Tell me! You’re Not Trying To Make Me Smile Khan?…

Hari ini sepertinya rencana kita berdua berjalan dengan baik. Walaupun pagi itu, hujan membasahi seluruh kota.

“Aku jemput kamu jam 4 ya ‘yank. Gue dah mau jalan ini.”

“Baru selese makan, masih ngobrol-ngobrol ama bo-nyok. Jam 4an ya say.”

“Okay, aku juga mau ke pet shop bentar kayaknya. Jam 4 setengah 5 deh ampe rumah kamu.”

This is going to be the third time we meet. We see each other face to face. Though we talked a lot on the phone, while thousand miles between us. Yes, I’m exciting.

“Sabar ya, tol Kebon Jeruk macet. Gue telat ampe rumah loe.”

“Kasian amat loe macet-macet nyetir ke sini.”

*ddduuhh BBM kenapa lagi lemot yah, ini kenapa telpnya dia tak bisa ditilpun juga…

“Aku dah nongkrong di depan warung.”

“Gue dah nyampe 2 menitan di sini. BBM loe kenapa?”

*masih ga delivered.

“Woi…balik jalan ke sini, gue liat elo dari spion.”

*saatnya pindah ke kursi kiri, as I promissed he picks the place and as requested he’ll drive.

—-

*seeing him adjusting the steering wheel, chair and doing all preparation he needs to make him comfort driving that car…and hopefully no need preparation to make him comfort with me. :mrgreen:

“R: reverse, D: Driving, P: Park?”

“Yup, di teken dulu tombol yang disamping. Dah pernah bawa matic khan?”

“Udah sih, tapi belom pernah bawa yang ini.”

“Sama ajah.”

“How are you?”

“Baik,” *happy to meet you, if only you knew!

—-

“Kamu mau lewat mana? Kayak bingung gituh.”

“Lewat depan TA aja kali ya. Bis lewat mana lagi ‘Cha?”

“Ga macet ya? Sabtu lewat sana nyebelin. Ga enakan lewat depan ayam cemara? Tapi terserah siy, you drive.”

“Iya juga ya. Kita ke Pantai Mutiara yah. Gue mau liat laut. Sekalian shock therapy.”

“You drive. You pick the place. Gue tinggal duduk manis.”

—-

“Eh bentar-bentar belokkan sini niy, dokternya si Dogol.”

“Iya, Krikitnya gue pernah ke situ juga. Tapi pas waktu itu parvo ga ketauan gituh. Vaksin sih murah.”

“Emang. Kalo penyakit-penyakit parah mendingan jangan ke situ. By the way tadi jadi ke Pet Shop?”

“Ngga, jemput kamu dah telat tadi. Besok aja aku ke Pet Shopnya.”

“Niy…ada pet shop. Tapi mahal sih.”

“Yup been there. Mendingan yang di kebon jeruk ajah.”

“Yaaahh…macet ampe depan Ukrida niy.”

“Ya udah lah nikmatin aja.”

“Tadi kenapa ga lewat jalan kecil belakang rumah gue ya? Terus tembus situ tuh. Baru inget gue.”

“Iya sih, tapi khan jalannya kecil. Lagi pula nembusnya juga di situ-situ juga.”

—-

Entah berapa banyak kata yang keluar dari mulut kita berdua, sembari aku memandangi jalanan yang sebelumnya hampir tidak pernah aku lewati.

“Nyetir loe enak juga!”

“Ya iya lah…gue gitu. Elo tidur aja. Khan terserah gue kemana? Tapi ga tanggung ya gue bawa kemana ntar!”

“Gak lah. Kalo gue tidur sama aja gue ga ketemu ama elo. By the way ini di mana siy…kalo gue di sini bakal ngilang niy.”

“Gak ngilang lah, khan ada gue.”

“Khan gue bilang kalo gue sendirian.”

“Good idea tuh.”

