This Christmas…

Setiap keluarga pasti punya kebiasaan atau tradisi. Termasuk tradisi menyambut dan merayakan hari raya agama yang mereka anut. Termasuk keluarga saya untuk menyambut dan merayakan Natal.

Hhhhmmm…lucu sebenarnya, kalau dibandingkan dengan keluarga lain. Atau aneh lebih tepatnya, atau apapun. Kebiasaan yang saya maksud itu adalah kebiasaan memasang pohon dan goa natal yang selalu dilakukan pada hari-hari terakhir menjelang Natal. Biasanya, keluarga lain mungkin sudah memasangnya sejak awal Desember, atau saat umat Katolik mulai memasuki masa Adven/masa pertobatan menjelang Natal.

Dan tradisi memasang pohon Natal mepet hari H, masih menjadi tradisi keluarga saya sampai tahun ini. Pohon natal baru berhasil kami dirikan di tanggal 24 Desember 2011, di pagi hari…

“Hah? Berhasil didirikan kata loe ‘Cha? Emang susah?”

“Susah memang! Hahahahahah.”

Apalagi ditambah urusan mencari ornamen-ornamen Natal yang entah mengapa, saat kami cari, selalu saja letaknya menjadi terpencar-pencar tak karuan. Aneeeehhh…padahal saat menurunkan si pohon setelah perayaan selesai, semua ornamen disimpan di tempat yang sama dan jadi satu. Tahun ini benda yang ‘berlari’ dari tempatnya adalah kaki-kaki si pohon *mungkin karena kaki jadi dia berhasil ngilang *haaalllaagghh. Alhasil tradisi mencari si bagian yang hilang kembali terjadi. Tiga orang; Mama, Papa dan saya selama dua hari berusaha mencari si 3 buah kaki si pohon, yang menjadi ‘organ’ utama, agar si pohon bisa berdiri, terpasang dan menjadi penghias rumah kami.

Pasti kalian nanya…

“Ketemu ‘Cha?”

Dan saya dengan pasti menjawab…

“Nggak. Hahahahaha. Nyerah.”

Seingat saya, tradisi ini kami lewatkan saat Natal tahun lalu, karena dengan sangat ajaibnya, semua ornamen masih rapi bisa bertahan di tempat yang sama dengan saat penyimpanan, selama kurang lebih 1 tahun, hingga kami butuhkan untuk dipasang kembali di Natal 2010.

Tapi saya bersikeras, kalau tahun ini, di rumah tetap harus ada pohon dan goa Natal, tak tahu bagaimana caranya…

“Beli baru? Saaayyyaaannggg…tuh pohon juga baru beli 4 atau 5 tahun lalu pun.”

Ternyata yang teteup kekeuh harus ada pohon Natal tahun ini di rumah, tidak cuma saya. Mama pun. Akalnya pasti ada saja…

“Saaa…turruunn…banguuun. Katanya mau anterin belanja.”

“Iyaaa…bentar.”

Dan tak lama kemudian, saya dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka berusaha menuruni anak tangga untuk menghampiri suara yang memanggil tadi…

“Sini, pegangin dulu ini pohonnya.”

“Laahh…katanya gue disuruh anterin belanja.”

“Udah…bawel, nanggung. Pegangin dulu ini pohonnya.”

“Hahahaha…hebat loe Bu…pesulap sejati. Kenapa ga dari kemaren-kemaren, biar ga repot nyari tuh kaki.”

“Gue juga baru kepikiran sekarang. Khan gua tau elo maunya tetep ada nih pohon khan?”

“Yoa. Tadinya gue dah mau beli baru, Bu, tapi kok ya sayang. Nih pohon juga masih bagus and masih baru. Dan gue nunggu dirimu ngakalin.”

Ahhh…ini juga tradisi lainnya. Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya dan mama memang jadi seksi repot untuk memasang pohon dan goa Natal.

‘Tragedi’ pohon Natal sudah teratasi, walau lampu penghiasnya masih missing in action, yang membuat saya terpaksa membeli yang baru.

Hari pun beranjak sore, hingga sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke gereja, untuk mengikuti puncak perayaan Natal dengan menghadiri Misa Malam Natal, yang kebetulan sekali, kali ini di Paroki saya dipimpin oleh Bapak Uskup Keuskupan Agung Jakarta.

Seselesainya kami mengikuti misa perayaan natal, saya mengecek telepon selular saya, bahagianya saya mendapati sekian pesan ucapan selamat natal dari teman, rekan kerja, keluarga, dan kenalan saya, baik yang dikirimkan melalui BBM, Twitter, maupun Facebook.

Jujur, saya selalu terharu saat mendapatkan ucapan selamat merayakan hari raya, dari mereka yang agamanya tidak sama dengan yang saya anut…

So at this occasion, from deep inside my heart, I would like to say thank you for your Christmas greetings to me. Especially from my Moslems and Non-Christian friends and colleagues. To my blogger and twitter fellows: @annadeas, devi eriana, si mbok, aditya bregas, my childhood best friend, my teenage best buddy, chichi utami, ichanx, goenrock, @neth_4, @ayu_2311, chika nadya. To them who sent greetings through my Blackberry Messenger (Personal and/or Group): Shanty, Diana Ekawati, William Sulivan, Rezty Atria, Rully Hariwinata, Dimas Donny dan semua yang lupa saya sebutkan, atau yang mungkin nanti akan mengirimkan ucapan ke saya, once more thanks! Appreciate it!

Semoga hal kecil seperti ini, masih bisa menjadi akar kuat untuk kita tetap menghargai pluralisme, yang salah satu caranyanya adalah menghormati sesamanya yang berbeda agama dan keyakinan yang dianut.

And to all my Christian friends, colleagues, family and acquaintances, I would like to say “Merry Christmas! Peace be with you and your family!”

Untuk teman-teman di dunia perhelatan twitter dan para blogger canggih, terima kasih untuk sharing cerita-cerita atau artikel menarik, seperti yang saya baca di saat Natal ini: Surat dari Nabi Muhammad SAW kepada Biarawan St. Catherine’s Monastery dan Selamat Natal, Kawan!

And Hey YOU UP THERE, my Lord, this year You give me perfect Christmas presents! Thanks!

Tags: ,

4 Responses to “This Christmas…”

  1. devieriana says:

    Selamat Natal ya, Jeung. Semoga damai dan kasih Natal selalu menyertaimu dan keluarga :)

  2. antyo says:

    selamat natal. syukur dan damai untuk semua orang, baik yang merayakan natal maupun tidak :)

  3. ichanx says:

    eh, ada nama sayaaaaaaah… *joged*
    Biarpun telat, selamat natal dan taun baru yaaaaaa

  4. Olivia says:

    Selamat Natal dan Tahun Baru!! *telat*

    Di rumah gue… Ga ada pohon Natal. Makan malam Natal dan Tahun Baru pun tak ada. Kami… keluarga pragmatis!!! Huahahaha *pergi belanja* :D

Leave a Reply