When Two Weirdos Met and Made Plans…

May 16th, 2011

A: Ntar di sana pokoknya gue ga mau mikir apa-apa.

B: Emang gue mau mikir apaan?

A: Terus terang gue lagi capekh secapekh-capekhnya. Capekh ati, capekh fisik dan lain-lain. Gue mau lose control of it.

B: Wah gue mesti bawa tali nih. Kalo elo dah ga ke kontrol tinggal gue iket di tiang listrik.

A: Siyaaalll.

B: I will take care of you there.

A: Kok gue jadi terharu ya dengernya.

B: Btw…I am gonna treat you different ya selama di sana.

A: Maksudnya?

B: Iya, selama ini gue agak jaga sikap gue ke elo. Tapi gue ga mau jaim ke elo, secara gue sama elo bakal 24 jam bareng. Agak males juga ya kalo jaim.

A: That’s what I’m trying to tell you too. Please, no need to be jaim ya. Gue cukup capekh idup di panggung sandiwara sehari-hari.

bla…bla…bla…

A: Hehehehe…just can’t wait to live with you there.

B: Honestly, me too. Gue butuh liat laut ama ombaknya.

A: But don’t blame me the after effectnya ya…even ntar gue bakal kaing-kaing sendiri, ya sudah lah…sudah biasa ama kayak begitu.

Taken from one conversation between 2 people, one day in May 2011

—-

Read carefully the last phrase in that conversation…that is pure craziness from the real masochist…

Little suggestion? Don’t do that unless you are one of real masochists…

*sounds familiar!!!! :mrgreen: :lol:

Pulang…Ngga…Pulang…Ngga…

April 29th, 2011

I know…No strings attached between us…now…
But all I know, this is what I ask to him every month…
“Kamu bulan ini pulang gak?”
“Ntar dikabarin ya,” itu jawabannya untuk bulan ini…

Perfect Monday For Us…

April 19th, 2011

Saya: Yak sekarang gue migren. What a perfect Monday.

Dirinya: Sorry gue dah balik ke kost.

Saya: Ya iyalah sana udah stg 6.

Dirinya: Eh ‘Cha btw, gue liat fotonya si monyong ama pacarnya di pp bbm gue. Guess what, rasanya kayak apa?

Saya: Hyyyaaaahhh dia manggilnya udah si monyong lagi. Apa rasanya? Biasa aja?

Dirinya: Kenapa, kurang cocok dipanggil monyong? Mau gue ganti kambing? Iya rasanya biasa aja. Masih benci dikit sih. Bulan lalu, gue masih terlalu dengerin perasaan gue sendiri ajah.

Saya: Ahhhhh…senang dengarnyah…sHug_bestbuddyhug_100-100

Dirinya: Again, thanks to you ‘Cha sHug_bestbuddyhug_100-100

Saya: Sama-sama…. *and I mentioned one name:mrgreen:

Dirinya: Gue dah ga terlalu sakit ‘Cha…

Saya: Thanks for letting me to be there 4 you…ada gunanya juga gue di idup loe… :mrgreen:

*Seee…sotoy-nya gue berguna khan buat elo…hahaha…keknya bukan 90% lagi sotoynya gue bener di elo, tapi udah jadi 95%…bentar-bentar…am I good counselor?

taken from BeBeEm chatting 18th April 2011

Friend Than Lover…

April 18th, 2011

friend-than-loverSalah satu pembicaraan yang dilakukan melalui BBM…

“Btw seberapa besar sih kemungkinan loe untuk jatuh cinta ama gue?”

“Hah…kenapa elo tiba-tiba tanya begini siy, ga ada angin, ga ada ujan.”

“Kata loe kalo gue mau tanya, ya tanya langsung, ga usah pake preambule segala.”

“Iya sih.”

“Ya udah dijawab dounks pertanyaan temennya.”

“Gak ada sih. Kemungkinannya ga ada. Kenapa sih elo tanya gitu tiba-tiba?”

“Gak papa. Cuma pengen bilang, jangan ya, don’t fall in love with me.”

“Eh itu khan kata-kata gue dulu ke elo.”

