Archive for the ‘Cerita Bersambung’ Category

Di Antara 1 dan 4 Cinta (3)…

Monday, September 14th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia Di Atas 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 Dan 4 Cinta (2)

___

Mereka tidak kembali menginap di hotel itu, pada malam di hari yang sama saat Ramelan bertemu Jihan, melainkan dua hari setelahnya. Kebetulan mereka mendapat kamar yang sama, kamar 1203, yang juga merupakan angka keramat untuk mereka berdua.

Kali ini acara romantisme mereka berdua diawali dengan makan malam, di restoran mahal dan romantis yang juga terletak di hotel. Mereka tak lagi peduli ada kenalan, teman atau saudara yang melihat mereka menghabiskan malam penuh cinta dan hasrat di sana.

Makan malam yang sangat romantis. Ramelan mengenakan jas terbaiknya, yang sepertinya tak perlu lagi disebutkan mereknya, kalau dasinya saja sudah bermerek satu butik terkenal dari Prancis yang tak pernah sama sekali menggelar program diskon. Sedangkan Laras mengenakan gaun hitam panjang, berkerah halter neck dan backless, memamerkan lehernya yang jenjang dan punggung indahnya. Makan malam yang berlangsung singkat, karena mereka rindu akan kamar yang menjanjikan suatu hal yang lebih menarik daripada sepiring makanan mini nan cimit ala fine dining.

Dan saat mereka hendak kembali menuju ke kamar, tiba-tiba mereka berpapasan dengan seseorang.

“Malam, Ramelan.”

“Hei, malam, Jihan.”

“Ketemu lagi di sini.”

“Yah, just had dinner.”

“Owhh, menyenangkan. Nginep sini juga?”

“Sepertinya. Oh, ya, kenalin. Ini Laras.”

Dan Laras pun menyambut uluran tangan Jihan.

“Hai Jihan, nice to see u.”

“Saya juga. You look so gorgeous. By the way, kalian terburu-burukah? Aku traktir ngopi dulu yuk, sambil ngobrol-ngobrol sebentar.”

Dan akhirnya mereka bertiga menempati satu meja sembari menikmati minuman yang mereka pesan.

“So, akhirnya saya liat wajahmu dari dekat Ras.”

“Kemarin cuma dari jauh ya. How do you know that I am Ramelan’s girl?”

“Kelihatan lah dari body language kalian. Mata kalian itu bicara, dan penuh cinta.”

“Duuhh, jadi malu.”

“Gak perlu malu lah, harusnya kalian seneng. Udah berapa lama kalian pacaran?”

“Almost a year.”

“And planning to get married?”

Laras hanya diam, dan melirik ke arah kekasihnya…

“That’s what we celebrate today.”

“I proposed her two days ago. After checked out from this hotel.”

“Congratulation for both of you.”

“Thank you.”

“So what is the date?”

“Belum dibicarain. Baru dua hari juga.”

“Andaikan saya bisa datang nanti.”

“Kalian ngobrol berdua sebentar ya. Hon, aku ke toilet dulu ya.”

“Ya, Mas.”

Dan tinggalah Jihan dan Laras berdua di sana, sementara Ramelan pergi ke toilet yang tak jauh letaknya dari tempat mereka mengobrol saat itu.

“Ras,…”

“Yah.”

“Jadi ini cincin pemberian Mas-mu itu?”

“Yup.”

“Nice.”

“I know.”

“Kamu beruntung dapet dia.”

“Really? Why?”

“Dunno, but you’re so lucky to have him.”

“Hopefully. Hmm, may I ask you something?”

“Yes, sure.”

“Berapa lama kalian pacaran dulu?”

“Lumayan lama. Saya lupa. Saya dulu sempat berharap saya bisa nikah sama dia, tapi berhubung saat itu tak mungkin, ya saya harus trima. Terus terang saya iri sekali sama kamu sekarang. That’s why I told you, that you’re so lucky.”

Dan di tengah pembicaraan dua perempuan itu, Ramelan sudah muncul di hadapan mereka.

