Archive for the ‘Informasi’ Category

Anak Kecil Itu…

Monday, September 13th, 2010
Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Kino (Si Gendut Hitam) and O'Neil (Si Kecil Putih-Coklat)

Anak kecil ini, kemarin sempat hilang beberapa jam. Semua memang gara-gara saya. Saya yang lupa menutup pagar depan rumah sehabis memasukkan mobil ke dalam car port. Biasalah, beberapa bulan belakangan ini, saya sedikit dimanja papa, setiap saya pulang, beliau yang selalu membukakan pagar dan menutup kembali, tapi tidak dengan kemarin. Saya langsung masuk ke dalam rumah, mandi, berganti baju dan tidur, padahal tadinya saya hendak pergi lagi, tapi malas. Alhasil saya tidak memeriksa lagi pintu pagar apakah sudah tertutup atau masih terbuka lebar.

Setelah saya bangun, saya hanya melihat si hitam gendut itu tidur sendirian di ruang tengah. Sendirian tanpa anak kecil yang berwarna putih-coklat ini, karena biasanya dua anak kecil ini memang ada di dalam rumah. Langsung saya tanya papa, yang kebetulan sedang membaca sesuatu di ruang itu, “Si putih mana?” “Gak tau,” saya pun langsung memeriksa sofa singgasana si putih biasa tidur, dan lemari yang pintunya rusak sehingga ia bisa masuk ke sana, dan hasilnya tak ada. Saya pun langsung berlari keluar, memang biasanya mereka sering kali berada di teras depan. Seketika saya kaget setengah mati, karena saya menemukan pintu pagar yang terbuka sangat lebar, dan saya hanya menemukan si coklat di teras. Saya pun berteriak histeris memanggil nama si putih, O’Neil, saya lihat ke kiri dan ke kanan, saya tak menemukan anak itu. Langsung saya berlari ke arah kiri, dan saya membiarkan naluri saya yang mengarahkan langkah kaki ini, yang setengah berlari. Baru beberapa langkah kaki ini berjalan, saya melihat abang dan papa juga sudah keluar dari rumah, untuk ikut mencari anak kecil ini. Mereka berdua pun mengambil arah yang berbeda.

Saya memutuskan untuk berkeliling kampung yang letaknya di belakang komplek rumah saya, sembari bertanya kepada orang-orang yang sedang berkerumun di sepanjang jalan yang saya lewati, termasuk ke tukang-tukang ojek yang biasa saya tumpangi dan juga tetangga-tetangga di gang sebelah, “Tadi ada yang liat non, jalan ke gang 3.” Saya pun menyusuri jalanan yang disebutkan hingga ke ujung, dan tibalah di persimpangan. Saya memutuskan untuk mengambil ke kiri, ke arah masjid di jalan utama kompleks, hasilnya pun nihil. Saya kembali ke arah terusan gang rumah saya yang menuju ke kampung yang letaknya di dekat sebuah sekolah katolik. Sesampainya di sana saya bertanya pada satpam sekolah itu, “Pak, liat anjing kecil pendek, warnanya putih-coklat?” “Oh, tadi ke arah sana.” “Ke kampung atau balik ke kompleks?” “Ke kompleks non.”

Tak jauh dari sana, saya lihat ada beberapa tetangga saya, yang setahu saya dia juga mempunyai beberapa ekor anjing, “Lihat anjing gue ga yang pendek putih-coklat?” “Oh, tadi udah dibawa Oom kayaknya, dah ketemu kok.”

Saya pun langsung berlari menuju ke rumah dengan perasaan lega. Dan sesampainya di rumah, saya langsung menggendong si kecil yang sedang menunjukkan wajah penuh rasa bersalah. Tapi ada satu kejanggalan, saya melihatnya terus seperti sedang mengunyah sesuatu, dan tanpa basa-basi, saya memeriksa mulutnya, ternyata ada satu giginya yang mau lepas, “Yak another problem, harus dibawa ke dokter ini, tapi kapan ya?”

Saya langsung berlari ke kamar, mengambil “buku primbon” yang saya beli tentang first aid untuk anjing. Ternyata di sana tertulis masih tak apa jika dibawa ke dokter hewan dalam kurun waktu 1X24 jam. Tak lama kemudian saya menelepon dokter, dan membuat perjanjian untuk Senin pagi.

Malam harinya, O’Neil mendapat kemewahan karena saya perbolehkan tidur dengan saya di kamar, setelah sekian lama tak lagi saya izinkan tidur dengan saya. Sepanjang malam, ia sering sekali membangunkan saya, karena merasa tak enak dengan giginya, “Ga enak ya Nak, nanti ke dokter ya. Lain kali jangan nakal keluar-keluar rumah ya, tuch ujan, kalo tadi O’Neil ga ketemu, mau bobokh dimana? Giginya lagi sakit khan?” dan omongan saya itu dijawab dengan “Hoommommoomm,” seperti orang yang sedang bergumam panjang. Dan saat ia membangunkan saya untuk kesekiankalinya, ternyata giginya terlepas, dan semenjak itu, ia pun bisa tidur dengan lebih pulas.

Beberapa kali saya terbangun, hanya untuk memandangi anak kecil itu tidur melintang horizontal di ranjang saya yang hanya berukuran 100cmX200cm itu, “Nak…maminya gimana tidurnya, kalo kamu melintang, terus ngangkang gini pulakh,” dan anak itu ga bergerak sedikit pun. Akhirnya saya berpindah posisi, yang tadinya saya menempel ke dinding, akhirnya saya mengambil sisi sebaliknya, sebagai pagar O’Neil agar ia tak terjatuh, dan guling saya letakkan di sisi lainnya supaya O’Neil tetap hangat.

Pagi harinya, mama membangunkan saya, karena beliau tahu tadinya saya berencana membawa O’Neil ke dokter. Dan begitu mama membuka pintu kamar saya “Waaaduuuhh, enaknya tidur di sini, dah kayak orang, pantesan dicariin di bawah ga ada,” saya yang mendengar omongan mama tapi belum membuka mata langsung merespon “Ga jadi ke vet mam, giginya O’Neil dah copot, aku yang anter mama ke Pondok Indah aja.”

Saya tak langsung beranjak dari tempat tidur, sampai akhirnya mama berteriak dari bawah “Sa, mandi, mau berangkat jam berapa?” “Ntar-ntar aja, masih pagi juga, jalanan khan kosong.”

Tak berapa lama, saya memutuskan ingin melihat jam berapa saat itu, dan begitu saya membuka mata, tepat di depan mata saya, ada benda kecil bulat-bulat berjejer, berjumlah empat dan di tengahnya ada yang sedikit lebar dibandingkan empat lainnya. Sesaat saya belum dapat mencerna benda apakah itu. Tapi setelah saya benar-benar sadar, dan penglihatan saya benar-benar sudah penuh, saya baru ngeh bahwa di hadapan saya itu adalah O’Neil’s paw.

“Oooohhhaaalllaaahhh Nak, maminya di kasih kaki ya pagi-pagi, sama pantat ngangkang gini? But I’m glad that I can still see and have you this morning. Love you baby.”

Saya pun memberi kecupan pada anak kecil itu sembari berbicara padanya “Bangun yuk,” “Hooommmooommmm.”

“Dasar males. Mami gendong turun ya.”

I’m Not A Shoes Fetish…

Thursday, September 9th, 2010

Sudah lama sepertinya, saya ndak menulis sesuatu yang berbau-bau tentang fesyen. Mungkin karena kemarin-kemarin saya jarang belanja, atau mungkin karena isi lemarin tidak perlu ada yang dikurangi, lalu diganti yang baru.

Beberapa hari lalu saya kembali menambah koleksi sepatu. Kali ini sepatu kerja, karena sepatu kerja andalan saya sudah sedikit perlu di “hemat” untuk dipakai.

Terus terang saya bukan shoes fetish. Dan sepatu adalah prioritas kedua (setelah pakaian), saat saya memutuskan untuk melakukan retail therapy. Bagi saya, cukup kalau setiap tipe (yang saya bagi menurut fungsinya), yang saya punyai ada warna hitam dan warna putih. Dua warna netral itu tidak akan membuat saya lebih repot  kehabisan waktu untuk mencocokkan antara sepatu dengan pakaian yang akan saya kenakan.

Dengan menambah satu pasang lagi, sekarang inilah koleksi sepatu yang saya punyai *ga sebanyak koleksi sepatu kalian kok* :mrgreen:

DSC00763Kali ini saya ingin membahas, bercerita, atau mungkin juga reviu satu per satu tentang sepatu-sepatu yang saya punya ini. Jadi tak apa lah ya…kali ini saya juga menyebutkan mereknya.

Dan kita mulai dari deretan belakang, dari kiri ke kanan…

Nike. Saya kangen memakai sepatu ini, karena sepatu ini adalah sepatu tenis yang tentunya hanya saya pakai saat saya berlatih tenis. Karena saya kangen memakai sepatu ini, pastinya saya sudah lama tidak bermain tenis. Kalau saya tidak salah ingat harga asli sepatu ini lebih dari Rp.500.000, tetapi sepatu ini saya dapatkan hanya sekitar Rp.200.000an.