—-

Dan aku masih mendengarkan kata kecewamu karena dia, apalagi sepanjang jalan yang kita lewati adalah jalan yang sering kamu susuri saat kamu dengannya.

*Let it out, Dear! It still hurts you. Maybe a bit. Though your mouth says that you’re ok!

—-

“Kita ‘dah nyampe, nih Pantai Mutiara…”

Dan hamparan laut terpampang di depan mata. Dari ujung ke ujung.

*You never know how much i love sea and beaches! And you take me there. You make my mouth suddenly zipped.

“Dulu dia ga pernah mau kalo gue ajak ke sini.”

“Kenapa?”

“Katrokh! Ga suka bau amis. So tenang, daerah ini free memory of her.”

—-

Kita berdua memilih tempat itu. Tepat di pinggir. Disambut dengan semilir angin laut. Sementara kamu sibuk membolak-balikkan menu makanan yang sepertinya tak terlalu membuatku tertarik, walau rasa lapar sedang mendominasi seluruh perasaan ada.

Dan aku memilih mencari kesibukan lain: bertopang dagu memandangi laut yang terpampang lebar di hadapanku saat itu…

*Njjrriittt…me love it…love it when you make me smile without trying…

Walaupun “kesibukan”ku saat itu sedikit terganggu, karena serasa ada seseorang yang sedang memandangiku, dari sebelah kiri…

And yes, my eyes found you were there, holding menu book and looking at me, you were smiling too, but I didn’t want to know what was in your head…

Saat itu, kamu, aku, lebih sering dengan kesibukan masing-masing. Sibuk dengan pikiran dan mungkin seribu rasa yang tak (mungkin bisa) terucap, terungkap, karena mungkin semesta belum meng-iya-kan.

“Tempatnya pas, waktunya pas, cuma cuacanya yang kurang pas. By the way, waktu gue belum kerja dulu, kalo gue bt gue sering duduk di situ tuh, ga masuk ke sini, cuma di situ and ngeliatin laut.”

“Never been here before. But gue kalo disuruh bengong berjam-jam di sini gue akan betah.”

Dan saat itulah Foursquare check in terkirim melalui si Bébé…

Pantai Mutiara: Nice place, nice weather with a nice person…

Coz that it is…and that’s you!

Penghujung matahari bersinar pun sudah di depan mata. Bentangan birunya langit bercampur semburat-semburat jingga, bertadah hamparan air laut membuat sore itu…just perfect

Perjalanan sore itu harus berlanjut…saat langit dan laut sudah menjadi satu warna. Hitam. Gelap. Aku, kamu kembali menyusuri jajaran lautan dari ujung hingga ujung yang dipaksa berujung dengan sebuah bangunan…

“Jadi nyari sepatu?”

“Jadi. Elo ga ada acara kemana-mana khan?”

“Gak. Khan dah gue blok waktu gue untuk elo.”

“Kita ke Pluit Village.”

“Ok. Terserah elo bawa gue ke mana hari ini. Just like I told you.”

—-

“I love this mall.”

“Never been here before.”

“Bentar-bentar masuknya dari mana ini yah. Kok dah berubah semua.”

“Don’t ask me! Dunno!”

“Dulu siy di sini.”

“Kapan loe terakhir ke sini?”

“Maret tahun lalu. Btw hari ini kita berdua lagi diem yah.”

“Elo sih bawa gue ke pinggir laut. Itu dah memunculkan imajinasi macem-macem.”

“Abis mau gue bawa ke mana lagi. Gue lagi pengen laut.”

“Crita dounks loh…elo khan yang biasanya bawel tuh.”

“Udah gue ceritain semua ke elo.”

“Bagus juga yang tempat loe jauh. Jadi berguna tuh yang namanya telepon n bbm.”

—-

“Parkir mana yah kita?”

“Errrr…jangan tanya gue?!”

“Sana aja yah.”

