Posts Tagged ‘Cerita Cinta’

Black and Blue…

Tuesday, June 21st, 2011

When he/she becomes everything for you…

Though we have to get some bruises because of it…

Just because we are overjoyed… *jleebbbb…

But please,…just stay gold…

Because you are a firework…

Cinta

Mengapa kita menutup mata ketika kita tidur, ketika kita menangis, ketika kita membayangkan, ketika kita berciuman? Ini karena hal terindah di dunia tidak terlihat

Kita semua agak aneh, dan hidup sendiri juga agak aneh. Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita,  maka kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA.

Mencintai bukan bagaimana melupakan, melainkan memaafkan. Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu mengerti. Bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasakan. Bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu bertahan. Apabila cinta tidak berhasil, bebaskan dirimu. Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi.

Ingatlah bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersamanya.

Kadangkala orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu, dan kadangkala teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.

-Anonymous-

—-

Dedicated to someone who loves someone who loves someone else…

And it reminds me of one of profile pictures of my bbm contacts…

Love isnt complicated people are

I Did That Because I Want It With You…Badly!…

Monday, June 13th, 2011

Hari Minggu kemarin tumben-tumbenan saya ke pergi ke gereja sendirian. Biasanya ada Ibu dan/atau Bapak yang bersama saya.

*This is what I like…driving all alone, tanpa buru-buru, tanpa ada janji apapun sama sapapun, tanpa gangguan dari sapapun dan apapun, bebas kemana pun, dan tanpa macet! Bisa  lebih dari 120km/hour pun.

Literally dari siapapun dan dari apapun, kecuali gangguan saat mengendarai mobil. Tape mobil sengaja tidak saya nyalakan. Telepon genggam yang khusus nomor urusan kantor, saya bawa tapi saya silent, just incase saya butuh untuk menelepon. Dan Si Bébé sudah saya bekep, matiaw dari Sabtu sore, tidak hanya mematikannya, tapi melepas baterainya *Sampai sekarang.

“Sekali-kali biar pada ngerasain kalo ga ada gue gimana, susah nyari gue gimana.”

Tidak ada BB berarti pula hidup saya dari Sabtu sore hingga sekarang (Senin sore) tanpa ada BBM, baik menerima maupun (berpikiran untuk tidak) mengirim, dan mengharapkan ada yang mengirimi saya BBM dan mengecek saya masih hidup atau tidak di dunia ini. Tidak pula harus menerima SMS dari si Mama minta pulsa dan penawaran KTA dan kartu kredit yang terus-menerus. Tidak harus melongok ke time line twitter dan mulai kepo dengan urusan orang lain, atau membuat orang lain penasaran dan bertanya-tanya tentang time line yang saya lempar ke publik. Tidak perlu terima telepon dari keluarga, teman lama, maupun teman dekat, dan mungkin dari “teman” saya *Karena nomor si Bébé adalah nomor untuk urusan pribadi saya, bukan urusan kantor.

Ya kira-kira begitulah kegiatan saya yang berkaitan dengan si Bébé. Tetapi BBM sepertinya adalah “jantung hati” dari si Bébé.  Walaupun terkadang cukup annoying jika chatting dari grup-grup yang saya ikut tergabung di dalamnya, penuh dengan celotehan para anggotanya. Lagipula selama ini hanya ada satu orang yang sangat saya harapkan untuk mengirimi saya pesan di BBM. Ahh..jadi ingat percakapan saya dengan orang itu tepat dua minggu lalu.

Bali, 30 Mei 2011…

Saya: Aku kok kangen ya BBM-an ama kamu ya…

Dia: Hahahahaha…lagi ga perlu khan?

Saya: Selama ini yang paling aku tunggu ya BBM dari kamu…

Dia: Iya aku juga…

Tetapi saat ini, seseorang yang saya maksud di perbincangan di atas tersebut pun, tidak mampu mengurungkan niat saya untuk tetap mencopot baterai si Bébé dan membuatnya terdiam beberapa hari.

“Aaahhh…he knows me well kok…he already knows who is he dealing with now! Jangan-jangan dia ngga nyari gue pun. Hahahahahaha.”

Sempat beberapa kali, tidak hanya sekarang, telepon genggam ini saya anggap sebagai sumber hiruk pikuk dunia saya sendiri. Walaupun tidak munafik, tawaran pekerjaan bisa bermula dari komunikasi saya dengan seseorang dengan memakai telepon genggam ini. Atau ajakan bertemu dengan teman lama. Atau usaha perjodohan yang dilakukan oleh beberapa teman, yang sampai saat ini tampaknya masih sia-sia… :mrgreen: *Haaayyyooo…nyari sajennya yang lebih mutu dounks aaahh… :lol:

Kali ini, tepatnya beberapa hari ini, telepon genggam saya anggap merupakan sumber tingkat kebisingan hidup (hati) paling tinggi. Walaupun sudah lebih dari 3 bulan, si Bébé selalu saya kondisikan diam. Alasan utamanya adalah, saya malas mendengar bunyi-bunyian yang berasal darinya, dan saya hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang yang saya kenal (dekat). Jadi kalau saya tidak mau mengangkat teleponnya atau membalas BBM atau SMS, akan saya biarkan, kalau saya sedang tidak bisa mengangkat telepon dari mereka, ya saya akan membalas menelepon hanya ke mereka yang saya inginkan.

