Archive for the ‘Informasi’ Category

Original But Expensive? Use Your Brain Then…

Sunday, February 5th, 2012

Hmm…tulisan kali ini adalah waktunya untuk pamer hasil berburu sepatu.

Berhubung saya sudah mulai sedikit insaf untuk urusan belanja, dengan kata lain belanja kalau sudah benar-benar perlu barang tersebut, maka hasil perburuan di bawah ini adalah hasil perburuan yang saya lakukan antara April 2011 sampai dengan Januari 2012. Dan itupun, setelah tujuh pasang koleksi sepatu saya sudah waktunya dipensiunkan.

Crocs – Women’s Melbourne…

crocsTo be honest, saya tidak terlalu suka dengan model-model sepatu merek keluaran Crocs. Tetapi mengingat sepatu-sepatu merek ini cukup nyaman di kaki saya (terutama untuk jalan jauh), maka saya pun punya beberapa sepatu merek Crocs. Dan favorit saya, Crocs yang satu ini; Tipe Melbourne. Bentuknya masih cantik di kaki; nyaman pasti, tidak mudah kotor, kalaupun kotor sepertinya mudah untuk dicuci. Harganya sekitar Rp.700.000an.

m)phosis…

2mphosisFlat shoes dan sandal andalan saat saya tidak perlu memakai sepatu tinggi, adalah merek yang satu ini. Dan dua benda ini sudah menemani saya jalan-jalan ke luar negeri.

Sandal keluaran merek ini adalah langganan jadi inceran, dari zaman sandalnya masih Rp.99.000, sampai sekarang yang rata-rata sudah di atas Rp.150.000. Termasuk sandal berbahan beludru ini, yang berharga Rp.159.000 (kalau tidak salah ingat :lol:).  Saya beli bulan Agustus 2011, setelah sandal m)phosis saya sebelumnya, yang baru saya beli di Februari 2011, direbut seekor monyet waktu saya mengunjungi Kintamani Monkey Forest bulan Mei 2011, dan monyet itu berhasil membuat saya jalan kembali ke mobil tanpa alas kaki *dilarang ketawa! *hihihi.

Sedangkan flat shoes-nya berbahan dasar satin, dilapisi dengan brokat, dan dilengkapi dengan ankle strap dari pita satin yang bisa dililitkan. Mirip dengan sepatu balerina jadinya. Tetapi karena saya malas ribet, jadi pita tersebut lebih sering tidak saya gunakan dan saya pasang kalau memang sedang ingin memakainya. Harga sepatu ini, Rp300.000an.

Nine West…

2ninewestNwalmund…

Tinggi dan tersiksa? Awalnya! Banget! Terima nasib akibat kedua kaki yang pergelangannya pernah cedera saat tenis. Tetapi setelah sepatu ini beberapa kali dipakai, lama-lama sudah tidak menyakitkan. Mungkin karena sudah terbiasa. Sepatu ini saya beli di Maret 2011. Kali ini tanpa rencana, hasil hasrat dua perempuan pergi bersama ke pusat perbelanjaan, hasilnya seperti ini.  Dengan tinggi hak seperti gedung pencakar langit itu, tentunya sepatu ini lebih sering tidur manis di kotaknya yang biasa saya simpan di atas rak. Saya pakai hanya sesekali. Harga sepatu ini di atas Rp. 1.200.000.

Chasey…

Inceran lama ini cyyynnn. Walaupun yaaa…kembali kaki ini sedikit tersiksa di awal, tetapi tetap dounks saya bela-belain untuk memakainya. Khan lama-lama nyaman juga di kaki. Kisaran harganya sama-lah dengan si Nine West sebelumnya, yaitu di atas Rp.1.200.000.

Clarks – Costume Party…

ClarksWaaahhh…ini sepatu juga sudah saya incer sejak lama. Saya tahu persis kualitas sepatu merek ini. Kulit asli, sangat nyaman di kaki, dan tahan lama. Tidak akan menyesal membelinya, karena harga jualnya sebanding dengan kualitasnya. Dan harga sepatu ini di kisaran Rp.1.600.000.

Kalau ditanya apakah semua sepatu itu merek asli? Yup…they are original! Keren? I like it! Kalau saya tidak suka, tidak mungkin saya beli. Mahal? Kalau dilihat dari harga-harga yang tertulis di atas, memang mahal. Tetapi, saya beri tahu ya…sepatu yang saya beli dengan harga sama persis dengan yang tertera di sana, hanya si sandal dan flat shoes dari m)phosis. Selebihnya? Saya beli dengan menggunakan otak belanja yang cerdas ala Ocha *siulsiulsambilngelapsepatu

Intinya, jangan malas berputar-putar pusat perbelanjaan untuk riset terlebih dahulu. Dan sabar! Sabar menunggu ada budget! Sabar menunggu ada diskon, paling penting!!

Dan…sekali lagi…barang asli, cantik, dan ga malu-maluin!!

Sampai jumpa di edisi riviu belanja lainnya!!

*ciyumciyumsepatumahal *dilemparbakiak :mrgreen:

ps: tips tambahan niy…untuk yang kakinya mudah lelah, atau sering melewati medan perjalanan tidak bersahabat untuk sepatu, atau pulang terpaksa menggunakan kendaraan umum (taksi sekalipun), tetapi tetap ingin memakai sepatu hak tinggi, jangan lupa bawa flat-shoes atau sandal cantik untuk ganti. Sayang kakimu. Dan yang pasti, sayang sepatunya laaahh…

—-

Baiklah, gue bocorin harga belanjaan-belanjaan gue di atas, paling murah Rp.159.000 dan yang paling mahal Rp.779.000. Nice deal huh?

