Archive for the ‘Khayalan’ Category

Berlayar…

Wednesday, March 5th, 2008

Hmm..baru ingat…ternyata ada satu lagi liburanku yang tak direncanakan olehku, jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

Beginilah kisahnya…

Awal 1997. Saat gambar kapal pesiar itu terpampang di layar kaca televisi, aku pun menghentikan langkahku menuju ruang makan, untuk melihatnya dan mengkhayal “Coba gue bisa naik itu kapal ya”, setelah iklan menghilang dari layar, aku pun kembali melangkah.

Beberapa bulan berlalu dari khayalanku itu. Tiba-tiba, telepon rumahku berdering. Dari tanteku, adik ibuku. Dari ujung telepon ia berkata sebagai berikut “Cha, kamu kuliah masih lama khan? Mau ke Singapur ngga?”

“Aku mulai kuliah Agustus Tan.”

“Oh ya udah, siapin paspornya. Kita naik Awani Dream ke sana.”

Seketika aku ketawa, dibarengi ucap terima kasih ke tanteku itu. Tertawaku karena mengingat khayalanku beberapa bulan sebelumnya.

Juli 1997. Paspor yang telah siap dalam waktu singkat membawaku berangkat ke negeri orang. Pesiar ke negeri orang.

Minggu sore, aku, tante, oom dan sepupuku berangkat ke Pelabuhan Tanjung Priok. Sesampainya di Dermaga dan setelah urusan keimigrasian beres, kami pun langsung dipersilakan memasuki kapal itu. Langsung seketika kami tercengang kagum. Dahsyat besarnya. Dahsyat fasilitasnya. Semuanya serba mewah luar biasa. Kami pun langsung dibawa awak kapal untuk menuju kabin kami. Tempat tidur tingkat dan sebuah kasur tambahan telah tersedia di sana. Bentuk kabin pun tak jauh beda dengan yang kita lihat di film-film. Langsung aku dan sepupuku yang belum genap tujuh tahun saat itu mengintip ke luar jendela. Kami pun langsung disuguhi luasnya lautan biru.

Tak lama kemudian kapal itu pun mulai bergerak. Meninggalkan pelabuhan. Sebagaimana diumumkan oleh sang kapten kapal, kami pun diminta untuk berkumpul di sebuah ruang untuk mengetahui prosedur keselamatan jika kami mengalami keadaan darurat. Setelah itu suguhan makan malam pun telah tersedia. Hiburan dari para pengisi acara juga tak ketinggalan. Tarian kabaret, sulap, nyanyian, dan masih banyak lagi. Sajian itu memang disuguhkan oleh para awak kapal, yang kebanyakan adalah orang asing. Tak hanya itu teater dengan jadwal film yang termasuk baru juga tersedia. Suguhan makanan tak berhenti sampai makan malam, tapi sampai makan tengah malam yang dalam bahasa Inggris supper. Saat makan malam, aku melihat ada sekelompok anak muda yang bergerombol. Mereka sepertinya terlihat sudah sangat akrab, mungkin sepertinya merupakan rombongan keluarga.

Besarnya kapal, membuatku tak berani jauh dari saudaraku. Belum hafal, takut nyasar. Saat mereka memutuskan untuk kembali ke kabin, aku pun turut serta. Esok harinya, setelah makan pagi, aku sedikit merasa mual, begitu juga dengan tanteku. Tak tahan dengan kondisi ini, aku menuju kabin dan berusaha tidur, namun percuma, aku tetap tak bisa tidur. Kembali berjalan keluar kabin, mencari saudaraku. Tak lama aku melihat mereka di koridor, dan ternyata aku telah melewati suatu acara seru di dek atas kapal, di pinggir kolam renang. Tanteku pun memberi satu informasi lagi “Ternyata kita tadi pas mual itu, lagi ngelewatin putaran air. Memang di daerah situ keras putarannya. Aku tadi dikasih apel sama satu awal kapal. Katanya itu obat penangkal rasa mual.”