Kembali ke situasi kemarin. Saat saya harus pergi ke gereja sendirian. Satu hal yang saya rasakan sangat, dari pertama kali roda berputar akibat saya arahkan dengan stir adalah: peaceful. No tape. No sounds of human. Ga perlu ribet denger bunyi handphone. Dan yang terpenting adalah ga perlu mengharapkan apapun, dari siapapun yang mungkin datang dari perangkat-perangkat yang katanya pintar itu, yang membuat saya harus melongok ke arah layar mereka.

Jadilah hidup penuh kedamaian dari rumah-meruya-tol kebon jeruk-tomang-harmoni-jalan pos- lapangan banteng-meratapi nasib dan ngomel-ngomel ama Tuhan sebentar di Katedral-balik nyetir lagi masuk juanda-jalan veteran-depan Monas-Thamrin-Sudirman-bunderan senayan-pintu I-berhenti menghirup kebisingan sebentar di Plaza Senayan buat ngisi perut dan belanja beberapa botol-Asia Afrika-Simprug-jalan panjang-meruya-rumah, dari pukul 17.20 – 22.00.

Life is like a roller coster. Karena BBM juga, saya berkenalan dengan seseorang yang entah tak tahu kenapa, saya biarkan exist di hidup saya. Saya manusia kompleks yang penuh pertimbangan ini-itu. Saya manusia yang pada dasarnya manusia super cranky yang kena “hajar” oleh seseorang selama hampir 8 tahun dan berubah menjadi manusia yang cukup bisa memahami orang lain jauh lebih baik daripada masa-masa jahililah dulu. Saya yang secara periodik melakukan proses pemilihan remove terhadap kontak BBM juga daftar teman di Facebook dan juga follower di twitter. Saya yang kadang masih tidak memahami keputusan saya sendiri, mengapa mereka yang namanya hanya diam bertengger di akun-akun tersebut, tanpa pernah menyakiti saya, tapi saya ikutsertakan dalam daftar seleksi remove, sedangkan mereka yang pernah menyakiti saya, bahkan membuat saya geram dan menangis, saya biarkan tetap bertengger di sana, dan tetap saya biarkan mengikuti sebagian atau bahkan seluruh jejak langkah kehidupan saya.

“I do not share those kind of sexy things with everyone I considered as friends. Again…i did that because i want it with you,” and yes, my whole life is so sexy to get to know about…

Am I the one and only you (want to) share about the whole your sexy life or?

Think about it, Baby!!

-me, the one you called as little girl-

====

“Pada kangen ama gue ga ya? Gak ya? Ohhh..ya sud..maap ya jumpa fansnya lagi ditutup sementara.”

:mrgreen:

Atau Perempuan Tolol Yang Sedang Jatuh Cinta?…

Monday, June 13th, 2011

Hidup percintaan sepertinya memang ga pernah habis untuk dibicarakan. Kalau sudah urusan hati, selesai sudah, tamat segala urusan yang sebelumnya tampak baik-baik saja, seketika dalam hitungan detik, bahkan dalam hitungan kerling mata, buyar berantakan, hancur berkeping-keping.

Tag line boys still will be boys…and girls still will be girls, sepertinya memang segala akhir dari runutan cerita benang kusut yang sering terjadi jika urusan dua sosok aneh, bertemu. Pertemuan apapun itu. Bisa hati, atau pertemuan lainnya yang bukan berarti juga pertemuan hati (sekarang atau nanti) dan/atau pertemuan sepemikiran *Kok gue pun jadi bingung ama omongan gue ndiri :mrgreen: *Jadi inget tweet seseorang beberapa hari lalu: When two lips met didn’t mean two hearts do. *Jleeebbb…+ irisan jeruk nipis

Koleksi kisah percintaan baik milik teman yang dititipkan ke saya, maupun kisah pribadi (yang ga kalah serunya) sering membuat saya mengernyitkan dahi, dan berpikir “Ini yang geblek yang mana ya? Yang satu bodo, yang satunya bodoh.”

Pertemuan antara venus dan mars memang nyehe kalau dipikir-pikir lebih lanjut. Entah berapa banyak makhluk yang sudah melakukan tindakan-tindakan bodoh, akibat si cinta kampret ini…

Dan “koleksi” kisah percintaan terbaru yang terekam secara otomatis dengan indera saya di bawah ini, kembali membuat saya geleng-geleng kepala…

Perempuan itu menunjukkan sebuat foto, seorang pria dan ada perempuan di sampingnya…

“Ini fotonya dia.”

