Posts Tagged ‘Cerita Cinta’

What? Ndak Boleh?…

Sunday, September 27th, 2009

Hidup di zaman yang sudah sangat berbeda dan dengan segala macam perkembangannya, memang membuat manusia-manusia berbeda generasi sulit untuk beradaptasi. Termasuk saya dengan ibu dan juga sebaliknya. Tak jarang masalah gagalnya kami beradaptasi satu dengan yang lain, membuat kami menjadi cranky tak karuan.

Salah satu masalah adalah hal-hal tabu, tak elok, tak pantas saya, selaku anak perempuan (paling kecil pula) lakukan. Dan, seperti biasanya, hal-hal yang dianggap tabu oleh orang tua, sering tidak masuk di akal, bahkan aneh menurut saya. Parahnya, hihihi kadang malah hal itu menjadi sebuah hal yang membuat saya penasaran, kenapa sampai dikategorikan sebagai hal tabu.

Cerita saya di bawah ini adalah contoh yang dari awal saya dilarang, saya sudah memberontak dalam pikiran, dan mulailah malah merancang tindakan “kriminal” :mrgreen: .

“Anak perempuan ga pantes main ke rumah cowok. Masakh cewek duluan.”

“Whhhhhaaatttt? Apa sihhh? Bentar…kenapa? Apa yang salah? Even cuma temen gitu?” yang semuanya itu hanya ada di otak saya. Tak mungkin sepertinya semua itu saya keluarkan. Bisa panjang urusannya.

Bukan Ocha kalau yang namanya larangan malahan menjadi sebuah tantangan. Semakin dilarang semakin penasaran, kecuali kalau saya sudah terantuk dengan resiko yang pada akhirnya saya anggap masuk akal terhadap larangan tersebut.

Kunjungan pertama (atau setidaknya yang saya ingat sebagai yang pertama) saya ke rumah teman laki-laki saat saya kelas 3 SMP. Saat itu saya dan beberapa teman lainnya ingin…(*Bentar gue ketawa dulu, alesannya norak n klise banget ini soalnya*),…ingin menyalin catatan seorang teman yang lengkap untuk ulangan beberapa hari kemudian (*God, I still remember that?*). Tapi dasar ABGeh, di sana tak ada satu pun dari kami yang menyentuh buku, malahan kami berjalan beramai-ramai menuju AMPM untuk beli makanan, lalu kembali ke rumah dan kongkow-kongkow di sana. Dan untuk saya pribadi, saya mempunyai alasan tersendiri mengapa saya ke sana saat itu, apalagi kalau bukan urusan meng-entertain dunia cinta permonyetan ABGeh (baca: PE-DE-KA-TE).

Plesiran saya hari itu, pasti membuat saya menjadi pulang terlambat sampai di rumah. Bahkan seingat saya, malahan saya mendatangi kantor ayah, dan pulang bersama beliau.

Sampai rumah, sudah pasti saya diinterogasi oleh ibu. Dan pastinya juga saya tidak mengakui sepenuhnya kegiatan yang membuat saya pulang terlambat hari itu.

“Ke rumah temen, nyatet catetan yang ketinggalan.”

Untungnya ibu tidak menanyakan lebih lanjut ke rumah teman yang seperti apa saya tadi pergi.

Itu yang pertama. Selanjutnya masih ke rumah orang yang sama, dan kali ini dengan tujuan lebih spesifik; sebelum resmi pacaran, ya dalam rangka PE-DE-KA-TE, dan setelah resmi pacaran, ya pacaran di sana, kadang bersama dengan beberapa teman, kadang saya sendirian. Dan pasti di rumahnya ada orang lain selain dirinya.

Lucunya, saat saya dengan dirinya sudah tidak lagi pacaran, sempat saya dan beberapa teman berkunjung ke rumahnya, untuk kongkow-kongkow tak jelas. Saya ke rumahnya itu siang hari, setelah paginya saya pergi dengan salah satu abang saya. Kebetulan saat pulang ke rumah, rutenya pasti melewati rumahnya ini. Saya pun minta dituruni oleh si abang yang mengendari mobil, tepat di depan rumah si mantan pacar.

Melihat si abang yang tak pulang bersama saya, kontan ibu langsung menanyakan keberadaan saya.

“Rosa mana?”

“Tadi turun di rumah…,” yang pastinya si abang saya menyebutkan nama mantan pacar saya.

“Ngapain?”

“Maen paling.”

Sudah bisa dibayangkan ‘kan ya, bagaimana interogasi si ibu sesampainya saya di rumah?

“Bla, bla, bla, bla…”

“………….” saya pun diam membisu, sambil bicara dalam hati “Yah, Ma, telat banget deh marahinnya. Dah sering kaleee.”

Saya yang tak mendapatkan alasan bahwa larangan itu masuk akal (jika dibandingkan dengan kemampuan saya untuk jaga diri), maka saya pun tak repot untuk urusan yang satu itu. Apalagi semakin beranjak dewasa (*Haallaaagggghh*), saya sudah semakin bisa memisahkan mana yang baik untuk saya lakukan mana yang tidak (*Hihihi, tapi tergantung godaan juga sih*). Bahkan beberapa kali saya sempat menginap di rumah teman saya yang laki-laki (*Cattteeett!! TEMEENN!!*).

Pertama kali, saat malam tahun baru 2003, saya dan teman-teman satu divisi merayakannya di salah satu rumah teman saya yang saat itu sudah menikah. Kedua, saat saya dan teman-teman kuliah terpaksa menginap di rumah teman saya, untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah keparat. Ketiga, akhir tahun lalu, saat saya dan tiga orang gila bermain kartu sampai pagi, dan kesanggupan fisik ini untuk berjalan ke rumah orang gila lainnya, sudah tak memungkinkan. Dan yang terakhir, awal tahun ini, saat saya terpaksa menginap, karena sesi curhat dan “rapat konspirasi” saya dan dua orang gila lainnya baru selesai jam 2 pagi, dan jarak antara rumah 2 orang gila itu (yang kebetulan saat itu masih berada dalam satu kompleks dan satu cluster) dengan rumah saya sungguh jauh…

“Eh elo nginep kan ‘Cha?”

“Liat ntar, kalo ntar ngobrol-ngobrol kita cepet, ya salah satu dari kalian nganter gue pulang lah ya. Jagorawi-JORR nanti maleman pasti dah sepi,” yang saya tahu persis pernyataan itu adalah pernyataan retoris.

“Dah lahh, ga usah pulang lu. Gue capekh nih, gak kesian lu ama gue yang perlu cerita-cerita.”

Dan ternyata benar. Duduk di ruang makan itu, berhadap-hadapan dengan jam dinding yang saat itu saya lihat sudah lebih dari jam 12.00 malam, rasanya tak mungkin salah satu dari mereka mengantarkan saya pulang, karena mereka esok harinya harus bekerja.

“Untung gue bawa baju. Ngobrol ama kalian ga pernah sebentar.”

Jam dinding yang sudah menunjukkan angka 02.00, terpaksa menyudahi obrolan kami saat itu…

“Dah, si Ocha nginep rumah kamu aja ya, kalo nginep sini ga aman dia,” ucap salah satu orang gila yang rumahnya kami jadikan tempat “rapat konspirasi”.

