Posts Tagged ‘Blogging’

Nikmatnya Akhir Pekan…

Saturday, July 11th, 2009

Memang tiada seindah akhir pekan bagi “kacung kampret” a.k.a karyawan kantoran seperti saya ini (dan mungkin seperti kalian). Ajang leyeh-leyeh dan mengoptimalkan waktu untuk me, myself and I, memang akan lebih terasa mantap to the max setelah jam kantor berakhir pada hari Jumat, kecuali untuk kalian yang memang masih harus masuk kerja pada hari Sabtu.

Setelah sekian hari saya tidak mampu memaksakan diri untuk berkutat dengan laptop tercinta dan segala aktivitas dunia maya (yang biasa saya lakukan setelah saya pulang kantor, membersihkan diri, having quality times dengan 7 ekor anak-anak saya dan memberi mereka makan), karena rasa kantuk yang tiada henti menjadi “teman baik” kedua mata saya ini, akhirnya malam ini saya bisa kembali melakukannya (“Kalo toh dipaksa melek, besok ga harus bangun pagi ‘kan?!”).

Saya memang lebih senang berkutat di depan layar laptop, daripada harus nongkrong di depan layar televisi. Internet mampu membius saya tak beranjak selama berjam-jam dari depan laptop, bahkan saat kedua mata saya sudah “berteriak-teriak” minta dipejamkan. Seperti saat ini.

Saat yang sudah lama saya rindukan lagi (“Satu minggu berasa lama buener”). Berinternet tanpa harus memikirkan urusan kantor. Dan saat yang sangat tepat untuk blogging tanpa ada pengganggu (“Kecuali gangguan dari nyamuk. Husssshhh. Teteup heran kenapa ada nyamuk di dunia ini. Makhluk tak berguna!”).

Blogging tidak serta-merta urusan memperbarui situs blog milik sendiri, tapi juga mampir ke situs-situs karya tetangga, yang tak sedikit jumlahnya. Dari yang memang terlihat serius menulis dan memelihara blog-nya, hingga blog yang benar-benar tak enak dibaca.

Saya memang termasuk “pemain” baru dalam dunia blogging, oleh sebab itu saya perlu sedikit “mengintip” isi blog para blogger yang sudah lebih lama berkiprah di dunia ini, agar saya dapat belajar sesuatu dari mereka. Belajar bagaimana menulis yang berkualitas, dari segi isi, teknis dan etikanya. Dan tentu dengan mampir ke blog tetangga, berarti pula mereka akan lebih mengenal blog/situs kita pribadi, yang menjadi sebuah keuntungan dan media promosi bagi kita sendiri.

Hasil dari kunjungan saya menengok karya tetangga malam ini, cukup membuat saya geleng-geleng kepala. Geleng-geleng kepala karena kagum akan passion mereka untuk ngeblog, yang membuat mereka (meminjam istilah Ndoro Kakung)  ngeblog dengan hati.

Dan intip-intip tetangga itu pun membuahkan bertambahnya daftar tautan, di halaman sisi situs pribadi saya ini. Ada situs pribadi milik mbak Silly, Simbok Venus (Venus To Mars), Ngerumpi, dan Tikabanget, yang bisa kamu klik dari halaman samping situs pribadi saya ini. Situs-situs yang menyenangkan, bermutu dan enak dibaca.

Terima kasih untuk sesama blogger yang sudah mencantumkan tautan ke situs para blogger lainnya di dalam blog kalian masing-masing. Jam terbang kalian sudah lebih lama daripada saya, jadi jangan bosan kalau saya mampir ke blog kalian ya?

Lalu untuk mereka yang masih ragu untuk mulai membuat blog, haaaayyyooo gabung menjadi blogger, dan jangan lupa jadi blogger yang menulis dengan hati.

Eh, satu lagi…Dewi Lestari (“Penulis favorit gue ituh”) sedang mempersiapkan situs barunya, masih coming soon tapih.

Happy blogging friends!

—-

Baru ingat kalau akhir pekan ini saya juga punya “mainan” baru, yaitu aplikasi photoshop yang sudah ada di laptop saya lagi, setelah sempat terhapus (“Norakh ya gue, cuma photoshop aja seneng! But that’s the beauty of working at IT company, gampang nyari software hehehehehe.”).

Proudly Present To You…

Saturday, June 27th, 2009

Yay…akhirnya keinginan lama saya, untuk menjadikan Introverto ini berdiri sendiri, terwujud sudah.

Sebenarnya saya sudah mulai mencari tahu informasi tentang pembelian domain dan web hosting ini sejak tahun lalu. Kebetulan ada beberapa kenalan yang bekerja atau mempunyai koneksi lainnya lagi untuk penyediaan jasa itu. Salah satunya adalah teman saya yang satu ini.

