Posts Tagged ‘Blogging’

Satu dan Lain Hal, Itu Semua Nyambung Gak Ya?…

Tuesday, September 22nd, 2009

Kemarin dalam  jangka waktu kurang dari 12 jam, buku Perahu Kertas karangan Dee Lestari, sudah selesai saya santap. Entah mengapa, sejak buku pertamanya, Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, hingga Perahu Kertas yang ia terbitkan terakhir ini, saya selalu betah bertahan hingga selesai membaca buku-bukunya (padahal ini hal langka bagi saya dalam membaca sebuah buku). I’m one of her fans. Mungkin karena gaya bahasa penulisannya memang saya suka dan menyenangkan, juga isi dan jalan cerita yang dikemas sedemikian rupa hingga sama sekali tak membosankan. Meskipun hati saya tetap pada seri buku Supernova (Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Akar; Petir) karyanya. Saya terlanjur jatuh cinta pada tiga buku pertamanya. Jatuh cinta pada semua tokoh dan setting cerita di sana.

Namun membaca Perahu Kertas kali ini, saya juga mendapatkan sesuatu dari sana. Apalagi cerita Perahu Kertas ini adalah cerita tentang impian penulis, yang dipadu dengan cerita cinta romantis antar tokoh dalam cerita.

Kali ini saya ingin sedikit menghubung-hubungkan cerita Perahu Kertas dengan kehidupan yang saya lihat sehari-hari, dan mungkin kehidupan saya sendiri.

Beralih sebentar dari Perahu Kertas, saya teringat tulisan si cungkring di salah satu blog yang ia kelola. Ia menuliskan daftar rentetan norma kenormalan hidup di tanah Indonesia ini.

Salah satu yang ia tulis di sana adalah mengenai pekerjaan yang dianggap laik disandang oleh masyarakat Indonesia. Menurutnya dalam tulisan itu, dan hal ini saya setujui sepenuhnya, pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan laik adalah pekerjaan kantoran, pekerjaan kerah putih, yang berarti seni masih sering tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan, “Seniman dapat duit dari mana sih,” atau “Kerjaan seniman kan ga tentu, kadang ada duit, kadang seret, bisa-bisa malah kere, kalo ga ada order.” Dan pekerjaan seni di sini berarti termasuk musikus, penyanyi, penari, komedian, artis, pemain panggung sandiwara, pembawa puisi, dan juga penulis.

Kembali ke Perahu Kertas. Dua pencinta seni, Kugy dan Keenan. Kugy yang mencintai menulis dari kecil dan bercita-cita ingin menjadi penulis dongeng, dan Keenan yang sungguh mati mencintai dan hidup untuk melukis. Namun keduanya harus sedikit pasrah dengan tuntutan realitas yang mengharuskan mereka sementara menidurkan impian untuk menjadikan passion-nya tersebut menjadi sebuah profesi. Dengan alasan, yang sempat juga dibenarkan oleh mereka (Kugy-Keenan), bahwa menulis dan melukis tidak akan menghasilkan uang, tidak akan dapat menghidupi mereka.

Pahit? Pasti! Karena mengerjakan sesuatu yang bukan disenangi, adalah sebuah tangis, siksa, derita, penjara tiada akhir. Lengkap, tak terbantahkan!! Apalagi jika kita telah menyetujui mengambil pekerjaan yang tidak kita senangi tersebut, setelah kita mengerti betul, yakin, bahwa hati kita tidak akan di sana, tapi di tempat lain. Luar biasa menggilanya.

“Jeritan hati ‘Cha?”

I’m going to say yes. Saya mungkin salah satu dari Kugy-Kugy di luar sana. Kugy yang ingin menghasilkan nafkah dari menulis. Kugy-Kugy yang masih meniti cara untuk dapat mewujudkan pekerjaan impian mereka, yang jauh dari kata mudah. Masih mencari celah untuk bisa bekerja sesuai dengan passion.

Dan kali ini saya akan melirik ke arah cungkring sambil berkata padanya “Bener gak, Cung? Setuju kan loe? Pengen dapet duit dari nulis?” Oh ya, Cungkring itu juga salah satu Kugy yang saat ini sedang mendapatkan kesempatan menjadi Kugy secara total dalam menghasilkan tulisan apa saja yang nyangsang di hati dan otaknya. Namun ia harus sedikit pusing, jika sudah memikirkan biaya hidup di kota Jakarta yang super dahsyat mahal dan banyak godaan, karena ia baru saja resign dari pekerjaan kerah putihnya sebagai pegawai kantoran, tanpa ada pekerjaan lain di tangan terlebih dahulu.

Ketakutan banyak orang bahwa pekerjaan seni tidak menjanjikan penghasilan yang tetap setiap bulannya memang benar. Kecuali jika dalam berkarya seni tersebut, pekerja seni menandatangani kontrak untuk jangka waktu tertentu, yang bisa membuat mereka bernapas lega sebelum kontrak berakhir. Namun untuk pekerja seni lepasan, yang tak mendapatkan kontrak tertentu, kemungkinan besar mereka akan kelimpungan mencari job order, apalagi kalau mengingat mereka pasti punya tanggung jawab untuk setidaknya menghidupi diri mereka sendiri.

Stres yang dihasilkan dari job order tidak hanya terjadi saat permintaan sedang sepi, tapi juga tergantung dari mood pekerja seni tersebut.