“Udah officially jadian?”

“Kayaknya.”

*Sebelum lanjut…beneran deh…foto apapun itu, apalagi profile picture BB cowok-cewek bukan berarti pasangan berstatus jelas loo…serius ini gue…eh atau memang jelas-jelas selingkuhan (gila beneran kalo foto selingkuhan di pasang di BBM) atau jelas-jelas gak jelasnya… :lol:

“Kok kayaknya, biasanya sih kalo dah ditarokh di pp gini, dah jadian looo. Biasanya. Apalagi dua-duanya pasang foto yang sama. Gimana cara elo jadi kontak BBM di dua makhluk itu? Berarti waktu dia intens sama elo itu juga intens sama perempuan itu? Terus elo sedih?”

“Ya iya lah.”

“Wajar.”

“Ampe nangis-nangis gue, dan gue mau marah-marah ama dia.”

“Iya loohh…ampe tilpun gue sesenggukan dari gudang divisi loe pun. Tapi hak loe apa ya marah-marah ke dia? Marah-marah karena jalan ama elo dan jalan ama tuch cewek di masa yang samaan?”

“Iya.”

“Sapa loe? Pacarnya dia mang waktu itu? Atau cuma karena elo yang jadiin dia prioritas elo tapi dia jadiin elo pilihan? Marah karena waktu itu elo dibiarkan nunggu berjam-jam tanpa kejelasan mau pergi atau ngga ternyata dia jalan ama perempuan itu? Though yang terakhir elo emang berhak kesel sih, dah janjian tapi tanpa kabar elo dibiarin nunggu.”

“Akhirnya gue remove dia dari kontak bbm gue.”

“Loohh kenapa?”

“Ga worth. Terus beberapa hari kemudian, dia nyamperin gue dan nanya-nanya kenapa gue diapus dari BBM kontaknya.”

“Elo boongin ajah. Blaga pilon. Bilang kek ke apus ga sengaja. Soalnya dulu gue kayak gitu.”

“Hahahah…gue pun kemaren begono.”

*Setuju gue…ga guna? ga perlu lah ada di kontak BBM…done that couple of times :mrgreen:

Another story from broken-hearted…

“Gue lagi kacau.”

“Gue telpon elo.”

“Kenapa loe? Masih nangis-nangis? Sampe kapan?” *Sumpah ya…Sampe Kapan itu adalah pertanyaan super nyeeeeehhhhheeeee…serius!!!!

“Ga tau. Gue minta dia ninggalin gue.” *Dan Ga Tau adalah jawaban paling aman nan rancu binti menye-menye…

“Ya udah lah…there’s nothing that we can do. Sometimes admit that we still love them but we have to lose them is the best way for the next 1 year at least…hahahaha…bukan untuk sekarang-sekarang sih. Try to sleep gih.”

“Gue takut tidur. Gue ga mau kebangun and sadar dia udah ga sama gue lagi. Nyakitin gue.” *Hyyyaaahhh…setuju gue…!!! Wake up in the morning and you realized something that you don’t  even want to know…sucks!!!

“Semua ada masanya sih. Mang yang kayak-kayak gitu harus dilaluin. Suka ga suka, mau ga mau. Mari ambil cangkul, gali kuburan, atau perpanjang kuku buat ngais-ngais aspal, atau sering-sering main ama anjing tetangga, biar suara kaing-kaing kita lebih mirip aslinya, atau ambil botol aja bouw…tenggak isinya…mayan ada sleeping pill.”

Atau “kisah sengsara” seorang perempuan yang berusaha selalu ada untuk seseorang pria yang dia sayangi, tapi sayangnya pria itu masih sangat terluka karena gagalnya ekspektasinya untuk menikah dengan perempuan jaman dahulunya. Perempuan yang membuat si pria melegalkan dirinya untuk “dirusak”, “dikacaukan”, tidak oleh orang lain, tapi oleh si pria itu sendiri. Usaha mampus si perempuan (yang saat ini sayang mati-matian ama si pria itu), “setidaknya” untuk menghapus legalisir tersebut, belum membuahkan hasil sampai saat ini *Mungkiiiiinnn!!!…belom dapet update terbaru dari mereka cyyynnn…gue khan sotoyyy…

“Tapi aku perempuan yang diajarin ama lingkungan untuk bisa tetep komit ama omonganku sendiri…yang kali ini adalah aku ada untuk kamu…aku bakal sayang kamu ampe kamu masuk peti mati…though nanti saat kamu dah sembuh total dari “penyakit” kamu and you choose one girl to take care of you completely yang most likely bukan aku…aku harus ngurangin porsinya yang selama ini aku kasih ke kamu…and let her do what i do…Love someone unconditional is not easy…at all…but you make me how to learn about it…though aku harus tercabik2..and dikasih irisan jeruk nipis di atas cabikan itu…” *Giiillaaaakkhh…kok mau ya? :lol:

Ini baru tiga dari sekian cerita yang menari-menari lucu di otak saya. Library saya tentang kisah cinta, masih banyak. Mau yang seperti apa, tinggal pilih. Mau yang original atau modifikasi beberapa cerita?

