Kakaknya Masuk Kelas…

Seniority…What is in your mind if you hear that word?

Saya? Kata itu langsung membawa saya ke masa-masa zaman sekolah dulu. Terutama waktu saya SMA; saat saya harus memakai rok kotak-kotak kombinasi warna merah, hitam dan abu-abu dua hari dalam seminggu, berkauskaki setinggi lutut, dan tidak pernah disuguhi pemandangan murid laki-laki di dalam kelas, selama tiga tahun.

Enam hari pertama berada di sekolah itu, saya dan teman-teman seangkatan, wajib mengikuti masa orientasi sekolah. Masa pengenalan lingkungan sekolah untuk murid baru; termasuk pengenalan ‘budaya’nya. Salah satunya adalah ‘budaya’ senioritas yang saat itu masih sangat kental di sana.

Enam hari penuh teriakan yang terlontar dari mulut kakak-kakak kelas, dan disuguhi wajah-wajah jutek dari mereka, adalah pengalaman yang tak mungkin saya, lupakan.

“Nunduk! Matanya jangan belanjaaa!! Gak ada cowok di sini!”

“Kakaknya masuk kelas! Mana hormatnya!”

Penderitaan ternyata belum berakhir. Tidak hanya enam hari pertama harus saya lalui dengan orientasi yang satu itu. Masih berlanjut saat saya mendaftar ke salah satu kegiatan ekstra kurikuler, yang saat itu memang diwajibkan untuk siswa kelas 1. Saya dan teman-teman lain wajib kenal semua kakak kelas, terutama pengurus kegiatan ekstra kurikuler tersebut. Bagaimana caranya? Kami diwajibkan untuk mendapatkan semua tandatangan dari kakak kelas pengurus. Dan untuk mendapatkan tandatangan mereka, pasti tidak dengan cuma-cuma. Kami diminta melakukan sesuatu, baru mereka mau memberikan tandatangan di buku kami, dan di masa periode buku itu pasti diperiksa.

Sudah selesai sampai di situ? Hohohoh…tentu tidak. Ternyata urusan gencet-gencetan adik kelas, walau paling minimal hanya melalui tatap mata, dan pandangan jutek, masih berlanjut hingga di tahun kedua saya sekolah di sana. Dengan kata lain, sampai saya berada di kelas 3, menduduki singgasana tahta paling senior di sekolah, barulah saya terbebas dari rasa tidak nyaman karena senioritas.

Lucu kalau diingat; waktu saya kelas 1 SMA, saya paling malas jajan di kantin, karena malas urusan dengan senior, walau cuma disuruh membelikan makanan/minuman di kantin. Atau saat segerombolan kakak kelas itu berjalan melewati deretan kelas kami, serentak kami yang sedang duduk-duduk di depan kelas, memutuskan untuk langsung ngacir masuk ke kelas.

Tapi itu dulu, saat sekolah. Bagaimana kalau sekarang di tempat kerja? Masih perlu ga sih senioritas, apalagi yang bertujuan intimidasi dan menunjukkan kuasa ke rekan kerja yang lebih belakangan bergabung di perusahaan itu atau ke rekan kerja yang mempunyai posisi lebih junior?

Nyemplung di dunia perhelatan HR, saya pasti pernah menemukan tingkah laku-tingkah laku ‘ajaib’ mereka yang ada di sekitar saya bekerja. Though, sometimes, somehow tingkah saya pun dianggap ‘ajaib’ oleh mereka.

Senioritas di tempat kerja tentu perlu, terutama senioritas dari segi hirarki pemberi arahan/struktur organisasi. Akan tetapi kalau hal itu sudah melenceng ke arah untuk mengintimidasi/menunjukkan kuasa atas seseorang, apalagi jika orang itu berpikir juga bahwa ia lebih senior jika dilihat dari lamanya bekerja di tempat itu./dilihat dari segi usia. Kelar khan?

Yuukkk…mulai dilihat-lihat lagi, tingkah kita pernah bossy ga ke orang lain? Pernah ga kita berbicara dengan nada oktaf tinggi ke sekian kepada rekan kerja? Pernah ga kita menyuruh rekan kerja instead of meminta tolong? Pernah ga kita berbicara kasar ke rekan kerja? Pernah ga kita meminta orang lain untuk tidak menyalahi aturan, tapi kita sendiri sering menyalahi aturan dan jelas-jelas terlihat oleh orang banyak? *Yang sering dateng telat ke kantor, berarti ga boleh protes ya kalo orang lain telat, apalagi kalo udah telat terus tenggo, dilarang keras untuk protes…heheheh

Hhhmmm…kalau ditanya saya pernah melakukan itu semua atau tidak, saya akui, saya pernah melakukan itu. Tapi dulu, kalau sekarang pasti akan berpikir ratusan kali terlebih dahulu sebelum melakukannya, dan tentu keluarnya protes, adalah indikator bahwa sesuatu hal sudah keterlaluan menurut kacamata saya. :mrgreen:

Tags: ,

One Response to “Kakaknya Masuk Kelas…”

  1. Paulina Dessy says:

    Super agree.. Di kantor sebel banget sama org bossy dan kooperatif, padahal jangan-jangan gue sendiri yang gitu juga.

Leave a Reply