Posts Tagged ‘Blogging’

Satu dan Lain Hal, Itu Semua Nyambung Gak Ya?…

Tuesday, September 22nd, 2009

Kemarin dalam  jangka waktu kurang dari 12 jam, buku Perahu Kertas karangan Dee Lestari, sudah selesai saya santap. Entah mengapa, sejak buku pertamanya, Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, hingga Perahu Kertas yang ia terbitkan terakhir ini, saya selalu betah bertahan hingga selesai membaca buku-bukunya (padahal ini hal langka bagi saya dalam membaca sebuah buku). I’m one of her fans. Mungkin karena gaya bahasa penulisannya memang saya suka dan menyenangkan, juga isi dan jalan cerita yang dikemas sedemikian rupa hingga sama sekali tak membosankan. Meskipun hati saya tetap pada seri buku Supernova (Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Akar; Petir) karyanya. Saya terlanjur jatuh cinta pada tiga buku pertamanya. Jatuh cinta pada semua tokoh dan setting cerita di sana.

Namun membaca Perahu Kertas kali ini, saya juga mendapatkan sesuatu dari sana. Apalagi cerita Perahu Kertas ini adalah cerita tentang impian penulis, yang dipadu dengan cerita cinta romantis antar tokoh dalam cerita.

Kali ini saya ingin sedikit menghubung-hubungkan cerita Perahu Kertas dengan kehidupan yang saya lihat sehari-hari, dan mungkin kehidupan saya sendiri.

Beralih sebentar dari Perahu Kertas, saya teringat tulisan si cungkring di salah satu blog yang ia kelola. Ia menuliskan daftar rentetan norma kenormalan hidup di tanah Indonesia ini.

Salah satu yang ia tulis di sana adalah mengenai pekerjaan yang dianggap laik disandang oleh masyarakat Indonesia. Menurutnya dalam tulisan itu, dan hal ini saya setujui sepenuhnya, pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan laik adalah pekerjaan kantoran, pekerjaan kerah putih, yang berarti seni masih sering tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan, “Seniman dapat duit dari mana sih,” atau “Kerjaan seniman kan ga tentu, kadang ada duit, kadang seret, bisa-bisa malah kere, kalo ga ada order.” Dan pekerjaan seni di sini berarti termasuk musikus, penyanyi, penari, komedian, artis, pemain panggung sandiwara, pembawa puisi, dan juga penulis.

Kembali ke Perahu Kertas. Dua pencinta seni, Kugy dan Keenan. Kugy yang mencintai menulis dari kecil dan bercita-cita ingin menjadi penulis dongeng, dan Keenan yang sungguh mati mencintai dan hidup untuk melukis. Namun keduanya harus sedikit pasrah dengan tuntutan realitas yang mengharuskan mereka sementara menidurkan impian untuk menjadikan passion-nya tersebut menjadi sebuah profesi. Dengan alasan, yang sempat juga dibenarkan oleh mereka (Kugy-Keenan), bahwa menulis dan melukis tidak akan menghasilkan uang, tidak akan dapat menghidupi mereka.

Pahit? Pasti! Karena mengerjakan sesuatu yang bukan disenangi, adalah sebuah tangis, siksa, derita, penjara tiada akhir. Lengkap, tak terbantahkan!! Apalagi jika kita telah menyetujui mengambil pekerjaan yang tidak kita senangi tersebut, setelah kita mengerti betul, yakin, bahwa hati kita tidak akan di sana, tapi di tempat lain. Luar biasa menggilanya.

“Jeritan hati ‘Cha?”

I’m going to say yes. Saya mungkin salah satu dari Kugy-Kugy di luar sana. Kugy yang ingin menghasilkan nafkah dari menulis. Kugy-Kugy yang masih meniti cara untuk dapat mewujudkan pekerjaan impian mereka, yang jauh dari kata mudah. Masih mencari celah untuk bisa bekerja sesuai dengan passion.

Dan kali ini saya akan melirik ke arah cungkring sambil berkata padanya “Bener gak, Cung? Setuju kan loe? Pengen dapet duit dari nulis?” Oh ya, Cungkring itu juga salah satu Kugy yang saat ini sedang mendapatkan kesempatan menjadi Kugy secara total dalam menghasilkan tulisan apa saja yang nyangsang di hati dan otaknya. Namun ia harus sedikit pusing, jika sudah memikirkan biaya hidup di kota Jakarta yang super dahsyat mahal dan banyak godaan, karena ia baru saja resign dari pekerjaan kerah putihnya sebagai pegawai kantoran, tanpa ada pekerjaan lain di tangan terlebih dahulu.