Converse. Sepatu paling menyenangkan untuk dipakai. Nyaman, gaya, dan menyarukan usia asli :mrgreen: . Saya ingat betul, sepatu ini saya beli karena terpaksa. Saat itu saya masih kuliah dan hari itu adalah hari ujian salah satu MKDU. Ujian ini mengharuskan setiap pesertanya memakai sepatu. Sialnya saya lupa memakai sepatu, karena fakultas saya sedikit tak peduli apakah mahasiswanya memakai sepatu atau sandal saat kuliah ataupun ujian. Beda fakultas, beda pula universitas *loh?*. Pihak universitas bisa saja tidak mengizinkan mahasiswa mengikuti ujian, karena tidak memakai sepatu. Untung saja ujiannya setelah makan siang. Dan waktu itu paginya saya memang ada ujian lain, jadi saya tidak mepet sampai kampus. Terpaksalah saya berlari ke mall sebelah kampus untuk mencari sepatu *kebetulan ada alasan buat beli sepatu*. Hasilnya yaa…si Converse yang satu ini. Warna merah muda, belakangnya sedikit tinggi dan bisa ditekuk. Jika ditekuk, bagian yang tertekuk (yang notabene adalah bagian dalam sepatu) memiliki corak kotak-kotak kombinasi warna merah muda, kuning dan putih. Harga saat saya beli antara Rp.300.000 – Rp. 400.000.

Marie Claire. Sepatu yang mempunyai tinggi hak sekitar 6 cm ini saya beli tahun lalu, saat saya harus kembali bekerja setelah lulus kuliah, dan baru sadar, koleksi sepatu kantor sudah sangat minim. Terus terang sepatu ini sangat jarang saya pakai. Satu alasannya, karena tidak nyaman di kaki. Mungkin karena ternyata merek ini tak cocok dengan bentuk dan segala sesuatu di kaki saya, atau karena faktor lain. Harga sepatu ini berkisar antara Rp. 200.000 – Rp. 250.000.

Everbest. Kalau tidak salah dulu Everbest mempunyai tag line The Best Ever. Terus terang sepatu ini dibelikan oleh seseorang *eh* di tahun 2004, saat tiga pasang Everbest yang saya miliki sebelumnya sudah waktunya dipensiunkan. Merek ini adalah merek andalan saya untuk sepatu kantor, karena sangat nyaman di kaki. Everbest yang ini hanya mempunyai hak setinggi 4 cm.  Termasuk sepatu dengan hak rendah yang saya miliki. Sebelum Everbest yang ini, Everbest yang saya pakai harian mempunyai hak antara 5-8 cm, karena ya itu tadi, walaupun tinggi, untuk berlari ke sana ke mari, sepatu merek ini tetap nyaman di kaki. Tak membuat kaki saya lecet sedikit pun. Enam tahun lalu, harga sepatu ini berkisar Rp.450.000 – Rp. 500.000 *gue tau harganya karena gue yang milih, dan belinya sama gue* :mrgreen:

G by Guess. The newest one. Gara-gara terlalu lama menunggu antrian dokter gigi, Senin lalu saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall yang letaknya di samping rumah sakit tempat saya berobat gigi. Saya memang sudah berencana untuk menambah koleksi sepatu kantor, yang bukan flat shoes. Putar-putar keliling pusat perbelanjaan yang saat itu sedang menggelar diskon dimana-mana adalah hal yang menyenangkan untuk saya. Saya bisa mendapatkan barang mahal dengan harga diskon. Seperti sepatu ini, yang saya beli dengan harga Rp.300.000 – Rp. 400.000 setelah diskon, dan seperti biasa, yang paling penting adalah bisa dipakai untuk sedikit berlari-lari selama di kantor, karena mempunyai tingkat kenyamanan yang luar biasa.

Pretty Fit. Yang ini bukan sepatu untuk ke kantor. Melainkan sepatu untuk pesta. Saya beli saat saya ke Singapura tahun lalu. Mempunyai hak 8 cm dengan ujung yang kecil, yang terlihat akan membuat kaki pegal jika memakainya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Sepatu ini sangat nyaman di kaki, bahkan saya sempat memakai beberapa kali ke kantor, saat saya bosan dengan sepatu kantor saya. Seingat saya, sepatu ini saya beli dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (jika dikonversi ke Rupiah), dengan harga asli Rp. 800.000an (juga jika dikonversi ke Rupiah).

Noche. Sepatu ini saya beli karena sepatu pesta saya sebelumnya yang berwarna putih sudah saatnya di “lembiru” (lempar beli yang baru). Sepatu ini adalah saksi saat saya wisuda menjadi Sarjana Psikologi. Saksi kebosanan saya menunggu untuk dipanggil ke atas podium dengan nama Rosarini S.Psi *long and windy road, Man!!!* Tinggi hak 7 cm, dan tetap nyaman di kaki saya. Harganya pun termasuk membuat dompet saya pun tetap nyaman, yaitu sekitar Rp. 300.000 – Rp. 350.000.

Hush Puppies. Nyaman sungguh sepatu ini. Kualitasnya sesuai dengan harganya yaitu Rp.800.000. Saya membeli sepatu ini akhir tahun lalu, dan saya ingat betul sepatu ini masih termasuk new arrival, dan tak ada diskon. Tapi ternyata “mas-mas” penjaga counter menghampiri saya dan mengatakan ini “Mbak, kalo mbak mau yang itu, saya telfonin temen saya yang di kantor pusat biar bisa diskon, terus terang saya lagi ngejar target dapet insentif akhir bulan,” akhirnya saya membawa pulang sepatu itu dengan harga Rp. 500.000 :mrgreen: Dan sepatu ini sekarang menjadi sepatu andalan saya saat ngantor.

Noche. Patent Leather-Pump Shoes yang menjadi saksi sejarah saat saya ujian/sidang skripsi tahun lalu. Selama dua jam dia menemani saya di ruangan itu, untuk menjawab semua pertanyaan para penguji. Sepatu ini jarang saya pakai, karena memang saya kelompokkan sebagai sepatu pesta, menjadi teman sack dress sebagai pilihan ringkes saat saya “terpaksa” berdandan pergi ke pesta. Heels sepatu ini hanya 7 cm, dengan ujung yang kecil, tapi walaupun harganya tidak terlalu mahal, kualitasnya pun ternyata bagus, setidaknya tidak membuat kaki saya pegal ataupun lecet. Harga sepatu ini saat saya beli, sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000.

Zara. Patent Leather-Suede-Ankle Strap Shoes ini juga saya golongkan sebagai sepatu pesta. Heels yang dimilikinya hanya 5 cm dengan bahan suede dan ujung yang kecil. Menurut saya, sedikit repot memakai sepatu ini, karena ankle strap sepatu ini benar-benar ankle strap yang harus dibuka terlebih dahulu baru ditaliin seperti memasang ikat pinggang, bukan ankle strap yang tinggal cantol. Harga asli sepatu ini sekitar Rp.700.000an, karena ini termasuk koleksi Zara Women, bukan TRF. Tapi…lagi-lagi saya bisa membawa pulang sepatu ini dengan harga lebih murah, yaitu sekitar Rp. 350.000 – Rp. 400.000.

Guess by Marciano. Bermodel sneakers tapi dengan hak wedges setinggi 10 cm. Yang jelas memakai sepatu ini sangat repot, apalagi sepatu ini tanpa lidah, yang memaksa saya harus melonggarkan talinya dari bawah hingga atas, agar kaki saya bisa masuk. Walaupun demikian, hal ini menjadi satu kelebihannya juga, karena kaus kaki yang saya kenakan bisa terlihat motif/corak /warnanya. Eh…sepatu ini juga dibelikan oleh seseorang, saat saya dan dia berjalan-jalan di salah satu mall di Jakarta Selatan, kurang lebih 6 tahun lalu. Harganya saat itu kalau tak salah sekitar Rp. 500.000 – Rp. 550.000 dan itu sudah harga diskon.

Dan sekarang reviu untuk sepatu di deretan depan. Dari paling kiri ya…

Vincci. Dibelikan oleh seseorang saat ia ke Kuala Lumpur. Sangat jarang saya pakai, karena sepertinya koleksi pakaian yang saya miliki jarang pula yang bisa cocok jika saya memakai sepatu ini. Sepatu berbahan beludru ini mempunyai hak sekitar 3 cm, dan cukup nyaman di kaki. Harganya? Saya tidak tahu, lha wong oleh-oleh kok.

Vincci. Flat shoes nyaman dan bisa dikatakan dengan harga yang cukup murah. Kalau tidak salah sepatu ini kisaran harganya Rp.200.000 – Rp. 250.000. Sempat menjadi sepatu andalan saat saya masih bekerja di sebuah retail company, karena saya lebih sering berangkat dan pulang kantor dengan kendaraan umum. Karena terlalu sering dipakai, sepatu ini mulai rusak dibagian solnya, dan memaksa saya untuk mengurangi frekuensi pemakaian sepatu ini.

M)phosis. Patent-leather-ankle-strap-shoes ini saya beli di Singapura dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (dengan konversi ke Rupiah). Sangat nyaman di kaki, termasuk untuk menerjang hujan, berlari-lari dan berkendaraan umum. Sampai-sampai sekarang terpaksa saya kurangi frekuensi memakai sepatu ini, karena sudah mulai rusak. Flat shoes dan sandal M)phosis, adalah inceran saya saat akan menambah koleksi sepatu jenis yang satu itu. Nyaman sungguh boss!!

