Archive for the ‘Cerita Bersambung’ Category

Aku, Kamu dan Dia…(1)

Tuesday, August 21st, 2012

“Ooohh, Sweetheart…you’re a good kisser.”

“I know, just enjoy it, Babe. Coz I’m gonna kiss every inch of your face now. ”

“Your kiss is so licentious. Oh gooosshh you arouse me. Baby, I know that you are good on bed since the first time I saw you.”

“Look who’s talking!”

“Oooohh…you’re so good. Feel it, Babe!! Feel the sway. Ooooohh mmyyy…can I do this inside? Touch mine, Dan. Help me. My stomach is getting tense.”

“Where have you been, Mas?”

“You’re too late.”

“Actually we’re too late.”

Aaaaannnndddd shit…this caffeine shot makes me realize kalau aku kembali terperangkap di percintaan seperti ini lagi dan lagi dan lagi. Entah sudah berapa hari aku di sini, duduk, menenggak kopi, dan selalu tersadar akan cerita kehidupan absurd yang sedang aku jalani, tapi tetap tidak mengubah statusku sekarang. Status yang sudah beberapa bulan ini aku sandang. Statusku sebagai wanita lain. Aku, Dania, si masokis sejati.

Haaiisshh…untungnya kemarin masih disadarkan dengan bunyi telepon dari istrinya yang membuat aku dan Mas Chandra beranjak dari sofa, tempat kita kedubragan penuh napsu, kalau saja tidak, ga kebayang apa yang terjadi selanjutnya.

Yaahh…kisahku dengan Mas Chandra berawal di akhir Juli lalu. Di ruangan sebuah hotel. Di kelas pelatihan. Saat kantor mengirimku pergi ke Singapura untuk mengikuti training. He was my trainer saat itu.

Dari pertama kali aku melihatnya, aku tahu bahwa dia adalah titik lemahku. Smart-good looking guy, dan membuat aku penasaran.

Dan ternyata bukan cuma aku yang merasakan hal yang sama. He felt it, and I just knew it. Terlihat dari pandangan matanya yang ga pernah bisa pergi lama-lama dari aku, saat ia memimpin sesi.

Masih jelas bayangan saat ia melangkah menuju ke arahku, duduk di sebelahku dan memulai perbincangan, yang dimulai dari basa-basi layaknya orang pertama kali bertemu, sampai akhirnya…

“Hmmm…I need your PIN BB.”

“Boleh, but I don’t give my PIN BB ke sembarang orang. So please, jangan kasih ke orang lain without my permission.”

“Likewise ya.”

Gooossshh…gimana aku bisa nolak dia, he’s damn smart and handsome guy. I fell in love with him, since the first time I saw him. Tambah pulakh sekarang I know that he’s a very good kisser, I can’t say no to him, to his lips.

“Danniaaa! Bengong aja luuu. Tuh gelas kopi dah abis masih aja di pegangin.”

“Ehhh…dentist bocor…ngapain lu disini?”

“Mau ngopi lah.”

“Gimana urusan hati? Beres?”

“Gue ngikutin elo lah, Dan. Kalo elo sembuh, gue ikutan sembuh.”

“Masih lamaaaa deh, Ran.”

“Masih lu deket ama Chandra?”

“Masih. And just realized gue ga bisa jadi pechun sejati, Ran. Berkali-kali gue bilang ke gue sendiri ga boleh ada hati, tapi akhirnya memang gue sayang ama dia. Gak bisa tuh gue ciuman ama orang tanpa main perasaan.”

“Yaaakkkeeeennn cuma ciuman?”

“Prrrrreeettt! Siaaall lu aaahhh. Eh dah jam berapa ini, gue mesti ngantor.”

“Halah kantor tinggal jingkring aja lu dari sini.”

“Praktik jam berapa lu?”

“Jam 8 sih, tapi pasiennya baru 2 yang dateng, biar dulu mereka nunggu.”

“See you when I see you ya.”

“Bye, Dan.”

That was Rani, my high school mate. Perempuan yang sempat aku sebal, karena mantan pacarku jaman dulu, pernah aku pergoki sedang berduaan dengan dirinya. Tapi rasa kesal itu sudah beralih dengan adanya cerita-cerita seru nan tolol yang kami jalani. Sama-sama menjadi orang ke tiga. Sama-sama menjalani tangis bombay, tapi sama-sama tidak mau menyudahi. Sama-sama sedang mabuk kepayang dengan cinta yang sampai saat ini kami berdua belum tahu apakah cinta palsu atau cinta sesungguhnya. Atau malah mungkin hanya sebuah pelarian? Hmmm…interesting. We will find it out my dear friend. We will.

