Archive for the ‘Renungan’ Category

This Christmas…

Sunday, December 25th, 2011

Setiap keluarga pasti punya kebiasaan atau tradisi. Termasuk tradisi menyambut dan merayakan hari raya agama yang mereka anut. Termasuk keluarga saya untuk menyambut dan merayakan Natal.

Hhhhmmm…lucu sebenarnya, kalau dibandingkan dengan keluarga lain. Atau aneh lebih tepatnya, atau apapun. Kebiasaan yang saya maksud itu adalah kebiasaan memasang pohon dan goa natal yang selalu dilakukan pada hari-hari terakhir menjelang Natal. Biasanya, keluarga lain mungkin sudah memasangnya sejak awal Desember, atau saat umat Katolik mulai memasuki masa Adven/masa pertobatan menjelang Natal.

Dan tradisi memasang pohon Natal mepet hari H, masih menjadi tradisi keluarga saya sampai tahun ini. Pohon natal baru berhasil kami dirikan di tanggal 24 Desember 2011, di pagi hari…

“Hah? Berhasil didirikan kata loe ‘Cha? Emang susah?”

“Susah memang! Hahahahahah.”

Apalagi ditambah urusan mencari ornamen-ornamen Natal yang entah mengapa, saat kami cari, selalu saja letaknya menjadi terpencar-pencar tak karuan. Aneeeehhh…padahal saat menurunkan si pohon setelah perayaan selesai, semua ornamen disimpan di tempat yang sama dan jadi satu. Tahun ini benda yang ‘berlari’ dari tempatnya adalah kaki-kaki si pohon *mungkin karena kaki jadi dia berhasil ngilang *haaalllaagghh. Alhasil tradisi mencari si bagian yang hilang kembali terjadi. Tiga orang; Mama, Papa dan saya selama dua hari berusaha mencari si 3 buah kaki si pohon, yang menjadi ‘organ’ utama, agar si pohon bisa berdiri, terpasang dan menjadi penghias rumah kami.

Pasti kalian nanya…

“Ketemu ‘Cha?”

Dan saya dengan pasti menjawab…

“Nggak. Hahahahaha. Nyerah.”

Seingat saya, tradisi ini kami lewatkan saat Natal tahun lalu, karena dengan sangat ajaibnya, semua ornamen masih rapi bisa bertahan di tempat yang sama dengan saat penyimpanan, selama kurang lebih 1 tahun, hingga kami butuhkan untuk dipasang kembali di Natal 2010.

Tapi saya bersikeras, kalau tahun ini, di rumah tetap harus ada pohon dan goa Natal, tak tahu bagaimana caranya…

“Beli baru? Saaayyyaaannggg…tuh pohon juga baru beli 4 atau 5 tahun lalu pun.”

Ternyata yang teteup kekeuh harus ada pohon Natal tahun ini di rumah, tidak cuma saya. Mama pun. Akalnya pasti ada saja…

“Saaa…turruunn…banguuun. Katanya mau anterin belanja.”

“Iyaaa…bentar.”

Dan tak lama kemudian, saya dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka berusaha menuruni anak tangga untuk menghampiri suara yang memanggil tadi…

“Sini, pegangin dulu ini pohonnya.”

“Laahh…katanya gue disuruh anterin belanja.”

“Udah…bawel, nanggung. Pegangin dulu ini pohonnya.”

“Hahahaha…hebat loe Bu…pesulap sejati. Kenapa ga dari kemaren-kemaren, biar ga repot nyari tuh kaki.”

“Gue juga baru kepikiran sekarang. Khan gua tau elo maunya tetep ada nih pohon khan?”

“Yoa. Tadinya gue dah mau beli baru, Bu, tapi kok ya sayang. Nih pohon juga masih bagus and masih baru. Dan gue nunggu dirimu ngakalin.”

Ahhh…ini juga tradisi lainnya. Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya dan mama memang jadi seksi repot untuk memasang pohon dan goa Natal.