Dalam Perahu Kertas, terlihat sekali, bahwa keinginan atau totalitas Kugy menulis atau keinginan dan totalitas Keenan saat melukis, sangat-sangat dipengaruhi oleh mood mereka. Kugy lebih memilih berlari sebentar dari proyek karyanya bersama Keenan menerbitkan buku dongeng yang berilustrasi, karena ia sakit hati saat tahu bahwa Luhde, kekasih Keenan yang ia temui di Bali, adalah malaikat sempurna untuk Keenan, yang membuatnya harus berani merelakan Keenan untuk Luhde. Ataupun Keenan yang kehabisan inspirasi melukis, saat semua cerita dalam coretan cerita dongeng Kugy sudah habis ia lukis. Dan ia tak bisa melukis dengan inspirasi lain, karena cinta Keenan ada pada cerita dongeng karya Kugy, ada pada hatinya Kugy, sedangkan saat itu Keenan sedang menghilang dari Kugy.

Kembali tentang saya. Saya tahu bahwa saya memiliki passion luar biasa di dunia tulis-menulis ini. Passion yang sekaligus saya jadikan sebagai ajang katarsis. Namun bukan berarti saya tak pernah buntu ide, tak tahu apa yang harus saya tuliskan, walaupun banyak hal yang menghampiri saya setiap harinya. Tak sedikit orang yang berinteraksi dengan saya setiap hari, baik secara langsung maupun melalui dunia maya.

Dan jika kamu perhatikan, isi blog saya ini juga beraneka ragam. Tak ada yang sama. Kadang saya menuliskan pengalaman pribadi. Kadang tentang cerita orang lain atau tentang liputan sekitar. Kadang menuliskan artikel atau sebuah tips. Bahkan puisi roman picisan, dan terakhir cerita bersambung psycho series yang sempat membuat saya tambah sakit kepala. Perubahan jenis cerita yang saya tulis di blog ini, semuanya tergantung dengan mood. Apalagi saya ini adalah salah satu makhluk moody.

Bisa dibayangkan ‘kan ya, jika seorang pekerja seni yang terikat kontrak harus menyelesaikan suatu karya dalam tenggat waktu tertentu, atau harus tampil dalam sebuah event, tapi ia kehilangan mood-nya? Setengah mati juga bukan itu?

Dari urusan mood, sekarang kita beralih ke urusan karakteristik.

Kemarin saya menganalisa kecil-kecilan sesuatu hal, yaitu karakteristik dari teman-teman saya yang mengelola blog dengan telaten. Hasilnya adalah tujuh dari tujuh pemilik blog (termasuk saya) yang kebetulan teman-teman di almamater dan fakultas yang sama dengan saya, mempunyai karakteristik introver. Walaupun blog-blog kami pasti berbeda isi dan gaya penulisannya. Si cungkring yang sekarang lagi hobi menulis puisi filosofisnya, si blogger seksi yang sering menuliskan jurnal hariannya dengan bahasa sederhana tapi membuat pembaca berpikir, atau si piano jepang dan si concierge hantu yang sangat piawai menumpahkan pikirannya dalam ilustrasi, si cowok religius yang sering sekali menuliskan blog dalam bahasa Inggeris, atau si gadis kuning yang berceloteh riang dengan bahasa sehari-hari saat menuliskan ceritanya dalam blog.

Kami bertujuh sama saja dengan Keenan, yang dituliskan secara eksplisit bahwa ia mempunyai karakteristik introver, dan Kugy, yang menurut hasil analisa saya sendiri, setelah membaca buku itu hingga habis, juga mempunyai karakteristik introver (walaupun tidak disebutkan secara eksplisit oleh Dee Lestari). Mereka berdua sulit untuk menerangkan apa yang ada di hati dan pikiran mereka secara omongan langsung, tapi mereka mengemukakannya melalui media lain. Simply karena mereka, dan kami, atau setidaknya saya, sebenarnya tidak tahu secara persis apa yang diinginkan di dalam hati dan otak, dan pada akhirnya, mereka, kami, atau saya meminta orang lain mencoba mengerti dari apa yang telah diungkapkan melalui media lain itu, kalau perlu tanpa ada penjelasan lagi.

And since an introvert itu sering merasa sulit mengerti diri sendiri yang pada akhirnya mereka akan bingung setengah mati harus melakukan apa terhadap diri sendiri, tentunya ini akan mempengaruhi mood-nya mereka juga.

Kesimpulan hasil analisa saya ini, dari hipotesis yang mungkin ngaco mungkin benar, dan tanpa dilakukannya pembuktian yang sahih, saya melihat bahwa antara karakteristik introver yang cenderung sulit untuk memahami diri sendiri, akan mempengaruhi mood, dan ini akan sangat berpengaruh bagi pekerja seni untuk berkarya. Lalu hal ini dapat menimbulkan stres karena tak bisa menghasilkan karya pada tenggat waktu tertentu, atau dapat mengakibatkan job order yang tak menentu. Dan parahnya, apakah semuanya itu yang mengakibatkan norma yang berlaku di Indonesia, bahwa pekerjaan seni tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang menjanjikan? Hahahahah…pikiran nyleneh sih memang, tapi setidaknya itu yang ada di otak saya saat ini.

Oh ya satu lagi, apakah semua di atas itu juga ada hubungannya dengan very late night person ya? Masalahnya kemarin jam-jam segini ini (02.50 dini hari) saya masih melihat tebaran tweet dari saya sendiri, si cungkring, si blogger seksi (dari hasil tweet, diketahui bahwa kami bertiga sedang membaca buku berbeda di tempat kami masing-masing) dan si concierge hantu, sedangkan hari ini tweet dari saya, si cungkring dan gadis kuning yang mewarnai halaman Twitter saya.

