Archive for the ‘Belanja’ Category

I’m Not A Shoes Fetish…

Thursday, September 9th, 2010

Sudah lama sepertinya, saya ndak menulis sesuatu yang berbau-bau tentang fesyen. Mungkin karena kemarin-kemarin saya jarang belanja, atau mungkin karena isi lemarin tidak perlu ada yang dikurangi, lalu diganti yang baru.

Beberapa hari lalu saya kembali menambah koleksi sepatu. Kali ini sepatu kerja, karena sepatu kerja andalan saya sudah sedikit perlu di “hemat” untuk dipakai.

Terus terang saya bukan shoes fetish. Dan sepatu adalah prioritas kedua (setelah pakaian), saat saya memutuskan untuk melakukan retail therapy. Bagi saya, cukup kalau setiap tipe (yang saya bagi menurut fungsinya), yang saya punyai ada warna hitam dan warna putih. Dua warna netral itu tidak akan membuat saya lebih repot  kehabisan waktu untuk mencocokkan antara sepatu dengan pakaian yang akan saya kenakan.

Dengan menambah satu pasang lagi, sekarang inilah koleksi sepatu yang saya punyai *ga sebanyak koleksi sepatu kalian kok* :mrgreen:

DSC00763Kali ini saya ingin membahas, bercerita, atau mungkin juga reviu satu per satu tentang sepatu-sepatu yang saya punya ini. Jadi tak apa lah ya…kali ini saya juga menyebutkan mereknya.

Dan kita mulai dari deretan belakang, dari kiri ke kanan…

Nike. Saya kangen memakai sepatu ini, karena sepatu ini adalah sepatu tenis yang tentunya hanya saya pakai saat saya berlatih tenis. Karena saya kangen memakai sepatu ini, pastinya saya sudah lama tidak bermain tenis. Kalau saya tidak salah ingat harga asli sepatu ini lebih dari Rp.500.000, tetapi sepatu ini saya dapatkan hanya sekitar Rp.200.000an.

Converse. Sepatu paling menyenangkan untuk dipakai. Nyaman, gaya, dan menyarukan usia asli :mrgreen: . Saya ingat betul, sepatu ini saya beli karena terpaksa. Saat itu saya masih kuliah dan hari itu adalah hari ujian salah satu MKDU. Ujian ini mengharuskan setiap pesertanya memakai sepatu. Sialnya saya lupa memakai sepatu, karena fakultas saya sedikit tak peduli apakah mahasiswanya memakai sepatu atau sandal saat kuliah ataupun ujian. Beda fakultas, beda pula universitas *loh?*. Pihak universitas bisa saja tidak mengizinkan mahasiswa mengikuti ujian, karena tidak memakai sepatu. Untung saja ujiannya setelah makan siang. Dan waktu itu paginya saya memang ada ujian lain, jadi saya tidak mepet sampai kampus. Terpaksalah saya berlari ke mall sebelah kampus untuk mencari sepatu *kebetulan ada alasan buat beli sepatu*. Hasilnya yaa…si Converse yang satu ini. Warna merah muda, belakangnya sedikit tinggi dan bisa ditekuk. Jika ditekuk, bagian yang tertekuk (yang notabene adalah bagian dalam sepatu) memiliki corak kotak-kotak kombinasi warna merah muda, kuning dan putih. Harga saat saya beli antara Rp.300.000 – Rp. 400.000.

Marie Claire. Sepatu yang mempunyai tinggi hak sekitar 6 cm ini saya beli tahun lalu, saat saya harus kembali bekerja setelah lulus kuliah, dan baru sadar, koleksi sepatu kantor sudah sangat minim. Terus terang sepatu ini sangat jarang saya pakai. Satu alasannya, karena tidak nyaman di kaki. Mungkin karena ternyata merek ini tak cocok dengan bentuk dan segala sesuatu di kaki saya, atau karena faktor lain. Harga sepatu ini berkisar antara Rp. 200.000 – Rp. 250.000.

Everbest. Kalau tidak salah dulu Everbest mempunyai tag line The Best Ever. Terus terang sepatu ini dibelikan oleh seseorang *eh* di tahun 2004, saat tiga pasang Everbest yang saya miliki sebelumnya sudah waktunya dipensiunkan. Merek ini adalah merek andalan saya untuk sepatu kantor, karena sangat nyaman di kaki. Everbest yang ini hanya mempunyai hak setinggi 4 cm.  Termasuk sepatu dengan hak rendah yang saya miliki. Sebelum Everbest yang ini, Everbest yang saya pakai harian mempunyai hak antara 5-8 cm, karena ya itu tadi, walaupun tinggi, untuk berlari ke sana ke mari, sepatu merek ini tetap nyaman di kaki. Tak membuat kaki saya lecet sedikit pun. Enam tahun lalu, harga sepatu ini berkisar Rp.450.000 – Rp. 500.000 *gue tau harganya karena gue yang milih, dan belinya sama gue* :mrgreen:

G by Guess. The newest one. Gara-gara terlalu lama menunggu antrian dokter gigi, Senin lalu saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall yang letaknya di samping rumah sakit tempat saya berobat gigi. Saya memang sudah berencana untuk menambah koleksi sepatu kantor, yang bukan flat shoes. Putar-putar keliling pusat perbelanjaan yang saat itu sedang menggelar diskon dimana-mana adalah hal yang menyenangkan untuk saya. Saya bisa mendapatkan barang mahal dengan harga diskon. Seperti sepatu ini, yang saya beli dengan harga Rp.300.000 – Rp. 400.000 setelah diskon, dan seperti biasa, yang paling penting adalah bisa dipakai untuk sedikit berlari-lari selama di kantor, karena mempunyai tingkat kenyamanan yang luar biasa.

Pretty Fit. Yang ini bukan sepatu untuk ke kantor. Melainkan sepatu untuk pesta. Saya beli saat saya ke Singapura tahun lalu. Mempunyai hak 8 cm dengan ujung yang kecil, yang terlihat akan membuat kaki pegal jika memakainya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Sepatu ini sangat nyaman di kaki, bahkan saya sempat memakai beberapa kali ke kantor, saat saya bosan dengan sepatu kantor saya. Seingat saya, sepatu ini saya beli dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (jika dikonversi ke Rupiah), dengan harga asli Rp. 800.000an (juga jika dikonversi ke Rupiah).

Noche. Sepatu ini saya beli karena sepatu pesta saya sebelumnya yang berwarna putih sudah saatnya di “lembiru” (lempar beli yang baru). Sepatu ini adalah saksi saat saya wisuda menjadi Sarjana Psikologi. Saksi kebosanan saya menunggu untuk dipanggil ke atas podium dengan nama Rosarini S.Psi *long and windy road, Man!!!* Tinggi hak 7 cm, dan tetap nyaman di kaki saya. Harganya pun termasuk membuat dompet saya pun tetap nyaman, yaitu sekitar Rp. 300.000 – Rp. 350.000.

Hush Puppies. Nyaman sungguh sepatu ini. Kualitasnya sesuai dengan harganya yaitu Rp.800.000. Saya membeli sepatu ini akhir tahun lalu, dan saya ingat betul sepatu ini masih termasuk new arrival, dan tak ada diskon. Tapi ternyata “mas-mas” penjaga counter menghampiri saya dan mengatakan ini “Mbak, kalo mbak mau yang itu, saya telfonin temen saya yang di kantor pusat biar bisa diskon, terus terang saya lagi ngejar target dapet insentif akhir bulan,” akhirnya saya membawa pulang sepatu itu dengan harga Rp. 500.000 :mrgreen: Dan sepatu ini sekarang menjadi sepatu andalan saya saat ngantor.