Ketakutan banyak orang bahwa pekerjaan seni tidak menjanjikan penghasilan yang tetap setiap bulannya memang benar. Kecuali jika dalam berkarya seni tersebut, pekerja seni menandatangani kontrak untuk jangka waktu tertentu, yang bisa membuat mereka bernapas lega sebelum kontrak berakhir. Namun untuk pekerja seni lepasan, yang tak mendapatkan kontrak tertentu, kemungkinan besar mereka akan kelimpungan mencari job order, apalagi kalau mengingat mereka pasti punya tanggung jawab untuk setidaknya menghidupi diri mereka sendiri.

Stres yang dihasilkan dari job order tidak hanya terjadi saat permintaan sedang sepi, tapi juga tergantung dari mood pekerja seni tersebut.

Dalam Perahu Kertas, terlihat sekali, bahwa keinginan atau totalitas Kugy menulis atau keinginan dan totalitas Keenan saat melukis, sangat-sangat dipengaruhi oleh mood mereka. Kugy lebih memilih berlari sebentar dari proyek karyanya bersama Keenan menerbitkan buku dongeng yang berilustrasi, karena ia sakit hati saat tahu bahwa Luhde, kekasih Keenan yang ia temui di Bali, adalah malaikat sempurna untuk Keenan, yang membuatnya harus berani merelakan Keenan untuk Luhde. Ataupun Keenan yang kehabisan inspirasi melukis, saat semua cerita dalam coretan cerita dongeng Kugy sudah habis ia lukis. Dan ia tak bisa melukis dengan inspirasi lain, karena cinta Keenan ada pada cerita dongeng karya Kugy, ada pada hatinya Kugy, sedangkan saat itu Keenan sedang menghilang dari Kugy.

Kembali tentang saya. Saya tahu bahwa saya memiliki passion luar biasa di dunia tulis-menulis ini. Passion yang sekaligus saya jadikan sebagai ajang katarsis. Namun bukan berarti saya tak pernah buntu ide, tak tahu apa yang harus saya tuliskan, walaupun banyak hal yang menghampiri saya setiap harinya. Tak sedikit orang yang berinteraksi dengan saya setiap hari, baik secara langsung maupun melalui dunia maya.

Dan jika kamu perhatikan, isi blog saya ini juga beraneka ragam. Tak ada yang sama. Kadang saya menuliskan pengalaman pribadi. Kadang tentang cerita orang lain atau tentang liputan sekitar. Kadang menuliskan artikel atau sebuah tips. Bahkan puisi roman picisan, dan terakhir cerita bersambung psycho series yang sempat membuat saya tambah sakit kepala. Perubahan jenis cerita yang saya tulis di blog ini, semuanya tergantung dengan mood. Apalagi saya ini adalah salah satu makhluk moody.

Bisa dibayangkan ‘kan ya, jika seorang pekerja seni yang terikat kontrak harus menyelesaikan suatu karya dalam tenggat waktu tertentu, atau harus tampil dalam sebuah event, tapi ia kehilangan mood-nya? Setengah mati juga bukan itu?

Dari urusan mood, sekarang kita beralih ke urusan karakteristik.

Kemarin saya menganalisa kecil-kecilan sesuatu hal, yaitu karakteristik dari teman-teman saya yang mengelola blog dengan telaten. Hasilnya adalah tujuh dari tujuh pemilik blog (termasuk saya) yang kebetulan teman-teman di almamater dan fakultas yang sama dengan saya, mempunyai karakteristik introver. Walaupun blog-blog kami pasti berbeda isi dan gaya penulisannya. Si cungkring yang sekarang lagi hobi menulis puisi filosofisnya, si blogger seksi yang sering menuliskan jurnal hariannya dengan bahasa sederhana tapi membuat pembaca berpikir, atau si piano jepang dan si concierge hantu yang sangat piawai menumpahkan pikirannya dalam ilustrasi, si cowok religius yang sering sekali menuliskan blog dalam bahasa Inggeris, atau si gadis kuning yang berceloteh riang dengan bahasa sehari-hari saat menuliskan ceritanya dalam blog.

