Archive for the ‘Informasi’ Category

Gaya, Cantik, Asli, Gak Malu-Maluin…

Tuesday, January 5th, 2010

Perempuan mana sih yang tidak suka tampil gaya dan cantik?

Apapun caranya, setiap perempuan ingin tampil cantik, mempunyai gaya tersendiri, dan enak dilihat oleh orang lain. Ada yang mengandalkan riasan wajah dan ada pula yang mengandalkan busana. Yah, walaupun keduanya adalah hal yang mampu membuat si perempuan merelakan sebagian kecil, bahkan sebagian besar, penghasilannya sendiri, atau penghasilan pasangannya sebagai modal berpenampilan aduhai setiap harinya.

Saya, sebagai perempuan (yang kebetulan hanya urusan hardware dan casing-nya), termasuk sangat peduli untuk urusan penampilan. Tapi andalan saya bukan di urusan rias wajah, melainkan busana dan printilan fesyen yang saya gunakan tiap hari.

Riasan wajah hanya akan menempel lengkap di wajah saya, saat saya akan pergi ke pesta, terutama pesta pernikahan. Sedangkan riasan harian, saya hanya mengandalkan pelembab wajah Seaweed dari The Body Shop, dan bedak tabur, Marcks, buatan Kimia Farma, yang harganya kurang dari Rp.10.000 yang kebetulan dianjurkan dokter kulit saya. Jadi bisa dibilang, penghasilan saya tidak akan banyak “lari” ke peralatan dan perlengkapan tata rias wajah. Produk dari The Body Shop dan Revlon, yang mendominasi koleksi peralatan dan perlengkapan tata rias wajah saya, cukup awet, dan bahkan ada yang akhirnya saya relakan untuk dibuang, karena takut sudah terlalu lama, dan sudah tidak laik pakai.

Lain produk make up, lain pula urusan fesyen dan printilannya. Yang satu ini, terus terang cukup “menyiksa” penghasilan saya, walaupun saat ini, saya sudah lebih bisa menahan diri untuk belanja ina-ini-itu yang sangat-sangat tidak penting. Tapi teteup benda tidak penting (saat ini) kadang pun terbeli. Dan saat-saat paling menyiksa adalah tengah tahun dan akhir tahun, di mana pesta diskon digelar beramai-ramai. Termasuk merek-merek andalan Mango, Zara, (X) SML, Invio, dan G2000.

Dan hari terakhir di tahun 2009 lalu, saya pun merelakan sekian gaji saya terlempar ke butik yang saya sebutkan di atas.

Tema perburuan hari itu adalah outfit untuk ngantor, karena saya sudah mulai bosan dengan koleksi baju kantor saya.

Perburuan dimulai dari Plaza Semanggi, karena saya tahu di sana ada butik Invio dan gerai G2000, yang saat ini masih jadi andalan saya mencari baju-baju untuk ngantor. Satu sih yang jelas, mengapa saya memilih dua merek itu, karena ada ukuran saya, si skinny ini. Dan modelnya yang dikeluarkan oleh dua merek tersebut, masih bisa saya katakan cocok untuk digunakan ngantor di toko saat ini. Karena belum kembali diizinkan Tuhan sebagai penghuni gedung-gedung perkantoran megah di daerah Sudirman dan sekitarnya, jadi, koleksi seperti Zara Woman, Raoul, belum saatnya saya jadikan koleksi pakaian ngantor, walaupun koleksi Mango Suit sudah ada yang tergantung di gantungan pakaian di kamar saya.

Tapi dari butik-butik andalan saya mencari baju ngantor, saya hanya membeli 1 kemeja kotak-kotak merah di Invio, dari harga Rp.368.000 menjadi Rp.184.000. Dan karena saya berpikir, “Ngecek Mango ahhh.”

Selesai sudah urusan belanja-belanji akhir tahun? Gak mungkin, lah wong saat saya melirik jam tangan, masih jam 11.00 pagi.

Perburuan dilanjutkan ke Plaza Senayan. Ada Mango, ada Zara. Walaupun ada pusat perbelanjaan lain seperti Grand Indonesia dan Pondok Indah Mall, di mana dua butik Spanyol itu ada. Tapi tak tahu kenapa Plaza Senayan tetap menjadi pilihan nyaman saya untuk belanja.