Dan tiba-tiba ada pemandangan yang kembali menghasilkan tawa dari hati…

“Hiiiihhh…is that pet shop?”

“Iya.”

“Eh, liat ‘yank lucu banget itu Pom-nya. Duuhh…itu anjingnya tampak bodo…Is that snake? Hiiiyy…males.”

“Sabar ya sayang, aku parkir dulu.”

*Tell me! You’re not trying to make me smile khan? Love it!!!

“Eh tuh, ada yang mau keluarin mobil.”

“Goblog banget siy niy tukang parkir.

“Bukain pintunya ‘yank.”

“Mau kemana?”

“Turun.”

“Gak! Stay. Nunggu aja tuch tukang parkir, benahin mobil yang lain. Awas ajah ampe ngambil lahan gue.”

“Bis lama!”

*Yeaahh…I forget who I’m dealing with right now!

—-

“Eh…liat tuch Herdernya, duh kasian amat segede gitu dikandangin sempit begono. Ganteng berat yah. Tapi ga segede yang gue uyel-uyel di PP kemaren. Tuh ada Husky, tapi kok kurus ya. Elo pengen Husky ‘khan? Tuh yang tengah Bagle.”

“Mana? Oh iya. Eh..yuk udah ke dalem dulu yuk, ntar balik lagi, nunggu pet shop-pet shopnya sepian.”

“Kalo ke pet shop begini. Pengen banget gue angkutin pulang semua.”

“Ya jangan lah.”

“Kenapa?”

“Repoooot kaleee.”

—-

*Dah lama gue ngga nemenin cowok niat belanja keliling mall. Dan tumben gue ga jadi ikutan pengen belanja.

“Eh…gue aus niy…btw…ATM sebelah mana ya? Kebiasaan gue di dompet sampe bener-bener abis…nyari minum terus ke ATM yah. Jual minuman di atas ya?”

“Ya udah, tinggal ke atas lagi khan? Jangan kayak orang susah.”

—-

“Kalo liat-liat pet shop gituh gue jadi pengen beli. Pengen beli satu, terus pelihara dari kecil.”

“Ya udah, beli rumah dulu, baru melihara anjing.”

“Salah. Cari istri dulu, beli rumah baru beli anjing. Abis kalo ga istri, yang berihin pup-nya anjing sapa?”

“Emang istri loe ntar kerjaannya cuma bersihin pup anjing doank?”

Sampailah aku disuguhkan pemandangan yang selama ini jarang aku lihat. Kamu tertawa lebar, saat kamu berdiri di depan salah satu kandang yang di dalamnya ada 1 ekor anak anjing yang lagi jejingkrakkan, melakukan acting selucu mungkin, mungkin sambil berharap kamu akan membawanya pulang.

Jejeran toko hewan perliharaan itu kita tinggalkan tanpa membawa pulang apapun dari sana.

Dan tampaknya perjalanan kita selanjutnya adalah perjalanan yang sesungguhnya…

“Gak jadi ngelewatin rumahnya?”

“Abis ini, sekalian pulang ntar ngelewatin, biar ga muter-muter.”

Dan semua obrolan aku dan kamu beberapa waktu lalu, kembali muncul, dibenakku…

(Obrolan 1)

“Kalo mau tau elo masih sakit atau ngga, coba deh muterin daerah rumahnya. Kalo elo dah ga berasa apa-apa, sakitnya mungkin dah sembuh.”

“Hmmm…good idea juga tuh.”

“Mau gue temenin?”

“Ga usah. Gue bisa sendiri.”

“Yakin? Ok. Kalo perlu ditemenin bilang-bilang ya.”

(Obrolan 2)

“Hmm…ntar kita ke Pantai Mutiara aja yah.”

“Sekalian ke Pluit.”

“Ya itu Pluit kaalleee.”

“Gue tau Pluit cuma Atma. Terus sekalian ngider-ngider ke daerah rumahnya?”

“Yuk.”

