Archive for the ‘Renungan’ Category

Buang Di?…

Thursday, June 30th, 2011

Berlangganan TV berbayar ini, sering membuat saya berpikir…

“Njriiittt niy…dulu kayaknya gue bayar langganan nih TV cuma 200 ribuan, sekarang dah 400 ribuan. Though termasuk internet,” atau…

“Kenapa ya TV Indonesia ga bisa mbuat acara TV kayak gini. Bikin TV series mutu gituh. Bukan sinetron kacangan ga mutu.”

Serius! Serial televisi yang ada di saluran TV milik luar negeri, memang bermutu. Baik serial televisi jaman dahulu, atau jaman sekarang. Sebut saja serial Growing Pains, Dr. Doogie Howser M.D, ER, The Huxtables, CSI, Numb3rs, Glee, Parenthood, How I Met Your Mother, Grey’s Anatomy, dan masih banyak lagi

Bermutunya serial televisi “ciptaan” saluran televisi luar negeri itu, terbukti di salah satu episode serial televisi Parenthood, yang kebetulan saya tonton siang kemarin.

Dan beginilah kurang lebih salah satu dialog antara Haddie Braverman (yang diperankan oleh Sarah Ramos) dengan ibunya, Kristina Braverman (yang diperankan oleh Monica Potter)…

“Mom, I had sex with Alex,” ngggoookkk… *by the way, in story, Alex is Haddie’s boy friend.

Tahukah apa yang saya pikirkan begitu mendengar kalimat itu? Kalimat yang keluar dari mulut seorang anak yang dalam cerita, berumur 16 tahun. Kalimat yang dilontarkan anak kepada sang ibu.

“Hebbbaattt nih anak, super terbuka. Hebbbaattt nih si emak, kagak langsung treak marah-marah, and freak out walaupun bengong mampus. Ada ga ya anak jaman sekarang di Indonesia, yang seterbuka kayak gitu sama emaknya, kecuali sampe dia hamil jadi terpaksa ngomong. Dan pasti ngomongnya dah langsung ngaku hamil.”

Saya yakin, sekarang ini masalah seks bebas sudah ga asing. Sepertinya semakin sedikit yang masih memegang teguh “hukum” untuk tetap menjaga keperawanan atau keperjakaan sampai saatnya nanti menikah, dan sudah menggantinya dengan “hukum”, “Play safe yaaa,” atau “Yang penting main aman, abis enak ccccyyynnn!”

Tapi coba deh, pikirin lebih lanjut, apalagi yang sudah jadi orang tua, dan punya anak perempuan. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba adegan di film tadi, mendadak menjadi kenyataan hidup di depan mata? Apakah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kristina (ibunya Haddie) seperti di bawah ini, akan keluar juga dari mulut kamu?…

“Did he use condom?”

—-

Haaayooo…ngacung yang hari gini belum nikah, tapi masih perawan or perjaka!!

Hmm…satu lagi…itu kondom, lubricants, after morning pill, simpennya yang bener ya, jangan ampe ketauan orang rumah…rempong ntar…boouuwww… :lol:

*Jadi inget tangkapan indera dari percakapan dua orang yang sedang duduk dan berbincang-bincang, yang sepertinya perbincangan penuh arti, di sebuah cafe, di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat, tak lama sebelum tulisan ini dibuat.

“Kemaren itu aku dah bawa caps loh.”

“Bukannya kamu bawa terus ya?”

“Ga selalu sih.”

“Biasanya sih kalo sama aku, ga ngaruh, ga enak, artificial.”

“Terus?”

“Ya masih bisa dibuang di luar khan? And ambil resiko lah.”

“Ooooowwwkkkaaayy.”

*ggguuubbbrraaggg…*tepok jidat! *jaman sekarang!!

I Just Want My Own World…

Tuesday, March 22nd, 2011

Bukan BB kalian yang lemot; jangan salahkan provider kalian yang tidak memberikan laporan umpan balik D atau R saat kalian mengirimkan pesan BBM ke saya. I turned it off all, bahkan si Bébé saya copot baterainya.

“Beberapa puluh tahun lalu, bisa kok hidup tanpa handphone, masakh sekarang ga bisa?”

Terus terang saya termasuk orang yang tidak terlalu rempong jika handphone tertinggal di rumah. Apalagi jika saya baru tersadar tidak membawanya saat saya sudah di tengah perjalanan berangkat ke suatu tempat (terutama ke kantor). Kemungkinan besar saya tidak akan repot-repot berbalik arah dan mengambilnya ke rumah.

“Mayannn…seharian ga ada yang repot nyariin gue. Gak akan ada yang berisik.”

Dan hal itu sudah kejadian berkali-kali.

Termasuk akhir pekan kemarin. Saya membiarkan hidup saya tanpa bunyi-bunyian dari dua perangkat telepon genggam yang saya miliki. Walaupun saya tahu ada beberapa acara yang seharusnya saya hadiri.

Semua berawal saat Jumat malam. Saat semua rasa kembali membuncah tak karuan; urusan pekerjaan, memori masa lalu, yang semuanya tiba-tiba membuat kepala ini rasanya ingin pecah, ditambah dengan rasa yang tak jelas apa, dan tak bisa saya definisikan.

Mencoba untuk menjadi seseorang yang berbeda. Mencari seseorang yang sepertinya bisa saya andalkan untuk berbagi cerita. Mencarinya di deretan nama yang ada di sekian ratus nama yang termasuk di BBM kontak yang saya miliki. But the result…no reply…nor R report at my BBM.

“Yah, who the hell i am for that person!”