‘Tragedi’ pohon Natal sudah teratasi, walau lampu penghiasnya masih missing in action, yang membuat saya terpaksa membeli yang baru.

Hari pun beranjak sore, hingga sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke gereja, untuk mengikuti puncak perayaan Natal dengan menghadiri Misa Malam Natal, yang kebetulan sekali, kali ini di Paroki saya dipimpin oleh Bapak Uskup Keuskupan Agung Jakarta.

Seselesainya kami mengikuti misa perayaan natal, saya mengecek telepon selular saya, bahagianya saya mendapati sekian pesan ucapan selamat natal dari teman, rekan kerja, keluarga, dan kenalan saya, baik yang dikirimkan melalui BBM, Twitter, maupun Facebook.

Jujur, saya selalu terharu saat mendapatkan ucapan selamat merayakan hari raya, dari mereka yang agamanya tidak sama dengan yang saya anut…

So at this occasion, from deep inside my heart, I would like to say thank you for your Christmas greetings to me. Especially from my Moslems and Non-Christian friends and colleagues. To my blogger and twitter fellows: @annadeas, devi eriana, si mbok, aditya bregas, my childhood best friend, my teenage best buddy, chichi utami, ichanx, goenrock, @neth_4, @ayu_2311, chika nadya. To them who sent greetings through my Blackberry Messenger (Personal and/or Group): Shanty, Diana Ekawati, William Sulivan, Rezty Atria, Rully Hariwinata, Dimas Donny dan semua yang lupa saya sebutkan, atau yang mungkin nanti akan mengirimkan ucapan ke saya, once more thanks! Appreciate it!

Semoga hal kecil seperti ini, masih bisa menjadi akar kuat untuk kita tetap menghargai pluralisme, yang salah satu caranyanya adalah menghormati sesamanya yang berbeda agama dan keyakinan yang dianut.

And to all my Christian friends, colleagues, family and acquaintances, I would like to say “Merry Christmas! Peace be with you and your family!”

Untuk teman-teman di dunia perhelatan twitter dan para blogger canggih, terima kasih untuk sharing cerita-cerita atau artikel menarik, seperti yang saya baca di saat Natal ini: Surat dari Nabi Muhammad SAW kepada Biarawan St. Catherine’s Monastery dan Selamat Natal, Kawan!

And Hey YOU UP THERE, my Lord, this year You give me perfect Christmas presents! Thanks!

Buang Di?…

Thursday, June 30th, 2011

Berlangganan TV berbayar ini, sering membuat saya berpikir…

“Njriiittt niy…dulu kayaknya gue bayar langganan nih TV cuma 200 ribuan, sekarang dah 400 ribuan. Though termasuk internet,” atau…

“Kenapa ya TV Indonesia ga bisa mbuat acara TV kayak gini. Bikin TV series mutu gituh. Bukan sinetron kacangan ga mutu.”

Serius! Serial televisi yang ada di saluran TV milik luar negeri, memang bermutu. Baik serial televisi jaman dahulu, atau jaman sekarang. Sebut saja serial Growing Pains, Dr. Doogie Howser M.D, ER, The Huxtables, CSI, Numb3rs, Glee, Parenthood, How I Met Your Mother, Grey’s Anatomy, dan masih banyak lagi

Bermutunya serial televisi “ciptaan” saluran televisi luar negeri itu, terbukti di salah satu episode serial televisi Parenthood, yang kebetulan saya tonton siang kemarin.

Dan beginilah kurang lebih salah satu dialog antara Haddie Braverman (yang diperankan oleh Sarah Ramos) dengan ibunya, Kristina Braverman (yang diperankan oleh Monica Potter)…

“Mom, I had sex with Alex,” ngggoookkk… *by the way, in story, Alex is Haddie’s boy friend.

Tahukah apa yang saya pikirkan begitu mendengar kalimat itu? Kalimat yang keluar dari mulut seorang anak yang dalam cerita, berumur 16 tahun. Kalimat yang dilontarkan anak kepada sang ibu.