“I know, di sini gue ga bakal selamet,” saya menimpali ucapan tadi sambil bercanda, yang dilanjutkan dengan ucapan “Tapi di rumah lu gue tidur mana? Kamar lu kan atu lagi jadi gudang,” sembari melihat ke arah orang gila lainnya.

“Di kamar bawah aja, bertiga ama anak gue,” dan kalimat itu membuat saya sedih, karena biasanya kalau saya menginap di sana, kami tidur berempat di kamar yang sama. Tapi saat itu, satu orang (yang gila juga) sedang tidak bisa berada di sana, karena sedang dirawat di rumah sakit.

“Okay. Jadinya gue bisa slamet pulang besok, daripada kalo di sini,” sambil saya menjulurkan lidah ke arah si gila satunya.

(*Geeezzz…sekitar gue isinya orang gila semua ternyata. Termasuk gue sih sepertinyah.*)

Anyway…setelah menjabarkan cerita penting sampai cerita colongan yang benang merahnya jauh dari inti cerita, saya hanya ingin katakan bahwa, kadang hal-hal yang dianggap tabu untuk dilakukan, itu tidak begitu adanya, tidak perlu dianggap sebagai hal yang tabu. Tidak ada yang salah untuk perempuan bertandang ke rumah teman laki-laki, atau bahkan ke rumah pacar sekalipun.

Setelah saya pikir-pikir, mungkin ini semua berkaitan dengan adat Jawa konservatif. Perempuan harus pasif, nrimo, tak boleh nduluin, harus nunggu, bisa jadi buah cibir oleh orang yang melihatnya. But harrreee gggeeennneee? Who cares? At least I don’t, atau setidaknya setahu saya mereka yang saya datangi rumahnya tak berpikiran demikian.

Mungkin yang bisa dikatakan salah adalah kegiatan yang dilakukan di rumah tersebut. Kalau untuk urusan yang satu ini, mau bertandang ke rumah perempuan ataupun laki-laki, kalau melakukan kegiatan yang aneh-aneh, lalu tidak bisa bertanggung jawab, ya tetap salah.

Intinya, selama kita bisa jaga diri, ya tak masalah ‘kan ya? (*Ssssttt…sama satu lagi, main aman!* :lol: )

Dan untuk para orang tua apalagi yang produk jaman dulu banget, “Ya, kalo ngasi tau sesuatu itu pake alasan make sense gitu loh. Jangan cuma asal ga boleh. Trus hehehe larangan itu bisa jadi tantangan untuk si anak looo!”

Lalu, hmmm bukan sok menggurui, saya cuma pengen ngomong usahakan “Stay away from drugs and free sex.

Untuk urusan free sex itu, memang urusan masing-masing pada akhirnya, kalau memang sudah dipikirkan masak-masak dan akhirnya menjadi pilihan yang diambil untuk dilakukan sebelum menikah, ya stay save aja ya. Jangan sampai aborsi jadi pilihan dan penyakit aneh-aneh jadi teman hidup.

Errr…Kita Sekarang Udah…Berapa Lama?

Tuesday, September 22nd, 2009

“Yay, hari ini kita sebulanan.”

“Ga berasa ya kita dah 6 bulan pacaran.”

“Iya ini bunga untuk kamu, 9 tangkai white roses yang nandain dah 9 bulan kita jadian.”

Hahahaha, lucu! Jadi ingat pacaran waktu masa-masa jauh lebih muda dulu. Sepertinya tanggal jadian itu adalah hal yang sangat, sangat, sangat penting.

Mengingat-ingat dan merayakan moment saat si pasangan menyatakan sayang, cinta, dan meminta untuk menjadikan pasangan lainnya kekasih hatinya adalah (mungkin) suatu keharusan untuk pasangan yang berpacaran.

Terus terang, saya dulu juga begitu. Setidaknya saat saya pacaran di masa-masa ABGeh. Kebetulan masa-masa pacaran saat ABGeh yang paling nyangkut di otak, adalah masa-masa pacaran waktu SMA. Dari awal kelas 1 hingga akhir kelas 3, dengan satu orang yang sama (buat yang bersangkutan, kalau baca tulisan ini, jangan GR ya cuy!). Dan hingga detik ini, saya masih ingat persis detil kejadian dari masa Pe-De-Ka-Te hingga tanggal itu, 23 Desember 1994.

Ya, namanya ABGeh, ditambah saat itu masa Pe-De-Ka-Te yang kami berdua jalani tidak sebentar, yaitu 11 bulan, pastilah urusan “peringatan” ulang bulan tanggal kami resmi pacaran menjadi hal yang cukup penting, setidaknya untuk saya saat itu.

Sebenarnya antara norakh, lucu dan lumayan penting sih, kalau dipikir-pikir saat ini.

Norakh karena…”Pentingggg yaaa kalo dirayain apalagi kalo secara berlebihan, dan merupakan KEHARUSAN?” baiklah memang untuk sebagian orang moment itu wajib diingat atau dirayakan, mungkin dalam rangka mengingat-ingat bahwa mereka sudah sekian lama menjalani waktu kebersamaan mereka, tapi errr…kalau saya pribadi, kalau masih dalam hitungan bulan, tidak terlalu penting sih untuk wajib dirayakan, apalagi kalau pakai upacara khusus. Akan lebih terasa kalau perayaan tanggal jadian itu setelah sekian tahun, naaahh…baru tuh…mak nyus.

Lucu karena…hehehehe…ya itu, biasanya kalau mengingat sudah sekian lama saya pacaran dengan sang kekasih, pikiran inilah yang muncul di otak “Annnjjjrrriiittt, betah juga ya gue ama orang macem dia,” atau “Kasian juga manusia itu ngurusin gue, hahahahaha.”

Lumayan penting, atau penting, eh bisa jadi sangat penting sih sebenarnya, kalau hal yang ingin diingat adalah usaha untuk mempertahankan rasa sayang atau (di kasta yang lebih tinggi) rasa cinta, kesetiaan, kepercayaan, dan menikmati setiap hal sekecil apapun selama waktu berjalan. Menikmati setiap tawa, canda, tangis, berantem, marah, maki-maki, egoisme masing-masing, rasa cemburu, kekesalan, peluk, cium, make love (*Lohhh? Ga ya? Becanda! LOL*), plesiran, dan masih banyak lagi.

Jadi, ya begitulah pendapat saya tentang pentingnya tanggal resmi pacaran, atau tanggal jadian.

Dan setelah tanggal 23 Desember 1994, hahahaha saya tidak pernah punya tanggal khusus jadian, karena memang tidak ada tanggal resminya. We just need(ed) to know that we love each other. Tapi kalau diingat-ingat kembali sih, akhir tahun adalah masa-masa keberuntungan saya, karena saya dan kekasih hati, benar-benar berani menyatakan diri bahwa kami cinta satu sama lain di bulan-bulan menjelang akhir tahun. Let’s see…September, November, 23 Desember 1994, Desember lagi, September dan 3 Desember errr…tahunnya tak perlu diberitahukan lah ya. Dan yang terakhir ini sedikit pengecualian, memang tumben, terutama dalam kamus saya menjalin cinta setelah melewati masa ABGeh, yang tak perlu tanggal resmi pacaran, karena memang selain dirinya menyatakan that He loves me, ia juga meminta saya untuk menjadi kekasihnya (*Btw, masih ampe sekarang tak ya? LOL!!!*).