I just remember a message was dropped in my Facebook few days ago…

“hey you!

you know, i always wonder why i don’t have many friends.. it’s not that i don’t like meeting new people, it’s not that i don’t actively try to talk and approach people, it’s not that i don’t open myself to new people. there’s one thing though, it’s hard for me to keep in touch with people. mungkin karena suasana jakarta, mungkin karena gw ga mau mengganggu orang” yang tampaknya sibuk, mungkin because i’m shy in nature :p

but there’s also another thing, it’s because it’s hard to find someone like me. someone who cherishes the same things, holds the same values, and other things i cannot really explain. you are one such person i can really connect with and yet i cannot stay in touch with you.. heheh.. sucks huh..

well, hope everything’s fine with you..”

atau sederetan kalimat (yang berujung dengan kalimat di bawah ini) dari seseorang yang Jumat malam lalu saya cari tapi saya tak tahu dia dimana…

“I’m lonely, but gw juga siy yang mau lonely.”

Dan semua itu membuat saya tersadar kembali, I’m part of them…dengan satu dan seribu satu alasan lainnya, atau bahkan sepertinya akan lebih baik jika saya tetap dengan diri saya sendiri. Sendiri.

No man is an island?? Yeah right…tell me about it!!! Coz sometime we are asked to be alone…then we choose to be lonely.

*aahhh…enaknya hidup tanpa handphone…gue terusin aja po seterusnya, ga cuma weekend ini aja?

Hah? Berapa Lapis? Ribuan!…

Thursday, October 14th, 2010

“Susah ga sih menjadi seseorang yang berbeda?”

Pertanyaan itu pernah dilontarkan ke saya.

Jawaban saya? Susah-susah-gampang!

Pada dasarnya, saya percaya bahwa setiap manusia itu pasti berbeda. Mau mencari ke belahan dunia manapun tidak ada manusia yang dilahirkan, tumbuh, berkembang, mempunyai pengalaman, pikiran, karakteristik, sifat, status sosial, jabatan dan bentuk fisik yang sama persis.

Harusnya menjadi yang berbeda akan menjadi mudah, karena hal yang tadi itu, karena kita satu sama lain pasti berbeda.

Tapi bagaimana jika manusia-manusia yang berbeda satu sama yang lain itu pada akhirnya harus bertemu, berinteraksi, mempunyai hubungan tertentu, bekerjasama? Akankah menjadi hal yang mudah?

Weeiittsss…belum tentu sepertinya. Bisa mudah, tapi sepertinya lebih banyak sulitnya, alias membuat hidup tambah rempong!

Mungkin contoh kongkritnya, bisa kita lihat dari hasil observasi sehari-hari di tempat kita beraktivitas.

Let say, kantor! Pernah memperhatikan tidak situasi kantor seperti apa? Teman-teman kita bagaimana, ngapain aja? Pernah lah ya! Ga mungkin ga pernah.

Mungkin situasi atau budaya seperti yang saya ceritain di bawah ini, merupakan salah satu “cerita” kantor kalian…

“Cuy, nih baju bagus!”

“Kagak bisa dipake ke kantor yang model begituan!”

“Kantor lu kagak bisa, kantor gue mah bisa. Mau kutungan ngantor sih bisa-bisa aja!”

Bukan “cerita” kantor kamu? Mungkin yang ini…

“Jam kantor lu jam berapa?”

“Jam saat gue dateng di kantor dan saat gue pulang kantor.”

Masih bukan? Okay, kalo begitu, mungkin yang satu ini…

“Mana gue tau peraturan kayak begituan, gue khan bukan pegawai tetap.”

Atau yang ini?…

“Mana ada nih yang kayak beginian bisa di divisi gue. Satu baca buku novel, kadang buka partitur musik, buka situs gosip, bahkan jadi ikutan gosip, pesen-pesen tiket pesawat gratisan, terus-terusan memamahbiak.”

Yang ini?…

“Sumpah tuh perempuan BT-in banget, pengen gue sumpel tuh mulut. Berisik!”

Kalau yang ini?…

“Kemana sih tuch anak? Pacaran mulukh. Ini dah jam 8 padahal! Dah jam kerja!

Bukan juga?…

“Di kantor lain mah buka-buka facebook kagak mungkin. Ngubek-ngubek blog orang, or situs-situs aneh juga pasti di banned. Kalo gue malah disuruh, emang kerjaan gue kayak begitu.”

Satu lagi ah…

“Yang satu itu, mondar-mandir, biar keliatan sibuk, padahal nothing. Dan yang bilang kayak gitu juga dah ampe level direktur loh!”

Dan masih banyak lagi…si itu begitu lah, si bos anu ngapain lah, si anak buahnya itu nyebelin lah, yang satunya ga bisa kontrol emosi kalo lagi load kerjaan banyak…

Rempong?

Yupe!

Yang menyebabkan rempong itu apa ya? Dan siapa?

Kira-kira kita sendiri bukan? Hayyyooo…ngaku!! :mrgreen:

Kita dengan segala “keajaiban” masing-masing, ditambah dengan kebutuhan-kebutuhan khusus, seperti pelampiasan saat panic attack datang, kebutuhan diterima oleh lingkungan sekitar, kebutuhan untuk dapat di recognize oleh atasan, kebutuhan penyaluran hobi, kebutuhan menenangkan diri, kebutuhan merasa dihargai karena level jabatan yang disandang, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mungkin saat itu perlu dipenuhi dan hanya bisa dipenuhi dengan cara-cara tertentu, yang hanya diketahui oleh kita, apalagi alasan kenapa kita melakukan cara-cara tertentu itu.

Mudah?

Ho-oh!

Kalau kita berniat memakai “sepatu” mereka terlebih dahulu, mencoba melihat dengan “kacamata” mereka. Ngga enak? Pasti! Karena bukan punya kita sendiri! Bukan comfort zone kita.