“Hebbbaattt nih anak, super terbuka. Hebbbaattt nih si emak, kagak langsung treak marah-marah, and freak out walaupun bengong mampus. Ada ga ya anak jaman sekarang di Indonesia, yang seterbuka kayak gitu sama emaknya, kecuali sampe dia hamil jadi terpaksa ngomong. Dan pasti ngomongnya dah langsung ngaku hamil.”

Saya yakin, sekarang ini masalah seks bebas sudah ga asing. Sepertinya semakin sedikit yang masih memegang teguh “hukum” untuk tetap menjaga keperawanan atau keperjakaan sampai saatnya nanti menikah, dan sudah menggantinya dengan “hukum”, “Play safe yaaa,” atau “Yang penting main aman, abis enak ccccyyynnn!”

Tapi coba deh, pikirin lebih lanjut, apalagi yang sudah jadi orang tua, dan punya anak perempuan. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba adegan di film tadi, mendadak menjadi kenyataan hidup di depan mata? Apakah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kristina (ibunya Haddie) seperti di bawah ini, akan keluar juga dari mulut kamu?…

“Did he use condom?”

—-

Haaayooo…ngacung yang hari gini belum nikah, tapi masih perawan or perjaka!!

Hmm…satu lagi…itu kondom, lubricants, after morning pill, simpennya yang bener ya, jangan ampe ketauan orang rumah…rempong ntar…boouuwww… :lol:

*Jadi inget tangkapan indera dari percakapan dua orang yang sedang duduk dan berbincang-bincang, yang sepertinya perbincangan penuh arti, di sebuah cafe, di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat, tak lama sebelum tulisan ini dibuat.

“Kemaren itu aku dah bawa caps loh.”

“Bukannya kamu bawa terus ya?”

“Ga selalu sih.”

“Biasanya sih kalo sama aku, ga ngaruh, ga enak, artificial.”

“Terus?”

“Ya masih bisa dibuang di luar khan? And ambil resiko lah.”

“Ooooowwwkkkaaayy.”

*ggguuubbbrraaggg…*tepok jidat! *jaman sekarang!!

I Just Want My Own World…

Tuesday, March 22nd, 2011

Bukan BB kalian yang lemot; jangan salahkan provider kalian yang tidak memberikan laporan umpan balik D atau R saat kalian mengirimkan pesan BBM ke saya. I turned it off all, bahkan si Bébé saya copot baterainya.

“Beberapa puluh tahun lalu, bisa kok hidup tanpa handphone, masakh sekarang ga bisa?”

Terus terang saya termasuk orang yang tidak terlalu rempong jika handphone tertinggal di rumah. Apalagi jika saya baru tersadar tidak membawanya saat saya sudah di tengah perjalanan berangkat ke suatu tempat (terutama ke kantor). Kemungkinan besar saya tidak akan repot-repot berbalik arah dan mengambilnya ke rumah.

“Mayannn…seharian ga ada yang repot nyariin gue. Gak akan ada yang berisik.”

Dan hal itu sudah kejadian berkali-kali.

Termasuk akhir pekan kemarin. Saya membiarkan hidup saya tanpa bunyi-bunyian dari dua perangkat telepon genggam yang saya miliki. Walaupun saya tahu ada beberapa acara yang seharusnya saya hadiri.

Semua berawal saat Jumat malam. Saat semua rasa kembali membuncah tak karuan; urusan pekerjaan, memori masa lalu, yang semuanya tiba-tiba membuat kepala ini rasanya ingin pecah, ditambah dengan rasa yang tak jelas apa, dan tak bisa saya definisikan.

Mencoba untuk menjadi seseorang yang berbeda. Mencari seseorang yang sepertinya bisa saya andalkan untuk berbagi cerita. Mencarinya di deretan nama yang ada di sekian ratus nama yang termasuk di BBM kontak yang saya miliki. But the result…no reply…nor R report at my BBM.