Noche. Patent Leather-Pump Shoes yang menjadi saksi sejarah saat saya ujian/sidang skripsi tahun lalu. Selama dua jam dia menemani saya di ruangan itu, untuk menjawab semua pertanyaan para penguji. Sepatu ini jarang saya pakai, karena memang saya kelompokkan sebagai sepatu pesta, menjadi teman sack dress sebagai pilihan ringkes saat saya “terpaksa” berdandan pergi ke pesta. Heels sepatu ini hanya 7 cm, dengan ujung yang kecil, tapi walaupun harganya tidak terlalu mahal, kualitasnya pun ternyata bagus, setidaknya tidak membuat kaki saya pegal ataupun lecet. Harga sepatu ini saat saya beli, sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000.

Zara. Patent Leather-Suede-Ankle Strap Shoes ini juga saya golongkan sebagai sepatu pesta. Heels yang dimilikinya hanya 5 cm dengan bahan suede dan ujung yang kecil. Menurut saya, sedikit repot memakai sepatu ini, karena ankle strap sepatu ini benar-benar ankle strap yang harus dibuka terlebih dahulu baru ditaliin seperti memasang ikat pinggang, bukan ankle strap yang tinggal cantol. Harga asli sepatu ini sekitar Rp.700.000an, karena ini termasuk koleksi Zara Women, bukan TRF. Tapi…lagi-lagi saya bisa membawa pulang sepatu ini dengan harga lebih murah, yaitu sekitar Rp. 350.000 – Rp. 400.000.

Guess by Marciano. Bermodel sneakers tapi dengan hak wedges setinggi 10 cm. Yang jelas memakai sepatu ini sangat repot, apalagi sepatu ini tanpa lidah, yang memaksa saya harus melonggarkan talinya dari bawah hingga atas, agar kaki saya bisa masuk. Walaupun demikian, hal ini menjadi satu kelebihannya juga, karena kaus kaki yang saya kenakan bisa terlihat motif/corak /warnanya. Eh…sepatu ini juga dibelikan oleh seseorang, saat saya dan dia berjalan-jalan di salah satu mall di Jakarta Selatan, kurang lebih 6 tahun lalu. Harganya saat itu kalau tak salah sekitar Rp. 500.000 – Rp. 550.000 dan itu sudah harga diskon.

Dan sekarang reviu untuk sepatu di deretan depan. Dari paling kiri ya…

Vincci. Dibelikan oleh seseorang saat ia ke Kuala Lumpur. Sangat jarang saya pakai, karena sepertinya koleksi pakaian yang saya miliki jarang pula yang bisa cocok jika saya memakai sepatu ini. Sepatu berbahan beludru ini mempunyai hak sekitar 3 cm, dan cukup nyaman di kaki. Harganya? Saya tidak tahu, lha wong oleh-oleh kok.

Vincci. Flat shoes nyaman dan bisa dikatakan dengan harga yang cukup murah. Kalau tidak salah sepatu ini kisaran harganya Rp.200.000 – Rp. 250.000. Sempat menjadi sepatu andalan saat saya masih bekerja di sebuah retail company, karena saya lebih sering berangkat dan pulang kantor dengan kendaraan umum. Karena terlalu sering dipakai, sepatu ini mulai rusak dibagian solnya, dan memaksa saya untuk mengurangi frekuensi pemakaian sepatu ini.

M)phosis. Patent-leather-ankle-strap-shoes ini saya beli di Singapura dengan harga sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 (dengan konversi ke Rupiah). Sangat nyaman di kaki, termasuk untuk menerjang hujan, berlari-lari dan berkendaraan umum. Sampai-sampai sekarang terpaksa saya kurangi frekuensi memakai sepatu ini, karena sudah mulai rusak. Flat shoes dan sandal M)phosis, adalah inceran saya saat akan menambah koleksi sepatu jenis yang satu itu. Nyaman sungguh boss!!

Everbest. Yang satu ini termasuk salah satu sepatu andalan saya untuk ngantor. Sepatu ini, sepatu hibahan dari tante saya, karena ternyata sedikit kebesaran untuknya. Saat diberikan ke saya, kondisinya masih sangat baru, dan kebetulan pas di kaki saya dan mereknya pun saya suka. Saat berjalan-jalan ke mall, saya melihat sepatu model ini dijual dengan kisaran harga Rp.700.000 – Rp. 800.000 *mayan menghemat duit* :mrgreen: .

Sebenarnya saya masih punya dua pasang sepatu lagi yang lupa saya foto. Dua-duanya flat shoes, menyenangkan dan nyaman. Satu bermerek Top Shop, dan satu lagi Tracce. Yang Top Shop berbahan dasar satin warna biru dilapisi dengan lace warna hitam, dan waktu itu saya beli dengan harga Rp.400.000 pada akhir tahun 2006, sedangkan yang Tracce dengan model mary jane, berbahan kain yang saya tidak tahu jenisnya, berwarna krem, di bagian ujung dan strapnya berbahan patent-leather berwarna coklat tua. Dua pasang sepatu ini ingin saya perbaiki, karena sedikit rusak di bagian solnya, tahu khan jalanan kota Jakarta yang tak pernah bersahabat dengan sepatu? Sangking nyamannya dua pasang sepatu ini, saya jadi malas untuk me-”lembiru” keduanya.

So…koleksi sepatu saya tak sebanyak koleksi kalian khan ya? Mudah-mudahan cerita, reviu tentang sepatu-sepatu ini dapat menjadi bahan pertimbangan kalian saat ingin berbelanja sepatu.

Hmmm…untuk cara merawat sepatu setelah kita beli, coba dibaca ulang tulisan saya yang satu ini…Sepatu Bersih Sepatu Cantik

—-

“Btw, kenapa sepatu gue banyakan item yah? Sesuai dengan baju yang mayoritas warna gelap? Atau sesuai yang lainnya? Terus-terus ketimbang cuma punya 20an pasang sepatu aja dah rempong nyimpennya, apalagi para shoes fetish itu yah? Ga kebayang…”

Saya Benci Tengah Tahun…

Sunday, July 5th, 2009

Hmmm…ya, ya, ya, saya benci tengah tahun. Apalagi kalau bukan urusan program diskon belanja yang sedang bertebaran di Jakarta. Program Jakarta Great Sale ini memang menjadi acara tahunan untuk memperingati hari jadi ibukota yang sudah sangat sesak dan tak karuan ini.

Namun anehnya kesesakkan kota Jakarta, tak tercermin pada pusat-pusat perbelanjaan yang menjajakan program diskon. Berdasarkan hasil observasi saya beberapa hari berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, butik-butik ternama yang sudah menuliskan besar-besar program diskon di etalase mereka, cenderung tak disesaki pengunjung seperti tahun lalu. Setidaknya ini terbukti dari dua butik dari Spanyol, Mango dan Zara yang merupakan butik kesayangan saya.