“Iya, sekarang gue pake…but no unless. Dulu khan elo masih pake unless elo yang mulai khan.”

“Ooooo…kenapa elo baru ngomongnya sekarang sih? Kenapa ga dari bulan-bulan lalu.”

“Yaaa…just realized lah, what we have now, ga mau gue rusak dengan hubungan percintaan yang sering bikin BT.”

“Ok.”

“Tapi kalo elo dah mikir 1000 kali dan elo masih teteup jatuh cinta sama gue, ya udah tinggal bilang, jangan kayak orang susah, ntar paling tinggal gue jawab atau gue tinggal kabur.

*but I just realized that once I asked you not to ask me to do that, because you can not control my feeling nor my brain, so I’ll take it back. Fall for me…if you feel it…

*picture was taken from PoundingHeartBeat

Just Be There…

April 10th, 2011

Malam itu…

“Laundry sotoy, baju gue ga dicuciin. Dan gue keabisan baju. Untung u ngasih. Thank you yah.”

“Sama-sama, mudah-mudahan suka. Cukup gak?”

“Agak kegedean dikit (padahal gara-gara diare aja).”

“Gak mungkin kan gue beliin M, ntar ketat.”

“Khan cekci, ketat, kayak lepet.”

—-

Malam lainnya…

“How are you?”

“Bla…bla…bla…I just need someone to talk, that’s it.”

“Sekarang masih?”

“Kalo ga, gue ga uring-uringan nyari tiket mau cabut.”

“Gue telpon elo, tapi elo yang harus cerewet soalnya akhir-akhir ini yang gue lagi diem. Ok?”

“Try me.”

Tak berapa lama si Bébé memunculkan nama seseorang di layarnya, tanpa mengeluarkan bunyi, karena aku bungkam. Di sana ada nama seseorang, yang beberapa hari ini sempat aku cari.  *Happy for sure, hear your voice again.

Satu hal yang menarik dari pembicaraan itu…

“Gue yakin ‘Cha tahun ini, elo ama gue sama-sama bakal punya pacar lagi.”

“Semoga. Tapi berhubung gue anaknya skeptis, gue ga akan percaya kalo belum di tangan gue.”

Dan…

“Besok bangunin gue ya.”

“Flight jam berapa?”

“Dari sini gue mesti jalan ke BPN jam 9. Berarti elo bangunin gue jam 9 lah.”

“Bentar-bentar…yakin, elo minta gue bangunin jam 9? Jam 9nya gue atau jam 9nya elo?”

“Iya jam 9nya elo ‘Cha.”

“Jam 9nya gue itu berarti jam 10nya elo loh, Sayaaanggg.”

“Oooohhh yaaa…itupun kesalahan bulan lalu ya. Untung elo pinter belajar dari pengalaman.”

“Gue bangunin jam setengah 7 sini ya.”

Hari itu…

BBM:

Me: I’m here, don’t complaint kay! *disertai foto papan jadwal penerbangan, termasuk di dalamnya JT 751 ETA 14:49

Sekitar 40 menit kemudian, aku melihat seseorang berjalan keluar dari pintu keluar penumpang dari terminal kedatangan. Seseorang yang saat itu memakai kemeja yang aku tahu persis siapa yang memberikannya. Seseorang yang hari itu, aku tahu bahwa dirinya aku butuhkan, hanya untuk ada. Di sana. Di sampingku. Tak peduli apa yang (akan) ia lakukan.

Dan senyum itu, penuh dengan sejuta makna yang tak pernah bisa aku simpulkan.

*Masih ga ada baju bersih ya, Mas, kayaknya kenal kemeja yang dipake sekarang.

“Yuk.”

“Dah makan loe?”

“Udah, barusan.”

“Mau ngajak gue kemana loe jemput gue?”

“Bebas.”

—-

“Lewat sini ajah. Mobilnya di sana.”

“Bawa mobil yang mana?”

“Bukan yang bulan lalu yang aku bawa. Aku aja ya yang nyetir.”

Dan dengan terpaksa kamu jawab, karena aku tahu persis, kamu paling ga suka di setirin perempuan “Ehhhmm…iya deh.”