Anywaaaayyy…geleng-geleng kepala saya sampai saat ini tambah disertai dengan satu kalimat…

“Ini semua atas nama cinta, atas nama ketololan, atas nama perempuan, atau atas nama perempuan tolol yang sedang jatuh cinta?”

Dan… boooliat nih gambar…pasang di jidat kalo perlu…

tumblr_lki6p2yMp21qcrsn7o1_400

Dan pertanyaan selanjutnya adalah: “Yaaakkeeeennn bisa?” *Prrreeeeetttt…!!!

So start from now…maybe this quote from Shakespear can help…

“I always feel happy. You know why? Because I don’t expect anything from anyone. Expectation always hurts!!”

Dan satu bawel lagi: “Sampe kapan bisa ga expect anything from anyone?” *Jyaaaaaahhhh…

—-

Satu setting saat seseorang perempuan, yang di antara jari telunjuk dan tengahnya sedang terselip satu batang rokok yang masih menyala, sedang duduk berdampingan dengan seorang pria, yang di depannya sudah tersedia satu shot minuman hasil campuran antara minuman beralkohol dan cola, yang ditambahkan beberapa kotak es batu, dan terdengar perbincangan berikut ini keluar dari mulut mereka berdua:

Pria: “Berasa lagi pengen bunuh orang.”

Perempuan: “Bunuh aku aja. Volunteer loh.”

Pria: “Ngomongnya ga banget sih,” yang disertai dengan tatapan mata tajam dari si pria.

Perempuan: *Jiper sih kayaknya… *Jiper? Bahasa loooeee ‘Cha…

—-

Dasar perempuan! Tolol?

Ga taaauuukkkhh aaakkkhhh…ga mau mikir:mrgreen:

Satu Kesalahan…

Thursday, September 16th, 2010

Sumpah ya…berurusan sama elo itu adalah satu kesalahan besar dalam idup gue.

Termasuk juga kalo gue ga berurusan sama elo. Itu kesalahan besar. Karena gue ga akan pernah tau mencinta gaya elo. Karena gue ga akan pernah tau gimana gue harus membenci sekaligus mencinta. Karena gue ga akan pernah tau gimana caranya menjadi orang tangguh yang harus bisa berdiri, berjalan dan berlari setelah gue terlena oleh elo, dan langsung pun dibuang dari langit. Karena gue ga akan pernah tau gimana menjadi manusia dingin yang harus bisa kebal dengan perih plus luka.

Dan terutama, kalo gue ga pernah berurusan sama elo, gue gak akan pernah tau berharganya perubahan hati dari detik ke detik, hingga akhirnya ia terisi oleh rasa itu.

Cinta. Benci. Dan ketidakpedulian.

Saya, Cinta…

Thursday, February 25th, 2010

Perkenalkan, nama saya Cinta…

Saya makhluk tak berwujud yang paling berkuasa setelah Tuhan…

Duniamu ada di tangan saya…
Karena saya bisa mengubahnya…

Membuatmu menangis…
Lalu tertawa…
Saat ada ataupun tak ada orang lain di sekitarmu…
Semua, hanya dengan satu jentikkan jari saya…

Saya bisa membuatmu mencinta saya…
Saya yang ada di dirinya…
Karena saya membiarkanmu mencintanya…

Dalam hitungan detik, saya bisa membuatmu membenci dia…
Yang sudah membencimu…
Atau bahkan yang masih mencintamu…
Dengan sebuah, seribu atau tanpa alasan sama sekali…

Saya bisa menjadikanmu apa saja…
Malaikat cantik tak bersayap…
Seribu dewa pemaaf…
Kerbau dicucuk hidung…
Atau dedemit bertanduk, lengkap dengan garpu berduri…

Kehidupanmu ada di tangan saya…
Dengan menjadikan harimu penuh semangat…
Harapan dan citamu tergantung di atas surga ke tujuh…
Setinggi gambaran fana dirinya yang tergantung di sana…
Yang ternyata perlu keajaiban tersendiri, untukmu meraihnya…

Jika saya sedang jahil, saya bisa mendatangkan kematian untukmu…
Saat saya bisikkan padanya, bahwa ada saya, Cinta, yang lain di seberang sana…
Saat saya sodorkan seonggok saya, Cinta, yang berbalut daging penuh napsu di hadapannya…
Saat saya membuatnya berbalik arah meninggalkan kamu…
Tanpa alasan…
Tanpa satu gelembung buih liur yang dihasilkan dari rentetan kata yang keluar dari mulutnya…

