Archive for the ‘Romansa’ Category

Sementara…

Tuesday, December 4th, 2012

Aku hanya bisa merunduk pada rasa…
Turuti maunya…
Walau berulangkali seribu tanya ‘haruskah’ ku lontarkan pada semesta…

Sejuta bantah yang kucoba rangkai, kembali terserak…
Membuatku terbungkam lagi dan lagi…
Sadarkanku bahwa rasa itu tak juga pergi…

Jangan pernah mintaku untuk berhenti mencintamu…
Karena aku tak tahu bagaimana lagi harus membencimu…
Walau t’lah kucoba…

Dan semesta pun mengangguk…
Buat hatiku mengarah padamu…
Mintaku hentikan tanya…
Mintaku nikmati semua…
Mintaku menggenggam rasa itu…
Tuk dampingi hari-harimu…

Walau hanya dari jauh…

Sementara…

Aku, Kamu dan Dia…(1)

Tuesday, August 21st, 2012

“Ooohh, Sweetheart…you’re a good kisser.”

“I know, just enjoy it, Babe. Coz I’m gonna kiss every inch of your face now. ”

“Your kiss is so licentious. Oh gooosshh you arouse me. Baby, I know that you are good on bed since the first time I saw you.”

“Look who’s talking!”

“Oooohh…you’re so good. Feel it, Babe!! Feel the sway. Ooooohh mmyyy…can I do this inside? Touch mine, Dan. Help me. My stomach is getting tense.”

“Where have you been, Mas?”

“You’re too late.”

“Actually we’re too late.”

Aaaaannnndddd shit…this caffeine shot makes me realize kalau aku kembali terperangkap di percintaan seperti ini lagi dan lagi dan lagi. Entah sudah berapa hari aku di sini, duduk, menenggak kopi, dan selalu tersadar akan cerita kehidupan absurd yang sedang aku jalani, tapi tetap tidak mengubah statusku sekarang. Status yang sudah beberapa bulan ini aku sandang. Statusku sebagai wanita lain. Aku, Dania, si masokis sejati.

Haaiisshh…untungnya kemarin masih disadarkan dengan bunyi telepon dari istrinya yang membuat aku dan Mas Chandra beranjak dari sofa, tempat kita kedubragan penuh napsu, kalau saja tidak, ga kebayang apa yang terjadi selanjutnya.

Yaahh…kisahku dengan Mas Chandra berawal di akhir Juli lalu. Di ruangan sebuah hotel. Di kelas pelatihan. Saat kantor mengirimku pergi ke Singapura untuk mengikuti training. He was my trainer saat itu.

Dari pertama kali aku melihatnya, aku tahu bahwa dia adalah titik lemahku. Smart-good looking guy, dan membuat aku penasaran.

Dan ternyata bukan cuma aku yang merasakan hal yang sama. He felt it, and I just knew it. Terlihat dari pandangan matanya yang ga pernah bisa pergi lama-lama dari aku, saat ia memimpin sesi.

Masih jelas bayangan saat ia melangkah menuju ke arahku, duduk di sebelahku dan memulai perbincangan, yang dimulai dari basa-basi layaknya orang pertama kali bertemu, sampai akhirnya…

“Hmmm…I need your PIN BB.”

“Boleh, but I don’t give my PIN BB ke sembarang orang. So please, jangan kasih ke orang lain without my permission.”

“Likewise ya.”

Gooossshh…gimana aku bisa nolak dia, he’s damn smart and handsome guy. I fell in love with him, since the first time I saw him. Tambah pulakh sekarang I know that he’s a very good kisser, I can’t say no to him, to his lips.

“Danniaaa! Bengong aja luuu. Tuh gelas kopi dah abis masih aja di pegangin.”

“Ehhh…dentist bocor…ngapain lu disini?”

“Mau ngopi lah.”

“Gimana urusan hati? Beres?”

“Gue ngikutin elo lah, Dan. Kalo elo sembuh, gue ikutan sembuh.”

“Masih lamaaaa deh, Ran.”

“Masih lu deket ama Chandra?”

“Masih. And just realized gue ga bisa jadi pechun sejati, Ran. Berkali-kali gue bilang ke gue sendiri ga boleh ada hati, tapi akhirnya memang gue sayang ama dia. Gak bisa tuh gue ciuman ama orang tanpa main perasaan.”

“Yaaakkkeeeennn cuma ciuman?”

“Prrrrreeettt! Siaaall lu aaahhh. Eh dah jam berapa ini, gue mesti ngantor.”

“Halah kantor tinggal jingkring aja lu dari sini.”

“Praktik jam berapa lu?”

“Jam 8 sih, tapi pasiennya baru 2 yang dateng, biar dulu mereka nunggu.”

“See you when I see you ya.”

“Bye, Dan.”

That was Rani, my high school mate. Perempuan yang sempat aku sebal, karena mantan pacarku jaman dulu, pernah aku pergoki sedang berduaan dengan dirinya. Tapi rasa kesal itu sudah beralih dengan adanya cerita-cerita seru nan tolol yang kami jalani. Sama-sama menjadi orang ke tiga. Sama-sama menjalani tangis bombay, tapi sama-sama tidak mau menyudahi. Sama-sama sedang mabuk kepayang dengan cinta yang sampai saat ini kami berdua belum tahu apakah cinta palsu atau cinta sesungguhnya. Atau malah mungkin hanya sebuah pelarian? Hmmm…interesting. We will find it out my dear friend. We will.