Dan saya jadi teringat salah satu tweet dari Radityadika (id twitter: radityadika) penulis Kambing Jantan yang ditujukan pada Dee Lestari (id twitter: deelestari), beberapa hari lalu: Is a writer a loner?

And the answer is…errr…terus terang saya lupa tweet balasan Dee Lestari saat itu, tapi sepertinya memang mengarah ke sana ya…hahahaha…

Terakhir yang ingin saya ungkapkan adalah saya setuju dengan Kugy, kalau ada celah sekecil apapun yang akan mengantarkan saya untuk mewujudkan impian saya, saya rela untuk meninggalkan apa yang saya kerjakan sekarang.

—-

“Untuk Dewi Lestari, I’m waiting for bundelan masterpiecemu Supernova Series, karena satu dan lain hal, seri 1 dan 3 nya ga ada lagi di rak koleksi buku saya.” (*hhhuuuu…hhuuuuu*)

Behind The Scene of Laras and Ramelan…

Wednesday, September 16th, 2009

Sumpah baru kali ini saya merasakan dan harus mengakui menulis itu memang tidak mudah. Terbukti dengan usaha saya menulis Pscyho Series pertama saya (*Mudah-mudahan bukan yang terakhir*).

Semua, karena keinginan saya untuk menuliskan sesuatu yang berbeda.

Dari dulu memang saya lebih suka menuliskan hal-hal romantisme, menye-menye, melankolis yang menyebabkan saya dan/atau pembaca mengais-ngais aspal; atau Cinderella Story yang pasti berakhir bahagia.

Hal itu diperkuat dengan hasil saya mengobrol dengan si Cungkring, yang saya kenal sebagai salah satu psycho writer yang hobi sekali menuliskan hal-hal aneh tapi masuk akal, cerita cinta yang tak pernah berakhir menyenangkan, yang adalah kebalikan dari cerita-cerita yang saya hasilkan.

“Elo melankolis banget ya, Nek. Keliatan dari bacaan lu.”

“Hahaha, dari tulisan gue juga keliatan.”

“Ho oh banget. Beda ama gue. Ga ada tuch happy ending nikah atau semacamnya. Ga bisa tuch gue nulis cinta-cintaan lebay macem Chick Flick.”

Dan terus terang, semenjak itu saya tambah ingin sedikit keluar dari jalur. Menuliskan sesuatu yang bukan “bidang” saya.

“Gue harus bisa keluar dari comfort zone lagi. Di sini mulukh capekh.”

Kebetulan, memang akhir-akhir ini, hidup saya sehari-hari belum ada yang sangat menarik untuk menjadi bahan tulisan di blog, atau setidaknya saya sedang tidak mood untuk menuliskannya. Ditambah sisi “psychotic” saya sedang berada di titik klimaks tertinggi perjalanan uji kesabaran diri, yang kali ini tak berhasil saya tidurkan dan harus segera saya keluarkan.

“Daaaammmnn!! Capekh berat gue nulis nih cerita. Susah ya nyeett jalanin sesuatu yang belom terbiasa.”

Bab pertama memang sudah dengan sendirinya “menari-nari” di kepala. Namun itu juga hanya di bagian-bagian awal. Dan seperti biasa, semuanya akan mengalir dengan sendirinya saat saya mulai mengetikkan cerita.

Saya memang sengaja tak membatasi otak ini berputar, sehingga memperluas segala kemungkinan untuk dituangkan di dalam cerita. Sangking terlalu sering tidak membatasi otak ini berputar, ternyata hal ini menjadi bumerang untuk saya sendiri. Bingung, alur cerita mana yang paling masuk akal, paling tak terduga dari semua kemungkinan alur yang bisa saya pilih.

“Aaaarrrrrgghhh, sekali-kalinya nih gue nulis ampe migren. Pusink, ga sabaran, bingung. Ampe kebawa mimpi pula. Abis ini ntar gini, si itu gini sama anu, terus di situ dia ngapain sama ini. Mampus lah gue.”

Alhasil, saya terpaksa harus mengambil “buku ajaib” yang biasa saya pakai untuk mencorat-coret sementara apa yang ada di otak saya (biasanya agar tak lupa), lalu saya mulai membuat story board, sambil memikirkan dari sisi logika cerita yang saya tuliskan.

Et voila…

Six chapters and one epilog my first psycho series: Di Antara 1 dan 4 Cinta…

And for me this story is such a masterpiece. Whether you like it or not, whether you’re gonna hate me or love me, I don’t care. Apalagi kalau mengingat cerita ini adalah hasil elaborasi antara realitas dan khayalan; antara pengalaman pribadi maupun cerita orang lain, hasil observasi atau hasil menguping; yang adalah kejadian puluhan tahun yang lalu atau kejadian yang baru-baru saja terjadi.

Dan sialnya, sebelum cerita ini selesai saya ketik, di otak saya sudah “menari-nari” “story board” lainnya lagi.

Another psycho series? Hahaha, mudah-mudahan saya tidak lelah menuliskannya ya.

—-

“For Cungkring: Boookk…is marriage a happy ending or just the beginning of tragic life?” :mrgreen:

Percaya Sama Psikopat?…

Thursday, September 10th, 2009

Di sebuah restoran Jepang, ada beberapa orang yang sedang bercakap-cakap…

“Mereka pikir, dengan baca tulisan kita, mereka dah tau kita banget yah.”

“Yup. Berasa dah tau apa yang ada di dalem otak ama hati kita.”

“Belooomm tentu banget. Kadang cerita kita, bisa kita buat jadi cerita orang lain; cerita orang lain kita buat jadi cerita kita; bener-bener cerita sendiri atau bener-bener cerita orang lain, atau bisa dicampur; hasil ngayal dicampur sama realita; bisa bener-bener ngayal atau bener-bener realita; omongan siapa campur sama hasil observasi atau hasil kita nguping; kejadian hari ini disambungin sama kejadian 2 taon lalu.”