“Ta, kalo punya temen yang bisa web hosting-in site gue, tanyain dounks biayanya domain n hostingnya berapa?”

Dan akhirnya si blogger seksi (“Bakal ada yang GR sepertinya!”) malahan memberikan saya satu nomor ponsel seseorang. Melihat nama yang ia berikan, sepertinya tidak asing bagi saya, atau setidaknya saya sudah pernah lihat nama orang itu. Benar saja, begitu saya membuka situs milik si blogger seksi itu, saya langsung menemukan nama manusia pemilik nomor ponsel yang diberikan pada saya.

“Oooohh, ini tooo orangnya. Buset situsnya banyak amat. Weitss hasil foto-fotonya keren. Dari ketawanya, kayaknya anaknya sedikit tengil. Hahahahahah.”

Dan saya yakin orang yang saya maksud di atas, gede rasa dan ingin kembali mencela saya saat membaca ini sekarang.

Saya tak langsung menelepon atau mengirimkan pesan singkat ke orang tersebut. Pekerjaan kantor sedang luar biasa banyaknya dan membuat saya bahkan tak sempat untuk mengirimkan pesan singkat. Baru sekitar 2 atau 3 hari kemudian, saya sempat mengiriminya pesan singkat, tapi tak ada balasannya.

Baru besok harinya saya mendapat balasan darinya, yang sama sekali tak menjawab maksud yang saya utarakan (“Hyaaahhhh!”)

“Hi Oca, salam kenal juga.”

Saya biarkan itu tak terjawab. Hingga beberapa hari kemudian orang tersebutlah yang gantian mengirimi saya pesan di Facebook.

“Oca, jadi bikin site gak?”

“Jaaaadddiii…tapi jangan mahal-mahal ya, jangan bikin gue kere!”

Dan selanjutnya, kami saling kontak melalui ponsel, baik dengan saling mengirim pesan singkat, ataupun perbincangan langsung. Senang juga sih, ternyata manusia ini bukan manusia yang pelit pulsa, walaupun perbincangan yang kami lakukan adalah perbincangan antara Jakarta-Yogyakarta. Terbukti dari ia yang menelepon saya terlebih dahulu, tapi berhubung si Bébé selalu saya “bungkam”, telepon darinya tercatat sebagai telepon tak terjawab, dan saya yang kemudian menghubunginya.

Terus terang saya sedikit bingung dengan gaya apa saya harus bicara dengan manusia ini, karena saya adalah manusia yang paling malas kalau disuruh untuk berbasa-basi dan JaIm. Namun untunglah, saya terbebas dari kewajiban itu, kewajiban normatif saat bicara atau bertemu dengan orang baru, dan juga pasti terbebas dari predikat SKSD yang sempat diberikan beberapa orang kepada saya (“Anyway, I don’t care! Sebelom ngomong mending mikir dulu yah. Coz, setiap tingkah laku pasti ada alasannya!?”).

Percaya atau tidak, dari pertama kali kami melakukan pembicaraan, kami sudah berani mencela satu sama lain. Mungkin karena itu pulalah saya cukup percaya memberikan kata sandi untuk memasuki akun blog saya sebelumnya, agar ia bisa memindahkan semua tulisan, dan pengaturan situs saya di sana. Sampai sekarang kata sandi itu bahkan belum saya ubah, karena memang dua situs ini, masih ada yang perlu diperbaiki (“Hmmm, kalo ada yang aneh-aneh sama e-mail and blog gue, gue dah tau tersangka utamanya! Wakakakkakak, menyenangkan!”).

Anyway, saya cuma ingin mengucapkan terima kasih banyak pada Mr. Tampan dan Wangi (“Jelas itu bukan menurut gue Ge…, karena gue belom pernah liat wujud asli lu, jangan GR lu, sekali lagi itu hasil gue waktu itu Googling nama lu, hahahahaha!”), karena sudah bersedia saya repotkan dengan cerewetnya permintaan saya, dan juga thanks for being such a damn good new friend of mine.

Oh ya, untuk si blogger seksi itu, thanks a lot too sista!

And now… I am proudly present to you… http://www.introvertina.com

Just Because It Is Too Painfull…

Friday, June 12th, 2009

Hari ini, saya berhasil memporakporandakan hati seorang teman, yang beberapa hari lalu, dan beberapa minggu lalu mengatakan pada saya bahwa ia akan melupakan seorang pria yang melukai dirinya, dengan segala tingkah lakunya yang selalu tidak jelas maunya apa terhadap teman saya yang satu ini.

Padahal kalau dipikir-pikir, sepertinya sering kali kita sendirilah yang membuat keadaan menjadi tidak jelas (“Ya, gak?”).