———-

Sampai juga aku di kantor yang sudah mulai menyebalkan ini. Hmmm…anyway, kalo ga gara-gara nih kantor plus bossku yang lagi super kecentilan, ngedeketin aku, trus ngirim aku training ke Singapura, ga mungkin aku ketemu Si Ganteng nan pinter itu.

Trrriinnggg…

Eh…ada BBM masuk…hihihi…pasti si ganteng…

“Hi, Cantik.”

“Hi, Ganteng.”

“Dah sampai kantor? Huuhh…masih kebayang kamu tadi malam. Sexy banget…duduk di meja dengan rok terusan kamu yang atasnya sudah setengah melorot. Kamu cantik banget, Sayang.”

“Ya, ampun sayang, ngobrol ama kamu kayak gini di BBM aja, udah aroused me. You were so damn good. What are you made of?”

“Mass, liquid and air.”

“Yeah rite. What did you do to me?”

“I didn’t do anything.”

“Don’t believe you. Hehehehe. I miss those cute eyes.”

“I miss your sparkling eyes.”

“Kalo aku inget-inget ya, bisa-bisa loo aku ketawa.”

“Kenapa ketawa?”

“Ya iya lah aku ketawa. Kita udah ketahap kayak gini khan dulu kurang dari tiga bulan.”

“Maassssaaakkhh?”

“Hmmm…bukan 3 bulan malah, less than 2 months.”

“Iya ya? Gilakh!

“From training in the room, up to kissing in the room also. Hahahahaha.”

“Hahahahahaha..from back to front. From Miss Dania to miss you much.”

“From Sir to Mas.”

“Hahahahahahahahahaha. Btw, aku seneng banget loo, waktu kamu meluk aku sambil narokh kepala kamu di pundakku, and call me with Mas.”

“Kenapa? Berasa manja and mesra ya? Padahal aku bukan orang yang romantis lo.”

“Ragu aku, kalo kamu bukan orang romantis.”

“Hehehehe…masakh? Miss you so much, Handsome.”

“Samaaa…”

Gimana coba aku bisa ngelepasin Mas Chandra? He changes my life a lot. Apalagi bayangan apa yang kami lakukan tadi malam, di atas meja kerja di ruang kerjanya, masih terus menari-nari di kepalaku. Telaaat…telllaaatt…kemana aja gue…kemana aja si loh, Mas? Ah…ya sudah lah…waktunya fokus kerja.

—-

to be continued…

45 Minutes…

Tuesday, February 14th, 2012

Around 3.30 pm…

Tim baru pada bermunculan | Yah..ga bisa pulang jam 5an dounks? | Paling jam 6an lah dari sini | Abis itu ada acara? | Ngga

4.30 pm…

Still at PS? | Masih di PS…

5.19 pm…

Aku ke sana. Give me only 10 minutes, kalo kamu bener-bener ga bisa. I just want to give you something.

6.19 pm…

Here already at PS. Lemme know when you’re done, and mau ketemu di mana.

6.20 pm…

I am free now. As usual I’m lost when you give me an option of  “anywhere”

And a second later, these eyes found him walking in front of me…

Heeii… | Haaii… *and those kisses…hmmm… | Happy Valentine | Haallaaagghh…Kamu mau langsung pulang? | Sepertinya | Kok, kayaknya sama aja berat badanmu | Enak aja, turun 5 kilo ini | Eh iya dink, masih terlihat ga sehat | Kamu juga, mukanya kayak super capekh gitu | I am. By the way, aku cuma mau ngasi ini, bookmark | Ehh..lucunya | My friend made it | Yuk, kita ngobrol bentar | Loh, katanya mau langsung pulang, but to be honest aku haus banget sih | Ga papa lah 10 – 15 menit. Bakerz In? | Penuh | Nanini? | Bawah aja yuk | Oh ya De Luca or Monolog |

And here we are, at Monolog, for wonderful 45 minutes. Looking at your eyes, your glowing-cute-eyes when you are sharing your works, your passion and your dream…again…

45 minutes. Cinta. Aku. Kamu. Tanpa dia. Tanpa mereka. Tanpa bb. Listening to your story. Looking at your glowing-cute-eyes. Though only with a glass of Ice Lychee Tea and yogurt in our hands. Love it!

Love you…Happy Valentine’s Day…

—-

fucklentine4

7.07 am  Happy Valentine dear | Happy Valentine’s Day for you too, Mon Cher…

Rindu Kamu!!!…

Monday, February 6th, 2012

IMG-20120206-00074 2Salah ya, kalau aku mencintaimu dengan seluruhku? Salah, kalau sejak pertama aku melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu? Walau sejuta rasa aku libas dengan rasa gengsiku yang aku lipatgandakan, agar binar mata ini tak mengatakan apapun ke kamu. Namun sepertinya, isyarat darimu terlalu kuat untuk aku abaikan. Isyarat lucu cahya matamu yang bicara padaku, kalau kamu pun ternyata menginginkanku. Dari sejak itu.