“Jangankan mereka ngaku-ngaku tau kita kayak apa, tau kita seperti apa, yang nulis aja kadang-kadang ga tau maunya di dalem itu apa kok ya? Hahahahha, macem “psikopat” kayak kita ginih?”

“I can’t agree no more guys, hahahahahha…”

—-

“So my dear friends, don’t be so sure when you tell me, that you really understand who I am, from my blog! Coz we, bloggers or writers are the expert to do those kinda things. Maybe from this statement, it seems like that we play with your mind, or your heart, but we are, atleast I am pretty sure that I, and you guys can get something from our, my writings. Though you still have to put in your mind that ONLY we (who wrote the story) and/or God Almighty know(s) what is behind it, what is the truth.”

“So, happy mind reading, Fellas.”

*emoticons diambil dari:

What Did You Get From Blog?…

Sunday, August 23rd, 2009

“Introverto apa sih ‘Cha? Ampe masuk majalah.”

“Ohh, blog gue, masuk blog review satu majalah.”

“Ohhhhh, gue kira apaan. Blog ‘kan cuma kayak diary.”

Begitulah kira-kira awal penggalan perbincangan saya dengan seorang teman melalui YM.

Mungkin kalian yang terbiasa berjalan-berjalan memasuki rumah-rumah tetangga di ranah internet, baik blog atau situs atau apapun itu, kalimat terakhir yang terucap dari mulut teman saya itu, sudah menimbulkan pikiran tersendiri.

Haaayyyooo? Pikiran apakah itu?

Yang ada di pikiran saya saat itu adalah sedikit protes dengan kata “cuma” yang ia lontarkan.

Sedikit kesal tentu dalam hati, “Heiii, blog ngga cuma gituuuu!!!”

Do you remember, dulu saat masih belum ada blog, dan kita masih lebih sering menuliskan jurnal harian kita di buku harian, kita hampir selalu berusaha untuk menyimpan buku harian itu baik-baik, agar tak dibaca oleh orang lain?

Dan sekarang saat kita sudah lebih mengumbar cerita harian kita, ya kenapa tidak dibaca? Itu yang ada di dalam benak saya saat itu. Namun yang lebih penting apa yang bisa kita dapat dari yang kita baca itu.

Kalau saya ditanya, apa yang bisa saya dapatkan dari sebuah blog? Saya akan menjawab, a lot, My Dear Friend.

Mungkin yang sering membaca tulisan saya dari dulu akan ingat bahwa saya sempat katakan, mereka pecandu internet, yang rela di depan komputer selama berjam-jam ini, adalah orang dengan jiwa sosial yang sangat tinggi. Mereka rela membagikan apapun ke siapapun, dari yang gratis sampai yang bayar, dari hal baik hingga hal buruk.

Dan pengalaman seperti itu pulalah pernah saya alami di dunia maya ini. Termasuk dari blog.

Tak sedikit memang blog yang ditulis para penulisnya dengan hati, dan menghasilkan tulisan yang bermutu, menyenangkan, dan enak dibaca, sehingga sepanjang apapun tulisan mereka, dengan senang hati saya baca.

Namun juga tak sedikit blog yang asal dibuat, asal ditulis, sehingga sempat beberapa kali, saat saya menemukannya, saya tak perlu berpikir panjang untuk menghabiskan kalimat pertama dalam artikel paling baru yang ada di blog seperti itu.

Mungkin teman saya itu benar, memang kebanyakan (atau malah hampir semua) isi blog itu adalah sebuah jurnal hidup si pemilik blog.

Saya ambil contoh ya, misalnya sebuah blog foto. Namanya juga blog foto, pasti blognya menampilkan foto-foto yang dihasilkan oleh pemilik blog saat ia sedang ke suatu daerah mungkin, yang berarti memang itu adalah jurnal hidupnya, pernah datang ke tempat itu. Dan mungkin pikiran seperti inilah yang akan hadir saat pengunjung melihat foto-foto itu: “Yes, that place will be my next vacation!” atau “Gila ya di Indonesia ada tempat sebagus itu?”.

Contoh lainnya, misalnya seorang ibu muda yang sedang bingung mencari menu makan siang untuk anaknya, agar si anak tidak terlalu bosan dengan masakannya. Si ibu ini bisa mencari resep masakan di blog-blog yang memang mengkhususkan diri mengelola resep-resep masakan praktis, enak, dan sehat, yang ditulis karena si pemilik, karena memang ia juru masak atau mempunyai hobi masak.

Ada satu contoh blog yang nyata dan eksis; blog yang selalu membuat saya menjura, karena blog ini didedikasikan untuk mereka yang kebingungan/kesulitan mencari donor darah. Tengok saja blog Blood For Life, yang dikelola oleh Silly, yang memang melihat sendiri dengan mata kepalanya bagaimana sulitnya mencari persediaan darah untuk transfusi. Sebagai manusia yang mempunyai hati, pasti tak akan pernah tega melihat siapapun itu, walau tak dikenal, kebingungan mencari persediaan darah, karena ada keluarganya yang sakit.

Dan terakhir, hal yang saya dapatkan dari blog saya sendiri, yaitu komentar-komentar dari pengunjung, yang sering kali membuat saya terperangah, kaget dan tak percaya, “Wow, sebegituberartikah tulisan gue?”

Intinya, apa sih yang bisa kita ambil dari tulisan-tulisan para nara blog, di blog-nya masing-masing?