Namun niat teman saya ini sepertinya sedikit buyar. Katanya, semua itu karena saya. Ya, karena saya yang memberikan padanya sebuah link ke sebuah blog, yang bisa dikatakan blog sayatan hati, yang pada akhirnya kami berdua beri julukan sebagai “ngais2aspal.com”.

Padahal tak semua isinya tentang patah hati. Kembali memang sepertinya kita sendirilah yang mencari hal patah hati itu.

Namun menurut saya, sebenarnya blog “ngais2aspal.com” itu memang…ya gitu deh…Tak percaya? Ini salah satu quote yang diambil dari blog tersebut.

Love is like a tattoo…
Love is much like a tattoo. You take the risk, face the pain and place it on a special part of you. And when the time comes when you need to erase it, you have to endure the pain again and realize that it will forever leave a scar, a scar that will always remind you that you had a tattoo that once symbolized something so special.
by: Angel 31st March 2009

Quote diambil dari sini

Dan untuk teman saya itu “Jangan nimpuk gue ya cuy, kalo ketemu! Hahahahahha”

—-

I already took that risk…and now that pain is no longer painful, just because it is too painful (by Ocha)

Selamat Bercinta…

Thursday, June 4th, 2009

Tadi sore, tak lama sebelum jam kantor usai, di tengah revisi uraian jabatan yang sedang saya kerjakan, tiba-tiba pikiran seperti ini muncul…

“Hari ini setidaknya harus menghasilkan satu tulisan.”

Dan pikiran itu pun langsung menjadi status di Yahoo Messenger saya.

Rindu, kangen dengan kegiatan saya yang satu ini. Satu hari absen, serasa satu tahun (“Ocha, kumat lebainya.“)

Anyway, absensi saya di dunia blog, tidak seratus persen, karena saya masih terus membaca kembali tulisan-tulisan saya, dan juga tulisan-tulisan yang dihasilkan para senior blogger, yang pastinya kualitas tulisan mereka jauh di atas kualitas tulisan saya. Apalagi jika membandingkan statistik kunjungan pembaca blog mereka dengan blog saya, beyond compare lah.

Salah satu blog milik senior blogger yang akhir-akhir ini sering saya kunjungi, adalah blog milik Ndoro Kakung. Kualitas tulisan beliau memang tak dipungkiri lagi, harus diacungi jempol. Dan tak heran bila blog beliau akhirnya dibukukan, dengan judul yang menurut saya juga sangat mengena, yaitu Ngeblog Dengan Hati.

Dengan hati, yang berarti dengan perasaan, dengan cinta, yang pada akhirnya akan memberikan jiwa, sehingga totalitas pada apa yang dilakukan, dikerjakan maupun dipikirkan dapat diraih?

Apa sih yang kalau dikerjakan dengan cinta, hasilnya tidak akan menghasilkan cinta kembali?

Pekerjaan yang dilakukan dengan hati dan rasa cinta, akan membuat orang lain melihat kehebatanmu di pekerjaan itu.

Buah pikir yang dihasilkan dari kesungguhan hati mengutak-atik dan mencari jawaban atas rasa penasaranmu atau rasa cinta untuk dapat membagi, akan membuat orang lain menganggapmu briliant.

Dan masih banyak contoh lain dari totalitas hasil yang dapat kita raih, dapat kita lihat dari kesungguhan hati kita untuk melakukan pekerjaan itu.

Namun satu pertanyaan yang juga terbersit atau mungkin sudah nyangsang lama di pikiran saya. Bagaimana jika kita mencintai seseorang dengan hati, cinta bahkan sering dengan pertaruhan jiwa? Apakah totalitas akan terjadi juga di sana?

“Haayyooo, para pengais aspal, atau yang ngaku sering garuk-garuk seprei gara-gara baca tulisan atau puisi gue, jawab dounks?!!? Huahahahhaah.”

Bagi saya mencintai seseorang dengan hati, sepenuh cinta dan jiwa, tentu juga akan menghasilkan totalitas.

Totalitas pertama adalah totalitas kesedihan, jika orang yang kita cintai tidak merasakan hal yang sama, atau berubah pikiran sama sekali di tengah perjalanan cinta itu. Dan tentu totalitas kedua adalah totalitas kegembiran dan pemenuhan cinta, jika orang yang kita cintai membalas cinta kita sepenuh hatinya. As simple as that.