“Hon, kita sekarang udah…”

“Errrr…sorry sebenernya aku lupa, dah berapa lama kita pacaran? Masih ya?”

“Tapi yang jelas Hon, I love you!”

It Was Just Wrong…

Saturday, September 19th, 2009

Akhirnya libur!! Bayangan tumpukan buku yang belum selesai saya baca, DVD yang belum sempat saya tonton, dan ide psycho story lainnya yang sudah menari-nari di kepala, sudah ada sejak awal minggu ini. Benar-benar tak sabar untuk bisa menikmati mereka semua.

Jumat! Akhirnya, tak perlu bangun pagi. Tak perlu pergi ke kantor. Dan kebingungan dimulai saat jam 10.00 pagi saya terpaksa bangun, karena dibangunkan oleh Mama…

“DVD, Buku atau Nulis?”

“Nooo…no writing I guess. Still got a headache because of Ramelan and Laras. They make me more psycho then as usual.”

“So DVD I guess.”

Beberapa hari lalu, memang saya menyempatkan diri untuk membeli DVD film yang tidak sempat saya tonton di bioskop, termasuk Benjamin Button. Saya ingat betul film itu beredar di bioskop di Jakarta, sekitar bulan Februari tahun ini. Dan bulan Februari itu adalah bulan menuh makna, di mana saya harus menyelesaikan kewajiban akhir saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa.

Jadi, siang kemarin, setelah beres dengan urusan baby sitting all my children, a.k.a my lovely dogs (*Yay got 1 more, so they are 8 now, even Boomer is going to be here only for couple of days*), saya menuju kamar dan melihat kembali DVD apa saja yang akan saya “santap” selama liburan.

And here’s the list: Benjamin Button, He’s Just Not That Into You, Crossing Over, Hangover, State of Play, yang merupakan DVD yang baru saya beli beberapa hari lalu; sedangkan DVD yang sudah saya beli dari zaman baheula, tapi belum saya tonton juga adalah Schindler’s List, The Condemned, Premonition, The Holiday, Music and Lyrics.

Ya, ya, ya you can tell me saya ketinggalan banyak film. Jangan tanya kenapa, karena kalau diceritakan pasti tulisan saya yang kali ini benar-benar hanya sampah curhatan tak penting dan tak bermutu, akan lebih panjang.

Film pertama yang saya tonton pastinya, Benjamin Button. Si ganteng Brad Pitt, yang meninggal saat ia bertubuh bayi di dalam gendongan teman hidupnya sendiri. Quote dari film tersebut yang saya ingat sampai sekarang adalah “We all end up with diapers,” and that fuckin’ damn right.

Bosan berkutat di kamar, akhirnya saya menuruni anak tangga dan menuju labuhan hati saya lainnya, piano. I was playing it and singing some songs. Then, fed my children up for dinner, cause they all looked hungry and beg for some foods again, hahahaha (*Naughty kids! Yet so lovely.*).

Lalu saya kembali ke kamar saya. Memilih-milih kembali DVD yang akan saya tonton kali ini.

Dan pilihannya jatuh pada film Music and Lyrics. I know this is such a romantic film drama, gonna make me mellow, but what else? Schindler’s List or State of Play at nite? Dooohh…no way!

But…I chose wrong film to be watched. Damnnnn!!!!

Jiwa mellow meningkat malam ini. Remembering someone who I miss so much. Di tambah di film itu si Sophie dan Alex di satu mobil yang sama dengan mobil seseorang yang ada di benak saya.

Parah!! Menghidupkan kembali si Ocha yang melankolis. And the worst one is this film ruined my mood to write my second psycho story (*Come on mood..back to my head!!*).

Dan lagu ini, ooohh…lagu ini liriknya…duuuhh…(*Lihat sendiri deh ya*)…


I’ve been living with a shadow overhead, 
I’ve been sleeping with a cloud above my bed, 
I’ve been lonely for so long, 
Trapped in the past, 
I just can’t seem to move on! 

I’ve been hiding all my hopes and dreams away, 
Just in case I ever need them again someday, 
I’ve been setting aside time, 
To clear a little space in the corners of my mind! 

All I wanna do is find a way back into love. 
I can’t make it through without a way back into love.
Oooooh. 

I’ve been watching but the stars refuse to shine, 
I’ve been searching but I just don’t see the signs, 
I know that it’s out there, 
There’s got to be something for my soul somewhere! 

I’ve been looking for someone to she’d some light, 
Not somebody just to get me through the night, 
I could use some direction, 
And I’m open to your suggestions. 

All I wanna do is find a way back into love. 
I can’t make it through without a way back into love. 
And if I open my heart again, 
I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end! 

There are moments when I don’t know if it’s real 
Or if anybody feels the way I feel 
I need inspiration 
Not just another negotiation 

All I wanna do is find a way back into love, 
I can’t make it through without a way back into love, 
And if I open my heart to you, 
I’m hoping you’ll show me what to do, 
And if you help me to start again, 
You know that I’ll be there for you in the end!

Di Antara 1 dan 4 Cinta (Epilog)…

Wednesday, September 16th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (6)

___

Kamar itu masih menyita perhatian banyak orang. Termasuk polisi yang  heboh hilir mudik memeriksa apapun yang ada di sana. Mengumpulkan barang bukti, mencari sidik jari, dan benda apapun yang bisa mengarahkan kepada pelaku dan motif usaha pembunuhan terhadap Ramelan, tunangan Laras.

Tamu-tamu hotel, ramai membicarakan usaha pembunuhan yang terjadi di kamar 1203 itu.

“Polisi menemukan 3 lembar kertas kecil sobekan memo hotel, di dekat pintu kamar, dan dengan tulisan tangan yang berbeda-beda.”

“Oh, ya?”

“Isi tulisannya apa?”

“Yang pertama isinya ungkapan cinta bahwa orang yang menulisnya itu masih mencintai si korban. Satu lagi cuma bilang neither do I or She get you, kalo ga salah denger tadi. Terus yang terakhir ancaman menggagalkan perkawinan korban dengan tunangannya.”

“Ampuunn deh, serem bener dengernya.”

“Duuhhh…walau ga sampe meninggal, tapi tetep ngeri ya.”

***

Dan perempuan itu kembali duduk di sana. Di tempat yang sama, seperti beberapa hari lalu.

Aku kembali menatap ke arah lift yang berada di ujung lobi hotel tempat aku menginap. Aku melihatnya keluar dari lift itu lagi. Ia tak lagi berjalan gagah, melainkan terbaring di atas tempat tidur dorong yang berasal dari ambulans yang sudah menunggunya di depan pintu lobi. Ia juga tak ditemani perempuan muda, bertubuh langsing, dan cantik, yang sama seperti waktu itu.

Aku duduk di sana, dengan selembar kertas di tangan. Selembar kertas yang berisikan diagnosa hasil konsultasi seseorang dengan Psikiater yang mengatakan bahwa pasien yang namanya tertera di kertas itu, dinyatakan mempunyai tiga alter ego, dan mengalami gangguan kejiwaan halusinasi.

Dan nama pasien yang tertera di situ adalah Lintang Kirana Larasati.