Kami bertujuh sama saja dengan Keenan, yang dituliskan secara eksplisit bahwa ia mempunyai karakteristik introver, dan Kugy, yang menurut hasil analisa saya sendiri, setelah membaca buku itu hingga habis, juga mempunyai karakteristik introver (walaupun tidak disebutkan secara eksplisit oleh Dee Lestari). Mereka berdua sulit untuk menerangkan apa yang ada di hati dan pikiran mereka secara omongan langsung, tapi mereka mengemukakannya melalui media lain. Simply karena mereka, dan kami, atau setidaknya saya, sebenarnya tidak tahu secara persis apa yang diinginkan di dalam hati dan otak, dan pada akhirnya, mereka, kami, atau saya meminta orang lain mencoba mengerti dari apa yang telah diungkapkan melalui media lain itu, kalau perlu tanpa ada penjelasan lagi.

And since an introvert itu sering merasa sulit mengerti diri sendiri yang pada akhirnya mereka akan bingung setengah mati harus melakukan apa terhadap diri sendiri, tentunya ini akan mempengaruhi mood-nya mereka juga.

Kesimpulan hasil analisa saya ini, dari hipotesis yang mungkin ngaco mungkin benar, dan tanpa dilakukannya pembuktian yang sahih, saya melihat bahwa antara karakteristik introver yang cenderung sulit untuk memahami diri sendiri, akan mempengaruhi mood, dan ini akan sangat berpengaruh bagi pekerja seni untuk berkarya. Lalu hal ini dapat menimbulkan stres karena tak bisa menghasilkan karya pada tenggat waktu tertentu, atau dapat mengakibatkan job order yang tak menentu. Dan parahnya, apakah semuanya itu yang mengakibatkan norma yang berlaku di Indonesia, bahwa pekerjaan seni tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang menjanjikan? Hahahahah…pikiran nyleneh sih memang, tapi setidaknya itu yang ada di otak saya saat ini.

Oh ya satu lagi, apakah semua di atas itu juga ada hubungannya dengan very late night person ya? Masalahnya kemarin jam-jam segini ini (02.50 dini hari) saya masih melihat tebaran tweet dari saya sendiri, si cungkring, si blogger seksi (dari hasil tweet, diketahui bahwa kami bertiga sedang membaca buku berbeda di tempat kami masing-masing) dan si concierge hantu, sedangkan hari ini tweet dari saya, si cungkring dan gadis kuning yang mewarnai halaman Twitter saya.

Dan saya jadi teringat salah satu tweet dari Radityadika (id twitter: radityadika) penulis Kambing Jantan yang ditujukan pada Dee Lestari (id twitter: deelestari), beberapa hari lalu: Is a writer a loner?

And the answer is…errr…terus terang saya lupa tweet balasan Dee Lestari saat itu, tapi sepertinya memang mengarah ke sana ya…hahahaha…

Terakhir yang ingin saya ungkapkan adalah saya setuju dengan Kugy, kalau ada celah sekecil apapun yang akan mengantarkan saya untuk mewujudkan impian saya, saya rela untuk meninggalkan apa yang saya kerjakan sekarang.

—-

“Untuk Dewi Lestari, I’m waiting for bundelan masterpiecemu Supernova Series, karena satu dan lain hal, seri 1 dan 3 nya ga ada lagi di rak koleksi buku saya.” (*hhhuuuu…hhuuuuu*)

Behind The Scene of Laras and Ramelan…

Wednesday, September 16th, 2009

Sumpah baru kali ini saya merasakan dan harus mengakui menulis itu memang tidak mudah. Terbukti dengan usaha saya menulis Pscyho Series pertama saya (*Mudah-mudahan bukan yang terakhir*).

Semua, karena keinginan saya untuk menuliskan sesuatu yang berbeda.

Dari dulu memang saya lebih suka menuliskan hal-hal romantisme, menye-menye, melankolis yang menyebabkan saya dan/atau pembaca mengais-ngais aspal; atau Cinderella Story yang pasti berakhir bahagia.

Hal itu diperkuat dengan hasil saya mengobrol dengan si Cungkring, yang saya kenal sebagai salah satu psycho writer yang hobi sekali menuliskan hal-hal aneh tapi masuk akal, cerita cinta yang tak pernah berakhir menyenangkan, yang adalah kebalikan dari cerita-cerita yang saya hasilkan.

“Elo melankolis banget ya, Nek. Keliatan dari bacaan lu.”