———-

Sampai juga aku di kantor yang sudah mulai menyebalkan ini. Hmmm…anyway, kalo ga gara-gara nih kantor plus bossku yang lagi super kecentilan, ngedeketin aku, trus ngirim aku training ke Singapura, ga mungkin aku ketemu Si Ganteng nan pinter itu.

Trrriinnggg…

Eh…ada BBM masuk…hihihi…pasti si ganteng…

“Hi, Cantik.”

“Hi, Ganteng.”

“Dah sampai kantor? Huuhh…masih kebayang kamu tadi malam. Sexy banget…duduk di meja dengan rok terusan kamu yang atasnya sudah setengah melorot. Kamu cantik banget, Sayang.”

“Ya, ampun sayang, ngobrol ama kamu kayak gini di BBM aja, udah aroused me. You were so damn good. What are you made of?”

“Mass, liquid and air.”

“Yeah rite. What did you do to me?”

“I didn’t do anything.”

“Don’t believe you. Hehehehe. I miss those cute eyes.”

“I miss your sparkling eyes.”

“Kalo aku inget-inget ya, bisa-bisa loo aku ketawa.”

“Kenapa ketawa?”

“Ya iya lah aku ketawa. Kita udah ketahap kayak gini khan dulu kurang dari tiga bulan.”

“Maassssaaakkhh?”

“Hmmm…bukan 3 bulan malah, less than 2 months.”

“Iya ya? Gilakh!

“From training in the room, up to kissing in the room also. Hahahahaha.”

“Hahahahahaha..from back to front. From Miss Dania to miss you much.”

“From Sir to Mas.”

“Hahahahahahahahahaha. Btw, aku seneng banget loo, waktu kamu meluk aku sambil narokh kepala kamu di pundakku, and call me with Mas.”

“Kenapa? Berasa manja and mesra ya? Padahal aku bukan orang yang romantis lo.”

“Ragu aku, kalo kamu bukan orang romantis.”

“Hehehehe…masakh? Miss you so much, Handsome.”

“Samaaa…”

Gimana coba aku bisa ngelepasin Mas Chandra? He changes my life a lot. Apalagi bayangan apa yang kami lakukan tadi malam, di atas meja kerja di ruang kerjanya, masih terus menari-nari di kepalaku. Telaaat…telllaaatt…kemana aja gue…kemana aja si loh, Mas? Ah…ya sudah lah…waktunya fokus kerja.

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (Epilog)…

Wednesday, September 16th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (6)

___

Kamar itu masih menyita perhatian banyak orang. Termasuk polisi yang  heboh hilir mudik memeriksa apapun yang ada di sana. Mengumpulkan barang bukti, mencari sidik jari, dan benda apapun yang bisa mengarahkan kepada pelaku dan motif usaha pembunuhan terhadap Ramelan, tunangan Laras.

Tamu-tamu hotel, ramai membicarakan usaha pembunuhan yang terjadi di kamar 1203 itu.

“Polisi menemukan 3 lembar kertas kecil sobekan memo hotel, di dekat pintu kamar, dan dengan tulisan tangan yang berbeda-beda.”

“Oh, ya?”

“Isi tulisannya apa?”

“Yang pertama isinya ungkapan cinta bahwa orang yang menulisnya itu masih mencintai si korban. Satu lagi cuma bilang neither do I or She get you, kalo ga salah denger tadi. Terus yang terakhir ancaman menggagalkan perkawinan korban dengan tunangannya.”

“Ampuunn deh, serem bener dengernya.”

“Duuhhh…walau ga sampe meninggal, tapi tetep ngeri ya.”

***

Dan perempuan itu kembali duduk di sana. Di tempat yang sama, seperti beberapa hari lalu.

Aku kembali menatap ke arah lift yang berada di ujung lobi hotel tempat aku menginap. Aku melihatnya keluar dari lift itu lagi. Ia tak lagi berjalan gagah, melainkan terbaring di atas tempat tidur dorong yang berasal dari ambulans yang sudah menunggunya di depan pintu lobi. Ia juga tak ditemani perempuan muda, bertubuh langsing, dan cantik, yang sama seperti waktu itu.