“Haaayyuukk. Gue temenin.”

*change his mind? :mrgreen:

Dan kembali ke kenyataan sekarang…

Dengan atmosfir kegelisahan yang sudah mulai terasa dari kamu. Dengan segala kesibukkan pikiranku untuk memecahkan suasana yang sudah mulai berbeda. Namun akhirnya aku biarkan semuanya…

“Itu rumahnya.”

“Yang mana?”

“Yang pager warna itu. By the way itu mobil…*tut, sensor dikit ya bouw*”

“Iya.”

“Mobil tantenya. Berarti lagi di sini dia.”

Perlahan kamu memajukan mobil, hingga tepat di depan rumahnya. Sayang, saat itu aku tidak bisa melihat tatapan mata kamu. Yang aku rasakan, terasa kosong saat melihat rumahnya sambil menyaksikan kembali semua rekaman hidup kamu kurang lebih 5 tahun bersama dengan dia.

Sekian detik kamu terdiam, menatap rumahnya, sambil memunggungiku. Sekian detik yang membuatku bingung. Tak tahu harus berbuat apa. Hingga aku putuskan untuk menepuk bahumu beberapa kali. Dan keheningan pun terpecah…

“Gue biasanya bawa yang itu tuh ‘Cha.”

“Itu mobil apa sih?”

Padahal aku tahu persis mobil apa yang tersimpan di garasi, walaupun hanya terlihat sedikit dari luar. Karena aku tak tahu kalimat apa lagi yang semestinya keluar dari mulut.

“Yuk.”

“A…r…e… you okay?”

“I’m fine kok.”

“Ok.”

“Masih sakit dikit. But I’m fine.”

“Okay. What do you feel?”

“I don’t wanna talk about it.”

“Okay then.”

“Semua kejadian kemaren keputer semua.”

“Ya iya lah. Been there done that also. Tapi kalo gue ga pernah kayak gitu, gue ga mau ke daerah rumahmu lagi seumur-umur.”

Dan perjalanan paling penting hari ini, sudah (berhasil) dilewati. Dengan meninggalkan sejuta warna, yang pastinya tidak akan pernah bisa digambarkan. Oleh kamu, ataupun oleh aku. Pengalaman kembali menyusuri waktu dengan dia. Di masa lalu. Dulu. Melihat kembali sejuta kebahagiaan, tawa, air mata dan luka yang seolah-olah tersuguh di depan mata. Seketika dan bersamaan. Sekarang.

Terus terang, ada satu kebahagiaan yang membuncah di rasa ini. Bahwa aku yang kamu pilih temanimu ada di sekian detik itu.

—-

Perjalanan pun berlanjut. Malam minggu di kota yang tak pernah mati seperti Jakarta ini, pukul 09.00 malam, masih terlalu dini untuk menyelesaikan kesenangan yang sulit bisa dinikmati bebarengan, bersamaan dan di satu tempat yang sama. Oleh aku dan kamu.

“Kok, gue laper lagi ya.”

“Makan lagi yuk.”

“Yuk.”

“Gue ajak elo ke tempat yang sebenernya besok, gue mau ajak elo ke sana ya.”

“Okay. Aturable lah.”

Dan botol-botol Smirnoff itu mengakhiri kurang lebih 7 jam yang kita miliki. Seneng. Bareng. Dan di tempat yang sama.

—-

“Dan ma kasih, ‘udah menyuguhkan ini untukku…

senja pantai mutiara

…Sea. Sunset. You. Me. Same Place. Just perfect!”

26 Februari 2011

*picture was taken from your BBM profile picture, Dear!

*meeehh…need 3 weeks to finish this story…!!!

Tags: ,

One Response to “Tell me! You’re Not Trying To Make Me Smile Khan?…”

  1. Miftahgeek says:

    Argh, bikin cemburu nih. Kapan gw juga bisa jalan sepuas itu T.T

Leave a Reply