Hari demi hari perlahan aku biarkan diri ini semakin mendekat padamu.

Saat kamu jadikan aku sapaan pagimu, dan mimpi malammu. Saat kamu selipkan cerita hidupmu di hari-hari sibukmu. Saat kamu jadikan aku bagian mimpimu nanti. Saat bayangan kita, bersama, yang terpampang jelas di pandangan mata kita berdua, di sekian juta detik di kemudian hari,  yang akan menghampiri langkah hidup kita. Saat itu akan terjadi, adalah bahagiaku, bahagiamu juga. Kelak.

Ahh…jadi ingat saat kita habiskan waktu menikmati Sushi di sebuah restoran Jepang. Pertamakalinya kita makan malam bareng. Tak ada habisnya kamu ceritakan tentangmu. Dengan segala ceria yang jadikan itu adalah kamu. Atau saat sore-sore kita duduk di sofa itu, kamu cerita semua mimpimu. Bayangan bahagianya kamu, yang lagi-lagi terlihat jelas di sinar matamu yang tak pernah berhenti membuatku gemas. Dan tak ada habisnya kamu membuatku tersenyum. Sofa yang jadi saksi ketawa-ketawa ngakak dan kedubragannya kita berdua. Sore yang ga mungkin aku lupakan.

Kamu sudah buatku mampu melepas seribu topeng. Dan giliran sekarang, sejuta gengsi diri yang aku libas. Menjawab segala tanya dan ajakanmu dengan satu per satu kata ‘ya’ yang keluar dari bibir ini, pun dari tingkahku.

Kamu tau ga sih, kalo kamu sudah membawaku berada di titik di mana aku berdiri sekarang? Titik tumpah ruah segala rasa yang tak mungkin lagi terdefinisikan. Bermula ketika kamu tanyakan izinku untuk memelukku, membiarkan ungkapan cinta semakin terungkap dalam kecupan dua bibir ini yang bertemu, yang kemudian berdansa dalam hitungan sekian menit. Hati ini milikmu sudah, Sayang.

Coba inget deh, tak ada satu pun permintaanmu yang luput dari usahaku agar mereka tersuguh di depanmu. Cuma biar aku bisa terus melihat senyummu dan centilnya mata lucumu, karena kamu bahagia. Biar kamu selalu bisa rasakan bahwa aku ada untukmu. Dan biar aku bisa rasakan dekapanmu yang menghadirkan sejuta rasa bahwa ‘kamu memang nyata’. Mencintaku, seperti katamu.

Sekarang, sekian lama sudah kamu dan aku jalani ini semua. Meniti hati dan berdansa dengan tawa, tangis dan rasa sakit yang silih berganti datang dan pergi.

Aku ga perlu fisikmu ada di depanku setiap hari, Sayang. Aku hanya perlu tahu kalau hatimu ada. Untukku. Seperti janjimu. Dan bukti yang kamu hadirkan hingga saat ini. Yang masih jadikanku yang penting di hidupmu.

Tapi, saat ini…aku rindu kamu! Banget!

selama aku mencari
selama aku menanti
bayang-bayangmu dibatas senja
matahari membakar rinduku
ku melayang terbang tinggi

bersama mega-mega
menembus dinding waktu
kuterbaring dan pejamkan mata
dalam hati kupangil namamu
semoga saja kau dengar dan merasakan

getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata ku cinta padamu

peluhku berjatuhan
menikmati sentuhan
perasaan yang teramat dalam
telah kau bawa segala yang kupunya
segala yang kupunya ouoooo

getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata aku cinta padamu ooho kepadamu

Their Story…

Monday, January 16th, 2012

12.37  @ Latte Art: aku lagi maksi. Dah makan? Mau ditemeni? | Boleh. Dimana? Aku masuk kompleks gedung sebelah kantormu. | Aku ke sana.

5 menit kemudian, @ Mangkok Putih: Hai | *with those licentious kisses on the edge of lips…

12.50 pm: Kamu meeting jam 1 khan? Ga akan keburu, makanannya lama. U eat this pisang ijo dulu aja, aku tadi beliin, sengaja, kalo kamu ga sempet makan gede. Pesenannya dibatalin aja. | Dibungkus aja, kamu bawa pulang. | Ya udah sekalian set bill.

13.00 : Dah jam 1, kamu naik ke atas, aku balik ke kantor ya. | *two kisses were landed on the edge of our lips for a couple of second, including “miss you” from him.

13.16 : Thanks ya, Dear | Sama-sama. With my pleasure. Good luck for the deal. Love seeing you today.

17.09 : Hai Babe. Done. Now going home. Thanks for the pisang ijo. It helps me to survive. | No worries, Darl.

——

Day after…

08.45 : Dear, hari ini sibuk ngapain? | Kenapa? Di kantor doank | Ngga apa. Hanya mau tau aja. I’m so happy seeing you yesterday. Yg ngga disangka-sangka gitu kan? | Hehehe. Samaa.

and…that’s their story…