“Seru amat ceritanya.”

“Gosipin kamu pastinya.”

Laras tiba-tiba memasuki dunianya sendiri saat Ramelan asik mengobrol dengan mantan kekasihnya, yang sampai sekarang masih terlihat cantik, walaupun sudah berada di akhir usia-usia 40 tahunan. Ya, bagaimana tidak cantik, peranakan Rusia campur Turki.

Laras sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Huh, beruntung? Kira-kira beruntungnya di mana ya? Egois mampus, iya. Gak peduli orang lain kalo dah kerja, iya juga. Keras kepala super dahsyat, jangan ditanya deh. Ya, ya, kalo urusan otak yang super dahsyat canggihnya, mang gue beruntung sih dapetin dia. Apalagi untuk urusan ranjang, hahaha, wah ga ada nih manusia yang ngasih gue tiket langsung ke neraka kenikmatan ke-7, kayak dia. By the way kenapa mereka dulu putus ya. Apa cuma gara-gara Mas Ram dah punya istri dulu. Ah, ga bakal ketauan juga toh ya, lah wong beda benua juga gituh, yayaya, semakin rusak lah ini otak gue mikir yang aneh-aneh.”

Laras berhasil keluar dari pikirannya yang mulai tak menentu. Teriakan seseorang yang memanggil nama kekasihnya, mampu menarik perhatiannya.

“Mas Ramelan.”

“Huh, perempuan mana lagi ini. Eh bentar, kayaknya gue tau nih muka. Damn another his ex-girlfriend, sempurnalah malem gue hari ini,” pikir Laras saat itu.

Mereka berdua asik cipika-cipiki, seperti laiknya orang yang sudah lama tak bertemu.

“Lagi meeting, Mas?”

Dan dalam hati Laras, ia mengumpat, “Ga liat ya Neng, gue pake baju kayak gini, meeting dari Hongkong?”

“Gak, lagi ngobrol-ngobrol aja.”

“Owhh, okay.”

“Eh, iya Mi, kenalin ini Laras, ini Jihan.”

“Mia.”

“Jihan.”

“Mia, mantan pacarnya Mas Ramelan.”

“Laras,” sambil ia berkata di dalam hati “Sumpah loe PD abis.”

“Mia, Laras ini tunanganku.”

“Oh, loh, bukannya waktu aku telepon beberapa waktu lalu, Mas Ram bilang belom punya pacar ya.”

Gatal rasanya mulut itu ingin mengeluarkan kata menimpali pembicaraannya, kalau saja Laras tak mengingat kekasihnya, yang sangat ia hormati itu.

“Aku ngomong gitu ke kamu, karena satu alasan, Mi.”

“Apa?”

“Sepertinya kamu ga perlu tahu lagi alasan itu sekarang.”

Laras pun bisa tersenyum puas. Puas, dengan jawaban diplomatis kekasihnya, yang saat itu ingin sekali ia hamburkan cium di bibir tipisnya.

“Love you lah, Mas,” cuma itu yang bisa Laras sampaikan kepada kekasihnya, dengan sebuah tatapan mata penuh dengan binar cinta.

Mia pun berlalu dari hadapan mereka bertiga, sehingga mereka bisa kembali leluasa mengobrol.

“So Jihan, kapan terbang balik ke London?”

“Terbang ke London sih besok malam, itu di London juga cuma seminggu, ngambil barang. Terus langsung ke Moskow.”

“Kamu akan tinggal di Moskow?”

“Saya udah kurang lebih setahun ini hidup nomaden. Keliling sesuka hati. Sebelum ke Indonesia ke dua kalinya ini, saya tinggal di Bangkok 3 bulan, sempet di Vietnam 2 minggu, pernah di KL 2 minggu juga. Abis itu di Jakarta 1 bulan, Bandung 1 bulan, Manado 3 minggu, lalu karena visa sudah mau habis, terpaksa keluar dari Indonesia dulu, akhirnya saya ke Singapura 1 bulan, dan balik ke Indonesia lagi, tinggal di Bali, lalu Jogja, dan balik ke Jakarta. Sepertinya sudah cukup jalan-jalan saya, dan sekarang saya mutusin tinggal di Moskow saja, tempat kelahiran saya.”