Everbest. Yang satu ini termasuk salah satu sepatu andalan saya untuk ngantor. Sepatu ini, sepatu hibahan dari tante saya, karena ternyata sedikit kebesaran untuknya. Saat diberikan ke saya, kondisinya masih sangat baru, dan kebetulan pas di kaki saya dan mereknya pun saya suka. Saat berjalan-jalan ke mall, saya melihat sepatu model ini dijual dengan kisaran harga Rp.700.000 – Rp. 800.000 *mayan menghemat duit* :mrgreen: .

Sebenarnya saya masih punya dua pasang sepatu lagi yang lupa saya foto. Dua-duanya flat shoes, menyenangkan dan nyaman. Satu bermerek Top Shop, dan satu lagi Tracce. Yang Top Shop berbahan dasar satin warna biru dilapisi dengan lace warna hitam, dan waktu itu saya beli dengan harga Rp.400.000 pada akhir tahun 2006, sedangkan yang Tracce dengan model mary jane, berbahan kain yang saya tidak tahu jenisnya, berwarna krem, di bagian ujung dan strapnya berbahan patent-leather berwarna coklat tua. Dua pasang sepatu ini ingin saya perbaiki, karena sedikit rusak di bagian solnya, tahu khan jalanan kota Jakarta yang tak pernah bersahabat dengan sepatu? Sangking nyamannya dua pasang sepatu ini, saya jadi malas untuk me-”lembiru” keduanya.

So…koleksi sepatu saya tak sebanyak koleksi kalian khan ya? Mudah-mudahan cerita, reviu tentang sepatu-sepatu ini dapat menjadi bahan pertimbangan kalian saat ingin berbelanja sepatu.

Hmmm…untuk cara merawat sepatu setelah kita beli, coba dibaca ulang tulisan saya yang satu ini…Sepatu Bersih Sepatu Cantik

—-

“Btw, kenapa sepatu gue banyakan item yah? Sesuai dengan baju yang mayoritas warna gelap? Atau sesuai yang lainnya? Terus-terus ketimbang cuma punya 20an pasang sepatu aja dah rempong nyimpennya, apalagi para shoes fetish itu yah? Ga kebayang…”

Tepat Tiga Minggu…

Monday, March 29th, 2010

Belum hilang kesedihan saya akan kehilangan Rambo, saya kembali dipaksa untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya di rumah.

Sesampainya saya di rumah setelah pulang kantor hari Rabu, 24 Maret 2010, saya disambut oleh Molly yang tampak tak bergairah di teras depan. Dan seperti biasa saya mengelus-elus dia, karena setelah Rambo meninggal, hanya tinggal Molly yang menjadi penguasa teras depan rumah…

“Nak, kamu kok jadi kurus banget ginih. Males banget makan abis ditinggal Kak Embo? Mimi ke dalem dulu ya, ganti baju.”

Saya memang tak berganti baju, tapi malahan mengobrol dengan ibu dan bapak saya. Dan saya ingat betul kalimat di bawah ini yang mengakhiri obrolan kami bertiga.

“Molly tadi mau makan?”

“Mau, kasih makan lagi aja.”

Saya pun langsung beranjak menyiapkan makanan untuk perempuan jagoan saya yang satu itu.

Molly pun langsung beranjak dari tidurnya setelah mendengar saya memanggilnya untuk memberi makan. Namun tak lama kemudian setelah saya masuk kembali ke dalam rumah dan kali ini benar-benar untuk berganti pakaian, saya mendengarnya merintih kesakitan, sangat-sangat kesakitan. Saya bisa katakan demikian, karena saya tahu Molly adalah anjing kuat dan tahan banting luar biasa.

Tanpa basa-basi, saya langsung kembali menuju ke teras depan, dan kaget setengah mati, karena menemukan Molly tersayang kesulitan untuk berdiri. Kedua kaki belakangnya tiba-tiba lunglai dan lemas. Ia pun terus-menerus merintih dan menjerit kencang tanpa henti.

Saya pun sembari memegangi Molly berteriak memanggil Mama atau Papa untuk membantu saya…

“Panggilin Becky dounks, Ma. Minta pegangin Molly dulu, aku mau ganti baju.”

“Becky dah tidur.”

“Bangunin aja. Nih anak kenapa treak-treak?”

Akhirnya Becky, abang saya kedua menghampiri saya dan membantu memegangi Molly.

“Bentar Beck, gue ganti baju dulu, masih pake baju kantor ini.”

Saya pun bingung setengah mati, apa yang harus saya lakukan saat itu. Bolak-balik kiri-kanan, sampai saya memutuskan untuk membawa Molly ke Rumah Sakit Hewan 24 jam yang ada di Sunter.

“Molly harus dibawa ke Sunter sekarang. Damn besok gue ada Coffee Morning pulakh, gue ga bisa libur.”

Saya kembali masuk ke kamar, berganti baju kembali dan bersiap untuk membawa Molly ke Rumah Sakit bersama dengan Becky.

Becky pun tanpa basa-basi berganti baju, meminta uang sementara ke Papa dan menggendong Molly ke dalam mobil.

“Bentar ya Sayang, kita ke dokter ya. Sakit banget ya, Nak? Kita usaha bareng dulu ya.”

Saya bertugas mengendarai mobil, karena abang saya yang satu itu, lebih “buta” jalan daripada saya, yang lebih hobi kluyuran di jalanan.

Menyusuri jalan tol Kebon Jeruk dan tol Dalam Kota yang sudah kosong, tetap terasa lama, saat saya harus mendengar rintihan anak perempuan saya satu-satunya itu.

“Bentar ya sayang, Mimi lagi nyetir nih Nak, cepet ampe rumah sakit ya kita.”

Sesampainya kami di rumah sakit, saya melihat bahwa pasien yang berobat masih banyak. Tanpa berpikir panjang saya langsung menghampiri ke resepsionisnya…

“Mbak masih banyak ya? Emergensi nih.”

“Dah pernah ke sini?”

“Yang ini belom, anjing saya yang lainnya udah. Biasanya dibawa ke Green Garden.”

Saya pun diminta untuk mengisi data-data Molly dan saya sendiri.

“Dah mbak, hewannya dibawa turun aja, terus ditimbang ya.”

Molly kemudian ditangani oleh dokter yang sedang bertugas malam ini. Saya sudah tahu bahwa kondisi Molly sangat-sangat mengkhawatirkan, saat saya memeriksa kondisi mulutnya di mana seluruh gusi sudah nampak pucat pasi berwarna putih, detak jantung yang sudah sangat cepat. dan duburnya yang sudah mengeluarkan darah.

Di atas meja pemeriksaan, Molly yang sudah diberikan cairan intra vena dan diberi obat penghilang rasa sakit, masih juga menangis kesakitan, dan semakin keras saat saya melangkah menjauh daripadanya.

Saya pun kemudian berkata pada Molly…

“Sayang, sakit banget ya? Kita usaha dulu ya berempat ama dokternya ya? Molly khan kuat, cantik, pinter, usaha dulu, tapi Molly boleh milih nanti, mau ikut Embo atau milih ama Mimi, terserah kamu ya, Sayang. Tapi malem ini Molly bobokh sini dulu ya, ama dokternya, besok bis ngantor Mimi nengok Molly, kalo ngga ngantor nanti Mimi ga bisa nyembuhin Mowi.”

Saya mengantar Molly ke ruang rawat inapnya, tubuhnya yang sudah dingin dan terpasang infus, digendong oleh asisten dokter yang merawat Molly. Sesampainya di ruangannya, Molly masih diberi penghangat lebih berupa sinar lampu yang langsung disorot ke tubuhnya, tapi sebelum saya turun, ternyata, selang infus Molly pun sudah terlepas, karena ia terlalu banyak bergerak, mungkin kesal karena ia ingin berdiri tapi sudah tak mampu.

Saya kemudian berjalan menuruni anak tangga dan kembali ke ruang periksa tadi, untuk membereskan urusan administrasi rawat inap Molly, sembari berbincang-bincang sebentar dengan dokternya…

“Do your best untuk Molly ya, Dok.”

“Will do, tapi kita juga harus realistik, melihat kondisi Molly, terus terang sangat mengkhawatirkan, makannya saya ga bisa janjiin yang manis.”

“I know, still do your best.”

Abang saya pun kemudian nimbrung di perbincangan kami…

“Ya kalau memang yang terbaik untuk Molly adalah eutanasia, ya ga papa juga.”

Disusul dengan omongan saya…

“Ya tapi kalo bisa mah yang eutanasia, mah yang punya idup semua makhluk.”

Lalu si dokter pun menjawab…

“Saya juga paling males kalo disuruh nyuntik mati. Kalo ga ditungguin pemiliknya, saya diem-diem ngerawat dulu ampe beberapa hari lagi, kalo bener-bener ga bisa baru eutanasia. Saya ngga mau sebenernya.”

Setelah beres, kami pun kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Kembali saya yang mengendarai mobil, di tengah jalan tol yang sudah sepi, dan membuat kantuk. Jam mobil sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Dan tepat pukul 03.00 dini hari, Kamis 25 Maret 2010, saya dan si abang sampai di rumah.