Kembali menuju kabin. Kami bersiap-siap membawa bawaan kami, karena sesaat lagi kami tiba di Singapura, setelah 24 jam berlayar. Kami satu-satunya penumpang yang keluar dari kapal ini, dan memilih untuk bermalam di salah satu hotel di pusat kota, sebelum kapal kembali berlabuh ke Jakarta ke esokkan harinya. Penumpang lainnya memilih untuk bermalam di kapal, walau mereka tetap bisa berjalan-jalan di Singapura. Hiburan, makanan dan kegiatan tetap tak henti, walau kapal sudah merapat di pelabuhan di Singapura. Saat ini aku lupa nama pelabuhannya. Tak kalah bagus dengan Changi. Bersih, bagus, megah, banyak tempat untuk belanja juga.

Orchard Road, jalan yang sangat terkenal di Singapura. Kami pun menginap di salah satu hotel bintang lima di jalan tersebut. Nama hotelnya sama dengan nama hotel di dekat bundaran HI, di seberang bekas Hotel Presiden dulu, di Jakarta. Kamar dengan kelas president suit di lantai dua puluh mampu menampung kami berempat, selama semalam.

Acara di sana, tak lain mencari makanan enak, dan juga belanja-belanji. Sempat aku meminta izin memisahkan diri dari tante dan saudaraku. Kebetulan tanteku yang satu ini, sedikit sama denganku. Hobi jalan-jalan sendirian, modal nekat dan berbekal peta. Berjalan sendirian menyusuri jalan-jalan besar di kota itu, keluar masuk pusat perbelanjaan yang menjadi favorit orang-orang Indonesia, merupakan suatu kesenangan tersendiri.

Pusat perbelanjaan yang menjual barang tanpa terkena pajak, menjadi akhir tujuan belanja di hari terakhir kami disana. Kami sudah harus kembali ke pelabuhan, agar tak ketinggalan kapal.

Setelah kembali mendaftar masuk ke kapal, dan meletakkan barang bawaan yang sudah semakin berat ke kabin, aku pun keluar berjalan-jalan sendirian di pelabuhan. Menyenangkan, kembali berjalan sendirian.

Tak lama sekembalinya aku ke kapal, kapalpun kembali bersauh. Meninggalkan Singapura. Makanan-makanan enak, hiburan-hiburan yang gemerlap kembali tersuguh di depan mata. Saat kaki ini melangkah menuju ke kabin, tiba-tiba seseorang memanggilku dan berkata “Hmm, boleh kenalan ngga?”

Melakukan observasi sejenak, terlihat di sana ada beberapa orang perempuan yang kira-kira sebayaku, juga ada yang masih kecil. Laki-laki ini sepertinya sedikit lebih tua dariku, selain itu beberapa laki-laki yang sepantaranku. Akhirnya aku mengulurkan tanganku sembari mengucapkan “Ocha”.

“Yudi”, “Rama”, “Ravi”, “Inka”, “Inge”, “Irene” dan masih banyak nama lagi yang disebutkan di koridor itu.

Yudi kemudian kurang lebih memulai percakapan denganku seperti ini “Mau balik ke kamar?”

“Iya”

“Ngapain? Mending ngobrol-ngobrol ama kita aja yuk”

Akhirnya kami menuju ke salah satu ruang makan. Ruang makan yang berbeda. Sajian makan tengah malam disediakan di ruang yang berbeda dengan makan malam yang tadi jam tujuh malam.

Ruang makan itu tak lama kemudian hendak ditutup. Kami semua menuju ke dek atas kapal, namun bukan di sisi kolam renang. Dek kayu itu, tersedia banyak kursi. Kami pun duduk-duduk melingkar di sana. Cerita-cerita seru, padahal kami baru saja bertemu. Tak lupa kami pun foto-foto. Seolah teman lama yang baru bertemu kembali. Tak terasa sudah jam 2 pagi. Berhubung saat itu telepon seluler belum umum seperti sekarang, aku pun menghilang tanpa jejak dari keluargaku.