—-

end

Di Antara 1 dan 4 Cinta (6)…

Wednesday, September 16th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia Di Atas 18 Tahun

Baca cerita sebelumnya Di Antara 1 dan 4 Cinta (5)

___

“Yay…ternyata toko kuenya masih buka. Cheese cake..Me love cheese cake so much. Beli dua ah.”

Dalam hitungan kurang dari lima langkah, Laras sudah berada di depan toko kue yang ia maksud.

“Mbak, saya minta cheese cakenya 2 yah.”

“Makan sini atau?”

“Di bungkus aja, mau makan di kamar.”

Sementara Laras menunggu pesanannya dibungkus ia mendengar seseorang menyapanya…

“Ras…”

“Hei, loh kamu nginep sini Mi?”

“Iya, kantorku lagi ada workshop di sini sampe besok.”

“Ohhh. Seksi sibuk workshopnya atau ngikut doank?”

“Dua-duanya.”

“Si bos sepertinya mbak ini, hehehehe. Di lantai berapa Mi, kamarmu?”

“Lantai 12. Kamarmu?”

“Gak jauh lah dari sana. Kamu mau beli kue juga?”

“Iya lagi bingung mau milih apa. Errr…Ras…”

“Apa Mi?”

“Do you really love Mas Ram?”

“Yah, off course I love him. Why did you ask me that?”

“Coz I still do love him so much.”

“So why didn’t you say yes when he asked you to marry him?”

“I have my own reason.”

“Your fam? Bukannya kalau di tempatmu, di sebuah pernikahan, yang meninggalkan keluarganya itu yang perempuan ya, bukan yang lakinya? Correct me if I’m wrong.”

“Saya nyesel. Saya ga berani bertindak saat itu, untuk lebih milih Mas Ram.”

“So that’s your fault not mine.”

“But I still want him, Ras. I know that you’re not better than me. Kamu ga laik dampingin si Mas. Saya tahu siapa kamu. Kamu bener-bener ga pantes buat dia. Gak boleh dapetin dia, gak pantes nikah sama dia.”

“Kerusuhan apa lagi ini, kurang dahsyat sepertinya hari ini untuk gue” pikir Laras sambil menyiapkan jawaban balasan untuk hujatan Mia barusan.

“Yang tau persis nilai pantes atau gaknya aku sama Mas Ram, ya cuma Mas Ram ama Tuhan, Mi. Saya cuma ditanya mau atau ga untuk dampingin hidupnya dia nanti, dan so far saya yakin saya bisa, ya sudah, saya jawab iya atas pertanyaanya. Saya ga mau melakukan kesalahan yang sama kayak yang kamu lakukan dulu, menye-menye ngeselin kayak gitu. Ya udah ya Mi, we’re done. Saya mau bayar kue yang saya pesan.”

“You’re not going to get married with him, Ras. Saya ga akan membiarkan hal itu terjadi.”

“We’ll see, Mi. Ohh ya, don’t worry, we’ll invite you. Wait for the invitation yah. Bye.”

Laras akhirnya meninggalkan Mia sambil sedikit menggerutu dalam hati, “Psyyyccchoooo!!! Kenapa sih nih perempuan-perempuan? So pathetic. I need cigarette badly. Saatnya mencari toko yang jual rokok. Mini market di sana itu masih buka tak ya?”

***

Laras sudah berada di kamarnya lagi, dengan satu kotak berisi dua potong cheese cake, dan tiga bungkus rokok kesayangannya dan kesayangan Mas Ram.

“It will be perfect nite. Cheese cake, cigaratte, sex, and no office tomorrow. Perfecto!!!”

“Aaaaaaaaaaaa…tidaakkk!!!”

Tiba-tiba Laras berteriak kencang, sekencang-kencangnya, seperti kesetanan. Dan seketika pula, semua barang yang ia bawa, jatuh berceceran di lantai, yang sudah tentu akan menghancurkan imajinasinya akan malam yang penuh gairah dengan Ramelan, tunangannya.

Bukan pemandangan indah yang dilihatnya saat itu. Bukan tubuh kekasihnya yang menggoda, yang akan membuat adrenalinnya berteriak padanya untuk segera naik ke tempat tidur, kembali bercinta dan mengumbar napsu.

Ramelan tergeletak tanpa daya di atas tempat tidur. Seprei yang tadinya berwarna putih bersih, sekarang sudah berubah warna, akibat ceceran darah.

Laras pun langsung memeriksa denyut nadi kekasihnya itu…

“Masih berdetak, walau lambat,” diiringi dengan teriakan kecilnya yang berusaha membangunkan kekasihnya yang tak sadarkan diri, “Mas Ram, Ayank, Hon, Hon, bangun, Cinta!”

Tanpa berpikir panjang, Laras mengambil telepon dan meminta bantuan resepsionis.

“Cepetan Mbak, panggil ambulans dan polisi, kalau ga tunangan saya ga ketolong ini. Buruan!!”

Laras yang tampak kaget setengah mati, duduk lemas di sisi tempat tidur, sambil satu tangan memeluk dengkulnya yang ditekuk, dan tangan satunya lagi memegang lemas tangan Ramelan, yang beberapa kali masih menunjukkan adanya respon.

Laras hanya bisa duduk, menangis, sambil berdoa meminta agar Tuhan berbaik hati untuk tidak membiarkan kekasihnya pergi meninggalkannya, “Harus ya Tuhan, gue keilangan orang yang gue sayangin, untuk kesekian kalinya lagi? Harus ya? Answer me! Please, don’t take him away from me.”

Laras kemudian berniat menyingkir dari samping tempat tidur, begitu ia melihat tim medis sudah datang di kamar yang mulai menyita perhatian orang banyak.

Sekali lagi, genggaman Ramelan menunjukkan respon yang seolah berkata padanya, “Jangan tinggalkan aku, Rana.”

“I’m not going to leave you, Hon. Love you so much,” hanya itu yang bisa Laras katakan pada Ramelan, lewat bisikan manis di samping telinganya, sembari ia perlahan menyingkir, memberi ruang lebih untuk tim medis menangani Ramelan.

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (5)…

Wednesday, September 16th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (4)

___

“Arrrggghh…akhirnya nyampe kamar juga. Kayak abis jalan jauh aja dari lobi ke kamar doang.”

Tiba-tiba Laras ditarik oleh kekasihnya, sehingga punggungnya telah bersandar di dinding kamar, dan pertemuan kedua bibir mereka telah menghasilkan ciuman panas yang membuat adrenalin berpacu.

“Rana bonie, kau akan ku habisi malam ini. Aku mau nikmati setiap centi lekuk tubuhmu. I really want you tonite,” bisik Ramelan dengan suara mendesah, mencoba menggoda Laras.

“I’ll wait baby.”

Laras tahu persis, kekasihnya ini tak mungkin melewati ritual membersihkan diri, alias mandi, sebelum naik ke tempat tidur. Tanpa basa-basi, Laras langsung membantu Ramelan melepaskan jas yang ia kenakan, dan membiarkannya memasuki kamar mandi.