“Deeemmmm…ntar jam 5 dah harus berangkat pulakh. Sialll.”

Sesampainya di rumah, saya langsung masuk ke kamar si Mama, berganti baju dan tidur. Namun tidur saya malam ini pun tidak nyenyak, karena memikirkan anak saya yang sedang di rumah sakit, yang terakhir sebelum saya pulang, saya masih mendengar rintihannya.

Pukul 05.00 waker yang bunyinya sungguh keparat itu, tumben mampu membangunkan saya dari tidur. Sialnya, saat diri ini belum mandi, taksi yang saya pesan sudah datang…

“Dem…telat ini gue bakalan.”

Dan benar tebakan saya, taksi yang saya tumpangi tak sanggup menghantarkan saya ke kawasan Pejaten dalam waktu satu jam, karena jalanan yang saya kira masih sepi di pukul 05.30 pagi, ternyata salah total.

“Duuuhhh…maap nih…HRDnya telat lagih…hahahhahah.”

Acara kantor tersebut tak berlangsung lama, dan karena jadwal saya seharusnya memang libur, jadi saya langsung meninggalkan store seselesainya acara itu. Dan pertanyaan selanjutnya…

“Jrittt..ga suka nih gue dah bangun pagi, pergi and ga tau mau ngapain. Telpon rumah sakit kali ya, gue nengok Molly, tapi belum jam 10.00, si dokter belom selese ngobatin pasien-pasiennya.”

Akhirnya saya memutuskan untuk sebentar nyangkut di warung kecil samping store, menenggak sebotol minuman teh di kemasan botol, dan ngobrol dengan beberapa anak saya, yang juga nyangkut di sana, sembari memikirkan apa yang harus saya lakukan sebelum pulang ke rumah.

Pukul 10.00, saya memutuskan untuk pulang, dengan menaiki Trans Jakarta. Saat pikiran ini sedang memikirkan Molly tersayang, tiba-tiba telepon saya berdering. Di layar tertera sebuah nomor yang tak ada di buku telepon si Bébé saya. Saya mengangkatnya…

“Hallo, mbak Rosa, ini dokter Endang.”

Yah, pikiran saya sudah tak karuan, saya sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh dokter itu…

“Mbak, sorry ya, Molly ga ketolong, barusan aja meninggal.”

Saya pun hanya bisa berkata…

“Yaaaahhh. Molly ga ketungguan ama saya ya.”

“Iya, tadi malem, jam 4 dia dah mulai bisa tenang, tapi jam 7 tadi dia pup darah, barusan meninggal. Tapi meninggalnya dia ga kesakitan kok, tenang.”

“Ya udah lah dok, yang penting dia sekarang dah ga sakit. Tapi saya ga bisa ngambil sekarang ya. Saya baru pulang dari kantor.”

“Ga papa. Nanti khan dimasukkin ke lemari pendingin.”

“Kalo dikremasi berapa, Dok?”

“Seratus ribuan.”

“Tapi abunya ga bisa diambil ya sekarang aturannya?”

“Iya, Mbak, abunya sekarang ga bisa diambil kayak dulu.”

“Ya udah, Dok, saya ambil Molly hari minggu ya. Ma kasih ya, Dok.”

Sesaat saya menutup telepon itu, semua “film” dari saat saya bertemu Molly di ujung jalan rumah saya, saat ia akhirnya mau diajak masuk ke rumah dan akhirnya kami pelihara, saat ia meminta untuk melahirkan anaknya di rumah, saat saya membawanya ke rumah sakit untuk disterilisasi, betapa senangnya ia menemani saya atau papa jalan-jalan, saat ia menangis karena dilarang ikut papa bersepeda, saat ia berteriak minta dibukakan pintu kalau ia kehujanan di luar saat ia ia berjalan-jalan sendiri tanpa kami temani, saat ia menyambut saya sepulang kantor, sampai detik-detik terakhir hidup bersama kami yang sudah berjalan kurang lebih 8 tahun.

Di tengah sedihnya saya setelah mendengar berita tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk turun di halte depan kantor Becky, dan menuju ke kantornya abang saya yang ikut menemani saya membawa anak cantik itu.

Dan begitu saya bertemu dengan Becky, di ruangannya…

“Mowi meninggal.”

“Hah? Yakin? Meninggal beneran? Cepet banget, masih mau makan, masih mau minum susu. Dokternya bilang apa?”

“Gak tau, orang belum diambil darah, belum di akupunktur, baru abis dikasih obat sama dibersihin. Tapi tadi dia check pupnya, penasaran kena Parvo atau bukan, dan ternyata bukan.”

Lalu saya menelepon ke rumah dan kebetulan yang mengangkat Papa, yang sering sekali ditemani Molly berjalan-jalan, sering mengajaknya mengambil uang ke ATM (dan jika Molly ikut, Papa memasukkan Molly sampai ke dalam ruang ATM, tidak dibiarkan menunggu di luar), atau menemaninya berjalan ke mini market yang letaknya di kompleks sebelah…

“Pa, Molly ga ada.”

“Yaaaahh, aduh, aku kebayang matanya. Ya udah lah daripada kasian. Dokternya belum nemu sakit apa ya?”

“Belum sempet observasi lebih lanjut.”

—-

She was a stray dogs…yang akhirnya saya dan keluarga saya pelihara dan sayangi. Dan terus terang, kami tak pernah tahu usia asli anak perempuan saya yang satu ini, tapi yang kami tahu adalah Molly kami sayangi, ia bagian keluarga kami, dan ia meninggalkan jejak kaki yang luar biasa dalamnya di hati kami sekeluarga…

“Love you, Mowiiii, we already miss your little cute eyes, we already miss you to the max. Nanti kalo Mi mati jemput Mi sama Rambo, ama Bozo, ama Boomer and kakak-kakakmu yang lain ya.”

*Masih belum bisa upload gambar…Damn!!! Jadi kalo mau liat fotonya Molly bisa klik di sini


Till We Meet Again In Heaven, Baby…

Thursday, March 4th, 2010

Kurang lebih seminggu ini, saya diminta belajar (lagi) bagaimana menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

Satu hal yang paling saya tidak suka dari memelihara binatang adalah saat saya harus melihat mereka sakit, menghadapi sakratul maut dan pulang ke rumah Tuhan. Itu adalah masa-masa penyiksaan batin bagi saya sendiri. Tersiksa karena melihat dan mendengar mereka merintih kesakitan. Tersiksa karena dilema apa yang harus saya perbuat, apakah harus ke dokter yang most likely mereka akan menyarankan untuk menidurkan bayi-bayi lucu itu (apalagi jika mereka memang sudah tua), atau memutuskan untuk merawat mereka di rumah dengan penuh cinta sampai ajal menjemput mereka.

Saat mereka merintih sakit, tak hanya dia yang merasakan, tapi saya, dan seluruh keluarga juga merasakan rintihannya. Bagaimana tidak, ia sudah tak bisa makan dengan enak. Makanannya harus dilembutkan, dan kami hantar ke mulutnya dengan menggunakan semacam suntikan yang berujung seperti pipet. Kami harus mendirikannya, karena ia tak sanggup lagi untuk berdiri sendiri, bahkan di menjelang ajalnya, kami harus membersihkan kotoran pup atau urin yang ia keluarkan spontan di tempat.

Sudah puluhan tahun biasa memelihara anjing, kami tahu persis, bagaimana kondisi mereka jika sudah mendekati ajal. Begitu pun juga saya, yang sudah mengetahui saat Rambo sudah dekat. Prediksi saya, paling lambat besok, itupun dia pasti akan menunggu saya sepulang kantor. Tak tahu kenapa, atau setidaknya empat anjing saya yang meninggal terakhir, pasti menunggu saya pulang ke rumah. Oleh sebab itu, hari ini saya bela-belain menemani Rambo sepanjang hari. Nyaris saya tak beranjak dari teras depan rumah, tempat “singgasana” si ganteng, nan cerdas, campuran German Shepherd dan Chow-Chow ini.

Saya hanya duduk di sampingnya, mengelus-elus tubuh dan wajahnya yang sudah sangat lemah, sesekali membersihkan badannya dan duburnya dengan tissue basah, sembari bernyanyi dan juga bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah saya/keluarga dan Rambo lalui selama 12 tahun kami hidup bersama. Hal itu membuatnya terlihat manja, Rambo sama sekali tak mau ditinggal, bahkan saat saya berlari ke dalam rumah untuk mengangkat telepon, ia sudah meraung-raung menangis tak mau ditinggal. Tentunya, itu membuat saya langsung kembali bersamanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dan saya belum makan siang. Saya bicara dengan Rambo, “Nak, Mimi makan siang dulu ya, belum makan siang nih, ditinggal sebentar ya, Embo mau mamam? Mi siapin?” Rambo pun hanya mengedipkan mata.

Dari dalam sembari makan saya mendengar Rambo tetap merintih minta ditemani. Namun seselesainya saya makan, saya tak langsung menemaninya lagi. Badan ini masih lelah, karena berhari-hari tak bisa tidur nyenyak merawat Rambo, bergantian dengan Mama, bahkan kami harus bangun saat subuh, kalau Rambo melonglong minta ditemani atau minta dibersihkan karena ia mengompol atau pup di tempat.