Dalam minggu ini, saya sudah 3 kali berputar-putar mengelilingi pusat perbelanjaan yang terdapat dua butik andalan saya itu. Herannya saat saya memasuki butik-butik itu, ramainya pengunjung yang memadati butik sambil memilih-milih fashion item yang dijual, antrian di kamar ganti dan di kasir, bisa dikatakan tak ada, ditambah dengan koleksi barang mereka yang masih banyak macam dan ukurannya, membuat saya menyimpulkan bahwa situasi butik saat itu sama saja dengan saat mereka tidak mengadakan program diskon.

Bagi saya kondisi seperti itu sangat menyenangkan, ada diskon tapi tak ramai, ukuran dan model juga masih banyak. Kurang apa coba?

Lalu kenapa saya benci tengah tahun? Bukannya harusnya saya senang? Memang seharusnya saya senang karena bisa belanja barang kesukaan dengan harga (lebih) murah. Tapppiiii kalau ingat urusan finansial, program diskon yang bertebaran itu dapat seketika menghancurkan rencana finansial yang sudah diatur masak-masak setelah gaji masuk ke rekening (“Hyyyaaaahhhh…! Buyar semua.”)

Mereka seolah tak ada hentinya memanggil-manggil saya untuk masuk ke butik. Menyebalkan memang.

“Okay, gue masuk aja. Liat-liat. Jauhi ruang ganti.”

Saat berjalan-jalan…

“Anjrit, XS, lucu, ha dari segitu jadi tinggal segitu? Yang buener? Coba aaakkhh.”

Dengan harapan bahwa jatuh duduknya dari apa yang saya coba itu, tidak cocok saya kenakan.

“Damn! It’s good on me.”

Minggu ini saya berhasil membawa pulang 1 kemeja putih lengan pendek dari butik (X)S.M.L yang merupakan label desainer ternama Biyan, 1 Dress Beach (nama sesuai apa yang tercantum di tag yang menggantung pada pakaian) dan 1 celana panjang berbahan kordorai warna coklat tua, yang keduanya dari Mango. Kali ini Zara tidak berhasil membuat saya membawa pulang salah satu koleksinya. Eh, mungkin bukan tidak berhasil, tapi belum berhasil.

(X)S.M.L juga sudah menjadi salah satu inceran saya saat berbelanja sejak beberapa tahun lalu. Koleksinya yang cenderung bergaya kasual tapi tetap elegan, memungkinkan untuk digunakan pada saat momen apa saja, termasuk memungkinkan untuk dipakai ke kantor dengan dipadupadankan fashion item lainnya milik kalian, jika ingin terlihat sedikit lebih formal. Belum lagi pilihan bahan yang sangat nyaman digunakan.

Begitu pun juga dengan kemeja putih yang saya beli beberapa hari lalu. Sayangnya saya tak tahu kemeja ini terbuat dari bahan apa, tapi saya tahu harga asli kemeja ini yaitu Rp.399.000, dan saya membawanya pulang hanya dengan harga Rp.219.000.

Dua koleksi Mango yang berhasil saya bawa pulang, juga tak kalah bersaing dari segi harga. Mango sendiri membagi-bagi koleksinya ke dalam beberapa kelompok lagi, misalnya Mango Suit, Mango Jeans, Mango Casual Sport Wear, Mango Basics, Mango Touch (asesoris), Mango-Penélope & Monica Cruz (limited editions), dan lain-lain. Dari segi harga, kalau saya tidak salah, Koleksi Penélope & Monica Cruz dan Mango Suit termasuk di jajaran yang paling mahal, Mango Casual Sport Wear dan Mango Jeans berada di tengah-tengah, dan Mango Basics termasuk di kelompok harga yang paling murah.

Dari kelompok-kelompok itu, Mango Casual Sport Wear dan Mango Basics-lah yang mendominasi koleksi Mango saya, disusul dengan Mango Jeans, dan hanya 1 koleksi Mango Suit saya (sack dress abu-abu berbahan wol, hasil belanja dengan seseorang akhir tahun lalu, yang sempat saya pakai saat sidang skripsi).

Dan minggu ini saya kembali menambah koleksi Mango Casual Sport Wear dan Mango Basics saya.

Dress Beach (terusan) yang saya beli ini, berlengan pendek, berwarna biru tua, dan terdapat ikat pinggang sama dengan bahan bajunya,  termasuk dalam Mango Casual Sport Wear. Sesuai dengan namanya, memang modelnya terlihat kasual dan sporty, tapi menurut saya, baju-baju di deretan kelompok ini masih bisa digunakan ke kantor, asal kalian pintar untuk memadumadankannya. Untuk urusan harga, harga asli rok terusan ini adalah Rp.679.000, dan harga setelah didiskon adalah Rp.419.000. Koleksi Dress Beach ini terdiri dari warna khakis, ungu, biru tua, dan putih. Di Mango Plaza Senayan ukuran dan warnanya masih lebih banyak, sedangkan di Mango Pacific Place, hanya tinggal sedikit.

Sedangkan celana kordorai berwarna coklat (“Hhssssshhh, mengingatkan saya akan seseorang yang juga suka dengan celana kordorai, apalagi dengan warna gradasi dari khakis hingga coklat tua!”), merupakan koleksi Mango Basics. Harga asli celana tersebut adalah Rp.329.000 dan saya bawa pulang dengan harga Rp.149.000. Celana model ini terdiri dari beberapa warna: lila, hitam, khakis, dan coklat. Saya tidak menemukan model ini di Mango Plaza Senayan, tapi di Pacific Place masih tersedia banyak warna dan ukurannya. Ssssttt…saya juga melihat ada beberapa jeans yang dijual hanya dengan harga Rp.149.000 dari harga aslinya berkisar Rp.500.000 hingga Rp.700.000, sayangnya saya sedang tidak perlu menambah koleksi jeans saya. Untuk memastikan bahwa saya tidak salah lihat, kalian coba saja ke sana (“Hihihih, ngomporin belanja nih!).

“Gimana gue bisa nolak? Ha, ha, ha? Tak mungkin.”

Dan setelah belanjaan celana kordorai itu saya bawa pulang, diri ini berjanji untuk tidak berbelanja lagi, setidaknya untuk bulan ini (“Kok, ragu?”).

Berbicara tentang ukuran badan yang Puji Tuhan hingga saat ini masih memungkinkan dan membahagiakan saya untuk mengenakan ukuran XS, Mango, Zara dan (X)S.M.L itu menjadi butik-butik inceran saya saat saya berbelanja, juga karena mereka menyediakan ukuran tersebut. Dan karena sudah biasa dengan koleksi mereka, saya sempat beberapa kali membeli tanpa mencobanya.

Satu tip dari saya, jika ingin membeli fashion item tertentu jangan lupa berpikir dan mengingat-ingat sejenak koleksi-koleksi di rumah, yang memungkinkan untuk dipadupadankan dengan barang yang akan dibeli, jangan terlalu jadi impulsive buyer ya.

Ya sudah, mumpung diskon masih bertebaran, belanja-belanji gih! Lalu, kartu kredit yang sudah kosong jangan sampai penuh lagi ya (“Inget tuch ‘Cha! Huahahaha.”).

Jadi, sekali lagi nih saya katakan…Tak perlu berbelanja sampai Singapura ‘kan?