Aku duduk di sana, dengan selembar kertas di tangan. Selembar kertas yang berisikan diagnosa hasil konsultasi seseorang dengan Psikiater yang mengatakan bahwa pasien yang namanya tertera di kertas itu, dinyatakan mempunyai tiga alter ego, dan mengalami gangguan kejiwaan halusinasi.

Dan nama pasien yang tertera di situ adalah Lintang Kirana Larasati.

—-

end

Di Antara 1 dan 4 Cinta (6)…

Wednesday, September 16th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia Di Atas 18 Tahun

Baca cerita sebelumnya Di Antara 1 dan 4 Cinta (5)

___

“Yay…ternyata toko kuenya masih buka. Cheese cake..Me love cheese cake so much. Beli dua ah.”

Dalam hitungan kurang dari lima langkah, Laras sudah berada di depan toko kue yang ia maksud.

“Mbak, saya minta cheese cakenya 2 yah.”

“Makan sini atau?”

“Di bungkus aja, mau makan di kamar.”

Sementara Laras menunggu pesanannya dibungkus ia mendengar seseorang menyapanya…

“Ras…”

“Hei, loh kamu nginep sini Mi?”

“Iya, kantorku lagi ada workshop di sini sampe besok.”

“Ohhh. Seksi sibuk workshopnya atau ngikut doank?”

“Dua-duanya.”

“Si bos sepertinya mbak ini, hehehehe. Di lantai berapa Mi, kamarmu?”

“Lantai 12. Kamarmu?”

“Gak jauh lah dari sana. Kamu mau beli kue juga?”

“Iya lagi bingung mau milih apa. Errr…Ras…”

“Apa Mi?”

“Do you really love Mas Ram?”

“Yah, off course I love him. Why did you ask me that?”

“Coz I still do love him so much.”

“So why didn’t you say yes when he asked you to marry him?”

“I have my own reason.”

“Your fam? Bukannya kalau di tempatmu, di sebuah pernikahan, yang meninggalkan keluarganya itu yang perempuan ya, bukan yang lakinya? Correct me if I’m wrong.”

“Saya nyesel. Saya ga berani bertindak saat itu, untuk lebih milih Mas Ram.”

“So that’s your fault not mine.”

“But I still want him, Ras. I know that you’re not better than me. Kamu ga laik dampingin si Mas. Saya tahu siapa kamu. Kamu bener-bener ga pantes buat dia. Gak boleh dapetin dia, gak pantes nikah sama dia.”

“Kerusuhan apa lagi ini, kurang dahsyat sepertinya hari ini untuk gue” pikir Laras sambil menyiapkan jawaban balasan untuk hujatan Mia barusan.

“Yang tau persis nilai pantes atau gaknya aku sama Mas Ram, ya cuma Mas Ram ama Tuhan, Mi. Saya cuma ditanya mau atau ga untuk dampingin hidupnya dia nanti, dan so far saya yakin saya bisa, ya sudah, saya jawab iya atas pertanyaanya. Saya ga mau melakukan kesalahan yang sama kayak yang kamu lakukan dulu, menye-menye ngeselin kayak gitu. Ya udah ya Mi, we’re done. Saya mau bayar kue yang saya pesan.”

“You’re not going to get married with him, Ras. Saya ga akan membiarkan hal itu terjadi.”

“We’ll see, Mi. Ohh ya, don’t worry, we’ll invite you. Wait for the invitation yah. Bye.”

Laras akhirnya meninggalkan Mia sambil sedikit menggerutu dalam hati, “Psyyyccchoooo!!! Kenapa sih nih perempuan-perempuan? So pathetic. I need cigarette badly. Saatnya mencari toko yang jual rokok. Mini market di sana itu masih buka tak ya?”

***

Laras sudah berada di kamarnya lagi, dengan satu kotak berisi dua potong cheese cake, dan tiga bungkus rokok kesayangannya dan kesayangan Mas Ram.

“It will be perfect nite. Cheese cake, cigaratte, sex, and no office tomorrow. Perfecto!!!”

“Aaaaaaaaaaaa…tidaakkk!!!”

Tiba-tiba Laras berteriak kencang, sekencang-kencangnya, seperti kesetanan. Dan seketika pula, semua barang yang ia bawa, jatuh berceceran di lantai, yang sudah tentu akan menghancurkan imajinasinya akan malam yang penuh gairah dengan Ramelan, tunangannya.