Akhirnya kurang lebih pukul 17.00, saya kembali memeriksa kondisinya. Ternyata ia masih meraung-raung, dan pup. Saya berlari ke dalam sebentar, karena tisu basah yang sudah saya siapkan di dekatnya sudah habis. Saat saya selesai mengelapnya, saya pun membersihkan lantai sekitarnya. Sedetik setelah saya letakkan pengki yang berisi sampah koran bekas yang juga digunakan untuk alas tidur Rambo, saya melihat ke arahnya dan dia sudah mengompol lagi. Lalu tak tahu mengapa, seperti ada yang meminta saya untuk melihat ke arah wajahnya, yang ternyata sudah bernapas satu-satu, dan perutnya sudah tidak mengembung dan mengempis, seperti adanya sebuah pernapasan.

Saya pun berlari ke arahnya…

“Rambo, Ayank dah mau pulang ya? Ma kasih wa, dah nemenin mimi 12 taun. Sekarang Mimi temenin pulang wa. Dah ketemu sapa aja? Chopin? Cello? Astor? Pluto? Bozo? Titip salam ya Nak, yuk putus ya napasnya, enakkan di surga loh Nak. Nanti kalo mimi mati, Embo jemput mimi wa? I love you, Honey, so much, ampe ketemu nanti wa,” dan saya pun mencium keningnya. Dan Rambo tidur dengan tenang tanpa rasa sakit sedikit pun.

Dan hari ini, tidak ada tangis saat Rambo pergi. Tak seperti hari-hari kemarin saat ia masih merintih kesakitan, air mata ini sempat mengalir, deras.

Saya pun langsung menelepon si Abang…

“Woi, di mana lu?”

“Kenapa lu? Laper?”

“Kagak, di mane?”

“Depan kompleks.”

“Buruan! Pemakaman.”

“Ooohh dah pulang? Thank God.”

“Buruan, keburu gelap.”

Terus terang, tanah itu sudah tergali semenjak hari Minggu lalu. Lagi-lagi, karena keluarga kami sudah tahu persis kondisi saat anjing-anjing kami sudah mendekati ajal, saat ke dokter pun, kami pasti akan mendapatkan respon sebuah sakit hati. Dan hari ini, tanah galian itu sudah kembali tertutup dengan tubuh bayiku, Rambo yang sudah tidur tenang, ada di dalamnya.

Kembali mereka mengajarkan saya, sebuah kesetiaan tiada tara, sebuah cinta tanpa syarat samaaaaa sekaaalliii, bagaimana harus menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

“Ma kasih wa Mbo…untuk 12 tahun yang sangat menyenangkan, maap kalo Mi sering telat ngasi mam, inget tadi waktu kita ngobrol, waktu mata Embo kinclong natap mata Mi, I Love You so much, jemput Mi nanti pas Mi mati wa.”

*seeebbbbeeellll mau upload foto bayi lucuku si Rambo, blog lagi ga bisa upload foto, DAMN*

*eh bisa liat foto bayiku, si Rambo dan teman-temannya itu di sini*

Gaya, Cantik, Asli, Gak Malu-Maluin…

Tuesday, January 5th, 2010

Perempuan mana sih yang tidak suka tampil gaya dan cantik?

Apapun caranya, setiap perempuan ingin tampil cantik, mempunyai gaya tersendiri, dan enak dilihat oleh orang lain. Ada yang mengandalkan riasan wajah dan ada pula yang mengandalkan busana. Yah, walaupun keduanya adalah hal yang mampu membuat si perempuan merelakan sebagian kecil, bahkan sebagian besar, penghasilannya sendiri, atau penghasilan pasangannya sebagai modal berpenampilan aduhai setiap harinya.

Saya, sebagai perempuan (yang kebetulan hanya urusan hardware dan casing-nya), termasuk sangat peduli untuk urusan penampilan. Tapi andalan saya bukan di urusan rias wajah, melainkan busana dan printilan fesyen yang saya gunakan tiap hari.

Riasan wajah hanya akan menempel lengkap di wajah saya, saat saya akan pergi ke pesta, terutama pesta pernikahan. Sedangkan riasan harian, saya hanya mengandalkan pelembab wajah Seaweed dari The Body Shop, dan bedak tabur, Marcks, buatan Kimia Farma, yang harganya kurang dari Rp.10.000 yang kebetulan dianjurkan dokter kulit saya. Jadi bisa dibilang, penghasilan saya tidak akan banyak “lari” ke peralatan dan perlengkapan tata rias wajah. Produk dari The Body Shop dan Revlon, yang mendominasi koleksi peralatan dan perlengkapan tata rias wajah saya, cukup awet, dan bahkan ada yang akhirnya saya relakan untuk dibuang, karena takut sudah terlalu lama, dan sudah tidak laik pakai.

Lain produk make up, lain pula urusan fesyen dan printilannya. Yang satu ini, terus terang cukup “menyiksa” penghasilan saya, walaupun saat ini, saya sudah lebih bisa menahan diri untuk belanja ina-ini-itu yang sangat-sangat tidak penting. Tapi teteup benda tidak penting (saat ini) kadang pun terbeli. Dan saat-saat paling menyiksa adalah tengah tahun dan akhir tahun, di mana pesta diskon digelar beramai-ramai. Termasuk merek-merek andalan Mango, Zara, (X) SML, Invio, dan G2000.

Dan hari terakhir di tahun 2009 lalu, saya pun merelakan sekian gaji saya terlempar ke butik yang saya sebutkan di atas.

Tema perburuan hari itu adalah outfit untuk ngantor, karena saya sudah mulai bosan dengan koleksi baju kantor saya.

Perburuan dimulai dari Plaza Semanggi, karena saya tahu di sana ada butik Invio dan gerai G2000, yang saat ini masih jadi andalan saya mencari baju-baju untuk ngantor. Satu sih yang jelas, mengapa saya memilih dua merek itu, karena ada ukuran saya, si skinny ini. Dan modelnya yang dikeluarkan oleh dua merek tersebut, masih bisa saya katakan cocok untuk digunakan ngantor di toko saat ini. Karena belum kembali diizinkan Tuhan sebagai penghuni gedung-gedung perkantoran megah di daerah Sudirman dan sekitarnya, jadi, koleksi seperti Zara Woman, Raoul, belum saatnya saya jadikan koleksi pakaian ngantor, walaupun koleksi Mango Suit sudah ada yang tergantung di gantungan pakaian di kamar saya.

Tapi dari butik-butik andalan saya mencari baju ngantor, saya hanya membeli 1 kemeja kotak-kotak merah di Invio, dari harga Rp.368.000 menjadi Rp.184.000. Dan karena saya berpikir, “Ngecek Mango ahhh.”

Selesai sudah urusan belanja-belanji akhir tahun? Gak mungkin, lah wong saat saya melirik jam tangan, masih jam 11.00 pagi.

Perburuan dilanjutkan ke Plaza Senayan. Ada Mango, ada Zara. Walaupun ada pusat perbelanjaan lain seperti Grand Indonesia dan Pondok Indah Mall, di mana dua butik Spanyol itu ada. Tapi tak tahu kenapa Plaza Senayan tetap menjadi pilihan nyaman saya untuk belanja.

Setelah beberapa putaran, mengitari dan melihat-lihat di Zara, saya bisa terselamatkan dari tentengan belanjaan di butik ini.

Tapi tidak di Mango. Padahal saya hampir putus asa saat mengitari Mango. Mungkin karena display barang diskon yang banyak dan sedikit terlihat lebih berantakan, biasanya membuat saya sedikit kehilangan mood belanja.

“Dem, gue lagi nyari celana ini, kok ga ada yang bagus ya. 34-nya kemana semua ya? Jangan bilang dah abis, ini kok yang ada yang gede-gede sih, 38, 40, yang kecil maneee,” kira-kira itu perbincangan saya dengan diri sendiri, sampai saya berbincang dengan penjaga butik…

“Mbak, ukurannya tinggal yang di sini?”

“Iya.”

Kembali berbincang dengan diri sendiri…

“Denial, kayak baru sekali belanja ke Mango, ya kalo diskon ukurannya cuma yang dipajang, Cung!”

Dan kembali saya menggeser-geser deretan celana panjang yang tergantung di sana…

“Eh, nih dia nih yang waktu itu gue incer, masih ada pula 34 nya. Yang waktu itu kacrut harganya, 1 jeti lebih. Sekarang berapa ya? Eh, kok jadi 399 ya, tapi kok kayaknya kegedean. Coba dulu ah.”

Sambil menuju ruang ganti, saya kembali menggeser deretan gantungan celana di sana, dan…

“Jrit, Mango Casual Sport pulakh ini. Berapa sekarang? What 179 dari 600 rebu lebih? Coba juga aaahh.”

Dan saat mencoba…

“Weiitss…pas niy, tapi nih kaki kepanjangan deh,” lalu saya pun sambil masih mengenakan celana yang saya coba, keluar dari ruang coba, untuk melihat jatuh si celana itu, karena di depan deretan ruang coba di Mango, terdapat satu cermin besar tak ada potongannya dari ujung ke ujung tembok.

Kebetulan di sana ada pramuniaga yang menjaga…

“Mbak, masih bisa alter celana ga sih?”