“Hahaha, dari tulisan gue juga keliatan.”

“Ho oh banget. Beda ama gue. Ga ada tuch happy ending nikah atau semacamnya. Ga bisa tuch gue nulis cinta-cintaan lebay macem Chick Flick.”

Dan terus terang, semenjak itu saya tambah ingin sedikit keluar dari jalur. Menuliskan sesuatu yang bukan “bidang” saya.

“Gue harus bisa keluar dari comfort zone lagi. Di sini mulukh capekh.”

Kebetulan, memang akhir-akhir ini, hidup saya sehari-hari belum ada yang sangat menarik untuk menjadi bahan tulisan di blog, atau setidaknya saya sedang tidak mood untuk menuliskannya. Ditambah sisi “psychotic” saya sedang berada di titik klimaks tertinggi perjalanan uji kesabaran diri, yang kali ini tak berhasil saya tidurkan dan harus segera saya keluarkan.

“Daaaammmnn!! Capekh berat gue nulis nih cerita. Susah ya nyeett jalanin sesuatu yang belom terbiasa.”

Bab pertama memang sudah dengan sendirinya “menari-nari” di kepala. Namun itu juga hanya di bagian-bagian awal. Dan seperti biasa, semuanya akan mengalir dengan sendirinya saat saya mulai mengetikkan cerita.

Saya memang sengaja tak membatasi otak ini berputar, sehingga memperluas segala kemungkinan untuk dituangkan di dalam cerita. Sangking terlalu sering tidak membatasi otak ini berputar, ternyata hal ini menjadi bumerang untuk saya sendiri. Bingung, alur cerita mana yang paling masuk akal, paling tak terduga dari semua kemungkinan alur yang bisa saya pilih.

“Aaaarrrrrgghhh, sekali-kalinya nih gue nulis ampe migren. Pusink, ga sabaran, bingung. Ampe kebawa mimpi pula. Abis ini ntar gini, si itu gini sama anu, terus di situ dia ngapain sama ini. Mampus lah gue.”

Alhasil, saya terpaksa harus mengambil “buku ajaib” yang biasa saya pakai untuk mencorat-coret sementara apa yang ada di otak saya (biasanya agar tak lupa), lalu saya mulai membuat story board, sambil memikirkan dari sisi logika cerita yang saya tuliskan.

Et voila…

Six chapters and one epilog my first psycho series: Di Antara 1 dan 4 Cinta…

And for me this story is such a masterpiece. Whether you like it or not, whether you’re gonna hate me or love me, I don’t care. Apalagi kalau mengingat cerita ini adalah hasil elaborasi antara realitas dan khayalan; antara pengalaman pribadi maupun cerita orang lain, hasil observasi atau hasil menguping; yang adalah kejadian puluhan tahun yang lalu atau kejadian yang baru-baru saja terjadi.

Dan sialnya, sebelum cerita ini selesai saya ketik, di otak saya sudah “menari-nari” “story board” lainnya lagi.

Another psycho series? Hahaha, mudah-mudahan saya tidak lelah menuliskannya ya.

—-

“For Cungkring: Boookk…is marriage a happy ending or just the beginning of tragic life?” :mrgreen:

Percaya Sama Psikopat?…

Thursday, September 10th, 2009

Di sebuah restoran Jepang, ada beberapa orang yang sedang bercakap-cakap…

“Mereka pikir, dengan baca tulisan kita, mereka dah tau kita banget yah.”

“Yup. Berasa dah tau apa yang ada di dalem otak ama hati kita.”

“Belooomm tentu banget. Kadang cerita kita, bisa kita buat jadi cerita orang lain; cerita orang lain kita buat jadi cerita kita; bener-bener cerita sendiri atau bener-bener cerita orang lain, atau bisa dicampur; hasil ngayal dicampur sama realita; bisa bener-bener ngayal atau bener-bener realita; omongan siapa campur sama hasil observasi atau hasil kita nguping; kejadian hari ini disambungin sama kejadian 2 taon lalu.”

“Jangankan mereka ngaku-ngaku tau kita kayak apa, tau kita seperti apa, yang nulis aja kadang-kadang ga tau maunya di dalem itu apa kok ya? Hahahahha, macem “psikopat” kayak kita ginih?”