Anak Kecil Itu…

Monday, September 13th, 2010
Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Anak kecil ini, kemarin sempat hilang beberapa jam. Semua memang gara-gara saya. Saya yang lupa menutup pagar depan rumah sehabis memasukkan mobil ke dalam car port. Biasalah, beberapa bulan belakangan ini, saya sedikit dimanja papa, setiap saya pulang, beliau yang selalu membukakan pagar dan menutup kembali, tapi tidak dengan kemarin. Saya langsung masuk ke dalam rumah, mandi, berganti baju dan tidur, padahal tadinya saya hendak pergi lagi, tapi malas. Alhasil saya tidak memeriksa lagi pintu pagar apakah sudah tertutup atau masih terbuka lebar.

Setelah saya bangun, saya hanya melihat si hitam gendut itu tidur sendirian di ruang tengah. Sendirian tanpa anak kecil yang berwarna putih-coklat ini, karena biasanya dua anak kecil ini memang ada di dalam rumah. Langsung saya tanya papa, yang kebetulan sedang membaca sesuatu di ruang itu, “Si putih mana?” “Gak tau,” saya pun langsung memeriksa sofa singgasana si putih biasa tidur, dan lemari yang pintunya rusak sehingga ia bisa masuk ke sana, dan hasilnya tak ada. Saya pun langsung berlari keluar, memang biasanya mereka sering kali berada di teras depan. Seketika saya kaget setengah mati, karena saya menemukan pintu pagar yang terbuka sangat lebar, dan saya hanya menemukan si coklat di teras. Saya pun berteriak histeris memanggil nama si putih, O’Neil, saya lihat ke kiri dan ke kanan, saya tak menemukan anak itu. Langsung saya berlari ke arah kiri, dan saya membiarkan naluri saya yang mengarahkan langkah kaki ini, yang setengah berlari. Baru beberapa langkah kaki ini berjalan, saya melihat abang dan papa juga sudah keluar dari rumah, untuk ikut mencari anak kecil ini. Mereka berdua pun mengambil arah yang berbeda.

Saya memutuskan untuk berkeliling kampung yang letaknya di belakang komplek rumah saya, sembari bertanya kepada orang-orang yang sedang berkerumun di sepanjang jalan yang saya lewati, termasuk ke tukang-tukang ojek yang biasa saya tumpangi dan juga tetangga-tetangga di gang sebelah, “Tadi ada yang liat non, jalan ke gang 3.” Saya pun menyusuri jalanan yang disebutkan hingga ke ujung, dan tibalah di persimpangan. Saya memutuskan untuk mengambil ke kiri, ke arah masjid di jalan utama kompleks, hasilnya pun nihil. Saya kembali ke arah terusan gang rumah saya yang menuju ke kampung yang letaknya di dekat sebuah sekolah katolik. Sesampainya di sana saya bertanya pada satpam sekolah itu, “Pak, liat anjing kecil pendek, warnanya putih-coklat?” “Oh, tadi ke arah sana.” “Ke kampung atau balik ke kompleks?” “Ke kompleks non.”

Tak jauh dari sana, saya lihat ada beberapa tetangga saya, yang setahu saya dia juga mempunyai beberapa ekor anjing, “Lihat anjing gue ga yang pendek putih-coklat?” “Oh, tadi udah dibawa Oom kayaknya, dah ketemu kok.”

Saya pun langsung berlari menuju ke rumah dengan perasaan lega. Dan sesampainya di rumah, saya langsung menggendong si kecil yang sedang menunjukkan wajah penuh rasa bersalah. Tapi ada satu kejanggalan, saya melihatnya terus seperti sedang mengunyah sesuatu, dan tanpa basa-basi, saya memeriksa mulutnya, ternyata ada satu giginya yang mau lepas, “Yak another problem, harus dibawa ke dokter ini, tapi kapan ya?”

Saya langsung berlari ke kamar, mengambil “buku primbon” yang saya beli tentang first aid untuk anjing. Ternyata di sana tertulis masih tak apa jika dibawa ke dokter hewan dalam kurun waktu 1X24 jam. Tak lama kemudian saya menelepon dokter, dan membuat perjanjian untuk Senin pagi.

Malam harinya, O’Neil mendapat kemewahan karena saya perbolehkan tidur dengan saya di kamar, setelah sekian lama tak lagi saya izinkan tidur dengan saya. Sepanjang malam, ia sering sekali membangunkan saya, karena merasa tak enak dengan giginya, “Ga enak ya Nak, nanti ke dokter ya. Lain kali jangan nakal keluar-keluar rumah ya, tuch ujan, kalo tadi O’Neil ga ketemu, mau bobokh dimana? Giginya lagi sakit khan?” dan omongan saya itu dijawab dengan “Hoommommoomm,” seperti orang yang sedang bergumam panjang. Dan saat ia membangunkan saya untuk kesekiankalinya, ternyata giginya terlepas, dan semenjak itu, ia pun bisa tidur dengan lebih pulas.

Beberapa kali saya terbangun, hanya untuk memandangi anak kecil itu tidur melintang horizontal di ranjang saya yang hanya berukuran 100cmX200cm itu, “Nak…maminya gimana tidurnya, kalo kamu melintang, terus ngangkang gini pulakh,” dan anak itu ga bergerak sedikit pun. Akhirnya saya berpindah posisi, yang tadinya saya menempel ke dinding, akhirnya saya mengambil sisi sebaliknya, sebagai pagar O’Neil agar ia tak terjatuh, dan guling saya letakkan di sisi lainnya supaya O’Neil tetap hangat.

Pagi harinya, mama membangunkan saya, karena beliau tahu tadinya saya berencana membawa O’Neil ke dokter. Dan begitu mama membuka pintu kamar saya “Waaaduuuhh, enaknya tidur di sini, dah kayak orang, pantesan dicariin di bawah ga ada,” saya yang mendengar omongan mama tapi belum membuka mata langsung merespon “Ga jadi ke vet mam, giginya O’Neil dah copot, aku yang anter mama ke Pondok Indah aja.”