“Masih.”

“Tapi lama ya, 2 minggu?”

“Gak kok, paling 4 harian.”

“Mau dounks mbak yang ini bisa khan dipotongin, kalo ga potongin di sini, ntar modelnya ilang.”

Yupe…dan 400 ribu pun sudah bisa dipastikan masuk ke POS kasir si Mango.

Berikutnya si Mango Casual Sport Wear. Saya pun berharap, jatuhnya si celana yang satu ini tidak bagus. Tapi harapan saya ternyata tidak terwujud. Celana warna kakis, berbahan kordorai halus dan berpinggang tinggi, ini pun jatuh manis di kaki saya.

Kembali saya keluar dari kamar coba, dan bertanya pada si pramuniaga…

“Mbak ini khan modelnya agak lebar di bawah ya, ga lurus. Terus bawahnya tekukan celananya ga biasa kayak celana lain, kalo dipotongin modelnya masih sama ga?”

“Bentar saya coba tekuk dulu ya, sesuai dengan panjang kaki, Mbak.”

Pramuniaga itu pun kembali mengukur panjang celana yang disesuaikan dengan panjang kaki saya…

“Masih bisa nih Mbak, modelnya ga ilang kok.”

Dan, sudah tahu ya apa yang terjadi kemudian? Hahahaha…Dua celana tersebut berhasil saya bawa pulang, setelah nanti selesai divermak.

Saya pun berkata dalam hati…”Puas gue belanja hari ini.”

Cerita saya selesai sampai sini? Belum… :mrgreen:

Mungkin di antara teman-teman yang baca cerita ini, ada yang berkata dalam hati…”Sombong, sampai nunjukkin harganya segala.”

Saya akan jawab, “Terserah ya mikirnya apa.”

Tapi sebenarnya yang saya ingin tunjukkan di sini adalah, belanja di butik mahal itu bisa juga jadi murah, asal pintar memilih barang, waktu dan disesuaikan dengan keuangan + kebutuhan (klasik sih memang).

Dan hal yang lebih penting lagi, bagi saya pribadi, orisinalitas produk adalah suatu hal yang penting. Pertama, penghargaan terhadap karya seseorang; Kedua, jika produk asli tidak sanggup dibeli, ya tidak perlu mencari produk serupa tapi tidak asli, atau KW 1, KW 2 atau KW berapa pun. Lebih baik cari barang asli, dengan harga yang terjangkau, atau menunggu datangnya program diskon untuk barang-barang yang memang sangat mahal. Dari perburuan program diskon, saya pernah loh mendapatkan rok jeans Oakley dari harga Rp.1.200.000 menjadi Rp.200.000, sack dress berbahan wool Mango Suit dari Rp.1.100.000 menjadi Rp.800.000, sackdress Mango Sport Casual Wear dari Rp.800.000 menjadi Rp.600.000 (*Eh, yang dua terakhir ini ga pake duit gue ndiri ding, ada yang sukarela belanjain* :lol: ), sackdress hitam Zara dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, sackdress hitam Mango dari Rp.700.000an menjadi Rp.200.000an, overall skirt Mango Jeans dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, high heels Zara dari harga Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, Guess hand bag dari Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, dan belanjaan yang terakhir, celana panjang Mango Suit dari harga kisaran 1 juta, menjadi Rp.399.000 dan celana Mango Sport Casual Wear dari kisaran harga Rp.600.000 menjadi Rp.179.000. Dan jangan salah, saya pernah iseng masuk ke butik Raoul saat diskon, banyak loh koleksi mereka yang dijual dengan harga Rp.300.000an, walaupun saat itu saya tidak membelinya, karena saya masih kuliah;  Ketiga, barang asli memang biasanya mahal, tapi kualitasnya juga pasti berbeda, setidaknya dari ketahanan barang tersebut, jadi urusan awet (yang harus didukung dengan kondisi penyimpanan dan pemeliharaan), biasanya tidak perlu diragukan lagi, kecuali kalau ukuran tubuh kita yang mengalami perubahan; Keempat, jangan pernah takut keluar-masuk butik, tentunya butik yang kisaran harga barang yang dijual di sana, memang sesuai dengan keuangan kita.

Saya belum mampu membeli produk-produk sekelas Prada, Louis Vuitton, Burberry, Jimmy Choo, Christian Louboutin, Chanel, dan saya tidak akan mencari barang tiruannya, apalagi memakainya.

Jadi, perempuan tetep bisa berpenampilan gaya, cantik, dengan barang-barang bermerek terkenal dengan harga terjangkau ‘kan? Jangan malas berburu diskon, salah satu kuncinya.

By the way, tante saya punya cerita tentang seseorang dan barang KW ini.

Tante saya ini adalah penggemar dan kolektor fanatik Louis Vuitton, dan Puji Tuhan, saat ini ia masih diberi rejeki yang memampukannya belanja merek tersebut di negara asalnya, bahkan namanya sudah terdaftar menjadi pelanggan butik LV, yang berada di Paris, Perancis.

Saat ia sedang belanja di sana, tiba-tiba ada orang Indonesia, yang dengan nekatnya masuk ke dalam butik, sambil menenteng satu tas merek tersebut, tapi bukan tas LV asli, melainkan yang KW kesekian. Dan seketika salah satu penjaga butik, memanggilnya dan menjelaskan untuk tidak memasuki butiknya dengan membawa barang yang bukan asli. Ternyata mereka sudah sangat ahli membedakan, mana produk asli dan mana yang tiruan. Tidak hanya memanggil si ibu tadi, tapi kemudian ibu tadi diberi tas plastik kresek warna hitam, tanpa nama apapun di depannya, ia diminta untuk memasukkan tas LV-LVannya itu tadi ke dalam tas plastik tersebut, dan kemudian ia diminta untuk meninggalkan butik segera.

Berarti satu lagi lah ya…perempuan harus bisa tampil gaya, cantik, dan tak malu-maluin karena ketauan memakai barang KW atau barang tiruan.

Jadi buat mereka yang mendapat rezeki ke Perancis, dan nekat bawa tas LV yang tiruannya, jangan nekat juga ya masuk ke butik LV di sana. Jangan bikin malu…hihihihi… :mrgreen:

“Kutukan” Hujan…

Friday, November 20th, 2009

Sudah masuk ke musim hujan nih…kira-kira yang istimewa saat musim hujan apa ya, selain waktunya kita bisa kembali menye-menye nan mellow?

Sudah tahu jawabannya?

Hehehehe…istimewanya adalah macet dan banjir. Dua hal yang membuat kesal saat kita sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat, kala hujan melanda.

Hayyyuuukkk…kita daftar, kira-kira “kutukan” bepergian saat hujan itu ada apa saja…

Yang jelas, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, akan lebih lama daripada biasanya, menyebabkan stress tingkat tinggi (*lebay*) saat kita di kendaraan (apalagi untuk yang mengendarai mobil sendiri), mungkin juga bisa terserang panik tiba-tiba. Panik karena lihat bensin yang semakin tiris, panik karena tiba-tiba jalanan di depan kita dipenuhi genangan air yang cukup tinggi. Intinya banyak-lah kondisi-kondisi di jalanan yang mengejutkan saat kita bepergian kala hujan.

Hal pertama imbas turunnya hujan untuk kendaraan tersayang, pastinya adalah kotor. Sepertinya, berdasarkan pengalaman pribadi sih, tidak ada satu bagian luar mobil, yang tak menjadi kotor. Dan kalau sudah begini, berarti sesampainya di rumah, saya sudah punya PR satu buah, yaitu mencucinya agar ia kembali menjadi kinclong.

Itu baru satu “kutukan” PR to do list berkendara saat musim hujan. Lainnya lagi adalah urusan pintar-pintar mencari jalan yang terbebas banjir atau genangan air. Ya, walau nih walau susah bener nyari jalanan di Jakarta yang terbebas dari genangan air. Karena dengan terbebasnya jalanan kita dari genangan air, berarti pula kita bisa terbebas dari macet, terbebas dari stress, dan terbebas dari printilan perbaikan-perbaikan mobil yang diperlukan hanya karena si banjir ini. Tapi, ya sekali lagi saya katakan, itu semua, lebih sering hanya ada di dalam mimpi. Alias kecil sekali kemungkinannya jalanan di Jakarta terbebas banjir.

Terus terang, kepanikan-kepanikan mengendarai mobil di tengah hujan badai, macet dan genangan air di mana-mana, sempat beberapa kali saya temui. Dan waktu itu sempat pula ditambah dengan bensin yang tiris, dan kebelet pipis. Sumpah ngga enak dan menyebalkan. Kalau saat itu saya bisa mematikan mesin, buka pintu mobil dan meninggalkan mobil di tengah jalanan, tentu sudah saya lakukan, setidaknya untuk mencari toilet (*hahahahhaha*).

Kunci pertama saat menghadapi kenyataan-kenyataan pahit di jalanan seperti itu adalah, berusahalah jangan panik, agar kita bisa berpikir panjang, tentang apa yang harus kita lakukan.