Cerita pengalaman mereka, itu sudah pasti. Masih ingat ‘kan bahwa pengalaman adalah guru paling berharga? Dan saya adalah manusia yang percaya bahwa tak ada satu orang pun di dunia ini mempunyai pengalaman yang sama, jika dilihat dari pemaknaan atas kejadian yang mereka hadapi, sekalipun ada beberapa orang yang bersamaan mengalami hal tersebut, di tempat dan waktu yang sama.

So, saat pengalaman itu terbagi? Sangat berharga ‘kan? Gratis pulakh.

—-

Untuk teman saya yang saya maksudkan di atas…

“Come on, get a life. Work hard play hard. Socialize, surf in this wonderful world called INTERNET!!!! Jangan sampe gue ditanya lagi ya sama elo liat jadual film di internet gimana caranya and masuk lewat apa? Plus dengan pertanyaan apa tuch 21cineplex and blitz megaplex?”

(*Eh, ga papa dounks gue sebut dua merek direct competitor itu? Hehehehe*)

—-

I’m proudly say to you, My Friends, yes I am a blogger. And in this blog, I share my thoughts, my feeling, what I saw, what I heard, also my experiences to all of you. So you can learn from it, so you will not make the same mistake just like I did, just like they did. Or simply you can find a new way to solve your problem. Yes, from my journal, from my blog.

—-

*For your info (plus invitation to visit the blog and join the group): Blood For Life mempunyai milis untuk mereka yang bersedia dipanggil sebagai pendonor darah, setiap ada permintaan darah yang mendadak. Hal ini sering terjadi, karena bisa jadi stok darah di PMI kurang, atau memang tidak cocok dengan yang memerlukan darah. See you there, Babbbyyyhhh!!*

Introverto Masuk Majalah? Eddddyyaaannn…

Sunday, August 16th, 2009

Masih ingat tulisan saya yang ini ‘kan? Cerita saya terpaksa menahan untuk bercerita tentang rasa senang tak terperikan yang saya alami saat itu?

Ya, setelah lebih dari satu minggu menahan, sekarang saya sudah bisa menghamburkan rasa itu. Dan semua itu karena yang ini…

DSC00506 copy

Ah, masih tak percaya, bahkan saat majalah ini sudah di tangan saya. Apalagi saat saya menerima pemberitahuan bahwa si Introverto ini akan masuk ke rubrik Blog Review majalah Chic ini, melalui surat elektronik yang disampaikan oleh si Bébé sepulangnya saya dari kantor, pada tanggal 3 Agustus 2009, yang lalu.

Dan si penulis Introverto ini pun semakin…ahhh tak tahu-lah rasanya apa, setelah membaca ulasan dari si penulis rubrik, Bestari Kumala Dewi, yang mengatakan tulisan saya mengalir, rapi dan berjiwa.

Terima kasih ya Mbak Tharie sudah menganggap Introverto menarik dan layak masuk ke rubrik ini, hmmm tapi Mbak, hehehe, mudah-mudahan judul di rubrik itu bukan refer ke nama blog saya ya, karena kalau benar itu refer ke nama blog saya, hmmm…ada salah sedikit, bukan Catatan Seorang Introvert, melainkan Tulisan Seorang Introvert.

Anyway…saya tetap senang si Introverto ini tambah terkenal (*Ihhhiiyyyyy*)…

Mau tahu secara lengkap yang Mbak Tharie katakan tentang si Introverto ini? Beli Chic dong…hehehehehe…

—-

*Apapun yang dilakukan dengan hati, pasti akan berbuah sesuatu yang akan membahagiakan hati*

—-

“Mbak Tharie…beneran baca satu-satu tulisanku? Yang panjang-panjang gila itu? Maaaa kaaassssiiii…”

Nikmatnya Akhir Pekan…

Saturday, July 11th, 2009

Memang tiada seindah akhir pekan bagi “kacung kampret” a.k.a karyawan kantoran seperti saya ini (dan mungkin seperti kalian). Ajang leyeh-leyeh dan mengoptimalkan waktu untuk me, myself and I, memang akan lebih terasa mantap to the max setelah jam kantor berakhir pada hari Jumat, kecuali untuk kalian yang memang masih harus masuk kerja pada hari Sabtu.

Setelah sekian hari saya tidak mampu memaksakan diri untuk berkutat dengan laptop tercinta dan segala aktivitas dunia maya (yang biasa saya lakukan setelah saya pulang kantor, membersihkan diri, having quality times dengan 7 ekor anak-anak saya dan memberi mereka makan), karena rasa kantuk yang tiada henti menjadi “teman baik” kedua mata saya ini, akhirnya malam ini saya bisa kembali melakukannya (“Kalo toh dipaksa melek, besok ga harus bangun pagi ‘kan?!”).

Saya memang lebih senang berkutat di depan layar laptop, daripada harus nongkrong di depan layar televisi. Internet mampu membius saya tak beranjak selama berjam-jam dari depan laptop, bahkan saat kedua mata saya sudah “berteriak-teriak” minta dipejamkan. Seperti saat ini.

Saat yang sudah lama saya rindukan lagi (“Satu minggu berasa lama buener”). Berinternet tanpa harus memikirkan urusan kantor. Dan saat yang sangat tepat untuk blogging tanpa ada pengganggu (“Kecuali gangguan dari nyamuk. Husssshhh. Teteup heran kenapa ada nyamuk di dunia ini. Makhluk tak berguna!”).

Blogging tidak serta-merta urusan memperbarui situs blog milik sendiri, tapi juga mampir ke situs-situs karya tetangga, yang tak sedikit jumlahnya. Dari yang memang terlihat serius menulis dan memelihara blog-nya, hingga blog yang benar-benar tak enak dibaca.

