Posts Tagged ‘Cerita Cinta’

Saya, Cinta…

Thursday, February 25th, 2010

Perkenalkan, nama saya Cinta…

Saya makhluk tak berwujud yang paling berkuasa setelah Tuhan…

Duniamu ada di tangan saya…
Karena saya bisa mengubahnya…

Membuatmu menangis…
Lalu tertawa…
Saat ada ataupun tak ada orang lain di sekitarmu…
Semua, hanya dengan satu jentikkan jari…

Saya bisa membuatmu mencintai saya…
Saya yang ada di dirinya…
Karena saya membiarkanmu mencintanya…

Dalam hitungan detik, saya bisa membuatmu membenci dia…
Yang sudah membencimu…
Atau bahkan yang masih mencintamu…
Dengan sebuah, seribu atau tanpa alasan sama sekali…

Saya bisa menjadikanmu apa saja…
Malaikat cantik tak bersayap…
Seribu dewa pemaaf…
Kerbau dicucuk hidung…
Atau dedemit bertanduk, lengkap dengan garpu berduri…

Kehidupanmu ada di tangan saya…
Dengan menjadikan harimu penuh semangat…
Harapan dan citamu tergantung di atas surga ke tujuh…
Setinggi gambaran fana dirinya yang tergantung di sana…
Yang ternyata perlu keajaiban tersendiri, untukmu meraihnya…

Jika saya sedang jahil, saya bisa mendatangkan kematian untukmu…
Saat saya bisikkan padanya, bahwa ada saya, Cinta, yang lain di seberang sana…
Saat saya sodorkan seonggok saya, Cinta, yang berbalut daging penuh napsu di hadapannya…
Saat saya membuatnya berbalik arah meninggalkan kamu…
Tanpa alasan…
Tanpa satu gelembung buih liur yang dihasilkan dari rentetan kata yang keluar dari mulutnya…

Saya bisa membuatmu berada di antara sebuah kehidupan dan kematian…
Saat kamu saya butakan dengan dosis saya yang berlebihan…
Saat kamu tak sanggup saksikan dirinya memilih saya, Cinta, yang merasuki orang lain…
Hingga kamu hunuskan belati padanya…
Lalu padamu sendiri…
Yang tak juga mengakhiri hidupmu, apalagi hidupnya…
Jeruji besi hati pun siap terbentang lebar menanti untuk mengurungmu…

Lara, saat fisikmu berada di peluknya, yang kamu miliki…
Tapi saya, Cinta, yang ada di dirimu, adalah milik dia yang tak kamu miliki…

Merana, saat seribu sesal, yang coba kamu hapus…
Tak mengembalikan saya, Cinta, yang terbuang dari hatinya…

Tapi saya, Cinta, akan selalu menjadikanmu dewasa…
Walaupun saya, Cinta, akan selalu merangkul benci dan pahit, untuk ditawarkan padamu…

Dan atas nama saya, Cinta…
Saya akan selalu menghantuimu…
Bersamamu…
Bahkan di hari kematianmu…

…Cinta…

Mari Menuntaskan Yang Belom Kelar…*Looohhh…*

Friday, February 5th, 2010

Gue ga pernah bosen untuk bahas topik yang satu ini: kekasih jaman dulu…

Hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan saat cewek-cewek kurang kerjaan lagi pada ngumpul, atau setidaknya jadi bahan ketawa-ketiwi sendiri…kayak saat ini.

Gue, cukup seneng bisa mengatakan bahwa gue adalah orang yang beruntung, untuk bisa mempunyai hubungan baik dengan semua kekasih jaman dulu gue. Kekasih dari yang jaman baheula, jaman kuda gigit batu, sampai jaman jahililah. Kadang gue masih tilpun-tilpunan, walau hanya untuk nanyain kabar, atau ngasih berita-berita kecil, baik berita penting atau berita ga penting. Kirim-kiriman SMS, atau kalo lagi ga mau rugi BBM-an, biar gratis.

Mungkin itu semua karena gue selalu memulai hubungan cinta, pasti dari hubungan pertemanan. Ditambah dengan prinsip gue dan (sepertinya) kebetulan prinsip para kekasih jaman dulu gue itu juga, bahwa semua dimulai dan diakhiri dengan pertemanan. Setelah hubungan cinta berakhir, ya urusan romansa dan cinta-cintaannya aja yang ilang, tapi urusan silaturahmi pertemanan ga boleh ilang.