Akhirnya aku meminta pamit untuk kembali ke kabin. Yang kemudian disambut dengan “Eh, bentar aja lo, langsung balik ke sini. Nyetor muka aja khan lo.”

Saat tiba di kabin, aku buka pintu dengan sangat perlahan. Melihat semua keluargaku sudah tidur, aku pun langsung kembali ke dek. Mereka masih di sana. Tak lama kemudian kira-kira jam empat pagi, kami menuju dek yang paling atas, di dekat kolam renang. Kami pun rencana melihat matahari terbit. Gelombang air laut yang kencang, ikut menyebabkan air di kolam renang itu juga melompat keluar, dan menciprati kami.

Tak perlu waktu lama untuk menantinya. Matahari itu pun mulai keluar, menampakkan cahayanya, dan seketika aku terkagum-kagum dibuatnya. Indah, sangat indah. Merekah dari langit yang masih didominasi dengan warna gelap.

Tak kuat mata ini, aku kembali ke kabin dan tidur. Tidur hanya tiga jam, aku terbangun, saat keluargaku terbangun dan siap makan pagi. Aku pun mandi, dan bersiap. Setelah makan pagi, aku pun bertemu dengan teman-teman baruku itu lagi. Bertandang ke salah satu kabin mereka, foto-foto di hampir setiap tempat. Sampai akhirnya kami menemui satu ruangan yang selalu tertutup rapat selama pelayaran itu, yaitu kasino. Sayang tak sempat aku lihat ruangan itu.

Sebelum kapal bersandar di Tanjung Priok, kami sempat berkunjung ke pulau Seribu. Otomatis kami mencapai pulau itu dengan sekoci. Begitu tiba di pulau itu kami pun baru melihat besarnya kapal itu dari ujung ke ujung “Pantes gue capekh jalan-jalan di tuch kapal”.

Tak lama di pulau itu, mungkin hanya dua jam. Kami pun harus melanjutkan perjalanan, menuju Tanjung Priok. Dekatnya jarak pulau Seribu dan pelabuhan, menyebabkan pelayaran itu segera harus diakhiri. Namun tidak dengan pertemananku yang dimulai semalam. Sampai saat ini, tali pertemanan itu masih terjalin baik.

Sepenggal Kisah Dari Ujung Sulawesi Pada Akhir 2003…

Saturday, March 1st, 2008

Ini adalah awal mula dari semua perjalanan liburanku, yang tak pernah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.

September 2003, pekerjaanku saat itu masih sebagai seorang sekretaris divisi, di salah satu bank yang sekarang sudah dibeli oleh salah satu perusahaan Singapura. Sebagai sekretaris divisi, aku tidak hanya mengurus kepentingan satu orang saja, melainkan seluruh keperluan anggota divisi, termasuk urusan perjalanan dinas mereka, baik perjalanan dekat, maupun perjalanan yang jauh sekalipun.

Dua orang temanku akan melakukan perjalan dinas ke Makassar dan Manado. Saat itu, aku sedikit mengakhayal “Coba aku bisa ikut ke Manadonya ya!”.

Tak berapa lama kemudian, aku menelepon agen perjalanan yang menjadi langganan kantorku untuk memesan tiket untuk mereka dari Jakarta-Ujung Pandang-Manado-Jakarta.

Seringnya aku menelepon ke agen perjalanan itu, membuat aku sudah akrab berbincang-bincang dengan karyawan di sana. Sampai-sampai di tengah perbincangan aku dengan karyawan sana, yang sekarang aku lupa siapa namanya, berkata seperti ini “Eh Mbak Ocha ngga ikut ke Manado?”