—-

“Mccchh…elo tuh ya. Untung gue khan lagi ga janjian sama orang lain.”

“Ya kalo elo janjian sama orang lain, ya gue tinggal pulang tho.”

“Ya ga bisa gitu juga dounks.”

“Loh, khan berarti dia janjian duluan sama elo, ya dia dounks yang prioritas utamanya, bukan gue. Ya gak? Iya khan?”

—-

Manusia yang duduk di sebelah kiriku, sedang sibuk dengan bb di tangannya, walaupun sempat dia meminta izin, “Gue nelpon dulu ya.”

“Monggo,” *Elo mau ngapain ajah, yang penting gue tau elo ada di samping gue, gue ga peduli elo ngapain di sana.

Menyusuri jalan tol Sedyatmo sampai keluar di Pluit, kami sibuk dengan kesibukan masing-masing, tanpa suara dari mulut kami berdua. Hingga beberapa kalimat pun memecah keheningan panjang…

“This is shock therapy juga, dah lama ngga jemput orang siang-siang.”

Dan yang di sebelah, tidak mengatakan apapun.

Dan kembali keheningan mendominasi suasana di dalam mobil.

Dan kembali terpecah…

“Kayaknya gue dah mulai ngerti cara kerjanya ini.”

“Gampang taukkhh. Matic di mana-mana sama, cuma tuas pindahin giginya aja dipindahin ke sebelah sini. Wanna drive?”

“Hmmm…boleh.”

“Ntar aja ya pulangnya nyetir.”

“Yup, daripada gue ga tega ngeliat elo masih sakit gitu, nyetir.”

“Atau ntar aja ya abis isi bensin.”

“Boleh.”

Aku pun kembali mengendalikan kemudi di tengah keheningan dua orang yang duduk bersampingan namun tetap sibuk dengan dunianya sendiri.

Sampailah kami di SPBU berlambang kerang. Dan kemudi aku alihkan padanya, seperti tawaranku tadi.

Duduk manis aku di sampingnya. Menikmati duniaku sendiri, yang sedikit terbagi dengannya, di tengah sulitnya aku harus bernapas karena flu. Pasrah, kemanapun aku dibawanya.

And that’s all I need this past a month…I just need you to be there, beside me, no matter what you do. Just be there for me. Just like what I did, I do and still doing it for you.

*Tidak terlalu penghujung bulan Maret 2011*

I Just Want My Own World…

March 22nd, 2011

Bukan BB kalian yang lemot; jangan salahkan provider kalian yang tidak memberikan laporan umpan balik D atau R saat kalian mengirimkan pesan BBM ke saya. I turned it off all, bahkan si Bébé saya copot baterainya.

“Beberapa puluh tahun lalu, bisa kok hidup tanpa handphone, masakh sekarang ga bisa?”

Terus terang saya termasuk orang yang tidak terlalu rempong jika handphone tertinggal di rumah. Apalagi jika saya baru tersadar tidak membawanya saat saya sudah di tengah perjalanan berangkat ke suatu tempat (terutama ke kantor). Kemungkinan besar saya tidak akan repot-repot berbalik arah dan mengambilnya ke rumah.

“Mayannn…seharian ga ada yang repot nyariin gue. Gak akan ada yang berisik.”

Dan hal itu sudah kejadian berkali-kali.

Termasuk akhir pekan kemarin. Saya membiarkan hidup saya tanpa bunyi-bunyian dari dua perangkat telepon genggam yang saya miliki. Walaupun saya tahu ada beberapa acara yang seharusnya saya hadiri.

Semua berawal saat Jumat malam. Saat semua rasa kembali membuncah tak karuan; urusan pekerjaan, memori masa lalu, yang semuanya tiba-tiba membuat kepala ini rasanya ingin pecah, ditambah dengan rasa yang tak jelas apa, dan tak bisa saya definisikan.

Mencoba untuk menjadi seseorang yang berbeda. Mencari seseorang yang sepertinya bisa saya andalkan untuk berbagi cerita. Mencarinya di deretan nama yang ada di sekian ratus nama yang termasuk di BBM kontak yang saya miliki. But the result…no reply…nor R report at my BBM.

