Archive for the ‘Jurnal Hidup’ Category

Thank You…

Saturday, February 18th, 2012

To all of you…I just want to say…

Thank uYou make me have these wonderful years…

—-

And you also my dear!! For sure…

hpybday

…you REALLY made my days…

bdaywish

…love it…love you!!…

This Christmas…

Sunday, December 25th, 2011

Setiap keluarga pasti punya kebiasaan atau tradisi. Termasuk tradisi menyambut dan merayakan hari raya agama yang mereka anut. Termasuk keluarga saya untuk menyambut dan merayakan Natal.

Hhhhmmm…lucu sebenarnya, kalau dibandingkan dengan keluarga lain. Atau aneh lebih tepatnya, atau apapun. Kebiasaan yang saya maksud itu adalah kebiasaan memasang pohon dan goa natal yang selalu dilakukan pada hari-hari terakhir menjelang Natal. Biasanya, keluarga lain mungkin sudah memasangnya sejak awal Desember, atau saat umat Katolik mulai memasuki masa Adven/masa pertobatan menjelang Natal.

Dan tradisi memasang pohon Natal mepet hari H, masih menjadi tradisi keluarga saya sampai tahun ini. Pohon natal baru berhasil kami dirikan di tanggal 24 Desember 2011, di pagi hari…

“Hah? Berhasil didirikan kata loe ‘Cha? Emang susah?”

“Susah memang! Hahahahahah.”

Apalagi ditambah urusan mencari ornamen-ornamen Natal yang entah mengapa, saat kami cari, selalu saja letaknya menjadi terpencar-pencar tak karuan. Aneeeehhh…padahal saat menurunkan si pohon setelah perayaan selesai, semua ornamen disimpan di tempat yang sama dan jadi satu. Tahun ini benda yang ‘berlari’ dari tempatnya adalah kaki-kaki si pohon *mungkin karena kaki jadi dia berhasil ngilang *haaalllaagghh. Alhasil tradisi mencari si bagian yang hilang kembali terjadi. Tiga orang; Mama, Papa dan saya selama dua hari berusaha mencari si 3 buah kaki si pohon, yang menjadi ‘organ’ utama, agar si pohon bisa berdiri, terpasang dan menjadi penghias rumah kami.

Pasti kalian nanya…

“Ketemu ‘Cha?”

Dan saya dengan pasti menjawab…

“Nggak. Hahahahaha. Nyerah.”

Seingat saya, tradisi ini kami lewatkan saat Natal tahun lalu, karena dengan sangat ajaibnya, semua ornamen masih rapi bisa bertahan di tempat yang sama dengan saat penyimpanan, selama kurang lebih 1 tahun, hingga kami butuhkan untuk dipasang kembali di Natal 2010.

Tapi saya bersikeras, kalau tahun ini, di rumah tetap harus ada pohon dan goa Natal, tak tahu bagaimana caranya…

“Beli baru? Saaayyyaaannggg…tuh pohon juga baru beli 4 atau 5 tahun lalu pun.”

Ternyata yang teteup kekeuh harus ada pohon Natal tahun ini di rumah, tidak cuma saya. Mama pun. Akalnya pasti ada saja…

“Saaa…turruunn…banguuun. Katanya mau anterin belanja.”

“Iyaaa…bentar.”

Dan tak lama kemudian, saya dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka berusaha menuruni anak tangga untuk menghampiri suara yang memanggil tadi…

“Sini, pegangin dulu ini pohonnya.”

“Laahh…katanya gue disuruh anterin belanja.”

“Udah…bawel, nanggung. Pegangin dulu ini pohonnya.”

“Hahahaha…hebat loe Bu…pesulap sejati. Kenapa ga dari kemaren-kemaren, biar ga repot nyari tuh kaki.”

“Gue juga baru kepikiran sekarang. Khan gua tau elo maunya tetep ada nih pohon khan?”

“Yoa. Tadinya gue dah mau beli baru, Bu, tapi kok ya sayang. Nih pohon juga masih bagus and masih baru. Dan gue nunggu dirimu ngakalin.”

Ahhh…ini juga tradisi lainnya. Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya dan mama memang jadi seksi repot untuk memasang pohon dan goa Natal.

‘Tragedi’ pohon Natal sudah teratasi, walau lampu penghiasnya masih missing in action, yang membuat saya terpaksa membeli yang baru.

Hari pun beranjak sore, hingga sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke gereja, untuk mengikuti puncak perayaan Natal dengan menghadiri Misa Malam Natal, yang kebetulan sekali, kali ini di Paroki saya dipimpin oleh Bapak Uskup Keuskupan Agung Jakarta.

Seselesainya kami mengikuti misa perayaan natal, saya mengecek telepon selular saya, bahagianya saya mendapati sekian pesan ucapan selamat natal dari teman, rekan kerja, keluarga, dan kenalan saya, baik yang dikirimkan melalui BBM, Twitter, maupun Facebook.

