Dari Lagu There You’ll Be, Ring Tone Kentut, Sampe Cewek Bernama S…

Duduk di dalam Trans Jakarta, sambil ngeliatin orang-orang sekitar gue, yang satu pun ga ada yang gue kenal, membuat gue jadi inget twitter gue beberapa minggu lalu…

“Ga lagi2 jalan dari Katedral ke halte busway Istiqlal…ngeri dicekek orang dari belakang, gelap abis, mending jalan ke halte juanda, mentok2 ketabrak LOL”

Hmmm…emang gobloknya gue sih, yang nganggep jarak tempuh dari depan Katedral ke halte busway Istiqlal ini sama jauhnya kayak ke halte Juanda, yang membuat gue berjalan setengah berlari, sambil sesekali celingukan ke belakang, sambil komat-kamit dalam hati, berharap ga ketemu makhluk berwujud manusia lain yang berpikiran jahat sama gue.

“Never talk to a stranger!!”

Kalimat itu sejak kecil ditanamkan oleh bokap nyokab gue, dan sepertinya masih terngiang di kuping dan masih gue jalanin hingga saat ini, atleast gue akan menganalisa terlebih dulu, seberapa kadar “stranger”nya orang tersebut untuk gue.

Duduk di Trans Jakarta bersama penumpang lain yang sama sekali ga gue kenal alias semuanya orang asing, di mana ada kemungkinan bahwa di antara mereka ada yang bisa melukai atau membuat gue celaka. Dan kembali otak gue melihat kejadian-kejadian yang dulu. Kejadian mulai kelas 4 SD, gue minta ijin ke bokap untuk pulang sendiri naik angkot, dan nyokab marah-marah karena bokap bilang iya; masa-masa di mana nyokap gue walaupun naik bis tetep jemput gue ke sekolah, biar anak perempuan satu-satunya tetep ada temennya pulang sekolah; gimana happynya gue waktu bokap nyokab gue jemput ke sekolah di hari sabtu *itu ampe SMA loh. Intinya biar gue tetep aman sampe rumah.

Setelah gue inget masa-masa hidup cuma penuh ha-ha-hi-hi ama urusan percintaan ala monyet, gue keinget masa-masa udah sedikit lebih dewasa, yaitu saat gue bahagia bisa kuliah lagi di Psikologi. Tepatnya saat gue membaca satu buah buku, yang gue lupa buku apa (apalagi nama pengarangnya), tapi gue masih inget satu kutipan di dalamnya, yang kalo diterjemahin, isinya kurang lebih adalah seperti ini…

“Sebenernya manusia itu adalah survivor, karena mereka dekat sekali dengan bahaya. Dari lahir, bayi harus menyesuaikan perubahan dari rahim ke suhu tempat dia dilahirkan; saat keluar rumah ada kemungkinan ia tertabrak kendaraan lain, atau dijahati orang-orang di sekitarnya.”

Yupe. Bener banget. Salah satu tugas manusia hidup di dunia adalah bertahan hidup. Dari semua hal yang manusia hadapi di dunia. Named it lah! Melindungi diri sendiri dari kekerasan fisik? Pasti! Melindungi hati dari “kekejaman” sakit hati-sakit hati lainnya? Pernah ngerasain dapet nilai jelek/gagal ujian or pernah ngerasain patah hati, putus cinta dounks yaaahh??? :mrgreen: Bahkan saat kita ingin berperan jadi super hero untuk orang lain, yaitu usaha untuk melindungi mereka, yang sebenernya mungkin usaha untuk melindungi diri sendiri dari rasa sakit? *Ya..iya lah kalo ibunya, bapaknya, abang/adeknya or pacarnya kenapa-kenapa khan yang sedih kita juga pan?

Tapi gimana rasanya kalo di tengah kerumunan yang kita anggap sebagai orang asing semua, tiba-tiba ada satu atau dua orang yang kita tau/kenal? Waddduuhh…girang betul pasti rasanya. Sama seperti waktu dua hari lalu gue nunggu TransJakarta di halte Dukuh Atas, mau ngambil mobil yang masih terparkir manis di Kuningan, karena gue lebih memilih ke Katedral naik kendaraan umum ketimbang bermacet-macetan dengan mobil pribadi. Menunggu datengnya si TransJakarta koridor 6 ini gue ngeliat satu cewek berdiri di samping gue sambil mainan blackberry miliknya. Karena cewek ini setengah menunduk, jadi gue ga liat penuh mukanya, sampai dia bicara dengan teman di sebelahnya lagi. Suara itu terdengar familiar oleh gue. Dan gue pun menyapa perempuan itu dengan menjentikkan jari gue tepat di depan wajahnya. Seketika teriakan kami berdua pun membahana di satu halte busway tersebut. She’s my high school friend, yang kebetulan orang tua kami saling kenal sejak mereka kecil.

Bis yang kami tunggu pun akhirnya datang. Kami langsung menaikinya dan memilih posisi tempat duduk yang cukup enak untuk mengobrol. Dan setelah gue perhatiin satu bis itu hanya ada suara kami berdua. Hanya ada ketawa kami berdua, yang mengenang masa-masa jaman SMA yang sudah sekian tahun berlalu. Apalagi temannya si teman ini adalah junior 9 tahun di bawah kami.

Ya..ya..ya..masa-masa indah itu sudah hanya tinggal kenangan, masa-masa jaya yang hanya memikirkan hidup hari itu, memikirkan gimana bisa survive ulangan hari itu, bisa survive nyelesein berantemnya kita sama pacar jaman itu, bisa survive ga digencet ama senior, yang waktu itu masalah-masalah tersebut terlihat sebagai masalah besar. Tapi kalo dibandingin ama masalah-masalah sekarang?? Maannn…cupu lah itu semua. Intinya, bisa hidup sampai sekarang ikarena kita berhasil nemuin cara memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.

Talking about survivor, gue jadi inget satu temen. Apalagi pengalaman gue dua hari lalu dengan TransJakarta ini ngingetin gue ama manusia ini. Yah…dari si supir TransJakarta tiba-tiba nyetel lagu There You’ll Be, terus salah satu penumpang blackberry-nya make ring tone suara kentut, sampe si cewek yang ketemu gue tadi namanya sama kayak nama satu cewek inceran temen gue dari jaman dia SMP ampe kuliah, tapi kagak dapet juga, bahkan ditinggal kawin *assslliiikk gue ngakak dalam hati. Temen gue ini pernah ngirim broadcast message *tumben (ngirim) (gue baca), yang kurang lebih isi BMnya kayak gini…

“Human are like animal, they can survive by themselves. If you don’t feel like that, you will be wiped out by nature. I don’t want to be a loser? Do you?”

Yah…so true…we are all survivor…

I guess, God should be thankful to us who still want to survive in this fucking world?

And hey, you, there, my friend, my dear…who sent me that broadcast message, hopefully you’re not a loser, for yourself, in your own eyes, and/or in other’s sight! Including mine! :mrgreen:

i-survived

Tags: ,

2 Responses to “Dari Lagu There You’ll Be, Ring Tone Kentut, Sampe Cewek Bernama S…”

  1. Miftahgeek says:

    Yeah, I’m still alive, too.. :)

  2. devieriana says:

    Jadi, kapan kita naik TransJakarta? :mrgreen:
    Aku selalu naik TJ kalo pulang kantor :D

Leave a Reply