Saya bisa membuatmu berada di antara sebuah kehidupan dan kematian…
Saat kamu saya butakan dengan dosis saya yang berlebihan…
Saat kamu tak sanggup saksikan dirinya memilih saya, Cinta, yang merasuki orang lain…
Hingga kamu hunuskan belati padanya…
Lalu padamu sendiri…
Yang tak juga mengakhiri hidupmu, apalagi hidupnya…
Jeruji besi hati pun siap terbentang lebar menanti untuk mengurungmu…

Lara, saat fisikmu berada di peluknya, yang kamu miliki…
Tapi saya, Cinta, yang ada di dirimu, adalah milik dia yang tak kamu miliki…

Merana, saat seribu sesal, yang coba kamu hapus…
Tak mengembalikan saya, Cinta, yang terbuang dari hatinya…

Tapi saya, Cinta, akan selalu menjadikanmu dewasa…
Walaupun saya, Cinta, akan selalu merangkul benci dan pahit, untuk ditawarkan padamu…

Dan atas nama saya, Cinta…
Saya akan selalu menghantuimu…
Bersamamu…
Bahkan di hari kematianmu…

…Cinta…

Mari Menuntaskan Yang Belom Kelar…*Looohhh…*

Friday, February 5th, 2010

Gue ga pernah bosen untuk bahas topik yang satu ini: kekasih jaman dulu…

Hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan saat cewek-cewek kurang kerjaan lagi pada ngumpul, atau setidaknya jadi bahan ketawa-ketiwi sendiri…kayak saat ini.

Gue, cukup seneng bisa mengatakan bahwa gue adalah orang yang beruntung, untuk bisa mempunyai hubungan baik dengan semua kekasih jaman dulu gue. Kekasih dari yang jaman baheula, jaman kuda gigit batu, sampai jaman jahililah. Kadang gue masih tilpun-tilpunan, walau hanya untuk nanyain kabar, atau ngasih berita-berita kecil, baik berita penting atau berita ga penting. Kirim-kiriman SMS, atau kalo lagi ga mau rugi BBM-an, biar gratis.

Mungkin itu semua karena gue selalu memulai hubungan cinta, pasti dari hubungan pertemanan. Ditambah dengan prinsip gue dan (sepertinya) kebetulan prinsip para kekasih jaman dulu gue itu juga, bahwa semua dimulai dan diakhiri dengan pertemanan. Setelah hubungan cinta berakhir, ya urusan romansa dan cinta-cintaannya aja yang ilang, tapi urusan silaturahmi pertemanan ga boleh ilang.

Kayak dua perbincangan terakhir dengan dua kekasih jaman dulu gue itu:

A: eh..eh..eh..gw dapet panggilan interview di …..&….. (*Duuuhh pengen banget nyebutin namanya*) loooohh…hihiiiyyy…wish me luck ya *sambil lumpat kodok*

B: Hwwwaaahhhaaa…keren-keren…

A: Do you know a job as ghostblogger? Ever thought of it?

B: Ha? Menyenangkan sepertinyah.

A: It is, here’s the link.

B: Thanks dear.

A: You should start from something you love. Gue “jual” elo ya.

B: Thanks ya.

See, menyenangkan ‘kan punya kekasih jaman dulu yang masih bisa dijadiin temen?

Karena mereka adalah “aset”, dan kesempatan. Aset untuk bisa dapet temen baru, aset buat dapet pacar baru, aset buat dapet kerjaan baru, dan mungkin aset dapet kesempatan untuk menuntaskan CLBK, yang kata salah satu anak gue di store, CLBK adalah Cinta Lama Belom Kelar :mrgreen:

Makannya gue rempong banget dahh, kalo perempuan-perempuan mereka jaman sekarang rempongnya najish tralalala. Errrr…cuma gue gituh loh…ga perlu dicemburuin ‘kan yah? :mrgreen:

—-

Buat yang kemaren BBM-an ama gue…eh itu beneran gue salah ketik, gue mau munculin Lu? jadinya LuV…walau ya walau salah ketiknya itu ampe 3 kali (*Sapa suruh untuk munculin ? dan V-nya satu tombol*)…

Dan jawaban dari BBM lu yang satu ini: Luv you too deeee…

Boleh ga gue bales dengan: Ke Jogja yukkk…*looohhh* wakakakakkakaka…

—-

Gue yang lagi ga beres, 5 Februari 2010

—-

“Mang elo pernah beres gitu ‘Cha?”

Macem Mana Lagi Ini?…

Friday, October 30th, 2009

Kamu lihat perempuan itu, Teman?

Apa yang kamu lihat dari luar? Seorang perempuan yang tegar, centil, selalu ceria, supel, tak pernah kesepian?

Memang sekilas perempuan satu itu, tampak tak pernah kekurangan teman, kekurangan laki-laki, kekurangan cinta. Lelaki mana yang tak rela mengantri untuk mendapat hatinya, atau bahkan mendapatkan secuil perhatiannya saja? Dari segi fisik, perempuan itu jelas di atas rata-rata, atau setidaknya itu menurutku. Otaknya yang pandai, juga perlu diacungi jempol. Belum lagi ia pandai bergaul.