“Ah ngga lah mbak, aku khan ngga dibayarin kantor, lagipula tiket ke sana mahal.”

Aku tahu persis harga tiket Jakarta-Manado-Jakarta, apalagi dengan maskapai andalan Indonesia itu. Kalau tidak salah tiket pulang pergi kelas ekonomi saat itu Rp.3.400.000, dan pilihan maskapai lain, belum sebanyak sekarang.

Lalu si mbak di ujung telepon sana memberiku jawaban yang mengagetkan “Ih, Mbak Ocha belum tahu ya, lagi ada promo nih mbak. Sekarang khan bukan high season. Harga promonya 1,2 juta mbak.”

Begitu mbak itu menyebutkan harga tiketnya, aku langsung berpikir “Wah, gue ambil juga apa ya. Bolak balik cuma 2,4 ini.”

Lalu aku kembali bertanya pada si mbak itu “Jadi pulang pergi 2,4 juta ya mbak?”

“Ngga mbak, 1,2 juta itu udah return ticket.”

“Aku ambil, book sekarang juga ya mbak!”

Dan dalam hati aku teriak “Hoooorreee, pergi juga ke Manado. Peduli amat, boleh ngga boleh cuti, gue pergi.”

18 September 2003, aku terbang juga ke Manado. Ini perjalanan pertamaku pergi sendiri naik pesawat, tanpa ditemani siapa-siapa. Penerbangan yang seharusnya jam 14.00, di tunda hingga 4 jam, karena cuaca buruk di Manado. Namun sisi baiknya dari tertundanya penerbangan itu, akhirnya pesawatku tak jadi transit di Ujung Pandang, dan langsung Jakarta-Manado.

Penerbangan aku tempuh sekitar 3 jam, sehingga tiba di Manado sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Sampai sana aku dijemput oleh 2 temanku yang dari Jakarta itu, dan satu teman kantor yang memang dari cabang Manado.

Sampai sana, kami langsung makan. Makan enak. Restoran seafood yang letaknya di pinggir pantai yang masih terletak di pusat kota Manado. Menunya utamanya adalah kepiting kenari. Aku tak tahu diolah bumbu apa, yang jelas enak, enak dan enak. Di sana satu kilo kepiting kenari ini dijual Rp.200.000an, dan kalau di Jakarta, ada restoran di daerah Kelapa Gading yang menyediakan menu ini, mematok harga Rp.1.000.000 perkilo. Harga tersebut, harga tahun 2003.

Sehabis kenyang, aku langsung ke hotel tempat teman-temanku itu menginap. Kamipun langsung terlelap. Aku lelah karena sehabis melakukan perjalanan jauh, dan cukup lama menunggu penerbangan di bandara Jakarta. Sedangkan teman-temanku, lelah karena paginya mereka harus presentasi dan memberikan pelatihan.

Hari berikutnya, 19 September 2003, salah satu temanku masih harus memberikan pelatihan. Namun aku, dan 2 temanku lainnya, akhirnya ke Tomohon. Daerah ini semacam daerah puncak di Manado. Daerah yang masih cukup berudara dingin, karena ini merupakan daerah dataran tinggi. Kami pun makan siang di salah satu restoran terkenal di sana. Namun kebanyakan makanan yang tidak halal yang disajikan di restoran ini. Aku rasa pada umumnya sudah mengenal istilah sate B2 dan B1 yang diolah menjadi masakan bernama RW itu bukan? Namun aku hanya menyantap sup kacang merah.

Sepulang dari Tomohon, kami kembali ke hotel, dan bersiap untuk santap malam. Santap malam kami lakukan di salah satu restoran di pinggir pantai lagi, namun bukan restoran yang sama dengan malam sebelumnya.