Bukan pemandangan indah yang dilihatnya saat itu. Bukan tubuh kekasihnya yang menggoda, yang akan membuat adrenalinnya berteriak padanya untuk segera naik ke tempat tidur, kembali bercinta dan mengumbar napsu.

Ramelan tergeletak tanpa daya di atas tempat tidur. Seprei yang tadinya berwarna putih bersih, sekarang sudah berubah warna, akibat ceceran darah.

Laras pun langsung memeriksa denyut nadi kekasihnya itu…

“Masih berdetak, walau lambat,” diiringi dengan teriakan kecilnya yang berusaha membangunkan kekasihnya yang tak sadarkan diri, “Mas Ram, Ayank, Hon, Hon, bangun, Cinta!”

Tanpa berpikir panjang, Laras mengambil telepon dan meminta bantuan resepsionis.

“Cepetan Mbak, panggil ambulans dan polisi, kalau ga tunangan saya ga ketolong ini. Buruan!!”

Laras yang tampak kaget setengah mati, duduk lemas di sisi tempat tidur, sambil satu tangan memeluk dengkulnya yang ditekuk, dan tangan satunya lagi memegang lemas tangan Ramelan, yang beberapa kali masih menunjukkan adanya respon.

Laras hanya bisa duduk, menangis, sambil berdoa meminta agar Tuhan berbaik hati untuk tidak membiarkan kekasihnya pergi meninggalkannya, “Harus ya Tuhan, gue keilangan orang yang gue sayangin, untuk kesekian kalinya lagi? Harus ya? Answer me! Please, don’t take him away from me.”

Laras kemudian berniat menyingkir dari samping tempat tidur, begitu ia melihat tim medis sudah datang di kamar yang mulai menyita perhatian orang banyak.

Sekali lagi, genggaman Ramelan menunjukkan respon yang seolah berkata padanya, “Jangan tinggalkan aku, Rana.”

“I’m not going to leave you, Hon. Love you so much,” hanya itu yang bisa Laras katakan pada Ramelan, lewat bisikan manis di samping telinganya, sembari ia perlahan menyingkir, memberi ruang lebih untuk tim medis menangani Ramelan.

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (5)…

Wednesday, September 16th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (4)

___

“Arrrggghh…akhirnya nyampe kamar juga. Kayak abis jalan jauh aja dari lobi ke kamar doang.”

Tiba-tiba Laras ditarik oleh kekasihnya, sehingga punggungnya telah bersandar di dinding kamar, dan pertemuan kedua bibir mereka telah menghasilkan ciuman panas yang membuat adrenalin berpacu.

“Rana bonie, kau akan ku habisi malam ini. Aku mau nikmati setiap centi lekuk tubuhmu. I really want you tonite,” bisik Ramelan dengan suara mendesah, mencoba menggoda Laras.

“I’ll wait baby.”

Laras tahu persis, kekasihnya ini tak mungkin melewati ritual membersihkan diri, alias mandi, sebelum naik ke tempat tidur. Tanpa basa-basi, Laras langsung membantu Ramelan melepaskan jas yang ia kenakan, dan membiarkannya memasuki kamar mandi.

Tak betah mengenakan gaun panjangnya, Laras segera berganti pakaian. Kemudian mengambil rokok dari dalam tas, menyundutnya, dan mulai menikmati isapan demi isapan puntung rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

“Sial, nih rokok dah mau abis lagi. Mas Ram masih ada stok ga ya? Ahh, gampang ntar tinggal beli di bawah. By the way, itu toh si Andra, yang niat nyari nomor telpon n nelpon gue untuk nanya gue pacaran apa ga sama Mas Ram, belum lagi komentar-komentar dahsyatnya di seluruh rumah gue di dunia maya. Paket komplit yach malem ini, Jihan, Mia, Gue, Andra, mudah-mudahan ga nambah rusuh. Kecuali rusuh di ranjang. Hahahha. Laras-laras, kalo elo ga aneh, mana mau lu diajak nikah ama Ram?”

Tanpa Laras sadari, Ramelan sudah berada di belakangnya dan memeluknya.

“Gak mandi Sayang?”

“Kayak ga tau aku aja kamu, Mas. Tadi kan sebelum makan malem aku dah mandi, and sekarang nunggu dimandiin kucing sama kamu, tapi abis selese ngerokok ya, hehehehe.”

