Manado, Bunaken, Tanah Leluhur…

Manado…

Tanah leluhur yang selalu ingin saya datangi. Dan keberuntungan memang sedang berjodoh dengan saya. Sekitar bulan September 2003 *Jangan protes, memang ini cerita liburan jaman baheula, saya saat saya masih bekerja sebagai sekretaris, saya diminta untuk memesan tiket Jakarta – Manado untuk dua orang kolega saya yang akan perjalanan dinas ke sana. Pertama-tama yang saya tanyakan adalah ketersediaan tiket dan tentunya harganya. Terdengar di seberang telepon suara petugas ticketing menyebutkan angka Rp.1.200.000, yang disusul dengan sambutan kaget dari saya…

“Ha? Itu harga satu kali jalan khan, Mbak?”

“Ngga Mbak, itu harga PP.”

“Whaaaatt?? Saya book pake nama saya juga, Mbak.”

Dengan harga hanya Rp.1.200.000 untuk pulang pergi, menurut saya harga itu sangat murah, *Jika dibandingkan dengan Rp.4.000.000an untuk harga tiket normal, dan dengan maskapai nasional terbesar saat itu, tanpa berpikir panjang, saya langsung memesan juga untuk saya. Lagipula jatah cuti saya saat itu masih cukup banyak.

Tibalah tanggal yang ditentukan, Kamis, 18 September 2003 saya terbang ke Manado, menyusul kedua kolega saya yang sudah pergi terlebih dahulu ke sana. Terburu-buru saya ke bandara, karena sangat disesalkan taksi yang saya pesan, tidak kunjung tiba, dan saat itu jam dinding sudah menunjukkan angka pukul 11.30 siang, di mana penerbangan saya saat itu sekitar pukul 14.00.  Saya pun tanpa berpikir panjang, mengangat tas dan berjalan ke depan kompleks untuk mencegat taksi di pinggir jalan.

Beruntunglah saya bisa tiba di bandara sekitar pukul 13.00, dan antara merasa beruntung dan jengkel ketika saya melihat di papan pengumuman keberangkatan pesawat, bahwa penerbangan saya ditunda sekitar 2 jam, yang selanjutnya saya ketahui bahwa keterlambatan karena masalah cuaca

Memakan waktu sekitar 3 jam penerbangan Jakarta – Manado. Sesampainya di Manado, saya langsung dijemput oleh teman-teman saya yang sudah di sana.

Perjalanan kali ini cukup hemat, karena saya bisa menebeng di kamar hotel kolega saya yang sedang melakukan perjalanan dinas. Mereka bekerja saat siang, dan sore baru bisa bersenang-senang, tetapi saya bisa bersenang-senang sendiri dari pagi dan bersenang-senang dengan mereka saat malam hari.

Dari bandara saya langsung dibawa untuk menikmati makan malam di pinggir laut. Sayang sekali saya lupa nama restoran tersebut, tapi satu yang saya ingat persis adalah, restoran tersebut menyajikan masakan Kepiting Kenari yang sangat enak. Dan menurut salah satu teman yang asli orang Manado, dan tinggal di Manado sejak kecil, yang menemani makan malam saat itu, masakan Kepiting Kenari memang masakan khas Manado. Dan menurut saya, masakan Kepiting Kenari ini makanan khas Manado yang wajib diicipi saat bertandang ke kota ini. Setelah selesai menikmati makan malam kami kembali ke hotel dan menutup hari dengan istirahat.

Esok harinya saat kedua teman sedang bekerja di kantor cabang, saya yang saat itu sedang menikmati cuti, sempat diajak ke daerah Tomohon. Daerah pegunungan yang sangat sejuk. Di Tomohon saya hanya diajak menikmati makanan non-halal, dari binatang kulitnya berwarna merah muda, dan rasanya memang enak. Sebenarnya saya juga diajak untuk melihat pasar hewan yang sangat terkenal di sana. Tetapi saya tidak mendatangi tempat itu, karena pasar itu adalah pasar hewan yang untuk dikonsumsi, yang sepertinya tidak akan menarik untuk saya kunjungi.

Sabtu, di mana bukan lagi hari kerja. Dan kedua teman saya ini sudah tidak ada lagi tugas kantor yang perlu dikerjakan. Dan kami mereka memang sengaja memperpanjang masa tinggal di Manado, untuk dapat menikmati Bunaken. Pagi-pagi kami sudah dijemput di hotel oleh teman kami. Dari sana, kami mampir ke restoran yang jual kepiting kenari kemarin untuk memesan masakan tersebut sebagai oleh-oleh dibawa pulang ke Jakarta. Beres urusan kepiting, kami juga mampir ke toko oleh-oleh untuk memesan Klapertaart, kue kelapa khas Manado yang rasanya juga sangat enak. Kue ini juga kami pesan untuk dibawa ke Jakarta esok harinya.

Setelah urusan pesan-memesan oleh-oleh yang akan dibawa ke Jakarta sudah selesai, kami langsung mengarah ke pelabuhan untuk menyeberang ke Bunaken. Kapal yang membawa kami menyeberang, bukan kapal besar, hanya kapal yang biasa dipakai untuk penyeberangan hasil bumi, tapi sudah speed boat.

Perjalanan Manado – Bunaken memakan waktu 30 – 40 menit. Perjalanan yang sangat menyenangkan, di mana sepanjang mata memandang, hanyalah hamparan laut biru, gugusan pulau dah pegunungan di sebelah kiri dan kanan kapal. Tanpa terasa, menit-menit yang kami jalani tersebut sudah membawa kami ke pemandangan hamparan pasir putih, berkilau, dan halus terasa saat kaki kami berpijak di atasnya…

“Surganya tempat ini,” gumam saya dalam hati.