Satu kejadian aneh yang aku temui di sini. Biasanya jika kita ingin memanggil pelayan untuk menghampiri meja kita, kita memanggilnya dengan sebutan mbak atau mas. Namun tidak sama dengan di Manado. Cara kita memanggil pelayan untuk menghampiri meja kita dengan “Sssst, ssst!”. Sepertinya memang tak sopan, namun kata temanku yang asli dan tinggal di Manado dari kecil, memang begitulah cara memanggilnya, kalau tidak begitu, mereka tidak akan menoleh. Benar saja, saat kami bertiga yang bukan penduduk Manado, memanggil mereka dengan sapaan mbak, mereka tak menoleh sama sekali. Lalu kami mempraktekkan apa yang dianjurkan temanku, memanggil dengan “Sstt, sstt!”. Seketika mereka langsung menoleh.

Malam itu, kami berdiskusi ingin melakukan apa Sabtu dan hari Minggu itu. Ada dua pilihan, ke Bukit Kasih, atau ke Bunaken. Beruntunglah ada teman yang asli dan lama tinggal di Manado, jadi ada pemandu wisata di sana. Ia menjelaskan bahwa bukit kasih itu, adalah bukit yang mempunyai 5 tempat ibadah, dari 5 agama yang ada di Indonesia, dan semuanya berdiri sebelahan. Masjid, Gereja Protestan, Gereja Katholik, Pura, Wihara, yang masing-masing mewakili satu agama. Tempat ini dibuat sebagai simbol, memang seharusnya semua agama dapat hidup rukun, damai dan saling toleransi. Sedangkan kalau Bunaken, sepertinya tidak ada yang perlu dijelaskan lagi bukan?

Akhirnya Sabtu itu, kami memilih ke Bunaken. Untuk mencapai pulau ini, kami harus menaiki perahu motor, ataupun boat. Perahu motor harganya lebih murah, namun lebih lambat, dan bisa dinaiki lebih dari 10 orang. Sedangkan boat, hanya cukup sekitar 6 orang, lebih cepat dan tentu lebih mahal. Namun sebelum ke dermaga tempat menyeberang, ‘pemandu wisata’ dadakan kami, mengajak kami berputar-putar sebentar. Pertama ia membawa kami ke rumah seorang kenalannya yang biasa membuat nasi bungkus. Otomatis kami bertanya “Buat siapa nasi-nasi itu?”.

“Nanti kalian akan tahu gunanya”

Lalu kami mampir ke toko kue terkenal untuk memesan klaper tart, yang bisa dibawa ke Jakarta. Klaper tart yang akan dibawa ke Jakarta, mungkin karena kemasannya harus khusus, maka harus dipesan satu hari sebelum diambil. Di sana kembali satu hal aneh dilakukan teman kami yang satu itu, yaitu membeli berbotol-botol air mineral 1.5 liter. Kembali kami ‘orang-orang asing’ bertanya “Kok banyak banget belinya?”.

Jawabannya si Manado itu “Pasti ntar berguna deh.”

Kami terima diam dan menurut. Kunjungan berikutnya adalah restoran kepiting kenari itu. Lagi-lagi kami ingin membawa makanan enak itu ke Jakarta. Sama seperti klaper tart, harus dipesan satu hari sebelumya.

Setelah semua urusan perbekalan selesai, kami langsung ke dermaga. Kalau tak salah sekitar jam 12.00 WITA. Banyak juga rombongan wisatawan yang datang ke sana. Terutama wisatawan asing. Bahkan diantara mereka yang sepertinya sudah sering datang ke Bunaken. Mereka ada yang membawa perlengkapan menyelam sendiri, dan sepertinya mereka sudah pandai berbahasa Indonesia, bahkan lihai menawar biaya sewa kapal. Namun ada juga yang sepertinya baru pertama kali, dan dikenai biaya yang mahal.

Berhubung ‘pemandu’ kami orang asli, tawar menawar pun dilangsungkan dengan bahasa asli Manado. Kami tak tahu artinya apa. Biaya sewa boat, untuk kami berempat hanya Rp.200.000, satu kali jalan. Jelas harga itu lebih murah, karena harga itu termasuk ongkos si supir perahu, dan pemandu saat kami nanti di laut.