“Aku juga mau ngerokok dulu, dah dari tadi nahan.”

“Cieeehhh…gimana rasanya hari ini? Lengkap tho perempuanmu malem ini?”

“Ho oh je. Lengkap tenan. Errr..Ran…”

“Hmm, apa?”

“Yakin mau nikah sama aku?”

“Lah, situ yakin ga nanya ke aku?”

“Yakin seratus persen, Sweetie.”

“Berhubung masokisku belom sembuh Mas, jadi sekarang aku jawab yakin.”

“So, matiin itu rokok, dah waktunya kamu tak gendong ke tempat tidur. Aku ga tahan habisin kamu sekarang.”

“Gak perlu digendong, aku naik dengan sukarela kok.”

Dalam beberapa menit setelah mereka menaiki tempat tidur, pakaian yang mereka kenakan sudah bertebaran di mana-mana. Bibir Ramelan pun sibuk menelusuri tiap inchi tubuh Laras, yang sudah terbius dengan kedahsyatan permainan ranjang kekasihnya.

Mereka berguling-guling ke sana kemari. Sibuk memainkan posisi yang menjadi kesenangan mereka.

“Aku mau kamu di atas, Sweetie.”

“So, take me there.”

Ayunan itu semakin kencang, berpadu dengan aluna suara mereka yang tak lagi peduli orang lain di luar sana, yang kemungkinan melewati kamar mereka.

Mereka berguling lagi, membawa Laras berada di bawah dan tengkurap.

“This is what you like rite, Mas? Give me your best move!”

“Will do.”

“Yes baby, rite there. Yes like that. Come on, ooohhhh…yes deeper, Hon.”

“My God, you’re so wonderful, Sweetie. Ohhhh, nooo. Yes, it’s almost done. Oh, no, oh, God…I’m done now.”

Dan akhirnya mereka terbaring berpelukan penuh puas.

“Kamu dahsyat hari ini, Hon.”

“Untuk kamu apa sih yang ngga?”

“Ran, I want more. Now.”

“Kuat?”

“Nantangin?”

“Ho oh.”

Dan mereka mengulanginya lagi, lagi, lagi dan lagi. Dua manusia yang tak pernah kehabisan energi meluapkan cinta. Walau awalnya dulu Laras selalu menolak ajakan kekasihnya itu.

“Aku ga mau jatuh gubrak, kalo ntar kita putus,” alasan yang diberikan Laras pada Ramelan saat ia mengajaknya bercinta, waktu awal-awal mereka pacaran dulu. Tapi Ramelan satu-satunya kekasih Laras yang berhasil membuatnya mampu meninggalkan topeng yang biasa Laras pakai di kehidupannya sehari-hari. Topeng yang mengakibatkan Laras tak mudah menikmati setiap cerita hidupnya. Dan Ramelan-lah yang bisa membuat Laras meninggalkan itu semua. Membuat Laras meninggalkan ketakutan-ketakutan dalam hidupnya yang belum tentu akan terjadi.

“Eh, jam berapa sih nih?”

“10.35.”

“Kok aku laper ya, Mas.”

“Mau pesen makanan?”

“Ga usah, aku turun aja lah ya, tadi liat ada cheese cake di bawah. Mudah-mudahan masih buka. Sekalian mau nyari rokok. Rokokmu juga dah mau abis kan?”

Laras langsung beranjak dari tempat tidur dan mengenakan pakaian.

“Kuncinya aku bawa ya, Sayang.”

“Yup.”

“Kamu mau nitip apa?”

“Rokok jelas.”

“Okay. Hmmm..tunggu pembalasanku nanti. I’m gonna kill you, when I come back.”

Dan Laras melayangkan satu lumatan ciuman di bibir Ramelan.

—-

to be continued…

Di Antara 1 dan 4 Cinta (4)…

Tuesday, September 15th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (3)

____

Pasangan bahagia itu berjalan sambil mengobrol dan tertawa kecil. Nampak jelas bahwa mereka memang sedang kasmaran, jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya. Mungkin orang di sekitar mereka saat itu, sudah mereka anggap tak ada, yang menjadikan dunia hanya milik mereka berdua.

“Kamu kok ga jalan satu meter di depanku lagi kayak awal-awal kita jalan bareng?”

“Ahhh, sial kamu, ngece aja terus.”