Jujur, saya selalu terharu saat mendapatkan ucapan selamat merayakan hari raya, dari mereka yang agamanya tidak sama dengan yang saya anut…

So at this occasion, from deep inside my heart, I would like to say thank you for your Christmas greetings to me. Especially from my Moslems and Non-Christian friends and colleagues. To my blogger and twitter fellows: @annadeas, devi eriana, si mbok, aditya bregas, my childhood best friend, my teenage best buddy, chichi utami, ichanx, goenrock, @neth_4, @ayu_2311, chika nadya. To them who sent greetings through my Blackberry Messenger (Personal and/or Group): Shanty, Diana Ekawati, William Sulivan, Rezty Atria, Rully Hariwinata, Dimas Donny dan semua yang lupa saya sebutkan, atau yang mungkin nanti akan mengirimkan ucapan ke saya, once more thanks! Appreciate it!

Semoga hal kecil seperti ini, masih bisa menjadi akar kuat untuk kita tetap menghargai pluralisme, yang salah satu caranyanya adalah menghormati sesamanya yang berbeda agama dan keyakinan yang dianut.

And to all my Christian friends, colleagues, family and acquaintances, I would like to say “Merry Christmas! Peace be with you and your family!”

Untuk teman-teman di dunia perhelatan twitter dan para blogger canggih, terima kasih untuk sharing cerita-cerita atau artikel menarik, seperti yang saya baca di saat Natal ini: Surat dari Nabi Muhammad SAW kepada Biarawan St. Catherine’s Monastery dan Selamat Natal, Kawan!

And Hey YOU UP THERE, my Lord, this year You give me perfect Christmas presents! Thanks!

Ibu Gue…

Thursday, December 22nd, 2011

Selamat hari perempuan, untuk semua perempuan Indonesia…

Selamat hari ibu,…

Terutama ibu, para single-parent, yang bercinta dengan kerasnya hidup, tetap memberikan cinta pada sang buah hati, mengantar anak-anak mereka menuju pintu kedewasaan…

Terutama ibu hebat yang dipercayakan anak-anak berkebutuhan khusus oleh Tuhan, dengan dahsyatnya anugerah yang datang melalui mereka…

Terutama ibu, yang mengambil keputusan bersama suami, untuk mengadopsi anak, memelihara dan membesarkan dengan cinta tiada tara, walau anak itu bukan berasal dari rahimnya sendiri…

Terutama ibu, yang memutuskan untuk tidak mengaborsi janin mereka, walau sejuta beban psikologis di pundak, yang mungkin pada akhirnya membuat mereka harus merelakan si anak dibesarkan orang tua lain…

Dan terutama untuk ibu gue…hebat tiada tara lah loo, Mom! Ngajarin gue survive hidup, ngasih contoh gue gimana jadi perempuan harus smart. Bisa tetep percaya gue, yang sering jadi cewek super nekat, tapi elo tetep tau kalo anaknya yang ini…canggih (nekatnya)? :mrgreen: Dan di tengah omelan elo yang tiap hari gue denger, tapi masakan loe tiada cela. Di tengah omelan loo yang ga pernah absen dari hidup gue, tapi elo tau gimana bisa ngobrol ama anak perempuan loe satu-satunya yang super ajaib ini. Di tengah omelan loe yang membuat rame hidup gue, tapi elo ngga pernah bosen doain gue.

Anyway…gue cuma bisa bilang, thanks, Mom! Jangan lupa ya tetep mention gue di tiap doa. You never know how much I love you.

To all Moms in Indonesia…Happy motherhood…You are all great!

You taught me everything
Everything you’ve given me
I’ll always keep it inside
You’re the driving force in my life, yeah
There isn’t anything
Or anyone that I could be
And it just wouldn’t feel right
If I didn’t have you by my side
You were there for me to love and care for me
When skies were gray
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be
What you have been to me you will always be
You will always be the girl
In my life for all times
Mama, Mama you know I love you
Mama, Mama you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know lovin’ you is like food to my soul
Yes it is, yes it is, oh, yes it is, yes it is, yes it is oh
You’re always there for me
Have always been around for me even when I was bad
You showed me right from my wrong
Yes you did
[ From: http://www.metrolyrics.com/a-song-for-mama-lyrics-boyz-ii-men.html ]
And you took up for me
When everyone was downin’ me
You always did understand
You gave me strength to go on
There was so many times
Looking back when I was so afraid
And then you come to me and say to me
I can face anything
And no one else can do
What you have done for me
You’ll always be, you will always be
The girl in my life, ooh oh
Mama, Mama you know I love you
Mama, Mama you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know lovin’ you is like food to my soul
Never gonna go a day without you
Fills me up just thinkin’ about you
I’ll never go a day
Without my mama
Mama, Mama you know I love you
Mama, Mama you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know lovin’ you is like food to my soul
Lovin’ you is like food to my soul, oh yeah
You are the food to my soul, yes you are
Read more: BOYZ II MEN – A SONG FOR MAMA LYRICS http://www.metrolyrics.com/a-song-for-mama-lyrics-boyz-ii-men.html#ixzz1hHRB2SEU
Copied from MetroLyrics.com

Kakaknya Masuk Kelas…

Wednesday, November 30th, 2011

Seniority…What is in your mind if you hear that word?