 

Beautiful Bunaken

Beautiful Bunaken

Here We Arreeee...

Here We Arreeee…

Di sana kami hanya sebentar saja, untuk menyewa peralatan snorkeling, dan secepat kilat perahu yang tadi kami tumpangi, kembali membawa kami ke tengah lautan biru gelap, beratapkan langit biru muda tanpa awan, yang keberadaan mereka di sana hanya dibatasi horizon tipis.

Saya saat itu belum bisa berenang sama sekali. Urung sekali saya untuk menceburkan diri ke laut yang dasarnya tak sangat dalam walaupun dari atas perahu cantiknya rangkaian karang sudah terlihat, karena jernihnya air tanpa polusi.

Namun, beruntunglah saat itu saya ditemani oleh dua orang spesial yang akhirnya membuat saya mampu memberanikan diri keluar dari perahu dan mengapung dengan girangnya di air laut. Awalnya sulit membayangkan harus bernapas dengan mulut, bak ikan, namun saat saya sudah di sana, semua keraguan dan kepanikan saya sirna seketika, mungkin luruh dengan air laut.

Nyemplung yuukk..

Nyemplung yuukk..

Indahnya alam bawah laut Bunaken tidak diragukan lagi, walaupun menurut orang setempat, apa yang saya lihat sudah tidak secantik dulu. Banyak sekali karang yang rusak, karena ulah tangan manusia. Namun keberuntungan masih ada sebagian di pihak saya, saat saya snorkeling di sana, saya bisa melihat ikan Napoleon yang sangat besar, yang menurut orang asli sana, ikan tersebut tidak selalu ada, dan hanya orang-orang beruntung yang bisa melihat ikan tersebut. Sayangnya, saat saya pergi ke sana, underwater camera belum menjamur di Indonesia.

Tengah hari, dan terik matahari yang sudah pasti akan membakar kulit kami tidak kami hiraukan; tetap membuat kami sibuk menikmati apa yang kami lihat di bawah air. Namun waktu tak terasa, dan sore pun menjelang.

Mendangakkan kepala, kami dapati langit sudah tidak cerah, bisa dikatakan cenderung mendung. Tadinya kami tidak ada rencana untuk bermalam di Bunaken, tapi saat teman kami yang menjadi guide kami bertanya apakah kami akan kembali ke Manado dan menginap di sana, atau bermalam di Bunaken dan besok akan dijemput pagi hari sebelum sore harinya kami bertolak ke Jakarta. Dan karena saya paling muda di rombongan, kedua teman saya meminta saya yang memutuskan…

“Stay di sini,” itu jawaban saya, dan saya yakin itu pun yang menjadi harapan kedua teman saya.

Di Bunaken, kami menginap di Bastianos, yang sekarang kalau saya lihat di situs, sudah berganti nama menjadi Bastianos Dive Resort. Sistem pembayaran yang diberlakukan saat itu, sedikit berbeda dengan tarif penginapan pada umumnya. Mereka mematok harga dengan ukuran berapa orang, bukan berapa kamar dan berapa malam. Kami saat itu dikenai harga Rp.125.000 per orang, dan baru saya ketahui bahwa harga ini adalah biaya untuk mengganti biaya makan untuk 3 x sehari. Dan karena kami hanya bertiga, maka kami bisa tidur dalam satu kamar, tanpa kamar mandi dalam, namun letak kamar mandinya ada di luar persis di samping kamar.

Listrik di pulau ini pun juga baru dinyalakan setelah pukul 18.00 WITA. Dan jika mandi di bawah pukul tersebut, kami diminta untuk berhemat air, namun jika mandi di atas pukul 18.00, kami diminta untuk tidak lupa menyalakan keran air selama mandi, untuk mengisi bak mandi, dan menutupnya kembali saat meninggalkan kamar mandi. Hampir sama dengan aturan di kos-kosan ya? Tapi jangan takut hotel ini sangat bersih, dan dari balkon kamar dan juga restorannya kalian bisa melihat laut. Makanan yang disediakan di restoran juga sangat enak, yang mayoritas makanannya makanan hasil laut. Tidak rugi sama sekali saya memutuskan untuk bermalam di Bunaken.

Bastianos Cottages

Bastianos Cottages

Esok harinya, hari terakhir kami di Sulawesi Utara, kami dijemput oleh teman kami yang menyeberang dari Manado, dengan kapal yang sedikit lebih besar dan saya bisa duduk di ujung depan kapal, sambil menikmati pemandangan yang rasanya sulit untuk ditinggalkan.

Sesampainya di Manado, kami mengambil semua pesanan oleh-oleh yang akan kami bawa pulang ke Jakarta di tempatnya masing-masing, lalu kami makan siang, dan langsung menuju Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi. Dan lagi-lagi penerbangan kami tertunda 4 jam, karena factor cuaca, padahal penerbangan pulang kali ini, masih harus transit di Makassar. Huuuuhhhh…

Tetapi saya puas perjalanan kali ini. Saya yang tidak bisa berenang, tetapi mampu memberanikan diri untuk menceburkan diri ke laut.

Dan perjalanan inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan alam Indonesia, dan awal dari jelajah saya ke bagian lain dari cantiknya Ibu Pertiwi.

—-

Eeeeehhh taaappiii…semua informasi di sini, saya dapatkan dari perjalan saya 11 tahun lalu ya, jangan terlalu dijadikan referensi. Coba tanyakeun dengan Mbak Google terlebih dahulu.

Tags: , , , , ,

Leave a Reply