Keluar dari comfort zone bukan hal mudah, bukan berarti ga bisa, tapi juga bukan berarti mereka akan menemukan comfort zone lainnya.

Gak susah loh ngasih sebentar atau sedikit comfort zone ke orang lain, stop judging and complaining *eh…itu menurut gue sih*

Lagi-lagi, saya tidak pernah bosan akan tulisan di bawah ini…

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

Dunia ini panggung sandiwara?

Totally agreed! Bahkan kalau perlu make seribu lapis topeng yang penuh basa-basi?

Ga capekh ya?

“Kalo elo ‘Cha?”

Beneran, nanya kalo gue gimana? Ga nyesel denger jawaban gue?
Kalimat retoris elo tanyain lagi ke gue! :mrgreen:

Semua Karena Cinta…

Sunday, September 12th, 2010

Beruntung sekali, saya sudah tidak bekerja di perusahaan yang tetap mengharuskan pegawainya bekerja saat orang lain sedang menikmati liburan. Termasuk liburan Lebaran kali ini, yang akhirnya bisa saya nikmati bersama keluarga.

Saya bukan seorang muslim, tapi bukan berarti saya tidak merayakan Hari Raya Idul Fitri. Ada satu ritual rutin tahunan yang dilakukan oleh saya dan kedua orang tua, saat lebaran datang. Ritual apakah itu? Ritual berkunjung ke rumah Oma. Saya tidak perlu repot-repot mudik untuk bertemu si Oma, karena rumah beliau ada di Jakarta.

Begitu pula untuk tahun ini, ritual tersebut masih dilakukan. Dan tetap saja menyenangkan…

Menyenangkan karena masih bisa bertemu Oma, semua Tante dan Oom yang kebetulan pas banget bertandang ke sana. Walaupun, karena hanya setahun sekali dan tidak setiap tahun bertemu dengan semuanya, saya harus dengan susah payah mengingat kembali nama, kemudian mencocokkan dengan wajah semua yang hadir di sana.

Menyenangkan karena saya masih bisa makan masakannya si Oma yang masih tetap enak, juga puding dan kue-kue lainnya yang tersaji di meja, walaupun saya tak tahu siapa yang membuatnya.

Menyenangkan karena ternyata masih ada tradisi seperti ini, yang masih bisa saya lakukan…

Teringat puluhan tahun yang lalu. Tepatnya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tradisi seperti ini, tak hanya terjadi di kalangan keluarga, tetapi di lingkungan komplek perumahan tempat saya tinggal. Saat lebaran dulu, saya dan orang tua mempunyai tradisi bersilaturahmi, mengucapkan selamat atas hari kemenangan ke satu per satu rumah tetangga yang tinggal berdekatan dengan saya. Lumayan, bisa nyemil kue-kue kering yang pasti tersedia dan tersuguh bagi para tamu. Begitu pun juga sebaliknya, saat Natal tiba, giliran rumah kami yang kedatangan tamu.

Tapi tradisi tersebut tak kami lakukan lagi, tak mereka lakukan lagi, tak dilakukan lagi, baik saat Lebaran maupun saat Natal dan saya tak ingat kapan tepatnya tradisi itu hilang. Atau mungkin tradisi seperti itu sudah tergantikan dengan acara halal-bihalal yang diselenggarakan RT kami sejak beberapa tahun yang lalu? Jadi tak perlu lagi bertandang ke rumah, cukup semua berkumpul di satu tempat untuk bersilaturahmi?

Saya sih berharap, memang itulah alasannya, bukan alasan yang ‘tak benar’ lainnya.

Ingat pelajaran/mata kuliah Pendidikan Moral Pancasila/PPKn *eh apa ya kepanjangannya?* dan sejenisnya seperti Pancasila, Kewarganegaraan? Ingat bagaimana si guru atau dosen *setidaknya guru dan dosen saya dulu* terus menerus membicarakan dan menanamkan tentang Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Pluralisme? Dulu saya sampai bosan mendengarnya. Tapi ternyata rasa bosan itu, baru terlihat manfaatnya sekarang. Setidaknya terlihat dari bagaimana saya memandang/melihat mereka yang berbeda dengan saya. Berbeda apapun.

Apalagi ditambah dengan didikan selama saya mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi, yang juga mengagungkan segala hal tentang perbedaan tersebut, yang menjadikan setiap manusia sebagai makhluk “ajaib” alias makhluk unik, dan tak ada duanya.

madmaxer091100102

Perbedaan dalam diri manusia salah satunya adalah perbedaan keyakinan, perbedaan iman yang dijunjung tinggi oleh tiap orang. Dan pada akhirnya agama-lah yang dijadikan sebagai instrumen untuk pengkotak-kotakkan akan perbedaan keyakinan dan iman tiap orang.

Kotak yang saya pilih adalah Katholik. Kotak yang kamu pilih adalah Islam, sedangkan kotak yang masih dipilihnya adalah Hindu, atau Budha, atau Kristen. Atau kotaknya adalah Keyakinan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa *eh masih ada ga ya yang beginian?*. Kenapa saya menggunakan kata ‘pilih’? Karena memang masih menjadi pilihan kita; kita yang saat ini sudah beranjak dewasa, karena orang dewasa berhak dan sudah bisa menentukan pilihannya apakah ia masih mau melakukan ini, melakukan itu, atau sudah tidak mau, atau ingin pindah.

Tapi apakah kotak-kotak tersebut harus menghalangi kita untuk dapat melihat indahnya perbedaan dalam hidup?

Gak lah ya…setidaknya tidak untuk saya.