Saya memang termasuk “pemain” baru dalam dunia blogging, oleh sebab itu saya perlu sedikit “mengintip” isi blog para blogger yang sudah lebih lama berkiprah di dunia ini, agar saya dapat belajar sesuatu dari mereka. Belajar bagaimana menulis yang berkualitas, dari segi isi, teknis dan etikanya. Dan tentu dengan mampir ke blog tetangga, berarti pula mereka akan lebih mengenal blog/situs kita pribadi, yang menjadi sebuah keuntungan dan media promosi bagi kita sendiri.

Hasil dari kunjungan saya menengok karya tetangga malam ini, cukup membuat saya geleng-geleng kepala. Geleng-geleng kepala karena kagum akan passion mereka untuk ngeblog, yang membuat mereka (meminjam istilah Ndoro Kakung)  ngeblog dengan hati.

Dan intip-intip tetangga itu pun membuahkan bertambahnya daftar tautan, di halaman sisi situs pribadi saya ini. Ada situs pribadi milik mbak Silly, Simbok Venus (Venus To Mars), Ngerumpi, dan Tikabanget, yang bisa kamu klik dari halaman samping situs pribadi saya ini. Situs-situs yang menyenangkan, bermutu dan enak dibaca.

Terima kasih untuk sesama blogger yang sudah mencantumkan tautan ke situs para blogger lainnya di dalam blog kalian masing-masing. Jam terbang kalian sudah lebih lama daripada saya, jadi jangan bosan kalau saya mampir ke blog kalian ya?

Lalu untuk mereka yang masih ragu untuk mulai membuat blog, haaaayyyooo gabung menjadi blogger, dan jangan lupa jadi blogger yang menulis dengan hati.

Eh, satu lagi…Dewi Lestari (“Penulis favorit gue ituh”) sedang mempersiapkan situs barunya, masih coming soon tapih.

Happy blogging friends!

—-

Baru ingat kalau akhir pekan ini saya juga punya “mainan” baru, yaitu aplikasi photoshop yang sudah ada di laptop saya lagi, setelah sempat terhapus (“Norakh ya gue, cuma photoshop aja seneng! But that’s the beauty of working at IT company, gampang nyari software hehehehehe.”).

Proudly Present To You…

Saturday, June 27th, 2009

Yay…akhirnya keinginan lama saya, untuk menjadikan Introverto ini berdiri sendiri, terwujud sudah.

Sebenarnya saya sudah mulai mencari tahu informasi tentang pembelian domain dan web hosting ini sejak tahun lalu. Kebetulan ada beberapa kenalan yang bekerja atau mempunyai koneksi lainnya lagi untuk penyediaan jasa itu. Salah satunya adalah teman saya yang satu ini.

“Ta, kalo punya temen yang bisa web hosting-in site gue, tanyain dounks biayanya domain n hostingnya berapa?”

Dan akhirnya si blogger seksi (“Bakal ada yang GR sepertinya!”) malahan memberikan saya satu nomor ponsel seseorang. Melihat nama yang ia berikan, sepertinya tidak asing bagi saya, atau setidaknya saya sudah pernah lihat nama orang itu. Benar saja, begitu saya membuka situs milik si blogger seksi itu, saya langsung menemukan nama manusia pemilik nomor ponsel yang diberikan pada saya.

“Oooohh, ini tooo orangnya. Buset situsnya banyak amat. Weitss hasil foto-fotonya keren. Dari ketawanya, kayaknya anaknya sedikit tengil. Hahahahahah.”

Dan saya yakin orang yang saya maksud di atas, gede rasa dan ingin kembali mencela saya saat membaca ini sekarang.

Saya tak langsung menelepon atau mengirimkan pesan singkat ke orang tersebut. Pekerjaan kantor sedang luar biasa banyaknya dan membuat saya bahkan tak sempat untuk mengirimkan pesan singkat. Baru sekitar 2 atau 3 hari kemudian, saya sempat mengiriminya pesan singkat, tapi tak ada balasannya.

Baru besok harinya saya mendapat balasan darinya, yang sama sekali tak menjawab maksud yang saya utarakan (“Hyaaahhhh!”)

“Hi Oca, salam kenal juga.”

Saya biarkan itu tak terjawab. Hingga beberapa hari kemudian orang tersebutlah yang gantian mengirimi saya pesan di Facebook.

“Oca, jadi bikin site gak?”

“Jaaaadddiii…tapi jangan mahal-mahal ya, jangan bikin gue kere!”

Dan selanjutnya, kami saling kontak melalui ponsel, baik dengan saling mengirim pesan singkat, ataupun perbincangan langsung. Senang juga sih, ternyata manusia ini bukan manusia yang pelit pulsa, walaupun perbincangan yang kami lakukan adalah perbincangan antara Jakarta-Yogyakarta. Terbukti dari ia yang menelepon saya terlebih dahulu, tapi berhubung si Bébé selalu saya “bungkam”, telepon darinya tercatat sebagai telepon tak terjawab, dan saya yang kemudian menghubunginya.

Terus terang saya sedikit bingung dengan gaya apa saya harus bicara dengan manusia ini, karena saya adalah manusia yang paling malas kalau disuruh untuk berbasa-basi dan JaIm. Namun untunglah, saya terbebas dari kewajiban itu, kewajiban normatif saat bicara atau bertemu dengan orang baru, dan juga pasti terbebas dari predikat SKSD yang sempat diberikan beberapa orang kepada saya (“Anyway, I don’t care! Sebelom ngomong mending mikir dulu yah. Coz, setiap tingkah laku pasti ada alasannya!?”).