—-

“Jadi kangen sama seseorang dan seseorang teman belanja setia, sekaligus fashion stylist saya, yang juga doyan banget belanja dan sering kartu kreditnya over limit. Huh, kalian cowok doyan belanja juga ya bouw!”

—-

Eh satu lagi, yang membuat saya benci tengah tahun, film bioskop lagi banyak yang bagus (“Tambah bikin bangkrut!”). Besok, eh nanti siang tepatnya, waktunya Ice Age 3 (“Yay!”).

Ayo Belanja…

Sunday, April 12th, 2009

Dulu, jika aku menginginkan sebuah barang, sering kali aku tak berpikir panjang sebelum mengambil barang itu dan membawanya ke kasir, apalagi awal-awal aku sudah memiliki gaji sendiri. Namun dengan berjalannya waktu, dan semakin merasakan susahnya mencari uang, kebiasaan itu pun sudah bisa aku kurangi. Berpikir panjang sebelum membeli barang, memang penting. Tidak terlalu sulit ternyata untuk meninggalkan toko tanpa membawa pulang barang yang diinginkan, pada saat itu juga, detik itu juga.

Cukup lama memang aku baru dapat menemukan strategi-strategi untuk hunting barang belanjaan. Dan inilah strategi yang cukup ampuh (setidaknya bagiku) untuk mencegah agar kita tidak menyesali barang yang kita beli.

Marreee…

1. Sebaiknya sebelum kita pergi ke pusat perbelanjaan, kita sudah harus tahu barang belanjaan yang kita ingin beli. Klise memang, tapi ada benarnya. Pasti kita tidak ingin menghamburkan uang dengan percuma dan penuh penyesalan ‘kan?

2. Dalam pusat perbelanjaan tentu tidak hanya ada satu atau dua toko yang menjajakan barang jualan yang sejenis. Jangan malas untuk melakukan perbandingan. Coba pakaian hanya jika modelnya kira-kira sesuai dengan bentuk tubuh, tidak semata-mata karena tampilan warna atau motif yang menarik, hal ini dapat menghemat waktu kita berbelanja.

Ada satu strategi sedikit licik, yang cukup sering aku lakukan. Apabila ada satu barang yang kamu sudah suka sekali, sudah cocok baik model dan ukurannya, takut barang itu diambil orang lain, apalagi kalau stoknya tinggal sedikit, tapi kamu ingin melakukan perbandingan di toko/butik lain, titipkan barang tersebut pada kasir, lalu kamu bilang pada petugasnya, kalau kamu ingin ke toilet atau ke ATM. Pergi ke toilet atau ATM itulah sebagai alasan kamu untuk mencari di toko/butik lain untuk membandingkan barang yang kamu inginkan.

Terus terang dengan cara seperti ini, aku pernah menemukan satu kemeja putih lengan pendek, dengan kelas dan kualitas merek yang sama, tapi lebih murah. Kamu tahu dua merek produk busana asal Spanyol yang menjadi favoritku itu ‘kan? Namun agar hati tidak terlalu merasa bersalah, aku akan kembali ke toko sebelumnya, mencobanya lagi, dan bilang ke petugasnya bahwa aku tak jadi mengambil barang itu, karena setelah dipikir-pikir masih kurang cocok. Tentu, ketika kembali ke toko sebelumnya, aku belum membawa tas belanjaan baru ya, atau setidaknya aku simpan di tasku yang mirip kantong Doraemon.

Perbandingan satu barang dengan barang yang lain ini, juga berguna ketika kamu sedang berjalan-jalan dan mendadak baru ingat atau ingin membeli barang yang tidak direncanakan sebelum pergi berbelanja.

3. Apabila hasrat hati benar-benar tak terbendung untuk membawa belanjaan sepulang dari pusat perbelanjaan, carilah barang yang pasti berguna, istilahnya must have item.

4. Jika sedang jalan-jalan ke luar negeri, cari barang yang tidak dijual di Indonesia. Bisa mereknya yang tidak masuk ke Indonesia, atau modelnya. Jangan lupa untuk menghitung kurs harian, karena bisa jadi barangnya menjadi lebih mahal dari pada harga di Indonesia, jika memang barangnya dijual di sini. Lain soal, jika hasrat hati untuk membeli tidak dapat ditahan lagi, tutup mata serapat-rapatnya untuk urusan kurs mata uang negara setempat terhadap Rupiah.

5. Sebelum membayar, periksa kembali kondisi barang yang akan dibeli, apakah ada yang cacat atau tidak, apalagi untuk barang yang didiskon.

6. Selalu minta barang yang baru, bukan barang yang dipajang. Aku pribadi memilih untuk membatalkan membeli barang tersebut jika tidak ada stok selain yang dipajang. Biasanya kondisi barang yang dipajang sudah tidak terlalu bagus.

Namun ada baiknya kamu memeriksanya kembali, jika masih benar-benar bagus dan bersih, tak ada salahnya kamu membeli barang yang dipajang tersebut. Khusus untuk sepatu, teliti kembali dengan seksama, apakah kulitnya sudah terdapat banyak lipatan bekas pakai atau tidak. Dan untuk pakaian, jangan membeli pakaian yang sudah terkena noda kosmetik orang yang mencoba sebelumnya atau noda apapun, karena ada resiko noda tersebut tidak bisa dihilangkan. Untuk menghindari terkenanya noda pada pakaian, serta untuk kepentingan diri sendiri juga orang lain, ada baiknya jika kamu ingin mencoba pakaian, jangan mencoba yang warna terang, apalagi putih. Cari model yang diinginkan dan ukuran sesuai, dengan warna yang gelap. Apabila kamu ingin membeli yang warna putih, baru kamu cari warna tersebut, ukuran yang sama, dan langsung bawa ke kasir.

5. Tanyakan petugasnya, apakah barang tersebut bisa ditukar atau tidak setelah kita membeli, dan juga syarat-syarat penukarannya, kalau-kalau ada cacat yang tidak terlihat saat kita membelinya. Simpan baik-baik bukti pembayarannya untuk beberapa hari.

6. Membeli barang di toko atau butik langganan mempunyai kelebihan tersendiri, yaitu kamu sudah tahu ukuran yang biasa kamu kenakan untuk merek tersebut. Hal ini sangat berguna saat-saat masa diskon digelar, karena pada masa inilah toko atau butik pasti lebih ramai dikunjungi orang, dan bisa dipastikan urusan mengantri mencobanya pun juga lebih panjang. Bahkan ada toko atau butik yang tidak memperbolehkan pembelinya untuk mencoba pada saat diskon berlangsung. Jadi jika sudah tahu ukuran yang biasanya, akan lebih menghemat waktu, serta tidak akan kehilangan barang yang disenangi hanya karena tidak tahu ukurannya dan tidak boleh mencobanya.

7. Apabila kamu sedang ingin berhemat, jauhkan ruang coba pakaian, karena jika kamu sudah mencoba pakaian, dan dirasa cocok, kemungkinan besar kamu akan membelinya walaupun ternyata kamu tidak memerlukannya. Selain itu, tinggalkan kartu kredit yang sudah kosong atau kartu debit yang masih penuh di rumah dan bawa uang tunai secukupnya, walau aku yakin pasti sulit.