Saya? Kata itu langsung membawa saya ke masa-masa zaman sekolah dulu. Terutama waktu saya SMA; saat saya harus memakai rok kotak-kotak kombinasi warna merah, hitam dan abu-abu dua hari dalam seminggu, berkauskaki setinggi lutut, dan tidak pernah disuguhi pemandangan murid laki-laki di dalam kelas, selama tiga tahun.

Enam hari pertama berada di sekolah itu, saya dan teman-teman seangkatan, wajib mengikuti masa orientasi sekolah. Masa pengenalan lingkungan sekolah untuk murid baru; termasuk pengenalan ‘budaya’nya. Salah satunya adalah ‘budaya’ senioritas yang saat itu masih sangat kental di sana.

Enam hari penuh teriakan yang terlontar dari mulut kakak-kakak kelas, dan disuguhi wajah-wajah jutek dari mereka, adalah pengalaman yang tak mungkin saya, lupakan.

“Nunduk! Matanya jangan belanjaaa!! Gak ada cowok di sini!”

“Kakaknya masuk kelas! Mana hormatnya!”

Penderitaan ternyata belum berakhir. Tidak hanya enam hari pertama harus saya lalui dengan orientasi yang satu itu. Masih berlanjut saat saya mendaftar ke salah satu kegiatan ekstra kurikuler, yang saat itu memang diwajibkan untuk siswa kelas 1. Saya dan teman-teman lain wajib kenal semua kakak kelas, terutama pengurus kegiatan ekstra kurikuler tersebut. Bagaimana caranya? Kami diwajibkan untuk mendapatkan semua tandatangan dari kakak kelas pengurus. Dan untuk mendapatkan tandatangan mereka, pasti tidak dengan cuma-cuma. Kami diminta melakukan sesuatu, baru mereka mau memberikan tandatangan di buku kami, dan di masa periode buku itu pasti diperiksa.

Sudah selesai sampai di situ? Hohohoh…tentu tidak. Ternyata urusan gencet-gencetan adik kelas, walau paling minimal hanya melalui tatap mata, dan pandangan jutek, masih berlanjut hingga di tahun kedua saya sekolah di sana. Dengan kata lain, sampai saya berada di kelas 3, menduduki singgasana tahta paling senior di sekolah, barulah saya terbebas dari rasa tidak nyaman karena senioritas.

Lucu kalau diingat; waktu saya kelas 1 SMA, saya paling malas jajan di kantin, karena malas urusan dengan senior, walau cuma disuruh membelikan makanan/minuman di kantin. Atau saat segerombolan kakak kelas itu berjalan melewati deretan kelas kami, serentak kami yang sedang duduk-duduk di depan kelas, memutuskan untuk langsung ngacir masuk ke kelas.

Tapi itu dulu, saat sekolah. Bagaimana kalau sekarang di tempat kerja? Masih perlu ga sih senioritas, apalagi yang bertujuan intimidasi dan menunjukkan kuasa ke rekan kerja yang lebih belakangan bergabung di perusahaan itu atau ke rekan kerja yang mempunyai posisi lebih junior?

Nyemplung di dunia perhelatan HR, saya pasti pernah menemukan tingkah laku-tingkah laku ‘ajaib’ mereka yang ada di sekitar saya bekerja. Though, sometimes, somehow tingkah saya pun dianggap ‘ajaib’ oleh mereka.

Senioritas di tempat kerja tentu perlu, terutama senioritas dari segi hirarki pemberi arahan/struktur organisasi. Akan tetapi kalau hal itu sudah melenceng ke arah untuk mengintimidasi/menunjukkan kuasa atas seseorang, apalagi jika orang itu berpikir juga bahwa ia lebih senior jika dilihat dari lamanya bekerja di tempat itu./dilihat dari segi usia. Kelar khan?

Yuukkk…mulai dilihat-lihat lagi, tingkah kita pernah bossy ga ke orang lain? Pernah ga kita berbicara dengan nada oktaf tinggi ke sekian kepada rekan kerja? Pernah ga kita menyuruh rekan kerja instead of meminta tolong? Pernah ga kita berbicara kasar ke rekan kerja? Pernah ga kita meminta orang lain untuk tidak menyalahi aturan, tapi kita sendiri sering menyalahi aturan dan jelas-jelas terlihat oleh orang banyak? *Yang sering dateng telat ke kantor, berarti ga boleh protes ya kalo orang lain telat, apalagi kalo udah telat terus tenggo, dilarang keras untuk protes…heheheh

Hhhmmm…kalau ditanya saya pernah melakukan itu semua atau tidak, saya akui, saya pernah melakukan itu. Tapi dulu, kalau sekarang pasti akan berpikir ratusan kali terlebih dahulu sebelum melakukannya, dan tentu keluarnya protes, adalah indikator bahwa sesuatu hal sudah keterlaluan menurut kacamata saya. :mrgreen:

Dari Lagu There You’ll Be, Ring Tone Kentut, Sampe Cewek Bernama S…

Sunday, July 24th, 2011

Duduk di dalam Trans Jakarta, sambil ngeliatin orang-orang sekitar gue, yang satu pun ga ada yang gue kenal, membuat gue jadi inget twitter gue beberapa minggu lalu…

“Ga lagi2 jalan dari Katedral ke halte busway Istiqlal…ngeri dicekek orang dari belakang, gelap abis, mending jalan ke halte juanda, mentok2 ketabrak LOL”

Hmmm…emang gobloknya gue sih, yang nganggep jarak tempuh dari depan Katedral ke halte busway Istiqlal ini sama jauhnya kayak ke halte Juanda, yang membuat gue berjalan setengah berlari, sambil sesekali celingukan ke belakang, sambil komat-kamit dalam hati, berharap ga ketemu makhluk berwujud manusia lain yang berpikiran jahat sama gue.

“Never talk to a stranger!!”

Kalimat itu sejak kecil ditanamkan oleh bokap nyokab gue, dan sepertinya masih terngiang di kuping dan masih gue jalanin hingga saat ini, atleast gue akan menganalisa terlebih dulu, seberapa kadar “stranger”nya orang tersebut untuk gue.

Duduk di Trans Jakarta bersama penumpang lain yang sama sekali ga gue kenal alias semuanya orang asing, di mana ada kemungkinan bahwa di antara mereka ada yang bisa melukai atau membuat gue celaka. Dan kembali otak gue melihat kejadian-kejadian yang dulu. Kejadian mulai kelas 4 SD, gue minta ijin ke bokap untuk pulang sendiri naik angkot, dan nyokab marah-marah karena bokap bilang iya; masa-masa di mana nyokap gue walaupun naik bis tetep jemput gue ke sekolah, biar anak perempuan satu-satunya tetep ada temennya pulang sekolah; gimana happynya gue waktu bokap nyokab gue jemput ke sekolah di hari sabtu *itu ampe SMA loh. Intinya biar gue tetep aman sampe rumah.

Setelah gue inget masa-masa hidup cuma penuh ha-ha-hi-hi ama urusan percintaan ala monyet, gue keinget masa-masa udah sedikit lebih dewasa, yaitu saat gue bahagia bisa kuliah lagi di Psikologi. Tepatnya saat gue membaca satu buah buku, yang gue lupa buku apa (apalagi nama pengarangnya), tapi gue masih inget satu kutipan di dalamnya, yang kalo diterjemahin, isinya kurang lebih adalah seperti ini…

“Sebenernya manusia itu adalah survivor, karena mereka dekat sekali dengan bahaya. Dari lahir, bayi harus menyesuaikan perubahan dari rahim ke suhu tempat dia dilahirkan; saat keluar rumah ada kemungkinan ia tertabrak kendaraan lain, atau dijahati orang-orang di sekitarnya.”

Yupe. Bener banget. Salah satu tugas manusia hidup di dunia adalah bertahan hidup. Dari semua hal yang manusia hadapi di dunia. Named it lah! Melindungi diri sendiri dari kekerasan fisik? Pasti! Melindungi hati dari “kekejaman” sakit hati-sakit hati lainnya? Pernah ngerasain dapet nilai jelek/gagal ujian or pernah ngerasain patah hati, putus cinta dounks yaaahh??? :mrgreen: Bahkan saat kita ingin berperan jadi super hero untuk orang lain, yaitu usaha untuk melindungi mereka, yang sebenernya mungkin usaha untuk melindungi diri sendiri dari rasa sakit? *Ya..iya lah kalo ibunya, bapaknya, abang/adeknya or pacarnya kenapa-kenapa khan yang sedih kita juga pan?

Tapi gimana rasanya kalo di tengah kerumunan yang kita anggap sebagai orang asing semua, tiba-tiba ada satu atau dua orang yang kita tau/kenal? Waddduuhh…girang betul pasti rasanya. Sama seperti waktu dua hari lalu gue nunggu TransJakarta di halte Dukuh Atas, mau ngambil mobil yang masih terparkir manis di Kuningan, karena gue lebih memilih ke Katedral naik kendaraan umum ketimbang bermacet-macetan dengan mobil pribadi. Menunggu datengnya si TransJakarta koridor 6 ini gue ngeliat satu cewek berdiri di samping gue sambil mainan blackberry miliknya. Karena cewek ini setengah menunduk, jadi gue ga liat penuh mukanya, sampai dia bicara dengan teman di sebelahnya lagi. Suara itu terdengar familiar oleh gue. Dan gue pun menyapa perempuan itu dengan menjentikkan jari gue tepat di depan wajahnya. Seketika teriakan kami berdua pun membahana di satu halte busway tersebut. She’s my high school friend, yang kebetulan orang tua kami saling kenal sejak mereka kecil.

Bis yang kami tunggu pun akhirnya datang. Kami langsung menaikinya dan memilih posisi tempat duduk yang cukup enak untuk mengobrol. Dan setelah gue perhatiin satu bis itu hanya ada suara kami berdua. Hanya ada ketawa kami berdua, yang mengenang masa-masa jaman SMA yang sudah sekian tahun berlalu. Apalagi temannya si teman ini adalah junior 9 tahun di bawah kami.