Setelah beberapa putaran, mengitari dan melihat-lihat di Zara, saya bisa terselamatkan dari tentengan belanjaan di butik ini.

Tapi tidak di Mango. Padahal saya hampir putus asa saat mengitari Mango. Mungkin karena display barang diskon yang banyak dan sedikit terlihat lebih berantakan, biasanya membuat saya sedikit kehilangan mood belanja.

“Dem, gue lagi nyari celana ini, kok ga ada yang bagus ya. 34-nya kemana semua ya? Jangan bilang dah abis, ini kok yang ada yang gede-gede sih, 38, 40, yang kecil maneee,” kira-kira itu perbincangan saya dengan diri sendiri, sampai saya berbincang dengan penjaga butik…

“Mbak, ukurannya tinggal yang di sini?”

“Iya.”

Kembali berbincang dengan diri sendiri…

“Denial, kayak baru sekali belanja ke Mango, ya kalo diskon ukurannya cuma yang dipajang, Cung!”

Dan kembali saya menggeser-geser deretan celana panjang yang tergantung di sana…

“Eh, nih dia nih yang waktu itu gue incer, masih ada pula 34 nya. Yang waktu itu kacrut harganya, 1 jeti lebih. Sekarang berapa ya? Eh, kok jadi 399 ya, tapi kok kayaknya kegedean. Coba dulu ah.”

Sambil menuju ruang ganti, saya kembali menggeser deretan gantungan celana di sana, dan…

“Jrit, Mango Casual Sport pulakh ini. Berapa sekarang? What 179 dari 600 rebu lebih? Coba juga aaahh.”

Dan saat mencoba…

“Weiitss…pas niy, tapi nih kaki kepanjangan deh,” lalu saya pun sambil masih mengenakan celana yang saya coba, keluar dari ruang coba, untuk melihat jatuh si celana itu, karena di depan deretan ruang coba di Mango, terdapat satu cermin besar tak ada potongannya dari ujung ke ujung tembok.

Kebetulan di sana ada pramuniaga yang menjaga…

“Mbak, masih bisa alter celana ga sih?”

“Masih.”

“Tapi lama ya, 2 minggu?”

“Gak kok, paling 4 harian.”

“Mau dounks mbak yang ini bisa khan dipotongin, kalo ga potongin di sini, ntar modelnya ilang.”

Yupe…dan 400 ribu pun sudah bisa dipastikan masuk ke POS kasir si Mango.

Berikutnya si Mango Casual Sport Wear. Saya pun berharap, jatuhnya si celana yang satu ini tidak bagus. Tapi harapan saya ternyata tidak terwujud. Celana warna kakis, berbahan kordorai halus dan berpinggang tinggi, ini pun jatuh manis di kaki saya.

Kembali saya keluar dari kamar coba, dan bertanya pada si pramuniaga…

“Mbak ini khan modelnya agak lebar di bawah ya, ga lurus. Terus bawahnya tekukan celananya ga biasa kayak celana lain, kalo dipotongin modelnya masih sama ga?”

“Bentar saya coba tekuk dulu ya, sesuai dengan panjang kaki, Mbak.”

Pramuniaga itu pun kembali mengukur panjang celana yang disesuaikan dengan panjang kaki saya…

“Masih bisa nih Mbak, modelnya ga ilang kok.”

Dan, sudah tahu ya apa yang terjadi kemudian? Hahahaha…Dua celana tersebut berhasil saya bawa pulang, setelah nanti selesai divermak.

Saya pun berkata dalam hati…”Puas gue belanja hari ini.”

Cerita saya selesai sampai sini? Belum… :mrgreen:

Mungkin di antara teman-teman yang baca cerita ini, ada yang berkata dalam hati…”Sombong, sampai nunjukkin harganya segala.”

Saya akan jawab, “Terserah ya mikirnya apa.”

Tapi sebenarnya yang saya ingin tunjukkan di sini adalah, belanja di butik mahal itu bisa juga jadi murah, asal pintar memilih barang, waktu dan disesuaikan dengan keuangan + kebutuhan (klasik sih memang).