Tak betah mengenakan gaun panjangnya, Laras segera berganti pakaian. Kemudian mengambil rokok dari dalam tas, menyundutnya, dan mulai menikmati isapan demi isapan puntung rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

“Sial, nih rokok dah mau abis lagi. Mas Ram masih ada stok ga ya? Ahh, gampang ntar tinggal beli di bawah. By the way, itu toh si Andra, yang niat nyari nomor telpon n nelpon gue untuk nanya gue pacaran apa ga sama Mas Ram, belum lagi komentar-komentar dahsyatnya di seluruh rumah gue di dunia maya. Paket komplit yach malem ini, Jihan, Mia, Gue, Andra, mudah-mudahan ga nambah rusuh. Kecuali rusuh di ranjang. Hahahha. Laras-laras, kalo elo ga aneh, mana mau lu diajak nikah ama Ram?”

Tanpa Laras sadari, Ramelan sudah berada di belakangnya dan memeluknya.

“Gak mandi Sayang?”

“Kayak ga tau aku aja kamu, Mas. Tadi kan sebelum makan malem aku dah mandi, and sekarang nunggu dimandiin kucing sama kamu, tapi abis selese ngerokok ya, hehehehe.”

“Aku juga mau ngerokok dulu, dah dari tadi nahan.”

“Cieeehhh…gimana rasanya hari ini? Lengkap tho perempuanmu malem ini?”

“Ho oh je. Lengkap tenan. Errr..Ran…”

“Hmm, apa?”

“Yakin mau nikah sama aku?”

“Lah, situ yakin ga nanya ke aku?”

“Yakin seratus persen, Sweetie.”

“Berhubung masokisku belom sembuh Mas, jadi sekarang aku jawab yakin.”

“So, matiin itu rokok, dah waktunya kamu tak gendong ke tempat tidur. Aku ga tahan habisin kamu sekarang.”

“Gak perlu digendong, aku naik dengan sukarela kok.”

Dalam beberapa menit setelah mereka menaiki tempat tidur, pakaian yang mereka kenakan sudah bertebaran di mana-mana. Bibir Ramelan pun sibuk menelusuri tiap inchi tubuh Laras, yang sudah terbius dengan kedahsyatan permainan ranjang kekasihnya.

Mereka berguling-guling ke sana kemari. Sibuk memainkan posisi yang menjadi kesenangan mereka.

“Aku mau kamu di atas, Sweetie.”

“So, take me there.”

Ayunan itu semakin kencang, berpadu dengan aluna suara mereka yang tak lagi peduli orang lain di luar sana, yang kemungkinan melewati kamar mereka.

Mereka berguling lagi, membawa Laras berada di bawah dan tengkurap.

“This is what you like rite, Mas? Give me your best move!”

“Will do.”

“Yes baby, rite there. Yes like that. Come on, ooohhhh…yes deeper, Hon.”

“My God, you’re so wonderful, Sweetie. Ohhhh, nooo. Yes, it’s almost done. Oh, no, oh, God…I’m done now.”

Dan akhirnya mereka terbaring berpelukan penuh puas.

“Kamu dahsyat hari ini, Hon.”

“Untuk kamu apa sih yang ngga?”

“Ran, I want more. Now.”

“Kuat?”

“Nantangin?”

“Ho oh.”

Dan mereka mengulanginya lagi, lagi, lagi dan lagi. Dua manusia yang tak pernah kehabisan energi meluapkan cinta. Walau awalnya dulu Laras selalu menolak ajakan kekasihnya itu.

“Aku ga mau jatuh gubrak, kalo ntar kita putus,” alasan yang diberikan Laras pada Ramelan saat ia mengajaknya bercinta, waktu awal-awal mereka pacaran dulu. Tapi Ramelan satu-satunya kekasih Laras yang berhasil membuatnya mampu meninggalkan topeng yang biasa Laras pakai di kehidupannya sehari-hari. Topeng yang mengakibatkan Laras tak mudah menikmati setiap cerita hidupnya. Dan Ramelan-lah yang bisa membuat Laras meninggalkan itu semua. Membuat Laras meninggalkan ketakutan-ketakutan dalam hidupnya yang belum tentu akan terjadi.

“Eh, jam berapa sih nih?”

“10.35.”

“Kok aku laper ya, Mas.”

“Mau pesen makanan?”

“Ga usah, aku turun aja lah ya, tadi liat ada cheese cake di bawah. Mudah-mudahan masih buka. Sekalian mau nyari rokok. Rokokmu juga dah mau abis kan?”

Laras langsung beranjak dari tempat tidur dan mengenakan pakaian.

“Kuncinya aku bawa ya, Sayang.”

“Yup.”

“Kamu mau nitip apa?”

“Rokok jelas.”

“Okay. Hmmm..tunggu pembalasanku nanti. I’m gonna kill you, when I come back.”

Dan Laras melayangkan satu lumatan ciuman di bibir Ramelan.

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (4)…

Tuesday, September 15th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (3)

____

Pasangan bahagia itu berjalan sambil mengobrol dan tertawa kecil. Nampak jelas bahwa mereka memang sedang kasmaran, jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya. Mungkin orang di sekitar mereka saat itu, sudah mereka anggap tak ada, yang menjadikan dunia hanya milik mereka berdua.

“Kamu kok ga jalan satu meter di depanku lagi kayak awal-awal kita jalan bareng?”

“Ahhh, sial kamu, ngece aja terus.”

“Takut plus malu ya dulu jalan sama gue? Dulu mana berani gelendotan kayak gini.”

“Speechless gue. Eh tapi kamu dulu juga mana mau kayak gini. Cuma sekali, pas kita belanja di butik Spanyol kesayangan kita, kamu nempelin idung kamu ke idungku.”

“Hebat, kamu masih inget. Pas aku beli sepatu waktu itu ya? Pas lagi antri di kasir?”

“Inget lah, gue gitu. Sepatumu yang coklat itu ‘kan?”

“Ho oh.”

Setengah tergesa-gesa mereka menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 12 untuk menuju kamar nomor 03 yang menjanjikan kenikmatan tiada tara yang selalu mereka rindukan, saat tubuh mereka terpisah.

Dalam hitungan detik, lift yang baru saja terbuka di lobi, sudah membawa mereka ke lantai yang dituju.

Sekeluarnya mereka dari lift, dan baru saja berbelok ke lorong menuju kamar, beberapa meter di hadapan mereka, ada seorang perempuan bersama seorang anak kecil, yang sedang berjalan menuju arah mereka.

Laras menyadari bahwa perempuan itu menatap tajam ke arahnya dan kekasihnya. Ia pun berbicara dengan nada sangat pelan ke kekasihnya…

“Mas, liat deh, siapa ya tuch cewek? Kok ngeliat kita parah gitu? Kenal ga sih kita?”

“Ya, kalo kenal tinggal disapa aja kan?”

“Iya juga sih.”

Jarak mereka dengan si perempuan yang membawa anak tadi, semakin dekat. Dan rasa curiga Laras tak lama lagi akan terjawab…

“Mas Ram? Laras?”

Laras hanya bisa mengernyitkan dahi, berusaha mengingat siapa perempuan yang menyapanya saat itu, sembari menatap bingung ke arah kekasihnya.

Namun kebingungan itu tak terpecahkan dalam hitungan detik, yang menyebabkan Laras memberanikan diri untuk mengucapkan sesuatu.

“Sorry, do I know you?  Mbak ini siapa ya?”

“Saya…”

“Yes, she is Andra, Ras. Diandra, yang waktu itu telepon dan ngasih komentar di blog kamu.”