Ya..ya..ya..masa-masa indah itu sudah hanya tinggal kenangan, masa-masa jaya yang hanya memikirkan hidup hari itu, memikirkan gimana bisa survive ulangan hari itu, bisa survive nyelesein berantemnya kita sama pacar jaman itu, bisa survive ga digencet ama senior, yang waktu itu masalah-masalah tersebut terlihat sebagai masalah besar. Tapi kalo dibandingin ama masalah-masalah sekarang?? Maannn…cupu lah itu semua. Intinya, bisa hidup sampai sekarang ikarena kita berhasil nemuin cara memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.

Talking about survivor, gue jadi inget satu temen. Apalagi pengalaman gue dua hari lalu dengan TransJakarta ini ngingetin gue ama manusia ini. Yah…dari si supir TransJakarta tiba-tiba nyetel lagu There You’ll Be, terus salah satu penumpang blackberry-nya make ring tone suara kentut, sampe si cewek yang ketemu gue tadi namanya sama kayak nama satu cewek inceran temen gue dari jaman dia SMP ampe kuliah, tapi kagak dapet juga, bahkan ditinggal kawin *assslliiikk gue ngakak dalam hati. Temen gue ini pernah ngirim broadcast message *tumben (ngirim) (gue baca), yang kurang lebih isi BMnya kayak gini…

“Human are like animal, they can survive by themselves. If you don’t feel like that, you will be wiped out by nature. I don’t want to be a loser? Do you?”

Yah…so true…we are all survivor…

I guess, God should be thankful to us who still want to survive in this fucking world?

And hey, you, there, my friend, my dear…who sent me that broadcast message, hopefully you’re not a loser, for yourself, in your own eyes, and/or in other’s sight! Including mine! :mrgreen:

i-survived

Black and Blue…

Tuesday, June 21st, 2011

When he/she becomes everything for you…

Though we have to get some bruises because of it…

Just because we are overjoyed… *jleebbbb…

But please,…just stay gold…

Because you are a firework…

Cinta

Mengapa kita menutup mata ketika kita tidur, ketika kita menangis, ketika kita membayangkan, ketika kita berciuman? Ini karena hal terindah di dunia tidak terlihat

Kita semua agak aneh, dan hidup sendiri juga agak aneh. Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita,  maka kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA.

Mencintai bukan bagaimana melupakan, melainkan memaafkan. Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu mengerti. Bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasakan. Bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu bertahan. Apabila cinta tidak berhasil, bebaskan dirimu. Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi.

Ingatlah bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersamanya.

Kadangkala orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu, dan kadangkala teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.

-Anonymous-

—-

Dedicated to someone who loves someone who loves someone else…

And it reminds me of one of profile pictures of my bbm contacts…

Love isnt complicated people are

I Did That Because I Want It With You…Badly!…

Monday, June 13th, 2011

Hari Minggu kemarin tumben-tumbenan saya ke pergi ke gereja sendirian. Biasanya ada Ibu dan/atau Bapak yang bersama saya.

*This is what I like…driving all alone, tanpa buru-buru, tanpa ada janji apapun sama sapapun, tanpa gangguan dari sapapun dan apapun, bebas kemana pun, dan tanpa macet! Bisa  lebih dari 120km/hour pun.

Literally dari siapapun dan dari apapun, kecuali gangguan saat mengendarai mobil. Tape mobil sengaja tidak saya nyalakan. Telepon genggam yang khusus nomor urusan kantor, saya bawa tapi saya silent, just incase saya butuh untuk menelepon. Dan Si Bébé sudah saya bekep, matiaw dari Sabtu sore, tidak hanya mematikannya, tapi melepas baterainya *Sampai sekarang.

“Sekali-kali biar pada ngerasain kalo ga ada gue gimana, susah nyari gue gimana.”

Tidak ada BB berarti pula hidup saya dari Sabtu sore hingga sekarang (Senin sore) tanpa ada BBM, baik menerima maupun (berpikiran untuk tidak) mengirim, dan mengharapkan ada yang mengirimi saya BBM dan mengecek saya masih hidup atau tidak di dunia ini. Tidak pula harus menerima SMS dari si Mama minta pulsa dan penawaran KTA dan kartu kredit yang terus-menerus. Tidak harus melongok ke time line twitter dan mulai kepo dengan urusan orang lain, atau membuat orang lain penasaran dan bertanya-tanya tentang time line yang saya lempar ke publik. Tidak perlu terima telepon dari keluarga, teman lama, maupun teman dekat, dan mungkin dari “teman” saya *Karena nomor si Bébé adalah nomor untuk urusan pribadi saya, bukan urusan kantor.

Ya kira-kira begitulah kegiatan saya yang berkaitan dengan si Bébé. Tetapi BBM sepertinya adalah “jantung hati” dari si Bébé.  Walaupun terkadang cukup annoying jika chatting dari grup-grup yang saya ikut tergabung di dalamnya, penuh dengan celotehan para anggotanya. Lagipula selama ini hanya ada satu orang yang sangat saya harapkan untuk mengirimi saya pesan di BBM. Ahh..jadi ingat percakapan saya dengan orang itu tepat dua minggu lalu.

