Aku, Kamu dan Dia…(1)

“Ooohh, Sweetheart…you’re a good kisser.”

“I know, just enjoy it, Babe. Coz I’m gonna kiss every inch of your face now. ”

“Your kiss is so licentious. Oh gooosshh you arouse me. Baby, I know that you are good on bed since the first time I saw you.”

“Look who’s talking!”

“Oooohh…you’re so good. Feel it, Babe!! Feel the sway. Ooooohh mmyyy…can I do this inside? Touch mine, Dan. Help me. My stomach is getting tense.”

“Where have you been, Mas?”

“You’re too late.”

“Actually we’re too late.”

Aaaaannnndddd shit…this caffeine shot makes me realize kalau aku kembali terperangkap di percintaan seperti ini lagi dan lagi dan lagi. Entah sudah berapa hari aku di sini, duduk, menenggak kopi, dan selalu tersadar akan cerita kehidupan absurd yang sedang aku jalani, tapi tetap tidak mengubah statusku sekarang. Status yang sudah beberapa bulan ini aku sandang. Statusku sebagai wanita lain. Aku, Dania, si masokis sejati.

Haaiisshh…untungnya kemarin masih disadarkan dengan bunyi telepon dari istrinya yang membuat aku dan Mas Chandra beranjak dari sofa, tempat kita kedubragan penuh napsu, kalau saja tidak, ga kebayang apa yang terjadi selanjutnya.

Yaahh…kisahku dengan Mas Chandra berawal di akhir Juli lalu. Di ruangan sebuah hotel. Di kelas pelatihan. Saat kantor mengirimku pergi ke Singapura untuk mengikuti training. He was my trainer saat itu.

Dari pertama kali aku melihatnya, aku tahu bahwa dia adalah titik lemahku. Smart-good looking guy, dan membuat aku penasaran.

Dan ternyata bukan cuma aku yang merasakan hal yang sama. He felt it, and I just knew it. Terlihat dari pandangan matanya yang ga pernah bisa pergi lama-lama dari aku, saat ia memimpin sesi.

Masih jelas bayangan saat ia melangkah menuju ke arahku, duduk di sebelahku dan memulai perbincangan, yang dimulai dari basa-basi layaknya orang pertama kali bertemu, sampai akhirnya…

“Hmmm…I need your PIN BB.”

“Boleh, but I don’t give my PIN BB ke sembarang orang. So please, jangan kasih ke orang lain without my permission.”

“Likewise ya.”

Gooossshh…gimana aku bisa nolak dia, he’s damn smart and handsome guy. I fell in love with him, since the first time I saw him. Tambah pulakh sekarang I know that he’s a very good kisser, I can’t say no to him, to his lips.

“Danniaaa! Bengong aja luuu. Tuh gelas kopi dah abis masih aja di pegangin.”

“Ehhh…dentist bocor…ngapain lu disini?”

“Mau ngopi lah.”

“Gimana urusan hati? Beres?”

“Gue ngikutin elo lah, Dan. Kalo elo sembuh, gue ikutan sembuh.”

“Masih lamaaaa deh, Ran.”

“Masih lu deket ama Chandra?”

“Masih. And just realized gue ga bisa jadi pechun sejati, Ran. Berkali-kali gue bilang ke gue sendiri ga boleh ada hati, tapi akhirnya memang gue sayang ama dia. Gak bisa tuh gue ciuman ama orang tanpa main perasaan.”

“Yaaakkkeeeennn cuma ciuman?”

“Prrrrreeettt! Siaaall lu aaahhh. Eh dah jam berapa ini, gue mesti ngantor.”

“Halah kantor tinggal jingkring aja lu dari sini.”

“Praktik jam berapa lu?”

“Jam 8 sih, tapi pasiennya baru 2 yang dateng, biar dulu mereka nunggu.”

“See you when I see you ya.”

“Bye, Dan.”

That was Rani, my high school mate. Perempuan yang sempat aku sebal, karena mantan pacarku jaman dulu, pernah aku pergoki sedang berduaan dengan dirinya. Tapi rasa kesal itu sudah beralih dengan adanya cerita-cerita seru nan tolol yang kami jalani. Sama-sama menjadi orang ke tiga. Sama-sama menjalani tangis bombay, tapi sama-sama tidak mau menyudahi. Sama-sama sedang mabuk kepayang dengan cinta yang sampai saat ini kami berdua belum tahu apakah cinta palsu atau cinta sesungguhnya. Atau malah mungkin hanya sebuah pelarian? Hmmm…interesting. We will find it out my dear friend. We will.

———-

Sampai juga aku di kantor yang sudah mulai menyebalkan ini. Hmmm…anyway, kalo ga gara-gara nih kantor plus bossku yang lagi super kecentilan, ngedeketin aku, trus ngirim aku training ke Singapura, ga mungkin aku ketemu Si Ganteng nan pinter itu.

Trrriinnggg…

Eh…ada BBM masuk…hihihi…pasti si ganteng…

“Hi, Cantik.”

“Hi, Ganteng.”

“Dah sampai kantor? Huuhh…masih kebayang kamu tadi malam. Sexy banget…duduk di meja dengan rok terusan kamu yang atasnya sudah setengah melorot. Kamu cantik banget, Sayang.”

“Ya, ampun sayang, ngobrol ama kamu kayak gini di BBM aja, udah aroused me. You were so damn good. What are you made of?”

“Mass, liquid and air.”

“Yeah rite. What did you do to me?”

“I didn’t do anything.”

“Don’t believe you. Hehehehe. I miss those cute eyes.”

“I miss your sparkling eyes.”

“Kalo aku inget-inget ya, bisa-bisa loo aku ketawa.”

“Kenapa ketawa?”

“Ya iya lah aku ketawa. Kita udah ketahap kayak gini khan dulu kurang dari tiga bulan.”

“Maassssaaakkhh?”

“Hmmm…bukan 3 bulan malah, less than 2 months.”

“Iya ya? Gilakh!

“From training in the room, up to kissing in the room also. Hahahahaha.”

“Hahahahahaha..from back to front. From Miss Dania to miss you much.”

“From Sir to Mas.”

“Hahahahahahahahahaha. Btw, aku seneng banget loo, waktu kamu meluk aku sambil narokh kepala kamu di pundakku, and call me with Mas.”

“Kenapa? Berasa manja and mesra ya? Padahal aku bukan orang yang romantis lo.”

“Ragu aku, kalo kamu bukan orang romantis.”

“Hehehehe…masakh? Miss you so much, Handsome.”

“Samaaa…”

Gimana coba aku bisa ngelepasin Mas Chandra? He changes my life a lot. Apalagi bayangan apa yang kami lakukan tadi malam, di atas meja kerja di ruang kerjanya, masih terus menari-nari di kepalaku. Telaaat…telllaaatt…kemana aja gue…kemana aja si loh, Mas? Ah…ya sudah lah…waktunya fokus kerja.

—-

to be continued…

Tags:

One Response to “Aku, Kamu dan Dia…(1)”

  1. Miftahgeek says:

    Make me imagine how girl thought about a man. Hmm..
    *elus jenggot*

Leave a Reply