Mungkin saya sempat sedikit ketus, saat seseorang mengatakan ini “Kok, Ibu bilang Alhamdullillah sih?”, ketika saya akhirnya menemukan sebuah barang yang saya cari, yang kemudian saya membalas apa yang dikatakan orang tersebut dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini “Kira-kira sama ga ya artinya terima kasih dengan thank you, atau merci, atau arigatoo gozaimasu? Apa yang cuma boleh bilang thank you adalah orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris, atau yang kata merci adalah paten boleh diucapkan oleh mereka yang sehari-hari make bahasa Perancis? Kalo gitu ga usah aja kita belajar bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Alhamdullillah itu artinya Puji Tuhan ‘khan?”

Atau “teguran” serupa saat saya merespon salam “As Salamu Alaykum” seseorang yang saat itu memasuki ruangan kerja dengan “Wa Alaykum Salam,” yang sebenarnya mempunyai arti yang sama dengan peace be with you, atau damai bersamamu juga? Bouuuwwww…don’t you see it’s only a matter of language?  Dan bagi saya, agama adalah juga sebagai “bahasa” kita untuk memuja Tuhan, yang notabene hanya ada satu *itu pendapat dan yakinnya saya*.

Saya yakin kita semua pasti lebih comfort dengan “bahasa” kita sendiri, tapi bukan berarti kita akan memandang rendah “bahasa” orang lain ‘khan? Atau mungkin ada bagusnya kalau kita mencari tahu tentang “bahasa” orang lain, supaya kita bisa liat bahwa “bahasa” mereka itu juga indah, dan menjadikan kita untuk lebih kuat dengan “bahasa” sendiri, dan gimana “bahasa” saya dan “bahasa” mereka, dia, atau kamu bisa saling membuat tambah indah?

Saya yakin kok ga ada seorang pun yang ingin direndahkan. Semua ingin tetap dihargai. Tak ada yang senang saat mendengar isu bahwa ada salah satu sekte di Amerika akan membakar Al-Quran, yang membuat semuanya berlomba-lomba untuk menghentikan niatan itu. Atau semua pasti marah saat Islam dikaitkan dengan teroris. Atau apakah tega melihat darah bertumpahan saat gereja-gereja dibom? Yang semuanya mengatasnamakan sebuah kebaikan dan sudah sesuai dengan ajaran iman yang dipeluknya?

Terus terang, saya tahu bahwa tidak sedikit “anak-anak” psikologi yang (pernah) menjalani pacaran beda agama, dan ini dulu sempat menjadi salah satu topik penelitian saya dan kelompok saat membuat tugas kuliah Konstruksi Tes Psikologi…

“Mereka tuh udah tau kalo pacaran beda agama itu ribet, apalagi umur-umur segitu seharusnya udah mikir ke pernikahan, di Indo pulakh, nikah beda agama super ribet, kalo putus ribet juga sakit atinya, atau jangan-jangan tingkat religiusitasnya mereka rendah ya?”

Ya kira-kira hal itu yang menjadi dasar kenapa saya dan kelompok memutuskan mengambil tema itu.

Dan seiring berjalannya hidup, semakin banyak saya melihat pasangan yang berbeda agama menjalankan sebuah hubungan yang disebut pacaran, atau bahkan berlangsung ke jenjang pernikahan.

Kalau sekarang dipikir-pikir ya mungkin semua karena cinta…

Dan kenapa tidak karena cinta, kita saling menghargai indahnya perbedaan? Perbedaan antara saya, kamu, dia, dan mereka? Karena pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda.

—-

“Eh…tapi cinta itu buta ‘kan ya?” :mrgreen:

* Maaf kalau ada salah eja/penulisan dari kalimat berbahasa Arab. FYI, semuanya itu saya ambil dari Wikipedia*
* Gambar diambil dari 123RF*

Terima Kasih Islam!

Friday, September 10th, 2010

I got it from friend of my friend who posted this at her Facebook Note. It is a good post to be read by everyone in this country…for us who is living in Indonesia…

—-

Terima Kasih Islam!


Harian Kompas, Rabu, 8 September 2010 | 04:41 WIB

Al Andang L Binawan

Kalau orang Indonesia mengucapkan terima kasih, secara eksplisit memang mengatakan bahwa dia telah menerima kasih, entah besar entah kecil, dari rekan bicaranya. Demikian pun kalau saya ucapkan terima kasih kepada Islam, secara sadar saya sampaikan bahwa saya, sebagai non-Muslim, telah menerima kasih dari Islam, di tengah bangsa Indonesia ini.

Kasih itu lebih dari sekadar pemberian. Kasih itu menghidupkan karena ada tiga unsur penting di dalamnya, yaitu penghargaan, penerimaan, dan pengakuan. Penghargaan terkait dengan apresiasi terhadap kelebihan seseorang. Penerimaan lebih terkait pada kekurangan yang ada.

Sementara itu, pengakuan bukan sekadar recognition, melainkan sebuah peng-aku-an, kesempatan untuk sungguh menjadi ”aku”, menjadi pribadi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bisa dikatakan bahwa kalau dua unsur pertama berada dalam dimensi ruang, unsur ketiga itu menempatkan dua unsur pertama dalam dimensi waktu. Ada proses di dalamnya.

Kasih Islam

Warga Indonesia sudah sepantasnya berterima kasih kepada Islam. Dalam pengalaman hidup di Indonesia ini, harus diakui bahwa kasih Islam itu pulalah yang telah berperan besar membentuk bangsa ini. Ada banyak alasan, tetapi dalam tulisan singkat ini, hanya beberapa hal yang bisa disebutkan.

Alasan berterima kasih kepada Islam yang pertama tentu saja karena dalam sejarah bangsa ini, Islam tampak menghargai atau mengapresiasi peran elemen masyarakat lain dalam membangun negeri. Islam menghargai kebhinekaan. Karya-karya sosial dari agama lain, setidaknya yang dialami gereja Katolik, diberi tempat yang layak. Pun, warga non-Muslim yang berpotensi, sangat diapresiasi.