Bali, 30 Mei 2011…

Saya: Aku kok kangen ya BBM-an ama kamu ya…

Dia: Hahahahaha…lagi ga perlu khan?

Saya: Selama ini yang paling aku tunggu ya BBM dari kamu…

Dia: Iya aku juga…

Tetapi saat ini, seseorang yang saya maksud di perbincangan di atas tersebut pun, tidak mampu mengurungkan niat saya untuk tetap mencopot baterai si Bébé dan membuatnya terdiam beberapa hari.

“Aaahhh…he knows me well kok…he already knows who is he dealing with now! Jangan-jangan dia ngga nyari gue pun. Hahahahahaha.”

Sempat beberapa kali, tidak hanya sekarang, telepon genggam ini saya anggap sebagai sumber hiruk pikuk dunia saya sendiri. Walaupun tidak munafik, tawaran pekerjaan bisa bermula dari komunikasi saya dengan seseorang dengan memakai telepon genggam ini. Atau ajakan bertemu dengan teman lama. Atau usaha perjodohan yang dilakukan oleh beberapa teman, yang sampai saat ini tampaknya masih sia-sia… :mrgreen: *Haaayyyooo…nyari sajennya yang lebih mutu dounks aaahh… :lol:

Kali ini, tepatnya beberapa hari ini, telepon genggam saya anggap merupakan sumber tingkat kebisingan hidup (hati) paling tinggi. Walaupun sudah lebih dari 3 bulan, si Bébé selalu saya kondisikan diam. Alasan utamanya adalah, saya malas mendengar bunyi-bunyian yang berasal darinya, dan saya hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang yang saya kenal (dekat). Jadi kalau saya tidak mau mengangkat teleponnya atau membalas BBM atau SMS, akan saya biarkan, kalau saya sedang tidak bisa mengangkat telepon dari mereka, ya saya akan membalas menelepon hanya ke mereka yang saya inginkan.

Kembali ke situasi kemarin. Saat saya harus pergi ke gereja sendirian. Satu hal yang saya rasakan sangat, dari pertama kali roda berputar akibat saya arahkan dengan stir adalah: peaceful. No tape. No sounds of human. Ga perlu ribet denger bunyi handphone. Dan yang terpenting adalah ga perlu mengharapkan apapun, dari siapapun yang mungkin datang dari perangkat-perangkat yang katanya pintar itu, yang membuat saya harus melongok ke arah layar mereka.

Jadilah hidup penuh kedamaian dari rumah-meruya-tol kebon jeruk-tomang-harmoni-jalan pos- lapangan banteng-meratapi nasib dan ngomel-ngomel ama Tuhan sebentar di Katedral-balik nyetir lagi masuk juanda-jalan veteran-depan Monas-Thamrin-Sudirman-bunderan senayan-pintu I-berhenti menghirup kebisingan sebentar di Plaza Senayan buat ngisi perut dan belanja beberapa botol-Asia Afrika-Simprug-jalan panjang-meruya-rumah, dari pukul 17.20 – 22.00.

Life is like a roller coster. Karena BBM juga, saya berkenalan dengan seseorang yang entah tak tahu kenapa, saya biarkan exist di hidup saya. Saya manusia kompleks yang penuh pertimbangan ini-itu. Saya manusia yang pada dasarnya manusia super cranky yang kena “hajar” oleh seseorang selama hampir 8 tahun dan berubah menjadi manusia yang cukup bisa memahami orang lain jauh lebih baik daripada masa-masa jahililah dulu. Saya yang secara periodik melakukan proses pemilihan remove terhadap kontak BBM juga daftar teman di Facebook dan juga follower di twitter. Saya yang kadang masih tidak memahami keputusan saya sendiri, mengapa mereka yang namanya hanya diam bertengger di akun-akun tersebut, tanpa pernah menyakiti saya, tapi saya ikutsertakan dalam daftar seleksi remove, sedangkan mereka yang pernah menyakiti saya, bahkan membuat saya geram dan menangis, saya biarkan tetap bertengger di sana, dan tetap saya biarkan mengikuti sebagian atau bahkan seluruh jejak langkah kehidupan saya.

“I do not share those kind of sexy things with everyone I considered as friends. Again…i did that because i want it with you,” and yes, my whole life is so sexy to get to know about…

Am I the one and only you (want to) share about the whole your sexy life or?

Think about it, Baby!!

-me, the one you called as little girl-

====

“Pada kangen ama gue ga ya? Gak ya? Ohhh..ya sud..maap ya jumpa fansnya lagi ditutup sementara.”

:mrgreen:

Atau Perempuan Tolol Yang Sedang Jatuh Cinta?…

Monday, June 13th, 2011

Hidup percintaan sepertinya memang ga pernah habis untuk dibicarakan. Kalau sudah urusan hati, selesai sudah, tamat segala urusan yang sebelumnya tampak baik-baik saja, seketika dalam hitungan detik, bahkan dalam hitungan kerling mata, buyar berantakan, hancur berkeping-keping.

