intra vena dan diberi obat penghilang rasa sakit, masih juga menangis kesakitan, dan semakin keras saat saya melangkah menjauh daripadanya.

Saya pun kemudian berkata pada Molly…

“Sayang, sakit banget ya? Kita usaha dulu ya berempat ama dokternya ya? Molly khan kuat, cantik, pinter, usaha dulu, tapi Molly boleh milih nanti, mau ikut Embo atau milih ama Mimi, terserah kamu ya, Sayang. Tapi malem ini Molly bobokh sini dulu ya, ama dokternya, besok bis ngantor Mimi nengok Molly, kalo ngga ngantor nanti Mimi ga bisa nyembuhin Mowi.”

Saya mengantar Molly ke ruang rawat inapnya, tubuhnya yang sudah dingin dan terpasang infus, digendong oleh asisten dokter yang merawat Molly. Sesampainya di ruangannya, Molly masih diberi penghangat lebih berupa sinar lampu yang langsung disorot ke tubuhnya, tapi sebelum saya turun, ternyata, selang infus Molly pun sudah terlepas, karena ia terlalu banyak bergerak, mungkin kesal karena ia ingin berdiri tapi sudah tak mampu.

Saya kemudian berjalan menuruni anak tangga dan kembali ke ruang periksa tadi, untuk membereskan urusan administrasi rawat inap Molly, sembari berbincang-bincang sebentar dengan dokternya…

“Do your best untuk Molly ya, Dok.”

“Will do, tapi kita juga harus realistik, melihat kondisi Molly, terus terang sangat mengkhawatirkan, makannya saya ga bisa janjiin yang manis.”

“I know, still do your best.”

Abang saya pun kemudian nimbrung di perbincangan kami…

“Ya kalau memang yang terbaik untuk Molly adalah eutanasia, ya ga papa juga.”

Disusul dengan omongan saya…

“Ya tapi kalo bisa mah yang eutanasia, mah yang punya idup semua makhluk.”

Lalu si dokter pun menjawab…

“Saya juga paling males kalo disuruh nyuntik mati. Kalo ga ditungguin pemiliknya, saya diem-diem ngerawat dulu ampe beberapa hari lagi, kalo bener-bener ga bisa baru eutanasia. Saya ngga mau sebenernya.”

Setelah beres, kami pun kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Kembali saya yang mengendarai mobil, di tengah jalan tol yang sudah sepi, dan membuat kantuk. Jam mobil sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Dan tepat pukul 03.00 dini hari, Kamis 25 Maret 2010, saya dan si abang sampai di rumah.

“Deeemmmm…ntar jam 5 dah harus berangkat pulakh. Sialll.”

Sesampainya di rumah, saya langsung masuk ke kamar si Mama, berganti baju dan tidur. Namun tidur saya malam ini pun tidak nyenyak, karena memikirkan anak saya yang sedang di rumah sakit, yang terakhir sebelum saya pulang, saya masih mendengar rintihannya.

Pukul 05.00 waker yang bunyinya sungguh keparat itu, tumben mampu membangunkan saya dari tidur. Sialnya, saat diri ini belum mandi, taksi yang saya pesan sudah datang…

“Dem…telat ini gue bakalan.”

Dan benar tebakan saya, taksi yang saya tumpangi tak sanggup menghantarkan saya ke kawasan Pejaten dalam waktu satu jam, karena jalanan yang saya kira masih sepi di pukul 05.30 pagi, ternyata salah total.

“Duuuhhh…maap nih…HRDnya telat lagih…hahahhahah.”

Acara kantor tersebut tak berlangsung lama, dan karena jadwal saya seharusnya memang libur, jadi saya langsung meninggalkan store seselesainya acara itu. Dan pertanyaan selanjutnya…

“Jrittt..ga suka nih gue dah bangun pagi, pergi and ga tau mau ngapain. Telpon rumah sakit kali ya, gue nengok Molly, tapi belum jam 10.00, si dokter belom selese ngobatin pasien-pasiennya.”

Akhirnya saya memutuskan untuk sebentar nyangkut di warung kecil samping store, menenggak sebotol minuman teh di kemasan botol, dan ngobrol dengan beberapa anak saya, yang juga nyangkut di sana, sembari memikirkan apa yang harus saya lakukan sebelum pulang ke rumah.

Pukul 10.00, saya memutuskan untuk pulang, dengan menaiki Trans Jakarta. Saat pikiran ini sedang memikirkan Molly tersayang, tiba-tiba telepon saya berdering. Di layar tertera sebuah nomor yang tak ada di buku telepon si Bébé saya. Saya mengangkatnya…

“Hallo, mbak Rosa, ini dokter Endang.”

Yah, pikiran saya sudah tak karuan, saya sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh dokter itu…

“Mbak, sorry ya, Molly ga ketolong, barusan aja meninggal.”

Saya pun hanya bisa berkata…

“Yaaaahhh. Molly ga ketungguan ama saya ya.”