Kedua, Islam pun telah menunjukkan toleransi yang besar pada keberagaman. Perlu diingat, toleransi bermakna menanggung kekurangan orang lain. Ini sejajar dengan pengalaman diterimanya agama-agama lain hidup berdampingan dengan Islam. Meski dalam beberapa hal tidak sama dengan ajaran Islam, keberadaan agama-agama lain diterima di Indonesia, negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Bahkan, Islam di Indonesia mau mengorbankan cita-cita menjadikan negeri ini negeri Islam dengan menerima Pancasila. Selanjutnya, dalam kehidupan sehari-hari pun tidak sedikit yang masih mau memberi ucapan pada hari raya kami.

Pengalaman panjang hidup di tengah umat Islam di Indonesia, dengan penghargaan dan penerimaan itu, membuat kami yang bukan pemeluk Islam sungguh merasa menjadi bagian dari Indonesia. Sebagai umat Katolik, saya merasa tidak didiskriminasi dan mampu mengaktualisasikan semboyan kami: seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia. Kami sungguh menjadi Katolik dan sekaligus sungguh menjadi warga Indonesia. (Tidak ada niat tersembunyi di balik semboyan itu untuk seratus persen meng-katolik-kan Indonesia.) Itulah pengalaman kami di-aku-i. Itu pulalah alasan ketiga kami berterima kasih kepada Islam di Indonesia.

Memang, dalam proses berinteraksi selama ini, kadang terjadi salah paham atau gesekan. Pengalaman itu terasa menyakitkan meski tetap bisa dipandang sebagai sebuah risiko dari suatu proses pendewasaan bersama. Kami, atau setidaknya saya, tetap berusaha mensyukurinya. Bagaimana pun, kasih tidak selalu berasa manis.

Kasih yang fitri

Pengalaman nyata hidup di tengah umat Islam di bumi Indonesia tadi, setidaknya sampai hari ini, menjadi bukti bahwa pada dasarnya Islam, seperti yang sering saya dengar, adalah rahmatan lil’alamin, rahmat untuk semesta alam. Kalau kami merasa di-aku-i, itu karena kami merasa sungguh hidup. Islam telah menjadi rahmat, menjadi rohima, sebagai kasih yang menghidupkan.

Untuk perjalanan bangsa ke depan, tentu saja kami tetap berharap bahwa jiwa Islam sebagai rahmatan lil’alamin tetap dapat diwujudkan supaya bangsa yang sangat beragam ini tetap dapat hidup damai berdampingan. Memang, harus diakui, harapan ini disampaikan di tengah sedikit kekhawatiran bahwa rahmat yang selama ini kami rasakan menjadi pudar.

Pernyataan Din Syamsuddin, ketua presidium Inter Religious Council yang adalah juga Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, bahwa kerukunan beragama sekarang ini cenderung menurun terkait dengan penghalangan oleh sebagian umat pada umat beragama lain dalam beribadat (Kompas, 28/8) mencerminkan juga kekhawatiran kami. Memang, pernyataan itu juga didasari oleh kekerasan yang dialami oleh sebagian jemaat non-Muslim, yang sebagian terjadi atas nama Islam.

Karena itu, pada hari yang sangat istimewa bagi Islam ini, kami—selain mengucapkan selamat Idul Fitri dan sekaligus mengucapkan banyak terima kasih kepada Islam dan umatnya—tetap berharap bahwa jiwa Islam sebagai agama yang memberi kehidupan tetap dapat terus diwujudkan, bukan hanya untuk umatnya, melainkan juga untuk seluruh isi semesta alam.

Konkretnya, untuk Indonesia, wujud Islam sebagai rahmatan lil’alamin yang kami harapkan adalah Islam seperti yang pernah kami alami, Islam yang ramah. Dalam Islam yang penuh toleransi dan mau duduk bersama untuk berunding, kami merasa dihargai, diterima, dan diakui. Di situlah kami merasa hidup. Di situlah kami mengalami Islam sebagai rahim kasih sayang. Semoga, selepas Idul Fitri, kasih Islam di tengah bangsa ini bisa makin mewujud dan menghidupkan. Selamat Idul Fitri! Berkah Allah selalu melimpah.

Al Andang L Binawan Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

—-

Dan saya pun turut mengucapkan…

Selamat Hari Raya Idul Fitri…

Maaf Lahir Batin…

Terutama, maaf atas kata-kata pedas ataupun yang menyakiti perasaan kalian…

Ga Mau Jadi Malaikat…

Monday, September 6th, 2010

So little times so much to do…

Pernah dengar kalimat itu khan ya? Kalo gue, sering banget dengernya, bahkan sering ngucapin.

Atau mungkin kalimat yang serupa?…

Andai satu hari lebih dari 24 jam…

Hah, tapi itu biasanya cuma untuk orang-orang yang punya kerjaan bertumpuk, udah dikerjain satu-satu tapi tetep aja masih banyak, bahkan nambah, ga selese-selese akhirnya.

Lalu biasanya orang mulai berpikir, dan berandai-andai…

“Andaikan gue punya sayap bisa terbang kayak malaikat, jadi bisa tuch kabur dari semua ini.”

“Andaikan gue malaikat beneran, punya tongkat ajaib yang bisa nyelesein kerjaan segabruk ini dalam sekejap.”

“Khan gue bukan malaikat yang apa-apa bisa, selalu baik hati, ga pernah marah, selalu ngertiin orang.”

—-

Coba nih…pikir lagi…beneran mau jadi malaikat? Yakin tugas malaikat itu mudah dan menyenangkan?