Saya tak langsung beranjak dari tempat tidur, sampai akhirnya mama berteriak dari bawah “Sa, mandi, mau berangkat jam berapa?” “Ntar-ntar aja, masih pagi juga, jalanan khan kosong.”

Tak berapa lama, saya memutuskan ingin melihat jam berapa saat itu, dan begitu saya membuka mata, tepat di depan mata saya, ada benda kecil bulat-bulat berjejer, berjumlah empat dan di tengahnya ada yang sedikit lebar dibandingkan empat lainnya. Sesaat saya belum dapat mencerna benda apakah itu. Tapi setelah saya benar-benar sadar, dan penglihatan saya benar-benar sudah penuh, saya baru ngeh bahwa di hadapan saya itu adalah O’Neil’s paw.

“Oooohhhaaalllaaahhh Nak, maminya di kasih kaki ya pagi-pagi, sama pantat ngangkang gini? But I’m glad that I can still see and have you this morning. Love you baby.”

Saya pun memberi kecupan pada anak kecil itu sembari berbicara padanya “Bangun yuk,” “Hooommmooommmm.”

“Dasar males. Mami gendong turun ya.”

I’m Not A Shoes Fetish…

Thursday, September 9th, 2010

Sudah lama sepertinya, saya ndak menulis sesuatu yang berbau-bau tentang fesyen. Mungkin karena kemarin-kemarin saya jarang belanja, atau mungkin karena isi lemarin tidak perlu ada yang dikurangi, lalu diganti yang baru.

Beberapa hari lalu saya kembali menambah koleksi sepatu. Kali ini sepatu kerja, karena sepatu kerja andalan saya sudah sedikit perlu di “hemat” untuk dipakai.

Terus terang saya bukan shoes fetish. Dan sepatu adalah prioritas kedua (setelah pakaian), saat saya memutuskan untuk melakukan retail therapy. Bagi saya, cukup kalau setiap tipe (yang saya bagi menurut fungsinya), yang saya punyai ada warna hitam dan warna putih. Dua warna netral itu tidak akan membuat saya lebih repot  kehabisan waktu untuk mencocokkan antara sepatu dengan pakaian yang akan saya kenakan.

Dengan menambah satu pasang lagi, sekarang inilah koleksi sepatu yang saya punyai *ga sebanyak koleksi sepatu kalian kok* :mrgreen:

DSC00763Kali ini saya ingin membahas, bercerita, atau mungkin juga reviu satu per satu tentang sepatu-sepatu yang saya punya ini. Jadi tak apa lah ya…kali ini saya juga menyebutkan mereknya.

Dan kita mulai dari deretan belakang, dari kiri ke kanan…

Nike. Saya kangen memakai sepatu ini, karena sepatu ini adalah sepatu tenis yang tentunya hanya saya pakai saat saya berlatih tenis. Karena saya kangen memakai sepatu ini, pastinya saya sudah lama tidak bermain tenis. Kalau saya tidak salah ingat harga asli sepatu ini lebih dari Rp.500.000, tetapi sepatu ini saya dapatkan hanya sekitar Rp.200.000an.

Converse. Sepatu paling menyenangkan untuk dipakai. Nyaman, gaya, dan menyarukan usia asli :mrgreen:. Saya ingat betul, sepatu ini saya beli karena terpaksa. Saat itu saya masih kuliah dan hari itu adalah hari ujian salah satu MKDU. Ujian ini mengharuskan setiap pesertanya memakai sepatu. Sialnya saya lupa memakai sepatu, karena fakultas saya sedikit tak peduli apakah mahasiswanya memakai sepatu atau sandal saat kuliah ataupun ujian. Beda fakultas, beda pula universitas *loh?*. Pihak universitas bisa saja tidak mengizinkan mahasiswa mengikuti ujian, karena tidak memakai sepatu. Untung saja ujiannya setelah makan siang. Dan waktu itu paginya saya memang ada ujian lain, jadi saya tidak mepet sampai kampus. Terpaksalah saya berlari ke mall sebelah kampus untuk mencari sepatu *kebetulan ada alasan buat beli sepatu*. Hasilnya yaa…si Converse yang satu ini. Warna merah muda, belakangnya sedikit tinggi dan bisa ditekuk. Jika ditekuk, bagian yang tertekuk (yang notabene adalah bagian dalam sepatu) memiliki corak kotak-kotak kombinasi warna merah muda, kuning dan putih. Harga saat saya beli antara Rp.300.000 – Rp. 400.000.

Marie Claire. Sepatu yang mempunyai tinggi hak sekitar 6 cm ini saya beli tahun lalu, saat saya harus kembali bekerja setelah lulus kuliah, dan baru sadar, koleksi sepatu kantor sudah sangat minim. Terus terang sepatu ini sangat jarang saya pakai. Satu alasannya, karena tidak nyaman di kaki. Mungkin karena ternyata merek ini tak cocok dengan bentuk dan segala sesuatu di kaki saya, atau karena faktor lain. Harga sepatu ini berkisar antara Rp. 200.000 – Rp. 250.000.