“Yah, who the hell i am for that person!”

I just remember a message was dropped in my Facebook few days ago…

“hey you!

you know, i always wonder why i don’t have many friends.. it’s not that i don’t like meeting new people, it’s not that i don’t actively try to talk and approach people, it’s not that i don’t open myself to new people. there’s one thing though, it’s hard for me to keep in touch with people. mungkin karena suasana jakarta, mungkin karena gw ga mau mengganggu orang” yang tampaknya sibuk, mungkin because i’m shy in nature :p

but there’s also another thing, it’s because it’s hard to find someone like me. someone who cherishes the same things, holds the same values, and other things i cannot really explain. you are one such person i can really connect with and yet i cannot stay in touch with you.. heheh.. sucks huh..

well, hope everything’s fine with you..”

atau sederetan kalimat (yang berujung dengan kalimat di bawah ini) dari seseorang yang Jumat malam lalu saya cari tapi saya tak tahu dia dimana…

“I’m lonely, but gw juga siy yang mau lonely.”

Dan semua itu membuat saya tersadar kembali, I’m part of them…dengan satu dan seribu satu alasan lainnya, atau bahkan sepertinya akan lebih baik jika saya tetap dengan diri saya sendiri. Sendiri.

No man is an island?? Yeah right…tell me about it!!! Coz sometime we are asked to be alone…then we choose to be lonely.

*aahhh…enaknya hidup tanpa handphone…gue terusin aja po seterusnya, ga cuma weekend ini aja?

Just Thanks…

March 20th, 2011

“Cha ma’ kasih ya udah nemenin gue ke Pluit kemaren.”

“Sama-sama, gue malah yang harus terima kasih sama elo. Dari sekian banyak temen loe, tapi gue yang elo minta nemenin elo. By the way kenapa berubah pikiran kemaren? Akhirnya mau aku temenin ke sana?”

“Gue ga berani sendirian ke sana. Mungkin kalo gue sendirian ke sana, gue akan melakukan suatu tindakan bodoh.”

“Something stupid seperti?”

“Mungkin gue akan berdiri bengong di depan rumahnya. Dan kalopun ada orang rumahnya yang ngeliat gue mungkin tetep akan ngelakuin itu. Tapi to tell you the truth, mendingan sih ‘Cha. Mendingan berkurang. Sakitnya. Tadinya waktu baru-baru putus, gue pulang aja males banget. Di pesawat aja ‘dah kebayang malesnya kayak apa. Terus baru mulai tuch bisa muter-muter ke beberapa tempat. Teritori tertentu. Belum berani ke tempat-tempat kemaren itu.”

“Owkay. Glad to hear that. Ma kasih ya elo dah minta gue nemenin elo kemaren. Cukup satu puteran? Masih perlu lagi? Kalo masih ga papa lo.”

“chatting BBM di 2 Maret 2011 dini hari. with a Thousand Miles between us.”

Tell me! You’re Not Trying To Make Me Smile Khan?…

March 18th, 2011

Hari ini sepertinya rencana kita berdua berjalan dengan baik. Walaupun pagi itu, hujan membasahi seluruh kota.

“Aku jemput kamu jam 4 ya ‘yank. Gue dah mau jalan ini.”

“Baru selese makan, masih ngobrol-ngobrol ama bo-nyok. Jam 4an ya say.”

“Okay, aku juga mau ke pet shop bentar kayaknya. Jam 4 setengah 5 deh ampe rumah kamu.”

This is going to be the third time we meet. We see each other face to face. Though we talked a lot on the phone, while thousand miles between us. Yes, I’m exciting.

“Sabar ya, tol Kebon Jeruk macet. Gue telat ampe rumah loe.”

“Kasian amat loe macet-macet nyetir ke sini.”

*ddduuhh BBM kenapa lagi lemot yah, ini kenapa telpnya dia tak bisa ditilpun juga…

“Aku dah nongkrong di depan warung.”