Terus terang, aku kagum terhadapnya. Bisa-bisanya, ia menyembunyikan luka hati yang sudah tercabik-cabik, tidak hanya dengan silet atau pisau, tapi tak tahu benda tajam apa lagi itu namanya yang bisa tega menjadikan hatinya seperti itu.

Asal kamu tahu, Teman, perempuan itu tak mudah untuk jatuh cinta. Sama sekali tidak. Tapi sekalinya ia berada di lembah nista yang berjudul jatuh cinta itu, ia mungkin rela meletakkan hatinya di atas bara api.

Seperti saat ini. Masih saja ia belum jera mencinta laki-laki super gebleg. Bahkan jauh lebih gebleg daripada laki-laki terakhirnya.

Sumpah aku gemes banget melihat perempuan itu. Rasanya ingin sekali aku tampar kedua pipinya, agar ia terbangun dan sadar diri. Hatinya masih layak mendapatkan kastil yang jauh lebih indah daripada yang saat ini hatinya berada.

Ingin sekali aku berteriak di depan wajahnya…

Dasar masokis! Mana ada yang mau bercinta sama tembok?

Cukup…

Thursday, October 15th, 2009

Kekasih-kekasih itu rela meringkuk di bawah ketiak lelaki-lelaki mereka…

Yang tanpa terkecuali, selalu tercium wangi oleh hidung mereka…

Sodoran puting payudara kekasih-kekasih itu adalah menu makanan harian para lelaki mereka…

Tersaji tanpa upah…

Tak peduli caci lacur dari mulut tetangga…

Karena semua tidak untuk sentuh tubuh mereka…

Bukan untuk umbar napsu yang siap diledakkan…

Mereka hanya ingin memakai cadar itu lagi…

Cadar tipis yang mampu membuat mereka merasa dicinta…

Untuk telinga yang mendengar kata cinta, dan bukan erangan maut…

Walau hanya untuk saat itu, hanya di sana…

Hanya dan cuma…

Tak ada lain waktu…

Karena mereka tahu bahwa mereka hanya butuh itu…

Cukup…

Walau itu hanya bayang semu…

Nan indah…

Nan getir…

Penuh perih dan siksa…

Tapi lagi-lagi, itu semua…

Cukup…

Tapi kapankah kekasih-kekasih itu bisa memberikan ini…

Plaaaakkk!!…

Pada pipi-pipi kekasih-kekasih itu sendiri…

Sadarkan dari bayang semu yang tak terlihat…

Kalau akhirnya yang mereka inginkan hanya ilusi cinta…

Dan itu semua…

Cukup…

—-

Written during lunch time…published at 18:28 pm.

Kan Cintanya Ke Kamu Beda Ama Cintanya Ke Dia…

Thursday, October 15th, 2009

Cinta tak harus memiliki?

Klise, basi, sebuah penyangkalan, atau akan menimbulkan sebuah amarah?

Kalian pernah tidak menemukan kasus seseorang merasa cinta ke seseorang tapi ia lebih memilih/menikahnya dengan orang lain yang pastinya bukan yang ia cintai? Dan kalian tahu persis, persis, persis bahwa orang tersebut tidak mencintai sepenuh hati pasangannya. Hal ini biasanya dikarenakan saat mereka pacaran terbentur alasan-alasan prinsipil yang membuat mereka mundur teratur dan menyerah pada keadaan, walaupun keadaan itu bukan berasal dari mereka sendiri.

Yang menjadi gongnya adalah saat mereka bertemu atau berinteraksi lagi, mereka masih menggunakan cara bicara yang sama, menggunakan istilah-istilah atau gaya bercanda yang seperti dulu bahkan hanya mereka berdua yang tahu, masih mengucapkan “I Love You” setiap menyudahi telepon, bahkan mereka rela berbohong pada pasangannya, untuk menghindari rasa cemburu si pasangannya. Dan mereka berdua tahu, bahwa semuanya itu malahan dilakukan, diucapkan lebih tulus daripada saat mereka masih bersama dulu.

Kalau saya ditanya, apakah saya pernah menemui kasus-kasus seperti itu, saya akan jawab, ya, bahkan tidak hanya satu atau dua pasangan. Dan dari sana, mulai muncullah pertanyaan-pertanyaan ini di otak saya…

  • Apakah itu lebih kejam daripada sebuah perselingkuhan fisik? Saya akan jawab tidak (tahu) (*Cari aman* :lol: ), tapi tetap mereka mengerti batasan-batasan yang benar-benar tak boleh mereka langgar.
  • Apakah itu adil untuk pasangannya yang sekarang? Kalau saya pribadi akan jawab: Tidak adil.
  • Apakah cinta ada tingkatannya atau levelnya, atau bisa berubah-berubah skala prioritasnya dan tergantung situasi? Apalagi jika pelaku yang kepergok, ditanyai alasannya dan memberi jawaban: “Cintanya ke kamu ‘kan beda ama rasa cintanya aku ke dia,” Kalau saya pribadi membedakan antara rasa suka, rasa sayang dan rasa cinta. Cinta inilah bagi saya berada di tingkatan paling atas.