“Owwwhh, hai, akhirnya saya ketemu juga. Dah ga pernah kirim komentar lagi di blog?”

“Udah males, ga pernah di-publish juga.”

“Maaf ya, ga bisa di-publish, isinya ga memungkinkan untuk dipublikasikan.”

“Mas Ram, apa kabar?”

“Baik. Lagi di Jakarta?”

“Iya, lagi main. By the way now you are both officially going out? Kamu bener-bener tega ninggalin aku sama Dara?”

“Gak cuma pacaran Ndra, saya dan Laras are getting married.”

“What? Ras, I’m still his wife.”

“Errr…what should I call you? Okay, Mbak, Ndra, whatever, maaf banget saya cuma percaya sama apa yang Mas Ram bilang ke saya, dan sebelum kami pacaran, yang saya tahu dan yang saya denger dari mulut Mas Ram sendiri, dia baru aja putus ama Mia. Kalo kamu bilang, kamu nikah ama Mas Ram 4 tahun lalu, itu ga mungkin. Mas Ram masih dan udah lama pacaran sama Mia saat itu. Mereka ‘dah rencana mau nikah, walau batal. Dan yang lebih penting, saya lebih percaya sama pacar saya sendiri, bukan orang lain.”

“Sorry Ndra, urusan kita berdua udah selese lama. Saya udah ga ada urusan lagi sama kamu. Please leave me alone. Saya ga ada waktu buat ngurusin kamu dan tingkah laku aneh kamu yang terus-terusan kayak gini.”

“Mas, Dara ini anak kamu. Dan kamu Ras, kamu ga ada bedanya sama Mia, sama-sama sampah.”

“Sorry, Ndra, kita bener-bener selese. We gotta go.”

“Yuk, Ran, kita pergi.”

“Bye, ‘Ndra.”

Mereka berdua pergi meninggalkan Andra dan anak perempuannya, yang kira-kira baru berusia 3 tahun. Meninggalkan tanpa menoleh kembali ke belakang. Tanpa memerhatikan bahwa Andra telah menandai kamar tempat mereka menginap, walau pada akhirnya Andra menuju ke lift dan memasukinya.

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (3)…

Monday, September 14th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia Di Atas 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 Dan 4 Cinta (2)

___

Mereka tidak kembali menginap di hotel itu, pada malam di hari yang sama saat Ramelan bertemu Jihan, melainkan dua hari setelahnya. Kebetulan mereka mendapat kamar yang sama, kamar 1203, yang juga merupakan angka keramat untuk mereka berdua.

Kali ini acara romantisme mereka berdua diawali dengan makan malam, di restoran mahal dan romantis yang juga terletak di hotel. Mereka tak lagi peduli ada kenalan, teman atau saudara yang melihat mereka menghabiskan malam penuh cinta dan hasrat di sana.

Makan malam yang sangat romantis. Ramelan mengenakan jas terbaiknya, yang sepertinya tak perlu lagi disebutkan mereknya, kalau dasinya saja sudah bermerek satu butik terkenal dari Prancis yang tak pernah sama sekali menggelar program diskon. Sedangkan Laras mengenakan gaun hitam panjang, berkerah halter neck dan backless, memamerkan lehernya yang jenjang dan punggung indahnya. Makan malam yang berlangsung singkat, karena mereka rindu akan kamar yang menjanjikan suatu hal yang lebih menarik daripada sepiring makanan mini nan cimit ala fine dining.

Dan saat mereka hendak kembali menuju ke kamar, tiba-tiba mereka berpapasan dengan seseorang.

“Malam, Ramelan.”

“Hei, malam, Jihan.”

“Ketemu lagi di sini.”

“Yah, just had dinner.”

“Owhh, menyenangkan. Nginep sini juga?”

“Sepertinya. Oh, ya, kenalin. Ini Laras.”

Dan Laras pun menyambut uluran tangan Jihan.

“Hai Jihan, nice to see u.”

“Saya juga. You look so gorgeous. By the way, kalian terburu-burukah? Aku traktir ngopi dulu yuk, sambil ngobrol-ngobrol sebentar.”

Dan akhirnya mereka bertiga menempati satu meja sembari menikmati minuman yang mereka pesan.

“So, akhirnya saya liat wajahmu dari dekat Ras.”

“Kemarin cuma dari jauh ya. How do you know that I am Ramelan’s girl?”

“Kelihatan lah dari body language kalian. Mata kalian itu bicara, dan penuh cinta.”

“Duuhh, jadi malu.”

“Gak perlu malu lah, harusnya kalian seneng. Udah berapa lama kalian pacaran?”

“Almost a year.”

“And planning to get married?”

Laras hanya diam, dan melirik ke arah kekasihnya…

“That’s what we celebrate today.”

“I proposed her two days ago. After checked out from this hotel.”

“Congratulation for both of you.”

“Thank you.”

“So what is the date?”

“Belum dibicarain. Baru dua hari juga.”

“Andaikan saya bisa datang nanti.”

“Kalian ngobrol berdua sebentar ya. Hon, aku ke toilet dulu ya.”

“Ya, Mas.”

Dan tinggalah Jihan dan Laras berdua di sana, sementara Ramelan pergi ke toilet yang tak jauh letaknya dari tempat mereka mengobrol saat itu.

“Ras,…”

“Yah.”

“Jadi ini cincin pemberian Mas-mu itu?”

“Yup.”

“Nice.”

“I know.”

“Kamu beruntung dapet dia.”

“Really? Why?”

“Dunno, but you’re so lucky to have him.”

“Hopefully. Hmm, may I ask you something?”

“Yes, sure.”

“Berapa lama kalian pacaran dulu?”

“Lumayan lama. Saya lupa. Saya dulu sempat berharap saya bisa nikah sama dia, tapi berhubung saat itu tak mungkin, ya saya harus trima. Terus terang saya iri sekali sama kamu sekarang. That’s why I told you, that you’re so lucky.”

Dan di tengah pembicaraan dua perempuan itu, Ramelan sudah muncul di hadapan mereka.

“Seru amat ceritanya.”

“Gosipin kamu pastinya.”

Laras tiba-tiba memasuki dunianya sendiri saat Ramelan asik mengobrol dengan mantan kekasihnya, yang sampai sekarang masih terlihat cantik, walaupun sudah berada di akhir usia-usia 40 tahunan. Ya, bagaimana tidak cantik, peranakan Rusia campur Turki.

Laras sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Huh, beruntung? Kira-kira beruntungnya di mana ya? Egois mampus, iya. Gak peduli orang lain kalo dah kerja, iya juga. Keras kepala super dahsyat, jangan ditanya deh. Ya, ya, kalo urusan otak yang super dahsyat canggihnya, mang gue beruntung sih dapetin dia. Apalagi untuk urusan ranjang, hahaha, wah ga ada nih manusia yang ngasih gue tiket langsung ke neraka kenikmatan ke-7, kayak dia. By the way kenapa mereka dulu putus ya. Apa cuma gara-gara Mas Ram dah punya istri dulu. Ah, ga bakal ketauan juga toh ya, lah wong beda benua juga gituh, yayaya, semakin rusak lah ini otak gue mikir yang aneh-aneh.”

Laras berhasil keluar dari pikirannya yang mulai tak menentu. Teriakan seseorang yang memanggil nama kekasihnya, mampu menarik perhatiannya.