Untuk urusan pilah-pilih jalanan terbebas dari banjir yang memang dirasakan susah, ya itu memang sudah merupakan “tanda tangan kontrak” bagi manusia-manusia yang memilih hidup di Jakarta. Jadi, kalau saya berada di situasi seperti itu, saya akan menyiasati dengan berusaha mencari jalan dengan genangan air terendah. Bagaimana caranya? Kendaraan yang melaju di depan kita bisa jadi patokan. Kita bisa melihat seberapa dalam genangan air, atau adakah lubang atau jalanan yang rusak, tapi tertutup oleh air, sehingga mobil bisa kita arahkan ke sisi jalan yang genangan airnya tidak terlalu tinggi.

Untuk urusan bensin, lebih baik sih saat musim-musim hujan seperti sekarang ini, bensin terisi penuh, atau setidaknya jangan di bawah setengah. Jika memang kamu terlupa mengisi bensin, kepepet,  jarak SPBU terdekat masih sedikit jauh, dan kamu melihat ada penjual bensin eceran di pinggir jalan, tak apa juga kamu mengisinya satu atau dua liter.

Tingkat keamanan juga harus diperhatikan loh. Apalagi untuk cecewe yang berkendara sendirian. Hal ini juga berlaku jika kalian memutuskan lebih baik berhenti di sebuah tempat, daripada melanjutkan perjalanan dalam keadaan hujan dan macet, terutama saat kondisi fisik sudah tidak sanggup. Lebih baik memilih pusat perbelanjaan, depan kantor polisi, restoran ramai pengunjung sebagai tempat untuk beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan. Jangan di tempat yang sepi dan gelap.

Tapi hal paling top dari segala tips pribadi yang saya sebutkan di atas, adalah rajin-rajinlah merawat mobil, kalau bisa usahakan jauh-jauh hari sebelum musim hujan tiba. Ya anggaplah, ritual ke bengkel kali ini merupakan “tarian manggil hujan”, atau setidaknya lakukan pemeriksaan sendiri (oli, water coolant, kemungkinan-kemungkinan ada yang bocor) sebelum berangkat beraktivitas.

Jangan pernah malas membawa mobil tercinta ke bengkel. Bukan berarti ya cecewe-cecewe itu hanya bisa maké mobilnya saja, tapi tak mau merawatnya.

Weeeiiitttsss…perempuan yang satu ini juga sering looo…meriksain mobil ke bengkel resmi. Untuk perawatan berkala, dan saat-saat khusus yang diperlukan. Misalnya jika ditemukan bunyi-bunyian aneh dan tak seharusnya, kondisi mobil saat dipakai berkendara tidak seenak biasanya, dan lain-lain.

Ah…daripada kebanyakan ngebacot sendiri, mendingan kalian baca tips dari pakarnya langsung kali ya? Nih, saya berbaik hati, saya taruh linknya di sini.

Untuk tips agar kalian tidak mudah panik/emosi mengendarai kendaraan di jalanan macet bisa klik di artikel ini, dan salah satu tips merawat mobil bisa lihat di artikel yang ini.

Ingat ya, saat kalian mengendarai mobil waktu hujan turun, dan terpaksa menerjang semua kondisi jalanan yang sering mengejutkan itu, berarti kalian bertugas untuk “menyelamatkan” diri kalian sendiri dan juga diri si mobil. Jadi cari cara tepat agar dua-duanya tidak ada yang terluka, atau harus dikorbankan. Apalagi kalau mobilnya si Hyundai I10, jangan sampai ia merasa dikorbankan.

—-

“Errr…pertanyaan masih berlaku nih, ada yang mau beliin I10 ini untuk saya?” :mrgreen:

—-

So, happy driving, Gurls!!!

Udah Gak Takut Lagi…

Friday, November 6th, 2009

Perempuan yang satu ini, a.k.a saya, dari usia belia (*Halaaggghh*) sudah bisa mengendarai mobil. Untuk urusan yang ini, saya memang sudah ditatar oleh si Bapak, dari saya masih mengenakan seragam putih-biru, dengan izin Ibu yang saat itu sedang tidak kolot. Katanya Ibu saat itu…

“Biarpun perempuan, harus bisa nyetir, nanti kalo anaknya sakit biar bisa bawa ke dokter sendirian kalo kepepet, makannya dari sekarang mulai belajarnya, biar nanti nyetirnya ga kayak gaya nyetir perempuan kebanyakan.”

Weeeiitttss tunggu dulu…bisa mengendarai mobil sendiri saat belum cukup umur, bukan berarti saya bisa sembarangan mengendarai mobil di jalan loh ya. Latihan awal hanya seputar Parkir Timur Gelora Bung Karno, tidak keluar dari area latihan mengendari mobil, yang saat itu masih ada, dan ramai pengunjung.

Saat sudah memasuki usia layak mempunyai SIM A, saya tidak langsung diperbolehkan orang tua untuk mengurus SIM A ini. Alasannya adalah dengan usia saya saat itu, saya belum bisa dengan cepat mengambil keputusan kalau terjadi apa-apa di jalan. Saya belum boleh mengendarai mobil kemana-mana sendirian.

Saya ingat betul SIM A baru ada di tangan saya saat saya berusia 19 tahun, itu pun masih belum diperbolehkan bepergian mengendarai mobil sendirian. Intinya saya masih harus jadi “supir” orang tua saya (*Menyebalkan!! hehehheh*).

Dua tahun kemudian, keberuntungan mendatangi saya. Oma saya dari luar kota datang, dan sedang menginap di rumah tante. Si Oma ingin sekali berkunjung ke rumah saya. Bapak, dan kedua abang saya sedang tidak ada di rumah. Tinggallah saya yang saat itu sedang libur kuliah dan ibu saya, yang berada di rumah.

Ibu saya memang bisa mengendarai mobil, tapi ia tak berani mengendarainya di jalanan ramai seperti di Jakarta ini. Dan karena si Oma ngotot untuk datang, dan si Ibu sedang sibuk masak untuk menyambut kedatangan Oma, maka hal ini pun terjadi…

“Sa, kamu jemput Oma ya. Mama lagi sibuk masak nih.”

“Okay.”

…dan dalam hati saya…

“Yes, akhirnya bawa mobil sendirian. Titik awal buat bawa-bawa mobil sendirian lagi ntar-ntar.”

Ya, dari saat itu, saya mulai minta izin untuk bepergian mengendarai mobil tanpa ditemani oleh siapapun.

Awalnya sih pulang ke rumah masih pukul 17.00, lalu mulai beranjak pukul 20.00, dan semakin lama semakin malam (*Hahahahaha*), walaupun saya tetap tidak berani mengendarai mobil sendirian hingga hampir subuh menjelang. Ya, pernah sih, paling larut tiba di rumah pukul 01.00 dini hari…dan sudah lumayan takut kalau di jalan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, baik terhadap mobilnya, dan telebih lagi terhadap diri saya sendiri, walaupun saat itu mobil yang saya kendarai adalah mobil baru, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalau dilihat dari kondisi mobilnya sendiri.

Nah, kamu, para perempuan yang memang sering jalan-jalan mengendarai mobil sendirian, dan sempat merasakan ketakutan yang sama dengan saya, coba deh baca artikel yang satu ini, biar lebih aman saat mengendarai mobil sendirian.

Eh, ngomong-ngomong mobil baru nih ya…kayaknya saya perlu mobil baru lagi nih, dan sepertinya si Hyundai I10 ini lucu. Ada yang mau beliin? :mrgreen:

Happy Driving Gurls…Be Save yah…

Please, Make Them Keep On Smiling…

Friday, August 14th, 2009

STOP ANIMAL CRUELTY…IT’S TIME TO MAKE THEM SMILE!!!

Penggalangan Dana Untuk Rumah Penampungan Hewan Pejaten…

Tuesday, August 11th, 2009

Artikel diambil dengan izin penulis aseli (Shirly Tiolina), dari AdopsiAnjingDotCom

Teman- teman, kali ini kita ada misi baru lagi

Setelah membantu Pak Tri, kali ini kami berencana membangun Pejaten Shelter (Jakarta Selatan). Karena kita semua tahu dan dapat melihat sendiri, masih sangat amat banyak hewan-hewan terlantar di sekitar kita.
- Anjing dan kucing liar yang terlindas kendaraan di jalanan.

- Anjing dan kucing yang disuntik tidur oleh pet shop karena sudah tidak mampu breeding atau karena cacat sehingga tidak bisa dijual lagi.

- Kuda-kuda tua yang ditelantarkan begitu saja oleh pemiliknya karena tidak mampu lagi menarik delman.

- Monyet-monyet kecil yang kurus yang menari menggunakan topeng – meminta belas kasihan pengemudi mobil di tepi jalan raya yang macet.

Ini contohnya :

Pincang

Kami memanggilnya “Si Pincang”, karena anjing terlantar ini tidak diketahui namanya sampai ditemukan oleh salah satu rekan kita dengan kaki terpelintir dan terluka karena dibacok orang tidak bertanggung jawab. Pincang selalu meringis kesakitan dan sangat trauma dengan manusia.

Byron

Byron, ditemukan oleh rekan iCARE di sebuah Gereja di Kelapa Gading. Setelah dibuang ke gereja itu, ternyata Byron bernasib buruk akibat penyakit kulit yang mengancam hidupnya jika tidak diobati. Saudara-saudara Byron di gereja tersebut juga terancam keberadaannya, karena diketahui satu per satu anak/saudara Byron “menghilang”.