Kayak dua perbincangan terakhir dengan dua kekasih jaman dulu gue itu:

A: eh..eh..eh..gw dapet panggilan interview di …..&….. (*Duuuhh pengen banget nyebutin namanya*) loooohh…hihiiiyyy…wish me luck ya *sambil lumpat kodok*

B: Hwwwaaahhhaaa…keren-keren…

A: Do you know a job as ghostblogger? Ever thought of it?

B: Ha? Menyenangkan sepertinyah.

A: It is, here’s the link.

B: Thanks dear.

A: You should start from something you love. Gue “jual” elo ya.

B: Thanks ya.

See, menyenangkan ‘kan punya kekasih jaman dulu yang masih bisa dijadiin temen?

Karena mereka adalah “aset”, dan kesempatan. Aset untuk bisa dapet temen baru, aset buat dapet pacar baru, aset buat dapet kerjaan baru, dan mungkin aset dapet kesempatan untuk menuntaskan CLBK, yang kata salah satu anak gue di store, CLBK adalah Cinta Lama Belom Kelar :mrgreen:

Makannya gue rempong banget dahh, kalo perempuan-perempuan mereka jaman sekarang rempongnya najish tralalala. Errrr…cuma gue gituh loh…ga perlu dicemburuin ‘kan yah? :mrgreen:

—-

Buat yang kemaren BBM-an ama gue…eh itu beneran gue salah ketik, gue mau munculin Lu? jadinya LuV…walau ya walau salah ketiknya itu ampe 3 kali (*Sapa suruh untuk munculin ? dan V-nya satu tombol*)…

Dan jawaban dari BBM lu yang satu ini: Luv you too deeee…

Boleh ga gue bales dengan: Ke Jogja yukkk…*looohhh* wakakakakkakaka…

—-

Gue yang lagi ga beres, 5 Februari 2010

—-

“Mang elo pernah beres gitu ‘Cha?”

Macem Mana Lagi Ini?…

Friday, October 30th, 2009

Kamu lihat perempuan itu, Teman?

Apa yang kamu lihat dari luar? Seorang perempuan yang tegar, centil, selalu ceria, supel, tak pernah kesepian?

Memang sekilas perempuan satu itu, tampak tak pernah kekurangan teman, kekurangan laki-laki, kekurangan cinta. Lelaki mana yang tak rela mengantri untuk mendapat hatinya, atau bahkan mendapatkan secuil perhatiannya saja? Dari segi fisik, perempuan itu jelas di atas rata-rata, atau setidaknya itu menurutku. Otaknya yang pandai, juga perlu diacungi jempol. Belum lagi ia pandai bergaul.

Terus terang, aku kagum terhadapnya. Bisa-bisanya, ia menyembunyikan luka hati yang sudah tercabik-cabik, tidak hanya dengan silet atau pisau, tapi tak tahu benda tajam apa lagi itu namanya yang bisa tega menjadikan hatinya seperti itu.

Asal kamu tahu, Teman, perempuan itu tak mudah untuk jatuh cinta. Sama sekali tidak. Tapi sekalinya ia berada di lembah nista yang berjudul jatuh cinta itu, ia mungkin rela meletakkan hatinya di atas bara api.

Seperti saat ini. Masih saja ia belum jera mencinta laki-laki super gebleg. Bahkan jauh lebih gebleg daripada laki-laki terakhirnya.

Sumpah aku gemes banget melihat perempuan itu. Rasanya ingin sekali aku tampar kedua pipinya, agar ia terbangun dan sadar diri. Hatinya masih layak mendapatkan kastil yang jauh lebih indah daripada yang saat ini hatinya berada.

Ingin sekali aku berteriak di depan wajahnya…

Dasar masokis! Mana ada yang mau bercinta sama tembok?