Everbest. Kalau tidak salah dulu Everbest mempunyai tag line The Best Ever. Terus terang sepatu ini dibelikan oleh seseorang *eh* di tahun 2004, saat tiga pasang Everbest yang saya miliki sebelumnya sudah waktunya dipensiunkan. Merek ini adalah merek andalan saya untuk sepatu kantor, karena sangat nyaman di kaki. Everbest yang ini hanya mempunyai hak setinggi 4 cm.  Termasuk sepatu dengan hak rendah yang saya miliki. Sebelum Everbest yang ini, Everbest yang saya pakai harian mempunyai hak antara 5-8 cm, karena ya itu tadi, walaupun tinggi, untuk berlari ke sana ke mari, sepatu merek ini tetap nyaman di kaki. Tak membuat kaki saya lecet sedikit pun. Enam tahun lalu, harga sepatu ini berkisar Rp.450.000 – Rp. 500.000 *gue tau harganya karena gue yang milih, dan belinya sama gue* :mrgreen:

G by Guess. The newest one. Gara-gara terlalu lama menunggu antrian dokter gigi, Senin lalu saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall yang letaknya di samping rumah sakit tempat saya berobat gigi. Saya memang sudah berencana untuk menambah koleksi sepatu kantor, yang bukan flat shoes. Putar-putar keliling pusat perbelanjaan yang saat itu sedang menggelar diskon dimana-mana adalah hal yang menyenangkan untuk saya. Saya bisa mendapatkan barang mahal dengan harga diskon. Seperti sepatu ini, yang saya beli dengan harga Rp.300.000 – Rp. 400.000 setelah diskon, dan seperti biasa, yang paling penting adalah bisa dipakai untuk sedikit berlari-lari selama di kantor, karena mempunyai tingkat kenyamanan yang luar biasa.

Pretty Fit. Yang ini bukan sepatu untuk ke kantor. Melainkan sepatu untuk pesta. Saya beli saat saya ke Singapura tahun lalu. Mempunyai hak 8 cm dengan ujung yang kecil, yang terlihat akan membuat kaki pegal jika memakainya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Sepatu ini sangat nyaman di kaki, bahkan saya sempat memakai beberapa kali ke kantor, saat saya bosan dengan sepatu kantor saya. Seingat saya, sepatu ini saya beli dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (jika dikonversi ke Rupiah), dengan harga asli Rp. 800.000an (juga jika dikonversi ke Rupiah).

Noche. Sepatu ini saya beli karena sepatu pesta saya sebelumnya yang berwarna putih sudah saatnya di “lembiru” (lempar beli yang baru). Sepatu ini adalah saksi saat saya wisuda menjadi Sarjana Psikologi. Saksi kebosanan saya menunggu untuk dipanggil ke atas podium dengan nama Rosarini S.Psi *long and windy road, Man!!!* Tinggi hak 7 cm, dan tetap nyaman di kaki saya. Harganya pun termasuk membuat dompet saya pun tetap nyaman, yaitu sekitar Rp. 300.000 – Rp. 350.000.

Hush Puppies. Nyaman sungguh sepatu ini. Kualitasnya sesuai dengan harganya yaitu Rp.800.000. Saya membeli sepatu ini akhir tahun lalu, dan saya ingat betul sepatu ini masih termasuk new arrival, dan tak ada diskon. Tapi ternyata “mas-mas” penjaga counter menghampiri saya dan mengatakan ini “Mbak, kalo mbak mau yang itu, saya telfonin temen saya yang di kantor pusat biar bisa diskon, terus terang saya lagi ngejar target dapet insentif akhir bulan,” akhirnya saya membawa pulang sepatu itu dengan harga Rp. 500.000 :mrgreen: Dan sepatu ini sekarang menjadi sepatu andalan saya saat ngantor.

Noche. Patent Leather-Pump Shoes yang menjadi saksi sejarah saat saya ujian/sidang skripsi tahun lalu. Selama dua jam dia menemani saya di ruangan itu, untuk menjawab semua pertanyaan para penguji. Sepatu ini jarang saya pakai, karena memang saya kelompokkan sebagai sepatu pesta, menjadi teman sack dress sebagai pilihan ringkes saat saya “terpaksa” berdandan pergi ke pesta. Heels sepatu ini hanya 7 cm, dengan ujung yang kecil, tapi walaupun harganya tidak terlalu mahal, kualitasnya pun ternyata bagus, setidaknya tidak membuat kaki saya pegal ataupun lecet. Harga sepatu ini saat saya beli, sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000.

Zara. Patent Leather-Suede-Ankle Strap Shoes ini juga saya golongkan sebagai sepatu pesta. Heels yang dimilikinya hanya 5 cm dengan bahan suede dan ujung yang kecil. Menurut saya, sedikit repot memakai sepatu ini, karena ankle strap sepatu ini benar-benar ankle strap yang harus dibuka terlebih dahulu baru ditaliin seperti memasang ikat pinggang, bukan ankle strap yang tinggal cantol. Harga asli sepatu ini sekitar Rp.700.000an, karena ini termasuk koleksi Zara Women, bukan TRF. Tapi…lagi-lagi saya bisa membawa pulang sepatu ini dengan harga lebih murah, yaitu sekitar Rp. 350.000 – Rp. 400.000.

Guess by Marciano. Bermodel sneakers tapi dengan hak wedges setinggi 10 cm. Yang jelas memakai sepatu ini sangat repot, apalagi sepatu ini tanpa lidah, yang memaksa saya harus melonggarkan talinya dari bawah hingga atas, agar kaki saya bisa masuk. Walaupun demikian, hal ini menjadi satu kelebihannya juga, karena kaus kaki yang saya kenakan bisa terlihat motif/corak /warnanya. Eh…sepatu ini juga dibelikan oleh seseorang, saat saya dan dia berjalan-jalan di salah satu mall di Jakarta Selatan, kurang lebih 6 tahun lalu. Harganya saat itu kalau tak salah sekitar Rp. 500.000 – Rp. 550.000 dan itu sudah harga diskon.