Dan hal yang lebih penting lagi, bagi saya pribadi, orisinalitas produk adalah suatu hal yang penting. Pertama, penghargaan terhadap karya seseorang; Kedua, jika produk asli tidak sanggup dibeli, ya tidak perlu mencari produk serupa tapi tidak asli, atau KW 1, KW 2 atau KW berapa pun. Lebih baik cari barang asli, dengan harga yang terjangkau, atau menunggu datangnya program diskon untuk barang-barang yang memang sangat mahal. Dari perburuan program diskon, saya pernah loh mendapatkan rok jeans Oakley dari harga Rp.1.200.000 menjadi Rp.200.000, sack dress berbahan wool Mango Suit dari Rp.1.100.000 menjadi Rp.800.000, sackdress Mango Sport Casual Wear dari Rp.800.000 menjadi Rp.600.000 (*Eh, yang dua terakhir ini ga pake duit gue ndiri ding, ada yang sukarela belanjain*:lol:), sackdress hitam Zara dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, sackdress hitam Mango dari Rp.700.000an menjadi Rp.200.000an, overall skirt Mango Jeans dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, high heels Zara dari harga Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, Guess hand bag dari Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, dan belanjaan yang terakhir, celana panjang Mango Suit dari harga kisaran 1 juta, menjadi Rp.399.000 dan celana Mango Sport Casual Wear dari kisaran harga Rp.600.000 menjadi Rp.179.000. Dan jangan salah, saya pernah iseng masuk ke butik Raoul saat diskon, banyak loh koleksi mereka yang dijual dengan harga Rp.300.000an, walaupun saat itu saya tidak membelinya, karena saya masih kuliah;  Ketiga, barang asli memang biasanya mahal, tapi kualitasnya juga pasti berbeda, setidaknya dari ketahanan barang tersebut, jadi urusan awet (yang harus didukung dengan kondisi penyimpanan dan pemeliharaan), biasanya tidak perlu diragukan lagi, kecuali kalau ukuran tubuh kita yang mengalami perubahan; Keempat, jangan pernah takut keluar-masuk butik, tentunya butik yang kisaran harga barang yang dijual di sana, memang sesuai dengan keuangan kita.

Saya belum mampu membeli produk-produk sekelas Prada, Louis Vuitton, Burberry, Jimmy Choo, Christian Louboutin, Chanel, dan saya tidak akan mencari barang tiruannya, apalagi memakainya.

Jadi, perempuan tetep bisa berpenampilan gaya, cantik, dengan barang-barang bermerek terkenal dengan harga terjangkau ‘kan? Jangan malas berburu diskon, salah satu kuncinya.

By the way, tante saya punya cerita tentang seseorang dan barang KW ini.

Tante saya ini adalah penggemar dan kolektor fanatik Louis Vuitton, dan Puji Tuhan, saat ini ia masih diberi rejeki yang memampukannya belanja merek tersebut di negara asalnya, bahkan namanya sudah terdaftar menjadi pelanggan butik LV, yang berada di Paris, Perancis.

Saat ia sedang belanja di sana, tiba-tiba ada orang Indonesia, yang dengan nekatnya masuk ke dalam butik, sambil menenteng satu tas merek tersebut, tapi bukan tas LV asli, melainkan yang KW kesekian. Dan seketika salah satu penjaga butik, memanggilnya dan menjelaskan untuk tidak memasuki butiknya dengan membawa barang yang bukan asli. Ternyata mereka sudah sangat ahli membedakan, mana produk asli dan mana yang tiruan. Tidak hanya memanggil si ibu tadi, tapi kemudian ibu tadi diberi tas plastik kresek warna hitam, tanpa nama apapun di depannya, ia diminta untuk memasukkan tas LV-LVannya itu tadi ke dalam tas plastik tersebut, dan kemudian ia diminta untuk meninggalkan butik segera.

Berarti satu lagi lah ya…perempuan harus bisa tampil gaya, cantik, dan tak malu-maluin karena ketauan memakai barang KW atau barang tiruan.