Tapi yang jelas, bagi saya sendiri, saya tidak pernah menyesali bahwa saya kehilangan sesuatu, karena pada akhirnya saya akan lebih memiliki kehilangan saya sebelumnya.

—-

“Situ pusing? Ndak papa, yang nulis juga sering pusing sendiri.”

—-

For someone from someone: I made my promise that my love to you is much bigger than my love to him, hopefully that you do the same thing…

The Weddings…

Sunday, October 11th, 2009

Di tengah kondisi perut yang tak kunjung membaik, hari Jumat kemarin, saya yang memaksakan diri untuk ke kantor, tiba-tiba mendapatkan sebuah telepon dari rumah…

“Mbak…”

“Loh, siapa nih?”

Dan suara di seberang sana menyebutkan nama adik sepupu saya yang Sabtu kemarin menikah.

“Kamu, kok besok mau nikah malah jalan-jalan.”

“Gak pake pingit-pingitan, Mbak.”

“Iya ya, jaman sekarang ‘ra usah pingit-pingitan barang yo.”

“Mbak…”

“Apa?”

“Besok bagi suara indahnya boleh nggak?”

“Duh, mudah-mudahan bisa ya. Dari dua hari lalu perutku ngga keruan je rasanya. Mual, eneg, kembung. Tak usahain ya besok bisa nyanyi. Lagu apa? Pas kapan?”

“Di gereja, pas akhir-akhir misa kok.”

“Jadi ga banyak yang merhatiin lah ya.”

“Iya, Mbak.”

“Ya wes, doain biar besok gue sehat yah.”

Dan Sabtu paginya, saya yang sebenarnya masih merasakan mual tak terkira, tetap harus melunasi janji saya untuk melantunkan satu lagu permintaan si adik sepupu. Ya mudah-mudahan derita perut ini tidak semakin Sempurna, saat harus menyanyikan lagu itu nanti.

Pelunasan janji, ternyata cukup lancar. Perut saya bisa diajak kompromi selama menghadari perayaan penerimaan Sakramen Pernikahan dan resepsi pernikahannya setelah itu.

Namun kondisi perut saya yang membaik, tidak berlangsung lama. Saat di perjalanan pulang dan saya harus mengendarai mobil, saya kembali merasa lemas dan haus, sampai-sampai saya memutuskan untuk berhenti mencari minuman penambah ion di mini market yang dilewati. Dan setelah dari sana, ayah saya yang kemudian mengambil alih mengendarai mobil hingga sampai di rumah.

Sesampainya saya di rumah, tanpa basa-basi saya langsung mengambil kunci kamar ibu, berganti pakaian dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.

Perut semakin parah. Seolah-olah ada puting beliung yang berputar-putar di dalam perut dan tak bisa keluar.

“Anjriiittt..nih perut ga sembuh-sembuh ya. Kata sapa gue diet?”

Ahhh…lagi-lagi tentang diet, saya mendapat komentar dari salah satu adik dari ibu, yang sudah lama tak melihat saya…

“Sa, kamu kok kurus banget.”

“Masakh? Lah beratnya sama tuch. Gak naik gak turun.”

“Kekurusan kamu.”

“Efek baju ini. Aku pake item. Lah dulu si mama juga cungkring kan?!”

“Kamu diet ya?”

“Gak…ngapain juga diet?”

Dan dalam hati…”Diet sih ngga…males makan kadang-kadang, apalagi kalo dah ngemil, berasa dah makan nasi hihihihi.”

Kembali ke urusan perut. Berbaring di kamar ternyata tidak meredakan kondisi perut saya. Puncaknya adalah saya terserang diare, hingga kehabisan cairan tubuh dan lemas. Saya memang sengaja tidak langsung meminum obat. Pada dasarnya saya malas minum obat, dan alasan kedua adalah saya membiarkan semua racun dalam perut bisa keluar, walaupun diare ini melelahkan juga, karena harus bolak-balik ke kamar mandi, hingga lebih dari 10 kali.

Setelah pertempuran saya dan kamar mandi yang kesekiankalinya, saya pun kembali berbaring di kamar ibu. Kebetulan ibu juga sedah leyeh-leyeh di sana…

“Ma, bikinin oralit dong atau beliin Pocari.”