Dan sekarang reviu untuk sepatu di deretan depan. Dari paling kiri ya…

Vincci. Dibelikan oleh seseorang saat ia ke Kuala Lumpur. Sangat jarang saya pakai, karena sepertinya koleksi pakaian yang saya miliki jarang pula yang bisa cocok jika saya memakai sepatu ini. Sepatu berbahan beludru ini mempunyai hak sekitar 3 cm, dan cukup nyaman di kaki. Harganya? Saya tidak tahu, lha wong oleh-oleh kok.

Vincci. Flat shoes nyaman dan bisa dikatakan dengan harga yang cukup murah. Kalau tidak salah sepatu ini kisaran harganya Rp.200.000 – Rp. 250.000. Sempat menjadi sepatu andalan saat saya masih bekerja di sebuah retail company, karena saya lebih sering berangkat dan pulang kantor dengan kendaraan umum. Karena terlalu sering dipakai, sepatu ini mulai rusak dibagian solnya, dan memaksa saya untuk mengurangi frekuensi pemakaian sepatu ini.

M)phosis. Patent-leather-ankle-strap-shoes ini saya beli di Singapura dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (dengan konversi ke Rupiah). Sangat nyaman di kaki, termasuk untuk menerjang hujan, berlari-lari dan berkendaraan umum. Sampai-sampai sekarang terpaksa saya kurangi frekuensi memakai sepatu ini, karena sudah mulai rusak. Flat shoes dan sandal M)phosis, adalah inceran saya saat akan menambah koleksi sepatu jenis yang satu itu. Nyaman sungguh boss!!

Everbest. Yang satu ini termasuk salah satu sepatu andalan saya untuk ngantor. Sepatu ini, sepatu hibahan dari tante saya, karena ternyata sedikit kebesaran untuknya. Saat diberikan ke saya, kondisinya masih sangat baru, dan kebetulan pas di kaki saya dan mereknya pun saya suka. Saat berjalan-jalan ke mall, saya melihat sepatu model ini dijual dengan kisaran harga Rp.700.000 – Rp. 800.000 *mayan menghemat duit* :mrgreen:.

Sebenarnya saya masih punya dua pasang sepatu lagi yang lupa saya foto. Dua-duanya flat shoes, menyenangkan dan nyaman. Satu bermerek Top Shop, dan satu lagi Tracce. Yang Top Shop berbahan dasar satin warna biru dilapisi dengan lace warna hitam, dan waktu itu saya beli dengan harga Rp.400.000 pada akhir tahun 2006, sedangkan yang Tracce dengan model mary jane, berbahan kain yang saya tidak tahu jenisnya, berwarna krem, di bagian ujung dan strapnya berbahan patent-leather berwarna coklat tua. Dua pasang sepatu ini ingin saya perbaiki, karena sedikit rusak di bagian solnya, tahu khan jalanan kota Jakarta yang tak pernah bersahabat dengan sepatu? Sangking nyamannya dua pasang sepatu ini, saya jadi malas untuk me-“lembiru” keduanya.

So…koleksi sepatu saya tak sebanyak koleksi kalian khan ya? Mudah-mudahan cerita, reviu tentang sepatu-sepatu ini dapat menjadi bahan pertimbangan kalian saat ingin berbelanja sepatu.

Hmmm…untuk cara merawat sepatu setelah kita beli, coba dibaca ulang tulisan saya yang satu ini…Sepatu Bersih Sepatu Cantik

—-

“Btw, kenapa sepatu gue banyakan item yah? Sesuai dengan baju yang mayoritas warna gelap? Atau sesuai yang lainnya? Terus-terus ketimbang cuma punya 20an pasang sepatu aja dah rempong nyimpennya, apalagi para shoes fetish itu yah? Ga kebayang…”

Tepat Tiga Minggu…

Monday, March 29th, 2010

Belum hilang kesedihan saya akan kehilangan Rambo, saya kembali dipaksa untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya di rumah.

Sesampainya saya di rumah setelah pulang kantor hari Rabu, 24 Maret 2010, saya disambut oleh Molly yang tampak tak bergairah di teras depan. Dan seperti biasa saya mengelus-elus dia, karena setelah Rambo meninggal, hanya tinggal Molly yang menjadi penguasa teras depan rumah…

“Nak, kamu kok jadi kurus banget ginih. Males banget makan abis ditinggal Kak Embo? Mimi ke dalem dulu ya, ganti baju.”

Saya memang tak berganti baju, tapi malahan mengobrol dengan ibu dan bapak saya. Dan saya ingat betul kalimat di bawah ini yang mengakhiri obrolan kami bertiga.

“Molly tadi mau makan?”

“Mau, kasih makan lagi aja.”

Saya pun langsung beranjak menyiapkan makanan untuk perempuan jagoan saya yang satu itu.

Molly pun langsung beranjak dari tidurnya setelah mendengar saya memanggilnya untuk memberi makan. Namun tak lama kemudian setelah saya masuk kembali ke dalam rumah dan kali ini benar-benar untuk berganti pakaian, saya mendengarnya merintih kesakitan, sangat-sangat kesakitan. Saya bisa katakan demikian, karena saya tahu Molly adalah anjing kuat dan tahan banting luar biasa.

Tanpa basa-basi, saya langsung kembali menuju ke teras depan, dan kaget setengah mati, karena menemukan Molly tersayang kesulitan untuk berdiri. Kedua kaki belakangnya tiba-tiba lunglai dan lemas. Ia pun terus-menerus merintih dan menjerit kencang tanpa henti.

Saya pun sembari memegangi Molly berteriak memanggil Mama atau Papa untuk membantu saya…

“Panggilin Becky dounks, Ma. Minta pegangin Molly dulu, aku mau ganti baju.”

“Becky dah tidur.”

“Bangunin aja. Nih anak kenapa treak-treak?”

Akhirnya Becky, abang saya kedua menghampiri saya dan membantu memegangi Molly.