Cukup…

Thursday, October 15th, 2009

Kekasih-kekasih itu rela meringkuk di bawah ketiak lelaki-lelaki mereka…

Yang tanpa terkecuali, selalu tercium wangi oleh hidung mereka…

Sodoran puting payudara kekasih-kekasih itu adalah menu makanan harian para lelaki mereka…

Tersaji tanpa upah…

Tak peduli caci lacur dari mulut tetangga…

Karena semua tidak untuk sentuh tubuh mereka…

Bukan untuk umbar napsu yang siap diledakkan…

Mereka hanya ingin memakai cadar itu lagi…

Cadar tipis yang mampu membuat mereka merasa dicinta…

Untuk telinga yang mendengar kata cinta, dan bukan erangan maut…

Walau hanya untuk saat itu, hanya di sana…

Hanya dan cuma…

Tak ada lain waktu…

Karena mereka tahu bahwa mereka hanya butuh itu…

Cukup…

Walau itu hanya bayang semu…

Nan indah…

Nan getir…

Penuh perih dan siksa…

Tapi lagi-lagi, itu semua…

Cukup…

Tapi kapankah kekasih-kekasih itu bisa memberikan ini…

Plaaaakkk!!…

Pada pipi-pipi kekasih-kekasih itu sendiri…

Sadarkan dari bayang semu yang tak terlihat…

Kalau akhirnya yang mereka inginkan hanya ilusi cinta…

Dan itu semua…

Cukup…

—-

Written during lunch time…published at 18:28 pm.

Kan Cintanya Ke Kamu Beda Ama Cintanya Ke Dia…

Thursday, October 15th, 2009

Cinta tak harus memiliki?

Klise, basi, sebuah penyangkalan, atau akan menimbulkan sebuah amarah?

Kalian pernah tidak menemukan kasus seseorang merasa cinta ke seseorang tapi ia lebih memilih/menikahnya dengan orang lain yang pastinya bukan yang ia cintai? Dan kalian tahu persis, persis, persis bahwa orang tersebut tidak mencintai sepenuh hati pasangannya. Hal ini biasanya dikarenakan saat mereka pacaran terbentur alasan-alasan prinsipil yang membuat mereka mundur teratur dan menyerah pada keadaan, walaupun keadaan itu bukan berasal dari mereka sendiri.

Yang menjadi gongnya adalah saat mereka bertemu atau berinteraksi lagi, mereka masih menggunakan cara bicara yang sama, menggunakan istilah-istilah atau gaya bercanda yang seperti dulu bahkan hanya mereka berdua yang tahu, masih mengucapkan “I Love You” setiap menyudahi telepon, bahkan mereka rela berbohong pada pasangannya, untuk menghindari rasa cemburu si pasangannya. Dan mereka berdua tahu, bahwa semuanya itu malahan dilakukan, diucapkan lebih tulus daripada saat mereka masih bersama dulu.

Kalau saya ditanya, apakah saya pernah menemui kasus-kasus seperti itu, saya akan jawab, ya, bahkan tidak hanya satu atau dua pasangan. Dan dari sana, mulai muncullah pertanyaan-pertanyaan ini di otak saya…

  • Apakah itu lebih kejam daripada sebuah perselingkuhan fisik? Saya akan jawab tidak (tahu) (*Cari aman* :lol:), tapi tetap mereka mengerti batasan-batasan yang benar-benar tak boleh mereka langgar.
  • Apakah itu adil untuk pasangannya yang sekarang? Kalau saya pribadi akan jawab: Tidak adil.
  • Apakah cinta ada tingkatannya atau levelnya, atau bisa berubah-berubah skala prioritasnya dan tergantung situasi? Apalagi jika pelaku yang kepergok, ditanyai alasannya dan memberi jawaban: “Cintanya ke kamu ‘kan beda ama rasa cintanya aku ke dia,” Kalau saya pribadi membedakan antara rasa suka, rasa sayang dan rasa cinta. Cinta inilah bagi saya berada di tingkatan paling atas.

Tapi yang jelas, bagi saya sendiri, saya tidak pernah menyesali bahwa saya kehilangan sesuatu, karena pada akhirnya saya akan lebih memiliki kehilangan saya sebelumnya.

—-

“Situ pusing? Ndak papa, yang nulis juga sering pusing sendiri.”

—-

For someone from someone: I made my promise that my love to you is much bigger than my love to him, hopefully that you do the same thing…