8. Sebaiknya jika kamu ingin membeli sepatu, jangan pada saat-saat awal kamu mulai berbelanja. Lakukan itu setelah kaki-kakimu berjalan untuk beberapa lama, karena kaki akan lebih mengembang, sehingga kamu akan tahu ukuran dan bentuk kakimu yang sebenar-benarnya, ketika memilih sepatu. Saat kamu ingin membeli high heels, ada baiknya kamu menanyakan ada sol tambahannya atau tidak, beberapa merek menyediakannya termasuk kantong penyimpanan tambahan. Dan untuk sepatu pada umumnya, lihat lagi bahan yang dipakai, apakah mudah dibersihkan atau tidak. Untuk cara membersihkan sepatu, bisa dibaca di tulisanku sebelumnya (dalam kategori label informasi fesyen).

9. Saat kamu membeli pakaian, terutama yang berkancing, periksa kembali jahitan kancing-kancing tersebut, dan apakah ada kancing cadangan yang disediakan atau tidak. Ada baiknya sesampainya di rumah, kencangkan sendiri jahitan kancing-kancing tersebut. Selain itu periksa juga washing instruction yang biasanya tertera di bagian dalam pakaian, terutama untuk kamu yang malas membawa pakaian ke jasa binatu, karena ada pakaian yang hanya bisa dicuci kering atau dicuci dengan bahan-bahan kimia tertentu.

10. Satu hal penting saat kamu ingin berbelanja, pakailah pakaian dan terutama sepatu yang sangat nyaman. Jangan sampai pakaian dan sepatumu mengganggu kenikmatan kamu berbelanja. Aku tidak menyarankan untuk memakai sepatu berhak tinggi sangat berbelanja, bahkan aku selalu menghindari menggunakan sepatu jenis ini ketika berburu belanjaan.

Selain strategi berbelanja di atas, aku juga ingin membagi must have item ala diriku sendiri. Siapa tahu berguna juga untuk kamu.

1. Atasan (baik kemeja lengan panjang, pendek, atau kaos) berwarna putih polos. Tentu pilih dengan model, jenis kain, sulur kain yang berbeda-beda.

2. Bawahan (rok atau celana panjang) berwarna hitam polos. Pilih yang berwarna hitam pekat, dan tentu hati-hati dalam menyetrika pakaian agar tidak berbekas.

3. Sack dress hitam, karena bisa dipakai di hampir setiap acara, baik siang maupun malam, apalagi kalau sedang bingung mau pakai baju apa.

4. Sepatu model apapun berwarna hitam atau putih, karena bisa disesuaikan dengan pakaian warna apapun.

5. Travel bag atau suitcase dengan ukuran kabin pesawat. Usahakan warna gelap, agar tidak terlalu terlihat jika kotor. Dan percaya benda ini pasti berguna, walaupun kamu belum merencanakan bepergian, jadi sediakan benda ini, setidaknya satu di rumah. Lagi pula kalau membelinya tidak mendadak tentu kamu bisa memilih model sesuai keinginanmu dan bisa tetap modis saat bepergian ‘kan? Oh ya, kenapa ukuran kabin? Menghemat waktu, karena koper tidak perlu dimasukkan ke bagasi pesawat, cukup dibawa di kabin, dan kalau kamu bepergian tidak dengan pesawat, ukuran koper juga tidak akan banyak memakan tempat.

6. Tote bag warna netral. Tas ini dapat memuat barang yang cukup banyak, setidaknya tidak hanya dompet dan ponsel, bahkan bisa dijadikan semacam kantong Doraemon.

7. Celana jeans berwarna gelap. Dengan paduan kemeja putih dan jeans gelap, kamu sudah bisa datang ke acara-acara non formal, bahkan aku pernah datang ke pesta perkawinan yang diadakan siang hari dengan padu padan seperti itu.

8. Cardigan. Mempunyai cardigan berbagai macam warna dan lebih dari satu tidak akan percuma, apalagi untuk mereka yang tidak kuat dengan hawa dingin AC.

9. Winter stocking, untuk mereka yang sudah bekerja, stocking ini akan menambah kesan tersendiri dalam berpakaian. Bahan winter stocking juga lebih kuat daripada stocking biasa, jadi kamu tidak perlu sering-sering membeli stocking baru karena robek. Selain itu, winter stocking ini berbahan tebal, yang bisa menahan dingin saat kamu di kantor, tapi kalau sedang keluar kantor, jangan terlalu banyak gerak ya, bisa-bisa kamu kepanasan nanti.

Kira-kira, itulah strategi berbelanja berdasarkan pengalamanku sendiri, semoga berguna, kalau ada yang ingin menambahkan, dengan senang hati aku terima.

“Hmmmm…musim diskon sebentar lagi ‘kan? Jadi, belanja kita? Shop till you drop, Gurls!

Sepatu Bersih, Sepatu Cantik…

Wednesday, July 16th, 2008

Musim diskon sudah hampir berakhir, seperti SOGO yang sempat aku datangi hari Minggu, 13 Juli 2008 lalu, menurut pramuniaganya bahwa hari itu adalah hari terakhir mereka memberikan potongan harga. Namun jangan takut, hingga saat ini masih ada toko yang memberikan potongan harga. Tengok saja Mango dan Zara yang masih menggelar diskon, walaupun keduanya juga mulai memasang new arrival untuk musim mendatang, di gerai-gerai mereka. 

Pertanyaan pertama yang ada di pikiranku adalah, coba dilihat lagi ada beberapa barang belanjaan yang berhasil dibeli? Ada penyesalan membeli barang-barang itu, atau bahagia karena mendapatkan barang yang selama ini diincar? Ada yang mulai khawatir menanti datangnya tagihan kartu kredit bulan ini? Semoga semuanya sudah diperhitungkan sebelumnya ya.

Kalau berdasarkan pengalaman aku sendiri, belanjaan yang paling sering diincar saat musim potongan harga adalah sepatu. Pasti ada ‘kan yang baru saja belanja sepatu baru? Apalagi model yang diberikan potongan harga itu adalah model yang sudah lama diincar, pasti tanpa pikir panjang lebar langsung minta ke pramuniaga untuk dicarikan ukuran yang sesuai, dan langsung bayar ke kasir. “Lah Cha, kadang ga ada diskon pun, ga pake acara mikir panjang. Kalo suka, pas, keren di kaki, langsung dech bayar.”

Lalu, kira-kira para pembeli sepatu ini, sudah tahu belum ya cara merawat sepatu kesayangan? Sayang ‘kan sepatu yang dibeli dengan mahal, dengan penantian panjang itu hanya bertahan sebentar, karena tidak tahu cara merawatnya. Kali ini aku akan merangkum beberapa tips merawat sepatu. Ada yang aku ambil dari artikel di internet, maupun berdasarkan pengalamanku sendiri. 

Sepatu Berbahan Suede

Sepatu berbahan suede ini, memang termasuk sulit dalam hal perawatannya. Sikat khusus sepatu untuk berbahan suede ini tersedia di toko-toko sepatu, walaupun sedikit sekali yang menjualnya.

Untuk membersihkan kotoran di sepatu berbahan suede ini, kamu bisa menyikatnya secara lembut dengan menggunakan sikat khusus itu. Namun pastikan sepatu kamu dalam keadaan kering. Sikatlah sepatu ke satu arah, jangan menyikat kedua arah yang berlawanan, untuk mengangkat kotoran yang menempel.