Pernah kebayang ga sih, gimana saat malaikat pencabut nyawa harus bertugas extra keras saat Tsunami terjadi tahun 2004…dalam rangka menunaikan perintah BIG BOSS?

Intinya, mau kata malaikat, mau kata manusia, harus kerja keras, tunduk sama BIG BOSS, biar diijinin masuk rumah BIG BOSS ntar saat BIG BOSS nyuruh kita pulang. Mudah-mudahan kalau dah masuk rumah BIG BOSS nanti, ya ga dikasih tugas baru kayak tugasnya si malaikat yang satu itu.

Ngeri Bosssss!!!

Tolong Dong Bersihin Mejanya…

Sunday, August 29th, 2010

Pernah dengar berita bahwa sekarang banyak masyarakat Indonesia yang terpaksa makan nasi aking dounks ah pastinya? Atau pernah lihat sendiri, ada orang di luar sana yang terpaksa mengais-ngais tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan untuk mereka makan? Atau menjadi saksi dari mereka yang mengucap kata minta dikasihani, karena dari kemarin belum makan?

Sedih? Mulai menyalahkan orang lain? Menyalahkan dan menghujat Pemerintah karena tak becus mengurus negara? Atau sebenarnya mungkin itu salah kita sendiri?

Yuk…saya coba membawa kalian jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, atau kantin kantor…tepatnya ke Food Court.

Pernah khan ya jalan-jalan ke tempat seperti itu? Apa yang paling menyiksa kalau ke pusat jajanan di pusat perbelanjaan, atau di gedung perkantoran? Bagi saya sih, hal yang paling menyiksa adalah mencari meja dan kursi untuk duduk agar kita bisa menikmati makanan yang akan kita santap, apalagi memang saat jam makan. Hal ke dua yang paling menyiksa lainnya? Bingung mencari makanan apa yang akan kita santap saat itu.

Mulailah kita berjalan mengitari area sekian meter kali sekian meter tersebut, dari ujung ke ujung.

“Eh…bentar…tuch itu tuch ada orang yang kayaknya bentar lagi bakal selese makan. Bener khan, yuk, buruan biar ga diambil orang lain mejanya.”

“Gue tunggu di sini dulu deh, elo pesen makanan dulu ke tempat yang elo mau.”

Dan duduklah saya di sana, atau sepertinya kamu juga pernah mengalami hal serupa. Duduk di bangku, yang di depanmu ada meja, yang di atasnya masih belum bersih…

Masih belum bersih dari ceceran makanan, dari makanan yang tumpah, atau dari makanan yang memang tak dimakan atau tak berhasil dihabiskan karena perut sudah tak memadai untuk memakan semuanya.

Dan sisa-sisa itulah yang mungkin saja menjadi makanan utama, mereka yang nasibnya belum seindah saya, kamu, dia atau mereka yang mempunyai kehidupan jauh lebih baik.

Nah…coba pikir-pikir lagi, masih mau menyalahkan orang lain, karena masih ada nasi aking yang harus menjadi menu utama orang lain di luar sana?

Saya cuma mau berbagi sedikit nih…tips untuk urusan menyantap makanan, tapi tak perlu meneteskan air mata, untuk kita dan untuk mereka yang masih kurang beruntung. Kebetulan, kapasitas perut saya untuk menampung makanan, tidak terlalu banyak, jadi saya punya cara-cara tertentu agar makanan yang akan saya makan tidak akan terbuang mubazir…

1. Kalau kamu makan ditemani beberapa teman, usahakan ada satu di antara mereka yang memang dapat dijadikan “trash bin” alias bersedia menghabiskan makananmu jika memang nantinya tak habis.

2. Kalau tidak ada yang bisa dijadikan “trash bin”, mulailah lihat-lihat ke tetangga/meja sebelah yang sudah terlebih dahulu makan. Lihat menu yang mereka pilih, terutama lihat besarnya porsi, dan mulailah mengira-ngira kemampuan kamu menghabiskan makanan saat itu, apakah dapat menghabiskan makanan dengan porsi banyak atau porsi sedikit. Atau bisa juga sekalian tanyakan ke pramusaji seberapa besar porsinya. Kalau sepertinya kamu tak mampu menghabiskan makanan tersebut, mulailah kongkalikong dengan temanmu, kira-kira mau paroan atau tidak makanannya, atau usul pesan makanan yang bisa dimakan ramai-ramai *bisa ngirit uang juga nih kalo mau saweran ama temen*.

3. Kalau di antara lauk-pauk di dalam menu yang kamu pilih ternyata ada yang tidak kamu suka, tanya ke teman-teman kamu apakah mereka mau memakannya? Tentu saat makanan masih dalam kondisi bersih.

4. Lebih baik mengambil/memesan dengan porsi kecil, kalau masih kurang kenyang baru tambah. Atau kalau bisa minta dengan porsi setengah, sepertinya akan lebih baik ya, walaupun harganya sama, daripada terbuang.

5. Kalau tidak habis? Nihhhhh…kebiasaan si Mama, yaitu bungkus-membungkus makanan yang tak habis dimakan, sudah mulai saya ikuti. Biasanya saya akan minta makanan sisa itu untuk dibungkus rapi. Bungkusan itu sebagai cadangan, kalau sampai rumah ternyata lapar lagi. Eh, tapi kalaupun sampai di rumah ternyata tak termakan juga, di rumah saya ada (tinggal) 5 ekor anjing, jadi makanan tersebut masih bisa dipilih-pilih lagi, mana yang masih boleh dimakan oleh anjing-anjing saya, mana yang tidak boleh.

6. Intinya adalah…ambil atau pesan makanan sesuai dengan kapasitas perut, sehingga makanan tidak mubazir terbuang.

Sekarang…mari kita makan, tanpa menambah dosa lebih banyak karena membuang-buang makanan, sementara di luar sana, masih banyak yang belum makan.