“Yah, who the hell i am for that person!”

I just remember a message was dropped in my Facebook few days ago…

“hey you!

you know, i always wonder why i don’t have many friends.. it’s not that i don’t like meeting new people, it’s not that i don’t actively try to talk and approach people, it’s not that i don’t open myself to new people. there’s one thing though, it’s hard for me to keep in touch with people. mungkin karena suasana jakarta, mungkin karena gw ga mau mengganggu orang” yang tampaknya sibuk, mungkin because i’m shy in nature :p

but there’s also another thing, it’s because it’s hard to find someone like me. someone who cherishes the same things, holds the same values, and other things i cannot really explain. you are one such person i can really connect with and yet i cannot stay in touch with you.. heheh.. sucks huh..

well, hope everything’s fine with you..”

atau sederetan kalimat (yang berujung dengan kalimat di bawah ini) dari seseorang yang Jumat malam lalu saya cari tapi saya tak tahu dia dimana…

“I’m lonely, but gw juga siy yang mau lonely.”

Dan semua itu membuat saya tersadar kembali, I’m part of them…dengan satu dan seribu satu alasan lainnya, atau bahkan sepertinya akan lebih baik jika saya tetap dengan diri saya sendiri. Sendiri.

No man is an island?? Yeah right…tell me about it!!! Coz sometime we are asked to be alone…then we choose to be lonely.

*aahhh…enaknya hidup tanpa handphone…gue terusin aja po seterusnya, ga cuma weekend ini aja?

Hah? Berapa Lapis? Ribuan!…

Thursday, October 14th, 2010

“Susah ga sih menjadi seseorang yang berbeda?”

Pertanyaan itu pernah dilontarkan ke saya.

Jawaban saya? Susah-susah-gampang!

Pada dasarnya, saya percaya bahwa setiap manusia itu pasti berbeda. Mau mencari ke belahan dunia manapun tidak ada manusia yang dilahirkan, tumbuh, berkembang, mempunyai pengalaman, pikiran, karakteristik, sifat, status sosial, jabatan dan bentuk fisik yang sama persis.

Harusnya menjadi yang berbeda akan menjadi mudah, karena hal yang tadi itu, karena kita satu sama lain pasti berbeda.

Tapi bagaimana jika manusia-manusia yang berbeda satu sama yang lain itu pada akhirnya harus bertemu, berinteraksi, mempunyai hubungan tertentu, bekerjasama? Akankah menjadi hal yang mudah?

Weeiittsss…belum tentu sepertinya. Bisa mudah, tapi sepertinya lebih banyak sulitnya, alias membuat hidup tambah rempong!

Mungkin contoh kongkritnya, bisa kita lihat dari hasil observasi sehari-hari di tempat kita beraktivitas.

Let say, kantor! Pernah memperhatikan tidak situasi kantor seperti apa? Teman-teman kita bagaimana, ngapain aja? Pernah lah ya! Ga mungkin ga pernah.

Mungkin situasi atau budaya seperti yang saya ceritain di bawah ini, merupakan salah satu “cerita” kantor kalian…

“Cuy, nih baju bagus!”

“Kagak bisa dipake ke kantor yang model begituan!”

“Kantor lu kagak bisa, kantor gue mah bisa. Mau kutungan ngantor sih bisa-bisa aja!”

Bukan “cerita” kantor kamu? Mungkin yang ini…

“Jam kantor lu jam berapa?”

“Jam saat gue dateng di kantor dan saat gue pulang kantor.”

Masih bukan? Okay, kalo begitu, mungkin yang satu ini…

“Mana gue tau peraturan kayak begituan, gue khan bukan pegawai tetap.”

Atau yang ini?…

“Mana ada nih yang kayak beginian bisa di divisi gue. Satu baca buku novel, kadang buka partitur musik, buka situs gosip, bahkan jadi ikutan gosip, pesen-pesen tiket pesawat gratisan, terus-terusan memamahbiak.”