“Takut plus malu ya dulu jalan sama gue? Dulu mana berani gelendotan kayak gini.”

“Speechless gue. Eh tapi kamu dulu juga mana mau kayak gini. Cuma sekali, pas kita belanja di butik Spanyol kesayangan kita, kamu nempelin idung kamu ke idungku.”

“Hebat, kamu masih inget. Pas aku beli sepatu waktu itu ya? Pas lagi antri di kasir?”

“Inget lah, gue gitu. Sepatumu yang coklat itu ‘kan?”

“Ho oh.”

Setengah tergesa-gesa mereka menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 12 untuk menuju kamar nomor 03 yang menjanjikan kenikmatan tiada tara yang selalu mereka rindukan, saat tubuh mereka terpisah.

Dalam hitungan detik, lift yang baru saja terbuka di lobi, sudah membawa mereka ke lantai yang dituju.

Sekeluarnya mereka dari lift, dan baru saja berbelok ke lorong menuju kamar, beberapa meter di hadapan mereka, ada seorang perempuan bersama seorang anak kecil, yang sedang berjalan menuju arah mereka.

Laras menyadari bahwa perempuan itu menatap tajam ke arahnya dan kekasihnya. Ia pun berbicara dengan nada sangat pelan ke kekasihnya…

“Mas, liat deh, siapa ya tuch cewek? Kok ngeliat kita parah gitu? Kenal ga sih kita?”

“Ya, kalo kenal tinggal disapa aja kan?”

“Iya juga sih.”

Jarak mereka dengan si perempuan yang membawa anak tadi, semakin dekat. Dan rasa curiga Laras tak lama lagi akan terjawab…

“Mas Ram? Laras?”

Laras hanya bisa mengernyitkan dahi, berusaha mengingat siapa perempuan yang menyapanya saat itu, sembari menatap bingung ke arah kekasihnya.

Namun kebingungan itu tak terpecahkan dalam hitungan detik, yang menyebabkan Laras memberanikan diri untuk mengucapkan sesuatu.

“Sorry, do I know you?  Mbak ini siapa ya?”

“Saya…”

“Yes, she is Andra, Ras. Diandra, yang waktu itu telepon dan ngasih komentar di blog kamu.”

“Owwwhh, hai, akhirnya saya ketemu juga. Dah ga pernah kirim komentar lagi di blog?”

“Udah males, ga pernah di-publish juga.”

“Maaf ya, ga bisa di-publish, isinya ga memungkinkan untuk dipublikasikan.”

“Mas Ram, apa kabar?”

“Baik. Lagi di Jakarta?”

“Iya, lagi main. By the way now you are both officially going out? Kamu bener-bener tega ninggalin aku sama Dara?”

“Gak cuma pacaran Ndra, saya dan Laras are getting married.”

“What? Ras, I’m still his wife.”

“Errr…what should I call you? Okay, Mbak, Ndra, whatever, maaf banget saya cuma percaya sama apa yang Mas Ram bilang ke saya, dan sebelum kami pacaran, yang saya tahu dan yang saya denger dari mulut Mas Ram sendiri, dia baru aja putus ama Mia. Kalo kamu bilang, kamu nikah ama Mas Ram 4 tahun lalu, itu ga mungkin. Mas Ram masih dan udah lama pacaran sama Mia saat itu. Mereka ‘dah rencana mau nikah, walau batal. Dan yang lebih penting, saya lebih percaya sama pacar saya sendiri, bukan orang lain.”

“Sorry Ndra, urusan kita berdua udah selese lama. Saya udah ga ada urusan lagi sama kamu. Please leave me alone. Saya ga ada waktu buat ngurusin kamu dan tingkah laku aneh kamu yang terus-terusan kayak gini.”

“Mas, Dara ini anak kamu. Dan kamu Ras, kamu ga ada bedanya sama Mia, sama-sama sampah.”

“Sorry, Ndra, kita bener-bener selese. We gotta go.”

“Yuk, Ran, kita pergi.”

“Bye, ‘Ndra.”

Mereka berdua pergi meninggalkan Andra dan anak perempuannya, yang kira-kira baru berusia 3 tahun. Meninggalkan tanpa menoleh kembali ke belakang. Tanpa memerhatikan bahwa Andra telah menandai kamar tempat mereka menginap, walau pada akhirnya Andra menuju ke lift dan memasukinya.

—-

to be continued…