“Mas Ramelan.”

“Huh, perempuan mana lagi ini. Eh bentar, kayaknya gue tau nih muka. Damn another his ex-girlfriend, sempurnalah malem gue hari ini,” pikir Laras saat itu.

Mereka berdua asik cipika-cipiki, seperti laiknya orang yang sudah lama tak bertemu.

“Lagi meeting, Mas?”

Dan dalam hati Laras, ia mengumpat, “Ga liat ya Neng, gue pake baju kayak gini, meeting dari Hongkong?”

“Gak, lagi ngobrol-ngobrol aja.”

“Owhh, okay.”

“Eh, iya Mi, kenalin ini Laras, ini Jihan.”

“Mia.”

“Jihan.”

“Mia, mantan pacarnya Mas Ramelan.”

“Laras,” sambil ia berkata di dalam hati “Sumpah loe PD abis.”

“Mia, Laras ini tunanganku.”

“Oh, loh, bukannya waktu aku telepon beberapa waktu lalu, Mas Ram bilang belom punya pacar ya.”

Gatal rasanya mulut itu ingin mengeluarkan kata menimpali pembicaraannya, kalau saja Laras tak mengingat kekasihnya, yang sangat ia hormati itu.

“Aku ngomong gitu ke kamu, karena satu alasan, Mi.”

“Apa?”

“Sepertinya kamu ga perlu tahu lagi alasan itu sekarang.”

Laras pun bisa tersenyum puas. Puas, dengan jawaban diplomatis kekasihnya, yang saat itu ingin sekali ia hamburkan cium di bibir tipisnya.

“Love you lah, Mas,” cuma itu yang bisa Laras sampaikan kepada kekasihnya, dengan sebuah tatapan mata penuh dengan binar cinta.

Mia pun berlalu dari hadapan mereka bertiga, sehingga mereka bisa kembali leluasa mengobrol.

“So Jihan, kapan terbang balik ke London?”

“Terbang ke London sih besok malam, itu di London juga cuma seminggu, ngambil barang. Terus langsung ke Moskow.”

“Kamu akan tinggal di Moskow?”

“Saya udah kurang lebih setahun ini hidup nomaden. Keliling sesuka hati. Sebelum ke Indonesia ke dua kalinya ini, saya tinggal di Bangkok 3 bulan, sempet di Vietnam 2 minggu, pernah di KL 2 minggu juga. Abis itu di Jakarta 1 bulan, Bandung 1 bulan, Manado 3 minggu, lalu karena visa sudah mau habis, terpaksa keluar dari Indonesia dulu, akhirnya saya ke Singapura 1 bulan, dan balik ke Indonesia lagi, tinggal di Bali, lalu Jogja, dan balik ke Jakarta. Sepertinya sudah cukup jalan-jalan saya, dan sekarang saya mutusin tinggal di Moskow saja, tempat kelahiran saya.”

“Enak banget kamu bisa jalan-jalan terus.”

“Udah rencana dari dulu memang.”

“Hon, balik ke kamar yuk, besok…”

“Duh, sorry besok kalian kerja ya?”

“Kita? On leave tomorrow. Sengaja cuti barengan, tapi saya ga betah aja pake baju seperti ini berlama-lama. Jadi tetep kayaknya saya sama Mas Ram, harus balik ke kamar.”

“Okay, kalau begitu, terima kasih udah mau ngobrol nemenin saya ngopi.”

“My pleasure juga kok, seneng bisa kenal sama kamu Jihan.”

“Good night and have a good sleep, Jihan.”

Akhirnya Laras dan Ramelan berpamitan dengan Jihan. Meminta izin untuk kembali ke kamar mereka, kembali menikmati waktu dan dunia mereka berdua, tak ada orang lain. Menikmati nikmatnya surga dalam neraka yang saling mereka janjikan dan sajikan langsung di depan mata.

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (2)…

Sunday, September 13th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (1)

___

“Hon, keberatan ga kalo kamu yang nyetir?”

“Ntar kalo tukeran nyetir lagi di kantor, resiko bakal ada yang ngeliat donk.”

“Kamu drop aku aja di kantor, mobilnya kamu bawa dulu, ntar sore kamu jemput aku ya.”

“Okay.”

Dan mobil itu mendadak sepi, hanya ada suara lagu dari CD yang diputar Laras. Sedangkan kekasihnya, hanya sibuk menatap apapun di luar jendelanya dengan tatapan kosong.

“Mas, are you okay? Kayak abis liat setan tadi.”

“He eh.”

“Kenapa, Sayang?”

“I met Jihan.”

“Jihan who?”

“My Russian-Turkish ex-girlfriend.”

“Oh, her name is Jihan?”

“Yup.”

“Ketemu di mana? Tadi pas beresin bill?”

“Yup.”

“Trus kenapa jadi diem?”

“Ga percaya gue. Lebih 20 taun aku ga ketemu.”

“Masih cantik ga?”

“Cantikan dulu lah.”

“Ah, kamu juga pasti gantengan dulu ya pas sama dia, daripada sekarang pas sama aku. Hahahahaha.”

“Tapi tetep hebat ‘kan di ranjang.”

“Kalo yang itu sepertinya lebih hebat sekarang daripada dulu. Pengalaman berperan pastinya. Hahahahaha. Terus kamu ga rencana gitu ngobrol-ngobrol ama dia? Dah lama loh ga ngobrol. By the way tadi sempet ngomong gak?”

“Ngobrol donk. Dia nyapa duluan. Dan dia notice kamu pacar aku.”

“Oh ya? Kita kan tadi ga ngomong setelah keluar lift.”

“Dia hebat untuk urusan observasi n nyimpulin hasil yang dia liat.”

“Dalam rangka apa dia di sini?”

“Liburan, menikmati hari tua sepertinya.”

“Kapan balik?”

“Weekend ini katanya, tapi aku ga tanya kapan tepatnya.”

“Ahh, ingetan tadi malem di kamar bakal keganti ama cerita London 20-an taun lalu neh.”

“Hahahaha, ya iya lah. Damn!!”

“Sial. Ya udah sana gih, ngobrol-ngobrol ama dia. Kalo mau aku temenin ya boleh, kalo mau bedua juga ga papa.”

“Liat ntar lah, Sayang. Atau ntar malem kita nginep lagi?”

“Terus gue ga pulang-pulang. Ga bawa baju lagi gitu gue.”

“Tinggal beli ‘kan ntar.”

“Liat ntar lah, Sayang.”

Laras tahu persis kekasihnya seperti apa. Kombinasi antara makhluk super egois, keras kepala, briliant, adorable dan lovable sampai mampus. Jangankan melarang kekasihnya untuk melakukan sesuatu, berniat untuk melarangnya saja tak akan ia pikirkan. Buang waktu dan tenaga percuma untuk melarang seorang Ramelan.

Hanya orang yang mempunyai gangguan jiwa, yang bersedia hidup bersama kekasihnya ini.

Mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya, saat Laras baru mulai menjalin hubungan dengan kekasihnya yang dulu; dan saat itu Ramelan masih dengan istrinya. Namun pertemuan itu berlalu begitu saja, tanpa menyisakan kisah roman di antara mereka berdua.

