Just Be There…

Malam itu…

“Laundry sotoy, baju gue ga dicuciin. Dan gue keabisan baju. Untung u ngasih. Thank you yah.”

“Sama-sama, mudah-mudahan suka. Cukup gak?”

“Agak kegedean dikit (padahal gara-gara diare aja).”

“Gak mungkin kan gue beliin M, ntar ketat.”

“Khan cekci, ketat, kayak lepet.”

—-

Malam lainnya…

“How are you?”

“Bla…bla…bla…I just need someone to talk, that’s it.”

“Sekarang masih?”

“Kalo ga, gue ga uring-uringan nyari tiket mau cabut.”

“Gue telpon elo, tapi elo yang harus cerewet soalnya akhir-akhir ini yang gue lagi diem. Ok?”

“Try me.”

Tak berapa lama si Bébé memunculkan nama seseorang di layarnya, tanpa mengeluarkan bunyi, karena aku bungkam. Di sana ada nama seseorang, yang beberapa hari ini sempat aku cari.  *Happy for sure, hear your voice again.

Satu hal yang menarik dari pembicaraan itu…

“Gue yakin ‘Cha tahun ini, elo ama gue sama-sama bakal punya pacar lagi.”

“Semoga. Tapi berhubung gue anaknya skeptis, gue ga akan percaya kalo belum di tangan gue.”

Dan…

“Besok bangunin gue ya.”

“Flight jam berapa?”

“Dari sini gue mesti jalan ke BPN jam 9. Berarti elo bangunin gue jam 9 lah.”

“Bentar-bentar…yakin, elo minta gue bangunin jam 9? Jam 9nya gue atau jam 9nya elo?”

“Iya jam 9nya elo ‘Cha.”

“Jam 9nya gue itu berarti jam 10nya elo loh, Sayaaanggg.”

“Oooohhh yaaa…itupun kesalahan bulan lalu ya. Untung elo pinter belajar dari pengalaman.”

“Gue bangunin jam setengah 7 sini ya.”

Hari itu…

BBM:

Me: I’m here, don’t complaint kay! *disertai foto papan jadwal penerbangan, termasuk di dalamnya JT 751 ETA 14:49

Sekitar 40 menit kemudian, aku melihat seseorang berjalan keluar dari pintu keluar penumpang dari terminal kedatangan. Seseorang yang saat itu memakai kemeja yang aku tahu persis siapa yang memberikannya. Seseorang yang hari itu, aku tahu bahwa dirinya aku butuhkan, hanya untuk ada. Di sana. Di sampingku. Tak peduli apa yang (akan) ia lakukan.

Dan senyum itu, penuh dengan sejuta makna yang tak pernah bisa aku simpulkan.

*Masih ga ada baju bersih ya, Mas, kayaknya kenal kemeja yang dipake sekarang.

“Yuk.”

“Dah makan loe?”

“Udah, barusan.”

“Mau ngajak gue kemana loe jemput gue?”

“Bebas.”

—-

“Lewat sini ajah. Mobilnya di sana.”

“Bawa mobil yang mana?”

“Bukan yang bulan lalu yang aku bawa. Aku aja ya yang nyetir.”

Dan dengan terpaksa kamu jawab, karena aku tahu persis, kamu paling ga suka di setirin perempuan “Ehhhmm…iya deh.”

—-

“Mccchh…elo tuh ya. Untung gue khan lagi ga janjian sama orang lain.”

“Ya kalo elo janjian sama orang lain, ya gue tinggal pulang tho.”

“Ya ga bisa gitu juga dounks.”

“Loh, khan berarti dia janjian duluan sama elo, ya dia dounks yang prioritas utamanya, bukan gue. Ya gak? Iya khan?”

—-

Manusia yang duduk di sebelah kiriku, sedang sibuk dengan bb di tangannya, walaupun sempat dia meminta izin, “Gue nelpon dulu ya.”

“Monggo,” *Elo mau ngapain ajah, yang penting gue tau elo ada di samping gue, gue ga peduli elo ngapain di sana.

Menyusuri jalan tol Sedyatmo sampai keluar di Pluit, kami sibuk dengan kesibukan masing-masing, tanpa suara dari mulut kami berdua. Hingga beberapa kalimat pun memecah keheningan panjang…

“This is shock therapy juga, dah lama ngga jemput orang siang-siang.”

Dan yang di sebelah, tidak mengatakan apapun.

Dan kembali keheningan mendominasi suasana di dalam mobil.

Dan kembali terpecah…

“Kayaknya gue dah mulai ngerti cara kerjanya ini.”

“Gampang taukkhh. Matic di mana-mana sama, cuma tuas pindahin giginya aja dipindahin ke sebelah sini. Wanna drive?”

“Hmmm…boleh.”

“Ntar aja ya pulangnya nyetir.”

“Yup, daripada gue ga tega ngeliat elo masih sakit gitu, nyetir.”

“Atau ntar aja ya abis isi bensin.”

“Boleh.”

Aku pun kembali mengendalikan kemudi di tengah keheningan dua orang yang duduk bersampingan namun tetap sibuk dengan dunianya sendiri.

Sampailah kami di SPBU berlambang kerang. Dan kemudi aku alihkan padanya, seperti tawaranku tadi.

Duduk manis aku di sampingnya. Menikmati duniaku sendiri, yang sedikit terbagi dengannya, di tengah sulitnya aku harus bernapas karena flu. Pasrah, kemanapun aku dibawanya.

And that’s all I need this past a month…I just need you to be there, beside me, no matter what you do. Just be there for me. Just like what I did, I do and still doing it for you.

*Tidak terlalu penghujung bulan Maret 2011*

Tags: ,

2 Responses to “Just Be There…”

  1. Miftahgeek says:

    That’s sweet..
    Is there’s problem ampe dia bilang both of you bakal punya pacar lagi?

  2. Anastasia says:

    cuma Tuhan yang tau…karena yang ditanya biasanya akan deny…hahahahaha

Leave a Reply