“Iya, tadi malem, jam 4 dia dah mulai bisa tenang, tapi jam 7 tadi dia pup darah, barusan meninggal. Tapi meninggalnya dia ga kesakitan kok, tenang.”

“Ya udah lah dok, yang penting dia sekarang dah ga sakit. Tapi saya ga bisa ngambil sekarang ya. Saya baru pulang dari kantor.”

“Ga papa. Nanti khan dimasukkin ke lemari pendingin.”

“Kalo dikremasi berapa, Dok?”

“Seratus ribuan.”

“Tapi abunya ga bisa diambil ya sekarang aturannya?”

“Iya, Mbak, abunya sekarang ga bisa diambil kayak dulu.”

“Ya udah, Dok, saya ambil Molly hari minggu ya. Ma kasih ya, Dok.”

Sesaat saya menutup telepon itu, semua “film” dari saat saya bertemu Molly di ujung jalan rumah saya, saat ia akhirnya mau diajak masuk ke rumah dan akhirnya kami pelihara, saat ia meminta untuk melahirkan anaknya di rumah, saat saya membawanya ke rumah sakit untuk disterilisasi, betapa senangnya ia menemani saya atau papa jalan-jalan, saat ia menangis karena dilarang ikut papa bersepeda, saat ia berteriak minta dibukakan pintu kalau ia kehujanan di luar saat ia ia berjalan-jalan sendiri tanpa kami temani, saat ia menyambut saya sepulang kantor, sampai detik-detik terakhir hidup bersama kami yang sudah berjalan kurang lebih 8 tahun.

Di tengah sedihnya saya setelah mendengar berita tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk turun di halte depan kantor Becky, dan menuju ke kantornya abang saya yang ikut menemani saya membawa anak cantik itu.

Dan begitu saya bertemu dengan Becky, di ruangannya…

“Mowi meninggal.”

“Hah? Yakin? Meninggal beneran? Cepet banget, masih mau makan, masih mau minum susu. Dokternya bilang apa?”

“Gak tau, orang belum diambil darah, belum di akupunktur, baru abis dikasih obat sama dibersihin. Tapi tadi dia check pupnya, penasaran kena Parvo atau bukan, dan ternyata bukan.”

Lalu saya menelepon ke rumah dan kebetulan yang mengangkat Papa, yang sering sekali ditemani Molly berjalan-jalan, sering mengajaknya mengambil uang ke ATM (dan jika Molly ikut, Papa memasukkan Molly sampai ke dalam ruang ATM, tidak dibiarkan menunggu di luar), atau menemaninya berjalan ke mini market yang letaknya di kompleks sebelah…

“Pa, Molly ga ada.”

“Yaaaahh, aduh, aku kebayang matanya. Ya udah lah daripada kasian. Dokternya belum nemu sakit apa ya?”

“Belum sempet observasi lebih lanjut.”

—-

She was a stray dogs…yang akhirnya saya dan keluarga saya pelihara dan sayangi. Dan terus terang, kami tak pernah tahu usia asli anak perempuan saya yang satu ini, tapi yang kami tahu adalah Molly kami sayangi, ia bagian keluarga kami, dan ia meninggalkan jejak kaki yang luar biasa dalamnya di hati kami sekeluarga…

“Love you, Mowiiii, we already miss your little cute eyes, we already miss you to the max. Nanti kalo Mi mati jemput Mi sama Rambo, ama Bozo, ama Boomer and kakak-kakakmu yang lain ya.”

*Masih belum bisa upload gambar…Damn!!! Jadi kalo mau liat fotonya Molly bisa klik di sini


Till We Meet Again In Heaven, Baby…

Thursday, March 4th, 2010

Kurang lebih seminggu ini, saya diminta belajar (lagi) bagaimana menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

Satu hal yang paling saya tidak suka dari memelihara binatang adalah saat saya harus melihat mereka sakit, menghadapi sakratul maut dan pulang ke rumah Tuhan. Itu adalah masa-masa penyiksaan batin bagi saya sendiri. Tersiksa karena melihat dan mendengar mereka merintih kesakitan. Tersiksa karena dilema apa yang harus saya perbuat, apakah harus ke dokter yang most likely mereka akan menyarankan untuk menidurkan bayi-bayi lucu itu (apalagi jika mereka memang sudah tua), atau memutuskan untuk merawat mereka di rumah dengan penuh cinta sampai ajal menjemput mereka.

Saat mereka merintih sakit, tak hanya dia yang merasakan, tapi saya, dan seluruh keluarga juga merasakan rintihannya. Bagaimana tidak, ia sudah tak bisa makan dengan enak. Makanannya harus dilembutkan, dan kami hantar ke mulutnya dengan menggunakan semacam suntikan yang berujung seperti pipet. Kami harus mendirikannya, karena ia tak sanggup lagi untuk berdiri sendiri, bahkan di menjelang ajalnya, kami harus membersihkan kotoran pup atau urin yang ia keluarkan spontan di tempat.