Jadi buat mereka yang mendapat rezeki ke Perancis, dan nekat bawa tas LV yang tiruannya, jangan nekat juga ya masuk ke butik LV di sana. Jangan bikin malu…hihihihi… :mrgreen:

“Kutukan” Hujan…

Friday, November 20th, 2009

Sudah masuk ke musim hujan nih…kira-kira yang istimewa saat musim hujan apa ya, selain waktunya kita bisa kembali menye-menye nan mellow?

Sudah tahu jawabannya?

Hehehehe…istimewanya adalah macet dan banjir. Dua hal yang membuat kesal saat kita sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat, kala hujan melanda.

Hayyyuuukkk…kita daftar, kira-kira “kutukan” bepergian saat hujan itu ada apa saja…

Yang jelas, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, akan lebih lama daripada biasanya, menyebabkan stress tingkat tinggi (*lebay*) saat kita di kendaraan (apalagi untuk yang mengendarai mobil sendiri), mungkin juga bisa terserang panik tiba-tiba. Panik karena lihat bensin yang semakin tiris, panik karena tiba-tiba jalanan di depan kita dipenuhi genangan air yang cukup tinggi. Intinya banyak-lah kondisi-kondisi di jalanan yang mengejutkan saat kita bepergian kala hujan.

Hal pertama imbas turunnya hujan untuk kendaraan tersayang, pastinya adalah kotor. Sepertinya, berdasarkan pengalaman pribadi sih, tidak ada satu bagian luar mobil, yang tak menjadi kotor. Dan kalau sudah begini, berarti sesampainya di rumah, saya sudah punya PR satu buah, yaitu mencucinya agar ia kembali menjadi kinclong.

Itu baru satu “kutukan” PR to do list berkendara saat musim hujan. Lainnya lagi adalah urusan pintar-pintar mencari jalan yang terbebas banjir atau genangan air. Ya, walau nih walau susah bener nyari jalanan di Jakarta yang terbebas dari genangan air. Karena dengan terbebasnya jalanan kita dari genangan air, berarti pula kita bisa terbebas dari macet, terbebas dari stress, dan terbebas dari printilan perbaikan-perbaikan mobil yang diperlukan hanya karena si banjir ini. Tapi, ya sekali lagi saya katakan, itu semua, lebih sering hanya ada di dalam mimpi. Alias kecil sekali kemungkinannya jalanan di Jakarta terbebas banjir.

Terus terang, kepanikan-kepanikan mengendarai mobil di tengah hujan badai, macet dan genangan air di mana-mana, sempat beberapa kali saya temui. Dan waktu itu sempat pula ditambah dengan bensin yang tiris, dan kebelet pipis. Sumpah ngga enak dan menyebalkan. Kalau saat itu saya bisa mematikan mesin, buka pintu mobil dan meninggalkan mobil di tengah jalanan, tentu sudah saya lakukan, setidaknya untuk mencari toilet (*hahahahhaha*).

Kunci pertama saat menghadapi kenyataan-kenyataan pahit di jalanan seperti itu adalah, berusahalah jangan panik, agar kita bisa berpikir panjang, tentang apa yang harus kita lakukan.

Untuk urusan pilah-pilih jalanan terbebas dari banjir yang memang dirasakan susah, ya itu memang sudah merupakan “tanda tangan kontrak” bagi manusia-manusia yang memilih hidup di Jakarta. Jadi, kalau saya berada di situasi seperti itu, saya akan menyiasati dengan berusaha mencari jalan dengan genangan air terendah. Bagaimana caranya? Kendaraan yang melaju di depan kita bisa jadi patokan. Kita bisa melihat seberapa dalam genangan air, atau adakah lubang atau jalanan yang rusak, tapi tertutup oleh air, sehingga mobil bisa kita arahkan ke sisi jalan yang genangan airnya tidak terlalu tinggi.

Untuk urusan bensin, lebih baik sih saat musim-musim hujan seperti sekarang ini, bensin terisi penuh, atau setidaknya jangan di bawah setengah. Jika memang kamu terlupa mengisi bensin, kepepet,  jarak SPBU terdekat masih sedikit jauh, dan kamu melihat ada penjual bensin eceran di pinggir jalan, tak apa juga kamu mengisinya satu atau dua liter.