Penyeberangan kami lakukan kurang dari satu jam. Pertama-tama kami harus menepi ke pantai pulau Bunaken itu. Langsung mata ini disuguhkan pemandangan hamparan pasir putih nan bersih, yang luar biasa. Perahu tak bisa bersandar terlalu dekat tepi pantai. Kami dijemput dengan perahu yang lebih kecil untuk menepi. Barulah kami harus menyebur dan berjalan menuju pantai. Begitu kaki ini menginjak dasar laut yang sudah melandai, kami pun merasakan kelembutan pasir putih itu.

Ternyata tempat yang kami datangi itu adalah tempat penyewaan alat-alat snorkling. Tadinya aku enggan ikut menyewa, karena aku tak bisa berenang. Namun teman-temanku mencoba memberanikan aku untuk ikut snorkling. Akhirnya aku sepakat dengan mereka. Biaya sewa alat lengkap, setiap orangnya hanya Rp.50.000, dan tidak dibatasi waktu pemakaiannya, mau sampai kulit gosong di laut juga tak apa.

Sewa menyewa alat beres. Kami pun kembali ke tengah laut dengan boat. Selama perjalanan menuju titik snorkling, teman kami si Manado itu, membukakan nasi bungkus yang tadi dibelinya, sambil berkata kepada kami “Nih, makan siang dulu, di sini ngga ada yang jual makanan maupun minuman. Jadi harus bawa sendiri buat bekal.”

Titik terumbu karang yang paling indah ditunjukkan oleh si pemandu. Setelah sampai dan jangkar dilepaskan, kami pun bersiap-siap memakai peralatan. Kembali aku urung, karena takut. Namun melihat beningnya laut aku pun tergiur. Ikan-ikan yang berenang di lautan bisa terlihat bahkan saat kami memandanginya hanya dari pinggir boat. Akhirnya aku mau, tetapi saat mulai masuk ke air, ketakutan ini pun kembali ada, sehingga membawaku ingin kembali ke atas boat. Padahal salah satu temanku sudah berkelana berenang di sekitar boat kami. Niat kembalinya aku ke atas boat dilarang keras oleh salah satu temanku, “Cha elu harus berani, kapan lagi?”

Perlahan aku coba mencelupkan kepala ini ke air, dan mencoba melihat kondisi di laut dalam. Seketika aku berpikir “Buset dalem banget, tapi keren, keren abis, ada ikan napoleon pulakh.”

Tak lama kemudian, aku sudah berenang-renang di lautan itu. Si Manado temanku itu, tak ikut snorkling, ia tinggal di boat, dan berbaik hati menjaga barang-barang bawaan kami yang sangat banyak.

Begitu sampai di titik terumbu karang yang indah, aku pun kembali ditakjubkan “Ya Tuhan, bagus banget, cantik banget.”

Di titik itu banyak wisatawan asing yang tadi kami lihat di dermaga. Ada satu anak perempuan yang kata pemandu kami saat kami di boat, ia warga negara Australia, yang snorkling tanpa alas kaki khusus. Lalu aku tanyakan mengapa demikian, pemandu kami katakan ia sudah biasa datang ke sini, dan sudah sangat fasih berbahasa Indonesia.

Terumbu karang berbagai warna yang terang, sebagian ada yang menari-nari seakan menyambut kedatangan kami. Si Nemo berenang bersama kami, juga ikan-ikan lainnya yang beraneka warna. Ketakutan langsung sirna, dan berubah menjadi kegembiran dan pengalaman berharga, tak terlupakan. Saat itu, sinar matahari bersinar sangat terang, begitu terik dan saat di laut, kami sudah berpikir “Bodokh amat lah item bagian belakang doang, hahhaha.”