Tanpa sadar saya pun malah tertidur, dan hanya ingat saat saya disodorkan ujung sedotan, untuk meminum cairan yang rasanya saya hafal betul. Cairan ini bisa dikatakan adalah teman saya sedari kecil. Dari saat saya terkena DBD, serangan maag akut pertama kali, hingga sekarang. Dari rasanya yang masih tak enak, sampai sekarang sudah dimodifikasi dengan rasa jeruk. Bisa tebak tak cairan apa? Hehehe…oralit, walaupun banyak minuman penambah ion ataupun pengganti cairan tubuh, tapi bubuk oralit ini memang selalu ada di rumah, karena kalau minuman-minuman ion lainnya, tak mungkin bisa bertahan lama di dalam lemari pendingin.

Dari saat saya tertidur hingga pagi hari, perut ini ternyata tidak menuntut kembali berteman dengan kamar mandi, dan saya pun bisa tidur nyenyak. Dan ketika saya bangun pagi, saya pun langsung di sambut dengan sebuah pertanyaan…

“Kamu ikut ke kawinan yang hari ini?”

“Hyaaahhh…masih ada kawinan yah?”

“Masih sakit perut?”

“Mangsur-mangsur sih dah ngga. Mual lagi tapi ini, liat bentar lagi deh, aku kuat ikut atau ngga.”

Anyway…talking about wedding…dan karena banyaknya undangan perkawinan bulan Oktober ini, saya teringat cerita seseorang. Dan kira-kira beginilah percakapan saya dengan orang tersebut…

“Cuy…”

“Apa?”

“Kemaren gue nemenin yayank gue ke kawinan anak supirnya.”

“Loh, bukannya elo kemaren disuruh emak lu nganter ke mana gitu ya?”

“Gak jadi. Gue akhirnya nemenin yayank gue.”

“Bentar deh. Yayank lu masih sama? Yang umurnya beda jauh ama elu itu bukan sih?”

“Ho oh.”

“Trus?”

“Ya lucu sih. Betawi abis, terus agak ribet nyari rumahnya. Laki gue lupa-lupa inget jalannya ke sana gituh. Berhubung gue cacat baca peta, sempet nyasar gituh, hahaha, tapi pas gue kasih liat petanya ke laki gue ternyata apa yang gue baca sama gitu ama yang dia baca. Ternyata petanya salah gambar, Cuy.”

“Gebleggg…trus-trus ngapain lagih.”

“Ya di sana cuma duduk, nyemil-nyemil, dibeliin teh botol pulakh.”

“Buset, di kawinan ada teh botol?”

“Yoi. Laki gue ga suka minum air putih.”

“Elo pake baju apa? Gak yang ribet dounks ya bouw.”

“Jeans gelap ama baju kotak-kotak Zara yang dibeliin laki gue, sepatu teplek.”

“Bagus…gue kira elo bakal pake baju ribet.”

“Ya ga mungkin lah.”

“Trus ngapain lagi?”

“Ya di sana gue banyakan ngobrol ama laki gue. Ngga ada yang gue kenal juga gituh. Tapi nih ya, Cuy, yang paling lucu waktu gue mau pamit pulang. Bininya supir si yayank tau-tau bilang gini ama gue…”Iya makasih ya Mbak Intan, dah mau dateng ke kawinan anak saya,” dan elo tau khan Intan itu adalah…”

“Anaknya laki lu? Bentar-bentar gue guling-gulingan ketawa dulu, hahahahaha.”

“Yooooiiii…”

“Lah dia belom pernah liat Intan?”

“Belom sih sepertinya, kalo dia manggil gue Intan.”

“Gak papa lah, berarti elo awet muda, Jek.”

“Hehehe, laki gue sih dah bilang ama gue pas berangkat, paling ntar kamu disangka Intan.”

Kembali ke acara hari ini, akhirnya saya memutuskan untuk ikut ke Penerimaan Sakramen pernikahan anaknya tetangga saya, yang kebetulan God Mother-nya adalah ibu saya sendiri, yang diselenggarakan hari ini.

Dan sepulangnya dari acara kawinan hari ini, kembali perut saya mual tak terkira.

“Sepertinya derita perut ini belum berakhir hari ini.”

Eh, tapi dari seluruh rangkaian acara perkawinan yang saya datangi minggu ini, saya terbebas dari pertanyaan…

“Kapan nyusul?”

Mungkin mereka sudah bosan mendengar jawaban saya…

“Kapan-kapan, kalo mau.”

Yang lain kali, mungkin akan saya tambahkan dengan jawaban…

“Kalo bisa malah ada laki yang bisa ada hari ini, besok ga ada. Ntar kalo gue mau, bisa ada lagi, gue capekh ngurusin, gue pulangin ke rumah emaknya dulu. Intinya capekh + bikin pusing ngurusin laki.”

—-

“Untuk newly weds…congratulations ya…your life has just begun my dear Sista…gak gampang Jek, ngurusin laki, apalagi kalo lakinya super stubborn, dah stubborn terus…” (*Loh, kok malah berniat curcol? Hahahaha LOL*)