“Bentar Beck, gue ganti baju dulu, masih pake baju kantor ini.”

Saya pun bingung setengah mati, apa yang harus saya lakukan saat itu. Bolak-balik kiri-kanan, sampai saya memutuskan untuk membawa Molly ke Rumah Sakit Hewan 24 jam yang ada di Sunter.

“Molly harus dibawa ke Sunter sekarang. Damn besok gue ada Coffee Morning pulakh, gue ga bisa libur.”

Saya kembali masuk ke kamar, berganti baju kembali dan bersiap untuk membawa Molly ke Rumah Sakit bersama dengan Becky.

Becky pun tanpa basa-basi berganti baju, meminta uang sementara ke Papa dan menggendong Molly ke dalam mobil.

“Bentar ya Sayang, kita ke dokter ya. Sakit banget ya, Nak? Kita usaha bareng dulu ya.”

Saya bertugas mengendarai mobil, karena abang saya yang satu itu, lebih “buta” jalan daripada saya, yang lebih hobi kluyuran di jalanan.

Menyusuri jalan tol Kebon Jeruk dan tol Dalam Kota yang sudah kosong, tetap terasa lama, saat saya harus mendengar rintihan anak perempuan saya satu-satunya itu.

“Bentar ya sayang, Mimi lagi nyetir nih Nak, cepet ampe rumah sakit ya kita.”

Sesampainya kami di rumah sakit, saya melihat bahwa pasien yang berobat masih banyak. Tanpa berpikir panjang saya langsung menghampiri ke resepsionisnya…

“Mbak masih banyak ya? Emergensi nih.”

“Dah pernah ke sini?”

“Yang ini belom, anjing saya yang lainnya udah. Biasanya dibawa ke Green Garden.”

Saya pun diminta untuk mengisi data-data Molly dan saya sendiri.

“Dah mbak, hewannya dibawa turun aja, terus ditimbang ya.”

Molly kemudian ditangani oleh dokter yang sedang bertugas malam ini. Saya sudah tahu bahwa kondisi Molly sangat-sangat mengkhawatirkan, saat saya memeriksa kondisi mulutnya di mana seluruh gusi sudah nampak pucat pasi berwarna putih, detak jantung yang sudah sangat cepat. dan duburnya yang sudah mengeluarkan darah.

Di atas meja pemeriksaan, Molly yang sudah diberikan cairan intra vena dan diberi obat penghilang rasa sakit, masih juga menangis kesakitan, dan semakin keras saat saya melangkah menjauh daripadanya.

Saya pun kemudian berkata pada Molly…

“Sayang, sakit banget ya? Kita usaha dulu ya berempat ama dokternya ya? Molly khan kuat, cantik, pinter, usaha dulu, tapi Molly boleh milih nanti, mau ikut Embo atau milih ama Mimi, terserah kamu ya, Sayang. Tapi malem ini Molly bobokh sini dulu ya, ama dokternya, besok bis ngantor Mimi nengok Molly, kalo ngga ngantor nanti Mimi ga bisa nyembuhin Mowi.”

Saya mengantar Molly ke ruang rawat inapnya, tubuhnya yang sudah dingin dan terpasang infus, digendong oleh asisten dokter yang merawat Molly. Sesampainya di ruangannya, Molly masih diberi penghangat lebih berupa sinar lampu yang langsung disorot ke tubuhnya, tapi sebelum saya turun, ternyata, selang infus Molly pun sudah terlepas, karena ia terlalu banyak bergerak, mungkin kesal karena ia ingin berdiri tapi sudah tak mampu.

Saya kemudian berjalan menuruni anak tangga dan kembali ke ruang periksa tadi, untuk membereskan urusan administrasi rawat inap Molly, sembari berbincang-bincang sebentar dengan dokternya…

“Do your best untuk Molly ya, Dok.”

“Will do, tapi kita juga harus realistik, melihat kondisi Molly, terus terang sangat mengkhawatirkan, makannya saya ga bisa janjiin yang manis.”

“I know, still do your best.”

Abang saya pun kemudian nimbrung di perbincangan kami…

“Ya kalau memang yang terbaik untuk Molly adalah eutanasia, ya ga papa juga.”

Disusul dengan omongan saya…

“Ya tapi kalo bisa mah yang eutanasia, mah yang punya idup semua makhluk.”

Lalu si dokter pun menjawab…

“Saya juga paling males kalo disuruh nyuntik mati. Kalo ga ditungguin pemiliknya, saya diem-diem ngerawat dulu ampe beberapa hari lagi, kalo bener-bener ga bisa baru eutanasia. Saya ngga mau sebenernya.”

Setelah beres, kami pun kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Kembali saya yang mengendarai mobil, di tengah jalan tol yang sudah sepi, dan membuat kantuk. Jam mobil sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Dan tepat pukul 03.00 dini hari, Kamis 25 Maret 2010, saya dan si abang sampai di rumah.

“Deeemmmm…ntar jam 5 dah harus berangkat pulakh. Sialll.”

Sesampainya di rumah, saya langsung masuk ke kamar si Mama, berganti baju dan tidur. Namun tidur saya malam ini pun tidak nyenyak, karena memikirkan anak saya yang sedang di rumah sakit, yang terakhir sebelum saya pulang, saya masih mendengar rintihannya.

Pukul 05.00 waker yang bunyinya sungguh keparat itu, tumben mampu membangunkan saya dari tidur. Sialnya, saat diri ini belum mandi, taksi yang saya pesan sudah datang…

“Dem…telat ini gue bakalan.”

Dan benar tebakan saya, taksi yang saya tumpangi tak sanggup menghantarkan saya ke kawasan Pejaten dalam waktu satu jam, karena jalanan yang saya kira masih sepi di pukul 05.30 pagi, ternyata salah total.