Gue Bukan Elo Ya…

Sunday, May 30th, 2010

Ruangan sebesar 3 x 3 ini merupakan sebuah awal dan akhir perjalanan hari-hari seseorang. Ruangan yang tak pernah bisa bertahan lama untuk tetap rapi-jali. Ruangan yang sering kali terhampar pakaian kotor, kertas dan benda apapun yang bisa digeletakkan di lantainya, sama seperti sekarang ini.

Saat-saat itulah siempunya ruangan tersebut, merasa lebih mudah untuk mencari benda apapun yang ia butuhkan yang ada di ruangan tersebut. Saat-saat di mana indera penglihatan dan feeling dari si pemilik ruangan itu sedang dilatih untuk bisa lebih diandalkan.

Ruangan yang membuat mereka yang memasukinya merasa heran, merasa takjub, merasa bingung. Dan mungkin kesal, karena mendapatkan respon nyleneh atas komplain yang diajukan kepada si pemilik ruangan…

“Lah, gue happy-happy aja tuch di sini,” atau…

“Kamar-kamar siapa, kok elo yang protes.”

Satu hal yang pasti, bahwa ruangan itu adalah sebagian cermin jiwa dari si pemilik…

Manusia yang sering membuat orang lain gemas, atas santai dirinya yang untuk sebagian orang adalah sangat keterlaluan.

Manusia yang paling malas untuk diminta basa-basi, karena menurutnya ia tak pernah bisa memaksa orang lain untuk suka atau tidak suka terhadapnya.

Manusia yang merasa selalu diingatkan bahwa segala sesuatu tidak bisa terus-menerus disimpan sendiri, atau selalu tersimpan dengan rapi, karena suatu saat hal tersebut dapat tertangkap oleh indera.

Manusia yang ia ingin katakan “Jangan pernah ngubah gue jadi foto copy-nya elo,” atau berteriak “Gue ga maksa untuk elo suka ama gue, atau gue jadi benci ama elo karena elo ga suka sama gue. Terserah elo!!! So, jangan sekali-kali terlalu ikut campur ama idup gue. Coz your life is still yours, and mine is still mine.”

Karena kamu adalah kamu dan saya adalah saya.

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

Till We Meet Again In Heaven, Baby…

Thursday, March 4th, 2010

Kurang lebih seminggu ini, saya diminta belajar (lagi) bagaimana menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

Satu hal yang paling saya tidak suka dari memelihara binatang adalah saat saya harus melihat mereka sakit, menghadapi sakratul maut dan pulang ke rumah Tuhan. Itu adalah masa-masa penyiksaan batin bagi saya sendiri. Tersiksa karena melihat dan mendengar mereka merintih kesakitan. Tersiksa karena dilema apa yang harus saya perbuat, apakah harus ke dokter yang most likely mereka akan menyarankan untuk menidurkan bayi-bayi lucu itu (apalagi jika mereka memang sudah tua), atau memutuskan untuk merawat mereka di rumah dengan penuh cinta sampai ajal menjemput mereka.

Saat mereka merintih sakit, tak hanya dia yang merasakan, tapi saya, dan seluruh keluarga juga merasakan rintihannya. Bagaimana tidak, ia sudah tak bisa makan dengan enak. Makanannya harus dilembutkan, dan kami hantar ke mulutnya dengan menggunakan semacam suntikan yang berujung seperti pipet. Kami harus mendirikannya, karena ia tak sanggup lagi untuk berdiri sendiri, bahkan di menjelang ajalnya, kami harus membersihkan kotoran pup atau urin yang ia keluarkan spontan di tempat.

Sudah puluhan tahun biasa memelihara anjing, kami tahu persis, bagaimana kondisi mereka jika sudah mendekati ajal. Begitu pun juga saya, yang sudah mengetahui saat Rambo sudah dekat. Prediksi saya, paling lambat besok, itupun dia pasti akan menunggu saya sepulang kantor. Tak tahu kenapa, atau setidaknya empat anjing saya yang meninggal terakhir, pasti menunggu saya pulang ke rumah. Oleh sebab itu, hari ini saya bela-belain menemani Rambo sepanjang hari. Nyaris saya tak beranjak dari teras depan rumah, tempat “singgasana” si ganteng, nan cerdas, campuran German Shepherd dan Chow-Chow ini.

Saya hanya duduk di sampingnya, mengelus-elus tubuh dan wajahnya yang sudah sangat lemah, sesekali membersihkan badannya dan duburnya dengan tissue basah, sembari bernyanyi dan juga bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah saya/keluarga dan Rambo lalui selama 12 tahun kami hidup bersama. Hal itu membuatnya terlihat manja, Rambo sama sekali tak mau ditinggal, bahkan saat saya berlari ke dalam rumah untuk mengangkat telepon, ia sudah meraung-raung menangis tak mau ditinggal. Tentunya, itu membuat saya langsung kembali bersamanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dan saya belum makan siang. Saya bicara dengan Rambo, “Nak, Mimi makan siang dulu ya, belum makan siang nih, ditinggal sebentar ya, Embo mau mamam? Mi siapin?” Rambo pun hanya mengedipkan mata.

Dari dalam sembari makan saya mendengar Rambo tetap merintih minta ditemani. Namun seselesainya saya makan, saya tak langsung menemaninya lagi. Badan ini masih lelah, karena berhari-hari tak bisa tidur nyenyak merawat Rambo, bergantian dengan Mama, bahkan kami harus bangun saat subuh, kalau Rambo melonglong minta ditemani atau minta dibersihkan karena ia mengompol atau pup di tempat.