Setelah 2 jam bersnorkling ria, kami kembali ke boat. Rencananya untuk melihat titik lainnya.
Namun sayang langit sudah mendung, dan titik itu harus dilewati dengan menyeberangi putaran arus yang sedang sedikit kencang, selain itu sedang dipenuhi banyak bulu babi, yang beracun. Hingga kami diminta memutar menghindari kumpulan bulu babi dan putaran arus itu. Di titik ke-2 tak berlangsung lama, kami sudah kembali ke boat.

Melihat langit mendung, dan gelombang air laut yang nampaknya tidak setenang tadi, temanku menanyakan pada kami, apakah kami ingin kembali ke Manado, atau menginap di Bunaken saja?
Karena aku paling kecil di situ, jadi keputusan ada di tanganku. Aku memutuskan untuk menginap di Bunaken.

Bastianos Cottages tempat kami menginap. Tempat penginapan paling besar saat itu di sana. Tidak seperti biasa, harga sewa bukan berdasarkan jumlah kamar dan jumlah malam kami menginap. Namun harga sewa berdasarkan jumlah orangnya. Per kepala dikenai biaya Rp.125.000, berapa pun jumlah kamar yang dipakai. Biaya itu ternyata biaya makan tiap orang. Maklum jumlah hidangan sangat disesuaikan dengan tamu yang datang. Sore itu makanan untuk santap malam belum tersedia, tetapi kami sudah merasa lapar. Ingat ada sisa nasi bungkus dan air mineral yang tadi kami bawa, kami pun kemudian menyantapnya di depan kamar kami. Temanku si Manado itu tak ikut menginap di sini. Ia, pak supir boat, dan pemandu lautan kami pun kembali menyeberang ke Manado. Besok siang kami akan dijemput dengan boat lain, yang sudah diaturnya dengan orang Bastianos.

Kamar tidak dilengkapi kamar mandi dalam. Kamar mandi disedikan di luar kamar, jadi bisa digunakan oleh semua tamu. Tenang saja, kamar mandi di luar disedikan cukup banyak. Kalau tidak salah setiap tiga deret kamar ada dua kamar mandi.

Hal lucu aku temui di sana. Saat ingin mandi. Aku mencoba menyalakan lampu dan juga keran kamar mandi. Ternyata semuanya tidak berfungsi. Lampu dan air belum menyala. Aku pun menanyakan pada pihak pengurus tempat penginapan. Ia pun menginformasikan bahwa di sana listrik baru dinyalakan setelah jam 18.00 WITA. Pasokan listrik di sana masih terbatas ternyata.

Makan malam tersedia sekitar pukul 19.00 WITA. Hidangan yang disajikan adalah hidangan laut. Terus terang menunya aku lupa, yang jelas enak, atau mungkin karena saat itu kami lapar dan lelah karena bersenang-senang di laut seharian. Penyusunan ruang makan tidak seperti ruang makan hotel pada umumnya. Penyusunannya hampir menyerupai tata ruang makan di rumah. Sangat kekeluargaan. Ada sofa-sofa panjang, ada meja di tengah, dan di sana dilengkapi dengan televisi. Antar tamu yang tadinya tidak saling kenal, akhirnya bisa akrab dengan mudah.

Kamar kami langsung menghadap laut, jadi semilir angin saat kami duduk-duduk di teras depan kamar juga sangat terasa. Dingin dan segar, tanpa polusi. Hei, hidungku bersih dari cairan karena sinus. Kami bertiga akhirnya ngobrol-ngobrol di teras sampai kaki ini tak tahan digigiti oleh nyamuk.

Kami masuk kamar, di sana disediakan satu ranjang besar dan satu ranjang ekstra, yang sedikit agak lembab. Akhirnya kami memilih tidur bertiga di ranjang yang besar. Di kamar ternyata tidak terbebas dari nyamuk, tapi untungnya di kamar disediakan kelambu yang bisa melindungi kami dari gigitan nyamuk. Satu pengalaman baru lagi, tidur dengan kelambu.