“Gue dah nyampe 2 menitan di sini. BBM loe kenapa?”

*masih ga delivered.

“Woi…balik jalan ke sini, gue liat elo dari spion.”

*saatnya pindah ke kursi kiri, as I promissed he picks the place and as requested he’ll drive.

—-

*seeing him adjusting the steering wheel, chair and doing all preparation he needs to make him comfort driving that car…and hopefully no need preparation to make him comfort with me. :mrgreen:

“R: reverse, D: Driving, P: Park?”

“Yup, di teken dulu tombol yang disamping. Dah pernah bawa matic khan?”

“Udah sih, tapi belom pernah bawa yang ini.”

“Sama ajah.”

“How are you?”

“Baik,” *happy to meet you, if only you knew!

—-

“Kamu mau lewat mana? Kayak bingung gituh.”

“Lewat depan TA aja kali ya. Bis lewat mana lagi ‘Cha?”

“Ga macet ya? Sabtu lewat sana nyebelin. Ga enakan lewat depan ayam cemara? Tapi terserah siy, you drive.”

“Iya juga ya. Kita ke Pantai Mutiara yah. Gue mau liat laut. Sekalian shock therapy.”

“You drive. You pick the place. Gue tinggal duduk manis.”

—-

“Eh bentar-bentar belokkan sini niy, dokternya si Dogol.”

“Iya, Krikitnya gue pernah ke situ juga. Tapi pas waktu itu parvo ga ketauan gituh. Vaksin sih murah.”

“Emang. Kalo penyakit-penyakit parah mendingan jangan ke situ. By the way tadi jadi ke Pet Shop?”

“Ngga, jemput kamu dah telat tadi. Besok aja aku ke Pet Shopnya.”

“Niy…ada pet shop. Tapi mahal sih.”

“Yup been there. Mendingan yang di kebon jeruk ajah.”

“Yaaahh…macet ampe depan Ukrida niy.”

“Ya udah lah nikmatin aja.”

“Tadi kenapa ga lewat jalan kecil belakang rumah gue ya? Terus tembus situ tuh. Baru inget gue.”

“Iya sih, tapi khan jalannya kecil. Lagi pula nembusnya juga di situ-situ juga.”

—-

Entah berapa banyak kata yang keluar dari mulut kita berdua, sembari aku memandangi jalanan yang sebelumnya hampir tidak pernah aku lewati.

“Nyetir loe enak juga!”

“Ya iya lah…gue gitu. Elo tidur aja. Khan terserah gue kemana? Tapi ga tanggung ya gue bawa kemana ntar!”

“Gak lah. Kalo gue tidur sama aja gue ga ketemu ama elo. By the way ini di mana siy…kalo gue di sini bakal ngilang niy.”

“Gak ngilang lah, khan ada gue.”

“Khan gue bilang kalo gue sendirian.”

“Good idea tuh.”

—-

Dan aku masih mendengarkan kata kecewamu karena dia, apalagi sepanjang jalan yang kita lewati adalah jalan yang sering kamu susuri saat kamu dengannya.

*Let it out, Dear! It still hurts you. Maybe a bit. Though your mouth says that you’re ok!

—-

“Kita ‘dah nyampe, nih Pantai Mutiara…”

Dan hamparan laut terpampang di depan mata. Dari ujung ke ujung.

*You never know how much i love sea and beaches! And you take me there. You make my mouth suddenly zipped.

“Dulu dia ga pernah mau kalo gue ajak ke sini.”

“Kenapa?”

“Katrokh! Ga suka bau amis. So tenang, daerah ini free memory of her.”

—-

Kita berdua memilih tempat itu. Tepat di pinggir. Disambut dengan semilir angin laut. Sementara kamu sibuk membolak-balikkan menu makanan yang sepertinya tak terlalu membuatku tertarik, walau rasa lapar sedang mendominasi seluruh perasaan ada.