Untuk menghilangkan lecet yang terlihat jelas pada sepatu, sikatlah sepatu dengan sikat khusus itu ke dua arah yang berlawanan. Untuk lecet yang membandal, coba gosokkan area yang lecet dengan penghapus pensil.

Semprotkan dengan semprotan pelindung sepatu berbahan suede sejak pertama kali sepatu itu kamu beli, dan setiap kali setelah sepatu itu dibersihkan. Untuk sepatu yang tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama, simpanlah sepatu di dalam kotak sepatu, dan dibungkus dengan kertas pembungkus (yang biasanya juga sudah ada di dalam kotak, saat kita membeli sepatu). Pastikan tempat penyimpanannya jauh dari udara lembab, dan akses sinar matahari.

Informasi ini diambil dari artikel yang ditulis oleh Joy di http://www.answers.yahoo.com, dengan kata kunci cleaning suede shoes. Begitu pula dengan informasi selengkapnya mengenai penanganan secara tepat sepatu berbahan suede ini, bisa dilihat di halaman situs tersebut. 

Sepatu Berbahan Patent Leather

Membersihkan sepatu berbahan ini cukup mudah, tapi tidak dengan mencegahnya dari goresan. Sepatu berbahan ini mudah tergores, apalagi jika si pemakai tidak berjalan dengan hati-hati. 

Pembersih sepatu berbahan ini sudah banyak di jual di toko sepatu. Namun lebih mudahnya, kamu bisa juga menggunakan petroleum jelly yang banyak dijual di toko kecantikan atau apotek. Caranya adalah gosokkan petroleum jelly itu ke bagian yang kotor atau lecet hingga hilang. Lalu lanjutkan dengan menggosokkan ke seluruh bagian sepatu hingga mengkilat. Untuk lecet membandal pada sepatu patent leather warna hitammu, tutulkan marker berwarna hitam di atas kain setengah basah, lalu gosokkan pada bagian sepatu yang lecet, hingga lecetnya hilang.

Informasi ini diambil dari http://www.goodhousekeeping.com dengan kata kunci cleaning patent leather shoes

Sepatu Berbahan Kulit

Membersihkan sepatu berbahan ini sepertinya sudah sering kita lakukan. Semir-semir dan pembersih sepatu berbahan kulit, sangat mudah ditemukan di toko, bahkan tidak perlu datang ke toko khusus sepatu. Namun pastikan bahwa sebelum menyemirnya, kamu sudah menghilangkan kotoran dan debu yang menempel pada sepatu. 

Sepatu Berbahan Satin

Sepatu berbahan ini memang tampak indah dan elegan, tapi cukup sulit dalam perawatannya, apalagi untuk sepatu yang berwarna terang. Cara terbaik untuk membersihkan sepatu berbahan ini adalah dengan membawanya ke binatu khusus. Mungkin binatu yang bisa aku sarankan adalah binatu seperti Jeeves, yang memang spesialis pencucian baju-baju mewah dan yang berbahan sulit, juga sepatu dan tas, walaupun harga yang dipatok tidak seperti binatu lainnya. Pastinya jauh lebih mahal. 

Namun apa pun akan dilakukan bukan untuk barang kesayangan, termasuk sepatu satinmu? Daripada sepatu itu dicuci sendiri dan meninggalkan bekas air juga detergen yang masih menempel, lebih baik membawanya ke yang ahli, atau jika merasa tak sanggup merawatnya, lebih baik dipikirkan dua kali sebelum membeli sepatu satin ini, walaupun indah terlihat. 

Pemilihan, Pemakaian dan Perawatan Sepatu Secara Umum

Yang pasti bersihkan sepatu setelah dipakai. Untuk sepatu yang sering dipakai, simpanlah di tempat yang mudah diraih, sehingga jika kita terburu-buru, kita mudah mencarinya.

Sepatu harian, misalnya seperti sepatu sekolah, kuliah ataupun sepatu kantor, jangan hanya mempunyai satu pasang saja. Sediakan beberapa pasang sepatu, untuk dipakai berganti-ganti. Hal ini bukan hanya untuk fesyen, tapi juga untuk kesehatan. Dengan demikian sepatu tidak menjadi lembab, dan terhindar dari jamur yang dapat menyebabkan kaki berbau atau bahkan terkena penyakit kulit. 

Untuk para perempuan, tak perlu takut menggunakan sepatu hak tinggi andalan, sempatkanlah untuk  mengistirahatkan atau olahragakan kaki sejenak di tengah kesibukan kantor. Misalnya buka sepatu saat kamu duduk, dan putar-putar pergelangan kaki sebentar. Setibanya di rumah, kamu bisa rendam kakimu dengan air hangat dan juga garam mandi yang banyak dijual di toko perlengkapan aromaterapi atau spa. Jangan lupa saat di tempat tidur, dengan posisi badan terlentang, naikkan kedua kakimu sedemikian rupa sehingga posisi kaki lebih tinggi dari posisi badanmu. Hal ini agar aliran darah dapat kembali lancar. Namun ada baiknya juga tidak menggunakan sepatu tinggi setiap hari, atau setidaknya tinggi haknya tidak selalu sama.

Jika ingin membeli sepatu pesta, atau sepatu yang akan jarang dipakai, sebaiknya cari harga yang tidak terlalu mahal, atau cari sepatu mahal yang sudah mendapat potongan harga (ini akan jauh lebih baik). Pertama karena sepatu itu jarang dipakai, orang lain juga akan jarang melihat kita memakai sepatu itu. Kedua, sepatu yang harganya mahal biasanya juga didukung dengan kualitas sepatu yang kuat dan tahan banting. Sepatu kantor harian rasanya harus cukup kuat untuk mendukung aktivitas dan mobilitas kita selama di kantor. Bayangkan jika satu hari ada dua atau tiga klien yang harus didatangi, jika sepatu yang kita pakai tidak nyaman, tentu malah akan mengganggu kerja bukan?

Untuk sepatu yang depannya tertutup, jika sedang tidak dipakai usahakan selalu mengganjal bagian depannya itu dengan alat khusus yang terbuat dari plastik, seperti tongkat kecil berbentuk huruf L (beberapa merek sepatu, kadang menyertakannya saat kita membeli sepatu) yang menghubungkan ujung bagian depan dan bagian tumit sepatu itu. Namun jika alat itu tidak ada, ganjal bagian depan dengan kertas bekas yang diremas dan kemudian dimasukkan ke bagian depan sepatu. Hal ini agar menjaga bagian depan sepatu tidak melengkung ke dalam.

Sepatu yang jarang dipakai bisa disimpan di dalam kotak khusus sepatu. Setahuku di toko perkakas seperti Ace Hardware menjual kotak itu, dari kisaran harga Rp.20.000an-Rp.100.000an. Untuk yang harga Rp.20.000, hanya satu ukuran. Dapat menyimpan sepatu high heels andalanmu dengan posisi berdiri atau sepatu olahraga dengan posisi tidur. Kotak ini terdiri dari 2 warna, biru dan putih transparan, yang akan memudahkan kita untuk mengambil sepatu saat ingin digunakan. Untuk harga yang lebih mahal ada berbagai ukuran tergantung sepatu yang ingin disimpan di dalamnya, bahkan kotak sepatu untuk pria dan wanita juga dibedakan. Jangan lupa ya, jika menyimpan sepatu dalam kotak, pastikan sebelum menyimpannya, sepatu dalam keadaan bersih, dan tambahkan silica gel atau kapur barus di dalam kotak itu, untuk menghindari jamur. 