Blacky
Blacky, rotweiller jantan ini ditemukan sedang ditambatkan di sebuah tiang listrik di tepi jalan raya. Dia dengan tega ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Sendirian, kelaparan, tanpa makan, tanpa minum. Tanpa belas kasih sayang.

Bagaimana perasaan Anda jika melihat hewan seperti Blacky, Byron, atau si Pincang? Apakah Anda merasa kasihan atau tidak peduli?

Apakah Anda ingin membantu memelihara atau menampungnya?

Atau mungkin Anda tidak bisa menampung tapi ingin membantu lewat sumbangan?

Peduli, adalah titik awal dari perbaikan nasib hewan dan satwa yang masih sangat banyak menderita di sekitar kita, seperti si Blacky, Pincang, dan Byron. Kepedulian kita, tidak cukup melalui kata-kata atau perasaan kasihan semata.

Kita bisa melakukan lebih dari itu!

Menampung dan merawat hewan-hewan terlantar (seperti Pak Tri dan sebagian besar dari kita semua), donasi dan kegiatan sosial melalui komunitas penyayang hewan yang banyak melakukan program sterilisasi massal, merupakan contoh-contoh tindakan nyata dari usaha manusia untuk melindungi hewan-hewan yang tidak berdaya.

Apakah nasib hewan-hewan terlantar semakin membaik melalui kegiatan-kegiatan ini? Jawabannya, “Ya, tetapi hanya sedikit. Karena ada keterbatasan dari kita semua.”

- Bagaimana dengan hewan-hewan yang tidak teradopsi karena sudah tua sehingga tidak ada yang ingin merawat mereka?

- Bagaimana dengan anjing dan kucing liar yang dikembalikan ke jalanan setelah disteril ternyata menemui kematian akibat infeksi karena tidak ada perawatan pasca operasi?

- Bagaimana nasib mereka yang ter lantar di jalanan tanpa kasih sayang, perlindungan, dan makan-minum yang layak, yang sebetulnya justru itu yang paling dibutuhkan?

Untuk itu, sebagian dari rekan-rekan yang bergabung di komunitas adopsianjing.com – yang dipertemukan melalui penggalangan dana untuk Pak Tri – menggagas pembangunan Rumah penampungan hewan terlantar, yang terletak di Pejaten, Jakarta Selatan.

Apa tujuan pembangunan rumah penampungan ini?

Walaupun untuk saat ini masih dipusatkan di Jakarta, akan sangat banyak manfaat dari rumah yang akan dibangun ini:

- Menjadi tempat penampungan, perlindungan, dan perawatan hewan-hewan (anjing, kucing, kuda maupun monyet) yang ditelantarkan, baik yang sifatnya sementara maupun permanen.

- Menjadi “penghubung” dengan komunitas / organisasi penyayang hewan lainnya untuk membantu proses seleksi adopsi.

- Membantu program sterilisasi dengan bekerja sama dengan dokter hewan terpercaya.

- Memberikan kesempatan dan tempat bagi rekan-rekan yang secara sukarela ingin membantu kegiatan sosial pe nyelamatan hewan-hewan terlantar melalui program rescue maupun perawatan secara berkala.

Kami sangat menyadari bahwa kami tidak mampu melakukan semuanya sendiri, dan seperti halnya keterbatasan yang kita semua miliki, kami mengajak teman-teman semua untuk berpartisipasi dalam pembangunan rumah penampungan ini.

Bagaimana kondisi rumah penampungan saat ini?

1. Lahan merupakan milik Dr. Susana Somali (Dr. Susan), seluas 1,5 ha. Dr Susan adalah seorang penyayang hewan hingga saat ini merawat sekitar 40 ekor anjing dan kucing di kediamannya sendiri, dan juga terlibat saat penggalangan dana untuk Pak Tri.

2. Saat ini sudah dibangun 6 kamar untuk menampung 11 ekor anjing dewasa dan puppies, yang sanitasinya baik dan bersih, serta beberapa ekor kucing yang berkeliaran bebas di sebagian lahan.

3. Sedang dibangun sebuah Warung tempat makan di lahan tersebut, yang konsepnya “Go Green”, yang direncanakan sebagai salah satu sumber dana untuk perawatan hewan-hewan yang ditampung (semacam subsidi silang supaya kehidupan mereka terjamin), dan sekaligus “merangkul” penduduk sekitar untuk turut berpartisipasi dan diedukasi tentang perlindungan hewan terlantar.

Apa rencana berikutnya?

1. Pembangunan 20-25 kamar kecil di rumah penampungan tersebut untuk menampung lebih banyak lagi hewan-hewan terlantar yang saat ini kami hentikan dulu karena keterbatasan tempat penampungan.

2. Merakit kendaraan khusus untuk melakukan rescue (saat ini kami bergantian menggunakan kendaraan pribadi sehingga kurang maksimal karena keterbatasan waktu).

3. Melengkapi peralatan rescue yang dibuat sendiri (seperti alat tulup / bius tembak yang harus digunakan untuk hewan-hewan yang sangat liar dan takut terhadap manusia).

Bagaimana Saya Dapat Membantu?

Untuk membantu lebih banyak lagi hewan-hewan terlantar, rumah penampungan ini membutuhkan dana sekitar 30 juta rupiah, dengan rincian:

- Besi CNP 10cm x 3,5cm x 2,1mm = 24 batang
- Besi CNP 7,5 cm x 2,5 cm 2,1 mm = 40 batang
- Besi siku 50 x 50 = 60 batang
- Besi beton no 10 = 100 batang
- Besi beton no 8 = 90 batang
- Pasir = 4 truk
- Pasir Dam (Sir dam) = 4 truk
- Semen = 70 sack
- Asbes = 60 lembar
- Paku asbes = 1 kotak
- Kabel listrik = 6 roll
- Fitting lampu = 12 buah
- Kawat kandang yang seperti lapangan tennis = 6 gulung

Teman-teman dipersilakan juga untuk membantu dalam bentuk bahan bangunan di atas.

Selain itu, kami juga membuka kesempatan bagi teman-teman untuk membantu perawatan hewan-hewan terlantar yang sudah ada saat ini melalui sumbangan:

1. Dog food kering, beras, koran bekas, kandang bekas layak pakai, makanan segar seperti kepala/kaki ayam dan daging mentah, susu lactose untuk bayi

2. Rice cooker bekas dan layak pakai untuk menanak nasi dan merebus bahan makanan agar lembek / lunak untuk dimakan

3. Perawatan anjing dan kucing: shampo, handuk, bedak kutu, kandang bekas tetapi masih bisa digunakan (untuk tempat perawatan sementara), rantai / kalung anjing/kucing

4. Informasi mengenai pengasuh/orang yang telaten merawat hewan-hewan terlantar untuk diwawancara oleh Dr Susan, yang saat ini sangat dibutuhkan di rumah penampungan ini

5. Adopsi dan menyebarkan informasi pencarian adopter (informasi tentang hewan yang akan diadopsi akan disusulkan)

Bagaimana Cara Donasinya?

- Untuk sumbangan berupa dana, bisa disalurkan melalui Shirly Tiolina Pasaribu

rek BCA KCP Tebet Barat Raya, no rek 436 1585 636

rek Permata Cabang Graha Surya Internusa, Kuningan, no rek 41009 1234 7

- Untuk sumbangan berupa barang, dapat disalurkan langsung ke lokasi rumah penampungan:
“Warung Kampung”

Jl. Pejaten Barat
Depan SMIP Pariwisata / kantor PDK (dekat Sekolah Gonzaga)
No telp 021 70776576 atau 0818872761 (Dr. Susan)

Terima kasih banyak untuk perhatian kalian. Tolong kabari temen-temen kalian juga yah untuk ikut membantu. Kiranya Tuhan dapat membantu meringankan nasib binatang-binatang terlantar lewat bantuan kalian.

Sterilisasi dan Vaksinasi Gratis Untuk Anjing/Kucing Liar/Pemilik Kurang Mampu…

Monday, July 20th, 2009

Bagi mereka yang mengetahui bahwa ada anjing dan/atau kucing yang perlu disterilisasi/vaksinasi, segera hubungi Vet Koes.

Setidaknya ini bisa mengurangi jumlah hewan liar di Jakarta dan penyakitnya.

Drh C. Koesharjono (Vet Koes) mengadakan proses sterilisasi dan vaksinasi massal untuk anjing dan kucing terlantar/yang dimiliki oleh owner kurang mampu.

Please pay attention to these details!

Registrasi : Vet Koes : 0855.1013970 mulai tanggal 13 Juli.

Terbatas untuk : hewan liar/pemilik yang kurang mampu

JADWAL STERILISASI/VAKSINASI
Waktu : 20-26 July 09,  pukul 09.00-17.00 WIB
Tempat : Klinik drh. C.Koesharjono, Jl. Wijaya Kusuma I/26 Depkes RI, Fatmawati Jaksel.

Catatan:
1. Seleksi oleh vet Koes, jadi silakan langsung menghubungi/kontak nomor di atas.
2. Ada kemungkinan pasien ditolak utk gratis bila pemilik masih dianggap mampu utk membayar.

*Mohon maaf atas keterlambatan publikasi berita ini, semoga belum terlalu terlambat.*