Dan aku memilih mencari kesibukan lain: bertopang dagu memandangi laut yang terpampang lebar di hadapanku saat itu…

*Njjrriittt…me love it…love it when you make me smile without trying…

Walaupun “kesibukan”ku saat itu sedikit terganggu, karena serasa ada seseorang yang sedang memandangiku, dari sebelah kiri…

And yes, my eyes found you were there, holding menu book and looking at me, you were smiling too, but I didn’t want to know what was in your head…

Saat itu, kamu, aku, lebih sering dengan kesibukan masing-masing. Sibuk dengan pikiran dan mungkin seribu rasa yang tak (mungkin bisa) terucap, terungkap, karena mungkin semesta belum meng-iya-kan.

“Tempatnya pas, waktunya pas, cuma cuacanya yang kurang pas. By the way, waktu gue belum kerja dulu, kalo gue bt gue sering duduk di situ tuh, ga masuk ke sini, cuma di situ and ngeliatin laut.”

“Never been here before. But gue kalo disuruh bengong berjam-jam di sini gue akan betah.”

Dan saat itulah Foursquare check in terkirim melalui si Bébé…

Pantai Mutiara: Nice place, nice weather with a nice person…

Coz that it is…and that’s you!

Penghujung matahari bersinar pun sudah di depan mata. Bentangan birunya langit bercampur semburat-semburat jingga, bertadah hamparan air laut membuat sore itu…just perfect

Perjalanan sore itu harus berlanjut…saat langit dan laut sudah menjadi satu warna. Hitam. Gelap. Aku, kamu kembali menyusuri jajaran lautan dari ujung hingga ujung yang dipaksa berujung dengan sebuah bangunan…

“Jadi nyari sepatu?”

“Jadi. Elo ga ada acara kemana-mana khan?”

“Gak. Khan dah gue blok waktu gue untuk elo.”

“Kita ke Pluit Village.”

“Ok. Terserah elo bawa gue ke mana hari ini. Just like I told you.”

—-

“I love this mall.”

“Never been here before.”

“Bentar-bentar masuknya dari mana ini yah. Kok dah berubah semua.”

“Don’t ask me! Dunno!”

“Dulu siy di sini.”

“Kapan loe terakhir ke sini?”

“Maret tahun lalu. Btw hari ini kita berdua lagi diem yah.”

“Elo sih bawa gue ke pinggir laut. Itu dah memunculkan imajinasi macem-macem.”

“Abis mau gue bawa ke mana lagi. Gue lagi pengen laut.”

“Crita dounks loh…elo khan yang biasanya bawel tuh.”

“Udah gue ceritain semua ke elo.”

“Bagus juga yang tempat loe jauh. Jadi berguna tuh yang namanya telepon n bbm.”

—-

“Parkir mana yah kita?”

“Errrr…jangan tanya gue?!”

“Sana aja yah.”

Dan tiba-tiba ada pemandangan yang kembali menghasilkan tawa dari hati…

“Hiiiihhh…is that pet shop?”

“Iya.”

“Eh, liat ‘yank lucu banget itu Pom-nya. Duuhh…itu anjingnya tampak bodo…Is that snake? Hiiiyy…males.”

“Sabar ya sayang, aku parkir dulu.”

*Tell me! You’re not trying to make me smile khan? Love it!!!

“Eh tuh, ada yang mau keluarin mobil.”

“Goblog banget siy niy tukang parkir.

“Bukain pintunya ‘yank.”

“Mau kemana?”

“Turun.”

“Gak! Stay. Nunggu aja tuch tukang parkir, benahin mobil yang lain. Awas ajah ampe ngambil lahan gue.”

“Bis lama!”

*Yeaahh…I forget who I’m dealing with right now!

—-

“Eh…liat tuch Herdernya, duh kasian amat segede gitu dikandangin sempit begono. Ganteng berat yah. Tapi ga segede yang gue uyel-uyel di PP kemaren. Tuh ada Husky, tapi kok kurus ya. Elo pengen Husky ‘khan? Tuh yang tengah Bagle.”

“Mana? Oh iya. Eh..yuk udah ke dalem dulu yuk, ntar balik lagi, nunggu pet shop-pet shopnya sepian.”

“Kalo ke pet shop begini. Pengen banget gue angkutin pulang semua.”

“Ya jangan lah.”