Tag line boys still will be boys…and girls still will be girls, sepertinya memang segala akhir dari runutan cerita benang kusut yang sering terjadi jika urusan dua sosok aneh, bertemu. Pertemuan apapun itu. Bisa hati, atau pertemuan lainnya yang bukan berarti juga pertemuan hati (sekarang atau nanti) dan/atau pertemuan sepemikiran *Kok gue pun jadi bingung ama omongan gue ndiri :mrgreen: *Jadi inget tweet seseorang beberapa hari lalu: When two lips met didn’t mean two hearts do. *Jleeebbb…+ irisan jeruk nipis

Koleksi kisah percintaan baik milik teman yang dititipkan ke saya, maupun kisah pribadi (yang ga kalah serunya) sering membuat saya mengernyitkan dahi, dan berpikir “Ini yang geblek yang mana ya? Yang satu bodo, yang satunya bodoh.”

Pertemuan antara venus dan mars memang nyehe kalau dipikir-pikir lebih lanjut. Entah berapa banyak makhluk yang sudah melakukan tindakan-tindakan bodoh, akibat si cinta kampret ini…

Dan “koleksi” kisah percintaan terbaru yang terekam secara otomatis dengan indera saya di bawah ini, kembali membuat saya geleng-geleng kepala…

Perempuan itu menunjukkan sebuat foto, seorang pria dan ada perempuan di sampingnya…

“Ini fotonya dia.”

“Udah officially jadian?”

“Kayaknya.”

*Sebelum lanjut…beneran deh…foto apapun itu, apalagi profile picture BB cowok-cewek bukan berarti pasangan berstatus jelas loo…serius ini gue…eh atau memang jelas-jelas selingkuhan (gila beneran kalo foto selingkuhan di pasang di BBM) atau jelas-jelas gak jelasnya… :lol:

“Kok kayaknya, biasanya sih kalo dah ditarokh di pp gini, dah jadian looo. Biasanya. Apalagi dua-duanya pasang foto yang sama. Gimana cara elo jadi kontak BBM di dua makhluk itu? Berarti waktu dia intens sama elo itu juga intens sama perempuan itu? Terus elo sedih?”

“Ya iya lah.”

“Wajar.”

“Ampe nangis-nangis gue, dan gue mau marah-marah ama dia.”

“Iya loohh…ampe tilpun gue sesenggukan dari gudang divisi loe pun. Tapi hak loe apa ya marah-marah ke dia? Marah-marah karena jalan ama elo dan jalan ama tuch cewek di masa yang samaan?”

“Iya.”

“Sapa loe? Pacarnya dia mang waktu itu? Atau cuma karena elo yang jadiin dia prioritas elo tapi dia jadiin elo pilihan? Marah karena waktu itu elo dibiarkan nunggu berjam-jam tanpa kejelasan mau pergi atau ngga ternyata dia jalan ama perempuan itu? Though yang terakhir elo emang berhak kesel sih, dah janjian tapi tanpa kabar elo dibiarin nunggu.”

“Akhirnya gue remove dia dari kontak bbm gue.”

“Loohh kenapa?”

“Ga worth. Terus beberapa hari kemudian, dia nyamperin gue dan nanya-nanya kenapa gue diapus dari BBM kontaknya.”

“Elo boongin ajah. Blaga pilon. Bilang kek ke apus ga sengaja. Soalnya dulu gue kayak gitu.”

“Hahahah…gue pun kemaren begono.”

*Setuju gue…ga guna? ga perlu lah ada di kontak BBM…done that couple of times :mrgreen:

Another story from broken-hearted…

“Gue lagi kacau.”

“Gue telpon elo.”

“Kenapa loe? Masih nangis-nangis? Sampe kapan?” *Sumpah ya…Sampe Kapan itu adalah pertanyaan super nyeeeeehhhhheeeee…serius!!!!

“Ga tau. Gue minta dia ninggalin gue.” *Dan Ga Tau adalah jawaban paling aman nan rancu binti menye-menye…

“Ya udah lah…there’s nothing that we can do. Sometimes admit that we still love them but we have to lose them is the best way for the next 1 year at least…hahahaha…bukan untuk sekarang-sekarang sih. Try to sleep gih.”

“Gue takut tidur. Gue ga mau kebangun and sadar dia udah ga sama gue lagi. Nyakitin gue.” *Hyyyaaahhh…setuju gue…!!! Wake up in the morning and you realized something that you don’t  even want to know…sucks!!!

“Semua ada masanya sih. Mang yang kayak-kayak gitu harus dilaluin. Suka ga suka, mau ga mau. Mari ambil cangkul, gali kuburan, atau perpanjang kuku buat ngais-ngais aspal, atau sering-sering main ama anjing tetangga, biar suara kaing-kaing kita lebih mirip aslinya, atau ambil botol aja bouw…tenggak isinya…mayan ada sleeping pill.”