Percaya atau tidak, dari pertama kali kami melakukan pembicaraan, kami sudah berani mencela satu sama lain. Mungkin karena itu pulalah saya cukup percaya memberikan kata sandi untuk memasuki akun blog saya sebelumnya, agar ia bisa memindahkan semua tulisan, dan pengaturan situs saya di sana. Sampai sekarang kata sandi itu bahkan belum saya ubah, karena memang dua situs ini, masih ada yang perlu diperbaiki (“Hmmm, kalo ada yang aneh-aneh sama e-mail and blog gue, gue dah tau tersangka utamanya! Wakakakkakak, menyenangkan!”).

Anyway, saya cuma ingin mengucapkan terima kasih banyak pada Mr. Tampan dan Wangi (“Jelas itu bukan menurut gue Ge…, karena gue belom pernah liat wujud asli lu, jangan GR lu, sekali lagi itu hasil gue waktu itu Googling nama lu, hahahahaha!”), karena sudah bersedia saya repotkan dengan cerewetnya permintaan saya, dan juga thanks for being such a damn good new friend of mine.

Oh ya, untuk si blogger seksi itu, thanks a lot too sista!

And now… I am proudly present to you… http://www.introvertina.com

Just Because It Is Too Painfull…

Friday, June 12th, 2009

Hari ini, saya berhasil memporakporandakan hati seorang teman, yang beberapa hari lalu, dan beberapa minggu lalu mengatakan pada saya bahwa ia akan melupakan seorang pria yang melukai dirinya, dengan segala tingkah lakunya yang selalu tidak jelas maunya apa terhadap teman saya yang satu ini.

Padahal kalau dipikir-pikir, sepertinya sering kali kita sendirilah yang membuat keadaan menjadi tidak jelas (“Ya, gak?”).

Namun niat teman saya ini sepertinya sedikit buyar. Katanya, semua itu karena saya. Ya, karena saya yang memberikan padanya sebuah link ke sebuah blog, yang bisa dikatakan blog sayatan hati, yang pada akhirnya kami berdua beri julukan sebagai “ngais2aspal.com”.

Padahal tak semua isinya tentang patah hati. Kembali memang sepertinya kita sendirilah yang mencari hal patah hati itu.

Namun menurut saya, sebenarnya blog “ngais2aspal.com” itu memang…ya gitu deh…Tak percaya? Ini salah satu quote yang diambil dari blog tersebut.

Love is like a tattoo…
Love is much like a tattoo. You take the risk, face the pain and place it on a special part of you. And when the time comes when you need to erase it, you have to endure the pain again and realize that it will forever leave a scar, a scar that will always remind you that you had a tattoo that once symbolized something so special.
by: Angel 31st March 2009

Quote diambil dari sini

Dan untuk teman saya itu “Jangan nimpuk gue ya cuy, kalo ketemu! Hahahahahha”

—-

I already took that risk…and now that pain is no longer painful, just because it is too painful (by Ocha)

Selamat Bercinta…

Thursday, June 4th, 2009

Tadi sore, tak lama sebelum jam kantor usai, di tengah revisi uraian jabatan yang sedang saya kerjakan, tiba-tiba pikiran seperti ini muncul…

“Hari ini setidaknya harus menghasilkan satu tulisan.”

Dan pikiran itu pun langsung menjadi status di Yahoo Messenger saya.

Rindu, kangen dengan kegiatan saya yang satu ini. Satu hari absen, serasa satu tahun (“Ocha, kumat lebainya.“)

Anyway, absensi saya di dunia blog, tidak seratus persen, karena saya masih terus membaca kembali tulisan-tulisan saya, dan juga tulisan-tulisan yang dihasilkan para senior blogger, yang pastinya kualitas tulisan mereka jauh di atas kualitas tulisan saya. Apalagi jika membandingkan statistik kunjungan pembaca blog mereka dengan blog saya, beyond compare lah.

Salah satu blog milik senior blogger yang akhir-akhir ini sering saya kunjungi, adalah blog milik Ndoro Kakung. Kualitas tulisan beliau memang tak dipungkiri lagi, harus diacungi jempol. Dan tak heran bila blog beliau akhirnya dibukukan, dengan judul yang menurut saya juga sangat mengena, yaitu Ngeblog Dengan Hati.

Dengan hati, yang berarti dengan perasaan, dengan cinta, yang pada akhirnya akan memberikan jiwa, sehingga totalitas pada apa yang dilakukan, dikerjakan maupun dipikirkan dapat diraih?

Apa sih yang kalau dikerjakan dengan cinta, hasilnya tidak akan menghasilkan cinta kembali?

Pekerjaan yang dilakukan dengan hati dan rasa cinta, akan membuat orang lain melihat kehebatanmu di pekerjaan itu.

Buah pikir yang dihasilkan dari kesungguhan hati mengutak-atik dan mencari jawaban atas rasa penasaranmu atau rasa cinta untuk dapat membagi, akan membuat orang lain menganggapmu briliant.

Dan masih banyak contoh lain dari totalitas hasil yang dapat kita raih, dapat kita lihat dari kesungguhan hati kita untuk melakukan pekerjaan itu.

Namun satu pertanyaan yang juga terbersit atau mungkin sudah nyangsang lama di pikiran saya. Bagaimana jika kita mencintai seseorang dengan hati, cinta bahkan sering dengan pertaruhan jiwa? Apakah totalitas akan terjadi juga di sana?