“Enak banget kamu bisa jalan-jalan terus.”

“Udah rencana dari dulu memang.”

“Hon, balik ke kamar yuk, besok…”

“Duh, sorry besok kalian kerja ya?”

“Kita? On leave tomorrow. Sengaja cuti barengan, tapi saya ga betah aja pake baju seperti ini berlama-lama. Jadi tetep kayaknya saya sama Mas Ram, harus balik ke kamar.”

“Okay, kalau begitu, terima kasih udah mau ngobrol nemenin saya ngopi.”

“My pleasure juga kok, seneng bisa kenal sama kamu Jihan.”

“Good night and have a good sleep, Jihan.”

Akhirnya Laras dan Ramelan berpamitan dengan Jihan. Meminta izin untuk kembali ke kamar mereka, kembali menikmati waktu dan dunia mereka berdua, tak ada orang lain. Menikmati nikmatnya surga dalam neraka yang saling mereka janjikan dan sajikan langsung di depan mata.

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (2)…

Sunday, September 13th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (1)

___

“Hon, keberatan ga kalo kamu yang nyetir?”

“Ntar kalo tukeran nyetir lagi di kantor, resiko bakal ada yang ngeliat donk.”

“Kamu drop aku aja di kantor, mobilnya kamu bawa dulu, ntar sore kamu jemput aku ya.”

“Okay.”

Dan mobil itu mendadak sepi, hanya ada suara lagu dari CD yang diputar Laras. Sedangkan kekasihnya, hanya sibuk menatap apapun di luar jendelanya dengan tatapan kosong.

“Mas, are you okay? Kayak abis liat setan tadi.”

“He eh.”

“Kenapa, Sayang?”

“I met Jihan.”

“Jihan who?”

“My Russian-Turkish ex-girlfriend.”

“Oh, her name is Jihan?”

“Yup.”

“Ketemu di mana? Tadi pas beresin bill?”

“Yup.”

“Trus kenapa jadi diem?”

“Ga percaya gue. Lebih 20 taun aku ga ketemu.”

“Masih cantik ga?”

“Cantikan dulu lah.”

“Ah, kamu juga pasti gantengan dulu ya pas sama dia, daripada sekarang pas sama aku. Hahahahaha.”

“Tapi tetep hebat ‘kan di ranjang.”

“Kalo yang itu sepertinya lebih hebat sekarang daripada dulu. Pengalaman berperan pastinya. Hahahahaha. Terus kamu ga rencana gitu ngobrol-ngobrol ama dia? Dah lama loh ga ngobrol. By the way tadi sempet ngomong gak?”

“Ngobrol donk. Dia nyapa duluan. Dan dia notice kamu pacar aku.”

“Oh ya? Kita kan tadi ga ngomong setelah keluar lift.”

“Dia hebat untuk urusan observasi n nyimpulin hasil yang dia liat.”

“Dalam rangka apa dia di sini?”

“Liburan, menikmati hari tua sepertinya.”

“Kapan balik?”

“Weekend ini katanya, tapi aku ga tanya kapan tepatnya.”

“Ahh, ingetan tadi malem di kamar bakal keganti ama cerita London 20-an taun lalu neh.”

“Hahahaha, ya iya lah. Damn!!”

“Sial. Ya udah sana gih, ngobrol-ngobrol ama dia. Kalo mau aku temenin ya boleh, kalo mau bedua juga ga papa.”

“Liat ntar lah, Sayang. Atau ntar malem kita nginep lagi?”

“Terus gue ga pulang-pulang. Ga bawa baju lagi gitu gue.”

“Tinggal beli ‘kan ntar.”

“Liat ntar lah, Sayang.”