Seperti biasa, pesanku untuk yang membaca tulisan ini, jika kamu tahu informasi tambahan mengenai perawatan sepatu, silakan tuliskan komentar tambahan. Apalagi jika kamu mendapati kesalahan informasi tentang perawatan sepatu yang aku tulis di atas, aku akan senang menerima kritikan atau saran dari kamu, karena beberapa informasi di atas memang hasil terjemahanku sendiri.

Pemilihan artikel asli yang aku terjemahkan, berdasarkan hasil suara dan komentar para pengunjung situs tersebut dan juga hasil mereka yang sudah mencoba cara-cara yang disarankan dalam artikel tersebut. Tak ketinggalan, dari kredibilitas situs penyedia artikel-artikel tersebut.

Oh ya, satu lagi, jika kurang percaya dengan informasiku di sini, silakan berkunjung ke situs aslinya. Dijamin aku tak akan tersinggung.

Semoga berguna. 

Tak Perlu Berburu Sampai Ke Singapura…

Sunday, June 29th, 2008

Ajang Singapore Great Sale mungkin sudah tak asing terdengar oleh telinga kita. Namun, apakah telinga kamu masih asing mendengar Jakarta Great Sale?

Mungkin sedikit terdengar meniru Singapura, namun pesta diskon yang diselenggarakan di Jakarta tak kalah menarik dengan Singapura, ya walaupun aku baru sekali bertandang ke Singapura saat Singapore Great Sale ini diselenggarakan.

Juni, bertepatan dengan ulang tahun kota Jakarta, PemDa Jakarta berusaha untuk lebih memeriahkan kota, jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Acara tahunan seperti Pekan Raya Jakarta dan Jakarta Great Sale ini digelar sebulan lamanya. Surga belanja bagi para shopaholic atau impulsive buyer. Segala daya upaya dilakukan untuk dapat membeli barang kesukaan yang belum tentu diperlukan. Pernyataan seperti biasa yang terlontar oleh para maniak belanja yaitu “Mumpung diskon.”

Memang benar, tengah tahun sepertinya waktu tepat untuk berbelanja. Untuk membuat PemDa Jakarta menambah pemasukan daerah lebih dari biasanya. 

Tak usah banyak omong, aku hanya ingin menyampaikan pandangan mata, sebagai salah seorang penggila belanja yang selalu berusaha menahan diri, namun lebih sering gagal, dan terjerumus oleh iming-iming diskon.

Inilah hasilnya:

Zara: Diskon hingga 50 %, namun hati-hati untuk mereka yang tak terbiasa memakai merek ini. Mereka tak memperbolehkan untuk melakukan fitting. Diskon baru dimulai hari Kamis, 26 Juni 2008 jadi barang bagus mungkin masih banyak. Untuk mereka yang beratnya di bawah 45 kg, bisa memakai ukuran XS, untuk dress, dan bisa ukuran S untuk baju-baju seperti kaus. Untuk celana panjang maupun jeans, agak sulit menetukan ukuran yang pasti, karena sangat tergantung dengan bahan dan model celana itu sendiri. Harga dress cukup mendapat potongan harga yang besar listed price sekitar 700 ribuan menjadi 300 ribuan.

Mango: Diskon hingga 70% dan boleh fitting, tapi diskon sudah dimulai 1 minggu sebelum Zara. Jadi untuk mendapatkan barang yang bagus dan sesuai ukuran sudah semakin sulit. Barang yang mendapat potongan harga besar adalah barang-barang seperti kaus harian. Sedangkan untuk busana resmi seperti sack dress potongan harga tak terlalu jauh, cth: dari 500 ribuan menjadi 400 ribuan saja.

Debenhams: Diskon hingga 70%.

MPhosis: Sepertinya tidak ada diskon.

Top Shop dan Top Man: Tidak ada potongan harga, namun ada penawaran khusus seperti beli satu gratis satu.

Raoul: Ada barang-barang tertentu yang di diskon hingga 70%

Banana Republic: Diskon hingga 70%

Sports Station: Sepertinya diskon hingga 50%

Tomodachi Restoran: Diskon 50% dengan memakai kartu kredit tertentu.

Optik Melawai: Diskon 20%.

Dan menurut berita di surat kabar, pusat perbelanjaan yang mengikuti Jakarta Great Sale ini antara lain Pacific Place, Puri Indah Mall, Pondok Indah Mall, Senayan City, Plaza Senayan, Plaza Semanggi.

Namun jika ada kesalahan peserta Jakarta Great Sale ini, dan teman-teman mengetahuinya, silakan diralat, atau jika ada yang ingin membagi informasi potongan harga yang diselenggarakan toko-toko yang belum disebutkan di atas juga silakan ditambahkan. 

Bagi mereka yang tak berencana liburan ke luar kota dan juga memiliki hobi belanja, sepertinya ajang diskon ini dapat dijadikan alternatif pengganti liburan yang notabene sebagai penghilang stres, begitu pun juga belanja, yang bisa mengatasi kepenatan (walau kadang hanya sebentar, saat kita belum sadar bahwa kita belanja terlalu banyak). 

Selain itu, belanja di Jakarta, tak perlu mengeluarkan biaya tiket pesawat (buat mereka yang tinggal di JaBoDeTaBek dan mungkin juga Bandung) apalagi fiskal, jadi tentu lebih hemat.

Saranku jika ingin liburan, carilah tempat yang mempunyai kekhususan atau keunikan lainnya selain hanya untuk tempat berbelanja. Misalnya Bali yang punya nilai plus sebagai tempat menyenangkan wisata air.

Tips satu lagi, perhatikan sms yang dikirim langsung ke ponsel kamu, dari para penerbit kartu kredit tertentu, biasanya ada preview sale untuk para pemegang kartu kredit. Kamu bisa diuntungkan, karena dengan preview sale ini bisa mendapat barang bagus, ukuran masih banyak tersedia, dan sainganmu tidak terlalu banyak. 

Jadi tak perlu berburu belanjaan sampai ke Singapura ‘kan?

Shop till you drop gurls… 

Jurnal Si Anak Hilang…

Monday, February 25th, 2008

Sabtu ini, aku bangun bukan di tempat biasanya, bukan di kamarku, bukan di rumahku, dan bukan di Jakarta…
Pagi-pagi benar makhluk yang aku kenal, telah sibuk dengan pekerjaan masing-masing…
Mata ini pun belum sepenuhnya terbuka, saat aku berjalan menuju kamar mandi…
Membasuh muka dan membersihkan gigi serta mulut akhirnya membuatku benar-benar terbangun dari tidur nyenyak semalam…
Sembari memandangi diri di hadapan cermin, aku memikirkan apa yang hendak aku lakukan hari ini…
Ini bukan kota di mana biasanya aku tinggal, dan tak biasanya aku sendirian…
Otakku kemudian berpikir keras berusaha mencari cara agar diri ini sibuk hari ini…