Akhirnya kurang lebih pukul 17.00, saya kembali memeriksa kondisinya. Ternyata ia masih meraung-raung, dan pup. Saya berlari ke dalam sebentar, karena tisu basah yang sudah saya siapkan di dekatnya sudah habis. Saat saya selesai mengelapnya, saya pun membersihkan lantai sekitarnya. Sedetik setelah saya letakkan pengki yang berisi sampah koran bekas yang juga digunakan untuk alas tidur Rambo, saya melihat ke arahnya dan dia sudah mengompol lagi. Lalu tak tahu mengapa, seperti ada yang meminta saya untuk melihat ke arah wajahnya, yang ternyata sudah bernapas satu-satu, dan perutnya sudah tidak mengembung dan mengempis, seperti adanya sebuah pernapasan.

Saya pun berlari ke arahnya…

“Rambo, Ayank dah mau pulang ya? Ma kasih wa, dah nemenin mimi 12 taun. Sekarang Mimi temenin pulang wa. Dah ketemu sapa aja? Chopin? Cello? Astor? Pluto? Bozo? Titip salam ya Nak, yuk putus ya napasnya, enakkan di surga loh Nak. Nanti kalo mimi mati, Embo jemput mimi wa? I love you, Honey, so much, ampe ketemu nanti wa,” dan saya pun mencium keningnya. Dan Rambo tidur dengan tenang tanpa rasa sakit sedikit pun.

Dan hari ini, tidak ada tangis saat Rambo pergi. Tak seperti hari-hari kemarin saat ia masih merintih kesakitan, air mata ini sempat mengalir, deras.

Saya pun langsung menelepon si Abang…

“Woi, di mana lu?”

“Kenapa lu? Laper?”

“Kagak, di mane?”

“Depan kompleks.”

“Buruan! Pemakaman.”

“Ooohh dah pulang? Thank God.”

“Buruan, keburu gelap.”

Terus terang, tanah itu sudah tergali semenjak hari Minggu lalu. Lagi-lagi, karena keluarga kami sudah tahu persis kondisi saat anjing-anjing kami sudah mendekati ajal, saat ke dokter pun, kami pasti akan mendapatkan respon sebuah sakit hati. Dan hari ini, tanah galian itu sudah kembali tertutup dengan tubuh bayiku, Rambo yang sudah tidur tenang, ada di dalamnya.

Kembali mereka mengajarkan saya, sebuah kesetiaan tiada tara, sebuah cinta tanpa syarat samaaaaa sekaaalliii, bagaimana harus menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

“Ma kasih wa Mbo…untuk 12 tahun yang sangat menyenangkan, maap kalo Mi sering telat ngasi mam, inget tadi waktu kita ngobrol, waktu mata Embo kinclong natap mata Mi, I Love You so much, jemput Mi nanti pas Mi mati wa.”

*seeebbbbeeellll mau upload foto bayi lucuku si Rambo, blog lagi ga bisa upload foto, DAMN*

*eh bisa liat foto bayiku, si Rambo dan teman-temannya itu di sini*

Are You Thinking What I Am Thinking?…

Wednesday, February 17th, 2010

Nih ya..saya katakan kepada Anda semua, ke kalian semua, teman-teman saya tercinta, para kolega saya yang terhormat, dan anak-anak saya yang lucu, “aneh”, “ajaib” bin menyenangkan…JUTEK saya ini sudah DEFAULT alias sudah dari sono-nya seperti ini.

Dari zaman kuda gigit batu, a.k.a zaman baheula, tampilan saya ya seperti ini, tak bisa diubah.

Hampir semua orang yang baru melihat, dan mengenal saya, kemungkinan besar memiliki keseragaman akan penilaian terhadap diri saya…ya, itu tadi JUTEK, judes, galak, dan julukan sejenis…dan saya tak peduli akan hal itu. Apa yang mereka katakan memang benar, karena itu yang mereka lihat.

Tapi saya adalah bagian dari mereka yang menganut paham, bahwa semua itu terjadi pasti ada alasannya, termasuk alasan di balik keberhasilan atau kegagalan saya untuk memunculkan tingkah laku tertentu. Alasan, penyebab, stimulus yang terkadang tak (mau) dilihat oleh orang lain yang berinteraksi dengan saya. Tapi lagi-lagi saya tak peduli apakah orang itu mau melihatnya atau tidak, karena saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa untuk memunculkan tingkah laku itu, saya sudah melakukan proses “editing” terlebih dahulu.

“Rawat jalan” saya di Almamater, ternyata cukup membuahkan hasil. Berhasil membuat saya harus menambah masa “rawat jalan” saya sendiri; berhasil membuat saya membuat orang lain akhirnya mengalami “rawat jalan” juga; dan yang terpenting adalah membuat dunia saya jauh semakin berwarna.

Memakai “sepatu” orang lain itu tidak pernah akan bisa sangat nyaman dirasakan (kecuali sepatunya pada akhirnya jadi HM, alias Hak Milik, a.k.a NYOLONG). Karena memang bukan ukurannya, karena memang tidak terbiasa, karena memang itu bukan milik kita sendiri, tapi terkadang kita harus mencoba sesekali, atau bahkan berulang kali, di “sepatu-sepatu” orang yang berbeda.

So why don’t you try to wear my “shoes”? Why don’t you take a look at yourself, before complaining?

And one question for you… Are you still at the same “place” now, or you are already moving forward? If so, why?

I am not him, I am not her. I am what I am, and I have my own way to do what I have to do.

Time will tell at the end of the day.

Terima kasih untuk mereka yang sudah membuat dunia saya jauh semakin berwarna, dengan ikut serta menjadi bagian dalam proses penambahan masa “rawat jalan” saya.

“Written 16th February and will be published on Wednesday, 17th February 2010, at 10.28 a.m”