Laras tahu persis kekasihnya seperti apa. Kombinasi antara makhluk super egois, keras kepala, briliant, adorable dan lovable sampai mampus. Jangankan melarang kekasihnya untuk melakukan sesuatu, berniat untuk melarangnya saja tak akan ia pikirkan. Buang waktu dan tenaga percuma untuk melarang seorang Ramelan.

Hanya orang yang mempunyai gangguan jiwa, yang bersedia hidup bersama kekasihnya ini.

Mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya, saat Laras baru mulai menjalin hubungan dengan kekasihnya yang dulu; dan saat itu Ramelan masih dengan istrinya. Namun pertemuan itu berlalu begitu saja, tanpa menyisakan kisah roman di antara mereka berdua.

Bertahun-tahun berlalu, mereka tak saling bertemu, bahkan disempitnya kota Jakarta, yang dengan mudahnya mempertemukan banyak orang.

Sampai dengan hari itu, saat sakit hati yang dialami keduanya mempertemukan langkah kaki mereka kembali. Ramelan baru saja putus dengan kekasihnya, yang sudah 5 tahun pacaran dengannya, begitu pun juga Laras; bahkan pertemuannya dengan Ramelan saat itu masih dalam hitungan hari setelah ia putus dengan kekasihnya, yang kurang lebih 5 tahun terakhir bersamanya.

Mereka mulai merangkai rasa, menabur cinta, pacaran dan bercinta dengan dahsyatnya. Mungkin semua itu karena balas dendam akan rasa sakit yang mereka berdua alami sebelum mereka bertemu.

“Rana…”

Keheningan mobil itu terpecah dengan suara Ramelan memanggil manja Laras dengan panggilan sayangnya: Rana, sembari meraih tangan kirinya yang tak perlu sibuk memindahkan gigi, karena kecanggihan teknologi yang membuatnya demikian.

“Ya, Mas.”

“I love you, if you really knew.”

“I love you too.”

“Tolong pinggirin mobilnya sebentar dong di depan sana.”

“Okay.”

Dan tak berapa lama Laras, atau Rana, menepikan mobil kekasihnya yang sedang ia kendarai saat itu.

“Look at me, Hon.”

“Yes.”

Ramelan tampak meraih sesuatu dari dalam kantongnya.

“Will you wear this ring? Will you marry me?”

“What? Wait…you change your mind? Bukannya kamu bilang sendiri, kita ga akan nikah, ga mungkin bisa nikah, ga bakal cocok kalo nikah, dan…”

“Yes, I change my mind. Will you?”

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (1)…

Saturday, September 12th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

___

Seketika semua kejadian lebih dari dua puluh tahun lalu itu, tampak di pelupuk mata perempuan yang sekarang duduk di sana…

Saat itu, saat musim dingin di London, saat di luar jendela kamar, tampak salju sedang turun. Dia memelukku, dan menghangatkan tubuh ini. Yah, ditambah lagu itu, aku ingat betul lagu itu terputar, dan mengiringi malam yang menghangat karena degup jantung yang semakin cepat, yang memacu aliran darah semakin kencang. The First Time Ever I Saw Your Face, membuatku tak tahan untuk tak menyambut ciuman lembut darinya. Dan aku tak ingat lagi, bagaimana caranya tubuhku ini bisa tak terbalut lagi oleh benang sehelai pun, yang memeluk tubuhnya yang juga hanya tertutup selembar selimut, yang kami pakai bersama.

Aku sungguh tak peduli, tak mau mengingat tepatnya, bahwa saat itu seseorang yang ribuan mil jaraknya darinya, masih bersamanya. Saat peri-peri kecil itu pun masih baru seumur jagung belajar mengenal dunia yang penuh dengan kebrengsekkan.

Dan aku di sini, tega berbuat maksiat kenikmatan dengan dirinya, yang dikhianati dengan dansa-dansi kotor, oleh ia yang jauh di seberang sana. But still…he’s still with her at that time.

“Yes, baby deeper, and faster.”

Sial, aku benar-benar masih ingat detil kejadian di kamar itu. Ia memang hebat menerbangkanku ke neraka ke-7.