Sudah puluhan tahun biasa memelihara anjing, kami tahu persis, bagaimana kondisi mereka jika sudah mendekati ajal. Begitu pun juga saya, yang sudah mengetahui saat Rambo sudah dekat. Prediksi saya, paling lambat besok, itupun dia pasti akan menunggu saya sepulang kantor. Tak tahu kenapa, atau setidaknya empat anjing saya yang meninggal terakhir, pasti menunggu saya pulang ke rumah. Oleh sebab itu, hari ini saya bela-belain menemani Rambo sepanjang hari. Nyaris saya tak beranjak dari teras depan rumah, tempat “singgasana” si ganteng, nan cerdas, campuran German Shepherd dan Chow-Chow ini.

Saya hanya duduk di sampingnya, mengelus-elus tubuh dan wajahnya yang sudah sangat lemah, sesekali membersihkan badannya dan duburnya dengan tissue basah, sembari bernyanyi dan juga bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah saya/keluarga dan Rambo lalui selama 12 tahun kami hidup bersama. Hal itu membuatnya terlihat manja, Rambo sama sekali tak mau ditinggal, bahkan saat saya berlari ke dalam rumah untuk mengangkat telepon, ia sudah meraung-raung menangis tak mau ditinggal. Tentunya, itu membuat saya langsung kembali bersamanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dan saya belum makan siang. Saya bicara dengan Rambo, “Nak, Mimi makan siang dulu ya, belum makan siang nih, ditinggal sebentar ya, Embo mau mamam? Mi siapin?” Rambo pun hanya mengedipkan mata.

Dari dalam sembari makan saya mendengar Rambo tetap merintih minta ditemani. Namun seselesainya saya makan, saya tak langsung menemaninya lagi. Badan ini masih lelah, karena berhari-hari tak bisa tidur nyenyak merawat Rambo, bergantian dengan Mama, bahkan kami harus bangun saat subuh, kalau Rambo melonglong minta ditemani atau minta dibersihkan karena ia mengompol atau pup di tempat.

Akhirnya kurang lebih pukul 17.00, saya kembali memeriksa kondisinya. Ternyata ia masih meraung-raung, dan pup. Saya berlari ke dalam sebentar, karena tisu basah yang sudah saya siapkan di dekatnya sudah habis. Saat saya selesai mengelapnya, saya pun membersihkan lantai sekitarnya. Sedetik setelah saya letakkan pengki yang berisi sampah koran bekas yang juga digunakan untuk alas tidur Rambo, saya melihat ke arahnya dan dia sudah mengompol lagi. Lalu tak tahu mengapa, seperti ada yang meminta saya untuk melihat ke arah wajahnya, yang ternyata sudah bernapas satu-satu, dan perutnya sudah tidak mengembung dan mengempis, seperti adanya sebuah pernapasan.

Saya pun berlari ke arahnya…

“Rambo, Ayank dah mau pulang ya? Ma kasih wa, dah nemenin mimi 12 taun. Sekarang Mimi temenin pulang wa. Dah ketemu sapa aja? Chopin? Cello? Astor? Pluto? Bozo? Titip salam ya Nak, yuk putus ya napasnya, enakkan di surga loh Nak. Nanti kalo mimi mati, Embo jemput mimi wa? I love you, Honey, so much, ampe ketemu nanti wa,” dan saya pun mencium keningnya. Dan Rambo tidur dengan tenang tanpa rasa sakit sedikit pun.

Dan hari ini, tidak ada tangis saat Rambo pergi. Tak seperti hari-hari kemarin saat ia masih merintih kesakitan, air mata ini sempat mengalir, deras.

Saya pun langsung menelepon si Abang…

“Woi, di mana lu?”

“Kenapa lu? Laper?”

“Kagak, di mane?”

“Depan kompleks.”

“Buruan! Pemakaman.”

“Ooohh dah pulang? Thank God.”

“Buruan, keburu gelap.”

Terus terang, tanah itu sudah tergali semenjak hari Minggu lalu. Lagi-lagi, karena keluarga kami sudah tahu persis kondisi saat anjing-anjing kami sudah mendekati ajal, saat ke dokter pun, kami pasti akan mendapatkan respon sebuah sakit hati. Dan hari ini, tanah galian itu sudah kembali tertutup dengan tubuh bayiku, Rambo yang sudah tidur tenang, ada di dalamnya.

Kembali mereka mengajarkan saya, sebuah kesetiaan tiada tara, sebuah cinta tanpa syarat samaaaaa sekaaalliii, bagaimana harus menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

“Ma kasih wa Mbo…untuk 12 tahun yang sangat menyenangkan, maap kalo Mi sering telat ngasi mam, inget tadi waktu kita ngobrol, waktu mata Embo kinclong natap mata Mi, I Love You so much, jemput Mi nanti pas Mi mati wa.”

*seeebbbbeeellll mau upload foto bayi lucuku si Rambo, blog lagi ga bisa upload foto, DAMN*

*eh bisa liat foto bayiku, si Rambo dan teman-temannya itu di sini*

Please, Make Them Keep On Smiling…

Friday, August 14th, 2009

STOP ANIMAL CRUELTY…IT’S TIME TO MAKE THEM SMILE!!!