“I can’t agree no more guys, hahahahahha…”

—-

“So my dear friends, don’t be so sure when you tell me, that you really understand who I am, from my blog! Coz we, bloggers or writers are the expert to do those kinda things. Maybe from this statement, it seems like that we play with your mind, or your heart, but we are, atleast I am pretty sure that I, and you guys can get something from our, my writings. Though you still have to put in your mind that ONLY we (who wrote the story) and/or God Almighty know(s) what is behind it, what is the truth.”

“So, happy mind reading, Fellas.”

*emoticons diambil dari:

What Did You Get From Blog?…

Sunday, August 23rd, 2009

“Introverto apa sih ‘Cha? Ampe masuk majalah.”

“Ohh, blog gue, masuk blog review satu majalah.”

“Ohhhhh, gue kira apaan. Blog ‘kan cuma kayak diary.”

Begitulah kira-kira awal penggalan perbincangan saya dengan seorang teman melalui YM.

Mungkin kalian yang terbiasa berjalan-berjalan memasuki rumah-rumah tetangga di ranah internet, baik blog atau situs atau apapun itu, kalimat terakhir yang terucap dari mulut teman saya itu, sudah menimbulkan pikiran tersendiri.

Haaayyyooo? Pikiran apakah itu?

Yang ada di pikiran saya saat itu adalah sedikit protes dengan kata “cuma” yang ia lontarkan.

Sedikit kesal tentu dalam hati, “Heiii, blog ngga cuma gituuuu!!!”

Do you remember, dulu saat masih belum ada blog, dan kita masih lebih sering menuliskan jurnal harian kita di buku harian, kita hampir selalu berusaha untuk menyimpan buku harian itu baik-baik, agar tak dibaca oleh orang lain?

Dan sekarang saat kita sudah lebih mengumbar cerita harian kita, ya kenapa tidak dibaca? Itu yang ada di dalam benak saya saat itu. Namun yang lebih penting apa yang bisa kita dapat dari yang kita baca itu.

Kalau saya ditanya, apa yang bisa saya dapatkan dari sebuah blog? Saya akan menjawab, a lot, My Dear Friend.

Mungkin yang sering membaca tulisan saya dari dulu akan ingat bahwa saya sempat katakan, mereka pecandu internet, yang rela di depan komputer selama berjam-jam ini, adalah orang dengan jiwa sosial yang sangat tinggi. Mereka rela membagikan apapun ke siapapun, dari yang gratis sampai yang bayar, dari hal baik hingga hal buruk.

Dan pengalaman seperti itu pulalah pernah saya alami di dunia maya ini. Termasuk dari blog.

Tak sedikit memang blog yang ditulis para penulisnya dengan hati, dan menghasilkan tulisan yang bermutu, menyenangkan, dan enak dibaca, sehingga sepanjang apapun tulisan mereka, dengan senang hati saya baca.

Namun juga tak sedikit blog yang asal dibuat, asal ditulis, sehingga sempat beberapa kali, saat saya menemukannya, saya tak perlu berpikir panjang untuk menghabiskan kalimat pertama dalam artikel paling baru yang ada di blog seperti itu.

Mungkin teman saya itu benar, memang kebanyakan (atau malah hampir semua) isi blog itu adalah sebuah jurnal hidup si pemilik blog.

Saya ambil contoh ya, misalnya sebuah blog foto. Namanya juga blog foto, pasti blognya menampilkan foto-foto yang dihasilkan oleh pemilik blog saat ia sedang ke suatu daerah mungkin, yang berarti memang itu adalah jurnal hidupnya, pernah datang ke tempat itu. Dan mungkin pikiran seperti inilah yang akan hadir saat pengunjung melihat foto-foto itu: “Yes, that place will be my next vacation!” atau “Gila ya di Indonesia ada tempat sebagus itu?”.

Contoh lainnya, misalnya seorang ibu muda yang sedang bingung mencari menu makan siang untuk anaknya, agar si anak tidak terlalu bosan dengan masakannya. Si ibu ini bisa mencari resep masakan di blog-blog yang memang mengkhususkan diri mengelola resep-resep masakan praktis, enak, dan sehat, yang ditulis karena si pemilik, karena memang ia juru masak atau mempunyai hobi masak.

Ada satu contoh blog yang nyata dan eksis; blog yang selalu membuat saya menjura, karena blog ini didedikasikan untuk mereka yang kebingungan/kesulitan mencari donor darah. Tengok saja blog Blood For Life, yang dikelola oleh Silly, yang memang melihat sendiri dengan mata kepalanya bagaimana sulitnya mencari persediaan darah untuk transfusi. Sebagai manusia yang mempunyai hati, pasti tak akan pernah tega melihat siapapun itu, walau tak dikenal, kebingungan mencari persediaan darah, karena ada keluarganya yang sakit.