Tingkat keamanan juga harus diperhatikan loh. Apalagi untuk cecewe yang berkendara sendirian. Hal ini juga berlaku jika kalian memutuskan lebih baik berhenti di sebuah tempat, daripada melanjutkan perjalanan dalam keadaan hujan dan macet, terutama saat kondisi fisik sudah tidak sanggup. Lebih baik memilih pusat perbelanjaan, depan kantor polisi, restoran ramai pengunjung sebagai tempat untuk beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan. Jangan di tempat yang sepi dan gelap.

Tapi hal paling top dari segala tips pribadi yang saya sebutkan di atas, adalah rajin-rajinlah merawat mobil, kalau bisa usahakan jauh-jauh hari sebelum musim hujan tiba. Ya anggaplah, ritual ke bengkel kali ini merupakan “tarian manggil hujan”, atau setidaknya lakukan pemeriksaan sendiri (oli, water coolant, kemungkinan-kemungkinan ada yang bocor) sebelum berangkat beraktivitas.

Jangan pernah malas membawa mobil tercinta ke bengkel. Bukan berarti ya cecewe-cecewe itu hanya bisa maké mobilnya saja, tapi tak mau merawatnya.

Weeeiiitttsss…perempuan yang satu ini juga sering looo…meriksain mobil ke bengkel resmi. Untuk perawatan berkala, dan saat-saat khusus yang diperlukan. Misalnya jika ditemukan bunyi-bunyian aneh dan tak seharusnya, kondisi mobil saat dipakai berkendara tidak seenak biasanya, dan lain-lain.

Ah…daripada kebanyakan ngebacot sendiri, mendingan kalian baca tips dari pakarnya langsung kali ya? Nih, saya berbaik hati, saya taruh linknya di sini.

Untuk tips agar kalian tidak mudah panik/emosi mengendarai kendaraan di jalanan macet bisa klik di artikel ini, dan salah satu tips merawat mobil bisa lihat di artikel yang ini.

Ingat ya, saat kalian mengendarai mobil waktu hujan turun, dan terpaksa menerjang semua kondisi jalanan yang sering mengejutkan itu, berarti kalian bertugas untuk “menyelamatkan” diri kalian sendiri dan juga diri si mobil. Jadi cari cara tepat agar dua-duanya tidak ada yang terluka, atau harus dikorbankan. Apalagi kalau mobilnya si Hyundai I10, jangan sampai ia merasa dikorbankan.

—-

“Errr…pertanyaan masih berlaku nih, ada yang mau beliin I10 ini untuk saya?” :mrgreen:

—-

So, happy driving, Gurls!!!

Udah Gak Takut Lagi…

Friday, November 6th, 2009

Perempuan yang satu ini, a.k.a saya, dari usia belia (*Halaaggghh*) sudah bisa mengendarai mobil. Untuk urusan yang ini, saya memang sudah ditatar oleh si Bapak, dari saya masih mengenakan seragam putih-biru, dengan izin Ibu yang saat itu sedang tidak kolot. Katanya Ibu saat itu…

“Biarpun perempuan, harus bisa nyetir, nanti kalo anaknya sakit biar bisa bawa ke dokter sendirian kalo kepepet, makannya dari sekarang mulai belajarnya, biar nanti nyetirnya ga kayak gaya nyetir perempuan kebanyakan.”

Weeeiitttss tunggu dulu…bisa mengendarai mobil sendiri saat belum cukup umur, bukan berarti saya bisa sembarangan mengendarai mobil di jalan loh ya. Latihan awal hanya seputar Parkir Timur Gelora Bung Karno, tidak keluar dari area latihan mengendari mobil, yang saat itu masih ada, dan ramai pengunjung.

Saat sudah memasuki usia layak mempunyai SIM A, saya tidak langsung diperbolehkan orang tua untuk mengurus SIM A ini. Alasannya adalah dengan usia saya saat itu, saya belum bisa dengan cepat mengambil keputusan kalau terjadi apa-apa di jalan. Saya belum boleh mengendarai mobil kemana-mana sendirian.