“Haayyooo, para pengais aspal, atau yang ngaku sering garuk-garuk seprei gara-gara baca tulisan atau puisi gue, jawab dounks?!!? Huahahahhaah.”

Bagi saya mencintai seseorang dengan hati, sepenuh cinta dan jiwa, tentu juga akan menghasilkan totalitas.

Totalitas pertama adalah totalitas kesedihan, jika orang yang kita cintai tidak merasakan hal yang sama, atau berubah pikiran sama sekali di tengah perjalanan cinta itu. Dan tentu totalitas kedua adalah totalitas kegembiran dan pemenuhan cinta, jika orang yang kita cintai membalas cinta kita sepenuh hatinya. As simple as that.

Perjalanan saya untuk mencintai menulis dengan sepenuh hati, jiwa dan raga, awalnya sama seperti kondisi yang mungkin dapat terjadi saat kita mencintai orang lain. Bisa jadi tidak menghasilkan suatu totalitas. Namun seiring perjalanan saya terus-menerus menulis dan berusaha memperbaiki tulisan saya, baik dari segi konten, cara penulisan dan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, semua itu pelan-pelan membuahkan suatu totalitas. Meskipun belum menghasilkan sebuah buku atau suatu liputan dari sebuah majalah ternama di ibukota, setidaknya totalitas yang saya dapatkan tidak kalah membanggakan, yaitu hasil tugas akhir yang sangat di luar dugaan, dan pujian dari para penguji sidang saat itu.

Saya tidak akan berhenti menulis, tentang apapun yang saya rasakan, pikirkan, imajinasikan, mimpikan, dan juga hal-hal yang saya tangkap dengan lima panca indera, yang Puji Tuhan sampai sekarang masih dalam kondisi baik, termasuk apa yang dikatakan orang lain pada saya, siapapun mereka dalam hidup saya. Meskipun tak hanya satu atau dua kali, saya mendapatkan komentar yang saya nilai kontennya tidak laik untuk dipublikasikan, saya tetap terus akan menulis seada-adanya, sepengetahuan saya.

“Blogging n nulis udah pake hati, kalau urusan pekerjaan baru, pakai hati juga ga ‘Cha?”

“Tunggu cerita gue selanjutnya.”

So, selamat bercinta dengan hati semuanya!

Saya Rindu Kamu…

Saturday, May 30th, 2009

Baru beberapa hari saja saya kembali ke dunia yang saya paham betul adalah dunia yang sangat melelahkan, saya sudah merasakan segala kehilangan.

Kehilangan kesenangan pekerjaan yang tiga bulan terakhir ini saya lakoni.

Saya kembali terpaksa mengurangi durasi saya untuk menulis, dan merelakan diri tertimbun dengan tumpukan piles pekerjaan yang sepertinya sebentar lagi akan membuat kepala saya meledak.

“You know what? You give me a lot of homeworks.”

Dan perempuan yang duduk di depan saya, yang juga sedang membuka laptop, dengan senyum lebar dan gayanya yang lucu, merespon omongan saya tadi…

“I know and that’s gonna make your head to explode?”

yang akhirnya disusul dengan sedikit obrolan…

“Yupe. Actually I do love pain but this pain is too…”

“…painful, rite?”

“No doubt.”

Memang sebenarnya pilihan ada di tangan saya, apakah saya akan terus menjadi full time blogger atau menjadi part time blogger. Yang kemudian berakhir dengan keputusan saya untuk pensiun menjadi full time blogger.

Pensiun dari segala kesenangan yang terjadi karenanya. Keheningan malam yang selalu menjadi teman setia saya, komentar-komentar, curhat-an mereka yang membaca tulisan saya, kehilangan cinta menjadi pujangga amatiran yang mampu membuat miris hati orang lain, sampai kehilangan waktu untuk membaca blog-blog yang bertebaran di dunia maya.

Harus kembali bekerja, seharusnya bukan menjadi beban untuk saya, dan menjadi penghalang saya melakukan hal yang lain, termasuk menulis jurnal hidup yang biasa saya bagikan melalui blog, kepada teman-teman di dunia maya. Itu semua karena didikkan dari para mentor hidup saya, lebih dari cukup untuk menjadi bekal saya meniti jalan panjang yang benar-benar baru dan masih belum terpasang rambu apapun ini.

Hasil didikan dari salah satu mentor hidup saya, yang selalu saya ingat adalah agar hidup secara penuh dan jangan pernah segalanya dijadikan beban. Dan juga satu omongannya yang mengutip dari omongan Yoda, bahwa hanya ada lakukan atau tidak lakukan, dan tidak ada kata mencoba, cukup mampu membuat saya kembali mengangkat kepala, ketika tumpukan kemalasan dan rasa pesimis yang terbungkus dengan paranoid juga gengsi, sedang mendominasi diri yang mempunyai salah satu karakter moody ini.

Namun daya fisik, memang perlu beradaptasi dengan siklus aktivitas hidup yang berubah. Tak bisa dihindari, bahwa lelah pikiran tentu akan mengakibatkan lelah fisik membuat saya tak sabar merebahkan tubuh di atas kasur, setelah saya membersihkan diri sepulang saya beraktivitas. Dan tentu membuat saya menghindari membuka laptop saya kembali.

Saya rindu dengan tulisan-tulisan saya sendiri. Saya rindu biarkan “tarian” pikiran, rasa dan hasil tangkapan indera-indera yang saya miliki, juga khayalan saya, tertumpah di sini. Saya rindu dengan sakitnya cinta yang biasa saya tuangkan dalam puisi melankoli “kacangan” yang saya ciptakan, yang ternyata juga mampu mengiris hati beberapa orang.

Saya rindu dengan kalian…