Yang ini?…

“Sumpah tuh perempuan BT-in banget, pengen gue sumpel tuh mulut. Berisik!”

Kalau yang ini?…

“Kemana sih tuch anak? Pacaran mulukh. Ini dah jam 8 padahal! Dah jam kerja!

Bukan juga?…

“Di kantor lain mah buka-buka facebook kagak mungkin. Ngubek-ngubek blog orang, or situs-situs aneh juga pasti di banned. Kalo gue malah disuruh, emang kerjaan gue kayak begitu.”

Satu lagi ah…

“Yang satu itu, mondar-mandir, biar keliatan sibuk, padahal nothing. Dan yang bilang kayak gitu juga dah ampe level direktur loh!”

Dan masih banyak lagi…si itu begitu lah, si bos anu ngapain lah, si anak buahnya itu nyebelin lah, yang satunya ga bisa kontrol emosi kalo lagi load kerjaan banyak…

Rempong?

Yupe!

Yang menyebabkan rempong itu apa ya? Dan siapa?

Kira-kira kita sendiri bukan? Hayyyooo…ngaku!! :mrgreen:

Kita dengan segala “keajaiban” masing-masing, ditambah dengan kebutuhan-kebutuhan khusus, seperti pelampiasan saat panic attack datang, kebutuhan diterima oleh lingkungan sekitar, kebutuhan untuk dapat di recognize oleh atasan, kebutuhan penyaluran hobi, kebutuhan menenangkan diri, kebutuhan merasa dihargai karena level jabatan yang disandang, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mungkin saat itu perlu dipenuhi dan hanya bisa dipenuhi dengan cara-cara tertentu, yang hanya diketahui oleh kita, apalagi alasan kenapa kita melakukan cara-cara tertentu itu.

Mudah?

Ho-oh!

Kalau kita berniat memakai “sepatu” mereka terlebih dahulu, mencoba melihat dengan “kacamata” mereka. Ngga enak? Pasti! Karena bukan punya kita sendiri! Bukan comfort zone kita.

Keluar dari comfort zone bukan hal mudah, bukan berarti ga bisa, tapi juga bukan berarti mereka akan menemukan comfort zone lainnya.

Gak susah loh ngasih sebentar atau sedikit comfort zone ke orang lain, stop judging and complaining *eh…itu menurut gue sih*

Lagi-lagi, saya tidak pernah bosan akan tulisan di bawah ini…

If you do not want what I want, please try not to tell me that my want is wrong.

Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them.

Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do.

Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, of beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me. To put up with me is the first step to understanding me.

Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleagues. But whatever our relation, this I know: You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer.

If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears, however measured or far away.

Different Drummer; by Henry David Thoreau

Dunia ini panggung sandiwara?

Totally agreed! Bahkan kalau perlu make seribu lapis topeng yang penuh basa-basi?

Ga capekh ya?

“Kalo elo ‘Cha?”

Beneran, nanya kalo gue gimana? Ga nyesel denger jawaban gue?
Kalimat retoris elo tanyain lagi ke gue! :mrgreen:

Semua Karena Cinta…

Sunday, September 12th, 2010

Beruntung sekali, saya sudah tidak bekerja di perusahaan yang tetap mengharuskan pegawainya bekerja saat orang lain sedang menikmati liburan. Termasuk liburan Lebaran kali ini, yang akhirnya bisa saya nikmati bersama keluarga.

Saya bukan seorang muslim, tapi bukan berarti saya tidak merayakan Hari Raya Idul Fitri. Ada satu ritual rutin tahunan yang dilakukan oleh saya dan kedua orang tua, saat lebaran datang. Ritual apakah itu? Ritual berkunjung ke rumah Oma. Saya tidak perlu repot-repot mudik untuk bertemu si Oma, karena rumah beliau ada di Jakarta.