Saya ingat betul SIM A baru ada di tangan saya saat saya berusia 19 tahun, itu pun masih belum diperbolehkan bepergian mengendarai mobil sendirian. Intinya saya masih harus jadi “supir” orang tua saya (*Menyebalkan!! hehehheh*).

Dua tahun kemudian, keberuntungan mendatangi saya. Oma saya dari luar kota datang, dan sedang menginap di rumah tante. Si Oma ingin sekali berkunjung ke rumah saya. Bapak, dan kedua abang saya sedang tidak ada di rumah. Tinggallah saya yang saat itu sedang libur kuliah dan ibu saya, yang berada di rumah.

Ibu saya memang bisa mengendarai mobil, tapi ia tak berani mengendarainya di jalanan ramai seperti di Jakarta ini. Dan karena si Oma ngotot untuk datang, dan si Ibu sedang sibuk masak untuk menyambut kedatangan Oma, maka hal ini pun terjadi…

“Sa, kamu jemput Oma ya. Mama lagi sibuk masak nih.”

“Okay.”

…dan dalam hati saya…

“Yes, akhirnya bawa mobil sendirian. Titik awal buat bawa-bawa mobil sendirian lagi ntar-ntar.”

Ya, dari saat itu, saya mulai minta izin untuk bepergian mengendarai mobil tanpa ditemani oleh siapapun.

Awalnya sih pulang ke rumah masih pukul 17.00, lalu mulai beranjak pukul 20.00, dan semakin lama semakin malam (*Hahahahaha*), walaupun saya tetap tidak berani mengendarai mobil sendirian hingga hampir subuh menjelang. Ya, pernah sih, paling larut tiba di rumah pukul 01.00 dini hari…dan sudah lumayan takut kalau di jalan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, baik terhadap mobilnya, dan telebih lagi terhadap diri saya sendiri, walaupun saat itu mobil yang saya kendarai adalah mobil baru, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalau dilihat dari kondisi mobilnya sendiri.

Nah, kamu, para perempuan yang memang sering jalan-jalan mengendarai mobil sendirian, dan sempat merasakan ketakutan yang sama dengan saya, coba deh baca artikel yang satu ini, biar lebih aman saat mengendarai mobil sendirian.

Eh, ngomong-ngomong mobil baru nih ya…kayaknya saya perlu mobil baru lagi nih, dan sepertinya si Hyundai I10 ini lucu. Ada yang mau beliin? :mrgreen:

Happy Driving Gurls…Be Save yah…

Please, Make Them Keep On Smiling…

Friday, August 14th, 2009

STOP ANIMAL CRUELTY…IT’S TIME TO MAKE THEM SMILE!!!

Penggalangan Dana Untuk Rumah Penampungan Hewan Pejaten…

Tuesday, August 11th, 2009

Artikel diambil dengan izin penulis aseli (Shirly Tiolina), dari AdopsiAnjingDotCom

Teman- teman, kali ini kita ada misi baru lagi

Setelah membantu Pak Tri, kali ini kami berencana membangun Pejaten Shelter (Jakarta Selatan). Karena kita semua tahu dan dapat melihat sendiri, masih sangat amat banyak hewan-hewan terlantar di sekitar kita.
- Anjing dan kucing liar yang terlindas kendaraan di jalanan.

– Anjing dan kucing yang disuntik tidur oleh pet shop karena sudah tidak mampu breeding atau karena cacat sehingga tidak bisa dijual lagi.

– Kuda-kuda tua yang ditelantarkan begitu saja oleh pemiliknya karena tidak mampu lagi menarik delman.

– Monyet-monyet kecil yang kurus yang menari menggunakan topeng – meminta belas kasihan pengemudi mobil di tepi jalan raya yang macet.

Ini contohnya :

Pincang

Kami memanggilnya “Si Pincang”, karena anjing terlantar ini tidak diketahui namanya sampai ditemukan oleh salah satu rekan kita dengan kaki terpelintir dan terluka karena dibacok orang tidak bertanggung jawab. Pincang selalu meringis kesakitan dan sangat trauma dengan manusia.