Dan kenapa hari ini, mata ini kembali melihatnya. Sekilas ia tak berubah sama sekali, walau kami sudah lebih dari dua puluh tahun tak bertemu.

Ia baru saja keluar dari lift yang terletak di ujung lobi hotel yang aku inapi. Keluar dengan seorang perempuan cantik dan bertubuh langsing, yang tampak jauh lebih muda darinya. Aku tahu persis, walau mereka tak saling bicara sekeluarnya mereka dari lift, tapi mereka baru saja menghabiskan malam bersama di salah satu kamar di atas.

Dan tebakanku kali ini benar, mereka saling menatap saat mereka berpisah. Si perempuan langsung keluar dari hotel, dan dirinya menuju resepsionis, yang sudah pasti untuk mengurus pembayaran kamar yang baru saja mereka pakai.

“Sayang bener, masih setengah delapan pagi udah check out. Wait, hari apa ini? Ah iya, Selasa, mereka harus bekerja, pantesan mereka memakai pakaian ngantor,” pikirku sembari mengamati mereka berdua.

Aku sampai melupakan hari. Sepertinya sudah terlalu lama aku menikmati masa liburanku, yang aku pakai berkeliling dunia.

“Sial, kenapa ia sekarang menuju ke sini. Pasti sambil nunggu kamar selesai diperiksa, untuk settle bill deh. Hyaaahh. What should I do. Dia bakal masih kenal aku?”

Ia pun duduk di sana. Di kursi tepat di depanku. Akhirnya mulut ini, tak tahan tak mengucapkan sesuatu untuk menyapanya.

“İyi günler, Ramelan.”

Beberapa detik, telingaku tak menangkap suara apapun. Bahkan suara sepatu tamu hotel yang lalu lalang di sekitar, tak terdengar sama sekali, bagai mereka berjalan sambil melayang. Tapi tidak dengan ujung mata ini, yang menangkap seseorang sedang menatapku takjub dan tak berkedip, yang beberapa detik kemudian mengeluarkan suara dari mulutnya…

“İyi günler, Jihan.”

“You still remember me?”

“How could I forget a beautiful Russian-Turkish girl, Jihan Albina who I met 23 years ago?”

“Dan kamu masih ingat selamat pagi dalam bahasa Turki?’

“And you can speak Indonesian fluently right now.”

“Yes, been living here for 3 months.”

“Really? Business trip or vacation?”

“Vacation pastinya. Kamu tak berubah sama sekali sepertinya. Wait..berubah sih, tapi sedikit.”

“I know, my hair. Ubanan kan? Getting old already.”

“Apa kabar?”

“Never better.”

“So…she’s pretty, and looks much younger than you.”

“Who?”

“Hey, I know you. Walaupun kalian ga saling bicara saat berpisah tadi, but I know, she’s your girlfriend.”

“Oh, yes, she’s my girl. Laras.”

“Pardon?”

“Her name. Lintang Kirana Larasati. I call her Laras, or sometimes with Rana.”

“Javanese girl right?”

“Yah.”

“Great night with her last nite?”

“Hahahha, that’s my secret!”

“Sorry.”

“So, you stay here? With your husband?”

“Ya, I just got back from Bali and Jogja, and have to fly back to London, due the expiration of my visa.”

“Kapan pulang ke London?”

“This weekend.”

“You’re alone here? Or with your hubby.”

“We divorced after 7 years we married.”

“Sorry to hear that.”

“Ga perlu, itu juga kemauan saya.”

“Yah, sepertinya cerai adalah jalan yang terbaik untuk ditempuh.”

“Yup, and don’t tell me that you divorced too?”

“We did.”

“Well, I don’t know what to say.”

“So don’t. I don’t wanna talk about it at all.”

“Okay, sepertinya seseorang nunggu kamu di mobil sekarang, dan resepsionis lagi jalan ke sini. Billnya sudah siap juga sepertinya.”

“Okay, see you when I see you then, Jihan.”

“See you when I see you too, Ramelan.”

—-

to be continued…