Bertahun-tahun berlalu, mereka tak saling bertemu, bahkan disempitnya kota Jakarta, yang dengan mudahnya mempertemukan banyak orang.

Sampai dengan hari itu, saat sakit hati yang dialami keduanya mempertemukan langkah kaki mereka kembali. Ramelan baru saja putus dengan kekasihnya, yang sudah 5 tahun pacaran dengannya, begitu pun juga Laras; bahkan pertemuannya dengan Ramelan saat itu masih dalam hitungan hari setelah ia putus dengan kekasihnya, yang kurang lebih 5 tahun terakhir bersamanya.

Mereka mulai merangkai rasa, menabur cinta, pacaran dan bercinta dengan dahsyatnya. Mungkin semua itu karena balas dendam akan rasa sakit yang mereka berdua alami sebelum mereka bertemu.

“Rana…”

Keheningan mobil itu terpecah dengan suara Ramelan memanggil manja Laras dengan panggilan sayangnya: Rana, sembari meraih tangan kirinya yang tak perlu sibuk memindahkan gigi, karena kecanggihan teknologi yang membuatnya demikian.

“Ya, Mas.”

“I love you, if you really knew.”

“I love you too.”

“Tolong pinggirin mobilnya sebentar dong di depan sana.”

“Okay.”

Dan tak berapa lama Laras, atau Rana, menepikan mobil kekasihnya yang sedang ia kendarai saat itu.

“Look at me, Hon.”

“Yes.”

Ramelan tampak meraih sesuatu dari dalam kantongnya.

“Will you wear this ring? Will you marry me?”

“What? Wait…you change your mind? Bukannya kamu bilang sendiri, kita ga akan nikah, ga mungkin bisa nikah, ga bakal cocok kalo nikah, dan…”

“Yes, I change my mind. Will you?”

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (1)…

Saturday, September 12th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

___

Seketika semua kejadian lebih dari dua puluh tahun lalu itu, tampak di pelupuk mata perempuan yang sekarang duduk di sana…

Saat itu, saat musim dingin di London, saat di luar jendela kamar, tampak salju sedang turun. Dia memelukku, dan menghangatkan tubuh ini. Yah, ditambah lagu itu, aku ingat betul lagu itu terputar, dan mengiringi malam yang menghangat karena degup jantung yang semakin cepat, yang memacu aliran darah semakin kencang. The First Time Ever I Saw Your Face, membuatku tak tahan untuk tak menyambut ciuman lembut darinya. Dan aku tak ingat lagi, bagaimana caranya tubuhku ini bisa tak terbalut lagi oleh benang sehelai pun, yang memeluk tubuhnya yang juga hanya tertutup selembar selimut, yang kami pakai bersama.

Aku sungguh tak peduli, tak mau mengingat tepatnya, bahwa saat itu seseorang yang ribuan mil jaraknya darinya, masih bersamanya. Saat peri-peri kecil itu pun masih baru seumur jagung belajar mengenal dunia yang penuh dengan kebrengsekkan.

Dan aku di sini, tega berbuat maksiat kenikmatan dengan dirinya, yang dikhianati dengan dansa-dansi kotor, oleh ia yang jauh di seberang sana. But still…he’s still with her at that time.

“Yes, baby deeper, and faster.”

Sial, aku benar-benar masih ingat detil kejadian di kamar itu. Ia memang hebat menerbangkanku ke neraka ke-7.

Dan kenapa hari ini, mata ini kembali melihatnya. Sekilas ia tak berubah sama sekali, walau kami sudah lebih dari dua puluh tahun tak bertemu.

Ia baru saja keluar dari lift yang terletak di ujung lobi hotel yang aku inapi. Keluar dengan seorang perempuan cantik dan bertubuh langsing, yang tampak jauh lebih muda darinya. Aku tahu persis, walau mereka tak saling bicara sekeluarnya mereka dari lift, tapi mereka baru saja menghabiskan malam bersama di salah satu kamar di atas.

Dan tebakanku kali ini benar, mereka saling menatap saat mereka berpisah. Si perempuan langsung keluar dari hotel, dan dirinya menuju resepsionis, yang sudah pasti untuk mengurus pembayaran kamar yang baru saja mereka pakai.

“Sayang bener, masih setengah delapan pagi udah check out. Wait, hari apa ini? Ah iya, Selasa, mereka harus bekerja, pantesan mereka memakai pakaian ngantor,” pikirku sembari mengamati mereka berdua.

Aku sampai melupakan hari. Sepertinya sudah terlalu lama aku menikmati masa liburanku, yang aku pakai berkeliling dunia.

“Sial, kenapa ia sekarang menuju ke sini. Pasti sambil nunggu kamar selesai diperiksa, untuk settle bill deh. Hyaaahh. What should I do. Dia bakal masih kenal aku?”

Ia pun duduk di sana. Di kursi tepat di depanku. Akhirnya mulut ini, tak tahan tak mengucapkan sesuatu untuk menyapanya.

“İyi günler, Ramelan.”

Beberapa detik, telingaku tak menangkap suara apapun. Bahkan suara sepatu tamu hotel yang lalu lalang di sekitar, tak terdengar sama sekali, bagai mereka berjalan sambil melayang. Tapi tidak dengan ujung mata ini, yang menangkap seseorang sedang menatapku takjub dan tak berkedip, yang beberapa detik kemudian mengeluarkan suara dari mulutnya…

“İyi günler, Jihan.”

“You still remember me?”

“How could I forget a beautiful Russian-Turkish girl, Jihan Albina who I met 23 years ago?”

“Dan kamu masih ingat selamat pagi dalam bahasa Turki?’

“And you can speak Indonesian fluently right now.”

“Yes, been living here for 3 months.”

“Really? Business trip or vacation?”

“Vacation pastinya. Kamu tak berubah sama sekali sepertinya. Wait..berubah sih, tapi sedikit.”

“I know, my hair. Ubanan kan? Getting old already.”

“Apa kabar?”

“Never better.”

“So…she’s pretty, and looks much younger than you.”

“Who?”

“Hey, I know you. Walaupun kalian ga saling bicara saat berpisah tadi, but I know, she’s your girlfriend.”

“Oh, yes, she’s my girl. Laras.”

“Pardon?”

“Her name. Lintang Kirana Larasati. I call her Laras, or sometimes with Rana.”

“Javanese girl right?”

“Yah.”

“Great night with her last nite?”

“Hahahha, that’s my secret!”

“Sorry.”

“So, you stay here? With your husband?”

“Ya, I just got back from Bali and Jogja, and have to fly back to London, due the expiration of my visa.”

“Kapan pulang ke London?”

“This weekend.”

“You’re alone here? Or with your hubby.”

“We divorced after 7 years we married.”

“Sorry to hear that.”

“Ga perlu, itu juga kemauan saya.”

“Yah, sepertinya cerai adalah jalan yang terbaik untuk ditempuh.”

“Yup, and don’t tell me that you divorced too?”

“We did.”

“Well, I don’t know what to say.”

“So don’t. I don’t wanna talk about it at all.”

“Okay, sepertinya seseorang nunggu kamu di mobil sekarang, dan resepsionis lagi jalan ke sini. Billnya sudah siap juga sepertinya.”

“Okay, see you when I see you then, Jihan.”

“See you when I see you too, Ramelan.”

—-

to be continued…