Byron

Byron, ditemukan oleh rekan iCARE di sebuah Gereja di Kelapa Gading. Setelah dibuang ke gereja itu, ternyata Byron bernasib buruk akibat penyakit kulit yang mengancam hidupnya jika tidak diobati. Saudara-saudara Byron di gereja tersebut juga terancam keberadaannya, karena diketahui satu per satu anak/saudara Byron “menghilang”.

Blacky
Blacky, rotweiller jantan ini ditemukan sedang ditambatkan di sebuah tiang listrik di tepi jalan raya. Dia dengan tega ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Sendirian, kelaparan, tanpa makan, tanpa minum. Tanpa belas kasih sayang.

Bagaimana perasaan Anda jika melihat hewan seperti Blacky, Byron, atau si Pincang? Apakah Anda merasa kasihan atau tidak peduli?

Apakah Anda ingin membantu memelihara atau menampungnya?

Atau mungkin Anda tidak bisa menampung tapi ingin membantu lewat sumbangan?

Peduli, adalah titik awal dari perbaikan nasib hewan dan satwa yang masih sangat banyak menderita di sekitar kita, seperti si Blacky, Pincang, dan Byron. Kepedulian kita, tidak cukup melalui kata-kata atau perasaan kasihan semata.

Kita bisa melakukan lebih dari itu!

Menampung dan merawat hewan-hewan terlantar (seperti Pak Tri dan sebagian besar dari kita semua), donasi dan kegiatan sosial melalui komunitas penyayang hewan yang banyak melakukan program sterilisasi massal, merupakan contoh-contoh tindakan nyata dari usaha manusia untuk melindungi hewan-hewan yang tidak berdaya.

Apakah nasib hewan-hewan terlantar semakin membaik melalui kegiatan-kegiatan ini? Jawabannya, “Ya, tetapi hanya sedikit. Karena ada keterbatasan dari kita semua.”

– Bagaimana dengan hewan-hewan yang tidak teradopsi karena sudah tua sehingga tidak ada yang ingin merawat mereka?

– Bagaimana dengan anjing dan kucing liar yang dikembalikan ke jalanan setelah disteril ternyata menemui kematian akibat infeksi karena tidak ada perawatan pasca operasi?

– Bagaimana nasib mereka yang ter lantar di jalanan tanpa kasih sayang, perlindungan, dan makan-minum yang layak, yang sebetulnya justru itu yang paling dibutuhkan?

Untuk itu, sebagian dari rekan-rekan yang bergabung di komunitas adopsianjing.com – yang dipertemukan melalui penggalangan dana untuk Pak Tri – menggagas pembangunan Rumah penampungan hewan terlantar, yang terletak di Pejaten, Jakarta Selatan.

Apa tujuan pembangunan rumah penampungan ini?

Walaupun untuk saat ini masih dipusatkan di Jakarta, akan sangat banyak manfaat dari rumah yang akan dibangun ini:

– Menjadi tempat penampungan, perlindungan, dan perawatan hewan-hewan (anjing, kucing, kuda maupun monyet) yang ditelantarkan, baik yang sifatnya sementara maupun permanen.

– Menjadi “penghubung” dengan komunitas / organisasi penyayang hewan lainnya untuk membantu proses seleksi adopsi.

– Membantu program sterilisasi dengan bekerja sama dengan dokter hewan terpercaya.

– Memberikan kesempatan dan tempat bagi rekan-rekan yang secara sukarela ingin membantu kegiatan sosial pe nyelamatan hewan-hewan terlantar melalui program rescue maupun perawatan secara berkala.

Kami sangat menyadari bahwa kami tidak mampu melakukan semuanya sendiri, dan seperti halnya keterbatasan yang kita semua miliki, kami mengajak teman-teman semua untuk berpartisipasi dalam pembangunan rumah penampungan ini.

Bagaimana kondisi rumah penampungan saat ini?

1. Lahan merupakan milik Dr. Susana Somali (Dr. Susan), seluas 1,5 ha. Dr Susan adalah seorang penyayang hewan hingga saat ini merawat sekitar 40 ekor anjing dan kucing di kediamannya sendiri, dan juga terlibat saat penggalangan dana untuk Pak Tri.