Perjalanan saya untuk mencintai menulis dengan sepenuh hati, jiwa dan raga, awalnya sama seperti kondisi yang mungkin dapat terjadi saat kita mencintai orang lain. Bisa jadi tidak menghasilkan suatu totalitas. Namun seiring perjalanan saya terus-menerus menulis dan berusaha memperbaiki tulisan saya, baik dari segi konten, cara penulisan dan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, semua itu pelan-pelan membuahkan suatu totalitas. Meskipun belum menghasilkan sebuah buku atau suatu liputan dari sebuah majalah ternama di ibukota, setidaknya totalitas yang saya dapatkan tidak kalah membanggakan, yaitu hasil tugas akhir yang sangat di luar dugaan, dan pujian dari para penguji sidang saat itu.

Saya tidak akan berhenti menulis, tentang apapun yang saya rasakan, pikirkan, imajinasikan, mimpikan, dan juga hal-hal yang saya tangkap dengan lima panca indera, yang Puji Tuhan sampai sekarang masih dalam kondisi baik, termasuk apa yang dikatakan orang lain pada saya, siapapun mereka dalam hidup saya. Meskipun tak hanya satu atau dua kali, saya mendapatkan komentar yang saya nilai kontennya tidak laik untuk dipublikasikan, saya tetap terus akan menulis seada-adanya, sepengetahuan saya.

“Blogging n nulis udah pake hati, kalau urusan pekerjaan baru, pakai hati juga ga ‘Cha?”

“Tunggu cerita gue selanjutnya.”

So, selamat bercinta dengan hati semuanya!

Saya Rindu Kamu…

Saturday, May 30th, 2009

Baru beberapa hari saja saya kembali ke dunia yang saya paham betul adalah dunia yang sangat melelahkan, saya sudah merasakan segala kehilangan.

Kehilangan kesenangan pekerjaan yang tiga bulan terakhir ini saya lakoni.

Saya kembali terpaksa mengurangi durasi saya untuk menulis, dan merelakan diri tertimbun dengan tumpukan piles pekerjaan yang sepertinya sebentar lagi akan membuat kepala saya meledak.

“You know what? You give me a lot of homeworks.”

Dan perempuan yang duduk di depan saya, yang juga sedang membuka laptop, dengan senyum lebar dan gayanya yang lucu, merespon omongan saya tadi…

“I know and that’s gonna make your head to explode?”

yang akhirnya disusul dengan sedikit obrolan…

“Yupe. Actually I do love pain but this pain is too…”

“…painful, rite?”

“No doubt.”

Memang sebenarnya pilihan ada di tangan saya, apakah saya akan terus menjadi full time blogger atau menjadi part time blogger. Yang kemudian berakhir dengan keputusan saya untuk pensiun menjadi full time blogger.

Pensiun dari segala kesenangan yang terjadi karenanya. Keheningan malam yang selalu menjadi teman setia saya, komentar-komentar, curhat-an mereka yang membaca tulisan saya, kehilangan cinta menjadi pujangga amatiran yang mampu membuat miris hati orang lain, sampai kehilangan waktu untuk membaca blog-blog yang bertebaran di dunia maya.

Harus kembali bekerja, seharusnya bukan menjadi beban untuk saya, dan menjadi penghalang saya melakukan hal yang lain, termasuk menulis jurnal hidup yang biasa saya bagikan melalui blog, kepada teman-teman di dunia maya. Itu semua karena didikkan dari para mentor hidup saya, lebih dari cukup untuk menjadi bekal saya meniti jalan panjang yang benar-benar baru dan masih belum terpasang rambu apapun ini.

Hasil didikan dari salah satu mentor hidup saya, yang selalu saya ingat adalah agar hidup secara penuh dan jangan pernah segalanya dijadikan beban. Dan juga satu omongannya yang mengutip dari omongan Yoda, bahwa hanya ada lakukan atau tidak lakukan, dan tidak ada kata mencoba, cukup mampu membuat saya kembali mengangkat kepala, ketika tumpukan kemalasan dan rasa pesimis yang terbungkus dengan paranoid juga gengsi, sedang mendominasi diri yang mempunyai salah satu karakter moody ini.

Namun daya fisik, memang perlu beradaptasi dengan siklus aktivitas hidup yang berubah. Tak bisa dihindari, bahwa lelah pikiran tentu akan mengakibatkan lelah fisik membuat saya tak sabar merebahkan tubuh di atas kasur, setelah saya membersihkan diri sepulang saya beraktivitas. Dan tentu membuat saya menghindari membuka laptop saya kembali.

Saya rindu dengan tulisan-tulisan saya sendiri. Saya rindu biarkan “tarian” pikiran, rasa dan hasil tangkapan indera-indera yang saya miliki, juga khayalan saya, tertumpah di sini. Saya rindu dengan sakitnya cinta yang biasa saya tuangkan dalam puisi melankoli “kacangan” yang saya ciptakan, yang ternyata juga mampu mengiris hati beberapa orang.

Saya rindu dengan kalian…