Dan terakhir, hal yang saya dapatkan dari blog saya sendiri, yaitu komentar-komentar dari pengunjung, yang sering kali membuat saya terperangah, kaget dan tak percaya, “Wow, sebegituberartikah tulisan gue?”

Intinya, apa sih yang bisa kita ambil dari tulisan-tulisan para nara blog, di blog-nya masing-masing?

Cerita pengalaman mereka, itu sudah pasti. Masih ingat ‘kan bahwa pengalaman adalah guru paling berharga? Dan saya adalah manusia yang percaya bahwa tak ada satu orang pun di dunia ini mempunyai pengalaman yang sama, jika dilihat dari pemaknaan atas kejadian yang mereka hadapi, sekalipun ada beberapa orang yang bersamaan mengalami hal tersebut, di tempat dan waktu yang sama.

So, saat pengalaman itu terbagi? Sangat berharga ‘kan? Gratis pulakh.

—-

Untuk teman saya yang saya maksudkan di atas…

“Come on, get a life. Work hard play hard. Socialize, surf in this wonderful world called INTERNET!!!! Jangan sampe gue ditanya lagi ya sama elo liat jadual film di internet gimana caranya and masuk lewat apa? Plus dengan pertanyaan apa tuch 21cineplex and blitz megaplex?”

(*Eh, ga papa dounks gue sebut dua merek direct competitor itu? Hehehehe*)

—-

I’m proudly say to you, My Friends, yes I am a blogger. And in this blog, I share my thoughts, my feeling, what I saw, what I heard, also my experiences to all of you. So you can learn from it, so you will not make the same mistake just like I did, just like they did. Or simply you can find a new way to solve your problem. Yes, from my journal, from my blog.

—-

*For your info (plus invitation to visit the blog and join the group): Blood For Life mempunyai milis untuk mereka yang bersedia dipanggil sebagai pendonor darah, setiap ada permintaan darah yang mendadak. Hal ini sering terjadi, karena bisa jadi stok darah di PMI kurang, atau memang tidak cocok dengan yang memerlukan darah. See you there, Babbbyyyhhh!!*

Introverto Masuk Majalah? Eddddyyaaannn…

Sunday, August 16th, 2009

Masih ingat tulisan saya yang ini ‘kan? Cerita saya terpaksa menahan untuk bercerita tentang rasa senang tak terperikan yang saya alami saat itu?

Ya, setelah lebih dari satu minggu menahan, sekarang saya sudah bisa menghamburkan rasa itu. Dan semua itu karena yang ini…

DSC00506 copy

Ah, masih tak percaya, bahkan saat majalah ini sudah di tangan saya. Apalagi saat saya menerima pemberitahuan bahwa si Introverto ini akan masuk ke rubrik Blog Review majalah Chic ini, melalui surat elektronik yang disampaikan oleh si Bébé sepulangnya saya dari kantor, pada tanggal 3 Agustus 2009, yang lalu.

Dan si penulis Introverto ini pun semakin…ahhh tak tahu-lah rasanya apa, setelah membaca ulasan dari si penulis rubrik, Bestari Kumala Dewi, yang mengatakan tulisan saya mengalir, rapi dan berjiwa.

Terima kasih ya Mbak Tharie sudah menganggap Introverto menarik dan layak masuk ke rubrik ini, hmmm tapi Mbak, hehehe, mudah-mudahan judul di rubrik itu bukan refer ke nama blog saya ya, karena kalau benar itu refer ke nama blog saya, hmmm…ada salah sedikit, bukan Catatan Seorang Introvert, melainkan Tulisan Seorang Introvert.

Anyway…saya tetap senang si Introverto ini tambah terkenal (*Ihhhiiyyyyy*)…

Mau tahu secara lengkap yang Mbak Tharie katakan tentang si Introverto ini? Beli Chic dong…hehehehehe…

—-

*Apapun yang dilakukan dengan hati, pasti akan berbuah sesuatu yang akan membahagiakan hati*

—-

“Mbak Tharie…beneran baca satu-satu tulisanku? Yang panjang-panjang gila itu? Maaaa kaaassssiiii…”