Tak ambil pusing, aku pun langsung menuju ruang makan, untuk makan pagi…
Nasi goreng sebanyak satu setengah sendok nasi, dua potong croissant, dadar goreng, buah-buahan adalah menu makananku pagi ini…
Tak lepas dari pengamatanku apa yang ada di sekeliling…
Tamu, adalah sebutan untuk turis, yang biasa digunakan orang Bali, yang menginap di hotel itu cukup ramai…
Tak cuma tamu lokal, tamu mancanegara pun juga banyak aku jumpai di sana…
Dari Asia, yang paling banyak adalah tamu dari Jepang, dan kebanyakan mereka sekitar usia 20-30an tahun…
Sedangkan tamu bule, berasal dari banyak negara, baik dari Eropa maupun Amerika…

Satu jam aku habiskan duduk sendiri di meja makan…
Aku pun mulai beranjak dari sana menuju ke kamar…
Brosur layanan spa hotel yang tergeletak di meja kamar, menarik perhatianku…
“Sudah lama aku tak memanjakan diri di spa.”
Namun hal itu aku kesampingkan…
Aku memilih untuk nyemplung ke kolam renang, dan berenang…
Aku pun langsung berganti pakaian renang, dan menuju kolam, yang hanya empat langkah di depan kamarku…
“Brrr…dingin deh nih air, mana anginnya kenceng pulakh.”
Maklum Bali baru saja berhenti diguyur hujan sesaat sebelum aku mendarat di sana…
Dinginnya air akibat angin tak lama kurasakan…
Gerakan renang dan mulai bersinarnya matahari menghapus itu semua…

Jam 10.30 waktu setempat, aku keluar dari kolam renang menuju ke kamar yang sudah dibersihkan oleh House Keeping
Aku berencana untuk menelepon ke bagian spa, untuk membuat perjanjian…
Namun sayangnya, siang itu, semua ruang sudah penuh, dan akhirnya aku mendapat jadwal jam 16.30…
Dan setelah telepon aku tutup, aku kembali menuju kolam renang, dan melanjutkan berenang…

“Hmmm..jam berapa siy kok laper yaa.”…
Akhirnya aktivitas di kolam renang sepenuhnya aku akhiri…
Kembali ke kamar, dan mandi. Eh bukan…tepatnya berendam di bath tub
Selama berendam, aku berpikir “Enakan jalan sendirian, atau tilpun temen SMP-ku ya?”
Dilema memang, karena ia pernah berpesan padaku “Kalo ke Bali, telpon gue ya.”
Tapi “Wah ini kesempatan gue jalan-jalan di Bali sendirian, jarang-jarang bisa kayak gini.”
Hal itu belum aku putuskan saat aku telah selesai mandi, dan telah selesai berdandan…

Melangkahkan kaki keluar kamar, masih sambil berpikir…”Sendiri atau ada temen?”
Good Morning.”
Morning.”

Duhh..aku lupa kalau aku lagi di Bali…
Hal seperti itu yang tak aku jumpai di Jakarta sehari-hari…
Berpapasan dengan orang lain, sama saja berpapasan dengan tembok…
Namun tidak di Bali, sapaan ramah, dari siapapun sudah bukan hal asing…

Sesampai di gerbang hotel, aku akhirnya berhasil memutuskan bahwa aku akan berjalan sendiri, dan tanpa teman…
Berbekal sebuah peta, yang menurutku kurang lengkap dari peta Bali yang dulu aku gunakan saat liburan, aku pun memberanikan diri untuk melangkah…
Hal pertama yang aku cari, yaitu tempat makan…
Menyusuri sepanjang jalan Padma Utara, aku pun telah menemukan beberapa tempat makan…
Dan tak tahu mengapa, kaki ini tiba-tiba berbelok di sebuah restoran di sudut perempatan jalan tersebut…
Aku pun memesan semangkok pasta, yang menurutku porsinya tidak terlalu besar…
Duduk sendiri, menunggu makanan sambil bengong, sepertinya sedikit menarik perhatian orang lain…
Saat aku melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan, ternyata ada beberapa pasang mata, yang kepergok sedang memperhatikan aku…
“Hmm..jalan sendirian di Bali bukan hal aneh khan?” Itu yang aku pikirkan…

Makanan yang aku pesan, sudah tersedia di depan mata, tak lama kemudian…
Ternyata aku tertipu, porsi pasta itu, cukup besar untuk aku sendiri…
Menyuap dan mengunyah makanan secara perlahan, disisipi saat-saat bengong dan mengkhayal…
Are Singaporean?”
Tanya salah seorang penjual jasa padaku…
Restoran itu hanya dikelilingi dengan pagar kayu di sekelilingnya, dan tanpa penutup…
Mengakibatkan orang-orang yang nongkrong ataupun berjalan di trotoar bisa langsung berkomunikasi dengan para pengunjung restoran…
Para penjual jasa itu, adalah orang lokal…
Selama aku di sana, aku mendengar mereka berbincang-bincang dengan bahasa Bali, yang tak aku mengerti sama sekali…
Sapaan salah satu dari mereka itu, sama sekali tak aku gubris, karena terus terang aku takut…
Tapi pertanyaan tadi membuatku berpikir “He…emang muka gue kayak orang Singapur ya? Sesipit itukah gue?”
Menyendok dan mengunyah makanan secara perlahan ternyata tak ada pengaruhnya untukku… Sepiring pasta itu tak dapat aku habiskan…

Melanjutkan perjalananku setelah makanan selesai aku bayar…
Arah yang aku tuju pun tak jelas…

Aku hanya mencoba mengikuti arah ke mana mayoritas para tamu pergi…
Dan ternyata tebakanku tak mengecewakan aku…

Berjalan sepanjang jalan Legian menuju ke kawasan Seminyak aku menemukan deretan toko, yang merupakan surga belanja…
Menyusuri trotoar yang masih berfungsi dengan baik, kurang lebih 5 kilo meter pulang pergi…
Satu kantong belanjaan berisi baju akhirnya aku dapatkan…
“Lumayan, harusnya 2 potong rok terusan itu seharga Rp.740.000, tapi karena butik merk terkenal itu sedang ada potongan harga, aku cuma harus membayar Rp.230.000.”

Pegalnya kaki, membuatku menemukan satu dilematik lagi…
“Pulang naik taksi atau tetap jalan kaki ya?”…
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap jalan kaki…
“Toh, nanti aku khan ada janji spa.”…

Sampailah di potongan jalan Padma Utama dengan Legian…
Tapi aku tak memutuskan belok kanan dulu…
Namun aku memutuskan untuk terus berjalan menyusuri sisi lain jalan Legian itu…
Tak berapa lama, kaki ini sudah tak tahan…
Akhirnya aku berbalik arah menuju hotel tempat aku menginap…

Di sepanjang jalan Padma juga terdapat beberapa toko, yang menjual suvenir khas Bali…
“Hmmm, nanti malem pake rok yang item ahh. Eh tapi, sepatu yang aku bawa warna putih lagi. Nyari sendal item dulu kalo gitu, lagi pula sendalku di rumah sudah mulai rusak.”
Akhirnya aku membeli sepasang sandal Bali bewarna hitam, dan sandal warna biru untuk keponakanku…

“Hmmm…bukan seharusnya dah deket ya, kok ngga nyampe-nyampe ya All Seasons.”
Akhirnya aku sampai…
Begitu sampai di lobi, aku telah melihat makhluk yang aku kenal…
“Hah, senangnya udah ngga jadi anak ilang.”