2. Saat ini sudah dibangun 6 kamar untuk menampung 11 ekor anjing dewasa dan puppies, yang sanitasinya baik dan bersih, serta beberapa ekor kucing yang berkeliaran bebas di sebagian lahan.

3. Sedang dibangun sebuah Warung tempat makan di lahan tersebut, yang konsepnya “Go Green”, yang direncanakan sebagai salah satu sumber dana untuk perawatan hewan-hewan yang ditampung (semacam subsidi silang supaya kehidupan mereka terjamin), dan sekaligus “merangkul” penduduk sekitar untuk turut berpartisipasi dan diedukasi tentang perlindungan hewan terlantar.

Apa rencana berikutnya?

1. Pembangunan 20-25 kamar kecil di rumah penampungan tersebut untuk menampung lebih banyak lagi hewan-hewan terlantar yang saat ini kami hentikan dulu karena keterbatasan tempat penampungan.

2. Merakit kendaraan khusus untuk melakukan rescue (saat ini kami bergantian menggunakan kendaraan pribadi sehingga kurang maksimal karena keterbatasan waktu).

3. Melengkapi peralatan rescue yang dibuat sendiri (seperti alat tulup / bius tembak yang harus digunakan untuk hewan-hewan yang sangat liar dan takut terhadap manusia).

Bagaimana Saya Dapat Membantu?

Untuk membantu lebih banyak lagi hewan-hewan terlantar, rumah penampungan ini membutuhkan dana sekitar 30 juta rupiah, dengan rincian:

– Besi CNP 10cm x 3,5cm x 2,1mm = 24 batang
– Besi CNP 7,5 cm x 2,5 cm 2,1 mm = 40 batang
– Besi siku 50 x 50 = 60 batang
– Besi beton no 10 = 100 batang
– Besi beton no 8 = 90 batang
– Pasir = 4 truk
– Pasir Dam (Sir dam) = 4 truk
– Semen = 70 sack
– Asbes = 60 lembar
– Paku asbes = 1 kotak
– Kabel listrik = 6 roll
– Fitting lampu = 12 buah
– Kawat kandang yang seperti lapangan tennis = 6 gulung

Teman-teman dipersilakan juga untuk membantu dalam bentuk bahan bangunan di atas.

Selain itu, kami juga membuka kesempatan bagi teman-teman untuk membantu perawatan hewan-hewan terlantar yang sudah ada saat ini melalui sumbangan:

1. Dog food kering, beras, koran bekas, kandang bekas layak pakai, makanan segar seperti kepala/kaki ayam dan daging mentah, susu lactose untuk bayi

2. Rice cooker bekas dan layak pakai untuk menanak nasi dan merebus bahan makanan agar lembek / lunak untuk dimakan

3. Perawatan anjing dan kucing: shampo, handuk, bedak kutu, kandang bekas tetapi masih bisa digunakan (untuk tempat perawatan sementara), rantai / kalung anjing/kucing

4. Informasi mengenai pengasuh/orang yang telaten merawat hewan-hewan terlantar untuk diwawancara oleh Dr Susan, yang saat ini sangat dibutuhkan di rumah penampungan ini

5. Adopsi dan menyebarkan informasi pencarian adopter (informasi tentang hewan yang akan diadopsi akan disusulkan)

Bagaimana Cara Donasinya?

– Untuk sumbangan berupa dana, bisa disalurkan melalui Shirly Tiolina Pasaribu

rek BCA KCP Tebet Barat Raya, no rek 436 1585 636

rek Permata Cabang Graha Surya Internusa, Kuningan, no rek 41009 1234 7

– Untuk sumbangan berupa barang, dapat disalurkan langsung ke lokasi rumah penampungan:
“Warung Kampung”

Jl. Pejaten Barat
Depan SMIP Pariwisata / kantor PDK (dekat Sekolah Gonzaga)
No telp 021 70776576 atau 0818872761 (Dr. Susan)

Terima kasih banyak untuk perhatian kalian. Tolong kabari temen-temen kalian juga yah untuk ikut membantu. Kiranya Tuhan dapat membantu meringankan nasib binatang-binatang terlantar lewat bantuan kalian.