“Kenapa?”

“Repoooot kaleee.”

—-

*Dah lama gue ngga nemenin cowok niat belanja keliling mall. Dan tumben gue ga jadi ikutan pengen belanja.

“Eh…gue aus niy…btw…ATM sebelah mana ya? Kebiasaan gue di dompet sampe bener-bener abis…nyari minum terus ke ATM yah. Jual minuman di atas ya?”

“Ya udah, tinggal ke atas lagi khan? Jangan kayak orang susah.”

—-

“Kalo liat-liat pet shop gituh gue jadi pengen beli. Pengen beli satu, terus pelihara dari kecil.”

“Ya udah, beli rumah dulu, baru melihara anjing.”

“Salah. Cari istri dulu, beli rumah baru beli anjing. Abis kalo ga istri, yang berihin pup-nya anjing sapa?”

“Emang istri loe ntar kerjaannya cuma bersihin pup anjing doank?”

Sampailah aku disuguhkan pemandangan yang selama ini jarang aku lihat. Kamu tertawa lebar, saat kamu berdiri di depan salah satu kandang yang di dalamnya ada 1 ekor anak anjing yang lagi jejingkrakkan, melakukan acting selucu mungkin, mungkin sambil berharap kamu akan membawanya pulang.

Jejeran toko hewan perliharaan itu kita tinggalkan tanpa membawa pulang apapun dari sana.

Dan tampaknya perjalanan kita selanjutnya adalah perjalanan yang sesungguhnya…

“Gak jadi ngelewatin rumahnya?”

“Abis ini, sekalian pulang ntar ngelewatin, biar ga muter-muter.”

Dan semua obrolan aku dan kamu beberapa waktu lalu, kembali muncul, dibenakku…

(Obrolan 1)

“Kalo mau tau elo masih sakit atau ngga, coba deh muterin daerah rumahnya. Kalo elo dah ga berasa apa-apa, sakitnya mungkin dah sembuh.”

“Hmmm…good idea juga tuh.”

“Mau gue temenin?”

“Ga usah. Gue bisa sendiri.”

“Yakin? Ok. Kalo perlu ditemenin bilang-bilang ya.”

(Obrolan 2)

“Hmm…ntar kita ke Pantai Mutiara aja yah.”

“Sekalian ke Pluit.”

“Ya itu Pluit kaalleee.”

“Gue tau Pluit cuma Atma. Terus sekalian ngider-ngider ke daerah rumahnya?”

“Yuk.”

“Haaayyuukk. Gue temenin.”

*change his mind? :mrgreen:

Dan kembali ke kenyataan sekarang…

Dengan atmosfir kegelisahan yang sudah mulai terasa dari kamu. Dengan segala kesibukkan pikiranku untuk memecahkan suasana yang sudah mulai berbeda. Namun akhirnya aku biarkan semuanya…

“Itu rumahnya.”

“Yang mana?”

“Yang pager warna itu. By the way itu mobil…*tut, sensor dikit ya bouw*”

“Iya.”

“Mobil tantenya. Berarti lagi di sini dia.”

Perlahan kamu memajukan mobil, hingga tepat di depan rumahnya. Sayang, saat itu aku tidak bisa melihat tatapan mata kamu. Yang aku rasakan, terasa kosong saat melihat rumahnya sambil menyaksikan kembali semua rekaman hidup kamu kurang lebih 5 tahun bersama dengan dia.

Sekian detik kamu terdiam, menatap rumahnya, sambil memunggungiku. Sekian detik yang membuatku bingung. Tak tahu harus berbuat apa. Hingga aku putuskan untuk menepuk bahumu beberapa kali. Dan keheningan pun terpecah…

“Gue biasanya bawa yang itu tuh ‘Cha.”

“Itu mobil apa sih?”

Padahal aku tahu persis mobil apa yang tersimpan di garasi, walaupun hanya terlihat sedikit dari luar. Karena aku tak tahu kalimat apa lagi yang semestinya keluar dari mulut.

“Yuk.”

“A…r…e… you okay?”

“I’m fine kok.”

“Ok.”