Begitu pula untuk tahun ini, ritual tersebut masih dilakukan. Dan tetap saja menyenangkan…

Menyenangkan karena masih bisa bertemu Oma, semua Tante dan Oom yang kebetulan pas banget bertandang ke sana. Walaupun, karena hanya setahun sekali dan tidak setiap tahun bertemu dengan semuanya, saya harus dengan susah payah mengingat kembali nama, kemudian mencocokkan dengan wajah semua yang hadir di sana.

Menyenangkan karena saya masih bisa makan masakannya si Oma yang masih tetap enak, juga puding dan kue-kue lainnya yang tersaji di meja, walaupun saya tak tahu siapa yang membuatnya.

Menyenangkan karena ternyata masih ada tradisi seperti ini, yang masih bisa saya lakukan…

Teringat puluhan tahun yang lalu. Tepatnya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tradisi seperti ini, tak hanya terjadi di kalangan keluarga, tetapi di lingkungan komplek perumahan tempat saya tinggal. Saat lebaran dulu, saya dan orang tua mempunyai tradisi bersilaturahmi, mengucapkan selamat atas hari kemenangan ke satu per satu rumah tetangga yang tinggal berdekatan dengan saya. Lumayan, bisa nyemil kue-kue kering yang pasti tersedia dan tersuguh bagi para tamu. Begitu pun juga sebaliknya, saat Natal tiba, giliran rumah kami yang kedatangan tamu.

Tapi tradisi tersebut tak kami lakukan lagi, tak mereka lakukan lagi, tak dilakukan lagi, baik saat Lebaran maupun saat Natal dan saya tak ingat kapan tepatnya tradisi itu hilang. Atau mungkin tradisi seperti itu sudah tergantikan dengan acara halal-bihalal yang diselenggarakan RT kami sejak beberapa tahun yang lalu? Jadi tak perlu lagi bertandang ke rumah, cukup semua berkumpul di satu tempat untuk bersilaturahmi?

Saya sih berharap, memang itulah alasannya, bukan alasan yang ‘tak benar’ lainnya.

Ingat pelajaran/mata kuliah Pendidikan Moral Pancasila/PPKn *eh apa ya kepanjangannya?* dan sejenisnya seperti Pancasila, Kewarganegaraan? Ingat bagaimana si guru atau dosen *setidaknya guru dan dosen saya dulu* terus menerus membicarakan dan menanamkan tentang Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Pluralisme? Dulu saya sampai bosan mendengarnya. Tapi ternyata rasa bosan itu, baru terlihat manfaatnya sekarang. Setidaknya terlihat dari bagaimana saya memandang/melihat mereka yang berbeda dengan saya. Berbeda apapun.

Apalagi ditambah dengan didikan selama saya mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi, yang juga mengagungkan segala hal tentang perbedaan tersebut, yang menjadikan setiap manusia sebagai makhluk “ajaib” alias makhluk unik, dan tak ada duanya.

madmaxer091100102

Perbedaan dalam diri manusia salah satunya adalah perbedaan keyakinan, perbedaan iman yang dijunjung tinggi oleh tiap orang. Dan pada akhirnya agama-lah yang dijadikan sebagai instrumen untuk pengkotak-kotakkan akan perbedaan keyakinan dan iman tiap orang.

Kotak yang saya pilih adalah Katholik. Kotak yang kamu pilih adalah Islam, sedangkan kotak yang masih dipilihnya adalah Hindu, atau Budha, atau Kristen. Atau kotaknya adalah Keyakinan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa *eh masih ada ga ya yang beginian?*. Kenapa saya menggunakan kata ‘pilih’? Karena memang masih menjadi pilihan kita; kita yang saat ini sudah beranjak dewasa, karena orang dewasa berhak dan sudah bisa menentukan pilihannya apakah ia masih mau melakukan ini, melakukan itu, atau sudah tidak mau, atau ingin pindah.

Tapi apakah kotak-kotak tersebut harus menghalangi kita untuk dapat melihat indahnya perbedaan dalam hidup?