Esok paginya, setelah sarapan, boat yang akan mengantar kami telah siap.

“Selamat tinggal Bunaken.”

Kami dibawa dengan perahu kecil untuk menuju boat yang berada di tengah laut. Ukurannya lebih besar daripada yang kemarin. Kami bisa duduk-duduk di bagian depan sambil menikmati angin laut dan melihat lumba-lumba yang ikut berenang di sebelah kiri dan kanan boat yang kami tumpangi. Indah sekali. Sangat menakjubkan.

Dermaga tempat kami mendarat tidak sama dengan kemarin. Dermaga yang sekarang letaknya sedikit di luar kota Manado. Tepatnya di dermaga Hotel Sheraton. Di hotel itu kami sudah di jemput teman kami si Manado itu. Semua pesanan kami untuk oleh-oleh ke Jakarta, ternyata sudah lengkap ada di mobil.

Tidak ada tempat lain yang bisa dikunjungi lagi. Mengingat saat itu sudah tengah hari, dan penerbangan kami menuju Jakarta pukul 14.00 WITA. Kami pun langsung menuju bandara. Sedihnya penerbangan juga harus ditunda. Hal itu karena Manado kembali diguyur hujan deras. Pesawat dari Ujung Pandang yang rencananya akan mengangkut kami, tidak bisa mendarat di Sam Ratulangi, dan harus kembali ke Sultan Hasanuddin Ujung Pandang. Padahal sudah sampai Manado lo, karena jarak pandang landasan terlalu pendek, mau tidak mau harus memutar balik. Kembali aku harus menunggu lebih dari 4 jam. Sampai para penumpang diberi makan malam ekstra oleh pihak maskapai.

Sekitar pukul 19.00 WITA, pesawat kami pun diberangkatkan. Tidak langsung Manado-Jakarta, melainkan Manado-Ujung Pandang-Jakarta. Transit di Ujung Pandang tidak lebih dari 30 menit.
Kami pun kembali ke kota yang penuh dengan polusi ini lagi sekitar pukul 22.00. Dengan membawa satu loyang klaper tart, kepiting kenari yang super enak, berjuta pengalaman baru, dan rasa senang yang tak terdefinisikan.

Ya, begitulah cerita liburanku waktu itu. Selanjutnya hingga tahun ini (2008) liburanku tak pernah direncanakan jauh hari sebelumnya. Paling lama satu seminggu sebelum keberangkatan.

Terima kasih buat Hao, yang sudah menjadi pemandu wisata kami selama kami di Manado. Terima kasih juga buat keluargaku yang sudah pasrah mendengar perkataanku “Ma, aku lusa ke Manado ya.”

atau “Besok aku ke Bandung ya 4 hari.”, “Besok aku jalan-jalan ke Bali ya.”, “Nanti malem aku terbang ke Bali ya.”

Untuk semua yang membaca, semoga informasi di atas berguna. Harga-harga yang tercantum di atas dan juga semua informasi itu, adalah apa yang aku alami tahun 2003, yang pastinya berbeda dengan sekarang-sekarang ini. Jika ada yang mau memberi informasi tambahan, sangat diharapkan.

Informasi menyedihkan yang sempat aku dengar, bahwa terumbu karang di sana semakin rusak. Mudah-mudahan tidak bertambah parah esok-esok hari. Semoga para wisatawan dan semuanya saja, dapat menjaga habitat mereka dengan baik. Tidak merusak, tidak mencoba memindahkan mereka ke akuarium-akuarium di rumah-rumah, tidak membuang sampah di lautan. Semuanya itu untuk kita juga pada akhirnya.

Selamat berlibur teman-teman. Manado bisa menjadi salah satu tujuan yang perlu dimasukkan daftar rencana liburan. Itupun kalau liburan kalian direncanakan sebelumnya, hehehee.