“Masih sakit dikit. But I’m fine.”

“Okay. What do you feel?”

“I don’t wanna talk about it.”

“Okay then.”

“Semua kejadian kemaren keputer semua.”

“Ya iya lah. Been there done that also. Tapi kalo gue ga pernah kayak gitu, gue ga mau ke daerah rumahmu lagi seumur-umur.”

Dan perjalanan paling penting hari ini, sudah (berhasil) dilewati. Dengan meninggalkan sejuta warna, yang pastinya tidak akan pernah bisa digambarkan. Oleh kamu, ataupun oleh aku. Pengalaman kembali menyusuri waktu dengan dia. Di masa lalu. Dulu. Melihat kembali sejuta kebahagiaan, tawa, air mata dan luka yang seolah-olah tersuguh di depan mata. Seketika dan bersamaan. Sekarang.

Terus terang, ada satu kebahagiaan yang membuncah di rasa ini. Bahwa aku yang kamu pilih temanimu ada di sekian detik itu.

—-

Perjalanan pun berlanjut. Malam minggu di kota yang tak pernah mati seperti Jakarta ini, pukul 09.00 malam, masih terlalu dini untuk menyelesaikan kesenangan yang sulit bisa dinikmati bebarengan, bersamaan dan di satu tempat yang sama. Oleh aku dan kamu.

“Kok, gue laper lagi ya.”

“Makan lagi yuk.”

“Yuk.”

“Gue ajak elo ke tempat yang sebenernya besok, gue mau ajak elo ke sana ya.”

“Okay. Aturable lah.”

Dan botol-botol Smirnoff itu mengakhiri kurang lebih 7 jam yang kita miliki. Seneng. Bareng. Dan di tempat yang sama.

—-

“Dan ma kasih, ‘udah menyuguhkan ini untukku…

senja pantai mutiara

…Sea. Sunset. You. Me. Same Place. Just perfect!”

26 Februari 2011

*picture was taken from your BBM profile picture, Dear!

*meeehh…need 3 weeks to finish this story…!!!

My Falling Star…

February 18th, 2011

1702;22.45WIB Selamat ulang taun | Belom | Sini udah | Sini belum | Biarin Sini Udah | Gak gue terima, gue lahir di Jakarta bukan di Kalimantan | Bla..bla..bla..

1702;23.50WIB Selamat ulang taon | Beeelloomm | Jam berapa sih jam loe, gue cocokin dulu deh | 23.50 | Bla..bla..bla..

1802;00.02WIB Bla..bla..bla.. | Bentar-bentar, selamat ulang taon, malah lewat 2 menit | Thank you yah | Bla..bla..bla..

1802;01.00WIB Dulu gue kira ngucapin selamat ulang taon yang pertama kali, tepat jam 12 malem, bukan hal yang penting | Penting taukkh ‘Cha | Iya penting, percaya | Bla..bla..bla..

1802;01.30WIB Thanks ya elo yang pertama kali ngucapin ulang taon ke gue | Ya iyalah gue telp dari jam 11 kurang, ga ada yang bisa masuk | Khan ada call waiting

—-

So…sepertinya tahun ini ga ada ulang tahun yang tertunda…

Siapapun kamu yang aku maksud di atas, apapun perasaan kamu terhadap aku, let me tell you something…

You are my falling star, today, on my birthday…Thanks! Appreciate it!

*Should be published on Feb 18, 2011 @ 18.30

Tak Di Sana…

February 15th, 2011

Ku beranikan diri melangkah…
Menembus langit yang sedang berair mata…
Di tengah dingin mencekam, dan sepinya malam…

Ku tengadahkan kepala…
Mencari titik cahya di atasku…
Mencari bintangku…
Mencarimu…

Kembali ku memandang jalanan yang kuharap siap menerima jejakku…
Jejak yang tersapu kapyukkan air…

Ku pandang ujung jalan itu…
Entah untuk keberapakalinya…
Mencari sebuah sosok…
Sosokmu…
Walau hanya bayangan…

Tapi…kamu pun juga tak ada di sana…

Dan tetap biarkan aku sendiri…

124951922618264