Atau “kisah sengsara” seorang perempuan yang berusaha selalu ada untuk seseorang pria yang dia sayangi, tapi sayangnya pria itu masih sangat terluka karena gagalnya ekspektasinya untuk menikah dengan perempuan jaman dahulunya. Perempuan yang membuat si pria melegalkan dirinya untuk “dirusak”, “dikacaukan”, tidak oleh orang lain, tapi oleh si pria itu sendiri. Usaha mampus si perempuan (yang saat ini sayang mati-matian ama si pria itu), “setidaknya” untuk menghapus legalisir tersebut, belum membuahkan hasil sampai saat ini *Mungkiiiiinnn!!!…belom dapet update terbaru dari mereka cyyynnn…gue khan sotoyyy…

“Tapi aku perempuan yang diajarin ama lingkungan untuk bisa tetep komit ama omonganku sendiri…yang kali ini adalah aku ada untuk kamu…aku bakal sayang kamu ampe kamu masuk peti mati…though nanti saat kamu dah sembuh total dari “penyakit” kamu and you choose one girl to take care of you completely yang most likely bukan aku…aku harus ngurangin porsinya yang selama ini aku kasih ke kamu…and let her do what i do…Love someone unconditional is not easy…at all…but you make me how to learn about it…though aku harus tercabik2..and dikasih irisan jeruk nipis di atas cabikan itu…” *Giiillaaaakkhh…kok mau ya? :lol:

Ini baru tiga dari sekian cerita yang menari-menari lucu di otak saya. Library saya tentang kisah cinta, masih banyak. Mau yang seperti apa, tinggal pilih. Mau yang original atau modifikasi beberapa cerita?

Anywaaaayyy…geleng-geleng kepala saya sampai saat ini tambah disertai dengan satu kalimat…

“Ini semua atas nama cinta, atas nama ketololan, atas nama perempuan, atau atas nama perempuan tolol yang sedang jatuh cinta?”

Dan… boooliat nih gambar…pasang di jidat kalo perlu…

tumblr_lki6p2yMp21qcrsn7o1_400

Dan pertanyaan selanjutnya adalah: “Yaaakkeeeennn bisa?” *Prrreeeeetttt…!!!

So start from now…maybe this quote from Shakespear can help…

“I always feel happy. You know why? Because I don’t expect anything from anyone. Expectation always hurts!!”

Dan satu bawel lagi: “Sampe kapan bisa ga expect anything from anyone?” *Jyaaaaaahhhh…

—-

Satu setting saat seseorang perempuan, yang di antara jari telunjuk dan tengahnya sedang terselip satu batang rokok yang masih menyala, sedang duduk berdampingan dengan seorang pria, yang di depannya sudah tersedia satu shot minuman hasil campuran antara minuman beralkohol dan cola, yang ditambahkan beberapa kotak es batu, dan terdengar perbincangan berikut ini keluar dari mulut mereka berdua:

Pria: “Berasa lagi pengen bunuh orang.”

Perempuan: “Bunuh aku aja. Volunteer loh.”

Pria: “Ngomongnya ga banget sih,” yang disertai dengan tatapan mata tajam dari si pria.

Perempuan: *Jiper sih kayaknya… *Jiper? Bahasa loooeee ‘Cha…

—-

Dasar perempuan! Tolol?

Ga taaauuukkkhh aaakkkhhh…ga mau mikir:mrgreen:

Pulang…Ngga…Pulang…Ngga…

Friday, April 29th, 2011

I know…No strings attached between us…now…
But all I know, this is what I ask to him every month…
“Kamu bulan ini pulang gak?”
“Ntar dikabarin ya,” itu jawabannya untuk bulan ini…

Perfect Monday For Us…

Tuesday, April 19th, 2011

Saya: Yak sekarang gue migren. What a perfect Monday.

Dirinya: Sorry gue dah balik ke kost.

Saya: Ya iyalah sana udah stg 6.

Dirinya: Eh ‘Cha btw, gue liat fotonya si monyong ama pacarnya di pp bbm gue. Guess what, rasanya kayak apa?

Saya: Hyyyaaaahhh dia manggilnya udah si monyong lagi. Apa rasanya? Biasa aja?

Dirinya: Kenapa, kurang cocok dipanggil monyong? Mau gue ganti kambing? Iya rasanya biasa aja. Masih benci dikit sih. Bulan lalu, gue masih terlalu dengerin perasaan gue sendiri ajah.

Saya: Ahhhhh…senang dengarnyah…sHug_bestbuddyhug_100-100

Dirinya: Again, thanks to you ‘Cha sHug_bestbuddyhug_100-100

Saya: Sama-sama…. *and I mentioned one name:mrgreen:

Dirinya: Gue dah ga terlalu sakit ‘Cha…

Saya: Thanks for letting me to be there 4 you…ada gunanya juga gue di idup loe… :mrgreen:

*Seee…sotoy-nya gue berguna khan buat elo…hahaha…keknya bukan 90% lagi sotoynya gue bener di elo, tapi udah jadi 95%…bentar-bentar…am I good counselor?

taken from BeBeEm chatting 18th April 2011