“Duuuhhh…maap nih…HRDnya telat lagih…hahahhahah.”

Acara kantor tersebut tak berlangsung lama, dan karena jadwal saya seharusnya memang libur, jadi saya langsung meninggalkan store seselesainya acara itu. Dan pertanyaan selanjutnya…

“Jrittt..ga suka nih gue dah bangun pagi, pergi and ga tau mau ngapain. Telpon rumah sakit kali ya, gue nengok Molly, tapi belum jam 10.00, si dokter belom selese ngobatin pasien-pasiennya.”

Akhirnya saya memutuskan untuk sebentar nyangkut di warung kecil samping store, menenggak sebotol minuman teh di kemasan botol, dan ngobrol dengan beberapa anak saya, yang juga nyangkut di sana, sembari memikirkan apa yang harus saya lakukan sebelum pulang ke rumah.

Pukul 10.00, saya memutuskan untuk pulang, dengan menaiki Trans Jakarta. Saat pikiran ini sedang memikirkan Molly tersayang, tiba-tiba telepon saya berdering. Di layar tertera sebuah nomor yang tak ada di buku telepon si Bébé saya. Saya mengangkatnya…

“Hallo, mbak Rosa, ini dokter Endang.”

Yah, pikiran saya sudah tak karuan, saya sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh dokter itu…

“Mbak, sorry ya, Molly ga ketolong, barusan aja meninggal.”

Saya pun hanya bisa berkata…

“Yaaaahhh. Molly ga ketungguan ama saya ya.”

“Iya, tadi malem, jam 4 dia dah mulai bisa tenang, tapi jam 7 tadi dia pup darah, barusan meninggal. Tapi meninggalnya dia ga kesakitan kok, tenang.”

“Ya udah lah dok, yang penting dia sekarang dah ga sakit. Tapi saya ga bisa ngambil sekarang ya. Saya baru pulang dari kantor.”

“Ga papa. Nanti khan dimasukkin ke lemari pendingin.”

“Kalo dikremasi berapa, Dok?”

“Seratus ribuan.”

“Tapi abunya ga bisa diambil ya sekarang aturannya?”

“Iya, Mbak, abunya sekarang ga bisa diambil kayak dulu.”

“Ya udah, Dok, saya ambil Molly hari minggu ya. Ma kasih ya, Dok.”

Sesaat saya menutup telepon itu, semua “film” dari saat saya bertemu Molly di ujung jalan rumah saya, saat ia akhirnya mau diajak masuk ke rumah dan akhirnya kami pelihara, saat ia meminta untuk melahirkan anaknya di rumah, saat saya membawanya ke rumah sakit untuk disterilisasi, betapa senangnya ia menemani saya atau papa jalan-jalan, saat ia menangis karena dilarang ikut papa bersepeda, saat ia berteriak minta dibukakan pintu kalau ia kehujanan di luar saat ia ia berjalan-jalan sendiri tanpa kami temani, saat ia menyambut saya sepulang kantor, sampai detik-detik terakhir hidup bersama kami yang sudah berjalan kurang lebih 8 tahun.

Di tengah sedihnya saya setelah mendengar berita tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk turun di halte depan kantor Becky, dan menuju ke kantornya abang saya yang ikut menemani saya membawa anak cantik itu.

Dan begitu saya bertemu dengan Becky, di ruangannya…

“Mowi meninggal.”

“Hah? Yakin? Meninggal beneran? Cepet banget, masih mau makan, masih mau minum susu. Dokternya bilang apa?”

“Gak tau, orang belum diambil darah, belum di akupunktur, baru abis dikasih obat sama dibersihin. Tapi tadi dia check pupnya, penasaran kena Parvo atau bukan, dan ternyata bukan.”

Lalu saya menelepon ke rumah dan kebetulan yang mengangkat Papa, yang sering sekali ditemani Molly berjalan-jalan, sering mengajaknya mengambil uang ke ATM (dan jika Molly ikut, Papa memasukkan Molly sampai ke dalam ruang ATM, tidak dibiarkan menunggu di luar), atau menemaninya berjalan ke mini market yang letaknya di kompleks sebelah…

“Pa, Molly ga ada.”

“Yaaaahh, aduh, aku kebayang matanya. Ya udah lah daripada kasian. Dokternya belum nemu sakit apa ya?”

“Belum sempet observasi lebih lanjut.”

—-

She was a stray dogs…yang akhirnya saya dan keluarga saya pelihara dan sayangi. Dan terus terang, kami tak pernah tahu usia asli anak perempuan saya yang satu ini, tapi yang kami tahu adalah Molly kami sayangi, ia bagian keluarga kami, dan ia meninggalkan jejak kaki yang luar biasa dalamnya di hati kami sekeluarga…

“Love you, Mowiiii, we already miss your little cute eyes, we already miss you to the max. Nanti kalo Mi mati jemput Mi sama Rambo, ama Bozo, ama Boomer and kakak-kakakmu yang lain ya.”

*Masih belum bisa upload gambar…Damn!!! Jadi kalo mau liat fotonya Molly bisa klik di sini


Till We Meet Again In Heaven, Baby…

Thursday, March 4th, 2010

Kurang lebih seminggu ini, saya diminta belajar (lagi) bagaimana menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

Satu hal yang paling saya tidak suka dari memelihara binatang adalah saat saya harus melihat mereka sakit, menghadapi sakratul maut dan pulang ke rumah Tuhan. Itu adalah masa-masa penyiksaan batin bagi saya sendiri. Tersiksa karena melihat dan mendengar mereka merintih kesakitan. Tersiksa karena dilema apa yang harus saya perbuat, apakah harus ke dokter yang most likely mereka akan menyarankan untuk menidurkan bayi-bayi lucu itu (apalagi jika mereka memang sudah tua), atau memutuskan untuk merawat mereka di rumah dengan penuh cinta sampai ajal menjemput mereka.