Gak lah ya…setidaknya tidak untuk saya.

Mungkin saya sempat sedikit ketus, saat seseorang mengatakan ini “Kok, Ibu bilang Alhamdullillah sih?”, ketika saya akhirnya menemukan sebuah barang yang saya cari, yang kemudian saya membalas apa yang dikatakan orang tersebut dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini “Kira-kira sama ga ya artinya terima kasih dengan thank you, atau merci, atau arigatoo gozaimasu? Apa yang cuma boleh bilang thank you adalah orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris, atau yang kata merci adalah paten boleh diucapkan oleh mereka yang sehari-hari make bahasa Perancis? Kalo gitu ga usah aja kita belajar bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Alhamdullillah itu artinya Puji Tuhan ‘khan?”

Atau “teguran” serupa saat saya merespon salam “As Salamu Alaykum” seseorang yang saat itu memasuki ruangan kerja dengan “Wa Alaykum Salam,” yang sebenarnya mempunyai arti yang sama dengan peace be with you, atau damai bersamamu juga? Bouuuwwww…don’t you see it’s only a matter of language?  Dan bagi saya, agama adalah juga sebagai “bahasa” kita untuk memuja Tuhan, yang notabene hanya ada satu *itu pendapat dan yakinnya saya*.

Saya yakin kita semua pasti lebih comfort dengan “bahasa” kita sendiri, tapi bukan berarti kita akan memandang rendah “bahasa” orang lain ‘khan? Atau mungkin ada bagusnya kalau kita mencari tahu tentang “bahasa” orang lain, supaya kita bisa liat bahwa “bahasa” mereka itu juga indah, dan menjadikan kita untuk lebih kuat dengan “bahasa” sendiri, dan gimana “bahasa” saya dan “bahasa” mereka, dia, atau kamu bisa saling membuat tambah indah?

Saya yakin kok ga ada seorang pun yang ingin direndahkan. Semua ingin tetap dihargai. Tak ada yang senang saat mendengar isu bahwa ada salah satu sekte di Amerika akan membakar Al-Quran, yang membuat semuanya berlomba-lomba untuk menghentikan niatan itu. Atau semua pasti marah saat Islam dikaitkan dengan teroris. Atau apakah tega melihat darah bertumpahan saat gereja-gereja dibom? Yang semuanya mengatasnamakan sebuah kebaikan dan sudah sesuai dengan ajaran iman yang dipeluknya?

Terus terang, saya tahu bahwa tidak sedikit “anak-anak” psikologi yang (pernah) menjalani pacaran beda agama, dan ini dulu sempat menjadi salah satu topik penelitian saya dan kelompok saat membuat tugas kuliah Konstruksi Tes Psikologi…

“Mereka tuh udah tau kalo pacaran beda agama itu ribet, apalagi umur-umur segitu seharusnya udah mikir ke pernikahan, di Indo pulakh, nikah beda agama super ribet, kalo putus ribet juga sakit atinya, atau jangan-jangan tingkat religiusitasnya mereka rendah ya?”

Ya kira-kira hal itu yang menjadi dasar kenapa saya dan kelompok memutuskan mengambil tema itu.

Dan seiring berjalannya hidup, semakin banyak saya melihat pasangan yang berbeda agama menjalankan sebuah hubungan yang disebut pacaran, atau bahkan berlangsung ke jenjang pernikahan.

Kalau sekarang dipikir-pikir ya mungkin semua karena cinta…

Dan kenapa tidak karena cinta, kita saling menghargai indahnya perbedaan? Perbedaan antara saya, kamu, dia, dan mereka? Karena pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda.

—-

“Eh…tapi cinta itu buta ‘kan ya?” :mrgreen:

* Maaf kalau ada salah eja/penulisan dari kalimat berbahasa Arab. FYI, semuanya itu saya ambil dari Wikipedia*
* Gambar diambil dari 123RF*