Saat mereka merintih sakit, tak hanya dia yang merasakan, tapi saya, dan seluruh keluarga juga merasakan rintihannya. Bagaimana tidak, ia sudah tak bisa makan dengan enak. Makanannya harus dilembutkan, dan kami hantar ke mulutnya dengan menggunakan semacam suntikan yang berujung seperti pipet. Kami harus mendirikannya, karena ia tak sanggup lagi untuk berdiri sendiri, bahkan di menjelang ajalnya, kami harus membersihkan kotoran pup atau urin yang ia keluarkan spontan di tempat.

Sudah puluhan tahun biasa memelihara anjing, kami tahu persis, bagaimana kondisi mereka jika sudah mendekati ajal. Begitu pun juga saya, yang sudah mengetahui saat Rambo sudah dekat. Prediksi saya, paling lambat besok, itupun dia pasti akan menunggu saya sepulang kantor. Tak tahu kenapa, atau setidaknya empat anjing saya yang meninggal terakhir, pasti menunggu saya pulang ke rumah. Oleh sebab itu, hari ini saya bela-belain menemani Rambo sepanjang hari. Nyaris saya tak beranjak dari teras depan rumah, tempat “singgasana” si ganteng, nan cerdas, campuran German Shepherd dan Chow-Chow ini.

Saya hanya duduk di sampingnya, mengelus-elus tubuh dan wajahnya yang sudah sangat lemah, sesekali membersihkan badannya dan duburnya dengan tissue basah, sembari bernyanyi dan juga bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah saya/keluarga dan Rambo lalui selama 12 tahun kami hidup bersama. Hal itu membuatnya terlihat manja, Rambo sama sekali tak mau ditinggal, bahkan saat saya berlari ke dalam rumah untuk mengangkat telepon, ia sudah meraung-raung menangis tak mau ditinggal. Tentunya, itu membuat saya langsung kembali bersamanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dan saya belum makan siang. Saya bicara dengan Rambo, “Nak, Mimi makan siang dulu ya, belum makan siang nih, ditinggal sebentar ya, Embo mau mamam? Mi siapin?” Rambo pun hanya mengedipkan mata.

Dari dalam sembari makan saya mendengar Rambo tetap merintih minta ditemani. Namun seselesainya saya makan, saya tak langsung menemaninya lagi. Badan ini masih lelah, karena berhari-hari tak bisa tidur nyenyak merawat Rambo, bergantian dengan Mama, bahkan kami harus bangun saat subuh, kalau Rambo melonglong minta ditemani atau minta dibersihkan karena ia mengompol atau pup di tempat.

Akhirnya kurang lebih pukul 17.00, saya kembali memeriksa kondisinya. Ternyata ia masih meraung-raung, dan pup. Saya berlari ke dalam sebentar, karena tisu basah yang sudah saya siapkan di dekatnya sudah habis. Saat saya selesai mengelapnya, saya pun membersihkan lantai sekitarnya. Sedetik setelah saya letakkan pengki yang berisi sampah koran bekas yang juga digunakan untuk alas tidur Rambo, saya melihat ke arahnya dan dia sudah mengompol lagi. Lalu tak tahu mengapa, seperti ada yang meminta saya untuk melihat ke arah wajahnya, yang ternyata sudah bernapas satu-satu, dan perutnya sudah tidak mengembung dan mengempis, seperti adanya sebuah pernapasan.

Saya pun berlari ke arahnya…

“Rambo, Ayank dah mau pulang ya? Ma kasih wa, dah nemenin mimi 12 taun. Sekarang Mimi temenin pulang wa. Dah ketemu sapa aja? Chopin? Cello? Astor? Pluto? Bozo? Titip salam ya Nak, yuk putus ya napasnya, enakkan di surga loh Nak. Nanti kalo mimi mati, Embo jemput mimi wa? I love you, Honey, so much, ampe ketemu nanti wa,” dan saya pun mencium keningnya. Dan Rambo tidur dengan tenang tanpa rasa sakit sedikit pun.

Dan hari ini, tidak ada tangis saat Rambo pergi. Tak seperti hari-hari kemarin saat ia masih merintih kesakitan, air mata ini sempat mengalir, deras.

Saya pun langsung menelepon si Abang…

“Woi, di mana lu?”

“Kenapa lu? Laper?”

“Kagak, di mane?”

“Depan kompleks.”

“Buruan! Pemakaman.”

“Ooohh dah pulang? Thank God.”

“Buruan, keburu gelap.”

Terus terang, tanah itu sudah tergali semenjak hari Minggu lalu. Lagi-lagi, karena keluarga kami sudah tahu persis kondisi saat anjing-anjing kami sudah mendekati ajal, saat ke dokter pun, kami pasti akan mendapatkan respon sebuah sakit hati. Dan hari ini, tanah galian itu sudah kembali tertutup dengan tubuh bayiku, Rambo yang sudah tidur tenang, ada di dalamnya.

Kembali mereka mengajarkan saya, sebuah kesetiaan tiada tara, sebuah cinta tanpa syarat samaaaaa sekaaalliii, bagaimana harus menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

“Ma kasih wa Mbo…untuk 12 tahun yang sangat menyenangkan, maap kalo Mi sering telat ngasi mam, inget tadi waktu kita ngobrol, waktu mata Embo kinclong natap mata Mi, I Love You so much, jemput Mi nanti pas Mi mati wa.”

*seeebbbbeeellll mau upload foto bayi lucuku si Rambo, blog lagi ga bisa upload foto, DAMN*

*eh bisa liat foto bayiku, si Rambo dan teman-temannya itu di sini*